1 Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat

dokumen-dokumen yang mirip
Pengaruh Insektisida Diazinon 600 EC Terhadap Fekunditas dan Viabilitas Kokon Cacing Tanah Pontoscolex corethrurus Fr. Mull.

FEKUNDITAS CACING Pontoscolex corethrurus Fr.Mull.PADA MEDIA DENGAN PENAMBAHAN LIMBAH CAIR TAHU. Oleh:

PENGARUH INSEKTISIDA PROFENOFOS TERHADAP FEKUNDITAS DAN DAYA TETAS TELUR CACING TANAH (Lumbricus rubellus) Oleh

PENGARUH HERBISIDA PARAQUAT TERHADAP FEKUNDITAS DAN DAYA TETAS TELUR CACING TANAH (Lumbricus rubellus)

PENGARUH SISTEM OLAH TANAH DAN APLIKASI HERBISIDA TERHADAP POPULASI DAN BIOMASSA CACING TANAH PADA PERTANAMAN UBI KAYU (Manihot utilissima)

BAB III METODE PENELITIAN. Acak Lengkap (RAL) yaitu dengan pemberian insektisida golongan IGR dengan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Botani FMIPA Universitas

PERKEMBANGAN CACING Pontoscolex corethrurus PADA MEDIA KULTUR DENGAN BERBAGAI JENIS BAHAN ORGANIK DAN TEKSTUR TANAH SKRIPSI OLEH :

Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10 Bandung, itb. ac. id

STUDY TENTANG TIGA VARIETAS TERUNG DENGAN KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN

BAB III METODE PENELITIAN. Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (BALITTAS) Karangploso,

Afriansyah Nugraha*, Yuli Andriani**, Yuniar Mulyani**

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai bulan November 2009, di

METODE PENELITIAN. Penelitian evaluasi ketahanan beberapa aksesi bunga matahari (Halianthus

PENGARUH INSEKTISIDA ORGANOKLORIN DIKOFOL TERHADAP DAYA TETAS TELUR IKAN LELE (Clarias gariepinus L.)

PERFORMA REPRODUKSI CACING TANAH Lumbricus rubellus YANG MENDAPAT PAKAN SISA MAKANAN DARI WARUNG TEGAL

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Tempat: Penelitian dilakukan di Green House Kebun Biologi, Fakultas. 2. Waktu: Bulan Desember Februari 2017.

Tata Cara penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae.

PEMBUATAN KOMPOS DARI LIMBAH PADAT ORGANIK YANG TIDAK TERPAKAI ( LIMBAH SAYURAN KANGKUNG, KOL, DAN KULIT PISANG )

I. PENDAHULUAN. Tanaman kubis (Brasica oleraceae L.) adalah salah satu tanaman sayuran yang

I. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2014 di Laboratorium. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

BAB III METODE PERCOBAAN. Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor perlakuan, yaitu perlakuan jenis

mencintai, melestarikan dan merawat alam untuk kualitas hidup lebih baik Talaud Lestari

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap

DAYA TETAS KOKON CACING TANAH (Lumbricus rubellus) DI BAWAH PENGARUH PEMBERIAN INSEKTISIDA ORGANOFOSFAT

RESPOMS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAAWI (Brassica Juncea. L) TERHADAP INTERVAL PENYIRAMAN DAN KONSENTRASILARUTAN PUPUK NPK SECARA HIDROPONIK

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Komponen Bioaktif, Jurusan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. (BALITTAS) Karangploso Malang pada bulan Maret sampai Mei 2014.

PENGARUH PADAT TEBAR TINGGI DENGAN PENGUNAAN NITROBACTER TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE (Clarias sp.) FENLYA MEITHA PASARIBU

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan bulan Agustus sampai September 2011 bertempat di

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada lahan bekas alang-alang di Desa Blora Indah

BAHAN DAN METODE. Pestisida, Medan Sumut dan Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Medan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan pada lahan alang-alang di Kelurahan Segalamider,

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Yogyakarta, GreenHouse di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah

PENGARUH LIMBAH BIOETANOL JAGUNG

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari - Februari 2014 bertempat di

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biocontrol, Divisi Research and

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Lapangan Terpadu, Fakultas Pertanian,

PENGGUNAAN PELEPAH KELAPA SAWIT FERMENTASI DENGAN BERBAGAI LEVEL BIOMOL + PADA PAKAN TERHADAP KARKAS DOMBA LOKAL JANTAN SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca dan laboratorium Ilmu Tanah Fakultas

RESPON PERTUMBUHAN BIBIT BAKAU (Rhizophora apiculata Bl.) TERHADAP PEMBERIAN AIR KELAPA PADA BERBAGAI KONSENTRASI E JURNAL

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2010 sampai dengan bulan

BAB III METODE. 1. Waktu Penelitian : 3 bulan ( Januari-Maret) 2. Tempat Penelitian : Padukuhan Mutihan, Desa Gunungpring,

NATA DE COCO 1. PENDAHULUAN

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Alat dan Bahan 2.2 Tahap Penelitian

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. pertumbuhan tanaman cabai merah telah dilakukan di kebun percobaan Fakultas. B.

Yunus Ayer*, Joppy Mudeng**, Hengky Sinjal**

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

METODOLOGI PENELITIAN

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan di halaman

SUBTITUSI DEDAK PADI DENGAN LIMBAH RESTORAN TERHADAP SIFAT FISIK DAN KIMIA RANSUM AYAM BROILER SKRIPSI ALBERTUS RANDY SOEWARNO

UJI PENGARUH BEBERAPA HERBISIDA TERHADAP Trichoderma sp SECARA IN VITRO SKRIPSI MUHAMMAD MAJID

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di kebun percobaan PT. Great Giant

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Jurusan Proteksi Tanaman

PERBEDAAN LAMA PENYIMPANAN DAN MEDIA SIMPAN TERHADAP PERKECAMBAHAN DAN PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.)

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2016 di Laboratorium Proteksi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini di lakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan

BIOREMEDIASI TANAH TERCEMAR Hg MENGGUNAKAN BAHAN CAMPURAN LINDI DAN KOMPOS

BAB 3 METODE PENELITIAN

ni. BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di PT. Peta Akuarium, Bandung pada bulan April hingga Mei 2013.

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan November 2013

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium. dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) atau completely randomized

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kondisi sekarang, pemanfaatan pestisida, herbisida dan pupuk kimia sangat umum digunakan dalam usaha

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN. 1. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan gurami

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Eva Tresnawati, 2013

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Percobaan akan dilaksanakan di Laboratorium Nematologi dan Rumah Kaca Jurusan Hama

PEMANFAATAN KULIT DAGING BUAH KOPI YANG DIAMONIASI PADA PAKAN DOMBA TERHADAP PERSENTASE NON KARKAS DOMBA LOKAL JANTAN LEPAS SAPIH SKRIPSI

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Aquatik, Fakultas

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. pembuatan vermikompos yang dilakukan di Kebun Biologi, Fakultas

II. TINJAUAN PUSTAKA. utama MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat, glukosa, dan sumber

BAB III METODE PENELITIAN. Faktor I adalah variasi konsentrasi kitosan yang terdiri dari 4 taraf meliputi:

III. BAHAN DAN METODE

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2015 di Desa

II. BAHAN DAN METODE

MATERI DAN METODE Waktu dan Lokasi Materi Bahan Alat Peubah yang Diamati

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman,

PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI HIJAU (Brassica juncea L.) DENGAN PEMBERIAN KOMPOS BERBAHAN DASAR DAUN PAITAN (Thitonia diversifolia)

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November Proses ekstraksi

Pengaruh Tiga Jenis Pupuk Kotoran Ternak (Sapi, Ayam, dan Kambing) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Rumput Brachiaria Humidicola

Keterangan : Yijk = H + tti + Pj + (ap)ij + Sijk. Sijk

Pengaruh Penggunaan Ekstrak Biji Bengkuang Terhadap Jumlah Hidup...Andi Nurhakim

TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING BAKAU Scylla paramamosain Estampador DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG.

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan September 2012

PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENGOLAHAN LAHAN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian jangka panjang kerjasama

NATA DE SOYA. a) Pemeliharaan Biakan Murni Acetobacter xylinum.

BAHAN DAN METODE. Bahan

TATA CARA PENELITIAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JABON MERAH. (Anthocephalus macrophyllus (Roxb)Havil)

Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

Transkripsi:

PENGARUH HERBISIDA ISOPROPILAMINA 20 % pestisida GLIFOSAT mengenai TERHADAP sasaran FEKUNDITAS DAN VIABILITAS sedangkan KOKON 80 CACING % lainnya TANAH jatuh ke tanah. Pontoscolex corethrurus Fr. Mull. Akumulasi residu pestisida tersebut Oleh: mengakibatkan pencemaran lahan Indra Madani, Ramadhan Sumarmin pertanian. 2, Gustina Apabila Indriati masuk ke dalam Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi rantai STKIP makanan, PGRI sifat Sumatera beracun Barat bahan Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat 2 Jurusan Biologi Universitas pestisida Negeri dapat Padang menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, mutasi, bayi lahir cacat, CAIDS (Chemically ABSTRACT Acquired Deficiency Syndromd) dan The use of herbicides had the adverse impact on non-target organisms being one of the soil biota such as earthworms. sebagainya One of the (Sa id, herbicide 994 is glyphosate Dalam isopropylamine. The aimed of this study to Dessirahma, know the influence 202). of Isopropylamine Glyphosate Herbicides to fecundity and viability Earthworm Cocoon (Pontoscolex corethrurus Fr. Mull.). This study was conducted Herbisida in July-August, adalah 203, pestisida held at yang the Zoology Laboratory of the Biology Department, digunakan Padang untuk State membasmi University. tanaman This research used Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatment, 5 replicates. The treatment were herbicide pengganggu glyphosate isopropylamine (gulma) seperti of 0% alangalang, mixed rerumputan media. Parameters dan eceng in this gondok, study (A), 0.% (B), 0.2% (C), 0.3% (D) and 0.4% (E) is the fecundity and viability of earthworm cocoons Pontoscolex corethrurus. The results showed. the average number of cocoons salah on satu providing contoh the highest herbisida herbicide yang isopropylamine glyphosate on A (40) and followed digunakan by B and adalah C are 4.6 cocoon, herbisida D (4.2) and the lowest in the herbicide glyphosate isopropylamine E are 0 cocoon. While the average percentage hatchability isopropilamina earthworm glifosat cocoons (IRRI, Pontoscolex 993 corethrurus on providing the highest herbicide Dalam glyphosate Sihotang, 202). isopropylamine A, B and C was 00% and the lowest concentrations of D and E are 0%. It can be concluded that the herbicide glyphosate isopropylamine Di alam, pestisida can decrease diserap fecundity oleh cocoon, but had no effect on the viability of berbagai cocoons. komponen Based on it, lingkungan the civil must, yang to reduce the use of chemical herbicides cause poor soil. kemudian terangkut ke tempat lain oleh air, angin atau oleh jasad hidup yang PENDAHULUAN Key words: Isopropylamine Glyphosate Herbicides, Fecundity & Viability Cocoon and Pontoscolex corethrurus Fr. berpindah Mull. tempat. Dengan masih Indonesia merupakan negara terdeteksinya residu di alam maka akan agraris yang mayoritas mata menimbulkan ketidakseimbangan 20 PENDAHULUAN 20 % pestisida mengenai sasaran Penerapan dibidang pertanian, sedangkan 80 % lainnya jatuh ke tanah. ternyata tidak semua pestisida Akumulasi residu pestisida tersebut mengenai sasaran, kurang lebih hanya mengakibatkan pencemaran lahan

pertanian. Apabila masuk ke dalam rantai makanan, sifat beracun bahan pestisida dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, mutasi, bayi lahir cacat, CAIDS (Chemically Acquired Deficiency Syndromd) dan sebagainya (Sa id, 994 Dalam Dessirahma, 202). Herbisida adalah pestisida yang digunakan untuk membasmi tanaman pengganggu (gulma) seperti alangalang, rerumputan dan eceng gondok, salah satu contoh herbisida yang digunakan adalah herbisida isopropilamina glifosat (IRRI, 993 Dalam Sihotang, 202). Di alam, pestisida diserap oleh berbagai komponen lingkungan yang kemudian terangkut ke tempat lain oleh air, angin atau oleh jasad hidup yang berpindah tempat. Dengan masih terdeteksinya residu di alam maka akan menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem yang menyebabkan kematian pada beberapa spesies seperti cacing tanah, ular sawah, katak dan berbagai jenis serangga yang sebenarnya bukan sasaran untuk dibunuh (Ratmawati, 202). Pengaruh herbisida round-up yang berbahan aktif isopropilamina glifosat terhadap cacing tanah adalah isopropilamina glifosat merupakan sebagai racun kontak dan bersifat sistemik. Bahkan dapat menghambat dan membunuh pertumbuhan mikroba tanah sehingga peranannya dalam mendaur ulang unsur hara menjadi hilang. Cacing tanah merupakan biota tanah yang banyak dijumpai pada lahan pertanian dan mempunyai peranan yang menguntungkan dalam ekosistem tanah. Cacing tanah juga berperan dalam proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Proses dekomposisi materi organik menyebabkan perubahan struktur tanah sehingga dapat meningkatkan aerasi tanah serta kemampuan tanah menahan air (Nofyan, 2009). Cacing tanah dapat hidup dengan baik pada ph 6 sampai dengan 7,5, kelembaban 42 sampai dengan 60 % dan suhu 5 sampai dengan 25 0 C. Faktor yang mempengaruhi kehidupan cacing tanah adalah temperatur atau suhu, aerasi, ketersediaan oksigen (O 2 ), bahan organik, jenis tanah dan suplai makanan (Ciptanto, 20). Berdasarkan latar belakang masalah, telah dilakukan penelitian tentang pengaruh herbisida

isopropilamina glifosat terhadap fekunditas dan viabilitas kokon cacing tanah Pontoscolex corethrurus Fr. Mull. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada Juli- Agustus 203, di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Padang. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan perlakuan herbisida isopropilamina glifosat yang dicampurkan pupuk kompos sebagai pakan dengan 5 (lima) perlakuan masing-masing perlakuan terdiri dari 5 (lima) ulangan. Alat yang digunakan pada peneltian ini adalah toples plastik berisi 5 liter, polybag berukuran 5 kg, mikro pipet berukuran 2-20 µl, gelas ukur bervolume 0 ml, geklas ukur bervolume 00 ml, batang pengaduk, kain til, karet, cawan petri, spatula, sarbet, masker, sarunng tangan, kertas label, kertas saring, alat-alat tulis, kuas, kantong plastik, baki plastik, incase chamber dan neraca ohaus. Sedangkan bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah cacing tanah Pontoscolex corethrurus (berumur 6 bulan, dari Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNAND), dedak padi sebanyak 0 kg, kapur barus, pupuk kompos, air PDAM yang sudah diendapkan selama 3 hari dan herbisida round-up yang berbahan aktif isopropilamina glifosat. Pada pengamatan fekunditas dan viabilitas kokon cacing tanah Pontoscolex corethrurus pada perlakuan herbisida isopropilamina glifosat disiapkan toples plastik berukuran 5 liter sebanyak 25 buah, kemudian diisi dengan media tanam standar sebanyak kg. Selanjutnya masukkan konsentrasi larutan roundup sesuai dengan masing-masing perlakuan kemudian diaduk sampai rata dan masing-masing toples plastik dilapisi dengan polybag dan beri label. Kemudian masukkan cacing tanah sebanyak 4 ekor setiap masing-masing toples plastik dan di permukaan media tanam standar diletakkan pakan (dedak padi) sebanyak 0 gr pada masingmasing perlakuan. Kemudian toples plastik ditutupi dengan menggunakan kain kasa/kain til sebagai ventilasi. Setiap kali 5 hari masing-masing toples plastik disortir cacing tanah dan kokon Pontoscolex corethrurus, kemudian dihitung jumlah kokon yang dihasilkan. Pengamatan dilakukan

selama 4 minggu. Kokon yang dihasilkan setiap toples plastik dari masing-masing perlakuan dipisahkan dan dimasukkan ke dalam cawan petri yang sudah diberi kertas saring yang dilembabkan. Kemudian dihitung jumlah kokon yang menetas dari masing-masing perlakuan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian perhitungan jumlah kokon yang dihasilkan dan kokon yang menetas pada setiap perlakuan dilakukan analisis varian dengan tingkat kepercayaan 95 %. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel. Rata-rata jumlah kokon cacing Pontoscolex corethrurus Fr. Mull. Pada pengamatan fekunditas perlakuan Rata-rata jumlah kokon A B C D E 40,0 a 4,6 b 4,6 b 4,2 b 0,0 c Berdasarkan Tabel diketahui bahwa jumlah kokon cacing Pontoscolex corethrurus pada A, B, C, D dan E terdapat perbedaan rata-rata jumlah kokon. Pada perlakuan A jumlah kokon 40 merupakan jumlah kokon tertinggi dari pada jumlah kokon perlakuan lainnya, hal ini berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan jumlah kokon pada perlakuan B, C dan D tidak berbeda nyata. Sementara pada perlakuan E tidak ditemukan kokon karena semua cacing mati. Tabel 2. Rata-rata persentase viabilitas cacing Pontoscolex corethrurus Fr. Mull. Perlakuan Rata-rata persentase(%) viabilitas A 00 a B 00 a C 00 a D 0,0 b E 0,0 b Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa jumlah persentase daya tetas kokon cacing Pontoscolex corethrurus pada perlakuan A, B, C, D dan E terdapat perbedaan rata-rata persentase daya tetas kokon. Pada perlakuan A, B dan C seluruh kokon memiliki ratarata daya tetas sama yaitu 00 %. Pada perlakuan D semua kokon tidak berhasil menetas. Dari hasil analisis penelitian pada Tabel menunjukkan bahwa jumlah kokon cacing tanah selama 30 hari pengamatan pada berbagai konsentrasi menunjukkan rata-rata jumlah kokon

yang berbeda. Jumlah kokon paling tinggi terlihat pada perlakuan A (tanpa perlakuan) yaitu 40 kokon, sedangkan jumlah kokon yang paling terendah terlihat pada perlakuan E adalah 0 kokon. Perlakuan A berbeda nyata dengan perlakuan B, C dan D, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan E karena bersifat mematikan atau bersifat toksik kuat dan perlakuan D berbeda nyata dengan perlakuan E. Bahan aktif herbisida isopropilamina glisofat mampu menurunkan fekunditas atau jumlah kokon dan dapat mempengaruhi oogenesis, karena herbisida isopropilamina glisofat bersifat sistemik dan toksik kuat atau mematikan terhadap cacing tanah. Menurut Brown (978 dalam nofyan, 202), menyatakan bahwa pengaruh herbisida terhadap populasi cacing tanah tergantung pada jenis dan konsentrasi yang digunakan. Pemberian konsentrasi herbisida yang berbeda akan mempengaruhi efek yang berbeda terhadap jaumlah kokon dan daya tetas kokon cacing tanah. Menurut Nofyan (202), energi dalam tubuh cacing tanah dewasa lebih banyak digunakan untuk produksi kokon, tetapi jumlah kokon mulai menurun atau berhenti maka energi tersebut digunakan untuk proses pertumbuhan jaringan tubuh cacing tanah. rendahnya jumlah kokon diakibatkan energi yang dimiliki cacing tanah terbatas yang disebabkan media tanah sebagai pakan yang telah terkontaminasi oleh herbisida. rendahnya jumlah kokon cacing tanah selain dipengaruhi oleh jenis dan jumlah pakan yang dikonsumsi. Menurut sihombing (2000 dalam Nofyan, 202) jumlah kokon cacing tanah dipengaruhi oleh kepadatan populasi, suhu, kelembaban, derajat keasaman dan kandungan zat makanan. Tingginya angka produksi kokon, waktu pengembangan pendek dengan keberhasilan penetasan yang tinggi, serta strategi pemuliaan berkelanjutan di epigeic spesies Perionyx exavatus dan Dichogaster modiglianii dan spesies endogeic top soil Pontoscolex corethrurus, Drawida nepalensis dan Lampito mauritii, mengindikasikan kemungkinan kegunaan dalam vermiculture (Bhattacharjee, 2002). Produksi kokon menurun maupun berhenti selama musim dingin, suhu

mempengaruhi masa inkubasi kokon. Dengan peningkatan suhu, masa inkubasi peningkatan pada cacing endogeic yaitu Pontoscolex corethrurus, Polypheretima elongata dan Drawida nepalensis dan menurunkan pada cacing epigeic yaitu Perionyx exavatus dan Dichogaster madiglianii dalam rentang antara temperatur 28-32 o C dibawah kondisi laboratorium (Bhattacharjee, 2002). Berdasarkan hasil analisis penelitian pada Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah daya tetas kokon paling tinggi terlihat pada perlakuan A, B dan C yaitu 00, sedangkan jumlah daya tetas kokon paling rendah terlihat pada perlakuan E yaitu 0 karena pada pada perlakuan E cacing semuanya mati. Perlakuan A, B dan C tidak berbeda nyata dan dapat dikoleksi, tetapi perlakuan A, B dan C bebeda nyata dengan perlakuan D dan E. Perbedaan persentase daya tetas kokon menunjukkan pengaruh konsentrasi herbisida isopropilamina glifosat karena dapat bersifat toksik kuat terhadap kokon atau bersifat embrio toksik atau mematikan embrio. Perbedaan kokon cacing yang menetas disebabkan oleh perubahan suhu dan terbatasnya sumber cadangan makanan di dalam kokon tersebut (Nofyan, 202). Berdasarkan penelitian Chaudhuri (20), data tentang biologi reproduksi cacing tanah Pontoscolex corethrurus keberhasilan viabilitas atau penetasan kokon tinggi. Herbisida isopropilamina glifosat masuk melalui saluran pencernaan, kemudian terikat pada plasma (Hemosianin) sehingga terbawa ke dalam hati. Hati menghasilkan vitelin, kemungkinan herbisida isopropilamina glifosat terikat pada vitelin sehingga terdeposit (tersimpan/terkumpul) dalam ovum. Herbisida isopropilamina glifosat secara langsung dapat membunuh embrio yang sedang berkembang. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa herbisida isopropilamina glifosat menurunkan fekunditas kokon cacing tanah dan tidak berpengaruh terhadap viabilitas kokon cacing tanah. DAFTAR PUSTAKA Bhattacharjee, G. dan Chaudhuri, P.S. 2002. Cocoon Production, Morphology, Hatching pattern and Fecundity in seven Tropical

Earthworm Species-a Laboratory- Based Investigation. MBB. India. Chaudhuri, P.S. dan bhattacharjee, S. 20. Reproduktive biology of Eight Tropical Earthworm Species of Rubber Plantation in Tripura, India. MBB. India. Ciptanto, S. dan U. P. 20. Mendulang Emas Hitam Melalui Budi Daya Cacing Tanah Disertai Direktori Usaha Cacing Tanah. Yogyakarta. Dessirahma. 202. Pencemaran Lingkungan oleh Pestisida. Diakses Tanggal 0 Maret 203. Nofyan, E. 2009. Pengaruh Insektisida Karbofuran Terhadap Produksi dan Viabilitas Kokon Cacing Tanah Pontoscolex corethrurus Fr. Mull. Jurnal Penelitian Sains. Edisi Khusus Desember. Nofyan, E., D. Setiawan dan T.N.A. Safitri. 202. Pengaruh Insektisida Profenofos terhadap Produksi dan Viabilitas Kokon Cacing Tanah Pontoscolex corethrurus Fr. Mull. Prosiding Semirata BKS PTN- BMIPA. Ratmawati, I. 202. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan. Surabaya. Diakses Tanggal 5 Februari 203. Sihotang, B. 202. Penggunaan Pertanian Berkelanjutan dengan Pertanian Organik. Diakses Tanggal 5 Februari 203.