BAB III DATA DAN HASIL PENGUKUN 3.1 SEKILAS TENTANG KANCATEL PAMANUKAN 3.1.1 Letak Daerah Dan Wilayah Kantor Cabang Telekomunikasi (KANCATEL) Pamanukan terletak di daerah pantai utara Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, memiliki koordinat 107 O 48 ' 43,38 '' BT, dan 06 O 17 ' 08,00 '' LS. Wilayah Pamanukan sebagian besar terdiri dari daerah persawahan berpengairan teknis dan memiliki letak yang strategis pada persilangan jalan negara dengan jalan propinsi yang menghubungkan wilayah pantai Utara Jawa Barat - Bandung. Area pelayanan KANCATEL Pamanukan meliputi 5 kecamatan diantaranya : Tabel 3.1: Area Pelayanan Kantor Cabang Telekomunikasi Pamanukan. KECAMATAN LUAS JUMLAH DAEH POTENSI KAWASAN DESA (ha) PAMANUKAN 8.171 Pertanian, Perdagangan, Jasa Pedataran 14 LEGON Pertanian, 8.522 KULON Industri Kecil Pantai 8 Pertanian, PUSAKA Kelautan, 10.352 NEGA Pariwisata, Pertambakan Pantai 14 Pertanian, BINONG 10.556 Kelautan, Pariwisata, Pedataran 18 Pertambakan COMPRENG 6.866 Pertanian, Peternakan Pedataran 8 25
26 Area pelayanan jasa telekomunikasi KANCATEL Pamanukan tersebar di kecamatan yaitu Pamanukan, Legon Kulon, Pusakanegara, Binong, dan Compreng, namun penggelaran jaringan akses pelanggan saat ini dominan terkonsentrasi di daerah Pamanukan. Gambar 3.1: Peta Kabupaten Subang 3.1.2 Layanan Teknologi Telekomunikasi Kancatel Pamanukan Teknologi akses yang menghubungkan antara sisi sentral lokal ke arah pelangggan yang digunakan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan jasa telekomunikasi di KANCATEL Pamanukan antara lain :
27 1. Teknologi Jaringan Akses Tembaga. Yaitu teknologi dimana media yang digunkan untuk menghubungkan antara sisi sentral lokal ke arah pelanggan menggunkan media kabel tembaga. 2. Teknologi Jaringan Akses Radio, Yaitu teknologi dimana media yang digunakan untuk menghubungkan antara sisi sentral lokal ke arah pelanggan menggunakan media gelombang radio. Teknologi akses radio yang digunakan antara lain WLL (Wireless Local Loop) dari NEC, Ultraphone dan CDMA (Code Divison Multiple Access). 3. Teknologi Jaringan Akses Fiber Optic. Yaitu teknologi dimana media yang digunakan untuk menghubungkan antara sisi sentral lokal ke arah pelanggan menggunakan media serat optik. Teknologi serat optik yang digunakan di KANCATEL PAMANUKAN diantaranya ONU (Optical Network Unit) dari SIEMENS, OAN (Optical Access Network) dari Huawei dan HAOUR. 3.1.3 Konfigurasi Link Transmisi. KANCATEL Pamanukan dilihat dari sisi teknologi dan alat produksi memiliki link transmisi backbone kearah KANCATEL Subang. Sehingga untuk pembicaraan SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh) dan SLI (Sambungan Langsung Internasional) akan di routing ke arah KANCATEL Subang yang di teruskan ke arah kota Bandung dan seterusnya. Link transmisinya menggunakan teknologi radio dan teknologi akses fiber optic. Gambar 3.2: Konfigurasi Link Transmisi Area Subang
28 3.2 JARINGAN AKSES TEMBAGA KANCATEL PAMANUKAN. 3.2.1 Konfigurasi Jaringan Akses Tembaga Secara umum, jenis catuan jaringan akses tembaga dari sisi sentral lokal sampai ke sisi pelanggan dibagi menjadi 3 macam, diantaranya adalah : 1. Jaringan Catu Langsung Jaringan catu langsung yaitu jaringan dimana pelanggan mendapat pencatuan saluran dari KP (Kotak Pembagi), DP (Distribution Point) terdekat dan langsung dihubungkan dengan RPU (Rangka Pembagi Utama) atau MDF (Main Distribution Frame) tanpa melalui RK (Rumah Kabel). Gambar 3.3: Jaringan Catu Langsung. 1 2. Langsung. Langsung yaitu jaringan dimana saluran para pelanggan dicatu dari KP (kotak pembagi) terdekat, yang dihubungkan terlebih dahulu dengan Rumah Kabel (RK), yang akan diteruskan ke RPU (MDF). Penyambungan saluran dari KP ke RK sama dengan jaringan catu langsung (tetap), tetapi penyambungan seterusnya ke RPU di RK dilakukan tidak tetap (melalui jumper wire). 1 PL 1 - OMAP & Instalation Cable Acces Network (CAN). Bandung: PT. Telkom Indonesia, Tbk.
29 Gambar 3.4: Langsung. 1 3. Jaringan Catu Kombinasi Merupakan gabungan dari jaringan catu langsung dengan jaringan catu tidak langsung. Jaringan Catu kombinasi ini sifatnya fleksibel disesuaikan dengan keadaan di lapangan. Gambar 3.5: Jaringan Catu Kombinasi. 1
30 Data hasil survey lapangan di KANCATEL Pamanukan : Tabel 3.2: Tipe Catuan Jaringan Akses Tembaga KANCATEL Pamanukan Data Kapasitas Jenis Catuan Jaringan Teknik (pair) Alamat Lokasi DCL-A Jaringan Catu Langsung 100 Pasar Inpres DCL-B Jaringan Catu Langsung 40 Jl. Eyang Tirta Praja DCL-C Jaringan Catu Langsung 100 Sukamahi DCL-D Jaringan Catu Langsung 200 BTN Pamanukan Raya DCL-E Jaringan Catu Langsung 140 Sukajaya RK Langsung 900 Jl. Husen Kerta Dibrata RK Langsung 600 Jl. H Iksan (Sebrang PTC) RK RC Langsung 600 Jl. H Iksan (halaman PTC) RK RD Langsung 400 Jl. Raya Pusaka Negara RK RE Langsung 200 Kantor Desa Pamanukan Sebrang RK RF Langsung 200 Jl. Raya Tambak Dahan RK RG Langsung 300 Jl. Ranca Sari RK RH Langsung 300 Jl. Batang Sari RK RJ Langsung 300 Jl. Eyang Tirta Praja RK RK Langsung 200 Jl. Pondok Bali
31 Gambar 3.6: Konfigurasi Kabel Primer KANCATEL Pamanukan. Dalam tugas akhir ini pengukuran jaringan akses tembaga di fokuskan di 2 lokasi RK yaitu RK dan RK.
32 3.3 PENGUKUN Pelaksanaan pengukuran di lapangan dalam tugas akhir ini menggunakan beberapa jenis alat ukur yang berbeda sesuai dengan peruntukannya. Segala jenis alat ukur yang digunakan telah melalui sertifikasi kalibrasi alat ukur yang uji oleh DIVISI MSC (Maintenance Service Centre) PT. TELKOM, yang bertujuan menjamin sensitivitas dan kelayakan alat ukur tersebut. Pengukuran ini dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya : 1. Metode pengukuran secara manual, yaitu pengukuran jaringan akses tembaga yang dilakukan langsung ke lapangan dan di ukur satu per satu dengan menggunakan alat ukur tertentu. 2. Metode pengukuran secara otomatis, yaitu pengukuran jaringan akses tembaga yang menggunakan komputer dengan aplikasi program tertentu. Pengukuran metode seperti ini sangat membantu, karena waktu yang dibutuhkan dalam melakukan pengukuran lebih cepat dan lebih baik. 3.3.1 Metode Pengukuran Secara Manual. Pengukuran pengukuran yang dilakukan secara manual meliputi pengukuran kontinuitas, panjang kabel, tahanan pentanahan, redaman kabel, dan Cross Talk, tahanan jerat. 1. Kontinuitas Pada prinsipnya pengukuran kontinuitas memastikan bahwa setiap jaringan akses tembaga terhubung lurus sampai di titik ujung jauh dengan baik. Pengukuran kontinuitas dilakukan pada kabel primer RK dan RK dengan menggunakan alat multimeter. Konfigurasi pengukuran kontinuitas adalah sebagai berikut : Gambar 3.7: Konfigurasi Pengukuran Kontinuitas. 1
33 Setelah dilakukan pengukuran kontinuitas pada jaringan akses tembaga di KANCATEL Pamanukan didapat hasil pengukuran sebagai berikut : GFIK KONTINUITAS 1000 JUMLAH PAIR 800 600 400 200 0 NAMA RK TERHUBUNG TIDAK TERHUBUNG Gambar 3.8: Hasil Ukur Kontinuitas Tabel 3.3: Hasil Pengukuran Kontinuitas NAMA RK PRIMER PAIR TERSAMBUNG PAIR TIDAK TERSAMBUNG PROSENTASE KERUSAKAN AKIBAT TIDAK TERSAMBUNG P1(1-600) 470 130 78.33% P15(1-200) 200 0 100.00% P7(201-300) 98 2 98.00% TOTAL 768 132 85.33% P16(1-100) 98 2 98.00% P2(1-400) 385 15 96.25% P7(101-200) 97 3 97.00% TOTAL 580 20 96.67% 2. Panjang Kabel Panjang kabel ini dapat langsung diketahui dengan alat ukur TDR (Time Domain Reflektor). Panjang kabel cukup penting untuk kepentingan analisa kelayakan dari segi jarak maksimum yang diperbolehkan sehingga sistem komunikasi dapat berjalan optimal. Setelah dilakukan pengukuran panjang kabel
34 dari sisi MDF (Main Distribution Frame sampai dengan sisi RK (Rumak Kabel) didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 3.4: Hasil Pengukuran Panjang Kabel. DIAMETER Panjang Nama KABEL Kabel Catuan (mm) (m) RK 0,6 1131 RK 0,6 1158 3. Tahanan Pentanahan. Pengukuran tahanan pentanahan dilakukan dengan alat ukur Earth Tester, titik-titk yang diukur adalah di MDF (Main Distribution Frame) dan di sisi RK (Rumah Kabel). Secara Instalasi di lapangan sambungan-sambungan titik grounding masih terhubung dengan baik, dan secara hasil pengukuran didapat bahwa grounding pada tiap-tiap titik masih berada di bawah 3 Ohm. Berikut merupakan data hasil pengukuran pentanahan : Tabel 3.5: Hasil Pengukuran Tahanan Pentanahan NO NAMA RK NILAI TAHANAN GROUNDING (Ohm) STANDARISASI TELKOM 1 1,75 < 3 Ohm 2 1,56 < 3 Ohm 4. Redaman Saluran Pengukuran redaman saluran dilakukan dengan Subscriber Line Tester SLT- 22. Alat ukur ini dapat mengukur redaman jaringan akses tembaga dengan konfigurasi pengukuran sebagai berikut :
35 Gambar 3.9: Konfigurasi Pengukuran Redaman Kabel. 2 Setelah dilakukan pengukuran secara keseluruhan, didapat hasil sebagai berikut : Tabel 3.6: Hasil Pengukuran Redaman RK NAMA RK PRIMER NILAI REDAMAN DAN JUMLAH PAIR JUMLAH 15 db 15.5 db 16 db 16.5 db >>> (pair) (pair) (Pair) (pair) (pair) (pair) P1(1-600) 154 30 193 93 130 600 P15(1-200) 0 200 0 0 0 200 P7(201-300) 0 11 14 73 2 100 Total 154 241 207 166 132 900 Tabel 3.7: Hasil Pengukuran Redaman RK NAMA RK PRIMER NILAI REDAMAN DAN JUMLAH PAIR JUMLAH 15 db 16 db 17 db 18 db >>> (pair) (pair) (pair) (pair) (pair) (pair) P16(1-100) 2 46 14 36 2 100 P2(1-400) 110 64 74 137 15 400 P7(101-200) 0 26 42 29 3 100 Total 112 136 130 202 20 600 2 Materi Pelatihan - Pengukuran Jaringan Broadband
36 5. Tahanan Jerat Setelah dilakukan pengukuran tahanan jerat pada kedua RK, dan maka didapat hasil sebagai berikut : Tabel 3.8: Hasil Pengukuran Tahanan Jerat NAMA RK PRIMER Memenuhi Standarisasi (pair) Tidak Memenuhi Standarisasi Prosentase (BAIK) P1(1-600) 470 130 78.33% P15(1-200) 200 0 100.00% P7(201-300) 98 2 98.00% Total 768 132 85.33% P16(1-100) 98 2 98.00% P2(1-400) 385 15 96.25% P7(101-200) 97 3 97.00% Total 580 20 96.67% 6. Cross Talk Pengukuran NEXT dilakukan dengan metode single end, artinya pengukuran hanya dilakukan di satu sisi dengan menggunakan dua buah alat ukur, dimana satu sisi alat ukur berfungsi sebagai oscilator dan satu sisi lainnya berfungsi sebagai level meter. JUMLAH PAIR 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 NAMA RK BAIK TIDAK BAIK Gambar 3.10: Grafik Hasil Ukur NEXT
37 Tabel 3.9: Hasil Pengukuran Near-End-CrosstalkCrosstalk NAMA RK PRIMER NEXT NEXT PROSENTASE (BAIK) (TIDAK BAIK) (BAIK) P1(1-600) 263 337 43.83% P15(1-200) 122 78 61.00% P7(201-300) 70 30 70.00% Total 455 445 50.56% P16(1-100) 66 34 66.00% P2(1-400) 215 185 53.75% P7(101-200) 56 44 56.00% Total 337 263 56.17% Sedangkan untuk pengukuran FEXT, dilakukan dengan metode end to end, artinya pengukuran dilakukan di ujung dekat dan ujung jauh, sehingga dibutuhkan minimal 2 orang untuk melakukan pengukuran ini. Satu sisi alat ukur di fungsikan sebagai oscilator, dan satu sisi lainnya difungsikan sebagai level meter. 800 700 JUMLAH PAIR 600 500 400 300 200 100 0 NAMA RK BAIK TIDAK BAIK Gambar 3.11: Grafik Hasil Ukur FEXT
38 Tabel 3.10: Hasil Pengukuran Far-End-Crosstalk (FEXT) NAMA RK PRIMER FEXT FEXT PROSENTASE (BAIK) (TIDAK BAIK) (BAIK) P1(1-600) 458 142 76.33% P15(1-200) 143 57 71.50% P7(201-300) 80 20 80.00% Total 681 219 75.67% P16(1-100) 77 23 77.00% P2(1-400) 283 117 70.75% P7(101-200) 74 26 74.00% Total 434 166 72.33% 3.3.2 Metode Pengukuran Secara Otomatis. Pengukuran dengan menggunakan metode otomatis ini menggunakan software aplikasi ISLIM (INTI Subscriber Line Maintenance System) yang dikembangkan oleh PT. INTI (Industri Telekomunikasi Indonesia) yang di implementasikan di PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Aplikasi lain yang dapat digunakan untuk pengukuran parameter akses broadband yang ada di PT. Telkom adalam BAMS (Broadband Access Measurement system) yang dapat digunakan untuk mengukur parameter elektris kabel dengan lebih lengkap, namun dalam pengukuran Tugas Akhir ini tidak digunakan karena keterbatasan sumber daya dan waktu yang ada. Sehingga yang digunakan adalah ISLIM. Konfigurasi pengukuran ISLIM dalam implmentasinya adalah seperti berikut : Gambar 3.12: Konfigurasi pengukuran ISLIM. 3 3 Materi Pelatihan - Pengukuran Menggunakan ISLIM PT. INTI
39 Besaran-besaran yang dapat diukur menggunakan metode pengukuran dengan aplikasi ISLIM ini meliputi pengukuran Tahanan Isolasi, Kapasitansi, Tegangan AC (Alternating Current) pada kabel dan Tegangan DC (Direct Current) pada kabel. 1. Tahanan Isolasi Pengukuran tahanan isolasi di lapangan menggunakan ISLIM, dan didapat hasil tabel pengukuran sebagai berikut : Tabel 3.11: Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi RK RK PRIMER BAIK TIDAK BAIK JUMLAH MEMENUHI STANDARISASI P1(1-600) 320 280 600 53.33% P15(1-200) 77 123 200 38.50% P7(201-300) 42 58 100 42.00% JUMLAH PAIR 439 461 900 48.78% Tabel 3.12: Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi RK RK PRIMER BAIK TIDAK BAIK JUMLAH MEMENUHI STANDARISASI P16(1-100) 49 51 100 49.00% P2(1-400) 138 262 400 34.50% P7(101-200) 40 60 100 40.00% JUMLAH (PAIR) 227 373 600 37.83%
40 Berikut grafik perbandingan tahanan isolasi antara RK dan RK. HASIL PENGUKUN TAHANAN ISOLASI 500 JUMLAH PAIR 400 300 200 100 0 NAMA RK MEMENUHI STANDARISASI TIDAK MEMENUHI STANDARISASI Gambar 3.13: Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi RK Dan RK 2. Tegangan AC Setelah dilakukan pengukuran tegangan AC pada ruas kabel RK dan RK, didapat hasil pengukuran sebagai berikut : Tabel 3.13: Hasil Pengukuran Tegangan AC pada kabel RK. RK TIDAK PRIMER BAIK BAIK TOTAL MEMENUHI STANDARISASI P1(1-600) 596 4 600 99.33% P15(1-200) 198 2 200 99.00% P7(201-300) 100 0 100 100.00% JUMLAH (PAIR) 894 6 900 99.33%
41 Tabel 3.14: Hasil Pengukuran Tegangan AC pada kabel RK. RK TIDAK PRIMER BAIK BAIK TOTAL MEMENUHI STANDARISASI P16(1-100) 99 1 100 99.00% P2(1-400) 396 4 400 99.00% P7(101-200) 98 2 100 98.00% JUMLAH (PAIR) 593 7 600 98.83% Terlihat bahwa hasil pengukuran tegangan AC pada kedua kabel yang mencatu RK dan RK secara global dapat dikatakan baik, karena jumlah pair yang masih memenuhi standarisasi PT. Telkom mencapai 99,3 % untuk RK, dan 98,83 % untuk RK. Berikut perbandingan hasil pengukuran tegangan AC kedua RK dan RK : HASIL PENGUKUN TEGANGAN AC JUMLAH PAIR 1000 800 600 400 200 0 NAMA RK MEMENUHI STANDARISASI TIDAK MEMENUHI STANDARISASI Gambar 3.14: Hasil Pengukuran Tegangan AC RK dan RK