BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai (Ditjen POM RI, 1995).

dokumen-dokumen yang mirip
LAPORAN PRAKTIKUM HPLC : ANALISA TABLET VITAMIN C

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Obat Generik (Unbranded Drug) adalah obat dengan nama generik, nama

High Performance Liquid Chromatography (HPLC) Indah Solihah

High Performance Liquid Chromatography (HPLC) Indah Solihah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

High Performance Liquid Chromatography (HPLC) Indah Solihah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut USP (2007), sifat fisikokimia cefadroxil adalah sebagai berikut:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Ditjen. BKAK (2014), sifat fisikokimia pirasetam adalah : Gambar 2.1 Struktur Pirasetam. : 2-Oxopirolidin 1-Asetamida

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lunak yang dapat larut dalam saluran cerna. Tergantung formulasinya kapsul terbagi

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sediaan pemutih wajah. Hal ini dikarenakan efektivitas kerja dari hidrokuinon

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. A (retinol) atau disebut juga tretinoin. Bahan ini sering dipakai pada

I. METODE PENELITIAN. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Januari 2012 di Balai Besar Pengembangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengkompromikan daya pisah kromatografi, beban cuplikan, dan waktu analisis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. metilselulosa atau bahan lain yang cocok (Anief, 1994).

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. dengan penambahan bahan tambahan yang sesuai. Tablet dapat berbeda-beda

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saus cabai atau yang biasa juga disebut saus sambal adalah saus yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. antibiotik-antibiotik yang penting dan banyak digunakan yang dikenal oleh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Fase gerak : dapar fosfat ph 3,5 : asetonitril (80:20) : panjang gelombang 195 nm

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan. Republik Indonesia tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Suplemen

BAB I PENDAHULUAN. digunakan sebagai obat influenza. PCT merupakan analgesik-antipiretik, dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bentuk tabung pipih atau siskuler, kedua permukaannya rata atau cembung,

Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini :

BAB I PENDAHULUAN. tertentu seperti asam-asam amino, asam-asam nukleat, dan proteinprotein

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sifat Fisikokimia Sifat fisikokimia menurut Ditjen POM (1995) adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berbagai infeksi virus pada manusia disebabkan oleh virus herpes. Infeksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Ekstraksi Zat Warna Rhodamin B dalam Sampel

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. kuat dilaboratorium kimia. Metode kromatografi, karena pemanfaatannya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. kembali pada awal tahun 1920-an. Pada tahun 1995-an, metode kromatografi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. meringankan gejala batuk dan pilek, penyakit yang seluruh orang pernah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Analisis Kuantitatif

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Kromatografi Gas-Cair (Gas-Liquid Chromatography)

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

BAB III ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA. Alat kromatografi kinerja tinggi (Shimadzu, LC-10AD VP) yang

KROMATOGRAFI. Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Moffat, dkk., (2004), uraian tentang tramadol adalah sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Nistatin sebagai obat antijamur poliena secara alami berasal dari

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKAA Sifat. Fisikokimia. berikut: Rumus struktur : Nama Kimia. Rumus Molekul. : C 6 H 12 NNaO. Berat Molekul.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Optimasi pembuatan mikrokapsul alginat kosong sebagai uji

BAB I PENDAHULUAN ZAT PADAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Jurnal Farmasi Malahayati Volume 1 No.1 Januari

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. populer di kalangan masyarakat. Berdasarkan (SNI ), saus sambal

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak

Penentuan Kadar Tablet Asetosal Menggunakan HPLC (High Performance Liquid Chromatography) Tiffany Sabilla Ramadhani

AFLATOKSIN dan BAHAN PENGAWET

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

HASIL DAN PEMBAHASAN

ALAT ANALISA. Pendahuluan. Alat Analisa di Bidang Kimia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a. Pemilihan komposisi fase gerak untuk analisis levofloksasin secara KCKT

4 Hasil dan Pembahasan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pembuatan larutan induk standar fenobarbital dan diazepam

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Januari 2013, bertempat di

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. gigitan serangga dan eksim scabies (Anonim, 2008). Fluosinolon asetonid

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan metode purposive sampling, dimana pengambilan sampel dilakukan

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2014 Mei 2015 di UPT

BAB III METODE PENGUJIAN. Industri PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Plant Medan yang beralamat di Jl.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai bulan Juni 2012 di

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS KANDUNGAN TUMBUHAN OBAT. ANALISIS Etil p-metoksi sinamat DARI RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.

Validasi metode merupakan proses yang dilakukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODE PENELITIAN di Laboratorium Biomassa Terpadu Universitas Lampung.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sering (sekitar 80%) terjadi di paru-paru. Penyebabnya adalah suatu basil Grampositif

BAB VII Kromatografi Cairan Kinerja Tinggi (KCKT) (High Performance Liquid Chromatography)HPLC

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau diagnosis suatu penyakit, kelainan fisik, atau gejala-gejalanya pada manusia

SIMULTANEOUS DETERMINATION OF PARACETAMOL AND IBUPROFENE MIXTURES BY HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY

BAB 3 METODE PENELITIAN

Dalam bidang farmasetika, kata larutan sering mengacu pada suatu larutan dengan pembawa air.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut British Pharmacopeia (2009), sifat fisikokimia domperidone

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mempercantik wajah. Kosmetik yang berbahaya mengandung komposisi dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bahan Tambahan Makanan (BTM) atau food additives adalah senyawa

LAPORAN PRAKTIKUM Praktikum HPLC, Analisa Tablet Vitamin C

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kapsul Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai (Ditjen POM RI, 1995). Menurut Rangkuti (1985), terdapat dua macam kapsul, yaitu: a. Kapsul keras Kapsul yang terdiri dari kotak dan tutup dengan batas yang jelas disebut juga kapsul gelatin keras. Dapat diberi warna agar lebih menarik dan agar obat dapat dibedakan menurut warnanya. Kapsul keras tidak dapat diberikan untuk anak-anak dibawah 6 tahun, karena sukar untuk ditelan. b. Kapsul lunak Kapsul yang lunak dan elastis lebih mudah ditelan, sehingga dapat diberikan kepada anak-anak diatas dua tahun. Maksud pemberian obat dalam bentuk kapsul yaitu untuk menutupi bau, rasa pahit yang tidak enak, obat-obat yang menyebabkan muntah serta obat yang harus bekerja pada usus. Komposisi gelatin lunak berbeda dengan kapsul gelatin keras adalah bahwa gula diganti dengan plasticizer yang membuat lunak, 5% gula dapat ditambahkan agar kapsul dapat dikunyah. Sebagai plasticizer digunakan gliserin dan sorbitol atau campuran keduanya (Anief, 1986). 3

Menurut besarnya kapsul diberi nomor urut dari besar sampai yang terkecil sebagai berikut: 000, 00, 0, 1, 2, 3. Kapsul harus disimpan dalam wadah gelas tertutup kedap, terlindung dari debu dan kelembaban dan temperatur yang ekstrem (Anief, 1986). 2.1.1 Persyaratan Kapsul meliputi: Menurut Ditjen POM RI (1995), persyaratan kapsul kloramfenikol a. Keseragaman bobot Persyaratan keseragaman bobot dapat diterapkan pada produk kapsul lunak berisi cairan, atau pada produk yang mengandung zat aktif 50 mg atau lebih yang merupakan 50% atau lebih, dari bobot satuan sediaan. Persyaratan keseragaman bobot dapat diterapkan pada sediaan padat (termasuk sediaan padat steril) tanpa mengandung zat aktif atau inaktif yang ditambahkan. b. Uji waktu hancur Uji ini dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian batas waktu hancur yang tertera dalam masing-masing monografi. Tetapkan jenis sediaan yang akan diuji dari etiket serta dari pengamatan dan gunakan prosedur yang tepat untuk enam unit sediaan atau lebih. Uji waktu hancur tidak menyatakan bahwa sediaan atau bahan aktifnya terlarut sempurna. Sediaan dinyatakan hancur sempurna bila sisa sediaan yang tertinggal pada kasa alat uji merupakan massa lunak yang tidak mempunyai inti yang jelas, kecuali bagian dari penyalut atau cangkang kapsul yang tidak larut. 4

c. Uji disolusi Uji ini digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang tertera dalam masing-masing monografi untuk sediaan tablet dan kapsul, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah. Uji disolusi untuk kapsul kloramfenikol menggunakan media disolusi 900 ml asam klorida 0,1 N dengan waktu 30 menit. d. Penetapan kadar Penetapan kadar dilakukan untuk memastikan bahwa kandungan zat berkhasiat yang terdapat dalam kapsul telah memenuhi syarat dan sesuai dengan yang tertera pada etiket. Metode penetapan kadar yang digunakan sesuai dengan zat aktif yang terkandung dalam sediaan kapsul. 2.2 Antibiotik Antibiotika adalah bahan kimia yang dihasilkan oleh mikroba seperti bakteri, jamur dan lain-lain, yang dalam konsentrasi tertentu mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan mikroba lain. Berdasarkan definisi ini, bahan yang dapat dianggap sebagai antibiotika adalah hasil alamiah saja. Akan tetapi yang termasuk kategori ini juga adalah bahan-bahan antibiotika semi sintetis yang merupakan hasil modifikasi bahan kimia antibiotika alam dan transformasi mikrobiologi dari bahan-bahan sintetis (Hadisahputra dan Harahap, 1994). 5

2.3 Uraian Kloramfenikol Rumus bangun kloramfenikol dapat dilihat pada gambar 2.3 Gambar struktur kloramfenikol 2.3. Berat Molekul : 323,13. Rumus Molekul : C 11 H 12 Cl 2 N 2 O 5 Pemerian : hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang, putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan, larutan praktis netral terhadap lakmus, stabil dalam larutan netral atau larutan agak asam.kelarutan : sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, dalam propilen glikol, dalam aseton dan dalam etil asetat (Ditjen POM RI,2014). Kloramfenikol adalah salah satu antibiotik yang secara kimiawi diketahui paling stabil dalam segala pemakaian. Dia memiliki stabilitas yang sangat baik pada suhu kamar dan kisaran ph 2 sampai 7, stabilitas maksimumnya dicapai pada ph 6. Pada suhu 25 dan ph 6, memiliki waktu paruh hampir tiga tahun yang menjadi penyebab utama terjadinya degradasi kloramfenikol dalam media air adalah pemecahan hidrolitik pada pemecahan amida. Adapun Laju reaksinya berlangsung dibawah orde pertama dan tidak tergantung pada kekuatan ionik media (Connors, 1986). 6

2.4 Penetapan Kadar Kloramfenikol 2.4.1 Metode Penetapan Kadar Kloramfenikol Metode yang biasa digunakan untuk penetapan kadar kloramfenikol ada beberapa macam, yaitu : i. Metode Titrasi Bebas Air (TBA) Kloramfenikol dalam suasana asam akan terurai menjadi senyawa amin primer melalui gugus amida. Senyawa amin primer hasil peruraian kloramfenikol dalam suasana asam cukup basa untuk dititrasi secara bebas air. Penambahan raksa (II) asetat diperlukan untuk mengikat adanya klorida bebas yang mungkin terjadi akibat peruraian itu. ii. Metode Nitrimetri Adanya gugus nitro aromatis pada kloramfenikol dapat direduksi dengan seng, stano klorida, atau natrium hidrogen sulfit menjadi amin aromatis primer sehingga dapat ditetapkan adanya secara kuantitatif dengan metode nitrimetri. Perlu dipertimbangkan hasil peruraiannya sehinga harus dipisahkan dulu dari kloramfenikol. iii. Metode Bromometri Gugus nitro aromatis pada kloramfenikol setelah diubah menjadi amin primer aromatis dapat ditetapkan secara bromometri. iv. Metode Argentometri Bila kloramfenikol dipijarkan bersama natrium karbonat dan kalium karbonat maka atom klor dari kloramfenikol menjadi garam klorida. Pemijaran 7

dilakukan sampai tidak ada warna hitam. Ini berarti tidak ada senyawa hidrokarbon lagi. Klorida yang terjadi dapat ditetapkan secara argentometri. v. Metode Spektrofotometri a. Spektrofotometri ultra violet (UV) Kloramfenikol dalam larutan air menunjukkan spektrum absorbansi yang lebar pada panjang gelombang maksimal 278 nm. Absorbansi ini disebabkan oleh gugus para-nitrofenil, karenanya hasil peruraiannya juga memberikan spektrum yang serupa sehingga karena alasan ini metode secara spektrofotometri banyak digunakan terhadap senyawa murni atau digunakan untuk penetapan kadar hasil pemisahan secara kromatografi. Pada senyawa yang tersimpan lama, sebaiknya diuji terlebih dulu dengan kromatografi lapis tipis untuk melihat apakah ada peruraian atau tidak bila setelah diuji dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) terdapat satu bercak maka kloramfenikol belum mengalami peruraian, jika lebih dari satu bercak berarti telah terjadi peruraian. Jika kloramfenikol telah terurai maka metode penetapan kadarnya yang sesuai adalah dengan metode kromatografi. b. Spektrofotometri Sinar Tampak atau Kolorimetri Kloramfenikol juga dapat ditetapkan secara kolorimetri setelah gugus nitronya direduksi menjadi amin primer aromatis kemudian dilanjutkan dengan diazotasi dan direaksikan dengan N-(1-naftil)-etilendiamin (Sudjadi dan Rohman,2008). 8

2.4.2 Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC, High Performance Liquid Chromatography) merupakan suatu teknis analisis obat yang paling cepat berkembang. Cara ini ideal untuk analisis beragam obat dalam sediaan dan cairan biologi, karena sederhana, kemenjenisan dan kepekaannya tinggi (Munson, 1991). Pada akhir tahun 1960-an, analis menjadi terbiasa akan pemisahan campuran yang rumit dalam beberapa menit atau bahkan detik dengan hasil yang bagus sekali, dan dengan intergrasi elektronik memperoleh luas di bawah pita elusi maupun cetak keluaran komputer dari analisis yang lengkap. Nanogram, dan bahkan pikogram, kuantitas dapat dideteksi dalam kasus-kasus yang mudah seperti (1 nanogram = 10-9 gram; pikogram = 10-12 gram). Dalam beberapa tulisan HP dalam HPLC menyatakan tekanan tinggi, dan bagi mereka yang anggarannya terbatas dapat membayangkan sebagai harga tinggi, namun bagi kebanyakan HP berarti penampilan tinggi H = high; P = pressure, price, performance(day dan Underwood, 1986). Metode spektrofotometri tidak dapat membedakan antara kloramfenikol dan produk degradasinya 1-(4-nitrofenil)-3-amino-1,3-propandiol. Metode KCKT telah dikembangkan untuk menetapkan kadar kloramfenikol dan produk degradasinya (Sudjadi dan Rohman, 2008). Kolom yang digunakan adalah fase terbalik (C 18, 25 cm 0,46 cm, dengan ukuran partikel 10 mikron) dan dioperasikan pada suhu ruang. Detektor yang digunakan adalah spektrofotometer ultra violet pada panjang gelombang 254 nm dan diatur pada AUFS 0,05. Fase gerak yang digunakan adalah campuran buffer kalium monobasik fosfat 0,01 M metanol dengan perbandingan 58:42 v/v 9

dihantarkan secara isokratik dengan kecepatan alir fase gerak 1,5 ml/menit. Semua bahan diinjeksikan dengan volume 5 µl (Sudjadi dan Rohman, 2008). 2.4.3 Sistem Peralatan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi a. Wadah Fase Gerak dan Fase Gerak Wadah fase gerak harus bersih dan inert. Wadah pelarut kosong ataupun labu laboratorium dapat digunakan sebagai wadah fase gerak. Wadah ini biasanya dapat menampung fase gerak antara 1 sampai 2 liter pelarut. Fase gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuran pelarut yang dapat bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan resolusi. Untuk fase normal (fase diam lebih polar daripada fase gerak), kemampuan elusi meningkat dengan meningkatnya polarits pelarut. Sementara untuk fase terbalik (fase diam kurang polar daripada fase gerak), kemampuan elusi menurun dengan meningkatnya polaritas pelarut. Elusi dapat dilakukan dengan cara isokratik (komposisi fase gerak tetap selama elusi) atau dengan cara bergradien (komposisi fase gerak berubah-ubah selama elusi) yang analog dengan pemrograman suhu pada kromatografi gas. Elusi bergradien digunakan untuk meningkatkan resolusi campuran yang kompleks terutama jika sampel mempunyai kisaran polaritas yang luas. Fase gerak yang paling sering digunakan untuk pemisahan dengan fase terbalik adalah campuran larutan bufer dengan metanol atau campuran air dengan asetonitril. Untuk pemisahan dengan fase normal, fase gerakyang paling sering digunakan adalah campuran pelarut-pelarut hidrokarbon dengan pelarut yang terklorisasi atau 10

menggunakan pelarut-pelarut jenis alkohol. Pemisahan dengan fase normal kurang umum dibanding dengan fase terbalik (Rohman,2009). b. Kolom atau Fase Diam Ada 2 jenis kolom pada kromatografi cair kinerja tinggi yaitu kolom konvensional dan kolom mikrobor. Kolom merupakan bagian kromatografi cair kinerja tinggi yang mana terdapat fase diam untuk berlangsungnya proses pemisahan solut atau analit. Kebanyakanfase diam padakromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi, silika yang tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil benzen. Permukaan silika adalah polar dan sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (Si-OH). Silika dapat dimodifikasi secara kimiawi dengan menggunakan reagen-reagen seperti klorosilan. Reagen-reagen ini akan bereaksi dengan gugus silanol dan menggantinya dengan gugus fungsional yang lain. Oktadesil silika(ods atau C 18 ) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang, maupun tinggi. c. Pompa Pompa yang digunakan untuk KCKTadalah pompa yang mempunyai syarat sebagaimana syarat wadah pelarut, yakni : pompa harus inert terhadap fase gerak. Bahan yang umum dipakai untuk pompa adalah gelas, baja tahan karat, teflon, dan batu nilam. Pompa yang digunakan sebaiknya mampu memberikan tekanan sampai 5000 psi dan mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan alir 3 11

ml/menit. Untuk tujuan preparatif, pompa yang digunakan harus mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan 20 ml/menit (Rohman,2009). Tujuan penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase gerak adalah untuk menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung secara tepat, reprodusibel, konstan, dan bebas dari gangguan. Ada dua jenis pompa dalam KCKT yaitu: pompa dengan tekanan konstan, dan pompa dengan aliran fase gerak yang konstan. Tipe pompa dengan aliran fase gerak yang konstan sejauh ini lebih umum dibandingkan dengan tipe pompa dengan tekanan konstan. d. Tempat Penyuntikan Sampel Sampel-sampel cair dan larutan disuntikkan secara langsung ke dalam fase gerak yang mengalir di bawah tekanan menuju kolom menggunakan alat penyuntik yang terbuat dari tembaga tahan karat dan katup teflon yang dilengkapi dengan keluk sampel (sample loop) internal atau eksternal. e. Detektor Detektor pada KCKT dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu: detektor universal (yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan tidak bersifat selektif) seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa, dan golongan detektor yang spesifik yang hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif, seperti detektor ultra violet sinar tampak, detektor fluoresensi, dan elektrokimia. 12

Idealnya, suatu detektor harus mempunyai karakteristik sebagai berikut: i. Mempunyai respon terhadap solut yang cepat dan reprodusibel ii. Mempunyai sensitivitas yang tinggi, yakni mampu mendeteksi solut pada kadar yang sangat kecil dan stabil dalam pengoperasiannya iii. Mempunyai sel volume yang kecil sehingga mampu meminimalkan pelebaran pita iv. Signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi solut pada kisaran yang luas (kisaran dinamis linier) v. Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak(rohman,2009). f. Injektor Cuplikan harus dimasukkan kedalam pangkal kolom (kepala kolom), diusahakan agar sedikit mungkin terjadi gangguan pada kemasan kolom. Ada tiga jenis dasar injektor, yaitu: a. Aliran henti; b. Septum; c. Katup jalan kitar (Johnson dan Stevenson, 1991). 2.4.4 Kelebihan dan Keterbatasan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi KCKT atau High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) merupakan salah satu metode kimia dan fisikokima. KCKT termasuk metode analisis terbaru yaitu teknik kromatografi dengan fase gerak cairan dan fase diam cairan atau padat. Banyak kelebihan metode ini dibandingkan dengan metode lainnya (Done Dkk, 1974; Synder dan Kirkland, 1979; Hamilton dan Sewell, 1982; Johnson dan Stevenson, 1978). Kelebihan itu antara lain : 13

1) Mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran 2) Kecepatan analisis dan kepekaan tinggi 3) Dapat dihindari kerusakan bahan yang dianalisis 4) Resolusi yang baik 5) Dapat digunakan bermacam-macam detektor 6) Kolom dapat digunakan kembali 7) Mudah melakukan sample recovery Kelebihan KCKT menurut (Johnson dan Stevenson, 1991) adalah cepat, daya pisahnya baik, peka dan detektor unik, kolom yang dapat dipakai kembali ideal untuk molekul besar dan ion, serta mudah memperoleh kembali. Kromatografi cair kinerja tinggi paling sering digunakan untuk: menetapkan kadar senyawa-senyawa tertentu seperti asam-asam amino, asam-asam nukleat, dan protein-protein dalam cairan fisiologis, menentukan kadar senyawa-senyawa aktif obat, produk hasil samping proses sintetis, atau produk-produk degradasi dalam sediaan farmasi; monitor sampel-sampel yang berasal dari lingkungan; memurnikan senyawa dalam suatu campuran; memisahkan polimer dan menentukan distribusi berat molekulnya dalam suatu campuran, kontrol kualitas, dan mengikuti jalannya reaksi sintesis. Keterbatasan KCKT adalah untuk identifikasi senyawa, kecuali KCKT dihubungkan dengan senyawa spektrofotometer massa (MS). Keterbatasan lainnya adalah jika sampelnya sangat kompleks, maka resolusi yang baik sulit diperoleh (Rohman, 2007). 14