AKUNTANSI PPN & PPnBM

dokumen-dokumen yang mirip
Sistem Kredit PPN. PPN Keluaran. Ketika PPN Keluaran. Merupakan PPN yang dipungut PKP Penjual atas penyerahan

PAJAK PERUSAHAAN Pajak penghasilan perusahaan Pajak pihak ketiga PPN dan PPnBM Pajak Lain-lain 2

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Bhayangkara Jaya. Analisis Perhitungan..., Nurhasanah, Fakultas Ekonomi 2016

BAB IV PEMBAHASAN. IV. 1 Analisis Mekanisme Pajak Penghasilan Pasal 22 di PT. KAS

BAB II. adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang

BAB II LANDASAN TEORI

PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH (PPn BM)

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN BARANG MEWAH UNDANG-UNDANG NO. 42 TAHUN 2009

BAB II KAJIAN PUSTAKA

EVALUASI PELAKSANAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA PT REK DI TAHUN PAJAK 2011

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 550/KMK.04/2000 TENTANG

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN BARANG MEWAH PPN dan PPnBM

Bab 4 PEMBAHASAN. PT. XYZ merupakan Perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur

BAB 4. Pembahasan Hasil Penelitian

BAB I PENAHULUAN. Pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang

Perpajakan 2 PPN & PPnBM

PERPAJAKAN II. PENGISIAN e-spt PPN Deden Tarmidi, SE., M.Ak., BKP. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Akuntansi

Prinsip Umum. Pengkreditan Pajak Masukan. PajakMasukanTidakDapat Dikreditkan. Prinsip Umum

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai. IV.1.1 Analisis Perolehan Barang Kena Pajak (Pajak Masukan)

PERTEMUAN 12 By Ely Suhayati SE MSi Ak. PPN DAN PPnBM

Pertemuan 2 FAKTUR PAJAK. Faktur Pajak

Evaluasi Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai di PT IO

BAB IV PEMBAHASAN. dan sesudah perubahan Undang-undang No.42 Tahun 2009, penulis melakukan

OLEH: Yulazri SE. M.Ak. Akt. CPA

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. Pengusaha Kena Pajak, maka PT. PP (Persero) Tbk mempunyai hak dan

Objek PPN Yang Harus Dibuatkan Faktur Pajak. a. penyerahan BKP di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha

BAB II LANDASAN TEORI. tentang pajak yang dikemukakan oleh para ahli di bidang perpajakan menurut Prof. Dr.

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Undang Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. 1.1 Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. menyediakan pembuatan alat untuk pembangunan beton di jalan tol.

BAB I PENDAHULUAN. sumber utama penerimaan negara, sedangkan negara-negara miskin dan negara

PAPER. Dibuat Oleh: Annisa Pradita FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR

SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) BAGI PEMUNGUT PPN Bacalah terlebih dahulu Buku Petunjuk Pengisian SPT Masa PPN

BAB II LANDASAN TEORI. yang berbeda tentang definisi dari pajak itu sendiri. Soemitro dalam bukunya Dasardasar

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Prof. Dr. P.J.A. Adriani, Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI. pajak berdasarkan Undang-Undang No.28 Tahun 2007 tentang. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, yaitu sebagai berikut:

BAB II LANDASAN TEORI

AKUNTANSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH

BAB I PENDAHULUAN. terbukti bahwa pada pendapatan negara sebesar Rp Triliun bersumber

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. PT. MRC adalah perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa konstruksi.

BAB II LANDASAN TEORI. Definisi pajak menurut undang-undang dan pakar pajak sebagai berikut :

KATA PENGANTAR DIREKTUR JENDERAL PAJAK

Self assessment : WP membayar pajak sesuai UU tidak tergantung SKP

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. PT. HAJ adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perusahaan dagang

SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) BAGI PEMUNGUT PPN

KUP PELAPORAN DAN PENYETORAN PAJAK

KEWAJIBAN PERPAJAKAN ATAS PENGGUNAAN DANA HIBAH PENELITIAN KOPERTIS WILAYAH III JAKARTA TAHUN 2018

BAB 2 LANDASAN TEORI. undang-undang oleh pemerintah, yang sebagian dipakai untuk menyediakan barang

PENGANTAR. Dasar Hukum : UU Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU Nomor 42 Tahun Presented by M.

PETUNJUK PENGISIAN FORMULIR 1101 BM SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH (SPT MASA PPn BM) ( F )

Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak PJ.091/PL/S/006/

Landasan Hukum: Pasal 22 UU PPh. PMK No. 154/ PMK.03/ 2010 j.o. No. 224/ PMK.011/ PMK No. 253/ PMK.03/ 2008

PROSEDUR PEMERIKSAAN PPN DAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Mardiasmo (2001:118), Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

KEP-540/PJ/2000 PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH ATAS KENDARA

BAB II TEORI PERPAJAKAN, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI, PENGADILAN PAJAK DAN BANDING PAJAK

Buku Panduan Perpajakan Bendahara Pemerintah BAB VI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)

BAB IV PEMBAHASAN. Dalam analisa penghitungan dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai, penulis

BAB I PENDAHULUAN. warga negara yang telah memenuhi kriterial sebagai wajib pajak menurut

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. hewan) yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) pada

RANCANGAN PERKULIAHAN PROGRAM STUDI S-1 MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Ketentuan Formal Pajak Pertambahan Nilai PT TRT 4.2 Analisis Faktur Pajak

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II LANDASAN TEORITIS. 1. Pengertian, Tujuan dan Manfaat Pajak Pertambahan Nilai. yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 15 /PJ/2010 TENTANG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Faktur Pajak. Objek PPN Yang Harus Dibuatkan Faktur Pajak. Saat Faktur Pajak Harus Dibuat. Faktur Pajak Gabungan

iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang undang yang dapat dipaksakan

BAB II LANDASAN TEORI. rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat

SE-21/PJ.51/2000 PPN DAN PPn BM DALAM TATA NIAGA KENDARAAN BERMOTOR

FAKTUR PAJAK STANDAR

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

(Dr) Piutang 55,000,000 (Cr) PPN Keluaran 5,000,000 Penjualan 50,000,000. (Dr) Kas/Bank 55,000,000 (Cr) Piutang 55,000,000

BAB II LANDASAN TEORI. dikemukakan para ahli sebagai berikut: a. Prof. Dr. Rochmat Soemitro SH (2002:1)

KETENTUAN UMUM & TATA CARA PERPAJAKAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TELAAH PUSTAKA. pengertian yang sama. Beberapa pengertian pajak yang dikemukakan oleh

PEMOTONGAN/ PEMUNGUTAN PAJAK ATAS PENGGUNAAN DANA DESA

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. kewajiban perpajakannya, khususnya atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, MEMUTUSKAN :

Soal UAS Lab PPN & PPnBM

BAB II KAJIAN PUSTAKA. yang satu sama lain pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 15/PJ/2010 TENTANG

BAB II LANDASAN TEORI

Transkripsi:

AKUNTANSI PPN & PPnBM

Catatan PPN

Sistem Kredit PPN Pasal 9 Ayat (2), (3), (4), (4a) UU PPN PPN Keluaran Merupakan PPN yang dipungut PKP Penjual atas penyerahan kepada PKP Pembeli. PPN Masukan Merupakan PPN yang dibayarkan PKP Pembeli kepada PKP Penjual atas penyerahan yang dimintanya. PPN Kurang Bayar Ketika PPN Keluaran melebihi PPN Masukan. Selisih tersebut harus disetorkan kepada kas negara. PPN Lebih Bayar Ketika PPN Masukan melebihi PPN Keluaran. Selisih tersebut dikompensasi di masa pajak berikut atau direstitusi paska masa pajak Desember. 3

Syarat Umum Pengkreditan PPN Masukan Pasal 9 Ayat (9) UU PPN Berkaitan langsung dengan kegiatan usaha. BKP atau JKP dimanfaatkan untuk penyerahan yang bersifat terutang PPN. PPN Masukan Dibuktikan oleh faktur pajak yang absah secara material dan formal. Dikreditkan maksimal 3 bulan setelah penyerahan BKP atau JKP. 4

PPN Masukan yg Tdk Dpt Dikreditkan Pasal 9 Ayat (8) UU PPN Berasal dari perolehan BKP atau JKP sebelum dikukuhkan sebagai PKP. Tidak berkaitan langsung dengan kegiatan produksi, distribusi, dan manajemen. Dimanfaatkan untuk penyerahan yang tidak terutang atau dibebaskan dari PPN. Berasal dari perolehan dan pemeliharaan kendaraan sedan, jeep, station wagon, van, atau kombi. Faktur pajak cacat atau hilang. PPN Masukan ditagih dengan Surat Ketetapan Pajak (SKP). Tidak dilaporkan dalam SPT Masa PPN. 5

DPP PPN HARGA JUAL PENGGANTIAN NILAI IMPOR NILAI EKSPOR NILAI LAIN YG DITETAPKAN DG. KEPMENKEU / KMK PPN = DPP PPN X Tarif 6

Kegiatan Membangun Sendiri Pasal 16C UU PPN, PMK No. 39/ PMK.03/ 2010 Merupakan kegiatan membangun bukan dalam rangka kegiatan usaha, untuk digunakan sendiri atau oleh orang lain. Definisi Persyaratan Bangunan meliputi satu atau lebih konstruksi permanen pada sebidang tanah dengan bahan kayu, beton, batu bata, atau baja dengan luas > 300 meter persegi. Bangunan diperuntukkan sebagai tempat tinggal atau tempat usaha. Proses pembangunan dapat meliputi beberapa tahap dalam kurun 2 tahun. 7

Pengelolaan PPN Kegiatan Membangun Sendiri Pembangun terutang PPN saat mulai membangun, di tempat kedudukan bangunan. Dasar Pengenaan PPN = 40% dari biaya bulanan selain biaya perolehan tanah PPN Masukan tidak dapat dikreditkan. PPN maksimal setiap tanggal 15 bulan setelah saat terutang. 8

Ilustrasi; Kegiatan Membangun Sendiri Koperasi Tanggamus melakukan kegiatan membangun sendiri yang selama 4 bulan pertama memerlukan biaya biaya berikut. No. Bulan Biaya Material Biaya Tenaga Kerja 1. April 165.000.000 76.500.000 2. Mei 134.500.000 65.000.000 3. Juni 215.000.000 91.250.000 4. Juli 131.500.000 55.750.000 Biaya di atas belum termasuk biaya pembebasan lahan utama sebesar Rp 550.000.000,00 di bulan April dan pembebasan lahan perluasan sebesar Rp 275.000.000,00 di bulan Juli. Berapakah PPN terutang untuk setiap bulannya? 9

Pembahasan; Kegiatan Membangun Sendiri Jawaban: DPP kegiatan membangun sendiri adalah sebesar 40% dari biaya selain pembebasan lahan. No. Bulan Biaya Material Biaya Tenaga Kerja Biaya Bulanan DPP PPN Terutang 1. April 165.000.000 76.500.000 241.500.000 96.600.000 9.660.000 2. Mei 134.500.000 65.000.000 199.500.000 79.800.000 7.980.000 3. Juni 215.000.000 91.250.000 306.250.000 122.500.000 12.250.000 4. Juli 131.500.000 55.750.000 187.250.000 74.900.000 7.490.000 10

PERLAKUAN PPN

PPN & PPn BM PPN Masukan yg dapat dikreditkan; Pebelian/Perd. Rp. xxxx PPN Masukan Rp. xxxx Utang / Kas Rp. xxxx PPN Masukan yg tidak dapat dikreditkan; Aktiva X Rp. xxxx Beban PPN Rp. xxxx Kas / Utang Rp. xxxx Retur Pembelian (PPN Masukan); Utang / Kas Rp. xxxx PPN Masukan Rp. xxxx Pembelian / Perd Rp. xxxx.

PPN & PPn BM, lanjutan Potongan Pembelian; Pebelian / Perd Rp. xxxx PPN Masukan Rp. xxxx Potongan Pembelian Rp. xxxx Kas Rp. xxxx PPN Keluaran (Penjualan Biasa); Kas Rp. xxxx PPN Keluaran Rp. xxxx Penjualan Rp. xxxx PPN Keluaran (Retur Penjualan); Retur Penjualan PPN Keluaran Kas / Piutang Rp. xxxx Rp. xxxx Rp. xxxx

PPN dikenakan atas setiap penyerahan barang kena pajak yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak. PPN dikenakan pada setiap level distributor PPN akan ditambahkan dari harga jual, sehingga jumlah yang dibayar oleh konsumen adalah harga jual ditambah dengan PPN. PPN yang dibayar oleh konsumen akan dicatat sebagai PPN keluaran. Pencatatan saat penjualan: Piutang dagang 330.000 Penjualan 300.000 PPN keluaran 30.000

Ketika melakukan pembelian barang atau barang yang yang dipergunakan untuk produksi, perusahaan harus membayar PPN kepada supplier. PPN yang dibayarkan pada saat pembelian disebut sebagai PPN masukan. Pencatatan yang dilakukan pada saat melakukan pembelian Pembelian/ Persediaan 200.000 Pajak masukan 20.000 Utang dagang/ Kas 220.000

Tidak semua pajak masukan boleh dikreditkan. Jika pajak masukan yang tidak dapat dikreditkan akan langsung dicatat menambah harga perolehan aktiva. Misalnya PPN masukan atas pembelian kendaraan direksi. PPN yang dibayar oleh perusahaan adalah selisih atas pajak keluaran dengan pajak masukan. Pajak keluaran > pajak masukan = perusahaan harus membayar Pajak keluaran < pajak masukan = perusahaan dapat meminta restitusi atau kompensasi (diperhitungkan pada pajak periode berikutnya). PPN dibayar dan dilaporkan untuk setiap masa (bulan, maksimal 3 bulan), yaitu pada tgl 15 dan 20 pada masa berikutnya.

Pencatatan yang dilakukan pada saat pengakuan utang: PPN keluaran 30.000 PPN masukan 20.000 Utang PPN 10.000 Pencatatan yang dilakukan pada saat pembayaran utang: Utang PPN 10.000 Kas 10.000 Jika PPN masukan lebih besar perusahaan mengajukan permohonan untuk restitusi. Fiskus akan melakukan pemeriksaan sebelum mengabulkan permohonan restitusi.

PPn BM Dikenakan hanya satu kali yaitu pada : Produsen penghasil barang mewah. Importir barang mewah. PPnBM tidak boleh dikreditkan dengan pajak yang lain. PPnBM akan ditambahkan dari harga jual yang telah ditetapkan oleh produsen atau importir Jumlah pajak yang dibayar oleh pembeli akan dicatat sebagai utang PPnBM. Utang PPnBM dibayarkan ke kas negara dan dilaporkan kepada fiskus.

KASUS PPN

PPN & PPn BM a) PT. memproduksi BKPTM (Barang Kena Pajak Tergolong Mewah, tarif 20%) dalam bulan Nopember 2015 menjual barang kepada PT. ABX seharga Rp. 50.000.000 belum termasuk PPN. b) Harga jual barang Rp. 1.300.000. 000,. termasuk PPN dan PPnBM 20%,.

Kasus a; Perhitungan PPN dan PPnBM : Harga barang Rp. 50.000.000,00 PPN (10% X 50.000.000) Rp 5.000.000,00 PPn BM (20% X 50.000.000) Rp. 10.000.000,00 Jlh harga yg kepada PT. ABX Rp. 65.000.000,00

Jurnal; Jurnal bagi PT. ABC sebagai penjual/pemungut PPnBM: Kas/Piutang Rp. 65.000.000,00 PPN Keluaran Rp. 5.000.000,00 Utang PPnBM Rp. 10.000.000,00 Penjualan Rp. 50.000.000,00

Jurnal; Jurnal bagi PT. ABX sebagai pembeli/yang terpungut PPnBM: Pembelian/Persediaan Rp. 60.000.000,00 PPN Masukan Rp. 5.000.000,00 Kas/Utang Rp. 65.000.000,00 Keterangan: Apabila PT. ABX akan menjual lagi barang yang dibeli dari PT. ABC tersebut maka PT. ABX tidak boleh lagi memungut PPnBM namun masih boleh memungut PPN ke konsumennya.

Kasus 2; 10 PPN = ----------- X Rp. 1.300.000,00 110 + 20 = Rp. 100.000,00 20 PPnBM = - -------- X Rp. 1.300.000,00 110+20 = Rp. 200.000,00

Pada akhir Desember 2015 Pemegang Kas Dinas Kesehatan menyampaikan permintaan pembayaran ke Kas Daerah atas tagihan dari PKP Rekanan / Rekanan Pemerintah. Tagihan-tagihan dimaksud berkaitan dengan : 1) Pembelian komputer & perlengkapannya seharga Rp 31.900.000,00 (termasuk PPN) dari PKP Rekanan Pemerintah CV. AA 2) Pembelian ATK seharga Rp 19.800.000,00 (termasuk PPN) dari PKP Rekanan Pemerintah CV. AB 3) Pembelian mesin Foto Copy seharga Rp 24.200.000,00 (termasuk PPN) dari PKP Rekanan Pemerintah PT. AC 4) Penyerahan jasa perawatan / pemeliharaan mesin & kendaraan bermotor, listrik dan telepon, komputer & AC seharga Rp 18.700.000,00 (termasuk PPN) dari PKP Rekanan Pemerintah PT. AD 5) Penyerahan jasa pembasmian hama & pembersihan seharga Rp 8.800.000,00 dari PKP Rekanan Pemerintah CV. AE 6) Tanah dan bangunan yg disewa dari AF Rekanan Pemerintah seharga Rp 10.000.000,00 (tidak termasuk PPN). 7) Termyn ke-1 Rp 51.700.000,00 (termasuk PPN) pekerjaan rehabilitasi jalan (jasa pelaksanaan konstruksi) oleh PT. AG PKP Rekanan Pemerintah.

Jawaban: 1 Penghitungan PPh Pasal 22 dan PPN atas Pembelian Komputer dan Peralatannya Dasar Pengenaan Pajak (DPP) = 100/110 x Rp 31.900.000,00 = Rp 29.000.000,00 PPh Pasal 22 = 1,5% x Rp 29.000.000,00 = Rp 435.000,00 PPN = 10% x Rp 29.000.000,00 = Rp 2.900.000,00 Jumlah yang dibayarkan kepada CV. AA = Rp 31.900.000,00 Rp 2.900.000,00 = Rp 29.000.000,00 (jumlah ini termasuk PPh Pasal 22 sebesar Rp 435.000,00)

Jawaban: 2 Penghitungan PPh Pasal 22 dan PPN atas Pembelian Alat Tulis Kantor Dasar Pengenaan Pajak (DPP) = 100/110 x Rp 19.800.000,00 = Rp 18.000.000,00 PPh Pasal 22 = 1,5% x Rp 18.000.000,00 = Rp 270.000,00 PPN = 10% x Rp 18.000.000,00 = Rp 1.800.000,00 Jumlah yang dibayarkan kepada CV. AB = Rp 19.800.000,00 Rp 1.800.000,00 = Rp 18.000.000,00 (jumlah ini termasuk PPh Pasal 22 sebesar Rp 270.000,00)

Jawaban: 3 Penghitungan PPh Pasal 22 dan PPN atas Pembelian Mesin Foto Copy Dasar Pengenaan Pajak (DPP) = 100/110 x Rp 24.200.000,00 = Rp 22.000.000,00 PPh Pasal 22 = 1,5% x Rp 22.000.000,00 = Rp 330.000,00 PPN = 10% x Rp 22.000.000,00 = Rp 2.200.000,00 Jumlah yang dibayarkan kepada PT. AC = Rp 24.200.000,00 Rp 2.200.000,00 = Rp 22.000.000,00 (jumlah ini termasuk PPh Pasal 22 sebesar Rp 330.000,00)

Jawaban: 3) lanjutan Kewajiban Pemungut PPh Pasal 22 : menyetor PPh Pasal 22 yang dipungut ke kantor penerima pembayaran pada hari yang sama dengan hari dilaksanakan pembayaran tagihan. memberikan SSP PPh Pasal 22 lembar ke-1 sebagai bukti pungutan PPh Pasal 22. melaporkan pemungutan dan penyetoran PPh Pasal 22 ke KPP dimana pemungut terdaftar sebagai Wajib Pajak dengan SPT Masa PPh Pasal 22 (dilampiri daftar SSP berikut SSP-nya) paling lambat 14 hari setelah Masa Pajak berakhir.

Jawaban: 4 Penghitungan PPh Pasal 23 dan PPN atas penyerahan jasa perawatan / pemeliharaan mesin dan kendaraan bermotor, listrik dan telepon, komputer dan AC Dasar Pengenaan Pajak (DPP) = 100/110 x Rp 18.700.000,00 = Rp 17.000.000,00 PPh Pasal 23 = 15% x (40% x Rp 17.000.000,00) = 15% x Rp 6.800.000,00 = Rp 1.020.000,00 PPN = 10% x Rp 17.000.000,00 = Rp 1.700.000,00 Jumlah yang dibayarkan kepada CV. AD = Rp 18.700.000,00 Rp 1.700.000,00 = Rp 17.000.000,00 (jumlah ini termasuk PPh Pasal 23 sebesar Rp 1.020.000,00)

Jawaban: 5 Penghitungan PPh Pasal 23 dan PPN atas penyerahan jasa pembasmian hama dan pembersihan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) = 100/110 x Rp 8.800.000,00 = Rp 8.000.000,00 PPh Pasal 23 = 15% x 10% x Rp 8.000.000,00 = Rp 120.000,00 PPN = 10% x Rp 8.000.000,00 = Rp 800.000,00 Jumlah yang dibayarkan kepada CV. AE = Rp 8.000.000,00 Rp 120.000,00 = Rp 7.880.000,00 (jumlah ini termasuk PPh Pasal 23 Rp 120.000,00)

Jawaban: 5, lanjutan Kewajiban Pemotong PPh Pasal 23 : memotong PPh Pasal 23 pada saat dilakukan pembayaran kepada PKP Rekanan dengan memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 23 lembar ke-1. menyetor PPh Pasal 23 yang dipotong ke kantor penerima pembayaran paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. melaporkan pemotongan dan penyetoran PPh Pasal 23 dengan SPT Masa PPh Pasal 23 (dilampiri daftar bukti pemotongan PPh Pasal 23, bukti pemotongan PPh Pasal 23 lembar ke-2 dan SPT lembar ke-3)

Jawaban: 6 Penghitungan PPh atas Persewaan Tanah dan Bangunan PPh atas persewaan tanah dan bangunan = 10% x Rp 10.000.000,00 = Rp 1.000.000,00 Jumlah yang dibayarkan kepada Rekanan AF = Rp 10.000.000,00 (jumlah ini termasuk PPh Pasal 4 ayat (2) Rp 1.000.000,00)

Jawaban: 7 Penghitungan PPh Pasal 4 ayat (2) dan PPN PPh atas penyerahan jasa rehabilitasi jalan (jasa pelaksanaan konstruksi) Dasar Pengenaan Pajak (DPP) = 100/110 x Rp 51.700.000,00 = Rp 47.000.000,00 PPh atas jasa pelaksanaan konstruksi = 2% x Rp 47.000.000,00 = Rp 940.000,00 PPN = 10% x Rp 47.000.000,00 = Rp 4.700.000,00 Jumlah yang dibayarkan kepada PT. AG = Rp 51.700.000,00 Rp 4.700.000,00 = Rp 47.000.000,00 (jumlah ini termasuk PPh Pasal 4 ayat (2) Rp 940.000,00)

Jawaban: 7, lanjutan Kewajiban Pemotong PPh Psl 4 ayat (2): memotong PPh Pasal 4 ayat (2) pada saat dilakukan pembayaran, dengan memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) lembar ke-1 menyetor PPh Pasal 4 ayat (2) yang dipotong paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. melaporkan pemotongan dan penyetoran PPh tersebut dengan SPT PPh Pasal 4 ayat (2) ke KPP dimana pemotong terdaftar sebagai Wajib Pajak dilampiri daftar bukti pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2), bukti pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) lembar ke- 2, berikut SSP lembar ke-3.

Ilustrasi; Pencatatan Transaksi A PT. Welirang sepanjang masa berjalan melakukan penyerahan jasa kepada beberapa klien dan transaksi bisnis sebagai berikut. Jasa persewaan apartemen kepada konsumen ritel dengan total nilai sewa Rp 1.657.500.000,00. Jasa persewaan Rumah Sederhana kepada pedagang kecil dengan nilai penggantian Rp 354.500.000. Membeli alat tulis kantor dengan nilai Rp 18.950.000,00. Membayar jasa konsultansi senilai Rp 16.500.000,00, termasuk PPN. Bagaimanakah pencatatan atas setiap transaksi dilakukan, termasuk penghitungan PPN akhir masa? 36

Pembahasan; Pencatatan Transaksi A Jawaban: Pencatatan Masa Berjalan Kas 1.842.500.000 Pendapatan Sewa 1.675.000.000 PPN Keluaran 167.500.000 Kas 354.500.000 Pendapatan Sewa 354.500.000 Perlengkapan 18.950.000 PPN Masukan 1.895.000 Kas 20.845.000 Beban Konsultansi 15.000.000 PPN Masukan 1.500.000 Kas 16.500.000 Dibebaskan dari PPN 37

Pembahasan; Pencatatan Transaksi A Jawaban: Pencatatan Akhir Masa PPN Keluaran 167.500.000 PPN Masukan 3.395.000 Utang PPN 164.105.000 PT. Welirang wajib menyetorkan PPN kurang bayar sebesar Rp 164.105.000,00 paling lambatdi tanggal 15 masa pajak berikutnya, serta melaporkannya dalam SPT Masa bulan bersangkutan. 38

Ilustrasi; Pencatatan Transaksi B Fa. Batusibela sepanjang masa berjalan melakukan penyerahan barang dan transaksi bisnis sebagai berikut. Menyerahkan produk kepada Pemprov senilai Rp 685.000.000,00. Melakukan ekspor dengan nilai jual Rp 515.000.000,00. Menyerahkan produk kepada pelanggan dengan nilai Rp 325.000.000,00, termasuk PPN dan PPnBM dengan tarif 20%. Membeli material setengah jadi senilai Rp 480.000.000,00, termasuk PPN dan PPnBM dengan tarif 10%. Menerima retur atas penjualan senilai Rp 25.000.000,00. Melakukan retur bahan baku senilai Rp 65.000.000,00 Perusahaan menganut sistem pencatatan periodik. Bagaimanakah pencatatan atas setiap transaksi dilakukan, termasuk penghitungan PPN akhir masa? 39

Pembahasan; Pencatatan Transaksi B Jawaban: Pencatatan Masa Berjalan Piutang Dagang 685.000.000 Penjualan 685.000.000 Kas 515.000.000 Penjualan 515.000.000 Kas 325.000.000 Penjualan 250.000.000 PPN Keluaran 25.000.000 Utang PPnBM 50.000.000 Persediaan 440.000.000 PPN Masukan 40.000.000 Kas 480.000.000 PPN disetor Pemungut Tarif 0% 40

Pembahasan; Pencatatan Transaksi B Jawaban : Pencatatan Masa Berjalan Penjualan 25.000.000 PPN Keluaran 2.500.000 Kas 27.500.000 Kas 71.500.000 Persediaan 65.000.000 PPN Masukan 6.500.000 Pencatatan Akhir Masa PPN Keluaran 22.500.000 Aset Kompensasi PPN 11.000.000 PPN Masukan 33.500.000 PPN Lebih Bayar akan dikompensasikan ke masa berikutnya, kecuali jika kelebihan pembayaran terjadi di Desember sehingga dapat direstitusikan. 41

Referensi Fitriandi, Primandita dkk. 2011. Kompilasi Undang Undang Perpajakan Terlengkap. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Waluyo. 2014. Perpajakan Indonesia. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. 42