BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Bank merupakan lembaga keuangan yang berfungsi menghimpun dana

BAB I PENDAHULUAN. Perbankan syariah memberikan layanan bebas bunga kepada para nasabahnya.

BAB III DESKRIPSI DAN OBJEK PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan dan juga berfungsi sebagai Financial Intermediaries antara pihak yang

BAB I PENDAHULUAN. dengan metode pendekatan syariah Islam yang dapat menjadi alternatif bagi masyarakat,

BAB I PENDAHULUAN. Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang mempunyai peranan penting di dalam

BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN

I. PENDAHULUAN. pada dua alasan utama yaitu adanya pandangan bahwa bunga (interest) pada bank

BAB I PENDAHULUAN. syariah. 2 Perkembangan perbankan syariah di Indonesia pasca. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas

BAB I PENDAHULUAN. Sejak krisis moneter pertengahan tahun 1997 perbankan nasional

BAB I PENDAHULUAN. usahanya. Menurut Undang-undang RI No. 10 Tahun 1998 tanggal 10 November

I. PENDAHULUAN. Sektor perbankan merupakan salah satu sektor yang memegang. peranan penting dalam pelaksanaan pembangunan terutama dalam

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dalam dunia perbankan saat ini semakin pesat, banyak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian mengenai pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non. membutuhkan kajian teori sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. semakin pesat. Hal ini didukung oleh mulai bermunculnya bank bank syariah ataupun

BAB I PENDAHULUAN. Bank merupakan lembaga perantara keuangan ( Financial Intermediales )

BAB I PENDAHULUAN. eksistensi perbankan syariah, memicu tumbuhnya bank-bank syariah di

Bab I Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

BAB 1 PENDAHULUAN. yang tidak didukung oleh peran perbankan dalam membangun negaranya.

BAB I PENDAHULUAN UKDW. termasuk satu negara bank based yaitu negara yang sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang mempunyai peranan

BAB I PENDAHULUAN. dengan masyarakat yang berkekurangan dana disebut bank. Tahun 1999

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Bank merupakan lembaga keuangan yang mempunyai peranan penting

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perbankan di Indonesia semakin diramaikan dengan berdirinya bank-bank

BAB 1 PENDAHULUAN. Dana masyarakat merupakan titipan/investasi yang baru mendapatkan hasil bila diputar (dimanfaatkan) terlebih dahulu

BAB I PENDAHULUAN. Bank merupakan suatu lembaga keuangan yang memiliki peran penting

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kelembagaan perbankan syariah di Indonesia mengalami

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan syariah di Indonesia telah mengalami perkembangan

BAB IV ANALISIS KEPUASAN BANK-BANK ANGGOTA ATM BERSAMA ATAS PELAKSANAAN MANAJEMEN KOMPLAIN PT. ARTAJASA PEMBAYARAN ELEKTRONIS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Muamalat pada tahun Setelah terbukti mampu bertahan pada masa krisis

BAB I PENDAHULUAN. keuangan yang kegiatan utamanya menerima simpanan giro, tabungan, dan

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan saat ini berkembang sangat pesat dan kompetitif. Hal

BAB I PENDAHULUAN. Perbankan di Indonesia mulai mengalami goncangan saat terjadinya krisis

BAB I PENDAHULUAN. harus dipenuhinya, baik kebutuhan primer, sekunder maupun tersier. Ada kalanya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan dunia perbankan saat ini menunjukkan betapa

BAB I PENDAHULUAN. Lembaga perbankan pada hakikatnya merupakan lembaga perantara

BAB 1 PENDAHULUAN. potensi dapat bermanfaat untuk pertumbuhan ekonomi, perlu disalurkan. kegiatan yang produktif. (AnggrainiPutri,2011)

BAB I PENDAHULUAN. tulang punggung perekonomian negara dimana sebagai salah satu pelaku. keseluruhan sistem keuangan (Abidin, 2007).

BAB I PENDAHULUAN. dalam menghimpun maupun menyalurkan dana, hal ini terjadi karena adanya

BAB I PENDAHULUAN. keuangan. Bank dalam pasal 1 ayat (2) UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan UU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Karolina, 2014 Pengaruh Kecukupan Modal Terhadap Profitabilitas

BAB I PENDAHULUAN. intermediary) antara pihak yang mempunyai dana (surplus unit) dengan pihak

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia, bank syariah telah muncul semenjak awal tahun 1990-an dengan

I. PENDAHULUAN. Unit Usaha Syariah (UUS)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bank Umum Syariah (BUS) Nasional di Indonesia dengan tahun amatan

BAB I PENDAHULUAN. fungsinya sebagai lembaga intermediasi, penyelenggara transaksi

BAB I PENDAHULUAN. lembaga yang menghimpun dana (Funding) dari masyarakat yang. kembali kepada masyarakat yang kekurangan dana (Deficit unit) untuk

BAB I PENDAHULUAN. Bank merupakan salah satu lembaga yang memiliki peranan penting di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN. sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 10 tahun 1998 bahwa yang

ANALISA INDUSTRI PERBANKAN INDONESIA 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pasal 1 Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 (Merkusiwati, 2007:100)

BAB I PENDAHULUAN. Baik di Indonesia maupun di seluruh dunia banyak orang-orang yang

BAB I PENDAHULUAN. dalam beberapa tahun terakhir ini. Praktek perbankan Islam sebagai alternatif

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini kehidupan perekonomian di dunia tidak dapat dipisahkan dengan

2015 DAMPAK SPIN OFF TERHADAP KINERJA KEUANGAN BANK SYARIAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Petunjuk Pembayaran KTA melalui ATM dan Kasir

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhannya seperti modal untuk membangun usaha, untuk. membesarkan usaha, untuk membangun rumah atau untuk mencukupi

BAB I PENDAHULUAN. Sistem perbankan di Indonesia didominasi oleh sistem bunga. Hampir semua

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini hampir semua kegiatan perekonomian. dilakukan oleh lembaga keuangan, misalnya bank, lembaga keuangan non bank,

BAB I PENDAHULUAN. ialah pihak manajemen, pemilik, pemerintah, karyawan dan investor.

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh fungsi utama bank sebagai lembaga yang dapat. pembangunan nasional mengakibatkan perlu adanya pembinaan dan

BAB I PENDAHULUAN. No.7 Tahun 1992 Bank Syariah berdiri ditengah-tengah krisis ekonomi yang

BAB I PENDAHULUAN. serta cara dan proses dalam melaksanakan usahanya. Sementara defenisi

BAB I PENDAHULUAN. tersebut, perbankan menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki kelebihan dana

FREQUENTLY ASK QUESTION (FAQ) TRANSFER ONLINE

BAB I PENDAHULUAN. kecenderungan pelarian nasabah oleh masyarakat telah jauh berkurang jika

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian merupakan serangkaian pengamatan yang dilakukan selama

BAB I PENDAHULUAN. dan negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD Tujuan pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Perbankan Syari ah atau Bank Islam yang secara umum pengertian Bank Islam

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kegiatan- kegiatan tersebut dapat dijelaskan pada gambar berikut:

BAB I PENDAHULUAN. Pengambilan keputusan strategis sangat bergantung pada hasil analisis yang

BAB I PENDAHULUAN. Melemahnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Eropa, mulai

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan pesat. Di Indonesia sendiri perbankan syariah menunjukkan

BAB I PENDAHULUAN. kepada pihak yang kekurangan dana pada waktu yang ditentukan (Dendawijaya,

BAB I PENDAHULUAN. Bank merupakan lembaga perantara keuangan (financial intermediaries)

I. PENDAHULUAN. Sebelum krisis moneter pada tahun 1997, sebagian besar. perbankan di Indonesia berekspansi usaha ke kredit korporasi dan

BAB I PENDAHULUAN. pada kegiatan ekonomi baik di negara maju maupun negara berkembang. Negara

BAB 1 PENDAHULUAN. mikro maupun makro. Terbukti dari semakin banyak munculnya usaha baru yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembangunan nasional suatu bangsa mencakup di dalamnya

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1. Bank yang melakukan usaha secara konvensional. 2. Bank yang melakukan usaha secara syariah.

BAB I PENDAHULUAN. Bagi masyarakat yang hidup di negara-negara maju seperti negaranegara

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 237 juta jiwa,

BAB 1 PENDAHULUAN. mendominasi kegiatan perekonomian Indonesia. Kegiatan sektor perbankan

BAB I PEDAHULUAN. sistem perekonomian. Bank umum syariah maupun bank konvensional memiliki

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memasuki dekade 10 tahun terakhir, memperlihatkan

BAB I PENDAHULUAN. keuangan tersebut yang nampaknya paling besar peranannya dalam. pembayaran bagi semua sektor perekonomian.

Sistem Informasi Perbankan, Pertemuan Ke-1 PENGENALAN BANK. DEFINISI BANK BANK Bahasa ITALIA Banco yang artinya Bangku

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Bank merupakan satu lembaga yang berfungsi sebagai perantara

BAB I PENDAHULUAN. ditawarkan, khususnya dalam pembiayaan, senantiasa menggunakan underlying

BAB I PENDAHULUAN. memiliki peranan penting. Menurut Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH. Yudiana Febrita Putri 1. Isti Fadah 2

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Peranan sektor perbankan sangatlah penting bagi pembangunan nasional. Kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana yang merupakan fungsi utama dari bank diharapkan mampu menjembatani pihak-pihak yang memiliki dana berlebih dengan pihak-pihak yang memerlukan dana, sehingga pembangunan yang membutuhkan dana tidak sedikit ini dapat berjalan dengan lancar. Oleh karenanya, sektor perbankan selalu dituntut untuk dapat menjadi pengelola dana masyarakat yang baik dan terpercaya. Dalam melaksanakan kegiatan usahanya, sekarang bank dapat melakukannya secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang lazim disebut bank konvensional dan bank syariah. Kemampuan sistem perbankan syariah tumbuh pesat saat perekonomian global sedang terpuruk menjadikannya sistem yang patut dipertimbangkan di perbankan nasional. Sistem perbankan syariah mulai berdiri pada tahun 1992 sejak diberlakukannya Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang perbankan yang ditandai oleh berdirinya Bank Muamalat Indonesia. Bagi umat Islam yang berpandangan bahwa bunga bank adalah riba dan oleh karenanya harus ditinggalkan, kehadiran perbankan syariah ini dapat dijadikan suatu alternatif pengganti perbankan konvensional. Nilai lebih bank syariah baru terlihat pada saat krisis moneter. Pada saat itu, bank syariah dalam hal ini baru ada Bank Muamalat Indonesia tetap mengalami positive spread bahkan masuk kategori A, yaitu bank sehat sehingga dapat terus beroperasi tanpa harus ikut program rekapitulasi seperti halnya beberapa bank konvensional sedangkan bank konvensional terancam negative spread, akibat kombinasi dari tingginya tingkat beban bunga dan besarnya kredit bermasalah. Kelebihan bank syariah Financing to Deposit Ratio (FDR) konsisten mendekati 100%, yang menunjukkan fungsi intermediasi yang lebih baik dibandingkan bank konvensional dan lebih stabil karena tidak mengacu pada

sistem bunga sehingga terhindar dari resiko negative spread. Nilai lebih perbankan syariah ini pun akhirnya dilirik pemerintah dan kalangan perbankan setelah melihat banyaknya bank konvensional yang berjatuhan. Bahkan Presiden Bambang Susilo Yudhoyono menyatakan bahwa memajukan industri perbankan syariah sudah menjadi agenda nasional. Industri perbankan yang didominasi penganut sistem konvensional sendiri sudah berinisiatif untuk memasarkan produk-produk syariah. Hal ini dapat dilihat dari diberlakukannya Undang- Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan yang mengatur dengan rinci landasan hukum serta jenisjenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah bahkan diberikan juga arahan untuk membuka cabang syariah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi bank syariah bagi bank-bank konvensional. Perbankan syariah pun mulai mengalami perkembangan, hal ini dapat ditandai dengan bertambahnya jumlah bank syariah yang beroperasi secara syariah penuh dan juga adanya bank konvensional yang membuka cabang syariah. Bank syariah yang beroperasi secara penuh yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Mega Syariah. Bank konvensional yang kemudian membuka cabang syariah adalah BNI, BRI, Bank Niaga, Bank Danamon, Permata Bank, BTN, Bank Bukopin, BII, Bank BPD Aceh, Bank DKI, Bank Jabar&Banten, HSBC, Bank Riau, Bank Sumut, Bank Kaltim, Bank BPD Kalsel, Bank Kalbar, Bank Sumsel, Bank IFI, Bank Sulsel, Lippo Bank, Bank NTB, Bank Jatim, Bank BTPN, Bank Nagari, Bank Ekspor Indonesia, Bank BPD DIY. Mengacu pada kemampuan bank syariah dalam menghadapi krisis, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut terutama mengenai rasio beban operasional pendapatan operasional pada bank konvensional dan bank syariah. Melalui analisa laporan keuangan, penulis ingin membandingkan beban bunga dan pendapatan bunga antara bank konvensional dengan bank syariah. Penggunaan istilah beban bunga dan pendapatan bunga pada bank syariah semata-mata dilakukan penulis untuk menyesuaikan istilah yang ada dengan sumber data yang diperoleh. Perlu diketahui bahwa dalam laporan keuangan

perbankan syariah tidak ada rekening dengan nama beban bunga dan pendapatan bunga, namun ada rekening yang dapat dipersamakan dengannya yaitu beban bonus dan bagi hasil, dan pendapatan margin dan bagi hasil. Hal ini sesuai dengan laporan keuangan perbankan syariah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dimana dalam laporan keuangan ini Bank Indonesia menggunakan istilah beban bunga untuk beban bonus dan bagi hasil, dan pendapatan bunga untuk pendapatan margin dan bagi hasil. Penggunaan istilah beban bunga dan pendapatan bunga pada laporan keuangan bank syariah dilakukan Bank Indonesia semata-mata untuk memudahkan pembacaan laporan keuangan bagi pihak yang belum terbiasa dengan istilah beban bonus dan bagi hasil serta pendapatan marjin dan bagi hasil. Penelitian mengenai perbandingan rasio beban bunga terhadap pendapatan bunga antara bank konvensional dan bank syariah ini pernah dilakukan oleh Freddy Harianto (2004) mahasiswa Universitas Padjadjaran dengan mengambil judul Perbandingan rasio beban bunga terhadap pendapatan bunga antara bank konvensional dan bank syariah. Dari hasil penelitian ini diperoleh suatu kesimpulan bahwa secara signifikan rasio beban bunga terhadap pendapatan bunga bank konvensional lebih tinggi dari bank syariah. Hal ini berarti tingkat efisiensi dan atau efektifitas bank syariah dalam melakukan kegiatan operasinya berdasarkan kegiatan utamanya (penghimpunan dan penyaluran dana) lebih baik dari bank konvensional. Penulis mencoba mereplikasi penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Freddy Harianto mengenai perbandingan rasio beban bunga terhadap pendapatan bunga antara bank konvensional dan bank syariah dengan tujuan dan maksud yang sama tetapi judulnya berbeda menjadi perbandingan antara beban bunga dan pendapatan bunga bank konvensional dengan beban bonus dan bagi hasil dan pendapatan margin dan bagi hasil bank syariah dan juga perbedaan waktu penelitian, penelitian yang dilakukan terdahulu menggunakan data sekunder dengan periode penelitian 3 tahun yaitu 2003, 2004, dan 2005, sedangkan dalam penelitian ini, penulis melakukan penelitian dengan periode penelitian 4 tahun yaitu pada tahun 2005, 2006, 2007, dan 2008.

Bertitik tolak dari hal di atas dan hasil penelitian terdahulu, terlihat bahwa beban bunga merupakan beban yang terjadi karena adanya penghimpunan dana, maka tingkat beban bunga merupakan perbandingan antara beban bunga dan besarnya sumber dana yang berhak menerima dana. Semakin tinggi tingkat beban bunga, maka beban bunga yang harus ditanggung oleh bank pun akan semakin besar. Dan karena pendapatan bunga diperoleh karena adanya penyaluran dana, maka tingkat pendapatan bunga merupakan perbandingan antara pendapatan bunga dan besarnya penyaluran dana pada kegiatan yang menghasilkan bunga. Semakin tinggi tingkat pendapatan bunga, maka besarnya pendapatan bunga yang diperoleh oleh bank pun akan semakin besar. Untuk mengetahui sejauh mana perbedaan rasio beban operasional pendapatan operasional dengan membandingkan antara beban bunga dan pendapatan bunga bank konvensional dengan beban bonus dan bagi hasil dan pendapatan marjin dan bagi hasil bank syariah, penulis merasa perlu diadakan suatu penelitian. Dengan memperhatikan keadaan tersebut, penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan judul PERBANDINGAN ANTARA BEBAN BUNGA DAN PENDAPATAN BUNGA BANK KONVENSIONAL DENGAN BEBAN BONUS DAN BAGI HASIL DAN PENDAPATAN MARGIN DAN BAGI HASIL BANK SYARIAH Studi kasus pada Bank NISP dan Bank Muamalat Indonesia. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian di atas, penulis akan membatasi masalah pada: 1. Berapa rasio beban operasional pendapatan operasional bank konvensional. 2. Berapa rasio beban operasional pendapatan operasional bank syariah. 3. Apakah rasio beban operasional pendapatan operasional bank konvensional lebih tinggi dari bank syariah.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk memperoleh hasil perbandingan antara beban bunga dan pendapatan bunga bank konvensional dengan beban bonus dan bagi hasil dan pendapatan margin dan bagi hasil bank syariah. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui rasio beban operasional pendapatan operasional bank konvensional. 2. Untuk mengetahui rasio beban operasional pendapatan operasional bank syariah. 3. Untuk mengetahui lebih tinggi tidaknya rasio beban operasional pendapatan operasional bank konvensional dari bank syariah. 1.4 Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan penelitian yang dilaksanakan dalam penyusunan skripsi ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat bagi: 1. Penulis, untuk menambah pengetahuan tentang perbankan terutama perbankan syariah. Dan juga untuk memenuhi dan melengkapi salah satu syarat dalam menempuh ujian sarjana ekonomi program studi akuntansi S-1 pada Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama. 2. Kalangan perbankan, semoga hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan yang berguna bagi perkembangan perbankan di masa mendatang. 3. Pihak lain yang berkepentingan, mudah-mudahan hasil penelitian ini dapat memperluas pengetahuan dan pemahamannya mengenai perbankan syariah dan konvensional juga sebagai tambahan informasi atas penelitian yang akan dilakukan lebih lanjut.

1.5 Kerangka Pemikiran Keberadaan perbankan tak dapat dipisahkan dari kegiatan perekonomian suatu negara, hal ini dikarenakan begitu pentingnya peranan bank dalam pengelolaan dana masyarakat untuk pembangunan suatu negara. Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang- Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan pasal 1 poin 2, bank adalah: Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan / atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak. bank adalah: Menurut Dendawijaya dalam bukunya Manajemen Perbankan (2001 : 25), Suatu badan usaha yang tugas utamanya sebagai lembaga perantara keuangan (financial intermediaries), yang menyalurkan dana dari pihak yang berkelebihan dana (idle fund/surplus unit) kepada pihak yang membutuhkan dana atau kekurangan dana (deficit unit) pada waktu yang ditentukan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa bank adalah badan usaha yang menjadi perantara pihak yang berkelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana. Dalam menjalankan kegiatan usahanya, bank dapat beroperasi secara konvensional dan / atau berdasarkan prinsip syariah sebagaimana yang terdapat pada ketentuan tentang bank umum dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan pasal 1 poin 3: Bank umum adalah bank yang menjalankan kegiatan usaha secara konvensional dan / atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank yang beroperasi secara konvensional disebut bank konvensional, dan bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah disebut bank syariah. Bank konvensional melaksanakan kegiatannya dengan ciri khas menggunakan perangkat bunga dalam melakukan transaksinya. Menurut Kasmir dalam bukunya Dasar-Dasar Perbankan (2003 : 113), bunga bank dapat diartikan sebagai:

Balas jasa yang diberikan oleh bank yang berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya, juga sebagai harga yang harus dibayar kepada nasabah (yang memiliki simpanan) dan harga yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank (nasabah yan memperoleh pinjaman). Sedangkan bank syariah mengganti penggunaan perangkat bunga dengan perangkat yang sesuai dengan prinsip syariah seperti bagi hasil dalam melakukan transaksinya. Bagi hasil merupakan imbalan yang diberikan bank kepada nasabah penyimpannya dan juga merupakan imbalan yang diterima bank dari nasabah debiturnya. Tidak seperti bunga yang besarnya ditentukan oleh prosentasi tertentu atau dana yang dihimpun / disalurkan oleh bank, maka bagi hasil ini besarnya ditentukan oleh nisbah dan perhitungan tertentu atas besarnya keuntungan nisbah debitur dan pendapatan bank. Namun demikian fungsi utama kedua bank tersebut tetap sama yaitu sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat sebagaimana yang terdapat pada Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan pasal 3: Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat. Berdasarkan fungsi utamanya ini, maka beban dan pendapatan bank yang utama pun berasal dari kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana yang dilakukannya. Pada bank konvensional beban dan pendapatan ini dikenal dengan beban bunga dan pendapatan bunga. Sedangkan pada bank syariah beban dan pendapatan ini dikenal dengan beban bonus dan bagi hasil, pendapatan margin dan bagi hasil. Baik beban bunga maupun beban bonus dan bagi hasil, keduanya merupakan beban yang dikeluarkan bank karena adanya kegiatan penghimpunan dana. Dan baik pendapatan bunga maupun pendapatan margin dan bagi hasil, keduanya merupakan pendapatan bank yang diperoleh melalui kegiatan penyaluran dana. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada latar belakang, maka untuk selanjutnya penulis akan menggunakan istilah beban bunga untuk beban bonus dan bagi hasil, dan pendapatan bunga untuk pendapatan margin dan bagi hasil. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang sama

atas apa yang sedang diteliti dan demi kesesuaian dengan sumber data yang diperoleh. Kemampuan bank dalam menghimpun dana haruslah disertai dengan kemampuan pengelolaan dana yang baik pula, mengingat adanya kewajiban bank terhadap para nasabah penyimpan yang harus dipenuhi. Berdasarkan teori semakin baik pengelolaan dana yang dilakukan oleh bank komvensional, maka pendapatan bunganya akan semakin besar sedangkan beban bunganya tetap sehingga keuntungan bank akan semakin besar sedangkan nasabah penyimpannya tetap. Tetapi bila terjadi pengelolaan dana yang yang kurang baik maka pendapatan bunganya akan semakin kecil sedangkan beban bunganya tetap sehingga keuntungan bank akan semakin kecil sementara nasabah penyimpannya tetap. Bahkan bank harus menambahi bila pendapatan bunga lebih kecil dari beban bunga. Hal inilah yang dikenal dengan istilah negative spread atau keuntungan negative alias rugi. Lain halnya dengan bank syariah, semakin baik pengelolaan dana yang dilakukannya maka pendapatan bunga dan beban bunganya akan semakin besar pula sehingga keuntungan bank dan nasabah penyimpan akan semakin besar. Tetapi bila terjadi pengelolaan dana yang kurang baik maka pendapatan bunga dan beban bunganya akan semakin kecil pula sehingga keuntungan bank dan nasabah penyimpan akan semakin kecil. Hal inilah yang menjadi salah satu bentuk keadilan sistem perbankan syariah. Kasus nyata dari teori di atas salah satunya dapat disimak melalui pendapat Ketua Komisi B DPRD Kota Bandung, Endrizal Nazar pada Harian Umum Pikiran Rakyat (Rabu, 30 Maret 2005 : 6) sebagai berikut: Salah satu penyebab kerugian BPR Kota Bandung adalah besarnya bunga yang harus dibayarkan kepada nasabah, sementara pendapatan bunga yang diperoleh dari perguliran modal masih kecil dan, Dengan dialihkan menjadi BPR Syariah, pendekatannya adalah bagi hasil. Kalau usaha tersebut ternyata bagi hasilnya kecil, tentu pendapatan nasabah kecil. Kalau BPR mau bergerak ke sektor riil, yang paling menguntungkan adalah bagi hasil.

Mengacu pada perbedaan sistem antara perbankan konvensional dan perbankan syariah dalam memperoleh pendapatan dan memperhitungkan bebannya, penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai rasio beban operasional pendapatan operasional antara bank konvensional dan bank syariah. Dimana beban bunga bank syariah sebenarnya mengacu pada beban bonus dan bagi hasil, dan pendapatan bunga bank syariah sebenarnya mengacu pada pendapatan marjin dan bagi hasil dalam laporan keuangan bank syariah. Rasio beban operasional pendapatan operasional merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan atau efektifitas bank dalam melakukan kegiatan operasinya berdasarkan kegiatan utamanya (penghimpunan dan penyaluran dana). Rasio ini merupakan penyederhanaan dari rasio beban operasional. Dari hasil penghitungan dan perbandingan rasio beban operasional pendapatan operasional antara bank konvensional dan bank syariah dapat dilihat apakah terdapat perbedaan antara beban bunga dan pendapatan bunga bank konvensional dengan beban bonus dan bagi hasil dan pendapatan margin dan bagi hasil bank syariah. Berdasarkan uraian kerangka pemikiran di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Perbandingan beban bunga dan pendapatan bunga bank konvensional lebih tinggi dari beban bonus dan bagi hasil dan pendapatan margin dan bagi hasil bank syariah

1.6 Metodologi Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah metode deskriptif studi kasus yang diarahkan pada komparasi. Menurut Subana dan Sudrajat (2001), metode penelitian deskriptif studi kasus yaitu metode penelitian yang memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan mendetail serta menyajikan data-data yang diperoleh secara apa adanya sehingga menghasilkan gambaran yang longitudinal (hasil pengumpulan dan analisis data pada suatu jangka waktu) pada masa sekarang. Sedangkan komparasi berarti bahwa penelitian yang dilakukan memiliki sifat membandingkan. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari perusahaan yang diteliti yaitu melalui observasi, interview, dan hasil dari kuesioner, sedangkan data sekunder adalah data-data berupa teori-teori yang mendukung penelitian yang diperoleh dari literatur-literatur yang relevan. Teknik yang digunakan dalam penelitian dan pengumpulan data adalah studi kepustakaan dan studi lapangan. Studi kepustakaan digunakan untuk memperoleh data-data sekunder dengan mempelajari, meneliti, mengkaji serta menelaah informasi-informasi yang ada pada laporan keuangan bank, buku-buku literatur, media massa, laporan hasil penelitian, serta publikasi umum dari internet. Dan studi lapangan digunakan untuk memperoleh data secara langsung dengan mengadakan penelitian terhadap objek yang diteliti.

Gambar 1.1 Bagan Kerangka Pemikiran Perbankan Bank Konvensional Bank Syariah Laporan Keuangan Laporan keuangan Rasio Beban Operasional Pendapatan Operasional Rasio Beban Operasional Pendapatan Operasional Dibandingkan, Apakah Rasio Beban Operasional Pendapatan Operasional Bank Konvensional Lebih Tinggi Dari Bank Syariah? 1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian Yang dimaksud lokasi penelitian adalah lokasi dimana penelitian dilakukan. Dalam hal ini lokasi penelitian yang dimaksud adalah Bank OCBC NISP dan Bank Muamalat Indonesia. Dan waktu penelitian dilakukan mulai bulan November 2008 sampai dengan bulan Desember 2008.