GAYA BAHASA PERBANDINGAN DALAM NOVEL TARIAN DUA WAJAH KARYA S PRASETYO UTOMO ABSTRACT

dokumen-dokumen yang mirip
KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL ANGKATAN BARU KARYA HAMKA ABSTRACT

BAB 1 PENDAHULUAN. pada jiwa pembaca. Karya sastra merupakan hasil dialog manusia dengan

NILAI MORAL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL PADA SEBUAH KAPAL KARYA NH. DINI E-JURNAL ILMIAH

ANALISIS GAYA BAHASA PADA PUISI AKU KARYA CHAIRIL ANWAR

KEMAMPUAN MENGIDENTIFIKASI UNSUR INTRINSIK NOVEL DENGAN TEKNIK INKUIRI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 5 PADANG

Analisis Penggunaan Majas dalam Kumpulan Puisi Beri Aku Malam Karya Iyut Fitra

KEAMBIGUITASAN MAKNA DALAM BERITA PENDIDIKAN DI SURAT KABAR PADANG EKSPRES (KAJIAN SEMANTIK) ABSTRACT

RESEPSI SISWA TERHADAP PUISI CINTAKU JAUH DI PULAU KARYA CHAIRIL ANWAR. Oleh Buyung Munaris Kahfie Nazaruddin

ANALISIS PANDANGAN HIDUP TOKOH ALIF DALAM NOVEL NEGERI 5 MENARA KARYA AHMAD FUADI ARTIKEL ILMIAH

KETERAMPILAN MEMBACA TEKS DRAMA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MEMBACA INTENSIF SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 30 PADANG ARTIKEL MIA JULITA SARI NPM

BAB I PENDAHULUAN. dilukiskan dalam bentuk tulisan. Sastra bukanlah seni bahasa belaka, melainkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kata merupakan bentuk atau unit yang paling kecil dalam bahasa yang

MAJAS DALAM PUISI SISWA KELAS VIII SMPN 3 GUNUNG TULEH PASAMAN BARAT

ANALISIS WATAK TOKOH UTAMA NOVEL PERAHU KERTAS KARYA DEWI LESTARI. Oleh. 1) Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

DIKSI DALAM NOVEL SAAT LANGIT DAN BUMI BERCUMBU KARYA WIWID PRASETYO OLEH INDRAWATI SULEMAN

RAGAM TULISAN KREATIF. Muhamad Husni Mubarok, S.Pd., M.IKom

ANALISIS GAYA BAHASA NOVEL LA GRANDE BORNE KARYA NH. DINI

KEMAMPUAN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 35 PADANG MENULIS KEMBALI DONGENG YANG DIPERDENGARKAN E- JURNAL ILMIAH NUZUL FITRIA NIM.

THE STUDENTS ABILITY IN WRITING SCRIPT AT THE EIGHTH GRADE STUDENTS OF SMP NEGERI 36 PEKANBARU.

BAHASA BERMAJAS DALAM KUMPULAN PUISI BAROMBAN KARYA IYUT FITRA ABSTRACT

ANALISIS GAYA BAHASA KUMPULAN CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI KARYA A.A. NAVIS

ANALISIS MORAL TOKOH UTAMA NOVEL PADANG BULAN KARYA ANDREA HIRATA ARTIKEL ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. Jepang merupakan salah satu negara yang terkenal akan ragam

ANALISIS MAJAS DALAM NOVEL AYAH KARYA ANDREA HIRATA DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sastra merupakan cabang seni yaitu hasil cipta dan ekspresi manusia yang

BAB I PENDAHULUAN. tulisan atau bisa disebut dengan bahasa tulis.

intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain yang semuanya bersifat imajinatif. Novel adalah karya fiksi yang

SOFT SKILL TOKOH DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO ARTIKEL ILMIAH DESMARINA NPM

BAB I PENDAHULUAN. puisi. Bahasa puisi mempunyai arti yang tersimpan dan ingin diungkapkan

KEMAMPUAN MENGIDENTIFIKASI UNSUR INTRINSIK TEKS DRAMA SISWA KELAS VIII MTsN LUBUK BUAYA KOTA PADANG MENGGUNAKAN METODE INKUIRI ARTIKEL ILMIAH

HUBUNGAN KETERAMPILAN MEMBACA APRESIATIF DENGAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN SISWA KELAS X SMA PEMBANGUNAN LABOLATORIUM UNP

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Analisis Gaya Bahasa pada Lirik Lagu Grup Band Noah dalam Album Seperti Seharusnya (Edi Yulianto, 2015)

PENGARUH PENGGUNAAN TEKNIK OBJEK LANGSUNG TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 SUTERA ARTIKEL ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

KEMAMPUAN MENULIS PARAGRAF EKSPOSISI BERDASARKAN TEKS WAWANCARA SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 RANAH PESISIR KABUPATEN PESISIR SELATAN ARTIKEL ILMIAH

ANALISIS GAYA BAHASA DALAM NASKAH DRAMA MONOLOG AUT KARYA PUTU WIJAYA: SEBUAH KAJIAN STILISTIKA

KEMAMPUAN MENULIS NASKAH DRAMA MELALUI TEKNIK BERMAIN DRAMA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 TANJUNG MUTIARA KABUPATEN AGAM ARTIKEL ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. Dalam karya sastra terdapat nilai-nilai kehidupan masyarakat yang dituangkan

BAB I PENDAHULUAN. puisi. Latar belakang kehidupan yang dialami pengarang, sangat berpengaruh

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN LANDASAN TEORI. Dalam melakukan sebuah penelitian memerlukan adanya kajian pustaka.

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Bahasa digunakan untuk menyampaikan informasi yang berupa pesan, ide,

INTERTEKSTUALITAS DALAM NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA DENGAN NOVEL RANAH 3 WARNA KARYA A FUADI ARTIKEL ILMIAH

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN. A. Simpulan. asing, kata sapaan khas atau nama diri, dan kata vulgar. Kata konotatif digunakan

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra dapat dikatakan bahwa wujud dari perkembangan peradaban

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan

HUBUNGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PUISI DENGAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 35 PADANG E- JURNAL ILMIAH YELCHI AMNUR NPM

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra sebagai karya seni bersifat kreatif, artinya sebagai hasil ciptaan manusia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. hasil dari imajinasi pengarang. Imajinasi yang dituangkan dalam karya sastra,

BAB 1 PENDAHULUAN. penelitian ini, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat dan definisi

PENERAPAN TEKNIK BERCERITA DALAM MENENTUKAN UNSUR INTRINSIK DONGENG SISWA KELAS V SDN 1 SUWAWA KABUPATEN BONE BOLANGO

BAB I PENDAHULUAN. sebagaimana dikatakan Horatio (Noor, 2009: 14), adalah dulce et utile

KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN NARASI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR BERSERI SISWA KELAS X SMA NEGERI 7 PADANG ARTIKEL ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu

BAB I PENDAHULUAN. dan ketertarikan terhadap masalah manusia serta kehidupan sosialnya atau keinginannya

KEMAMPUAN MENULIS NASKAH DRAMA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PEMODELAN SISWA KELAS XI SMA NEGERI 4 PARIAMAN

PENGGUNAAN KALIMAT EFEKTIF DALAM KARANGAN ARGUMENTASI SISWA KELAS X SMA NEGERI 9 PADANG

KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF NARASI SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 SIPORA KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA PETA KONSEP

HUBUNGAN MINAT BACA DENGAN KEMAMPUAN MENENTUKAN UNSUR INSTRINSIK CERPEN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 GUNUNG TALANG JURNAL SKRIPSI

KEMAMPUAN MENULIS CERPEN BERDASARKAN PENGALAMAN SISWA DI SMP NEGERI 17 KOTA JAMBI

ANALISIS MAJAS DALAM KUMPULAN PUISI SELEMBAR CATATAN LAWAS KARYA B IRAWAN MASSIE ARTIKEL ILMIAH NANA IRWANTI NPM

ANALISIS TINDAK TUTUR DAN GAYA BAHASA PADA DIALOG-DIALOG NASKAH DRAMA REPUBLIK BAGONG KARYA N. RINATIARNO

ANALISIS WACANA CELATHU BUTET PADA SURAT KABAR SUARA MERDEKA: TINJAUAN DARI SEGI KULTURAL, SITUASI, SERTA ASPEK GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran bahasa Indonesia adalah menyimak, berbicara, membaca, dan. kesatuan dari aspek bahasa itu sendiri (Tarigan, 2008: 1).

PENOKOHAN PADA NOVEL SYAHADAT DARI NEGERI SUTRA KARYA FITRI NURHATI DAN PEMBELAJARANNYA

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan sekolah, keterampilan menulis selalu dibelajarkan. Hal ini disebabkan oleh menulis

PENGGUNAAN MAJAS DALAM PUISI MENGGUNAKAN MEDIA LAGU SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I GUNUNG TALANG

Kemampuan Menulis Paragraf Deskriptif Siswa Kelas VII C SMP Negeri 17 Batanghari. Oleh: Erwansyah RRA1B Abstrak

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan karya sastra dari zaman dahulu hingga sekarang tentunya

ANALISIS GAYA BAHASA HIPERBOLA DAN PERSONIFIKASI PADA NOVEL NEGERI 5 MENARA KARYA AHMAD FUADI NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN KOMPETENSI SEMANTIS DAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN SISWA KELAS X SMAN 1 LENGAYANG

PERUBAHAN GAYA HIDUP TOKOH HASAN DALAM NOVEL ATHEIS KARYA ACHDIAT K. MIHARDJA ARTIKEL ILMIAH RATNA ARIANI HASIBUAN NPM

BAB I PENDAHULUAN. tertentu. Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri, bahwa sastra merupakan cerminan. nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tertentu.

BAB I PENDAHULUAN. karya sastra. Sebuah karya sastra tidak lepas dari bahasa. dapat dikatakan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Astri Rahmayanti, 2013

KEMAMPUAN MENULIS CERPEN SISWA KELAS X SMA SEMEN PADANG DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PEMODELAN JURNAL ILMIAH

ANALISIS UNSUR INTRINSIK NOVEL 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA KARYA HANUM SALSABIELA RAIS DAN RANGGA ALMAHENDRA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. maupun kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat menggali, mengolah, dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

CAMPUR KODE GURU BAHASA INDONESIA DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SMAN I PANCUNG SOAL PESISIR SELATAN ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN. tersebut, Jabrohim, dkk. (2003:4) menjelaskan yaitu, Bahasa memang media

BAB I PENDAHULUAN. juga memberikan pengalaman dan gambaran dalam bermasyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. berarti di dalamnya bernuansakan suasana kejiwaan sang pengarang, baik

HUBUNGAN KETERAMPILAN MEMAHAMI TEKS CERITA PENDEK DENGAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS CERITA PENDEK SISWA KELAS XI SMA SEMEN PADANG

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

PENANDA KOHESI SUBSITUSI PADA WACANA KOLOM TAJUK RENCANA SUARA MERDEKA BULAN AGUSTUS 2009 SKRIPSI

KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS X SMA N 1 KECAMATAN BASA AMPEK BALAI KABUPATEN PESISIR SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI MIND MAPPING E JURNAL

NILAI-NILAI MORAL DALAM NOVEL KEMI CINTA KEBEBASAN YANG TERSESAT KARYA ADIAN HUSAINI ARTIKEL ILMIAH DELVI SEPTIANI NPM

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI

KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN DENGAN TEKNIK MERINGKAS BACAAN SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 21 PADANG ARTIKEL ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. Pada tanggal 16 April 1988 film Grave of the Fireflies mulai beredar di

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan unsur terpenting dalam kehidupan manusia. Hal ini

Keywords: Anxiety, Character, Short Story

BAB I PENDAHULUAN. Sastra merupakan ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman,

BAB 1 PENDAHULUAN. Sastrawan yang dicetak pun semakin banyak pula dengan ide-ide dan karakter. dengan aneka ragam karya sastra yang diciptakan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Kisi-Kisi Uji Kompetensi Guru Tahun 2012

BAB I PENDAHULUAN. Wellek dan Warren (1993:14) bahasa adalah bahan baku kesusastraan, seperti

Transkripsi:

GAYA BAHASA PERBANDINGAN DALAM NOVEL TARIAN DUA WAJAH KARYA S PRASETYO UTOMO Dila Putri Caniago, 1 Emil Septia, 2 Wahyudi Rahmat 2 1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat 2 Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat Dilaputricaniago21@gmail.com ABSTRACT Background of the research was there were many author styles in expressing their imagination throughwords. The purpose was to describe the use of comparative figurative language and find out the meaning in the novel of Tarian Dua Wajah by S Prasetyo Utomo. It was a qualitative research with a descriptive analysis technique. Data were texts of words and sentences related to the figurative language. Source of data was Tarian Dua Wajah novel by S Prasetyo Utomo. Data were collected through three steps. They were firstly, reading and understanding the novel, secondly, identifying the events, thirdly, classifying the collected data. It also used data validity. Data were finally analyzed to find out the comparative figurative language. The research shows that there are four comparative figurative language found on the novel. They are association, metaphora, personification and parallel. Each of the type of figurative language has contextaul meaning based on the conditions such as athmosphere, situation, time, participant. Keyworks: Style, Comparative Figurative Language, Novel PENDAHULUAN Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia untuk mengekspresikan diri, menyampaikan pesan, gagasan dan perasaan. Selain itu, bahasa juga dijadikan dasar oleh pengarang untuk mengekspresikan ide atau gagasan melalui karya sastra. Kekayaan sebuah karya atau tulisan kreatif terletak pada unsur-unsur bahasa dan bentuk yang menimbulkan keragaman dan kompleksitas serta interaksi yang baik antara unsur-unsur bahasa tersebut. Semakin kaya bahasa yang digunakan oleh pengarang maka semakin bernilai dan indah tulisan yang dihasilkan. Gaya bahasa merupakan pembawaan pribadi pengarang. Dengan gaya bahasa pengarang hendak memberi bentuk terhadap apa yang ingin disampaikan atau dipaparkannya. Dengan gaya bahasa tertentu pula seorang pengarang dapat mengekalkan pengalaman hidup dan pengetahuannya, serta dengan gaya bahasa pengarang dapat menggelitik dan menyentuh hati pembaca. Secara umum gaya bahasa terbagi menjadi empat yaitu gaya bahasa perbandingan pertentang, pertautan dan gaya bahasa sindiran. Dalam dunia sastra kebanyakan pengarang menggunakan gaya bahasa perbandingan karena dalam gaya bahasa perbandingan terlihat dengan jelas

intelegtual dan emosional pengarang dalam karyanya. Gaya bahasa perbandingan terdiri dari asosiasi, metafora, personifikasi, dan paralel. Berdasarkan latar belakang dan fokus masalah tersebut yang telah dikemukan, maka rumusan masalah dalam penelitian yaitu: pertama gaya bahasa perbandingan apakah yang terdapat dalam novel Tarian Dua Wajah karya S Prasetyo Utomo?. Kedua Bagaimanakah makna gaya bahasa perbandingan yang terdapat dalam Novel Tarian Dua Wajah Karya S Prasetyo Utomo?. Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian ini adalah pertama mendeskripsikan gaya bahasa perbandingan yang terdapat dalam Novel Tarian Dua Wajah Karya S Prasetyo Utomo. Kedua mendeskripsikan makna gaya bahasa perbandingan dalam Novel Tarian Dua Wajah Karya S Prasetyo Utomo. Fiksi adalah karya naratif. Karya fiksi terdiri dari novel, puisi, drama. Novel merupakan karya fiksi yang mencerikan kehidupan yang imajinatif yang didalamnya terdapat unsur-unsur pembangun seperti tokoh, alur, plot dan lain-lain. Berikut ini akan dijelaskan pengertian novel menurut beberapa ahli. Tarigan (2011:167), menyatakan kata novel berasal dari bahasa Latin novelius yang diturunkan pula dari kata noveus yang berarti baru. Dikatakan baru kerena bila dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama dan lain-lain, maka jenis novel ini muncul kemudian. Semi (1988:32), menjelaskan bahwa novel merupakan suatu kosentrasi kehidupan pada suatu saat yang tegang, dan pemusatan kehidupan yang tegas. Muhardi dan Hasanuddin (1992:22) mengemukakan bahwa unsurunsur intrinsik tidaklah terlepas satu sama lainnya, tetapi secara bersama-sama membentuk kesamaan dan kepaduan fiksi. Kesatuan kepaduan unsur fiksi tersebut hanya dapat dipisahkan dalam kepentingan teoritis dan praktis penganalisisannya. unsur-unsur yang dimaksud adalah tokoh atau penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, tema dan amanat. Menurut Muhardi dan Hasanudin (1992:35), gaya bahasa menyangkut kemahiran pengarang mempergunakan bahasa sebagai mediumnya fiksi. Penggunaan bahasa tulis dengan segala kelebihan dan kekurangannya harus dimanfaatkan sebaik-baikya oleh pengarang. Menurut Muhardi dan Hasanuddin (1992:36), mengolompokan gaya bahasa menjadi empat jenis yaitu 1) gaya bahasa penegasan terdiri dari, pleonalisme, repetisi, klimak, antiklimaks, retoris dan lain-lain. (2) gaya bahasa pertentangan terdiri dari, paradok dan antitestis (3) gaya bahasa perbandingan terdiri dari asosiasi, metafora, personifikasi, dan paralel (4)

gaya bahasa sindiran terdiri dari ironisme, sarkasme, dan sinisme. Pateda (2010:116), menyatakan makna kontekstual (contextual meaning) atau makna situasional (situational meaning) muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan konteks. Sudah diketahui bahwa kontek ini berwujud dalam banyak hal. Konteks yang dimaksud di sini, yaitu: 1) konteks orangan, termasuk disini hal yang berkaitan dengan jenis kelamin, kedudukan pembicara, usia pembicara/pendengar, latar belakang sosial ekonomi pembicara atau pendengar. 2)Konteks situasi, misalnya situasi aman dan situasi ribut. 3) Konteks tujuan, misalnya meminta, mengharap sesuatu. 4) Konteks, formal tidaknya pembicaraan. 5) Konteks suasana, hati pembicara atau pendengar, misalnya takut, gembira, jengkel. 6) Konteks waktu, misalnya malam, setelah magrib. 7) Konteks tempat, apakah tempatnya disekolah, di pasar, di depan bioskop. 8) Konteks objek, maksudnya apa yang menjadi fokus pembicaraan. 9) Konteks alat, kelengkapan bicara/ dengar pada pembicaraan/ pendengaran. 10) Konteks kebahasaan, maksudnya apakah memenuhi kaidah bahasa yang digunakan oleh kedua belah pihak. 11) Konteks bahasa, yakni bahasa yang digunakan. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Semi (1993:23), menggunakan penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak menggunakan angka-angka tetapi menggunakan penghayatan interaksi antar konsep yang dikaji secara empiris. Penelitian ini dimulai dari pengumpulan data, klasifikasi data dan sampai pembuatan laporan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Semi (1993:24) berpendapat penelitian yang menggunakan metode deskriptif analisis artinya data terurai dalam bentuk kata-kata atau gambar, bukan dalam bentuk angkaangka. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan secara fenomena yang diselidiki. Metode ini digunakan untuk menganalisis gaya bahasa perbandingan yang terdapat dalam novel Tarian Dua Wajah karya S Prasetyo Utomo. Data penelitian ini adalah teks berupa kata, frasa, klausa, kalimatdan wacana yang tergolong gaya bahasa perbandingan dalam novel Tarian Dua Wajah karya S Prasetyo Utomo. Sumber data penelitian ini adalah novel Tarian Dua Wajah karya S Prasetyo Utomo. Novel ini diterbitkan oleh PT Pustaka Alvabet tahun 2016. Novel ini terdiri atas

258 halaman. Langkah kerja pengumpulan data yaitu: pertama, membaca dan memahami novel Tarian Dua Wajah karya S Prasetyo Utomo. Kedua, mengidentifikasi satuan-satuan peristiwa yang terkait dengan permasalahan penelitian dalam novel Tarian Dua Wajah karya S Prasetyo Utomo. Ketiga, mengklasifikasikan data yang telah terkumpul dalam novel Tarian Dua Wajah karya S Prasetyo Utomo. Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengabsahan data berupa uraian rinci. Menurut Moleong (2010:338), teknik ini menutut peneliti agar melaporkan hasil penelitiaanya sehingga uraiannya itu dilakukan seteliti dan secermat mungkin yang memaparkan konteks tempat penelitian diselenggarakan. Laporan ini harus mengacu pada fokus penelitian. Uraiannya harus mampu mengungkapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh pembaca agar dapat memahami penemuan-penemuan yang diperoleh dari hasil penelitian. a. Asosiasi 1) Bunyi degup jantung Aya yang diibaratkan gemuruh kareta api 2) Pengarang mengibaratkan anak Rustam yang seperti anak kucing b. Metafora 1) Pengarang menggambarkan mata Sukro ibarat tungku perapian. 2) Pengarang menggambarkan pedang yang mengobsesi c. Personifikasi 1) Makam tua Nyai Laras, yang digambarkan oleh pengarang bisa mendengar curahan hati Sukro. 2) Batu nisan yang digambarkan oleh pengarang bisa mendengar curahan hati Sukro d. Paralel 1) Pengarang menggambarkan seseorang yang memiliki beberapa wajah 2) Pengarang menggambarkan seseorang yang memiliki beberapa pasang mata HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Pemakaian gaya bahasa perbandingan dalam novel Tarian Dua Wajah karya S Prasetyo Utomo ditemukan 4 jenis gaya bahasa perbandingan, yaitu asosiasi, metafora, personifikasi, dan paralel. 2. Pembahasan Fonomena menarik yang ditemukan dalam novel Tarian Dua Wajah karya S Prasetyo Utomo adalah bercerita tentang cinta, persahabatan, kebencian, masalah keluarga, keteguhan hati, keagamaan, dan mistis. yang banyak disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa perbandingan. Dalam novel Tarian Dua Wajah karya S

Prasetyo Utomo ditemukan empat jenis gaya bahasa perbandingan yang terdiri dari asosiasi atau perumpamaan yang banyak menggunakan kata pembanding seperti, metafora membandingkan secara langsung dengan alat, personifikasi membandingkan sifat insane dengan alat atau benda tajam dan paralel membanding dengan kesejararan atau penegasan dengan kata wajah. Masing masing jenis gaya bahasa tersebut memiliki makna kontekstual baik berdasarkan konteks suasana, situasi, waktu, dan orangan. Jenis gaya bahasa perbandingan yang dominan dalam penelitian ini yaitu gaya bahasa asosiasi atau perumpamaan, dan maknakontekstual yang paling dominan yaitu makna berdasarkan konteks suasana. Berikut ini adalah kutipan gaya bahasa asosiasi dengan makna konteks suasana yang digambarkan pengarang anak Rustam seperti binatang. Istri Rustam terlihat sinis memandang Aji. Ketiga anak lelaki rustam seperti anak kucing yang menghadapi anak kucing asing memasuki rumahnya. (Utomo, 2016:19). Berdasarkan kutipan tersebut gaya bahasa asosiasi atau perumpamaan, ditandai dengan kata seperti. Berdasarkan teori yang digunakan dan sudah dibahas sebelumnya, bahwa gaya bahasa asosiasi atau perumpamaan adalah gaya bahasa perbandingan yang menggunakan kata pembanding seperti, bak, bagaikan, serupa, dan lain-lain. Maksud pengarang menggunakan pembanding kata seperti. Pada kutipan di atas yaitu menggambarkan ketiga anak Rustam yang membenci kedatangan Aji kerumahnya, sehingga diibaratkan dengan anak kucing. Karena anak kucing umumnya akan marah ketika bertemu kucing baru yang mendekatinya. Makna kutipan di atas yaitu makna kontekstual berdasarkan konteks suasana kerena pengarang menggambarkan anak kucing yang menghadapi anak kucing asing memasuki rumahnya. dari kutipan tersebut pengarang bermaksud menggambarkan ketidak sukaan atau kebencian karena pengarang mengiibaratkan dengan sifat binatang yang tidak suka kalau ada binatang lain memasuki kelompoknya, sehingga akan terjadi keemarahan dalam mempertahankan kelompoknya. Dari kutipan tersebut pengarang menggambarkan bagaimana Aji yang tidak diterima kedatangnya oleh saudaranya dari anak pamannya. Berikut ini adalah kutipan gaya bahasa metafora dengan makna konteks suasana. Pengarang menggambarkan tungku perapian dengan kemarahan. Menahan geram, sepasang mata Sukro memerah tungku perapian. kau ingin melunasi hutang mu atau tidak! Jangan hina istriku dengan cara serupa itu!. (Utomo, 2016:6). Berdasarkan kutipan di

atas gaya bahasa metafora yang ditandai dengan kata tungku perapian. Berdasarkan teori yang digunakan dan sudah dibahasa sebelumnya Metafora adalah gaya bahasa perbandingan tanpa menggunakan katakata pembanding, seperti, bak, bagaikan, serupa, dan lain-lain. Dari kutipan kata tersebut pengarang bermaksud menggambarkan tungku perapian seperti sepasang mata Sukro. Maksud kutipan kalimat tersebut adalah tungku perapian yang yang digambarkan dengan kemarahan sukro. Makna dari kutipan di atas yaitu makna kontekstual berdasarkan suasana yang ditandai dengan tungku perapian. maksud kutipan kalimat tersebut ialah tungku perapian yang digambarkan sessuatu yang panas, memancarkan panas yang mengebu-ngebu. maksud pengarang menggambarkan panas adalah untuk kemarahan. Sehingga tungku perapian menggambarkan suasana hati sukro. Sukro yang merasa marah kepada sang pengusaha. Berikut ini adalah kutipan gaya bahasa personifikasi dengan makna konteks suasana. Pengarang menggambarkan pedang yang dapat mengobsesi. Sepasang pedang pusaka terus menggoda ingatannya. Mungkin sudah agak berkarat. (Utomo:2016:4). Berdasarkan kutipan tersebut menggunakan gaya bahasa personifikasi yang ditandai dengan kata sepasang pedang pusaka. Personifikasi adalah gaya bahasa perbandingan yang membandingkan benda tidak bernyawa dapat bertingkah seperti manusia. Pengarang bermaksud menggambarkan sepasang pedang pusaka yang dapat bertingkah laku seperti manusia. Maksud kalimat di atas adalah sepasang pedang pusaka yang mempunyai ketertarikan untuk digunakan. Makna dari kutipan di atas yaitu, makna kontestual berdasarkan konteks suasana yang ditandai dengan kalimat sepasang pedang pusaka artinya pedang adalah benda atau alat tajam, yang ditakuti, dan bisa menyakiti atau melukai seseorang. Maksud pengarang pada kutipan di atas menggambarkan seseorang yang sedang memikirkan kekuatan pedang pusaka yang memiliki ketertarikan untuk digunakan. Berikut ini adalah kutipan gaya bahasa paralel dengan makna konteks suasana. Pengarang menggambarkan wajah yang bisa lebih dari satu. Ia masih terjaga, tegar menahan rasa sakit, mesti tertatih-taih. Wajah lembam, wajah yang tak memancarkan kesedihan, wajah yang tak merasa kalah dan ditundukan (Utomo, 2016:120). Berdasarkan kutipan tersebut gaya bahasa paralelisme ditandai dengan kalimat, wajah yang tak memancarkan kesedihan, wajah yang tak merasa kalah dan ditundukan maksud pengarang pada kalimat tersebut adalah memberikan

penegasan atau kesejaran antara kaalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya. Maksud pada kutipan kalimat di atas ialah menggambarkan seseorang yang memilik sifat tidak mau kalah, seorang yang sudah berkelahi, seseorang yang tidak merasa takut dan seorang yang tidak mau harga diriya diinjak-injak oleh orang lain. Makna pada kutipan tersebut yaitu makna kontekstual berdasarkan suasana yang ditaandai dengan kalimat wajah yang tak memancarkan kesedihan, wajah yang tak merasa kalah dan ditundukan artinya pengarang menggambarkan bentuk wajah manusia, pada wajah manusia manusia biasanya tergambar suasana hatinya apakah seseorang itu sedih, bahagia, kesal dan marah. Maksud pengaarang pada kutipan di atas ialah menggambarkan suasana seseorang yang sesudah berkelahi. Novel Tarian Dua Wajah karya S Prasetyo utomo banyak mengunakan gaya bahasa. Melalui gaya bahasa inilah maka sebuah karya sastra menjadi menarik. Bahasa pada saat sekarang ini sangat dibutuhkan untuk kehidupan kita seharihari. Tidak hanya pada dunia sastra saja, tetapi bahasa digunakan oleh setiap orang yang melakukan kegiatan komunikasi baik secara lisan maupun tulisan. S Prasetyo Utomo menyampaikan cerita yang ada adalam novel Tarian Dua Wajah dengan gaya bahasa yang menarik. Melalui penggunaan gaya bahasa yang menarik tersebut, maka novel akan diminati pembaca. Melalui latar belakang Utomo yang pernah berasal dari daerah jawa maka utomo pada cerita ini banyak menggunakan gaya bahasa asosiasi untuk menambah imajinasi pembaca terhadap karyanya. Guna penelitian ini dilakukan adalah untuk melihat gaya bahasa perbandingan yang diciptakan oleh Utomo. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan penggunaan gaya bahasa perbandingan dalam novel Tarian Dua Wajah karya S Prasetyo Utomo sebagai berikut. Pemakaian gaya bahasa dalam novel Tarian Dua Wajah karya S Prasetyo Utomo setelah dilakukan dengan teknik deskritif analisis data maka ditemukan empat jenis gaya bahasa perbandingan yaitu asosiasi, metafora, personifikasi, dan paralel. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan penggunaan gaya bahasa perbandingan yang paling dominan yaitu gaya bahasa asosiasi. Dan masing-masing gaya bahasa perbandingan tersebut menggunakan makna kontekstual, baik berdasarkan konteks suasana, situasi, tempat, waktu dan orangan. DAFTAR PUSTAKA Moleong, Lexi J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja.

Muhardi dan Hasanuddin WS. 1992. Prosedur Analisis fiksi. Padang: IKIP Padang Press. Pateda, Mansoer. 2010. Semantik leksikal. Jakarta: PT Rineka Cipta. Semi, M Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa. Tarigan, Hendry Guntur. 2011. Prinsip- Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.