BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Menurut Avelar et al dalam Gusmaini (2012) tentang kriteria permukiman kumuh, maka permukiman di Jl. Simprug Golf 2, Kelurahan Grogol Utara, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan ini masuk dalam kategori permukiman kumuh. Di mana menurut Undang Undang Nomor 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman Bab III Pasal 5 Ayat 1 bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi dan teratur. Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRW) permukiman kumuh ini berdiri di lokasi di mana peruntukan sesungguhnya adalah untuk jalan raya. Upaya yang tepat untuk diterapkan pada permukiman kumuh di Kebayoran Lama yaitu relokasi. Banyak upaya pemerintah untuk meremajakan permukiman kumuh salah satunya dengan pembangunan rumah susun. Akan tetapi hal itu tidak terlalu efektif karena pemerintah tidak memperhatikan karakteristik penduduk permukiman kumuh yang akan dipindahkan. Oleh karena itu, perancangan rumah susun ini memperhatikan karakteristik penduduk permukiman kumuh tersebut. Lokasi tapak baru yang berjarak ± 800 m dari tapak lama berada di Jl. Teuku Nyak Arief, Kelurahan Grogol Utara, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Luas lokasi ± 1.07 Ha dengan wilayah tapak adalah R7 yang berarti zona rumah vertikal dengan KDB = 55, KLB = 3.00, KB = 8, KDH = 30. Analisa karakteristik penduduk dilakukan untuk mengetahui kegiatan dan fasilitas apa saja yang dibutuhkan penduduk. Dari hasil analisa kepadatan penduduk didapatkan jumlah unit. Tabel 1 Ukuran, Jenis, Jumlah No Jumlah Jiwa Per-keluarga Ukuran 1 1 dan 2 21 m² Tipe 1: 1 kamar Jumlah 88 57
58 No Jumlah Jiwa Per-keluarga Ukuran 2 3 dan 4 30 m² Tipe 2: 2 kamar 3 5, 6, 7 50 m² Tipe 3: 3 kamar Jumlah 133 52 Dari hasil analisa kegiatan penduduk dan pekerjaan penduduk di dapatkan bahwa pola hidup penduduk yang tidak mencampuri kehidupan masing-masing antar RT membuat pola hunian dikelompokkan berdasarkan RT. Sedangkan bapak, ibu, dan anak memiliki kegiatan yang berbeda di mana bapak-bapak tidak membutuhkan ruang khusus dalam kegiatannya, ibu-ibu membutuhkan ruang berkumpul dan anak-anak membutuhkan tempat bermain. Pekerjaan mereka yang informal menyebabkan dibutuhkannya ruang-ruang yang menunjang pekerjaan mereka. Seperti ruang tempat meletakkan gerobak, ruang berjualan, dan ruang untuk menyewakan parkir. Tabel 2 Fasilitas Penunjang Pekerjaan No Fasilitas Penunjang Pekerjaan 1 Ruang Gerobak 2 Ruang Berjualan 3 Ruang Parkir Untuk reelokasi permukiman kumuh dibutuhkan menganalisa lingkungan tapak lama dan juga lingkungan tapak baru. 1. Analisa tapak lama Dari analisa tapak lama didapatkan zoning bangunan yang dapat diterapkan pada tapak baru. Zoning terbagi menjadi dua yaitu hunian bercampur dengan usaha, dan hunian saja. Hal ini dikarenakan letak tapak yang berada di pinggir jalan dan berdekatan dengan mall.
59 Gambar 1 Zoning Tapak Lama Dari hasil analisa terdapat fasilitas bangunan dan ruang luar yang dipindahkan ke tapak baru dengan menyesuaikan keadaan tapak baru dan ada pula beberapa fasilitas yang dibutuhkan warga sehingga ditambahkan di tapak baru, yaitu: 2. Analisa tapak baru Tabel 3 Fasilitas No Fasilitas 1 Lapangan 2 Posyandu 3 Paud 4 Masjid 5 Kantor RT dan pos keamanan 6 Penghijauan 7 Sarana perdagangan dan niaga 8 Balai warga Analisa tapak baru dilakukan untuk mengetahui zona dan apa saja yang dibutuhkan dalam tapak baru. Dari hasil analisa sirkulasi, kegiatan dan bangunan sekitar didapatkan bahwa kedua area zoning private dan zoning service berada di pinggir jalan. Sehingga kedua bangunan pun akan diletakkan pada area pinggir jalan. Keterbatasan lahan juga berpengaruh pada pada zona di tapak ini di mana lahan yang tidak terlalu luas harus menampung kebutuhan yang tinggi. Sehingga, dalam tapak ini area private dan area service dibedakan berdasarkan ketinggian bangunan, di mana pada area bawah digunakan untuk service seperti tempat usaha, ruang bersama, dan lain-lain. Dan di atasnya untuk private berupa hunian. Terdapat area bersama dan area bawah dapat yang digunakan untuk usaha, sedangkan area hunian berada di atas.
60 Sirkulasi terdapat di luar bangunan dan di dalam bangunan. Sirkulasi di luar bangunan berupa jalur pejalan kaki dan ada pula yang dilalui oleh gerobak, sedangkan jalur kendaraan dipisah dan hanya sampai area parkir. Sirkulasi di dalam bangunan berupa koridor, tangga, dan lift. Menurut Bapak Djauhari Sumintardja, desain relokasi permukiman haruslah memiliki kelebihan dibanding dengan permukiman sebelumya, agar kualitas hidup penduduk permukiman kumuh tersebut meningkat sesuai dengan Undang Undang Nomor 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman Bab III Pasal 5 Ayat 1 bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur. Tabel 4 Perbandingan Permukiman Lama dengan Permukiman Baru No Keadaan Permukiman Lama Keadaan Permukiman Baru 1 Terdapat 1.078 jiwa dalam luas wilayah ± 1.6 Ha. Hal ini mengakibatkan padatnya permukiman dan ukuran rumah yang sempit. 2 Tidak adanya fasilitas penunjang untuk usaha 3 Hanya ada jalur kendaraan, tidak terdapat pedestrian 4 Tidak adanya ruang terbuka hijau hanya ada sedikit penghijauan 5 Tidak adanya tempat bermain bersama untuk anak 6 Tidak adanya tempat berkumpul untuk ibu-ibu Merupakan lahan kosong dengan luas wilayah ± 1.07 Ha. Agar tidak terjadi kepadatan yang tinggi, maka dibuat hunian vertikal sesuai dengan ketentuan SNI. Terdapat fasilitas penunjang untuk usaha Jalur pedestrian dibedakan dengan jalur kendaraan Terdapat ruang terbuka hijau yang dapat digunakan menjadi taman. Terdapat tempat bermain bersama untuk anak Terdapat tempat berkumpul untuk ibuibu 7 MCK umum Kamar mandi dalam tiap hunian 5.2 Saran Untuk peneliti selanjutnya, pengetahuan tentang karakteristik masyarakat harus bisa lebih diperdalam, karena bentuk bangunan dan kebutuhan ruang yang ada Harus sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.