Novia Hilda Silviani*, Rohani**, Hasyim**

dokumen-dokumen yang mirip
PENGENDALIAN LALU LINTAS 4 LENGAN PADA PERSIMPANGAN JL. RE. MARTADINATA JL. JERANDING DAN PERSIMPANGAN JL. RE. MARTADINATA JL. HARUNA KOTA PONTIANAK

Gambar 2.1 Rambu yield

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

STUDI PERSIMPANGAN BUNDARAN SUCI KABUPATEN GARUT

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Bundaran Boulevard Kelapa Gading mempunyai empat lengan masing-masing lengan adalah

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Rekayasa Lalulintas Kode : CES 5353 Semester : V Waktu : 1 x 2 x 50 menit Pertemuan : 6 (Enam)

HALAMAN PERSEMBAHAN... vi. DAFTAR ISI... vii

ANALISA KINERJA SIMPANG TIDAK BERSINYAL DI RUAS JALAN S.PARMAN DAN JALAN DI.PANJAITAN

BAB III LANDASAN TEORI. yang mempegaruhi simpang tak bersinyal adalah sebagai berikut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyebabkan kapasitas terganggu pada semua arah.

TINJAUAN PUSTAKA. Simpang jalan merupakan simpul transportasi yang terbentuk dari beberapa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. buah ruas jalan atau lebih yang saling bertemu, saling berpotongan atau bersilangan.

REKAYASA TRANSPORTASI LANJUT UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA

ANALISIS KINERJA SIMPANG TIGA PADA JALAN KOMYOS SUDARSO JALAN UMUTHALIB KOTA PONTIANAK

DAFTAR ISI. Judul. Lembar Pengesahan. Lembar Persetujuan ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Rekayasa Lalulintas Kode : CES 5353 Semester : V Waktu : 1 x 2 x 50 menit Pertemuan : 7 (Tujuh)

BAB III LANDASAN TEORI

ANALISIS BUNDARAN PADA SIMPANG EMPAT JALAN A. YANI KM 36 DI BANJARBARU. Rosehan Anwar 1)

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. bertemu dan lintasan arus kendaraan berpotongan. Lalu lintas pada masingmasing

MANAJEMEN LALU LINTAS AKIBAT BEROPERASINYA TERMINAL PESAPEN SURABAYA

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

BAB III LANDASAN TEORI Kondisi geometri dan kondisi lingkungan. memberikan informasi lebar jalan, lebar bahu, dan lebar median serta

ANALISIS KINERJA JALINAN JALAN IMAM BONJOL-YOS SOEDARSO PADA BUNDARAN BESAR DI KOTA PALANGKA RAYA

PERHITUNGAN KINERJA BAGIAN JALINAN AKIBAT PEMBALIKAN ARUS LALU LINTAS ( Studi Kasus JL. Kom. Yos Sudarso JL. Kalilarangan Surakarta ) Naskah Publikasi

Kata kunci : Tingkat Kinerja, Manajemen Simpang Tak Bersinyal.

BAB IV ANALISIS DATA. Data simpang yang dimaksud adalah hasil survey volume simpang tiga

BAB 3 METODOLOGI. Tahapan pengerjaan Tugas Akhir secara ringkas dapat dilihat dalam bentuk flow chart 3.1 dibawah ini : Mulai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Persimpangan Sistem jaringan jalan terdiri dari 2 (dua) komponen utama yaitu ruas (link) dan persimpangan (node).

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI. A. Simpang Jalan Tak Bersinyal

di kota. Persimpangan ini memiliki ketinggian atau elevasi yang sama.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kuantitatif yang menerangkan kondisi operasional fasilitas simpang dan secara

TINJAUAN KINERJA PERSIMPANGAN PRIORITAS KAMPUNG KALAWI KOTA PADANG (Studi Kasus: Simpang Tiga Kampung Kalawi)

ANALISIS SIMPANG TAK BERSINYAL DENGAN BUNDARAN (Studi Kasus Simpang Gladak Surakarta)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebagai pertemuan dari jalan-jalan yang terlibat pada sistem jaringan jalan

Kajian Kinerja Persimpangan Jalan Harapan Jalan Sam Ratulangi Menurut MKJI 1997

BAB III LANDASAN TEORI

SIMPANG TANPA APILL. Mata Kuliah Teknik Lalu Lintas Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, FT UGM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jalan. Ketika berkendara di dalam kota, orang dapat melihat bahwa kebanyakan

JURNAL EVALUASI KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL PADA SIMPANG TIGA JALAN CIPTOMANGUNKUSUMO JALAN PELITA KOTA SAMARINDA.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manfaatnya (

KAJIAN KEBUTUHAN LAMPU LALU LINTAS PADA SIMPANG 6 KUTABLANG LHOKSEUMAWE

BAB III LANDASAN TEORI

ANALISIS KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL DI KOTA MALANG (STUDI KASUS: SIMPANG PADA RUAS JL. BASUKI RAHMAT KOTA MALANG)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. saling berpotongan, masalah yang ada pada tiap persimpangan adalah kapasitas jalan dan

ANALISIS KINERJA SIMPANG BERSINYAL SECARA TEORITIS DAN PRAKTIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelumnya, maka dengan ini penulis mengambil referensi dari beberapa buku dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keadaan yang sebenarnya, atau merupakan suatu penjabaran yang sudah dikaji.

EVALUASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL (STUDI KASUS : JLN. RAYA KARANGLO JLN. PERUSAHAAN KOTA MALANG)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang memegang peranan penting

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Persimpangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh Pemberlakuan Rekayasa Lalulintas Terhadap Derajat Kejenuhan Pada Simpang Jalan Pajajaran dan Jalan Pasirkaliki

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. satu menuju daerah lainnya. Dalam ketentuan yang diberlakukan dalam UU 22 tahun

PERTEMUAN KE-8 UJIAN TENGAH SEMESTER

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

EVALUASI KINERJA SIMPANG TIGA TAK BERSINYAL DENGAN METODE MKJI 1997 (Studi Kasus Simpang Tiga Jalan Ketileng Raya-Semarang Selatan)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Rekayasa Lalulintas Kode : CES 5353 Semester : V Waktu : 1 x 2 x 50 menit Pertemuan : 4 (Empat)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Persimpangan adalah simpul dalam jaringan transportasi dimana dua atau

EVALUASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL (Studi Kasus Simpang Bangak di Kabupaten Boyolali)

ANALISIS SIMPANG TAK BERSINYAL DENGAN BUNDARAN. Sumina. Abstrak

2.6 JALAN Jalan Arteri Primer Jalan Kolektor Primer Jalan Perkotaan Ruas Jalan dan Segmen Jalan...

BAB V ANALISIS DATA 5.1 ANALISIS AWAL TANPA PENANGANAN

Dari gambar 4.1 maka didapat lebar pendekat sebagai berikut;

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. biasanya orang yang mengevaluasi mengambil keputusan tentang nilai atau

BAB V ANALISI DATA DAN PEMBAHASAN

OPTIMASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL BERHIMPIT (STUDI KASUS SIMPANG DR. RAJIMAN LAWEYAN, SURAKARTA) NASKAH PUBLIKASI

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. A. Data Masukan

UNSIGNALIZED INTERSECTION

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISA KINERJA SIMPANG JALAN MANADO BITUNG JALAN PANIKI ATAS MENURUT MKJI 1997

Kajian Kinerja Bagian Jalinan (Studi Kasus : Jl. Niaga 1 Jl. Yos Sudarso, Kota Tarakan)

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

ANALISA KINERJA SIMPANG EMPAT MANAHAN SURAKARTA

PENGARUH PEMBALIKAN ARAH ARUS LALU LINTAS TERHADAP KINERJA SIMPANG BERSINYAL (Studi Kasus Simpang Nonongan Kota Surakarta)

EVALUASI KINERJA SIMPANG BUNDARAN BARON SURAKARTA

BAB 3 METODOLOGI Metode Pengamatan

PENGARUH PEMBANGUNAN PALANGKARAYA MALL (PALMA) TERHADAP KINERJA LALU LINTAS DI BUNDARAN BESAR PALANGKARAYA

STUDI KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL YANG TIDAK SEBIDANG DI KOTA MAKASSAR: STUDI KASUS SIMPANG JALAN URIP SUMOHARJO-JALAN LEIMENA

METODE BAB 3. commit to user Metode Pengamatan

DAMPAK LALU LINTAS AKIBAT PEMBANGUNAN APARTEMEN BALI KUTA RESIDENCE (BKR) Di KUTA, BALI

TUNDAAN DAN TINGKAT PELAYANAN PADA PERSIMPANGAN BERSIGNAL TIGA LENGAN KAROMBASAN MANADO

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. LEMBAR PERSEMBAHAN... iii. KATA PENGANTAR... iv. DAFTAR ISI... v. DAFTAR TABEL...

KAJIAN PERBAIKAN KINERJA LALU LINTAS DI KORIDOR GERBANG PERUMAHAN SAWOJAJAR KOTA MALANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pristiwa Sugiharti 1, Wahyu Widodo 2. 2 Staff Pengajar Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Persimpangan. Persimpangan adalah simpul jaringan jalan dimana jalan-jalan bertemu dan

REKAYASA TRANSPORTASI LANJUT UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB III LANDASAN TEORI

KAJIAN KINERJA LALU LINTAS SIMPANG CILEUNYI TANPA DAN DENGAN FLYOVER

Transkripsi:

92 Spektrum Sipil, ISSN 1858-4896 Vol. 1, No. 1 : 92-101, Maret 2014 EVALUASI KINERJA DAN MANAJEMEN REKAYASA GEOMETRIK SIMPANG BANGGO PADA RUAS JALAN LINTAS SUMBAWA-DOMPU The Performance Evaluation and Geometric Engineering Management of Banggo Intersection at Trans Sumbawa-Dompu Novia Hilda Silviani*, Rohani**, Hasyim** Abstrak Simpang Banggo di kabupaten Dompu merupakan jenis simpang tak bersinyal dengan jalinan berbentuk bundaran (Roundabout). Simpang Banggo merupakan tempat bertemunya arus lalu-lintas dari empat arah yaitu arah selatan dari ruas jalan Batas Cabdin Dompu-Banggo, arah timur yaitu dari ruas jalan Banggo-Dompu, arah barat yaitu dari ruas jalan Simpang Banggo-Kempo. Dari arah utara, terdapat pula sebuah ruas jalan yang terhubung dengan daerah Kilo, Kore, Tambora, dan Calabai. Bundaran yang terletak di tengah simpang ini, sering kali menimbulkan masalah seperti yang sering terjadi adalah kesalahan arah putar kendaraan di bundaran, roda kendaraan yang terkadang melintasi tubuh bundaran, bundaran yang difungsikan tidak semestinya seperti dijadikan tempat parkir bagi motor dan mobil, dll. Selain masalah-masalah diatas, fasilitas lampu penerangan jalan-pun sangatlah minim. Sedangkan lalu-lintas pada simpang Banggo cukup padat terjadi pada malam hari, hal ini sangat membahayakan bagi pengemudi. Berdasarkan permasalahan yang ada, perlu dilakukan evaluasi kinerja simpang Banggo dengan menggunakan metode MKJI 1997 (Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997). Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh besarnya arus lalu lintas (Q) pada bundaran tersebut sebesar 76,4 smp/jam, dengan nilai dari parameter-parameter kinerja pada kondisi eksisting, yakni kapasitas (C) = 6.179,865 smp/jam, derajat kejenuhan (DS) = 0,6, tundaan (D) = 6,89 detik/smp, dan peluang antrian (QP%) =,59% - 7,2%. Dengan melihat nilai derajat kejenuhan (DS < 0,75) maka, kemampuan dari bundaran tersebut dalam melayani arus lalu lintas masih memadai. Dari kinerja tersebut, maka dilakukan rekayasa geometrik simpang mengoptimalkan kinerja simpang Banggo. Rekayasa geometrik dilakukan dengan memperlebar pendekat dari arah Calabai, Kilo dan menuju Bima. Diterapkan juga sistem (shared line) pada pendekat dari arah Calabai dan Sumbawa. Serta melengkapi simpang Banggo dengan fasilitas keselamatan seperti rambu, penerangan jalan umum dan warning light amber. Kata Kunci : Arus lalu lintas, Kapasitas, Derajat kejenuhan, Tundaan, Peluang Antrian PENDAHULUAN Transportasi umunya merupakan urat nadi dari perkembangan suatu daerah. Untuk mendukung kelancaran aktifitas lalu-lintas, maka dibutuhkan suatu kinerja jaringan jalan yang baik serta fasilitas pendukung aktifitas lalu-lintas yang memadai, Pada suatu jaringan jalan, terdapat suatu bagian yang disebut persimpangan sebagai jalinan penghubung antara ruas jalan. Pada ruas jalan lintas Sumbawa-Dompu, terdapat suatu simpang yang merupakan pertemuan antara lalu-lintas kabupaten hal ini menyebabkan aktifitas di simpang cukup padat. Simpang tersebut adalah simpang Banggo. Simpang ini terdapat di kabupaten Dompu. Simpang Banggo, merupakan jenis simpang tak bersinyal dengan jalinan berbentuk bundaran (Roundabout). Simpang Banggo merupakan tempat bertemunya arus lalu-lintas dari empat arah yaitu arah selatan dari ruas jalan Batas Cabdin Dompu-Banggo, arah timur yaitu dari ruas jalan Banggo-Dompu, arah barat yaitu dari ruas jalan Simpang Banggo-Kempo. Dari arah utara, terdapat pula sebuah ruas jalan yang terhubung dengan daerah Kilo, Kore, Tambora, dan Calabai. Bundaran yang terletak di tengah simpang ini, sering kali menimbulkan masalah seperti yang sering terjadi adalah kesalahan arah putar kendaraan * Alumni Jurusan Teknik SIpil Fakultas Teknik Universitas Mataram Jl. Majapahit 62 Mataram ** Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram Jl. Majapahit 62 Mataram

Silviani., N., H., dkk : Evaluasi Kinerja dan Manajemen Rekayasa 9 di bundaran, roda kendaraan yang terkadang melintasi tubuh bundaran, bundaran yang difungsikan tidak semestinya seperti dijadikan tempat parkir bagi motor dan mobil, dll. Selain masalah-masalah diatas, fasilitas lampu penerangan jalan-pun sangatlah minim. Sedangkan lalu-lintas pada simpang Banggo cukup padat terjadi pada malam hari, hal ini sangat membahayakan bagi pengemudi. Berdasarkan permasalahan yang ada, perlu dilakukan evaluasi kinerja simpang Banggo dengan menggunakan metode MKJI 1997 (Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kinerja simpang Banggo, dan desain rekayasa geometrik yang tepat untuk mendukung kelancaran aktifitas di simpang Banggo. TINJAUAN PUSTAKA Persimpangan adalah suatu daerah umum dimana dua ruas jalan atau lebih bergabung atau berpotong, termasuk fasilitas-fasilitas yang ada di pinggir jalan untuk pergerakan lalu-lintas dalam daerah tersebut (Taufikkurrahman, 2010). Pendapat lain mengemukakan bahwa persimpangan merupakan pertemuan dua atau lebih ruas jalan, bergabung, berpotong atau bersilangan (Saodang, 2004). Berdasarkan posisi letak pertemuan, simpang dibagi menjadi dua jenis, yaitu: (Saodang, 2004) a. Simpang sebidang (at grade) b. Simpang tidak sebidang/simpang susun (grade separated) Bundaran (roundabout) Bagian jalinan dikendalikan dengan aturan lalu-lintas Indonesia yaitu memberi jalan pada yang kiri. Bagian jalinan dibagi dua tipe yaitu bagian jalinan tunggal dan bagian jalinan bundaran (Sumina, 2008). Tingkat kecelakaan lalu-lintas pada bundaran empat lengan telah diperkirakan sebesar 0,0 kecelakaan/juta kendaraan masuk, dibandingkan dengan 0,4 pada simpang bersinyal dam 0.60 pada simpang tak bersinyal. Karena itu bundaran lebih aman dari persimpangan sebidang yang lain. Dampak terhadap keselamatan lalu-lintas akibat beberapa unsur perencanaan geometrik dibahas dibawah (MKJI, 1997). Menurut Munawar (2004) Bundaran tak bersinyal merupakan suatu alternatif, jika arus lalulintas sudah agak tinggi, sehingga pada simpang tak bersinyal tersebut diperlukan bundaran, guna : a. Membelok kendaraan-kendaraan dari suatu lintasan yang lurus, sehingga akan memperlambat kecepatannya. b. Mengurangi konflik yang terjadi pada simpang tersebut. Dalam penelitian ini digunakan metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI, 1997) untuk mengangalisa simpang Banggo. Berikut merupakan garis besar dari proseur analisa kinerja simpang pada Bab 4 dalam MKJI 1997.

94 Spektrum Sipil, 1(1), Maret 2014 LANGKAH A : DATA MASUKAN A-1 : Kondisi geometrik A-2 : Kondisi lalu lintas A- : Kondisi lingkungan PERUBAHAN LANGKAH B : KAPASITAS B-1 : Parameter geometrik bagian jalinan B-2 : Kapasitas dasar B- : Faktor penyesuaian ukuran kota B-4 : Faktor penyesuaian tipe lingkungan, hambatan samping dan kend. Tak bermotor B-5 : Kapasitas YA LANGKAH C : PERILAKU LALU-LINTAS C-1 : Derajat kejenuhan C-2 : Tundaan C- : Peluang antrian Keperluan penyesuaian anggapan mengenai rencana dsb. Tidak Langkah A : Data Masukan Langkah A-1 : Kondisi Geometrik Gambar 1. Prosedur Perhitungan Kinerja Bundaran Berdasarkan MKJI (Sumber : MKJI 1997) Kondisi geometrik digambarkan dalam bentuk gambar sketsa yang memberikan informasi lebar jalan, batas sisi jalan, lebar bahu, lebar median dan petunjuk arah. Data masukan tentang kondisi geometrik ini di isi pada formulir RWEAV-I. Langkah A-2 : Kondisi Lalu Lintas Untuk menentukan kondisi lalu-lintas, dibutuhkan data arus lalu-lintas yang telah terkategori berdasarkan jenis dan arah pergerakannya. Berikut merupakan perhitungan rasio jalinan dan rasio kendaraan tak bermotor, dengan menggunakan persamaan dibawah ini: 1) Rasio menjalin PW = QW/QTOT (1) dengan :PW adalah rasio menjalin; QW adalah arus menjalin; dan QTOT adalah arus masuk bagian jalinan 2) Rasio kendaraan tak bermotor PUM = QUM/QVEH (2) dengan :PUM adalah rasio kendaraan tak bermotor; QUM adalah arus kendaraan tak bermotor; QVEH adalah arus kendaraan bermotor. Akhiri analisa

Silviani., N., H., dkk : Evaluasi Kinerja dan Manajemen Rekayasa 95 Langkah A- : Kondisi Lingkungan Berdasarkan MKJI 1997, berikut data-data lingkungan yang dibutuhkan dalam perhitungan: 1) Ukuran Kelas Kota (city size, Cs) Ukuran kota dikategorikan berdasarkan jumlah total penduduk dalam sebuah kota yang dirincikan pada tabel berikut ini: Tabel 1 Kelas Ukuran Kota Ukuran kota Sangat kecil Kecil Sedang Besar Sangat besar Jumlah penduduk (Juta) < 0,1 0,1 0,5 0,5 1,0 1,0,0 >,0 Sumber : MKJI 1997 2) Tipe Lingkungan Jalan (road environment, RE) Lingkungan jalan diklasifikasikan dalam kelas menurut tata guna lahan dan aksesibilitas jalan tersebut dari aktivitas sekitarnya. Hal ini ditetapkan secara kualitatif dari pertimbangan teknik lalu-lintas dengan bantuan tabel di bawah ini : Tabel 2 Tipe Lingkungan Jalan Komersial Permukiman Guna lahan komersial (misalnya; pertokoan, rumah makan, perkantoran) dengan jalan masuk langsung bagi pejalan kaki dan kendaraan Guna lahan tempat tinggal dengan jalan masuk langsung bagi pejalan kaki dan kendaraan. Akses terbatas Sumber : MKJI 1997 Tanpa jalan masuk atau jalan masuk langsung terbatas (misalnya; karena adanya penghalang fisik, jalan samping dsb). ) Kelas Hambatan Samping (side friction, FR) Hambatan samping menunjukkan pengaruh aktivitas samping jalan di daerah bundaran pada arus berangkat lalu-lintas, misalnya pejalan kaki berjalan atau menyeberangi jalur, angkutan kota dan bis berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, kendaraan masuk dan keluar halaman dan tempat parkir di luar jalur. Hambatan samping ditentukan secara kualitatif dengan pertimbangan teknik lalu-lintas sebagai Tinggi, Sedang atau Rendah. Langkah B : Kondisi Geometrik Langkah B-1 : Parameter Geometrik Bagian Jalinan Parameter geometrik bundaran diperlukan untuk perhitungan, dan dimasukkan pada bagian pertama dari Formulir RWEAV-II bertanda 1. "Parameter geometrik bagian jalinan". Adapun perhitungannya menggunakan persamaan berikut : WE = W1 + W2. () 2

96 Spektrum Sipil, 1(1), Maret 2014 dengan : WE adalah lebar masuk rata-rata (m); W1 adalah lebar pendekat 1 (m); W2 adalah lebar pendekat 2 (m). Langkah B-2 : Kapasitas Dasar Kapasitas dasar dihitung dengan menggunakan rumus berikut. Variabel masukan adalah lebar jalinan (WW), rasio lebar masuk rata-rata/lebar jalinan (WE/WW), rasio menjalin (PW) dan rasio lebar/panjang jalinan (WW/LW) : C0 = 15 x WW 1, x (1+WE/WW) 1,5 x (1-PW/) 0,5 x (1+WW/LW) -1,8. (4) dengan : C0 adalah kapasitas dasar (smp/jam); WE adalah lebar masuk rata-rata (m); WW adalah lebar jalinan (m); PW adalah rasio jalinan; LW adalah panjang jalinan (m). Langkah B- : Faktor Penyesuaian Ukuran Kota (F CS) Untuk menentukan faktor penyesuaian ukuran suatu kota yang diperoleh dari tabel 1, maka dipergunakan tabel berikut ini, dan hasilnya dimasukan dalam kolom 26 Formulir RWEAV-II. Ukuran kota Sangat kecil Kecil Sedang Besar Sangat besar Sumber : MKJI 1997 Tabel Faktor Penyesuaian Ukuran Kota Penduduk (juta) < 0,1 0,1 0,5 0,5 1,0 1,0,0 >,0 Faktor penyesuaian ukuran kota (FCS) 0,82 0,88 0,94 1,00 1,05 Langkah B- : Faktor Penyesuaian Tipe Lingkungan Jalan, Hambatan Samping dan Kendaraan Tak-Bermotor (F RSU) Faktor penyesuaian tipe lingkungan jalan, hambatan samping dan rasio kendaraan tak bermotor, ditentukan dengan menggunakan Tabel 4 di bawah. Pembacaan tabel berdasarkan masukan yang tercatat pada sudut kanan atas Formulir RWEAV-II untuk lingkungan jalan dan hambatan samping, sedangkan rasio kendaraan tak bermotor (PUM) tercatat pada Formulir RWEAV-I (Baris 2 Kolom 17). Nilai FRSU dimasukkan pada Kolom 27. Tabel 4. Faktor penyesuaian tipe lingkungan jalan, hambatan samping dan kendaraan tak-bermotor (F RSU) Kelas tipe lingkungan jalan (RE) Kelas hambatan samping (SF) Rasio kendaraan tak bermotor (P UM) 0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 >0,25 Komersial Tinggi 0,9 0,88 0,84 0,79 0,74 0,70 Sedang 0,94 0,89 0,85 0,80 0,75 0,70 Rendah 0,95 0,90 0,86 0,81 0,76 0,71 Permukiman Tinggi 0,96 0,91 0,86 0,82 0,77 0,72 Sedang 0,97 0,92 0,87 0,82 0,77 0,7 Rendah 0,98 0,9 0,88 0,8 0,78 0,74 Akses terbatas tinggi/sedang/rendah 1,00 0,95 0,90 0,85 0,80 0,75 Sumber : MKJI 1997

Silviani., N., H., dkk : Evaluasi Kinerja dan Manajemen Rekayasa 97 Langkah B-5 : Kapasitas Kapasitas bagian jalinan masing-masing, dihitung dengan menggunakan persamaan berikut, dimana berbagai faktornya telah dihitung dan dicatat pada kolom 25-7. Hasilnya dimasukan pada kolom 28. C = C0 x FCS x FRSU (smp/jam)... (5) dengan : C0 adalah kapasitas dasar (smp/jam); FCS adalah faktor penyesuaian ukuran kota; FRSU adalah lebar jalinan penyesuaian tipe lingkungan jalan, hambatan samping, dan kendaraan tak- bermotor. Langkah C : Perilaku Lalu-Lintas Langkah C-1 : Derajat Kejenuhan Berdasarkan MKJI 1997, derajat kejenuhan didefinisikan sebagai rasio dari arus lalu lintas terhadap kapasitas. Berikut merupakan cara perhitungan derajat kejenuhan DS DS = (Qkend x Fsmp)/C = Qsmp/C..... (6) dengan : DS adalah derajat kejenuhan; Qsmp adalah arus total (smp/jam); Qkend adalah total lalu lintas yang masuk (kend/jam); Fsmp adalah faktor smp; C adalah kapasitas. Langkah C-2 : Tundaan Bagian Jalinan Bundaran 1) Tundaan Lalu Lintas Bagian Jalinan (DT) Tundaan lalu lintas bagian jalinan adalah tundaan rata-rata lalu lintas per kendaraan yang masuk ke bagian jalinan. Adapun perhitungannya menggunakan rumus sebagai berikut; a. Untuk DS 0,6 DT = 2 + 2,68982 x DS (1-DS) x 2. (7) b. Untuk DS > 0,6 DT = 1 / (0,59186 0,52525 x DS) (1-DS) x 2 (8) 2) Tundaan Lalu Lintas Bundaran (DTR) Tundaan lalu-lintas bundaran (DTR) adalah tundaan rata-rata per kendaraan yang masuk kedalam bundaran. Adapun perhitungannya menggunakan persamaan berikut: DTR = (Qi x DTi) / Qmasuk ; i = 1.n (9) dengan : i adalah bagian jalinan (i) dalam bundaran; n adalah jumlah bagian jalinan dalam bundaran; Qi adalah arus total pada bagian jalinan i (smp/jam); DTi adalah tundaan rata-rata pada bagian jalinan i (det/smp); Qmasuk adalah jumlah arus yang masuk bundaran (smp/jam). ) Tundaan Bundaran (DR) Tundaan bundaran tundaan bundaran adalah tundaan lalu-lintas rata-rata per kendaraan masuk bundaran. Tundaan Bundaran (DR), dapat diperoleh dengan rumus berikut: DR = DTR + 4 (det/smp) (10) dengan : DR adalah tundaan bundaran (det/smp); DTR adalah tundaan lalu-lintas bundaran.

98 Spektrum Sipil, 1(1), Maret 2014 Langkah C- : Peluang Antrian Bagian Jalinan Bundaran Rumus batas atas dan bawah rentang Peluang Antrian (QP%) terhadap Derajat Kejenuhan (DS) adalah sebagai berikut : Atas : QP % = 26,65 DS 55,55 DS 2 + 108,57 DS (11) Bawah : QP % = 9,41 DS + 29,967 DS 4,619.. (12) METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, digunakan dua jenis data yaitu: 1) Data primer : Data ini merupakan data yang diperoleh langsung dari hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan. Seperti, keadaan geometrik eksisting simpang, arus lalu-lintas harian dan hambatan samping. 2) Data Sekunder : Data jenis ini adalah data yang diperoleh dari instansi-instansi terkait, meliputi data hasil survey traffic counting yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Propinsi NTB dan data jumlah penduduk wilayah kabupaten Dompu yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi NTB. Metode Pengambilan Data 1) Survey Volume Lalu-Lintas (Traffic Counting) Survey volume lalu-lintas (traffic counting) ini dilaksanakan dengan metode manual. Survey dilakukan oleh delapan surveyor pada setiap interval survey. 2) Survey Geometrik Data geometrik eksisting simpang Banggo, diperoleh dengan cara pengukuran langsung di lapangan. Dengan melibatkan dua orang surveyor, pengkuran dilaksanakan pada jam sepi kendaraan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kinerja Simpang Banggo Pada Kondisi Eksisting Berikut ini merupakan hasil analisa kinerja dari simpang Banggo di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat: Tabel 5. Kinerja bundaran pada kondisi eksisting No Parameter Nilai 1 2 4 5 Arus Lalu Lintas (Q) Kapasitas Total (C) Derajat Kejenuhan (DS) Tundaan (D) Peluang Antrian (QP%) 1.217 kend/jam atau 76,4 smp/jam 6.179,865 smp/jam 0,6 6,89 det/smp,59% - 7,2% Sumber : Hasil Perhitungan Dari hasil perhitungan terlihat bahwa nilai derajat kejenuhan (DS) dari bundaran pada simpang Banggo adalah 0,6 lebih kecil dari 0,75 dan lamanya tundaan pada simpang Banggo kurang

Silviani., N., H., dkk : Evaluasi Kinerja dan Manajemen Rekayasa 99 dari 10 det/smp, maka kinerja simpang Banggo termasuk dalam kategori baik. Kapasitas total (C) merupakan total dari kapasitas tiap lengan atau pendekat yaitu 6.179,865 smp/jam, masih dibawah total nilai kapasitas dasar (C0) dari tiap lengan yakni kapasitas pada kondisi tertentu (ideal) yang disyaratkan yaitu 7.674,945 smp/jam. Rekayasa Geometrik Simpang Banggo Dari hasil analisa data, kinerja simpang Banggo termasuk dalam kategori baik, karena tundaan dan derajat kejenuhan pada simpang Banggo memenuhi kriteria simpang dengan kinerja baik. Untuk mendukung kegiatan pergerakan kendaraan pada simpang Banggo, maka direncakan suatu desain rekayasa geometrik pada simpang. Desain rekayasa ini meliputi rekayasa geometrik pada lebar pendekat, pemisahan lajur, dan dilengkapi dengan fasilitas keselamatan simpang. Berikut merupakan uraian dari rekayasa geometrik simpang Banggo: 1) Dari arah Calabai Pada ruas jalan dari arah Calabai, terdapat perbedaan lebar lajur lintasan kendaraan. Setelah dilakukan pelebaran, lebar pendekat menjadi 7,64 m dari yang semula 6,7 m. 2) Dari arah Kilo Pada simpang Banggo, terjadi konflik pergerakan kendaraan dari pendekat arah Kilo. Karena arus lalu-lintas cukup padat datang dari arah Calabai dan Sumbawa. Arus kendaraan tersebut mayoritas menuju ke arah Bima. Pada titik konflik tersebut terjadi pergerakan crossing dan merging. Setelah dilakukannya pelebaran, lebar pendekat yang mula-mulanya sebesar 4,85 m berubah menjadi 5,76 m yang artinya terdapat penambahan lebar sebesar 0,91 m dari lebar eksisting. ) Dari arah Bima Mayoritas kendaraan dari arah Bima, melakukan pergerakan menuju ke arah Sumbawa atau pergerakan belok kiri (Left turn). Hasil survey geometrik menunjukan lebar pendekat simpang Banggo dari arah Bima yaitu 6,24 m. Lebar tersebut cukup untuk dilalui kendaraan dari arah Bima yang kebanyakan menuju ke arah Sumbawa. 4) Dari arah Sumbawa Dari hasil survey geometrik simpang Banggo, diperoleh lebar pendekat dari arah Sumbawa yaitu sebesar 9,4 m. Lebar tersebut sudah cukup untuk dilewati oleh kendaraan dari arah Sumbawa. Untuk mempermudah kendaraan dalam melakukan pergerakan memisah atau diverging, maka perlu dilakukan pemisahan lajur kendaraan (Shared line). 5) Bundaran Simpang Banggo Simpang Banggo merupakan simpang yang memiliki jalinan berbentuk bundaran. Berdasarkan hasil survey geometrik di lapangan ketinggian bundaran bahkan tidak lebih tinggi dari sebuah Kerb yaitu hanya 14 cm diukur dari lapisan perkerasan lentur (aspal) jalan. Karena itu, bundaran di simpang Banggo sering dialih fungsikan, antara lain sebagai tempat parkir ojek. Tidak jarang roda kendaraan melintasi tubuh bundaran, ketika melakukan pergerakan membelok. Pada saat arus lalu-lintas malam, bundaran simpang Banggo hampir tidak terlihat hal ini dapat membahayakan

DOMPU BIMA SUMBAWA BESAR CALABAI BIMA SAPE Warning Light TS Warning Light TS Warning Light TS CALABAI SUMBAWA BESAR PELABUHAN TANO 100 Spektrum Sipil, 1(1), Maret 2014 keselamatan pengguna jalan. Untuk menghindari kejadian tersebut, maka perlu dibangung suatu konstruksi bangunan bundaran baru. KAMPUNG PENDUDUK MASJID 1 CALABAI 2 4 5 S 6 7 KILO 11 11 10 BIMA TERMINAL SORI UTU POS POLISI PJU TS 8 PJU TS 5 S 9 10 6 7 8 9 9 10 5 S PJU TS 8 2 6 PJU TS KAMPUNG PENDUDUK 1 KAMPUNG PENDUDUK 4 PJU TS 1 2 KAMPUNG PENDUDUK SUMBAWA BESAR PJU TS RENCANA PERUBAHAN Gambar 5. Kondisi eksisting Gambar 6. Kondisi setelah perubahan Kinerja Simpang Banggo Setelah Perubahan Geometrik Berikut ini merupakan hasil analisa kinerja dari simpang Banggo di Kabupaten Dompu, Propinsi Nusa Tenggara Barat setelah perubahan geometrik Tabel 6. Kinerja bundaran setelah perubahan geometrik No Parameter Nilai 1 Arus Lalu Lintas (Q) 2 Kapasitas Total (C) Derajat Kejenuhan (DS) 4 Tundaan (D) 5 Peluang Antrian (QP%) Sumber : Hasil Perhitungan 1.217 kend/jam atau 76,4 smp/jam 6.58,18 smp/jam 0,5 6,81 det/smp,5% - 7,19% Dari hasil perhitungan terlihat bahwa nilai derajat kejenuhan (DS) dari bundaran pada simpang Banggo berkurang sebesar 0,01dari DS semula, menjadi 0,5. Tundaan juga berkurang menjadi 6,81 det/smp. Hal ini menunjukkan bahwa dengan merubah geometrik simpang Banggo, dapat meningkatkan kinerja simpang Banggo tersebut. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Derajat kejenuhan ( DS) sebesar 0,6 dan lamanya tundaan di simpang Banggo adalah sebesar 6,89 det/smp. Karena nilai DS < 0,75 dan lamanya tundaan kurang dari 10 det./smp, maka berdasarkan ketentuan, simpang Banggo termasuk dalam kategori pelayanan baik (B). Rekayasa geometrik berupa pelebaran dilakukan pada lengan dari arah Calabai-Kilo dan Kilo-Bima. Lengan/pendekat dari arah Bima dan Sumbawa, tidak dilakukan pelebaran. Karena lebar eksisting masih cukup untuk dilalui arus kendaraan. Pada lengan dari arah Calabai dan Sumbawa, diberlakukan

Silviani., N., H., dkk : Evaluasi Kinerja dan Manajemen Rekayasa 101 sistem bagi lajur (shared line). Pada keempat lengan simpang, di lengkapi dengan fasilitas keselamatan seperti rambu penunjuk arah, rambu peringatan, rambu perintah, rambu larangan, warning lights amber, penerangan jalan umum, zebra cross, dan marka penunjuk arah (untuk arah lajur). Pada bundaran simpang Banggo, didirikan sebuah bangunan untuk mengganti bundaran lama yang tidak sesuai dari segi ketinggian. Dengan melakukan perubahan geometrik, kinerja simpang Bangggo menjadi lebih baik. Hal ini ditandai dengan menurunnya nilai DS menjadi 0,5 dan tundaan menjadi 6,81 det/smp. Saran Dari hasil perhitungan, nilai DS simpang Banggo adalah 0,6. Meskipun dalam kategori baik, namun simpang Banggo perlu dilakukan perubahan geometrik agar memenuhi standar minimum bundaran berdasarkan MKJI (1997). Perubahan geometrik simpang Banggo perlu dilakukan juga sebagai langkah antisipasi dalam mengahadapi perkembangan lalu-lintas dan perubahan karateristik land use. Melengkapi simpang Banggo dengan penerangan jalan umum, untuk membantu pengemudi melintasi simpang Banggo pada malam hari. Tidak melakukan kegiatan parkir di bundaran simpang Banggo dan areal bundaran disekitarnya. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Pembinaan Jalan Kota (BINKOT), 1990, Petunjuk Perencanaan Marka Jalan, No. 012/T/BNKT/1990, Direktorat Jendral Bina Marga, Jakarta. Direktorat Pembinaan Jalan Kota (BINKOT), 1990, Tata Cara Pelaksanaan Survai Lalu Lintas Cara Manual, No. 016/T/BNKT/1990, Direktorat Jendral Bina Marga, Jakarta. Direktorat Pembinaan Jalan Kota (BINKOT), 1997, Manual Kapasitas Jalan Indonesia, Direktorat Jenderal Bina Marga, Jakarta. Munawar, A., 2004, Manajemen Lalu Lintas Perkotaan, Edisi Pertama, Beta Offset, Yogyakarta. Saodang, H., 2004, Konstruksi Jalan Raya, Edisi Pertama, Nova, Bandung. Sumina., 2008, Analisis Simpang Tak Bersinyal Dengan Bundaran (Studi Kasus Simpang Gladak Surakarta), http://ejournal.utp.ac.id/index.php/jtsa/article/view/89/78, (01-04- 201/ 09:52 AM). Taufikkurrahman., 2010, Evaluasi Penanganan Simpang Empat Bersinyal Dengan Metode Perhitungan MKJI 1997 (Studi Kasus Persimpangan Jl. Ranugrati-Sawojajar Kota Malang), http://ft.wisnuwardhana.ac.id, (01 Januari 201/ 08:58:08 PM).