BAB I PENDAHULUAN.. LATAR BELAKANG Sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 204 tentang Sistem Akuntabilitas Instansi Pemerintah dalam rangka mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi sesuai ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Perda Kabupaten Bogor No. tahun 2008 tentang Pembentukan Dinas Daerah, dimana Dinas Kesehatan wajib menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja tahunan. Laporan ini memuat hasil pengukuran sasaran strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan program/kegiatan melalui indikator kinerja (parameter) yang telah ditetapkan sesuai tugas pokok dan fungsinya. Adapun sumber dana Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor untuk program dan kegiatan yang dilaksanakan tahun 206 berasal dari APBD Kabupaten Bogor, DAK, APBD Propinsi dan APBN tahun anggaran 206. Indikator kinerja Sasaran merupakan parameter untuk mengukur keberhasilan pelayanan yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dalam rangka mendukung keberhasilan pencapaian sasaran tingkat Pemerintah Kabupaten Bogor tahun 206. Indikator kinerja Sasaran menggunakan indikator kinerja utama yang dipilih dari beberapa output dan atau outcome dari kegiatan. Indikator kinerja kegiatan meliputi indikator masukan (input) yang mengutamakan penggunaan dana APBD Kabupaten Bogor/APBD Propinsi/APBN, indikator keluaran (output) dan indikator hasil (outcome) sesuai Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 206. Gambaran pengukuran kinerja Dinas Kesehatan tahun 206 dalam pencapaian pengukuran kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor tahun 206, disajikan dalam diagram.. Tahun 206
Sasaran Strategis Kab. Bogor 206 Sasaran Dinas Kesehatan Tahun 206 Indikator Kinerja Pengukuran Kinerja Program Kegiatan LK Dinas Kesehatan TAHUN 206 IK : Input,Output/ Outcome Diagram.. Alur Pikir Pengukuran Kinerja Metode penyusunan secara umum mengacu pada Surat Keputusan Kepala LAN Nomor 29/IX/6/8/200 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 204 tentang Petunjuk Tehnis penjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Dalam pengukuran kinerja Sasaran Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 206 ini menggambarkan indikator kinerja output (grand output) atau outcome pada program/kegiatan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor selama tahun 206 sesuai dengan penetapan indikator kinerja yang ditetapkan pada dokumen Perjanjian Kinerja (Jankin) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 206.. TUGAS POKOK DAN FUNGSI SERTA SUSUNAN ORGANISASI.. Tugas Pokok Berdasarkan Perda Kabupaten Bogor No. tahun 2008 tentang Pembentukan Dinas Daerah. Tugas Pokok Dinas Kesehatan adalah membantu Bupati dalam melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi di bidang kesehatan dan tugas pembantuan..2. Fungsi Dalam melaksanakan tugas pokok Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mempunyai fungsi sebagai berikut :. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan 2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang kesehatan. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang kesehatan dan Tahun 206 2
4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.. Susunan Organisasi Susunan dan tugas unsur organisasi Dinas Kesehatan, berdasarkan Perda Kabupaten Bogor No. tahun 2008 tentang Pembentukan Dinas Daerah, Organisasi Dinas Kesehatan, terdiri atas :. Kepala Dinas (dr.hj.camalia W Sumaryana, MKM) 2. Sekretariat (Drs. Erwin Suriana, MSi), membawahi : a. Sub Bagian Program dan Pelaporan (Dini Priyantini, SKM) b. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian (H. Mardani, SPd, MM) c. Sub Bagian Keuangan (Heri Heryana, SKM, MARS). Bidang Promosi dan Sumber Daya Kesehatan (Ir. Sri Basuki Dwi Lestari, MKM), membawahi : a. Seksi Pengembangan Sumber Daya Kesehatan (M. Lintang, SKM, MKes) b. Seksi Promosi Kesehatan (dr Dion Rivardin Iskandar) c. Seksi Data dan Informasi Kesehatan (Adang Mulyana, SKM, M.Epid) 4. Bidang Pelayanan Kesehatan (dr Agus Fauzi), membawahi : a. Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan (dr Trisna Dewi Bangun) b. Seksi Farmasi dan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) (Runny R. P, S.Si, Apt) c. Seksi Pelayanan Upaya Kesehatan (dr Dedi Syarif) 5. Bidang Pembinaan Kesehatan Masyarakat, (Drg Rosnila Davy Siregar) membawahi : a. Seksi Gizi (Dewi Dwinurwati, SKM, MKM) b. Seksi Kesehatan Ibu, Anak & Keluarga Berencan (dr Dede Agung Priatna) c. Seksi Kesehatan Remaja dan Lanjut Usia (Wayan Sri Agustina, S.Sit M.Kes) 6. Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (dr Kusnadi), membawahi : a. Seksi Penyehatan Lingkungan (Didik Supriyono, SKM. MKes) b. Seksi Pemberantasan Penyakit (dr. Intan Widiyati) c. Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi (dr Yesi Desputri) Tahun 206
7. UPT ; dan 8. Kelompok Jabatan Fungsional Secara lengkap susunan organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor digambarkan dalam diagram. Diagram. Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor (Sesuai Perda Nomor Tahun 2008) Kepala Dinas dr.hj. Camalia W Sumaryana, MKM Sekretaris Drs Erwin Suriana, MSi Kelompak Jabatan Fungsional Wayan Sri Agustini, M.kes Bidang Promkes & SDK Bidang Pelayanan Kesehatan Ir. Sri Basuli Dwi Lestari, MKM Dr. Agus Fauzi, M.Kes Sub. Bag. Umum & Kepegawaian Dini Priyantini, SKM H. Mardani, SPd, MM Sub. Bag. Keuangan Heri Heryana,SKM. MARS Bidang Binkesmas Bidang P2PKL Drg Rosnila Davy S Dr.Kusnadi Sie.Promkes Sie Yandasruj Sie.Gizi Sie. SEPIM Dr Dion Rivardin Iskandar Dr. Trisna Dewi Bangun Dewi Dwi N, SKM.M.Kes Dr. Yesi Desputri Sie PSDK Sie PUK Sie Kes.Remaja&Lansia Sie P2M M.Lintang,SKM, MKes.. Sub. Bag. Program Pelaproan Dr Dedi Syarif Sie Data & SIK Sie Farmasi&POM Adang Mulyana, SKM, M.Epid Runny.R.P, S.Si, Apt Wayan Sri A, S.Sit MKes Dr Intan Widiyati Sie KIA & KB Sie Peny. Lingkungan Dr Dede Agung Priyatna Didik. Supriyono, SKM,MKes UPT ASPEK STRATEGIS YANG BERPENGARUH Permasalahan utama yang perlu direspon berkaitan dengan peran dan fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun anggaran 206 terutama : Tahun 206 4
... Derajat Kesehatan Derajat kesehatan merupakan hasil dari berbagai keadaan sosial ekonomi antara lain pendidikan, daya beli dan lingkungan yang tidak sepenuhnya dapat diintervensi oleh sektor kesehatan. Indikator yang digunakan untuk dapat menggambarkan derajat kesehatan adalah : Tabel Indikator Derajat Kesehatan di Kabupaten Bogor NO Indikator Derajat Kesehatan Angka Angka Kematian Ibu ( AKI ) 59/00.000 KH (SDKI 202 ) 2 Angka Kematian Bayi ( AKB ) 4,82/000 KH ( BPS Kab Bogor dari 20 205 ) Angka Harapan Hidup ( AHH ) 70,5 ( BPS 200205 ) ) Angka Kematian Bayi Infant Mortality Rate (IMR) atau Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia tahun yang dinyatakan dalam 000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. AKB merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat, kondisi AKB meskipun lambat menunjukkan kecenderungan menurun. Untuk mengurangi AKB yang masih tinggi di Kabupaten Bogor dan untuk mencapai target MDGs tahun 206 sebesar 2 per 000 kelahiran hidup, maka pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya perlu ditingkatkan karena hal ini disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. Selain itu perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit. Angka kematian neonatal berdasarkan SDKI 2007 yaitu sebesar 9 per.000 kelahiran hidup, sedangkan target nasional (204) : 5 per.000 kelahiran hidup (RPJMD 200204). Bila dilihat dari jumlah data kematian neonatal, bayi dan balita di Kabupaten Bogor berdasarkan pencatatan dari Data Dasar Kesehatan Anak yang dilaporkan oleh fasilitas kesehatan/puskesmas yang ada pada tahun 206 sebanyak 29 kasus, neonatal (06 hari) sebanyak kasus, neonatal (7 28 hari) sebanyak 6 kasus. Data laporan puskesmas jumlah kematian bayi umur (29 hari bulan) sebanyak 6 kasus yang terdiri dari kasus akibat Pneumonia, kasus akibat Diare dan 2 kasus akibat penyakit lainnya. Selain itu jumlah kematian balita (2 59 bulan) sebanyak 9 kasus terdiri dari ISPA 2 kasus, DBD 2 kasus dan Tahun 206 5
penyakit lainlainnya sebanyak 5 kasus. Jumlah kematian bayi neonatal umur 0< tahun dari Rumah Sakit pada tahun 205 sebanyak 644 bayi dan umur 4 tahun sebanyak 54 bayi. Penyebab kematian bayi neonatal umur 0 28 hari berdasarkan laporan puskesmas sebagian besar disebabkan oleh Asphyxia sebanyak 29 bayi, BBLR sebanyak 60 bayi, Infeksi sebanyak bayi, kelainan congenital sebanyak 5 bayi, Tetanus Neonatorum sebanyak bayi, Ikterus sebanyak bayi dan kematian disebabkan hal lainnya sebanyak 2 bayi. Oleh karena itu kematian bayi dengan berbagai penyebabnya masih menjadi suatu masalah serius yang masih tetap harus menjadi perhatian utama. 2) Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) menunjukkan jumlah kematian ibu karena kehamilan, persalinan dan masa nifas pada 00.000 kelahiran hidup dalam satu wilayah pada kurun waktu tertentu. Angka ini berguna untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama pada saat ibu hamil, melahirkan dan pada saat nifas. AKI khusus untuk Kabupaten Bogor sampai saat ini belum ada, karena untuk menghitung AKI ini diperlukan denominator 00.000 kelahiran hidup (KH). Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 995, 6 % ibu hamil / bersalin mengalami komplikasi sewaktu hamil, bersalin atau nifas dan 22 % komplikasi paling sering timbul pada waktu bersalin. Hasil survey BPS Jawa Barat tahun 200 menunjukan bahwa umumnya kematian ibu terjadi pada saat melahirkan yaitu sebanyak 60,87 % sedangkan yang meninggal waktu nifas sebesar 0,4 % dan meninggal waktu hamil adalah 8,70 % ( Profil Kesehaatan Jawa Barat, Tahun 2005 ). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI untuk periode 5 tahun sebelumnya survei (2002007) sevesar 228/00.000 kelahiran hidup. Penyebab tidak langsung yang berperan dalam tingginya AKI ini antara lain faktor pendidikan ibu yang rendah, status gizi ibu yang kurang serta usia ibu saat hamil masih terlalu dini. Kasus Kematian Ibu yang dilaporkan berdasarkan laporan puskesmas (SP) pada tahun 206 sebanyak 58 terdiri dari kematian ibu hamil sebanyak 22 orang, kematian ibu bersalin sebanyak 5 orang dan kematian ibu nifas sebanyak 2 orang. Pada penanganan kasus sering ditemukan Trias Tiga Terlambat yang akan memperbesar angka kematian ibu diantaranya :. Terlambat memutuskan untuk mencari pertolongan bagi kasus kegawat daruratan obstetri. 2. Terlambat mencari tempat rujukan yang disebabkan oleh keadaan geografis dan masalah transportasi. Tahun 206 6
. Terlambat memperoleh penanganan yang adekuat ditempat rujukan karena kurangnya sumber daya dan fasilitas kesehatan di pusat rujukan. Melihat datadata di atas, permasalahan kematian ibu menjadi sangat kompleks karena selain faktor dari penanganan langsung pada saat ibu melahirkan kematian ibu disebabkan pula oleh faktor sosial ekonomi bahkan budaya masyarakat sehingga dalam mengatasinya tidak hanya dibutuhkan peran sektor kesehatan saja namun juga keterlibatan pihakpihak lain yang terkait. ) Status Gizi Status gizi merupakan salah satu indikator yang menggambarkan derajat kesehatan. Penilaian ini dilakukan dengan melihat kondisi status gizi penduduk golongan rawan gizi yaitu anakanak berumur dibawah lima tahun (balita), ibu hamil dan ibu menyusui. Hasil kegiatan pemantauan status gizi melalui Bulan Penimbangan Balita (BPB) tahun 206 menunjukan ada sebesar 0,92 % balita termasuk dalam gizi dengan BB sangat kurang, 5,29 % balita dengan BB kurang, 92,09 % balita dengan BB normal dan,70 % balita dengan BB lebih. Prevalensi balita dengan Kurang Energi Protein (KEP) yang diperoleh dari penjumlahan balita dengan BB sangat kurang dan balita dengan BB kurang adalah sebesar 6,2 %. Bila dibandingkan dengan hasil Bulan Penimbangan Balita (BPB) tahun 205, balita dengan BB sangat kurang (0,68 %) mengalami peningkatan sebesar 0.24 %, Balita dengan BB kurang (5,06 %) mengalami peningkatan sebesar 0,2 % dan BB normal (92,96 %) sehingga mengalami penurunan sebesar 0,87 % dan BB lebih sebesar, % sehingga mengalami peningkatan sebesar 0,4 %. Dimana pada tahun 206 untuk balita dengan BB sangat kurang masih dalam keadaan kondisi (0,92 %) sedikit meningkat dibanding dengan tahun 205 (0,68 %) sehingga permasalahan gizi pada balita masih menjadi masalah utama yang harus tetap di ditangani. 4) Angka Kesakitan Angka kesakitan di peroleh melalui survei rumah dan untuk tahun terkini belum diperbaharui sehingga masih mengacu pada hasil surveu kesehatan rmah tangga (SKRT) Tahun 980 dan Tahun 986 yang menunjukan bahwa angka kesakitan nasional masingmasing adalah,5 % dan 8, % sementara menurut SDKI 200 angka kesakitan nasional sebesar 9,0 %. Angka Kesakitan Bayi sedikit meningkat dari 5,7 % (Tahun 980) menjadi 2,9 % (Tahun 986) sedangkan angka kesakitan pada kelompok anak balita (4 Tahun) menurun dari 9,4 % menjadi 8, %. Berdasarkan dari hasil laporan puskesmas di Kabupaten Bogor 206 pola penyakit terbanyak di Puskesmas pada bayi (0 < Tahun) urutan satu sampai tiga masih berkisar pada Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut (ISPA) sebanyak 4.54 kasus (6,44 %), Tahun 206 7
Nasofaringitis Akut (Common Cold) sebanyak 2.2 kasus (9,44 %) dan Penyakit kulit & Jaringan Subkutan sebanyak.76 kasus (9,89 %) dari seluruh penderita sebanyak 8.985 kasus. Penyakitpenyakit tersebut masih berkaitan erat dengan kondisi lingkungan yang buruk, hal ini termasuk juga dengan pola asuh ibu terhadap anaknya. Pola penyakit terbanyak yang diamati di puskesmas juga menurut kelompok umur 4 tahun yaitu Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut tidak Spesifik sebanyak 82. kasus (,02 %), Nasofaring Acut (Common Cold) sebanyak 42.942 kasus (6,8 %) dan Diare dan Gastroenteritis sebanyak 5.67 kasus (,42 %) dari seluruh penderita sebanyak 265.9 kasus. Demikian pula pada kelompok umur 55 tahun rangking pertama Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut tidak Spesifik sebanyak 02.9 kasus (25,42 %), penyakit kulit dan jaringan subkutan sebanyak 59.45 kasus (4,69 %) dan diare dan ganstroenteritis sebanyak 7.584 kasus (9,4 %) dari seluruh penderita sebanyak 402.54 kasus, sedangkan kelompok umur 544 tahun yaitu penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut tidak Spesifik sebanyak 4.90 kasus (6,5 %), Diare & Ganstroenteritis sebanyak 77.452 (,02 %) dan Penyakit Kulit & Jaringan Subkutan sebanyak 6.906 (9,09 %) dari seluruh penderita sebanyak 702.94 kasus dan pada kelompok umur 4575 tahun yaitu penyakit Sistem Muskuloskeletal dan Jaringan Ikat sebanyak 284 kasus (8,02 %), Hipertensi sebanyak 0.027 kasus (5,0 %) dan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut tidak Spesifik sebanyak 68.594 kasus (0,9 %) dari seluruh penderita 67.040 kasus, dan pola penyakit pada semua golongan umur rangking pertama adalah mendominasi lagi pada penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut tidak Spesifik sebanyak 4.46 kasus (20,59 % ) dari seluruh penderita sebanyak.998.4 kasus. Frekuensi Kejadian Luar Biasa (KLB) sebanyak kali terdiri dari 4 jenis KLB (Keracunan Makanan sebanyak 4 kali, Difteri sebanyak 5 kali, Hepatitis A sebanyak kali dan Campak kali di Pondok Pesantren An Nawawi Albar Desa Cibadug, yang menyerang 7 desa tersebar di 7 Kecamatan yaitu Kecamatan Ciawi, Parung, Cigudeg, Cileungsi, Caringin, Pamijahan dan Cigombong. Sedangkan lainnya yang secara bergantian muncul/sporadis (peningkatan kasus potensi) adalah KLB DBD, Diare, Chikungunya dan Hepatitis. Berdasarkan data dan kejadian luar biasa di atas pola penyakit masih didominasi oleh penyakit infeksi yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan, kasus penyakit seperti TB Paru mulai menunjukkan peningkatan kembali (reemerging disease) sedangkan penyakit baru (new emerging disease) seperti HIVAIDS perlu pula mendapatkan perhatian yang utama. Penyakit degeneratif dan penyakit tidak menular meskipun berada pada urutan bawah namun perlu peningkatan penanganannya seperti penyakitpenyakit pada gigi, penyakitpenyakit kulit khususnya pada masyarakat di daerah industri, dan penyakit kebutaan karena katarak. Tahun 206 8
.4. Dasar Hukum Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 204 mengacu kepada :. Undangundang nomor 28 tahun 999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas dari Korupsi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 85); 2. Peraturan Pemerintah nomor 8 tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 204 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 4. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 204 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. 5. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor tahun 2008 tentang Pembentukan Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. 6. Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 20 tentang Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Daerah Kabupaten Bogor Tahun 20 208. Tahun 206 9
BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.. RENCANA STRATEGIS TAHUN 20208 2... Visi Visi merupakan pandangan jauh ke depan, kemana dan bagaimana suatu organisasi harus dibawa berkarya agar tetap konsisten dan dapat eksis, antisipatif, inovatif dan produktif. Visi dapat membantu organisasi untuk mendefinisikan kemana organisasi akan dibawa dan membantu mendefinisikan bagaimana pelayanan harus dilaksanakan. Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 7 Tahun 2009, sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 20 tentang Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor Tahun 20 208, Visi Kabupaten Bogor adalah KABUPATEN BOGOR MENJADI KABUPATEN TERMAJU DI INDONESIA Dalam rangka mendukung Visi Kabupaten Bogor tersebut dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta masukanmasukan dari stakeholders, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menetapkan Visi : Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bogor yang mandiri untuk hidup sehat Visi ini dimaksudkan bahwa setiap penduduk mampu berpikir, bersikap dan bertindak secara kreatif dan inovatif dalam mengatasi masalah kesehatan atas kehendak dan dorongan diri sendiri bahkan diharapkan mampu mempengaruhi lingkungannya untuk bersikap dan berperilaku hidup sehat. Berdasarkan Visi dan Misi Kabupaten Bogor Tahun 20208 dan Visi Dinas Kesehatan, tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan serta masukanmasukan dari pihak yang berkepentingan (stakeholders), maka ditetapkan Misi Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor (20 208). 2.. Misi Berdasarkan Visi dan Misi Kabupaten Bogor tahun 20208 dan Visi Dinas Kesehatan, tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan serta masukanmasukan dari pihak yang berkepentingan (stakeholders), maka ditetapkan Misi Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor (20208) sebagai berikut : Tahun 206 0
Misi Pertama : Meningkatkan Kemandirian dalam Jaminan Kesehatan Nasional Misi ini mengandung makna bahwa setiap penduduk dituntut kemandiriannya di dalam mendapatkan Jaminan Kesehatan Nasional demi memperoleh pelayanan kesehatan yang akuntabel. Misi Kedua : Meningkatkan Pemerataan Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas Misi ini mengandung makna bahwa setiap penduduk dapat terjangkau oleh pelayanan kesehatan yang berkualitas dan mempunyai hak serta kesempatan yang sama untuk mengembangkan hidup sehat. Misi Ketiga : Meningkatkan daya Dukung Pelayanan Kesehatan Misi ini mengandung makna bahwa dalam mendukung pencapaian misi pertama dan pencapaian visi dibutuhkan ketersediaan sumber daya kesehatan dan manajemen kesehatan yang akuntabel. 2... TUJUAN DAN SASARAN JANGKA MENEGAH Tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu (satu) sampai 5 (lima) tahun mendatang. Tujuan Strategis ditetapkan dengan mengacu kepada pernyataan visi dan misi serta didasarkan pada isuisu dan analisis lingkungan strategis, Sehingga dapat mengarahkan perumusan strategi, kebijakan, program, dan kegiatan dalam rangka merealisasikan Misi dan Visi. Berdasarkan tujuan yang akan ditetapkan, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor akan dapat mengetahui halhal yang harus dicapai dalam kurun waktu satu sampai lima tahun ke depan dengan mempertimbangkan sumber daya dan kemampuan yang dimiliki, serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Sasaran merupakan penjabaran dari tujuan, yaitu sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan oleh lembaga dalam jangka waktu tertentu. Sasaran adalah salah satu dasar dalam penilaian dan pemantauan kinerja sehingga merupakan alat pemicu bagi organisasi terhadap sesuatu yang harus dicapai, sejalan dengan Tujuan dan sasaran RPJMD Kabupaten Bogor telah dirumuskan dalam adalah : A. Tujuan Misi ; ) Terwujudnya pelayanan kesehatan yang mudah, murah, merata dan berkualitas bagi semua orang. 2) Meningkatnya Jaminan Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat dalam Bentuk Jampesehat. ) Meningkatnya kualitas sumberdaya kesehatan Tahun 206
B. Sasaran : ) Meningkatnya cakupan pelaynaan kesehatan bagi masyarakat 2) Meningkatnya cakupan pelayanan gizi bagi masyarakat ) Meningkatnya kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat 4) Terselenggaranya pelayanan kseshatan melalui Jampesehat 5) Terpenuhinya kebutuhan tenaga medis dan paramedik 6) Meningkatnya sarana dan prasarana kesehatan baik layanan dasar maupun rujukan. Selanjutnya perumusan tujuan dan sasaran dalam RPJMD dijabarkan kembali dalam Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 20 208 adalah sebagai berikut: MISI PERTAMA : Tujuan : Meningkatkan Cakupan Kepesertaan Masyarakat dalam Jaminan kesehatan Nasional Sasaran : ). Sarana dan prasarana yankes dasar dan rujukan 2) Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin. ) Jumlah dan kualitas tenaga kesehatan 4) Status gizi balita dan ibu hamil 5) Persalinan oleh tenaga kesehatan 6) Cakupan Imunisasi dasar lengkap 7) Upaya penanggulangan penyakit menular 8) Lingkungan Bersih dan sehat melalui pendidikan kesehatan. 9) Kemandirian masyarakat dan partisipasi swasta dalam pelayanan kesehatan 0) Tata kelola Pelayanan kesehatan yang akuntabel. MISI KEDUA : Tujuan : ) Meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan dan gizi masyarakat serta PHBS 2) Meningkatkan Puskesmas Terakreditasi dan Mempersiapkan puskesmas BLUD. Sasaran : ) Sarana dan prasarana yankes dasar dan rujukan 2) Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin. ) Jumlah dan kualitas tenaga kesehatan 4) Status gizi balita dan ibu hamil 5) Persalinan oleh tenaga kesehatan 6) Cakupan Imunisasi dasar lengkap 7) Upaya penanggulangan penyakit menular Tahun 206 2
8) Lingkungan Bersih dan sehat melalui pendidikan kesehatan. 9) Kemandirian masyarakat dan partisipasi swasta dalam pelayanan kesehatan 0) Tata kelola Pelayanan kesehatan yang akuntabel. MISI KETIGA : Tujuan : ) Meningkatkan kapasitas sumber daya sarana dan prasarana kerja serta kualitas aparatur. 2) Meningkatkan fungsi koordinasi, regulasi dan fasilitasi pelayanan kesehatan pemerintah, swasta dan lintas sektor. ) Meningkatkan jejaring pelayanan kesehatan Sasaran : ) Sarana dan prasarana yankes dasar dan rujukan 2) Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin. ) Jumlah dan kualitas tenaga kesehatan 4) Status gizi balita dan ibu hamil 5) Persalinan oleh tenaga kesehatan 6) Cakupan Imunisasi dasar lengkap 7) Upaya penanggulangan penyakit menular 8) Lingkungan Bersih dan sehat melalui pendidikan kesehatan. 9) Kemandirian masyarakat dan partisipasi swasta dalam pelayanan kesehatan 0) Tata kelola Pelayanan kesehatan yang akuntabel. 2... SASARAN STRATEGIS Sasaran menggambarkan hal yang ingin dicapai melalui tindakantindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Sasaran memberikan fokus pada penyusunan kegiatan sehingga bersifat spesifik, terinci, dapat dicapai, dan diupayakan dalam bentuk kuantitatif sehingga dapat diukur. Sasaransasaran Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor adalah sesuatu dasar di dalam penilaian dan pemantauan kinerja sehingga merupakan alat pemicu bagi organisasi akan sesuatu yang harus dicapai, dan untuk itulah Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah merumuskan sasaransasaran berikut indikator keberhasilannya yang dituangkan dalam dokumen Indikator Kinerja Utama (IKU). Merujuk pada tujuan dan sasaran tersebut diatas maka rumusan strategi pada Dinas Kesehatan adalah sebagai berikut : Tahun 206
a) Strategi. Mengoptimalkan kewenangan untuk pengembangan pelayanan kesehatan b) Strategi 2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan dengan kompetensi yang dibutuhkan. c) Strategi. Menyusun Sistem kesehatan Daerah (SKD) Kabupaten Bogor d) Strategi 4. Meningkatkan dan memasyarakatkan perilaku hidup bersih dan sehat. e) Strategi 5. Mengoptimalkan sarana kesehatan yang ada dan standar operasional prosedur untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan f) Strategi 6. Memanfaatkan sistem informasi untuk mendeteksi penularan penyakit akibat mobilisasi penduduk yg tinggi g) Strategi 7. Meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan di masyarakat. 2.2. RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) TAHUN 206 Sebagai penjabaran dari Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 20208, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menyusun dan menetapkan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 206. RKT Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 206 semula disusun dengan berpedoman pada Surat Keputusan Kepala LAN Nomor 29/IX/6/8/200 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, namun dengan adanya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi Republik Indobesia Nomor 5 Tahun 204 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, maka RKT Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 206 dilakukan perubahan sesuai dengan pedoman yang baru yang memuat sasaran strategis berikut indikator kinerja dan targetnya. Secara lengkap RKT Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 206 disajikan dalam Lampiran. 2.. PERJANJIAN KINERJA TAHUN 206 Menindaklanjuti Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah menyusun Perjanjian Kinerja (Jankin) Tahun 206 sesuai dengan kedudukan, tugas pokok, dan fungsinya yang ditandatangani oleh Bupati Bogor. Jankin Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 206 disusun berdasarkan Surat Edaran Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor SE//M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja. Jankin ini merupakan tolok ukur evaluasi Tahun 206 4
akuntabilitas kinerja pada akhir tahun 206. Jankin Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 206 disusun sesuai DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor 206 dan dilakukan perubahan sesuai DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor 206 perubahan. Jankin Dinas Kesehatan memuat program yang dilaksanakan, sasaran strategis yang akan dicapai, indikator outcome berikut target kinerjanya, indikator output berikut target kinerjanya, serta anggaran yang tersedia sesuai dengan DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 206. Sesuai dengan DPA perubahan tahun 206, dana yang digunakan untuk membiayai program dan kegiatan dalam rangka mencapai sasaran strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 206, tercantum dalam belanja langsung (belanja program/kegiatan) dengan jumlah sebesar Rp. 479.524.400.000, Tahun 206 5
PERUBAHAN PERJANJIAN KINERJA TAHUN 206 DINAS KESEHATAN KABUPATEN BOGOR NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET PROGRAM/KEGIATAN ANGGARAN KETERANGAN UNIT PRIORITAS DAN PENCIRI PENANGGUNG FOKUS TERMAJU JAWAB PEMBANGUNAN A. UTAMA Meningkatnya Akses Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat Persentase pengadaan obat essensial 00 % Program Obat dan Perbekalan Kesehatan Pengadaan Bahan Habis Pakai Laboratorium Puskesmas 2 Cakupan Pelayanan Kesehatan Masyarakat 68 % Tahun 206 9,054,200,000 2,699,50,000 Seksi Farmasi dan POM 2 Pengadaan Obat Pelayanan Kesehatan Dasar (DAK) 0,500,000,000 Seksi Farmasi dan POM Pengadaan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) (DAK) 2,000,000,000 Seksi Farmasi dan POM 4 Pengadaan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) Pendukung (DAK) 2,990,00,000 Seksi Farmasi dan POM 5 Rapat Kerja Program Obat dan BMHP 4,750,000 Seksi Farmasi dan POM 6 Penyediaan Sarana Prasarana Instalasi Farmasi (DAK) 750,000,000 Seksi Farmasi dan POM 2 Program Upaya Kesehatan Masyarakat 227,08,948,000 Pelayanan Kesehatan Cibinong dan Jaringannya 559,470,000 UPT Puskesmas Cibinong 2 Pelayanan Kesehatan Babakan Madang dan Jaringannya 28,026,000 UPT Puskesmas Babakan Madang Pelayanan Kesehatan Masyarakat UPT Puskesmas Gunung Putri dan Jaringannya 52,420,000 UPT Puskesmas Gunung Putri 4 Pelayanan Kesehatan Sukaraja dan Jaringannya 6,85,000 UPT Puskesmas Sukaraja 5 Pelayanan Kesehatan Citeureup dan Jaringannya 472,2,000 UPT Puskesmas Citeureup 6 Pelayanan Kesehatan Cileungsi dan Jaringannya 440,479,000 UPT Puskesmas Cileungsi 7 Pelayanan Kesehatan Jonggol dan Jaringannya 7,504,000 UPT Puskesmas Jonggol 6
Tahun 206 8 Pelayanan Kesehatan Cariu dan Jaringannya 64,604,000 UPT Puskesmas Cariu 9 Pelayanan Kesehatan Sukamakmur dan Jaringannya 56,68,000 UPT Puskesmas Sukamakmur 0 Pelayanan Kesehatan Klapanunggal dan Jaringannya 298,297,000 UPT Puskesmas Klapanunggal Pelayanan Kesehatan Ciomas dan Jaringannya 495,978,000 UPT Puskesmas Ciomas 2 Pelayanan Kesehatan Dramaga dan Jaringannya 405,602,000 UPT Puskesmas Dramaga Pelayanan Kesehatan Ciampea dan Jaringannya 544,5,000 UPT Puskesmas Ciampea 4 Pelayanan Kesehatan Pamijahan dan Jaringannya 76,75,000 UPT Puskesmas Pamijahan 5 Pelayanan Kesehatan Cibungbulang dan Jaringannya 55,252,000 UPT Puskesmas Cibungbulang 6 Pelayanan Kesehatan Rumpin dan Jaringannya 50,460,000 UPT Puskesmas Rumpin 7 Pelayanan Kesehatan Leuwiliang dan Jaringannya 276,409,000 UPT Puskesmas Leuwiliang 8 Pelayanan Kesehatan Cigudeg dan Jaringannya 54,986,000 UPT Puskesmas Cigudeg 9 Pelayanan Kesehatan Masyarakat di UPT Puskesmas Parung Panjang dan Jaringannya 49,44,000 UPT Puskesmas Parung 20 Pelayanan Kesehatan Tenjo dan Jaringannya 7,294,000 UPT Puskesmas Tenjo 2 Pelayanan Kesehatan Jasinga dan Jaringannya 549,040,000 UPT Puskesmas Jasinga 22 Pelayanan Kesehatan Sukajaya dan Jaringannya 2,67,000 UPT Puskesmas Sukajaya 7
Tahun 206 2 Pelayanan Kesehatan Nanggung dan Jaringannya 49,049,000 UPT Puskesmas Nanggung 24 Pelayanan Kesehatan Kemang dan Jaringannya 24,24,000 UPT Puskesmas Kemang 25 Pelayanan Kesehatan Bojonggede dan Jaringannya 89,890,000 UPT Puskesmas Bojonggede 26 Pelayanan Kesehatan Parung dan Jaringannya 85,47,000 UPT Puskesmas Parung 27 Pelayanan Kesehatan Rancabungur dan Jaringannya 269,260,000 UPT Puskesmas Rancabungur 28 Pelayanan Kesehatan Gunung Sindur dan Jaringannya 60,272,000 UPT Puskesmas Gunung Sindur 29 Pelayanan Kesehatan Ciseeng dan Jaringannya 05,57,000 UPT Puskesmas Ciseeng 0 Pelayanan Kesehatan Ciawi dan Jaringannya 45,970,000 UPT Puskesmas Ciawi Pelayanan Kesehatan Cijeruk dan Jaringannya 08,56,000 UPT Puskesmas Cijeruk 2 Pelayanan Kesehatan Megamendung dan Jaringannya 55,64,000 UPT Puskesmas Megamendung Pelayanan Kesehatan Cisarua dan Jaringannya 29,684,000 UPT Puskesmas Cisarua 4 Pelayanan Kesehatan Caringin dan Jaringannya 29,422,000 UPT Puskesmas Caringin 5 Pelayanan Kesehatan Tamansari dan Jaringannya 05,252,000 UPT Puskesmas Tamansari 6 Pelayanan Kesehatan Cigombong dan Jaringannya 44,556,000 UPT Puskesmas Cigombong 7 Pelayanan Kesehatan Tenjolaya dan Jaringannya 64,54,000 UPT Puskesmas Tenjolaya 8 Pelayanan Kesehatan Tajurhalang dan Jaringannya 265,945,000 UPT Puskesmas Tajurhalang 9 Pelayanan Kesehatan Tanjungsari dan Jaringannya 0,654,000 UPT Puskesmas Tanjungsari 40 Pelayanan Kesehatan Leuwisadeng dan Jaringannya 222,70,000 UPT Puskesmas Leuwisadeng 4 Pelayanan Kesehatan Kerja UPT Kesehatan Kerja 5,999,000 UPT Pusyankesja 42 Pelayanan Laboratorium Kesehatan Daerah 26,656,000 UPT Laboratorium Kesehatan Daerah 4 Rapat Kerja Program Upaya Kesehatan Masyarakat 4,506,000 Seksi Yandasruj 44 Pelayanan Kesehatan dalam rangka PK 20,090,000 Seksi Yandasruj 8
45 Pengiriman Peserta Bimbingan Teknis PPGD Tahun 206 22,860,000 Seksi Yandasruj 46 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Jasinga,587,957,000 Puskesmas Jasinga 47 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Bagoang,224,624,000 Puskesmas Bagoang 48 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Curug,727,272,000 Puskesmas Curug 49 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cigudeg 2,840,958,000 Puskesmas Cigudeg 50 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Lebakwangi,908,95,000 Puskesmas Lebakwangi 5 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Bunar 872,95,000 Puskesmas Bunar 52 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Sukajaya 2,459,729,000 Puskesmas Sukajaya 5 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Kiarapandak 2,006,058,000 Puskesmas Kiarapandak 54 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Parung Panjang,42,2,000 Puskesmas Parung Panjang 55 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Dago,70,764,000 Puskesmas Dago 56 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Tenjo 2,592,47,000 Puskesmas Tenjo 57 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Pasar Rebo,706,06,000 Puskesmas Pasar Rebo 58 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Nanggung,48,444,000 Puskesmas Nanggung 59 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Curugbitung,477,726,000 Puskesmas Curugbitung 60 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Leuwiliang 4,779,50,000 Puskesmas Leuwiliang 6 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Puraseda 2,85,606,000 Puskesmas Puraseda 62 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Leuwisadeng,469,408,000 Puskesmas Leuwisadeng 6 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Sadeng Pasar,98,5,000 Puskesmas Sadeng Pasar 64 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Rumpin 2,046,554,000 Puskesmas Rumpin 65 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Gobang 2,055,545,000 Puskesmas Gobang 66 Pelayanan Kesehatan Jaminan 2,058,869,000 Puskesmas 9
Puskesmas Cicangkal Tahun 206 Cicangkal 67 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cibungbulang 2,489,59,000 Puskesmas Cibungbulang 68 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cijujung,06,79,000 Puskesmas Cijujung 69 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Situ Udik,74,08,000 Puskesmas Situ Udik 70 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Pamijahan 2,207,49,000 Puskesmas Pamijahan 7 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Ciasmara,5,6,000 Puskesmas Ciasmara 72 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cibening,920,284,000 Puskesmas Cibening 7 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Ciampea 2,48,486,000 Puskesmas Ciampea 74 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Ciampea Udik,20,402,000 Puskesmas Ciampea Udik 75 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Pasir 807,826,000 Puskesmas Pasir 76 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cihideung Udik 74,59,000 Puskesmas Cihideung Udik 77 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Tenjolaya,59,902,000 Puskesmas Tenjolaya 78 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Ciomas 2,596,64,000 Puskesmas Ciomas 79 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Laladon 66,849,000 Puskesmas Laladon 80 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Ciapus 94,95,000 Puskesmas Ciapus 8 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Kota Batu,20,68,000 Puskesmas Kota Batu 82 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Sirnagalih,9,22,000 Puskesmas Sirnagalih 8 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Tamansari,06,24,000 Puskesmas Tamansari 84 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Sukaresmi 790,6,000 Puskesmas Sukaresmi 85 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Darmaga,4,277,000 Puskesmas Darmaga 86 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Kampung Manggis,2,857,000 Puskesmas Kampung Manggis 87 Pelayanan Kesehatan Jaminan,050,7,000 Puskesmas 20
Puskesmas Purwasari 88 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cangkurawok 478,049,000 Puskesmas Cangkurawok 89 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cisarua,82,709,000 Puskesmas Cisarua 90 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cibulan,679,885,000 Puskesmas Cibulan 9 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Megamendung 2,082,7,000 Puskesmas Megamendung 92 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Sukamanah,095,7,000 Puskesmas Sukamanah 9 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Ciawi 2,647,089,000 Puskesmas Ciawi 94 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Banjarsari,097,57,000 Puskesmas Banjarsari 95 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Citapen 954,800,000 Puskesmas Citapen 96 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Caringin 2,960,49,000 Puskesmas Caringin 97 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Ciderum 2,2,4,000 Puskesmas Ciderum 98 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cinagara,09,900,000 Puskesmas Cinagara 99 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cigombong 2,884,44,000 Puskesmas Cigombong 00 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Ciburayut,228,082,000 Puskesmas Ciburayut 0 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cijeruk,86,869,000 Puskesmas Cijeruk 02 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Sukaharja Tahun 206 Purwasari 68,57,000 Puskesmas Sukaharja 0 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Kemang 2,586,806,000 Puskesmas Kemang 04 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Jampang,62,280,000 Puskesmas Jampang 05 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Bantar Jaya 2,45,287,000 Puskesmas Bantar Jaya 06 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Rancabungur,99,0,000 Puskesmas Rancabungur 07 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Parung 4,49,996,000 Puskesmas Parung 08 Pelayanan Kesehatan Jaminan,064,695,000 Puskesmas Cogreg 2
Puskesmas Cogreg Tahun 206 09 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Ciseeng,472,46,000 Puskesmas Ciseeng 0 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cibeuteung Udik,657,440,000 Puskesmas Cibeuteung Udik Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Gunung Sindur 2,274,28,000 Puskesmas Gunung Sindur 2 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Suliwer,200,85,000 Puskesmas Suliwer Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Bojong Gede 4,628,909,000 Puskesmas Bojong Gede 4 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Kemuning,745,77,000 Puskesmas Kemuning 5 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Ragajaya 89,9,000 Puskesmas Ragajaya 6 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Tajurhalang,56,288,000 Puskesmas Tajurhalang 7 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cirimekar,269,770,000 Puskesmas Cirimekar 8 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cibinong 2,44,0,000 Puskesmas Cibinong 9 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Pabuaran Indah,964,000,000 Puskesmas Pabuaran Indah 20 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Karadenan,69,728,000 Puskesmas Karadenan 2 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cimandala 2,88,556,000 Puskesmas Cimandala 22 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Sukaraja 2,204,00,000 Puskesmas Sukaraja 2 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cilebut,622,684,000 Puskesmas Cilebut 24 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Citeureup,985,04,000 Puskesmas Citeureup 25 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Leuwinutug,54,85,000 Puskesmas Leuwinutug 26 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Tajur,295,282,000 Puskesmas Tajur 27 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Sentul 790,640,000 Puskesmas Sentul 28 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Babakan Madang 970,069,000 Puskesmas Babakan Madang 29 Pelayanan Kesehatan Jaminan 7,82,000 Puskesmas Cijayanti 22
Puskesmas Cijayanti 0 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Gunung Putri,289,894,000 Puskesmas Gunung Putri Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Bojong Nangka 497,26,000 Puskesmas Bojong Nangka 2 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Ciangsana 75,858,000 Puskesmas Ciangsana Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Karanggan 476,648,000 Puskesmas Karanggan 4 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cileungsi 2,72,594,000 Puskesmas Cileungsi 5 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Pasir Angin 69,042,000 Puskesmas Pasir Angin 6 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Gandoang 774,95,000 Puskesmas Gandoang 7 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Klapanunggal,48,027,000 Puskesmas Klapanunggal 8 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Bojong 985,57,000 Puskesmas Bojong 9 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Jonggol,220,5,000 Puskesmas Jonggol 40 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Sukanegara 882,64,000 Puskesmas Sukanegara 4 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Balekambang 82,407,000 Puskesmas Balekambang 42 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Sukamakmur,285,28,000 Puskesmas Sukamakmur 4 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Sukadamai,85,546,000 Puskesmas Sukadamai 44 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Cariu,0,420,000 Puskesmas Cariu 45 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Karyamekar 4,027,000 Puskesmas Karyamekar 46 Pelayanan Kesehatan Jaminan Puskesmas Tanjungsari,66,598,000 Puskesmas Tanjungsari 47 Pelayanan Kesehatan Jaminan BKTK 2,95,795,000 BKTK 48 Dukungan Manajemen Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan pada Puskesmas (DAK),569,0,000 Dinas Kesehatan 49 Pelayanan Kesehatan Jasinga (DAK) Tahun 206 7,8,000 Puskesmas Jasinga 2
Tahun 206 50 Pelayanan Kesehatan Bagoang (DAK) 208,94,000 Puskesmas Bagoang 5 Pelayanan Kesehatan Curug (DAK) 25,799,000 Puskesmas Curug 52 Pelayanan Kesehatan Cigudeg (DAK) 8,59,000 Puskesmas Cigudeg 5 Pelayanan Kesehatan Lebakwangi (DAK) 284,287,000 Puskesmas Lebakwangi 54 Pelayanan Kesehatan Bunar (DAK) 95,48,000 Puskesmas Bunar 55 Pelayanan Kesehatan Sukajaya (DAK) 286,858,000 Puskesmas Sukajaya 56 Pelayanan Kesehatan Kiarapandak (DAK) 25,469,000 Puskesmas Kiarapandak 57 Pelayanan Kesehatan Parung Panjang (DAK) 62,80,000 Puskesmas Parung Panjang 58 Pelayanan Kesehatan Dago (DAK) 229,88,000 Puskesmas Dago 59 Pelayanan Kesehatan Tenjo (DAK) 272,74,000 Puskesmas Tenjo 60 Pelayanan Kesehatan Pasar Rebo (DAK) 222,427,000 Puskesmas Pasar Rebo 6 Pelayanan Kesehatan Nanggung (DAK) 05,845,000 Puskesmas Nanggung 62 Pelayanan Kesehatan Curugbitung (DAK) 252,6,000 Puskesmas Curugbitung 6 Pelayanan Kesehatan Leuwiliang (DAK) 27,08,000 Puskesmas Leuwiliang 64 Pelayanan Kesehatan Puraseda (DAK) 2,52,000 Puskesmas Puraseda 65 Pelayanan Kesehatan Sadeng (DAK) 226,94,000 Puskesmas Sadeng 66 Pelayanan Kesehatan 207,957,000 Puskesmas Sadeng Pasar 24
Sadeng Pasar (DAK) Tahun 206 67 Pelayanan Kesehatan Rumpin (DAK) 242,94,000 Puskesmas Rumpin 68 Pelayanan Kesehatan Gobang (DAK) 25,747,000 Puskesmas Gobang 69 Pelayanan Kesehatan Cicangkal (DAK) 267,724,000 Puskesmas Cicangkal 70 Pelayanan Kesehatan Cibungbulang (DAK) 6,720,000 Puskesmas Cibungbulang 7 Pelayanan Kesehatan Cijujung (DAK) 2,5,000 Puskesmas Cijujung 72 Pelayanan Kesehatan Situ Udik (DAK) 202,28,000 Puskesmas Situ Udik 7 Pelayanan Kesehatan Pamijahan (DAK) 25,07,000 Puskesmas Pamijahan 74 Pelayanan Kesehatan Ciasmara (DAK) 220,950,000 Puskesmas Ciasmara 75 Pelayanan Kesehatan Cibening (DAK) 29,62,000 Puskesmas Cibening 76 Pelayanan Kesehatan Ciampea (DAK) 242,49,000 Puskesmas Ciampea 77 Pelayanan Kesehatan Ciampea Udik (DAK) 25,84,000 Puskesmas Ciampea Udik 78 Pelayanan Kesehatan Pasir (DAK) 98,499,000 Puskesmas Pasir 79 Pelayanan Kesehatan Cihideung Udik (DAK) 75,55,000 Puskesmas Cihideung Udik 80 Pelayanan Kesehatan Tenjolaya (DAK) 08,5,000 Puskesmas Tenjolaya 8 Pelayanan Kesehatan Ciomas (DAK) 224,749,000 Puskesmas Ciomas 82 Pelayanan Kesehatan Laladon (DAK) 75,96,000 Puskesmas Laladon 8 Pelayanan Kesehatan 87,64,000 Puskesmas Ciapus 25
Ciapus (DAK) 84 Pelayanan Kesehatan Kota Batu (DAK) 9,90,000 Puskesmas Kota Batu 85 Pelayanan Kesehatan Sirnagalih (DAK) 225,29,000 Puskesmas Sirnagalih 86 Pelayanan Kesehatan Taman Sari (DAK) 4,57,000 Puskesmas Tamansari 87 Pelayanan Kesehatan Sukaresmi (DAK) 65,06,000 Puskesmas Sukaresmi 88 Pelayanan Kesehatan Darmaga (DAK) 20,50,000 Puskesmas Darmaga 89 Pelayanan Kesehatan Kampung Manggis (DAK) 64,868,000 Puskesmas Kampung Manggis 90 Pelayanan Kesehatan Purwasari (DAK) 77,070,000 Puskesmas Purwasari 9 Pelayanan Kesehatan 56,844,000 Puskesmas Cangkurawok 92 Pelayanan Kesehatan Cisarua (DAK) 276,76,000 Puskesmas Cisarua 9 Pelayanan Kesehatan Cibulan (DAK) 266,66,000 Puskesmas Cibulan 94 Pelayanan Kesehatan Megamendung (DAK) 254,456,000 Puskesmas Megamendung 95 Pelayanan Kesehatan Sukamanah (DAK) 27,747,000 Puskesmas Sukamanah 96 Pelayanan Kesehatan Ciawi (DAK) 255,86,000 Puskesmas Ciawi 97 Pelayanan Kesehatan Banjarsari (DAK) 244,76,000 Puskesmas Banjarsari 98 Pelayanan Kesehatan Citapen (DAK) 8,969,000 Puskesmas Citapen 99 Pelayanan Kesehatan Caringin (DAK) 282,727,000 Puskesmas Caringin Cangkurawok (DAK) Tahun 206 26
200 Pelayanan Kesehatan Ciderum (DAK) 99,46,000 Puskesmas Ciderum 20 Pelayanan Kesehatan Cinagara (DAK) 95,065,000 Puskesmas Cinagara 202 Pelayanan Kesehatan Cigombong (DAK),60,000 Puskesmas Cigombong 20 Pelayanan Kesehatan Ciburayut (DAK) 25,26,000 Puskesmas Ciburayut 204 Pelayanan Kesehatan Cijeruk (DAK) 5,0,000 Puskesmas Cijeruk 205 Pelayanan Kesehatan Sukaharja (DAK) 82,66,000 Puskesmas Sukaharja 206 Pelayanan Kesehatan 26,044,000 Puskesmas Kemang 207 Pelayanan Kesehatan Jampang (DAK) 98,049,000 Puskesmas Jampang 208 Pelayanan Kesehatan Bantar Jaya (DAK) 9,766,000 Puskesmas Bantar Jaya 209 Pelayanan Kesehatan Ranca Bungur (DAK) 70,569,000 Puskesmas Rancabungur 20 Pelayanan Kesehatan Parung (DAK) 40,64,000 Puskesmas Parung 2 Pelayanan Kesehatan Cogreg (DAK) 20,482,000 Puskesmas Cogreg 22 Pelayanan Kesehatan Ciseeng (DAK) 28,022,000 Puskesmas Ciseeng 2 Pelayanan Kesehatan Manajemen Cibeuteung Udik (DAK) 20,622,000 Puskesmas Cibeuteung Udik 24 Pelayanan Kesehatan Gunung Sindur (DAK) 08,26,000 Puskesmas Gunung Sindur 25 Pelayanan Kesehatan Suliwer (DAK) 28,57,000 Puskesmas Suliwer 26 Pelayanan Kesehatan 67,99,000 Puskesmas Bojong Gede Kemang (DAK) Tahun 206 27
Bojong Gede (DAK) 27 Pelayanan Kesehatan Kemuning (DAK) 204,856,000 Puskesmas Kemuning 28 Pelayanan Kesehatan Ragajaya (DAK) 20,959,000 Puskesmas Ragajaya 29 Pelayanan Kesehatan Tajur Halang (DAK) 4,674,000 Puskesmas Tajur Halang 220 Pelayanan Kesehatan Cirimekar (DAK) 256,490,000 Puskesmas Cirimekar 22 Pelayanan Kesehatan 24,90,000 Puskesmas Cibinong 222 Pelayanan Kesehatan Pabuaran Indah (DAK) 295,949,000 Puskesmas Paburan Indah 22 Pelayanan Kesehatan Karadenan (DAK) 27,94,000 Puskesmas Karadenan 224 Pelayanan Kesehatan Cimandala (DAK) 0,7,000 Puskesmas Cimandala 225 Pelayanan Kesehatan Sukaraja (DAK) 280,65,000 Puskesmas Sukaraja 226 Pelayanan Kesehatan Cilebut (DAK) 88,4,000 Puskesmas Cilebut 227 Pelayanan Kesehatan Citeureup (DAK) 7,826,000 Puskesmas Citeureup 228 Pelayanan Kesehatan Leuwinutug (DAK) 244,860,000 Puskesmas Leuwinutug 229 Pelayanan Kesehatan Tajur (DAK) 226,902,000 Puskesmas Tajur 20 Pelayanan Kesehatan Sentul (DAK) 247,70,000 Puskesmas Sentul 2 Pelayanan Kesehatan Babakan Madang (DAK) 28,58,000 Puskesmas Babakan Madang 22 Pelayanan Kesehatan Cijayanti (DAK) 20,985,000 Puskesmas Cijayanti 2 Pelayanan Kesehatan 6,05,000 Puskesmas Cibinong (DAK) Tahun 206 28
Gunung Putri (DAK) Gunung Putri 24 Pelayanan Kesehatan Bojong Nangka (DAK) 268,464,000 Puskesmas Bojong Nangka 25 Pelayanan Kesehatan Ciangsana (DAK) 6,,000 Puskesmas Ciangsana 26 Pelayanan Kesehatan 242,570,000 Puskesmas Karanggan 27 Pelayanan Kesehatan Cileungsi (DAK) 40,870,000 Puskesmas Cileungsi 28 Pelayanan Kesehatan Pasir Angin (DAK) 259,557,000 Puskesmas Pasir Angin 29 Pelayanan Kesehatan Gandoang (DAK) 7,062,000 Puskesmas Gandoang 240 Pelayanan Kesehatan Klapanunggal (DAK) 22,4,000 Puskesmas Klapanunggal 24 Pelayanan Kesehatan Bojong (DAK) 22,497,000 Puskesmas Bojong 242 Pelayanan Kesehatan Jonggol (DAK) 447,429,000 Puskesmas Jonggol 24 Pelayanan Kesehatan Sukanegara (DAK) 78,076,000 Puskesmas Sukanegara 244 Pelayanan Kesehatan Balekambang (DAK) 254,89,000 Puskesmas Balekambang 245 Pelayanan Kesehatan Sukamakmur (DAK) 29,57,000 Puskesmas Sukamakmur 246 Pelayanan Kesehatan Sukadamai (DAK) 26,55,000 Puskesmas Sukadamai 247 Pelayanan Kesehatan Cariu (DAK) 2,585,000 Puskesmas Cariu 248 Pelayanan Kesehatan Karyamekar (DAK) 228,24,000 Puskesmas Karyamekar 249 Pelayanan Kesehatan Tanjung Sari (DAK) 402,27,000 Puskesmas Tanjung Sari Karanggan (DAK) Tahun 206 29
ebutuhan dan Paramedis Cakupan Penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA 4 Cakupan Penemuan dan penanganan Penderita penyakit DBD 5 Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Sarana dan ehatan baik maupun 6 Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk 82 % Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Penyemprotan/Fogging Sarang Nyamuk 2,684,775,000 48,56,000 Seksi Pemberantasan Penyakit Menular 99,826,000 Seksi Surveilans Epid dan Imunisasi Pemeriksaan Calon Jemaah Haji 7,807,000 Seksi Surveilans Epid dan Imunisasi 4 Penatalaksanaan dan Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis 7,650,000 Seksi Pemberantasan Penyakit Menular 5 Penatalaksanaan dan Penanggulangan Penyakit Diare ISPA 2,40,000 Seksi Pemberantasan Penyakit Menular 6 Penatalaksanaan dan Penanggulangan Penyakit Kusta 4,750,000 Seksi Pemberantasan Penyakit Menular 7 Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Seksual (HIV/Aids) 40,22,000 Seksi Pemberantasan Penyakit Menular 8 Surveilans Acute Flaccid Paralisys (AFP) 07,55,000 Seksi Surveilans Epid dan Imunisasi 9 Pelayanan Imunisasi 9,250,000 Seksi Surveilans Epid dan Imunisasi 0 Rapat Kerja Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit serta Surveilans Epidemiologi 25,470,000 Seksi Surveilans Epid dan Imunisasi Pemberian Obat Masal Pencegahan (POMP) Filariasis 569,45,000 Seksi Pemberantasan Penyakit Menular 2 Pengiriman Peserta Bimbingan Teknis VCT HIV 28,000,000 Seksi Pemberantasan Penyakit Menular 00 % 00 % : 9,247 7 Cakupan Puskesmas 252.5 % 8 Cakupan Pembantu Puskesmas,57 % 2 Peningkatan surveillance epideminologi dan penanggulangan wabah 4 Program Pengadaan, Peningkatan dan Perbaikan Sarana dan Prasarana Puskesmas/Puskesmas Pembantu dan Jaringannya 52,52,277,000 Pengadaaan Puskesmas Keliling (DAK) 4,264,0,000 Seksi Yandasruj 2 Pengadaan Ambulance Puskesmas (DAK) 4,778,926,000 Seksi Yandasruj Pengadaan Alatalat Kedokteran Puskesmas (DAK) 4,64,66,000 Seksi Yandasruj 4 Pengadaan Alatalat Laboratorium Puskesmas (DAK),8,865,000 Seksi Yandasruj 5 Pengadaan Lemari Es Vaksin Puskesmas (DAK),258,70,000 Seksi Surveilans Epid dan Imunisasi 6 Pengadaan PPTM Kit di Puskesmas (DAK) 700,000,000 Seksi Pemberantasan Penyakit Menular 7 Pengadaan Generator (DAK),52,964,000 Seksi Yandasruj 8 Pengadaan Peralatan Sistem Informasi Kesehatan di Puskesmas (DAK),47,96,000 Seksi Data dan Infokes 9 Pengadaan Mebeulair Puskesmas Tahun 206 8,480,000 Seksi Yandasruj 0
0 Pengadaan Alatalat Kedokteran Puskesmas,997,77,000 Seksi Yandasruj Pembangunan Puskesmas Pembantu Batok 489,776,000 Seksi Yandasruj 2 Revitalisasi Pagar Pustu Pasir Jambu 245,882,000 Seksi Yandasruj Pemagaran Puskesmas Sukajaya 406,00,000 Seksi Yandasruj 4 Revitalisasi Puskesmas Kiarapandak 97,75,000 Seksi Yandasruj 5 Rehabilitasi Puskesmas Ciseeng,8,56,000 Seksi Yandasruj 27,58,000 Seksi Yandasruj 7 Revitalisasi Puskesmas Pamijahan 2,842,98,000 Seksi Yandasruj 8 Rehabilitasi Puskesmas Pembantu Mampir 68,895,000 Seksi Yandasruj 9 Pemagaran Halaman UPF Puskesmas Bojong Nangka 28,277,000 Seksi Yandasruj 20 Pemagaran Puskesmas Sukamakmur 65,950,000 Seksi Yandasruj 2 Pembangunan Puskesmas Pembantu Sindang Reret 485,567,000 Seksi Yandasruj 22 Pembangunan Puskesmas Pembantu Sukaresmi 487,690,000 Seksi Yandasruj 2 Pembangunan Puskesmas Pembantu Ciasihan 499,56,000 Seksi Yandasruj 24 Pemasangan Turap Penahan Tanah Puskesmas Pembantu Harapan Jaya 95,78,000 Seksi Yandasruj 25 Pembangunan Ruang Pratical Aproch To Lung dan Ruang Unit Gawat Darurat Puskesmas Cibeuteung Udik 250,56,000 Seksi Yandasruj 26 Revitalisasi Puskesmas Pembantu Bojong Kulur 524,906,000 Seksi Yandasruj 27 Rehabilitasi Puskesmas Pembantu Kelurahan Tengah 277,960,000 Seksi Yandasruj 28 Revitalisasi puskesmas Ragajaya,60,52,000 Seksi Yandasruj 29 Revitalisasi Puskesmas Lebakwangi 79,07,000 Seksi Yandasruj 0 Revitalisasi Puskesmas Gandoang,29,67,000 Seksi Yandasruj Revitalisasi Puskesmas Rancabungur 2,026,9,000 Seksi Yandasruj 2 Rehabilitasi Puskesmas Cirimekar,65,847,000 Seksi Yandasruj Pemagaran Puskesmas Pembantu Pasir Angin 68,05,000 Seksi Yandasruj 4 Penataan Area Parkir Puskesmas Pembantu Pasir Angin 05,888,000 Seksi Yandasruj 84,00,000 Seksi Yandasruj 6 Penataan Halaman Parkir Puskesmas Tanjungsari 5 Revitalisasi Puskesmas Balekambang Tahun 206
6 Pemasangan Turap Penahan Tanah Puskesmas Cilebut 49,958,000 Seksi Yandasruj 7 Rehabilitasi Puskesmas Pembantu Cadas Ngampar 29,490,000 Seksi Yandasruj 8 Pengadaan Lemari Es Vaksin Puskesmas 260,565,000 Seksi Surveilans Epid dan Imunisasi 9 Pengurusan Surat Ijin Operasional Puskesmas 9,28,000 Seksi PUK 40 Rehabilitasi Puskesmas Pembantu Cibunian 85,062,000 Seksi Yandasruj 4 Rehabilitasi Gedung UPF Puskesmas Banjarsari 99,96,000 Seksi Yandasruj 42 Pembangunan Halaman Puskesmas Ciangsana 55,288,000 Seksi Yandasruj 4 Pembangunan Halaman Puskesmas Jasinga 7,29,000 Seksi Yandasruj 44 Pembangunan Turap Puskesmas Tajur 24,06,000 Seksi Yandasruj 45 Revitalisasi Puskesmas DTP Parung Panjang,67,550,000 Seksi Yandasruj 46 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Jasinga (DAK) 550,800,000 Seksi Kesling 47 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Cigudeg (DAK) 550,800,000 Seksi Kesling 48 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Citeureup (DAK) 550,800,000 Seksi Kesling 49 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Ciampea (DAK) 550,800,000 Seksi Kesling 50 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPF Puskesmas Sukaraja (DAK) 550,800,000 Seksi Kesling 5 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Parung (DAK) 550,800,000 Seksi Kesling 52 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Parung Panjang (DAK) 550,800,000 Seksi Kesling 5 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Jonggol (DAK) 550,800,000 Seksi Kesling 54 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Cigombong (DAK) 550,800,000 Seksi Kesling 55 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Cileungsi (DAK) 550,800,000 Seksi Kesling 56 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Ciawi (DAK) 450,000,000 Seksi Kesling 57 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Bantarjaya (DAK) 450,000,000 Seksi Kesling 58 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPF Puskesmas Karadenan (DAK) 450,000,000 Seksi Kesling Tahun 206 2
9 Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 0 Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan kunjungan bayi 2 Angka kelangsungan hidup bayi 8,25 % 9,25 % 95 % 67,4 % 59 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Leuwiliang (DAK) 450,000,000 Seksi Kesling 60 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Sentul (DAK) 450,000,000 Seksi Kesling 6 Pembangunan Instalasi Pengolahan Air limbah UPT Puskesmas Dramaga (DAK) 450,000,000 Seksi Kesling 5 Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak Pengiriman Peserta Bimtek Asuhan Persalinan Normal (APN) 95,000,000 Seksi KIA dan KB 2 Peningkatan Kemitraan Puskesmas PONED Dengan Rumah Sakit 566,454,000 Seksi KIA dan KB Pengiriman Peserta Bimtek Penatalaksanaan Asfixia Bayi Baru Lahir 8,500,000 Seksi KIA dan KB 4 Pengiriman Peserta Bimtek Pertolongan Pertama Gawat Darurat Obstetri & Neonatal (PPGDON) 86,000,000 Seksi KIA dan KB 5 Pengiriman Peserta Bimtek Pelayanan Obstetric dan Neonatus Emergency Dasar (PONED) 2,750,000 Seksi KIA dan KB 6 Penyediaan Pelayanan Call Center/ SMS Gateway Program EMAS 407,680,000 Seksi KIA dan KB 86,975,000 Seksi KIA dan KB 8 Pengiriman Peserta Bimtek Simulasi Deteksi Dini Intervensi Tumbuh Kembang (SDIDTK) 42,500,000 Seksi KIA dan KB 9 Pengiriman Peserta Bimtek Manajemen Terpadu Balita Sakit/Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBS/MTBM) 27,400,000 Seksi KIA dan KB 8,642,800,000 Seksi KIA dan KB 26,950,000 Seksi Remaja dan Lansia 2 Bimtek Geriatri bagi Dokter dan Perawat di Puskesmas 5,000,000 Seksi Remaja dan Lansia Gerakan Sehat Lanjut Usia 5,000,000 Seksi Remaja dan Lansia 4 Workshop TOT Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Penggerak Lansia 00,000,000 Seksi Remaja dan Lansia 7 Rapat Kerja Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Ibu, Anak dan Remaja 0 Jaminan Persalinan (DAK) Angka Usia Harapan Hidup 70.9 tahun 0,687,059,000 6 Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lansia Rapat Kerja Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lansia 7 Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Remaja Rapat Kerja Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Remaja Tahun 206 76,950,000 75,47,000,777,000 Seksi Remaja dan Lansia
4 Rasio dokter per satuan penduduk :,788 5 Rasio tenaga medis per satuan penduduk : 2,576 2 Pemantapan Peran KKR (Kader Kesehatan Remaja) dalam Peningkatan Kesehatan Remaja di Sekolah 4,080,000 Seksi Remaja dan Lansia Orientasi Kesehatan Reproduksi Remaja pada Guru SMP/SMA Pembina KKR 0,250,000 Seksi Remaja dan Lansia 4 Workshop Peningkatan Kemampuan Pengelola Petugas Kesehatan Reproduksi Remaja 7,0,000 Seksi Remaja dan Lansia 5 Pelatihan Penanganan Kekerasan Terhadap Anak bagi Petugas 200,000,000 Seksi Remaja dan Lansia 8 Program Pengadaan Standarisasi Pelayanan Kesehatan Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan 88,64,000 Sub Bag. Program dan Pelaporan 2 Penyusunan dan Pengembangan Data Kesehatan 292,85,000 Seksi Data dan Infokes Pembinaan Sarana / Institusi Swasta 07,98,000 Seksi PUK 4 Jasa Pelayanan Kesehatan 4,00,000,000 Sub Bag Umum dan Kepegawaian 5 Rapat Koordinasi, Evaluasi dan Perencanaan Program 6,660,000 Sub Bagian Program dan Pelaporan 6 Akreditasi Puskesmas 6 Cakupan Pelayanan Kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 00 % nya Jaminan i Masyarakat Miskin dan ng Tenaganya 8 Cakupan Rumah dengan bebas jentik 9 Persentase TTU yg 00 % 95 % 78,72 %,5,77,000 Seksi PSDK 7 Persiapan Penerapan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPKBLUD) Puskesmas 2,90,000 Sub Bagian Program dan Pelaporan 8 Seleksi dan Pembinaan Tenaga Kesehatan Teladan 260,727,000 Seksi PSDK 9 Program Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin Pelayanan Operasi Katarak 7 Cakupan pengawasan terhadap obat, makanan dan bahan berbahaya 6,522,24,000 7,870,444,000,207,000 Seksi Yandasruj 2 Jaminan Pelayanan Kesehatan Daerah 82,66,076,900 Seksi PSDK 2 Jaminan Kesehatan Bagi Penerima Bantuan Iuran (PBI) Propinsi Jawa Barat (Banprop 205) 4,005,798,000 Seksi PSDK 2 4 Jaminan Kesehatan Bagi Penerima Bantuan Iuran (PBI) Provinsi Jawa Barat (Banprop),090,62,00 Seksi PSDK 2 0 Program Pengawasan dan Pengendalian Kesehatan Makanan 40,789,000 Pengawasan dan Pengendalian Kesehatan Makanan Hasil Produksi Rumah Tangga 99,482,000 Seksi PUK 2 Penyuluhan Keamanan Pangan dalam rangka Sertifikasi Produk Pangan (SPPIRT) 4,07,000 Seksi PUK Program Pengembangan Lingkungan Sehat Pengawasan Hygiene dan Tahun 206 552,879,000 7,625,000 Seksi Kesling 4
h Pemda memenuhi syarat Kesadaran Bersih dan Sanitasi TempatTempat Umum 20 Persentase TPM yg memenuhi syarat 90,46 % 2 Cakupan JAGA memenuhi syarat 7,6 % 22 Cakupan SAB memenuhi syarat 7,57 % 2 Cakupan Desa Siaga Aktif 85 % 24 Rasio Posyandu per Satuan Balita.79 % 2 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ( STBM ) 42,58,000 Seksi Kesling Pengawasan Hygiene dan Sanitasi Tempat Pengelolaan Makanan 59,86,000 Seksi Kesling 4 Rapat Kerja Program Pengembangan Lingkungan Sehat,50,000 Seksi Kesling 2 Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Penyediaan Media Penyuluhan Kesehatan 75,02,000 Seksi Promkes 2 Penyuluhan Kesehatan 7,200,000 Seksi Promkes Pembinaan Kesehatan Lintas Sektor dan UKBM 276,250,000 Seksi Promkes 240,000,000 Seksi Promkes,000,000,000 Seksi Promkes 27,065,000 Seksi Promkes 4,200,547,000 Seksi Gizi 2 Rapat Kerja Program Perbaikan Gizi Masyarakat 42,62,000 Seksi Gizi Penanggulangan Balita Gizi Buruk dan Kurang (Banprop 205) 04,00,000 Seksi Gizi 4 Pengiriman Peserta Bintek Tatalaksana Balita Gizi Buruk 79,450,000 Seksi Gizi 5 Pengiriman Peserta Bintek Konselor Menyusui 26,000,000 Seksi Gizi 6 Pengiriman Peserta Bintek Pemantauan Pertumbuhan,250,000 Seksi Gizi 4 Rapat Kerja Bidang Promosi dan SDK 5 Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) 6 Pengadaan Set Promosi Kesehatan (DAK) 7 Penyusunan Peraturan Bupati Tentang Implementasi Perda KTR 25 Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan 26 Persentase balita gizi buruk Kelancaran ugas Pokok dan Masing Terpenuhinya kebutuhan administrasi perkantoran 00 % 0,08 % 5 kegiatan 2,750,67,000 Program Perbaikan Gizi Masyarakat Pengadaan Makanan Tambahan dan Vitamin 4 Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 55,000,000 Seksi PSDK 4,765,909,000 9,662,850,000 Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik 54,550,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 2 Penyediaan Jasa Pemeliharaan dan Perizinan Kendaraan Dinas/Operasional 7,04,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. Penyediaan Jasa Kebersihan Kantor 7,729,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 4 Penyediaan Alat Tulis Kantor 97,09,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 5 Penyediaan Barang Cetakan dan Penggandaan 89,782,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 6 Penyediaan Komponen Instalasi Listrik/ Penerangan Bangunan Kantor 7,987,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 7 Penyediaan Bahan Bacaan dan Peraturan PerundangUndangan 9,20,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. Tahun 206 5
8 Penyediaan Bahan Logistik Kantor 52,82,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 9 Penyediaan Makanan dan Minuman 05,080,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 0 RapatRapat Koordinasi dan Konsultasi ke Dalam dan Luar Daerah 598,054,000 Sub Bag. Program dan Pelaporan 6. 7,069,244,000 Sub Bag Umum dan Kepegawaian 6. 2 Penyediaan Pelayanan Dokumentasi dan Arsip SKPD 27,50,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. Penyediaan Pelayanan Administrasi Kepegawaian 48,000,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 4 Penyediaan Pelayanan Administrasi Barang 4,20,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 5 Penyediaan Pelayanan Keamanan Kantor 225,650,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. Penyediaan Jasa Tenaga Pendukung Administrasi/ Teknis Perkantoran 2 Terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana aparatur Terwujudnya Sumber Daya Aparatur yang berkualitas 2 Meningkatkan Fungsi Koordinasi, Regulasi dan Fasilitasi Pelayanan Kesehatan Pemerintah, Swasta dan Lintas Sektor 4 Terwujudnya pertanggung jawaban kinerja dan keuangan 8 kegiatan 6 kegiatan 8 kegiatan Tahun 206 5 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur,5,998,000 Pengadaan Mebeleur 8,59,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 2 Pengadaan Peralatan Kantor 07,5,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. Pemeliharaan Rutin/Berkala Gedung Kantor 20,275,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 4 Pemeliharaan Rutin/Berkala Kendaraan Dinas/Operasional 6,275,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 5 Pemeliharaan Rutin/Berkala Perlengkapan Gedung Kantor 48,025,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 6 Rehabilitasi Rumah Dinas Puskesmas Ciasmara 88,70,000 Seksi Yandasruj 6. 7 Rehabilitasi Rumah Dinas Paramedis Puskesmas Dago 88,70,000 Seksi Yandasruj 6. 8 Rehabilitasi Rumah Dinas Puskesmas Karadenan 88,70,000 Seksi Yandasruj 6. 9 Rehabilitasi Rumah Dinas Puskesmas Tenjo 70,5,000 Seksi Yandasruj 6. 0 Rehabilitasi Rumah Dinas Puskesmas Sukadamai 88,70,000 Seksi Yandasruj 6. Rehabilitasi Rumah Dinas Puskesmas Cirimekar 9,795,000 Seksi Yandasruj 6. 2 Pemasangan Partisi dan Penataan Interior Kantor 9,675,000 Sub Bagian Umum dan Kepegawaian 6. Penyediaan Kendaraan Bermotor Dinas (DAK) 650,000,000 Seksi Farmasi dan POM 6. 4 Penyediaan Peralatan Kantor (DAK) 00,000,000 Seksi Farmasi dan POM 6. 6 Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur 85,828,000 Pembinaan Mental dan Rohani bagi Aparatur 50,000,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 2 Penilaian Angka Kredit Tenaga Fungsional Kesehatan 5,828,000 Sub Bag. Umum dan Kepegawaian 6. 7 Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan 899,29,000 6
Tahun 206 Penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPD 58,689,000 Sub Bag. Program dan Pelaporan 6. 2 Penyusunan pelaporan keuangan semesteran 4,99,000 Sub Bag. Keuangan 6. Penyusunan pelaporan keuangan akhir tahun 7,85,000 Sub Bag. Keuangan 6. 4 Penyusunan perencanaan anggaran 74,650,000 Sub Bag. Program dan Pelaporan 6. 5 Penatausahaan Keuangan SKPD 4,094,000 Sub Bag. Keuangan 6. 6 Publikasi Kinerja SKPD 00,000,000 Seksi Promkes 6. 7 Penyusunan Renja SKPD 67,558,000 Sub Bag. Program dan Pelaporan 6. 8 Penyusunan Renstra SKPD 9,850,000 Sub Bag. Program dan Pelaporan 6. 7
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA.. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI Pengukuran kinerja mencakup Pengukuran Kinerja Sasaran Strategis dan Pengukuran Kinerja Kegiatan. Pengukuran Kinerja Sasaran Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 206 dilakukan dengan menggunakan formulir Pengukuran Kinerja Sasaran sesuai dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 204 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Pengukuran Kinerja Kegiatan dilakukan dengan menggunakan formulir Pengukuran Kinerja Kegiatan sesuai dengan Surat Keputusan Kepala LAN Nomor 29/IX/6/8/200 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Setelah pengukuran kinerja kemudian dilakukan evaluasi kinerja, selanjutnya dilakukan analisis efisiensi dan efektivitas. Analisis efisiensi dilakukan dengan membandingkan antara output dengan input baik untuk rencana maupun realisasi. Analisis ini menggambarkan tingkat efisiensi yang dilakukan dengan memberikan data nilai output per unit yang dihasilkan oleh suatu input tertentu. Efisiensi terjadi karena : dengan realisasi masukan yang lebih kecil dari target, realisasi keluaran tetap diperoleh sesuai dengan targetnya, ataupun realisasi masukan yang sesuai dengan targetnya, diperoleh realisasi keluaran yang lebih besar dari targetnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa realisasi melampaui target. Analisis efektivitas yang menggambarkan tingkat kesesuaian antara sasaran dan tujuan dengan hasil (outcome). Selain itu, analisis juga dilakukan terhadap setiap perbedaan kinerja (performance gap) yang terjadi, baik terhadap penyebab terjadinya gap maupun strategi pemecahan masalah yang telah dan akan dilaksanakan. Pengukuran Kinerja Sasaran Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 206 disajikan dalam Lampiran 2, dan Pengukuran Kinerja Kegiatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 206 disajikan dalam Lampiran..2. EVALUASI DAN ANALISIS KINERJA Kebijaksanaan Sektor Kesehatan, sebagaimana telah ditetapkan dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 206 merupakan kelompok prioritas pembangunan ke dua yaitu peningkatan Kualitas dan Pemerataan Pendidikan dan Kesehatan dengan fokus kebijakannya adalah sebagai berikut :. Peningkatan akses masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan 2. Peningkatan status gizi masyarakat Tahun 206 8
. Peningkatan kualitas ibu, anak, remaja dan lansia 4. Peningkatan kemandirian masyarakat dalam pembangunan kesehatan 5. Pemenuhan dan peningkatan kualitas sumber daya kesehatan Berdasarkan hasil pengukuran kinerja sasaran strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 206, maka evaluasi dan analisis masingmasing sasaran dapat disimpulkan sebagai berikut ; Misi. Meningkatkan Kemandirian dalam Jaminan Kesehatan Nasional ; Misi2. Meningkatkan Pemerataan Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas, yaitu : No. Target Realisasi % 00 00 00,0 % 00 00 00,0 % 9,25 88,0 96,45 % 8,25 78,20 96,25 Cakupan kunjungan bayi % 95,00 96,2 0,27 Cakupan puskesmas % 252,50 252,50 00,0 Cakupan pembantu %,57 5,02 0,9 % 68,00 70,8 04, Sasaran Strategis UTAMA : Prosentase pengadaan obat Meningkatkan essensial Indikator Kinerja Satuan % Capaian cakupan Kepesertaan Cakupan pelayanan Masyarakat kesehatan rujukan pasien dalam JKN. masyarakat miskin Cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani puskesmas Cakupan pelayanan kesehatan masyarakat Tahun 206 9
No Satuan Target Realisasi % 00,0 00,0 00,0 Cakupan desa siaga aktif % 85,00 67,97 79,96 Presentase Balita gizi buruk % 0,08 0,07 05,56 dan Gizi Cakupan Balita gizi buruk % 00,0 00,0 00,0 Masyarakat mendapat perawatan %,79 8,5 72,5 % 95,00 96,86 00,9 % 78,72 79,0 00,9 % 90,46 90,67 00,2 % 7,6 72,68 0,47 % 7,57 7,84 00,8 % 82,00 97,49 8,89 % 00,0 00,0 00,0 Sasaran Strategis Indikator Kinerja Cakupan pengawasan % Capaian terhadap obat dan makanan berbahaya 2. Meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan serta PHBS Rasio Posyandu per Satuan Balita Cakupan Rumah dengan bebas jentik Persentase TTU yang memenuhi syarat Persentase TPM yang memenuhi syarat Cakupan JAGA yang memenuhi syarat Cakupan SAB yang memenuhi syarat Cakupan Penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA Cakupan penemuan dan penanganan pendrita penyakit DBD Tahun 206 40
Sasaran Strategis No Indikator Kinerja Cakupan Desa/kelurahan Satuan Target Realisasi % 00,0 9,08 9,08 : : 4,9 9.247 5.266 : : 95.59 206.940 Rasio :.788 :.869 97,86 Rasio : 2.576 :.52 69,88 % Capaian Universal Child Immunisation (UCI). Meningkatkan Rasio puskesmas, poliklinik, Puskesmas pustu per satuan penduduk Rasio Terakreditasi dan Rasio rumah sakit per satuan mempersiap penduduk Rasio 62,0 kan puskesmas Rasio dokter per satuan BLUD penduduk Rasio tenaga medis per satuan penduduk Rata rata 9,89 Untuk mendukung pencapaian Misi kesatu dan ketiga telah ditetapkan (tiga) sasaran, program dan 78 kegiatan, dengan realisasi pencapaian sasaran sebesar 9,89 % Rincian pencapaian dari 2 (dua) sasaran sebagai berikut :. Sasaran pertama, yaitu Meningkatkan Cakupan Kepesertaan Masyarakat dalam JKN dengan indikator kinerjanya adalah : a. Terpenuhinya kebutuhan obat masyarakat dengan indikator kinerja prosentase pengadaan obat esensial dari target 00 % realisasi pencapaiannya 00 %, sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00 %, hal ini menunjukkan bahwa pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Dibandingkan dengan capaian pada tahun 205 yang juga mencapai 00 % menunjukkan bahwa adanya konsistensi dalam pemenuhan kebutuhan obat esensial dalam rangka pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan standar yang ditentukan. Indikator prosentase pengadaan obat essensial ditunjang oleh Program obat dan perbekalan kesehatan. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten dan DAK + pendamping APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 9.054.200.000, dengan realisasi Rp. 5.624.675.54, (82,00 %) pada program ini ada sisa anggaran dari efisiensi penawaran harga dari E Catalog sebesar Rp..429.524.457, Pogram ini Tahun 206 4
terdiri dari 6 kegiatan yaitu : pengadaan bahan habis pakai laboratorium puskesmas, pengadaan obat pelayanan kesehatan dasar (DAK), pengadaan bahan Medis pakai Habis/BMPH (DAK), pengadaan perlengkapan Bahan Medis Pakai Habis/BMPH pendukung (DAK), rapat kerja program obat dan BMPH dan Penyediaan Sarana Prasarana Instalasi farmasi (DAK). b. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin dari target 00 % realisasi pencapaiannya 00 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 206 yang juga mencapai 00 % hal ini dikarenakan sudah adanya anggaran khusus untuk program pelayanan kesehatan penduduk miskin sehingga rujukan bagi pasien masyarakat miskin terlayani. Indikator cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin ditunjang oleh Program pelayanan kesehatan penduduk miskin. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten dan Bantuan Keuangan Provinsi Jawa Barat tahun 206 sebesar Rp. 7.870.444.000, dengan realisasi Rp. 95.06.86.99, ( 80,65 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan kegiatan yang tidak diserap sebesar Rp. 22.807.257.007, diantaranya dari kegiatan Pelayanan operasi katarak Rp. 6.507.000, dan Kegiatan Jaminan Kesehatan Pelayanan Daerah Rp. 22.790.680.907, oleh karena jumlah yang dibayarkan sesuai dengan verifikasi yang telah dilaksanakan, bukan berdasarkan klaim dari Rumah Sakit. Program ini terdiri dari 4 kegiatan yaitu : pelayanan operasi katarak, jaminan pelayanan kesehatan daerah (Jamkesda) dan jaminan kesehatan bagi penerima bantuan iuran (Banprop 205) dan jaminan kesehatan bagi penerima bantuan iuran (Banprop 206) c. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan dari target 9,25 % realisasi pencapaiannya sebesar 88,0 % sehingga capaian kinerjanya sebesar 96,45 % meskipun belum mencapai 00 % namun berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian pada tahun 205 sebesar 97,67 % maka terjadi penurunan sebesar,22 %. Belum tercapainya target cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan disebabkan oleh karena masih tingginya persalinan oleh paraji yang dirasakan lebih dekat secara kekeluargaan, dan masih banyak anggapan masyarakat apabila kehamilan tidak berisiko maka pemeriksaan kehamilan dan persalinan tidak perlu tenaga kesehatan. Tingginya minat masyarakat terhadap paraji ini juga ditunjukkan dengan melihat cakupan pemeriksaan ibu pada saat kehamilan dimana cakupannya cukup tinggi yaitu sebesar 99,5 % namun pada saat persalinan, ibu hamil dan keluarganya lebih memilih Tahun 206 42
ditolong oleh paraji, sehingga cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menurun ke angka 88, %. Salah satu upaya yang akan terus dikembangkan adalah kemitraan bidan dengan paraji, dimana paraji tetap membantu dalam tahapan pasca persalinan dan lebih difungsikan pada perawatan ibu dan bayi setelah persalinan, meningkatkan koordinasi dan kemitraan dengan organisasi profesi, pembentukan kelas ibu dan optimalisasi pelaksanaan kelas ibu hamil di desa dan pemberdayaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan keluarganya melalui program perencanaan persalinan daan pencegahan komplikasi (P4K). d. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani dari target 8,25 % realisasi pencapaiannya sebesar 78,20 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 96,25 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 205 yang mencapai 97,6 % maka terjadi penurunan yaitu sebesar,8 %. Pencapaian cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani kurang dari 00 % hal ini karena belum seluruhnya ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan keluarganya mengetahui tentang tanda bahaya atau komplikasi dan segera mendapatkan tindakan/tatalaksana kegawatdaruratan oleh petugas kesehatan, salah satu upaya yang akan dilakukan yaitu pemberdayaan ibu hamil, ibu nifas dan ibu bersalin dan keluarganya melalui program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K). e. Cakupan kunjungan bayi dengan target 95,00 % realisasi pencapaiannya 96,2 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 0,27 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 205 yang sebesar 0,6 % maka terjadi peningkatan sebesar 0, %. Keberhasilan capaian kinerja cakupan kunjungan bayi sebesar 0,27 % oleh karena kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan bayi sudah mengalami peningkatan. Disamping itu petugas kesehatan yang aktif melakukan kunjungan rumah atau melalui kegiatan posyandu dan kegiatan sweeping posyandu, menunjukan adanya kesadaran para ibu yang mempunyai bayi untuk membawa anaknya ke pelayanan kesehatan. Indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani dan cakupan kunjungan bayi ditunjang oleh Program peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 0.687.059.000, dengan realisasi Rp..977.75.75, (8,5 %) pada program ini Tahun 206 4
ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 8.709.07.625, Ada kegiatan yg tidak dilaksanakan yaitu kegiatan Jaminan Persalinan (JAMPERSAL) sebesar Rp. 8.642.800.000, oleh karena tidak ada kesesuaian kode rekening untuk transpot masyarakat dari rumah tinggal ke rumah singgah. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten dan DAK tahun 206 sebesar Rp. 0.687.059.000, dengan realisasi Rp..977.75.75, (8,5 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 8.709.07.625, Program ini terdiri dari 0 kegiatan yaitu : Pengiriman peserta bimtek Asuhan Persalinan Normal (APN), peningkatan kemitraan puskesmas PONED dengan Rumah Sakit, pengiriman peserta bimtek Asfixia Bayi Baru Lahir, pengiriman peserta bimtek Pertolongan Persalinan Pertama Gawat Darurat Obsetri & Neonatal (PPGDON), pengiriman peserta bimtek Pelayanan Obsetric dan Neonatal Emergency Dasar (PONED), belanja operasional call center/sms Gatway program EMAS, rapat kerja program peningkatan pelayanan kesehatan ibu, anak dan remaja, Jaminan Persalinan/JAMPERSAL (DAK), pengiriman peserta bimtek Simulasi Deteksi Dini Intervensi Tumbuh Kembang (SDIDTK) dan pengiriman peserta bimtek Manajemen Terpadu Balita Sakit/Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBS/MTBM), Program Peningkatan Kesehatan Lansia. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten Bogor Tahun 206 sebesar Rp. 76.950.000, dengan realisasi sebesar Rp. 75.46.250,(99,57 %), program ini terdiri dari 4 kegiatan : Rapat kerja program peningkatan pelayanan kesehatan, Bimtek Geriatri bagi dokter dan perawat di puskesmas, Gerakan sehat lanjut usia dan Worshop TOT peningkatan kemampuan sumber daya penggerak lansia. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Remaja. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten Bogor Tahun 206 sebesar Rp. 75.47.000,dengan realisasi sebesar Rp. 7.66.800, (98,99 %) efisiensi anggaran dari penawaran harga sebesar Rp..800.200, Program ini terdiri dari 5 kegiatan : Rapat kerja program peningkatan pelayanan kesehatan remaja, peningkatan kemampuan KKR/Peer Konselor, orientasi kesehatan reproduksi remaja pada guru SMP/SMU Pembina KKR, Workshop peningkatan kemampuan pengelola petugas reproduksi remaja dan pelatihan penanganan kekerasan terhadap anak bagi petugas. f. Cakupan puskesmas dengan target 252,50 % realisasi pencapaiannya 252,50 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Keberhasilan capaian kinerja cakupan puskesmas sebesar 00 % bila dibandingkan dengan capaian pada tahun 204 yang juga mencapai 00 % menandakan tidak adanya penambahan jumlah baik jumlah puksesmas maupun kecamatan. Tahun 206 44
g. Cakupan pembantu puskesmas dengan target,57 % realisasi pencapaiannya 5,02 % sehingga realisasi pencapaian kinerjanya sebesar 0,9 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Capaian kinerja cakupan puskesmas pembantu lebih dari 00 % yaitu sebesar 0,9 %, bila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 205 yang sebesar 97,0 % maka terjadi peningkatan,92 %. Hal ini disebabkan tahun 206 pemerintah Kabupaten Bogor menambah pembangunan jumlah pustu sebanyak 4 pustu sehingga dapat mencapai target yang sudah ditetapkan dan akan berusaha terus dengan meningkatkan pelayanan kesehatan dan mengoptimalkan kegiatan puskesmas keliling (pusling) ke daerahdaerah yang sulit dijangkau/sulit pemenuhan pelayanan kesehatan. h. Cakupan pelayanan kesehatan masyarakat dari target 68,00 % dengan realisasi 70,8 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 04, % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Cakupan pelayanan kesehatan masyarakat dengan capaian kinerja sebesar 04, % hal ini disebabkan karena masyarakat sebagian besar sudah memiliki jaminan kesehatan (BPJS) yang berhak mendapatkan pelayanan pertama di puskesmas, sehingga kunjungan puskesmas meningkat. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 205 yang sebesar 86,7 % maka terjadi peningkatan yaitu sebesar 7,40 %. Karena dengan adanya pelayanan BPJS masyarakat hampir seluruhnya menggunakan faskes pertama di puskesmas sehingga kunjungan faskes pertama puskesmas mengalami peningkatan. Salah satu upaya yang akan dilakukan terus meningkatkan promosi kesehatan di puskesmas dan masyarakat. Dan diharapkan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan mengerti dan paham sehingga datang ke pelayanan kesehatan (puskesmas). Indikator cakupan pelayanan kesehatan kesehatan ditunjang oleh Program upaya kesehatan. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 227.08.948.000, dengan realisasi sebesar Rp. 6.5.950.0, (7,78 %) pada prgram ini ada efisiensi atau kegiatan yang tidak diserap sebesar Rp. 64.076.962.85, diantaranya dari kegiatan biaya penunjang pelayanan kesehatan jaminan kesehatan nasional FKTP di 0 puskesmas oleh karena dana luncuran tahun 205 baru masuk dalam perubahan reguler (bulan November) sehingga waktu sangat terbatas untuk merealisasikan kegiatan. Program ini terdiri dari 249 kegiatan yaitu : Operasional di UPT Puskesmas dan jaringannya sebanyak 40 UPT Puskesmas, Operasional UPT Kesja dan jaringannya (BKKM), Operasional UPT Tahun 206 45
Labkesda, Rapat kerja program upaya kesehatan masyarakat, pelayanan kesehatan dalam rangka PK dan pengiriman peserta Bimbingan tehnis PPGD, pelayanan kesehatan jaminan kesehatan nasional FKTP di 0 puskesmas, dukungan manajemen penyelenggaraan pelayanan kesehatan pada puskesmas (DAK) dan pelayanan kesehatan masyarakat dan dukungan manajemen di 0 puskesmas. Cakupan pengawasan terhadap obat dan makanan berbahaya dari target 00 % dengan realisasi 00,0 % maka pencapaian kinerjanya sebesar 00,0 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan tahun 205 maka tidak terjadi baik peningkatan maupun penurunan, oleh karena adanya sistem yang baik dalam pengadministrasian Apotik, IRTP dan Toko Obat sudah mulai tertib maka pembinaan yang dilaksanakan sesuai dengan target yang telah ditentukan sehingga capaian kinerja tidak melebihi dari target. Indikator cakupan pengawasan obat dan makanan berbahaya ditunjang oleh Program pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 40.789.000, dengan realisasi Rp. 40.784.500, (00 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 4.500, kegiatan ini terdiri dari 2 kegiatan yaitu : kegiatan pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan hasil produksi rumah tangga dan penyuluhan keamanan pangan dalam rangka produk sertifikasi produk pangan (SPPIRT). 2. Sasaran kedua, yaitu : Meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta PHBS dengan indikator kinerjanya adalah : a. Prosentase balita gizi buruk dari target 0,08 % terealisasi 0,07 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 05,56 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan tahun 205, dimana prosentase pencapaian balita gizi buruk mencapai 0,09 % dengan capaian kinerja 00 % maka telah terjadi peningkatan sebesar 5,56 %. Bila dilihat dari target maka dikarenakan adanya kenaikan target dari 0.09 % menjadi 0,08 %. Akan tetapi hal ini dimungkinkan bila melihat cakupan keluarga yang telah sadar gizi (Kadarzi) dimana hal tersebut menunjukan adanya peningkatan kesadaran keluarga dalam memenuhi kebutuhan makanan bergizi terutama untuk balitanya. Disamping itu dengan adanya program dan kegiatan pemberian PMT bagi balita gizi buruk sehingga kasus balita gizi buruk mengalami penurunan. b. Prosentase balita gizi buruk mendapat perawatan dari target 00 % terealisasi 00 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00 % berdasarkan standar yang dipakai Tahun 206 46
maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan tahun 205, yang juga mencapai 00 %. Hal ini menunjukan adanya penanganan balita gizi buruk secara komprehensip melalui pengembangan pelayanan rujukan ke klinik gizi di puskesmas maupun Litbang gizi serta ke Rumah Sakit disamping pelaksanaan pemantauan secara terus menerus baik dalam proses penanganan kasus maupun pasca penanganan dan adanya program pemberian PMT bagi balita. c. Rasio posyandu per satuan balita dari target,79 % terealisasi 8,5 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 72,5 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori cukup. Capaian kinerja rasio posyandu per satuan balita belum mencapai 00 % hal ini disebabkan karena jumlah posyandu yang sedikit sehingga tidak sebanding dengan pertambahan jumlah balita di Kabupaten Bogor. Bila dibandingkan dengan tahun 205, maka terjadi penurunan capaian sebesar 4,00 %. Salah satu upaya yang akan dilakukan menggerakan masyarakat untuk dapat berperan aktif dalam Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang ada di desanya, seperti ikut serta dalam kegiatan posyandu. Indikator prosentase balita gizi buruk, cakupan balita gizi buruk yang mendapat perawatan dan Rasio posyandu per satuan balita ditunjang oleh Program perbaikan gizi masyarakat, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten dan Bantuan Keuangan Propinsi Jawa Barat tahun 206 sebesar Rp. 4.765.909.000, dengan realisasi Rp. 6.764.670.400, (99,97 %) pada program ini ada efisiensi anggaran dari penawaran harga sebesar Rp. 8.600, program ini terdiri dari 6 kegiatan yaitu : kegiatan pengadaan makanan tambahan dan vitamin, rapat kerja program perbaikan gizi masyarakat, penanggulangan balita gizi buruk dan balita kurang gizi (Banprop 205), pengiriman bimtek tatalaksana Balita Gizi Buruk, pengiriman bimtek konselor menyusui dan pengiriman bimtek pemantauan pertumbuhan. d. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA dari target 82,00 % dengan realisasi 97,49 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 8,89 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Target penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA nasional adalah masih sebesar 80,0 %, bila dibandingkan dengan target tersebut pencapaian Kabupaten Bogor telah melampaui target nasional sedangkan bila dibandingkan dengan capaian tahun 205 yang sebesar 0,96 % artinya terjadi peningkatan capaian sebesar 6,9 %. Hal ini disebabkan karena sebagian besar sarana kesehatan terutama Rumah Sakit Swasta, Balai Pengobatan/Klinik Swasta, dokter praktek ikut dalam pelaksanaan program P2TB dengan menggunakan Tahun 206 47
strategi DOTS, maka pasien yg berobat tercatat seluruhnya dan sistem pencacatan dan pelaporan program TB berubah dari sistem manual menjadi komputerisasi sehingga datadata dapat terlaporkan. e. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD dari target 00 % realisasi capaiannya 00 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Keberhasilan pencapaian kinerja 00 % ini oleh karena DBD merupakan salah satu penyakit yang diamati dan dapat menimbulkan wabah sehingga sistem kewaspadaan dini (SKD) telah dilakukan dengan baik, selain itu penaganan kasus DBD sudah memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang jelas sehingga bila ditemukan kasus secara langsung dapat ditangani mulai dari pelacakan kasus, pengamatan, penyemprotan titik dimana kasus ditemukan sampai dengan rujukan ke Rumah Sakit, sehingga semua kasus dapat ditangani. f. Peningkatan cakupan universal child imunization (UCI) desa/kelurahan dari target 00 % dengan realisasi 9,08 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 9,08 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 205 dimana pencapaiannya sebesar 92,40 % maka ada peningkatan sebesar 0,68 %. Capaian UCI belum mencapai 00 % hal ini disebabkan oleh karena masih adanya orangtua/sekelompok masyarakat yang menolak dengan alasan kehalalan vaksin, disamping itu juga dengan ditemukannya kasus KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) diwilayah Kabupaten Bogor, masyarakat menjadi resah dan enggan untuk mendapatkan imunisasi lengkap. Namun bila dibandingkan dengan target cakupan UCI Nasional maupun Propinsi sebenarnya hanya 80,00 % sehingga capaian kita telah melebihi target Nasional dan Propinsi. Salah satu upaya yang akan dilakukan yaitu meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi dan dampak ikutan dari kasus imunisasi sehingga masyarakat lebih tenang untuk mendapatkan imunisasi lengkap. Indikator cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA, cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD, cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) ditunjang oleh Program Pencengahan dan Penanggulangan Penyakit Menular, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 2.684.775.000, dengan realisasi Rp. 2.486.78.458, (92,6 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 98.96.542, Program ini terdiri dari 2 kegiatan yaitu : penyemprotan/fogging sarang nyamuk, peningkatan survailance epidemiologi dan penanggulangan wabah, pemeriksaan calon jemaah Tahun 206 48
haji, fasilitasi pelaksanaan kegiatan program P2TB, penatalaksanaan dan penanggulangan penyakit Diare Ispa, pelaksanaan penanggulangan penyakit Kusta, pencegahan dan penanggulangan penyakit menular seksual (HIV/AIDS), survailans acut flaccid paralisys (AFP), pelayanan imunisasi, rapat kerja program pencegahan pemberantasan penyakit serta survailance epidemiologi, Pemberian obat masal pencegahan (POMP) Filariasis dan pengiriman peserta bimtek tekhnis VCT HIV. g. Rumah dengan bebas jentik di daerah endemis, dari target 95,00 % realisasi pencapaiannya 95,86 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00,9 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 205 yaitu sebesar 00,06 % maka capaian kinerja tahun 206 mengalami peningkatan sebesar 0,85 %. dikarenakan meningkatnya peran serta aktif dan kesadaran masyarakat dalam melaksanakan kegiatan pemeriksaan jentik secara berkala (PJB) khususnya di daerah yang endemis sehingga akan dapat memutuskan mata rantai pembiakan nyamuk dan mencegah penyebaran penyakit secara lebih luas. h. Cakupan TTU yang memenuhi syarat dari target 78,72 % dengan realisasi 79,0 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00,9 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 205 sebesar 00,05 % maka capaian kinerja tahun 205 maka capaian kinerja mengalami peningkatan sebesar 0,4 %. Keberhasilan meningkatnya capaian kinerja dikarenakan meningkatnya pembinaan petugas kepada masyarakat khususnya penanggung jawab tempattempat umum disamping itu juga meningkatnya kesadaran masyarakat sendiri akan pentingnya sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. i. Cakupan TPM yang memenuhi syarat dari target 90,46 % dengan realisasi 90,67 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00,2 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 205 sebesar 00,2 % maka capaian kinerja mengalami peningkatan sebesar 0,02 %. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat khususnya pemilik/penanggung jawab tempat pengelolaan makanan telah memahami, sadar dan sukarela memenuhi persyaratan kesehatan yang telah ditentukan dalam mengelola jasa pengelolaan makanannya. j. Cakupan Inspeksi Sanitasi untuk peningkatan sarana air bersih (SAB) yang memenuhi syarat kesehatan dari target 7,57 % dengan realisasi 7,84 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00,8 % berdasarkan standar yang dipakai maka Tahun 206 49
pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian realisasi pada tahun 205 yaitu sebesar 00,8 % maka capaian realisasi tahun 206 mengalami peningkatan yaitu sebesar 0,2 %. k. Cakupan Inspeksi Sanitasi untuk peningkatan Jamban Keluarga (JAGA) dari target 7,6 % dengan realisasi 72,68 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 0,47 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian kinerja pada tahun 205 yaitu sebesar 02,7 % maka capaian tahun 206 mengalami penurunan yaitu sebesar 0,7 %. Cakupan Inspeksi Sanitasi Jamban Keluarga (JAGA) dengan capaian kinerja lebih dari 00 %. Cakupan Inspeksi Sanitasi untuk peningkatan sarana air bersih (SAB) dan Cakupan Inspeksi Sanitasi Jamban Keluarga (JAGA) dengan capaian kinerja lebih dari 00 %, dikarenakan keberhasilan petugas dalam pembinaan kepada masyarakat akan pentingnya penyediaan sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Selain itu adanya koordinasi dengan SKPD yang terkait dalam pembangunan rumah sehat / layak huni yang juga meningkatkan jumlah sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Indikator cakupan rumah dengan bebas jentik, prosentase TTU yang memenuhi syarat, prosentase TPM yang memenuhi syarat, cakupan JAGA yang memenuhi syarat dan cakupan SAB yang memenuhi syarat ditunjang oleh Program pengembangan lingkungan sehat, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 552.879.000, dengan realisasi Rp. 578.400, (92,48 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 4.600.600, program ini terdidiri dari 4 kegiatan yaitu : pengawasan hygiene sanitasi tempattempet umum, sanitasi total berbasis masyarakat (STBM), pengawasan hygiene dan sanitasi tempat pengelolaan makanan dan rapat kerja program pengembangan lingkungan sehat. Peningkatan cakupan desa siaga aktif, dari target yang ditetapkan yaitu 85,00 % terealisasi 67,97 % (295 desa siaga) sehingga capaiannya 79,96 %. Bila dibandingkan dengan tahun 205 dimana capaiannya 79,20 % mengalami peningkatan sebesar 0,76 % (dari 275 desa siaga menjadi 295 desa siaga) di Kabupaten Bogor. Penetapan target desa siaga memang dilakukan secara bertahap mengingat proses pelaksanaannya tidak hanya dari Dinas Kesehatan saja namun melibatkan sektor lain dan peran serta aktif masyarakat sendiri. Pencapaian kinerja mencapai 79,96 % menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah tetap berkomitmen dengan adanya kebijakan Kementrian Kesehatan bahwa seluruh desa harus melaksanakan program desa siaga meskipun secara Tahun 206 50
bertahap dan untuk Kabupaten Bogor menjadi salah satu indikator kinerja yang tertuang di dalam RPJMD. Indikator cakupan desa siaga aktif ditunjang oleh Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 2.750.67.000, dengan realisasi Rp. 2.57.727.60, (92,26 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 22.889.640, Program ini terdiri dari 7 kegiatan yaitu : penyediaan media penyuluhan kesehatan, penyuluhan kesehatan, peningkatan kesehatan Lintas Sektor dan UKBM, rapat kerja bidang promosi dan SDK, peringatan hari kesehatan nasional (HKN), pengadaan set promosi kesehatan (DAK) dan penyusunan peraturan Bupati tentang Implementasi Perda KTR.. Sasaran ketiga, yaitu : Meningkatkan Puskesmas Terakreditasi dan mempersiap kan puskesmas BLUD dengan indikator kinerjanya adalah : a. Rasio rumah sakit per satuan penduduk target : 95.59 realisasi pencapaiannya : 206.940 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 62,0 %, maka pencapaiannnya termasuk dalam katagori kurang. Akan tetapi jika target 206 dibandingkan dengan target tahun 205 Rasio rumah sakit per satuan penduduk : 205.948 maka target Rasio rumah sakit per satuan penduduk mengalami peningkatan artinya bila pada tahun 205, satu rumah sakit dapat melayani penduduk sebanyak 205.948 jiwa maka pada tahun 206 satu rumah sakit melayani 95.59 jiwa. b. Rasio dokter per satuan penduduk dari target :.788 dengan realisasi :.869 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 97,86 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Pencapaian kurang dari 00 % oleh karena tidak sebandingnya jumlah dokter di Kabupaten Bogor dengan pertambahan jumlah penduduk yang meningkat setiap tahunnya, salah satu upaya yang akan dilakukan dengan menambah jumlah tenaga dokter di puskesmas. c. Rasio tenaga medis per satuan penduduk dari target : 2.576 dengan realisasi :.52 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 69,88 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori cukup. Pencapaian kurang dari 00 % oleh karena tidak sebandingnya jumlah tenaga medis di Kabupaten Bogor dengan pertambahan jumlah penduduk yang meningkat setiap tahunnya dan dibarengi dengan adanya kebijakan Moratorium CPNS 205209 MenPan mengkaji tentang Moratorium (pengehentian) perekrutan CPNS selama 5 tahun kedepan sehingga tidak ada penambahan pegawai. Tahun 206 5
Indikator Rasio dokter per satuan penduduk dan Rasio tenaga medis per satuan penduduk ditunjang oleh Program pelayanan administrasi perkantoran yang terdiri dari kegiatan yaitu : penyediaan jasa tenaga pendukung administrasi/teknis perkantoran dan Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 85.828.000,dengan realisasi Rp. 80.40.500, ( 97,08 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 5.424.500, Program ini terdiri dari 2 kegiatan yaitu : pembinaan mental dan rohani bagi aparatur dan penilaian angka kredit tenaga fungsional kesehatan. d. Rasio puskesmas, poliklinik, puskesmas pembantu per satuan penduduk dari target : 9.247 dengan realisasi : 5.266 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar,9 %. Berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori sangat kurang. Bila dibandingkan dengan target tahun 205 ada peningkatan dari target dari : 9.94 menjadi : 9.247, akan tetapi pencapaian mengalami penurunan sebesar 7,9 % jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 205 yaitu sebesar 52,60 %. Oleh karena Balai Pengobatan yang masa berlakunya sampai dengan tahun 205 belum memperpanjang menjadi ijin Klinik yang harus berdasarkan Permenkes Nomor 9 Tahun 204 sehingga capaian menjadi turun, upaya yang akan dilakukan yaitu monitoring dan evaluasi ke klinikklinik yang belum memperpanjang masa berlakunya. Indikator cakupan puskesmas, cakupan puskesmas pembantu dan rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk ditunjang oleh program pengadaan peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/puskesmas pembantu dan jaringannya. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 52.52.277.000, dengan realisasi Rp. 46.7.984.540, ( 87,8 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan anggaran tidak diserap sebesar Rp. 6.94.292.460, diantaranya dari kegiatan pengadaan puskesmas keliling (DAK) pengadaan pusling double garden tidak direalisasikan oleh karena tidak ada dalam e catalog kemudian diadakan pengadaan langsung akan tetapi tidak cukup waktu, pengadaan alatalat kedokteran puskesmas (DAK), pengadaan Generator (DAK) dan revitalisasi pagar pustu pasir jambu. Program ini terdiri dari 6 kegiatan yaitu : pengadaan puskesmas keliling (DAK), pengadaan ambulance (DAK), pengadaan alatalat kedokteran puskesmas (DAK), pengadaan alatalat laboratorium puskesmas (DAK), pengadaan lemari Es Vaksin puskesmas (DAK), pengadaan PTM Kit di puskesmas (DAK), pengadaan generator (DAK), pengadaan peralatan sistem informasi kesehatan di puskesmas (DAK), pengadaan meubelair puskesmas, Tahun 206 52
pengadaan alatalat kedokteran pukesmas, pembangunan puskesmas pembantu sebanyak 4 buah (batok, Sukaresmi, sindang reret dan ciasihan), revitalisasi pagar pustu pasir jambu, revitalisasi/rehab puskesmas sebanyak 0 buah ( Puskesmas ragajaya, lebakwangi, gandoang, rancabungur, cirimekar, balekambang dan banjarsari, Kiarapandak, ciseeng, pamijahan), revitalisasi/rehab pustu sebanyak 5 buah (Bojong kulur, kelurahan tengah, mampir, cadas ngampar dan cibunian) pemagaran puskesmas/pustu sebanyak 4 puskesmas (pasir angin, sukajaya, Bojong Nangka dan sukamakmur), penataan halaman parkir puskesmas Tanjungsari, pemasangan turap penahan tanah pustu Harapan Jaya, pembangunan ruang practical to Lunch dan ruang Unit Gawat Darurat pusk Cibeuteung Udik, penataan area parkir pustu pasir angin, pemasangan turap puskesmas cilebut, pengadaan lemari es vaksin puskesmas, pengurusan surat ijin operasional puskesmas, pembangunan halaman puskesmas ciangsana, pembangunan puskesmas jasinga, pembangunan turap puskesmas tajur, rehabilitasi puskesmas DTP Parung dan pembangunan instalasi pegolahan air limbah UPT sebanyak 6 puskesmas (jasinga, cigudeg, citeureup, ciampea, sukaraja, parung, parung panjang, jonggol, cigombong, cileungsi, ciawi, bantarjaya, karadenan, leuwiliang, Sentul dan dramaga) Misi. Meningkatnya daya dukung pelayanan kesehatan. No. Sasaran Strategis PENUNJANG Indikator Kinerja Meningkatkan Terwujudnya kapasitas kelancaran sumber daya pelayanan sarana dan administrasi prasarana kerja perkantoran Satuan Target Realisasi % 00,0 00,0 00,0 % 00,0 00,0 00,0 % 00,0 00,0 00,0 % Capaian serta kualitas aparatur Terwujudnya kecepatan, kenyamanan dan keamanan kerja aparatur 2. Meningkatkan Terwujudnya fungsi peningkatan Tahun 206 5
No Sasaran Strategis koordinasi, Indikator Kinerja kapasitas dan regulasi dan kinerja sumber fasilitas daya aparatur Satuan Target Realisasi % 00,0 00,0 % Capaian pelayanan kesehatan pemerintah, swasta daan lintas sektor. Meningkatkan Tersusunnya jejaring perencanaan pelayanan dan laporan kesehatan yang akuntabel 00,0 00,0 Untuk mendukung Misi 2 telah ditetapkan (tiga) sasaran, 4 program dan 9 kegiatan, dengan realisasi pencapaian sasaran sebesar 00,0 %. Rincian pencapaian dari (tiga) sasaran sebagai berikut : ) Sasaran pertama, meningkatnya kelancaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi masingmasing dengan indikator kinerja terwujudnya kelancaran pelayanan administrasi perkantoran dengan target 00 % tercapai 00 % dan terwujudnya kecepatan, kenyamanan dan keamanan kerja aparatur dengan target 00 % tercapai 00 %, berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan penunjang adminsitrasi perkantoran telah dilaksanakan sesuai dengan rencana. Indikator terwujudnya kelancaran pelayanan administrasi perkantoran ditunjang oleh Program pelayanan administrasi perkantoran. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 9.662.850.000, dengan realisasi Rp. 9.27.6.69, ( 98,02 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 89.686.07, dari penawaran harga lelang. Program ini terdiri dari 5 kegiatan yaitu, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa pemeliharaan dan perijinan kendaraan dinas/operasional, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan bahan bacaan dan Tahun 206 54
peraturan perundanganundangan, penyediaan bahan logistik kantor, penyediaan makanan dan minuman, rapatrapat koordinasi dan konsultasi ke dalam dan luar daerah, penyediaan jasa tenaga pendukung administrasi perkantoran, pelayanan dokumentasi dan arsip SKPD, penyediaan pelayanan administrasi kepegawaian, pelayanan administrasi barang dan pelayanan keamanan kantor. Indikator terwujudnya kecepatan, kenyamanan dan keamanan kerja aparatur ditunjang oleh Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp..5.998.000, dengan realisasi Rp. 2.728.590.04, ( 86,5 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan anggaran sebesar Rp. 425.407.696, diantaranya dari kegiatan rehabilitasi rumah dinas puskesmas Sukadamai oleh karena ditinggal pihak ke tiga. Program kegitan ini terdiri dari 4 kegiatan yaitu : pengadaan meubelair, pengadaan peralatan kantor, pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasinal, pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor, reitalisasi rumah dinas Puskesmas Ciasmara, rehabilitasi rumah dinas Puskesmas Dago, Karadenan, Tenjo, Sukadamai dan Cirimekar, pemasangan partisi dan peralatan interior kantor dinas, penyediaan kendaraan bermotor dinas (DAK) dan penyediaan peralatan kantor (DAK). 2) Sasaran kedua, meningkatnya jumlah dan kualitas sumber daya kesehatan dengan indikator kinerjanya terwujudnya peningkatan kapasitas dan kinerja sumber daya aparatur dengan target 00 % pencapaiannya 00 %. Pencapaian tersebut dikontribusikan dengan adanya penambahan sarana mobilitas darat, sarana kerja dan pemeliharaan sarana kerja. Indikator terwujudnya peningkatan kapasitas dan kinerja sumber daya aparatur ditunjang oleh Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 85.828.000, dengan realisasi Rp. 80.40.500, ( 97,08 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 5.424.500, Program ini terdidiri dari 2 kegiatan yaitu : pembinaan mental dan rohani bagi aparatur dan penilaian angka kredit tenaga fungsional kesehatan. ). Sasaran ketiga, terwujudnya pertanggungjawaban kinerja dan keuangan SKPD dengan indikator kinerjanya tersusunnya perencanaan dan laporan yang akuntabel dengan target kinerja 00 % dan pencapaian 00 %, berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Indikakator tersusunya perencanaan dan laporan yang akuntabel ditunjang oleh Program peningkatan pengembangan sistem capaian kinerja dan keuangan, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 899.29.000, dengan realisasi Tahun 206 55
Rp. 845.097.625, ( 9,98 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 54.2.75, program kegiatan ini terdiri dari 8 kegiatan yaitu : penyusunan laporan capaian kinerja dan ihktisar realisasi kinerja SKPD, penyusunan laporan keuangan semesteran, penyusunan laporan keuangan akhir tahun, penyusunan perencanaan anggaran, penatausahaan keauangan SKPD, publikasi kinerja dan penyusunan renja SKPD. Program pengadaan standarisasi pelayanan kesehatan. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 6.522.24.000, dengan realisasi Rp. 5.8.020.275, ( 95,8 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 689.220.725, diantaranya dari kegiatan persiapan penerapan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum daerah (PPKBLUD) puskesmas. Program ini terdiri dari 8 kegiatan yaitu : monitoring, evaluasi dan pelaporan, penyusunan dan pengembangan data kesehatan, pembinaan sarana institusi swasta, jasa pelayanan kesehatan, rapat koordinasi evaluasi dan perencanaan program, akreditasi puskesmas, persiapan penerapan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dan seleksi dan pembinaan tenaga kesehatan teladan... AKUNTABILITAS KEUANGAN Dalam tahun 206 Pendapatan Dinas Kesehatan ditargetkan sebesar Rp. 4.296.680.000, terealisasi sebesar Rp. 47.46.404.69, atau tercapai 09,57 %. Belanja Dinas Kesehatan tahun 206 dialokasikan sebesar Rp. 600.228.46.000, terealisasi sebesar Rp. 492.94.249.48, atau terserap 82,0 %. Secara garis besar realisasi anggaran Dinas Kesehatan tahun 206 sebagai berikut : No Uraian A. PENDAPATAN Retribusi pelayanan kesehatan B. BELANJA. BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai 2. BELANJA LANGSUNG (BELANJA PROGRAM/ KEGIATAN) Belanja Pegawai Belanja barang dan % Realisasi Anggaran (Rp.) Realisasi (Rp.) 4.296.680.000, 47.46.404.69, 09,57 20.704.06.000, 20.0.588.257, 99,67 20.704.06.000, 20.0.588.257, 99,67 479.524.400.000, 72.08.66.8, 77,59 29.284.749.000,47.208.7.000, 27.679.050,27.55.746.79, 94,52 78,2 Tahun 206 56
No C. Uraian Anggaran (Rp.) Realisasi (Rp.) % Realisasi Jasa Belanja Modal 0.0.480.000, 72.868.420.48, 70,72 JUMLAH BELANJA 479.524.400.000, 72.08.267.777, 77,59 (465.98.406.000,) (44.4.288.95,) 7,99 SURPLUS / (DEFISIT) Anggaran belanja langsung yang digunakan untuk membiayai program dan kegiatan dalam rangka mencapai sasaran strategis Dinas Kesehatan tahun 206 sebesar Rp. 479.524.400.000, terealisasi sebesar Rp.72.08.66.8, atau terserap 77,59 %. Tidak terserapnya dana belanja langsung tersebut disebabkan karena adanya efisiensi anggaran dari selisih penawaran pihak ketiga, tidak dilelangkan (karena waktu yang tidak cukup), pemutusan kontrak, efisiensi dari kegiatankegiatan yang sudah terintegrasi dengan sumber dana lain dan adanya beberapa kegiatan yang memang tidak direalisasikan oleh karena disesuaikan dengan kondisi sesungguhnya di lapangan seperti kejadian luar biasa yang memang sesuai dengan kejadian yang terjadi serta kegiatan Biaya Penunjang Pelayanan puskesmas oleh karena dana luncuran tahun 205 baru masuk dalam perubahan reguler (bulan November) sehingga waktu sangat terbatas untuk merealisasikan kegiatan. Rincian anggaran dan realisasi APBD (LRA) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 206 disajikan dalam Lampiran : 4. Tahun 206 57
IV PENUTUP Laporan Kinerja (LK) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 206 ini, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang berbagai capaian kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dalam rangka pencapaian tahapan Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan Pemerintah Kabupaten Bogor pada umumnya. Laporan ini merupakan wujud transparansi dan akuntabilitas Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sesuai dengan Peraturan Perundangundangan yang berlaku. Sangat disadari bahwa laporan ini belum secara sempurna menyajikan prinsip transparansi akuntabilitas seperti yang diharapkan, namun setidaknya masyarakat dan berbagai pihak yang berkepentingan dapat memperoleh gambaran tentang tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan hasilhasilnya. Berbagai hambatan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor selama tahun 206, sehingga beberapa program / kegiatan belum dapat dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana. Dalam upaya meningkatkan kinerja pada tahun berikutnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor perlu melakukan langkahlangkah untuk mengatasi hambatanhambatan yang terjadi tahun 206, antara lain : Kendala pencapaian kinerja sasaran : a. Masih adanya daerahdaerah yang cukup sulit dijangkau oleh petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan secara rutin karena kondisi geografis dan keterbatasan sarana serta tenaga di puskesmas setempat sehingga beberapa cakupan program kesehatan belum memenuhi target atau harapan. b. Belum tercakupnya seluruh pelaporan dari pelayanan kesehatan swasta menyebabkan pencapaian indikator sasaran belum sepenuhnya menggambarkan kondisi yang sebenarnya, seperti cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, c. Penetapan target khususnya yang berkaitan dengan angka pertumbuhan penduduk tidak sebanding dengan realisasi jumlah penduduk yang ada sehingga pada pencapaian hasilnya terjadi kesenjangan yang cukup besar. Kendala pencapaian kinerja kegiatan : a. Beberapa kegiatan yang tidak terealisasi oleh karena belum terpenuhinya persyaratan/kejelasan tentang kondisi yang mendukung terlaksananya kegiatan tersebut. Tahun 206 58
Upaya pemecahan masalah : a. Meningkatkan pembinaan teknis ke pelayanan kesehatan swasta untuk pelaporan dan mengupayakan adanya surat intruksi dari penentu kebijakan untuk mekanisme sistem pelaporan di sarana pelayanan kesehatan swasta yang dikaitkan dengan insentif kemudahan maupun sanksi bagi pelayanan kesehatan swasta. b. Meningkatkan koordinasi lintas program dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dalam rangka keterpaduan program c. Mereview target dengan perhitungan proyeksi yang lebih tepat diselaraskan dengan pertumbuhan penduduk sehingga memperkecil kesenjangan pencapaian d. Meningkatkan pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan. Semoga Laporan Kinerja ini dapat memberi masukan yang berarti dalam penyusunan Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Bogor tahun 206 secara tepat waktu. Tahun 206 59
Tahun 206 60
. RINGKASAN EKSEKUTIF Laporan Kinerja (LK) merupakan amanat Peraturan Presiden Rebuplik Indonesia Nomor 29 Tahun 204 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah pemerintah kepada masyarakat. LK disusun dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang lebih berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab serta untuk mengetahui kemampuan dalam pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi. Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor adalah Mewujudkan Masyarakat Kabupaten Bogor Yang Mandiri Untuk Hidup Sehat. Penetapan visi ini dimaksud bahwa setiap penduduk mampu berpikir, bersikap dan bertindak secara kreatif dan inovatif dalam mengatasi masalah kesehatan atas kehendak dan dorongan diri sendiri bahkan diharapkan mampu mempengaruhi lingkungan untuk bersikap dan berprilaku hidup sehat. Keterjangkauan dan kemandirian masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan tidak terbatas pada pemanfaatan sarana kesehatan pemerintah saja tetapi juga sarana kesehatan swasta. Pada tahun 206, dari dana APBD Kabupaten Bogor telah ditetapkan anggaran kesehatan sebagai berikut : anggaran pendapatan dari retribusi pelayanan kesehatan sebesar Rp. 4.296.680.000, Anggaran belanja Dinas Kesehatan tahun 206 sebesar Rp. 600.228.46.000, terdiri dari belanja tidak langsung (BTL) sebesar Rp. 20.704.06.000, (20,0%) dan belanja langsung (BL) sebesar Rp. 479.524.400.000, (79,95%) Pada belanja tidak langsung (BTL) terdiri dari belanja pegawai Rp. 20.704.06.000, (00%) sedangkan pada belanja langsung (BL) proporsi terbesar adalah untuk belanja Barang dan Jasa Rp.47.208.7.000,(72,4%) belanja Modal Rp. 0.0.480.000, (2,48 %) kemudian belanja pegawai Rp. 29.284.749.000, (6,%). Dalam APBD termasuk juga anggaran kesehatan yang berasal dari APBD Propinsi/Bantuan Gubernur sebesar Rp. 5.200.460.000, dan APBN (DAK) sebesar Rp. 8.659.582.000,Pencapaian indikator sasaran seperti yang ditetapkan dalam Rencana Strategis dalam rangka mencapai visi dan misi adalah sebagai berikut : Rasio sarana pelayanan kesehatan dasar ; Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per penduduk mencapai : 5.266 dari target :9.247 Rasio Rumah Sakit per penduduk :206.940 dari target :95.59, Prosentase pengadaan obat essensial mencapai 00 % dari target 00 %, cakupan pelayanan kesehatan rujukan masyarakat miskin mencapai 00 % dari target 00 %, cakupan pelayanan kesehatan masyarakat mencapai 70,8 % dari target 68,00 %, Cakupan pengawasan obat dan makanan berbahaya mencapai 00 % dari target 00 %, Prosentase balita gizi buruk mencapai 0.07 % dari target 0.08 %, Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan mencapai 00 % dari target 00 %, Rasio posyandu per Satuan Balita baru mencapai 8,5 % dari target,79 %, Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan baru mencapai 88,0 % dari target 9,25 %, Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani mencapai 78,20 % dari target 8,25 %, Cakupan kunjungan bayi 96,2 % dari target 95,00 %, Cakupan puskesmas 252,50 % dari
target 252,50 %, Cakupan puskesmas pembantu, % dari target 5,02 %, Cakupan UCI mencapai 9,08 % dari target 00,00 %, Rasio dokter per satuan penduduk mencapai :4.989 dari target :869 Rasio tenaga medis per satuan penduduk : 4.259 dari target :.52, Penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA mencapai 97,49 % dari target 82,00 %, Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD mencapai 00 % dari target 00 %, Rumah dengan bebas jentik didaerah endemis mencapai 95,86 % dari target 95,00 %, Prosentase TTU yang memenuhi syarat mencapai 79,0 % dari target 78,72 %, Prosentase TPM yang memenuhi syarat telah mencapai 90,67 % dari target 90,46 %, cakupan Sarana Air Bersih (SAB) yang memenuhi syarat kesehatan mencapai 7,84 % dari target 7,57 %, cakupan Jamban Keluarga (JAGA) yang memenuhi syarat mencapai 72,68 % dari target 7,6 % dan peningkatan Cakupan desa siaga aktif mencapai 6,6 % dari target 85,00 %. Untuk mendukung pencapaian Misi kesatu dan ketiga telah ditetapkan (tiga) sasaran, program dan 78 kegiatan, dengan realisasi pencapaian sasaran sebesar 9,09 % Rincian pencapaian dari 2 (dua) sasaran sebagai berikut :. Sasaran pertama, yaitu Meningkatkan Cakupan Kepesertaan Masyarakat dalam JKN dengan indikator kinerjanya adalah : a. Terpenuhinya kebutuhan obat masyarakat dengan indikator kinerja rosentase pengadaan obat esensial dari target 00 % realisasi pencapaiannya 00 %, sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00 %, hal ini menunjukkan bahwa pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Dibandingkan dengan capaian pada tahun 205 yang juga mencapai 00 % menunjukkan bahwa adanya konsistensi dalam pemenuhan kebutuhan obat esensial dalam rangka pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan standar yang ditentukan. Indikator prosentase pengadaan obat essensial ditunjang oleh Program obat dan perbekalan kesehatan. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten dan DAK + pendamping APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 9.054.200.000, dengan realisasi Rp. 5.624.675.54, (82,00 %) pada program ini ada sisa anggaran dari efisiensi penawaran harga dari E Catalog sebesar Rp..429.524.457, Pogram ini terdiri dari 6 kegiatan yaitu : pengadaan bahan habis pakai laboratorium puskesmas, pengadaan obat pelayanan kesehatan dasar (DAK), pengadaan bahan Medis pakai Habis/BMPH (DAK), pengadaan perlengkapan Bahan Medis Pakai Habis/BMPH pendukung (DAK), rapat kerja program obat dan BMPH dan Penyediaan Sarana Prasarana Instalasi farmasi (DAK). b. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin dari target 00 % realisasi pencapaiannya 00 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 206 yang juga mencapai 00 % hal ini dikarenakan sudah adanya anggaran khusus untuk program pelayanan kesehatan penduduk miskin sehingga rujukan bagi pasien masyarakat miskin terlayani. Indikator cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin ditunjang oleh Program pelayanan kesehatan penduduk miskin. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten dan Bantuan Keuangan Provinsi Jawa Barat tahun 206 sebesar Rp. 7.870.444.000, dengan realisasi Rp. 95.06.86.99, ( 80,65 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan
kegiatan yang tidak diserap sebesar Rp. 22.807.257.007, diantaranya dari kegiatan Pelayanan operasi katarak Rp. 6.507.000, dan Kegiatan Jaminan Kesehatan Pelayanan Daerah Rp. 22.790.680.907, oleh karena jumlah yang dibayarkan sesuai dengan verifikasi yang telah dilaksanakan, bukan berdasarkan klaim dari Rumah Sakit. Program ini terdiri dari 4 kegiatan yaitu : pelayanan operasi katarak, jaminan pelayanan kesehatan daerah (Jamkesda) dan jaminan kesehatan bagi penerima bantuan iuran (Banprop 205) dan jaminan kesehatan bagi penerima bantuan iuran (Banprop 206) c. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan dari target 9,25 % realisasi pencapaiannya sebesar 88,0 % sehingga capaian kinerjanya sebesar 96,45 % meskipun belum mencapai 00 % namun berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian pada tahun 205 sebesar 97,67 % maka terjadi penurunan sebesar,22 %. Belum tercapainya target cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan disebabkan oleh karena masih tingginya persalinan oleh paraji yang dirasakan lebih dekat secara kekeluargaan, dan masih banyak anggapan masyarakat apabila kehamilan tidak berisiko maka pemeriksaan kehamilan dan persalinan tidak perlu tenaga kesehatan. Tingginya minat masyarakat terhadap paraji ini juga ditunjukkan dengan melihat cakupan pemeriksaan ibu pada saat kehamilan dimana cakupannya cukup tinggi yaitu sebesar 99,5 % namun pada saat persalinan, ibu hamil dan keluarganya lebih memilih ditolong oleh paraji, sehingga cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menurun ke angka 88, %. Salah satu upaya yang akan terus dikembangkan adalah kemitraan bidan dengan paraji, dimana paraji tetap membantu dalam tahapan pasca persalinan dan lebih difungsikan pada perawatan ibu dan bayi setelah persalinan, meningkatkan koordinasi dan kemitraan dengan organisasi profesi, pembentukan kelas ibu dan optimalisasi pelaksanaan kelas ibu hamil di desa dan pemberdayaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan keluarganya melalui program perencanaan persalinan daan pencegahan komplikasi (P4K). d. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani dari target 8,25 % realisasi pencapaiannya sebesar 78,20 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 96,25 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 205 yang mencapai 97,6 % maka terjadi penurunan yaitu sebesar,8 %. Pencapaian cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani kurang dari 00 % hal ini karena belum seluruhnya ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan keluarganya mengetahui tentang tanda bahaya atau komplikasi dan segera mendapatkan tindakan/tatalaksana kegawatdaruratan oleh petugas kesehatan, salah satu upaya yang akan dilakukan yaitu pemberdayaan ibu hamil, ibu nifas dan ibu bersalin dan keluarganya melalui program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K). e. Cakupan kunjungan bayi dengan target 95,00 % realisasi pencapaiannya 96,2 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 0,27 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 205 yang sebesar 0,6 % maka terjadi peningkatan sebesar 0, %. Keberhasilan capaian kinerja cakupan kunjungan bayi sebesar 0,27 % oleh karena kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan bayi sudah mengalami peningkatan. Disamping itu petugas kesehatan yang aktif melakukan kunjungan rumah atau melalui kegiatan posyandu dan
kegiatan sweeping posyandu, menunjukan adanya kesadaran para ibu yang mempunyai bayi untuk membawa anaknya ke pelayanan kesehatan. Indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani dan cakupan kunjungan bayi ditunjang oleh Program peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 0.687.059.000, dengan realisasi Rp..977.75.75,(8,5 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 8.709.07.625, Ada kegiatan yg tidak dilaksanakan yaitu kegiatan Jaminan Persalinan (JAMPERSAL) sebesar Rp. 8.642.800.000, oleh karena tidak ada kesesuaian kode rekening untuk transpot masyarakat dari rumah tinggal ke rumah singgah. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten dan DAK tahun 206 sebesar Rp. 0.687.059.000, dengan realisasi Rp..977.75.75,(8,5 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 8.709.07.625, Program ini terdiri dari 0 kegiatan yaitu : Pengiriman peserta bimtek Asuhan Persalinan Normal (APN), peningkatan kemitraan puskesmas PONED dengan Rumah Sakit, pengiriman peserta bimtek Asfixia Bayi Baru Lahir, pengiriman peserta bimtek Pertolongan Persalinan Pertama Gawat Darurat Obsetri & Neonatal (PPGDON), pengiriman peserta bimtek Pelayanan Obsetric dan Neonatal Emergency Dasar (PONED), belanja operasional call center/sms Gatway program EMAS, rapat kerja program peningkatan pelayanan kesehatan ibu, anak dan remaja, Jaminan Persalinan/JAMPERSAL (DAK), pengiriman peserta bimtek Simulasi Deteksi Dini Intervensi Tumbuh Kembang (SDIDTK) dan pengiriman peserta bimtek Manajemen Terpadu Balita Sakit/Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBS/MTBM), Program Peningkatan Kesehatan Lansia. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten Bogor Tahun 206 sebesar Rp. 76.950.000, dengan realisasi sebesar Rp. 75.46.250, (99,57 %), program ini terdiri dari 4 kegiatan : Rapat kerja program peningkatan pelayanan kesehatan, Bimtek Geriatri bagi dokter dan perawat di puskesmas, Gerakan sehat lanjut usia dan Worshop TOT peningkatan kemampuan sumber daya penggerak lansia. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Remaja. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten Bogor Tahun 206 sebesar Rp. 75.47.000, dengan realisasi sebesar Rp. 7.66.800, (98,99 %) efisiensi anggaran dari penawaran harga sebesar Rp..800.200, Program ini terdiri dari 5 kegiatan : Rapat kerja program peningkatan pelayanan kesehatan remaja, peningkatan kemampuan KKR/Peer Konselor, orientasi kesehatan reproduksi remaja pada guru SMP/SMU Pembina KKR, Workshop peningkatan kemampuan pengelola petugas reproduksi remaja dan pelatihan penanganan kekerasan terhadap anak bagi petugas. f. Cakupan puskesmas dengan target 252,50 % realisasi pencapaiannya 252,50 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Keberhasilan capaian kinerja cakupan puskesmas sebesar 00 % bila dibandingkan dengan capaian pada tahun 204 yang juga mencapai 00 % menandakan tidak adanya penambahan jumlah baik jumlah puksesmas maupun kecamatan. g. Cakupan pembantu puskesmas dengan target,57 % realisasi pencapaiannya 5,02 % sehingga realisasi pencapaian kinerjanya sebesar 0,9 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Capaian kinerja cakupan puskesmas pembantu lebih dari 00 % yaitu sebesar 0,9 %, bila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 205 yang sebesar 97,0 % maka terjadi peningkatan,92 %. Hal ini
disebabkan tahun 206 pemerintah Kabupaten Bogor menambah pembangunan jumlah pustu sebanyak 4 pustu sehingga dapat mencapai target yang sudah ditetapkan dan akan berusaha terus dengan meningkatkan pelayanan kesehatan dan mengoptimalkan kegiatan puskesmas keliling (pusling) ke daerahdaerah yang sulit dijangkau/sulit pemenuhan pelayanan kesehatan. h. Cakupan pelayanan kesehatan masyarakat dari target 68,00 % dengan realisasi 70,8 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 04, % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Cakupan pelayanan kesehatan masyarakat dengan capaian kinerja sebesar 04, % hal ini disebabkan karena masyarakat sebagian besar sudah memiliki jaminan kesehatan (BPJS) yang berhak mendapatkan pelayanan pertama di puskesmas, sehingga kunjungan puskesmas meningkat. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 205 yang sebesar 86,7 % maka terjadi peningkatan yaitu sebesar 7,40 %. Karena dengan adanya pelayanan BPJS masyarakat hampir seluruhnya menggunakan faskes pertama di puskesmas sehingga kunjungan faskes pertama puskesmas mengalami peningkatan. Salah satu upaya yang akan dilakukan terus meningkatkan promosi kesehatan di puskesmas dan masyarakat. Dan diharapkan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan mengerti dan paham sehingga datang ke pelayanan kesehatan (puskesmas). Indikator cakupan pelayanan kesehatan kesehatan ditunjang oleh Program upaya kesehatan. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 227.08.948.000,dengan realisasi sebesar Rp. 6.5.950.0, (7,78 %) pada prgram ini ada efisiensi atau kegiatan yang tidak diserap sebesar Rp. 64.076.962.85, diantaranya dari kegiatan biaya penunjang pelayanan kesehatan jaminan kesehatan nasional FKTP di 0 puskesmas oleh karena dana luncuran tahun 205 baru masuk dalam perubahan reguler (bulan November) sehingga waktu sangat terbatas untuk merealisasikan kegiatan. Program ini terdiri dari 249 kegiatan yaitu : Operasional di UPT Puskesmas dan jaringannya sebanyak 40 UPT Puskesmas, Operasional UPT Kesja dan jaringannya (BKKM), Operasional UPT Labkesda, Rapat kerja program upaya kesehatan masyarakat, pelayanan kesehatan dalam rangka PK dan pengiriman peserta Bimbingan tehnis PPGD, pelayanan kesehatan jaminan kesehatan nasional FKTP di 0 puskesmas, dukungan manajemen penyelenggaraan pelayanan kesehatan pada puskesmas (DAK) dan pelayanan kesehatan masyarakat dan dukungan manajemen di 0 puskesmas. Cakupan pengawasan terhadap obat dan makanan berbahaya dari target 00 % dengan realisasi 00,0 % maka pencapaian kinerjanya sebesar 00,0 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan tahun 205 maka tidak terjadi baik peningkatan maupun penurunan, oleh karena adanya sistem yang baik dalam pengadministrasian Apotik, IRTP dan Toko Obat sudah mulai tertib maka pembinaan yang dilaksanakan sesuai dengan target yang telah ditentukan sehingga capaian kinerja tidak melebihi dari target. Indikator cakupan pengawasan obat dan makanan berbahaya ditunjang oleh Program pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 40.789.000, dengan realisasi Rp. 40.784.500, (00 %) pada program ini ada efisiensi anggaran
sebesar Rp. 4.500, kegiatan ini terdiri dari 2 kegiatan yaitu : kegiatan pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan hasil produksi rumah tangga dan penyuluhan keamanan pangan dalam rangka produk sertifikasi produk pangan (SPPIRT). 2. Sasaran kedua, yaitu : Meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta PHBS dengan indikator kinerjanya adalah : a. Prosentase balita gizi buruk dari target 0,08 % terealisasi 0,07 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 05,56 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan tahun 205, dimana prosentase pencapaian balita gizi buruk mencapai 0,09 % dengan capaian kinerja 00 % maka telah terjadi peningkatan sebesar 5,56 %. Bila dilihat dari target maka dikarenakan adanya kenaikan target dari 0.09 % menjadi 0,08 %. Akan tetapi hal ini dimungkinkan bila melihat cakupan keluarga yang telah sadar gizi (Kadarzi) dimana hal tersebut menunjukan adanya peningkatan kesadaran keluarga dalam memenuhi kebutuhan makanan bergizi terutama untuk balitanya. Disamping itu dengan adanya program dan kegiatan pemberian PMT bagi balita gizi buruk sehingga kasus balita gizi buruk mengalami penurunan. b. Prosentase balita gizi buruk mendapat perawatan dari target 00 % terealisasi 00 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan tahun 205, yang juga mencapai 00 %. Hal ini menunjukan adanya penanganan balita gizi buruk secara komprehensip melalui pengembangan pelayanan rujukan ke klinik gizi di puskesmas maupun Litbang gizi serta ke Rumah Sakit disamping pelaksanaan pemantauan secara terus menerus baik dalam proses penanganan kasus maupun pasca penanganan dan adanya program pemberian PMT bagi balita. c. Rasio posyandu per satuan balita dari target,79 % terealisasi 8,5 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 72,5 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori cukup. Capaian kinerja rasio posyandu per satuan balita belum mencapai 00 % hal ini disebabkan karena jumlah posyandu yang sedikit sehingga tidak sebanding dengan pertambahan jumlah balita di Kabupaten Bogor. Bila dibandingkan dengan tahun 205, maka terjadi penurunan capaian sebesar 4,00 %. Salah satu upaya yang akan dilakukan menggerakan masyarakat untuk dapat berperan aktif dalam Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang ada di desanya, seperti ikut serta dalam kegiatan posyandu. Indikator prosentase balita gizi buruk, cakupan balita gizi buruk yang mendapat perawatan dan Rasio posyandu per satuan balita ditunjang oleh Program perbaikan gizi masyarakat, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten dan Bantuan Keuangan Propinsi Jawa Barat tahun 206 sebesar Rp. 4.765.909.000, dengan realisasi Rp. 6.764.670.400, (99,97 %) pada program ini ada efisiensi anggaran dari penawaran harga sebesar Rp. 8.600,program ini terdiri dari 6 kegiatan yaitu : kegiatan pengadaan makanan tambahan dan vitamin, rapat kerja program perbaikan gizi masyarakat, penanggulangan balita gizi buruk dan balita kurang gizi (Banprop 205), pengiriman bimtek tatalaksana Balita Gizi Buruk, pengiriman bimtek konselor menyusui dan pengiriman bimtek pemantauan pertumbuhan. d. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA dari target 82,00 % dengan realisasi 97,49 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar
8,89 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Target penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA nasional adalah masih sebesar 80,0 %, bila dibandingkan dengan target tersebut pencapaian Kabupaten Bogor telah melampaui target nasional sedangkan bila dibandingkan dengan capaian tahun 205 yang sebesar 0,96 % artinya capaian tidak ada kenaikan. Hal ini disebabkan karena sebagian besar sarana kesehatan terutama Rumah Sakit Swasta, Balai Pengobatan/Klinik Swasta, dokter praktek ikut dalam pelaksanaan program P2TB dengan menggunakan strategi DOTS, maka pasien yg berobat tercatat seluruhnya dan sistem pencacatan dan pelaporan program TB berubah dari sistem manual menjadi komputerisasi sehingga datadata dapat terlaporkan. e. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD dari target 00 % realisasi capaiannya 00 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Keberhasilan pencapaian kinerja 00 % ini oleh karena DBD merupakan salah satu penyakit yang diamati dan dapat menimbulkan wabah sehingga sistem kewaspadaan dini (SKD) telah dilakukan dengan baik, selain itu penaganan kasus DBD sudah memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang jelas sehingga bila ditemukan kasus secara langsung dapat ditangani mulai dari pelacakan kasus, pengamatan, penyemprotan titik dimana kasus ditemukan sampai dengan rujukan ke Rumah Sakit, sehingga semua kasus dapat ditangani. f. Peningkatan cakupan universal child imunization (UCI) desa/kelurahan dari target 00 % dengan realisasi 9,08 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 90,78 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 205 dimana pencapaiannya sebesar 92,40 % maka ada peningkatan sebesar 0,68 %. Capaian UCI belum mencapai 00 % hal ini disebabkan oleh karena masih adanya orangtua/sekelompok masyarakat yang menolak dengan alasan kehalalan vaksin, disamping itu juga dengan ditemukannya kasus KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) diwilayah Kabupaten Bogor, masyarakat menjadi resah dan enggan untuk mendapatkan imunisasi lengkap. Namun bila dibandingkan dengan target cakupan UCI Nasional maupun Propinsi sebenarnya hanya 80,00 % sehingga capaian kita telah melebihi target Nasional dan Propinsi. Salah satu upaya yang akan dilakukan yaitu meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi dan dampak ikutan dari kasus imunisasi sehingga masyarakat lebih tenang untuk mendapatkan imunisasi lengkap. Indikator cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA, cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD, cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) ditunjang oleh Program Pencengahan dan Penanggulangan Penyakit Menular, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 2.684.775.000, dengan realisasi Rp. 2.486.78.458, (92,6 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 98.96.542, Program ini terdiri dari 2 kegiatan yaitu : penyemprotan/fogging sarang nyamuk, peningkatan survailance epidemiologi dan penanggulangan wabah, pemeriksaan calon jemaah haji, fasilitasi pelaksanaan kegiatan program P2TB, penatalaksanaan dan penanggulangan penyakit Diare Ispa, pelaksanaan penanggulangan penyakit Kusta, pencegahan dan penanggulangan penyakit menular seksual (HIV/AIDS), survailans acut flaccid paralisys (AFP), pelayanan imunisasi, rapat kerja
program pencegahan pemberantasan penyakit serta survailance epidemiologi, Pemberian obat masal pencegahan (POMP) Filariasis dan pengiriman peserta bimtek tekhnis VCT HIV. g. Rumah dengan bebas jentik di daerah endemis, dari target 95,00 % realisasi pencapaiannya 95,86 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00,9 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 205 yaitu sebesar 00,06 % maka capaian kinerja tahun 206 mengalami peningkatan sebesar 0,85 %. dikarenakan meningkatnya peran serta aktif dan kesadaran masyarakat dalam melaksanakan kegiatan pemeriksaan jentik secara berkala (PJB) khususnya di daerah yang endemis sehingga akan dapat memutuskan mata rantai pembiakan nyamuk dan mencegah penyebaran penyakit secara lebih luas. h. Cakupan TTU yang memenuhi syarat dari target 78,72 % dengan realisasi 79,0 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00,9 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 205 sebesar 00,05 % maka capaian kinerja tahun 205 maka capaian kinerja mengalami peningkatan sebesar 0,4 %. Keberhasilan meningkatnya capaian kinerja dikarenakan meningkatnya pembinaan petugas kepada masyarakat khususnya penanggung jawab tempattempat umum disamping itu juga meningkatnya kesadaran masyarakat sendiri akan pentingnya sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. i. Cakupan TPM yang memenuhi syarat dari target 90,46 % dengan realisasi 90,67 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00,2 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 205 sebesar 00,2 % maka capaian kinerja mengalami peningkatan sebesar 0,02 %. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat khususnya pemilik/penanggung jawab tempat pengelolaan makanan telah memahami, sadar dan sukarela memenuhi persyaratan kesehatan yang telah ditentukan dalam mengelola jasa pengelolaan makanannya. j. Cakupan Inspeksi Sanitasi untuk peningkatan sarana air bersih (SAB) yang memenuhi syarat kesehatan dari target 7,57 % dengan realisasi 7,84 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 00,8 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian realisasi pada tahun 205 yaitu sebesar 00,8 % maka capaian realisasi tahun 206 mengalami peningkatan yaitu sebesar 0,2 %. k. Cakupan Inspeksi Sanitasi untuk peningkatan Jamban Keluarga (JAGA) dari target 7,6 % dengan realisasi 72,68 % sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 0,47 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Jika dibandingkan dengan capaian kinerja pada tahun 205 yaitu sebesar 02,7 % maka capaian tahun 206 mengalami penurunan yaitu sebesar 0,7 %. Cakupan Inspeksi Sanitasi Jamban Keluarga (JAGA) dengan capaian kinerja lebih dari 00 %. Cakupan Inspeksi Sanitasi untuk peningkatan sarana air bersih (SAB) dan Cakupan Inspeksi Sanitasi Jamban Keluarga (JAGA) dengan capaian kinerja lebih dari 00 %, dikarenakan keberhasilan petugas dalam pembinaan kepada masyarakat akan pentingnya penyediaan sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Selain itu adanya koordinasi dengan SKPD yang terkait dalam
pembangunan rumah sehat / layak huni yang juga meningkatkan jumlah sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Indikator cakupan rumah dengan bebas jentik, prosentase TTU yang memenuhi syarat, prosentase TPM yang memenuhi syarat, cakupan JAGA yang memenuhi syarat dan cakupan SAB yang memenuhi syarat ditunjang oleh Program pengembangan lingkungan sehat, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 552.879.000, dengan realisasi Rp. 578.400, (92,48 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 4.600.600, program ini terdidiri dari 4 kegiatan yaitu : pengawasan hygiene sanitasi tempattempet umum, sanitasi total berbasis masyarakat (STBM), pengawasan hygiene dan sanitasi tempat pengelolaan makanan dan rapat kerja program pengembangan lingkungan sehat. Peningkatan cakupan desa siaga aktif, dari target yang ditetapkan yaitu 85,00 % terealisasi 67,97 % (295 desa siaga) sehingga capaiannya 79,96 %. Bila dibandingkan dengan tahun 205 dimana capaiannya 79,20 % mengalami peningkatan sebesar 0,76 % (dari 275 desa siaga menjadi 295 desa siaga) di Kabupaten Bogor. Penetapan target desa siaga memang dilakukan secara bertahap mengingat proses pelaksanaannya tidak hanya dari Dinas Kesehatan saja namun melibatkan sektor lain dan peran serta aktif masyarakat sendiri. Pencapaian kinerja mencapai 79,96 % menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah tetap berkomitmen dengan adanya kebijakan Kementrian Kesehatan bahwa seluruh desa harus melaksanakan program desa siaga meskipun secara bertahap dan untuk Kabupaten Bogor menjadi salah satu indikator kinerja yang tertuang di dalam RPJMD. Indikator cakupan desa siaga aktif ditunjang oleh Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 2.750.67.000, dengan realisasi Rp. 2.57.727.60, (92,26 %) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 22.889.640, Program ini terdiri dari 7 kegiatan yaitu : penyediaan media penyuluhan kesehatan, penyuluhan kesehatan, peningkatan kesehatan Lintas Sektor dan UKBM, rapat kerja bidang promosi dan SDK, peringatan hari kesehatan nasional (HKN), pengadaan set promosi kesehatan (DAK) dan penyusunan peraturan Bupati tentang Implementasi Perda KTR.. Sasaran ketiga, yaitu : Meningkatkan Puskesmas Terakreditasi dan mempersiap kan puskesmas BLUD dengan indikator kinerjanya adalah : a. Rasio rumah sakit per satuan penduduk target : 95.59 realisasi pencapaiannya : 206.940 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 62,0 %, maka pencapaiannnya termasuk dalam katagori kurang. Akan tetapi jika target 206 dibandingkan dengan target tahun 205 Rasio rumah sakit per satuan penduduk : 205.948 maka target Rasio rumah sakit per satuan penduduk mengalami peningkatan artinya bila pada tahun 205, satu rumah sakit dapat melayani penduduk sebanyak 205.948 jiwa maka pada tahun 206 satu rumah sakit melayani 95.59 jiwa. b. Rasio dokter per satuan penduduk dari target :.788 dengan realisasi :.869 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 97,86 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Pencapaian kurang dari 00 % oleh karena tidak sebandingnya jumlah dokter di Kabupaten Bogor dengan pertambahan jumlah penduduk yang meningkat setiap tahunnya, salah satu upaya yang akan dilakukan dengan menambah jumlah tenaga dokter di puskesmas.
c. Rasio tenaga medis per satuan penduduk dari target : 2.576 dengan realisasi :.52 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 69,88 % berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori cukup. Pencapaian kurang dari 00 % oleh karena tidak sebandingnya jumlah tenaga medis di Kabupaten Bogor dengan pertambahan jumlah penduduk yang meningkat setiap tahunnya dan dibarengi dengan adanya kebijakan Moratorium CPNS 205209 MenPan mengkaji tentang Moratorium (penghentian) perekrutan CPNS selama 5 tahun kedepan sehingga tidak ada penambahan pegawai. Indikator Rasio dokter per satuan penduduk dan Rasio tenaga medis per satuan penduduk ditunjang oleh Program pelayanan administrasi perkantoran yang terdiri dari kegiatan yaitu : penyediaan jasa tenaga pendukung administrasi/teknis perkantoran dan Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 85.828.000, dengan realisasi Rp. 80.40.500, ( 97,08 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 5.424.500, Program ini terdiri dari 2 kegiatan yaitu : pembinaan mental dan rohani bagi aparatur dan penilaian angka kredit tenaga fungsional kesehatan. d. Rasio puskesmas, poliklinik, puskesmas pembantu per satuan penduduk dari target : 9.247 dengan realisasi : 5.266 sehingga pencapaian kinerjanya sebesar 4,9 %. Berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori sangat kurang. Bila dibandingkan dengan target tahun 205 ada peningkatan dari target dari : 9.94 menjadi : 9.247, akan tetapi pencapaian mengalami penurunan sebesar 7,69 % jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 205 yaitu sebesar 52,60 %. Oleh karena Balai Pengobatan yang masa berlakunya sampai dengan tahun 205 belum memperpanjang menjadi ijin Klinik yang harus berdasarkan Permenkes Nomor 9 Tahun 204 sehingga capaian menjadi turun, upaya yang kan dilakukan yaitu monitoring dan evaluasi ke klinikklinik yang belum memperpanjang masa berlakunya. Indikator cakupan puskesmas, cakupan puskesmas pembantu dan rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk ditunjang oleh program pengadaan peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/puskesmas pembantu dan jaringannya. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 52.52.277.000, dengan realisasi Rp. 46.7.984.540, ( 87,8 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan anggaran tidak diserap sebesar Rp. 6.94.292.460,diantaranya dari kegiatan pengadaan puskesmas keliling (DAK) pengadaan pusling double garden tidak direalisasikan oleh karena tidak ada dalam e catalog kemudian diadakan pengadaan langsung akan tetapi tidak cukup waktu, pengadaan alatalat kedokteran puskesmas (DAK), pengadaan Generator (DAK) dan revitalisasi pagar pustu pasir jambu. Program ini terdiri dari 6 kegiatan yaitu : pengadaan puskesmas keliling (DAK), pengadaan ambulance (DAK), pengadaan alatalat kedokteran puskesmas (DAK), pengadaan alatalat laboratorium puskesmas (DAK), pengadaan lemari Es Vaksin puskesmas (DAK), pengadaan PTM Kit di puskesmas (DAK), pengadaan generator (DAK), pengadaan peralatan sistem informasi kesehatan di puskesmas (DAK), pengadaan meubelair puskesmas, pengadaan alatalat kedokteran pukesmas, pembangunan puskesmas pembantu sebanyak 4 buah (batok, Sukaresmi, sindang reret dan ciasihan), revitalisasi pagar pustu pasir jambu, revitalisasi/rehab puskesmas sebanyak
0 buah ( Puskesmas ragajaya, lebakwangi, gandoang, rancabungur, cirimekar, balekambang dan banjarsari, Kiarapandak, ciseeng, pamijahan), revitalisasi/rehab pustu sebanyak 5 buah (Bojong kulur, kelurahan tengah, mampir, cadas ngampar dan cibunian) pemagaran puskesmas/pustu sebanyak 4 puskesmas (pasir angin, sukajaya, Bojong Nangka dan sukamakmur), penataan halaman parkir puskesmas Tanjungsari, pemasangan turap penahan tanah pustu Harapan Jaya, pembangunan ruang practical to Lunch dan ruang Unit Gawat Darurat pusk Cibeuteung Udik, penataan area parkir pustu pasir angin, pemasangan turap puskesmas cilebut, pengadaan lemari es vaksin puskesmas, pengurusan surat ijin operasional puskesmas, pembangunan halaman puskesmas ciangsana, pembangunan puskesmas jasinga, pembangunan turap puskesmas tajur, rehabilitasi puskesmas DTP Parung dan pembangunan instalasi pegolahan air limbah UPT sebanyak 6 puskesmas (jasinga, cigudeg, citeureup, ciampea, sukaraja, parung, parung panjang, jonggol, cigombong, cileungsi, ciawi, bantarjaya, karadenan, leuwiliang, Sentul dan dramaga). Untuk mendukung Misi 2 telah ditetapkan (tiga) sasaran, 4 program dan 9 kegiatan, dengan realisasi pencapaian sasaran sebesar 00,0 %. Rincian pencapaian dari (tiga) sasaran sebagai berikut : ) Sasaran pertama, meningkatnya kelancaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi masingmasing dengan indikator kinerja terwujudnya kelancaran pelayanan administrasi perkantoran dengan target 00 % tercapai 00 % dan terwujudnya kecepatan, kenyamanan dan keamanan kerja aparatur dengan target 00 % tercapai 00 %, berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan penunjang adminsitrasi perkantoran telah dilaksanakan sesuai dengan rencana. Indikator terwujudnya kelancaran pelayanan administrasi perkantoran ditunjang oleh Program pelayanan administrasi perkantoran. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 9.662.850.000, dengan realisasi Rp. 9.27.6.69, ( 98,02 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 89.686.07, dari penawaran harga lelang. Program ini terdiri dari 5 kegiatan yaitu, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa pemeliharaan dan perijinan kendaraan dinas/operasional, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundanganundangan, penyediaan bahan logistik kantor, penyediaan makanan dan minuman, rapatrapat koordinasi dan konsultasi ke dalam dan luar daerah, penyediaan jasa tenaga pendukung administrasi perkantoran, pelayanan dokumentasi dan arsip SKPD, penyediaan pelayanan administrasi kepegawaian, pelayanan administrasi barang dan pelayanan keamanan kantor. Indikator terwujudnya kecepatan, kenyamanan dan keamanan kerja aparatur ditunjang oleh Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp..5.998.000,dengan realisasi Rp. 2.728.590.04, ( 86,5 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran dan anggaran sebesar Rp. 425.407.696, diantaranya dari kegiatan rehabilitasi rumah dinas puskesmas Sukadamai oleh karena ditinggal pihak ke tiga. Program kegitan ini terdiri dari 4 kegiatan yaitu : pengadaan meubelair, pengadaan peralatan kantor, pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasinal, pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor, reitalisasi rumah dinas Puskesmas
Ciasmara, rehabilitasi rumah dinas Puskesmas Dago, Karadenan, Tenjo, Sukadamai dan Cirimekar, pemasangan partisi dan peralatan interior kantor dinas, penyediaan kendaraan bermotor dinas (DAK) dan penyediaan peralatan kantor (DAK). 2) Sasaran kedua, meningkatnya jumlah dan kualitas sumber daya kesehatan dengan indikator kinerjanya terwujudnya peningkatan kapasitas dan kinerja sumber daya aparatur dengan target 00 % pencapaiannya 00 %. Pencapaian tersebut dikontribusikan dengan adanya penambahan sarana mobilitas darat, sarana kerja dan pemeliharaan sarana kerja. Indikator terwujudnya peningkatan kapasitas dan kinerja sumber daya aparatur ditunjang oleh Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 85.828.000, dengan realisasi Rp. 80.40.500, ( 97,08 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 5.424.500, Program ini terdidiri dari 2 kegiatan yaitu : pembinaan mental dan rohani bagi aparatur dan penilaian angka kredit tenaga fungsional kesehatan. ). Sasaran ketiga, terwujudnya pertanggungjawaban kinerja dan keuangan SKPD dengan indikator kinerjanya tersusunnya perencanaan dan laporan yang akuntabel dengan target kinerja 00 % dan pencapaian 00 %, berdasarkan standar yang dipakai maka pencapaiannya termasuk dalam katagori baik. Indikakator tersusunya perencanaan dan laporan yang akuntabel ditunjang oleh Program peningkatan pengembangan sistem capaian kinerja dan keuangan, Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 899.29.000, dengan realisasi Rp. 845.097.625, ( 9,98 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 54.2.75, program kegiatan ini terdiri dari 8 kegiatan yaitu : penyusunan laporan capaian kinerja dan ihktisar realisasi kinerja SKPD, penyusunan laporan keuangan semesteran, penyusunan laporan keuangan akhir tahun, penyusunan perencanaan anggaran, penatausahaan keauangan SKPD, publikasi kinerja dan penyusunan renja SKPD. Program pengadaan standarisasi pelayanan kesehatan. Program ini dibiayai dari APBD Kabupaten tahun 206 sebesar Rp. 6.522.24.000, dengan realisasi Rp. 5.8.020.275, ( 95,8 % ) pada program ini ada efisiensi anggaran sebesar Rp. 689.220.725, diantaranya dari kegiatan persiapan penerapan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum daerah (PPKBLUD) puskesmas. Program ini terdiri dari 8 kegiatan yaitu : monitoring, evaluasi dan pelaporan, penyusunan dan pengembangan data kesehatan, pembinaan sarana institusi swasta, jasa pelayanan kesehatan, rapat koordinasi evaluasi dan perencanaan program, akreditasi puskesmas, persiapan penerapan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dan seleksi dan pembinaan tenaga kesehatan teladan. LK Dinas Kesehatan disusun sebagai perwujudan pertanggungjawaban pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dalam mencapai visi, misi dan tujuan yang ditetapkan dengan berbagai kendala dan permasalahan yang dihadapi perlu dukungan dan pertisipasi masyarkat serta stakeholder terkait dalam mewujudkan keberhasilan pembangunan kesehatan di Kabupaten Bogor.