BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 2001 pasar pelumas di Indonesia telah terbuka dengan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan bisnis dan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan-i 2015

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Dari tiga belas faktor yang diteliti ada dua belas (panah biru) faktor saling

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

Assalamu alaikum Wr.Wb., Salam sejahtera bagi kita semua,

RINGKASAN EKSEKUTIF KAJIAN PENGEMBANGAN KILANG INDONESIA KEDEPAN

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA PERESMIAN PROYEK DAN PRODUK BARU PERTAMINA JUMAT, 11 DESEMBER 2015

BAB I PENDAHULUAN. membuka peluang bagi pihak lain diluar Pertamina untuk mendistribusikan

I. PENDAHULUAN. diarahkan pada berkembangnya pertanian yang maju, efisien dan tangguh.

1.1. Latar Belakang. dengan laju pertumbuhan sektor lainnya. Dengan menggunakan harga konstan 1973, dalam periode

BAB I PENDAHULUAN. (subsidiary) dari PT. Pertamina (Persero). Ada dua sektor yang menjadi target

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam mendorong pembangunan ekonomi nasional, salah satu alat dan

RINGKASAN EKSEKUTIF AS AT SUPRIYANTO.

JAMBI AGRO INDUSTRIAL PARK

BAB I PENDAHULUAN. sektor properti dan infrastruktur, dengan pertumbuhan Compound Annual

BAB 1 PENDAHULUAN. Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi menyebabkan hilangnya batas-batas suatu negara untuk saling

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Tingkat persaingan dunia usaha di Indonesia sangat ketat karena setiap

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI 2011

BAB 1 PENDAHULUAN. seperti buku, block note, buku hard cover, writing letter pad, dan lainnya. Industri

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS

PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA BULAN SEPTEMBER 2005

BAB I PENDAHULUAN. Badan Pusat Statistik, mencapai 6,23%. Meskipun turun dibandingkan pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Peran ekspor non migas sebagai penggerak roda perekonomian. komoditas perkebunan yang mempunyai peran cukup besar dalam

I. PENDAHULUAN. yang prospektif. Komoditas karet alam memiliki berbagai macam kegunaan

PROVINSI JAWA BARAT JUNI 2017

BAB I PENDAHULUAN. terakhir, produksi kaca lembaran di seluruh dunia meningkat tajam. Berdasarkan hasil

BAB I PENDAHULUAN. dengan prinsip dasar pemasaran yang berorientasi kepada pelanggannya,

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi industri otomotif di benua Eropa sejak tahun 2009 mengalami

BAB I PENDAHULUAN. yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, sabuk

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian

Prediksi Lifting Minyak 811 ribu BPH

1 Universitas Indonesia Analisis understanding..., Ratu Kania Puspakusumah, FE UI, 2009.

BAB I PENDAHULUAN. Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian

Harga Minyak Mentah Dunia 1. PENDAHULUAN

10Pilihan Stategi Industrialisasi

BAB 1 PENDAHULUAN. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN

BAB I PENDAHULUAN. sebagian besar berasal dari sektor agraris. Utomo (2010) menjelaskan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Inti dari adanya MEA adalah untuk

V. KERAGAAN INDUSTRI GULA INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. pada 2020 dan berdasarkan data forecasting World Bank diperlukan lahan seluas

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap

BAB I PENDAHULUAN. Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, yaitu sekitar 14,43% pada tahun

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA MEI 2011

... Hubungi Kami : Studi Potensi Bisnis dan Pelaku Utama Industri GULA di Indonesia, Mohon Kirimkan. eksemplar. Posisi : Nama (Mr/Mrs/Ms)

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini dunia bisnis memasuki perekonomian global yang cepat berubah.

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SULAWESI TENGAH

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN Pada Acara SEMINAR DAMPAK PENURUNAN HARGA MINYAK BUMI TERHADAP INDUSTRI PETROKIMIA 2015 Jakarta, 5 Maret 2014

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SULAWESI TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan pembangunan di segala bidang, baik fisik dan non-fisik. Salah satu

1 UNIVERSITAS INDONESIA Rancangan strategi..., R. Agung Wijono, FT UI, 2010.

I. PENDAHULUAN. Komoditas kelapa sawit merupakan komoditas penting di Malaysia

I. Pendahuluan. Menghadapi AFTA tahun 2003 dunia agribisnis Indonesia, menurut ramalan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sektor industri yang dipandang strategis adalah industri manufaktur.

PROVINSI JAWA BARAT MARET 2017

PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT OKTOBER 2015

I. PENDAHULUAN. alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SULAWESI TENGAH

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perkembangan Produksi CPO di Indonesia

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA MARET 2008

I. PENDAHULUAN. ditujukan kepada pengembangan industri yang berbasis pertanian dan

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA BULAN MEI 2004

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun

BAB I PENDAHULUAN. sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1 of 5 21/12/ :45

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis data di atas, kesimpulan dari analisis strategi yang

STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI HILIR KARET ALAM DI PROVINSI RIAU

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG PENYEDIAAN DAN PELAYANAN PELUMAS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SULAWESI TENGAH

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. membaik dibandingkan tahun-tahun saat krisis ekonomi melanda bangsa

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Boks 1. Dampak Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit di Provinsi Riau : Preliminary Study IRIO Model

IMPLIKASI KEBIJAKAN BAGI PENGEMBANGAN INDUSTRI SAWIT INDONESIA. Indonesia menetapkan kebijakan pada industri kelapa sawit dan

BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi bukanlah merupakan hal yang baru bagi kita. Globalisasi

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan energi, terutama energi fosil dalam hal ini minyak bumi. Kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. menuntut produsen BBM untuk menyediakan BBM ramah lingkungan. Produk

Menteri Perindustrian Republik Indonesia PENGARAHAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA FORUM DIALOG DENGAN PIMPINAN REDAKSI JAKARTA, 30 JUNI 2015

BPS PROVINSI JAWA BARAT

I. PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan adalah meningkatkan

I. PENDAHULUAN. penyumbang devisa, kakao (Theobroma cacao) juga merupakan salah satu

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia Implementasi kebijakan..., Nursantiyah, FISIP UI, 2009

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sejak tahun 2001 pasar pelumas di Indonesia telah terbuka dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden RI No. 21/2001. Mulai saat itu badan usaha selain Pertamina dapat membuka usaha untuk memasarkan pelumasnya di Indonesia. Importir pelumas hanya dikenakan pajak impor sampai dengan 5% sejak pemberlakuan deregulasi pelumas ini. Pajak impor pelumas jadi dalam kemasan adalah sebesar 30% sebelum adanya deregulasi ini. Besarnya pajak impor ini telah membatasi pemegang merek lain terutama pemegang merek pelumas internasional untuk dapat bersaing di pasar pelumas di Indonesia. Pelumas Total mulai masuk ke pasar Indonesia sejak tahun 2003 melalui PT Total Oil Indonesia. Perusahaan Total Oil Indonesia merupakan investasi penuh dari Total SA dari Perancis. Perusahaan ini memulai memasarkan pelumas di Indonesia di tahun 2003 dan diikuti dengan pemasaran bahan bakar dan turunan produk minyak bumi lainnya sejak tahun 2007. Pemasaran pelumas Total di Indonesia mencakup hampir semua sektor bisnis, meliputi sektor industri dan sektor otomotif kecuali sektor penerbangan. Meskipun tergolong pelaku bisnis baru di pasar pelumas di Indonesia, bisnis pelumas Total berkembang sangat pesat sehingga pada tahun 2011 Total telah menempati peringkat keenam sebagai pemasok pelumas di Indonesia. Setelah delapan tahun beroperasi di Indonesia pangsa pasar Total pada tahun 2011 adalah sekitar 2.9% (PFC Energy 2012). Total bisnis pelumas Total di 1

tahun 2011 lebih dari 400 milyar Rupiah atau sekitar 56% dari total pendapatan seluruh bisnis, dengan keuntungan lebih dari 20%. Karyawan di divisi pelumas berjumlah sekitar 74 orang dari keseluruhan karyawan sekitar 93 orang di tahun 2012 (Total Report 2012). Selama kurun waktu lima tahun, sejak tahun 2008 sampai 2010 volume penjualan meningkat rata-rata sebesar 21% per tahun, dengan total keuntungan meningkat sebesar 42% per tahun. Tren ini tidak berlanjut dengan baik dikarenakan adanya penurunan unit margin sebesar 8% - 10% sejak tahun 2010 dan juga terjadi penurunan volume penjualan sekitar 6% di tahun 2012 dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Total Report 2012). Pelumas Total yang dipasarkan di Indonesia berasal dari dua sumber yaitu berasal dari pabrik pelumas yang dipunyai pihak ke tiga dengan volume kontribusi sebesar 70% dari total volume penjualan. Sisanya sekitar 30% diimpor dari afíliasi Total yang lain di seluruh dunia. Mayoritas produk yang diimpor sekitar 80 90% adalah dari Total Asia Pacific di Singapura (Total Report 2012). Pembuatan pelumas di pabrik pelumas lokal ini membuat Total sangat tergantung pada pabrik pelumas tersebut yang berimplikasi terhadap biaya produksi yang tinggi dan terus meningkat. Sebagian besar pabrik pelumas di Indonesia mempunyai standard yang kurang memadahi tidak sesuai dengan stadar pabrik pelumas terbaru, termasuk stadar kualitas dan HSE yaitu standar kesehatan, keamanan dan lingkungan. Pada saat ini Total menggunakan dua pabrik pelumas yang berlokasi di Jawa Barat dan Jawa Timur. Pabrik pelumas yang berada di Jawa Barat ditujukan 2

untuk memenuhi permintaan pelumas di daerah Jawa Barat, Jabodetabek dan Sumatera, sedangkan pabrik pelumas di Jawa Timur ditujukan untuk memenuhi permintaan pelumas daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan, Sulawesi dan wilayah timur lainnya. Pasar pelumas di Indonesia bisa digolongkan sebagai pasar yang bersifat oligopoli ditandai hanya dengan dominasi 5 merek saja dengan total pangsa pasar di atas 88 % diantara lebih dari 200 pelaku bisnis pelumas dari berbagai merek. Pertamina sebagai pemimpin pasar pada tahun 2011 mempunyai pangsa pasar sekitar 61.5% disusul oleh Shell 9.7%, BP 6.3%, Idemitsu 6.0% dan Top1 4.8% seperti terlihat pada Tabel I.1. (PFC Energy 2012). Tabel I.1: Pangsa pasar Perusahaan Pelumas di Indonesia Nama Perusahaan Perkiraan Penjualan % Pangsa Pasar (ribu ton/tahun) 100% 620 Pertamina 61.5% 381 Shell 9.7% 60 BP 6.3% 39 Idemitsu 6.0% 37 Top 1 4.8% 30 TOTAL 2.9% 18 Chevron 2.3% 14 WGI (Evalube) 1.9% 12 JX Nippon Oil & Energy 1.2% 7 Sumber: PFC Energy 2012 Perkembangan pasar pelumas di Indonesia sangat baik didukung dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di atas 6% dari tahun 2010 2012. Besarnya permintaan pelumas ini juga didukung besarnya jumlah dan 3

pertumbuhan kendaraan yang beroperasi di Indonesia yaitu sekitar 97.8 juta kendaraan. (PFC Energy 2012). Kebutuhan pelumas untuk semua sektor di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 620 ribu ton, dengan pertumbuhan permintaan sebesar 5.8% dari tahun ketahun. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai pasar pelumas terbesar di Asia Tenggara melewati Thailand dan Malaysia. Proyeksi pertumbuhan pada lima tahun ke depan sekitar 2.9% per tahun, sehingga potensi pemakaian pelumas menjadi sekitar 716 ribu ton ditahun 2016. Kontribusi dari pertumbuhan ini yang terbesar adalah dari sektor transport atau otomotif (PFC Energy 2012). Pada tahun 2011 kapasitas produksi bahan dasar pelumas di Indonesia adalah sekitar 790 ribu ton per tahun. Diperingkat negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia merupakan penghasil bahan baku terbesar ke dua setelah Singapura. Singapura menghasilkan bahan dasar pelumas sebesar 2 juta ton pertahun sedangkan Thailand masih berada di bawah Indonesia dengan hanya menghasilkan bahan dasar pelumas 600 ribu ton per tahun. Bahan dasar pelumas di Indonesia dihasilkan dari dua pabrik penyulingan minyak, yaitu satu pabrik yaitu 430 ribu ton per tahun dari Cilacap (Jawa Tengah) dengan jenis bahan dasar pelumas Grup I (mineral) dan 360 ribu ton per tahun yang merupakan bahan dasar pelumas Grup II (semi sintetis) yang dihasilkan dari Dumai, Sumatera. Disamping menghasilkan bahan dasar pelumas dari minyak bumi, Indonesia juga memiliki dua tempat untuk pemrosesan pelumas bekas atau biasa disebut re-refinery yang dimiliki oleh swasta, dengan kapasitas 60 ribu ton per tahun yang berlokasi di daerah Jakarta dan Jawa Timur. Total kapasitas 4

produksi pelumas di Indonesia adalah sebesar 1 juta ton per tahun dimana Pertamina menguasai lebih dari setengah dari kapasitas produksi tersebut (PFC Energy 2012). Pertumbuhan pasar yang tinggi dan pasar yang besar di Indonesia untuk pelumas menuntut adanya kehandalan pasokan pelumas. Kehandalan pasokan pelumas merupakan salah satu kunci penting dari kesuksesan pelaku bisnis pelumas di Indonesia. I.2. Rumusan Masalah Perusahaan menghadapi masalah dalam mengusahakan kehandalan kuantitas dan kualitas pasokan pelumas. I.3. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan latar belakang di atas peneliti merumuskan pertanyaan penelitian, apakah integrasi ke hulu dapat meningkatkan kehandalan pasokan pelumas baik dari segi kuantitas dan kualitasnya. I.4. Tujuan Penelitian Sesuai rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi integrasi ke hulu bisnis pelumas di Indonesia dan menganalisa keunggulan strategis dari integrasi tersebut untuk mengatasi masalah keandalan pasokan yang rendah dari segi kuantitas dan kualitas. 5

I.5. Manfaat Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk memberikan masukan ke perusahaan untuk mengambil keputusan kelayakan strategis integrasi ke hulu dan memberikan masukan ke perusahaan untuk mengembangkan portfpolio bisnisnya. I.6. Batasan Penelitian Batasan penelitian ini adalah terbatas untuk lingkup bisnis pelumas Total di Indonesia dan pabrik pelumas untuk pasokan pelumas di Indonesia. Periode penelitian dilakukan dalam kurun waktu lima tahun terakhir dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012. I.7. Tinjauan Pustaka Tinjauan pustaka didasarkan pada beberapa hal yang berhubungan dengan tujuan penelitian di antaranya adalah berdasarkan konsep dasar dan teori pemasaran, tinjauan rantai nilai dari produk pelumas, tinjauan bisnis model, analisa integrasi vertikal, pengembangan eksternal, dan manajemen strategi. Mengacu dari konsep dan teori tersebut diharapkan dapat dilakukan studi kasus tunggal pada PT Total Oil Indonesia untuk menganalisa apakah dengan memiliki pabrik pelumas sendiri akan menaikan keuntungan kompetisi dan membuat pertumbuhan bisnis pelumas Total lebih berkelanjutan. 6

I.8. Metode Penelitian Metode penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan menggunakan kasus tunggal dengan tujuan untuk memberikan penjelasan-penjelasan yang bersifat holistik untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan. Sumber data untuk penelitian ini menggunakan sumber data sekunder berupa dokumen perusahaan, rekaman arsip, dan sumber data primer dengan metode partisipasi dan observasi langsung dan melakukan kuesioner. 7