BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Dari hasil Analisis Review Pengembangan Rute Trans Jogja ini, maka

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB III KINERJA PT. JOGJA TUGU TRANS DALAM PELAYANAN TRANSPORTASI DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. yakni bentuk keterikatan dan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel. optimalisasi proses pergerakan tersebut.

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 76 TAHUN TENTANG JARINGAN TRAYEK PERKOTAAN REGULER

TRANS JOGJA SEBAGAI TRANSPORTASI PENUNJANG PARIWISATA YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. banyak terjadi di kota-kota besar seperti di Yogyakarta. Untuk mengurangi

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kategori utama, yakni angkutan antar kota, angkutan perkotaan, dan angkutan

BAB I BAB 1 PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. berjalan beriringan, terlebih di Daerah Istimewa Yogyakarta. Arus perekonomian

LEMBARAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA

BAB II LANDASAN TEORI

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 35 TAHUN 2003 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DI JALAN DENGAN KENDARAAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. Kota-kota besar di Indonesia sebagai pusat pembangunan telah. banyak mengalami perubahan dan kemajuan baik dalam bidang politik,

BAB III LANDASAN TEORI

BERITA DAERAH KOTA BOGOR. Nomor 40 Tahun 2016 Seri E Nomor 29 PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 40 TAHUN 2016 TENTANG

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. belum diterapkan dalam standar pelayanan minimal (SPM) Bus Trans Jogja.

STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) ANGKUTAN PEMADU MODA TRAYEK BANDARA SULTAN SYARIF KASIM II PEKANBARU BANGKINANG

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 32 TAHUN 2017

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan yang didapat dari analisis dan pembahasan, adalah:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan. penumpang, bus kecil, bus sedang,dan bus besar.

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai fungsi sebagai penggerak, pendorong dan penunjang. dan prasarana yang didukung oleh tata laksana dan sumber daya manusia

KINERJA TEKNIS DAN ANALISIS ATP WTP ANGKUTAN TRANS JOGJA

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian khususnya perkotaan. Hal tersebut dikarenakan transportasi

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

-2- Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR :SK.967/AJ.202/DRJD/2007 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Dishubkominfo DIY dalam hal ini UPTD Jogja Trans dalam penyelenggaraan

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

2 3. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Neg

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sumber kebutuhan manusia tidak berada di sembarang tempat, sehingga terjadi. 1. manusia yang membutuhkan perangkutan,

BUPATI BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG PENGATURAN LALU LINTAS

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 48 TAHUN 2008 TENTANG

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN

No Angkutan Jalan nasional, rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi, dan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkuta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. apresiasi dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi-solusi atas. dibandingkan dengan harapan-harapan yang diperoleh.

BAB II TINJAUAN OBJEK

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN. uji coba selama satu minggu. Selama masa uji coba tarif yang dikenakan

BAB I PENDAHULUAN. Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dan strategis dalam

STANDAR USAHA ANGKUTAN JALAN WISATA. NO ASPEK UNSUR NO SUB UNSUR I. I PRODUK A. Mobil Bus Wisata

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

PERBAIKAN TATA KELOLA ANGKUTAN UMUM PERKOTAAN TRANS JOGJA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN

2012, No MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN DAN PENINDAKAN PELANGGARAN LALU

BAB II LANDASAN TEORI. transportasi untuk kebutuhan produksi, distribusi dan konsumsi

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM JARINGAN TRANSPORTASI JANGKA PENDEK

2017, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perhubungan tenta

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

PENGUMUMAN RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/ JASA PEMERINTAH. Nomor : 800 / 5601 / Sekretariat Tanggal : 02 Desember 2013

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terminal dibangun sebagai salah satu prasarana yang. sangat penting dalam sistem transportasi.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah ser

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Suatu proses bidang kegiatan dalam kehidupan masyarakat yang paling

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Perencanaan angkutan pemadu moda mencangkup : Kebumen dan Purworejo kemudian NYIA. dan Magelang kemudian NYIA.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

Bus Sekolah Sebagai Moda Alternatif untuk Mengurangi Volume Lalulintas Harian di Kota Yogyakarta

AKSESIBILITAS BAGI PENYANDANG CACAT DAN ORANG SAKIT PADA SARANA DAN PRASARANA PERHUBUNGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Letak secara geografis Kabupaten Sleman yang sangat strategis yaitu

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. yang optimal dalam Implementasi Bus Rapid Transit Sebagai Transportasi Publik

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

INVESTASI/USAHA BIDANG PERHUBUNGAN DARAT

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER

II. TINJAUAN PUSTAKA. Konsep transportasi didasarkan pada adanya perjalanan ( trip) antara asal ( origin) dan tujuan

PENENTUAN JUMLAH KENDARAAN TRANSJOGJA DENGAN METODE SIMULASI

PEMERINTAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

PILIHAN PELAYANAN PENUMPANG ANGKUTAN PERKOTAAN INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Transportasi mempunyai peranan penting dalam kehidupan masyarakat.

KONSOLIDASI TRANSPORTASI PERKOTAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Peranan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. pemindahan orang dan atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Transkripsi:

BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN A. Sejarah berdirinya Trans Jogja 1. Tahun 2004 Lahirnya Bus Trans Jogja dimulai pada tahun 2004, dengan munculnya Studi Kelayakan Angkutan Eksekutif pada tahun Anggaran 2004 di Dinas Perhubungan Provinsi DIY. Pada saat itu sebutan untuk bus dimaksud adalah Bus Patas. 2. Tahun 2005 Rencana implementasi pada tahun Anggaran 2005 tertunda karenakebutuhan studi kelayakan yang lebih komprehensif (mencakup analisis teknis, ekonomi, sosial-budaya, psikologis, dan wisata), sehingga padatahun Anggaran 2005 Dinas Perhubungan Provinsi DIY telah mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan persiapan operasional Bus Trans Jogja, sebagai berikut ini : a. Studi Kelayakan Reformasi Sistem Transportasi Angkutan Umum Perkotaan di Propinsi DIY. b. Sosialisasi Operasional Bus Patas atau Bus Trans Jogja. c. Penyusunan Draft MoU/Kerjasama Pemerintah Propinsi DIY dengan Operator Bus Patas atau Bus Trans Jogja. d. Persiapan Pembentukan Badan Pengelola Bus Patas dan Penyusunan Draft Raperda Badan Pengelola Bus Patas. 64

65 Pihak operator yang akan mengoperasikan Patas atau Trans Jogja direkomendasikan tergabung dalam satu manajemen khusus (konsorsium) yang sahamnya dimiliki oleh anggota koperasi yang ada, sehingga kepemilikan kendaraan (bus) akan dimiliki oleh konsorsium tersebut, bukanmilik orang per orang. Hal ini akan mengembalikan dan mengoptimalisasi fungsi dari koperasi. 3. Tahun 2006 Rencana implementasi pada tahun Anggaran 2006 terpaksa ditunda karena adanya bencana alam gempa bumi pada 27 Mei 2006. 4. Tahun 2007 Pada tahun 2007, tahapan/proses perencanaan Bus Patas atau Trans Jogja adalah sebagai berikut: a. Lahirnya nama atau brand image Bus Trans Jogja yang diberikan langsung oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pada 7 Juni 2007. Gambar 4.1. Logo Trans Jogja b. Secara kelembagaan, pengelola Bus Trans Jogja akan diwadahi dalam bentuk Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Trans Jogja pada Dinas Perhubungan Provinsi DIY. Draft Raperda Pembentukan dan

66 Organisasi Unit Pelaksana Teknis Dinas Trans Jogja pada Dinas Perhubungan Provinsi DIY telah dibuat dan telah diajukan kepada DPRD Provinsi DIY. Namun, sebelum UPTD terbentuk, operasionalisasi Bus Trans Jogja dapat dilaksanakan di bawah Bidang Angkutan, Dinas Perhubungan Provinsi DIY. c. Adanya MoU antara Pemerintah Provinsi DIY dengan Pemerintah Kota Yogyakarta Nomor 6/KES.BER/GUB/2007 (04/NKB2007) tanggal 3 April 2007 tentang Peningkatan Pelayanan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum Wilayah Perkotaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini didasari adanya keinginan Pemerintah Kota Yogyakarta yang berkeinginan turut serta dalam meningkatkan pelayanan angkutan umum di wilayah perkotaan Yogyakarta. d. Pihak Pemerintah Kota Yogyakarta akan mendapatkan bantuan bus dari Ditjen Perhubungan Darat Departemen Perhubungan RI sebanyak 10 unit bus, yang akan digabungkan dalam pengelolaan Bus Trans Jogja. Hal ini didasarkan pada Kesepakatan Bersama antara Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dengan Pemerintah Kota Yogyakarta Tentang Perencanaan, Pembangunan dan Pengoperasian Angkutan Umum Massal di Kota Yogyakarta Nomor : UM.007/7/3/DRJD/2005 (30/NKB/2005). Pemerintah Kota Yogyakarta juga akan membangun infrastruktur berupa halte/shelter bus sebanyak 34 unit di wilayah Kota Yogyakarta, sedangkan 42 unit lainnya akan dibangun oleh Pemerintah Provinsi DIY melalui dana APBD tahun Anggaran 2007.

67 e. Dari sisi operator, konsorsium operator telah melebur dalam bentuk Perseroan Terbatas (PT) dengan nama PT Jogja Tugu Trans (JTT), yang didirikan berdasarkan Akta Nomor: 12 tanggal 2 Juni 2007 yang dibuat di hadapan notaris Muhammad Haryanto, SH. Anggaran Dasar telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: W22-00129 IIT.01.01-TH.2007. PT JTT merupakan konsorsium dari: Koperasi KOPATA, Koperasi ASPADA, Koperasi PUSKOPKAR, Koperasi PEMUDA dan Perum DAMRI. f. Kesepakatan Bersama (MoU) antara Pemerintah Provinsi DIY dengan PT. Jogja Tugu Trans (JTT) Nomor 17/KES.BER/GUB/2007 (052/K/ORG-DIY/VIII/2007) telah ditandangani pada 21 Agustus 2007 dalam bentuk Kesepakatan Bersama Nomor tentang Kerja Sama Pengelolaan Sistem Pelayanan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Umum Wilayah Perkotaan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. g. Bus yang akan dioperasikan sebanyak 54 unit (termasuk 8 cadangan), dengan komposisi 20 unit dari Ditjen Perhubungan Darat, dan 34 unit diadakan oleh operator. Armada disesuaikan dengan spesifikasi bus yang telah dibuat oleh Dinas Perhubungan Provinsi DIY. h. Jaringan trayek Bus Trans Jogja telah dituangkan dalam bentuk Keputusan Gubernur Nomor 132/KEP/2007 tanggal 28 Agustus 2007 tentang Penetapan Jaringan Trayek Angkutan Bus Perkotaan Trans Jogja di Provinsi DIY.

68 i. Pembangunan infrastruktur Bus Trans Jogja meliputi Pembangunan Shelter/Halte sebanyak 76 unit (42 unit oleh Pemerintah Provinsi DIY dan 34 unit oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, Pengadaan dan Pemasangan Mesin Tiket dan Jaringan Komputer SMTS (Smart Mass Transit System) sebanyak 76 unit, serta Pembangunan Rambu dan Marka Buslane. 5. Tahun 2008 a. Operasional Bus Trans Jogja akhirnya dimulai pada tanggal 18 Februari 2008, dengan uji coba selama 10 hari. b. Grand Launching Bus Trans Jogja dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus 2008 di Lapangan Parkir Bandara Adi Sutjipto, oleh Menteri Perhubungan RI Ir. Jusman Syafii Djamal dan Wakil Gubernur DIY Sri Paku Alam IX. B. Visi dan Misi Trans jogja merupakan program pemerintah maka visi dan misi trans jogja sama dengan visi dan misi Dinas Perhubungan (Dishub). 1. Visi: Terwujudnya Transportasi dan Pos Telekomunikasi yang mantap guna mempercepat dan mendukung masyarakat yang kompetitif. 2. Misi: a. Meningkatkan kualitas pelayanan bidang transportasi (darat, laut dan udara) yang memenuhi standar pelayanan dengan memprioritaskan peningkatan prasarana dan sarana transportasi serta pengembangan

69 sistem angkutan umum yang menyediakan aksesibilitas tinggi, tepat waktu dan efisien. b. Menjadikan operator dan penyedia jasa transportasi, pos dan telekomunikasi yang ada untuk lebih handal dan berdaya saing serta mampu memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat. c. Meningkatkan keselamatan dan kenyamanan berlalu lintas di jalan, pelayaran, perkeretaapian dan penerbangan dengan menitik beratkan pada kelancaran, ketertiban, keselamatan pengguna jasa angkutan jalan dan pejalan kaki. C. Sistem Buy the Services Sistem baru yang diadopsi oleh Pemerintah Provinsi DIY adalah sistem Buy the Service, yaitu sistem pembelian pelayanan dari Pemerintah kepada Swasta (operator) untuk mengoperasikan angkutan umum dengan standar-standar tertentu, khususnya untuk mengutamakan pelayanan kepada masyarakat pengguna. Sistem ini memiliki beberapa keunggulan seperti berikut ini: 1. Tidak menggunakan sistem setoran. 2. Mekanisme subsidi mudah dilakukan. 3. Operator (termasuk sopir) hanya berkonsentrasi pada pelayanan. 4. Operator akan dibayar sesuai dengan km layanan. 5. Ada standar pelayanan yang harus dipenuhi, antara lain bus hanya berhenti di tempat henti dan pada waktu-waktu yang telah ditentukan.

70 6. Pelayanan transportasi bus dengan sistem Buy The Service lebih mengedepankan pelayanan masyarakat (public services). 7. Untuk mendukung sistem baru tersebut diperlukan tempat henti khusus dan sistem tiket otomatis untuk menghindari kebocoran dan memudahkan evaluasi. 8. Implementasi sistem Buy the Service didasarkan pada konsep peremajaan angkutan umum, sesuai dengan amanat Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 78/KEP/2006 tanggal 11 Juli 2006 Tentang Pembatasan Izin Trayek dan Izin Operasi Angkutan Umum di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. D. Rute Trans jogja Tabel 4.1. Rute Bus Trans Jogja Kode Trayek dan Rute yang Dilalui Trayek 1 A. Trayek : TERMINAL PRAMBANAN BANDARAADISUCIPTO - STASIUN TUGU MALIOBORO JEC Rute : Terminal Prambanan Kalasan - Bandara Adisucipto - Maguwoharjo Janti (lewat bawah) UIN Sunan Kalijaga Demangan Gramedia Tugu Stasiun Tugu Malioboro Kantor Pos Besar Gondomanan Pasar Sentul -SGM Gembira loka -Babadan Gedong kuning JEC - Blok-O Janti (lewat atas) Maguwoharjo Bandara Adisucipto Kalasan Terminal prambanan B. Trayek : TERMINAL PRAMBANAN BANDARAADISUCIPTO JEC KANTOR POS BESAR PINGIT UGM Rute : Terminal Prambanan Kalasan Bandara Adisucipto Maguwoharjo Janti (lewat bawah) Blok-O JEC - Babadan Gedong kuning Gembira loka SGM Pasar Sentul - Gondomanan Kantor Pos Besar -RS. PKU Muh Pasar Kembang - Badran Bundaran Samsat Pingit Tugu

Gramedia Bundaran UGM Colombo Demangan UIN Sunan Kalijaga Janti Maguwoharjo Bandara Adisucipto Kalasan Terminal Prambanan. 2 A. Trayek : TERMINAL JOMBOR - MALIOBORO BASEN KRIDOSONO UGM TERMINAL CONDONG CATUR Rute : Terminal Jombor Monjali Tugu Stasiun Tugu Malioboro Kantor Pos Besar Gondomanan Jokteng Wetan Tungkak - Gambiran Basen Rejowinangun-Babadan Gedong kuning Gembira loka SGM Cendana MandalaKrida Gayam Flyover Lempuyangan - Kridosono Duta Wacana Galeria Gramedia Bundaran UGM Colombo Terminal Condong catur Kentungan Monjali Terminal Jombor. B. Trayek : TERMINAL JOMBOR TERMINAL CONDONG CATUR UGM KRIDOSONO BASEN KANTOR POS BESAR WIROBRAJAN - PINGIT Rute : Terminal Jombor Monjali Kentungan terminal Condong catur Colombo Bundaran UGM Gramedia Kridosono Duta Wacana Flyover Lempuyangan - Gayam Mandala krida Cendana SGM Gembiraloka Babadan Gedong kuning Rejowinangun Basen Tungkak Jokteng wetan Gondomanan Kantor Pos Besar RS. PKU Muh. Ngabean Wirobrajan BPK Badran Bundaran Samsat Pingit Tugu Monjali Terminal Jombor. 71

72 3 A. Trayek : TERMINAL GIWANGAN KOTA GEDE BANDARA ADISUCIPTO RINGROAD UTARA MM UGM PINGIT MALIOBORO JOKTENG KULON Rute : Terminal Giwangan Tegal gendu HS-Silver-Jl.Nyi Pembayun - Pegadaian Kota gede Basen Rejowinangun Babadan Gedong kuning JEC - Blok-O Janti (lewat atas) - Janti Maguwoharjo -Bandara Adisucipto -Maguwoharjo Ringroad Utara Terminal Condong catur Kentungan MM UGM- Mirota Kampus Gondolayu Tugu Pingit Bundaran Samsat - Badran Pasar Kembang Stasiun Tugu - Malioboro Kantor Pos Besar RS.PKU Muh. Ngabean Jokteng Kulon Plengkung Gading Jokteng Wetan Tungkak Wirosaban Tegal gendu Terminal Giwangan. B. Trayek : TERMINAL GIWANGAN JOKTENG KULON PINGIT MM UGM RINGROAD UTARA BANDARA ADISUCIPTO KOTA GEDE Rute : Terminal Giwangan Tegal gendu - Wirosaban Tungkak Jokteng Wetan Plengkung Gading Jokteng Kulon Ngabean RS. PKU Muh. Pasar Kembang Badran Bundaran Samsat Pingit Tugu Gondolayu Mirota Kampus MM UGM -Kentungan Terminal Condong catur Ringroad Utara Maguwoharjo Bandara Adisucipto Maguwoharjo Janti (lewat bawah) Blok-O JEC -Babadan Gedong kuning - Rejowinangun Basen Pegadaian Kota gede Jl.Nyi Pembayun - HS-Silver Tegal gendu Terminal Giwangan. E. Lokasi POS (Point of Sales) POS adalah loket yang melayani pembuatan smart card 1. Halte Bandara Adisucipto 2. Halte Terminal Jombor 3. Halte Laksda Adisucipto Ambarukmo Plaza 4. Halte Terminal Giwangan 5. Halte Senopati Taman Pintar 6. Halte Tentara Pelajar SAMSAT

73 7. Halte Jl. Kaliurang Kopma UGM F. Infrastruktur Dari sisi infrastruktur, Pemerintah Provinsi DIY akan membangun beberapa infrastruktut berikut ini. 1. Halte/shelter sebanyak 42 (empat puluh dua) unit. Jumlah halte keseluruhan (ditambah dari Pemerintah Kota Yogyakarta) adalah 76 (tujuh puluh enam) unit. 2. Rambu dan marka pada titik-titik halte. 3. Jaringan komputer dan mesin ticketing SMTS (Smart Mass Transit Solution) sejumlah 76 (tujuh puluh enam) unit. G. Pelayanan di Trans Jogja 1. Persyaratan Umum Kendaraan Bus Performansi/penampilan bus dalam keadaan bersih dan laik pandang baik bagian luar (Exterior) maupun bagian dalam (Interior), meliputi: a. EXTERIOR 1) Bodi : kondisi baik (tanpa kerusakan, cat tidak rusak/pudar); 2) Kaca : kondisi baik (kaca pintu/jendela tanpa kerusakan, bersih, tidak pecah/retak); 3) Identitas : kondisi tanda/stieker dibodi bus baik (terpasang, tanpa kerusakan, tulisan jelas) meliputi: a) tanda nomor kendaraan bermotor (plat nomor), b) tanda uji kendaraan bermotor (plat & stieker uji), c) tanda nama operator (nama operator),

74 d) tanda urut kendaraan (nomor bodi), e) tanda informasi trayek (papan trayek), f) tanda informasi pengaduan. 4) Pintu : kondisi baik (pintu utama & pintu darurat, panil dan cat tidak rusak) 5) Papan Trayek : kondisi baik, terpasang didepan dan belakang, mudah terlihat, dan dilengkapi lampu b. INTERIOR 1) Kabin : kondisi baik (tanpa kerusakan, bersih); 2) Jok : kondisi baik (tanpa kerusakan, bersih & kuat, ada jok khusus diffable dan jok tertentu yang dilengkapi safety belt, dll); 3) Handle : kondisi baik (pegangan/hand grip untuk penumpang berdiri & pipa tiang terpasang kuat); 4) Partisi : kondisi papan pembatas penumpang dengan pintu baik; 5) Informasi : kondisi tanda/stieker/alat petunjuk/larangan untuk penumpang terpasang/melekat dengan baik. Informasi meliputi: a) Larangan makan/minum/merokok dalam bus; b) Larangan menyentuh/menggunakan alat-alat emergency dalam bus kecuali kondisi darurat; c) Petunjuk tentang upaya kondisi darurat dalam bus (cara membuka pintu darurat, jendela darurat, cara menggunakan alat pemadam api dan palu pemecah kaca, dll); d) Petunjuk letak jendela darurat dan pintu darurat;

75 e) Petunjuk membuang sampah dikotak sampah dalam bus; f) Himbauan prioritas memberikan tempat duduk untuk penumpang lanjut usia, ibu hamil dan penyandang cacat; g) Himbauan tidak membawa makanan/minuman yang menimbulkan gangguan bau menyengat kecuali telah dikemas/dibungkus sedemikian rupa agar tidak bau; 2. Persyaratan Teknis Kendaraan Bus a. Telah menjalani pemeriksaan berkala oleh instansi yang berwenang melakukan pengujian kendaraan bermotor agar kondisi kendaraan tetap memenuhi persyaratan teknis dan kondisi laik tetap jalan; b. Telah menjalani pemeliharaan berkala dengan semestinya; c. Tidak melewati batas perawatan yang wajar sesuai standar ATPM dan Standar Operasi Perawatan. 3. Perlengkapan Kendaraan Bus a. Kendaraan bus yang dioperasikan oleh Operator Utama wajib memiliki Perlengkapan Standar Karoseri dengan kondisi baik dan berfungsi baik sebagai berikut: 1) Alat pemadam api ringan/apar berfungsi dengan baik dan masa pakai masih mememenuhi ketentuan; 2) Palu pemecah kaca; 3) Ban cadangan; 4) Indikator-indikator kondisi baik dan berfungsi dengan semestinya: a) Pengukur putaran (rpm) & temperatur (C º);

76 b) Pengukur kecepatan bus (speedometer); c) Penunjuk fungsi lampu-lampu, AC, dan Papan Display; 5) Alat pendingin udara (Air Conditioner/AC) kestabilan temperature Δt sebesar 10ºC (sepuluh derajat Celcius) dalam kondisi penumpang penuh pada kapasitas maksimal kendaraan; 6) Kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan/P3K standar. b. Kendaraan Bus sebelum beroperasi diwajibkan memiliki Perlengkapan Tambahan Khusus sebagai berikut: 1) Alat pengukur Kilometer Tempuh Bus (odometer) dan pengukur berfungsi baik, ditera dan masa berlaku peneraan masih memenuhi ketentuan, oleh Pihak Ketiga yang berwenang; 2) Pintu penumpang utama arah geser (slidding door) pneumatic; 3) Perangkat Suara sebagai informasi halte tujuan (Flash memory); 4) Perangkat Tampilan (LED Display) sebagai penunjuk waktu dan penunjuk halte tujuan; 5) Peralatan Radio Komunikasi berfungsi dengan baik; 4. Standar layanan Customer services Untuk menjamin kepuasan pelanggan / pengguna jasa Trans Jogja, maka Operator Utama diwajibkan : a. PELAYANAN PELANGGAN / COSTUMER SERVICE 1. Operator Utama wajib menyediakan/mengoperasikan Layanan Aduan selama Waktu Operasi untuk menerima pengaduan, saran, dan sebagainya yang merupakan masukan / input dari masyarakat kepada Operator Utama dan Dinas Perhubungan Provinsi DIY.

77 2. Operator Utama wajib melaporkan pengaduan, saran, dan sebagainya yang merupakan masukan/input dari masyarakat yang diterimakan kepada Dinas Perhubungan Provinsi DIY. b. PELAYANAN INFORMASI / INFORMATION SERVICE Operator Utama wajib menyediakan/mengoperasikan Layanan Informasi selama Waktu Operasi untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan informasi tentang Trans Jogja dari Operator Utama dan Dinas Perhubungan Provinsi DIY.