BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Sebenarnya kusta bila ditemukan dalam stadium dini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Filariasis merupakan penyakit zoonosis menular yang banyak

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan, kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan cacat yang. Berdasarkan laporan regional World Health Organzation (WHO)

BAB 1 : PENDAHULUAN. Kanker payudara dapat tumbuh di dalam kelenjer susu, saluran susu dan jaringan ikat

BAB I PENDAHULUAN. dan kapan saja, yang dapat menimbulkan kerugian materiel dan imateriel bagi

BAB I PENDAHULUAN. Padahal deteksi dini dan penanganan yang tepat terhadap depresi dapat

BAB I PENDAHULUAN. Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung merupakan salah

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune. rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV 1.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak ditemui

BAB 1 PENDAHULUAN. kronik yang sering ditemukan (Kurniati, 2003). Biasanya terjadi di daerah yang

I. PENDAHULUAN. Penyakit kusta (morbus Hansen) merupakan penyakit infeksi kronis menahun

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Proporsi penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas tumbuh lebih

BAB I PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Sistem Kesehatan Nasional (SKN) tahun 2009 menyebutkan bahwa pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan

HUBUNGAN ANTARA STATUS INTERAKSI SOSIAL DAN TIPE KEPRIBADIAN DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA LANJUT USIA DI PANTI WERDHA DARMA BHAKTI SURAKARTA

-Faktor penyebab penyakit kusta. -Tanda dan gejala penyakit kusta. -Cara penularan penyakit kusta. -Cara mengobati penyakit kusta

HUBUNGAN PERAN SERTA KELUARGA DALAM PERAWATAN STROKE DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA PENDERITA PASCA STROKE DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi bidang promotif, pencegahan, dan pengobatan seharusnya

ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN DOSEN PEMULA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tahun 2013 menjelaskan. HIV atau Human Immunodefisiensi Virus merupakan virus

BAB I PENDAHULUAN. berkembang dengan pesat, secara garis besar masalah kesehatan jiwa. Masalah psikososial membutuhkan kemampuan penyesuaian dan

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, khususnya di

BAB 1 PENDAHULUAN. perifer sebagai aktivitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KECEMASAN PADA LANJUT USIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI KOTA SURAKARTA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gagal ginjal kronis (Chronic Renal Failure) adalah kerusakan ginjal progresif

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Usia lanjut merupakan tahap akhir kehidupan manusia. Seseorang pada

I. PENDAHULUAN. otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi dapat dialami oleh setiap orang baik laki-laki

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari

BAB III METODA PENELITIAN. 1. Ditinjau dari tujuan yang akan dihadapi yaitu mengetahui hubungan. hubungan antara variabel (Nursalam, 2003)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronis menular dan menahun yang

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN NGAWI

BAB 1 PENDAHULUAN. Psoriasis adalah salah satu penyakit kulit termasuk dalam kelompok

BAB I PENDAHULUAN. sementara penyakit menular lain belum dapat dikendalikan. Salah satu


BAB I PENDAHULUAN. Depkes RI (2007 dalam Nastiti, 2012) menjelaskan bahwa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penderita gagal ginjal kronik menurut estimasi World Health Organization

BAB I PENDAHULUAN. kusta maupun cacat yang ditimbulkannya. kusta disebabkan oleh Mycobacterium

BAB I PENDAHULUAN. signifikan dengan perubahan sosial yang cepat dan stres negatif yang

BAB I PENDAHULUAN. terhadap kanker payudara seperti dapat melakukan sadari (periksa payudara

Tingginya prevalensi kusta di Kabupaten Blora juga didukung oleh angka penemuan kasus baru yang cenderung meningkat dari tahun 2007 sampai dengan

menempati posisi paling tinggi dalam kehidupan seorang narapidana (Tanti, 2007). Lapas lebih dikenal sebagai penjara. Istilah tersebut sudah sangat

BAB I PENDAHULUAN. fisilogis organ tubuhnya (Wahyunita, 2010). Banyak kelainan atau penyakit

BAB I PENDAHULUAN. paling banyak terjadi pada wanita (Kemenkes, 2012). seluruh penyebab kematian (Riskesdas, 2013). Estimasi Globocan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Amerika Serikat prevalensi tahunan sekitar 10,3%, livetime prevalence mencapai

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. dapat dicegah dan diobati, ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak

BAB I PENDAHULUAN. dikaruniai anak yang normal. Melihat anak anak balita tumbuh dan. akan merasa sedih. Salah satu gangguan pada masa kanak kanak yang

BAB I PENDAHULUAN. adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain (Depkes RI,

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Skizofrenia merupakan sindroma klinis yang berubah-ubah dan sangat

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Gambaran Lokasi kelurahan Kampung Sawah. beberapa keterangan penduduk kampung sawah yang berdomisili di Bandar

BAB 1. PENDAHULUAN. mood, khususnya gangguan ansietas. 1

Jurnal Farmasi Andalas Vol 1 (1) April 2013 ISSN :

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kusta merupakan salah satu jenis penyakit menular yang masih

BAB I PENDAHULUAN. keterbatasan fisik dan juga kelainan fisik yang sering disebut tunadaksa.

HUBUNGAN ANTARA SUPPORT SYSTEM KELUARGA DENGAN KEPATUHAN BEROBAT KLIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA

BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menduduki rangking ke 4 jumlah penyandang Diabetes Melitus terbanyak

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Dr. Kariadi,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae (M.leprae) yang pertama kali menyerang susunan saraf

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB l PENDAHULUAN. peningkatan jumlah anak di Indonesia. Hal ini memberi konsekuensi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dan keluhan-keluhan fisik lain yang salah satunya adalah gangguan siklus

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Muti ah, 2016

BAB I PENDAHULUAN. riskan pada perkembangan kepribadian yang menyangkut moral,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. seiring dengan dinamisnya kehidupan masyarakat. Masalah ini merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. kematian ibu menjadi 102 per kelahiran hidup. Pembangunan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dewasa kini banyak pola hidup yang kurang sehat di masyarakat sehingga

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Kesehatan merupakan hal penting yang diinginkan. setiap manusia. Menurut World Health Organization (WHO)

Survey inkontinensia urin yang dilakukan oleh Departemen Urologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga RSU Dr. Soetomo tahun 2008 terhadap 793 pen

dan menjadi dasar demi terwujudnya masyarakat yang sehat jasmani dan rohani.

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan terpotongnya suplai oksigen dan nutrisi yang mengakibatkan

BAB 1 : PENDAHULUAN. fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan,

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN DEPRESI PADA LANSIA DI DESA MANDONG TRUCUK KLATEN

BAB I PENDAHULUAN. dapat memenuhi segala kebutuhan dirinya dan kehidupan keluarga. yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan

BAB I PENDAHULUAN. suplai darah dan oksigen ke otak (Smeltzer et al, 2002). Menurut World

BAB I PENDAHULUAN. Definisi sehat sendiri ada beberapa macam. Menurut World Health. produktif secara sosial dan ekonomis.


BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit degeneratif yang menjadi

BAB I PENDAHULUAN. penyakit tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. 1

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan gejala-gejala atau kecacatan yang membutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. terlupakan, padahal kasusnya cukup banyak ditemukan, hal ini terjadi karena

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta adalah penyakit menular yang menahun, disebabkan oleh mycobacterium leprae yang menyerang kulit saraf tepi dan jaringan tubuh lainnya. Pada sebagian besar orang yang terinfeksi, penyakit bersifat asimtomatik, sebagian kecil yang terlambat didiagnosa dan terlambat diobati, memperlihatkan gejala klinis dan mempunyai kecenderungan untuk menjadi cacat. Gejala awal penderita biasanya tidak merasa terganggu hanya terdapat adanya kelainan kulit berupa bercak putih seperti panu atau bercak kemerahan dan disertai adanya kurang rasa atau hilang rasa. Penyakit kusta dapat menyerang semua umur, Lakilaki lebih banyak terkena dibandingkan Wanita dengan perbandingan 2:1, walaupun ada beberapa daerah yang menunjukkan angka insiden ini yang hampir sama (Direktorat Jendral PPM & PPL, Depkes, 2012). Penyakit kusta masih menjadi permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar masyarakat dunia terutama di negara berkembang. Pada tahun 2012, jumlah penderita kusta di Dunia sebanyak 219.075 orang, di negara-negara Asean jumlah penderita kusta sebanyak 26.674 orang, dan Indonesia memberikan kontribusi penderita baru sebanyak 18.994 orang (8,7% di Dunia dan 71,2% di Asean). Menurut data yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, pada tahun 2012 Indonesia menempati urutan ketiga setelah India dan Brasil (Direktorat Jendral PPM & PPL, Depkes, 2013). Penyakit kusta dapat menimbulkan masalah yang kompleks dan luas bukan hanya dilihat dari sisi medis, tetapi juga meluas sampai kepada masalah ekonomi, sosial budaya, keamanan dan ketahanan sosial serta masalah psikologi. Penyakit kusta juga menimbulkan masalah baik pada penderita sendiri, keluarga, masyarakat dan negara (Depkes, RI 2010). Masalah pada penderita penyakit kusta pada umumnya adalah merasa rendah diri, merasa tertekan batin, takut kepada keluarga dan masyarakat 1

sekitarnya sehingga penderita cenderung untuk hidup sendiri, apatis (masa bodo), bersikap ketergantungan pada orang lain, kehilangan peran dimasyarakat karena dikucilkan, kehilangan pekerjaan atau mata pencaharian dan tidak mau berobat karena malu pada masyarakat sekitarnya. Selain menimbulkan masalah bagi penderita, penyakit kusta juga menimbulkan masalah bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Kecacatan pada penderita kusta, seringkali tampak menyeramkan bagi sebagian orang, sehingga muncul perasaan takut yang berlebihan terhadap kusta atau leprofobia. Akibatnya, meskipun penderita kusta telah sembuh secara medis, tapi predikat kusta tetap melekat pada diri mereka seumur hidup. Predikat ini melatar-belakangi permasalahan psikologis bagi Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK), sehingga mereka akan merasa takut, kecewa, depresi, tidak percaya diri, malu, merasa diri tidak berharga, tidak berguna, dan khawatir akan dikucilkan. Otak dan sistem saraf pusat tidak terpengaruh oleh infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium leprae ini. Tetapi pada kenyataannya banyak penderita terpengaruh secara mental. Pengaruh tersebut terjadi tidak secara langsung karena infeksi lepra tetapi lebih karena disebabkan oleh stigma dan penolakan sosial terhadap mereka (Rafferty dalam Siagian, 2008). Pada suatu penelitian mengenai Gambaran Gangguan Jiwa pada Penderita Kusta Di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo tahun 2008 yang dilakukan oleh Ratih menemukan bahwa gangguan terbanyak adalah depresi sebesar (66,6%), kemudian gangguan depresi dengan gangguan cemas menyeluruh (18,8%), gangguan cemas menyeluruh (8,7%), distimia (2,9%), dan gangguan depresi dengan gangguan panik tanpa agorafobia (1,5%). kurang dari 1 tahun (57,6%). Pada penelitian di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP dr. Sardjito tahun 2008 didapatkan lebih dari separuh (51,3%) subyek penelitian mengalami gejala depresi dengan perincian 25,8% memiliki skor depresi ringan, 16,9% memiliki skor depresi sedang dan 16,9% memiliki skor depresi berat (Siagian, 2008). Penderita kusta maupun bekas penderita kusta memiliki cara-cara tertentu untuk menanggulangi keadaan stres dan depresi. Misalnya berserah diri 2

pada Tuhan, membuat tempat ibadah sehingga mereka bisa melakukan ibadah secara rutin, mengembangkan suatu penilaian bahwa penyakit kusta sebagai takdir, nasib atau garis hidup dan lain-lain. Agama dan spiritualitas adalah faktor kultural paling penting yang memberikan struktur dan makna terhadap nilai-nilai, perilaku dan pengalaman manusia. Kepercayaan dan praktek religius atau spiritual mungkin bisa digunakan untuk coping atau adaptasi terhadap situasi kehidupan yang penuh tekanan. Meski ada banyak faktor diantaranya genetik, perkembangan, dan lingkungan yang berkontribusi terhadap kemunculan dan perjalanan penyakit depresi, kegagalan untuk melakukan coping dengan stres adalah faktor utama yang mendasari. Jika keterlibatan agama atau spiritualitas mampu menurunkan stres dengan membantu untuk mencapai coping yang lebih baik, maka agama atau spiritualitas mungkin bisa membantu mencegah kemunculan depresi atau mempercepat kesembuhan episode depresi dan atau gejala depresi. Komitmen religius atau spiritual telah dikaitkan dengan penurunan prevalensi depresi. Penelitian menunjukkan bahwa, selain memberikan perlindungan dari depresi, tingkat komitmen religius yang lebih tinggi mungkin memberikan perlindungan dari bunuh diri, bentuk outcome depresi yang paling berat. Salah satu contoh kasus yang baru baru ini terjadi (Februari 2014) adalah adanya kejadian bunuh diri pada penderita kusta di Trenggalek, Jawa Timur. Walaupun belum didapatkan angka pasti berapa kasus kejadian bunuh diri pada penderita kusta yang mengalami depresi tetapi hal ini memerlukan perhatian yang serius karena banyaknya kasus depresi pada penderita kusta. Dengan menilai kepercayaan religius pasien dengan depresi dan pemikiran bunuh diri, dokter dapat menggunakan kepercayaan ini dalam implementasi rencana intervensi yang sesuai dengan nilai spiritual dan agama pasien (Khouzan,2007). Penelitian-penelitian dan literatur sebelumnya telah menemukan bahwa religius atau spiritual berperan dalam mengatasi depresi karena religius atau spiritual ini dapat berfungsi sebagai coping dan support sosial pada penderita depresi. 3

Bunuh diri merupakan bentuk outcome depresi yag paling berat. Walaupun belum didapatkan angka pasti berapa kasus kejadian bunuh diri pada penderita kusta yang mengalami depresi tetapi hal ini memerlukan perhatian yang serius karena banyaknya kasus depresi pada penderita kusta. Penulis belum menemukan suatu penelitian yang secara khusus membahas tentang bagaimana peran atau hubungan antara tingkat religiusitas dengan depresi pada penderita kusta, sehingga hal ini menjadi menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Hal ini mendorong peneliti untuk meneliti seberapa besar korelasi tingkat religiusitas dengan depresi pada penderita kusta di RSUD Kelet Jepara. Dalam penelitian ini juga dilakukan pengamatan terhadap faktor-faktor lain seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, pekerjaan dan lama menderita kusta yang diduga mempunyai peran terhadap timbulnya depresi pada penderita kusta. B. Permasalahan Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan masalah yaitu: Apakah terdapat hubungan antara tingkat religiusitas dengan depresi pada penderita kusta di RSUD Kelet Jepara? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara tingkat religiusitas dengan depresi pada penderita kusta di RSUD Kelet Jepara. D. Manfaat Penelitian Apabila hasil penelitian ini dapat menunjukkan adanya korelasi antara tingkat religiusitas dengan depresi pada penderita kusta di RSUD Kelet Jepara diharapkan dapat memberikan manfaat, berupa : 1. Manfaat teoritis: 4

Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan tambahan pengetahuan bagi semua pihak, berupa pengetahuan tentang korelasi antara tingkat religiusitas dengan depresi pada penderita kusta di RSUD Kelet Jepara. 2. Manfaat praktis: Diharapkan dengan penelitian ini, deteksi dini dan perumusan strategi dalam penatalaksanaan depresi pada penderita kusta di RSUD Kelet Jepara menjadi lebih komprehensif sehingga angka prevalensi depresi pada penderita kusta dapat ditekan. E. KEASLIAN PENELITIAN Sari, AP (2009); Hubungan antara kesehatan spiritual dengan tingkat stres dalam menghadapi pensiun pada pegawai Kantor Departemen Agama Surabaya. Penelitian dilakukan pada pegawai struktural Kantor Depag Surabaya yang berusia 52-56 tahun dengan pendidikan terakhir minimal SLTA. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan jumlah sampel sebanyak 29 orang. Hasil penelitian didapatkan hubungan yang signifikan antara kesehatan spiritual dengan tingkat stres dalam menghadapi pensiun pada pegawai Kantor Departemen Agama Surabaya. Persamaan dalam penelitian ini adalah pada desain yang digunakan yaitu potong lintang, sedangkan perbedaannya adalah pada instrumen yang digunakan, subyek penelitian dan tempat pengambilan sampel. Dalam penelitian tersebut menggunakan kuesioner kesehatan spiritual dan kuesioner tingkat stres yang sudah di modifikasi dan di validasi oleh penulis (2009), subyek penelitiannya adalah pegawai struktural Kantor Departemen Agama Surabaya dan tempat pengambilan sampel di Kantor Departemen Agama Surabaya, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner Tingkat Religiusitas dan BDI serta subyek penelitiannya adalah penderita kusta dan tempat penelitian di RSUD Kelet Jepara. Suyatno, DH (2010); Korelasi dukungan sosial dengan depresi pada survivor yang tinggal di rumah hunian sementara Desa Umbulhardjo Kecamatan Cangkringan Pasca bencana letusan Gunung Merapi Tahun 2010. Populasi pada penelitian ini adalah survivor letusan Gunung Merapi yang pertama kali 5

(gelombang pertama) tinggal di hunian sementara desa Umbulharjo kecamatan Cangkringan kabupaten Sleman. Sampel penelitian diambil secara acak sederhana. Variabel dalam penelitian ini adalah depresi, umur, jenis kelamin, status pernikahan, penghasilan, kehilangan anggota keluarga dekat, stresor psikososial berat, dukungan sosial dan tingkat religiusitas. Pada Variabel Tingkat Religiusitas tidak menunjukkan hubungan yang bermakna pada kejadian depresi subyek penelitian. Hal ini menurut penulis kemungkinan disebabkan karena sebagian besar subyek penelitian mempunyai tingkat religiusitas sedang (88%). Persamaan dalam penelitian ini adalah pada instrumen yang digunakan yaitu instrumen tingkat religiusitas dan instrumen depresi dengan Beck Depression Inventory (BDI) dan desainnya cross sectional, sedangkan perbedaannya adalah pada subyek dan tempat penelitian. Dalam penelitian tersebut subyek penelitiannya adalah survivor letusan Gunung Merapi yang pertama kali (gelombang pertama) tinggal di hunian sementara desa Umbulharjo kecamatan Cangkringan kabupaten Sleman, sedangkan dalam penelitian ini subyeknya adalah penderita kusta dan tempat penelitian di RSUD Kelet Jepara. Soewadi (2011): Hubungan antara gangguan stres pasca trauma dengan tingkat spiritualitas pada sipir dan warga binaan lapas cebongan Yogyakarta. Pada penelitian ini menggunakan rancangan penelitian crosssectional dengan desain deskriptif analitik terhadap sipir dan warga binaan yang ada di lapas cebongan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara antara gangguan stres pasca trauma dengan tingkat spiritualitas pada sipir dan warga binaan lapas cebongan Yogyakarta. Persamaan dalam penelitian ini adalah pada desain yang digunakan yaitu potong lintang dan instrumen tingkat religiusitas, sedangkan perbedaannya adalah pada subyek penelitian dan tempat pengambilan sampel. Dalam penelitian tersebut subyek penelitiannya adalah sipir dan warga binaan lapas cebongan Yogyakarta dan tempat pengambilan sampel di lapas cebongan Yogyakarta, sedangkan dalam penelitian ini subyek penelitiannya adalah penderita kusta dan tempat penelitian di RSUD Kelet Jepara. 6