PEMERINTAH KABUPATEN SAROLANGUN

dokumen-dokumen yang mirip
PEMERINTAH KABUPATEN SAROLANGUN

PROFIL KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI (KPHP) LIMAU UNIT VII-HULU KABUPATEN SAROLANGUN PROVINSI JAMBI

Jenis. Lelang/ Seleksi. Pengadaan. Belanja Modal Jasa Konsultansi Paket Kec. Mandiangin


PENGUATAN USAHA PENGASAPAN IKAN SIDO MAKMUR KETAPANG KABUPATEN KENDAL. Jalan Menoreh Tengah X no 22 Semarang

BUPATI OGAN KOMERING ULU SELATAN

KPHP UNIT VII HULU RENCANA PENGELOLAAN HUTAN JANGKA PANJANG KPHP MODEL UNIT VII HULU KABUPATEN SAROLANGUN

BUPATI SAROLANGUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAROLANGUN NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SAROLANGUN TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. minyak goreng. Sebagian besar permintaan terhadap minyak goreng ialah untuk

PENGUMUMAN RENCANA UMUM PENGADAAN DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SAROLANGUN TAHUN ANGGARAN 2012 Nomor : 420/ 379 / Sekretaris/disdik

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya setiap perusahaan memiliki rencana pengembangan. bisnis perusahaan untuk jangka waktu yang akan datang.

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Kondisi Geografis dan Persebaran Tanaman Perkebunan Unggulan Provinsi Jambi. Jambi 205,43 0,41% Muaro Jambi 5.

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERDAYAAN, PENGEMBANGAN DAN PERLINDUNGAN KOPERASI DAN USAHA KECIL

VI. PENINGKATAN MUTU PRODUK KOMODITAS BERBASIS KELAPA SAWIT

Permasalahan dan Tantangan dalam Pengembangan Penjaminan Mutu Gula kelapa dan Aren. Kukuh Haryadi, SP L P P S L H

Aspek Hukum Dalam Usaha Makanan. Oleh: Ilzamha Hadijah Rusdan, S.TP., M.Sc

GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 75 TAHUN 2017 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN. nabati yang bermanfaat dan memiliki keunggulan dibanding minyak nabati

KEMITRAAN PEMASARAN BENIH PADI DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH KALIMANTAN SELATAN

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi Sedang Membuka Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Kehutanan Daerah Provinsi Jambi Tahun /10/2014 2

VI. ANALISIS BIAYA DAN PENDAPATAN INDUSTRI RUMAH TANGGA TAHU. A. Analisis Biaya Industri Rumah Tangga Tahu di Desa Karanganayar

REFLEKSI PEMBANGUNAN BIDANG KEHUTANAN DIKEPEMIMPINAN GUBERNUR JAMBI BAPAK Drs. H. HASAN BASRI AGUS, MM

PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG

I. PENDAHULUAN. Keterpurukan ekonomi nasional, selain menyebabkan meningkatnya. jumlah pemutusan hubungan kerja, juga telah memberikan dampak

A. Bidang. No Nama Bidang Nama Seksi. 1. Bidang Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan. - Seksi Perencanaan dan Penatagunaan Hutan

PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PARIWISATA & PERKEBUNAN DI KABUPATEN KAPUAS HULU

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 TENTANG PERHUTANAN SOSIAL

KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LIMAU UNIT VII-HULU SAROLANGUN UPT - DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAMBI RENCANA PENGELOLAAN HUTAN JANGKA PENDEK

diperoleh, ada 3 (tiga) jenis warna madu hutan yaitu madu hitam, madu merah, dan madu kuning. UKM mitra mampu menghasilkan madu hutan minimal

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BINA PRODUKSI KEHUTANAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 26 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN HUTAN HAK MENTERI KEHUTANAN,

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.26/Menhut-II/2005

BUSINESS PLAN RUMAH PRODUKSI KERUPUK UDANG

PERATURAN BERSAMA ANTARA DIREKTUR JENDERAL PENGENDALIAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN HUTAN LINDUNG DAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN DASAR

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.47/MENHUT-II/2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

DINAS KESEHATAN Komp. Perkantoran Gunung Kembang dan Fax (0745) SAROLANGUN KODE POS 37381

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. malam). Contohnya kue kaktus.jadi, makanan ringan adalah aneka makanan atau

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan pasal 5 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P. 56/Menhut-II/2007 TENTANG PENGADAAN DAN PEREDARAN TELUR ULAT SUTERA MENTERI KEHUTANAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG

DR. H. AWANG FAROEK ISHAK Gubernur Kalimantan Timur

Keputusan Menteri Kehutanan No. 31 Tahun 2001 Tentang : Penyelenggaraan Hutan Kemasyarakatan

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG

BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. pada tahun 1962 yang berlokasi dijalan Rajawali No 86 Pekanbaru. Usaha. memperkenalkan produk mie basah dipekanbaru.

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Volume dan Nilai Ekspor Minyak Sawit Indonesia CPO Turunan CPO Jumlah. Miliar)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

RENCANA STRATEGIS SKPD DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN KABUPATEN KARANGASEM

DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT PENGUMUMAN RENCANA UMUM PENGADAAN NO. 87/DPU/2012

200,000,000 4 Peningkatan kesejahteraan petani Kab Dharmasraya Jumlah peningkatan kegiatan propinsi 1 Paket 80,000,000.

PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU

Pembangunan Bambu di Kabupaten Bangli

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG. Nomor : 08 Tahun 2015

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V HASIL PENELITIAN Pelaku Umkm Tenun Ikat, Marning Jagung, Keripik Pisang

BUSINESS PLAN RUMAH PRODUKSI KEPITING SOKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.46/Menhut-II/2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

TEKNIK BUDIDAYA ROTAN PENGHASIL JERNANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PENGENDALIAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN HUTAN LINDUNG NOMOR : P.8/PDASHL-SET/2015 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016

LAMPIRAN PENELITIAN. Dengan Judul : ANALISIS RANTAI NILAI (VALUE CHAIN ANALYSIS) DALAM MENCIPTAKAN KEUNGGULAN KOMPETITIF PADA PENGRAJIN

BUDIDAYA KELAPA SAWIT

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PENETAPAN KINERJA DINAS KOPERASI, PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN TAHUN 2015

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

I. PENDAHULUAN. hayati yang tinggi dan termasuk ke dalam delapan negara mega biodiversitas di

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dikembangkan oleh pelaku industri karena merupakan salah satu bahan pangan

BUSINESS PLAN RUMAH PRODUKSI RAJUNGAN

VII FORMULASI DAN PEMILIHAN STRATEGI

Boks 1. Peluang Peningkatan Pendapatan Petani Karet Melalui Kerjasama Kemitraan Pemasaran Bokar Dengan Pabrik Crumb Ruber

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. PT. Madu Pramuka

2011, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik I

PERHUTANAN SOSIAL DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT YANG EFEKTIF

PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAROLANGUN NOMOR TAHUN 2014 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SAROLANGUN TAHUN

INOVASI PRODUK USAHA OLAHAN UNTUK MENINGKATKAN DAYA JUAL LELE

BAB I PENDAHULUAN. A. Judul Program KERIPIK PISANG ANEKA RASA BERBASIS PEMASARAN KOPERASI SISWA SEKOLAH SEBAGAI BENTUK KERJA SAMA MUTUALISME.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BUPATI TULUNGAGUNG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI TULUNGAGUNG NOMOR 62 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

Rencana Bisnis Minyak Kepayang KPHP Limau Unit VII Hulu Kabupaten Sarolangun PEMERINTAH KABUPATEN SAROLANGUN SAROLANGUN, AGUSTUS 2015

RENCANA OPERASIONAL CORE BUSINESS MINYAK KEPAYANG DI KAWASAN KPHP LIMAU UNIT VII-HULU Rencana Produksi Minyak Kepayang a. Jenis Usaha/Kegiatan Jenis usaha/kegiatan yang dimaksud adalah pengolahan biji kepayang menjadi minyak. b. Produk yang Dihasilkan Produk yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah minyak kepayang. c. Teknologi yang Digunakan Teknologi pengolahan biji kepayang menjadi minyak menggunakan biji-biji kepayang bersumber dari kawasan hutan sekitar. d. Kapasitas Terpasang/Produksi Satu diantara hasil hutan bukan kayu yang dijadikan core business oleh KPHP Limau adalah minyak kepayang yang didapatkan dari biji-biji pohon kepayang. Pohon Kepayang (Pangium edule) banyak terdapat di kawasan KPHP Limau Unit VII Hulu Sarolangun. Pohon yang memiliki potensi dari nilai konservasi dan ekonomi ini dikarenakan pohon Kepayang (Pangium edule) merupakan tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) yang dapat dimanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayunya agar dapat meningkatkan nilai konservasi (menjaga kelestarian hutan) dan meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan di wilayah KPHP Limau ini, salah satu manfaat dari pohon Kepayang (Pangium edule) adalah minyak goreng. Minyak goreng bukan hanya dihasilkan oleh tanaman perkebunan saja seperti sawit dan kelapa, tetapi minyak goreng juga dapat dihasilkan oleh tanaman kehutanan yaitu pohon Kepayang (Pangium edule). Keberadaan pohon Kepayang di wilayah KPHP Limau ini dapat dilihat di beberapa desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan yang memilki potensi untuk pengembangan usaha minyak goreng dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan. KPHP Limau yaitu menjalin kemitraan dengan masyarakat di sekitar hutan yang disebut desa binaan. Ada beberapa desa binaan yang berbatasan langsung dengan wilayah KPHP Limau yang memiliki potensi penghasil minyak goreng dari pohon Kepayang (Pangium edule). Potensi minyak Kepayang dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Estimasi Potensi Minyak Kepayang di Kawasan KPHP Limau Unit VII Hulu Sarolangun Nama Desa Penghasil Biji Kepayang (ton) Desa binaan antara di sekitar kawasan HP. Sungai Kutur dan HL. Bukit Tinjau Limun, terdiri dari : - Desa Lubuk Bedorong - Desa Temalang - Desa Meribung - Desa Berkun - Desa Napal Melintang - Desa Mersip Desa binaan antara di sekitar kawasan HL. Bukit Tinjau Limun dan HPT Bukit Lubuk Pekak, terdiri dari : - Desa Sungai Keradak - Desa Tambak Ratu - Desa Batin Pengambang - Desa Muara Air Dua - Desa Simpang Narso - Desa Batu Empang Desa binaan di sekitar kawasan HP. Batang Asai, terdiri dari : - Desa Muara Cuban - Desa Muara Pemuat - Desa Lubuk Bangkar - Desa Sungai Baung - Desa Sungai Bemban - Desa Kasiro Ilir - Desa Kasiro - Desa Datuk Nan Duo - Desa Padang Jering - Desa Bukit Kalimau Ulu - Desa Raden Anom - Desa Pulau Salak Baru - Desa Rantau Panjang Total (ton) 870 Jika pengepresan akan memperoleh minyak Kepayang jernih kekuningan. Dari 60 kg biji kering akan diperoleh 3 kg minyak. Berarti dengan total berat biji kepayang adalah 870 ton atau 870.000 kg akan diperoleh 43.0 kg minyak. e. Kebutuhan Biaya Investasi dan Biaya Operasional Investasi yang dibutuhkan oleh KPHP Limau untuk pengembangan usaha minyak kepayang adalah sebagai berikut: pembuatan perizinan koperasi KPH (SIUP, SITU dan Izin Perindakop), Uji Lab dan Izin Depkes, Perizinan MUI (logo halal), alat perebus, alat pencungkil, alat pengepres, alat penyaring, alat pengayakan, alat pencincang biji, mesin penghalus, oven, timbangan, ember, botol kaca, botol plastik (125 ml), botol (jerigen 1 kg), pelebelan. Total biaya investasi yang dibutuhkan sebesar Rp 208.690.000,-

Biaya investasi pengeloalan biji kepayang menjadi minyak ini hanya pada tahun pertama (tahun awal) kegiatan usaha, yaitu tahun 2016. Sementara itu untuk 4 (empat) tahun berikutnya (2017-2020) hanya membutuhkan biaya operasional dengan total biaya rata-rata setiap tahunnya yang diperkirakan sebesar Rp 93.719.000,-. Biaya operasional ini meliputi biaya insentif team, transportasi team, mendatangkan tenaga ahli, ATK. Jadi dengan demikian total kebutuhan biaya investasi pada tahun pertama (tahun awal) adalah sebanyak Rp 2.409.000,- yaitu biaya investasi sebesar Rp 208.690.00,- dan biaya operasional sebesar Rp 93.719.000,-. Rencana Pemasaran Minyak Kepayang Peluang Pasar Minyak Kepayang Ada beberapa desa binaan yang berbatasan langsung dengan wilayah KPHP Limau yang memiliki potensi penghasil minyak goreng dari pohon Kepayang ( Pangium edule). Potensi minyak Kepayang yang dapat dihasilkan per tahun adalah 43.0 kg minyak, dengan harga 1 kg minyak adalah Rp 25.000,- maka total pendapatan dari penjualan minyak adalah Rp 1.087.0.000,-. Analisis Pesaing Minyak Kepayang Pesaing adalah pihak yang menghasilkan produk yang sama atau sejenis. Mengingat bahwa KPHP Limau memiliki core business minyak kepayang, madu dan ekowisata, maka sebagai pesaingnya adalah pihak lain yang menghasilkan produk sejenis dan memasarkan produk tersebut di wilayah yang sama. Selain itu, pesaing juga berasal dari produk yang berbeda seperti minyak kelapa sawit. Pengelolaan minyak kepayang masih dilakukan secara tradisional, yaitu bijinya dipecah kemudian ditumbuk atau dipress lalu didapatkan minyaknya. Untuk melakukan pemasaran di pasar lokal, pihak dinas Kehutanan dan Perkebunan meminta litbang kehutanan untuk menyediakan alat pembuatan minyak yang lebih modern agar kemasannya lebih efektif dan efisien dan menjalin kerja sama dengan litbang kehutanan maupun litbang industri untuk ikut memperkenalkan tanaman ini. Karena pengelola KPHP ingin mewujudkan konsep hutan lestari masyarakat menjadi sejahtera. Minyak Kepayang tersebut telah ada dan berasal dari tiga desa, yakni Desa Pemuat, Desa Sungai Bemban dan Desa Batin Pengambang. Tiga desa ini sudah melakukannya, dan hasilnya pun maksimal, maka dari itu pengelola KPHP mengajak masyarakat untuk membudidayakan buah Kepayang ini menjadi minyak goreng.

Persaingan mengharuskan pengusaha meningkatkan kualitas pelayanannya kepada pelanggan dengan maksud agar dapat menarik minat pelanggan sebanyak-banyaknya, serta berupaya merebut pangsa pasar yang lebih besar. Pengamatan terhadap pesaing terus dilakukan dengan memonitor perubahan produk dan respon pelanggan terhadap produk pesaing dan produk yang dihasilkan oleh KPHP Limau. Perubahan produk pun harus tetap dipantau yang meliputi perubahan bentuk, ukuran, harga, mutu, desain, serta bagaimana dampaknya terhadap permintaan pelanggan. Terhadap setiap perubahan harus direspon dengan cepat oleh KPHP Limau, dan cara dan strategi bagaimana yang mesti ditempuh agar perkembangan usaha dapat berlanjut terus. Beberapa teknis mengidentifikasi pesaing antara lain: (1) memonitor volume penjualan produk secara berkala misalnya mingguan atau bulanan. Bila volume penjualan mengalami penurunan, harus diketahui penyebabnya, dan diupayakan untuk menanggungi penyebab tersebut; (2) mengevaluasi pangsa pasar produk sejenis dan seberapa besar dari pangsa pasar tersebut dapat dimanfaatkan; (3) memonitor apa ada pesaing baru yang masuk dan bagaimana dampaknya terhadap volume penjualan. Dalam hal ini bagian pemasaran atau penjualan dapat ditugaskan untuk selalu memonitor dan melaporkan kondisi pesaing dan dan dampak persaingan terhadap pangsa pasar produk yang dihasilkan oleh KPHP Limau Unit VII-Hulu. Strategi Pemasaran Minyak Kepayang Minyak kepayang adalah minyak yang dihasilkan dari biji-biji pohon kepayang. Pengelolaan minyak kepayang dilakukan secara tradisional, yaitu bijinya dipecah kemudian ditumbuk atau dipress lalu didapatkan minyaknya. Sebagai minyak kepayang yang merupakan minyak goreng non kolestrol, maka strategi yang ditempuh disesuaikan dengan daya beli konsumen. 1) Ukuran kemasan minyak kepayang dibuat bervariasi, yaitu ukuran sedang 0 gram dan ukuran jumbo 1 kg. Dengan variasi ukuran kemasan memungkinkan segmen pasar dapat diperluas tidak saja pada golongan masyarakat berpenghasilan menengah ke atas, tetapi juga masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. 2) Minyak kepayang yang merupakan minyak goreng non kolestrol sehingga baiik untuk kesehatan. 3) Mengembangkan jaringan bisnis ( Networking). Maksudnya adalah untuk memperluas wilayah pemasaran yang berskala nasional atau global. 4) Mengikutsertakan produk pada pameran atau expo.

5) Membuat merek dagang, mendapatkan sertifikat halal, sertifikat organik dan mencantumkannya pada merk (label). Saluran Pemasaran Minyak Kepayang Saluran pemasaran minyak kepayang dimulai dari proses pengelolaan biji kepayang menjadi minyak kepayang yang dilakukan oleh masyarakat desa di sekitar hutan wilayah KPHP Limau. KPHP Limau membantu masyarakat desa dalam melakukan pengemasan dan pemberian label serta pemasaran minyak kepayang sebagai bentuk kemitraan dengan cara kolaborasi. Dengan ini diharapkan minyak kepayang yang dihasilkan oleh masyarakat desa di sekitar wilayah KPHP dapat dipasarkan ke masyarakat luas. Rantai pemasaran madu yang ada saat ini sebagaimana digambarkan pada skema berikut: Masyarakat desa di sekitar hutan (petani budidaya kepayang) KPHP Limau (melakukan pengemasan dan pemberian label serta pemasaran minyak kepayang) Konsumen di Kabupaten Sarolangun (Pemasaran Minyak Kepayang di Toko Ole-ole dan Toko Bismillah Sarolangun) Konsumen diluar Kabupaten Sarolangun Gambar 5. Jaringan Pemasaran Minyak Kepayang Sarolangun Rantai pasar yang ada merupakan aset yang berharga bagi KPHP Limau Unit VII- Hulu untuk memasarkan hasil produk minyak kepayang. Rantai pemasaran yang bisa ditempuh adalah petani budidaya kepayang menjual produknya secara langsung kepada KPHP Limau. Kemitraan Usaha Minyak Kepayang Kemitraan usaha yang bisa dikembangkan dalam kaitan dengan minyak kepayang meliputi tiga hal: kemitraan produksi madu, kemitraan pemasaran, dan kemitraan permodalan. Kemitraan produksi mencakup kegiatan mulai dari penyediaan alat pengelolaan biji kepayang menjadi minyak, penyediaan bibit kepayang, dan penguatan kapasitas petani dalam bentuk pelatihan dan pendampingan. Kemitraan pemasaran adalah terkait dengan kerjasama penjualan minyak kepayang dengan toko-toko penjual madu. Kemitraan dalam aspek permodalan, terkait dengan bagaimana sistem penyediaan dana untuk investasi

budidaya kepayang dan pembelian hasil minyak. Pelaku kemitraan yang terlibat adalah KPHP Limau, kelompok tani, toko-toko penjual minyak kepayang dan lembaga pendanaan. Bentuk kemitraan bisa berbeda tergantung pada setiap aspek yang mau dimitrakan (Tabel 4). Tabel 4. Skema Kemitraan yang Bisa Ditempuh Dalam Kaitan Budidaya Kepayang dan Pemasaran Minyak Kepayang Aspek Pelaku Kemitraan Bentuk Kemitraan Legalitas 1. Budidaya Kepayang dan Pengolahan Minyak Kepayang KPHP Limau dengan kelompok tani budidaya kepayang o KPHP Limau mendukung pelatihan o KPHP Limau menyediakan tenaga pendamping o Petani memberikan sebagian hasil keuntungan kepada KPHP Limau o Surat Perjanjian 2. Pemasaran KPHP Limau dengan tokotoko penjual minyak kepayang 3. Permodalan KPHP Limau dengan Bank o KPHP Limau dapat menyepakati penjualan minyak kepayang kepada toko-toko penjual madu o Toko-toko penjual minyak kepayang mengambil setiap keuntungan yang menjadi hak KPHP Limau Unit VII- Hulu dari penjualan minyak kepayang oleh petani dan menyerahkan kepada KPHP Limau o KPHP Limau mengusulkan dana penyediaan bibit, alat pengolahan minyak kepayang dan pendampingan kepada petani o Bank menyediakan dana dengan skema hibah maupun pinjaman o Surat Perjanjian (Kontrak) o Surat Perjanjian (Kontrak) Mengetahui, Kepala KPHP Misriadi, SP. M.Sc NIP. 19790426 200312 1 003