Sistematika presentasi

dokumen-dokumen yang mirip
PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. di Kabupaten Bangka melalui pendekatan sustainable placemaking, maka

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana

BUPATI KLATEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLATEN NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN KLATEN TAHUN

PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) KOTA BATAM BATAM, 8 DESEMBER 2011

LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005

PRINSIP PEMBANGUNAN PARIWISATA BERKELANJUTAN

APA PARIWISATA? Karakteristik jasa lingkungan pariwisata bahari? Karakteristik Jasa Lingkungan Pariwisata Bahari. Sistematika paparan APA PARIWISATA?

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

BAB II KAJIAN TEORI. mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.

I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

RANCANGAN STRATEGI DAN PROGRAM

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. pengelolaan yang sejauh ini dilaksanakan hampir sebagian besar tidak sesuai

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : Dr. M. Liga Suryadana

BAB II PERENCANAAN KINERJA

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. 4.1 Kesimpulan. 1. Sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang (backward linkage) tertinggi

BAB III METODOLOGI. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

I. PENDAHULUAN. Tingginya laju kerusakan hutan tropis yang memicu persoalan-persoalan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak potensi wisata baik dari segi sumber daya

Studi Kelayakan Pengembangan Wisata Kolong Eks Tambang Kabupaten Belitung TA LATAR BELAKANG

KONSEP RESORT AND LEISURE

Memorandum Program Sanitasi (MPS) Kabupaten Balangan BAB 1 PENDAHULUAN

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1. Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta;

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Wisata alam dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan wisata yang

I. PENDAHULUAN. manusia terutama menyangkut kegiatan sosial dan ekonomi. Peranan sektor

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Pembahasan Kesiapan Kondisi Jayengan Kampoeng Permata Sebagai Destinasi Wisata

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i ABSTRACT... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iii DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR...

PEMERINTAH KABUPATEN SINTANG

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB I PENDAHULUAN. 1 A. J. Mulyadi, Kepariwisataan dan Perjalanan, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2009, p.13

BAHAN KULIAH MANAJEMEN PARIWISATA SEMESTER GAZAL 2012/2013. By deni darmawan

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG

BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN TERWUJUDNYA MASYARAKAT BONDOWOSO YANG BERIMAN, BERDAYA, DAN BERMARTABAT SECARA BERKELANJUTAN

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. V, maka penulis menarik kesimpulan dan merumuskan beberapa saran atau

II. TINJAUAN PUSTAKA. Obyek wisata adalah salah satu komponen yang penting dalam industri pariwisata

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN. roses pembangunan pada dasarnya merupakan proses yang berkesinambungan,

KETENTUAN TEKNIS MUATAN RENCANA DETAIL PEMBANGUNAN DPP, KSPP DAN KPPP

Konsep Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Kampung Buyut Cipageran (Kabuci) Kota Cimahi

BAB VIII RANCANGAN PROGRAM STRATEGIS

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Samosir secara garis besar berada pada fase 3 tetapi fase perkembangannya ada

DAMPAK EKONOMI PARIWISATA I Divisi Ekonomi Lingkungan Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi dan Manajemen

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Beberapa pokok utama yang telah dicapai dengan penyusunan dokumen ini antara lain:

7 ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PARIWISATA PESISIR YANG BERKELANJUTAN DI KAWASAN PESISIR BARAT KABUPATEN SERANG, PROVINSI BANTEN

DEKLARASI BANGKOK MENGENAI AKTIVITAS FISIK UNTUK KESEHATAN GLOBAL DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

TEMA. menikmati alam Bali. Lengkap dengan berbagai fasilitas pendukung yang ada di dalamnya. LEGAL

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Rekomendasi Keterbatasan Studi DAFTAR PUSTAKA... xv

BAB V ARAHAN PENGEMBANGAN WISATA KAMPUNG NELAYAN KELURAHAN PASAR BENGKULU

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 73 TAHUN 2016 TENTANG

KONTRIBUSI PROGRAM SREGIP DALAM MENDUKUNG PENCAPAIAN TARGET PEMBANGUNAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Pendahuluan

Strategi Pengembangan Pariwisata ( Ekowisata maupun Wisata Bahari) di Kabupaten Cilacap.

RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) IBUKOTA KECAMATAN TALANG KELAPA DAN SEKITARNYA

I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

NUR END NUR AH END JANU AH AR JANU TI AR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 01 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA INDUK PENGEMBANGAN PARIWISATA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

OLAHRAGA REKREASI

BAB V. KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH KABUPATEN ALOR

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian Desa Mulo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta (Sumber: Triple A: Special Province of Yogyakarta)

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rekreasi dan Wisata 2.2 Perencanaan Kawasan Wisata

PERENCANAAN LANSKAP DALAM PEMBUKAAN TAMBANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini sejalan dengan

BAB I PENDAHULUAN. Gambar I.1 Peta wilayah Indonesia Sumber:

BAB III KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI

Tujuan Pembelajaran. Mahasiswa mampu memahami tinjauan kebijakan pariwisata Mahasiswa mengidentifikasi interaksi wisatawan

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 33 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN EKOWISATA DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pariwisata dan Potensi Obyek Wisata

Bab VI. Penutup. Berdasarkan hasil temuan dan analisis yang telah dipaparkan, menunjukkan bahwa wisata MICE menjadi salah satu wisata yang menjanjikan

BAB III METODE PENELITIAN. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Desa Guci Kecamatan Bumijawa Kabupaten

BAB II TINJAUAN TEORITIS

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 21 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN JOMBANG

DAFTAR ISI. Halaman PRAKATA... v DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR LAMPIRAN... xiii

HOTEL BINTANG EMPAT DENGAN FASILITAS PERBELANJAAN DAN HIBURAN DIKAWASAN PANTAI MARINA SEMARANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN

PROFIL DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA ACEH

Global Sustainable Tourism Council Criteria VERSI 1, 1 NOVEMBER 2013 DAN. Indikator Kinerja yang disarankan VERSI 2.0, 10 DESEMBER 2013 BAGI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. 5.1 Kesimpulan Bab ini berisikan kesimpulan dari hasil yang telah dijelaskan pada bab-bab

PERAN PERENCANAAN TATA RUANG

BAB I PENDAHULUAN. negara-negara yang menerima kedatangan wisatawan (tourist receiving

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. makanan di luar rumah. Kegiatan makan di luar rumah bersama teman dan keluarga

PEMERINTAH KOTA SALATIGA DAFTAR INFORMASI PUBLIK RINGKASAN RENCANA KERJA DINAS PERHUBUNGAN KOTA SALATIGA TAHUN 2017

PENGEMBANGAN KAWASAN TAMAN REKREASI PANTAI KARTINI REMBANG Penekanan Desain Waterfront

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN

Transkripsi:

Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan Wiwik D Pratiwi Sistematika presentasi Mengapa? Apa prinsipnya? Apa pertimbangannya? Apa elemen-elemen strategisnya? Apa hal-hal yang diperlukan bila berdasar pada komunitas? Bagaimana prosesnya? Apa tantangannya bagi pemerintah? Apa perangkatnya? 1

Perencanaan pariwisata berkelanjutan Bila perencanaan dan implementasi yang konsisten tidak dilakukan, besar kemungkinannya perkembangan wisata akan menghancurkan sumber daya tariknya dan menjadi tidak berkelanjutan. Kunci untuk memecahkan masalah wisata adalah dengan membuat industri wisata sadar akan pentingnya menyatukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan pada perencanaan dan operasi. bertambahnya kunjungan yang terus menerus seharusnya tidak lagi menjadi kriteria utama untuk pengembangan wisata. Yang diperlukan adalah pendekatan pengembangan wisata yang integratif yang bertujuan memproteksi lingkungan, menjamin bahwa wisata menguntungkan penduduk lokal dan membantu pelestrian warisan budaya di negara tujuan wisata. Eugenio Yunis, Chief, WTO Section of Sustainable Development of Tourism 2

Dengan demikian perencanaan pengembangan wisata harus menyadari prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan sehingga, dalam prakteknya, keluarannya adalah keputusan-keputusan (swasta, publik, maupun korporasi) yang berkontribusi pada program pengembangan yang terkoordinasi untuk komunitas di tingkat, regional dan nasional. Pendekatan ini mengandung tiga prinsip: 1. perencanaan strategis; 2. sistem kontrol yang kooperatif dan terintegrasi ; 3. koordinasi mekanisme, terutama antara pemerintah, industri wisata, dan komunitas setempat. 3

Prinsip-prinsip pariwisata yang berkelanjutan Partisipasi Keterlibatan semua pihak Kepemilikan lokal Sumber daya yang berkelanjutan Tujuan-tujuan dirumuskan oleh komunitas Daya dukung Monitoring dan evaluasi Tanggungjawab Pelatihan Promosi Perencanaan pariwisata yang ter-integratif mengandung pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: dampak pada lingkungan alam, komunitas lokal, ekonomi di tingkat lokal (regional, nasional), budaya asli setempat; 4

permintaan dan tuntutan terhadap sumber daya manusia, termasuk pengetahuan, ketrampilan, dan jumlah yang diperlukan; dampak pada/karena sistem transportasi dan infrastruktur, pembangunan regional, penggunaan sumber daya dan distribusinya; tanggung jawab yang mengacu pada kesepakatan dan aturan-aturan internasional; dampak pada sektor ekonomi lain, terutama sektor primer, misal: pertanian, kehutanan, pertambangan, perikanan, termasuk, sektor industri, transportasi, dan aspek-aspek komersial lainnya; implikasi pengembangan wisata pada kepemilikan & peruntukan lahan, nilai bangunan dan lahan penggunaan alternatif; keterkaitan dengan perencanaan di tingkat lain, misal: nasional, regional, lokal, tapak, dan fasilitas; keterkaitan dengan badan-badan pemerintah, industri pariwisata, kelompok-kelompok minat, komunitas asli dan setempat, pengembangan undustri lain (selain wisata) 5

Elemen-elemen strategis pada rencana dan kebijakan biasanya termasuk: Infrastruktur penunjang wisata transportasi, air, enerji dan pembangkitnya, pembuangan limbah/sampah, cara mengkrontol polusi, telekomunikasi; Pembangunan khusus untuk wisata termasuk berbagai macam akomodasi, resort, restoran, pusat perbelanjaan, pelayanan penunjang, kendaraan, rekreasi dan hiburan, sistem pelayanan kesehatan dan keamanan pertunjukkan dan atraksi; 6

Penilaian dan evaluasi dampak (termasuk pengukuran daya dukung) pengembangan wisata, misalnya untuk bidang-bidang ekonomi, lingkungan, komunitas setempat, budaya dan peninggalannya; Pendanaan, pemasaran, promosi dan sistem informasi; Sadar wisata -nya komunitas setempat dan program-program pengembangan sumber daya manusia. 7

Perencanaan strategis untuk kesesuaian optimal antara sistem wisata dan lingkungannya Jangka panjang Memiliki visi Menyebutkan tujuan Merinci tindakan dan cara untuk mencapai tujuan Merinci pemakaian alokasi sumber daya utama untuk mencapai tujuan Memastikan bahwa formulasi dan implementasi rencana strategis tidak berdiri sendiri, tapi sangat terkait satu dengan lainnya dengan cara terus menerus memonitor, mengevaluasi, dan menyesuaikan Perencanaan ini bukan proses yang linier, misal: penelitian dan penilaian lingkungan terus menerus dilakukan selama proses agar reaksi dan penyesuaian dapat cepat dilakukan. Monitoring dapat dimulai segera setelah tingkat dan indikator target dapat tercapai untuk menjadi dasar informasi tahap selanjutnya 8

9

Pendekatan strategis untuk perencanaan wisata berdasar pada komunitas yang berkelanjutan memerlukan: Koordinasi dengan badan-badan legislatif dan politik di tingkat lokal Partisipasi dan dukungan komunitas Peran baru bagi perencana sebagai pendidik /fasilitator dan penyedia keahlian teknis tapi bukan hanya untuk merancang. Rencana sebaiknya dibuat oleh mereka yang punya peran dalam keluarannya Inovatif dan membuat struktur organisasi untuk perencanaan bersama Komunitas yang bersedia selalu belajar dan selalu sadar, terdidik, dan tahu informasi Menerapkan prinsip-prinsip pembangan pariwisata berkelanjutan untuk memastikan keberlangsungan ekologis, ekonomi lokal, dan nilai-nilai sosialbudaya jangka panjang, sementara juga mendistribusikan keuntungan yang sama bagi semua pihak 10

Perencanaan pariwisata berkelanjutan memerlukan pendekatan perencanaan strategis yang optimal antara sistem kepariwisataan dan lingkungannya dengan menetapkan hal-hal berikut : Visi (tujuan jangka panjang) Tujuan dan strategi untuk alokasi sumber daya dan monitor dampaknya Action plans yang rinci PROSES PERENCANAAN STRATEGIS Tahap 1 Persiapan untuk pariwisata Tahap 5 Implementasi, monitor, evaluasi & penyesuaian Tahap 2 Analisis situasi SWOT Tahap 4 Tujuan jangka pendek & action plans Tahap 3 Tujuan akhir & strategi Pengembang an 11

Tahap 1: Persiapan untuk pariwisata Menilai kesiapan & penerimaan komunitas: Pertemuan Diskusi/Fasilitasi Pengembangan komunitas Survei Strukutur pengambilan keputusan komunitas Menilai kesiapan & penerimaan industri wisata: Mau berinvestasi untuk pengembangan baru Dukungan untuk kebijakan & rencana pariwisata Tingkat aktifitas kewirausahaan komunitas Menilai kebijakaan & sikap sektor publik: Kebijakan Dukungan untuk pembangunan yang berkelanjutan Penerimaan pengembangan wisata Kebijakan perencanaan pembangunan & wisata Pengembangan struktur pengambilan keputusan komunitas Organisasi kepemimpinan Lingkup & kerangka acuan perencanaan Pengembangan visi komunitas untuk pengembangan wisata Masukan dari komunitas Masa depan yang diinginkan, kepercayaan & tata nilai Analisis Situasi 12

Tahap 2: Analisis situasi ( SWOT ) Pelatihan Program lokal & regional Program grant Mengembangkan visi komunitas untuk pengembangan wisata Sumber daya manusia : ketersediaan Keterampilan/pengala man Fasilitas Akomodasi Restoran Atraksi wisata Lingkungan alam budaya Rekreasi & olahraga festival Competitive Analysis Identifikasi & bandingkan kekuatan & kelemahan Tentukan competitive advantage Evaluasi sektor publik Perencanaan pariwisata umumnya & pengembangan kebijakan & rencana. Analisis situasi & identifikasi : Isu-isu utama Kendala Peluang Kebijakan Competitive position Dampak ke komunitas Tentukan tujuan akhir Infrastruktur : Pusat informasi Jalan Akses / transport Analisis pasar : Potensi pasar Pasar saat ini Aksesibilitas Kebutuhan pengunjung Inventarisasi sumber daya : Peta sumber daya Detail potensi wisata infrastruktur & fasilitas 13

Tahap 3: Tujuan akhir & strategi pengembangan Analisis Situasi Tentukan tujuan akhir Kembangkan & siapkan alternatif Strategi Deskripsi peran & tanggung jawab tiap pihak Kebutuhan & sumber dana sektor publik & privat Strategi pengembangan produk Strategi monitoring Strategi pemasaran Deskripsi action plans Jadwal pelaksanaan action plans Tetapkan tujuan & action plans Tahap 4: Tujuan jangka pendek & action plan Struktur implementasi Organisator Dana Kaitan dengan komunitas Rencana pemasaran & promosi Akomodasi Restoran Peraturan tata guna lahan Proteksi sumber daya alam & budaya Keterlibatan & dukungan komunitas Program sadar wisata Keterlibatan lokal untuk interpretasi Mengomunikasikan kebijakan Strategi Tetapkan tujuan & action plans Implementasi, monitor, evaluasi & penyesuaian Program pelatihan akses pendanaan Kurikulum pengembangan Perencanaan event/acara & festifal Perencanaan sektor privat Akomodasi Restoran Atraksi Fasilitas umum Taman-taman Fasililtas rekereasi Pelayanan informasi & rekreasi 14

Tahap 5: Implementasi, Monev, Penyesuaian Pengembangan Tujuan Jangka Pendek & Action Plans Implementasi, Monitor, Evaluasi & Penyesuaian Implementasi Action Plans Indikator monitoring yang terus-menerus - Limit of acceptable change - Data base dari hasil penelitian Evaluasi Monitoring data Kepuasan pengunjung Dukungan dari komunitas Penyesuaian dari Proses perencanaan Komponen dari action plans 15

Perangkat pembangunan berkelanjutan Sudah menjadi perhatian badan-badan internasional sejak lama Sudah dikembangkan dan diterapkan sesuai dengan interes tiap pihak 3 October 2001 UNEP (United Nation Environment Programme) & WTTC (World Travel &Tourism Council) & IFTO (International Federation of Tour Operators) & IH&RA (International Hotel & Restaurant Association & ICCL (International Council of Cruise Lines) 1. Dialog dengan berbagai pihak yang berperan / stakeholders 2. Kemitraan 3. Inisiatif dan aturan yang disepakati 4. Sistem manajemen lingkungan 5. Monitoring dan pelaporan keberlanjutan 6. Riset & pengembangan teknologi ramah lingkungan Tantangan bagi pemerintah Integrasi kebijakan travel & wisata, terutama lingkungan, dengan kebijakan pemerintah lainnya yang lebih luas. Menentukan kapasitas realistis dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, yang sudah dikonsultasikan dengan industri dan pihak-pihak lain. Membuat insentif untuk industri travel & wisata yang sejalan dengan usaha pembangunan berkelanjutan, misal dengan regulasi yang efektif Berkomitmen untuk mengontrol ekspansi infrastruktur wisata, bila diperlukan 16

Tantangan bagi pemerintah 2 Menerapkan pajak dengan fair dan non-diskriminatif bila diperlukan. Pajak ini diusahakan agar tidak memberi dampak pengembangan ekonomi, dan hasilnya dialokasikan untuk program lingkungan yg relevan dengan industri wisata. Menentukan mekanisme untuk mendukung usaha kecil & menengah dalam melaksanakan good practice Merencanakan kebijakan yang memungkinkan insentif untuk pengembangan wisata yang bertanggung jawab untuk komunitas, dengan mendukung pendekatan yang sensitif bagi lokal, terutama di negara berkembang. Perangkat Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Mowforth M & Ian Munt, Tourism and Sustainability: New Tourism in the Third World, Routledge 1998 Perlindungan lingkungan Kategori perlindungan yang berbedabeda Taman nasional Cagar alam Kawasan perlindungan Area of outstanding natural beauty Sites of special scientific interest Teknik manajemen pengunjung Zoning Penyebaran kunjungan Arahan aliran pengunjung Batasan akses kendaraan Struktur pendanaan yang berbeda Perhitungan daya dukung Daya dukung lingkungan Daya dukung fisik Daya dukung ekologis Daya dukung sosial Daya dukung riil Daya dukung efektif Limits of acceptable change 17

Teknik konsultasi dan partisipasi Pertemuan dan diskusi Survei sikap masyarakat Kode etik Untuk wisatawan Untuk industri Untuk lokal (penduduk dan pemerintah) Peraturan Peraturan pemerintah Peraturan asosiasi profesional Peraturan dan kontrol internasional Peraturan-peraturan pribadi Analisis dampak lingkungan Indikator keberlanjutan Indikator keberlanjutan Penggunaan sumber daya Sampah dan buangan Polusi Produksi lokal Akses untuk kebutuhan dasar Akses untuk fasilitas Bebas dari kekerasan dan penindasan Keragaman alam dan budaya Terima kasih 18