BAB II TINJAUAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TUNJAUAN TEORI. orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins, 1993)

PROPOSAL TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK SOSIALISASI (TAKS : MENARIK DIRI) BAB I PENDAHULUAN

Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)

BAB II TINJAUAN TEORI. maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung (isolasi diri).

PROPOSAL Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Orientasi Realita

PROPOSAL TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK (TAK) SOSIALISASI

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Interaksi Sosial

BAB II TINJAUAN TEORI. dengan orang lain (Keliat, 2011).Adapun kerusakan interaksi sosial

BAB II KONSEP DASAR. tanda-tanda positif penyakit tersebut, misalnya waham, halusinasi, dan

BAB II TINJAUAN TEORI. (DepKes, 2000 dalam Direja, 2011). Adapun kerusakan interaksi sosial

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. perilaku adaptif (Keliat, 2004). Terapi modalitas adalah terapi dalam keperawatan

PRE PLANNING TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ORIENTASI REALITA SESI I: PENGENALAN ORANG

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI

BAB II TINJAUAN TEORI. menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PENINGKATAN HARGA DIRI

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) STIMULASI SENSORI

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS STIMULASI PERSEPSI HALUSINASI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN. Jiwa Daerah Provsu Medan. Oleh. Sulastri Pasaribu

BAB I PENDAHULUAN. Menuju era globalisasi manusia disambut untuk memenuhi kebutuhan

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok

BAB II TINJAUAN TEORI

LAPORAN PENDAHULUAN (LP) ISOLASI SOSIAL

TERAPI AKTIVITAS STIMULASI PERSEPSI HALUSINASI

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) ORIENTASI REALITA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang

Koping individu tidak efektif

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahluk sosial, dimana untuk mempertahankan kehidupannya

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI SENSORI

Lampiran 1. Universitas Sumatera Utara

Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensori

MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN RESIKO BUNUH DIRI DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

BAB 1 PENDAHULUAN. stressor, produktif dan mampu memberikan konstribusi terhadap masyarakat

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK Stimulasi Persepsi Halusinasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ORIENTASI REALITA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Krisis multi dimensi yang melanda masyarakat saat. ini telah mengakibatkan tekanan yang berat pada sebagian

BAB II TINJAUAN KONSEP

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam

BAB I PENDAHULUAN. dalam dirinya dan lingkungan luar baik keluarga, kelompok maupun. komunitas, dalam berhubungan dengan lingkungan manusia harus

BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN. tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,

BAB I PENDAHULUAN. dan kestabilan emosional. Upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan. pekerjaan, & lingkungan masyarakat (Videbeck, 2008).

BAB II TINJAUAN TEORI. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan

BAB II KONSEP TEORI. Perubahan sensori persepsi, halusinasi adalah suatu keadaan dimana individu

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Harga diri merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan

BAB I PENDAHULUAN. perilaku seseorang. Gangguan jiwa adalah sebuah penyakit dengan. manifestasi dan atau ketidakmampuan psikologis atau perilaku yang

BAB II TINJAUAN TEORI. pengecapan maupun perabaan (Yosep, 2011). Menurut Stuart (2007)

BAB II KONSEP DASAR A. PENGERTIAN. Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan jiwa pada manusia. Menurut World Health Organisation (WHO),

BAB III METODE PENELITIAN

MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN WAHAM DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH UTAMA ISOLASI SOSIAL: MENARIK DIRI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dirasakan sebagai ancaman (Nurjannah dkk, 2004). keadaan emosional kita yang dapat diproyeksikan ke lingkungan, kedalam

BAB II KONSEP DASAR. serta mengevaluasinya secara akurat (Nasution, 2003). dasarnya mungkin organic, fungsional, psikotik ataupun histerik.

BAB II TINJAUAN TEORI. Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif

BAB II KONSEP DASAR. orang lain maupun lingkungan (Townsend, 1998). orang lain, dan lingkungan (Stuart dan Sundeen, 1998).

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN TEORI

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN. S DENGAN GANGGUAN MENARIK DIRI DI RUANG ABIMANYU RSJD SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. keluarga, kelompok, organisasi atau komunitas. ANA (American nurses

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA KOMUNITAS (CMHN)

BAB I PENDAHULUAN. lansia. Semua individu mengikuti pola perkemban gan dengan pasti. Setiap masa

BAB II TINJAUAN TEORETIS

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN MENARIK DIRI INTERAKSI PERTAMA/AWAL

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Perilaku Menarik Diri pada Lansia. mekanisme pertahanan diri yang dilakukan seseorang sebagai coping terhadap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang sebenarnya tidak ada stimulus dari manapun baik stimulus suara,

A. Pengertian Defisit Perawatan Diri B. Klasifikasi Defisit Perawatan Diri C. Etiologi Defisit Perawatan Diri

BAB II KONSEP DASAR. A. Pengertian. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) PENINGKATAN HARGA DIRI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai

SATUAN ACARA PENYULUHAN PRE KLINIK KEPERAWATAN JIWA MENARIK DIRI

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) PENYALURAN ENERGI

PROPOSAL KUNJUNGAN RUMAH (HOME VISIT) PADA KELUARGA NY. A DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN HARGA DIRI RENDAH DAN WAHAM CURIGA

BAB I PENDAHULUAN. keadaan tanpa penyakit atau kelemahan (Riyadi & Purwanto, 2009). Hal ini

BAB II TINJAUAN TEORI. Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu atau kelompok

BAB 1 PENDAHULUAN. fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan jiwa adalah berbagai karakteristik positif yang menggambarkan

TERAPI MODALITAS DALAM KEPERAWATAN JIWA

MODUL KEPERAWATAN JIWA I NSA : 420 MODUL ANXIETAS DISUSUN OLEH TIM KEPERAWATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Sdr. D DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI DI RUANG MAESPATI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA

BAB II KONSEP DASAR. perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau. (1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)).

BAB I PENDAHULUAN. siklus kehidupan dengan respon psikososial yang maladaptif yang disebabkan

BAB II KONSEP DASAR. memelihara kesehatan mereka karena kondisi fisik atau keadan emosi klien

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II KONSEP DASAR. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN. Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan. Saat ini saya sedang melakukan

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN Masalah : Isolasi sosial Pertemuan : I (satu)

BAB II KONSEP DASAR. A. Pengertian. Halusinasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan

BAB 1 PENDAHULUAN. kelompok atau masyarakat yang dapat dipengaruhi oleh terpenuhinya kebutuhan dasar

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN TEORI

Laporan Pendahuluan. Isolasi Sosial

Transkripsi:

8 BAB II TINJAUAN TEORI 2.1. Isolasi Sosial: Menarik Diri 2.1.1. Pengertian Isolasi sosial merupakan kondisi kesendirian dialami oleh individu diterima sebagai ketentuan oleh orang lain sebagai suatu keadaan negatif atau mengancam. Kelainan interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seorang individu berpatisipasi dalam suatu kuantitas tidak cukup atau berlebih atau kualitas interaksi sosial tidak efektif (Townsend, 1998). Menurut Sunaryo (2004), menarik diri adalah mekanisme perilaku seseorang apabila menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri dari pergaulan lingkungannya. Menurut Depkes RI (1989) penarikan diri atau withdrawal merupakan suatu tindakan melepaskan diri baik perhatian ataupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung dapat bersifat sementara atau menetap. 2.1.2. Etiologi Penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang

9 kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan ditandai aya perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, percaya diri kurang juga dapat mencederai diri (Carpenito, 2007). 2.1.2.1. Faktor Predisposisi Ada berbagai faktor menjadi pendukung terjadinya perilaku menarik diri (Stuart & Sundeen, 1998), antara lain: 2.1.2.1.1. Faktor perkembangan Tiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembangan dari masa bayi sampai dewasa tua akan menjadi pencetus seseorang sehingga mempunyai masalah respon sosial menarik diri. Sistem keluarga terganggu juga dapat mempengaruhi terjadinya menarik diri. Organisasi keluarga bekerja sama tenaga profesional untuk mengembangkan gambaran lebih tepat tentang hubungan antara kelainan jiwa stress keluarga. Pendekatan kolaburatif sewajarnya dapat

10 mengurangi masalah respon sosial menarik diri. 2.1.2.1.2. Faktor biologik Faktor genetik dapat menunjang terhadap respon sosial maladaptif. Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa. Kelainan struktur otak, seperti atropi, pembesaran ventrikel, penurunan berat volume otak serta perubahan limbik diduga dapat menyebabkan skizofrenia. 2.1.2.1.3. Faktor Sosiokultural Menarik diri merupakan faktor dalam gangguan berhubungan. Ini merupakan akibat dari norma tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, atau tidak menghargai masyarakat tidak produktif, seperti lansia, orang cacat berpenyakit kronik. Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku, sistem nilai berbeda dari dimiliki budaya mayoritas. Harapan tidak realitis terhadap

11 hubungan merupakan faktor lain berkaitan gangguan ini. 2.1.2.2. Faktor Presipitasi Faktor presipitasi menarik diri menurut Stuart & Sundeen, 1998 antara lain: 2.1.2.2.1. Faktor sosial budaya Faktor sosial budaya dapat menyebabkan terjadinya gangguan dalam membina hubungan orang lain, misalnya keluarga labil dirawat di rumah sakit. 2.1.2.2.2. Faktor psikologis Tingkat kecemasan berat akan menyebabkan menurunnya kemampuan individu untuk berhubungan orang lain. Intensitas kecemasan ekstrim memanjang disertai terbatasnya kemampuan individu untuk mengatasi masalah, diyakini akan menimbulkan berbagai masalah gangguan berhubungan (menarik diri).

12 2.1.3. Tanda Gejala Menurut Townsend (1998), isolasi sosial: menarik diri sering ditemukan aya tanda gejala sebagai berikut: 2.1.3.1. Kurang spontan 2.1.3.2. Apatis 2.1.3.3. Ekspresi wajah tidak berseri 2.1.3.4. Tidak memperhatikan kebersihan diri 2.1.3.5. Komunikasi verbal kurang 2.1.3.6. Menyendiri 2.1.3.7. Tidak peduli lingkungan 2.1.3.8. Asupan makanan terganggu 2.1.3.9. Retensi urin feses 2.1.3.10. Aktivitas menurun 2.1.3.11. Posisi baring seperti fetus 2.1.3.12. Menolak berhubungan orang lain

13 2.1.4. Rentang Respon Rentang respon menarik diri menurut Townsend tahun 1998: Rentang Respon Sosial Respon Adaptif - Menyendiri - Otonomi - Bekerja sama (mutualisme) - Saling ketergantungan (interdependent) Respon antara adaptif maladaptif - Merasa sendiri (loneliness) - Menarik diri - Tergantung (dependent) Respon Maladaptif - Menipulasi - Impulsive - Narcisisisme Gambar 2.1 Rentang Respon Sosial (Townsend, 1998) Berdasarkan bagan di atas, dapat dilihat rentang respon sosial dari respon adaptif sampai maladaptif berupa depersonalisasi: 2.1.4.1. Menyendiri (solitude) merupakan respon dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa telah dilakukan dilingkungan sosialnya suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya. 2.1.4.2. Otonomi merupakan kemampuan individu untuk menentukan menyampaikan ide-ide pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.

14 2.1.4.3. Bekerja sama (mutualisme) adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi menerima. 2.1.4.4. Saling tergantung (interdependent) adalah suatu kondisi saling tergantung antara individu orang lain dalam membina hubungan interpersonal. 2.1.4.5. Kesepian adalah kondisi dimana seseorang merasa sendiri, sepi, tidak aya perhatian orang lain atau lingkungannya. 2.1.4.6. Menarik diri merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka orang lain. 2.1.4.7. Tergantung (dependent) terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri atau kemampuan untuk berfungsi secara sukses. 2.1.4.8. Manipulasi merupakan gangguan hubungan sosial terdapat pada individu menganggap orang lain sebagai objek. Individu tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam. 2.1.4.9. Curiga (impulsive) terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya orang lain. Kecurigaan ketidakpercayaan diperlihatkan

15 tanda-tanda cemburu, iri hati, berhatihati. Perasaan individu ditandai humor kurang individu merasa bangga sikapnya dingin tanpa emosi. 2.1.4.10. Narkisme, secara terus menerus mendapatkan penghargaan pujian. Individu akan marah jika orang lain tidak mendukungnya. 2.1.5. Mekanisme Koping Mekanisme koping digunakan klien sebagai usaha mengatasi kecemasan merupakan suatu kesepian nyata mengancam dirinya. Kecemasan koping sering digunakan adalah regresi, represi isolasi. Regresi adalah sikap seseorang kembali ke masa lalu atau bersikap seperti anak kecil segkan represi adalah melupakan masa-masa tidak menyenangkan dari ingatannya hanya mengingat waktu-waktu menyenangkan (Stuart & Laraia, 2005). Contoh sumber koping dapat digunakan misalnya keterlibatan dalam hubungan luas dalam keluarga teman, hubungan hewan peliharaan, menggunakan kreativitas untuk mengekspresikan stress interpersonal seperti kesenian, musik, atau tulisan.

16 2.2. Komunikasi Verbal 2.2.1. Pengertian Komunikasi verbal adalah komunikasi menggunakan kata-kata, entah lisan maupun tertulis. Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia. Melalui kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan atau maksud mereka, menyampaikan fakta, data, informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan pemikiran, saling berdebat bertengkar. Dalam komunikasi verbal, bahasa memegang peranan penting (Hardjana, 2003). 2.2.2. Bahasa Dalam komunikasi verbal, lambang bahasa dipergunakan adalah bahasa verbal entah lisan, tertulis pada kertas, ataupun elektronik. Segkan dalam komunikasi nonverbal, bahasa dipakai adalah bahasa nonverbal berupa bahasa tubuh (raut wajah, gerak kepala, gerak tangan), tanda, tindakan, objek (Hardjana, 2003). 2.2.3. Kata Kata merupakan unit lambang terkecil dalam bahasa. Kata adalah lambang melambangkan atau mewakili sesuatu hal, entah orang, barang, kejadian, atau keadaan. Jadi, kata itu bukan orang, barang, kejadian, atau keadaan

17 sendiri. Makna kata tidak ada pada kata sendiri melainkan pada pikiran orang. Tidak ada hubungan lansung antara kata hal. Yang berhubungan lansung hanyalah kata pikiran orang. Kata mempunyai dua aspek atau segi, yakni lambang makna. Dalam bahasa lisan, lambang kata berupa ucapan lisan. Dalam bahasa tertulis, lambang kata berbentuk tulisan. Makna merupakan isi terkadung dalam lambang. Isi menunjuk kepada objek, seperti orang, barang, atau keadaan. Dalam pemaknaan kata perlu dibedakan antara makna denotatif makna konotatif. Makna denotatif adalah makna konseptual, makna biasa atau umum sebagaimana dijelaskan dalam kamus. Segkan makna konotatif adalah makna personal sosial, dimana pengertian pribadi social tercangkup (Hardjana, 2003). 2.3. Terapi Aktivitas Kelompok 2.3.1. Pengertian Terapi aktivitas adalah terapi modalitas dilakukan perawat kepada se pasien mempunyai masalah keperawatan sama. Aktivitas digunakan sebagai terapi digunakan sebagai target asuhan. Didalam terjadi dinamika interaksi saling bergantung, saling membutuhkan menjadi laboratorium tempat pasien

18 berlatih perilaku baru adaptif untuk memperbaiki perilaku lama maladaptif. Tujuan dari terapi aktivitas adalah meningkatkan identitas diri, menyalurkan emosi secara konstruktif, meningkatkan ketrampilan hubungan interpersonal atau sosial (Keliat & Akemat, 2012). 2.3.2. Manfaat Terapi Aktivitas Kelompok Manfaat terapi aktivitas menurut Yosep (2011) terdiri dari: 2.3.2.1. Manfaat secara umum 2.3.2.1.1. Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan (reality testing) melalui komunikasi umpan balik atau dari orang lain. 2.3.2.1.2. Membentuk sosialisasi. 2.3.2.1.3. Meningkatkan fungsi psikologis, yaitu meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional diri sendiri perilaku defensive (bertahan terhadap stress) adaptasi. 2.3.2.1.4. Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti kognitif afektif.

19 2.3.2.2. Manfaat secara khusus 2.3.2.2.1. Meningkatkan identitas diri 2.3.2.2.2. Menyalurkan emosi secara konstruktif 2.3.2.2.3. Meningkatkan ketrampilan hubungan sosial untuk diterapkan sehari-hari 2.3.2.2.4. Bersifat rehabilitatif: meningkatkan kemampuan ekspresi diri, ketrampilan sosial, kepercayaan diri, kemampuan empati, meningkatkan kemampuan tentang masalah-masalah kehidupan pemecahannya. 2.3.3. Tahapan Dalam Terapi Aktivitas Kelompok Kelompok sama individu, mempunyai kapasitas untuk tumbuh berkembang. Kelompok akan berkembang melalui empat fase, yaitu fase pra, fase awal, fase kerja, fase terminasi (Stuart & Laraia, 2005). 2.3.3.1. Fase Pra Dimulai membuat tujuan, menentukan leader, jumlah, kriteria, tempat waktu kegiatan, media digunakan. Menurut Yosep (2011), jumlah

20 ideal cara verbalisasi biasanya 7-8 orang. Segkan jumlah minimum 4 orang maksimum 10 orang. Kriteria memenuhi syarat untuk mengikuti TAKS adalah pasien sudah mempunyai diagnosa jelas, tidak terlalu gelisah, tidak agresif, waham tidak terlalu berat. 2.3.3.2. Fase Awal Kelompok Fase ini ditandai ansietas karena masuknya baru peran baru. Stuart & Laraia (2005) membagi fase ini menjadi tiga fase, yaitu: 2.3.3.2.1. Tahap orientasi Anggota mulai mencoba mengembangkan sistem sosial masingmasing, leader menunjukkan rencana terapi menyepakati kontrak. 2.3.3.2.2. Tahap konflik Merupakan masa sulit dalam. Pemimpin perlu memfasilitasi ungkapan perasaan, baik positif maupun negatif membantu mengenali

21 penyebab konflik serta mencegah perilaku tidak produktif. 2.3.3.2.3. Tahap kohesif Anggota merasa bebas membuka diri tentang informasi lebih intim satu sama lain. 2.3.3.3. Fase Kerja Kelompok Pada fase ini, sudah jadi tim. Kelompok menjadi stabil realisitis. Pada akhir fase ini, menyadari produktivitas kemampuan bertambah diserta percaya diri kemandirian. 2.3.3.4. Fase Terminasi Terminasi sukses ditandai oleh perasaan puas pengalaman akan digunakan secara individual pada kehidupan sehari-hari. Terminasi dapat bersifat sementara (temporal) atau akhir. 2.3.4. Macam-macam Terapi Aktivitas Kelompok Menurut Keliat & Akemat tahun 2012, terapi aktivitas dibagi menjadi empat, yaitu:

22 2.3.4.1. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Kognitif/Persepsi Pada terapi ini, pasien dilatih mempersepsikan stimulus ada atau stimulus pernah dialami sebelumnya. Kemampuan persepsi klien dievaluasi ditingkatkan pada tiap sesi. Diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus menjadi adaptif. Stimulus disediakan seperti membaca buku, menonton TV, stimulus dari masa lalu menghasilkan proses persepsi klien maladaptif, misalnya kemarahan, pangan negatif terhadap orang lain, halusinasi. 2.3.4.2. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensoris Pada terapi ini, aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensoris klien. Lalu dilakukan observasi reaksi sensoris klien terhadap stimulus disediakan, berupa ekspresi perasaan secara nonverbal (ekspresi wajah, gerakan tubuh). Aktivitas dapat digunakan sebagai stimulus seperti musik, menari, menyanyi.

23 2.3.4.3. Terapi Aktivitas Kelompok Orientasi Realita Dalam terapi ini, pasien diorientasikan pada kenyataan ada disekitar pasien, yaitu diri sendiri, orang lain ada disekitar pasien atau orang dekat pasien. Demikian juga orientasi waktu saat ini, masa lalu, akan datang. 2.3.4.4. Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Pada terapi ini, pasien dibantu untuk bersosialisasi individu ada di sekitar pasien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal,, massa. Aktivitas dapat berupa latihan bersosialisasi dalam. Dengan perawat ruangan sebagai terapis.

24 Terapi aktivitas sosialisasi terdapat tujuh sesi, antara lain: Sesi Tujuan Setting, Alat, Metode Sesi I Klien mampu Setting: Mengajak memperkenalk 1. Klien pasien an diri terapis duduk untuk menyebutkan bersama memperke nama (nama dalam nalkan lengkap lingkaran dirinya nama 2. Ruangan panggilan), nyaman umur, asal, tenang hobi. Alat: 1. Tape recorder 2. Kaset 3. Bola tenis 4. Buku catatan Langkah Kegiatan Persiapan Orientasi Kontrak Tahap Kerja Tahap Terminasi 1. Memilih klien sesuai indikasi, yaitu isolasi sosial menarik diri 2. Membuat kontrak klien 3. Mempersia pkan alat tempat Pada tahap a. Menjelaskan 1. Jelaskan kegiatan, Evaluasi ini, terapi tujuan yaitu kaset pada melakukan: kegiatan, tape recorder akan 1. Memberi yaitu dihidupkan serta salam memperken bola diedarkan terapeutik: alkan diri berlawanan arah salam dari terapis b. Menjelaskan aturan main, jarum jam (kearah kiri) pada saat 2. Evaluasi/ validasi sebagai berikut: tape maka dimatikan 1. Jika ada memegang bola klien memperkenalkan akan dirinya meninggalka 2. Hidupkan kaset n pada tape recorder harus minta edarkan bola 1. Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAKS. 2. Memberi pujian atas keberhasilan Rencana tindak lanjut 1. Menganjurkan tiap melatih memperkenalk

25 pulpen izin kepada tenis berlawanan an diri kepada 5. Jadwal kegiatan terapis. 2. Lama kegiatan 45 jarum jam. 3. Pada saat tape dimatikan, orang lain di kehidupan sehari-hari. pasien menit. 2. Memasukkan 3. Setiap klien memegang bola kegiatan Metode: 1. Dinamika 2. Diskusi tanya jawab 3. Bermain peran mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. mendapat giliran untuk menyebutkan: salam, nama lengkap, nama panggilan, umur, hobi, asal memperkenalk an diri pada jadwal kegiatan harian pasien. Kontrak akan datang dimulai oleh terapis 1. Menyepakati sebagai contoh. kegiatan 4. Tulis nama berikut, yaitu panggilan pada berkenalan kertas/papan nama tempel/pakai. 5. Ulangi langkah. 1,2, 3 sampai 2. Menyepakati

26 semua waktu mendapat giliran. tempat 6. Beri pujian untuk tiap keberhasilan memberi tepuk tangan. Sesi II, Klien mampu Setting: 1. Mengingat Pada tahap ini 1. Menjelaskan 1. Hidupkan kaset Evaluasi mengajak berkenalan 1. Klien kan terapis tujuan pada tape recorder 1. Menanyakan pasien terapis duduk kontrak melakukan: kegiatan, edarkan bola perasaan klien untuk bersama 1. Memberi yaitu berlawanan setelah berkenala dalam salam berkenalan jarum jam. mengikuti n (memperkenal lingkaran terapeutik: 2. Pada saat tape TAKS. teman- kan diri sendiri 2. Ruang pada sesi salam dari dimatikan, 2. Memberi pujian temannya nyaman TAKS. terapis. atas menanyakan tenang 2. Mempersi 2. Evaluasi/ 2. Menjelaskan memegang bola keberhasilan diri apkan alat validasi aturan main mendapat giliran klien. Alat: 3. Menyakan berikut: untuk berkenalan lain). 1. Tape recorder tempat perasaan Rencana tindak 2. Kaset pertemuan klien saat a. Jika ada lanjut 3. Bola tenis ini peserta ada disebelah 1. Menganjurkan

27 4. Buku catatan 4. Menanyak akan kanan semua pulpen an apakah meninggalka cara: memberi 5. Jadwal telah n salam, latihan kegiatan klien mencoba harus menyebutkan berkenalan. memperke meminta izin nama lengkap, 2. Memasukkan Metode: nalkan diri kepada nama panggilan, kegiatan 1. Dinamika pada terapis. asal, hobi, berkenalan orang lain. b. Lama menanyakan pada jadwal 2. Diskusi kegiatan 45 nama lengkap, kegiatan harian tanya jawab menit. nama panggilan, klien. 3. Bermain peran c. Setiap klien asal, hobi / simulasi mengikuti lawan bicara. Kontrak akan kegiatan dari Dimulai oleh datang: awal sampai terapis sebagai 1. Menyepakati selesai. contoh. kegiatan 3. Ulangi langkah 1 berikut, yaitu 2 sampai semua bercakap- cakap tentang mendapat giliran. kehidupan 4. Hidupkan kembali pribadi.

28 kaset pada tape recorder edarkan bola, pada saat tape recorder dimatikan, minta pada memegang bola untuk memperkenalkan disebelah kanannnya kepada, yaitu nama lengkap, nama panggilan, asal hobi. Dimulai oleh terapis sebagai contoh. 2. Menyepakati waktu tempat

29 5. Ulangi langkah ke- 4 sampai semua mendapatkan giliran. 6. Beri pujian untuk setiap keberhasilan memberi tepuk tangan. Sesi III, Klien mampu Setting: 1. Mempersi Pada tahap ini 1. Menjelaskan 1. Hidupkan kaset Evaluasi mengajark bercakap- 1. Klien apkan terapis tujuan pada tape recorder 1. Menanyakan an pasien cakap terapis duduk kontrak melakukan: kegiatan, edarkan bola perasaan klien bercakap- bersama 1. Memberi yaitu tenis berlawanan setelah cakap dalam salam bertanya arah jarum mengikuti lingkaran terapeutik: jam TAKS teman- 2. Ruangan pada sesi salam dari menjawab 2. Pada saat tape 2. Memberi pujian temannya nyaman II TAKS terapis tentang dimatikan, atas tenang 2. Mempersi 2. Evaluasi/ kehidupan keberhasilan apkan alat validasi pribadi memegang bola

30 Alat: 3. Menyakan 2. Menjelaskan mendapat giliran Rencana tindak 1. Tape recorder tempat perasaan aturan main untuk bertanya lanjut 2. Kaset pertemuan klien saat berikut: tentang kehidupan 1. Menganjurkan 3. Bola tenis ini pribadi tiap 4. Buku catatan 4. Menanyak a. Jika ada pulpen an apakah peserta ada disebelah bercakap- 5. Jadwal telah akan kanan cakap tentang kegiatan klien mencoba meninggalka cara: kehidupan berkenala n a. Memberi salam pribadi Metode: n harus b. Memanggil orang lain pada 1. Dinamika orang lain meminta izin panggilan kehidupan kepada c. Menanyakan sehari-hari 2. Diskusi terapis. kehidupan pribadi: 2. Memasukkan tanya jawab b. Lama orang terdekat/ kegiatan kegiatan 45 dipercaya,disegani bercakap- menit., pekerjaan cakap pada c. Setiap klien d. Dimulai oleh jadwal kegiatan mengikuti terapis sebagai harian pasien kegiatan dari contoh awal sampai 3. Ulangi langkah 1 selesai. 2 sampai

31 semua Kontrak akan datang mendapat giliran 1. Menyepakati 4. Beri pujian untuk kegiatan tiap keberhasilan berikut, yaitu menyampaikan memberi tepuk tangan membicarakan topik pembicaraan tertentu 2. Menyepakati waktu tempat Sesi IV, Klien mampu Setting: 1. Mengingat Pada tahap ini 1. Menjelaskan 1. Hidupkan kaset Evaluasi mengajark menyampaika 1. Klien kan terapis tujuan pada tape recorder 1. Menanyakan an pasien n topik terapis duduk kontrak melakukan: kegiatan, edarkan bola perasaan klien untuk pembicaraan bersama 1. Memberi yaitu tenis berlawanan setelah memilih tertentu dalam salam menyampaik arah jarum jam. mengikuti topik lingkaran terapeutik: an, memilih, 2. Pada saat tape TAKS pembicara 2. Ruangan pada sesi salam dari recorder 2. Memberi pujian

32 an nyaman III TAKS. terapis memberikan dimatikan, atas 1. Menanyak tenang 2. Mempersi 2. Evaluasi/ pendapat keberhasilan an topik apkan alat validasi tentang topik memegang bola ingin Alat: 3. Menanyaka percakapan mendapat giliran dibicara 1. Tape recorder tempat n perasaan 2. Menjelaskan untuk Rencana tindak kan 2. Kaset pertemuan klien saat aturan main manyampaikan lanjut 2. Memilih 3. Bola tenis ini berikut: satu topik 1. Menganjurkan topik 4. Buku catatan 4. Menanyaka ingin dibicarakan, tiap ingin dibicara kan 3. Memberi pendapat tentang topik dipilih pulpen 5. Jadwal kegiatan klien 6. Flipcart spidol Metode: 1. Dinamika 2. Diskusi tanya jawab 3. Bermain peran stimulasi n apakah telah mencoba berkenalan orang lain a. Jika ada peserta akan meninggalka n harus meminta izin kepada terapis. b. Lamkegiatan 45 menit. c. Setiap klien dimulai oleh terapis sebagai contoh. Misalnya cara bicara baik atau cara mencari teman. 3. Tuliskan pada flipcart topik disampaikan secara berurutan. 4. Ulangi langkah 1, 2, 3 sampai semua 2. Memasukkan bercakapcakap tentang kehidupan pribadi orang lain pada kehidupan sehari-hari kegiatan bercakapcakap pada jadwal kegiatan

33 mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. memilih topik. 5. Terapis membantu menetapkan topik paling banyak terpilih 6. Hidupkan lagi kaset edarkan bola tenis. Pada saat dimatikan, memegang bola menyampaikan pendapat tentang topik dipilh 7. Ulangi langkah 6 sampai semua menyampaikan pendapat 8. Beri pujian untuk harian pasien Kontrak akan datang 1. Menyepakati kegiatan berikut, yaitu menyampaikan membicarakan topik pembicaraan tertentu 2. Menyepakati waktu tempat

34 tiap keberhasilan memberi tepuk tangan Sesi V, Klien mampu Setting: 1. Mengingat Pada tahap ini 1. Menjelaskan 1. Hidupkan kaset Evaluasi mengajark menyampaika 1. Klien kan terapis tujuan pada tape recorder 1. Menanyakan an pasien n terapis duduk kontrak melakukan: kegiatan, edarkan bola perasaan klien agar dapat membicarakan bersama 1. Memberi yaitu tenis berlawanan setelah mencerita masalah dalam salam menyampaik arah jarum mengikuti kan pribadi lingkaran terapeutik: an, memilih, jam TAKS masalah orang 2. Ruangan pada sesi salam dari 2. Pada saat tape 2. Memberi pujian pribadi lain nyaman IV TAKS terapis memberikan dimatikan, atas 1. Menyamp tenang 2. Mempersi 2. Evaluasi/ pendapat keberhasilan teman aikan apkan alat validasi tentang topik memegang bola masalah Alat: 3. Menanyaka percakapan mendapat giliran pribadi 1. Tape recorder tempat n perasaan 2. Menjelaskan untuk Rencana tindak 2. Memilih 2. Kaset pertemuan klien saat aturan main menyampaikan lanjut satu 3. Bola tenis ini berikut: satu masalah 1. Menganjurkan masalah 4. Buku catatan 4. Menanyaka pribadi ingin tiap ingin pulpen n apakah a. Jika ada dibicarakan. di 5. Jadwal telah peserta Dimulai oleh bercakap-

35 bicarakan kegiatan klien latihan akan terapis sebagai cakap tentang 3. Memberi 6. Flipcart bercakap- meninggalka contoh. Misalnya masalah pribadi pendapat spidol cakap n sulit bercerita tentang tentang harus atau tidak orang masalah Metode: topik/hal meminta izin diperhatikan orang lain pada pribadi 1. Dinamika tertentu kepada tua. kehidupan terapis. 3. Tuliskan pada sehari-hari dipilih 2. Diskusi orang lain b. Lama flipcart topik 2. Memasukkan tanya jawab kegiatan 45 disampaikan kegiatan 3. Bermain peran menit. secara berurutan bercakap- stimulasi c. Setiap klien 4. Ulangi langkah 1, cakap pada mengikuti 2, 3 sampai jadwal kegiatan kegiatan dari semua harian pasien awal sampai selesai. mendapat giliran Kontrak akan menyampaikan datang masalah pribadi 1. Menyepakati diinginkan kegiatan 5. Hidupkan lagi berikut, yaitu kaset edarkan menyampaikan bola tenis. Pada

36 saat dimatikan, memegang bola memilih topik masalah disukai untuk dibicarakan dari daftar ada 6. Ulangi langkah 5 sampai semua memilih masalah 7. Terapis membantu menetapkan topik paling banyak dipilih 8. Hidupkan kembali kaset edarkan bola tenis. Pada saat dimatikan, mebicarakan topik pembicaraan tertentu 2. Menyepakati waktu tempat

37 memegang bola menyampaikan pendapat tentang masalah terpilih 9. Ulangi langkah 8 sampai semua menyampaikan pendapat 10. Beri pujian untuk tiap keberhasilan memberi tepuk tangan Sesi VI, Klien mampu Setting: 1. Mengingat Pada tahap ini 1. Menjelaskan 1. Terapis membagi Evaluasi: mengajark bekerja sama 1. Klien kan terapis tujuan 4 buah kartu 1. Menanyakan an pasien dalam terapis duduk kontrak melakukan: kegiatan, kwartet untuk perasaan klien agar dapat permainan bersama 1. Memberi yaitu setiap setelah berpatisip sosialisasi dalam salam bertanya. Sisanya mengikuti asi dalam. lingkaran terapeutik: diletakkan di atas TAKS

38 permainan 1. Bertanya 2. Ruangan pada sesi salam dari memberi meja. 2. Memberi pujian dalam nyaman V TAKS. terapis kartu pada 2. Terapis meminta atas. meminta tenang 2. Mempersi 2. Evaluasi/ tiap keberhasilan sesuai apkan alat validasi Alat: 3. Menanyaka 2. Menjelaskan menyusun kartu kebutuhan 1. Tape recorder tempat n perasaan aturan main sesuai seri Rencana tindak pada 2. Kaset pertemuan klien saat berikut: (1 seri memiliki 4 lanjut: orang lain 3. Bola tenis ini kartu). 1. Menganjurkan 2. Menjawab 4. Buku catatan 4. Menanyaka a. Jika ada 3. Hidupkan tape setiap pulpen n apakah peserta recorder putar memberi 5. Jadwal telah akan kaset edarkan latihan pada kegiatan klien latihan meninggalka bola berlawanan bertanya, orang lain 6. Kartu kwartet bercakap- n arah jarum meminta sesuai cakap harus jam. menjawab Metode: tentang meminta izin 4. Pada saat musik memberi pada permintaa 1. Dinamika masalah kepada berhenti, kehidupan n pribadi terapis. sehari-hari 2. Diskusi b. Lama memegang bola (kerja sama). tanya jawab orang lain kegiatan 45 memulai 2. Memasukkan 3. Bermain menit. permainan kegiatan peran/simulasi c. Setiap klien a. Meminta kartu bekerja sama

39 mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. dibutuhkan (seri belum lengkap) kepada disebelah kanannya. b. Jika kartu dipegang serinya lengkap, diumumkan pada membaca judul sub judul. c. Jika kartu dipegang tidak lengkap serinya, diperkenankan mengambil 1 kartu dari tumpukan kartu diatas meja. d. Jika pada jadwal kegiatan harian klien. Kontrak akan datang: 1. Menyepakati kegiatan berikutnya, yaitu mengevaluasi kegiatan TAKS 2. Menyepakati waktu tempat

40 memberikan kartu dipegang pada meminta, dia berhak mengambil 1 kartu dari tumpukan kartu diatas meja. e. Setiap menerima kartu, diminta mengucapkan terima kasih 5. Ulangi langkah 3 4 jika 4b atau 4c terjadi. 6. Beri pujian untuk tiap keberhasilan memberi tepuk tangan.

41 Sesi VII, Klien mampu Setting: 1. Mengingat Pada tahap ini 1. Menjelaskan 1. Hidupkan tape Evaluasi: mengajark menyampaika 1. Klien kan terapis tujuan recorder putar 1. Menanyakan an pasien n pendapat terapis duduk kontrak melakukan: kegiatan, kaset edarkan perasaan klien agar dapat tentang bersama 1. Memberi yaitu bola berlawanan setelah memberik manfaat dalam salam menyampaik arah jarum mengikuti an kegiatan lingkaran terapeutik: an manfaat jam. TAKS pendapat 2. Ruangan pada sesi salam dari 6 kali 2. Pada saat musik 2. Memberi pujian tentang telah nyaman VI TAKS terapis pertemuan dimatikan, atas kegiatan dilakukan. tenang 2. Mempersi 2. Evaluasi/ TAKS keberhasilan TAKS apkan alat validasi 2. Menjelaskan memegang bola telah Alat: 3. Menanyaka aturan main mendapat 3. Menyimpulkan dilakukan. 1. Tape recorder tempat n perasaan berikut: kesempatan 6 kemampuan 2. Kaset pertemuan klien saat menyampaikan pada 6 kali 3. Bola tenis ini a. Jika ada pendapat tentang pertemuan 4. Buku catatan 4. Menanyaka peserta manfaat 6 kali lalu pulpen n apakah akan pertemuan 5. Jadwal klien telah meninggalka telah berlalu Rencana tindak kegiatan klien latihan n 3. Ulangi langkah 1 lanjut bekerja harus 2 sampai 1. Menganjurkan Metode: sama meminta izin semua setiap 1. Dinamika kepada tetap

42 orang lain terapis. menyampaikan melatih diri 2. Diskusi b. Lama pendapat untuk 6 tanya jawab kegiatan 45 4. Beri pujian untuk kemampuan menit. tiap keberhasilan telah c. Setiap klien dimiliki, baik di mengikuti memberi RS maupun kegiatan dari tepuk tangan nantinya di awal sampai rumah selesai. 2. Melakukan pendidikan kesehatan kepada keluarga untuk memberi dukungan pada klien dalam menjalankan kegiatan kehidupan sehari-hari

43 Kontrak akan datang 1. Menyepakati rencana evaluasi kemampuan secara periodik Penilaian akhir dilakukan berdasarkan antusias pasien, jika semakin sering aktif pada setiap sesi maka nilai didapat semakin baik.

44 2.4. Hipotesis Penelitian a. H 0 = Tidak ada pengaruh antara terapi aktivitas sosialisasi kemampuan komunikasi verbal klien menarik diri. b. H 1 = Ada pengaruh antara terapi aktivitas sosialisasi kemampuan komunikasi verbal klien menarik diri. 2.5. Kerangka Konseptual Gambar 2.2 Kerangka konseptual pengaruh terapi aktivitas sosialisasi terhadap kemampuan komunikasi verbal klien menarik diri Kondisi mental tidak stabil Gejala: isolasi sosial: menarik diri Tidak mampu berkomunikasi secara verbal (perilaku maladaptif) Mekanisme koping Mengobservasi kemampuan komunikasi verbal klien menarik diri Peran perawat dalam pemberian terapi: Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Ada pengaruh TAKS Tidak ada pengaruh TAKS