ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN LOKASI TERHADAP TINGKAT PENJUALAN USAHA JASA MIKRO DI KABUPATEN LAMONGAN *( Ali fathoni Prodi Majemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Lamong Jl. Veter No.53A Lamong Telp. ( 0322 ) 324706, Faks. ( 0322 ) 324706 Email : jpim.unisla@gmail.com ABSTRAK Peneliti ini merupak jenis peneliti kutitatif yg bertuju untuk mencari jawab dari pertya apakah faktor kedekat deng infrastruktur, lingkung bisnis, biaya lokasi berpengaruh secara parsial d simult terhadap tingkat penjual usaha jasa skala mikro d kecil di Desa Blimbing Kec. Pacir Kab. Lamong?. d makah variabel yg paling domin terhadap tingkat penjual usaha jasa skala mikro d kecil di Desa Blimbing Kec. Pacir Kab. Lamong?. Peneliti ini menggunak metode alisa data uji validitas d uji reliabilitas, uji asumsi klasik, alisis regresi bergda, d uji goodness of fit. Hasil penelitinya yaitu untuk variabel infrastruktur tidak berpengaruh secara parsial sedgk variabel lingkung bisnis d biaya lokasi berpengaruh secara parsial. D untuk semua variabel memiliki pengaruh secara simult. D variabel yg paling domin dimiliki oleh variabel lingkung bisnis. Dari hasil alisa tersebut dapat disimpulk bahwa infrastruktur tidak berpengaruh signifik terhadap tingkat penjual, sedgk lingkung bisnis d biaya lokasi berpengaruh signifik terhadap tingkat penjual. Berdasark kesimpul diajuk sar kepada pengusaha agar lebih cermat dalam menentuk pemilih lokasi guna meningkatk tingkat penjual yg diharapk semua pengusaha. Kata Kunci: Pemilih lokasi, Tingkat Penjual, Usaha jasa mikro PENDAHULUAN Byaknya perusaha yg bergerak dalam bisnis saat ini ak menimbulk persaing yg semakin ketat. Situasi yg seperti ini menuntut setiap perusaha untuk lebih seksama mengarahk perhati pada byak faktor untuk menentuk keberhasilnya. Salah satunya adalah menentuk lokasi tempat untuk bisnis. Lokasi adalah letak atau tempat yg digunak pengusaha pada daerah yg strategis sehingga dapat memaksimalk laba. Lokasi pemasar yg nyam, am, bersih, ramai, d mudah di jgkau merupak beberapa kriteria lokasi yg diminati oleh byak konsumen. Lokasi pemasar adalah suatu wilayah atau tempat dima perusaha dapat menjalk atau melaksak kegiat pemasarnya kepada masyarakat. Jadi memilih Jurnal Peneliti Ilmu Majemen 22
lokasi berdagg merupak keputus penting yg harus membujuk pelgg untuk datg ke tempat bisnis dalam memenuhi kebutuh, karena pemilih lokasi mempunyai fungsi yg strategis dalam menentuk tercapainya tuju bad usaha. Pemilih lokasi suatu perusaha ak mempengaruhi resiko d keuntung perusaha tersebut secara keseluruh, mengingat lokasi sgat mempengaruhi biaya tetap maupun biaya variabel, baik dalam jgka menengah maupun jgka pjg. Sebagai contoh, biaya trsportasi saja bisa mencapai 25% harga jual produk (tergtung kepada produk d tipe produksi atau jasa yg diberik). Hal ini berarti bahwa seperempat total pendapat perusaha mungkin dibutuhk hya untuk menutup biaya penggkut bah mentah yg masuk d produk jasa yg keluar dari perusaha. Menurut departemen tenaga kerja (Depnaker) usaha mikro adalah usaha yg memilki kurg dari lima org tenaga kerja.usaha mikro merupak kegiat usaha yg dapat memperluas lapg pekerja serta memberik pelay ekonomi secara luas kepada masyarakat d dapat berper dalam proses pemerata d peningkat pendapat masyarakat, mendorong pertumbuh ekonomi, serta berper mewujudk stabilitas nasional. Selain itu usaha mikro adalah salah satu pilar utama ekonomi nasional yg mendapatk kesempat utama, dukung, perlindung serta pengembg yg secara luas sebagai wujud pihak yg tegas kepada kelompok usaha ekonomi rakyat, tpa harus mengabaik per usaha besar d bad usaha milik pemerintah. Keberada Desa Blimbing merupak magnet bagi seorg pengusaha untuk mendirik usaha jasa disekitarnya. Hal ini tidak terlepas dari terciptya pasar yg sgat potensial dari keberada Desa Blimbing itu sendiri. Byaknya masyarakat di Desa Blimbing merupak pasar yg sgat potensial untuk dijadik lah bisnis. Hal inilah yg menyebabk fenomena menjamurnya usaha jasa yg didirik di Desa Blimbing. Bagi usaha jasa, lokasi yg strategis seringkali lebih penting dari pada faktor-faktor yg lain. Hal ini berarti bahwa pengusaha rela membayar biaya yg lebih besar untuk pemilih lokasi deng mengharapk pendapat besar sebagai akibat pemilih lokasi yg tepat. Hal ini juga terjadi pada usaha jasa yg berdiri di sekitar Desa Blimbing. Mereka rela membayar mahal untuk membuka usaha di lokasi ini deng mengharapk pendapat yg besar mengingat adya pasar yg potensial akibat adya penduduk yg sgat padat di sekitar Desa Blimbing. Disamping faktor biaya, faktor kedekat deng infrastruktur d kedekat deng lingkung bisnis merupak hal-hal yg diperhatik pengusaha sebelum mendirik usaha di sekitar Desa Blimbing. Jurnal Peneliti Ilmu Majemen 23
LANDASAN TEORI Lokasi adalah letak atau toko pengecer pada daerah yg strategis sehingga dapat memaksimumk laba (Basu Swasta d Iraw dalam Rusdia, 2014:248). Sedgk pengerti lokasi menurut (Kasmir dalam Muhammad Shobakh, 2013:11) yaitu tempat melayi konsumen, dapat pula diartik sebagai tempat untuk memajg barg-barg daggnya. Deng demiki yg dimaksud deng lokasi adalah tempat menjalk aktivitas yg melayi konsumen, aktivitas produksi, aktivitas penyimp, ataupun untuk mengendalik kegiat perusaha secara keseluruh. Menurut (Suliyto, 2010:134) Lokasi bisnis adalah lokasi dima bisnis da ak dijalk. Faktorfaktor utama dalam pemilih lokasi adalah: 1) Ketersedia Bah Mentah; 2) Letak pasar yg dituju; 3) Ketersedia sumber energi, air, d sara komunikasi; 4) Ketersedia tenaga kerja; 5) Ketersedia sara trsportasi. Menurut (Rusdia, 2014:266-267), lgkah-lgkah dalam menentuk lokasi usaha adalah: 1) Merumusk sasar pemilih tempat keduduk perusaha; 2) Merumusk batas atau kendala; 3) Merumusk Norma-Norma Keputus; 4) Menghubungk Norma-Norma Keputus deng Sasar Pemilih Lokasi; 5) Membentuk Model-Model Pengambil Keputus; 6) Menentuk Lokasi Terbaik. Menurut definisi dari Asosiasi Pemasar Amerika (The Americ Marketing Association) dalam (Susatyo Herlambg 2014:91) Majemen Penjual adalah perenca, pengarah, d pengawas personal selling, termasuk penarik, pemilih, perlengkap, penentu rute, pengawas, pembayar, d motivasi sebagai tugas yg diberik kepada para tenaga kerja. Tuju kegiat penjual untuk sebuah perusaha, pada umumnya mempunyai tiga tuju umum penjual, yaitu: 1) Mencapai volume penjual tertentu; 2) Mendapatk laba tertentu; 3) Menunjg pertumbuh perusaha. Menurut (Iswi Hariyi, 2010:110) Usaha Mikro Kecil d Menengah dapat diartik sebagai berikut: a. Usaha Jasa Skala Mikro Usaha debitur UKM saat ini telah disempurnak berdasark ketentu pasal 1 d pasal 6 UU 20/2008 tentg usaha mikro kecil d menengah (UMKM). Definisi usaha mikro sesuai UU No.20/2008 adalah usaha produktif milik org perorg d /atau bad usaha perorg yg memenuhi kriteria: 1) Memiliki kekaya bersih paling byak Rp. 50 juta tidak termasuk tah d bgun tempat usaha; atau Jurnal Peneliti Ilmu Majemen 24
2) Memiliki hasil penjual tahun paling byak Rp. 300 juta. b. Usaha Jasa Skala Kecil Usaha kecil, sesuai pasal 1 d pasal 6 UU 20/2008 adalah usaha ekonomi produktif yg berdiri sendiri, yg dilakuk oleh org perorg atau bad usaha yg buk merupak ak perusaha atau buk cabg perusaha yg dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagi baik secara lgsung maupun tidak lgsung dari usaha menengah atau usaha besar yg memenuhi kriteria: 1) Memiliki kekaya bersih lebih dari Rp. 50 juta hingga Rp. 500 juta tidak termasuk tah d bgun tempat usaha; atau 2) Memiliki hasil penjual tahun lebih dari Rp. 300 juta hingga Rp. 2,5 miliar. c. Usaha Jasa Skala Menengah Usaha menengah, sesuai pasal 1 d pasal 6 UU 20/2008, adalah usaha ekonomi produktif yg berdiri sendiri, yg dilakuk oleh org perorg atau bad usaha yg buk merupak ak perusaha atau cabg perusaha yg dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagi baik lgsung maupun tidak lgsung deng usaha kecil atau besar, d yg memiliki kriteria sebagai berikut: 1) Memiliki kekaya bersih lebih dari Rp. 500 juta hingga Rp. 10 miliar tidak termasuk tah bgun d tempat usaha ; atau 2) Memiliki hasil penjual tahun lebih dari Rp. 2,5 miliar hingga Rp. 5 miliar. METODE PENELITIAN Desain peneliti ini menggunak metode kutitatif deng tuju untuk mengukur efektivitas alisa faktor-faktor yg mempengaruhi pemilih lokasi terhadap tingkat penjual pada usaha jasa skala mikro d kecil di desa Blimbing-Pacir-Lamong. Subjek yg diteliti adalah pemilik usaha jasa yg ada di sekitar desa blimbing.. Teknik pengambil sampel terdiri atas populasi d sampel. Populasi menurut (Sugiyono, 2012:80) dapat didefinisik sebagai wilayah generalisasi yg terdiri dari obyek atau subyek yg mempunyai kualitas d karakteristik tertentu yg ditetapk oleh peneliti untuk dipelajari d kemudi ditarik kesimpulnya. Jadi populasi dari peneliti ini adalah semua usaha jasa berskala mikro-kecil yg berada di Desa Blimbing-Pacir-Lamong yg berjumlah 64 usaha jasa. Sedgk Sampel menurut (Sugiyono, 2012:81), adalah bagi dari jumlah karakteristik yg dimiliki oleh populasi tersebut. D yg digunak sebagai sampel berjumlah 35 usaha jasa. Menurut (Sugiyono, 2012:137-146) teknik pengumpul data kutitatif terdiri atas: a. Observasi digunak bila peneliti berkena deng perilaku musia, proses kerja, gejala-gejala alam d bila responden yg diamati tidak berlalu besar atau byak; Jurnal Peneliti Ilmu Majemen 25
b. Wawcara digunak sebagai teknik pengumpul data apabila peneliti ingin melakuk studi pendahulu untuk menemuk permasalah yg harus diteliti, d juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yg lebih mendalam d jumlah respondennya sedikit; c. Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpul data yg dilakuk deng cara memberi sepergkat pertya atau pernyata tertulis kepada responden untuk di jawab. Angket cocok digunak untuk responden dalam jumlah besar. Alat yg digunak untuk mengambil data dari pengusahapengusaha tersebut adalah kuesioner. Dalam peneliti ini, variabel yg digunak adalah: 1). Variabel Independent/Variabel bebas adalah variabel yg mempengaruhi atau yg menjadi sebab perubahnya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel bebas dalam keseluruh judul adalah Pemilih Lokasi dalam peneliti ini pemilih lokasi dijabark menjadi tiga variabel, yaitu: infrastruktur (X1), lingkung bisnis (X2), biaya lokasi (X3). 2). Variabel dependen/variabel terikat merupak variabel yg dipengaruhi atau yg menjadi akibat karena adya variabel bebas. Variabel terikat dalam peneliti ini adalah tingkat penjual, sebagai variabel yg dipengaruhi. Metode Analisis Data Menurut (Sugiyono, 2012:150), alisis data adalah proses mencari d menyusun secara sistematis data yg diperoleh dari hasil wawcara, catat lapg, d dokumentasi, deng cara mengorgisasik data ke dalam kategori, menjabark ke unit-unit, melakuk sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih ma yg penting d yg ak dipelajari, d membuat kesimpul sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun org lain. Dalam hal ini penulis harus memeriksa d menguji ada tidaknya hubung metode ini deng cara: 1) Uji Validitas d Uji Reliabilitas; 2) Analisis Regresi Bergda; 3) Uji Asumsi Klasik, yg terdiri atas uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas; 4) Koefisien Determinasi; 5) Goodness Of Fit, yg terdiri atas uji t d uji F. Perhitung ini menggunak statistik SPSS Versi 20. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deng menggunak kriteria tiga kotak (Three-box Method), maka rentg sebesar 0,3 ak digunak sebagai dasar interpretasi nilai indeks sebagai berikut : Jurnal Peneliti Ilmu Majemen 26
0,1 0,40 = Tidak Setuju 0,41 0,70 = Netral 0,71 1,0 = Setuju Indikat or Kedek at Denga n Infrast ruktur Keters edia Listrik Keters edia Air Bersih Ady a Akses Jal Berasp al Keters edia Lah Parkir Tingka t Keama n Tabel 1. Tggap Responden Infrastruktur Frekuensi Jawab Responden Mengenai Kedekat Deng Infrastruktur 1 2 3 4 5 Indek s Kede kat Deng Infras truktu r 0/35 0/35 5/35 20/35 10/35 0,824 0/35 0/35 8/35 12/35 15/35 0,838 0/35 0/35 15/35 15/35 5/35 0,74 0/35 0/35 6/35 14/35 15/35 0,85 0/35 0/35 8/ 35 12/35 15/35 0,838 Total 0,818 Sumber : Pendapat data responden di Kabupaten Lamong 2015 Angka indeks di atas diperoleh dari perhitung sebagai berikut : a. Indeks Ketersedia Listrik =((1x(0/35))+(2x(0/35))+(3x(5/35) )+(4x(20/35))+(5x(10/35)))/5= 0,824 b. Indeks Ketersedia Air Bersih =((1x(0/35))+(2x(0/35))+(3x(8/35) )+(4x(12/35))+(5x(15/35)))/5= 0,838 c. Indeks Adya Akses Jal Beraspal Di Dep Lokasi Usaha =((1x0/35))+(2x(0/35))+(3x(15/35) )+(4x(15/35))+(5x(5/35)))/5= 0,74 d. Indeks Ketersedia Lah Parkir =((1x(0/35))+(2x(0/35))+(3x(6/35) )+(4x14/35))+(5x(15/35)))/5= 0,85 e. Indeks Tingkat Keam =((1x(0/35))+(2x(0/35))+(3x(8/35) )+(4x(12/35))+(5x(15/35)))/5= 0,838 Indeks kedekat deng infrastruktur: 0,824 + 0,838 + 0,74 + 0,85 + 0,838 = 0,818. Berdasark tabel 1 di atas kriteria kelima indikator tersebut termasuk setuju. Tabel 2. Tggap Responden Lingkung Bisnis Indikato r Kedeka t Deng Lingku ng Bisnis Kedeka t deng Bisnis Jasa Lain Kedekat deng Konsu men Kedekat deng Pesaing Kedekat deng Suplier Keleng kap Peralata n Frekuensi Jawab Responden Mengenai Kedekat Deng Lingkung Bisnis 1 2 3 4 5 Indeks Kedeka t Deng Lingku ng Bisnis 0/ 35 0/35 10/35 13/35 12/35 0,808 0/35 0/35 5/35 10/35 20/35 0,882 2/35 3/35 14/35 16/35 0/35 0,648 0/35 0/35 0/35 15/35 20/35 0,912 0/35 0/35 0/35 12/35 23/35 0,93 Total 0,836 Sumber : Pendapat data responden di Kabupaten Lamong 2015 Angka indeks di atas diperoleh dari perhitung sebagai berikut : a. Indeks Kedekat deng Bisnis Jasa Lain: =((1x(0/35)+(2x(0/35)+(3x(10/35) +(4x(13/35)+(5x(12/35)))/5= 0,808 Jurnal Peneliti Ilmu Majemen 27
b. Indeks Kedekat deng Konsumen : =((1x(0/35)+(2x(0/35)+(3x(5/35)+( 4x(10/35)+(5x(20/35)))/5= 0,882 c. Indeks Kedekat deng Pesaing : =((1x(2/35)+(2x(3/35)+(3x(14/35) +(4x(16/35)+(5x(0/35)))/5 = 0,648 d. Indeks Kedekat deng Suplier : =((1x(0/35)+(2x(0/35)+(3x(0/35)+( 4x(15/35)+(5x(20/35)))/5 = 0,912 e. Indeks Kelengkap Peralat: =((1x(0/35)+(2x(0/35)+(3x(0/35)+( 4x(12/35)+(5x(23/35)))/5 = 0,93 Indeks lingkung bisnis = 0,808 + 0,882 + 0,648 + 0,912 + 0,93 = 0,836. Berdasark tabel 2 di atas ada satu indikator yg memiliki kriteria netral yaitu 0,648 deng indikator kedekat deng pesaing. Sedgk indikator lainnya memiliki kriteria setuju. Tabel 3. Tggap Responden Biaya Lokasi Indikator Kedekat Deng Biaya Lokasi Harga Sewa Tempat Usaha Ada/Tidakn ya Biaya Renovasi Ada/Tidakn ya Insentif Bgun Besarnya Pajak Tingkat Suku Bunga Frekuensi Jawab Responden Mengenai Kedekat Deng Biaya Lokasi 1 2 3 4 5 Indeks Kedekat Deng Biaya Lokasi 0/35 5/35 0/35 20/35 10/35 0,796 0/35 0/35 5/35 20/35 10/35 0,824 0/35 13/35 7/35 10/35 5/35 0,638 2/35 3/35 14/35 16/35 0/35 0,648 0/35 13/35 7/35 10/35 5/35 0,638 Total 0,7088 Sumber : Pendapat data responden di Kabupaten Lamong 2015 Angka indeks di atas diperoleh dari perhitung sebagai berikut : a. Indeks Harga Sewa Tempat Usaha: =((1x(0/35))+(2x(5/35))+(3x(0/35 ))+(4x(20/35))+(5x(10/35)))/5=0, 796 b. Indeks Ada Tidaknya Biaya Renovasi: =((1x(0/35))+(2x(0/35))+(3x(5/35 ))+(4x(20/35))+(5x(10/35)))/5= 0,824 c. Indeks Ada/ Tidaknya Insentif Bgun: =((1x(0/35))+(2x(13/35))+(3x(7/3 5))+(4x(10/35))+(5x(5/35)))/5= 0,638 d. Indeks Besarnya Pajak: =((1x(2/35))+(2x(3/35))+(3x(14/3 5))+(4x(16/35))+(5x(0/35)))/5= 0,648 e. Indeks Tingkat Suku Bunga =((1x(0/35))+(2x(13/35))+(3x(7/3 5))+(4x(10/35))+(5x(5/35)))/5= 0,638 Indeks biaya lokasi : 0,796 + 0,824 + 0,638 + 0,648 + 0,638 = 0,7088. Berdasark tabel 3 di atas hya dua indikator yg termasuk setuju yaitu indikator harga sewa tempat d ada/tidaknya biaya renovasi, sedgk yg lain netral. Tabel 4. Tggap Responden Tingkat Penjual Indikator Tingkat Penjual Tingkat Kedatg Pelgga Frekuensi Jawab Responden Mengenai Tingkat Penjual 1 2 3 4 5 Indeks Kedekat Deng Tingkat Penjual 0/35 0/35 5/35 0/35 0/35 0,824 Jurnal Peneliti Ilmu Majemen 28
n/ hari Pertumbu h Laba Bersih Waktu Tercapain ya BEP Rol Usaha Pencapaia n Real Profit Usaha 0/35 0/35 8/35 9/35 8/35 0,854 0/35 0/35 4/35 5/35 6/35 0,694 0/35 0/35 0/35 9/35 6/35 0,658 0/35 7/35 0/35 0/35 8/35 0,706 Total 0,7472 Sumber : Pendapat data responden di Kabupaten Lamong 2015 Angka indeks di atas diperoleh dari perhitung sebagai berikut : a. Indeks Tingkat Kedatg Pelgg/Hari: =((1x(0/35))+(2x(0/35))+(3x(5/35 ))+(4x(20/35))+(5x(10/35)))/5= 0,824 b. Indeks Pertumbuh Laba Bersih: =((1x(0/35))+(2x(0/35))+(3x(8/35 ))+(4x(9/35))+(5x(18/35)))/5= 0,854 c. Indeks Waktu Tercapai BEP: =((1x(0/35))+(2x(10/35))+(3x(4/3 5))+(4x(15/35))+(5x(6/35)))/5= 0,694 d. Indeks Rol Usaha: =((1x(0/35))+(2x(10/35))+(3x(10/ 35))+(4x(9/35))+(5x(6/35)))/5= 0,658 e. Indeks Real Profit Usaha =((1x(0/35))+(2x(7/35))+(3x(10/3 5))+(4x(10/35))+(5x(8/35)))/5= 0,706 Indeks tingkat penjual: 0,824 + 0,854 + 0,694 + 0,658 + 0,706 = 0,7472. Berdasark tabel 4 di atas ada dua indikator yg memiliki kriteria netral yaitu indikator waktu tercapainya BEP d rol usaha. Sedgk yg lain termasuk setuju. Analisa Data Uji Validitas d Uji Reliabilitas a. Uji Validitas Dari hasil uji validitas diperoleh nilai untuk variabel X1 (infrastruktur) yaitu nilai X1.1 sebesar 0,727, nilai X1.2 sebesar 0,396, nilai X1.3 sebesar 0,694, nilai X1.4 sebesar 0,587, d nilai X1.5 sebesar 0,727. Untuk variabel X2 (lingkung Bisnis) yaitu nilai X2.1 sebesar 0,679, nilai X2.2 sebesar 0,578, nilai X2.3 sebesar 0,818, nilai X2.4 sebesar 0,368, d nilai X2.5 sebesar 0,640. Untuk variabel X3 (Biaya Lokasi) yaitu nilai X3.1 sebesar 0,730, nilai X3.2 sebesar 0,395, nilai X3.3 sebesar 0,830, nilai X3.4 sebesar 0,513, d nilai X3.5 sebesar 0,830. Untuk variabel Y (Tingkat Penjual) yaitu nilai Y1.1 sebesar 0,820, nilai Y1.2 sebesar 0,916, nilai Y1.3 sebesar 0,866, nilai Y1.4 sebesar 0,946, d nilai Y 1.5 sebesar 0,853. Deng demiki dapat disimpulk bahwa indikator variabel infrastruktur (X1), Lingkung Bisnis (X2), Biaya Lokasi (X3), d Tingkat Penjual (Y) dinyatak valid karena nilai r hitung r tabel sebesar 0,344. Sehingga seluruh indikator yg ada pada variabel-variabel peneliti tersebut layak untuk digunak. Jurnal Peneliti Ilmu Majemen 29
b. Uji Reliabilitas Dari masing-masing variabel diperoleh nilai Cronbach Alpha yaitu untuk variabel infrastruktur (X1) sebesar 0,614, untuk variabel lingkung bisnis (X2) sebesar 0,615, untuk variabel biaya lokasi (X3) sebesar 0,684, untuk nilai tingkat penjual (Y) sebesar 0,928. Deng demiki dapat disimpulk bahwa semua variabel dikatak reliabel karena memiliki nilai Cronbach Alpha 0,6. Sehingga seluruh variabel yg ada pada indikator variabel peneliti ini dikatak layak untuk digunak. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas Dari grafik histogram d gambar P- Plot terlihat titik-titik mengikuti d mendekati garis diagonalnya sehingga dapat disimpulk bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas. b. Uji Multikolinearitas Dari masing-masing variabel diperoleh nilai VIF untuk nilai variabel infrastruktur (X1) sebesar 1,177, untuk nilai variabel lingkung bisnis (X2) sebesar 1,292, d nilai variabel biaya lokasi (X3) sebesar 1,298. Dapat disimpulk bahwa semua variabel tidak mengalami multikolinearitas karena nilai VIF lebih kecil dari 10. c. Uji Heteroskedastisitas Berdasark hasil output SPSS didapatk titik-titik menyebar di atas d di bawah sumbu Y, d tidak mempunyai pola yg teratur, jadi kesimpulnya variabel bebas tidak terjadi heteroskedastisitas. Analisis Regresi Bergda Dari uji regresi linier bergda menghasilk persama: Y = -10,323 + 0,318 X1 + 0,701 X2 + 0,443 X3 Dari persama regresi linier bergda tersebut di atas, maka dapat diartik bahwa: a) a = -10,323 Menunjukk bahwa jika semua variabel bebas tidak mengalami perubah atau konst, maka tingkat penjual naik sebesar -10,323. b) b1 = 0,318 Jika terjadi kenaik sebesar satu satu pada variabel infrastruktur (X1), sedgk variabel lingkung bisnis (X2) d biaya lokasi (X3) konst, maka tingkat penjual naik sebesar 0,318. c) b2 = 0,701 Jika terjadi kenaik sebesar satu satu pada variabel lingkung bisnis (X2), sedgk variabel infrastruktur (X1) d biaya lokasi (X3) konst, maka tingkat penjual naik sebesar 0,701. d) b3 = 0,443 Jika terjadi kenaik sebesar satu satu pada variabel biaya lokasi (X3), sedgk variabel infrastruktur (X1) d lingkung bisnis (X2) Jurnal Peneliti Ilmu Majemen 30
konst, maka tingkat penjual naik sebesar 0,443. Koefisien Determinasi Dari hasil pengolah data SPSS diperoleh besarnya Adjusted R2 adalah 0,269. Hal ini berarti bahwa 26,9% variasi tingkat penjual dapat dijelask oleh variasi dari ketiga variabel independen yakni Kedekat deng Infrastruktur, Lingkung Bisnis, d Biaya Lokasi, sedgk 73,1% lainnya dijelask oleh sebabsebab lain diluar model. Uji Goodness Of Fit a. Uji t Dari uji t diperoleh hasil sebagai berikut: 1) t hitung X1 1,067 t tabel 1,695 sehingga Ha di tolak d Ho diterima artinya tidak ada pengaruh yg signifik tara kedekat deng infrastruktur terhadap tingkat penjual. Sehingga hipotesis yg menyatak bahwa kedekat deng infrastruktur berpengaruh secara signifik ditolak. 2) t hitung X2 2,200 t tabel 1,695 sehingga Ha di terima d Ho ditolak artinya ada pengaruh yg signifik tara kedekat deng lingkung bisnis terhadap tingkat penjual. Sehingga hipotesis yg menyatak bahwa kedekat deng infrastruktur berpengaruh secara signifik diterima. 3) t hitung X3 2,064 t tabel 1,695 sehingga Ha di terima d Ho ditolak artinya ada pengaruh yg signifik tara kedekat deng biaya lokasi terhadap tingkat penjual. Sehingga hipotesis yg menyatak bahwa kedekat deng infrastruktur berpengaruh secara signifik diterima. b. Uji F Dari hasil uji ANOVA didapat uji Fhitung 5,170 2,91 d signifik 0,005 < 0,05 maka tolak Ho terima Ha yg artinya terdapat pengaruh yg signifik tara variabel kedekat deng infrastruktur, lingkung bisnis d biaya lokasi terhadap tingkat penjual Berdasark urai di atas diketahui bahwa tidak ada pengaruh yg signifik tara kedekat deng infrastruktur d biaya lokasi terhadap tingkat penjual jasa mikro kecil di sekitar Desa Blimbing Kecamat Pacir Kabupaten Lamong. D ada pengaruh yg signifik tara lingkung bisnis terhadap tingkat penjual. Besarnya pengaruh dari ketiga variabel bebas X1, X2, d X3 terhadap tingkat penjual (Y) adalah 0,269 atau 26,9%. Hal ini menunjukk bahwa kedekat deng infrastruktur tidak memberik dil yg cukup besar terhadap tingkat penjual sedgk lingkung bisnis d biaya lokasi sgat besar dilnya terhadap tingkat penjual mikro kecil di Desa Blimbing Kecamat Pacir Kabupaten Lamong. Sedgk sisya 73,1% dipengaruhi oleh faktor lain. Jurnal Peneliti Ilmu Majemen 31
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpul Peneliti ini mencoba untuk meneliti, apakah Kedekat deng Infrastruktur, Lingkung Bisnis, d Biaya Lokasi mempengaruhi pemilih lokasi terhadap tingkat penjual jasa mikro kecil di Desa Blimbing Kecamat Pacir Kabupaten Lamong. Deng memperhatik hasil alisis d pembahas yg dilakuk sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpul peneliti sebagai berikut : 1. Tidak ada pengaruh secara parsial untuk variabel infrastruktur (X1) deng dari perhitung regresi 0,318. Ada pengaruh secara parsial tara variabel lingkung bisnis d variabel biaya lokasi pada Desa Blimbing Kecamat Pacir Kabupaten Lamong. Variabel lingkung bisnis (X2) mempengaruhi pemilih lokasi terhadap tingkat penjual (Y) dari perhitung regresi 0,701 sedgk variabel biaya lokasi (X3) mempengaruhi pemilih lokasi terhadap tingkat penjual (Y) dari perhitung regresi 0,443. Untuk Uji t variabel infrastruktur (X1) diperoleh thitung 1,067 ttabel 1,695 sehingga Ha ditolak d Ho diterima, untuk Uji t variabel lingkung bisnis (X2) diperoleh thitung 2,200 ttabel 1,695 sehingga Ha di terima d Ho ditolak, d untuk variabel biaya lokasi (X3) diperoleh thitung 2,064 ttabel 1,695 sehingga Ha di terima d Ho ditolak. 2. Ada pengaruh secara simult tara variabel kedekat deng infrastruktur (X1), lingkung bisnis (X2), d biaya lokasi (X3) terhadap tingkat penjual (Y) dari perhitung Uji F diperoleh nilai sebesar Fhitung 5,170 Ftabel 2,91 maka Ha diterima d Ho ditolak. 3. Dari ketiga variabel independen yg diajuk dalam peneliti ini, variabel lingkung bisnis adalah variabel yg memiliki pengaruh yg paling domin terhadap variabel dependen yakni tingkat penjual jasa mikro kecil yg berada di Desa Blimbing Kecamat Pacir Kabupaten Lamong. Sar Adapun sar penulis bagi pemilik usaha jasa mikro kecil di desa blimbing kecamat pacir kabupaten lamong adalah sebelum mendirik usaha jasa pemilik harus memperhatik faktor-faktor pemilih lokasi deng baik karena faktor-faktor tersebut sgat mempengaruhi jalnya usaha agar dapat menghasilk tingkat penjual yg diharapak. Sehingga perusaha juga dapat bersaing deng perusaha lain yg bergerak di bidg yg sama d dapat menambah daya tarik konsumen untuk menggunak usaha jasa agar dapat meningkatk pendapat bagi perusaha. Jurnal Peneliti Ilmu Majemen 32
DAFTAR PUSTAKA Haming, M. d Nurnajamuddin, M. (2014). Majemen Produksi Modern Operasi Mufaktur d Jasa. Jakarta: PT. Bumi Aksara Hariyi, Iswi. (2010). Restrukturisasi & Penghapus Kredit Macet. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Kompas Gramedia Herlambg, Susatyo. (2014). Basic Marketing (Dasar-Dasar Pemasar) Cara Mudah Memahami Ilmu Pemasar. Yogyakarta: Gosyen Publishing. Rusdia. (2014). Majemen Operasi. Bdung: CV. Pustaka Setia. Stoso, Singgih. (2014). Pdu Lengkap SPSS Versi 20 Edisi Revisi. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Sugiyono. (2012). Metode Peneliti Kutitatif Kualitatif d R & D. Bdung: Alfabeta. Suliyto. (2010). Studi Kelayak Bisnis Pendekat Praktis. Yogyakarta: C.V Andi Offset. Tim Dosen Metodologi Peneliti. (2015). Pedom Penulis Skripsi. Lamong: Pusat Peneliti UNISLA. Jurnal Peneliti Ilmu Majemen 33