BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI CAISIN (BRASSICA CHINENSIS L.) BERDASARKAN INTERVAL WAKTU PEMBERIAN AIR *) Oleh : Ningsih Pakaya (1), Nikmah Musa (2) (3) **)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG DARAT WAKTU PEMBERIAN AIR A B S T R A K

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. di dalam setiap media tanam. Pertumbuhan tinggi caisim dengan sistem

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. lingkungan atau perlakuan. Berdasarkan hasil sidik ragam 5% (lampiran 3A)

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. (Ocimum sanctum) untuk pengendalian akar gada (plasmodiophora brassicae)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bulan Februari 230 Sumber : Balai Dinas Pertanian, Kota Salatiga, Prov. Jawa Tengah.

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGAIRAN DAN PEMELIHARAAN SALURAN PENGAIRAN TANAMAN JAGUNG

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam tinggi tanaman jagung hibrida

PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENGAIRAN DAN PEMELIHARAAN SALURAN PENGAIRAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Umur 35 Hari Setelah Tanam

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

PENGAIRAN KEDELAI PELATIHAN TEKNIS BUDIDAYA KEDELAI BAGI PENYULUH PERTANIAN DAN BABINSA PUSAT PELATIHAN PERTANIAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid)

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Tinggi Tanaman. Hasil penelitian menunjukan berbagai kadar lengas tanah pada stadia

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

0 (N 0 ) 12,34a 0,35 (N 1 ) 13,17a 0,525 0,7 (N 2 ) (N 3 )

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Tanggap Beberapa Klon Anjuran dan Periode Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan Bibit Karet (Hevea brassilliensis Muell. Arg.

I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. Hasil sidik ragam variabel pertumbuhan vegetatif tanaman yang meliputi tinggi

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Pemanasan global yang terjadi pada beberapa tahun terakhir ini menyebabkan

HASIL DAN PEMBAHASAN. kompos limbah tembakau memberikan pengaruh nyata terhadap berat buah per

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dari tabel sidik ragam parameter tinggi tanaman menunjukkan beda. nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5 % (lampiran 8) Hasil rerata tinggi tanaman

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: pertumbuhan tanaman bayam cabut (Amaranthus

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Vegetatif. menunjukan hasil pertumbuhan pada fase vegetatif. Berdasarkan hasil sidik ragam

HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Pertumbuhan. Variabel pertumbuhan tanaman Kedelai Edamame terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun,

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Data persentase hidup (%) bibit A. marina dengan intensitas naungan pada pengamatan 1 sampai 13 Minggu Setelah Tanam (MST)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Unit

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan salah satu tanaman pangan

Percobaan 2: Pengaruh Paclobutrazol terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Jahe

HASIL DAN PEMBAHASAN

PELAKSANAAN PENELITIAN. Disiapkan batang atas ubi karet dan batang bawah ubi kayu gajah yang. berumur 8 bulan dan dipotong sepanjang 25 cm.

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan pengamatan pada pemberian pupuk organik kotoran ayam

II. TINJAUAN PUSTAKA. Varietas Burangrang berasal dari segregat silangan alam, diambil

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. yang dihasilkan dari proses-proses biosintesis di dalam sel yang bersifat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN METODE PENELITIAN

Lampiran 1. Tabel Tinggi Tanaman 2 MST (cm) Ulangan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Bio-slurry dan tahap aplikasi Bio-slurry pada tanaman Caisim. Pada tahap

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN

Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merril) Varietas Tidar Berdasarkan Dosis Pupuk Organik Padat

TINJAUAN PUSTAKA Budidaya Jenuh Air

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Limbah Cair Tahu pada Tinggi Tanaman

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan salah satu

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

KERAGAAN PERTUMBUHAN JAGUNG DENGAN PEMBERIAN PUPUK HIJAU DISERTAI PEMUPUKAN N DAN P

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil dan pembahasan penelitian sampai dengan ditulisnya laporan

Transkripsi:

14 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Indikator pertumbuhan dan produksi bayam, antara lain: tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah dan berat kering tanaman dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Tinggi Tanaman Pengamatan tinggi tanaman bayam dilakukan 5 kali (2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST, dan 6 MST). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pengamatan saat umur 4 MST, 5 MST dan 6 MST yang berpengaruh nyata akibat interval waktu pemberian air. Pengamatan yang tidak berpengaruh nyata terhadap interval waktu pemberian air terdapat pada umur 2 MST dan 3 MST (Lampiran 1). Hasil Uji BNT terlihat pada Tabel 1. Rataan pertumbuhan tinggi tanaman bayam. Tabel 1. Rataan Pertumbuhan Tinggi Tanaman Bayam melalui Interval Waktu Pemberian Air Perlakuan Rataan Tinggi Tanaman (cm) 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST S 1 2,91 tn 3,46 tn 5,48 a 10,66 a 19,21 a S 2 3,21 3,92 6,82 a 15,41 a 31,60 b S 3 3,37 4,15 8,57 ab 21,30 ab 35,73 b S 4 3,06 3,69 6,78 a 16,83 a 30,59 b BNT 5% - - 2,10 5,03 5,79 KK (%) 14,33 14,96 33,57 34,70 21,89 Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5 % Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa, interval waktu pemberian air tidak berpengaruh nyata pada saat umur tanaman bayam 2 MST dan 3 MST. Saat umur 4 MST, perlakuan yang memiliki tinggi tanaman tertinggi adalah perlakuan S 3

Tinggi Tanaman (cm) 15 (8,57cm) berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Saat umur 5 MST, perlakuan yang memiliki tinggi tanaman tertinggi adalah S 3 (21,30 cm) tidak berbeda dengan perlakuan S 4, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan S 2. Pada pengamatan 6 MST perlakuan S 1 berbeda nyata dengan S 2, S 3 dan S 4. Tetapi perlakuan S 2, S 3 dan S 4 tidak berbeda nyata. Perbedaan dan persamaan tersebut, dapat dilihat pada gambar berikut : 40 35 30 25 20 15 10 S1 S2 S3 S4 5 0 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST Gambar 1. Rataan Tinggi Tanaman Bayam Dari gambar tersebut di atas, terlihat pada pengamatan 2 MST dan 3 MST pertambahan tinggi tanaman untuk ke semua perlakuan sama atau tidak berbeda nyata. Perbedaan mulai terlihat pada 4 MST, lebih nyata lagi pada 5 MST dan selanjutnya perbedaan pada minggu ke 6 MST, adanya perbedaan perlakuan S 1 (penyiraman setiap hari) dengan 3 perlakuan lainnya (S 2, S 3, dan S 4 ).

16 b. Jumlah Daun Pengamatan jumlah daun bayam dilakukan 5 kali (2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST, dan 6 MST). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pengamatan saat umur 4 MST, 5 MST dan 6 MST yang berpengaruh nyata akibat interval waktu pemberian air. Pengamatan yang tidak berpengaruh nyata terhadap interval waktu pemberian air terdapat pada umur 2 MST dan 3 MST (Lampiran 1). Hasil Uji BNT terlihat pada Tabel 1. Rataan pertumbuhan jumlah daun bayam. Tabel 2. Rataan Pertumbuhan Jumlah Daun Bayam melalui Interval Waktu Pemberian Air Perlakuan Rataan Jumlah Daun (helai) 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST S 1 2,00 tn 3,10 tn 4,50 a 7,10 a 14,00 a S 2 2,20 3,20 5,20 a 10,40 a 24,60 b S 3 2,40 3,60 5,70 ab 13,00 ab 27,40 b S 4 2,10 3,30 4,90 a 10,80 a 26,10 b BNT 5% - - 0,81 3,52 5,24 KK (%) 16,97 13,33 17,72 37,85 25,18 Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5 % Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa, interval waktu pemberian air tidak berpengaruh nyata pada saat umur tanaman bayam 2 MST dan 3 MST. Saat umur 4 MST, perlakuan yang memiliki jumlah daun tertinggi adalah perlakuan S 3 (5,70 helai) berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Saat umur 5 MST, perlakuan yang memiliki jumlah daun tertinggi adalah S 3 (13,00 helai) tidak berbeda nyata dengan perlakuan S 4, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan S 1. Pada pengamatan 6 MST perlakuan S 2 tidak berbeda nyata dengan S 3 dan S 4, tetapi berbeda nyata dengan S 1.

Jumlah Daun (Helai) 17 Perbedaan dan persamaan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut: 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 S1 S2 S3 S4 5.00 0.00 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST Gambar 2. Rataan Jumlah Daun Bayam Dari gambar tersebut di atas, terlihat pada pengamatan 2 MST dan 3 MST pertambahan tinggi tanaman untuk ke semua perlakuan sama atau tidak berbeda nyata, perbedaan mulai terlihat pada 4 MST, lebih nyata lagi pada 5 MST dan selanjutnya perbedaan pada minggu ke 6 MST, adanya perbedaan perlakuan S 1 (penyiraman setiap hari) dengan 3 perlakuan lainnya (S 2, S 3 dan S 4 ). Perlakuan S 2, S 3, dan S 4 memberikan hasil jumlah daun yang tidak berbeda nyata. c. Berat Basah Tanaman Berat basah tanaman ditimbang pada saat panen, yaitu tanaman sudah mencapai umur 6 MST. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan interval waktu pemberian air berpengaruh nyata pada produksi tanaman bayam (Lampiran 1). Selanjutnya hasil Uji BNT dilakukan untuk melihat perbedaan dari masing-masing perlakuan yang paling memberikan pengaruh terhadap produksi tanaman bayam di sajikan pada Tabel 3. Rataan berat basah tanaman bayam.

Berat Basah (gram) 18 Tabel 3. Rataan Berat Basah Tanaman Bayam melalui Interval Waktu Pemberian Air Perlakuan Rataan Berat Basah Tanaman (g) S 1 7,20 a S 2 17,40 b S 3 24,80 c S 4 24,00 b BNT 5% 6,80 KK (%) 40,98 Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5 % Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa, dari hasil Uji BNT menghasilkan perlakuan S 3 (penyiraman 3 hari sekali) yang memiliki berat basah tertinggi yaitu 24,80 gram dan perlakuan yang memiliki berat basah terendah adalah perlakuan S 1 (penyiraman setiap hari) dengan berat 7,20 gram. Perbedaan dan persamaan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut : 30 25 20 15 10 Series1 5 0 Perlakuan S1 S2 S3 S4 Gambar 3. Rataan Berat Basah Tanaman Bayam d. Berat Kering Tanaman Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan interval waktu pemberian air berpengaruh nyata pada produksi tanaman bayam (Lampiran 1). Selanjutnya hasil

Berat Kering (gram) 19 Uji BNT dilakukan untuk melihat perbedaan dari masing-masing perlakuan yang paling memberikan pengaruh terhadap produksi tanaman bayam. Berikut dapat dilihat pada Tabel 4. Rataan berat kering tanaman bayam. Tabel 4. Rataan Berat Kering Tanaman Bayam melalui Interval Waktu Pemberian Air Perlakuan Rataan Berat Kering Tanaman (g) S 1 1,09 a S 2 2,68 b S 3 4,43 c S 3 4,08 c BNT 5% 1,35 KK (%) 48,53 Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5 % Tabel 4 diatas menunjukkan bahwa, dari hasil Uji BNT menghasilkan perlakuan S 3 (penyiraman 3 hari sekali) yang memiliki berat kering tertinggi yaitu 4,43 gram walaupun tidak berbeda nyata dengan perlakuan S 4, dan perlakuan yang memiliki berat kering terendah adalah perlakuan S 1 (penyiraman setiap hari) dengan berat 1,09 gram. Perbedaan dan persamaan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut : 5 4.5 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 Perlakuan S1 S2 S3 S4 Series1 Gambar 4. Rataan Berat Kering Tanaman Bayam

20 B. Pembahasan Penyebab utama variasi hasil tanaman dari tahun ke tahun atau dari musim ke musim, terutama di daerah tropik seperti Indonesia adalah ketersediaan air, yang sangat di tentukan oleh keadaan curah hujan. Ketidakstabilan curah hujan ini menyebabkan ketidaktentuan pada keadaan air tanah dan suplai hara bagi tanaman. Berdasarkan pertumbuhan dan produksi tanaman bayam di uraikan sebagai berikut: a. Tinggi Tanaman Hasil penelitian menunjukkan bahwa, interval waktu pemberian air pada pertumbuhan tinggi tanaman bayam berpengaruh nyata pada taraf α = 5%. Berdasarkan rataan pertumbuhan tinggi tanaman pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa perlakuan pemberian air pada saat pengamatan 2 MST dan 3 MST tidak berpengaruh nyata. Sedangkan yang berpengaruh nyata adalah pengamatan 4, 5 dan 6 MST. Hasil ini menjelaskan bahwa, perlakuan interval waktu pemberian air yang berpengaruh nyata adalah perlakuan S 3 (siram 3 hari sekali), dan tidak berpengaruh nyata perlakuan S 1 (siram setiap hari). Jenis tanah yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis tanah vertisol di mana kapasitas menyimpan airnya tinggi (mampu mengikat air lebih baik). Perlakuan S 1 yang tidak nyata, hal ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi tanah pada penyiraman setiap hari (dengan jenis tanah vertisol) menyebabkan air berlebihan sehingga dinding sel menjadi pecah dan berakibat pada tanaman dengan jumlah sel yang berkurang. Sebaliknya pada perlakuan S 3 (siram 3 hari sekali) pertambahan tinggi tanaman lebih baik, air tidak terlalu tergenang dan kemungkinan kebutuhan air pada kondisi tersebut optimal, hingga berpengaruh terhadap pembelahan sel-sel tanaman dan transport hara dari tanah ke tanaman. Semakin baik tanah dalam melakukan transport hara, kebutuhan akan hara juga akan semakin tercukupi, sehingga tanaman mampu memberikan rata-rata tinggi tanaman yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Harjadi (1994), bahwa air adalah komponen utama dalam tanaman, merupakan salah satu unsur utama yang dibutuhkan untuk

21 pertumbuhan, karena air berfungsi sebagai penyusun utama jaringan tanaman, pereaksi dalam proses fotosintesis dan berbagai proses hidrolisis, serta untuk menjaga turgiditas tanaman di antaranya dalam pembesaran sel. Tanaman bayam mempunyai ciri berbatang lunak sehingga tidak dapat disiram setiap hari, karena dapat menyebabkan akar dan batang menjadi busuk. Air yang berlebihan dalam tanah dapat merugikan tanaman, sama halnya dengan kekurangan air. Aspek yang banyak merugikan akibat sedikit suplai oksigen. Tanaman basah akan menghambat nitrifikasi yang menyebabkan tanaman menjadi kuning dan tampak kurang sehat (Jumin, 1992). Selanjutnya (Prawirantara dkk, 1982) meningkatnya tekanan kelebihan air akibat genangan, menyebabkan laju fotosintesis menurun. Oleh karena kelebihan air tersebut menyebabkan terjadinya perubahan warna daun mudah menjadi kuning, terjadi klorosis daun, dan akhirnya akan mengering sehingga daun tidak aktif lagi sebagaimana mestinya, pemanjangan batang berkurang, tanaman tumbuhnya tidak normal dan akhirnya menyebabkan kegagalan. Menurut Jumin (2005) dalam Laode Asrul (2011), pertumbuhan tanaman sangat dibatasi oleh jumlah air yang tersedia dalam tanah, sehingga perlu adanya penambahan air baik dari air hujan ataupun irigasi. Hal ini penting dalam kaitannya dengan peranan air dalam tubuh tanaman. Interval pemberian air 3 hari sekali memberikan hasil yang baik karena pemenuhan kebutuhan air untuk digunakan dalam pertumbuhan berada dalam keadaan optimum, sehingga terjadi kesinambungan penggunaan dan pengeluaran air yang selanjutnya merangsang aktivitas metabolisme yang digunakan untuk pertumbuhan bagian-bagian tanaman seperti batang dan akar lebih panjang, dan daun lebih lebar. Menurut konsep klasik, air yang tersedia bagi tanaman berada dalam kisaran kapasitas lapang sampai pada titik layu permanen. Semakin rendah potensial matrik air tanah maka semakin sedikit air yang tersedia bagi tanaman Siagian et al., (1994) dalam Nurlaili (2009). Sebaliknya, pertumbuhan tanaman yang terhambat akibat kekurangan air sering dihubungkan dengan penurunan laju fotosintesis sebagai akibat dari pembukaan

22 stomata yang berkurang untuk mengurangi transpirasi agar kehilangan air berkurang. Menurunnya aktifitas fotosintesis akan menghambat pertumbuhan yang pada akhirnya pertumbuhan tanaman akan menurun. Tanaman yang kekurangan air dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat, sehingga menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan bagian tanaman berbentuk kecil. Hal ini sejalan dengan pernyataan Islami dan Utomo (1995) dalam Evita (2010), menyatakan bahwa tanaman yang menderita kekurangan air mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh normal. b. Jumlah Daun Hasil penelitian menunjukkan bahwa, interval waktu pemberian air pada jumlah daun tanaman bayam berpengaruh nyata pada taraf α = 5%. Berdasarkan rataan jumlah daun tanaman pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa perlakuan pemberian air pada saat pengamatan 2 MST dan 3 MST tidak berpengaruh nyata. Selanjutnya yang berpengaruh nyata adalah pada pengamatan 4, 5 dan 6 MST. Hasil ini menjelaskan bahwa, perlakuan interval waktu pemberian air yang berpengaruh nyata adalah perlakuan S 3 (siram 3 hari sekali), dan yang tidak berpengaruh nyata adalah perlakuan S 1 (siram setiap hari). Keadaan ini mengindikasikan bahwa, pertambahan jumlah daun sudah dapat optimal dengan perlakuan interval penyiraman 3 hari sekali. Hal ini sesuai dengan pendapat Jumin (2005) dalam Laode Asrul (2011), bahwa pertumbuhan tanaman sangat dibatasi oleh jumlah air yang tersedia dalam tanah, sehingga perlu adanya penambahan air baik dari air hujan ataupun irigasi. Hal ini penting dalam kaitannya dengan peranan air dalam tubuh tanaman. Interval pemberian air 3 hari sekali memberikan hasil yang baik karena pemenuhan kebutuhan air untuk digunakan dalam pertumbuhan berada dalam keadaan optimum, sehingga terjadi kesinambungan penggunaan dan pengeluaran air yang selanjutnya merangsang aktifitas metabolisme yang digunakan untuk pertumbuhan bagian-bagian tanaman seperti batang dan akar lebih panjang, dan daun lebih lebar.

23 Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Nurlaili (2009), tentang Tanggap Beberapa Klon Anjuran dan Periode Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan Bibit Karet (Hevea brassilliensis Muell. Arg.) dalam Polybag, menunjukkan bahwa pertambahan jumlah daun juga dipengaruhi oleh periode pemberian air 2 hari sekali (jumlah helai daun rata-rata 20,67 helai) dan 4 hari sekali (rata-rata18,56 helai) mempunyai nilai yang berbeda tidak nyata., tetapi pada pemberian interval penyiraman 6 hari sekali (A3) mempunyai hasil yang bebeda yaitu hanya 11,89 helai. Keadaan ini menunjukkan bahwa pemberian air 6 hari sekali dapat menekan laju pertumbuhan tanaman termasuk pertambahan jumlah daun. Hal ini didukung pula oleh Amypalupy (1988) dalam Nurlaili (2009) bahwa semakin diperjarang periode pemberian air terhadap tanaman, maka air tanah akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara keseluruhan. Kelebihan air akan mengganggu keseimbangan kimiawi dalam tanaman yang berakibat proses-proses fisiologis berjalan tidak normal. Apabila keadaan ini berjalan terus, maka akibat yang terlihat, misalnya tanaman kerdil, layu, produksi rendah, kualitas turun dan sebagainya. Kramer (1969) dalam Toto Suharjanto (2010). c. Berat Basah Tanaman Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa, perlakuan pemberian air pada berat basah tanaman bayam berpengaruh nyata pada taraf α = 5%. Dari rataan berat basah tanaman pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa perlakuan interval waktu pemberian air yang berpengaruh nyata adalah perlakuan S 3 (penyiraman 3 hari sekali) yang memiliki berat basah tertinggi yaitu 24,80 gram dan perlakuan yang memiliki berat basah terendah adalah perlakuan S 1 (penyiraman setiap hari) dengan berat 7,20 gram. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Suhartono (2008), tentang Pengaruh Interval Pemberian Air terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glicine Max (L) Merril) Pada Berbagai Jenis Tanah menunjukkan bahwa rata-rata berat basah tanaman terendah terdapat pada perlakuan interval pemberian air 1 liter / 4 hari (A 4 ), dan berat basah tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan interval pemberian

24 air 1 liter / 2 hari (A 2 ). Pengaruh perlakuan interval pemberian air dan berbagai jenis tanah terhadap berat basah tanaman kedelai, mempunyai relevansi atau menunjukkan pengaruh yang sama terhadap berat kering tanaman. Kelebihan air akan mengganggu keseimbangan kimiawi dalam tanaman yang berakibat proses-proses fisiologis berjalan tidak normal. Apabila keadaan ini berjalan terus, maka akibat yang terlihat, misalnya tanaman kerdil, layu, produksi rendah, kualitas turun dan sebagainya. Kramer (1969) dalam Toto Suharjanto (2010). d. Berat Kering Tanaman Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa, perlakuan pemberian air pada berat kering tanaman bayam berpengaruh nyata pada taraf α = 5%. Dari rataan berat kering tanaman pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa perlakuan interval waktu pemberian air yang berpengaruh nyata adalah perlakuan S 3 (penyiraman 3 hari sekali) yang memiliki berat kering tertinggi yaitu 4,43 gram dan perlakuan yang memiliki berat kering terendah adalah perlakuan S 1 (penyiraman setiap hari) dengan berat 1,09 gram. Hal ini ada hubungannya dengan pertumbuhan vegetatif (tinggi tanaman dan jumlah daun) pada perlakuan S 1 (penyiraman setiap hari) yang memberikan hasil lebih rendah dari perlakuan selang sehari penyiraman maupun perlakuan lainnya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Suhartono (2008), tentang Pengaruh Interval Pemberian Air terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glicine Max (L) Merril). Berat kering sebagai hasil representasi dari berat basah tanaman, merupakan kondisi tanaman yang menyatakan besarnya akumulasi bahan organik yang terkandung dalam tanaman tanpa kadar air.