JURNAL INTEGRASI PROSES. Website:

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. jumlah paparannya berlebihan. Kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari

KRIM TABIR SURYA DARI KOMBINASI EKSTRAK SARANG SEMUT (Myrmecodia pendens Merr & Perry) DENGAN EKSTRAK BUAH CARICA (Carica pubescens) SEBAGAI SPF

AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK AKAR BANDOTAN (AGERATUM CONYZOIDES L.)

Determination Sun Protecting Factor (SPF) Of Krokot Herbs Extract (Portulacaoleracea L.)

AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK DAUN CEMPEDAK (ARTOCARPUS CHAMPEDEN SPRENG)

BAB I PENDAHULUAN. Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari

KAJIAN AWAL AKTIFITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI POLAR KELADI TIKUS (typhonium flagelliforme. lodd) DENGAN METODE DPPH

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. yang didapatkan dari 20 kg buah naga merah utuh adalah sebanyak 7 kg.

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TABIR SURYA FRAKSI FENOLIK DARI LIMBAH TONGKOL JAGUNG (Zea mays L.)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL TUMBUHAN OBAT INDONESIA (TOI) KE-50

PROFIL TABIR SURYA EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN PIDADA MERAH (Sonneratia caseolaris L.)

BAB I PENDAHULUAN. yaitu radiasi UV-A ( nm), radiasi UV-B ( nm), dan radiasi UV-C

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2012.

BAB I PENDAHULUAN. hidup semua makhluk hidup, ternyata juga memberikan efek yang merugikan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Ultra Violet/UV (λ nm), sinar tampak (λ nm) dan sinar

PENENTUAN POTENSI TABIR SURYA EKSTRAK KLIKA ANAK DARA (Croton oblongus Burm F.)

UJI AKTIVITAS GABUNGAN NANOGOLD-NANOPLATINUM SEBAGAI SENYAWA TABIR SURYA DALAM KOSMETIK

Majalah Kesehatan FKUB Volume 2, Nomer 1, Maret 2015

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antioksidan pada

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah kentang merah dan

Tabir surya. kulit terhadap sinar matahari sehingga sinar UV tdk dpt memasuki kulit (mencegah gangguan kulit karena radiasi sinar )

PENENTUAN NILAI PERSENTASE ERITEMA DAN PIGMENTASI EKSTRAK HERBA SURUHAN (PEPEROMIA PELLUCIDA L.) SECARA IN VITRO

BAB I PENDAHULUAN. kekeringan, keriput sampai kanker kulit (Tranggono dan Latifah, 2007).

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi

BAB III. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset, Jurusan Pendidikan Kimia,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TABIR SURYA EKSTRAK RIMPANG Curcuma domestica Val., Curcuma xantorrhiza Roxb. dan Curcuma mangga Val.

PENENTUAN AKTIVITAS POTENSI TABIR SURYA EKSTRAK KULIT BUAH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) SECARA IN VITRO

UJI AKTIVITAS TABIR SURYA PADA BEBERAPA SPESIES DARI FAMILY ZINGIBERACEAE DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI. Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Makassar

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Selama radiasi sinar UV terjadi pembentukan Reactive Oxygen Species

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dilakukan uji determinasi di laboratorium Sistematika tumbuhan Fakultas

Penentuan Nilai Faktor Pelindung Surya (Fps) Fraksi Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L.) Secara In Vitro

Lampiran 1. Identifikasi tumbuhan.

BAB III METODE PENELITIAN. kandungan fenolik total, kandungan flavonoid total, nilai IC 50 serta nilai SPF

BAB III METODE PENELITIAN

Prosiding SNaPP2015 Kesehatan pissn eissn

BAB I PENDAHULUAN. khatulistiwa. Hal tersebut menyebabkan wilayah Indonesia selalu terpapar sinar

ANALISA KANDUNGAN ANTOSIANIN PADA BUNGA MAWAR MERAH MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER

ANALISA ANTOSIANIN PADA BUAH STROBERI MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER SINAR TAMPAK

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Sebagai pelindung utama tubuh dari kerusakan fisika, kimia dan

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU GIRING (Curcuma heyneana Val & Zijp) DENGAN METODE DPPH

FORMULASI SEDIAAN TABIR SURYA EKSTRAK JAHE EMPRIT. (Zingiber officinale Roxb) DALAM BENTUK SEDIAAN KRIM

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset, Jurusan Pendidikan Kimia,

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN... PENYATAAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL. DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. INTISARI.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. (Pandanus amaryllifolius Roxb.) 500 gram yang diperoleh dari padukuhan

BAB I PENDAHULUAN. hidup. Ketika kulit mengalami penuaan, akan terjadi berbagai masalah seperti

LAPORAN TUGAS AKHIR ANALISA KADAR FLAVONOID DALAM EKSTRAK MAHKOTA DEWA MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER

BAB I PENDAHULUAN. Radiasi matahari merupakan gelombang elektromagnetik yang terdiri atas medan listrik dan medan magnet. Matahari setiap menit

Jurnal Bahan Alam Terbarukan

IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIOKSIDAN DALAM SELADA AIR (Nasturtium officinale R.Br)

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan

ETIL ASETAT DAN EKSTRAK METANOL

FORMULASI SEDIAAN LOSIO DARI EKSTRAK KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus L. (Merr)) SEBAGAI TABIR SURYA

FRANSISKUS X DHIAS

BAB III METODE PENELITIAN

LAMPIRAN A DATA PENELITIAN DAN HASIL PERHITUNGAN

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2)

PERBEDAAN JENIS PELARUT TERHADAP KEMAMPUAN EKSTRAK DAUN BELUNTAS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Aktivitas Antioksidan Fraksi Dietileter Buah Mangga Arumanis (Mangifera indica L.) dengan Metode DPPH

UNIVERSITAS PANCASILA DESEMBER 2009

TUGAS ANALISIS FARMASI ANALISIS OBAT DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

Lampiran 1. Hasil identifikasi sponge

LAPORAN SKRIPSI EKSTRAKSI SENYAWA FENOLIK DARI BUAH JUWET

Jurnal Ilmiah Widya Teknik Volume 15 Nomor ISSN PROTOTIPE ALAT PENGEKSTRAK KUNYIT OTOMATIS MENGGUNAKAN AKTUATOR MOTOR DC

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Pengambilan sampel buah Debregeasia longifolia dilakukan di Gunung

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dan Laboratorium Kimia Instrumen

BAHAN DAN METODE. Bahan dan Alat

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN SIRIH HITAM (Piper sp.) TERHADAP DPPH (1,1-DIPHENYL-2-PICRYL HYDRAZYL) ABSTRAK

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TUGAS AKHIR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental, karena

TUGAS AKHIR PENGUJIAN STABILITAS ZAT WARNA KULIT MANGGIS DENGAN MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER OPTIMA SP-300

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Riset Kimia, Laboratorium Riset

APLIKASI METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL UNTUK MENGUKUR KADAR CURCUMINOID PADA RIMPANG KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan September 2015 di

Tabir surya. kulit terhadap sinar matahari sehingga sinar UV tdk dpt memasuki kulit (mencegah gangguan kulit karena radiasi sinar )

BAB III. Metode Penelitian. kandungan fenolik total, kandungan flavonoid total, nilai IC50 serta nilai SPF

1. PENDAHULUAN. Bogem (Sonneratia caseolaris (L.) Engler) merupakan salah satu spesies

I. PENDAHULUAN. pertahanan tubuh terhadap infeksi dan efek radikal bebas. Radikal bebas dapat. bebas dapat dicegah oleh antioksidan (Nova, 2012).

LAMPIRAN A DATA PENELITIAN DAN HASIL PERHITUNGAN

KAJIAN AKTIVITAS BENTONIT SEBAGAI

UJI AKTIVITAS TABIR SURYA PADUAN OKTIL P-METOKSI SINAMAT (OPMS) - NANOPARTIKEL EMAS SEBAGAI BAHAN KOSMETIK

PENENTUAN KADAR TOTAL FENOLIK, FLAVONOID, DAN KAROTENOID EKSTRAK METANOL KLIKA ANAK DARA. (Croton oblongus Burm.f.).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Instrumen Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah daging buah paria (Momordica

PENGARUH TEMPERATUR PADA PROSES PEMBUATAN ASAM OKSALAT DARI AMPAS TEBU. Oleh : Dra. ZULTINIAR,MSi Nip : DIBIAYAI OLEH

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Transkripsi:

Jurnal Integrasi Proses Vol. 6, No. 3 (Juni 2017) 143-147 JURNAL INTEGRASI PROSES Website: http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jip Submitted : 11 April 2017 Revised : 23 May 2017 Accepted : 31 May 2017 PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP NILAI SUN PROTECTING FACTOR(SPF) PADA EKSTRAK KUNYIT PUTIH SEBAGAI BAHAN PEMBUAT TABIR SURYA MENGGUNAKAN PELARUT ETIL ASETAT DAN METANOL Nufus Kanani 1*, Agus Rochmat 1, Reza Pahlevi 1, Fitri Yayu Rohani 1 1 Teknik Kimia, Teknik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jl. Jendral Sudirman Km 03, Cilegon-banten, 42435 * Email: nufuskanani@yahoo.com Abstrak Kunir Putih (Curcuma mangga) merupakan salah satu tumbuhan yang melimpah dan belum banyak dimanfaatkan di daerah Pandeglang Banten. Kunir Putih mempunyai potensi sebagai antioksidan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan Tabir Surya.enelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai Sun Protection Factor(SPF) yang terkandung kunir putih. Penelitian diawali dengan pemilihan rimpang kunir putih kemudian memotong dan melakukan proses blanching dengan media asam sitrat 0,05%. Setelah itu, dilakukan ekstraksi digesti pada temperatur (30;50;70 o C) menggunakan pelarut etanol 96% dan etil asetat. Selanjutnya menguapkan ekstrak menggunakan water bath pada temperatur 40-45 o C dan dilanjutkan dengan pengovenan menggunakan oven jenis Yamato DX 402 pada 37 o C selama 8 jam. Ekstrak kental yang diperoleh dilakukan pengujian aktivitas SPF (Sun Protecting Factor) dengan menggunakan metode in vitro. Hasil menunjukkan nilai SPF pada variasi temperatur 30, 50, 70 dengan pelarut etanol 96% yaitu 3.295, 2.362, 1.593 dan nilai SPF dengan pelarut etil asetat menunjukkan 4.107, 2.548, 1.138. hasil terbaik didapatkan pada temperatur 30 0 C dengan menggunakan pelarut etil asetat. Kata Kunci: Antioksidan, Kunir putih, Sun Protection Factor (SPF) Abstract White turmeric (Curcuma Mangga) is a rhizome that plantyful and It has not optimally appliedin Pandeglang Banten.White turmeric is a potential antioxidantthat can be used asskin sunscreen. The aim of the research was to observe the potential of curcuma manga to be a sunscreen. This study was initially prepared by slicing the rhizome into the small size, after that blanching by adding 0.05% of citric acid and then followed by exctracting process indifferent temperature30;50;70 o C and varied in solven (ethanol 96% and ethyl acetat). The next one was vaporized the solventusing water bath at 40-45 o C anddried at 37 o C for 8 hourswith Yamato DX 402 oven. The extract was then analyzed by in vitro analysis. The result showed that SPF value at varied temperature 30, 50,70 o C in ethanol 96% was 3.295, 2.362, 1.593 and SPF value in ethyl acetat was 4.107, 2.548, 1.138.The best SPF result was obtainedfrom temperature of 30 0 C of athyl acetat solvent. Keywords: Antioxidant, White turmeric, Sun Protection Factor (SPF) 143

1. PENDAHULUAN Matahari merupakan sumber cahaya alami yang memiliki peranan sangat penting dalam keberlangsungan kehidupan. Sinar matahari merupakan gelombang elektromagnetik yang menjadi sumber semua jenis sinar. Dipermukaan bumi sinar matahari terdiri dari beberapa spektrum yaitu sinar infra merah (>760 nm), sinar tampak (400-760 nm), sinar ultra violet (UV) A (315-400 nm), sinar UVB (290-315 nm), dan sinar UVC (100-290 nm) yang sangat berbahaya, memiliki energi yang sangat tinggi dan bersifat karsinogenik (Kaur dan Saraf, 2009). Tabir surya alami pada umumnya merupakan senyawa fenolik atau polifenolik yang berperan untuk mencegah efek yang merugikan akibat radiasi UV pada kulit (Svobodova, dkk, 2003). Kunir putih yang digunakan pada penelitian ini merupakan salah satu tanaman dari Pandeglang-Banten, dimana tanaman ini secara tradisional digunakan sebagai antimikroba, antioksidan, antianalgesik dan antifungal. Aktivitas ini dikarenakan adanya senyawa yang terkandung didalam kunir putih yaitu kurkumin (curcumenol). Penelitian terkait pengolahan kunir putih telah dilakukan oleh Mulyani dkk (2010), bahwa ekstrak kunir putih mengandung kurkumin sehingga mampu menghambat oksidasi. Kurkumin dapat mengabsorpsi sinar UV yang memiliki panjang gelombang antara 200-400 nm, sehingga curcumin mampu digunakan sebagai tabir surya yang mampu memberi perlindungan terhadap UV A dan UV B. (a) (b) Gambar 1. (a) Rimpang Kunir Putih, (b) Tumbuhan Kunir Putih Menurut hasil penelitian Yulianti, 2015, Kunir Putih (Curcuma Mangga, Val.) mengandung antioksidan yang mampu mengadsorpsi sinar UVB. Kurkumin dalam kunir putih memiliki gugus kromofor dan C-H alifatik yang dapat mengadsorpsi sinar UV yang memiliki panjang gelombang antara 290-320 nm sehingga mampu digunakan sebagai pelindung dari sinar UVB. Pada Spektrofotometer UV-Vis menunjukkan bahwa pada senyawa kurkumin terdapat gugus kromofor dan C-H alifatik yang dapat mengsi sinar UV yang memiliki panjang gelombang antara 200-400 nm. Besarnya efektivitas tabir surya didasarkan pada penentuan nilai Sun Protecting Factor (SPF) yang menggambarkan kemampuan tabir surya dalam melindungi kulit terhadap sinar UV terutama UVB, menurut Shaath, 1990, SPF hanya menunjukkan daya perlindungan terhadap UVB dan tidak terhadap UVA. Sebab, berbeda dengan UVB yang bekerja pada permukaan kulit dan menyebabkan kulit terbakar, UVA meresap masuk ke dalam kulit dan merusak DNA. Ini membuat kekuatan UVA tidak bisa diukur dengan mudah karena efeknya tidak segera terlihat. Besarnya nilai SPF berkisar antara 0 sampai 100, dan kemampuan tabir surya yang dianggap baik berada di atas 15. Tingkat kemampuan tabir surya dapat dibedakan sebagai berikut: a. Minimal, bila SPF antara 2 4 b. Sedang, bila SPF antara 4 6 c. Ekstra, bila SPF antara 6-8 d. Maksimal, bila SPF antara 8 15 e. Ultra, bila SPF lebih dari 15 Dari penelitian yang ada belum dilakukan pengukuran besarnya nilai SPF yang terkandung pada kunir putih untuk melindungi kulit terhadap sinar UV. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya nilai Sun Protection Factor(SPF) yang terkandung kunir putih sebagai bahan dasar untuk melindungi kulit dari sinar UV menggunakan pelarut etil asetat dan methanol. 2. METODE PENELITIAN 2.1 Proses Blanching Rimpang kunir putih disortasi dan dipilih cabang yang baik dan tidak busuk, kemudian dilakukan pengupasan serta pencucian. Kunir putih tanpa kulit 144

dipotong secara melintang dengan ketebalan 2-3 mm, setelah itu dimasukkan kedalam larutan asam sitrat 0,05% sebanyak 750 ml dan dipanaskan sampai 100 0 C selama 5 menit kemudian ditiriskan. 2.2 Ekstraksi Rimpang Kunir Putih Dalam tahap ini, kunir putih dihaluskan dengan blender selama 3 menit dengan penambahan 250 ml pelarut yang telah ditentukan yaitu ethil asetat dan ethanol hingga dihasilkan slurry kunir putih. Slurry kunir putih dimasukkan kedalam bejana, kemudian ditambahkan 350 ml pelarut sehingga total pelarut yang digunakan adalah 600 ml. Setelah itu dilakukan ekstraksi digesti dengan temperatur yang ditentukan yaitu 30, 50 dan 70 C selama 2 jam. Kemudian dilakukan penyaringan untuk menghasilkan filtrat dan dilakukan dekantasi untuk meminimalisir residu pada filtrat. Setelah itu, filtrat dimasukkan kedalam water bath dengan air sebagai medium pemanas pada temperatur 40-45 C selama 4 jam. Kemudian dilakukan penguapan menggunakanovenyamato DX 402 dengan temperatur 37 C selama 8 jam untuk menghilangkan pelarut yang masih terjebak dalam ekstrak. Setelah itu dilakukan analisa untuk menguji besarnya nilai SPF yang terkandung pada rimpang kunir putih. 2.3 Analisa SPF Menurut Sayre (1979), Pengukuran dan pengujian aktivitas senyawa-senyawa tabir surya dapat dilakukan dengan banyak cara yakni pengujian secara in vivo dan in vitro. Pengujian secara in vivo dilakukan secara langsung pada sel biologis. Teknik ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara dan salah satunya adalah dengan pengamatan eritema akibat terkena paparan sinar UV dan dibandingkan dengan suatu kontrol (Handa, dkk, 2008), sedangkan in vitro merupakan pengujian aktivitas serapan sinar UV menggunakan Spektrofotometer UV-Vis kemudian dari panjang gelombang yang diperoleh digunakan untuk menentuan efektivitas tabir surya dengan cara menghitung nilai SPF dengan menggunakan persamaan (1) dan (2): AUC = log SPF = 320 Serapan λ n +Serapan λ n +1 2 290 λ n+1 λ n...(1) AUC λ max λ min Ket: λ = Panjang gelombang AUC = x2...(2) Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas serapan sinar UV secara in vitro dimana panjang gelombang diukur dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis Hitachi U-3900H pada rentang panjang gelombang sinar UV (λ) antara 200-400 nm, kemudian menentukan besarnya nilai SPF dengan menggunakan persamaan (1) dan (2), 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut ini merupakan hasil perhitungan besarnya nilai panjang gelombang dan serta besartnya nilai SPF yang terkandung pada kunir putih dengan menggunakanpelarut etil asetat dan methanol pada temperatur 30 0 C, 50 0 C dan 70 0 C (Tabel 1 dan Tabel 2). Hasil nilai SPF yang dihasilkan ekstrak kunir putih dapat dilihat pada Gambar 2 dari gambar tersebut dapat dilihat nilai SPF tertinggi terdapat pada ektrak kunir putih dengan pelarut etil asetat pada temperatur ekstraksi 30 o C sebesar 4.107. Kunir putih yang memiliki nilai SPF sebesar 4.107 tersebut dapat digunakan sebagai bahan tabir surya yang mampu memberikan perlindungan dari sinar UV B karena rentang nilai SPF nya masih masuk kedalam rentang nilai SPF minimum yang ada. Ekstrak kunir putih dengan pelarut etil asetat memiliki kriteria nilai SPF yang sedang yaitu antara 4-6. Nilai SPF ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh jumlah senyawa antioksidan yang ada dalam kunir putih. Senyawa antioksidan memiliki senyawa kromofor dan C-H alifatik yang mampu menyerap sinar UV. Pelarut etil asetat adalah pelarut dengan hasil antioksidan terbaik yang dihasilkan karena banyaknya kandungan senyawa semipolar yang ada pada kunir putih. Seperti kita ketahui komposisi terbanyak antioksidan yang diperoleh adalah turunan dari senyawa alkaloid yang bersifat semipolar, sedangkan xanthone dan kurkumin bersifat nonpolar dan polar. Selain penggunaan pelarut, faktor lain yang mempengaruhi adalah kondisi operasi ekstraksi yang digunakan, diantaranya adalah temperatur operasi ekstraksi. Temperatur 30 o C diketahui sebagai temperatur maksimum yang dapat menghasilkan kandungan antioksidan yang lebih banyak. Senyawa antioksidan adalah senyawa yang dapat rusak apabila dipanaskan pada temperatur tinggi. Pada temperatur ekstraksi 50 dan 70 C mengasilkan nilai SPF yang lebih rendah, kerena aktivitas antioksidan pada ekstrak mengalami penurunan, sehingga kemampuan menyerap sinar pada pengukuran spektrofotometer UV-Vis akan menghasilkan nilai SPF yang rendah. Hal tersebut menyatakan semakin besar aktivitas penangkal radikal bebas ekstrak maka nilai SPF nya juga semakin tinggi. Sehingga ekstrak kunir putih dapat berperan sebagai antioksidan sekaligus tabir surya. Hasil nilai SPF yang dihasilkan ekstrak kunir putih dapat dilihat pada Gambar 2. Dari grafik tersebut dapat dilihat nilai SPF tertinggi terdapat pada ektrak kunir putih dengan pelarut etil asetat pada temperaturekstraksi 30 o C sebesar 4.107. hal ini menunjukkan bahwa kunir putih memiliki potensi sebagai tabir surya dimana nilai SPF yang diperoleh berada dalam rentang nilai SPF yang harus dimiliki 145

SPF Jurnal Integrasi Proses Vol. x, No. x (Bulan Tahun) xx - xx bahan untuk dijadikan bahan tabir surya yaitu antara 2-15. Tabel 1. Besarnya nilai Kunir Putih dengan menggunakan pelarut Etil Asetat dan Metanol pada berbagai temperatur Ethil Asetat Etanol λ (nm) 30 C 50 C 70 C 30 C 50 C 70 C 290 5,326 5,441 5,516 4,742 3,755 2,104 295 5,214 5,177 6,208 4,156 3,370 1,870 300 4,715 5,073 5,510 3,522 2,918 1,579 305 3,661 9203 4,418 6358 5,049 0,842 2,980 7768 2,466 5600 1,333 3035 310 3,252 3,735 5,372 2,452 2,030 1,124 315 2,691 3,188 5,038 1,983 1,703 0,976 320 1,645 2,898 5,179 1,635 1,515 0,890 Tabel 2. Besarnya nilai SPF Kunir Putih dengan menggunakan pelarut Etil Asetat dan Metanol pada berbagai temperatur Temperatur SPF Pelarut Etil asetat Pelarut Metanol 30 C 4,107 3,295 50 C 2,654 2,362 70 C 1,138 1,593 5 4 3 2 1 4.107 3.295 2.548 2.362 1.593 1.138 Ethanol 96% Ethil Asetat 0 30 50 Temperatur ( C) 70 Gambar 2. Hubungan Temperatur terhadap Nilai SPF (Sun Protecting Factor) pada Pengaruh Jenis Pelarut 146

Selain penggunaan pelarut, faktor lain yang mempengaruhi adalah kondisi operasi ekstraksi yang digunakan, diantaranya adalah temperatur operasi ekstraksi. Temperatur 30 o C diketahui sebagai temperatur maksimum yang dapat menghasilkan kandungan antioksidan yang lebih banyak. Senyawa antioksidan adalah senyawa yang dapat rusak apabila dipanaskan pada temperatur tinggi. Pada temperatur ekstraksi 50 dan 70 C mengasilkan nilai SPF yang lebih rendah, kerena aktivitas antioksidan pada ekstrak mengalami penurunan, sehingga kemampuan menyerap sinar pada pengukuran spektrofotometer UV-Vis akan menghasilkan nilai SPF yang rendah. Hal tersebut menyatakan semakin besar aktivitas penangkal radikal bebas ekstrak maka nilai SPF nya juga semakin tinggi. Sehingga ekstrak kunir putih dapat berperan sebagai antioksidan sekaligus tabir surya. Mangga (Curcuma Mangga) dan Krim Ekstrak Etanol 70% Temu Mangga(Curcuma Mangga) Secara In Vitro Menggunakan Metode Spektrofotometri, FKUB, Malang, 2015 4. KESIMPULAN Nilai SPF (Sun Protecting Filter) yang terbesar adalah ekstrak kunir putih dengan menggunakan pelarut etil asetat, dimana besarnya nilai SPF yang diperoleh yaitu 4.107 diikuti dengan ekstrak kunir putih menggunakan pelarut methanol yaitu 3.295. pada temperatur 30 0 C. Nilai SPF tersebut mengindikasikan bahwa kunir putih berpotensi dijadikan bahan pembuatan tabir surya. 5. DAFTAR PUSTAKA Handa, S.S.; Khanuja, S.P.S.; Longo, G.; Rakes, D.D.,Extraction Technologies for Medicinal and Aromatic Plants, Trieste: International Centre for Sciences and High Technology, 2008, 21-25. Kaur, C. D.; Saraf, S.,In Vitro Sun Protection Faktor Determination of Herbal Oils Used in Cosmetic, Pharmacognosy Research, 2009,22-23. Miryanti, A.Y.I.P.; Sapei, L.; Budiono, K.; Indra, S., Ekstraksi antioksidan dari kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.). Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, 2011. Mulyani, P.; Wahidatullail, N., Penentuan Nilai SPF (Sun Protecting Factor) Ekstrak N-Heksan Etanol (1:1) Dari Rice Bran (Oryza Sativa)Secara In Vitro Dengan Metode Spektrofotometri UV-VIS, Universitas Tadulako, 2014. Pujimulyani, D.; Raharjo, S.; Marsono, Y.; Santoso, U.,The Antioxidant Activity and Phenolic Content of Fresh and Blanched White Saffron (Curcuma mangga Val.), Journal of Agritech, 2010, 30 (2) Shaath, N.A.;The Chemistry Of Sunscreens, Marcel Dekker Inc, New York, 1990, hal. 55-56. Svobodova, A.; Psotova, J.; Walterova, D., Natural Phenolics in the Prevention of UV-Induced Skin Damage, Biomed, Pap, 2003, hal 137-147. Yulianti, E.; Adeltrudis A.; Alifa P.,Penentuan Nilai SPF (Sun Protection Factor) Ekstrak Etanol 70% Temu 147