METODE PENELITIAN. Tempat dan Waktu Penelitian

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN. Identifikasi dan Pemetaan Sagu

METODOLOGI PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sosialisasi Undang-Undang 41/2009 beserta Peraturan Perundangan Turunannya

BAB II METODE PENELITIAN

PENDAHULUAN Latar Belakang

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian. Metode Pengumpulan Data

METODE. - Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura - Dinas Peternakan dan Perikanan - Dinas Perkebunan b. Data NBM tahun (sekunder)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penggunaan Lahan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

III. METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

Gambar 2. Peta Batas DAS Cimadur

HASIL DAN PEMBAHASAN. Neraca Kebutuhan dan Ketersediaan Air. dilakukan dengan pendekatan supply-demand, dimana supply merupakan

Manfaat METODE. Lokasi dan Waktu Penelitian

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

I. PENDAHULUAN. umum disebabkan dua faktor, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor

Gambar 6. Peta Lokasi Kabupaten Majalengka (Sumber : PKSKL IPB 2012)

METODE PENELITIAN. Sumber: Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Depok (2010) Gambar 9. Peta Orientasi Wilayah Kecamatan Beji, Kota Depok

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi

PEDOMAN TEKNIS KRITERIA DAN PERSYARATAN KAWASAN, LAHAN, DAN LAHAN CADANGAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Peta Lokasi Penelitian

PENDAHULUAN Latar Belakang

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran

Kajian. Hasil Inventarisasi LP2B. Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Provinsi Lampung memiliki kegiatan pembangunan yang berorientasikan pada potensi sumberdaya alam

III. METODE PENELITIAN

ARAHAN PERENCANAAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN SOPPENG. Maswirahmah Fasilitator PPSP Kabupaten Soppeng

METODOLOGI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Kabupaten Ngawi merupakan kabupaten penghasil beras keempat terbesar

EXECUTIVE SUMMARY PEMETAAN ZONASI POTENSI DAN ALIH FUNGSI LAHAN IRIGASI

Gambar 7. Lokasi Penelitian

BIMBINGAN TEKNIS PENGUMPULAN DATA NERACA LAHAN BERBASIS PETA CITRA

KEADAAN UMUM KABUPATEN JAYAPURA. Letak dan Luas

BAB III METODE PENELITIAN

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PENETAPAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL PEDOMAN INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS MANGROVE

IPB International Convention Center, Bogor, September 2011

Lahan rawa untuk budidaya tanaman pangan berwawasan lingkungan Sholehien

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 07/Permentan/OT.140/2/2012

METODOLOGI. dilakukan di DAS Asahan Kabupaen Asahan, propinsi Sumatera Utara. Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :

IDENTIFIKASI KAWASAN RAWAN KONVERSI PADA LAHAN SAWAH DI KECAMATAN 2 X 11 ENAM LINGKUNG KABUPATEN PADANG PARIAMAN BERBASIS GIS

III. METODE PENELITIAN

Gambar 1. Peta DAS penelitian

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

III. METODOLOGI Waktu dan Lokasi Penelititan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Gambar 1 Lokasi penelitian.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Gambar 2. Lokasi Studi

IV. METODOLOGI 4.1. Waktu dan Lokasi

Gambar 3. Peta Orientasi Lokasi Studi

BAB III METODE PENELITIAN

CUPLIKAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

BAB 3 PENGOLAHAN DATA

Gambar 2 Peta lokasi studi

BAB III METODE PENELITIAN. Putih yang terletak di Kecamatan Ranca Bali Desa Alam Endah. Wana Wisata

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Statistik Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XII Tanjungpinang Tahun Halaman 34 VI. PERPETAAN HUTAN

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

BAB III METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi penelitian

Title : Analisis Polaruang Kalimantan dengan Tutupan Hutan Kalimantan 2009

Bab III Pelaksanaan Penelitian

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

KAJIAN KAWASAN RAWAN BANJIR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DI DAS TAMALATE

IDENTIFIKASI LAHAN SAGU DAN POTENSI PEMANFAATANNYA SECARA BERKELANJUTAN DI KABUPATEN JAYAPURA

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survei. Survei adalah

I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau

2 menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia tentang Rawa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 t

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN PERHUTANAN SOSIAL

LOGO Potens i Guna Lahan

IV. METODE PENELITIAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ,

MATERI DAN METODE. Prosedur

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kajian. Hasil Inventarisasi LP2B. Kabupaten Pemalang Provinsi Jawa tengah

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

No baik hayati berupa tumbuhan, satwa liar serta jasad renik maupun non-hayati berupa tanah dan bebatuan, air, udara, serta iklim yang saling

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Rawa adalah wadah air beserta air dan daya air yan

2016, No menetapkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional tentang Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelan

III. BAHAN DAN METODE. Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.

Transkripsi:

23 METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini difokuskan pada lahan sagu yang ada di sekitar Danau Sentani dengan lokasi penelitian mencakup 5 distrik dan 16 kampung di Kabupaten Jayapura. Daerah ini dipilih karena mempunyai produktifitas sagu dan pemanfaatannya yang paling baik dibandingkan daerah lainnya di Jayapura dan wilayah ini paling terancam oleh konversi lahan ke penggunaan non pertanian karena berdekatan dengan pusat pemerintahan Kabupaten Jayapura (Lampiran Gambar 1 dan 2). Penelitian ini (survei lapang) dilaksanakan selama 6 bulan pada bulan September 2010 sampai Februari 2011. Lokasi penelitian disajikan pada Gambar 4. Bahan dan Alat Bahan penelitian bersumber dari data primer dan data sekunder berupa data tabular dan data spasial. Data primer berupa data spasial yang diperoleh dari survei dan wawancara yakni sebaran sagu, tegakan, kerapatan dan jenis sagu, produktifitas serta pemanfaatannya oleh masyarakat setempat. Data sekunder berupa data tabular yang diperoleh dari instansi pemerintah dan hasilhasil penelitian terkait berupa data jumlah penduduk dan konsumsi sagu. Selengkapnya data yang diperlukan, cara memperoleh dan keluarannya disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Data yang diperlukan dan cara memperolehnya Sumber Jenis Data Cara memperoleh Primer Sekunder Sebaran sagu, penggunaan lahan Tegakan, kerapatan dan jenis tanaman sagu Pemanfaatan tanaman sagu, produksi, jenis sagu Peta RTRW dan batas administrasi Peta tutupan lahan Kabupaten Jayapura Jumlah penduduk, dan konsumsi sagu Digitasi citra GeoEye 2010 dari Google Earth dan hasil survei Petak pengamatan Wawancara dengan penduduk Bapeda Dinas Kehutanan BPS, Dinas Ketahanan Pangan dan laporan hasil-hasil penelitian

Gambar 4. Lokasi penelitian 24

25 Prosedur Penelitian Kegiatan penelitian dilaksanakan dalam 3 tahap yakni 1). persiapan, 2) survei dan (3) analisis data 1. Persiapan Kegiatan tahap persiapan terdiri atas: a) studi literatur dan pengumpulan data sekunder serta b) penyusunan peta lahan bervegetasi sagu a. Studi literatur dan pengumpulan data sekunder Studi literatur atau studi pustaka yang dilakukan berkaitan dengan sagu yakni habitat sagu, fungsi sagu secara ekonomi, ekologi dan budaya, konsep pengelolaan sagu, kajian dilakukan melalui buku terkait, jurnal, artikel, penelusuran melalui internet. Pengumpulan data sekunder berupa data tabular dan spasial. Data tabular dari laporan hasil-hasil penelitian dan laporan dari instansi pemerintah (BPS, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan dan Bappeda) meliputi data produksi sagu, konsumsi sagu, budidaya tanaman sagu, data penduduk sedangkan data spasial berupa peta tutupan lahan, RePPProT dan peta administrasi untuk membatasi areal penelitian. b. Pemetaan sebaran sagu Pemetaan sebaran sagu adalah pemetaan lahan-lahan bervegetasi sagu, diperlukan saat pengamatan (survei) potensi tegakan sagu. Lahan bervegetasi sagu diidentifikasi lebih lanjut dengan pengecekan lapang. Pencarian lahan bervegetasi melalui informasi hasil-hasil penelitian atau laporan serta dari informasi letak areal hutan sagu dari sebagai sumber di dinas-dinas terkait dan masyarakat setempat dan mengambil titik GPSnya. Setelah diperoleh lokasi letak hutan sagu lalu disiapkan citra GeoEye dari Google Earth untuk melihat sebaranya (Gambar 5). Interpretasi citra GeoEye dengan metode on screen yakni mendelineasi pola-pola sebaran sagu yang ada secara visual secara online.

26 Studi literatur Pengecekan lapang / penentuan lokasi Informasi masyarakat/dinas Interpretasi dari Citra GeoEye Sebaran sagu Gambar 5. Alur pemetaan sebaran sagu Peta lahan sebaran sagu menjadi peta lapang tentang sebaran tanaman sagu untuk rencanakan lokasi petak pengamatan saat survei tegakan tanaman sagu dilakukan. 2. Survei Survei terdiri dari: a) pengamatan keragaman tanaman sagu, dan b) wawancara responden. a) Pengamatan keragaman tanaman sagu Pengamatan keragaman tanaman sagu dilakukan untuk mengetahui potensi tegakan dan kerapatan tanaman sagu berdasarkan peta lahan sebaran sagu (yang dibuat pada tahap persiapan). Setiap sebaran sagu dibuat 4 petak pengamatan berukuran 15 m x 15 m. Penempatan petak pengamatan mewakili keragaman sagu yang ada dengan pertimbangan kemudahan dijangkau. Data yang dikumpulkan meliputi tipe sagu (dusun sagu, atau dusun sagu campuran), potensi tegakan (tegakan siap panen), kerapatan (rumpun), jenis sagu dan deskripsi kondisi lingkungan tumbuh. b) Wawancara responden Wawancara dilakukan untuk mengetahui sebaran jenis sagu dan pemanfaatan hutan sagu oleh masyarakat sekitar lokasi penelitian. Data yang dikumpulkan meliputi jenis pemanfaatan dan intensitas pemanfaatannya. Untuk memudahkan dalam menentukan intensitas pemanfaatan dibuat kelas pemanfaatan (Tabel 6). Pemilihan responden berasal dari kampung yang berada di kawasan tanaman sagu. Data tersebut diperoleh melalui wawancara terhadap responden yang ditemui di kampung maupun di lahan sagu.

27 Wawancara juga dilakukan untuk memastikan penyebaran tipe sagu yang ada di lapang sesuai pengetahuan masyarakat dengan bantuan peta lahan sebaran sagu. Hal ini dilakukan untuk memudahkan mendelineasi sebaran tipe sagu selain dari pengamatan lapang (titik GPS) dan analisis visual citra. Tabel 6. Kelas intensitas pemanfaatan hutan sagu Kelas Kriteria Sangat Tinggi : Jika lebih dari 75 % jumlah penduduk memanfaatkan hutan sagu Tinggi : Jika sebesar 51-75 % jumlah penduduk memanfaatkan hutan sagu Menengah : Jika sebesar 26-50 % jumlah penduduk memanfaatkan hutan sagu Rendah : Jika sebesar 1-25 % jumlah penduduk memanfaatkan hutan sagu Sangat Rendah : Jika tidak terdapat penduduk yang memanfaatkan hutan sagu Sumber: Modifikasi dari Genting Oil Kasuri (2009) 3. Analisis Data Analisis data meliputi: a) pemetaan kawasan sagu; b) proyeksi kebutuhan lahan sagu; c) pemetaan arahan pengembangan pertanian pangan sagu; dan d) identifikasi dan pemetaan lahan potensial untuk LP2B, LCP2B dan KP2B a. Pemetaan kawasan sagu Pemetaan kawasan sagu diperlukan untuk mendapatkan informasi tentang lahan-lahan sagu khususnya yang telah berproduksi (dimanfaatkan) untuk menghasilkan pangan sagu. Dilakukan dengan mendetailkan peta sebaran sagu yang dibuat pada tahapan sebelumnya (tahap persiapan) dengan data hasil survei dengan memasukkan data atribut tentang tipe sebaran sagu, rumpun, tegakan siap panen dan pemanfaatan (Gambar 6). Pemetaan tipe sebaran sagu mengacu klasifikasi tipe sebaran sagu oleh Matanubun et al. (2008), yakni dusun sagu, dusun sagu campuran, hutan sagu, hutan sagu campuran dan rawa sagu. Dusun sagu merupakan hutan sagu yang telah dimanfaatkan atau dikelola oleh masyarakat. Rawa sagu adalah rawa permanen yang ditumbuhi sagu. Hutan sagu adalah hamparan hutan yang ditumbuhi sagu (sagu 80 100 %) dan diselingi pohon hutan lainnya. Hutan sagu

28 campuran merupakan hutan sagu (sagu 30 80 %) yang diantaranya terdapat beberapa jenis-jenis pohon lainnya menyebar dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Dari tipe sebaran sagu diinput data atribut jumlah tegakan siap panen dan jumlah rumpun. Untuk informasi pemanfaatan dibuat dengan menumpangsusunkan peta tipe sebaran sagu dengan peta administrasi kampung. Dari hasil tumpangsusun tersebut menjadi dasar untuk mengisi data atribut pemanfaatan setiap kampung yang memiliki lahan sagu. Sebaran sagu Hasil survei dan Informasi masyarakat Interpretasi dari Citra GeoEye Input data tegakan dan rumpun Tipe sebaran sagu Peta administrasi Input data Intensitas pemanfaatan Pemanfaatan sagu Kawasan sagu Gambar 6. Alur pembuatan peta kawasan sagu b. Proyeksi kebutuhan lahan sagu Proyeksi kebutuhan lahan sagu digunakan untuk mengetahui kebutuhan lahan sagu dalam wilayah tertentu dan dalam jangka waktu pula. Analisis ini akan digunakan sebagai dasar dalam menyusun LP2B. Jangka waktu yang digunakan adalah tahunan hingga 20 tahun akan datang sesuai dengan penyusunan RTRW. Untuk menentukan luasan lahan sagu disusun skenario luasan berdasarkan asumsi jumlah penduduk, tingkat konsumsi dan produktifitas sagu untuk tingkat lokasi penelitian dan kontribusi di tingkat lebih tinggi yakni Kabupaten dan Propinsi Papua (Gambar 7).

29 Proyeksi pertumbuhan penduduk Proyeksi kebutuhan pangan sagu aktual Proyeksi kebutuhan pangan sagu PPH Proyeksi kebutuhan luas lahan sagu Asumsi Produktifitas sagu Proyeksi kebutuhan luas lahan sagu Gambar 7. Alur Proyeksi kebutuhan luas lahan sagu Jumlah penduduk (Y) Perhitungan proyeksi jumlah penduduk menggunakan persamaan regresi dengan mencari model terbaik (nilai R tertinggi). Persamaan regresi menggunakan trend penduduk masa yang lalu untuk memperkirakan jumlah penduduk masa yang akan datang. Model yang digunakan adalah model linear dikarenakan berdasarkan data BPS (2000-2009) pertambahan penduduk akan bertambah sebesar jumlah absolut yang sama/tetap (β) atau rata-rata pertambahan penduduk sama. P t =α + βt Dimana : Pt = penduduk pada tahun proyeksi t α = intercept (penduduk pada tahun dasar) β = koefisien ( rata-rata pertambahan penduduk) T = periode waktu proyeksi Kebutuhan konsumsi sagu (KKS) Kebutuhan konsumsi sagu adalah perkalian dari konsumsi sagu (tepung sagu) perkapita dengan jumlah penduduk pada tahun tertentu

30 KS= KS * Yt Dimana : KKS = Kebutuhan konsumsi sagu (Kg) KS = Konsumsi sagu (kg/kapita/tahun) Yt = Jumlah penduduk tahun ke-t (jiwa) KS atau konsumsi sagu perkapita menggunakan data persediaan pangan dalam bentuk jumlah pangan perkapita pertahun dihitung dengan membagi jumlah pangan yang tersedia dengan jumlah penduduk pada tahun yang bersangkutan. Perhitungan KS mengunakan 2 (dua) asumsi yakni konsumsi aktual dan konsumsi ideal/harapan. Estimasi kebutuhan konsumsi sagu aktual berdasarkan permintaan waktu yang lalu bertujuan untuk menyediakan sesuai kecenderungan permintaan berdasarkan selera konsumen. Data untuk proyeksi konsumsi aktual digunakan dari Neraca Bahan Makanan (NBM) Kabupaten Jayapura 4 tahun terakhir (2002-2005) berdasarkan yang naik rata-rata 0,06 %. Konsumsi ideal/harapan adalah pemenuhan kebutuhan pangan yang dikonsumsi seimbang diantara jenis pangan yang dikonsumsi. Data yang gunakan berdasarkan skor dari penetapan pola pangan harapan (PPH) yakni 15,11 kg/kap/tahun. Kebutuhan Luas lahan Sagu (KLS) Kebutuhan luas lahan sagu adalah jumlah penduduk dikali kebutuhan konsumsi sagu terhadap produktifitas sagu. KLS = KKS/ PS Dimana : KLS = Kebutuhan Luas lahan Sagu (ha) KKS = Kebutuhan konsumsi sagu (Kg/tahun) PS = Produktifitas Sagu (kg/ha/tahun) Produktifitas sagu diperoleh asumsi hasil pati sagu yang dipanen penduduk tiap tegakan siap panen (hasil wawancara) dikalikan dengan jumlah tegakan siap panen per hektar (hasil survei tegakan).

31 c. Pemetaan ketersediaan lahan sagu (arahan pengembangan pertanian pangan sagu) Penyusunan peta ketersediaan lahan sagu untuk mengetahui dimana lokasi yang sesuai berdasarkan aspek fisik dan spasial untuk pengembangan pertanian pangan termasuk lahan yang bervegetasi sagu maupun yang tidak bervegetasi sagu. Pembuatan peta tersebut menggunakan software ArcGIS 9.3 dilakukan dengan mengoverlay peta kesesuaian lahan, peta RTRW dan peta penggunaan lahan (Gambar 8 dan Tabel 7). Identifikasi kesesuaian lahan sagu (termasuk lahan bervegetasi sagu) dilakukan dengan proses tumpangtindih (overlay) terhadap peta-peta tematik yang ada yaitu: peta kemiringan lereng, peta kedalam air tanah tanah dan peta ketinggian tempat (Gambar 6) untuk mendapatkan lahan yang sesuai untuk sagu. Langkah-langkah penyusunan data spasial lahan sagu potensial berdasarkan studi literatur melalui pendekatan dari berbagai sumber karena belum tersedianya kriteria baku penilaian kesesuaian lahan sagu. Kriteria tempat tumbuh sagu menurut Notohadiprawiro dan Louhenapessy (1992) yakni ketinggian idealnya <400 m dpl walaupun dapat tumbuh hingga 700 m dpl. Sagu tumbuh di antara tanah-tanah mineral dan gambut yang berada di dataran rawa, pasang surut, dataran banjir, cekungan dan lembah sungai. Hampir semua jenis tanah ditumbuhi sagu dengan syarat kedalaman air tanah < 100 cm atau tidak tergenang permanen. Oleh karena itu, tempat tumbuh sagu sangat ditentukan oleh kedalaman air tanah bukan jenis tanah. Kedalaman air tanah diperoleh dari peta landsystem. Terkait dengan kedalaman air tanah tersebut maka tempat tumbuh sagu diasumsikan pada kemiringan lereng < 2 %. Berdasarkan hal di atas dibuat kelas kesesuaian dengan tumpangtindih peta kemiringan lereng, ketinggian tempat, kedalaman air tanah yang klasifikasikan menjadi sesuai dan tidak sesuai. - Peta kemiringan lereng diperoleh dari Citra Aster Gdem diklasifikasikan menjadi dua yakni sesuai: 0-2 % dan tidak sesuai >2 % - Peta ketinggian tempat dari Citra Aster Gdem diklasifikasikan menjadi 2 ketinggian tempat yakni sesuai: 0-400 m dpl dan tidak sesuai > 400 m dpl.

32 - Dari peta landsystem diekstrak kedalaman air tanah dan diklasifikasikan menjadi 2 yakni sesuai: < 100 cm dan tidak sesuai > 100 cm. Ketinggian tempat Kemiringan lereng Kedalaman air tanah Kesesuaian lahan sagu RTRW Arahan pengembangan Penggunaan lahan Ketersediaan lahan Gambar 8. Alur pemetaan ketersediaan lahan Tabel 7. Penentuan arahan pengembangan Kesesuaian lahan RTRW Penggunaan lahan Kategori Sesuai Kawasan budidaya pertanian (campuran dan budidaya) Hutan, semak, lahan pertanian, lahan terbuka Lahan tersedia Sesuai Kawasan budidaya pertanian (campuran dan budidaya) Areal terbangun (pemukiman, bandara) Tidak tersedia Sesuai dan tidak sesuai Kawasan budidaya non pertanian (pemukiman, industri, pertambangan) dan kawasan lindung (hutan lindung dan sempadan danau) Hutan, semak, lahan pertanian, lahan terbuka, areal terbangun (pemukiman, bandara) Bukan arahan

33 Peta kesesuaian lahan dioverlay dengan peta RTRW untuk mendapatkan peta arahan pengunaan lahan. Peta arahan penggunaan lahan menginformasikan tentang keberadaan lahan-lahan sesuai yang di kawasan lindung dan budidaya. Setelah itu, peta arahan pengembangan dioverlay lagi peta penggunaan lahan untuk mendapatkan peta ketersediaan lahan. Peta penggunaan lahan dibuat dengan mendelineasi penggunaan/tutupan lahan di lokasi penelitian secara visual menggunakan citra GeoEye dari Google Earth. Peta ketersediaan lahan menginformasikan penggunaannya lahan-lahan arahan pengembangan saat ini. d. Identifikasi dan pemetaan lahan potensial untuk LP2B, LCP2B dan KP2B Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan sebagaimana dimaksud dalam PP No 1 tahun 20011 Pasal 2 huruf a meliputi: Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B), Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), dan Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LCP2B). LCP2B adalah lahan potensial yang dilindungi pemanfaatannya agar kesesuaian dan ketersediaannya tetap terkendali untuk dimanfaatkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan pada masa yang akan datang. LCP2B ditetapkan dari peta ketersediaan lahan dari lahan sagu yang belum memproduksi pangan sagu. LP2B adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional. Lahan yang akan menjadi LP2B ditetapkan dari lahan pertanian pangan yang telah ada (aktual) dan berproduksi. Konsep pemetaan LCP2B dan LP2B dilakukan dengan pengoverlay peta kawasan sagu dan peta arahan pengembangan dengan teknik Union (Gambar 9) lalu dipisahkan sesuai kriteria penilaian lahan untuk LP2B dan LCP2B (Tabel 8).

34 Peta kawasan sagu Peta ketersediaan lahan Union Lahan produksi Lahan belum produksi Proyeksi kebutuhan lahan LP2B LCP2B Gambar 9. Konsep pemetaan LP2B dan LCP2B Tabel 8. Kriteria penilaian lahan untuk LP2B dan LCP2B Peta Arahan pengembangan Peta Tipe Sagu Status Ketersediaan lahan Dusun sagu dusun sagu campuran, hutan sagu, hutan sagu campuran LP2B LCP2B Jika lahan produksi yang tersedia lebih luas dibandingkan kebutuhan lahan pangan sagu hasil proyeksi untuk jadi LP2B perlu dibuat urutan prioritas pemilihan lebih lanjut. Metode identifikasi urutan prioritas dibuat dengan indeks terbobot dihitung dengan teknik indeks overlay. Indeks terbobot dibangun berdasarkan pada tiap layer memiliki bobot (weight) dan tiap kelas di layer memiliki nilai (skor) sesuai dengan hasil pengamatan lapang. Nilai Bobot dan skor operasi tumpangsusun seperti ditampilkan Tabel 9.

35 Tabel 9. Nilai Bobot dan skor operasi tumpangsusun No Kriteria Skor setelah Faktor Keterangan standarisasi Bobot 1 Rumpun 0,15 Total skor telah Harapan 0,33 distandarisasi Kehiran 0,60 dan bobot Sosiri 0,48 berkisar 0-1 Maribu 1,00 2 Pohon siap tebang 0,30 Harapan 0,83 Kehiran 1,00 Sosiri 0,83 Maribu 0,92 3 jenis sagu 0,05 Harapan 0,30 Kehiran 1,00 Sosiri 0,52 Maribu 0,70 4 Pemanfaatan 0,50 Sangat Tinggi 1,00 Tinggi 0,80 Menengah 0,60 Rendah 0,40 Sangat Rendah 0,20 Tahap pertama yakni penetapan layer-layer yang akan di overlay lalu layer-layer tersebut distandarisasi. Standarisasi dilakukan untuk mendapatkan nilai bersama antar layer karena nilai dari masing-masing layer berbeda-beda. Dalam hal ini standar dinilai dari perbedaan nilai maksimum dan minimum, sehingga nilainya berkisar dari 0 1 atau dengan persamaan: max X ij = (xij)/x j Dimana : X ij = Nilai yang distandarisasi (xij) = Nilai ke I kriteria ke j x j max = Nilai tertinggi kriteria ke j Setelah standarisasi, dilakukan penetapan bobot untuk setiap layer. Pembobotan ini dibangun secara logika karena belum ada data mengenai pengaruh antar kriteria tersebut. Pemanfaatan mempunyai bobot lebih tinggi dibandingkan kriteria lain karena lahan sagu yang tidak dimanfaatkan tidak punya arti dibandingkan dimanfaatkan. Setelah itu, bobot tegakan siap panen lebih tinggi dibandingkan rumpun dan jenis karena tanpa tegakan

36 siap panen tidak dapat menghasilkan pati sagu. Bobot rumpun lebih tinggi dibandingkan jenis karena tiap rumpun akan menghasilkan tegakan siap panen. Setelah pembobotan dilakukan overlay. Hasil overlay ini diurutkan dari nilai tertinggi hingga nilai terendah. Urutan pemilihan lebih lanjut LP2B dimulai dari urutan terbaik dari hasil overlay layer-layer tersebut hingga sesuai dengan kebutuhan lahan hasil proyeksi. KP2B adalah wilayah budi daya pertanian terutama pada wilayah perdesaan yang memiliki hamparan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan/atau hamparan Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan serta unsur penunjangnya dengan fungsi utama untuk mendukung kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional. Pemetaan KP2B dilakukan berdasarkan hasil pemetaan LP2B dan LCP2B ditambah dengan unsur penunjang. Unsur penunjang yang dimaksud adalah sarana prasarana untuk menunjang aktivitas produksi pangan sagu yang telah ada dilokasi LP2B dan LCP2B. Peta sarana prasarana dibuat dengan mendelineasi sarana prasarana secara visual menggunakan citra GeoEye dari Google Earth. Konsep pemetaan KP2B seperti tersaji pada Gambar 10. Peta saran prasarana LP2B LCP2B Union KP2B Gambar 10. Konsep pemetaan KP2B