REZA NUFA IKRO. Demi bangsa Dalam peluk sahabat Jiwa. AlIslam

dokumen-dokumen yang mirip
wajahnya mulai pucat dan kedinginan. Dia membuka bajunya di depan pintu, memeras baju tersebut agar tidak terlalu basah ketika masuk rumah.

GURU. Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Ayo silahkan perkenalkan diri.

AZAN PERTAMA DENDY. (Penulis : IDM)

Aku menoleh. Disana berdiri seorang pemuda berbadan tinggi yang sedang menenteng kantong belanjaan di tangan kirinya. Wajahnya cukup tampan.

Puzzle-Puzzle Fiksi. Inilah beberapa kisah kehidupan yang diharapkan. menginspirasi pembaca

Dengan senyum aku menyapanya. Tapi dia tidak merespon dan tetap saja membaca sebuah novel. Sekali lagi aku mengulangi sapaanku.

SAHABAT PERTAMA. Hari Senin pagi, Lisha masih mandi. Padahal seharusnya ia sudah berangkat sekolah.

PAGI itu Tahir dengan terburu-buru menuju

Pada suatu hari saat aku duduk di bangku sudut sekolah, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.

Di Ujung Langit Ada Mimpi

CHAPTER 1. There s nothing left to say but good bye Air Supply

CINTA 2 HATI. Haii...! Tiara terkejut, dan menatap pada pria itu. Pada saat itu, ternyata pria itu juga menatap kearah Tiara. Mereka saling menatap.

Part 1 : Aku Menghajar Nenek-Nenek Dengan Cangkul

DIPA TRI WISTAPA MEMBILAS PILU. Diterbitkan secara mandiri. melalui Nulisbuku.com

Arif Rahman

Chapter 1. Baik, selagi kalian mencatat, saya absen.

Persahabatan Itu Berharga. Oleh : Harrys Pratama Teguh Sabtu, 24 Juli :36

LUCKY_PP UNTUKMU. Yang Bukan Siapa-Siapa. Diterbitkan secara mandiri. melalui Nulisbuku.com

Kilat masih terus menyambar dan menyilaukan mata. Cahaya terangnya masuk melalui celah-celah jendela dan ventilasi udara. Suara petir terus menderu

Sayang berhenti menangis, masuk ke rumah. Tapi...tapi kenapa mama pergi, Pa? Masuk Sayang suatu saat nanti pasti kamu akan tahu kenapa mama harus

Pertama Kali Aku Mengenalnya

TUGAS PERANCANGAN FILM KARTUN. Naskah Film Dan Sinopsis. Ber Ibu Seekor KUCING

membentak-bentak mereka apabila mereka tidak melakukan hal-hal yang Riani inginkan. Semua pelampiasan amarahnya kepada semua orang selalu dia tujukan

Surat Cinta Untuk Bunda Oleh : Santi Widiasari

Aduh 15 menit lagi masuk nih, gimana donk? Jalanan macet segala lagi, kenapa sih setiap hari jalanan macet kaya gini? Kayanya hari ini bakalan jadi

Entahlah, suamiku. Aku juga tidak pernah berbuat jahat dan bahkan selalu rajin beribadah, jawab sang isteri sambil menahan air mata.

Anak laki-laki itu segera mengangkat kakinya. Maaf, ujarnya, sementara si anak

Sahabat Terbaik. Semoga lekas sembuh ya, Femii, Aldi memberi salam ramah. Kemarin di kelas sepi nggak ada kamu.

BAB I SOSOK MISTERIUS. Vanessa Putri, Vanessa Putri? Bu Ria memanggil nama itu lagi.

Bab 1. Awal Perjuangan

Semalam Aldi kurang tidur. Hujan deras ditambah. Rahasia Gudang Tua

"BOLA DAN CINTA" TRI ISTANTO S1TI-07

1 Curahan Hati Sebatang Pohon Jati

Fiction. John! Waktunya untuk bangun!

Eliora. orang yang sedang menjalaninya. 1 Artinya, seberat-berat kami melihat sesuatu terjadi, lebih menyakitkan lagi bagi

Anam Rufisa. Catatan Anak Kelinci. Penerbit. Ana Monica Rufisa

BAB 1. Duluan ajaa..nanti aku nyusul jawab Panji dengan suara lantangnya

DI BALIK DINDING. Apa ya, yang berada di balik dinding itu?, selalu dan selalu dia bertanya-tanya

Sebuah kata teman dan sahabat. Kata yang terasa sulit untuk memasuki kehidupanku. Kata yang mungkin suatu saat bisa saja meninggalkan bekas yang

Siang itu terasa sangat terik, kami merasa lelah

Perlu waktu bagi anak anak itu untuk menjadi bagian dari kegelapan sebelum pohon pohon terlihat lebih jelas. Sebelum semak semak tinggi terlihat

It s a long story Part I

"Maafin gue Na, hari ini gue banyak melakukan kesalahan sendiri" Tutur Towi yang mengimbangi langkah Leana.

Belajar Memahami Drama

Xen.. aku tutup mata kamu sebentar ya oke? ujar Ican dengan hati-hati menutupi maksudnya. Kalau aku tidak mau bagaimana? jawab Xena santai.

'hufft, aku cape selalu disakitin sama cowo yang aku sayang.' kata icha sambil menghela nafas. tanpa dia sadari air matanya menetes.

S a t u DI PAKUAN EXPRESS

Tak ada kata terlambat untuk berkarya

sebenarnya saya terlambat karena saya terlambat bangun, maafin saya Pak, saya sudah berbohong dan terlambat. Pak Guru memukul meja, sambil berkata,

TILL DEATH DO US PART

POLA ASUH MELALUI KOMUNIKASI EFEKTIF AUD. Zumrotus Sholichati PPL PLS UNY

Sinar yang Hilang. Ketika Takdir Menyapa 1

manfaat matahari pelajaran 7

ROSE PAPPER AND BLOODY LILY Part 1

[Fanfic] Sebuah gambar aneh menarik perhatianmu. Gambar itu jelek, tapi memiliki sesuatu yang membuatmu penasaran. Cast : Kalian yang membaca~

Bab 1. Kehilangan mimpi

Hai Cindy selamat ya sudah jadi anak SMU Suara yang sudah tak asing lagi baginya.

Ingatan lo ternyata payah ya. Ini gue Rio. Inget nggak? Rio... Rio yang mana ya? Ok deh, gue maklum kalo lo lupa. Ini gue Rio, senior lo di Univ

Kisah Dari Negeri Anggrek

JUDUL FILM: Aku Belum Mati tapi Tidak Hidup

Aku memeluk Ayah dan Ibu bergantian. Aroma keringat menusuk hidungku. Keringat yang selama ini menghiasi perjuangan mereka membesarkanku. Tanpa sadar

Lingkungan Sehat, Nyaman Dilihat, Gairah Meningkat!

huh, akhirnya hanya mimpi, ucapnya sambil mengusap dada.

YANG TERHILANG Oleh: Yung Darius

PIPIN, KAKEK, DAN KERETA API. El Johan Kristama

Ayo, minum, katanya seolah mengajaknya ikut minum bersamanya.

Pekerjaan. Menghargai kelebihan orang lain merupakan wujud sikap memiliki harga diri

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang...

Kehidupan itu terlalu penuh dengan kebahagian bagi orang yang menyadarinya Tommy membaca kalimat terakhir dari sebuah novel yang diterbitkan melalui

Di Semenanjung Tahun. Saat semua berakhir, saat itu pula semua berawal. Yuni Amida

Di Pantai Pasir Putih

Di Unduh dari : Bukupaket.com

SATU ada yang tertinggal

1. Aku Ingin ke Bandung

Tema 1. Keluarga yang Rukun

Butterfly in the Winter

Memelihara kebersihan lingkungan merupakan salah satu contoh aturan yang ada di masyarakat.

Mungkin mereka tidak akan menemuiku, ujarku dalam hati.

Buku BI 3 (12 des).indd 1 16/12/ :41:24

Bayangan Merah di Laut dan Tempat Untuk Kembali:

Pantang Menyerah. Nasution 1. Zahra Kalilla Nasution Rigen Pratitisari Bahasa Indonesia 13 September 2011

Pagi itu, Roni beranjak dari tempat tidur.

dengan penuh hormat. rumah. mata.

Pengalamanku dalam Angkot

ART OF THE TRIOMPE. Oleh: Dwi Wulandari

SINOPSIS. Universitas Darma Persada

Diary dokterqyu. Sebuah kisah dari balik bangsal RS. Seorang calon dokter yang tengah menggali ilmu. Tentang kehidupan. Tentang cinta.

Kisah Dua Tukang Sol Kamis, 07 Juli :23. Kisah Dua Tukang Sol

Merdeka di Negeri Impian

SAMPLE. Prologue. Beberapa tahun lalu... image diriku yang ingin kutanamkan dalam benakku. Aku

Alifia atau Alisa (2)

semoga hujan turun tepat waktu

Keindahan Seni Pendatang Baru

SD kelas 6 - BAHASA INDONESIA BAB 7. MEMBACA SASTRALatihan Soal 7.11

Cila Aulia. Altocumulus. Aulia Publishing

Kegiatan Sehari-hari

AD Rintiwi. El Principe. The Missing Person. Adrintiwi Press

Peter Swanborn, The Netherlands, Lima Portret Five Portraits

Selesai mandi, istri keluar kamar mandi. Tubuhnya ditutupi handuk. Sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk, istri berjalan menuju meja rias.


Transkripsi:

REZA NUFA IKRO Demi bangsa Dalam peluk sahabat Jiwa AlIslam

IKRO Oleh: Reza Nufa Copyright 2010 by Reza Nurul Fajri Penerbit: AlIslam Desain sampul: Reza Nufa Diterbitkan melalui: 2 www.nulisbuku.com

Ucapan Terima Kasih Terima kasih tak terhingga kepada Allah Yang Maha Sempurna. Beriring salam kepada semesta alam, aku ucap pula terima kasih kepada semua manusia yang telah menjadi sahabatku, yang memberikan serpihan wajah dunia yang indah. Terima kasih beriring rasa cinta kepada kedua orang tuaku, yang memberi pengajaran tanpa kekerasan, yang memberiku kasih sayang tanpa keluhan. Buku ini tercipta dengan kehadiran kalian semua, semoga bermanfaat pula untuk semua, terutama untuk yang di ujung sana. 3

4

Daftar Isi Bab 1: Asep dan Nek Minah 7 Bab 2: Pelajaran dari lingkungan 20 Bab 3: Mendapati kelembutan hati 44 Bab 4: Ditakuti bukan dihormati 68 Bab 5: Membaca alam 74 Bab 6: Bola kasti 91 Bab 7: Pohon cabe dan pisang 99 Bab 8: Belajar bersama 105 Bab 9: Hari kelulusan 119 Bab 10: Kota Jakarta 127 Bab 11: Keluarga Jalal 143 Bab 12: Masa Orientasi Siswa 147 Bab 13: Lingkungan Sekolah 156 Bab 14: Kesempatan pulang 170 Bab 15: Si Ikat kepala putih dan si tokek 186 Bab 16: Mulai menulis 199 Bab 17: Sang anak jalanan 205 5

Bab 18: Penolakan yang manis 210 Bab 19: Wanita yang ronda? 225 Bab 20: Islam berbeda-beda 234 Bab 21: Jimat dan pemerintah 240 Bab 22: Semangat mahasiswa 247 Bab 23: Catatan-catatan 261 Bab 24: Malam renungan, siang perpisahan 271 Bab 25: Ayah, aku dan anakku 290 Bab 26: 3 hari pertama 310 Bab 27: Hidup baru 316 Bab 28: Aminah yang mulia 319 Bab 29: Yang terlewatkan 326 Bab 30: Keputusan 340 Bab 31: Perhentian terakhir 353 Bab 32: IKRO lembaran akhir 360 Bab 33: Nasib IKRO 397 Bab 34: Lidah Sang Pena 397 6

Bab 1 Asep dan Nek Minah Pada suatu sore, di sebuah pedesaan di kota bandung, turun hujan yang sangat deras. Seorang anak laki-laki berlari sekuat tenaga mencoba menghindari air hujan. Kala itu jalanan sangat sepi dan petir seakan melepas kemarahan pada bumi. Kaki bocah itu terlalu pendek untuk melawan serbuan air yang menghujam cepat. Secepat apapun dia berlari pada akhirnya dia disergap oleh hujan, membuatnya basah dan kedinginan. Ada rasa takut menggerayangi pikirannya. Sore itu begitu sepi. Dalam ketakutannya itu dia menerobos air hujan, tak menghiraukan jalanan yang licin dan berlubang. langkah kaki yang kecil memikul ketakutan yang besar, tubuh yang sudah lemah dan kedinginan itu ingin cepat sampai rumah. Pada akhirnya, langkah kakinya terhenti di depan pintu sebuah rumah. meski bajunya kini menjadi basah, dan tubuhnya yang kecil bergetar didekap dingin, yang terpenting baginya adalah wujud ketakutan sudah tertinggal jauh dari punggungnya. tok tok tok. Anak itu mengetuk pintu rumah. assalamu alaikum nek. Salam yang keluar dari tubuhnya yang kedinginan. nek, cepat buka pintunya nek, dingin! suaranya bertambah keras. Terlihat 7

wajahnya mulai pucat dan kedinginan. Dia membuka bajunya di depan pintu, memeras baju tersebut agar tidak terlalu basah ketika masuk rumah. Wa alaikum salam. Balas seseorang di dalam rumah. Orang ini hendak membukakan pintu untuk si anak kecil. Dia melangkahkan kakinya begitu perlahan, meraba bilik rumahnya sambil mencari-cari letak kunci yang tadi dia simpan. Tak lama kemudian pintu rumah itu dibuka oleh seorang perempuan. tubuhnya membungkuk seakan memikul bebatuan, rambutnya abu-abu dan sudah tidak menyisakan kemilau. wanita tua itu bernama minah, umurnya 63 tahun. Dia tinggal di sebuah rumah kecil di perkampungan yang jauh dari kota. hidup berdua dengan seorang cucu yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Seraya membukakan pintu, kata-kata lembut pun keluar dari mulut nek minah aduh nak, kenapa kamu tidak berteduh dulu. sampai basah dan kedinginan seperti ini. aduh... ya sudah cepat mandi, kepalanya dibasuh. Ada air panas di teko. pakai air hangat untuk mandi, setelah itu jangan lupa shalat ashar. iya nek. jawab anak tersebut dengan singkat. Dia bergegas mengambil teko yang berisi air panas. Mencampurnya dengan seember air dingin yang ada di kamar mandi. Setelah itu dia membersihkan seluruh tubuhnya. 8

Diluar hujan begitu deras, nek minah melanjutkan pekerjaannya menambal baju yang sobek. Namun, ketika sekali lagi dia menengok keluar jendela, seketika dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju belakang rumah. astaghfirullah.. gumam nek minah. dia lupa bahwa siang tadi dia menjemur pakaian, dia bangkit dari duduknya dan pergi ke belakang rumah mengangkat pakaiannya. Namun, apalah daya, nek minah sudah semakin lambat dan pelupa. pakaian itu kini kembali basah. begitu pula pakaian yang menempel di tubuhnya, kini turut basah. Alhamdulillah, pakaian ini tidak terbawa angin. ucap nek minah. Masih ada rasa syukur dalam hatinya. Nek minah kembali merentangkan pakaianpakaian basah itu di dalam rumah. ada sebatang bambu kering yang panjang, di atas tungku yang baranya masih menyala merah, di bambu itu juga ada beberapa tongkol buah jagung yang digantung dan cangkangnya terlihat sudah sangat kering. Nek minah mengganti pakaian basah yang menempel ditubuhnya dengan kaus kumal yang sudah pudar warnanya. dan mengbulung kain sarung yang sudah kusut di pinggangnya. Lalu dia kembali ke ranjangnya, melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti. 9

Tak lama berselang, si anak keluar dari kamarnya, dengan sarung hitam dan baju koko putih. langkah demi langkah perlahan dia mendekati nek minah, berhati-hati menghindari tetesan air yang jatuh dari atap. Begitu dingin udara sore itu, hingga dia merapatkan dan menggosokkan kedua tangannya di depan dada. Anak itu duduk dekat nek minah. sedang apa nek? tanya anak tersebut membuka percakapan dengan neneknya. nenek sedang menambal baju yang robek. Jawab nek minah. Anak itu memperhatikan baju yang sedang dirajut oleh nek minah. Lalu dia sadar bawha baju itu adalah bajunya. itu kan bajuku nek, biar aku saja yang lanjutkan! Pinta anak itu. dia merasa berkewajiban untuk memperbaikinya sendiri, meski sebenarnya dia belum bisa merajut. Nek minah menatap anak tersebut. tidak usah. kamu perhatikan saja nenek ya.. ucap nek minah, penolakan lembut keluar dari hatinya yang penuh kasih sayang. Disaat percakapan itu berlangsung, nek minah menyadari ada tetesan air di dalam rumahnya. musim penghujan yang tiba setelah sekian lama kemarau, mengingatkannya bahwa rumah yang ia tinggali kini sudah rusak. Genteng rumahnya sudah berlubang dan 10

meneteskan air, lantai semennya retak hingga bercampur dengan tanah yang basah, dan lagi angin yang kencang memperjelas bunyi engsel yang berkarat. hhh, kenapa tidak boleh nek? padahal aku ingin membantu. Ucap anak tersebut dengan suara yang terdengar sangat kecewa. oooh, jadi cucu nenek ingin membantu.. Nak, kamu lihat tetesan air itu kan? Taruhlah ember atau baskom dibawahnya, supaya air itu tidak mebanjiri seisi rumah. Jawab nek minah. Dia memberi tugas baru, berusaha untuk tidak mengecewakan anak tersebut. Baru saja anak itu akan pergi mengambil ember, nek minah sudah melanjutkan kata-katanya. Dia menghentikan langkah kaki sang anak, dan membuatnya kembali menoleh. sekalian kamu lihat keatas, kamu ingat-ingat dimana letak genteng yang bocor. besok kamu ke rumah mang udin, minta bantuannya mengganti genteng itu dengan yang baru. Bisa tidak nak? pinta nek minah. bisa nek, insyaallah.. Jawab anak itu dengan nada datar. Anak itu masih ingin membantu neneknya menjahit baju dengan tangannya sendiri. ada keinginan yang besar dalam dirinya, keinginan untuk tidak merepotkan neneknya yang sudah tua. Anak itu kemudian pergi ke dapur untuk mengambil ember dan baskom, diletakkannya ember 11

tersebut untuk menadah air yang jatuh dari atap. tokk tokk tokk terdengar suara air yang jatuh ke dalam ember yang kosong. Dia letakkan juga baskom kaleng yang dia dapat dari dapur, trong trong trong suara lantang yang keluar ketika air jatuh ke dalam baskom. 2 ember dan 2 baskom menadah air yang turun dari atap, menimbulkan suara yang beraneka ragam, seperti nada-nada dari alat musik sungguhan. Mereka berdua lalu terdiam, tenggelam dalam lantunan suara hujan, bersama dentak tetesan air dan kodok-kodok yang bersahutan dalam nyanyian alam. Suara-suara itu memberikan ketenangan pada diri sang anak. di saat yang sama memberi kegelisahan pada diri sang nenek yang hawatir rumahnya diterpa angin dan hujan. Anak itu masih memperhatikan nek minah, lalu tiba-tiba nek minah memberinya nasihat. nak, kadang kala, niat baik dan kemauan tidak cukup untuk membuahkan kebaikan. kamu harus punya kemampuan untuk berbuat. nenek melarang kamu menyulam, karena untuk saat ini benang ini sangat pendek, tidak cukup untuk sebuah kesalahan. dan jarum ini masih terlalu tajam untuk tangan kecilmu yang nenek sayangi. Suatu saat nanti kamu pasti menyulam bajumu sendiri, untuk sekarang kamu cukup perhatikan saja ya. Dari wajahnya anak itu terlihat sangat kecewa. Dia menundukkan pandangannya, lalu berkata iya nek, besok-besok jika ada baju yang robek lagi nenek 12

harus mengajariku menyulam. Dia berusaha menerima dan memahami kata-kata neneknya. besok-besok kamu akan nenek ajari memasukan benang kedalam jarum. Tegas nek minah. hhh.. gumam anak itu. Nama anak ini adalah asep. Dia tumbuh tanpa kedua orang tuanya. Dia sangat beruntung dengan keberadaan sang nenek, sehingga dia tetap menjadi seorang anak yang cerdas. Namun, tidak adanya sosok ayah dan ibu sering kali membuatnya minder dalam pergaulan. Asep berumur 14 tahun, dia baru saja naik ke kelas 3 SMP. Asep termasuk anak berprestasi, bahkan dari kelas satu SD hingga sekarang dia tidak pernah lepas dari ranking tiga besar. Sambil mentautkan kain dan benang, nek minah bertanya kepada asep. kamu tadi belajar apa di sekolah? Terus sepulang sekolah kemana dulu? Jam segini kok baru pulang. tadi belajar bahasa indonesia nek. sepulang sekolah tadi kan aku pulang ke rumah, tapi nenek ga ada, terus aku main ke rumah imam. aku keasikan main, terus waktu pulangnya aku kena hujan. Gitu nek.. terang asep kepada nek minah. Nek minah tersenyum menyimak cerita cucunya. Dia bahagia memiliki seorang cucu yang sangat 13

bersemangat dalam belajar, senang membaca dan bertanya. Nek minah lalu bertanya kepada asep pelajarannya ada yang sulit tidak nak? nanti nenek bantu. Seraya memandang asep dan menghentikan sejenak gerakan tangannya yang sedang merajut. Asep menjawab sambil menatap nek minah. ga ada nek, asep sudah bisa semua. terdengar rasa percaya diri yang besar dari ucapannya. bagus kalau begitu, terus belajar ya, jangan terlalu banyak main. Memang kamu tadi main apa di rumah imam? kok sampai lupa waktu. Tanya nek minah seraya kembali melanjutkan pekerjaannya. itu loh nek, liatin semut berantem. Seru banget, semutnya itu hebat-hebat. Tapi sebenarnya aku kasihan juga sih. Jawab asep. sengaja kamu adu ya semutnya? tanya nek minah dengan lembut. si imam yang ngaduin semut nek, aku cuma lihat aja. Terang asep. Asep lalu menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang, kemudian duduk bersila menghadap nek minah. Tapi, tadi aku heran nek, kok semut itu mau ya berantem sama temennya sendiri? Padahal yang satu itu Cuma dicopot antenanya itu, eh langsung gigit-gigitan. sambung asep. 14

ooh imam. Nek minah terdiam cukup lama, lalu melanjutkan perkataannya. itulah binatang nak, mereka tidak punya akal. Gara-gara semut yang satu itu tidak ada antenanya jadi dianggap berbeda oleh semut yang lain, padahal dia itu masih temannya. mereka tidak punya akal yang tinggi untuk berpikir, makanya mereka jadi bermusuhan. Kamu tidak boleh ngadu semut lagi ya nak, kasihan semutnya! Tegas nek minah. iya nek. aku ga ngadu semut lagi.. asep terdiam sesaat kemudian berkata nah manusia kan punya akal, tapi kenapa masih ada yang bermusuhan nek? tetangga kita itu sering berantem nek. hus..! nenek memandang asep dengan tatapan yang tegas. ga boleh ngomongin orang lain! iya nek. maaf, aku lupa. Jawab asep. begini nak, manusia juga punya hawa nafsu seperti binatang. akal juga jika salah digunakan maka akan membuat perbedaan semakin banyak. Kita akan menjadi lebih tidak berakal dari binatang jika kita menjadikan hawa nafsu berada diatas akal. maka dari itu Allah juga melengkapi manusia dengan perasaan. Perasaan itu bisa berguna untuk mengendalikan akal agar tidak dikuasai hawa nafsu, agar tidak mudah berantem seperti semut. Paham nak? terang nek minah, sementara itu asep terus memperhatikan. 15

berarti yang paling penting itu perasaan ya nek? berarti manusia yang sering berantem itu tidak punya perasaan ya nek? tanya asep. Dia terlihat sangat serius menanti jawaban dari neneknya. Nek minah kembali melanjutkan pekerjaan menjahitnya yang sempat terhenti tanpa dia sadari, kemudian menjawab pertanyaan asep. mereka punya perasaan, tapi tidak digunakan. Perasaan itu ada di hatimu, Gunakan hatimu, rasakanlah keberadaan lingkunganmu. gunakan juga akalmu, itu baru namanya manusia sejati. Dengan lembut nek minah menasehati cucunya. nek, yang aku tahu, hati itu tempatnya darah nek, bukan perasaan. Aku kadang bingung yang disebut perasaan itu ada dimana. Asep menyangkal pendapat nek minah yang menurutnya salah, tidak sama dengan yang dia ketahui selama ini. Nek minah kembali menghentikan pekerjaannya, dia menatap asep. dalam tubuhmu itu ada jiwa, perasaan itu bersumber dari jiwa itu. Jiwa itulah yang membuat hatimu bisa menyadari baik dan buruk, jadi tetap ada hubungannya dengan hati yang kamu sebut tadi, hati itu adalah rumahnya perasaan. Nah, itu juga sebabnya Allah memerintahkan kita memakan segala sesuatu yang baik, agar hati kita tetap dalam keadaan baik, dan darah yang mengalir dalam tubuh kita juga darah yang baik. Terang nek minah. 16

Asep mulai memahami perkataan neneknya. oooh begitu. Nenek memang hebat, tiap kali aku bertanya pasti nenek tahu jawabannya. Ucap asep seraya tersenyum kepada nek minah. nenek hebat karena nenek ingin kamu jadi manusia yang lebih hebat. berguna untuk lingkungan, pintar, sabar. Bukan manusia yang mudah berkelahi seperti semut. Ucap nek minah. oiya nek. aku kan tadi nanya ke bu guru dimana ibu. Dia malahan nasehatin aku supaya terus belajar. bu guru itu juga sudah banyak belajar kan nek? nenek juga sudah pintar. tapi kenapa sampai sekarang nenek ga mau cerita dimana ibuku? tanya asep. Wajahnya terlihat lebih serius dibanding sebelumnya. nenek kan sudah janji, nanti nenek akan cerita kalau kamu sudah beres belajar. Sabarlah nak. Jawab nenek dengan suara yang pelan. itu sih masih lama nek. berapa tahun lagi buat nunggu? sekarang kan aku udah besar nek. nenek gampang bicara seperti itu karena nenek ga tahu gimana rasanya diledekin temen-temen! Aku sedih nek! di kelas itu kadang mereka bisik-bisikan ngomongin aku. Terus kalau lagi main juga mereka sering manggil aku dengan sebutan pungut, aku tahu maksud mereka itu ngeledek. Kenapa yang aku tahu cuma nama ibu dan ayahku! tapi aku ga tahu mereka dimana? asep berkata dengan cepat dan penuh luapan emosi. Selama ini dia sangat ingin tahu 17

di mana kedua orang tuanya, namun tidak pernah ada satu orang pun yang menjawab keingintahuannya itu. sabar nak! Kamu memang sudah besar, karena itu harusnya kamu lebih sabar lagi! Nenek janji cerita ke kamu, tapi bukan sekarang. Kamu selesaikan dulu sekolahmu, nenek pasti cerita. Orang tuamu itu orang yang baik. biarkan saja ucapan teman-temanmu itu, jangan dihiraukan. Nek minah berkata kepada asep dengan lemah lembut. Dia berharap agar anak itu kembali tenang. susah nek! aku sendirian sedangkan mereka banyak. aku ga bisa tahan ngedenger kata-kata mereka. Ah nenek ga ngerti sih! asep berkata dengan suara yang semakin pelan dan wajahnya menyampaikan pesan kekecewaan. Mereka terdiam cukup lama. Asep terlihat menyandarkan punggungnya ke besi tiang kelambu yang ada di samping ranjang nenek. Sedang nenek terus menyibukkan diri dengan jarumnya, meski dalam hatinya juga ada gejolak yang tak bisa dia katakan. sini, mendekat ke nenek! Nek minah menarik tangan asep. Lalu mengenggam kedua telinga asep dengan kedua tangannya. Telingamu ini ada dua. Ucap nek minah, lalu dia menatap kedua mata asep dengan dalam. dan diantara keduanya ada otak, kamu tahu kenapa? tanya nek minah. 18

aku ga tahu.. asep menjawab dengan suara pelan. dengarkan nenek baik-baik. Allah itu Maha Penyayang. biarkan kata-kata orang lain itu masuk lewat satu sisi telingamu, saring kata-kata itu di dalam otak, simpanlah kata-kata yang baik dan buanglah perkataan yang buruk lewat sisi yang lain. Tidak usah kamu simpan kata-kata yang buruk itu dalam pikiranmu. Kamu coba sekarang, nenek yang perhatikan. Jelas nek minah kepada asep. hhhh.. aku selalu ga bisa maksa nenek. Tapi nenek jangan bohong, setelah aku selesai sekolah, nenek harus cerita. Ucap asep. iya nenek janji. Sekarang kamu buang jauh-jauh ucapan teman-temanmu yang tidak baik. Nek minah melepaskan genggaman tangannya dari telinga asep, menggerakkannya ke wajah asep, kemudian turun menuju pundak asep. Dia mengenggam pundak asep dengan erat. ya udah ah nek, aku juga bukan anak kecil lagi. Asep kembali menjauh dari neneknya. Dia tidak mau lagi terlihat seperti anak kecil. Meskipun di umur yang hampir 15 tahun ini tubuhnya memang masih terlihat kecil dan kurus. bukan anak kecil kok nangis. itu tuh mata kamu ada air matanya. nek minah menggoda asep. dia menatap mata asep. Terlihat mata asep sudah sangat berlinang air mata. Hanya saja asep punya sifat 19

seorang lelaki yang sama sekali tidak ingin terlihat menangis. yeee, mana air matanya? yang nenek lihat tuh air hujan yang netes dari atap. jawab asep. Dia mengusap wajahnya. Ada sedikit senyum tercitra dari wajah mudanya. Sore itu hanya berdiam diri hingga malam. Hujan memenjarakan semangat mereka, bersama derai hujan itu ada kelelahan yang memeluk erat kedua raga dari dua masa berbeda. Hujan deras berlangsung untuk lama, bahkan belum berhenti hingga nek minah dan cucunya tertidur lelap. Bab 2 Pelajaran dari lingkungan Keesokan harinya asep berangkat sekolah. Di hari jum at ini dia akan belajar tentang agama. Pagi ini asep datang paling awal, dia kebagian piket kelas. Asep melihat lantai kelas dalam keadaan becek sisasisa hujan kemarin. Tanpa tunggu lama dia langsung bergegas mengepel lantai. Diambilnya seember air dari sumur timba di samping sekolah. Celap-celup kain pel yang bentuknya sudah menggulung seperti rambut gembel. dorong ke timur dan barat, menjangkau sudut-sudut ruang kelas, dengan gesit 20

tubuhnya yang kecil mengepel lantai. hingga akhirnya lantai itu kembali bersih. belum lama asep duduk mengistirahatkan tubuhnya di dekat pintu, gerombolan temantemannya akhirnya tiba. asep segera memperingatkan mereka untuk membuka alas kakinya, dia tidak mau hasil kerjanya menjadi rusak. Meninggalkan alas kaki seperti itu merupakan peraturan tak tertulis yang harus mereka patuhi. jika musim hujan sudah tiba, maka dilarang keras membawa masuk alas kaki yang kotor ke dalam kelas. asep yang sedang kebagian piket hari ini adalah yang paling sibuk. Alas kaki yang membawa tanah basah itu terlihat berjejer didekat tembok sekolah, asep merapihkan alas-alas kaki itu agar tidak tumpang tindih. Bersih-bersih kelas sudah beres. Asep tersenyum kecil lalu berjalan kembali menuju tempat duduknya. Dia menyiapkan beberapa buku di atas meja. Membaca kembali beberapa catatan minggu kemarin. Hingga kemudian seseorang menyapanya. Hai sep.. sapaan dari seorang teman yang baru saja datang. eh kamu vit.. jawab asep. sep! kata temen-temen ada PR ya? kamu udah ngerjain belum? tanya vita. 21

alhamdulillah udah vit. Terdiam sejenak. kamu udah juga kan? tanya asep. aku kesulitan nih sep. minggu kemarin kan aku ga masuk gara-gara sakit. Terus aku juga baru tahu ternyata ada PR. Aku pinjam buku catatan kamu boleh nggak sep? pinta vita. nih! memberikan salah satu buku yang ada dihadapannya. cari aja jawabannya disitu, di catatan yang terbaru. Menjawab seraya memberi senyum kepada vita. makasih ya sep. soalnya aku juga harus nyalin catetan yang minggu kemaren nih. Haduuh.. repot deh, semoga aja bu guru telat. Ucap vita. ooh, ya udah, cepetan loh vit, bentar lagi masuk. 20 menit kemudian bu guru masuk kelas, Pagi itu bu guru datang lebih siang dibanding biasanya. Mungkin karena hari pertama hujan, sehingga bu guru kesulitan melewati jalanan yang becek. Asep dan teman-temannya memberikan salam pada bu guru. Setelah itu mereka memulai pelajaran. anak-anak, PR-nya sudah dikerjakan belum? tanya ibu guru. sudah bu.. murid-murid menjawab secara bersamaan. 22

bagus, hari ini kita akan bahas PR-nya bersamasama. Tegas bu guru. Soal demi soal dibahas. Soal ke-1 hingga ke-4 telah selesai dibahas. Sekarang giliran soal ke-5 atau soal terakhir yang akan dibahas. asep! bu guru menyebut nama asep. jawab soal yang nomer lima! Sebelumnya baca dulu soalnya. Bu guru memerintahkan asep untuk menjawab pertanyaan terakhir. baik bu. Pertanyaannya adalah ayat mana yang pertama kali diwahyukan kepada nabi Muhammad? asep terdiam menghela nafas. jawabannya adalah ayat pertama yang diterima Rasulullah adalah ayat ke-satu surat Al-Alaq. jawab asep. baca ayatnya dan baca juga artinya! perintah bu guru. Asep menatap bukunya lebih dekat. iqra, Bismirabbikalladzi kholaq. Yang artinya bacalah, dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Terang asep. Dengan penuh percaya diri dia menjawab pertanyaan tersebut. terima kasih ya asep. Jawabannya benar. Bagaimana dengan yang lain, semuanya benar kan? Atau ada yang salah? tanya ibu guru. Hampir semua anak menjawab dan mereka yakin bahwa mereka benar. Bu guru melanjutkan perkataannya baiklah jika 23

semuanya sudah benar, sekarang ibu akan memberi sedikit penjelasan. guru itu terdiam sejenak. ayat itu adalah perintah Allah kepada nabi Muhammad. ketika itu malaikat jibril menyampaikan ayat itu kepada Rasulullah dan langsung memerintahkan Rasul untuk membaca ayat itu. waktu itu Rasulullah sama sekali tidak bisa membaca. Namun kemudian Rasulullah mulai mengikuti ucapan malaikat jibril. Guru itu kembali terdiam sejenak. Ayat itu adalah bagian dari Al-Qur an, jadi perintahnya adalah untuk membaca Al-Qur an. kita sebagai umat Nabi muhammad juga harus membaca Al-Qur an. Tegas bu guru. begitu ya. Berarti kita harus rajin membaca Al- Qur an. Gumam asep. Kita harus banyak-banyak membaca Al-Qur an dan mengamalkan isinya. Bu guru kembali memperjelas ucapannya. bu, selain kita mendapat pahala. apa lagi untungnya membaca Al-Qur an? tanya salah seorang anak. Bu guru tersenyum kemudian menjawab pertanyaan anak tersebut. dengan membaca Al-Qur an dan memahami isinya, insyaallah kamu akan menjadi orang yang pintar dan baik hati. Terang bu guru. Soal demi soal dibahas. Bel tanda berakhirnya pelajaran pun berbunyi, di hari jum at seperti ini waktu sekolah memang lebih pendek, 24

dikarenakan anak laki-laki harus bergegas pulang dan melaksanakan ibadah shalat jum at di masjid. Anakanak itu pun berhamburan keluar kelas. namun asep tidak langsung keluar kelas, dia menghampiri ibu guru. seakan belum puas dengan jawaban sang guru, asep kembali mengutarakan pertanyaan. bu! apa aku akan tahu dimana orang tuaku? tanya asep. maksud kamu? yang aku tahu Al-Qur an itu kan lengkap. Segala macam ilmu pengetahuan bisa digali dari Al-Qur an. Terus jika aku membaca Al-Qur an, apa aku bisa tau orang tuaku ada dimana? tanya asep. Guru itu tahu bahwa asep adalah seorang yatim piatu. Dia sungguh tak menyangka bahwa asep akan menanyakan hal ini. dia tersentak seraya menatap sosok asep, lewat matanya terlihat rasa ingin tahu yang besar dalam diri asep. guru itu terdiam cukup lama. nak asep, belajarlah dengan sungguh-sungguh. Allah punya kehendak yang kadang tidak kita mengerti. Belajarlah, jadilah orang yang pintar dan berguna. suatu saat nanti kamu bukan hanya akan tahu, tapi juga akan bertemu dengan orang tuamu. Terang sang guru, dia menatap asep agar membuatnya mengerti. Dia juga tersenyum kepada asep. Dia memberi sedikit kelembutan seorang ibu kepada asep. 25

Namun dalam relungnya, guru itu menahan kepedihan. sebagai seorang ibu, dia sangat merasa iba kepada asep. Dia berharap kata-katanya tidak merusak apapun dari anak yang sedang berbunga dan menyimpan pengharapan yang tinggi ini. terima kasih bu. Jawab asep dengan pelan. hhhh.. jawabannya sama saja dengan guru yang kemarin. Hampir sama juga dengan guru-guru yang lalu. Pikir asep. Asep sering menanyakan keberadaan orang tuanya kepada setiap orang yang dia kenal, namun tidak ada satu orang pun yang menjawab. hanya kekecewaan yang dia dapat. Bahkan Nenek yang merawatnya dari kecil dan menjadi orang terdekatnya juga tidak bisa memberikan jawaban. aku pulang dulu ya bu. terima kasih, assalamu alaikum.. salam asep. wa alaikumussalam.. hati-hati di jalan nak. Jawab sang guru sambil merapihkan kembali buku-bukunya ke dalam tas. Asep pun berjalan meninggalkan meja sang guru. Anak-anak lain sudah sampai ke rumahnya masingmasing, asep pun bergegas untuk pulang. Tapi kemudian ternyata ada seorang anak yang masih berdiri tidak jauh dari pintu kelas. Asep memperhatikan anak itu. lalu dia menyapanya. 26

loh vita, kamu belum pulang? asep heran melihat vita yang masih berdiri di dekat pintu. maaf, aku pinjam bukunya lama. Terima kasih ya sep, ini bukumu aku kembalikan. Ucap vita. oooh jadi kamu belum pulang karena mau balikin buku. ga apa-apa kok vit, Ayo pulang! ajak asep. Siang itu mereka berjalan pulang berbarengan. Rumah vita memang searah dengan rumah asep, dan hanya berjarak 50 meter dari rumah asep. namun perbedaan antara keduanya sangat besar. Rumah keluarga vita sangat megah, catnya berwarna orange cerah, memiliki taman berisi bunga-bunga yang indah, bahkan lantainya lebih bagus dari lantai sekolah. Sedangkan rumah asep dan neneknya adalah rumah kampung yang sederhana, dengan pondasi dari batu bata, dinding temboknya setinggi lutut dan tidak di cat sama sekali, sedang dinding keatasnya hanya bilik-bilik bambu yang beberapa sisinya ditambal kertas sisa karung semen dan koran, dapurnya pun menempel dengan kandang ayam di belakang rumah. Sesampainya di rumah, asep langsung mengucap salam. namun dia tidak mendapati jawaban dari neneknya. Akhirnya asep mencoba langsung masuk, rumahnya memang tidak dikunci jika di siang hari. Jam menunjukkan pukul 10.55, dia bergegas mandi dan merapihkan diri. Sebagai seorang muslim laki-laki, hari ini dia akan pergi menunaikan shalat jum at. 27

Ketika asep sudah rapih dan siap berangkat, nenek akhirnya pulang. Terdengar suara pekikan pintu dapur yang engselnya sudah berkarat. nenek darimana? Tanya asep. dari kebun singkong yang di seberang sungai itu. Jawab nenek sambil berjalan masuk ke kamar mandi. Asep keluar dari kamarnya dan mendekati pintu kamar mandi. nenek kan sudah tua, jangan terusterusan berkebun. kan sudah ada mang udin yang ngurusin kebun. Ucap asep. Nek minah memang tidak suka berdiam diri. Dalam keadaan tubuhnya yang sudah mulai lambat dan lemah, dia tetap saja beraktivitas yang bisa membuatnya sangat kelelahan. Dia tetap berkebun, meskipun selama ini hasil pendapatan dari tanah dan sawahnya yang dikelola oleh orang lain itu sudah cukup untuk menghidupinya. cucu nenek yang baik, lihatlah nenek yang sudah tua ini. Meskipun nenek diam di dalam rumah, tetap tak banyak yang bisa nenek lakukan. Nenek hanya ingin tetap berguna. sekarang nenek mau tanya, kamu tadi belajar apa di sekolah? terang nek minah sambil membasuh kakinya dengan air dari bak mandi. tapi nenek jangan kerja capek-capek! Tadi itu aku belajar tentang Al-Qur an nek. ya udah, aku mau berangkat shalat dulu ya nek. ucap asep.. 28

iya nak, hati-hati. Oiya jangan lupa janji kamu yang kemarin. Ucap nenek. siap! asep menjawab dengan sigap. wassalamu alaikum nek. dia melangkahkan kakinya, membuka pintu rumahnya dan berangkat menuju masjid. Siang itu matahari sangat panas, perjalanan menuju masjid sekitar 2 km. Lumayan jauh, masjid itu berada dekat jalan raya menuju kota bandung. Di jalan menuju masjid asep bertemu dua orang teman kampungnya yang juga menuju masjid. mereka mengobrol dan bercanda sepanjang jalan sehingga panas itu tidak terlalu terasa. setelah shalat jum at nanti dua temannya itu berencana pergi memancing, dan mereka mengajak asep. sep mancing yuk, ikannya lagi banyak loh. Kemarin saja aku dapet 20 ekor yang besar-besar. Ucap salah seorang teman asep yang bernama imam. memang iya? kalian pergi mancingnya jam berapa? tanya asep. jam dua gitu lah, habis shalat jum at aku harus bantu ibuku ngambil air bersih dulu. Ucap salah seorang teman asep yang lain, namanya ubed. oooh. nanti kalian berangkatnya lewat jalan depan rumahku kan? Nanti jangan lupa panggil aku ya, aku mau ikut. Ucap asep. 29

bagus deh asep ikut, jadi tambah rame. Tenang aja nanti kami panggil kok sep. ucap ubed. Tinggal beberapa beberapa langkah lagi akan sampai di masjid. Dan seperti biasanya, shalat jum at sangatlah ramai, berbeda sekali dengan shalat subuh atau shalat ashar yang biasanya cuma dihadiri satu baris orang. shalat jum at tidak ada bedanya dengan shalat yang lain, hanya saja dalam shalat jum at itu ada khutbah, meski asep tidak mengerti sama sekali apa isi khutbah tersebut. Khutbah jum at seharusnya menyampaikan pesan-pesan kebaikan, memberi pengajaran kepada para laki-laki. Namun apalah daya, asep dan sebagian besar warga kampungnya memang tidak mengerti bahasa arab. Mereka hanya mampu berucap amin ketika sang khotib membaca do a. Sepulang shalat jum at, asep langsung mampir ke rumahnya mang udin. mang udin itu biasanya pulang jum atan paling terakhir. Asep menunggu di depan rumah mang udin. Dia berdiri dibawah sebuah pohon jambu air yang tengah berbunga. Mang udin tinggal sendiri, dia hidup mandiri dengan segala keterbatasannya. dia masih melajang di umurnya yang sudah 36 tahun. Mang udin seringkali membantu nek minah, bahkan nek minah sudah menganggap dia sebagai anaknya. Mang udin pun sudah menganggap nek minah dan asep sebagai keluarganya. Mang udin bekerja serabutan, kadang 30

jadi kuli angkut pasir, kadang menjual buah kelapa tua, mengolah tanah orang lain kemudian bagi hasil, terkadang juga jadi tukang membangun rumah, dan apapun yang bisa menghasilkan uang untuk mencuupi kebutuhan hidupnya. Ketika malam tiba mang udin biasa mengajari anak-anak kampung untuk membaca Al-Qur an dan memperdalam agama islam. asep dan teman-tamannya juga belajar pada mang udin. Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya mang udin sampai di rumahnya. mang, rumah nenek bocor. Nenek minta tolong sama mamang supaya gentengnya itu diganti. Pinta asep. Dia bangkit dari duduknya, menghindar dari depan pintu rumah mang udin. genteng yang bocornya ada berapa sep? jawab mang udin sambil merogoh sakunya. kemarin sih asep hitung ada 5 yang bocor. Ucap asep. sekarang, kamu pulang dulu saja, nanti mamang nyusul. Eh iya sep, tapi mamang juga minta tolong sama kamu. Di samping rumah mamang itu ada genteng, kamu bawa 7 buah genteng yang masih bagus ke rumah nenek ya. Pinta mang udin. Dia kemudian masuk ke dalam rumahnya. 31

iya mang. Jangan lama-lama ya mang, takut keburu hujan lagi. Ucap asep. Dia melangkahkan kakinya menuju samping rumah mang udin. Di sana ada genteng-genteng yang di susun di tanah. Asep mengambil 7 genteng yang masih terlihat bagus, dia memanggul genteng tersebut di pundaknya dan berjalan menuju rumah. Tubuhnya yang kecil terlihat memiliki kekuatan yang besar. 32 *** Asep meletakkan genteng yang dibawanya di depan rumah. assalamu alaikum. Nek, nenek! asep mengetuk pintu seraya mengucapkan salam. iya nak, nenek ada disamping rumah, sedang metik cabe buat bikin sambel. Jawab nenek. Setelah itu asep bergegas menghampiri neneknya. Dengan sigap dia membantu nek minah memetik cabai, bahkan asep kamudian mengambil seember air untuk menyiram tanaman-tanaman itu. Disiramnya tanaman itu satu demi satu. namun tiba-tiba nenek menegurnya. nak, menyiram tanamannya jangan terlalu banyak! kenapa nek? di siang hari kan panas, lebih bagus kalau tanamannya bisa minum lebih banyak. Ucap asep. jangan terlalu banyak, secukupnya saja. segala sesuatu itu ada takarannya, janganlah berlebihan nak.

Kamu kan pernah memperhatikan nenek kalau menyiram tanaman, nenek tidak pernah banyak. ucap nenek. Asep sering melihat neneknya menyiram tanaman, namun dia tidak pernah memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Asep merasa dia sudah benar. tapi nek! ketika hujan turun kan airnya banyak, malah lebih dari satu ember. pohon cabenya kok ga apa-apa? tanya asep. nak. dengarkan baik-baik. Manusia pertama adalah nabi adam, Nabi adam turun ke bumi setelah bumi ini tercipta. Jadi, dunia ini ada sebelum manusia ada. Sebelum manusia ada di bumi ini, di bumi ini sudah ada rumput, binatang, udara, air, dan yang lainnya. Jadi, sebelum ada manusia sebenarnya bumi ini sudah teratur, sudah ada keseimbangan diatasnya. Ada hujan, ada banjir, ada kemarau, ada dingin, ada panas. Naaah.. kita sebagai manusia yang merupakan penghuni baru harusnya menggunakan akal kita untuk menyesuaikan diri dengan bumi, jangan merusak keteraturan yang sudah ada. Terang nek minah. Dia terdiam sejenak, berjongkok, lalu mencabuti rumput dahadapannya. kemudian dia melanjutkan perkataannya. jangan protes kepada sungai yang meluap, kepada kemarau yang melanda, karena dari dulu perilaku mereka memang seperti itu. justru kita yang harus belajar memahami, belajar selaras. Atau bahkan mungkin saja kita yang telah 33

membuat alam ini menjadi rusak. Tegas nenek kepada asep. Asep menyimak perkataan nenek dengan sungguhsungguh. lalu apa salahnya menyiram tanaman dengan air yang banyak? tanya asep. Tangan nek minah terus mencabuti rumput. jangan menyiram tanaman di siang hari secara berlebihan nanti bisa membuat daunnya layu, begitulah pengalaman yang nenek dapat. Dan itu hanya contoh kecil dari alam raya yang luas ini, ada banyak bagianbagian di alam ini yang harus kita mengerti. Terang nek minah. Asep semakin termenung mendengar penjelasan dari neneknya. lalu, bagaimana caranya jika aku ingin mengerti alam? tanya asep. kamu harus belajar. pelajari apa alam itu, pelajari bagaimana alam bekerja. Setelah itu barulah kamu akan benar dalam memperlakukan alam ini. terang nek minah. waah. Berarti selama ini aku salah ya nek? asep terdiam sejenak. terus gimana lagi nek. Aku masih bingung, Pohon cabe ini kan bukan tulisan terus dia juga ga bisa bicara. Apa cukup dengan kita belajar biologi di sekolah nek? Ucap asep. ya. Ilmu biologi itu salah satu alat manusia dalam mempelajari alam. Kita ini makhluk yang sempurna 34

karena dibekali akal, dengan akal kita bisa berperilaku seperti malaikat atau seperti setan. kita adalah manusia, kita juga adalah bagian dari alam dan harusnya bersesuaian dengan alam. Maka, gunakanlah akalmu untuk mengerti alam, untuk mengerti lingkungan di sekitarmu. Kamu harus peka dan terus belajar. Ucap nenek. Asep yang sedari tadi sudah berjongkok, memasukkan kedua tangannya ke dalam ember berisi air, dia memainkan air dengan tangannya. nanti dulu nek! manusia tidak akan bisa seperti malaikat! Malaikat itu tidak berbuat salah. Ucap asep. Nek minah tersenyum, lalu berkata kita ini manusia, pikiran baik dan hawa nafsu bertengkar dalam diri kita. Yang mana yang menang maka dia yang akan menjadi diri kita. Menurut kamu kita tidak bisa jadi malaikat, tapi menurut kamu juga kita pasti bisa menjadi lebih buruk dari setan, iya kan nak? Lihat, banyak manusia yang lebih buruk dari setan. Nah, sekarang nenek yang bertanya, jika kita bisa menjadi lebih buruk dari setan, lalu kenapa kita tidak bisa lebih baik dari malaikat? karena malaikat tidak mungkin berbuat salah nek! tegas asep. kenapa malaikat tidak mungkin berbuat salah? Karena malaikat tidak punya proses dalam belajar, dia diperintah dan dia patuh, dia tidak mungkin lupa apalagi salah. Sedangkan manusia harus belajar. 35

Kesalahan manusia ketika lupa, kesalahan manusia ketika belajar, sebenarnya bukanlah kesalahan nak, itulah proses agar kita menjadi lebih baik dari malaikat, itulah kemuliaan manusia yang mau belajar, bahkan para malaikat pun memuji manusiamanusia itu. nah, yang salah itu adalah ketika kamu tahu kebenaran namun kamu menerobosnya dengan sengaja. ada satu lagi nek! manusia tidak mungkin punya sayap! tegas asep. Nek minah tersenyum, lalu berkata sayapnya manusia itu ya impiannya, kamu bahkan bisa terbang lebih tinggi dari malaikat dengan sayapmu itu. hmmm, begitu.. gumam asep. Dia terdiam lama mencoba memahami perkataan neneknya. Lalu dia berkata dengan pelan sekarang aku mulai paham nek. aku masih harus belajar. Terus, apa saja yang sudah nenek pahami dari dunia ini? tanya asep. Nenek terdiam cukup lama. ada beberapa yang sudah nenek mengerti, contohnya masalah menyiram cabe itu. nek minah tertawa seraya menghentikan tangannya yang sedang mencabuti rumput. yang lain dong nek! yang cabe kan aku udah paham. Pinta asep. baiklah, nenek akan menceritakan bangsa ini untuk kamu. Nek minah terdiam. Dia menghela nafas yang 36

cukup panjang. Kemudian melanjutkan perkataannya. bangsa ini sedang butuh bantuan. Sebagian besar petani dan nelayan dalam keadaan miskin, orangorang yang menegakkan akhlak yang baik justru dijauhi, satu persatu orang yang berilmu dan beramal baik meninggal dunia, yang tersisa hanya orangorang berilmu yang malas memanfaatkan ilmunya. tidak lama lagi bangsa ini akan hancur, nenek yakin itu. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang sabar, adil dan tegas, dan mampu mengerti kebutuhan lingkungan. Nek minah kembali terdiam. Suatu saat nanti kamu lah yang akan menjadi pemimpin bangsa ini. sambung nek minah seraya memberikan senyum kepada asep. Asep merasa bingung dengan jawaban neneknya. ah nenek! aku sudah serius mendengarkan, nenek malah bercanda. Ucap asep. nenek tidak bercanda. Memang itulah yang nenek pahami dari bangsa ini. suatu saat nanti kamu harus menjadi seseorang yang berguna bagi bangsa ini. jika nanti kamu sudah mampu mengerti alam dan lingkungan, perbaikilah lingkungan itu. Nek minah menerangkan dengan sangat serius. Dia menatap asep, meskipun asep terlihat mulai tidak menanggapi ucapannya. yah, aku masih kecil nek. jawab asep. 37

justru karena kamu masih kecil itu, nenek mau kamu belajar dari sekarang. Supaya nanti siap menghadapi tiap masalah. Terang nek minah. begitu ya nek. pasti asyik ya nek jika aku bisa memperbaiki alam. baiklah! mulai sekarang aku akan belajar memahami alam, seperti yang nenek ajarkan. Tapi aku masih bingung nek, bagaimana caranya? Apakah cukup dengan belajar di sekolah? Asep mengkerutkan dahinya. kamu harus terus belajar. Baik itu dari buku maupun dari lingkungan. Harus peka terhadap semua kejadian, harus kritis, punya pendapat sendiri. nanti kamu bisa dengan sendirinya, nenek yakin kamu bisa! ucap nek minah. Dia berusaha meyakinkan asep dan menanamkan semangat di hati cucunya tersebut. ah nenek, aku masih bingung. Ucap Asep. hmm.. gumam nek minah. Asep tertawa kecil. aku paham kok nek, tenang aja nek, aku pasti terus belajar. Ucap asep. Tiba-tiba nek minah menggelitik pinggang asep membuat asep menjauh darinya. Terlihat keakraban yang sangat indah diantara keduanya. Kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam, nenek menghentikan tawanya dan meminta asep untuk membuka pintu. 38

asep bergegas masuk ke rumah melalui pintu dapur, menyibak asap tebal yang mengepul dari tungku, meniti lantai semen yang kering namun selalu dingin. Asep membuka pintu. ternyata ada mang udin yang sedang berdiri di depan rumah. asep mempersilahkan mang udin untuk masuk. nenek dimana sep? tanya mang udin. di samping rumah, sebentar ya asep panggil. Jawab asep. asep berlari kembali menuju neneknya, dia memberi tahu kedatangan mang udin. Nek minah pun langsung menghentikan urusan dengan cabe dan kebun kecilnya, dia melangkahkan kakinya yang bergetar menuju mang udin yang sudah berada di dalam rumah. tolong betulkan genteng yang bocor din, tanya ke asep dimana letaknya. Pinta nenek. Tanpa basa-basi mang udin langsung menengadahkan pandangannya ke genteng rumah, mencari-cari letak lubang atau retakan. genteng rumah nek minah bisa langsung dilihat dari bawah, tidak seperti rumah-rumah mewah yang memakai internit atau sebagainya. Beberapa lubang bisa langsung diketahui. matahari yang tengah berada diatas ubun-ubun, suasana rumah yang gelap karena sedikitnya cahaya yang masuk, membuat sinar 39

matahari terlihat sangat lurus, seperti pedang-pedang terang yang menusuk genteng, menciptakan lubang dan mendaratkan ujungnya dilantai. Terlihat lingkaran-lingkaran cahaya kecil yang terlihat jelas di lantai semen yang hitam. Asep pun mengikuti kegiatan mengamati yang dilakukan oleh mang udin. Dia mengikuti pandangan mang udin yang memperhatikan cahayacahaya yang masuk kerumah nenek. Dan baru menyadari bahwa genteng-genteng itu berlubang. baiklah, memang ada 5 genteng yang harus diperbaiki. Ucap mang udin. benar juga ya.. harusnya yang bocor itu yang ditembus cahaya matahari. Kenapa selama ini aku ga sadar ya.. bodohnya aku ini.. tapi, ada yang aneh juga. Cahaya matahari yang masuk ke rumah memang ada lima, tapi kenapa letaknya berbeda dengan tetesan air yang kemarin aku lihat? Hmmm.. pikir asep. Dalam kebingungannya, asep mulai ragu dengan hasil penemuannya yang kemarin. asep mengarahkan pandangannya ke salah satu genteng yang dia yakini pernah meneteskan air. Disaat asep serius mengingat-ingat letak genteng yang kemarin bocor, mang udin pergi keluar rumah dan mengambil tangga bambu untuk menjangkau atap. 40

yang mana sep? ucap mang udin sambil membawa sebuah tangga bambu yang lumayan tinggi. yang kemarin asep lihat sih yang itu tuh mang! Asep mengarahkan telunjuknya ke salah satu genteng. Sedangkan pandangannya masih saja mencari-cari, seakan makin ragu dengan genteng yang dia tunjuk. Mang udin menempelkan ujung bagian atas tangganya ke bambu-bambu penahan genteng, dia dekatkan tangga itu ke genteng yang asep maksud. Mang udin mulai memanjat, satu demi satu anak tangga dipijak. Dia meraih genteng yang asep tunjuk, membersihkan genteng itu dari lumut dan mencari lubang atau retakan. yang ini tidak bocor sep. tegas mang udin. kok bisa? kemarin yang itu bocor mang. aku lihat kok ada tetesan air di situ. Terang asep. Perasaannya ternyata benar, dia telah menunjuk genteng yang salah. Mang udin kemudian mengembalikan genteng itu ke tempat semula. yang mana lagi yang kemarin meneteskan air? mang udin kembali bertanya kepada asep. yang itu tuh mang! Tapi kayaknya bakal salah lagi mang. Ucap asep. Kali ini dia sudah benar-benar yakin bahwa genteng itu tidak bocor. 41

semua yang aku lihat kemarin itu pasti bukan genteng bocor.. yang genteng bocor itu yang di tembus cahaya matahari.. hmm. pikir asep. Mang udin turun dari tangganya. Dia menggeser tangga itu mendekati genteng yang asep tunjuk. Kemudian dia kembali mengecek genteng tersebut. Cukup lama mang udin mengecek genteng yang ada di tangannya. naah. Kalau yang ini beneran bocor sep! tegas mang udin. Kemudian mang udin meminta asep meniti tangga untuk memberikan genteng yang masih bagus, sebagai ganti untuk genteng yang sudah rusak tersebut. Asep mengambil genteng yang ada di dekatnya, kemudian menaiki tangga. kok bisa mang? Yang tadi salah terus yang ini bener? ucap asep. Dia terlihat heran, ternyata lagi-lagi perasaannya salah. begini sep, kamu lihat bambu-bambu yang menahan genteng ini. mang udin menyentuh bambu yang dia maksud. bambu ini menempel dengan genteng. Kemarin, genteng-genteng yang berlubang itu mungkin tidak langsung meneteskan air. air itu masuk lewat lubang genteng, terus mengalir di bambu-bambu ini. mengarahkan telunjuknya dari genteng bolong menuju genteng yang kemarin asep lihat. naah. akhirnya menetes di genteng yang kemarin kamu lihat itu. kamu paham sep? terang mang udin. 42

ooh. Pantesan salah ya mang. Ucap asep. Dia sangat senang ternyata semua itu ada penjelasannya. Selama ini genteng rumah asep memang tidak pernah bocor sebanyak itu, dan dia juga tidak pernah ikut mang udin ketika membetulkan genteng. Baru kali ini saja dia ikut membantu. Setelah itu asep menunjuk satu demi satu sisa genteng yang menurutnya bocor. Mang udin pun dengan cekatan memeriksa semua genteng itu. ternyata 2 dari 5 genteng yang dia tunjuk memang benar-benar retak, dan ketiganya langsung diganti dengan genteng yang masih bagus. Lalu mang udin juga mengganti 5 genteng berlubang yang sebelumnya sudah dia temukan lewat pengamatan cahaya matahari. tapi tadi ada dua genteng yang benar-benar bocor kan? Berarti ga semuanya salah ya mang? tanya asep. iya ada, genteng-genteng itu sudah retak. Retakan seperti itu tidak bisa ditemukan dengan cara pengamatan mamang tadi, tapi bisa ditemukan jika diperhatikan ketika hujan. Terang mang udin. ooh iya iya, berarti kadang-kadang air itu tidak menetes langsung dari lubangnya ya mang, bisa saja menetes di tempat lain yang malah jauh dari lubangnya. Ucap asep. tepat! tegas mang udin sambil menuruni tangga. 43

mencari genteng bocor ketika hujan dengan ketika panas terik hasilnya akan berbeda. tapi dua-duanya bisa saja benar dan bisa juga salah. Pikir asep. 44 Bab 3 Mendapati kelembutan hati Aaasep! Aasep! terdengar teriakan yang ramai dari luar rumah. Teman-teman asep sudah siap dengan peralatan memancing. Mereka membawa peralatan pancingnya masing-masing. Teman-temannya berteriak sangat kencang seakan memanggil seseorang yang tuli. Asep yang sudah berjanji akan ikut, bergegas meminta ijin pada neneknya untuk pergi memancing. nek aku pergi mancing boleh kan nek? tanya asep. Dia bergegas mengambil peralatan mancingnya di dekat kandang ayam. Nenek sedang memasak nasi. Terlihat kulitnya yang sudah keriput masih bermain di depan tungku, meniup api yang sring kali hendak padam. boleh, tapi hati-hati, kalau langitnya mendung segera pulang, dan sebanyak apapun ikan yang mungkin kamu dapat, pulanglah sebelum gelap. Terang nenek

kepada asep yang berada di luar rumah. Rumah yang kecil memang mempermudah ketika mengobrol. siap nek! tegas asep. Asep berlari membawa peralatan mancingnya, dia mengejar teman-temannya yang sudah bepuluh-puluh langkah di depan. Vita juga ikut dalam rombongan memancing itu, dan ini adalah pertama kalinya dia ikut memancing ke sungai. Vita dan keluarganya adalah warga pindahan dari kota. Dia sudah 2 tahun menjadi teman asep di sekolah, dia juga sering main dengan anak-anak kampung, bahkan tidak canggung untuk bermain dengan anak laki-laki. Orang tuanya adalah pemilik dari perkebunan teh yang ada di desa sebelah. Orang tua vita sangat ramah kepada penduduk setempat yang kebanyakan adalah karyawannya di perkebunan teh. Orang tua vita juga sering mengajak asep untuk main ke rumahnya, namun asep dan teman-teman sering kali menolak karena mereka merasa malu. Saat mereka melewati persawahan, mereka berhenti untuk mencari umpan. Disaat air sungai dalam keadaan keruh seperti sekarang, umpan yang paling tepat adalah cacing yang hidup di pinggiran sawah yang lumpurnya tidak terlalu dalam. Ukuran cacing ini lebih kecil dibanding cacing tanah, namun bentuknya tetap saja panjang dan elastis layaknya cacing yang lain. ikan-ikan pasti lebih tertarik pada umpan ini dibanding pada umpan lain. mereka sudah 45

berpengalaman dalam memancing, jadi sudah sangat mengerti apa saja yang harus dilakukan. Asep dan teman-temannya langsung turun menginjak sawah, mereka mengeruk lumpur dengan tangan, mencari-cari makhluk kecil panjang berwarna merah menyala. Tak jarang mereka justru mendapati lintah yang sudah menempel di tangan atau betis mereka. Dengan cekatan tangan-tangan itu mencari cacing sawah, sudah cukup lama mereka mencari dan daun talas yang digunakan untuk tempat mengumpulkan cacing juga sudah hampir penuh. Vita menghentikan bantuannya, dia kembali naik ke daratan. aaaaaah! tiba-tiba vita menjerit. ada apa vit? tanya asep. Dia langsung menghampiri vita yang ketika itu tak jauh darinya. lintaaah! itu ada lintah di kaki vita! teriak vita. Dia terlihat sangat panik. Vita menutup matanya dengan tangan, menendang-nendangkan kakinya dengan harapan lintah itu akan lepas. hhh. kirain teh ada apa. dasar anak kota, Sama lintah aja takut! cemooh imam. Dia melanjutkan kegiatan mencari cacing dan tidak menghiraukan vita. mana vit? coba tunjuk! nanti aku buang. Ucap asep. Matanya mencari-cari lintah di kaki vita yang 46

terus bergerak. Dia kemudian memegang kaki vita, dia menghentikan gerakan kaki vita yang sedang panik itu, megarahkan pandangannya ke segala penjuru kaki itu. itu sep itu deket jempol! masa nggak keliatan! itu kan gede. Teriak vita. Tak lama kemudian asep menarik sesuatu dari selasela jempol kaki vita. mana vit! yang ini bukan? Coba lihat lagi nih! Asep menunjukkan pada vita. iya itu sep. jauhin cepetaaan! vita bertambah panik. Dia belumberani membuka matanya dengan penuh, selain hanya mengintip dari sela jari tangannya. hahaha. ini sih bukan lintah. Asep tertawa melihat tingkah laku vita. Ini Cuma sisa batang padi yang busuk. nempel di kaki kamu. Coba lihat lagi nih jelas-jelas! dia masih tertawa seraya berusaha memaksa vita agar melihat benda tersebut. Hahahahaha.. imam dan ubed ikut tertawa terbahak-bahak. Ketika itu vita sudah mulai tenang, namun imam justru mengagetkannya kembali. yang ini baru namanya lintah! dia menunjukkan lintah yang menggeliat di tangan kanannya. Lintah itu begitu gendut dan panjang. Dia mendekati vita dengan lintah itu. Imam memang seorang anak yang nakal. Dia senang sekali mengganggu orang lain, dia juga 47

pemalas dalam belajar. Dia lebih senang bermain dan mengurusi ayan-ayamnya yang berjumlah puluhan. Vita merasa sangat terganggu dengan kejailan imam, dia menjauh dari imam seraya berteriak. imam! Buang jauh-jauh! jangan jail ah, aku ga suka! Awas nanti aku bilang papa loh.. vita panik dan wajahnya mulai memerah, terlihat bahwa dia akan menangis. aduuh. anak kota mah emang manja. Baru liat lintah aja udah lapor ke papah! ucap imam. Hahaha.. lagi-lagi imam tertawa dengan keras. udah mam ketawanya! kasihan vita tuh. mendingan kita berangkat ke sungai yuk! aku udah ga sabar mau mancing. Ajak asep kepada teman-temannya. Hampir-hampir saja vita menangis akibat kejailan si imam tersebut, namun dia masih mampu menahan air matanya karena dia juga tidak mau disebut cengeng. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sungai, meniti jalan sempit berumput tebal diantara kotakan sawah. Terlihat beberapa ikan kecil di air yang jernih dan tenang, bergerombol mencari makan di antara pohon padi yang baru ditanam. Setelah sampai di sungai, mereka dengan sigap mengambil posisi di pinggir sungai. Mereka mulai mengisi kail dengan umpan, menahan cacingcacing yang menggeliat agar tertusuk dengan benar. Tanpa menunggu aba-aba asep langsung melempar pancing ke tengah sungai, disusul seteah itu imam, 48