BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. menanggulangi perilaku kenakalan peserta didik serta membina peserta didik untuk berakhlakul karimah.

BAB V PENUTUP A. Simpulan

2016 IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KEDISIPLINAN SISWA DALAM MEMATUHI NORMA TATA TERTIB SEKOLAH

1 Agus Retnanto, Bimbingan dan Konseling, Kudus, STAIN, 2009, hal Ibid halaman 110

I. PENDAHULUAN. nasional yaitu membangun kualitas manusia yang beriman dan bertaqwa

BAB I PENDAHULUAN Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009, hlm. 1.

BAB I PENDAHULUAN. Erni Purnamasari, 2015 PENGARUH RELIGIUSITAS TERHADAP ETIKA PADA SISWA KELAS XI MIA 4 DAN XI IIS 2 SMA NEGERI 14 KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Akhirnya memang akan menjadi fenomena yang jelas-jelas mencoreng

BAB I PENDAHULUAN. kompleks yang perlu mendapatkan perhatian semua orang. Salah satu masalah

BAB I PENDAHULUAN. Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, PT Rineka Cipta, Jakarta, 1991, hlm

BAB V PEMBAHASAN. A. Langkah-langkah Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengatasi. Dampak Negatif Internet (Facebook) pada Peserta Didik MIN

BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN KESISWAAN DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN BELAJAR PESERTA DIDIK DI MAK AL-HIKMAH 2 BENDA SIRAMPOG BREBES

BAB I PENDAHULUAN. hlm Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Alfabeta, Bandung : 2005, hlm.

BAB I PENDAHULUAN. Muhammad Ali Rohmad, Pengelolaan Kelas Bekal Calon Guru Berkelas, Kaukaba, Yogyakarta, 2015, hlm.5.

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan sosial budaya dimana individu tersebut hidup.

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TERHADAP PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING DENGAN KEDISIPLINAN SISWA DALAM MENAATI TATA TERTIB SEKOLAH.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang

BAB I PENDAHULUAN. Ridwan, Penanganan Efektif Bimbingan Dan Konseling di Sekolah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998, hlm.9.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan menjadikan manusia dapat berbeda dengan makhluk lain yang. dengan sendirinya, pendidikan harus diusahakan oleh manusia.

BAB IV ANALISIS PERAN GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PEMBINAAN KEDISIPLINAN SISWA DI SMP NEGERI 3 WARUNGASEM KABUPATEN BATANG

BAB IV ANALISIS PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SD NEGERI TEGALSARI 01 KANDEMAN BATANG

BAB I PENDAHULUAN. hidup dan kehidupan manusia, begitu pula dengan proses perkembangannya.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu wadah yang didalamnya terdapat suatu

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan fenomena manusia yang fundamental, yang juga

BAB I PENDAHULUAN. kenakalan remaja lainnya yang menyebabkan terhambatnya kreatifitas siswa.

Tujuan pendidikan adalah membentuk seorang yang berkualitas dan

BAB I PENDAHULUAN. mereka mengubah dirinya sendiri (QS. Ar Ra du/13: 11).

BAB IV ANALISIS PEMBIASAAN BERIBADAH SHOLAT BERJAMA AH DALAM MEMBINA PERILAKU KEAGAMAAN SISWA DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 PEKALONGAN

BAB I PENDAHULUAN. terhadap laju pendidikan di sekolah-sekolah, terutama di tingkat SMP dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Long life education adalah motto yang digunakan oleh orang yang

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan Akhlak dapat terbentuk. Dalam kehidupan sehari-hari akhlak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan suatu bangsa,

BAB I PENDAHULUAN. Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integras), Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007, hlm.12.

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu unsur penting dalam kegiatan pendidikan di madrasah adalah guru.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

I. PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan suatu masa, dimana individu berjuang untuk tumbuh menjadi sesuatu,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. hlm U. Saefullah, Psikologi Perkembangan dan Pendidikan, CV Pustaka Setia, Bandung, 2012,

keberhasilan belajar yang semakin tinggi dan tanggung jawab terhadap perilaku

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Hendriyati Agustiyani, Psikologi Perkembangan, PT. Refika Aditama, 2006, Hlm 1-2 Ibid

BAB V PEMBAHASAN. dengan cara membandingkan atau mengkonfirmasikannya sesuai fokus. penelitian yang telah dirumuskan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan diperlukan sebagai salah satu upaya untuk mencapai. keseimbangan jasmaniah dan rohani menuju kedewasaan, disinilah untuk

BAB IV ANALISIS PERAN GURU PAI BAGI PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH YMI WONOPRINGGO KABUPATEN PEKALONGAN

BAB I PENDAHULUAN. hlm Aunur Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling dalam Islam, UII Press, yogyakarta, 2001,

BAB I PENDAHULUAN. mendapat tempat terdepan dan terutama. Pendidikan merupakan faktor yang sangat esensial

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa seorang individu mengalami peralihan dari

BAB I PENDAHULUAN. Jakarta: PT. Fajar Interpratama, 2011). Hal Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran,(

BAB I PENDAHULUAN. dilandasi nilai-nilai agama, moral, dan budaya luhur bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. Media Group, Jakarta, 2010, hlm Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Prenada

BAB I PENDAHULUAN. 2 Hasan Basri, Landasan Pendidikan, CV Pustaka Setia, Bandung, 2013, hlm Ibid., hlm. 15.

Tujuan pendidikan nasional seperti disebutkan dalam Undang-Undang. Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal (3)

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S.1) Dalam Ilmu Dakwah dan Komunikasi

BAB I PENDAHULUAN. Dunia pendidikan memang dunia yang tidak pernah bisa habis untuk. diperbincangkan. Karena selama manusia itu ada,

BAB I PENDAHULUAN. masing masing dengan tujuan mencapai kelangsungan hidup organisasi.

BAB I PENDAHULUAN. manusia untuk mewujudkan proses pembelajaran yang efektif dan efesien

BAB IV HASIL PENELITIAN LAPANGAN. Tulungagung, di dapatkan hasil wawancara sebagai berikut:

BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM PEMBINAAN AKHLAK SISWA-SISWI SD NEGERI SALIT KAJEN PEKALONGAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu sendi kehidupan. Melalui pendidikan,

BAB I PENDAHULUAN. tidak pernah dikenalkan pada aturan maka akan berperilaku tidak disiplin

BAB I PENDAHULUAN. perwujudan rendahnya disiplin diri, barangkali para remaja menganggap banyak

Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling, PT.Renaja Rosdakarya, Bandung, 2012, hlm 94

I. PENDAHULUAN. identifikasi masalah, pembatasan masalah dan rumusan masalah. Untuk

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, serta orang tua. Menurut Dimyati dan Mujiono (2006: 7),

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Andi Mappiare, Psikologi Remaja (Surabaya: Usaha Nasional 1982), h. 45

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil uji hipotesis, hasil wawancara, hasil dokumentasi, dan

BAB I PENDAHULUAN. seyogyanya dilakukan oleh setiap tenaga pendidikan yang bertugas di

BAB I PENDAHULUAN. Tatang, Ilmu Pendidikan, Pustaka Setia, Bandung, 2012, hlm.13. Ibid., hlm.15.

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. hlm Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Prestasi merupakan sesuatu yang didambakan oleh semua orang dalam

PERILAKU ANTISOSIAL REMAJA DI SMA SWASTA RAKSANA MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan proses esensial untuk mencapai tujuan dan cita-cita pribadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. dalam maupun luar negeri mudah diakses oleh setiap individu, khususnya

BAB I PENDAHULUAN. ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa

BAB I PENDAHULUAN. mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan belajar siswa. Di sekolah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak, masa peralihan

BAB I PENDAHULUAN. tata tertib, peraturan dengan penuh rasa tanggung jawab dan disiplin. Di

(Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2009), hlm Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi),

dikembangkan suatu sistem pengembangan faktor-faktor psikologis siswa.2

BAB I PENDAHULUAN. muda, kenakalan ini merupakan gejala sakit secara sosial pada anak-anak dan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN DATA PENELITIAN. A. Gambaran Umum MA Mazro atul Huda Wonorenggo KaranganyarDemak

BAB I PENDAHULUAN. dalam menghadapi kondisi yang ada di lingkungan sekitarnya. 1. Sedangkan menurut Muhammad Al-Mighwar self control (kontrol diri)

BAB I PENDAHULUAN. setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Kemudian dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dapat menimbulkan banyak masalah bila manusia tidak mampu mengambil

BAB I PENDAHULUAN. Bandung, 2004, Hlm 3. 2 T. Syafaria, Interpersonal Intellegense, Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal

BAB I PENDAHULUAN. karena itu, agar dapat menciptakan sumber. peningkatan terhadap kualitas pendidikan itu sendiri.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PENGARUH TATA TERTIB DAN BIMBINGAN WALI KELAS TERHADAP PENEGAKAN KEDISIPLINAN SISWA SMK MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2009/2010

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan formal yang mempunyai

Upaya Meningkatkan Karakter Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Sosiodrama

BAB I PENDAHULUAN. adalah aset yang paling berharga dan memiliki kesempatan yang besar untuk

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan dan metode pengajaran yang tepat. diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang

BAB I PENDAHULUAN. berjalan dengan kondusif. Namun, tidak dapat dipungkiri sering terdapat. siswa tidak tuntas dalam mencapai tujuan yang diharapkan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mempunyai hak yang sama dengan orang dewasa.

BAB I PENDAHULUAN. Kelembagaan Agama Islam: Jakarta, 1995, hlm. 48.

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bimbingan dan konseling di sekolah merupakan salah satu disiplin ilmu yang secara profesional memberikan pelayanan kepada peserta didik. Sebagai sebuah layanan profesional, kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan, namun harus berangkat dan berpijak pada satu landasan yang kokoh, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling, baik dalam tataran teoritik maupun praktek, dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggung jawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan, khususnya bagi para peserta didik sebagai penerima jasa layanan (klien). Dengan pelayanan yang baik akan tercipta suatu iklim yang kondusif serta menciptakan masyarakat yang berakhlak dan bermoral.2 Siswa khususnya yang sedang dalam usia remaja, umumnya lebih banyak melakukan aktivitas dengan teman sebayanya. Pada dasarnya Para peserta didik dalam usia remaja selalu berusaha untuk memperoleh pengakuan baik dari teman yang sama jenis maupun yang berlainan jenis kelamin. Remaja terkadang juga lebih banyak meluangkan waktu dengan teman sebaya sehingga dapat mempengaruhi sikap, minat, dan tingkah laku. Oleh sebab itu karena aktivitas siswa sebagai remaja lebih banyak berkenaan dengan teman sebaya, lingkungan luar dan perkembangan modernisasi, maka ada kalanya hal-hal yang negatif mempengaruhi proses perkembangan siswa itu sendiri. Sehingga tidak dipungkiri bahwa, dari berbagai faktor negatif yang mempengaruhi perkembangan remaja muncul akan adanya kenakalan peserta didik usia remaja yang mengabaikan aspek keagamaan (akhlak). 2 Farid Hasyim dan Mulyono, Bimbingan dan Konseling Religius, Ar-Ruzz Media: Yogyakarta, 2010, hal. 5. 1

2 Salah satu faktor penyebab yang paling dominan sehingga para remaja melakukan tindakan-tindakan seperti itu ialah karena berangkat dari persoalan-persoalan kejiwaan usia remaja, sementara itu solusi atau pemecahan terhadap permasalahan tersebut kurang maksimalnya upaya yang dilakukan oleh para tenaga pendidik, khususnya guru BK selaku pembimbing siswa dan orang tua pada khususnya, jika permasalahan-permasalahan tersebut tidak ditangani dan tidak diperhatikan dengan maksimal akan menjadi konflik batin pada jiwa peserta didik. Pada akhirnya peserta didik mencoba mencari pemuasan atau pelampiasan dengan melakukan tindakan-tindakan Kriminalitas atau penyimpangan norma-norma agama yang berlaku, baik itu disekolah seperti peraturan sekolah yang telah ditetapkan.3 Masih banyaknya tindakan negatif yang dilakukan para peserta didik usia remaja di sekolah seperti melanggar tata tertib sekolah dan tidak sepenuhnya menjalankan semua program-program kegiatan yang telah ditentukan sekolah. Semua permasalahan tersebut, dapat dikarenakan kurangnya pemahaman akan pemenuhan kebutuhan yang diinginkan para peserta didik di sekolah. Kebutuhan peserta didik yang berbeda-beda dan tidak tercapainya kebutuhan tersebut, akan mengakibatkan tidak tersalurkannya potensi peserta didik secara positif. Sehingga dapat menimbulkan kenakalan peserta didik di sekolah. Permasalahan tersebut disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi seperti permasalahan dari rumah tangga, faktor lingkungan pergaulan antar remaja yang bebas tanpa mengenal norma, bahkan dapat disebabkan juga sering muncul tudingan miring terhadap guru bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah, seperti guru tidak ada aktivitas atau guru tidak ada kegiatan, guru pasif, dan tudingan-tudingan miring lainnya. Apabila dilihat dari tugas, peran, fungsi, dan tanggungjawab guru BK, perbandingan antara jumlah siswa dengan keperluan akan guru BK (1:150), lingkup pelayanan BK di sekolah dan madrasah atau bidang-bidang pelayanan 3 150 Agus Retnanto. Bimbingan dan Konseling. Kudus: Buku Daros. STAIN Kudus. 2009. hal.

3 BK, permasalahan dan kasus-kasus yang dialami siswa, waktu pertemuan untuk setiap sesi konseling, mungkin guru BK orang yang paling sibuk disekolah dan madrsah. Dengan prakata lain apabila guru BK benar-benar menjalankan tugas, peran, fungsi, dan tanggung jawabnya secara baik, menyusun program layanan BK sesuai lingkup bidang layanan BK, mengidentifikasi berbagai permasalahan dan kasus-kasus siswa, akan sulit bagi guru BK mencari waktu istirat. Apabila hal tersebut tidak akan ada persepsi negatif tentang BK dan tudingan-tudinga miring terhadap guru BK.4 Adapun bentuk kenakalan peserta didik saat di sekolah, biasanya masih seringnya peserta didik terlambat datang sekolah, berpakaian tidak rapi, membolos sekolah, pacaran, merokok di kantin sekolah bahkan tawuran antar pelajar. Untuk itu dibutuhkannya suatu landasan atau manajemen layanan guru BK yang berpedoman pada ajaran Islam. Dengan adanya landasan keagamaan, semua perilaku individu baik di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari dapat berjalan sesuai norma-norma yang berlaku dimasyarakat. Religi yaitu kepercayaan terhadap kekuasaan suatu dzat yang mengatur alam semesta ini adalah sebagai dari moral, sebab dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, serta perbuatan yang dinilai tidak baik sehingga perlu dihindari. Setiap remaja dalam menghadapi hidupnya di dunia tidak akan pernah lepas dari persoalan, apabila tidak mendapat alternatif pemecahan, maka akan berdampak buruk pada jiwa remaja. Dengan cara mencoba melawan segala dorongan dan keinginan yang salah, maka akan timbullah rasa berdosa serta penyesalan pada dirinya sehingga ia berusaha memohon ampun kepada Tuhan dan mencoba lebih tekun dalam menjalankan perintah agama.5 Sedangkan dalam lembaga pendidikan seperti di sekolah, bentuk dari realita pelaksanaan suatu kepercayaan para peserta didik dapat dilihat dari sikap keberagamaan peserta didik dalam menaati peraturan-peraturan sekolah serta pelaksanaan program keagamaan sekolah. 4 Tohirin, Bimbingan dan Konseling di sekolah dan di madrsah, (berbasis integrasi), Rajawali pers: Jakarta, 2013, hal. 243-244 5 Oemar Hamalik. Proses Belajar Mengajar. PT Bumi Aksara, Jakarta: 2001, hal 162

4 Berhasil atau tidaknya peserta didik dalam melaksanakan semua peraturan sekolah, terlihat dari perubahan sikap peserta didik dalam bertingkah laku di sekolah. Salah satu faktor yang menentukan religiusitas peserta didik, tergantung dari program keagamaan sekolah dan adanya peran dari guru pemmbimbing dalam mengembangkan religiusitas peserta didik di sekolah. Akan tetapi, masih banyak munculnya persepsi negatif tentang BK dan tudingan-tudingan miring terhadap guru BK antara lain disebabkan masih adanya ketidaktahuan akan tugas, peran, fungsi dan tanggung jawab guru bimbingan dan konseling baik oleh para guru mata pelajaran, pengawas, kepala sekolah dan madrasah, para siswa, dan orang tua siswa maupun oleh guru bimbingan dan konseling itu sendiri. Selain itu, bisa disebabkan oleh tidak disusunnya program bimbingan dan konseling secara terencana dan sistematis di sekolah dan madrasah.6 Kurangnya upaya pihak sekolah dalam menyusun program-program layanan yang ditujukan pada peserta didik dapat menyebabkan rasa kekecewaan yang dapat menimbulkan rasa penolakan pada diri peserta didik. Sehingga dapat menimbulkan kurang puasnya layanan yang tidak sesuai diinginkan peserta didik, bahkan berujung pada tindak kenakalan pelanggaran aturan-aturan sekolah. Untuk itu diperlukannya penerapan layanan-layanan di sekolah semisal program layanan bimbingan konseling Islam. Penerapan program tujuan untuk membimbing, mengarahkan dan menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam merubah perilaku serta mengembangkan sikap keberagamaan (religiusitas) pada diri semua peserta didik. Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan di madrasah terlaksana melalui sejumlah bimbingan. Kegiatan-kegiatan tersebut diselenggarakan melalui suatu program bimbingan (guidance program). Secara umum program bimbingan dilaksanakan merupakan suatu rancangan atau rencana kegiatan yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu. Rancangan atau rencana kegiatan tersebut disusun secara sistematis, terorganisasi dan terkordinasi dalam jangka waktu tertentu. 6 Tohirin, Op.Cit, hal. 244

5 Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dari proses pendidikan dan memiliki kontribusi terhadap keberhasilan proses pendidikan di sekolah termasuk madrasah. Hal ini, berarti proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah dan di madrasah tidak akan memperoleh hasil yang optimal tanpa didukung oleh penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling yang baik. Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah dengan baik, hanya mungkin dapat dilaksanakan dan diprogramkan secara baik pula. Agar pelaksanaan pelayanan serta tujuan bimbingan dan konseling di sekolah dan di madrsah terlaksana secara efektif dan efisien, maka harus disusun program layanan di sekolah secara terencana dan sistematis. Dengan kata lain, diperlukan manajemen program layanan bimbingan dan konseling Islam di sekolah maupun di madrasah7 Manajemen dapat dikatakan sebagai usaha dalam mencapai sasaran melalui cara-cara mengatur orang lain untuk menjalankan atau menyeleseikan tugas. Sedangkan menurut Follet dikutip Nanang Fattah dalam buku Landasan Manajemen Pendidikan mengemukakan bahwa proses manajemen terlibat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang menejer atau pimpinan yaitu: perencanaan, penggorganisasian, pemimpinan, pengawasan dan evaluasi. Oleh karena itu, kegiatan manajemen diartikan sebagai proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.8 Sehingga manajemen pelayanan bimbimngan konseling di sekolah ataupun di madrasah dapat diselenggarakan melalui sejumlah kegiatan bimbingan seperti: bimbingan individu dan kelompok, bimbingan belajar dan asasmen bimbingan konseling Islam. Penyususnan rencana program bimbingan dan konseling, merujuk pada program sekolah atau madrasah secara umum agar terciptanya kesinambungan dalam memenuhi kebutuhan para peserta didik. Penyusunan program tersebut, harus melibatkan beberapa pihak yng terkait seperti kepala sekolah, guru BK, 7 Tohirin, Op.Cit, hal 244-245 Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikian, PT. Remaja Rosdakarya: Bandung, 2001, hal.1. 8

6 para guru, tenaga administrasi, orang tua siswa, komite sekolah dan tokoh masyarakat. Keterlibatan pihak-pihak tersebut, mengingat manfaat layanan BK di sekolah tidak saja akan dirasakan pihak sekolah dan madrsah dalam hal ini siswa, tetapi juga oleh para orang tua dan masyarakat. Keberadaan bimbingan dan konseling, diberbagai lembaga pendidikan di setiap daerah memiliki bentuk program layanan dan karakteristik yang berbeda-beda, seperti di MA Mazro atul Huda Wonorenggo Karanganyar Demak. Karakteristik di sekolah tersebut, dapat dilihat dari banyaknya program layanan yang diterapkan pada peserta didik, baik itu layanan bimbingan konseling maupun program kedisiplinan dengan berlandaskan program keagamaan semisal, pengabsenan dan pemberian sanksi bagi siswa yang telat oleh guru BK dan guru piket, pembacaan asma ul husna sebelum memulai pelajaran, diwajibkan sholat dhuhur jama ah dan diadakannya istighosah setiap bulan serta pelaksanaan praktik-praktik keagamaan setiap semester. Semua program tersebut mendukung sekolah untuk membantu peserta didik dalam membiasakan religiusitas di sekolah sehingga dengan adanya penerapan manajeman yang baik antara program sekolah baik itu kedisiplinan maupun keagamaan. Melalui pelaksanaan layanan bimbingan konseling Islam oleh guru BK, dapat terlihat jelas akan pentingnya manajeman layanan BKI dalam mengembangkan religiusitas para peserta didik di sekolah maupun madrasah. Penerapan manajemen program pelayanan bimbingan konseling di MA Mazro atul Huda Wonorenggo Karanganyar Demak, merupakan upaya pembimbing atau guru BK dalam meningkatkan fungsi layanan BKI di sekolah. Upaya tersebut ditujukan untuk membantu tenaga pendidik lainnya untuk melakukan proses belajar mengajar agar berjalan dengan lancar dan sesuai dengan arah tujuan pendidikan serta meningkatkan peserta didik dalam menyalurkan bakat minat peserta didik. Dengan menggunakan berbagai program layanan BKI di sekolah tersebut seperti di selenggarakannya asasman BKI, bimbingan pribadi-kelompok dan evaluasi pelaksanaan program kegiatan keagamaan disekolah oleh peserta didik. Penerapan layanan-layanan disekolah

7 bertujuan demi mengembangkan religiusitas (sikap keberagamaan) para peserta didik. Oleh sebab itu itu dibutuhkannya implementasi (penerapan) manajemen program layanan bimbingan konseling oleh guru BK dalam memberikan pelayan Bimbingan konseling Islam kepada setiap siswa sekolah, seperti MA. Mazro atul Huda Karanganyar Demak dalam menyelenggarakan bimbingan konseling yang lebih efektif dalam mengembangkan religiusitas peserta didik di sekolah. 9 Berdasarkan uraian tentang pentingnya penerapan manajemen program layanan bimbingan konseling islam di sekolah, sebagai upaya untuk mengembangkan religuisitas pribadi peserta didik usia remaja. Maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitan dengan judul: IMPLEMENTASI MANAJEMEN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM (BKI) DALAM MENGEMBANGKAN RELIGIUSITAS PESERTA DIDIK KELAS XI IPS DI MA MAZRO ATUL HUDA WONORENGGO KARANGANYAR DEMAK TAHUN AJARAN 2016/2017. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana Implementasi Manajemen Layanan Bimbingan Konseling Islam pada peserta didik kelas XI IPS di MA Mazro atul Huda Wonorenggo Karanganyar Demak? 2. Bagaimana pengembangan Religiusitas melalui Layanan-layanan Bimbingan Konseling Islam bagi Peserta didik kelas XI IPS di MA Mazro atul Huda Wonorenggo Karanganyar Demak? 3. Apa saja Kendala yang dihadapi Pihak Madrasah terutama Guru Bimbingan Konseling (BK) dalam menyusun dan melaksanakan programprogram layanan bimbingan konseling Islam untuk mengembangkan 9 Berdasarkan Observasi dan wawancara langsung kepada Ibu Nur hidayah, selaku guru BK di MA Mazro atul Huda Wonorenggo Karanganyar Demak

8 Religiusitas Peserta didik di MA Mazro atul Huda Wonorenggo Karanganyar Demak? C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui penerapan dan konsep-konsep Manajemen Layanan Bimbingan Konseling Islam dalam mengembangkan religiusitas peserta didik Kelas XI IPS di Ma Mazro atul Huda Wonorenggo Karanganyar Demak 2. Untuk Mengetahui pelaksanaan Program Layanan Bimbingan Konseling Islam terkait Pengembangan Religiusitas Peserta didik Kelas XI IPS di MA Mazro atul Huda Wonorenggo Karanganyar Demak 3. Untuk mengetahui kendala-kendala bagi pihak sekolah terutama guru BK dalam menyusun dan melaksanakan program-program layanan bimbingan konseling Islam untuk mengembangkan Religiusitas Peserta didik Kelas XI IPS di MA Mazro atul Huda Wonorenggo Karanganyar Demak D. Manfaat Penelitian Adapun hasil penelitian itu diharapkan bermanfaat dalam kajian-kajian berikutnya yang berbentuk: 1. Manfaat Teoritis a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan dakwah khususnya prodi Bimbingan dan Konseling Islam kaitannya dengan Implementasi Manajemen Program Layanan Bimbingan konseling Islam sebagai suatu metode pengembangan religiusitas Peserta Didik. b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sebuah kontribusi pemikiran bersifat teoritik dan memperluas wacana pemikiran,

9 tentang pengembangan religiusitas melalui manajemen program layanan di sekolah secara efektif dan efisien 2. Manfaat Praktis a. Bagi penulis: menambah wawasan penulis dan menembah kemampuan peneliti dalam menganalisa tentang pentingnya dilakukannya manejemen program layanan bimbingan konseling Islam di sekolah maupun madrsah. b. Bagi pihak sekolah (guru BK): Hasil penelitian ini diharapkan sebagai sumbangan pemikiran dan acuan bagi pihak sekolah meliputi kepala sekolah, waka kesiswaan, guru mapel dan terutama guru BK untuk bekerjasama dalam penyususnan dan pelaksanaan programprogram layanan bimbingan yang sesuai pada kebutuhan peserta didik, bertujuan untuk mengembangkan religiusitas peserta didik di Sekolah maupun Madrasah. c. Bagi peserta didik: Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan bacaan untuk instropeksi dan masukan bagi peserta didik dalam membiasakan sikap keberagamaan dalam melaksanakan peraturan dan program sekolah baik dari setiap pembelajaran oleh guru, untuk diamalkan dalam lingkungan rumah maupun bermasyarakat.