EPIDEMIOLOGI KUANTITATIF (S2):

dokumen-dokumen yang mirip
MODUL. EPIDEMIOLOGI KUANTITATIF (S2): Penggunaan Analisis Sidik Lintas Faculty of Agriculture, Universitas Brawijaya

MODUL. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TUMBUHAN (S1): Peranan Ketahanan Tanaman SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT (SPEED)

Praktikum Teknologi Produksi Tanaman

LAPORAN DASAR PROTEKSI TANAMAN

MODUL. EPIDEMIOLOGI KUANTITATIF (S2): Studi Lapangan Epidemiologi SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT (SPEED)

BAB 2 LANDASAN TEORI. Analisis regresi merupakan bentuk analisis hubungan antara variabel prediktor

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia 3

EPIDEMIOLOGI KUANTITATIF (S2):

BAB 2 LANDASAN TEORI. Analisis regresi (regression analysis) merupakan suatu teknik untuk membangun

Manajemen Keuangan Agroindustri. Lab. Manajemen Agribisnis, Faculty of Agriculture, Universitas Brawijaya

MODUL. EPIDEMIOLOGI & PENGENDALIAN (S3): Pengendalian Bagian dari Model Dinamik 1. PENDAHULUAN SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT

BAB 2 LANDASAN TEORI. regresi adalah sebuah teknik statistik untuk membuat model dan menyelediki

BAB 2 LANDASAN TEORI. berarti ramalan atau taksiran pertama kali diperkenalkan Sir Francis Galton pada

TINJAUAN PUSTAKA. Syarat Tumbuh

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI. Analisis regresi (regression analysis) merupakan suatu teknik untuk membangun

BAB 2 LANDASAN TEORI. berkenaan dengan studi ketergantungan dari suatu varibel yaitu variabel tak bebas (dependent

BAB 2 LANDASAN TEORI. 1. Analisis regresi linier sederhana 2. Analisis regresi linier berganda. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 LANDASAN TEORI. satu variabel yang disebut variabel tak bebas (dependent variable), pada satu atau

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah regresi pertama kali diperkenalkan oleh Francis Galton. Menurut Galton,

BAB 2. Istilah regresi pertama kali diperkenalkan oleh Francis Galton. Menurut Galton,

MODUL. EPIDEMIOLOGI & PENGENDALIAN (S3): Taktik Strategi Pengendalian Epidemi 1. PENDAHULUAN SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT

TINGKAT SERANGAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN PADA PERTANAMAN KACANG TANAH DI KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT

METODE PENELITIAN SOSIAL: Dr. Lilik Wahyuni, M.Pd

Oleh : Dian Astriani

Dimana : a = konstanta b = koefisien regresi Y = Variabel dependen ( variabel tak bebas ) X = Variabel independen ( variabel bebas ) Untuk mencari rum

BAB II LANDASAN TEORI. Analisis regresi (regressison analysis) merupakan suatu teknik untuk membangun persamaan

MODUL. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TUMBUHAN (S1): Penilaian Kehilangan Hasil SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT (SPEED)

BAB 2 LANDASAN TEORI. mengetahui pola hubungan antara dua atau lebih variabel. Istilah regresi yang

BAB 2 LANDASAN TEORI

MODUL. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TUMBUHAN (S1): Hubungan cuaca dengan penyakit tumbuhan SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT (SPEED)

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI. disebut dengan bermacam-macam istilah: variabel penjelas, variabel

dan kehilangan kemampuan untuk berproduksi tinggi. Penyebaran dan tingkat serangan penyakit tergantung pada kondisi lingkungan seperti temperatur dan

BAB 2 LANDASAN TEORI

Jurnal Agrikultura Volume 19, Nomor 3, Tahun 2008 ISSN

Oleh : Sozanolo Mendrofa NIM :

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah regresi pertama kali digunakan oleh Francis Galton. Dalam papernya yang

BAB 2 LANDASAN TEORI

UJI HAYATI MIKORIZA Glomus fasciculatum TERHADAP PATOGEN Sclerotium rolfsii PADA TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L. var.

BAB 2 LANDASAN TEORI. Analisis Korelasi adalah metode statstika yang digunakan untuk menentukan tingkat

PENGARUH PEMBERIAN KOMPOS TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT BUSUK HATI (Phytophthora sp.) PADA TANAMAN NANAS (Ananas comosus) ABSTRACT

MODUL REGRESI LINIER SEDERHANA

Pengaruh Pupuk Kalium Pada Ketahanan Kacang tanah 446 (Nurhayati) PENGARUH PUPUK KALIUM PADA KETAHANAN KACANG TANAH TERHADAP BERCAK DAUN CERCOSPORA

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Regresi pertama kali digunakan sebagi konsep statistika pada tahun 1877 oleh sir Francis Galton.

2.1 Pengertian Regresi

BAB I PENDAHULUAN. dari daerah Brasilia (Amerika Selatan). Sejak awal abad ke-17 kacang tanah telah

MODUL. EPIDEMIOLOGI KUANTITATIF PENYAKIT TANAMAN (S2): Analisis Epidemiologi SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT (SPEED)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Dampak Konversi Lahan Sawah Terhadap Produksi Padi. 1. Konversi lahan sawah Kecamatan Mertoyudan

BAB III LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

ILMU HAMA, PENYAKIT DAN GULMA. Pokok Bahasan Konsep Pengelolaan Hama

MODUL. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TUMBUHAN (S1): DAUR PERKEMBANGAN PENYAKIT Faculty of Agriculture, Universitas Brawijaya

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

PERANCANGAN PABRIK: TAHAP PERENCANAAN

BAB 2 LANDASAN TEORI. disebut dengan bermacam-macam istilah: variabel penjelas, variabel

MODUL. EPIDEMIOLOGI KUANTITATIF (S2): Peramalan Penyakit SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT (SPEED)

KORELASI GENOTIPIK ANTARA HASIL DENGAN TINGKAT KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT BERCAK DAUN HITAM PADA KACANG TANAH 1)

KORELASI ANTARA KANDUNGAN KLOROFIL, KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT BERCAK DAUN DAN DAYA HASIL PADA KACANG TANAH ABSTRAK

DAFTAR ISI. ABSTRAK... iii. KATA PENGANTAR... iv. DAFTAR ISI... vii. DAFTAR TABEL... xiii. DAFTAR GAMBAR... xvi. A. Latar Belakang Masalah...

INTENSITAS DAN LAJU INFEKSI PENYAKIT KARAT DAUN Uromyces phaseoli PADA TANAMAN KACANG MERAH

III. BAHAN DAN METODE. Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung. Penelitian ini

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENYIAPAN BIBIT UBIKAYU

ANALISIS TARGET PASAR

Manajemen Keuangan Agribisnis: NERACA LAJUR

HASIL DAN PEMBAHASAN

Metode Statistika Pertemuan XII. Analisis Korelasi dan Regresi

BAB 1 PENDAHULUAN. jagung antara lain produktifitas, luas panen, dan curah hujan. Pentingnya

BAB 2 LANDASAN TEORI. disebut dengan bermacam-macam istilah: variabel penjelas, variabel

MODUL PRAKTIKUM IV BAHASA INDONESIA: Kegiatan 5 & 6. Menyusun Rangkuman dan Ulasan dari Artikel/Makalah Yang Bertema Agriculture

HYPOMA1 DAN HYPOMA2 VARIETAS UNGGUL BARU KACANG TANAH TAHAN PENYAKIT DAUN DAN KEKERINGAN

Kuliah Statistika Industri II Regresi & Korelasi Berganda

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. diolah menjadi makanan seperti kue, camilan, dan minyak goreng. kacang tanah dari Negara lain (BPS, 2012).

BAB 2 LANDASAN TEORI. Regresi pertama kali dipergunakan sebagai konsep statistik pada tahun 1877 oleh Sir francis

BAB 2 LANDASAN TEORI. bermacam-macam istilah: variabel penjelas, variabel eksplanatorik, variabel

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Percobaan

MODUL 13 PPENGANTAR USAHATANI: KELAYAKAN USAHATANI 1. PENDAHULUAN SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. 2.1 Konsep Dasar Infeksi, Saluran Pernafasan, Infeksi Akut, dan Infeksi

Statistik merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang paling banyak

PENGARUH PEMUPUKAN PETROBIO GR TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN JAGUNG DI DAERAH ENDEMIS PENYAKIT BULAI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. perlakuan pada Uji F 5% dan disajikan pada Tabel 4.1. Nilai uji tengah DMRT

BAB 2 LANDASAN TEORI

Mengukur Serangan Penyakit Terbawah Benih (Hawar Daun) Pada Pertanaman Padi

Sistem Pakar Identifikasi Penyakit Tanaman Kacang Tanah Menggunakan Metode Fuzzy Mamdani Berbasis Android

BAB 2 LANDASAN TEORI

Contoh Kasus Regresi sederhana

PRODUKTIVITAS KACANG TANAH DI LAHAN KERING PADA BERBAGAI INTENSITAS PENYIANGAN. Wafit Dinarto dan Dian Astriani

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. penjelasan tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih.. Dalam

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Jawa Barat, dengan ketinggian 725 m di atas permukaan laut.

Transkripsi:

EPIDEMIOLOGI KUANTITATIF (S2): 1. Studi Model CP dan MP Faculty of Agriculture, Universitas Brawijaya Email : @ub.ac.id 1. PENDAHULUAN 4. REFERENSI 2. TUJUAN PEMBELAJARAN 5. PROPAGASI 3. KEGIATAN BELAJAR 6. PENDALAMAN 1. PENDAHULUAN Dalam peramalan penyakit selain menggunakan pendekatan keeratan hubungan faktor cuaca dengan terjadinya penyakit, dapat juga didekati dengen menggunakan model hubungan antara kepekaan umur pertumbuhan tanaman dengan tingkat serangan yang mempunyai nilai ekonomi. Sebagaimana diketahui bahwa selama fase pertumbuhannya tidaklah semua fase tersebut peka atau sebaliknya tahan. Model demikian dalam modul ini dikemukakan dengan jelas, melalui hasil penelitian yang dilakukan terhadap bercak daun Cercospora pada kacang tanah. Hasil kacang tanah yang terserang oleh penyakit bercak daun Cercospora spp. diduga dengan menggunakan model Critical Point (model titik kritis) dan model Multiple Point (model link ma jemuk). Model penduga Critical Point (CP) lerhadap intensitas serangan penyakit bercak Cercospora menunjukkan hubungan terbaik dengan hasil apabila didasarkan pada intensitas serangan saat tanaman kacang tanah berumur 87 hari. Model Multiple Point (MP) memberikan indikasi bahwa intensitas serangan mempunyai pengaruh tertinggi terhadap hasil pada saat tanaman berumur 80 hari. MODUL 8 SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT (SPEED)

2. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Meningkatkan kemapuan mahasiswa untuk melakukan penelitian mengenai fase mana dari suatu tanaman itu yang mempunyai kepekaan terhadap serangan patogen, hal ini akan mudah dipelajari bila tahapan perkembangan tanaman tersebut diamati intensitas serangannyan. 2. Mengenalkan pada mahasiswa mengenai ketahanan tanaman yang berhubungan dengan pertumbuhannya, yang akan dapat dijadikan waktu peramalan bagi terjadinya serangan yang berat (merugikan secara ekonomis). 3. KEGIATAN BELAJAR PENGGUNAAN MODEL CRITICAL POINT DAN MULTI PLE POINT PADA HASIL KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) TERHADAP PENYAK1T BERCAK DAUN CERCOSPORA Bercak daun Cercospora pada kacang tanah (Arachis hypogaea L.) yang disebabkan oleh Cercospora arachidicola Hori atau Cercospora personata Hori telah lama dikenal sebagai salah satu patogen yang sangat merugikan kacang tanah. Kerugian-kerugian yang ditimbulkan telah banyak diteliei dan diketahui dengan cara melakukan percobaan-percobaan yang berkaitan dengan penggunaan fungisida di dalam menanggulangi serangan bercak Cercospora. Akan tetapi terdapal sedikil sekali data kehilangan hasil yang dapat menunjang para petani untuk membatasi ambang ekonomi atau menganalisis keefektifan program pengendalian bercak Cercospora. Survei di lapangan akan lebih sederhana dan memerlukan sedikit biaya setelah mengetahui cara meramal penurunan hasil akibat serangan penyakit, sedang untuk menduganya diperlukan model penduga yang dapat diandalkan. Penelitian ini ditujukan untuk mengevaluasi model penduga CP dan MP pada hasil kacang tanah terhadap penyakit bercak daun Cercospora. BAHAN DAN METODE Percobaan dilakukan di desa Tlogomas, kecamatan Lowokwaru, kabupaten Malang, menggunakan Rancangan Acak Kclompok dengan empat ulangan. Sebagai perlakuan pada tanaman percobaan dilakukan serangkaian penyemprotan fungisida Benlate 50 WP dengan konsentrasi 2 gr/1. Hal ini dimaksudkan untuk membuat perbedaan intensitas penyakit bercak daun Cercospora. Adapun perlakuan yang diberikan adalah : Page 2 of 6

Fo = Tanpa fungisida F 1 = Fungisida disemprot sebanyak 1 kali pada umur 65 hari F 2 = Fungisida disemprot sebanyak 1 kali pada umur 45 hari F 3 = Fungisida disemprot sebanyak 2 kali pada umur 45 dan 65 hari Luas petak percobaan masing-masing petak 2,25 x 1,75 m dengan batas antara petak 0,5 m. Pengamatan intensitas serangan dilakukan satu minggu setelah penyemprotan yang pertama. Selanjutnya untuk mendapatkan intensitas serangan penyakit bercak digunakan rumus : ( n. v) I X100% N. Z, dengan keterangan sebagai berikut: dimana: I = persentase serangan; n = jumlah daun dari setiap kategori serangan; v = nilai skala dari setiap kategori serangan; Z = nilai serangan dari kategori tertinggi; N = jumlah seluruh daun yang diamati per tanaman. Model penduga yang akan digunakan berdasarkan persamaan model CP, yaitu: Y = b o + b i X ii + b 2 X 2i +...b p X pi dimana Y = hasil, X i = persentase serangan pada stadium i (52, 59, 66, 73, 80, dan 87 hari setelah tanam). Untuk mengevaluasi model dilakukan uji F terhadap koefisien determinasi pada p = 0,05. Selanjutnya pada model MP ditentukan variabel X i yang mempunyai pengaruh terbesar di antara variabel-variabel X j lain dalam model regresi yang bersangkutan dengan menggunakan koefisien regresi parsial baku b i. Besar koefisien tersebut dapat diperoleh dari persamaan : B i = b i w 2 /JK (Y) (PRAJITNO, 1985) dimana: b i = koefisien regresi parsial baku; b i = koefisien regresi parsial untuk variabel X i terhadap Y; w 2 = jumlah kuadrat variabel X i ; JK (Y) = jumlah kuadrat variabel Y. HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan tingkat serangan Rata-rata intensitas penyakit bercak daun Cercospora semakin meningkat dengan bertambahan umur tanaman (Gambar 1). Hal ini mengisyaratkan bahwa kepekaan tanaman kacang tanah terhadap penyakit bercak daun Cercospora terjadi pada stadium tua. Pernyataan ini didukung oleh Tjwan (1960) bahwa penyerangan penyakit bercak daun Cercospora menginfeksi pada saat tanaman mencapai umur tua. Page 3 of 6

Gambar 1. Rata-rata intensitas penyakit bercak cercospora pada umur kacang tanah Pengaruh penyakit bercak cercospora terhadap hasil kacang tanah Variasi intensitas penyakit bercak Cercospora dapat ditetapkan dengan cara perlakuan fun-gisida pada berbagai umur tanaman, dengan demikian hubungan antara berbagai intensitas penyakit bercak terhadap hasil kacang tanah dapat ditetapkan seperti tercantum pada Tabel 1 dan 2. Tabel 1. Hubungan intensitas serangan pada berbagai stadium pertumbuhan terhadap hasil kacang tanah dengan menggunakan Model CP Variabel bebas Intercept regresi Koefisien R 2 X 1 380.6325-9.5535 0.2933* X 2 209.9771-2.5264 0.0447 X 3 310.6237-5.1271 0.1300 X 4 294.4600-4.2365 0.1487 X 5 460.5510-8.0227 0.5684 X 6 312.5290-3.7045 0.6106 Keterangan : R = koefisien determinasi; * berbeda nyata menurut uji P = 0.05 Hasil analisis regresi (Tabel 1) dengan menggunakan model CP menunjukkan adanya korelasi linier antara intensitas serangan dengan hasil. Korelasi tersebut bersifat negatif dengan koefisien determinasi yang nyata pada X 1, X 5, X 6 ; berturut-turut 0,29; 0,57; 0,61. Penduga terbaik pada model CP tersebut terdapat pada X 6 (stadium umur 87 hari). Hal ini mengisyaratkan bahwa penentuan model CP akan efektif untuk menduga hasil akibat serangan bercak, apabila dilakukan pada stadium 87 hari setelah tanam. Page 4 of 6

Tabel 2. Hubungan intensitas serangan pada berbagai stadium pertumbuhan terhadap hasil kacang tanah dengan menggunakan Model MP. Variabel bebas Intercept Koefisien regresi parsial X 1 512,03-3,81 0,60** -0,72 x 5-6,86-2,04 X 1 333,67-1,20 0,61** -0,23 X 6-3,49-1,24 X 5 460,81-8,03 0,57** -2,39 X 6-3,71-0,001 X 1 430,81-0,70 0,69** -0,13 X 5-4,19-1,25 X 6-2,24-0,80 X 1 418,89-2,77 0,76** -0,52 X 2-0,74-0,16 X 3 2,80 0,71 X 4 3,51 0,97 x 5-8,58-2.55 X 6-1,49-0,53 R 2 b i Keterangan : R 2 koefisien determinasi; ** berbeda sangat nyata pada uji p = 0.01 Dari analisis di atas (Tabel 2) dengan menggunakan mode l MP menunjukkan bahwa dengan semakin banyak variabel pengamatan X i, cenderung semakin besar koefisien determinasinya. Menurut Kirby dan Archer penduga hasil dapat diperbaiki dengan menggunakan lebih banyak pengamatan terhadap intensitas serangan selama terjadi epidemi (Teng et al., 1979). Pada hasil di atas juga menunjukkan bahwa stadium 80 hari merupakan saat kritis terjadinya serangan bercak Cercospora dimana hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien regresi parsial baku yang selalu lebih besar dibanding dengan yang lain. Hal ini disebabkan karena pada periode ter-sebut bagi kacang tanah merupakan fase pengisian polong. Pernyataan ini didukung oleh Backman dan Crawford (1984) bahwa tingkat serangan penyakit bercak Cercospora pada saat dua sampai tiga minggu sebelum panen akan berpengaruh terhadap hasil polong kering. KESIMPULAN Intensitas penyakit bercak daun Cercospora terus meningkat dengan bertambahnya waktu pengamatan dari 52 sampai 87 hari setelah tanam. Page 5 of 6

Hasil analisis antara besar intensitas penyakit bercak Cercospora dan hasil kacang tanah menunjukkan model linier negatif pada model CP dengan koefisien R 2 tertinggi 0,61, sedang pada model MP adalah 0,76. Model-model tersebut secara berurutan adalah Y = 312,53 3,70 X 6 ; Y = 418,89 2,77 X 1 0,74 X 2 + 2,80 X 3 + 3,51 X 4-8,58 X 5 1,49 X 6. 4. REFERENSI Backman, P.A. dan M.A. Crawford. 1984. Relationship between yield loss and severity of early and late leafspot disease of peanut. Am. Phytopathol. Soc. Phytopathology 64 : 1239-1244. Prajitno, D., 1985. Analisa regresi dan korelasi untuk penelitian pertanian. Lab. Statistik Pertanian. Faperta UGM. Penerbit Liberty. Yogyakarta. 84 hal. Teng, P.S., R.C. Close, dan M J. Blackie, 1979. Comparison of models for estimating yield loss caused by leaf rust (Puccinia hordei) on zephyr in New Zealand. Am. Phytopathol. Soc. Phytopathology 69:1239-1244. Tjwan, K.B., 1960. Penyakit bercak daun pada kacang tanah ( Arachis hypogaea L.). Majalah Teknik Pertanian 9 : 234-247. 5. PROPOGASI Mahasiswa mengamati proses pertumbuhan tanaman dari saat semai sampai produksi secara kelompok pada jenis tanaman tertentu misal serealia yang telah mempunyai standar pertumbuhannya, kemudia dikaji mengenai fase mana dari pertumbuhan tersebut yang mempunyai kepekaan terhadap penyakit tertentu. Dengan melakukan analisis usaha tani terhadap budidaya tanaman tersebut yang dapati diakses melalui studi pustaka maka mahasiswa dilatih untuk menghubungkannya dengan kerusakan tanaman tadi pada fase yang telah ditentukan. Didiskusikan dengan kelompok dan dibuat analisis kritis secara teoritis. Cara ini sangat membantu dalam distribusi pengetahuan dalam kelompok tersebut. 6. PENDALAMAN 1. Apakah kelebihan dan kekurangan cara peramalan dengan menggunakan model CP dan MP dibandingkan dengan peramalan model regresi yang menghubungan dengan faktor cuaca dan patogennya. 2. Coba aplikasikan model CP dan MP untuk meramal penyakit pada tanaman serealia dengan pendekatan model pertumbuhan tanaman untuk patogen tertentu. Page 6 of 6