HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS BIAYA MANFAAT DAN STRATEGI PENGENDALIAN ANTRAKS DI PULAU SUMBAWA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT ERWIN KUSBIANTO

Analisis Biaya Manfaat dan Strategi Pengendalian Penyakit Antraks di Pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

Lampiran 1. Kuisioner Penelitian Desa : Kelompok : I. IDENTITAS RESPONDEN 1. Nama : Umur :...tahun 3. Alamat Tempat Tinggal :......

Faktor-faktor yang Mempengaruhi lingkungan Usaha Peternakan. Faktor Lingkungan Makro. Faktor Lingkungan Mikro

pengembangan KERBAU KALANG SUHARDI, S.Pt.,MP Plasmanutfah Kalimantan Timur

Lampiran 1. Asumsi, Koefisien teknis dan Koefisien harga

A. Luas potensi lahan sumber pakan ternak (Ha) Luas Potensi Hijauan (Ha) No Kabupaten/Kota Tanaman Padang. Pangan Rumput

Dengan Fakultas Peternakan Universitas Mataram

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK KERBAU DI KALIMANTAN SELATAN

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU

VII. ANALISIS FINANSIAL

ANALISIS POTENSI KERBAU KALANG DI KECAMATAN MUARA WIS, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memenuhi kebutuhan manusia. Untuk meningkatkan produktivitas ternak

BAB III METODE PENELITIAN. bahwa Kabupaten Kendal merupakan salah satu kabupaten yang memiliki

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN

Bab XIII STUDI KELAYAKAN

Nomor : Nama pewancara : Tanggal : KUESIONER PETERNAK SAPI BALI DI DESA PA RAPPUNGANTA KABUPATEN TAKALAR, SULAWESEI SELATAN

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL


Ditulis oleh Mukarom Salasa Jumat, 03 September :04 - Update Terakhir Sabtu, 18 September :09

1) Pencarian dan sewa lahan yang digunakan untuk tempat penggemukan sapi. BAB V RENCANA AKSI. 5.1 Kegiatan

ANALISIS USAHA PADA PENGGEMUKAN SAPI POTONG

STRATEGI USAHA PENGEMBANGAN PETERNAKAN YANG BERKESINAMBUNGAN

peternaknya Mencari pemasaran yang baik Tanah dan air VIII

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Pola kemitraan ayam broiler adalah sebagai suatu kerjasama yang

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Rakyat (KUR) di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

SIKAP PETANI TERHADAP PENGGUNAAN PUPUK KANDANG PADA TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merril) Oleh :Mukhlis Yahya *) dan Eka Afriani **) ABSTRAK

V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat. Metode Penelitian

DESKRIPSI HARGA JUAL DAN VOLUME PENJUALAN PEDAGANG PENGUMPUL AYAM POTONG DI KOTA MAKASSAR

VII. PEMECAHAN OPTIMAL MODEL INTEGRASI TANAMAN TERNAK

PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA SAPI POTONG DI NUSA TENGGARA BARAT

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Pembangunan peternakan di Indonesia lebih ditujukan guna

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK ASAL KOTORAN SAPI Hasil sampingan pemeliharaan ternak sapi atau sering juga disebut sebagai kotoran sapi tersusun dari feses,

TEKNIK BUDIDAYA LADA INTEGRASI BERTERNAK KAMBING

I. PENDAHULUAN. hal ini dikarenakan munculnya kesadaran dari masyarakat mengenai pentingnya

PROGRAM AKSI PERBIBITAN DAN TRADISI LOKAL DALAM PENGELOLAAN TERNAK KERBAU DI KABUPATEN SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI

BAB I PENDAHULUAN. Potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia sangatlah berlimpah, mulai

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perkembangan Domba di Indonesia

TINJAUAN PUSTAKA. Terletak LU dan LS di Kabupaten Serdang Bedagai Kecamatan

I. PENDAHULUAN. Sumber :

I. PENDAHULUAN. tentang pentingnya protein hewani untuk kesehatan tubuh berdampak pada

Budidaya Sapi Potong Berbasis Agroekosistem Perkebunan Kelapa Sawit ANALISIS USAHA Seperti telah dikemukakan pada bab pendahuluan, usaha peternakan sa

RINGKASAN EKSEKUTIF DASLINA

Daya Dukung Produk Samping Tanaman Pangan sebagai Pakan Ternak Ruminansia di Daerah Sentra Ternak Berdasarkan Faktor Konversi

TINJAUAN PUSTAKA. manusia sebagai sumber penghasil daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan manusia

Seuntai Kata. Denpasar, November 2013 Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. Ir. I Gde Suarsa, M.Si.

PROGRAM AKSI PERBIBITAN TERNAK KERBAU DI KABUPATEN BATANG HARI

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGEMBANGAN SISTEM INTEGRASI SAPI PERKEBUNAN SEBAGAI UPAYA PEMBANGUNAN PETERNAKAN SAPI MENUJU SWASEMBADA DAGING 2010

II ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

PENGKAJIAN SISTEM BUDIDAYA SAPI POTONG PADA EKOREGIONAL PADANG PENGEMBALAAN PENDAHULUAN

ANALISIS FEASIBILITAS USAHA TERNAK ITIK MOJOSARI ALABIO

III. METODE PENELITIAN. Proses produksi kopi luwak adalah suatu proses perubahan berbagai faktor

ANALISIS HASIL USAHA TERNAK SAPI DESA SRIGADING. seperti (kandang, peralatan, bibit, perawatan, pakan, pengobatan, dan tenaga

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

I. PENDAHULUAN. Barat cendrung meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Badan Pusat

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan

BAB I PENDAHULUAN. mata pencaharian di bidang pertanian. Sektor pertanian pada setiap tahap

BAB XVI KEGIATAN AGRIBISNIS

SISTEM INTEGRASI SAPI DI PERKEBUNAN SAWIT PELUANG DAN TANTANGANNYA

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i. KATA PENGANTAR... iii. UCAPAN TERIMA KASIH... iv. DAFTAR ISI... vii. DAFTAR TABEL... xi. DAFTAR GAMBAR...

VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR

PROPOSAL USAHA PENGGEMUKAN DOMBA ANAM Farm

VI. STRUKTUR BIAYA TRANSAKSI. produksi serta rasio biaya transaksi dan penerimaan, rasio biaya transaksi dan

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang

V. PROFIL PETERNAK SAPI DESA SRIGADING. responden memberikan gambaran secara umum tentang keadaan dan latar

POTENSI SUMBERDAYA TERNAK KERBAU DI NUSA TENGGARA BARAT

I. PENDAHULUAN. yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi.

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Ternak perah merupakan ternak yang mempunyai fungsi sebagai penghasil

KERAGAAN PENGEMBANGAN TERNAK SAPI POTONG YANG DIFASILITASI PROGRAM PENYELAMATAN SAPI BETINA PRODUKTIF DI JAWA TENGAH

PEMANFAATAN JERAMI JAGUNG FERMENTASI PADA SAPI DARA BALI (SISTEM INTEGRASI JAGUNG SAPI)

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Peternakan Sapi Perah

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

BAB I PENDAHULUAN. Ternak ruminansia seperti kerbau, sapi, kambing dan domba sebagian besar bahan

BAB IV Hasil Dan Pembahasan

ANALISIS FINANSIAL USAHA AGRIBISNIS PETERNAKAN SAPI DAGING (SUATU STUDI KASUS) RINGKASAN

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 15 TAHUN 2017 TENTANG JUMLAH TERNAK POTONG SAPI BALI ANTAR PULAU TAHUN 2017

KAJIAN EKONOMIS USAHATANI TERPADU TANAMAN PANGAN DENGAN TERNAK KAMBING PADA LAHAN KERING DI KABUPATEN SUMBAWA

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dunia. Kebutuhan jagung dunia mencapai 770 juta ton/tahun, 42%

Sistem Usahatani Terpadu Jagung dan Sapi di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. menggunakan pengalaman, wawasan, dan keterampilan yang dikuasainya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKA DINAS PERKEBUNAN DAN PETERNAKAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity) berupa sumber

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar dan Bahan Batasan Operasional. Konsep dasar dan defenisi opresional mencakup pengertian yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Gorontalo. Terdiri dari 18 Kecamatan, 191 Desa, dan 14 Kelurahan. Letak

TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Bali

Transkripsi:

13 HASIL DAN PEMBAHASAN Sumber Daya Ternak Sapi dan Kerbau Sebanyak empat puluh responden yang diwawancarai berasal dari empat kecamatan di Kabupaten Sumbawa yaitu : Kecamatan Moyo Hilir, Lenangguar, Labuan Badas dan Sumbawa. Berdasarkan kejadian antraks peternakan responden dibedakan menjadi dua kelompok yaitu peternakan dengan kasus antraks dan peternakan tanpa kasus antraks sebagaimana tabel berikut : Tabel 2 Jumlah responden masing-masing kecamatan di Kabupaten Sumbawa No. Kecamatan Jumlah Peternak Dengan antraks Tanpa antraks 1. Moyo Hilir 16 7 2. Lenangguar 5 5 3. Labuan Badas 0 3 4. Sumbawa 2 2 Jumlah 23 17 Sebagian besar peternak memelihara jenis ternak sapi dan kerbau yaitu 29 responden, sedangkan 11 responden memelihara ternak sapi atau kerbau dengan kepemilikan ternak dikelompokkan menjadi 3 yaitu : kepemilikan (1-20) ekor sebanyak 25 responden, (21-40) ekor sebanyak 7 responden dan (> 40) ekor sebanyak 8 responden ditunjukkan pada Tabel 3. Pekerjaan utama responden adalah petani sedangkan berternak sebagai usaha sampingan. Tabel 3 Jumlah kepemilikan ternak responden di masing-masing kecamatan di Kabupaten Sumbawa No. Kecamatan Kepemilikan Ternak (1-20) ekor (21-40) ekor (> 40) ekor 1. Moyo Hilir 10 7 6 2. Lenangguar 9 0 1 3. Labuan Badas 3 0 0 4. Sumbawa 3 0 1 Jumlah 25 7 8

14 Pulau Sumbawa menurut Pemprov NTB (2009) memiliki potensi sumber pakan ternak yang mencapai luas 1.303.678 ha yang terdiri sawah seluas 104.769 ha dan lahan kering seluas 1.198.909 ha. Lahan hutan negara yang ada tercatat seluas 732.219 ha. Berdasarkan luas lahan tersebut, wilayah Pulau Sumbawa diperkirakan dapat menampung ternak sejumlah 925.833 Satuan Ternak (ST) atau setara dengan 1,2 juta ekor dengan asumsi daya tampung ternak adalah 1,5 ST/ha. Sementara populasi ternak pemakan hijauan di Pulau Sumbawa pada tahun 2008 baru tercatat 405.414 ST. Dengan demikian masih dapat menampung ternak sapi sekitar 520.419 ST atau setara dengan 676.545 ekor, Satuan ternak adalah ukuran yang mengaitkan dengan makanan yang tersedia atau menunjukkan kesanggupan suatu daerah padang rumput untuk menampung ternak (Gittinger 1986), Peternakan di P. Sumbawa umumnya dilakukan secara ekstensif dengan cara menggembalakan ternak di padang penggembalaan. Kegiatan makan dan minum ternak dilakukan secara alami. Gambar 3 Peternakan sapi dan ladang penggembalaan di P. Sumbawa Populasi ternak sapi dan kerbau tahun 2009 adalah 317.118 ekor dan 116.607 ekor dengan komposisi ternak dibedakan menurut pengelompokkan usia dan jenis kelamin ternak. Komposisi ternak sapi yaitu : anak jantan berjumlah 38.337 ekor, anak betina 41.474, jantan muda 43.696 ekor, betina muda 39.667 ekor, jantan dewasa 32.501 ekor dan betina dewasa 121.443 ekor sedangkan komposisi ternak kerbau adalah : anak jantan 12.443 ekor, anak betina 14.097 ekor, jantan muda 12.711 ekor, betina muda 16.092 ekor, jantan dewasa

15 15.626 ekor dan betina dewasa 45.639 ekor. Sex Ratio sapi dan kerbau jantan dewasa (pejantan) masing-masing sebesar 13% dan 26% (Lampiran 9) Kerbau Sumbawa merupakan jenis kerbau lumpur/rawa (swamp buffalo), dengan bobot bayi kerbau rata-rata 36,3 kg untuk yang jantan, dan 31,8 kg untuk yang betina. Bobot pada usia setahun mencapai 158,7 kg untuk yang jantan dan 136,1 kg untuk yang betina.bobot umur 4 tahun antara 350-500 kg (Sunari 1998). Kerbau dimanfaatkan tenaganya pada lahan pertanian. Lama kerja kerbau Sumbawa pada musim hujan 35 hari sedangkan pada musim kemarau 20 hari (Muthalib 2006). Sapi Sumbawa merupakan sapi ras Bali. Bobot sapi jantan berumur minimal 3 tahun memiliki berat 300 kg dan yang berumur umur 2 tahun memiliki berat 225-300 kg (Disnakkeswan Prov. NTB 2010). Menurut Thalib (2002), sapi berumur 7 bulan, memiliki berat 67-94 kg dan yang berumur 12 bulan mencapai berat 105 137 kg. Sapi Bali mempunyai calving rate yang tinggi sekitar 69-83%, kematian prasapih sebesar 5 10% dan kematian dewasa sebesar 3-4%. Harga rata-rata ternak sapi dan kerbau di Pulau Sumbawa pada tahun 2009 adalah ternak sapi dan kerbau potong masing-masing Rp. 6,5 juta, sapi jantan dan betina bibit masing-masing Rp. 5 juta dan Rp. 4,5 juta, kerbau bibit jantan seharga Rp. 6 juta serta kerbau bibit betina Rp. 5,5 juta (Lampiran 10). Kotoran ternak dimanfaatkan petani secara tidak langsung dengan memanfaatkan ladang penggembalaan sebagai lahan pertanian saat musim hujan. Kotoran ternak berbentuk segar atau sudah dikomposkan berupa padat atau cair disebut juga pupuk kandang (Hartatik dan Widowati 2007). Pupuk kandang memiliki kandungan hara makro dan mikro rendah sehingga sebagai pupuk diperlukan dalam jumlah banyak pada lahan pertanian. Dengan menggunakan perhitungan Suharyanto dan Rinaldi (2001), nilai ekonomis pupuk kandang dapat dihitung dengan membandingkan jumlah kandungan hara N, P dan K pada pupuk kandang dengan pupuk buatan. Nilai unsur hara setara pupuk buatan dapat dihitung dengan mengalikan kontribusi bersih masing-masing unsur. Perhitungan nilai ekonomik pupuk kandang sapi dan kerbau di pulau Sumbawa Tahun 2009 adalah : Populasi ternak x 6,6 ton/ekor/tahun untuk sapi dan populasi ternak x 7,3 ton/ekor/tahun untuk kerbau (Lampiran 11) x 80%

16 tertampung (urin+jerami/rumput) dikurangi susut bobot 30% jika kotoran ternak sapi dan kerbau mengandung 0,40% N, 0,20% P 2 O 5, dan 0,10% K 2 O akan diperoleh kontribusi kotor N, P dan K yang kemudian dikurangi 30% untuk N karena penguapan dan untuk pengurasan masing-masing dikalikan 0,1% N, 0,03% P 2 O 5, dan 0,35% K 2 O akan didapatkan kontribusi bersih N, P dan K, Kecuali untuk unsur Nitrogen, unsur ini terlebih dahulu harus dikalikan dengan faktor kerja sebesar 40%. Nilai unsur hara setara pupuk buatan dapat dihitung dengan mengalikan kontribusi bersih masing-masing unsur kandungan hara dalam pupuk buatan yakni pupuk urea mengandung 45% N, pupuk SP-36 mengandung 38% P 2 O 5 dan pupuk KCl mengandung 55% K 2 O. Jika jumlah unsur hara pupuk kandang setara pupuk buatan dikonversikan ke nilai rupiah dengan harga pupuk urea, SP-36 dan KCl adalah masing-masing Rp. 2.000,-, Rp. 1.800,- dan Rp. 2.000,- per kg, maka akan diperoleh hasil nilai ekonomik pupuk kandang dengan populasi 317.118 ekor sapi dan 116.607 ekor kerbau adalah sebesar Rp.192 milyar per tahun untuk ternak sapi dan Rp.78 milyar per tahun untuk ternak kerbau atau Rp. 600.000,-/induk sapi/tahun dan Rp. 670.000,-/induk kerbau/tahun. Nilai tersebut bukan merupakan nilai pupuk kandang jika dijual langsung, melainkan nilai setara pupuk buatan. Efek Program Pengendalian Antraks Program pengendalian akan memberikan efek sebagai berikut : bila TANPA PROGRAM diasumsikan bahwa kematian ternak karena antraks akan meningkat sebesar 0,005% per tahun atau kasus meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Jika tingkat kejadian kasus 0,01 % pada tahun pertama akan meningkat menjadi 0,055 % pada tahun ke-10. Kenaikan kejadian antraks ini akan berpengaruh terhadap penurunan pendapatan dan biaya variabel secara keseluruhan. Biaya variabel merupakan biaya yang besar kecilnya berhubungan lansung dengan besarnya produksi (Mubyarto 1987; Soekartawi 2006). Dengan menggunakan PROGRAM A, diasumsikan bahwa jumlah kematian ternak akan tetap 0,01% pada tahun pertama dan tidak berubah pada tahun ke-10. Keadaan yang demikian akan menghasilkan pendapatan dan biaya variabel yang tetap setiap tahun. Sedangkan bila dilakukan pengendalian dengan PROGRAM B,

17 diasumsikan akan terjadi penurunan kematian ternak karena antraks setiap tahun 0,005%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kematian ternak karena antraks dapat mencapai 0% sejak tahun ke-3, atau pada tahun ke-1 dan ke-2 akan terjadi kenaikan pendapatan dan biaya variabel. Pada tahun ke-3 sampai ke-10 akan diperoleh pendapatan dan biaya variabel seakan seperti peternakan tanpa antraks. Biaya Pengendalian Komponen biaya dalam pengendalian antraks terdiri dari biaya pengadaan vaksin, alat dan bahan pendukung, operasional vaksinasi, operasional surveilans dan pertemuan/sosialisasi. Biaya-biaya ini berasal dari Pemerintah pusat, Provinsi NTB dan Kabupaten/Kota se Pulau Sumbawa. Biaya program pengendalian dan realisasi vaksinasi antraks di P. Sumbawa tahun 2005-2009 secara berurutan (dalam jutaan rupiah) adalah: 323,52; 672,81; 1.061,75; 880,31; dan 506,43 seperti ditunjukkan Tabel 4. Sedangkan realisasi vaksinasi (dosis) secara berurutan yaitu : 146.786; 278.452; 298.375; 280.426; dan 283.086 (Lampiran 12). Tabel 4 Dana program pengendalian antraks di P. Sumbawa tahun 2005-2009 NO URAIAN KEGIATAN Jumlah dana berasal dari APBN, Provinsi, Pusat dan Kabupaten/kota (Rp. Juta) 2005 2006 2007 2008 2009 1 2 3 4 5 6 7 Vaksin Alat/Bahan Pendukung Operasional Vaksinasi Operasional Surveilans Pertemuan/ Sosialisasi Bantuan Pusat Dukungan Kabupaten/kota se P. Sumbawa 12,50 30,50 37,11 18,32 15,00 50,00 160,09 90,00 41,00 281,00 12,50 8,25 42,50 197,56 125,00 131,00 255,75 57,76 21,5 150,00 320,65 60,00 15,00 287,75 114,45 18,83 75,00 309,28-29,65 84,05 25,39 8,75 67,50 291,09 Jumlah 323,52 672,81 1.061,75 880,31 506,43 Sumber : Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB 2010 Biaya pengendalian tersebut jika dirata-rata pertahun dan dibagi jumlah ternak yang mampu divaksinasi akan didapatkan biaya pengendalian tiap ekor ternak sebesar Rp. 2.500.

18 Analisis Biaya Manfaat Langkah yang penting dalam melakukan analisis biaya manfaat pengendalian peyakit yang berkaitan dengan peternakan adalah proyeksi jumlah populasi ternak. Proyeksi ternak dimaksudkan untuk memperkirakan kebutuhan makanan yang akan datang, sarana-sarana pemeliharaan, investasi dan produktifitas ternak (Gittinger 1986). Proyeksi ternak akan diperjelas dengan pemakaian koefisien teknis atas ternak awal. Koefisien teknis berasal dari hasil penelitian lapangan dan data-data lainnya yang meliputi angka kelahiran, angka kematian ternak dewasa, angka kematian anak ternak, tingkat penyisihan ternak (culling rate) dan perbandingan ternak jantan dewasa terhadap induk (Tabel 5). Sebagai dasar proyeksi ternak adalah jumlah ternak betina dewasa. Ternak ditentukan stabil karena tidak adanya pertambahan jumlah induk setiap tahun. Dengan menggunakan data-data sekunder dari berbagai sumber dan dipadukan dengan data-data lapangan serta beberapa asumsi maka ditetapkan besaran koefisien teknis dari input laba kotor peternakan Sapi Bali di P. Sumbawa seperti terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 5 Komponen Input laba kotor peternakan Sapi Bali di P. Sumbawa Input Satuan Sapi Bali (penggantian ternak) Jumlah Ternak 121.443 Induk Angka Kelahiran 68% Angka Kematian : Ternak Dewasa 4% Angka Kematian : Anak Sapi 10% Angka Afkir 10% Persentase Pejantan 26% Kejadian Antraks (ternak betina terinfeksi per tahun (%)) 0,01% Biaya Program Pengendalian tiap induk (Rp.) 2.500 Angka Kematian Ternak Dewasa karena Antraks 100% Cakupan vaksinasi 33% Kerugian Tenaga Kerja akibat kematian ternak 50 /Hari Diskonto 15% Berat ternak Jantan Betina 0-1 Tahun 83 kg 68 kg 1-2 Tahun 165 kg 128 kg 2-3 Tahun 240 kg 180 kg > 3 Tahun 300 kg 225 kg

Harga per Kg Berat Hidup 0-1 Tahun Rp.19.500 /kg Rp.19.500 /kg 1-2 Tahun Rp.20.000 /kg Rp.20.000 /kg 2-3 Tahun Rp.20.800 /kg Rp.20.800 /kg > 3 Tahun Rp.21.700 /kg Rp.21.700 /kg Komisi 5% Biaya Tenaga Medis: Rp.10.000/ekor Tenaga Kerja: Rp.10.000/hari/10 ekor Lain-lain: Rp.5.000/ekor Pupuk Kandang / ekor yang digunakan sendiri 30 kg /betina/tahun Rp.2.000 /kg Pupuk Kandang / ekor yang dijual 0 kg/betina/tahun Rp.2.000/kg Pakan 2 kg/dewasa /180 hari Rp.2.000/kg Biaya Transport ternak yang dijual Rp.50.000/ekor Umur Tahun Pertama Program Kelompok ternak Jumlah Satuan Ternak (ST) Total ST 0-1 23.613 Induk 121.443 1,00 121.443,0 1-2 21.467 Jantan Dewasa 31.575 1,20 37.890,2 2-3 19.515 Ternak Afkir 14.735 0,25 3.683,8 3-4 18.765 Anak Sapi 82.581 0,60 49.548,7 4-5 18.043 Sapi Dara 21.467 1,20 25.760,2 5-6 17.349 Jantan muda 0 1,20 0,0 6-7 16.655 Total 271.802 238.325,94 7-8 15.989 8-9 15.349 9-10 14.735

20 Analisis biaya manfaat ini mengasumsikan proyeksi ternak stabil setiap tahun dengan peluang untuk dilahirkannya ternak jantan dan betina adalah sama maka dapat diproyeksi produksi dan penggantian ternak sapi setiap tahunnya (Gambar 4). 121.443 Induk 41.291 Anak Jantan 37.162 Anak Jantan disapih 37.162 Anak Sapi Jantan dijual 41.291 Anak Betina 37.162 Anak Betina disapih 15.695 Anak sapi betina dijual 21.467 Anak Sapi yang dipertahankan Sebagai pengganti Gambar 4 Bagan proyeksi produksi dan penggantian ternak sapi di P. Sumbawa Berdasarkan asumsi komponen input laba kotor dan proyeksi ternak dapat dihitung laba kotor peternakan tanpa antraks sebagaimana tabel berikut. Tabel 7 Laba kotor peternakan sapi tanpa kasus antraks Input Satuan Harga Satuan Jumlah Jenis Ternak: Sapi Bali Jumlah Ternak: 121.443Induk PENDAPATAN: Penjualan Ternak dan Produknya Penjualan Ternak : 37.162 Jantan muda @ Rp.3.217.500 252.246.523.790,2 15.695 Sapi dara @ Rp.2.560.000 3.158 Jantan Dijual @ Rp.6.510.000 14.735 Induk Dijual @ Rp.4.882.500 Pupuk Kandang : a. Digunakan 30 kg /induk/tahun Rp.2.000 7.286.580.000,0 b. Dijual 0 kg/induk/tahun Rp.2.000 A. Total Pendapatan: 259.533.103.790,2 BIAYA VARIABEL : Penggantian Ternak : 3.158 Pejantan @ Rp.3.300.000 10.419.809.400,0 0 Induk @ Rp.2.560.000 Komisi @ 5% 12.612.326.189,5 Biaya Tenaga Medis: Rp.10.000/ekor 103.284.579.712,4 Tenaga Kerja: Rp.10.000 /10 ekor/hr

21 Lain-lain: Rp.5.000/ekor Pakan 2 kg/induk/180hari Rp.2.000/kg 87.438.960.000,0 Transport dan Pemasaran 70.689 Ternak dijual @ Rp.50.000/ekor 3.537.457.769,0 B. Total Biaya Variabel: 217.293.133.070,9 GROSS MARGIN (A-B) 42.239.970.719,2 GROSS MARGIN/INDUK 347.817,3 Adanya penyakit pada peternakan akan mengurangi laba kotor. Laba kotor peternakan sapi dengan antraks akan semakin menurun dengan asumsi terjadi peningkatan kasus antraks jika tidak dilakukan pengendalian. Pada Tabel 8, diperlihatkan laba kotor peternakan sapi dengan kasus antraks pada tahun pertama. Tabel 8 Laba kotor peternakan sapi dengan kasus antraks Input Satuan Harga Satuan Jumlah Sapi Bali (penggantian Jenis Ternak: ternak) Jumlah Ternak: 121.443 Induk mati per tahun 12,1443 PENDAPATAN: Penjualan Ternak dan Produknya Penjualan Ternak : 37.149 Jantan muda @ Rp.3.217.500 252.176.360.096,9 15.683 Sapi dara @ Rp.2.560.000 3.158 Jantan Dijual @ Rp.6.510.000 14.735 Induk Dijual @ Rp.4.882.500 Pupuk Kandang : a.digunakan 30 kg /induk/tahun 2000 kg 7.286.580.000,0 BIAYA VARIABEL: b. Dijual 0 kg /induk/tahun 2000 kg A. Total Pendapatan: 259.462.940.096,9 Penggantian Ternak : 3.158 Pejantan @ 3.300.000 10.419.809.400,0 0 Induk @ 2.560.000 Komisi @ 5% 12.608.818.004,8 Biaya Tenaga Medis: 10.000 /ekor 103.284.579.712,4 Tenaga Kerja: Lain-lain: 10.000/hari/10ekor 5.000 /ekor Tambahan Tenaga Kerja 5.000 3.036.075,0 Pakan 2 /induk/180hari 2.000 /kg 87.438.960.000,0 Transport dan Pemasaran 70.689 Ternak dijual 50.000 /ekor 3.537.457.769,0 B. Total Biaya Variabel: 217.292.660.961,3 GROSS MARGIN (A-B) 42.170.279.135,6 GROSS MARGIN/INDUK 347.243,4 Pengaruh antraks pada populasi induk (Rp.) 69.691.583,6

22 Pengaruh antraks pada populasi induk seperti terlihat di atas sebesar Rp. 69.691.583,6 yang didapat dari selisih laba kotor dari peternakan tanpa kasus antraks dikurangi dengan laba kotor peternakan dengan kasus antraks pada tahun pertama dari program. Besaran pengaruh antraks pada populasi induk sangat tergantung pada program pengendalian yang akan dilakukan. Alur kas tanpa pengendalian dan dengan pengendalian pada ternak sapi diasumsikan menggunakan PROGRAM A dan B dengan tingkat diskonto 15% dan 20 % dihitung secara prospektif 10 tahun (Lampiran 1, 2, 3 dan 4). Dengan menggunakan langkah-langkah perhitungan yang sama seperti ternak sapi juga dilakukan analisa biaya manfaat pengendalian untuk ternak kerbau. Tahapan tersebut seperti diuraikan sebagai berikut : Tabel 9 Komponen input laba kotor peternakan Kerbau di P. Sumbawa Input Satuan Kerbau (penggantian ternak) Jumlah Ternak 45.639 Induk Angka Kelahiran 68% Angka Kematian : Ternak Dewasa 4% Angka Kematian : Anak Kerbau 10% Angka Afkir 10% Persentase Pejantan 34% Kejadian Antraks (ternak betina terinfeksi per tahun (%)) 0,01% Biaya Program Pengendalian tiap induk (Rp.) 2.500 Angka Kematian Ternak Dewasa karena Antraks 100% Cakupan vaksinasi 33% Kerugian Tenaga Kerja akibat kematian ternak 50 Hari Diskonto 15% Berat ternak Jantan Betina 0-1 Tahun 221 kg 218 kg 1-2 Tahun 325 kg 300 kg 2-3 Tahun 400 kg 366 kg > 3 Tahun 450 kg 400 kg Harga per Kg Berat Hidup 0-1 Tahun Rp.13.800 /kg Rp.13.800 /kg 1-2 Tahun Rp.14.000 /kg Rp.14.000 /kg 2-3 Tahun Rp.14.500 /kg Rp.14.500 /kg > 3 Tahun Rp.15.000 /kg Rp.15.000 /kg Komisi 5% Biaya Tenaga Medis: Rp.10.000/ekor Tenaga Kerja: Rp.10.000/hari/10 ekor

23 Lain-lain: Rp.5.000/ekor Pupuk Kandang / ekor yang digunakan sendiri 33 kg/betina/tahun Rp.2.000 /kg Pupuk Kandang / ekor yang dijual 0 kg/betina/tahun Rp.2.000 /kg Pakan 2 kg/dewasa /180 hari Rp.2.000 /kg Biaya Transport ternak yang dijual Rp.50.000/ekor Dengan populasi induk kerbau pada tahun 2009 berjumlah 45.639 ekor diperoleh struktur ternak kerbau (Tabel 10), sedangkan proyeksi produksi dan penggantian ternak kerbau ditunjukkan pada Gambar 5. Tabel 10 Struktur ternak kerbau betina (a) dan Struktur ternak kerbau (b) pada tahun pertama program di P. Sumbawa (a) (b) Umur Tahun Kelompok Satuan Ternak Pertama Jumlah ternak (ST) Program Total ST 0-1 8.874 Induk 45.639 1,00 45.639,0 1-2 8.067 Jantan Dewasa 15.517 1,20 18.620,7 2-3 7.334 Ternak Afkir 5.538 0,25 1.384,4 3-4 7.052 Anak Kerbau 31.035 0,60 18.620,7 4-5 6.781 Kerbau Dara 8.067 1,20 9.680,8 5-6 6.520 Jantan muda 0 1,20 0,0 6-7 6.259 Total 105.796 93.945,65 7-8 6.009 8-9 5.768 9-10 5.538 45.639 induk 15.517 Anak Jantan 13.966 Anak Jantan Disapih 13.966 Anak Kerbaui Jantan Dijual 15.517 Anak Betina 13.966 Anak Betina Disapih 5.898 Anak Kerbau Betina Dijual 8.068 Anak Kerbau yang dipertahankan sebagai pengganti Gambar 5 Bagan proyeksi produksi dan penggantian ternak kerbau di P. Sumbawa Berdasarkan asumsi komponen input laba kotor dan proyeksi ternak dapat dihitung laba kotor peternakan sebagaimana Tabel 11 dan 12. tanpa kasus antraks dan dengan kasus antraks

24 Tabel 11 Laba kotor peternakan kerbau tanpa antraks di P. Sumbawa Input Satuan Harga Satuan Jumlah Jenis Ternak Kerbau Sumbawa Jumlah Ternak: 45.639Induk PENDAPATAN: Penjualan Ternak dan Produknya Penjualan Ternak : 13.966 Jantan muda @ Rp.4.485.000 131.107.661.762,5 5.898 Kerbau dara @ Rp.4.200.000 1.552 Jantan Dijual @ Rp.6.750.000 5.538 Induk Dijual @ Rp.6.000.000 Pupuk Kandang : a. Digunakan 33 kg/induk/tahun Rp.2.000 3.012.174.000,0 b. Dijual 0 kg/induk/tahun Rp.2.000 A. Total Pendapatan: 134.119.835.762,5 BIAYA VARIABEL : Penggantian Ternak : 1.552 Pejantan @ Rp.4.550.000 7.060.353.300,0 0 Induk @ Rp.4.200.000 Komisi @ 5% 6.555.383.088,1 Biaya Tenaga Medis: Rp.10.000/ekor 40.202.383.510,3 Tenaga Kerja: Rp.10.000/hari/10ekor Lain-lain: Rp.5.000/ekor Pakan 2 kg/induk/180hari Rp.2.000/kg 32.860.080.000,0 Transport dan Pemasaran 26.953 Ternak dijual @ Rp.50.000/ekor 1.347.653.220,6 B. Total Biaya Variabel: 88.025.853.118,0 GROSS MARGIN (A-B) 46.093.982.644,5 GROSS MARGIN/INDUK 1.009.969,2 Tabel 12 Laba kotor peternakan kerbau dengan antraks di P. Sumbawa Input Satuan Harga Satuan Jumlah Jenis Ternak: Kerbau Sumbawa Jumlah Ternak: 45.639Induk Induk mati per tahun 4,5639 PENDAPATAN: Penjualan Ternak dan Produknya Penjualan Ternak : 13.961 Jantan muda @ Rp.4.485.000 131.068.024.291,0 5.894 kerbau dara @ Rp.4.200.000 1.552 Jantan Dijual @ Rp.6.750.000 5.538 Induk Dijual @ Rp.6.000.000 Pupuk Kandang : a.digunakan 30 kg /induk/tahun 2000 kg 3.012.174.000,0 b. Dijual 0 kg /induk/tahun 2000 kg A. Total Pendapatan: 134.080.198.291,0 BIAYA VARIABEL: Penggantian Ternak : 3.158 Pejantan @ 3.300.000 7.060.353.300,0 0 Induk @ 2.560.000

25 Komisi @ 5% 6.553.401.214,6 Biaya Tenaga Medis: 10.000 /ekor 40.202.383.510,3 Tenaga Kerja: 10.000/10ekor/hari Lain-lain: 5.000 /ekor Tambahan Tenaga Kerja 5.000 1.140.975,0 Pakan 2 /induk/180hari 2.000 /kg 32.860.080.000,0 Transport dan Pemasaran 70.689 Ternak dijual 50.000 /ekor 1.347.653.220,6 B. Total Biaya Variabel: 88.025.012.219,4 GROSS MARGIN (A-B) 46.055.186.071,6 GROSS MARGIN/INDUK 1.009.119,1 Pengaruh antraks pada populasi induk(rp.) 38.796.572,9 Selanjutnya alur kas tanpa pengendalian dan dengan pengendalian antraks pada ternak kerbau diasumsikan menggunakan PROGRAM A dan B dengan tingkat diskonto 15% dan 20 % dihitung secara prospektif 10 tahun (Lampiran 5, 6, 7 dan 8). Hasil analisis biaya manfaat pengendalian antraks pada ternak sapi dan kerbau dengan menggunakan ketiga ukuran pengendalian yaitu : nilai NPV, B/C ratio dan IRR sebagaimana tabel berikut : Tabel 13 Hasil analisis biaya manfaat pengendalian antraks di P. Sumbawa No. Ternak Program Diskonto NPV (Rp.) B/C ratio IRR (%) 1 Sapi A 15 % 504.541.172 1.18 75 20% 365.568.489 1.07 75 B 15% 643.274.236 0,70 55 20% 456.560.783 0,65 55 2 Kerbau A 15 % 296.631.740 1.72 100 20% 218.610.483 1,56 100 B 15% 396.307.569 1,04 77 20% 290.774.335 0,96 77 Dari program pengendalian antraks pada ternak sapi dan kerbau, NPV yang diperoleh PROGRAM B lebih besar dibandingkan dengan PROGRAM A pada tingkat diskonto baik 15% maupun 20%, sedangkan nilai B/C ratio dan IRR lebih besar yang diperoleh dari PROGRAM A pada tingkat diskonto baik 15% maupun 20%. PROGRAM B memiliki NPV yang lebih besar dikarenakan pengendalian

26 PROGRAM B memberikan pendapatan yang lebih besar sebagai dampak dari pengendalian yang menurunkan kematian ternak. Kedua program memberikan nilai NPV yang positif dan memiliki IRR yang lebih besar daripada diskonto yang berlaku yaitu 15% maupun 20% namun dari kriteria perbandingan manfaat dan biaya PROGRAM A memiliki perbandingan manfaat dan biaya yang lebih besar dibandingkan PROGRAM B dimana B/C ratio >1 pada tingkat diskonto 15% dan 20%. PROGRAM B nilai B/C ratio > 1 hanya pada ternak kerbau dengan tingkat diskonto 15%. Dengan mempertimbangkan ketiga kriteria analisis biaya manfaat tersebut dapat dinyatakan bahwa PROGRAM A layak dan efisien dilakukan di P. Sumbawa. Kegiatan Pengendalian Antraks di Pulau Sumbawa Vaksinasi antraks dilakukan dua kali setahun yang pelaksaaannya antara bulan Juli, Agustus dan September sedangkan vaksinasi ulang dilakukan bulan April atau Mei. Vaksin antraks yang digunakan memberikan kekebalan selama 6-12 bulan hal ini sesuai dengan penelitian Handayani (2010) titer antibodi akan menurun pada minggu ke 24 pada ternak kambing, sedangkan Turnbull et al. (1998) menyatakan bahwa keberhasilan vaksinasi dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: respon antibodi berbeda secara individu, perlindungan cenderung kurang dari 100% pada hewan jika mereka hanya menerima satu dosis. Jumlah dosis vaksinasi dibandingkan dengan populasi sapi dan kerbau antara tahun 2005-2009 (Disnakkeswan Prov. NTB 2010) berturut-turut 146.786 dosis, 278.452 dosis, 298.375 dosis, 280.426 dosis dan 283.086 dosis sedangkan populasi sapi dan kerbau berjumlah 336. 328 ekor, 355.270 ekor, 377.662 ekor, 412.448 ekor dan 433.691 ekor, dengan demikian vaksinasi hanya mampu mencakup 22%, 39%, 39%, 34% dan 33% dari populasi ternak sapi dan kerbau.. Jumlah kasus antara tahun 2005-2009 adalah kasus terbanyak terjadi pada bulan Januari dengan 15 kasus kemudian diikuti dengan bulan Agustus dan Oktober masing-masing 7 kasus, kasus terendah pada bulan April dengan 1 kasus. Bulan Januari dan Agustus masing-masing merupakan bulan puncak musim hujan dan musim kemarau. Menurut Kirk dan Hamlen (2000), bahwa jumlah kasus akan meningkat setelah perubahan iklim seperti hujan deras, banjir, atau kekeringan.

27 Perubahan iklim membawa spora ke permukaan tanah dan spora terkumpul di tempat rendah. Pengolahan tanah juga membawa spora ke permukaan tanah yang kemudian spora tertelan ternak. Hasil surveilans pre dan post vaksinasi tahun 2006-2009 pada sampel ternak sapi dan kerbau dengan metode uji ELISA didapatkan hasil positif antibodi antraks secara berurutan adalah : 72%, 64%, 45% dan 76%, persentase titer antibodi tersebut belum menjamin bebas dari kejadian antraks (Lampiran 13). Pengawasan lalulintas ternak dilakukan dengan membuat kebijakan tentang persyaratan ternak yang dilalulintaskan dari dan ke P. Sumbawa. Bahan asal hewan maupun hasil bahan asal hewan yang dapat dilalulintaskan hanya pada ternak sehat saja yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Kesehatan dari Dokter Hewan yang berwenang. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1977 Bab III Pasal 6 ayat 3 dan 4 yang menyangkut kewenangan Gubernur Kepala Daerah dalam pelaksanaan tindakan-tindakan penolakan, pencegahan, pemberantasan, dan pengobatan penyakit hewan.