BAB IV PERHITUNGAN EIRP SISTEM MULTI NETWORK

dokumen-dokumen yang mirip
TUGAS AKHIR ANALISA LINK BUDGET DALAM PENENTUAN TITIK ANTENA PADA SISTEM DCS1800 DAN UMTS2100 DI GEDUNG IKEA TANGERANG

BAB III SISTEM LINK BUDGET

III. METODE PENELITIAN. Teknik Elektro, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Lampung. Tabel 3.1. Jadwal kegiatan Penelitian

BAB IV ANALISA PENGUKURAN PERFORMAN IMPLEMENTASI WI-FI OVER PICOCELL

SITE XXX. Indoor Walk Test Overview

STUDI PERENCANAAN JARINGAN SELULER INDOOR

PW-MIA-33-CDW SITE XXX. Indoor Walk Test Overview

BAB III ANALISIS TRAFIK DAN PARAMETER INTERFERENSI CO-CHANNEL

ANALISIS SISTEM INTEGRASI JARINGAN WIFI DENGAN JARINGAN GSM INDOOR PADA LANTAI BASEMENT BALAI SIDANG JAKARTA CONVENTION CENTRE

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


ANALISIS LINK BUDGET UNTUK PERFORMANSI JARINGAN 2G DAN 3G PADA IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN INDOOR BUILDING COVERAGE (IBC) DI MAL SKA PEKANBARU

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB III PERANCANGAN DAN SIMULASI LEVEL DAYATERIMA DAN SIGNAL INTERFERENSI RATIO (SIR) UE MENGGUNAKAN RPS 5.3

ANALISIS LINK BUDGET PADA PEMBANGUNAN BTS ROOFTOP CEMARA IV SISTEM TELEKOMUNIKASI SELULER BERBASIS GSM

BAB III METODE PENELITIAN

Analisa Unjuk Kerja Layanan 3G di Surabaya

ANALISIS COVERAGE AREA WIRELESS LOCAL AREA NETWORK (WLAN) b DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR RADIO MOBILE

Indra Surjati, Yuli Kurnia Ningsih & Hendri Septiana* Dosen-Dosen Jurusan Teknik Elektro-FTI, Universitas Trisakti

Setyo Budiyanto 1,Mariesa Aldila 2 1,2

BAB IV HASIL PENGUKURAN DAN ANALISA. radio IP menggunakan perangkat Huawei radio transmisi microwave seri 950 A.

BAB 2 PERENCANAAN CAKUPAN

BAB IV ANALISA PERFORMANSI HASIL OPTIMALISASI PARAMETER BSS PADA BTS INDOOR

BAB IV ANALISA HASIL SIMULASI

BAB IV ANALISA PERFORMANSI BWA

Pengukuran Coverage Outdoor Wireless LAN dengan Metode Visualisasi Di. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung


PERENCANAAN PENAMBAHAN ANTENA 3G SITE KKO USMAN BADARUDIN DI PT.TELKOMSEL DIVISI SERVICE QUALITY ASSURANCE

Analisa Perencanaan Indoor WIFI IEEE n Pada Gedung Tokong Nanas (Telkom University Lecture Center)

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Jurnal ICT Vol 3, No. 5, November 2012, hal AKADEMI TELKOM SANDHY PUTRA JAKARTA

PERANCANGAN PENGUATAN SINYAL INDOSAT MENGGUNAKAN REPEATER MICRO 3G REMOTEK DI PT. SICPA PERURI SEKURINK

TUGAS AKHIR MERCU BUANA

PERANCANGAN DAN REALISASI ANTENA BIQUAD YAGI DAN ANTENA BIQUAD OMNIDIRECTIONAL SEBAGAI REPEATER PASIF UNTUK MENINGKATKAN DAYA TERIMA SINYAL WCDMA

Planning cell site. Sebuah jaringan GSM akan digelar dikota Bandung Tengah yang merupakan pusat kota yang memiliki :

Universitas Kristen Maranatha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 3G/UMTS. Teknologi WCDMA berbeda dengan teknologi jaringan radio GSM.

BAB II PEMODELAN PROPAGASI. Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel

ANALISIS KUALITAS DAYA PANCAR ANTENA Tongyu TDQ DE-65F PADA BTS FLEXI MULTIRADIO (FMR) NOKIA SIEMENS NETWORKS (NSN)

DAFTAR SINGKATAN. xiv

BAB II LANDASAN TEORI

Wireless Communication Systems. Faculty of Electrical Engineering Bandung Modul 14 - Perencanaan Jaringan Seluler

Istilah istilah umum Radio Wireless (db, dbm, dbi,...) db (Decibel)

BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi peningkatan jumlah pengguna jaringan GSM (Global System for

BAB I PENDAHULUAN. Permasalahan pada sistem komunikasi nirkabel dan bergerak sangatlah kompleks

ANALISIS RSCP PADA HSDPA DAN HSUPA DI WILAYAH KOTA MALANG

Topologi WiFi. Topotogi Ad Hoc

BAB IV PERENCANAAN JARINGAN TRANSMISI GELOMBANG MIKRO PADA LINK SITE MRANGGEN 2 DENGAN SITE PUCANG GADING

OPTIMASI KUALITAS PENERIMAAN SINYAL DARI ANTENA NODE B PADA SISTEM UMTS 3G DENGAN PHYSICAL TUNING ABSTRAK

ANALISIS OPTIMALISASI JARINGAN 3G IBC (INDOOR BUILDING COVERAGE) DI PT.BINTANG SRIWIJAYA

BAB III PERENCANAAN REPEATER GSM DI GEDUNG GRAHA PDSI. berapa jarak maksimum yang dapat dicapai antara transmitter r

PERENCANAAN KEBUTUHAN NODE B PADA SISTEM UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM (UMTS) DI WILAYAH UBUD

BAB III. IMPLEMENTASI WiFi OVER PICOCELL

Rekayasa Elektrika. Unjuk Kerja Jaringan Seluler 2G dan 3G PT. XL Axiata di Area Jawa Tengah Bagian Utara setelah Proyek Swap dan Modernisasi

BAB III PROPAGASI GELOMBANG RADIO GSM. Saluran transmisi antara pemancar ( Transmitter / Tx ) dan penerima

BAB II KOMUNIKASI SELULER INDOOR. dalam gedung untuk mendukung sistem luar gedung (makrosel dan mikrosel

Analisa Unjuk Kerja Jaringan Operator 3G(WCDMA-UMTS) Menggunakan Metode Drivetest

BAB II KAJIAN PUSTAKA

OPTIMASI BTS MENGGUNAKAN ANTENA SEKTORAL SANDY KUSUMA/ UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

LINK BUDGET. Ref : Freeman FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO

BAB IV ANALISIS DAN HASIL PENELITIAN Analisis Hasil Pengukuran di Area Sekitar UMY

Materi II TEORI DASAR ANTENNA

Kata Kunci : Radio Link, Pathloss, Received Signal Level (RSL)

BAB IV ANALISIS KEGAGALAN KOMUNIKASI POINT TO POINT PADA PERANGKAT NEC PASOLINK V4

ANALISA PENYEBAB TERJADINYA GAGAL KONEKSI PADA JARINGAN 3G INDOSATM2 (STUDY KASUS BTS CITRALAND)

BAB III IMPLEMENTASI GLOBAL FREQUENCY PLANNING

Analisis Penataan Sel Untuk Layanan Sistem WCDMA di Area Jalan Tengah I Kerobokan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

BAB IV ANALISIS PERENCANAAN MINILINK ERICSSON

BAB III PERENCANAAN MINILINK ERICSSON

BAB III PERANCANGAN SISTEM

SIMULASI LINK BUDGET PADA KOMUNIKASI SELULAR DI DAERAH URBAN DENGAN METODE WALFISCH IKEGAMI

Perancangan Jaringan LTE (Long Term Evolution) Indoor di Gedung C Fakultas Teknik Universitas Riau

BAB IV HASIL DAN ANALISA

BAB IV ANALISIS DESKRIPTIF IMPLEMENTASI GFP

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

BAB II CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA) CDMA merupakan singkatan dari Code Division Multiple Access yaitu teknik

Simulasi Perencanaan Site Outdoor Coverage System Jaringan Radio LTE di Kota Bandung Menggunakan Spectrum Frekuensi 700 MHz, 2,1 GHz dan 2,3 GHz

BAB III PERENCANAAN DAN SIMULASI

# CDMA1900, khususnya kanal 12 untuk 3G/WCDMA. Dengan penataan ulang yang dilakukan oleh pihak regulator berdampak juga terhadap pengguna komunikasi s

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERANCANGAN JARINGAN INDOOR 4G LTE TDD 2300 MHZ MENGGUNAKAN RADIOWAVE PROPAGATION SIMULATOR

BAB II TEORI DASAR. Public Switched Telephone Network (PSTN). Untuk menambah kapasitas daerah

ANALISIS KUALITAS VOICE CALL PADA JARINGAN WCDMA DENGAN DRIVE TEST MENGGUNAKAN TEMS INVESTIGATION

Drive Test and RF Optimization Overview. Alfin Hikmaturokhman.,ST.,MT

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ABSTRACT. Keyword : GSM, 3G, Hierarchical Cell Structures (HCS)

PERBANDINGAN EFEKTIFITAS BTS BERBASIS ANTENA SINGLE- BAND DAN MULTI-BAND UNTUK MENDUKUNG KESTABILAN JARINGAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. digunakan adalah dengan melakukan pengukuran interference test yaitu

ANALISIS DROP CALL PADA JARINGAN 3G PADA BEBERAPA BASE STATION DI KOTA MEDAN

ANALISA IMPLEMENTASI GREEN COMMUNICATIONS PADA JARINGAN LTE UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI JARINGAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

E-Journal SPEKTRUM. Ida Bagus Ari Budiarta, Pande Ketut Sudiarta, IGAK. Diafari Djuni H. 1

Perancangan Jaringan Seluler 4G LTE Frekuensi MHz di Provinsi Papua Barat

Transkripsi:

BAB IV PERHITUNGAN EIRP SISTEM MULTI NETWORK 4.1 PERHITUNGAN EIRP JARINGAN IBS Dalam perencanaan jaringan indoor setiap operator mempunyai Key performance Index, maka dari itu berikut Tabel 4.1 Parameter KPI dalam mendesain jaringan indoor Tabel 4.1 Parameter KPI Indoor Design 2G 3G CDMA Building Type Rx Level Coverage (%) Rx Level Coverage (%) Rx Level Coverage (%) Air Ports -85 dbm 95-85 dbm 95-85 dbm 95 Mall -85 dbm 95-85 dbm 90-85 dbm 90 Convention -85 dbm 95-85 dbm 90-85 dbm 90 Center Hotel -85 dbm 95-85 dbm 90-85 dbm 90 Office Building -85 dbm 95-85 dbm 90-85 dbm 90 Other -85 dbm 95-85 dbm 90-85 dbm 90 Tabel diatas menerangkan kebutuhan KPI 2G, 3G dan CDMA standart Operator PT XL Axiata. setiap perangkat indoor building harus memenuhi KPI tersebut, KPI tersebut sudah memenuhi salah satu syarat (RSL > Rth) yaitu -85 dbm,, yang melebihi nilai sensitivitas perangkat penerima dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan tabel 4.4, beberapa tipe building terbagi menurut coverage area. Seperti telah diketahui sebelumnya bahwa perhitungan link budget di dalam gedung adalah penjumlahan dari TX Power BTS dengan penguatan antenna dikurangi dengan total rugi rugi (loss). Rugi- ruginya antara lain 59

seperti rugi-rugi kabel feeder, splitter, jumper dan daya lainnya yang digunakan pada infrastruktur jaringan di dalam gedung atu bangunan. Rugirugi yang ada dapat dihitung dengan cara melihat skematik diagram, dari diagram tersebut dapat diketahui detail infrastruktur jaringan di dalam suatu gedung seperti jenis dan panjang kabel feeder, jenis splitter, power tapper/coupler, jumper dan jenis antena yang digunakan. Dari itu semua dapat dihitung masing-masing dan total rugi-rugi yang digunakan untuk perhitungan link budget pada setiap antena di gedung IKEA Tangerang. Perhitungan link budget yang akan dilakukan pada pembahasan ini yaitu pada lantai 1 (level 1) ada 4 antena yang akan di analisa yaitu (A-L1-18, A-L1-19, A-L1-20 dan A-L1-21) menunjukkan lokasi letak nomor antenna (dapat dilihat pada gambar 4.1) pada ke empat antenna tersebut akan membuktikan perbedaan luas cakupan dari ke dua sistem Untuk memperoleh hasil perhitungan tersebut ada beberapa tahapan-tahapan sebagai berikut yang harus di perhatikan. Pengumpulan data matrial list keempat antenna tersebut : a) Panjang kabel feeder (coaxial cabel ) yang di butuhkan b) Conector yang di butuhkan c) Jumper yang dibutuhkan d) Tapper yang dibutuhkkan e) Splitter yang dibutuhkan f) Multi combiner Berikut Tabel 4.2 yang menunjukkan kebutuhan material list dan Tabel 4.3 parameter link budget uplink, Tabel 4.4 Parameter link budget downlink yang digunakan dalam perhitungan. 60

Tabel 4.2 Material List Material List A-L1-18 A-L1-19 A-L1-20 A-L1-21 Feeder ½ 14 5 16 13 Feeder 7/8 30 20 0 30 Feeder 1 ¼ 150 180 150 150 Jumper 7 6 6 7 Connector 8 6 6 8 Tapper 7 db 1 0 1 1 Coupler 10 db 1 0 1 1 Splitter 2 way 1 2 2 1 Splitter 4 way 1 1 0 1 QBC 1 1 1 1 MCM 1 1 1 1 Tabel 4.3 Parameter link budget uplink Parameter 2G 3G UPLINK Loss(dB) Loss(dB) Frequency 1800 MHz 2100 MHz TX Node B Power 30 21 TX antenna Gain 0 0 Body Loss 3 3 EIRP 27 18 Rx Sensitivity -110-123.5 RX Antena Gain 3 3 Body Loss 0 0 Interference Margin 3 3 Minimum RX Level -110-123.5 61

Tabel 4.4 Parameter link budget downlink Parameter 2G 3G Downlink Loss(dB) Loss(dB) Frequency 1800 MHz 2100 MHz Threshold of area -85-85 Area Probability 95 90 Edge probability 87.15 % 75.80 % Shadowing Margin 10.2 6.3 Body Loss 3 3 Coverage Threshold -74.8-78.8 TX Node B Power 39 33 TX Antena Gain 3 3 RX Sensitivity -102-113.8 RX Antena Gain 0 0 Body Loss 3 3 Interference Margin 3 3 Dari data-data tersebut akan di peroleh nilai EIRP pada link budget masing masing sistem jaringan. 4.1.1 PERHITUNGAN LINK BUDGET DCS 1800 Berikut perhitungan masing masing antenna pada sistem 2G (1800), pada perhitungan EIRP pada sisi transmitter 4.1.1.1 Perhitungan EIRP (Transmitter) DCS 1800 Dengan menggunakan persamaan berikut kita mengetahui nilai EIRP, terlebih dahulu kita mencari nilai loss pada masing masing antenna, EIRP = Tx Power (dbm) + Antenna Gain (db) - loss 62

Berikut perhitungannya : a. A-L1-18 Total loss = ((-0.0996) x(14)) + ((-0.0563)x(30)) + ((-0.0415) x (150)) + ((-0.26) x (7)) + ((-0.1) x (8)) + ((-1.05) x (1)) + ((-0.45) x (1) + ((-3.3) x (1)) + ((-6.3) x (1)) + ((-0.3) x (1)) + ((-6.1) x(1)) = -29.43 db b. A-L1-19 Total loss = ((-0.0996)x(5)) + ((-0.0563)x(20)) + ((-0.0415) x (180)) + ((-0.26) x (6)) + ((-0.1) x (6)) + ((-3.3) x (2)) + ((-6.3) x (1)) + ((-0.3) x (1)) + ((-6.1) x (1)) = -30.55 db c. A-L1-20 Total loss = ((-0.0996)x(16)) + ((-0.0563)x(0)) + ((-0.0415) x (150)) + ((-0.26) x (6)) + ((-0.1) x (6)) + ((-7.05) x (1)) + ((-0.45 ) x (1)) + ((-3.3) x (2)) + ((-0.3) x (1)) + ((-6.1) x (1)) = -30.48 db d. A-L1-21 Total loss = ((-0.0996)x(13))+((-0.0563)x(30))+((-0.0415)x(150))+((- 0.26) x(7))+((-0.1) x (8)) + ((-1.05) x (1)) + ((-0.45)x(1))+((- 3.3) x (1)) + ((-6.3) + (1))+ ((-0.3) x (1)) + ((- 6.1) x (1)) 63

= -29.33 db Total EIRP dari 4 Antena tersebut adalah a. A-L1-18 = 38 dbm + 4 db + (-29.43) db = 12.6 dbm b. A-L1-19 = 38 dbm + 4 db + (-30.55) db = 11.04 dbm c. A-L1-20 = 38 dbm + 4 db + (-30.48) db = 11.5 dbm d. A-L1-21 = 38 dbm + 4 db + (-29.33) db = 12.7 dbm 4.1.1.2 Perhitungan Maximum useful Pathloss (Downlink) DCS1800 Persamaan berikut adalah untuk menghitung nilai maksimum pathloss pada sisi downlink untuk mengetahui nilai pathloss tersebut, terlebih dahulu menghitung nilai minimum Rx Level Lmax (DL) = EIRP (Min Rx Lev) + (Min Rx Level Coverage Threshold) a. A-L1-18 Min Rx Level = Rx Sensitvity (Rx Antena Gain) + Body Loss + Interference margin = (-102.0) dbm 0 db + 3 db + 3 db = -96 dbm 64

Coverage Threshold = Threshold Area + Shadowing Margin = -85 dbm + 10.2 db = -74.80 dbm Lmax (DL) = 12.6 dbm (-96)dBm + ((-96)dBm- (-74,80)) dbm = 12.6 dbm + 96 dbm 96 dbm + 74,80 dbm = 87.37 dbm b. A-L1-19 Min Rx Level = Rx Sensitifty (Rx Antena Gain) + Body Loss + Interference Margin = (-102.0) dbm 0 db + 3 db + 3 db = -96 dbm Coverage Threshold = Threshold Area + Shadowing Margin = -85 dbm + 10.2 db = -74.80 dbm Lmax (DL) = 11.4 dbm (-96)dBm + ((-96)dBm- (-74,80)) dbm = 11.4 dbm + 96 dbm 96 dbm + 74,80 dbm = 86.24 dbm c. A-L1-20 Min Rx Level = Rx Sensitifty (Rx Antena Gain) + Body Loss + Interference Margin = (-102.0) dbm 0 db + 3 db + 3 db 65

= -96 dbm Coverage Threshold = Threshold Area + Shadowing Margin = -85 dbm + 10.2 db = -74.80 dbm Lmax (DL) = 11.5 dbm (-96)dBm + ((-96)dBm- (-74,80)) dbm = 11.5 dbm + 96 dbm 96 dbm + 74,80 dbm = 86.32 dbm d. A-L1-21 Min Rx Level = Rx Sensitifty (Rx Antena Gain) + Body Loss + Interference Margin = (-102.0) dbm 0 db + 3 db + 3 db = -96 dbm Coverage Threshold = Threshold Area + Shadowing Margin = -85 dbm + 10.2 db = -74.80 dbm Lmax (DL) = 12.7 dbm (-96)dBm + ((-96)dBm- (-74,80)) dbm = 12.7 dbm + 96 dbm 96 dbm + 74,80 dbm = 87.47 dbm 66

4.1.1.3 Perhitungan Maximum useful Pathloss (Uplink) DCS1800 Persamaan berikut adalah untuk menghitung nilai maximum pathloss pada sisi uplink, untuk mengetahui nilai pathloss tersebut, terlebih dahulu menghitung nilai minimum Rx level a.. A-L1-18 Lmax (UL) = EIRP (BTS) (Minimum Rx level ) Min Rx Lev = Rx Sensitifity ( Rx Antena Gain ) + Body loss + Interference Margin = -110 (3) db + 0 db + 3 db = -110 dbm EIRP (BTS) = Tx Tower BTS + Body Loss = 30 dbm 3 dbm = 27 dbm Lmax (UL) = 27 dbm (-110) dbm = 137 dbm b. A-L1-19 Lmax (UL) = EIRP (BTS) (Minimum Rx level )) Min Rx Lev = Rx Sensitifity ( Rx Antena Gain ) + Body loss + Interference Margin = -110 (3) db + 0 db + 3 db = -110 dbm 67

EIRP (BTS)= Tx Tower BTS + Body Loss = 30 dbm 3 dbm = 27 dbm Lmax (UL) = 27 dbm (-110) dbm = 137 dbm c. A-L1-20 Lmax (UL) = EIRP (BTS) (Minimum Rx level ) Min Rx Lev = Rx Sensitifity ( Rx Antena Gain ) + Body loss + Interference Margin = -110 (3) db + 0 db + 3 db = -110 dbm EIRP (BTS) = Tx Tower BTS + Body Loss = 30 dbm 3 dbm = 27 dbm Lmax (UL) = 27 dbm (-110) dbm = 137 dbm d. A-L1-21 Lmax (UL) = EIRP (BTS) (Minimum Rx level ) Min Rx Lev = Rx Sensitifity ( Rx Antena Gain ) + Body loss + Interference Margin 68

= -110 (3) db + 0 db + 3 db = -110 dbm EIRP (BTS) = Tx Tower BTS + Body Loss = 30 dbm 3 dbm = 27 dbm Lmax (UL) = 27 dbm (-110) dbm = 137 dbm 4.1.1.4 Perhitungan Cell Radius DCS1800 Pada persamaan di bawah ini merupakan perhitungan untuk mengetahui nilai radius sel pada masing-masing antenna, dimana masingmasing antenna mempunyai coverage berbeda-beda pada sistem 2G (1800 MHz) a. A-L1-18 Dengan ketentuan Rx Lev dari Operator sebesar -80 dbm, maka di dapat cakupan : (EIRP fading bodyloss RxLev 20 log( d = 10 IBLF 4πf c ) ) d 12.6 5 3+80 20log (4πf c = 10 ) 34.8 b. A-L1-19 = 22.5 m d = 10 11.4 3+80 20log (4πf c ) 34.8 69

c. A-L1-20 = 20.8 m d 11.5 5 3+80 20log (4πf c = 10 ) 34.8 d. A-L-2-4 = 20.9 m d 12.7 5 3+80 20log (4πf c = 10 ) 34.8 = 22.6 m 4.1.2 Perhitungan Link Budget UMTS 2100 Berikut perhitungan masing masing antenna pada sistem UMTS 2100, pada perhitungan EIRP pada sisi transmitter 4.1.2.1 Perhitungan EIRP (Transmitter) UMTS2100 Dengan menggunakan persamaan berikut, kita mengetahui nilai EIRP, terlebih dahulu kita mencari nilai loss pada masing masing antenna, EIRP = Tx Power (dbm) + Antenna Gain (db) - loss Berikut perhitungannya : a. A-L1-18 Total Loss = ((-0.109)x(14)) + ((-0.0615)x(30)) + ((-0.0455) x (150)) + ((-0.26) x (6) + ((-0.1) x (8)) + ((-1.05) x (1)) + ((-0.45) x (1) + ((6.3) x (1)) + ((-0.3) x (1)) + ((-6.1) x (1)) = -26.76 db 70

b. A-L1-19 Total Loss = ((-0.109)x(5)) + ((-0.0615)x(20)) + ((-0.0455) x (180)) + ((- 0.26) x (5) + ((-0.1) x (6)) + ((-3.3) x (1)) + ((-6.3) x (1)) + ((- 0.3) x (1)) + ((-6.1) x (1)) = -27,87 db c. A-L1-20 Total Loss = ((-0.109)x(5)) + ((-0.0615)x(30)) + ((-0.0455) x (240)) + ((- 0.26) x (5) + ((-0.1) x (6)) + ((-7.05) x (1)) + ((-0.45) x (1) + ((- 3.3) x (1)) + ((-0.3) x (1)) + ((-6.1) x (1)) = -27.67 db d. A-L1-21 Total Loss = ((-0.109)x(13)) + ((-0.0615)x(30)) + ((-0.0455) x (150)) + ((- 0.26) x (5) + ((-0.1) x (8)) + ((-1.05) x (1)) + ((-0.45) x (1) + ((-6.3) x (1)) + ((-0.3) x (1)) + ((-6.1) x (1)) = 26.65 db Total EIRP dari 4 Antena tersebut adalah a. A-L1-18 = 33 dbm + 4 db + (-26.76) db = 10.2 dbm b. A-L1-18 = 33 dbm + 4 db + (-27.87) db = 9.1 dbm c. A-L1-19 = 33 dbm + 4 db + (-27.67) db =9.3 dbm 71

d. A-L1-20 = 33 dbm + 4 db + 26,65) db = 10.4 dbm 4.1.2.2 Perhitungan Maximum useful Pathloss (Downlink) UMTS2100 Persamaan berikut adalah untuk menghitung nilai maksimum pathloss pada sisi downlink, untuk mengetahui nilai pathloss tersebut, terlebih dahulu menghitung nilai minimum Rx Level Lmax (DL) = EIRP (Min Rx Lev) + (Min Rx Level Coverage Threshold) a. A-L1-18 Min Rx Level = Rx Sensitifty (Rx Antena Gain) + Body Loss + Interference Margin = (-113.8) dbm 0 db + 3 db + 3 db = -107.8 dbm Coverage Threshold = Threshold Area + Shadowing Margin = -85 dbm + 6.3 db = -78.7 dbm Lmax (DL) = 10.2 dbm (-96)dBm + ((-96)dBm- (-74,80)) dbm = 10.2 dbm + 96 dbm 96 dbm + 74,80 dbm = 85.04 dbm b. A-L1-19 Min Rx Level = Rx Sensitifty (Rx Antena Gain) + Body Loss + Interference Margin 72

= (-113.8) dbm 0 db + 3 db + 3 db = -107.8 dbm Coverage Threshold = Threshold Area + Shadowing Margin = -85 dbm + 6.3 db = -78.7 dbm Lmax (DL) = 9.1 dbm (-96)dBm + ((-96)dBm- (-74,80)) dbm = 9.1 dbm + 96 dbm 96 dbm + 74,80 dbm = 83.93 dbm c. A-L1-20 Min Rx Level = Rx Sensitifty (Rx Antena Gain) + Body Loss + Interference Margin = (-113.8) dbm 0 db + 3 db + 3 db = -107.8 dbm Coverage Threshold = Threshold Area + Shadowing Margin = -85 dbm + 6.3 db = -78.7 dbm Lmax (DL) = 9.3 dbm (-96)dBm + ((-96)dBm- (-74,80)) dbm = 93 dbm + 96 dbm 96 dbm + 74,80 dbm = 84.13 dbm 73

d. A-L1-21 Min Rx Level = Rx Sensitifty (Rx Antena Gain) + Body Loss + Interference Margin = (-113.8) dbm 0 db + 3 db + 3 db = -107.8 dbm Coverage Threshold = Threshold Area + Shadowing Margin = -85 dbm + 6.3 db = -78.7 dbm Lmax (DL) = 10.4 dbm (-96)dBm + ((-96)dBm- (-74,80)) dbm = 10.4 dbm + 96 dbm 96 dbm + 74,80 dbm = 85.15 dbm 4.1.2.3 Perhitungan Maximum useful Pathloss (Uplink) UMTS2100 Persamaan berikut adalah untuk menghitung nilai maximum pathloss pada sisi uplink, untuk mengetahui nilai pathloss tersebut, terlebih dahulu menghitung nilai minimum Rx level a.. A-L1-18 Lmax (UL) = EIRP (BTS) (Minimum Rx level ) Min Rx Lev = Rx Sensitifity ( Rx Antena Gain ) + Body loss + Interference Margin = -123.5 (3) dbi + 0 db + 3 db = -123.5 dbm 74

EIRP (BTS) = Tx Tower BTS + Body Loss = 21 dbm 3 dbm = 18 dbm Lmax (UL) = 18 dbm (-123,5) dbm = 141.5 dbm b. A-L1-19 Lmax (UL) = EIRP (BTS) (Minimum Rx level ) Min Rx Lev = Rx Sensitifity ( Rx Antena Gain ) + Body loss + Interference Margin = -123.5 (3) dbi + 0 db + 3 db = -123.5 dbm EIRP (BTS) = Tx Tower BTS + Body Loss = 21 dbm 3 dbm = 18 dbm Lmax (UL) = 18 dbm (-123,5) dbm = 141.5 dbm c. A-L1-20 Lmax (UL) = EIRP (BTS) (Minimum Rx level ) Min Rx Lev = Rx Sensitifity ( Rx Antena Gain ) + Body loss + Interference Margin 75

= -123.5 (3) dbi + 0 db + 3 db = -123.5 dbm EIRP (BTS) = Tx Tower BTS + Body Loss = 21 dbm 3 dbm = 18 dbm Lmax (UL) = 18 dbm (-123,5) dbm = 141.5 dbm d. A-L1-21 Lmax (UL) = EIRP (BTS) (Minimum Rx level ) Min Rx Lev = Rx Sensitifity ( Rx Antena Gain ) + Body loss + Interference Margin = -123.5 (3) dbi + 0 db + 3 db = -123.5 dbm EIRP (BTS) = Tx Tower BTS + Body Loss = 21 dbm 3 dbm = 18 dbm Lmax (UL) = 18 dbm (-123,5) dbm = 141.5 dbm 76

4.1.2.4 Perhitungan Cell Radius UMTS2100 Pada persamaan di bawah ini merupakan, perhitungan untuk mengetahui nilai radius cell pada masing-masing antena, dimana masingmasing antena mempunyai coverage berbeda-beda pada sistem 3G (2100 MHz a. A-L1-18 d d 10.2 5 3+85 20 log(4πf c = 10 ) 38 = 18.7 m b. A-L1-19 9.1 5 3+85 20log (4πf c d = 10 ) 38 d = 17.5 m c. A-L1-20 9.3 5 3+85 20log (4πf c d = 10 ) 38 d = 17.7 m d. A-L1-21 d 10.4 5 3+85 20log (4πf c = 10 ) 38 d = 18.9 m 77

4.2 ANALISA EIRP (EFFECTIVE ISOTROPIC RADIATED POWER) berikut adalah gambaran sketsa Lantai 1 dalam perhitungan diatas Gambar 4.1 Skema Lantai 1 Gedung IKEA Tangerang Yang ditandai dengan lingkaran merah adalah peletakan antena di dalam gedung lantai 1 pada A-L1-18, A-L1-19, A-L1-20, dan A-L1-21. telah dijelaskan bahwa perhitungan link budget di dalam gedung pada dasarnya adalah menghitung radiasi efektif dari antena isotropic atau EIRP. EIRP menyatakan daya radiasi maksimum yang dipancarkan sebuah antena relative terhadap daya antena isotropic. Antena isotropik merupakan antena ideal dengan radiasi daya yang sama ke segala arah. menggunakan rumus penjumlahan dari Tx Power BTS dengan penguatan antenna dikurangi dengan total loss. Rugi rugi yang dimaksud adalah penggunaan material yang diimplentasikan pada infrastuktur jaringan didalam gedung/bangunan. Rugi rugi yang ada didapat dihitung dengan cara melihat skema diagram (diagram dapat dilihat di bab sebelumnya). 78

Dari perhitungan diatas tersebut terlihat bahwa hal pertama yang kita lakukan adalah perhitungan loss maka dapat dihitung nilai dari kuat sinyal pada ke empat lantai. Dan selanjutnya didapat nilai luas cakupannya. Nilai min EIRP adalah 5 dbm, jika nilai EIRP yang kita peroleh belum mencapai nilai yang tidak diinginkan maka harus dilakukan tahap perencanaan ulang dengan merubah peralatan yang akan dipakai (desain penentuan antena, pemilihan topologi dan jalur kabel serta pengunaan tipe splitter). Dan merubah skematik diagramnya sampai diperoleh Tabel link budget yang diinginkan. dari hasil perhitungan.berikut adalah hasil perbandingan pada masing masing sistem dalam perangkat, ditunjukkan pada Tabel 4.5 Tabel 4.5 Hasil Perhitungan sample antena ke dua sistem multi network Band 1800 2100 A-L1-18 A-L1-19 A-L1-20 A-L1-21 A-L1-18 A-L1-19 A-L1-20 A-L1-21 Penomoran Antenna Total Loss -29.43-30.55-30.48-29.33-26.76-27.87-27.67-26.65 EIRP (dbm) 12.6 11.4 11.5 12.7 10.2 9.1 9.3 10.4 Lmax Downlink (dbm) 87.37 86.24 86.32 87.47 85.04 83.93 84.13 85.15 Lmin Uplink (dbm) 137 137 137 137 141.5 141.5 141.5 141.5 Radius Cell) 22.5 20.8 20.9 22.6 18.7 17.5 17.7 18.9 Nilai EIRP yang telah dilakukan dihasilkan nilai maximum dan nilai minimum dari keseluruhan antenna dan berikut hasil dari perhitungan maximum dan minimum pada Tabel 4.6 79

Tabel 4.6 Nilai Max Min nilai EIRP kedua sistem pada lantai 1 DCS 1800 Eirp Min 11.4 dbm A-L1-19 Eirp Max 12.7 dbm A-L1-21 UMTS 2100 Eirp Min 9.1 dbm A-L1-19 Eirp Max 10.4 dbm A-L1-21 Tabel 4.7 Nilai Max Min Nilai EIRP kedua Sistem dari seluruh antena DCS 1800 Eirp Min 7.32 dbm A-LG-35 Eirp Max 19.83 dbm A-LG-7 UMTS 2100 Eirp Min 5.04 dbm A-L2-3 Eirp Max 18.83 dbm A-LG-7 Dari hasil perhitungan diatas dapat dilihat dengan menggunakan multi network, hasil EIRP nya berbeda. Nilai EIRP UMTS 2100 merupakan yang paling kecil nilainya dibandingkan dengan sistem DCS1800. Semakin panjang kabel yang dipergunakan akan semakin besar loss yang terjadi. Agar nilai EIRP dapat meningkat atau mendekati nilai EIRP DCS1800 operator perlu mendesain ulang jaringan distribusi antena dengan cara menganti kabel feeder dan splitter dengan nilai rugi-rugi (loss) yang lebih kecil ataupun menganti jenis antena yang digunakan dengan gain yang tinggi atau solusi untuk meminimaliskan pemakaian kabel adalah dengan penembatan BTS diusahakan terletak pada bagian tengah gedung atau lantai pertengahan. Sehinggal jalur panjang kabel yang mendistribusikan antena ke lantai bagian atas dan bagian bawah akan relative sama panjang. Hasilnya selain pemakaian 80

kabel yang efesien dapat meminimalkan budget yang dikeluarkan. Peletakkan titik antena pada lantai 1 akan dipasang antena baru setelah mempertimbangkan hasil walk test. 4.3 ANALISA HASIL WALK TEST 2G Tabel 4.8 Parameter Cakupan Area Item Target Achievement Signal strength is greater than 80 dbm ( RxLev> -80 dbm) > 95 % 100% Rx Quality 0 4 > 85 % 99.60% Rx Quality 5 < 10 % 0.20% Rx Quality 6 7 < 5 % 0.20% Successful handover between indoor cell and another cell Good Good Allocation Frequency Good Good Berikut hasil data walktest pada lantai 1 yang dilakukan sebelum diadakannya penambahan kapasitas dari BTS dengan menggunakan TEMS Investigation agar dapat diketahui cell mana yang perlu ditambah kapasitasnya Gambar 4.2 Hasil Walk Test 2G sebelum penambahan Antenna 81

Standart yang digunakan dalam pengukuran Rx level di PT XL Axiata untuk nilai Rx level>-80 dbm dengan target > 95 %. Dari gambar diatas adalah hasil walk test yang terjadi pada lantai 1 menunjukkan jumlah plot terbanyak berada di warna kuning yang menyatakan kuat sinyal sedang yang mendominasi berada di level -90 to -80, tetapi terdapat hasil Rx baik ditandai dengan warna biru muda, dapat kemungkinan adalah signal dari channel outdoor karena pada lantai tersebut belum adanya antena exisitng. Jumlah plot berwarna merah sebanyak 70 plot. Untuk mengetahui lebih detail nilai level sinyal di lantai 1 dapat dilihat dari Tabel 4.9 di bawah ini Tabel 4.9 Rx level lantai 1 RX LEVEL (dbm) Value > -80 dbm (%) 17 > -115 dbm (%) 83 TOTAL (%) 100 Pada Tabel 4.9 diatas mempelihatkan kualitas jaringan di lantai 1 tidak memenuhi standart spesifikasi indoor coverage. Dengan menganalisa hasil pengukuran Rx level untuk lantai 1 yang dimana nilai Rx level > -80 dbm adalah hanya 17 % dan kuat sinyal > -115 lebih besar yaitu 83 %,dan di bandingkan dengan parameter Key Performance Indikator (KPI) untuk nilai level > -80 dbm seharunya target 95 % maka hasil dari walk test sangat jauh dari target kuat sinyal. Maka untuk lantai 1 sangat layak untuk dilakukan optimasi jaringan baru dengan cara menambahkan titik titik antena di lantai 1. 82

Gambar 4.3 Hasil walk test 2G sesudah penambahan anten 83

Dari hasil walk test sebelumnya dapat diketahui bahwa permasalahan yang terjadi kuat sinyal target yang dihasilkan hanya 17 %, setelah dilakukan implementasi penambahan 50 antena pada lantai 1 maka dapat dilihat perbedaanya antara sebelum dan sesudah sehingga kuat sinyal yang buruk dapat dihindari yaitu dengan plot warna biru mendominasi ruangan di interval -10 sampai -50. Dengan mengunakan 2 MS dalam melakukan walk test dihasilkan ARFCN 526 mendominasi kuat sinyal di -35 dan -36 db. Dan tidak terjadinya handover (perebutan kekuatan dari signal dalam dan luar) di lantai 1 karena signal indoor lebih kuat daripada channel outdoor. 4.3 ANALISA HASIL WALK TEST 3G Tabel 4.10 Summary of the Whole Coverage Area Item Target Achievement Signal strength is greater than 85 dbm (SAN CPICH RSCP > -85 dbm) > 95 % 100 AS CPICH Ec/No 0 9 > 85 % 100 AS CPICH Ec/No 9 12 < 10 % 0 AS CPICH Ec/No 12 15 < 5 % 0 Successful handover between indoor cell and another cell Good Good Allocation Frequency Good Good Berikut hasil data walktest pada lantai 1 84

Gambar 4.4 Hasil walk test 3G sebelum penambahan antena Standart yang digunakan dalam pengukuran Kuast Sinyal di PT XL Axiata untuk nilai RSCP >-85 dbm dengan target > 95 %. Dari gambar diatas adalah hasil walk test yang terjadi pada lantai 1 menunjukkan jumlah plot terbanyak berada di warna coklat yang menyatakan kuat sinyal sedang yang mendominasi berada di level -100 to -90. Jumlah plot berwarna merah sebanyak 231 plot menyatakan kuat sinyal sangat buruk. Untuk mengetahui lebih detail nilai level sinyal di lantai 1dapat dilihat dari Tabel 4.11 di bawah ini. Tabel 4.11 Rx level lantai 1 RSCP (dbm) Value > -85 dbm (%) 0.4 > -115 dbm (%) 100 TOTAL (%) 100 85

Pada Tabel 4.11 diatas mempelihatkan kualitas jaringan di lantai 1 tidak memenuhi standart spesifikasi indoor coverage. Dengan menganalisa hasil pengukuran RSCP untuk lantai 1 yang dimana nilai RSCP > -85 dbm adalah 0.4 % dan RSCP > -115 dbm menghasilkan 83 % dan Parameter Key Performance Indikator (KPI) untuk nilai level > -85 dbm dengan target kuat sinyal 95 % sangat jauh dari yang diharapkan maka untuk lantai 1 sangat layak untuk dilakukan optimasi jaringan baru dengan cara menambahkan titik titik antena. 86

Gambar 4.5 Hasil walk test 3G sesudah penambahan antena Dari hasil walk test yang dilakukan pada lantai 1 dapat kita lihat perbedaan nya antara sebelum dan sesudah ditambah kapasitasnya yaitu dengan menambahkan antena baru sehingga level warna biru dan hijau mendominasi ruangan di interval Dengan mengunakan 2 MS dalam melakukan walk test mendominasi kuat sinyal di -33 db 87

4.5 PERBANDINGAN HASIL ANALISA WALK TEST BEFORE DAN AFTER Hasil perbandingan hasil walk west sebelum dilakuakan implementasi dan setelah dilakukan implentasi Tabel 4.12 Hasil Perbandingan Walk Test Before seluruh lantai PARAMETER 2G DCS1800 3G UMTS 2100 Name of Floor Name of Floor PARAMETER Basement LG 1st 2 nd Basement LG 1st 2nd RX LEVEL SUB (dbm) DEDICATED MODE RSCP DEDICATED MODE > -80 dbm (%) 15.13 18 17 40 > -85 dbm (%) 0.09 0.9 0.4 0 > -115 dbm (%) 84.86 82 83 60 > -115 dbm (%) 99.9 99 100 100 TOTAL (%) 100 100 100 100 TOTAL (%) 100 100 100 100 RX LEVEL SUB (dbm) IDLE MODE RSCP IDLE MODE > -80 dbm (%) 97.33 72 91 84 > -85 dbm (%) 0.16 5.8 0 0.2 > -115 dbm (%) 2.66 28 8.6 16 > -115 dbm (%) 99.83 94 100 100 TOTAL (%) 100 100 100 100 TOTAL (%) 100 100 100 100 Tabel 4.13 Hasil % Perbandingan Walk Test Before seluruh lantai GSM Idle Mode Hasil Perbandingan Walk Test Before seluruh lantai 2G DCS1800 3G UMST 2100 ITEM RESULT ITEM RESULT WCDMA IDLE RxLevel sub > -75 dbm 88,26% RSCP > -85 dbm 0,75% GSM Dedicated Mode WCDMA DEDICATED RxLevel sub > -75 dbm 21,38% RSCP > -85 dbm 0,34% 88

Pada tabel 4.12 dan Tabel 4.13 dapat lihat hasil walk test sebelum dilakukan implementasi pada gedung IKEA Tangerang, Hasil kuat sinyal yang dihasilkan sangat buruk dilihat dari cakupan kuat sinyal Tabel 4.14 Hasil Perbandingan Walk Test after seluruh lantai Test No. Hasil Perbandingan Walk Test After seluruh lantai Floors RxLev SAN CPICH RSCP > -85 dbm > -85 dbm ( % ) ( % ) 1 Basement Floor 100 100 2 G Floor 100 100 3 1 st Floor 100 100 4 2 nd Floor 100 100 4.6 PENEMPATAN ANTENNA DI LANTAI 1 Penempatan antena untuk lantai 1 akan di pasang antena dengan titiktitik baru, dengan mempertimbangkan hasil walk test yang sudah dilakukan. Area yang di cover oleh BTS indoor tidak mampu melayani seluruh area di lantai 1 sehingga perlu ditambahkan sumber sinyal baru untuk area yang masih di cover oleh sinyal outdoor. Dalam menentukan penempatan titik antena diambil dari perhitungan cell radius yang sudah dilakukan. Jarak coverage dari antena dipengaruhi oleh besarnya EIRP semakin besar nilai EIRP maka jarak cakupan jangkauan antena semakin jauh, dari perhitungan jari-jari cakupan area yang telah dilakukan maka dapat digunakan untuk perencanaan penempatan titik antena, walaupun dilapangan terkadang harus melihat situasi. Pengalaman pemilik atau pengelolah dari gedung yang ingin diimplentasi antena menginginkan peletakan antena tidak merusak pemandangan dan sesuai prosedur gedung tersebut. 89

4.7 ANALISA JARAK CAKUPAN Agar sistem dapat dintegrasikan selain melihat kesiapan dari sisi equipment seperti kabel-kabel feeder dan antena omni yang digunakan. Juga perlu dianalisis apakah dengan antenna yang sudah ada di lantai 1 tersebut mencukupi untuk kebutuhan coverage area. Ada beberapa cara yang bisa digunakan antara lain dilihat dari sisi jarak cakupan atau luas cakupan dan sisi nilai EIRP. Dari hasil perhitungan jarak cakup yang sudah dilakukan dapat diperkirakan apakah antenna yang sudah dipasang mencukupi untuk kebutuhan coverage sistem. Pada lantai 1 terdapat 50 antena, akan di ambil sample 4 antena sesuai perhitungan 4.7.1 LUAS CAKUPAN DCS1800 1. A-L1-18 Dengan jarak cakup (d) = 18.7 m ; didapat luas cakupan = (18.7) 2 π = 1098.58 m 2 2. A-L1-19 Dengan jarak cakup (d) = 17,5 m ; didapat luas cakupan = (17.5) 2 π = 962.11 m 2 3. A-L1-20 Dengan jarak cakup (d) = 17.7 m ; didapat luas cakupan = (17.7) 2 π = 984.22 m 2 4. A-L1-21 Dengan jarak cakup (d) = 18.9 ; didapat luas cakupan = (18.9) 2 π = 1122.2 m 2 Maka total luas cakupan yang dapat dijangkau oleh 50 antena untuk sistem DCS 1800 adalah total = 122.197 m 2. Dengan nilai total luas tersebut 90

terlihat bahwa dengan jumlah antena yang sudah ada pada lantai 1 sudah sangat mencukupi untuk kebutuhan coverage sistem DCS1800 4.7.2 LUAS CAKUPAN UMTS2100 1. A-L1-18 Dengan jarak cakup (d) = 22.5 m ; didapat luas cakupan = (22.5) 2 π = 1590,42 m 2 2. A-L1-19 Dengan jarak cakup (d) = 20.8 m ; didapat luas cakupan = (20.8) 2 π = 1359.17 m 2 3. A-L1-20 Dengan jarak cakup (d) = 20.9 m ; didapat luas cakupan = (20.9) 2 π = 1372.27 m 2 4. A-L1-21 Dengan jarak cakup (d) = 22.6m ; didapat luas cakupan = (22.6) 2 π = 1604.59 m 2 Maka total luas cakupan yang dapat di jangkau oleh 50 antena adalah total = 78.322.41m 2. Dengan nilai total luas tersebut terlihat bahwa dengan jumlah antena yang sudah ada pada lantai 1 sudah sangat mencukupi untuk kebutuhan coverage sistem UMTS 2100. 4.8 PERBANDINGAN MATERIAL DESAIN DAN ACTUAL Tabel 4.15 Perbandingan Desain dan Actual Implentasi Item Desain Actual (claimed by vendor) Remarks Antena Omni (pcs) 167 167 Done 100% installed Feeder 7/8 " (m) 4500 4278 Done 100% installed Feeder 1 1/4 " (m) 2700 2575 Done 100% installed Feeder 1/2 " (m) 2600 2455 Done 100% installed Cable Tray (m) 175 232 Done 100% installed Jumper (pcs) 155 280 Done 100% installed 91

Splitter (pcs) 75 82 Done 100% installed Combiner (pcs) 6 6 Done 100% installed Dari hasil planning yang dilakukan di gedung Ikea Tangerang, Perbandingan seluruh material dalam desain dan actual yang digunakan tidak terlalu jauh jumlah perbedaannya seperti pada Tabel 4.15. Dalam hal ini instalasi yang dilakukan done 100 % berhasil di gedung IKE Tangerang. Tabel 4.16 Grafik Perbandingan Desain dan Actual Implentasi 5000 4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 Desain Actual (claimed by vendor) Penggunaan feeder 7/8 menjadi komponen terbesar pengunaan material dalam sistem multi network untuk mendapatkan performansi yang baik. Pemilihan dan pengunaan tipe kabel feeder juga dapat mempengaruhi EIRP yang dihasilkan. Untuk melakukan efisiensi, maka perencanaan dan desain yang akurat dari pemakaian panjang kabel dan pemakaian banyaknya antena akan sangat mempengaruhi biaya investasi kedepan. Berikut Tabel 4.17 untuk cost kabel feeder yang digunakan Di dalam BOQ tersebut cost feeder 1 ¼ lebih mahal daripada feeder 7/8 dan ½. Tetapi karena jumlah feeder 7/8 lebih banyak sehingga cost nya lebih besar 92

Tabel 4. 17 Tabel Cost Kabel Feeder Material Unit Qty Cost (IDR) Total Cost (IDR) 1/2" Feeder Cable m' 2455 27,000 66,285,000 7/8" Feeder Cable m' 4278 55,000 235,290,000 1 1/4" Feeder Cable m' 2575 90,000 231,750,000 Untuk mengurangi cost yang keluar. Alternatif yang digunakan adalah mengunakan feeder ½ karena harga nya lebih murah. Artinya dengan mengunakan feeder ½ dapat dilakukan penghematan 30-40 % dibandingkan dengan kabel feeder 7/8 untuk biaya investasi ke depan. 93