BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
|
|
|
- Liana Verawati Jayadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS 4.1. Hasil Penelitian dan Pengujian Jaringan 4G Pengukuran jaringan 4G LTE di frekuensi 1800 MHz pada provider Telkomsel yang dilakukan dengan metode drive test indoor di gedung E6 dan E7 Twin Tower Building Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, pengukuran mempelihatkan bahwa setiap lantai dari gedung tersebut memiliki tipe dan karakteristik masing-masing. Dimana setiap lantai dari gedung tersebut memiliki banyak sekat dan juga dinding penghalang yang bisa menyebabkan sinyal yang terpancar dari BTS terhalangi. Selain itu jarak BTS yang cukup jauh juga menjadi penyebab sinyal yang diterima tidak terlalu baik. Walaupun untuk standar KPI secara umum masih cukup baik, akan tetapi dilihat dari standar KPI yang digunakan provider Telkomsel ternyata terpaut cukup jauh di beberapa titik di gedung tersebut. Sebenarnya Terdapat BTS yang melayani areal UMY tepatnya BTS areal Tamantirto (Indomaret Tamantirto), dan BTS di atas gedung D UMY, akan tetapi dikarenakan terdapat cukup banyak penghalang yang berada di areal gedung E6 dan E7 Twin Tower Building UMY maka sinyal yang didapat ketika berada didalam gedung dapat berubah-ubah. 22
2 Data Hasil Pengujian Lantai Dasar Pengujian dan Analisis RSRP Data pengujian RSRP pada lantai dasar adalah sebagai berikut : Gambar 4.1 Pengujian RSRP Lantai Dasar (Basement) Dari data hasil pengujian di atas, bisa dilihat bahwa pada lantai dasar kualitas RSRP adalah kualitaas medium (menengah) hingga kualitas poor (rendah). Hal itu didasarkan dari target standar KPI Telkomsel seperti yang tercantum pada BAB III, maka nilai RSRP yang didapat dari hasil pengujian berkisar diantara -90 dbm s/d -100 dbm (warna biru muda) dan dbm s/d -110 dbm (warna biru tua), dimana di dominasi oleh warna biru tua (mencapai sekitar 75%). Nilai RSRP yang buruk tersebut disebabkan berbagai macam hal, secara visual bisa dilihat bahwa banyaknya penghalang dari BTS ke arah lantai dasar menyebabkan kualitas RSRP bervariasi dan lebih cenderung ke hasil yang buruk. Selain itu pengaruh dari mobilitas manusia yang berlalu-lalang di area tersebut juga mempengaruhi nilai RSRP
3 24 yang dicatat, karena tubuh manusia dapat menghalangi pancaran sinyal yang dipancarkan oleh BTS ke area lantai dasar tersebut. Oleh karena itu, untuk RSRP pada lantai dibutuhkan perbaikan kualitas jaringan Pengujian dan Analisis RSRQ Data pengujian RSRP pada lantai dasar adalah sebagai berikut : Gambar 4.2 Pengujian RSRQ Lantai Dasar (Basement) Dari hasil pengujian pada gambar di atas diperoleh analisis sesuai dengan target standar KPI Telkomsel bahwa kualitas RSRQ ada beberapa jenis, mulai dari kualitas good (bagus), hingga medium (sedang). Hal tersebut didasari dari nilai dari RSRQ pada lantai dasar yang cukup bervariasi, dimulai dari -1 db s/d -7 db (warna hijau muda), -7 db s/d -10 db (warna kuning) dan -10 db s/d -14 db (warna coklat). Dimana hasil pengukuran didominasi warna kuning mencapai 85%, sedangkan untuk warna hijau muda dan coklat sekitar 7,5 %. Nilai RSRQ yang bervariasi tersebut secara visual juga
4 25 disebabkan oleh banyaknya penghalang yang terdapat pada lantai dasar dan juga jarak yang cukup jauh antara BTS dengan lantai dasar. Sehingga untuk nilai RSRQ lantai dasar butuh perbaikan Pengujian dan Analisis SNR Data pengujian SNR pada lantai dasar adalah sebagai berikut : Gambar 4.3 Pengujian SNR Lantai Dasar (Basement) Dari hasil pengujian seperti pada gambar di atas, dapat diterangkan dan dianalisis bahwa nilai SNR yang diperoleh untuk lantai dasar cukup bervariasi, dengan besaran nilai berada pada kisaran 20 db s/d 15 db (warna biru) dan 15 db s/d 10 db (warna biru muda) untuk SNR dengan kualitas good, kemudian nilai dengan kisaran 10 db s/d 5 db (warna hijau) dan 5 db s/d 0 db (warna kuning) untuk SNR dengan kualitas medium, lalu terakhir nilai dengan kisaran 0 db s/d -5 db (warna coklat) untuk SNR dengan kualitas poor.
5 26 Hasil SNR didapat dari tabel target standar KPI Telkomsel yang terdapat pada BAB III. Nilai SNR pada lantai 1 didominasi oleh warna hijau dengan presentasi mencapai 80%, berlanjut dengan warna biru muda dengan presentase 10%, lalu warna kuning sebesar 6%, warna biru 3% dan terakhir warna coklat 1% Bervariasinya nilai SNR ini bisa terjadi karena beberapa hal, salah satunya adalah kekuatan derau atau noise level yang cukup kecil. Selain iu hal yang mempengaruhi adalah nilai SNR tidak dipengaruhi oleh Interferance dari sinyal-sinyal lain, sehingga nilai yang diperoleh relatif lebih bervariasi. Sedangkan secara visual, penyebab dari nilai SNR bervariasi adalah banyaknya penghalang dan hambatan antara gedung dengan BTS pemancar Data Hasil Pengujian Lantai Pengujian dan Analisis RSRP Data pengujian RSRP pada lantai 1 adalah sebagai berikut : Gambar 4.4 Pengujian RSRP Lantai 1
6 27 Dari data pengujian RSRP di lantai 1, maka diperoleh keterangan bahwa nilai RSRP di lantai 1 gedung E6 dan E7 Twin Tower Building UMY memiliki nilai yang bervariasi. Dimana nilai yang dihasilkan ada 4 jenis, yang pertama nilai RSRP dikisaran -70 dbm s/d -80 dbm (warna kuning) dengan KPI jenis kualitas excellent (sekitar 5%), yang kedua nilai RSRP berada dikisaran -80 dbm s/d -90 dbm (warna hijau muda) dengan KPI kualitas good (sekitar 10%), lalu yang ketiga nilai RSRP lantai 1 berada dikisaran -90 dbm s/d -100 dbm (warna biru muda) dengan KPI kualitas medium (mencapai 70%), dan yang terakhir nilai RSRP berada dikisaran -100 dbm s/d -110 dbm (warna biru tua) dengan KPI kualitas poor (sekitar 15%). Hasil kualitas KPI diperoleh dari data pada BAB III yang menjelaskan tentang target standar KPI Telkomsel. Dari hal tersebut penulis memperoleh analisis bahwa keberagaman nilai RSRP itu terjadi karena berbagai macam faktor, dimana untuk nilai RSRP dengan kualitas excellent secara visual disebakan karena antara BTS dengan titik tersebut penghalangnya sangat sedikit. Sedangkan untuk nilai RSRP dengan kualitas medium dan poor penghalang antara BTS dengan titik percobaan semakin banyak, mulai dari dinding gedung, sekat ruangan, dan juga manusia yang banyak melakukan mobilitas di area lantai 1 tersebut. Oleh karena itu untuk nilai RSRP pada lantai 1 dibutuhkan perbaikan kualitas jaringan agar keseluruhan lantai bisa mendapatkan nilai RSRP yang setara.
7 Pengujian dan Analisis RSRQ Data pengujian RSRQ pada lantai 1 adalah sebagai berikut : Gambar 4.5 Pengujian RSRQ Lantai 1 Dari gambar 4.5 di atas dapat dijelaskan bahwa nilai RSRQ yang diperoleh di tahap pengujian didominasi oleh warna coklat (-10 db s/d -14 db), dengan presentase mencapai 80%, yang kedua warna kuning (-7 db s/d - 10 db) dengan presentase sekitar 10%, kemudian warna merah (-14 db s/d - 20 db) dengan presentase sekitar 9% dan yang terakhir warna hijau (-1 db s/d -7 db) dengan presentase 1%. Sesuai dengan tabel target standar KPI Telkomsel pada BAB III, maka dapat dilihat bahwa untuk nilai RSRQ terdapat 3 jenis kualitas. Untuk yang pertama, yaitu kualitas good (-1 db s/d - 7 db), lalu yang kedua RSRQ kualitas medium (-7 db s/d -10 db dan -10 db s/d -14 db) dan yang terakhir adalah kualitas poor (-14 db s/d -20 db). Dari data tersebut penulis mendapatkan analisis bahwa terjadi keberagaman nilai RSRQ pada lantai 1, dimana keberagaman tersebut disebabkan adanya berbagai macam faktor dan kendala. Secara visual penulis
8 29 melihat fakor-faktor penyebabnya untuk kualitas good karena jarak antara BTS dengan lokasi pengujian, untuk kualitas medium karena jarak antara BTS dengan lokasi pengujian ditambah dengan hambatan dinding beton, lalu untuk kualitas poor selain kedua penyebab di atas juga karena faktor penyekat ruangan yang semakin banyak dan juga faktor dari mobilitas manusia yang semakin banyak pula, sehingga menghalangi pancaran sinyal BTS ke pengguna di lokasi pengujian tersebut. Dari analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa RSRQ di lantai 1 membutuhkan perbaikan performansi agar jangkauan sinyal di lokasi tersebut lebih merata di semua sisi Pengujian dan Analisis SNR Data pengujian SNR pada lantai 1 adalah sebagai berikut : Gambar 4.6 Pengujian SNR Lantai 1 Dari data SNR pada gambar di atas maka dapat dijelaskan bahwa nilai SNR di lantai 1 sangat beragam. Hal tersebut dapat dilihat dari tidak adanya dominasi warna dari hasil pengujian. Menurut tabel target standar KPI
9 30 Telkomsel yang terdapat pada BAB III, kualitas SNR di lantai 1 di klasifikasi menjadi 3 jenis. Yang pertama SNR dengan kualitas excellent pada warna biru tua ( > 20 db), dengan presentase 4%, kemudian SNR dengan kualitas good pada warna biru (20 db s/d 15 db) dan biru muda (15 db s/d 10 db),dengan masing-masing presentasenya 4% dan 10%, lalu SNR dengan kualitas medium pada warna hijau(10 db s/d 5 db) dan kuning (5 db s/d 0 db), dengan presentase masing-masing 40% dan 20%. Untuk yang terakhir SNR dengan kualitas poor pada warna coklat (0 db s/d -5 db), merah (-5 db s/d -10 db) dan hitam (> -10 db), dengan presentase masing-masing 20%, 1% dan 1%. Dari data tersebut penulis memperoleh analisis bahwa keberagaman nilai SNR yang terdapat di lantai 1 terjadi akibat berbagai macam faktor penyebab, mulai dari banyaknya dinding penghalang pada gedung, hingga mobilitas manusia yang cukup tinggi di dalam gedung. Sehingga untuk memperoleh kualitas SNR yang maksimal di seluruh bagian ruangan pada lantai 1, maka perlu adanya perbaikan kualitas jaringan.
10 Data Hasil Pengujian Lantai Pengujian dan Analisis RSRP Data pengujian RSRP pada lantai 2 adalah sebagai berikut : Gambar 4.7 Pengujian RSRP Lantai 2 Dari gambar pengujian RSRP di atas, diperoleh data bahwa nilai RSRP pada lantai 2 cukup beragam. Hal itu didasari dari adanya 4 jenis kualitas RSRP yang terdapat pada lantai ini. Mulai dari RSRP dengan kualitas excellent pada warna kuning (-70 dbm s/d -80 dbm), dengan presentase sekitar 15%. Untuk yang kedua adalah RSRP dengan kualitas good pada warna hijau (-80 dbm s/d -90 dbm), dengan presentase sebesar 30%. Dilanjutkan yang ketiga, yaitu RSRP dengan kualitas medium pada warna biru muda (-90 dbm s/d -100 dbm), dengan presentase sekitar 50%. Kemudian yang terakhir adalah RSRP dengan kualitas poor pada warna biru tua (-100 dbm s/d -110 dbm), dengan presentase sebesar 5%. Dari data yang diperoleh, maka analisis yang dihasilkan adalah nilai RSRP pada lantai 2 bisa dikatakan cukup baik, karena RSRP dengan kualitas poor hanya sekitar 5% saja, akan tetapi sinyal yang diperoleh belum
11 32 maksimal karena RSRP didominasi oleh kualitas medium. Menurut penulis, tidak meratanya kekuatan sinyal pada lantai tersebut secara visual disebabkan oleh berbagai macam faktor, mulai dari sekat dan dinding antar ruangan yang cukup banyak, hingga mobilitas manusia yang cukup padat di ruangan tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada lantai 2 masih membutuhkan perbaikan kualitas jaringan agar sinyal yang diperoleh disemua titik di lantai tersebut dapat maksimal Pengujian dan Analisis RSRQ Data pengujian RSRQ pada lantai 2 adalah sebagai berikut : Gambar 4.8 Pengujian RSRQ Lantai 2 Dari gambar 4.8 tentang pengujian RSRQ di lantai 2 diperoleh data bahwa nilai RSRQ yang terdapat pada lantai 2 memiliki klasifikasi kualitas RSRQ sebanyak 3 jenis. Dengan RSRQ kualitas good pada warna hijau (-1 db s/d -7 db) sebesar 5%. Kemudian RSRQ kualitas medium pada warna kuning (-7 db s/d -10 db) dan coklat (-10 db s/d -14 db) dengan presentase masing-masing 15% dan 70%. Dilanjutkan yang terakhir RSRQ dengan kualitas poor pada warna merah (-14 db s/d -20 db) sebesar 10%.
12 33 Dari data tersebut dapat dianalisis bahwa nilai RSRQ pada lantai 2 cukup baik, akan tetapi nilai masih didominasi oleh kualitas medium (85%) dan masih terdapat nilai dengan kualitas poor (10%). Masih belum ratanya penyebaran sinyal pada lantai tersebut secara visual disebabkan adanya redaman dinding dan juga sekat ruangan yang cukup banyak. Selain itu pengaruh dari mobilitas manusia pada lokasi pengujian juga mempengaruhi kualitas sinyal. Oleh karena itu penulis menyimpulkan bahwa pada lantai ini masih dibutuhkan perbaikan jaringan agar penyebaran sinyal dapat merata Pengujian dan Analisis SNR Data pengujian SNR pada lantai 2 adalah sebagai berikut : Gambar 4.9 Pengujian SNR Lantai 2 Dari gambar pengujian SNR di atas, maka diperoleh data bahwa seperti lantai-lantai sebelumnya dimana nilai SNR sangat beragam. Mulai dari nilai SNR kualitas excellent pada warna biru tua (> 20 db) dikisaran 2%. Dilanjutkan dengan nilai SNR kualitas good pada warna biru (20 db s/d 15 db) dan biru muda (15 db s/d 10 db) dikisaran 5% dan 8%. Lalu yang ketiga
13 34 SNR kualitas medium dengan warna hijau (10 db s/d 5 db) dan warna kuning (5 db s/d 0 db) dikisaran 15% dan 35%. Kemudian yang ketiga atau yang terakhir nilai SNR dengan kualitas poor pada warna coklat (0 db s/d -5 db) dan warna merah (-5 db s/d -10 db) sebesar 25% dan 10%. Dari data diatas, maka diahasilkan analisis yang menunjukkan bahwa kualitas SNR pada lantai 2 ini cukup baik. Namun nilai SNR masih didominasi kualitas medium dan poor. Hal tersebut bisa disebabkan signal strength yang lemah akibat banyaknya derau pada lokasi pengujian. Secara visual juga dapat dilihat bahwa pengaruh redaman dinding dan juga sekat ruangan yang sangat banyak sangat mempengaruhi dari kekuatan sinyal tadi. Oleh karena itu nilai SNR pada lantai ini masih membutuhkan perbaikan untuk membuat kekuatan sinyal (signal strength) pada lantai 2 ini merata Data Hasil Pengujian Lantai Pengujian dan Analisis RSRP Data pengujian RSRP pada lantai 3 adalah sebagai berikut : Gambar 4.10 Pengujian RSRP Lantai 3
14 35 Dari gambar pengujian RSRP lantai 3 diatas, diperoleh data bahwa nilai RSRP yang diperoleh cukup baik, dengan RSRP kualitas excellent pada warna coklat (-60 dbm s/d -70 dbm) dan warna kuning (-70 dbm s/d -80 dbm) masing-masing sekitar 2% dan 13%. Selanjutnya RSRP dengan kualitas good pada warna hijau (-70 dbm s/d -90 dbm) dikisaran 25%. Untuk yang ketiga RSRP dengan kualitas medium pada warna biru muda (-90 dbm s/d -100 dbm) dikisaran 55%. Kemudian yang terakhir RSRP dengan kualitas poor pada warna biru tua (-100 dbm s/d -110 dbm) dikisaran 5%. Selanjutnya dari data yang telah diperoleh, maka penulis memberikan analisis bahwa untuk lantai 3 telihat nilai kualitas RSRP semakin baik. Hal ini didasarkan dari data RSRP kualitas poor yang mengalami penurunan hingga mencapai nilai presentase 5%, akan tetapi data RSRP kualitas medium menunjukkan grafik peningkatan hingga mencapai nilai presentase 55%. Penyebab dari naiknya standar kualitas adalah lokasi lantai yang semakin tinggi, tetapi masih terjadi redaman dinding yang disebabkan banyaknya dinding dan sekat yang terdapat pada lantai tersebut. Selain itu mobilitas manusia semakin banyak di area ini dikarenakan lantai 3 merupakan ruangan belajar mahasiswa. Oleh karena itu penulis menyarankan untuk tetap dilakukan perbaikan jaringan agar sinyal yang terdapat pada lantai tersebut bisa diterima merata di seluruh ruangan.
15 Pengujian dan Analisis RSRQ Data pengujian RSRQ pada lantai 3 adalah sebagai berikut : Gambar 4.11 Pengujian RSRQ Lantai 3 Dari gambar 4.11 diperoleh data bahwa nilai RSRQ di lantai 3 cukup beragam. Untuk besaran nilai RSRQ dengan kualitas good pada warna hijau (-1 db s/d -7 db) berkisar 5%. Kemudian untuk nilai RSRQ dengan kualitas medium pada warna kuning (-7 db s/d -10 db) dan coklat (-10 db s/d -14 db) masing masing berkisar 30% dan 55%. Sedangkan untuk nilai RSRQ dengan kualitas poor pada warna merah (-14 db s/d -20 db) berkisar 10%. Anilisis yang penulis dapatkan dari data di atas adalah nilai RSRQ mengalami perbaikan debanding lantai sebelumnya. Hal itu dikarenakan posisi lantai yang semakin naik ke atas dimana menyebakan sinyal dari BTS lebih mudah untuk menjangkaunya, akan tetapi nilai RSRQ yang didapat belum maksimal. Hal tersebut disebabkan masih terjadinya redaman diding gedung yang menyebakan sinyal masih terganggu. Oleh karena itu penulis menyarankan tetap dialkukan perbaikan nilai RSRQ untuk memaksimalkan sinyal yang diterima pada lantai 3 ini.
16 Pengujian dan Analisis SNR Data pengujian SNR pada lantai 3 adalah sebagai berikut : Gambar 4.12 Pengujian SNR Lantai 3 Dari gambar pengujian SNR di atas penulis memperoleh data yang menunjukkan bahwa nilai SNR di lantai 3 lebih baik daripada lantai sebelumnya. Hal itu berdasarkan nilai SNR kualitas excellent pada warna biru tua (> 20 db) mencapai 2%. Sedangkan untuk nilai SNR kualitas good pada warna biru (20 db s/d 15 db) dan biru muda (15 db s/d 10 db) masingmasing sekitar 5% dan 10%. Untuk SNR kualitas medium dengan warna hijau (10 db s/d 5 db) dan kuning (5 db s/d 0 db) berada dikisaran 20% dan 40%. Sedangkan untuk SNR kualitas poor dengan warna coklat(0 db s/d -5 db), merah (-5 db s/d -10 db) dan hitam (> -10 db) masing-masing dikisaran 15%, 6% dan 2%. Analisis yang penulis dapatkan dari data diatas adalah nilai SNR pada lantai 3 lebih baik dari lantai sebelumnya, akan tetapi masih terdapat beberapa titik yang memiliki SNR dengan kualitas poor. Sehingga dapat dikatakan kualitas SNR pada lantai 3 belum maksimal dan merata. Secara
17 38 visual dapat dilihat hal itu disebabkan masih adanya redaman dinding yang menyebabkan kekuatan sinyal yang dipancarkan tidak maksimal Data Hasil Pengujian Lantai Pengujian dan Analisis RSRP Data pengujian RSRP pada lantai 4 adalah sebagai berikut : Gambar 4.13 Pengujian RSRP lantai 4 Dari gambar pengujian RSRP di atas dapat dijelaskan bahwa nilai RSRP untuk lantai 4 lebih baik daripada lantai sebelumnya. Hal tersebut dapat diketahui karena RSRP kualitas excellent pada warna kuning (-70 dbm s/d -80 dbm) sekitar 20%. Selanjutnya RSRP dengan kualitas good pada warna hijau (-80 dbm s/d -90 dbm) bedara dikisaran 25 %. Berikutnya untuk nilai RSRP lantai 4 dengan kualitas medium pada warna biru muda (-90 dbm s/d -100 dbm) berada dikisaran 50%. Kemudian yang terakhir RSRP dengan kualitas poor pada warna biru tua (-100 dbm s/d -110 dbm) dikisaran 5%. Dari data yang telah diperoleh, maka penulis mendapatkan analisis bahwa untuk kualitas RSRP di lantai 4 semakin baik dibandingkan
18 39 lantai sebelumnya. Hal tersebut karena nilai RSRP dengan kualitas medium turun dikisaran 50% dan RSRP dengan kualitas excellent naik dikisaran 20%. Kenaikan presentase RSRP disebabkan semakin tingginya lokasi lantai, akan tetapi masih terdapat redaman sinyal yang diakibatkan banyaknya dinding dan sekat pada lantai tersebut. Selain penyebab lainnya adalah lantai 4 merupakan ruang belajar dan laboratorium bahasa, dimana mobilitas manusia pada lantai tersebut cukup banyak. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar pada lantai ini tetap dilakukan perbaikan kualitas jaringan agar mendapatkan sinyal yang ebih merata pada seluruh ruangan di lantai tersebut Pengujian dan Analisis RSRQ Data pengujian RSRQ pada lantai 4 adalah sebagai berikut : Gambar 4.14 Pengujian RSRQ Lantai 4 Dari gambar 4.14 diperoleh data dimana nilai RSRQ pada lantai 4 cukup baik. Hal tersebut sesuai dengan data tabel target standar KPI pada BAB III sebelumnya, dimana nilai RSRQ untuk kualitas good pada warna hijau (-1 db s/d -7 db) berada dikisaran 5%. Sedangkan untuk nilai RSRQ
19 40 dengan kualitas medium pada warna kuning (-7 db s/d -10 db) dan warna coklat (-10 db s/d -14 db) masing-masing berada dikisaran 20% dan 25%. Sedangkan untuk kualitas poor pada warna merah (-14 db s/d -20 db) berkisar 50%. Dari data diatas, penulis memperoleh analisis bahwa pada lantai 4 kualitas RSRQ lebih buruk daripada lantai sebelumnya. Hal tersebut sesuai dengan data bahwa nilai RSRQ kualitas poor naik hingga berada dikisaran 50%. Hasil data yang diperoleh penulis bukan disebabkan kesalahan pada saat pengujian, akan tetapi lebih disebabkan oleh berbagai macam faktor. Salah satu faktor penyebabnya adalah banyaknya dinding pembatas yang memebabkan redaman sinyal, selain itu mobilitas manusia pada lantai ini bisa dikategorikan cukup banyak. Hal itu menyebabkan redaman sinyal yang berakibat nilai RSRQ pada lantai ini lebih buruk dari lantai sebelumnya, walaupun secara umum nilai RSRQ di lantai ini dikategorikan cukup baik. Oleh karena itu penulis menyarankan harus dilakukan perbaikan jaringan agar nilai RSRQ pada lantai ini bisa lebih baik dan sinyal dapat merata dan diterima dengan baik di seluruh ruangan.
20 Pengujian dan Analisis SNR Data pengujian SNR pada lantai 4 adalah sebagai berikut : Gambar 4.15 Pengujian SNR Lantai 4 Dari pengujian pada gambar 4.15, maka data yang dipeoleh adalah nilai SNR pada lantai 4 cukup baik. Dimana SNR dengan kualitas excellent pada biru tua (> 20 db) sekitar 2%. Kemudian untuk nilai SNR kualitas good pada warna biru (20 db s/d 15 db) dan biru muda (15 db s/d 10 db) masing-masing sekitar 3% dan 10%. Untuk SNR kualitas medium dengan warna hijau (10 db s/d 5 db) dan kuning (5 db s/d 0 db) sekitar 15% dan 30%. Sedangkan untuk SNR kualitas poor pada warna coklat(0 db s/d -5 db), merah (-5 db s/d -10 db) dan hitam (> -10 db) masing-masing sekitar 30%, 8% dan 2%. Dari data di atas, maka penulis memperoleh analisis dimana nilai SNR pada lanti 4 lebih buruk daripada lantai sebelumnya. Hal tersebut bisa terjadi karena berbagai macam faktor, mulai dari kualitas redaman sinyal yang terjadi akibat banyaknya dinding dan penyekat, hingga mobilitas
21 42 manusia setiap harinya yang cukup banyak di lantai tersebut. Oleh karena itu penulis menyarankan dilakukannya perbaikan jaringan di lantai 4 agar sinyal yang diterima pada lantai tersebut dapat lebih maksimal kedepannya Data Hasil Pengujian Lantai Pengujian dan Analisis RSRP Data pengujian RSRP pada lantai 5 adalah sebagai berikut : Gambar 4.16 Pengujian RSRP Lantai 5 Dari gambar 4.16 diperoleh data bahwa RSRP di lantai 5 dikatakan baik. Hal tersebut sesuai dengan data BAB III tentang tabel target standar KPI Telkomsel, dimana nilai RSRP dengan kualitas excellent pada warna coklat (-60 dbm s/d -70 dbm) dan warna kuning (-60 dbm s/d -70 dbm) masing-masing sekitar 3% dan 25%. Sedangkan untuk nilai RSRP dengan kualitas good pada warna hijau (-70 dbm s/d -80 dbm) berada dikisaran 55%. Kemudian untuk nilai RSRP dengan kualitas medium pada warna biru muda (-80 dbm s/d -90 dbm) berada di kisaran 15%. Kemudian
22 43 yang terakhir, untuk nilai RSRP dengan kualitas sinyal poor pada warna biru tua (-90 dbm s/d -100 dbm) berkisar 5%. Dari data percobaan diatas, analisis yang diperoleh adalah nilai RSRP untuk lantai 5 lebih baik daripada lantai sebelumnya. Hal tersebut dapat dilihat dari persentase nilai RSRP kualitas excellent naik ke titik 28%, akan tetapi masih terdapat nilai RSRP dengan kualitas medium dan poor pada lantai tersebut. Penyebabnya adalah masih terdapat redaman sinyal yang terjadi akibat dinding pembatas yang terdapat pada gedung tersebut. Hal itu menunjukkan belum ratanya penyebaran sinyal pada lantai tersebut, sehingga penulis merasa masih dibutuhkan perbaikan jaringan agar sinyal yang diperoleh pada lantai tersebut lebih merata dan maksimal Pengujian dan Analisis RSRQ Data pengujian RSRQ pada lantai 4 adalah sebagai berikut : Gambar 4.17 Pengujian RSRQ Lantai 5 Dari gambar pengujian RSRQ di atas, maka data yang diperoleh adalah nilai RSRQ pada lantai 5 cukup beragam. Untuk nilai RSRQ dengan
23 44 kualitas good pada warna hijau (-1 db s/d -7 db) berkisar 5%. Selanjutnya untuk nilai RSRQ dengan kualitas medium pada warna kuning (-7 db s/d -10 db) dan warna coklat (-10 db s/d -14 db) masing-masing berada pada kisaran 25% dan 45%. Sedangkan untuk nilai RSRQ dengan kualitas poor pada warna merah (-14 db s/d -20 db) berda pada kisaran 25%. Dari data percobaan diatas, penulis mendapatkan analisis bahwa nilai RSRQ pada lantai 5 cukup baik dan lebih baik daripada lantai sebelumnya. Hal tersebut didasarkan nilai RSRQ dengan kualitas poor turun, dimana presentase yang diperoleh di lantai ini sebesar 25%. Oleh karena lantai ini merupakan gedung pertemuan, maka sekat pada lantai ini tidak sebanyak lantai-lantai sebelumnya. Akan tetapi dinding pembatas yang ada juga tetap mempengaruhi kualitas sinyal yang terdapat di gedung ini. Oleh karena itu penulis menyarankan agar tetap melakukan perbaikan jaringan pada lantai 5 untuk mendapatkan nilai RSRQ seperti yang diinginkan Pengujian dan Analisis SNR Data pengujian SNR pada lantai 5 adalah sebagai berikut : Gambar 4.18 Pengujian SNR Lantai 5
24 45 Dari gambar diatas diperoleh data bahwa nilai SNR pada lantai 5 cukup baik. Dimana nilai SNR dengan kualitas excellent pada warna biru tua (> 20 db) sekitar 5%. Kemudian untuk nilai SNR dengan kualitas good pada warna biru (20 db s/d 15 db) dan biru muda (15 db s/d 10 db) sama-sama berada dikisaran 10%. Untuk nilai SNR dengan kualitas medium pada warna hijau (10 db s/d 5 db) dan kuning (5 db s/d 0 db) masing-masing berada dikisaran 25% dan 30%. Selanjutnya nilai SNR dengan kualitas poor pada warna coklat warna coklat(0 db s/d -5 db), merah (-5 db s/d -10 db) dan hitam (> -10 db) masing-masing berada pada kisaran 20%, 10% dan 5%. Dari data hasil percobaan di atas, maka dapat dituliskan analisis bahwa nilai SNR pada lantai 5 mengalami perbaikan dibandingkan lantai sebelumnya. Dimana pada lantai 5 mengalami penurunan nilai SNR dengan kualitas poor hingga nilai 35%. Hal tersebut disebabkan pada lantai ini dinding pembatas semakin sedikit, sehingga sinyal yang diterima semakin baik. Selain itu untuk lantai 5 tidak terlalu banyak mobilitas manusia, dikarenakan lantai ini dipergunakan untuk amphiteater yang berfungsi sebagai ruang pertemuan. Walaupun begitu, penulis merasa untuk lantai 5 tetap dibutuhkan perbaikan kualitas jaringan agar sinyal yang diterima dapat tersebar secara merata ke seluruh ruangan. Hal itu berguna juga apabila lantai 5 dipergunakan untuk acara atau event besar.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Penelitian yang dilaksanakan merupakan jenis penelitian dengan menggunakan metode drive test. Drive test yang dilaksanakan kali ini dilakukan di dalam
BAB IV ANALISIS DAN HASIL PENELITIAN Analisis Hasil Pengukuran di Area Sekitar UMY
BAB IV ANALISIS DAN HASIL PENELITIAN 4.1. Analisis Hasil Pengukuran di Area Sekitar UMY Pengukuran dilakukan menggunakan metode drive test jaringan guna mengetahui optimal atau tidaknya jaringan provider
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Jenis penelitian adalah merupakan perancangan antenna Indoor pada gedung Twin building( perkuliahan E6 dan E7) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
20 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk merancang dan membuat jaringan WLAN dan penempatan Access Point sesuai dengan keadaan bangunan yang berada di gedung
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN Tahapan awal analisa perancangan yang dilakukan adalah dengan menganalisa pengukuran awal sebelum dilakukan perancangan jaringan indoor Gedung E6 dan E7 Universitas Muhammadiyah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan teknologi dalam sistem komunikasi bergerak sudah berkembang cukup pesat. Seperti contoh teknologi yang banyak digunakan saat ini adalah teknologi 3.5G atau
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi ini perananan teknologi informasi sangat besar dan penting untuk menyampaikan informasi pada masyarakat, sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja.
STUDI PERENCANAAN JARINGAN SELULER INDOOR
STUDI PERENCANAAN JARINGAN SELULER INDOOR Silpina Abmi Siregar, Maksum Pinem Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU) Jl. Almamater,
BAB II TEORI DASAR. Public Switched Telephone Network (PSTN). Untuk menambah kapasitas daerah
BAB II TEORI DASAR 2.1 Umum Sistem komunikasi seluler merupakan salah satu jenis komunikasi bergerak, yaitu suatu komunikasi antara dua terminal dengan salah satu atau kedua terminal berpindah tempat.
BAB IV ANALISA HANDOVER CELL YANG BERMASALAH Pada saat pengambilan data di ramayana Tambun terdeteksi bahwa ada sinyal dengan (CI) cell identity 31373 yang mempunyai ARFCN 749 lokasi BTSnya tidak jauh
HALAMAN PERNYATAAN. : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
HALAMAN PERNYATAAN Yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Danang Yaqinuddin Haq NIM : 20130120051 Program Studi : Teknik Elektro Fakultas Universitas : Teknik : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Menyatakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada zaman globalisasi saat ini salah satu faktor terbesar yang mempengaruhi tingkat kehidupan masyarakat adalah perkembangan teknologi. Berpedoman pada tingkat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini telepon selular sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas kehidupan manusia sehari-hari. Penggunaan telepon selular sudah melingkupi masyarakat
BAB IV ANALISA PENGUKURAN PERFORMAN IMPLEMENTASI WI-FI OVER PICOCELL
33 BAB IV ANALISA PENGUKURAN PERFORMAN IMPLEMENTASI WI-FI OVER PICOCELL 4. 1 Pengambilan Data Penggunaan Wi-Fi Over PICOCELL Pengambilan data implementasi Wi-Fi Over Picocell dilakukan di Departemen Information
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini perkembangan jaringan komputer sangat pesat dan popular, sehingga jaringan komputer sering digunakan untuk menghubungkan komunikasi di area gedung, kantor,
BAB IV PERHITUNGAN EIRP SISTEM MULTI NETWORK
BAB IV PERHITUNGAN EIRP SISTEM MULTI NETWORK 4.1 PERHITUNGAN EIRP JARINGAN IBS Dalam perencanaan jaringan indoor setiap operator mempunyai Key performance Index, maka dari itu berikut Tabel 4.1 Parameter
BAB IV ANALISA HASIL SIMULASI
BAB IV ANALISA HASIL SIMULASI Bab ini akan membahas tentang hasil analisa dari proses pengukuran Drive Test dengan menggunakan TEMS Investigation 8.0.4, akan dibahas juga hasil analisa coverage plot dengan
Modul 8 Drive Test Analysis (DTA) 4G LTE Lanjut
Modul 8 1. TUJUAN a. Mahasiswa mampu mengoperasikan software Genex Assistant untuk menganalisa data logfile Drive Test (DT) b. Mahasiswa mampu menganalisa beberapa parameter KPI (Key Performance Indicators)
BAB II PEMODELAN PROPAGASI. Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel
BAB II PEMODELAN PROPAGASI 2.1 Umum Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel ke sel yang lain. Secara umum terdapat 3 komponen propagasi yang menggambarkan kondisi dari
ANALISA PERFORMANSI INTERNET BROADBAND LONG TERM EVOLUTION INNER CITY DAN RURAL DI KOTA PALEMBANG (STUDY KASUS : PT. TELKOMSEL)
ANALISA PERFORMANSI INTERNET BROADBAND LONG TERM EVOLUTION INNER CITY DAN RURAL DI KOTA PALEMBANG (STUDY KASUS : PT. TELKOMSEL) ANALYSIS OF INTERNET PERFORMANCE BROADBAND LONG TERM EVOLUTION INNER CITY
BAB 2 PERENCANAAN CAKUPAN
BAB 2 PERENCANAAN CAKUPAN 2.1 Perencanaan Cakupan. Perencanaan cakupan adalah kegiatan dalam mendesain jaringan mobile WiMAX. Faktor utama yang dipertimbangkan dalam menentukan perencanaan jaringan berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Teknologi GSM (Global System for Mobile) merupakan salah satu teknologi yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Teknologi GSM juga merupakan sistem dengan jaringan
Abstract A. PENDAHULUAN. Sistem komunikasi semakin berkembang dengan tingginya kontinuitas
ANALISIS PERFORMANCE JARINGAN 2G GLOBAL SYSTEM FOR MOBILE COMUNICATION (GSM) FREKUENSI 900 MHz DAN 1800 MHz BERDASARKAN DATA DRIVE TEST DI PT. TELKOMSEL PADANG KENNY PRATAMA PUTRA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Udayana 1, 2,
E-Journal SPEKTRUM Vol. 2, No. 4 Desember 2015 ANALISA KUALITAS SINYAL JARINGAN GSM PADA MENARA ROOFTOP DENGAN MEMBANDINGKAN APLIKASI METODE DRIVE TEST ANTARA TEMS INVESTIGATION 8.0.3 DENGAN G-NETTRACK
PERENCANAAN JARINGAN LONG TERM EVOLUTION (LTE) 1800 MHz DI WILAYAH MAGELANG MENGGUNAKAN BTS EXISTING OPERATOR XYZ
G.5 PERENCANAAN JARINGAN LONG TERM EVOLUTION (LTE) 1800 MHz DI WILAYAH MAGELANG MENGGUNAKAN BTS EXISTING OPERATOR XYZ Via Lutfita Faradina Hermawan *, Alfin Hikmaturrohman, Achmad Rizal Danisya Program
BAB III PARAMETER ELEKTRIS JARLOKAT
BAB III PARAMETER ELEKTRIS JARLOKAT Teknologi ADSL telah digunakan oleh PT. Telkom sebagai salah satu produk unggulan dalam penyediaan akses internet kecepatan tinggi dan menjadi alternatif dari metode
ANALISIS OPTIMALISASI JARINGAN 3G IBC (INDOOR BUILDING COVERAGE) DI PT.BINTANG SRIWIJAYA
ANALISIS OPTIMALISASI JARINGAN 3G IBC (INDOOR BUILDING COVERAGE) DI PT.BINTANG SRIWIJAYA Akhmad Sayuti AMIK BINA SRIWIJAYA [email protected] & [email protected] Abstrak PT. Telkomsel adalah perusahaan
ANALISIS DROP CALL PADA JARINGAN 3G PADA BEBERAPA BASE STATION DI KOTA MEDAN
ANALISIS DROP CALL PADA JARINGAN 3G PADA BEBERAPA BASE STATION DI KOTA MEDAN Donny Panggabean (1), Naemah Mubarakah (2) Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas
Monitoring Jaringan Menggunakan Wireless Mon
Monitoring Jaringan Menggunakan Wireless Mon Yama Fresdian Dwi Saputro [email protected] Lisensi Dokumen: Copyright 2003-2015 IlmuKomputer.Com Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan, dimodifikasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya jaman kebutuhan manusia akan bidang telekomunikasi juga semakin meningkat,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya jaman kebutuhan manusia akan bidang telekomunikasi juga semakin meningkat, khususnya dalam bidang seluler. Peningkatan jumlah pengguna
PERENCANAAN JARINGAN LONG TERM EVOLUTION (LTE)1800 Mhz DI WILAYAH MAGELANG MENGGUNAKAN BTS EXISTING OPERATOR XYZ
A.1 Kode Bidang: A/B/C/D/E/F/G/H PERENCANAAN JARINGAN LONG TERM EVOLUTION (LTE)1800 Mhz DI WILAYAH MAGELANG MENGGUNAKAN BTS EXISTING OPERATOR XYZ Via Lutfita Faradina Hermawan 1,
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
30 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Data Penelitian Uji model hidraulik fisik dilakukan di Laboratorium Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Data yang dihasilkan yaitu berupa rekaman
III. METODE PENELITIAN. Teknik Elektro, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Lampung. Tabel 3.1. Jadwal kegiatan Penelitian
III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan dari bulan September 2012 s.d Oktober 2013, bertempat di Laboratorium Teknik Telekomunikasi, Laboratorium Terpadu Teknik Elektro, Jurusan
BAB IV PEMBAHASAN. Semakin banyaknya pertumbuhan tower tower telekomunikasi oleh para
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Identifikasi Masalah Semakin banyaknya pertumbuhan tower tower telekomunikasi oleh para provider telekomunikasi menjadikan ancaman bagi tatanan suatu kota. Sehingga jika dilihat dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Teknologi telekomunikasi semakin lama semakin berkembang, hal ini dibuktikan dengan hadirnya teknologi baru yang mempunyai kualitas jaringan telekomunikasi khususnya
EVALUASI EFISIENSI PERANGKAT BASE STATION MENGGUNAKAN DRIVE TEST PADA ANTENA SINGLE-BAND DAN MULTI-BAND
EVALUASI EFISIENSI PERANGKAT BASE STATION MENGGUNAKAN DRIVE TEST PADA ANTENA SINGLE-BAND DAN MULTI-BAND Adith Ismail Shaleh 1, Aisah 2, Farida Arinie Soelistianto 3 123 Program Studi Jaringan Telekomunikasi
OPTIMASI PENEMPATAN ACCESS POINT PADA JARINGAN WI-FI di UNIVERSITAS BUDI LUHUR
OPTIMASI PENEMPATAN ACCESS POINT PADA JARINGAN WI-FI di UNIVERSITAS BUDI LUHUR Rummi Sirait 1 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Budi Luhur, Jakarta, 12260 e-mail : [email protected]
SITE XXX. Indoor Walk Test Overview
LAPORAN PERCOBAAN PERBANDINGAN PENGGUNAAN LINE AMPLIFIER 33 dbm dengan 26 dbm SITE XXX Pendahuluan Percobaan perbandingan kedua Line Amplifier ini adalah karena adanya kebutuhan dari Operator Sellular
BAB IV ANALISA PERFORMANSI HASIL OPTIMALISASI PARAMETER BSS PADA BTS INDOOR
BAB IV ANALISA PERFORMANSI HASIL OPTIMALISASI PARAMETER BSS PADA BTS INDOOR 4.1 RENCANA KERJA BTS Indoor yang dibangun di Mega Plaza mempunyai area cakupan pada seluruh area bangunan yang mempunyai 5 lantai.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
26 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan dengan cara mengamati data performansi jaringan pada site site yang berada di dalam cluster warudoyong sebelum dan setelah dilakukannya
2012, No BATASAN LEVEL EMISI SPEKTRUM (SPECTRUM EMISSION MASK) YANG WAJIB DIPENUHI OLEH PENYELENGGARA PCS1900
2012, No.1014 12 LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 300TAHUN 2012 TENTANG PROSEDUR KOORDINASI ANTARA PENYELENGGARA TELEKOMUNIKASI YANG MENERAPKAN PERSONAL
Manajemen Interferensi Femtocell pada LTE- Advanced dengan Menggunakan Metode Autonomous Component Carrier Selection (ACCS)
JURNAL TEKNIK ITS Vol. (Sept, 0) ISSN: 0- A- Manajemen Interferensi Femtocell pada LTE- Advanced dengan Menggunakan Metode Autonomous Component Carrier Selection (ACCS) Gatra Erga Yudhanto, Gamantyo Hendrantoro,
ANALISA PROPAGASI GELOMBANG RADIO DALAM RUANG PADA KOMUNIKASI RADIO BERGERAK
ANALISA PROPAGASI GELOMBANG RADIO DALAM RUANG PADA KOMUNIKASI RADIO BERGERAK Amir D Program Studi Teknik Telekomunikasi Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Lhokseumawe Jln. Banda Aceh Medan Km. 280.5
BAB IV DATA DAN ANALISA SERTA APLIKASI ANTENA. OMNIDIRECTIONAL 2,4 GHz
BAB IV DATA DAN ANALISA SERTA APLIKASI ANTENA OMNIDIRECTIONAL 2,4 GHz 4.1 Umum Setelah melakukan proses perancangan dan pembuatan antena serta pengukuran atau pengujian antena Omnidirectional 2,4 GHz,
KUALITAS LAYANAN DATA PADA JARINGAN CDMA x EVOLUTION-DATA ONLY (EVDO)
KUALITAS LAYANAN DATA PADA JARINGAN CDMA 2000 1x EVOLUTION-DATA ONLY (EVDO) Eva Yovita Dwi Utami, Peni Listyaningsih KUALITAS LAYANAN DATA PADA JARINGAN CDMA 2000 1x EVOLUTION-DATA ONLY (EVDO) Eva Yovita
LAPORAN SKRIPSI ANALISIS DAN OPTIMASI KUALITAS JARINGAN TELKOMSEL 4G LONG TERM EVOLUTION (LTE) DI AREA PURWOKERTO
LAPORAN SKRIPSI ANALISIS DAN OPTIMASI KUALITAS JARINGAN TELKOMSEL 4G LONG TERM EVOLUTION (LTE) DI AREA PURWOKERTO ANALYSIS AND OPTIMIZATION OF TELKOMSEL 4G LONG TERM EVOLUTION (LTE) NETWORK QUALITY IN
Komunikasi Bergerak Frekuensi 2.3 GHz Melewati Pepohonan Menggunakan Metode Giovanelli Knife Edge
Komunikasi Bergerak Frekuensi 2.3 GHz Melewati Pepohonan Menggunakan Metode Giovanelli Knife Edge Andrita Ceriana Eska Fakultas Teknik, Universitas Jember Jalan Kalimantan No. 37, Kampus Tegalboto Jember,
Analisa Perbandingan Kuat Sinyal 4G LTE Antara Operator Telkomsel dan XL AXIATA Berdasarkan Paramater Drive Test Menggunakan Software G-NetTrack Pro
Analisa Perbandingan Kuat Sinyal 4G LTE Antara Operator Telkomsel dan XL AXIATA Berdasarkan Paramater Drive Test Menggunakan Software G-NetTrack Pro Di Area Jalan Protokol Panam. Rendi Efriyendro*,Yusnita
ANALISIS PERBANDINGAN PEMODELAN PROPAGASI NILAI LEVEL DAYA TERIMA PADA SISTEM DCS 1800 DI KOTA PONTIANAK
ANALISIS PERBANDINGAN PEMODELAN PROPAGASI NILAI LEVEL DAYA TERIMA PADA SISTEM DCS 1800 DI KOTA PONTIANAK Wawan Tristiyanto), Fitri Imansyah 2 ), F. Trias Pontia W 3 ) Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik,
Desain Sumber Bunyi Titik
Desain Sumber Bunyi Titik Yogo Widi Prakoso 1, Made Rai Suci Santi 1,2, Adita Sutresno 1,2* 1 Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Sains dan Matematika 2 Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Matematika
BAB II TRUTHS. bukunya yang berjudul Experiencing Architecture, mengatakan bahwa arsitektur
BAB II TRUTHS Setelah menemukan adanya potensi pada kawasan perancangan, proses menemukan fakta tentang kawasan pun dilakukan. Ramussen (1964) dalam bukunya yang berjudul Experiencing Architecture, mengatakan
ANALISIS UNJUK KERJA JARINGAN 3G (UMTS) MENGGUNAKAN METODE DRIVE TEST VOICE MODE
ANALISIS UNJUK KERJA JARINGAN G (UMTS) MENGGUNAKAN METODE DRIVE TEST VOICE MODE ANALYSIS NETWORK PERFORMANCE G (UMTS) USING THE DRIVE TEST METHOD "VOICE MODE" Muhammad Nizam 1), Fitri Imansyah 2), Dasril
BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. receiver berupa scoreboard display yang tersambung ke XBEE receiver.
BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1. Tahapan Pengujian Pengujian dilakukan untuk mengambil data sistem secara keseluruhan dari 2 modul yang digunakan, yaitu modul transmitter berupa remote dan receiver berupa
Memonitoring Jaringan dengan InSSIDer dan Netsurveyor
Memonitoring Jaringan dengan InSSIDer dan Netsurveyor Ardiansyah Yuli Saputro [email protected] http://sharinginpoh.blogspot.com Lisensi Dokumen: Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan,
BAB II DASAR TEORI. atau gedung. Dengan performa dan keamanan yang dapat diandalkan,
BAB II DASAR TEORI 2.1 Umum Jaringan wireless LAN sangat efektif digunakan di dalam sebuah kawasan atau gedung. Dengan performa dan keamanan yang dapat diandalkan, pengembangan jaringan wireless LAN menjadi
RANCANG BANGUN ANTENA YAGI SEBAGAI PENGUAT SINYAL MODEM 4G LTE BERDASARKAN FREKUENSI 1800 MHZ
SKRIPSI RANCANG BANGUN ANTENA YAGI SEBAGAI PENGUAT SINYAL MODEM 4G LTE BERDASARKAN FREKUENSI 1800 MHZ I GUSTI NYOMAN DHARMAYANA JURUSAN TEKNIK ELEKTRO DAN KOMPUTER FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA BUKIT
ANALISIS KEGAGALAN SOFT HANDOFF PADA JARINGAN CDMA2000 1xRTT
ANALISIS KEGAGALAN SOFT HANDOFF PADA JARINGAN CDMA2000 Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik UKSW Jl. Diponegoro 52-60, Salatiga Email : [email protected] INTISARI Proses soft handoff pada
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN Pada tahap ini akan dibahas tahap dan parameter perencanaan frekuensi dan hasil analisa pada frekuensi mana yang layak diimplemantasikan di wilayah Jakarta. 4.1 Parameter
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Telkom Flexi merupakan salah satu penyedia layanan telekomunikasi yang berkembang dengan pesat dengan memanfaatkan jaringan CDMA 2000 1x yang pada awalnya bekerja di
Presentasi Seminar Tugas Akhir
Presentasi Seminar Tugas Akhir MANAJEMEN INTERFERENSI FEMTOCELL PADA LTE-ADVANCED DENGAN MEGGUNAKAN METODE ACCS (AUTONOMOUS COMPONENT CARRIER SELECTION) Gatra Erga Yudhanto 2208100115 Pembimbing : Prof.
ANALISIS KUALITAS VOICE CALL PADA JARINGAN WCDMA DENGAN DRIVE TEST MENGGUNAKAN TEMS INVESTIGATION
ANALISIS KUALITAS VOICE CALL PADA JARINGAN WCDMA DENGAN DRIVE TEST MENGGUNAKAN TEMS INVESTIGATION Sandy Pamungkas 11408025 Pembimbing : Dr. Hamzah Afandi, ST.,MT. Erma Triawati Ch,. ST.,MT. Latar Belakang
BAB V PENUTUP. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu : a. Tema diskon tetap diandalkan oleh sebagian perusahaan terutama pada
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Melihat dari semua tahap analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu : 1. Terkait rumusan masalah pertama, maka terdapat dua
BAB III. IMPLEMENTASI WiFi OVER PICOCELL
21 BAB III IMPLEMENTASI WiFi OVER PICOCELL 3. 1 Sejarah Singkat Wireless Fidelity Wireless fidelity (Wi-Fi) merupakan teknologi jaringan wireless yang sedang berkembang pesat dengan menggunakan standar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Performansi jaringan komunikasi seluler dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain data rate, area cakupan, topologi, ukuran jaringan, dan konsumsi daya (Binsar D.P.,
Analisa Unjuk Kerja Jaringan Operator 3G(WCDMA-UMTS) Menggunakan Metode Drivetest
Analisa Unjuk Kerja Jaringan Operator 3G(WCDMA-UMTS) Menggunakan Metode Drivetest Heri Kiswanto 1, Arifin ST, MT 2 1 Mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Jurusan Teknik Telekomunikasi 2 Dosen
ANALISIS COVERAGE AREA WIRELESS LOCAL AREA NETWORK (WLAN) b DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR RADIO MOBILE
ANALISIS COVERAGE AREA WIRELESS LOCAL AREA NETWORK (WLAN) 802.11b DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR RADIO MOBILE Dontri Gerlin Manurung, Naemah Mubarakah Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Departemen Teknik
EVALUASI KUALITAS PENERIMAAN SIARAN ANTV DI WILAYAH KABUPATEN KUBU RAYA
EVALUASI KUALITAS PENERIMAAN SIARAN ANTV DI WILAYAH KABUPATEN KUBU RAYA Hadiansyah 1 ), Hidayat Srihendayana 2 ), Neilcy T. Mooniarsih 3 ), Program Studi Teknik Elektro Jurusan Elektro Fakultas Teknik
E-Journal SPEKTRUM. Ida Bagus Ari Budiarta, Pande Ketut Sudiarta, IGAK. Diafari Djuni H. 1
Ida Bagus Ari Budiarta, Pande Ketut Sudiarta, IGAK. Diafari Djuni H. 1 ANALISIS KUAT SINYAL DAN KUALITAS PANGGILAN JARINGAN GSM INDOOR DENGAN TEMS INVESTIGATION DAN G-NETTRACK PRO Ida Bagus Ari Budiarta
PERANCANGAN JARINGAN INDOOR 4G LTE TDD 2300 MHZ MENGGUNAKAN RADIOWAVE PROPAGATION SIMULATOR
PERANCANGAN JARINGAN INDOOR 4G LTE TDD 2300 MHZ MENGGUNAKAN RADIOWAVE PROPAGATION SIMULATOR Alfin Hikmaturokhman 1,Khoirun Ni amah 2, Eka Setia Nugraha 3 1 [email protected], 2 [email protected],
Analisis Pengaplikasian MCPA pada Perusahaan Provider GSM di Daerah Sumatera Utara
Analisis Pengaplikasian MCPA pada Perusahaan Provider GSM di Daerah Sumatera Utara Stephen Sanjaya Mulyanto 1, Eva Yovita Dwi Utami 2 Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer,
BAB III PERANCANGAN DAN SIMULASI LEVEL DAYATERIMA DAN SIGNAL INTERFERENSI RATIO (SIR) UE MENGGUNAKAN RPS 5.3
BAB III PERANCANGAN DAN SIMULASI LEVEL DAYATERIMA DAN SIGNAL INTERFERENSI RATIO (SIR) UE MENGGUNAKAN RPS 5.3 3.1 Jaringan 3G UMTS dan HSDPA Jaringan HSDPA diimplementasikan pada beberapa wilayah. Untuk
BAB III ANALISIS TRAFIK DAN PARAMETER INTERFERENSI CO-CHANNEL
BAB III ANALISIS TRAFIK DAN PARAMETER INTERFERENSI CO-CHANNEL Proses pengukuran dan pemantauan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas dari jaringan GSM yang ada, Kemudian ditindak lanjuti dengan
ANALISIS MODEL PROPAGASI PATH LOSS SEMI- DETERMINISTIK UNTUK APLIKASI TRIPLE BAND DI DAERAH URBAN METROPOLITAN CENTRE
ANALISIS MODEL PROPAGASI PATH LOSS SEMI- DETERMINISTIK UNTUK APLIKASI TRIPLE BAND DI DAERAH URBAN METROPOLITAN CENTRE Nining Triana, Maksum Pinem Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Departemen Teknik Elektro
OPTIMASI JARINGAN 3G BERDASARKAN ANALISIS BAD SPOT DI AREA JAKARTA PUSAT 3G NETWORK OPTIMIZATION BASED ON BAD SPOT ANALYSIS IN CENTRAL JAKARTA
OPTIMASI JARINGAN 3G BERDASARKAN ANALISIS BAD SPOT DI AREA JAKARTA PUSAT 3G NETWORK OPTIMIZATION BASED ON BAD SPOT ANALYSIS IN CENTRAL JAKARTA Hamam Wira Wardani 1 Hafidudin ST,.MT 2 Atik Novianti, S.ST.,MT
BAB IV HASIL PENGUKURAN DAN ANALISA. radio IP menggunakan perangkat Huawei radio transmisi microwave seri 950 A.
76 BAB IV HASIL PENGUKURAN DAN ANALISA Pada Bab IV ini akan disajikan hasil penelitian analisa performansi kinerja radio IP menggunakan perangkat Huawei radio transmisi microwave seri 950 A. Pada penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi telekomunikasi di Indonesia menyebabkan semakin banyaknya fasilitas yang ditawarkan seperti video conference, streaming, dan game
PROPAGASI GELOMBANG RADIO HF PADA SIRKIT KOMUNIKASI STASIUN TETAP DENGAN STASIUN BERGERAK
Berita Dirgantara Vol. 10 No. 3 September 2009:64-71 PROPAGASI GELOMBANG RADIO HF PADA SIRKIT KOMUNIKASI STASIUN TETAP DENGAN STASIUN BERGERAK Jiyo Peneliti Bidang Ionosfer dan Telekomunikasi, LAPAN RINGKASAN
ANALISIS NILAI LEVEL DAYA TERIMA MENGGUNAKAN MODEL WALFISCH-IKEGAMI PADA TEKNOLOGI LONG TERM EVOLUTION (LTE) FREKUENSI 1800 MHz
ANALISIS NILAI LEVEL DAYA TERIMA MENGGUNAKAN MODEL WALFISCH-IKEGAMI PADA TEKNOLOGI LONG TERM EVOLUTION (LTE) FREKUENSI 1800 MHz Achmad Reza Irianto 1, M. Fauzan Edy Purnomo. S.T., M.T. 2 Endah Budi Purnomowati,
PERENCANAAN KEBUTUHAN NODE B PADA SISTEM UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM (UMTS) DI WILAYAH UBUD
PERENCANAAN KEBUTUHAN NODE B PADA SISTEM UNIVERSAL MOBILE TELECOMMUNICATION SYSTEM (UMTS) DI WILAYAH UBUD Agastya, A.A.N.I. 1, Sudiarta, P.K 2, Diafari, I.G.A.K. 3 1,2,3 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas
BAB I PENDAHULUAN. ke lokasi B data bisa dikirim dan diterima melalui media wireless, atau dari suatu
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Transmisi merupakan suatu pergerakan informasi melalui sebuah media jaringan telekomunikasi. Transmisi memperhatikan pembuatan saluran yang dipakai untuk mengirim
EVALUASI HOTSPOT GRATIS DI KOTA BANDA ACEH MENGGUNAKAN NETSTUMBLER
EVALUASI HOTSPOT GRATIS DI KOTA BANDA ACEH MENGGUNAKAN NETSTUMBLER Rizal Munadi 1), Kesuma Fitri 2), Ernita Dewi Meutia 3 ) Wireless and Networking Research Group (Winner) Jurusan Teknik Elektro, Universitas
BAB III METDOLOGI PENELITIAN
BAB III METDOLOGI PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Komunikasi merupakan hal penting dalam menjalankan suatu hubungan bisnis, belajar dan sebagainya. Akan tetapi komunikasi akan buruk jika adanya sebuah gangguan
PERBANDINGAN EFEKTIFITAS BTS BERBASIS ANTENA SINGLE- BAND DAN MULTI-BAND UNTUK MENDUKUNG KESTABILAN JARINGAN
PERBANDINGAN EFEKTIFITAS BTS BERBASIS ANTENA SINGLE- BAND DAN MULTI-BAND UNTUK MENDUKUNG KESTABILAN JARINGAN Adith I.S 1, Agnes E.T 2, Basuki R.H 3, Ahmad S 4, Binti M 5 1,2,3 Jurusan Teknik Elektro, 4,5
Analisis Penyambungan Kabel Fiber Optik Akses Dengan Kabel Fiber Optik Backbone
Analisis Penyambungan Kabel Fiber Optik Akses Dengan Kabel Fiber Optik Backbone Irfan Hanif Konsentrasi Teknik Komputer dan Jaringan Teknik Informatika dan Komputer Politeknik Negeri Jakarta Depok, Indonesia
PENGKAJIAN KUALITAS SINYAL DAN POSISI WIFI ACCESS POINT DENGAN METODE RSSI DI GEDUNG KPA POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PENGKAJIAN KUALITAS SINYAL DAN POSISI WIFI ACCESS POINT DENGAN METODE RSSI DI GEDUNG KPA POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA Aishah Garnis 1, Suroso 1, Sopian Soim 1 1 Jurusan Teknik Elektro PS Teknik Telekomunikasi,
BAB I PENDAHULUAN. berkomunikasi yang cenderung memerlukan data rate tinggi, hal ini terlihat dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan trafik dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring trend berkomunikasi yang cenderung memerlukan data rate tinggi, hal ini terlihat dari kepuasan pelanggan
ANALISIS UNJUK KERJA MULTI BAND CELL PADA GSM DUAL BAND
ANALISIS UNJUK KERJA MULTI BAND CELL PADA GSM DUAL BAND Budihardja Murtianta, Andreas Ardian Febrianto, Rosalia Widya Pratiwi ANALISIS UNJUK KERJA MULTI BAND CELL PADA GSM DUAL BAND Budihardja Murtianta,
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Untuk pengumpulan dan pengolahan data hasil pengukuran dari perangkat telekomunikasi pelanggan yang dapat menimbulkan gangguan intermittent, maka kita perlu melakukan
Radio dan Medan Elektromagnetik
Radio dan Medan Elektromagnetik Gelombang Elektromagnetik Gelombang Elektromagnetik adalah gelombang yang dapat merambat, Energi elektromagnetik merambat dalam gelombang dengan beberapa karakter yang bisa
PW-MIA-33-CDW SITE XXX. Indoor Walk Test Overview
LAPORAN PERCOBAAN PERBANDINGAN PENGGUNAAN LINE AMPLIFIER PW-MIA-33-CDW SITE XXX Indoor Walk Test Overview Pendahuluan Site XXX merupakan Combined site dengan multi-operator Yakni : CDMA800-Flexi, DCS 1800mhz
TF4041- TOPIK KHUSUS A
TF4041- TOPIK KHUSUS A UPI s Amphitheatre Building OLEH: Laksmana Hanif Nugroho - 13310097 PROGRAM STUDI TEKNIK FISIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Kebutuhan untuk belajar telah
ANALISIS RSCP PADA HSDPA DAN HSUPA DI WILAYAH KOTA MALANG
Prosiding SENTIA 216 Politeknik Negeri Malang Volume 8 ISSN: 285-2347 ANALISIS RSCP PADA HSDPA DAN HSUPA DI WILAYAH KOTA MALANG Agnes Estuning Tyas 1, Aisah 2, Mochammad Junus 3 Jaringan Telekomunikasi
PERHITUNGAN PATHLOSS TEKNOLOGI 4G
PERHITUNGAN PATHLOSS TEKNOLOGI 4G Maria Ulfah 1*, Nurwahidah Jamal 2 1,2 Jurusan Teknik Elektronika, Politeknik Negeri Balikpapan * e-mail : [email protected] Abstract Wave propagation through
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berkembangnya dunia teknologi telekomunikasi dan informasi sejalan dengan kebutuhan akan kecepatan dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berkembangnya dunia teknologi telekomunikasi dan informasi sejalan dengan kebutuhan akan kecepatan dan kestabilan akses internet. Maka diperlukan suatu peningkatan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PROGRAM PENGOLAHAN CITRA BIJI KOPI Citra biji kopi direkam dengan menggunakan kamera CCD dengan resolusi 640 x 480 piksel. Citra biji kopi kemudian disimpan dalam file dengan
Perencanaan dan Simulasi Jaringan Small Cell Indoor Hotspots Studi Kasus di Gedung Vokasi Universitas Telkom
JURNAL ILMIAH SEMESTA TEKNIKA Vol. 20, No. 1, 67-74, Mei 2017 67 Perencanaan dan Simulasi Jaringan Small Cell Indoor Hotspots Studi Kasus di Gedung Vokasi Universitas Telkom (Planning and Network Simulation
[STASIUN TELEVISI SWASTA DI JAKARTA]
5.1. Konsep Dasar BAB V KONSEP PERANCANGAN Konsep Dasar yang akan di terapkan pada bangunan Stasiun Televisi Swasta ini berkaitan dengan topik Ekspresi Bentuk, dan tema Pendekatan ekspresi bentuk pada
