memperhatikan aspek keamanan pangannya.

dokumen-dokumen yang mirip
Pemakaian Pelumas. Rekomendasi penggunaan pelumas hingga kilometer. Peningkatan rekomendasi pemakaian pelumas hingga

BAB IX PELUMAS/GREASE

Optimasi Sabun Logam Campuran (Li-Ca) Pada Pembuatan Pelumas Padat (Grease) Dari Palm Fatty Acid Destillate (PFAD)

OPTIMASI RASIO PALM FATTY ACID DESTILATE ( PFAD ) DAN SABUN LOGAM PADA PEMBUATAN PELUMAS PADAT (GREASE ) BIODEGRADABLE

Created by Training Department Edition : April 2007

FORMULASI GEMUK LUMAS RAMAH LINGKUNGAN (BIODEGRADABLE GREASE) Ratu Ulfiati, M. Rizkia Malik, Pandu Asmoro Bangun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penelitian penelitian terdahulu berhubungan dengan pelumas M. Syafwansyah Effendi dan Rabiatul Adawiyah (2014).

I. PENDAHULUAN. masih awam akan mesin sepeda motor, sehingga apabila mengalami masalah atau

Pemeriksaan & Penggantian Oli Mesin

PERTAMINA LUBRICANTS GUIDE

UNIVERSITAS INDONESIA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dan otomatis. Maka dari itu minyak pelumas yang di gunakan pun berbeda.

LUBRICATING SYSTEM. Fungsi Pelumas Pada Engine: 1. Sebagai Pelumas ( Lubricant )

RANCANGAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (SATUAN ACUAN PERKULIAHAN) : Teknologi Bahan Bakar dan Pelumasan Kode MK/SKS : TM 333/2

BAB II LANDASAN TEORI

BAGIAN-BAGIAN UTAMA MOTOR Bagian-bagian utama motor dibagi menjadi dua bagian yaitu : A. Bagian-bagian Motor Utama yang Tidak Bergerak

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA

PEMBUATAN GEMUK BIO FOODGRADE MENGGUNAKAN THICKENER SABUN KALSIUM KOMPLEKS SKRIPSI

GANDAR 800 PELUMAS ASPOT GERBONG KERETA API

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA PENGUJIAN

PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP VISKOSITAS MINYAK PELUMAS. Daniel Parenden Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Musamus

Perbandingan Tegangan Tembus Isolasi Minyak Transformator Diala B Dan Mesran Super Sae 40 W Menggunakan Hypot Model 04521aa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

Cara uji penetrasi aspal

BAB III PROSEDUR PENGUJIAN

METODE PENGUJIAN TITIK LEMBEK ASPAL DAN TER

mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pihak

BAB I PENDAHULUAN. membuka peluang bagi pihak lain diluar Pertamina untuk mendistribusikan

PERTAMINA ATF MINYAK TRANSMISI OTOMATIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM).

KEGIATAN BELAJAR 1 PENGENALAN SISTEM HIDROLIK

MODUL II VISKOSITAS. Pada modul ini akan dijelaskan pendahuluan, tinjauan pustaka, metodologi praktikum, dan lembar kerja praktikum.


ANALISIS TERJADINYA HIGH OIL CONSUMPTION PADA LUBRICATION SYSTEM PESAWAT BOEING PK-GGF

BAB I PENDAHULUAN. dalam penunjang aktivitas di segala bidang. Berbagai aktivitas seperti

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Identifikasi Sistem Kopling dan Transmisi Manual Pada Kijang Innova

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN MITSUBISHI L CC

Uji Eksperimental Pertamina DEX dan Pertamina DEX + Zat Aditif pada Engine Diesel Putaran Konstan KAMA KM178FS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Cara uji titik lembek aspal dengan alat cincin dan bola (ring and ball)

ANALISIS KARAKTERISTIK PENGARUH SUHU DAN KONTAMINAN TERHADAP VISKOSITAS OLI MENGGUNAKAN ROTARY VISCOMETER

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN

Konstruksi CVT. Parts name


Perawatan System C V T

JOB SHEET PRATIKUM KONSTRUKSI JALAN

Gambar 3.1 Diagram alir metodologi pengujian

BAB II LANDASAN TEORI

Pengolahan Pelumas Bekas Secara Fisika

Tabel 3. Hasil uji karakteristik SIR 20

PEMERIKSAAN TITIK LEMBEK ASPAL (RING AND BALL TEST) (PA ) (AASHTO-T53-74) (ASTM-D36-69)

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TURBIN UAP PADA PLTU

BAB III LANDASAN TEORI

BAB IV PENGENALAN MESIN KILN

MENGENAL PELUMAS PADA MESIN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Gesekan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 3 METODOLOGI 3.1 Pendekatan Penelitian

Oleh sebab itu pembuatan silinder diperlukan ketelitian yang tinggi.

1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SISTEM TRANSMISI OTOMATIS SEPEDA MOTOR

DAFTAR SNI PRODUK/PERALATAN SUB BIDANG MINYAK DAN GAS BUMI

FORMULASI FOOD GRADE GREASE BERBAHAN DASAR MINYAK SAWIT (RBDPO) DENGAN VARIASI PENAMBAHAN MINYAK JARAK, BAHAN PENGENTAL, DAN KONSENTRASI Zn STEARAT

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Studi Pustaka. Persiapan Dan Pengesetan Mesin. Kondisi Baik. Persiapan Pengujian. Pemasangan Alat Ukur

Spesifikasi Oli dan Cairan Pendingin Untuk Kendaraan RIV

EFEK PENAMBAHAN ZAT ADITIF PADA MINYAK PELUMAS MULTIGRADE TERHADAP KEKENTALAN DAN DISTRIBUSI TEKANAN BANTALAN LUNCUR

Construction

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Bagan Alir Penelitian. Mulai. Studi Pustaka. Persiapan Alat dan Bahan. Pengujian Bahan

Kata Pengantar. sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan

Sistem Hidrolik. Trainer Agri Group Tier-2

BAB II DASAR TEORI. Menurut Wiranto Arismunandar (1988) Energi diperoleh dengan proses

Gesekan. Hoga Saragih. hogasaragih.wordpress.com

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ANALISIS KEAUSAN ALUMUNIUM MENGGUNAKAN TRIBOTESTER PIN-ON-DISC DENGAN VARIASI KONDISI PELUMAS

TIN107 - Material Teknik #10 - Metal Alloys (2) METAL ALLOYS (2) TIN107 Material Teknik

Gambar 4.1. Bagan Alir Penelitian

ANALISA PERBANDINGAN OLI BERBAHAN DASAR PETROLEUM DENGAN OLI BERBAHAN DASAR NABATI DALAM MENGURANGI TINGKAT KEAUSAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil pengujian Pengaruh Perubahan Temperatur terhadap Viskositas Oli

PERAWATAN & PERBAIKAN SISTEM KOPLING

METODE PENGUJIAN CAMPURAN ASPAL DENGAN ALAT MARSHALL

BAB III LANDASAN TEORI

Pembahasan Materi #11

Pengaruh Temperatur Terhadap Penetrasi Aspal Pertamina Dan Aspal Shell

METODOLOGI PENELITIAN. untuk campuran lapis aspal beton Asphalt Concrete Binder Course (AC-

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN LITERATUR

Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan (RKPM)

Transkripsi:

BAB 1 - PEMBAHASAN A. Definisi Oli Grease Grease atau gemuk lumas adalah padatan atau semi padatan campuran pelumas dengan bahan pengental yang berfungsi mengurangi gesekan dan keausan antara dua bidang atau permukaan yang saling bersinggungan atau bergesekan. Grease juga berfungsi sebagai media pembawa panas keluar serta untuk mencegah karat pada bagian mesin. Sifat-sifat grease yang baik adalah mengurangi gesekan, mencegah korosi, sebagai penyekat dari kotoran atau air, mencegah kebocoran, konsistensi dan struktur tidak berubah, tidak mengeras pada suhu rendah, sifat yang sesuai dengan penyekat elastomer dan mempunyai toleransi pencemar pada tingkat tertentu. Grease berdasarkan tujuan pemakaiannya dibagi atas grease untuk industri otomotif, sistem transportasi dan industri non otomotif seperti pangandan pertanian. Pemakaian grease untuk masing-masing tujuan ini dibedakan oleh sifat dan karakteristik grease. Untuk tujuan industri pangan misalnya, karakteristik grease yang digunakan lebih khusus di banding dengan karakteristik grease yang digunakan pada industri otomotif. Industri pangan mempunyai persyaratan tambahan, tidak hanya aspek pelumasannya saja tetapi juga memperhatikan aspek keamanan pangannya. Gambar 1 : Grease B. Pembuatan Grease Grease tersusun atas beberapa komponen, yaitu : 1. Base oil Kandungan base oil dalam pembuatan grease adalah 75-95 %. Beberapa tipe minyak dasar dalam pembuatan grease adalah : - minyak bumi dari jenis parafinik - minyak nabati : minyak sawit, minyak jarak, dan lain-lain - minyak sintetis : senyawa kompleks hidrokarbon 2. Bahan pengental (Thickener) Komponen ini berfungsi sebagai bahan pengental dalam produk grease dengan kandungan 5-20 %. Beberapa tipe pengental yang umum digunakan adalah : - pengental organik sintetik (zatanorganik gel) : poliurea, sabun logam sederhana dan - sabun logam kompleks - sabun yang terbentuk dari asam lemak ataupun ester yang berasal dari minyak nabati 1 Page

Gambar 2 : Thickener Agent pada Grease 3. Aditif Aditif berfungsi meningkatkan performa grease dengan kandungan 0-15 %. Aditif yang ditambahkan perlu diperhatikan terutama sifat biodegrability-nya terhadap lingkungan. Kemampuan grease sebagai bahan lubrikan tergantung pada base oil,bahan pengental serta aditifnya. Bahan pengental, ibarat busa, menyerap minyak dan nantinya melepaskannya ke komponen yang dilumasi. Sebagian molekul bahan pengental terserap ke permukaan logam yang dilumasi untuk mencegah terjadinya kontak antar logam logam. Sifat grease tersebut diperkuat dengan adanya aditif. Aditif ini merupakan suatu bahan yang berfungsi sebagai vitamin bagi grease yang kegunaannya antara lain : Sebagai anti korosi Minyak pelumas harus mampu mencegah atau mengurangi proses timbulnya karat/proses korosi atau melindungi permukaan yang dilumasi dari terbentuknya karat. Untuk meningkatkan kemampuan pencegahan timbulnya karat, maka digunakan aditif sebagi anti korosi. Sebagai anti aus Untuk pembebanan kontak antara bidang yang relatif tinggi, pelumas harus mampu mencegah keausan secara pasif dengan membentuk lapisan film yang kuat di permukaan yang dilumasi, sehingga mampu mengurangi permukaan sentuh logam yang dilumasi dan secara aktif bereaksi dengan permukaan logam untuk mencegah terjadinya proses pemanasan setempat akibat beban yang tinggi. Sebagai anti oksidan Proses oksidasi menyebabkan kerusakan pelumas dan menyebabkan timbulnya kotoran serta asam yang dapat menimbulkan masalah selanjutnya. Untuk itu minyak pelumas harus mempunyai sifat/kemampuan tahan terhadap oksidasi, guna melindungi diri dari proses kerusakan serta menetralisir asam-asam yang mungkin terbentuk. Mempertahankan kekentalan grease (viscosity index improver) Aditif untuk mempertahankan kekentalan grease diperlukan untuk mencegah pengenceran grease. Pada suhu mesin tinggi akibat mesin bekerja dengan waktu lama dan pada suhu udara panas, grease akan mengencer. Peran grease yang menjadi encer tentu saja akan kurang efektif. Oleh karena itu dibutuhkan bahan aditif yang bersifat dapat mempertahankan kekentalan grease. 2 Page

Gambar 3 : Bahan dasar grease C. Standar Grease Grease pada dasarnya merupakan pelumas yang dipadatkan dengan sabun logam atau non sabun logam. Ketentuan mutu dari grease ditentukan berdasarkan beberapa uji mekanik, diantaranya adalah : 1. ASTM D 2266 untuk menentukan sifa tanti aus 2. ASTM D 2596 untuk menentukan sifat tekanan ekstrim 3. ASTM D 2596 untuk menentukan kestabilan mekanik dari grease Seperti halnya kekentalan pada pelumas, untuk grease dinyatakan dengan kekerasan (consistency). Pengelompokannya ditentukan oleh National Lubricating Grease Institute (NLGI) yang membagi kekerasan grease menjadi 9 tingkat kekerasan, dari tingkat kekerasan 000 sampai dengan 6, seperti ditunjukkan pada tabel. Makin besar angka NLGI, makin keras greasenya dan makin kecil n omor NLGInya makin lunak greasenya. 3 Page

Tabel 1 : NLGI Lubricating Grease Consistency Grade Untuk penggunaan grease dari masing-masing spesifikasi karakteristik dan parameter unjuk kerja untuk tingkat mutu NLGI GA, GB DAN GC dapat dilihat pada table berikut : Klasifikasi NLGI Kriteria Mutu Pelumasan menurut ASTM D 5950 Digunakan untuk bantalan gelinding baik pada kendaraan penumpang, truk NLGI GA dan kendaraan atau mesin lain dengan beban ringan. Mampu bekerja pada suhu operasi antara -20oC s/d 60oC. Kemampuan layanan yang lebih spesifik klasifikasi untuk GA tidak diperlukan. Digunakan untuk bantalan gelinding, mesin-mesin industry yang bekerja NLGI GB sedang, bantalan roda pada kendaraan penumpang, truk dan kendaraan atau mesin lain dengan beban ringan sampai beban sedang. Mampu bekerja pada temperature operasi antara -20oC s/d 70oC. Digunakan untuk bantalan luncur, bantalan roda pada kendaraan NLGI GC penumpang, truk dan kendaraan atau mesin lain dengan beban ringan sampai berat. Mampu bekerja pada suhu operasi antara -20 oc s/d 160oC, bahkan bisa mencapai 200oC. Tabel 2 : Tingkat mutu NLGI GA, GB, dan GC 4 Page

D. Karakteristik Grease Kemampuan pelumasan grease tergantung pada bahan baku utama (baseoil) serta pengentalnya. Pengental dapat diidentikkan dengan serat yang dapat menyerap dan kemudian melepaskannya ke komponen yang dilumasi. Sebagian molekul pengental terserap kepermukaan logam yang dilumasi, yang bertujuan untuk mencegah kontak langsung antar komponen. Sifat-sifat grease yang utama ada dua, yaitu konsistensi (consistency) dan titik leleh (dropping point). 1. Penetrasi/konsistensi Pengukurannya menggunakan alat khusus yang dinamakan One Quarter Scale Cone Equipment. Untuk penggolongan penetrasi ini telah dibuat oleh NLGI, dimana makin kecil nomor NLGI maka makin lunak greasenya. 2. Titik leleh (dropping point) Titik leleh adalah temperatur pada saat grease mulai mencair. Titik leleh digunakan untuk quality control dan pengenalan grease. Titik leleh tidak menunjukkan batasan maksimum temperatur kerjanya. Pada umumnya suhu kerja grease jauh lebih tinngi dari titik lelehnya. Karakteristik lainnya dari grease dapat dilihat pada jenisnya, yaitu jenis sabun (soap) atau bukan dari sabun (non soap). Sabun yang dimaksud adalah sabun metalik atau abun logam. Pada umumnya grease adalah minyak mineral yang dipadatkan dengan sabun logam. Dilihat dari sabun yang digunakan secara umum,gemuk lumas dapat digolongkan ke dalam jenis : a. Dasar aluminium (Al) Sabun logam dengan menggunakan dasar aluminium mempunyai sifat lembek, halus, transparanserta mempunyai ketahanan terhadap air. Jenis sabun logam ini sangat baik untukkondisi kerja dibawah suhu 50oC. b. Dasar kalsium (Ca) Sabun logam dengan menggunakan dasar kalsium mempunyai sifat lembek, halus dan tahan terhadap air. Jenis sabun logam ini sangat baik untuk kondisi kerja dibawah suhu 50 oc. c. Dasar natrium (Na) Sabun logam dengan menggunakan dasar natrium mempunyai sifat agak berurat/serat dan dapat mencegah karat dengan baik, tetapi mudah larut dalam air. Jenis sabun logam ini sangat baik untuk kondisi kerja dibawah suhu 100oC. d. Dasar litium (Li) Sabun logam dengan menggunakan dasar aluminium mempunyai sifat lembek, halus, mantap dalam pemakaian serta mempunyai ketahanan terhadap air. Jenis sabun logam ini sangatbaik untuk kondisi kerja dibawah suhu 150oC. 5 Page

Gambar 4 : Macam-macam grease Grease non sabun adalah grease yang mempunyai dasar bukan sabun,seperti menggunakan silikon yang biasanya digunakan untuk pemakaian suhu tinggi. Informasi karakteristik tipikal grease dapat dilihat seperti pada tabel dibawah. Tabel 3 : Informasi Grease Komersial 6 Page

E. Metode Pengujian Grease 1. Cone Penetration Cone penetration ( DIN 2137 ) adalah suatu metode untuk mengukur daya tahan grease terhadap gaya tekan sebuah batang kerucut, metode ini akan mendefinisikan nilai viskositas. Cara pengukuran : Grease diletakkan pada bejana penetrometer dan ditekan pada suhu 25 C selama 5 detik. Kedalaman penetrasi diukur dalam skala mm. Grease diklasifikasikan menurut NLGI dengan grade mulai 000 ( cair ) sampai 6 ( solid ). Gambar 6 : Metode Pengujian Cone Penetration Gambar 7: Alat Uji Cone Penetration - (Penetrometer) 7 Page

Gambar 8 : Tipe Grease NLGI 000 (cair) 2. Gambar 9 : Tipe Grease NLGI 3 (padat) Dropping Point Dropping point adalah suatu metode untuk mengetahui suhu tertinggi suatu grease mulai mengalir, dan tidak berhubungan dengan temperatur kerja dari grease. Cara pengukuran : Grease dimasukkan dalam suatu tube dan dipanaskan. Kemudian diukur pada suhu berapa grease mulai jatuh menetes. Semakin tinggi suhunya semakin baik Gambar 10 : Metode Pengujian Dropping Point 8 Page

3. Consistency & Working Stability Consistency & working stability adalah metoda untuk mengukur daya tahan grease terhadap gaya tekan pada disc yang memiliki lubang dan ditekan berulang kali. Cara pengukuran : Grease diletakkan di grease cup dan ditekan sebanyak 60 stroke, kemudian dilihat wujud grease tersebut. Grease selanjutnya ditekan sebanyak 10.000 stroke dan dilihat perubahan wujudnya. Grease yang baik memiliki perubahan wujud atau struktur yang sedikit. Gambar 11: Metode Pengujian Consistency & Working Stability Gambar 12: Grease cup dengan hole plate Gambar 13 : Pengujian Grease 9 Page

4. Oil Separation Oil Separation adalah suatu metode menguji ketahanan grease dalam menjaga base oil untuk tetap dalam satu kesatuan homogen. Cara pengukuran : Grease dimasukkan ke sebuah cangkir dan diberi beban 100 gram diatasnya lalu dioven 40 C selama satu minggu. Kemudian jumlah oli terpisah akan ditimbang dan dinotasikan kedalam persentase dari berat awal grease. Semakin kecil persentasenya akan semakin baik kualitas grease. Pemisahan oli dari grease sangat tergantung dari jenis base oil, thickening agent dan metode pembuatannya. Gambar 13: Metode Pengujian Oil Separation 5. Water Resistance Water resistance adalah suatu metode untuk mengetahui kemampuan grease dalam menahan daya adhesi oleh air sehingga strukurnya menjadi rusak. Cara pengukuran : Grease dioleskan pada metal yang dicoated dengan cd anidate dan dimasukkan ke gelas yang berisi air dan didiamkan selama 3 jam pada suhu 90 C. Lalu diamati perubahan warna yang terjadi, perubahan ini diskalakan dalam range : angka 0 ( tanpa perubahan ) sampai angka 3 ( perubahan mayor ) Grease yang baik adalah tanpa perubahan 10 P a g e

Gambar 14: Metode Pengujian Water Resistance 6. Four Ball EP Test Four Ball EP test adalah suatu metode untuk mengetahui kemampuan grease terutama aditif EP dalam menahan beban. Cara pengukuran : Grease dimasukkan dalam bejana yang berisi empat bola baja yang tersusun dalam bentuk tetrahedron.kemudian bola paling atas diputar 1800 rpm dan dari bawah diberi beban selama 10 detik. Test ini diulang ulang sampai mendapatkan beban maksimal dimana keempat bola baja tersebut menjadi satu ( terjadi efek pengelasan ). Grease dengan EP terbaik adalah yang menerima beban terbesar. Gambar 15: Metode Pengujian Four Ball EP Test 11 P a g e

7. Rotational Viscometer Rotational Viscometer adalah suatu metode untuk mengukur viskositas grease dengan prinsip kecepatan rotasi. Cara pengukuran : Grease dimasukkan dalam bejana dan lengan pemutar beserta pegasnya diputar. Akibat putaran grease akan menghambat sehingga memberi gaya lawan terhadap pegas, defleksi pegas akan menghasilkan torsi. Viskositas diukur oleh variabel kecepatan rotasi, geometri alat, bentuk wadah. Metode ini cukup rumit untuk diaplikasinya dibanding cone penetration. Gambar 16: Alat Pengujian Rotational Viscometer F. Aplikasi Penggunaan Grease 1) Super Lube Multi Purpose Grease Plain, anti-friction, ball, roller, wheel bearings Cams, slides, valves, conveyors, chains Food processing equipment Caliper assembly and bearing grease Seat regulators and tracks Fifth wheels Parts lubricant Winches, pulleys, snaps Trailer and buddy bearings 12 P a g e

Dielectric grease, battery protector Gambar 17 : Bearings 13 P a g e

2) Silicone Dielectric Grease Lubricates and moisture proofs Protects battery cables, spark plugs, distributor caps Cable connections Terminal strips and disconnects 3) Silicone Lubricating Grease Treadmills, exercise equipment O-Rings Tools, mold release Grommets, locks Food manufacturing equipment Electronic equipment, plastic parts High speed machinery Gambar 18 : Food Grade Grease Weather stripping 4) High Temperature/Extreme Pressure Grease Plain (journal, sleeve, guide) bearings Anti-friction or roller bearings Tenter frames Bakery conveyor bearings Blower fan bearings Lithographic ovens Paint and ceramic curing ovens Furnace door hinges Oven damper controls Corrugating machinery Gambar 19 : Blower fan bearings Sluice Gates 5) Oil Applications a. Oil with PTFE Plain, anti-friction and roller bearings Reciprocating compressor lubricant additive Machine ways and tools Centralized lubricating systems Straight, helical, bevel and spiral gears Enclosed industrial gears Chains Gear head motors Conveyors Gambar 20 : Chains 14 P a g e

b. Lightweight Oil General light oil applications Textile spindles Grinder arbor bearings Ring oiled bearings Wick feeds Bottle and air line oilers Oil cups Enclosed chains Light circulating systems Gambar 21 : Wick feeds Food grade chain lubricant c. Air Tool Oil Air impact tools Drills Grinders Screwdrivers Sanders Percussion tools Household shop tools All oil lubricated Air tools Air line lubricatorsair misting and dripping applicators d. Synthetic Gear Oil Spur Gears Helical Gears Herringbone Gears Rack and pinion Gears Straight bevel Gears Spiral bevel Gears Worm Gears (E.P.) Chain drive Circulating systems High temperature chains Gambar 22 : Gears Oil lubricated bearings Gear boxes 15 P a g e

6) Aerosol Applications a. Industrial Bearings, Conveyors, Chains, Pumps, Open gears b. Automotive Calipers, Chassis, Dielectric grease, Door hinges and locks, Shocks & springs, Trunk latches, Battery protector, Power antennas c. Marine Snaps, Zippers, Winches & pulleys, Inboard and outboard drives, Prop shafts, Rollers, Sail tracks d. Household Windows, Locks, Garage doors, Lawnmowers, Pool pumps, Sewing machines, Appliances, Tools, Toys e. Recreational and Sporting Fishing, Bicycles, RV s, Roller blades, Hunting, Weightlifting equipment 7) Silicone Treadmills Exercise equipment O-Rings Rubber gaskets Tools, mold release Grommets, locks Food manufacturing equipment Electronic equipment, plastic parts High speed machinery Weather stripping Gambar 23 : O-Rings 8) Dri Film Industrial slides & glides Intricate clockworks Door Locks and Lock Cylinders Chains, Cable swivels Tools, Mold Release Pipe Fittings Door and Trunk hinges Precision Instruments Electronic equipment Electrical equipment High speed machinery Zippers Gambar 24 : Industrial slides & glides Musical instruments In-line skates and Bicycles Radio controlled cars, boats, and planes G. Kelebihan dan Kekurangan Grease Grease / gemuk mempunya beberapa sifat yang tidak dapat dilakukan oleh cairan pelumas lain, yakni: 1. Keuntungan a. Pelumasannya lama tanpa penambahan karena gemuk tidak dapat mengalir atau menyebar b. Bersifat perapat yang sempurna pencega menempelnya benda-benda asing seperti kotoran, gas dan air pada permukaan yang dilumasi 16 P a g e

c. Mempunyai daya tahan terhadap beban tinggi d. Mengurangi gesekan e. Mencegah korosi f. Mencegah kebocoran g. Konsistensi dan struktur tidak berubah h. Tidak mengeras pada suhu rendah 2. Kerugian a. Dibandingkan dengan oli pelumas, gemuk lebih sulit untuk penanganan, pengisian dan penggantian. b. Mempunyai tahanan gerak besar c. Kemampuan pendinginan rendah sesuai rendahnya kemudahan mengalir, sehingga gemuk cepat panas d. Sulit untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel 17 P a g e

BAB 2 - PENUTUP Kesimpulan Penulis mengambil kesimpulan bahwa penggunaan oli grease/gemuk sangatlah penting baik dibidang apapun. Karena sifat grease yang selalu menempel dan baik dalam menjaga bahan aditif pada benda yang diolesi oleh gemuk, terutama untuk aplikasi terbuka. Grease juga memiliki standar tersendiri yang di standarisasi oleh National Lubricating Grease Institute ( NLGI ) yakni dari 000 (semi cair) sampai 6 (padat). Grease dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yakni dasar Alumunium (Al), dasar kalsium (Ca), dasar Natrium ( Na ),dan dasar litium (la). Pengujian yang dilakukan terhadap grease juga bertujuan agar performa grease tetap terjaga sebagai pelumas yang baik dalam pengaplikasiannya. Penggunaan grease saat ini banyak digunakan dalam dunia manufaktur maupun industry, terutama industry pangan menggunakan grease yang bertipe Food Grade. Grease sendiri memiliki kelebihan antara lain, mempunyai daya tahan terhadap beban tinggi, mengurangi gesekan, mencegah korosi, mencegah kebocoran, konsistensi dan struktur tidak berubah, tidak mengeras pada suhu rendah,dan masih banyak yang lainnya. Penulis berharap untuk kemudian grease dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, terutama penggunaan grease bertipe Food Grade yang memiliki bahan dasar lemak hewani maupun nabati. Dan penggunaan grease digunakan sesuai dengan tipe yang sudah ditentukan agar grease mampu bekerja secara maksimal. 18 P a g e

DAFTAR PUSTAKA 1. http://www.academia.edu/8645548/technical_training_department_service_division_ 2. 3. 4. 5. 6. BASIC_MECHANIC_COURSE_BASIC_MAINTENANCE http://www.scribd.com/doc/117452388/pelumas-padat-gemuk-grease http://www.machinerylubrication.com/read/29371/high-temperature-lubricant http://www.super-lube.com/grease-applications-ezp-16.html http://www.praoto.com/gemuk-vaselin/ http://ocw.usu.ac.id/course/download/4140000062-teknologi-oleokimia/tkk- 322_handout_pelumas.pdf 7. PT. TOYOTA ASTRA MOTOR. 1995. New Step Training Manual. Jakarta 8. Presentasi Perawatan Mesin Pertemuan 6 Grease 2 19 P a g e