BAB II LANDASAN TEORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II LANDASAN TEORI"

Transkripsi

1 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Pelumas Pelumas adalah minyak lumas dan gemuk lumas yang berasal dari minyak bumi, bahan sintetik, pelumas bekas dan bahan lainnya yang tujuan utamanya untuk pelumasan mesin dan peralatan lainnya. Sesuai dengan namanya, fungsi utama pelumas adalah untuk memberikan lapisan minyak antara dua permukaan mencegah keausan dan yang bergeser satu sama lain, sehingga dapat memperkecil kehilangan daya. Disamping itu pelumas juga harus dapat mengalir dengan bebas sehingga panas yang timbul karena gesekan dapat dihilangkan. Banyaknya ragam mesin yang menggunakan pelumas menyebabkan juga jenis pelumas menjadi sangat banyak. Pelumas adalah bahan penting bagi kendaraan bermotor. Memilih dan menggunakan pelumas yang baik dan benar untuk kendaraan bermotor,merupakan langkah tepat untuk merawat mesin dan peralatan kendaraan agar tidak cepat rusak dan mencegah pemborosan. 6

2 2.2 Fungsi Bahan Pelumas Pada umum bahwa fungsi utama oli tidak hanya sebagai pelumas mesin, padahal oli memiliki peranan yang sangat penting yakni sebagai berikut : Mengurangi gesekan Dengan mengurangi gesekan berarti akan mengurangi juga energi dan juga mengurangi pemanasan lokal. Film yang dihasilkan oli diantara permukaan logam tidak lebih dari sekedar melumasi. Dengan komponen mesin didalam terjadi kontak satu sama lain, motor minyak juga memberikan perlindungan terhadap keausan. Namun, ada cara lain oli dalam melindungi mesin. Oli mesin harus melindungi terhadap korosi dari komponen. Oksidasi dari minyak dan kontaminasi melalui kondensasi dan pembakaran oli, BBM dan udara, semua menyebabkan asam dalam oli mesin. Jika asam ini dibiarkan untuk terjadinya kontak dengan komponen mesin, korosi akan terjadi dan terjadi kerusakan komponen secara prematur. Jadi Oli mesin dirancang untuk memerangi asam tersebut Mengurangi Wear ( gram ) Suatu kebutuhan menjaga peralatan agar tetap bisa beroprasi untuk periode yang lama dan bekerja secara efisien. Jika sebuah mesin tidak terjaga tetap bersih, maka tidak dapat terjaga tetap efisien. Deposit kotoran dalam sebuah mesin meningkatkan beban kerja dan mengurangi efisiensi bahan bakar yang secara umum mengurangi 7

3 kinerja mesin. Selain itu, bahan yang mengkontaminasi oli yang tidak terkontrol dapat menyebabkan keausan yang tak terhitung dalam sebuah mesin Setiap partikel yang lebih besar dari 5-20 microns dalam ukuran (tergantung pada kendaraan) akan menyebabkan kerusakan yang serius mesin jika tidak dikurangi atau dihilangkan. Meskipun penyaringan memainkan peran utama di kawasan ini, oli juga berperan ini dengan mencegah terbentuknya deposit dalam mesin dan dengan memegang kontaminan hingga dapat disaring oleh filter oli Pendingin Di dalam engine, pelumas juga berfungsi sebagai zat penukar panas antara bagian-bagian yang terpanasi akibat pembakaran ( misal : piston ) dan system pelepas panas. Pada system yang lain, pelumas sebagai pelepas panas dari hasil gesekan atau kerja mekanik lainnya. Oli bertanggung jawab sebagian besar proses pendingin mesin. Radiator hanya bertanggung jawab untuk mendinginkan bagian atas dari mesin sedangkan bagian crankshaft, camshaft, timing gear, piston, main and connecting rod bearing dan banyak komponen lain yang penting didinginkan oleh oli dalam mesin. Panas dihasilkan dari proses pembakaran dan gesekan dari moving parts, oli secara langsung membawa panas keluar dari mesin ke penampung oli. Dari sini dilepaskan ke udara disekitar penampungan oli. 8

4 Anti korosi Baik dari hasil degradasi pelumas atau akibat kontaminasi hasil pembakaran, pelumas bias bersifat asam dan menjadi korosi pada logam. Adanya uap air dapat juga menyebabkan karat pada besi, oleh sebab itu pelumas harus bias menanggulangi efek-efek tersebut. 2.3 Standar Pelumas Hingga tahun 1992 hanya ada tiga organisasi di dunia yang menetapkan spesifikasi dan klasifikasi minyak pelumas untuk mobil penumpang, truk ringan dan kendaraan angkutan barang. Organisasi ini adalah API, SAE dan ASTM. API adalah bertanggung jawab untuk mengatur sertifikasi dan perijinan pelumas mesin/motor dan juga mengembangkan susunan kata dari spesifikasi pelumas mesin/motor baru. Spesifikasi baru tersebut diterapkan atas permohonan pabrikan kendaraan pada saat mereka menemukan bahwa spesifikasi tertentu atau berbagai spesifikasi yang ada telah tidak sesuai dengan kendaraan produksinya. SAE adalah suatu organisasi profesional untuk mobilitas para profesional rancang bangun di dunia permobilan dan kendaraan angkutan barang industri. Organisasi ini pengembangan standard untuk rancang bangun tentang sarana angkut bertenaga mesin dalam segala bentuk, mencakup kereta, mobil, truk, perahu, pesawat terbang dan lainnya. Sedangkan ASTM adalah organisasi yang menggambarkan target dan parameter capaian untuk masing-masing spesifikasi yang dikembangkan 9

5 oleh SAE. Setelah tahun 1992 berkembang kembali organisasi yang lain seperti ACEA, ISO, AIAM, AAIA, JASO dan lainnya. Hingga saat ini belum ada persyaratan khusus sebagai standar pelumas yang beredar di Indonesia. Spesifikasi pelumas yang beredar di dalam negeri masih mengacu pada standar Internasional. Persyaratan pelumas yang digunakan umumnya disesuaikan dengan anjuran yang diberikan oleh pabrik pembuat mesin, sesuai dengan tugas mesin yang bersangkutan. Mengenai mutu pelumas mesin, digunakan dasar klasifikasi yang umum berlaku, yaitu klasifikasi viskositas menurut Society of Automotive Engineers (SAE), klasifikasi menurut American Petroleum Institute (API). Juga klasifikasi viskositas minyak pelumas industri menurut ASTM (ASTM D 2422), dan klasifikasi viskositas menurut SAE untuk minyak pelumas transmisi Klasifikasi Pelumas Mesin Menurut SAE Society of Automotive Engineers membagi pelumas mesin ke dalam bilangan viskositas SAE (SAE viscosity number) yang didasarkan kepada daerah viskositas pelumas pada suhu tertentu. Klasifikasi minyak pelumas menurut SAE tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.1. Dengan digunakannya aditif yang dapat memperbaiki indeks viskositas (viscosity index improver) yang dapat menaikkan viskositas pelumas pada suhu tinggi, maka disamping pelumas karter single grade, banyak digunakan juga pelumas karter multigrade, seperti pelumas karter SAE 5W-40, SAE 5W-50, SAE 10

6 10W-40, dan SAE 10W-50. Pelumas karter 10W-50 berarti bahwa pelumas ini dapat digunakan untuk melumasi mesin yang memerlukan pelumas dari SAE 10W sampai SAE 50W. Disamping mencegah keausan mesin, pelumas karter juga berfungsi untuk menjaga agar karter, sistem pelumasan dan bagian-bagian yang dilumasi tetap bersih, sebagai pendingin dan sebagai sekat torak. Tabel 2-1. Klasifikasi Minyak Pelumas Menurut SAE SAE Viscosity Number Maximum CCS Viscosity Maximum borderline Pumping temperature Vk 100cSt 0 C Vd ( poise ) min max 0 C 0 W W W W W W < < < < 21.9 (E.Karyanto, Penuntun praktikum teknologi perlengkapan mesin diesel hal.11) Klasifikasi Pelumas Mesin Menurut API Menurut American Petroleum Institute (API), pada awalnya minyak pelumas karter dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 11

7 pelumas untuk mesin motor bensin, yang diberi kode huruf M, dan pelumas untuk motor diesel, yang diberi kode huruf D. Selanjutnya berdasarkan berat ringannya kondisi pelayanan mesin, digunakan tambahan huruf L (light), M (medium) dan S (severe) untuk minyak pelumas mesin motor bensin, dan imbuhan G (general), M (medium) dan S (severe) untuk pelumas mesin motor diesel. Sehingga untuk pelumas mesin motor bensin dengan kondisi pelayanan ringan, sedang dan berat berturutturut digunakan kode ML, MM dan MS. Sedangkan untuk pelumas mesin motor diesel untuk kondisi pelayanan yang sesuai digunakan kode DG, DM dan DS. Pada perkembangan waktu, API bekerjasama dengan ASTM dan SAE membuat klasifikasi baru, yang dirancang berdasarkan uji mesin (engine test) dan tingkat kinerja (performance level). Dalam klasifikasi ini digunakan kode huruf S (singkatan dari service station) bagi pelumas mesin bensin. Sedangkan bagi pelumas motor diesel digunakan kode huruf C (singkatan dari kata commercial wholesalers). Selanjutnya untuk kedua jenis minyak pelumas ini digunakan imbuhan huruf alfabet A, B, C dan seterusnya. Arti kode dalam klasifikasi pelumas menurut API, ASTM, SAE untuk mesin bensin dan disel. Arti Kode Dalam Klasifikasi Minyak Pelumas (Menurut API) (E.Karyanto, Penuntun praktikum teknologi perlengkapan mesin diesel hal.12-14) 12

8 UNTUK MESIN BENSIN SA Minyak pelumas ini digunakan untuk mesin-mesin lama yang bekerja pada kondisi yang relatif ringan dan tidak mengunakan aditif BA Minyak pelumas ini digunakan untuk mesin-mesin lama yang bekerja pada kondisi yang relatif ringan dan hanya mengandung aditif antioksidan. SC Minyak pelumas ini diganakan untuk mesin buatan 1964 sampai tahun 1967 dan yang mampu mengurangi terjadinya seposit pada suhu tinggi dan suhu rendah, mampu melindungi bagian-bagian mesin terhadap terjadinya keausan, karat dan korosi. SD Minyak pelumas ini digunakan untuk mesin buatan tahun 1968 sampai tahun 1971 dan merupakan penyempurnaan dari minyak pelumas katagori SC yang lebih mampu mencegah terjadinya deposit pada suhu tinggi dan suhu rendah, mampu melindungi bagian-bagian mesin terhadap terjadinya keausan, karat dan korosi. 13

9 SE Minyak pelumas ini digunakan untuk mesin buatan tahun 1972 sampai dengan tahun 1979 yang tahan terhadap oksidasi, mampu mencegah terjadinya karat dan korosi SF Minyak pelumas ini digunakan untuk mesin buatan tahun 1980 ke atas dan mempunyai kemampuan yang lebih baikdibandingkan dengan minyak pelumas katagori SE. SG Minyak pelumas ini digunakan untuk mesin buatan mulai tahun 1990 dan mempunyai kemampuan yang lebih baikdibandingkan dengan minyak pelumas katagori SF. UNTUK MESIN DIESEL CA Minyak pelumas ini digunakan untk mesin diesel lama yang bekerja pada kondisi yang relatif ringan dengan bahan bakar yang berkualitas tinggi dengan kadar belerang sampai 0,4 % berat. Mampu mencegah terjadinya korosi dan pembentukan deposit pada suhu tinggi. Dapat juga digunakan untuk mesin bensin dengan pelayanan ringan. CB Minyak pelumas ini digunakan untuk mesin diesel lama yang bekerja pada kondisi yang relatif ringan sampai dengan bahan bakar dengan kualitas lebih rendah dengan 14

10 kadar belerang tinggi sampai 1,7 % berat. Mampu memberikan perlindungan mesin terhadap keausan dan timbulnya deposit. CC Minyak pelumas ini digunakan untuk mesin diesel yang dilengkapi dengan supercharger yang bekerja pada kondisi sedang sampai berat. Dapat juga digunakan untuk mesin bensin dengan kondisi kerja berat. Mampu melindungi bagian mesin terhadap timbulnya karat, korosi dan endapan.cd Minyak pelumas ini digunakan untuk mesin diesel yang dilengkapi dengan supercharger yang bekerja pada kondisi berat dengan beban berat dan kecepatan tinggi. Dapat melindungi mesin terhadap keausan dan endapan pada suhu tinggi. CE Minyak pelumas ini digunakan untuk mesin diesel tugas berat yang dilengkapi dengan supercharger buatan tahun 1983 dan seterusnya, yang beroperasi pada kondisi kecepatan rendah-beban berat maupun kecepatan tinggi beban berat. 2.4 Jenis-Jenis Pelumas Pelumas Mineral Pelumas mineral adalah pelumas berbahan dasar pelumas dasar (base oil) yang diperoleh dari hasil kilang minyak mentah. Minyak 15

11 mentah mengandung berbagai macam jenis molekul dengan berat yang sama tapi struktur berbeda. Bentuk molekul yang berbeda membuat permukaan pelumas tak beraturan dilihat pada tingkat molekul, ini dapat menyebabkan gesekan, konsumsi daya, mengurangi efisiensi dan meningkatkan panas dan aus. Keuntungan utama pelumas mineral ini adalah harganya yang murah Pelumas Sintetik Pelumas Sintetik adalah pelumas berbahan dasar 'minyak dasar sintetik' yang terdiri dari zat kimia. Pelumas jenis ini memiliki sifat murni kimia, struktur molekul yang seragam dan dapat bekerja pada lingkungan yang tidak dapat dilakukan pelumas mineral, sehingga lebih baik dibandingkan dengan pelumas mineral meliputi beberapa hal, yaitu: Meningkatkan efisiensi energi Tahan temperatur tinggi Mengurangi perawatan Reliabilitas lebih baik dan operasi lebih aman Pelumas ini memiliki kekentalan yang lebih tinggi namun harganya menjadi lebih mahal dibanding pelumas mineral walaupun tidak otomatis pelumas ini lebih baik dari pelumas mineral. 16

12 Pelumas Semi Sintetik Pelumas semi sintetik adalah pelumas berbahan dasar base oil dengan diberi campuran bahan kimia. Pelumas ini juga dikenal sebagai pelumas campuran ("blends") menggunakan persentase kecil pelumas non konvensional performa tinggi dengan pelumas biasa (mineral base oil). Biasanya menawarkan harga yang lebih murah dari pelumas sintetik dan kemampuan seperti pelumas sintetik Pelumas Otomotif a. Pelumas Mesin (Engine Oil) Digunakan untuk melumasi mesin kendaraan. Untuk melumasi komponen yang sifatnya lebih penting, mengandalkan presisi, dan rumit seperti mesin diperlukan pelumas yang encer. Pelumas encer yang akrab disebut pelumas ini dapat bergerak luwes melalui permukaan komponen yang saling bergesekan. Selain itu kondisi yang lebih encer ini memastikan setiap permukaan logam tertutup pelumas. Pelumas untuk mesin, lebih encer daripada yang digunakan pada roda gigi (transmisi, gardan). Ini dimaksudkan agar pelumas dapat disirkulasikan melalui saluran-saluran kecil dan sempit dalam mesin dengan lancar. 17

13 b. Pelumas Roda Gigi (Gear Oil) Digunakan untuk melumasi transmisi manual atau diferensial. Pelumas jenis ini kekentalannya lebih tinggi dibanding pelumas mesin.mekanisme pelumasan pada roda gigi adaah pelumas disirkulasikan dengan bantuan putaran roda gigi itu sendiri. Dengan tingkat kekentalan tinggi pelumas terangkat oleh gerigi roda, dan pelumas yang kental dapat meredam suara gesekan lebih baik. c. Pelumas Transmisi Otomatis ( Automatic Transmission Fluida ) Digunakan untuk melumasi transmisi otomatis dengan sifat pelumas yang encer seperti pelumas mesin. Automatic transmission fluid adalah minyak formulasi khusus yang mengandung beberapa aditif yang tahan keadaan operasi rumit dan berat. Terdapat beberapa manfaat dari pelumas transmisi otomatis ini antara lain membersihkan, mendinginkan, melumasi, meneruskan daya, meneruskan tekanan, penghilangan pembentukan endapan minyak dan melindungi transmisi dari hari ke hari. d. Gemuk (grease) Digunakan pada aplikasi dimana pelumas cair tidak mampu memberikan perlindungan. Merupakan pelumas sangat 18

14 kental seperti gel yang biasa disebut grease alias gemuk. Karena begitu kentalnya, gemuk akan terus menempel pada komponen yang dilumasi dan tidak akan menetes, sehingga cocok untuk komponen-komponen terbuka. Komposisi gemuk terdiri dari base oil, thickener agent dan aditif. Base oil umumnya dipilih karena karakteristik temperatur rendah, stabilitas oksidas dan kompabilitas elastomer. Aditif digunakan dalam gemuk untuk mengatasi kekurangan bahan thickener, meningkatkan performa dan sifat tahan tekanantinggi. Aditif yang ditambahkan pada gemuk biasanya bersifat antioksidan, penghambat karat, agen tekanan tinggi, agen anti aus, dan polimer Pelumas Industri Pelumas Industri adalah pelumas yang digunakan untuk kebutuhan industri. Jenis pelumas industri ini adalah fluida hidrolik, pelumas roda gigi, pelumas turbin, fluida metal working, dan gemuk. Pada umumnya spesifikasi untuk produk tersebut disesuaikan oleh original equipment suppliers dan organisasi standar. Persyaratan performa minimal untuk pelumas industri terutama pelumas roda gigi adalah ketahanan tekanan yang sangat tinggi atau heavy-duty extreme pressure (EP) dan karat, korosi dan oksidasi terhadap air, kontaminan dan temperatur tinggi. Pelumas turbin fungsinya menghambat karat dan oksidasi pada pemakaian turbin 19

15 kecepatan tinggi. Pelumas ini digunakan juga dalam operasi mesin ringan atau bukan-anti aus hydrolik industri dan sistem roda gigi. 2.5 Parameter Analisa Pelumas Menganalisa pelumas secara langsung di lapangan (onsite) terbatas hanya pada beberapa parameter. Tetapi parameter-parameter tersebut sudah dapat memberikan data yang akurat tentang kondisi pelumas dan kelayakannya untuk penggunan lebih lanjut. Beberapa informasi penting tentang kondisi mesin/peralatan dapat juga di peroleh, tetapi tidak selengkap analisa pelumas dengan spectrometric yang umumnya ada di laboratorium. Beberapa parameter umum dari pelumas yang di ukur/uji secara langsung di lapangan (onsite) adalah: 1) Kekentalan ( viscosity ) Viskositas adalah Sifat dasar (property) terpenting dari pelumas. Pelumas dengan kekentalan yang sesuai membentuk lapisan film (pelumas) yang kuat pada celah bantalan (bearing clearance), meminimalkan gesekan serta kebocoran. Gambar 2-1. Viscosity (ebahagia.com) Standar kekentalan SAE ( SAE grade viscosity ) SAE 15W/40, angka pertama adalah nilai viskositas dalam satuan centipoises ( cp ). Kode 20

16 angka multi grade seperti 15W/40, yang dapat di artikan bahwa pelumas memiliki tingkat kekentalan sama dengan SAE 15 pada suhu udara dingin ( W = Winer ) dan SAE 40 pada suhu panas. Kekentalan sangat tergantung pada temperatur di mana oli tersebut dipergunakan. Apabila minyak pelumas dipergunakan pada saat musim dingin maka akan dipergunakan pelumas yang kekentalannya rendah seperti 5-W atau 10-W dan sebaliknya dipergunakan kekentalan yang tinggi pada musim panas yaitu 20-W atau 40-W. Kekentalan minyak pelumas juga dapat dijelaskan sebagai resistansi cairan untuk mengalir, atau sebagai pengukur tingkat di mana cairan akan mengalir pada sebuah pemberian temperature. Ini sangat penting untuk diingat bahwa tingkat kekentalan selalu diberikan pada suatu temperatur biasa kekentalan akan meningkat jika temperatur turun, dan kekentalan menurun jika temperatur naik. Alat pengukur kekentalan oli dapat disebut Saybolt universal viscometer atau viscometer. Peralatan tersebut terdiri dari wadah khusus untuk menahan cairan yang akan diuji, dan sebuah flash bertanda atau sebuah botol. Cara pengukuran nya minyak pelumas dipanaskan terlebih dulu pada temperature tertentu, kemudian pelumas dituangkan pada tabung yang atas. Selanjutnya penentuan kekentalan oli dilakukan dengan pelumas standar yaitu mengenai jumlah oli yang pelumas tersebut lebih rendah dari standarnya. Cara lain yang umum di pakai adalah dengan menggunakan kinematic dapat mengalir melalui lobang kecil. Dalam satuan waktu 21

17 tertentu diukur jumlahnya. Bila didapatkan jumlahnya lebih banyak, berarti viscositas pipittes, ini adalah tabung gelas kapilar dengan ukuran yang khusus. Ia di benamkan ke dalam cairan yang diuji yang diatur seperti dalam temperature yang disebutkan sebelumnya. Sebuah stopwatch digunakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang digunakan pada pemberian volume oli untuk lewat melalui tabung pipa tersebut. Gambar 2-2. Alat pengukur kekentalan oli (Sukoco, M.pd. & Zainal Arifin, M.T, Teknologi Motor Diesel, hal. 140) 2) Kontaminan Air ( Water Content ) Kontaminasi air dapat menimbulkan banyak permasalahan di berbagai aplikasi pelumasan, masalah korosi sangat erat kaitannya dengan polutan air. Dalam aplikasi pelumasan apa pun, polutan air dapat mengantikan atau mengurangi ketebalan lapisan pelumas, dan dapat pula menjadi katalis dari fasa penurunan kualitas pelumas. 22

18 Gambar 2-3. Water Content (ebahagia.com) Hal ini merupakan masalah khusus yang di temui pada jenis pelumas sintesis berbahan dasar ester (banyak di pakai sebagai pelumas turbin) dimana sangat mudah bereaksi dengan setiap jenis polutan air. Kontaminasi air dalam bentuk emulsi dapat menaikkan kekentalan pelumas. Sering kali menggangu kesetabilan dan merusak zat aditif pelumas. Permaslahan mulai timbul secara tersembunyi atau nyata terlihat pada semua sistim pelumasan dengan tingkat kontaminasi air selitar 0.2%, beberapa sistim pelumasan sangat sensitive terhadap kontaminasi air. Air adalah polutan berbahaya di berbagai aplikasi pelumasan, penyebab berbagai kerusakan serius dan mahal. Kontaminasi air pada tangki pelumas menimbulkan tumbuhnya microbiologi, timbulnya ragi, jamur serta bakteri yang akan menyumbat filter dan juga sangat korosif pada sistim bahan bakar mesin. Pada aplikasi pelumasan beban tinggi, terutama bila lapisan film pelumas sangat tipis (pelumasan roda gigi), kontaminasi air menyebabkan berkurang atau bahkan menghilangkan lapisan film pelumas. Bentuk lain kerusakan akibat air adalah timbulnya karat yang menyebar sepanjang jalur pelumas mengalir. 23

19 Terdapat banyak sumber potential masuknya air dalam sistim pelumasan : Kebocoran air dari sistim pendinginan (oil cooler, charge air cooler) dan pemanas dengan media uap (steam). Kondensasi pada tangki mau pun crankcase Blow-by dari ruang bakar mesin Kebocoran pada pipa pernafasan tangki (vents pipe). Kebocoran air pendingin jaket silinder (jacket water cooling) akibat seal/blok mesin yang aus Pencemaran saat proses penambahan pelumas. Bahaya kontaminasi air : Menimbulkan karat pada semua komponen logam Menimbulkan kerusakan pada bantalan (bearing). Merusak zat aditif pada pelumas. Membentuk emulsi, air + pelumas. Menimbulkan uap bertekanan pada sistim pelumasan penyebab kavitasi. 3) Kandungan Garam (salt content) Polutan garam mengindikasikan kontaminasi air laut yang sangat korosif di banding air biasa. Garam akan teroksidasi dan tertinggal pada jalur pelumasan saat bereaksi dengan panas mesin. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan mesin dan sebagai katalis proses tumbuhnya karat dan keasaman di adalam sistim pelumasan. Garam bereaksi 24

20 dengan lapisan timah pada bantalan (bearing) dan membentuk serbuk timah yang keras yang akan menggores permukaan poros dan bantalan itu sendiri. Bila bercampur dengan gas dan polutan lain hasil proses pembakaran BBM berat, potensi kerusakan korosi, erosi, dan penyempitan jalur pelumasan mesin. Batas maksimal untuk garam adalah 50 ppm, sebaiknya 0 ppm. 4) Polutan Padat Terlarut (insolubles) Pengujian ini hanya berlaku pada jenis pelumas mesin diesel (pembakaran internal), dimana tingkat kontaminasi yang tinggi di bandingkan berbagai aplikasi dan sistim pelumasan lainnya. Terdapat pengecualian pada sejumlah aplikasi turbin gas di bidang aviasi (penerbangan), lazim di kenal sebagai masalah black oil Laboratorium mengukur jumlah polutan padat terlarut (insolubles) dengan standar ASTM D893, ini merupakan acuan praktisi industry dalam standar uji dan pengukuran. Gambar 2-4. insolubles (ebahagia.com) 25

21 Pengukuran insolubles dapat pula termasuk total insolubles dengan acuan IP316 yang mengunakan pelarut jenis heptane dan memiliki korelasi hasil pengukuran yang baik dengan standar ASTM D893. Pengujian lain seperti IC Photometer, memberikan indikasi karbon konten, keausan logam (wear debris), abu bahan bakar yang bersifat logam (metallic fuel ash) dan kotoran pada udara. Kemampuan aditif dispersan (pemisah air) dan deterjen (membersihkan) dari pelumas akan terpengaruh dan berkurang. Hal ini mempercepat kecendrungan timbulnya penumpukan kotoran di daerah sekitar torak (piston) bagian atas serta bagian bagian ring piston. Tingginya tingkat insolubles akan menaikkan keausan dan gesekan pada komponen mesin. Hal ini dapat pula terindikasi dengan naiknya jumlah konsumsi pelumas yang sangat sering di temui pada mesinmesin dengan kondisi buruk. 5) Polutan Padat Terlarut (insolubles) Pengujian ini berhubungan erat dengan aplikasi pelumas mesin diesel dan tidak relevan pada aplikasi pelumas roda gigi, hidrolik dan turbin. Aditif basa pada pelumas berfungsi menetralkan kondisi asam yang terjadi hasil proses pembakaran (utamanya asam surfuric dan nitrit), asam organic dari hasil oksidasi pelumas dalam proses penuaan (aging). 26

22 Gambar 2-5. Total base number (ebahagia.com) Total nilai basa (TBN) pelumas menunjukkan kemampuan pelumas dalam menetralkan kondisi keasaman pada mesin. Pemilihan nilai basa pelumas untuk suatu mesin di sesuaikan dengan pertimbangan jenis bahan bakar yang di pakai, kandungan sulfur, dan design mesin itu sendiri. Penurunan nilai basa pelumas bekas pakai (used oil) dari hasil analisa pelumas, menunjukkan degradasi aditif basa terhadap polutan asam serta indikasi kelayakan penggunaan kembali pelumas tersebut. Nilai basa (TBN) pada mesin diesel jenis trunk (trunk piston engines bukan crosshead), akan bertendensi turun akibat polutan dari proses pembakaran. Tetapi nilai kesetabilan akan tercapai pada suatu titik dan terjaga dengan penambahan pelumas baru secara berkala (top up). TBN pada bagian sistim pelumasan bearing (system oil) mesin 2 langkah crosshead (2 con rod tiap piston), dapat meningkat sebagai akibat kebocoran pelumas dengan TBN tinggi umumnya dari kebocoran pelumas ruang bakar pada stuffing box, atau kesalahan dalam penambahan jenis pelumas (daily top up). 27

23 Penurunan TBN pelumas sekitar 50% dari nilai awal mengindikasikan masa pakai pelumas mendekati periode penggantian. Indikasi lain yang juga dapat di jadikan acuan; minimum nilai basa pelumas adalah tujuh kali dari nilai sulfur bbm yang di pakai (TBN = 7 x Sulfur). Pada kondisi pelumas seperti di atas, para produsen pelumas sering kali menyarankan penggantian pelumas secara keseluruhan, atau sebagian lalu di tambahkan pelumas baru agar niai basa pelumas dalam batas yang aman. Rekomendasi ini juga sangat tergantung pada buku petunjuk masing masing produsen mesin/peralatan yang di lumasi. Untuk mudahnya, pedoman pemilihan TBN pelumas adalah jenis bahan bakar yang di pakai dengan parameter utama adalah kadar sulfur, parameter lain adalah laju konsumsi pelumas dan kapasitas bak pelumas (sump tank). Turunnya TBN di sebabkan : Konsumsi pelumas yang rendah, berkaitan dengan jumlah top up harian yang rendah pula. Kapasitas tampung bak pelumas mesin yang kecil. Penggunaan bbm dengan kadar sulfur yang tinggi. TBN yang rendah pada pelumas bekas pakai (used oil) menunjukkan minimnya proteksi dari sisi pelumas terhadap resiko korosi pada bagian mesin; seputar mahkota piston bagian atas, ring piston, dan 28

24 bantalan (bearing). Hal yang sama juga akan terjadi pada bagian mesin lainnya serta sistim pendinginan piston dengan media pelumas. TBN pada mesin berbahan bakar gas, sering kali menggunakan paket aditif dengan abu yang rendah (low ash additive). Magnesium sering dipakai sebagai aditif dalam aplikasi otomotif dengan kecendrungan menggunakan garam kalsium (calcium salt). Pemilihan aditif jenis low ash juga di dasari resiko penyalaan dini (pre ignition) dari bahan bakar gas di dalam ruang bakar. TBN dalam aplikasi mesin BBG, dapat turun dengan cepat akibat kondisi kerja yang tinggi, terutama pada aplikasi landfill gas dimana bahan bakar menjadi polutan utama pada pelumas. Tabel 2-2. Nilai Total Base Number ( TBN) Nilai TBN Aplikasi 5» Pelumasan system oils, pada mesin 2 tak crosshead.» Diesel putaran tinggi dengan bahan bakar gas dan destilasi.» Pengguna bahan bakar dengan < 0.2% sulfur, aplikasi otomotif. 10» Aplikasi otomotif» Diesel putaran tinggi dengan bahan bakar destilasi ber sulfur < 0.5%, & diesel gas oil. 15» Diesel putaran tinggi dan menengah berbahan bakar minyak diesel destilasi. 20» Diesel putaran tinggi dengan bahan bakar gas dan destilasi.» Pengguna bahan bakar dengan < 2% sulfur (DMC maksimum).» Mesin bantu dengan bahan bakar campur. 29

25 30 ~ 40» Diesel putaran menengah dengan bahan bakar residual (minyak bakar / MFO/ HFO). 40 ~ 55» Pelumasan mesin diesel putaran menengah dengan kapasitas bak dan konsumsi pelumas yang kecil (anti polishing ring) >60 ~ 100» Pelumasan cylinder oils, pada mesin diesel 2 tak crosshead. (ebahagia.com) 6) Total Nilai Asam & Nilai Asam Kuat ( TAN & SAN ) Pelumas secara terus-menerus bereaksi dengan udara di atmosfir dengan membentuk oksidan organik yang bersifat asam. Dalam suhu ruangan, reaksi ini berjalan sangat lambat dan sedikit sekali berpengaruh pada pelumas. Pada suhu kerja yang lebih tinggi seperti di dalam mesin, laju reaksi berjalan sangat cepat. Gambar 2-6. Total nilai asam (ebahagia.com) 30 Pelumasan komponen mesin yang bergesekan adalah contoh nyata kondisi diatas, dimana suhu kerja (pelumas dan logam) sangat tinggi berbeda dengan bagian lain yang tidak bergesekan. Kondisi ini akan lebih buruk bila pelumas telah terkontaminasi dengan polutan padat,

26 air, oksigen dan bahan bakar. Polutan hasil oksidasi - asam organik seperti varnish/resin, tidak mudah bereaksi dengan aditif TBN. Varnish/resin meningkatkan kekentalan pelumas, melapisi bagian mesin, dan harus di hilangkan dengan teknologi penyaringan yang baik. Nilai asam kuat (strong acid number SAN) adalah ukuran kekuatan asam di dalam pelumas. SAN mengindikasikan nilai aditif alkalin pelumas mesin yang telah habis selain menunjukkan tingkat korosi di dalam mesin. Mengukur SAN dalam pelumas sangatlah mudah tetapi kurang lazim digunakan sebagai acuan, lebih lazim mengamati tingkat perubahan TBN pada pelumasan dari waktu ke waktu. Total nilai asam (total acid number TAN) adalah ukuran asam organik lemah dan kuat di dalam pelumas. TAN berlaku pada aplikasi pelumas roda gigi, turbin gas, dan hidrolik. Total nilai asam tidak berhubungan secara langsung dengan pelumasan mesin bakar, kecuali bila pelumas sangat tercemar. Pengecualian khusus pada aplikasi pelumasan mesin berbahan bakar gas. Suhu kerja yang tinggi dapat menyebabkan TBN turun dengan cepat selain memproduksi asam organic dalam jumlah besar. Meningkatnya TAN secara umum berhubungan langsung dengan tingkat oksidasi pelumas akibat masa kerja dan suhu kerja. Total nilai asam (TAN) tinggi mengakibatkan : Pembentukan lapisan kental yang terdiri dari varnish/resin. 31

27 Meningkatkan kekentalan pelumas yang menurunkan efisisiensi aliran/pompa. Resiko korosi mesin, terutama bila terdapat polutan air. Suhu tinggi proses pembakaran mesin gas terutama stoichiometric (1:1 air/fuel ratio) membuat TBN turun dengan cepat. Terlebih pada penggunaan gas landfill, pelumas hanya mampu bertahan sekitar 500 jam kerja. Pada aplikasi ini tingginya nilai asam (TAN) dan kekentalan adalah parameter penting pengindikasi masa kerja minyak pelumas. TAN akan naik secara perlahan pada aplikasi pelumas non mesin bakar. Beberapa pelumas baru pada aplikasi non mesin bakar, sudah memiliki nilai aditif asam yang akan naik atau turun setelah dipakai. Memonitor TAN sebaiknya secara tendensi perubahan nilai dari waktu ke waktu. 7. Flash Poin dan Fire Poin Flash poin atau titik nyala dari pelumas adalah temperatur dimana pelumas harus terpanasi sebelum ia dapat menyala. Pada temperatur ini, panas hanya cukup untuk membakar uap yang terbentuk pada permukaan pelumas pada saat itu. Namun tidak akan cukup panas ini untuk memungkinkan api berkelanjutan. Fire point dari pelumas lebih tinggi. Ini adalah temperatur yang menyebabkan uap oli yang terbentuk dalam pelumas untuk benar-benar terbakar. Sebagaimana dalam praktiknya, tidak ada dari keduanya baik flash point maupun fire point yang mempunyai arti dalam sebagian besar pemakaian pelumas. 32

28 Tetapi dapat berarti jika pelumas dikhususkan untuk pemakaian dalam temperaturtinggi. 2.6 Hipotesa Awal Tes Oli Sebagai Indikator Pengambilan Sampel Oli Pengambilan sampel oli dilakukan per dua minggu sekali, seperti terlihat pada gambar 2-7. Dimana setiap pengambilan sampel terbagi menjadi beberapa tempat untuk dapat saling membedakan. Gambar 2-7. Pengambilan Sampel Oli Berdasarkan hasil pengambilan sampel oli maka dapat menentukan jadwal maintenance sesuai dengan kondisi mesin dan umur dari mesin itu sendiri. Ada pun kerusakan minyak menyebabkan lumpur yang meningkatkan keausan, asam dan korosi, memperpendek umur peralatan. Semua minyak modern mengandung aditif yang menghambat kerusakan. Sebagai zat aditif yang habis, lumpur terbentuk. 33

29 Mengidentifikasi Oli Tujuan mendasar dari identifikasi oli adalah untuk menghasilkan informasi tentang kondisi oli dan mesin yang sedang beroprasi kemudian dapat digunakan untuk mengurangi downtime, memperpanjang interval oli, atau meningkatkan umur mesin. Ini adalah bagian konversi data analitis menjadi informasi operasi yang berharga, yang paling subjektif dan kontroversial. Dalam beberapa kasus, data analitis akan mengidentifikasi masalah yang jelas. Tingkat tinggi air dikombinasikan dengan tingkat tinggi boron dan / atau natrium merupakan indikasi kuat dari kontaminasi dari kotoran, sering dari kebocoran cairan pendingin. Partikel-partikel menunjukkan kontaminasi dari kotoran atau debu, mungkin dari udara dipasang filter. Dalam situasi bagaimanapun, data analitis saja dari sampel tidak memberikan cukup data untuk membuat penilaian yang lebih baik atau kondisi mesin. Untuk memberikan informasi lebih bermakna tentang kondisi operasi, perlu untuk membandingkan data sampel saat ini untuk contoh sebelumnya. Hal ini sangat penting dalam penggunaan data, sejak tingkat keausan yang normal secara signifikan antara berbagai jenis metal yang berbeda. Misalnya, dengan terus memantau tingkat keausan logam seperti besi, timah timah, dan tembaga, adalah mungkin untuk mendeteksi adanya masalah pada mesin. Untuk mengurangi masalah yang akan datang dapat 34

30 memungkinkan penjadwalan perawatan yang tepat tanpa downtime tak terduga atau berlebihan. Dalam beberapa situasi yang mendesak, suku cadang dapat dipesan terlebih dahulu, mengurangi jumlah downtime bahkan lebih. Salah satu cara untuk menganalisis meningkatkan keandala rekomendasi adalah untuk membandingkan data sampel sejenis. Perbandingan dapat dibuat dari jenis mesin, iklim atau lingkungan operasi, frekuensi penggunaan, dan /atau ukuran armada. Berdasarkan hasil identifikasi di dapat berbagai macam karakteristik, seperti tedapat pada gambar Gambar 2-8. Sampel Uji Oli 1) Sampel adalah dalam kondisi baru dan diserap oleh medium uji sangat cepat. 2) Oli telah menjadi sedikit lebih gelap dari sampel baru. Hal ini masih di dalam kisaran normal untuk oli mesin khas. Tidak ada tindakan yang diperlukan selain menguji lagi di sekitar Km. 3) Oli ini telah menjadi lebih gelap dari degradasi normal dari oli yang digunakan dalam mesin. Coklat gelap, cincin tidak teratur yang terbentuk merupakan tanda bahwa oli mesin merendahkan. Oli masih akan memberikan perlindungan, tapi penggantian oli harus dijadwalkan sebagai proses degradasi akan menjadi jauh 35

31 lebih cepat. Perencanaan pada saat mengganti oli harus didasarkan pada berapa lama (Km) yang dibutuhkan untuk sampai ke titik ini dalam siklus degradasi. 4) Kegelapan oli ini termasuk cincin oksidasi tidak teratur, dibandingkan dengan sampel sebelumnya. Memastikan bahwa oli tidak sampai ke tahap selanjutnya yang nantinya akan menghemat banyak dalam perbaikan/perawatan. Oli ini telah melampaui masa kerjanya dan perlu segera diganti. 36

Pemakaian Pelumas. Rekomendasi penggunaan pelumas hingga kilometer. Peningkatan rekomendasi pemakaian pelumas hingga

Pemakaian Pelumas. Rekomendasi penggunaan pelumas hingga kilometer. Peningkatan rekomendasi pemakaian pelumas hingga Pemakaian Pelumas Rekomendasi penggunaan pelumas hingga 2.500 kilometer. Peningkatan rekomendasi pemakaian pelumas hingga 15 ribu kilometer. Pelumas : campuran base oil (bahan dasar pelumas) p ( p ) dan

Lebih terperinci

LUBRICATING SYSTEM. Fungsi Pelumas Pada Engine: 1. Sebagai Pelumas ( Lubricant )

LUBRICATING SYSTEM. Fungsi Pelumas Pada Engine: 1. Sebagai Pelumas ( Lubricant ) LUBRICATING SYSTEM Adalah sistim pada engine diesel yang dapat merawat kerja diesel engine agar dapat berumur panjang, dengan memberikan pelumasan pada bagian-bagian engine yang saling bergerak/mengalami

Lebih terperinci

Pemeriksaan & Penggantian Oli Mesin

Pemeriksaan & Penggantian Oli Mesin Pemeriksaan & Penggantian Oli Mesin A. Fungsi dan Unjuk Kerja Oli Mesin Oli mesin mempunyai fungsi sebagai berikut: 1. Pelumasan: mengurangi gesekan mesin 2. Perapatan: memastikan bahwa ruang pembakaran

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA PENGUJIAN

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA PENGUJIAN BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA PENGUJIAN 4.1 Data Hasil Pengujian Data hasil pengujian pelumas bekas yang telah dilakukan di laboratorium PT. CORELAB INDONESIA Cilandak Jakarta dengan menggunakan mesin

Lebih terperinci

Created by Training Department Edition : April 2007

Created by Training Department Edition : April 2007 M-STEP I Created by Training Department Edition : April 2007 Copy right PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors - Jakarta. 1 M-STEP I 2 5-1 Fungsi Oil dan Grease Fungsi oli dan grease yang dipakai pada automobile

Lebih terperinci

PENANGGULANGAN KONTAMINASI DAN DEGRADASI MINYAK PELUMAS PADA MESIN ABSTRAK

PENANGGULANGAN KONTAMINASI DAN DEGRADASI MINYAK PELUMAS PADA MESIN ABSTRAK PENANGGULANGAN KONTAMINASI DAN DEGRADASI MINYAK PELUMAS PADA MESIN Sailon Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Sriwijaya Jl.Srijaya Negara Bukit Besar Palembang 30139 Telp: 0711-353414, Fax: 0711-453211

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan otomatis. Maka dari itu minyak pelumas yang di gunakan pun berbeda.

BAB I PENDAHULUAN. dan otomatis. Maka dari itu minyak pelumas yang di gunakan pun berbeda. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem transmisi pada kendaraan di bedakan dalam transmisi manual dan otomatis. Maka dari itu minyak pelumas yang di gunakan pun berbeda. Oli untuk motor matic dikenal

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penelitian penelitian terdahulu berhubungan dengan pelumas M. Syafwansyah Effendi dan Rabiatul Adawiyah (2014).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penelitian penelitian terdahulu berhubungan dengan pelumas M. Syafwansyah Effendi dan Rabiatul Adawiyah (2014). BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian penelitian terdahulu berhubungan dengan pelumas M. Syafwansyah Effendi dan Rabiatul Adawiyah (2014). Penelitiannya bertujuan mengetahui sama atau tidaknya rata-rata

Lebih terperinci

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM).

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM). Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM). Pertemuan ke Capaian Pembelajaran Topik (pokok, subpokok bahasan, alokasi waktu) Teks Presentasi Media Ajar Gambar Audio/Video Soal-tugas Web Metode Evaluasi

Lebih terperinci

ADE PUTRI AULIA WIJHARNASIR

ADE PUTRI AULIA WIJHARNASIR KELOMPOK 6: 1. YUNO PRIANDOKO 4210100060 2. ADE PUTRI AULIA WIJHARNASIR 4211100018 3. AYUDHIA PANGESTU GUSTI 4211100089 4. RAHMAD BAYU OKTAVIAN 4211100068 1 TEORI, FUNGSI, KARAKTERISTIK, TIPE, DAN KOMPONEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi yang semakin cepat mendorong manusia untuk selalu mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi (Daryanto, 1999 : 1). Sepeda motor, seperti juga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sepeda motor merupakan alat transportasi roda dua yang efisien, efektif dan ekonomis serta terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Saat ini sepeda motor

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENGUJIAN

BAB III PROSEDUR PENGUJIAN BAB III PROSEDUR PENGUJIAN Pengambilan sampel pelumas yang sudah terpakai secara periodik akan menghasilkan laporan tentang pola kecepatan keausan dan pola kecepatan terjadinya kontaminasi. Jadi sangat

Lebih terperinci

PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP VISKOSITAS MINYAK PELUMAS. Daniel Parenden Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Musamus

PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP VISKOSITAS MINYAK PELUMAS. Daniel Parenden Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Musamus PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP VISKOSITAS MINYAK PELUMAS Daniel Parenden [email protected] Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Musamus ABSTRAK Pelumas merupakan sarana pokok dari mesin untuk

Lebih terperinci

BAB VII PENDINGINAN MOTOR

BAB VII PENDINGINAN MOTOR BAB VII PENDINGINAN MOTOR Pendinginan adalah suatu media (zat) yang berfungsi untuk menurunkan panas. Panas tersebut didapat dari hasil pembakaran bahan bakar didalam silinder. Sebagaimana diketahui bahwa

Lebih terperinci

MAKALAH. SMK Negeri 5 Balikpapan SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE. Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N.

MAKALAH. SMK Negeri 5 Balikpapan SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE. Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N. MAKALAH SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N. Kelas : XI. OTOMOTIF Tahun Ajaran : 2013/2014 SMK Negeri 5 Balikpapan Pendahuluan Kerja

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN LITERATUR

BAB II TINJAUAN LITERATUR BAB II TINJAUAN LITERATUR Motor bakar merupakan motor penggerak yang banyak digunakan untuk menggerakan kendaraan-kendaraan bermotor di jalan raya. Motor bakar adalah suatu mesin yang mengubah energi panas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. masih awam akan mesin sepeda motor, sehingga apabila mengalami masalah atau

I. PENDAHULUAN. masih awam akan mesin sepeda motor, sehingga apabila mengalami masalah atau 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sepeda motor merupakan produk dari teknologi otomotif yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Akan tetapi sebagian besar penggunanya masih awam akan mesin

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN ANALISA KAJI BANDING DATA PENGUJIAN

BAB IV HASIL DAN ANALISA KAJI BANDING DATA PENGUJIAN 58 BAB IV HASIL DAN ANALISA KAJI BANDING DATA PENGUJIAN 4.1 Data Hasil Pengujian Sample pelumas Nissan Forklift engine QD32 milik PT. Kianis Pratama di uji di Laboratorium milik PT. Petrolab Indonesia.

Lebih terperinci

ANALISIS PENCAMPURAN BAHAN BAKAR PREMIUM - PERTAMAX TERHADAP KINERJA MESIN KONVENSIONAL

ANALISIS PENCAMPURAN BAHAN BAKAR PREMIUM - PERTAMAX TERHADAP KINERJA MESIN KONVENSIONAL FLYWHEEL: JURNAL TEKNIK MESIN UNTIRTA Homepage jurnal: http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jwl ANALISIS PENCAMPURAN BAHAN BAKAR PREMIUM - PERTAMAX TERHADAP KINERJA MESIN KONVENSIONAL Sadar Wahjudi 1

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA PENGUJIAN

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA PENGUJIAN 46 BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA PENGUJIAN 4.1 Data Hasil Pengujian Sampel pelumas mesin Hino model RK8JSKA-MHJ milik PT Primajasa Perdana Raya Utama di uji di Laboratorium milik PT Corelab Indonesia.

Lebih terperinci

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM).

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM). Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM). Pertemuan ke Capaian Pembelajaran Topik (pokok, subpokok bahasan, alokasi waktu) Teks Presentasi Media Ajar Gambar Audio/Video Soal-tugas Web Metode Evaluasi

Lebih terperinci

KEGIATAN BELAJAR 1 PENGENALAN SISTEM HIDROLIK

KEGIATAN BELAJAR 1 PENGENALAN SISTEM HIDROLIK KEGIATAN BELAJAR 1 PENGENALAN SISTEM HIDROLIK A. Tujuan Kegiatan Pemelajaran Setelah mepelajari kegiatan belajar, diharapkan anda dapat : Siswa dapat menyebutkan pengertian sistem hidrolik dan macam-macamnya

Lebih terperinci

Uji Eksperimental Pertamina DEX dan Pertamina DEX + Zat Aditif pada Engine Diesel Putaran Konstan KAMA KM178FS

Uji Eksperimental Pertamina DEX dan Pertamina DEX + Zat Aditif pada Engine Diesel Putaran Konstan KAMA KM178FS Uji Eksperimental Pertamina DEX dan Pertamina DEX + Zat Aditif pada Engine Diesel Putaran Konstan KAMA KM178FS ANDITYA YUDISTIRA 2107100124 Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. H D Sungkono K, M.Eng.Sc Kemajuan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Radiator Radiator memegang peranan penting dalam mesin otomotif (misal mobil). Radiator berfungsi untuk mendinginkan mesin. Pembakaran bahan bakar dalam silinder mesin menyalurkan

Lebih terperinci

KERJA PEAKTEK BAB III MANAJEMEN PEMELIHARAN SISTEM KERJA POMPA OLI PADA PESAWAT PISTON ENGINE TIPE TOBAGO TB-10

KERJA PEAKTEK BAB III MANAJEMEN PEMELIHARAN SISTEM KERJA POMPA OLI PADA PESAWAT PISTON ENGINE TIPE TOBAGO TB-10 BAB III MANAJEMEN PEMELIHARAN SISTEM KERJA POMPA OLI PADA PESAWAT PISTON ENGINE TIPE TOBAGO TB-10 3.1 Dasar Pompa oli Pompa adalah suatu mesin yang digunakan untuk memindahkan cairan dari satu tempat ke

Lebih terperinci

GANDAR 800 PELUMAS ASPOT GERBONG KERETA API

GANDAR 800 PELUMAS ASPOT GERBONG KERETA API GANDAR 800 PELUMAS ASPOT GERBONG KERETA API GANDAR is primarily designed for the lubrication of railway coach / lorry axles which are not requiring high performance lubricating oil. GANDAR 800 is also

Lebih terperinci

Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan (RKPM)

Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan (RKPM) Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan (RKPM) Pertemuan ke Tujuan Ajar/ Keluaran / Indikator Topik (pokok, subpokok bahasan, alokasi waktu) Teks Media Ajar 1 Presentasi Gambar Audio/Video Soal-tugas Web

Lebih terperinci

PEMILIHAN MINYAK PELUMAS/OLI KENDARAAN BERMOTOR RINGKASAN

PEMILIHAN MINYAK PELUMAS/OLI KENDARAAN BERMOTOR RINGKASAN PEMILIHAN MINYAK PELUMAS/OLI KENDARAAN BERMOTOR Dwi Arnoldi Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Sriwijaya Jl. Srijaya Negara Bukit Besar Palembang 30139 Telp: 0711-353414, Fax: 0711-453211 RINGKASAN

Lebih terperinci

PENGARUH PEMANASAN BAHAN BAKAR DENGAN RADIATOR SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KINERJA MESIN BENSIN

PENGARUH PEMANASAN BAHAN BAKAR DENGAN RADIATOR SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KINERJA MESIN BENSIN PENGARUH PEMANASAN BAHAN BAKAR DENGAN RADIATOR SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KINERJA MESIN BENSIN Suriansyah Sabarudin 1) ABSTRAK Proses pembakaran bahan bakar di dalam silinder dipengaruhi oleh: temperatur,

Lebih terperinci

Cara uji viskositas aspal pada temperatur tinggi dengan alat saybolt furol

Cara uji viskositas aspal pada temperatur tinggi dengan alat saybolt furol Standar Nasional Indonesia SNI 7729:2011 Cara uji viskositas aspal pada temperatur tinggi dengan alat saybolt furol ICS 93.080.20; 19.060 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata...

Lebih terperinci

Mekatronika Modul 11 Pneumatik (1)

Mekatronika Modul 11 Pneumatik (1) Mekatronika Modul 11 Pneumatik (1) Hasil Pembelajaran : Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan karakteristik dari komponen Pneumatik Tujuan Bagian ini memberikan informasi mengenai karakteristik dan

Lebih terperinci

BAB VIII PELUMAS. Pelumas adalah suatu zat (media) yang berfungsi untuk melumasi bagian bagian yang bergerak.

BAB VIII PELUMAS. Pelumas adalah suatu zat (media) yang berfungsi untuk melumasi bagian bagian yang bergerak. BAB VIII PELUMAS Pelumas adalah suatu zat (media) yang berfungsi untuk melumasi bagian bagian yang bergerak. Efek pelumas tercapai baik bila terdapat oil filus (filus minyak) diantara mutal mutal yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Motor Diesel adalah motor pembakaran dalam yang beroperasi dengan menggunakan minyak gas atau minyak berat, sebagai bahan bakar, dengan suatu prinsip bahan bakar tersebut

Lebih terperinci

Proses Pembuatan Biodiesel (Proses Trans-Esterifikasi)

Proses Pembuatan Biodiesel (Proses Trans-Esterifikasi) Proses Pembuatan Biodiesel (Proses TransEsterifikasi) Biodiesel dapat digunakan untuk bahan bakar mesin diesel, yang biasanya menggunakan minyak solar. seperti untuk pembangkit listrik, mesinmesin pabrik

Lebih terperinci

ANALISIS TERJADINYA HIGH OIL CONSUMPTION PADA LUBRICATION SYSTEM PESAWAT BOEING PK-GGF

ANALISIS TERJADINYA HIGH OIL CONSUMPTION PADA LUBRICATION SYSTEM PESAWAT BOEING PK-GGF ANALISIS TERJADINYA HIGH OIL CONSUMPTION PADA LUBRICATION SYSTEM PESAWAT BOEING 737-500 PK-GGF Eko Yuli Widianto 1, Herry Hartopo 2 Program Studi Motor Pesawat Fakultas Teknik Universitas Nurtanio Bandung

Lebih terperinci

RANCANGAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (SATUAN ACUAN PERKULIAHAN) : Teknologi Bahan Bakar dan Pelumasan Kode MK/SKS : TM 333/2

RANCANGAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (SATUAN ACUAN PERKULIAHAN) : Teknologi Bahan Bakar dan Pelumasan Kode MK/SKS : TM 333/2 RANCANGAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (SATUAN ACUAN PERKULIAHAN) Mata : Teknologi Bahan Bakar dan Pelumasan Kode MK/SKS : TM 333/2 Pokok Bahasan dan Sub Tujuan Instruktusional Umum (TIU) Bantuk Alat Bantu

Lebih terperinci

Penggunaan sistem Pneumatik antara lain sebagai berikut :

Penggunaan sistem Pneumatik antara lain sebagai berikut : SISTEM PNEUMATIK SISTEM PNEUMATIK Pneumatik berasal dari bahasa Yunani yang berarti udara atau angin. Semua sistem yang menggunakan tenaga yang disimpan dalam bentuk udara yang dimampatkan untuk menghasilkan

Lebih terperinci

COOLING SYSTEM ( Sistim Pendinginan )

COOLING SYSTEM ( Sistim Pendinginan ) COOLING SYSTEM ( Sistim Pendinginan ) Adalah sistim dalam engine diesel yang berfungsi: 1. Mendinginkan engine untuk mencegah Over Heating.. 2. Memelihara suhu kerja engine. 3. Mempercepat dan meratakan

Lebih terperinci

Pengolahan Pelumas Bekas Secara Fisika

Pengolahan Pelumas Bekas Secara Fisika Pengolahan Pelumas Bekas Secara Fisika ISSN 1907-0500 Desi Heltina, Yusnimar, Marjuki, Ardian Kurniawan Jurusan Teknik, Fakultas Teknik, Universitas Riau Pekanbaru 28293 Abstrak Seiring dengan meningkatnya

Lebih terperinci

Dua orang berkebangsaan Jerman mempatenkan engine pembakaran dalam pertama di tahun 1875.

Dua orang berkebangsaan Jerman mempatenkan engine pembakaran dalam pertama di tahun 1875. ABSIC ENGINE Dua orang berkebangsaan Jerman mempatenkan engine pembakaran dalam pertama di tahun 1875. Pada pertengahan era 30-an, Volvo menggunakan engine yang serupa dengan engine Diesel. Yaitu engine

Lebih terperinci

REFRIGERAN & PELUMAS. Catatan Kuliah: Disiapakan Oleh; Ridwan

REFRIGERAN & PELUMAS. Catatan Kuliah: Disiapakan Oleh; Ridwan REFRIGERAN & PELUMAS Persyaratan Refrigeran Persyaratan refrigeran (zat pendingin) untuk unit refrigerasi adalah sebagai berikut : 1. Tekanan penguapannya harus cukup tinggi. Sebaiknya refrigeran memiliki

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i UCAPAN TERIMA KASIH... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR GAMBAR... iv DAFTAR TABEL... vi DAFTAR BAGAN... vii DAFTAR NOTASI... viii DAFTAR LAMPIRAN... ix BAB I PENDAHULUAN... 1

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI A. SEJARAH MOTOR DIESEL Pada tahun 1893 Dr. Rudolf Diesel memulai karier mengadakan eksperimen sebuah motor percobaan. Setelah banyak mengalami kegagalan dan kesukaran, mak akhirnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membuka peluang bagi pihak lain diluar Pertamina untuk mendistribusikan

BAB I PENDAHULUAN. membuka peluang bagi pihak lain diluar Pertamina untuk mendistribusikan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri Pelumas berkembang dengan pesatnya, terutama setelah pemerintah membuka peluang bagi pihak lain diluar Pertamina untuk mendistribusikan produknya di Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Menurut sistem penyalaannya motor bakar terdiri dari dua jenis yaitu spark

I. PENDAHULUAN. Menurut sistem penyalaannya motor bakar terdiri dari dua jenis yaitu spark 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kendaraan bermotor menggunakan motor bakar sebagai mesin penggeraknya. Motor bakar merupakan salah satu jenis pengerak yang mengunakan hasil ledakan dari pembakaran di

Lebih terperinci

PENGARUH JUMLAH SEL PADA HYDROGEN GENERATOR TERHADAP PENGHEMATAN BAHAN BAKAR

PENGARUH JUMLAH SEL PADA HYDROGEN GENERATOR TERHADAP PENGHEMATAN BAHAN BAKAR PENGARUH JUMLAH SEL PADA HYDROGEN GENERATOR TERHADAP PENGHEMATAN BAHAN BAKAR A. Yudi Eka Risano Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, UNILA Jl. Sumantri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung, 35145 Telp. (0721)

Lebih terperinci

BAB IV KOROSIFITAS PADA ENGINE AKIBAT PROSES PEMBAKARAN TERHADAP MINYAK PELUMAS

BAB IV KOROSIFITAS PADA ENGINE AKIBAT PROSES PEMBAKARAN TERHADAP MINYAK PELUMAS BAB IV KOROSIFITAS PADA ENGINE AKIBAT PROSES PEMBAKARAN TERHADAP MINYAK PELUMAS Pada bab ini penulis akan membahas mengenai kekorosifan pada minyak pelumas yang diakibatkan oleh peristiwa pembakaran. Kekorosifan

Lebih terperinci

Denny Haryadhi N Motor Bakar / Tugas 2. Karakteristik Motor 2 Langkah dan 4 Langkah, Motor Wankle, serta Siklus Otto dan Diesel

Denny Haryadhi N Motor Bakar / Tugas 2. Karakteristik Motor 2 Langkah dan 4 Langkah, Motor Wankle, serta Siklus Otto dan Diesel Karakteristik Motor 2 Langkah dan 4 Langkah, Motor Wankle, serta Siklus Otto dan Diesel A. Karakteristik Motor 2 Langkah dan 4 Langkah 1. Prinsip Kerja Motor 2 Langkah dan 4 Langkah a. Prinsip Kerja Motor

Lebih terperinci

PENAMBAHAN LATEKS KARET ALAM KOPOLIMER RADIASI DAN PENINGKATAN INDEKS VISKOSITAS MINYAK PELUMAS SINTETIS OLAHAN

PENAMBAHAN LATEKS KARET ALAM KOPOLIMER RADIASI DAN PENINGKATAN INDEKS VISKOSITAS MINYAK PELUMAS SINTETIS OLAHAN Akreditasi LIPI Nomor : 536/D/2007 Tanggal 26 Juni 2007 PENAMBAHAN LATEKS KARET ALAM KOPOLIMER RADIASI DAN PENINGKATAN INDEKS VISKOSITAS MINYAK PELUMAS SINTETIS OLAHAN ABSTRAK Meri Suhartini dan Rahmawati

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. luar yang memungkinkan kendaraan dapat bergerak serta dapat mengatasi

BAB II KAJIAN TEORI. luar yang memungkinkan kendaraan dapat bergerak serta dapat mengatasi BAB II KAJIAN TEORI 2.1. Motor Bakar Seperti kita ketahui roda-roda suatu kendaraan memerlukan adanya tenaga luar yang memungkinkan kendaraan dapat bergerak serta dapat mengatasi keadaan, jalan, udara,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. suatu alat yang berfungsi untuk merubah energi panas menjadi energi. Namun, tanpa disadari penggunaan mesin yang semakin meningkat

I. PENDAHULUAN. suatu alat yang berfungsi untuk merubah energi panas menjadi energi. Namun, tanpa disadari penggunaan mesin yang semakin meningkat I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kendaraan bermotor merupakan salah satu alat yang memerlukan mesin sebagai penggerak mulanya, mesin ini sendiri pada umumnya merupakan suatu alat yang berfungsi untuk

Lebih terperinci

BAB 9 MENGIDENTIFIKASI MESIN PENGGERAK UTAMA

BAB 9 MENGIDENTIFIKASI MESIN PENGGERAK UTAMA BAB 9 MENGIDENTIFIKASI MESIN PENGGERAK UTAMA 9.1. MESIN PENGGERAK UTAMA KAPAL PERIKANAN Mesin penggerak utama harus dalam kondisi yang prima apabila kapal perikanan akan memulai perjalanannya. Konstruksi

Lebih terperinci

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 ALUR PROSES Adapun kegiatan yang dilakukan pada proses perawatan dan pemeliharaan cooling tower pada kerja praktik ini dapat diuraikan pada diagram alir berikut. Gambar

Lebih terperinci

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai STEAM TURBINE POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai PENDAHULUAN Asal kata turbin: turbinis (bahasa Latin) : vortex, whirling Claude Burdin, 1828, dalam kompetisi teknik tentang sumber daya air

Lebih terperinci

Penggunaan sistem Pneumatik antara lain sebagai berikut :

Penggunaan sistem Pneumatik antara lain sebagai berikut : SISTEM PNEUMATIK SISTEM PNEUMATIK Pneumatik berasal dari bahasa Yunani yang berarti udara atau angin. Semua sistem yang menggunakan tenaga yang disimpan dalam bentuk udara yang dimampatkan untuk menghasilkan

Lebih terperinci

ANALISA PERBANDINGAN OLI BERBAHAN DASAR PETROLEUM DENGAN OLI BERBAHAN DASAR NABATI DALAM MENGURANGI TINGKAT KEAUSAN

ANALISA PERBANDINGAN OLI BERBAHAN DASAR PETROLEUM DENGAN OLI BERBAHAN DASAR NABATI DALAM MENGURANGI TINGKAT KEAUSAN ANALISA PERBANDINGAN OLI BERBAHAN DASAR PETROLEUM DENGAN OLI BERBAHAN DASAR NABATI DALAM MENGURANGI TINGKAT KEAUSAN Fauzul Ismi 1, A.Jannifar 2, Nurlaili 2 1 Mahasiswa Prodi D-IV Teknik Mesin Produksi

Lebih terperinci

BAB II PRINSIP-PRINSIP DASAR HIDRAULIK

BAB II PRINSIP-PRINSIP DASAR HIDRAULIK BAB II PRINSIP-PRINSIP DASAR HIDRAULIK Dalam ilmu hidraulik berlaku hukum-hukum dalam hidrostatik dan hidrodinamik, termasuk untuk sistem hidraulik. Dimana untuk kendaraan forklift ini hidraulik berperan

Lebih terperinci

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA TURBOCHARGER URAIAN Dalam merancang suatu mesin, harus diperhatikan keseimbangan antara besarnya tenaga dengan ukuran berat mesin, salah satu caranya adalah melengkapi mesin dengan turbocharger yang memungkinkan

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 17 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 PENDAHULUAN Minyak pelumas (oli) merupakan salah satu substansi pendukung operasional mesin yang sangat vital. Pemilihan, penggunaan dan penggantian mnyak pelumas menentukan

Lebih terperinci

1. Densitas, Berat Jenis. Gravitas API

1. Densitas, Berat Jenis. Gravitas API UJI MINYAK BUMI DAN PRODUKNYA 2 1. Densitas, Berat Jenis dan Gravitas API Densitas minyak adalah massa minyak persatuan volume pada suhu tertentu. Berat spesifik atau rapat relatif (relative density) minyak

Lebih terperinci

Sistem Hidrolik. Trainer Agri Group Tier-2

Sistem Hidrolik. Trainer Agri Group Tier-2 Sistem Hidrolik No HP : 082183802878 Tujuan Training Peserta dapat : Mengerti komponen utama dari sistem hidrolik Menguji system hidrolik Melakukan perawatan pada sistem hidrolik Hidrolik hydro = air &

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (C), serta unsur-unsur lain, seperti : Mn, Si, Ni, Cr, V dan lain sebagainya yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (C), serta unsur-unsur lain, seperti : Mn, Si, Ni, Cr, V dan lain sebagainya yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Baja Baja merupakan paduan yang terdiri dari unsur utama besi (Fe) dan karbon (C), serta unsur-unsur lain, seperti : Mn, Si, Ni, Cr, V dan lain sebagainya yang tersusun dalam

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN ADITIF PADA PREMIUM DENGAN VARIASI KONSENTRASI TERHADAP UNJUK KERJA ENGINE PUTARAN VARIABEL KARISMA 125 CC

PENGARUH PENAMBAHAN ADITIF PADA PREMIUM DENGAN VARIASI KONSENTRASI TERHADAP UNJUK KERJA ENGINE PUTARAN VARIABEL KARISMA 125 CC PENGARUH PENAMBAHAN ADITIF PADA PREMIUM DENGAN VARIASI KONSENTRASI TERHADAP UNJUK KERJA ENGINE PUTARAN VARIABEL KARISMA 125 CC Riza Bayu K. 2106.100.036 Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. H.D. Sungkono K,M.Eng.Sc

Lebih terperinci

BAGIAN-BAGIAN UTAMA MOTOR Bagian-bagian utama motor dibagi menjadi dua bagian yaitu : A. Bagian-bagian Motor Utama yang Tidak Bergerak

BAGIAN-BAGIAN UTAMA MOTOR Bagian-bagian utama motor dibagi menjadi dua bagian yaitu : A. Bagian-bagian Motor Utama yang Tidak Bergerak BAGIAN-BAGIAN UTAMA MOTOR Bagian-bagian utama motor dibagi menjadi dua bagian yaitu : A. Bagian-bagian Motor Utama yang Tidak Bergerak Tutup kepala silinder (cylinder head cup) kepala silinder (cylinder

Lebih terperinci

OPTIMASI RASIO PALM FATTY ACID DESTILATE ( PFAD ) DAN SABUN LOGAM PADA PEMBUATAN PELUMAS PADAT (GREASE ) BIODEGRADABLE

OPTIMASI RASIO PALM FATTY ACID DESTILATE ( PFAD ) DAN SABUN LOGAM PADA PEMBUATAN PELUMAS PADAT (GREASE ) BIODEGRADABLE OPTIMASI RASIO PALM FATTY ACID DESTILATE ( PFAD ) DAN SABUN LOGAM PADA PEMBUATAN PELUMAS PADAT (GREASE ) BIODEGRADABLE 1* Sukmawati, 2 Tri Hadi Jatmiko 12 Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Data Hasil Pengujian Perhitungan dan pembahasan dimulai dari proses pengambilan data. Data yang dikumpulkan meliputi hasil pengujian dan data tersebut diolah dengan perhitungan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN DAN PERAWATAN 4.1 TUJUAN PERAWATAN WATER PUMP a) Menyediakan informasi pada pembaca dan penulis untuk mengenali gejala-gejala yang terjadi pada water pump apabila akan mengalami kerusakan.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA PENGUJIAN. INDONESIA Cilandak - Jakarta dengan menggunakan mesin Viscosity Kinematic Bath,

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA PENGUJIAN. INDONESIA Cilandak - Jakarta dengan menggunakan mesin Viscosity Kinematic Bath, BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA PENGUJIAN 4.1 Data Hasil Pengujian Data hasil pengujian yang telah dilakukan di laboratorium PT. CORELAB INDONESIA Cilandak - Jakarta dengan menggunakan mesin Viscosity Kinematic

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Motor Bakar Dalam mesin terdapat siklus pembakaran yang disebut dengan istilah motor bakar. Motor bakar sendiri mempunyai arti yaitu salah satu jenis kalor dalam kinerjanya

Lebih terperinci

MENGENAL PELUMAS PADA MESIN

MENGENAL PELUMAS PADA MESIN Mengenal Pelumas Pada Mesin (Darmanto) MENGENAL PELUMAS PADA MESIN Darmanto Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik, Universitas Wahid Hasyim Semarang Jl. Menoreh Tengah X/22 Semarang E-mail : [email protected]

Lebih terperinci

PERAWATAN FORKLIFT FD20ST-3

PERAWATAN FORKLIFT FD20ST-3 PERAWATAN FORKLIFT FD20ST-3 PERAWATAN FORKLIFT Oleh FD20ST-3 Ady Prasetya (210345025) Hasan Basri (210345035) Muhamad Maulana (210345039) Apa itu forklift??? Forklift adalah sebuah alat bantu berupa kendaraan

Lebih terperinci

PENGOLAHAN AIR SUNGAI UNTUK BOILER

PENGOLAHAN AIR SUNGAI UNTUK BOILER PENGOLAHAN AIR SUNGAI UNTUK BOILER Oleh Denni Alfiansyah 1031210146-3A JURUSAN TEKNIK MESIN POLITEKNIK NEGERI MALANG MALANG 2012 PENGOLAHAN AIR SUNGAI UNTUK BOILER Air yang digunakan pada proses pengolahan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II PENDAHULUAN BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Motor Bakar Bensin Motor bakar bensin adalah mesin untuk membangkitkan tenaga. Motor bakar bensin berfungsi untuk mengubah energi kimia yang diperoleh dari

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Dasar Steam merupakan bagian penting dan tidak terpisahkan dari teknologi modern. Tanpa steam, maka industri makanan kita, tekstil, bahan kimia, bahan kedokteran,daya, pemanasan

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Penelitian penelitian pendahuluan dilakukan untuk mendapatkan jenis penstabil katalis (K 3 PO 4, Na 3 PO 4, KOOCCH 3, NaOOCCH 3 ) yang

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN ZAT ADITIF PADA OLI SCOOTER MATIC TERHADAP PERUBAHAN TEMPERATUR DALAM PEMANASAN MESIN

PENGARUH PENAMBAHAN ZAT ADITIF PADA OLI SCOOTER MATIC TERHADAP PERUBAHAN TEMPERATUR DALAM PEMANASAN MESIN PENGARUH PENAMBAHAN ZAT ADITIF PADA OLI SCOOTER MATIC TERHADAP PERUBAHAN TEMPERATUR DALAM PEMANASAN MESIN Sigit Prasetya 1) Priyagung Hartono 2) Artono Rahardjo 3) Program Sarjana Teknik Strata Satu Teknik

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil pengujian Pengaruh Perubahan Temperatur terhadap Viskositas Oli

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil pengujian Pengaruh Perubahan Temperatur terhadap Viskositas Oli Viskositas (mpa.s) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil pengujian 4.1.1 Pengaruh Perubahan Temperatur terhadap Viskositas Oli Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui viskositas sampel oli, dan 3100 perubahan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN PERBANDINGAN MASSA ALUMINIUM SILIKAT DAN MAGNESIUM SILIKAT Tahapan ini merupakan tahap pendahuluan dari penelitian ini, diawali dengan menentukan perbandingan massa

Lebih terperinci

KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR

KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR JPTM FPTK 2006 KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BAHAN AJAR NO 2 Motor TANGGAL : KOMPETENSI Komponen Utama

Lebih terperinci

PERTAMINA ATF MINYAK TRANSMISI OTOMATIS

PERTAMINA ATF MINYAK TRANSMISI OTOMATIS PERTAMINA ATF MINYAK TRANSMISI OTOMATIS PERTAMINA ATF is a high quality transmission fluid for automatic transmission. PERTAMINA ATF has very high viscosity index which is made from oil base with high

Lebih terperinci

MODUL II VISKOSITAS. Pada modul ini akan dijelaskan pendahuluan, tinjauan pustaka, metodologi praktikum, dan lembar kerja praktikum.

MODUL II VISKOSITAS. Pada modul ini akan dijelaskan pendahuluan, tinjauan pustaka, metodologi praktikum, dan lembar kerja praktikum. MODUL II VISKOSITAS Pada modul ini akan dijelaskan pendahuluan, tinjauan pustaka, metodologi praktikum, dan lembar kerja praktikum. I. PENDAHULUAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang praktikum

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Motor Bakar. Motor bakar torak merupakan internal combustion engine, yaitu mesin yang fluida kerjanya dipanaskan dengan pembakaran bahan bakar di ruang mesin tersebut. Fluida

Lebih terperinci

BAB IX PELUMAS/GREASE

BAB IX PELUMAS/GREASE BAB IX PELUMAS/GREASE 9.1 Pelumas Industri otomotif terus berkembang. Penjualan mobil di Indonesia diperkirakan melebihi 450.000 unit per tahun, sedangkan motor mencapai 5 juta unit. Hal ini membuka celah

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI MOTOR DIESEL PERAWATAN MESIN DIESEL 1 SILINDER

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI MOTOR DIESEL PERAWATAN MESIN DIESEL 1 SILINDER LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI MOTOR DIESEL PERAWATAN MESIN DIESEL 1 SILINDER Di susun oleh : Cahya Hurip B.W 11504244016 Pendidikan Teknik Otomotif Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta 2012 Dasar

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERBANDINGAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR BIO SOLAR DAN SOLAR DEX TERHADAP PELUMAS MESIN PADA MESIN DIESEL ISUZU PANTHER 2300 CC TIPE C-223

TUGAS AKHIR PERBANDINGAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR BIO SOLAR DAN SOLAR DEX TERHADAP PELUMAS MESIN PADA MESIN DIESEL ISUZU PANTHER 2300 CC TIPE C-223 PERBANDINGAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR BIO SOLAR DAN SOLAR DEX TERHADAP PELUMAS MESIN PADA MESIN DIESEL ISUZU PANTHER 2300 CC TIPE C-223 Diajukan Untuk Mencapai Gelar Strata Satu (S1) Program Studi Teknik

Lebih terperinci

MODUL IV B PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA DIESEL

MODUL IV B PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA DIESEL MODUL IV B PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA DIESEL DEFINISI PLTD Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ialah pembangkit listrik yang menggunakan mesin diesel sebagai penggerak mula (prime mover), yang berfungsi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan oli bekas untuk mengetahui emisi gas buang pada mesin diesel, hasil

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan oli bekas untuk mengetahui emisi gas buang pada mesin diesel, hasil 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu. Ale,B.B, (2003), melakukan penelitian dengan mencampur kerosin dengan oli bekas untuk mengetahui emisi gas buang pada mesin diesel, hasil penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Studi komparansi kinerja..., Askha Kusuma Putra, FT UI, 2008

BAB I PENDAHULUAN. Studi komparansi kinerja..., Askha Kusuma Putra, FT UI, 2008 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Semakin meningkatnya kebutuhan minyak sedangkan penyediaan minyak semakin terbatas, sehingga untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri Indonesia harus mengimpor

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAAN 4.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI KOPLING Kopling adalah satu bagian yang mutlak diperlukan pada truk dan jenis lainnya dimana penggerak utamanya diperoleh dari hasil pembakaran di dalam silinder

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori Apabila meninjau mesin apa saja, pada umumnya adalah suatu pesawat yang dapat mengubah bentuk energi tertentu menjadi kerja mekanik. Misalnya mesin listrik,

Lebih terperinci

BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN MITSUBISHI L CC

BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN MITSUBISHI L CC BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN MITSUBISHI L 100 546 CC 3.1. Pengertian Bagian utama pada sebuah mesin yang sangat berpengaruh dalam jalannya mesin yang didalamnya terdapat suatu

Lebih terperinci

Pratama Akbar Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS

Pratama Akbar Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS Pratama Akbar 4206 100 001 Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS PT. Indonesia Power sebagai salah satu pembangkit listrik di Indonesia Rencana untuk membangun PLTD Tenaga Power Plant: MAN 3 x 18.900

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. poly chloro dibenzzodioxins dan lain lainnya (Ermawati, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. poly chloro dibenzzodioxins dan lain lainnya (Ermawati, 2011). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Selama ini penanganan sampah kota di negara-negara berkembang seperti Indonesia hanya menimbun dan membakar langsung sampah di udara terbuka pada TPA (Tempat Pembuangan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Fungsi utama pelumas (oli) adalah mencegah terjadinya friksi dan keausan (wear) antara dua bidang atau permukaan yang bersinggungan, memperpanjang usia pakai mesin, dan fungsi

Lebih terperinci

Predictive Maintenance

Predictive Maintenance Predictive Maintenance Metode Perawatan Mesin Breakdown Maintenance Preventive Maintenance Proactive Maintenance Predictive Maintenance Predictive Maintenance Predictive maintenance, disebut juga dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. aktifitas yang diluar kemampuan manusia. Umumnya mesin merupakan suatu alat

I. PENDAHULUAN. aktifitas yang diluar kemampuan manusia. Umumnya mesin merupakan suatu alat I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembuatan mesin pada awalnya bertujuan untuk memberikan kemudahan dalam aktifitas yang diluar kemampuan manusia. Umumnya mesin merupakan suatu alat yang berfungsi untuk

Lebih terperinci

Pengaruh Penambahan Aditif Proses Daur Ulang Minyak Pelumas Bekas terhadap Sifat-sifat Fisis

Pengaruh Penambahan Aditif Proses Daur Ulang Minyak Pelumas Bekas terhadap Sifat-sifat Fisis Pengaruh Penambahan Aditif Proses Daur Ulang Minyak Pelumas Bekas terhadap Sifat-sifat Fisis Siswanti Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Lebih terperinci

Makalah PENGGERAK MULA Oleh :Derry Esaputra Junaedi FAKULTAS TEKNIK UNNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

Makalah PENGGERAK MULA Oleh :Derry Esaputra Junaedi FAKULTAS TEKNIK UNNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA Makalah PENGGERAK MULA Oleh :Derry Esaputra Junaedi 2008.43.0022 FAKULTAS TEKNIK UNNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA Pengertian Mesin Mesin adalah alat mekanik atau elektrik yang mengirim atau mengubah

Lebih terperinci

125 SNI YANG SUDAH DITETAPKAN BSN DI BIDANG USAHA MINYAK DAN GAS BUMI

125 SNI YANG SUDAH DITETAPKAN BSN DI BIDANG USAHA MINYAK DAN GAS BUMI 125 SNI YANG SUDAH DITETAPKAN BSN DI BIDANG USAHA MINYAK DAN GAS BUMI NO NOMOR SNI J U D U L KETERANGAN 1. SNI 07-0728-1989 Pipa-pipa baja pengujian tekanan tinggi untuk saluran pada industri minyak dan

Lebih terperinci