4. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

3 METODE PENELITIAN. Gambar 4 Peta lokasi penelitian.

3. METODE PENELITIAN

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 5 Peta daerah penangkapan ikan kurisi (Sumber: Dikutip dari Dinas Hidro Oseanografi 2004).

3. METODE PENELITIAN

2. TINJAUAN PUSTAKA Rajungan (Portunus pelagicus)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Sebaran frekuensi panjang ikan kuniran (Upeneus sulphureus) betina yang dianalisis dengan menggunakan metode NORMSEP (Normal Separation)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

spesies yaitu ikan kembung lelaki atau banyar (Rastrelliger kanagurta) dan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma)(sujastani 1974).

3. METODE PENELITIAN

2. TINJAUAN PUSTAKA Ikan Terisi Menurut Richardson (1846) (2010) klasifikasi ikan terisi (Gambar 2) adalah sebagai berikut :

Gambar 6 Sebaran daerah penangkapan ikan kuniran secara partisipatif.

KAJIAN STOK DAN ANALISIS KETIDAKPASTIAN SUMBERDAYA IKAN KURISI

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODE PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN

PARAMETER POPULASI DAN ASPEK REPRODUKSI IKAN KUNIRAN (Upeneus sulphureus) DI PERAIRAN REMBANG, JAWA TENGAH

3. METODE PENELITIAN

2 TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2 Ikan kuniran (Upeneus moluccensis).

3. METODE PENELITIAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

2. TINJAUAN PUSTAKA. : Actinopterygii : Perciformes

5 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 4. Peta lokasi pengambilan ikan contoh

Length-Weight based Stock Assesment Of Round Scad ( Decapterus russelli ) From Mapur Fishing Ground and Landed at Pelantar KUD Tanjungpinang

PENDAHULUAN. Common property & open acces. Ekonomis & Ekologis Penting. Dieksploitasi tanpa batas

3.3 Pengumpulan Data Primer

Selain sebagai tempat penjualan ikan, wilayah sekitar TPI Cilauteureun ini dikenal sebagai tempat wisata alam pantai yaitu Pantai Santolo yang dikenal

KAJIAN STOK IKAN KEMBUNG LELAKI (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) DI PERAIRAN TELUK BANTEN YANG DIDARATKAN DI PPN KARANGANTU, BANTEN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODE PENELITIAN

2. METODOLOGI PENELITIAN

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ikan Kuniran Klasifikasi dan tata nama

1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDUGAAN STOK IKAN LAYUR

3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

3 METODOLOGI. Gambar 2 Peta Selat Bali dan daerah penangkapan ikan lemuru.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

VII. POTENSI LESTARI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP. Fokus utama estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan

3. METODOLOGI PENELITIAN

KAJIAN STOK SUMBER DAYA IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) DI PERAIRAN SELAT SUNDA NUR LAILY HIDAYAT

Abstrak. Kata Kunci : Ikan ekor Kuning, pertumbuhan, laju mortalitas, eksploitasi. Abstract

3. METODE PENELITIAN

PERTUMBUHAN DAN LAJU EKSPLOITASI IKAN TERI PEKTO (Stolephorus Waitei) DI PERAIRAN BELAWAN KOTA MEDAN SUMATERA UTARA

3. METODE PENELITIAN

3 METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu 3.2 Teknik Pengambilan Data Pengumpulan Data Vegetasi Mangrove Kepiting Bakau

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Pengumpulan Data

4 HASIL PENELITIAN. 4.1 Statistik Produksi Ikan dan Telur Ikan Terbang Produksi tahunan ikan dan telur ikan terbang

STATUS STOK SUMBERDAYA IKAN LEMURU (Sardinella lemuru) DI PERAIRAN SELAT SUNDA GAMA SATRIA NUGRAHA

VI. ANALISIS BIOEKONOMI

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN

FAKTOR KONDISI DAN HUBUNGAN PANJANG BERAT IKAN SELIKUR (Scomber australasicus) DI LAUT NATUNA YANG DIDARATKAN DI PELANTAR KUD KOTA TANJUNGPINANG

3. METODOLOGI. Gambar 2. Peta lokasi penangkapan ikan tembang (Sardinella fimbriata) Sumber : Dinas Hidro-Oseanografi (2004)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian 3.4 Jenis dan Sumber Data

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Peralatan 3.3 Metode Penelitian

STRUKTUR UKURAN DAN PARAMETER PERTUMBUHAN HIU MACAN (Galeocerdo cuvier Peron & Lesuer, 1822) DI PERAIRAN SELATAN NUSA TENGGARA BARAT

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

The study of Sardinella fimbriata stock based on weight length in Karas fishing ground landed at Pelantar KUD in Tanjungpinang

3 METODE PENELITIAN. Gambar 2 Peta lokasi penelitian PETA LOKASI PENELITIAN

Study Programme of Management Aquatic Resource Faculty of Marine Science and Fisheries, University Maritime Raja Ali Haji

METODE PENELITIAN STOCK. Analisis Bio-ekonomi Model Gordon Schaefer

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN

Febyansyah Nur Abdullah, Anhar Solichin*), Suradi Wijaya Saputra

Gambar 7. Peta kawasan perairan Teluk Banten dan letak fishing ground rajungan oleh nelayan Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu

STATUS STOK SUMBERDAYA IKAN KEMBUNG LELAKI (Rastrelliger kanagurta Cuvier, 1817) DI PERAIRAN SELAT SUNDA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

5 POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DEMERSAL

3. METODE PENELITIAN

KAJIAN STOK DAN ANALISIS KETIDAKPASTIAN IKAN KUNIRAN

1. PENDAHULUAN. Tabel 1. Volume dan nilai produksi ikan lemuru Indonesia, tahun Tahun

STATUS STOK DAN ANALISIS POPULASI VIRTUAL IKAN KEMBUNG LELAKI (Rastrelliger kanagurta) DI PERAIRAN SELAT SUNDA NERI SRIBENITA SIHOMBING

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang.

5 PEMBAHASAN 5.1 Komposisi Hasil Tangkapan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

Penangkapan Tuna dan Cakalang... Pondokdadap Sendang Biru, Malang (Nurdin, E. & Budi N.)

BAB III METODE PENELITIAN. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 5 berikut:

Hardiyansyah Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan, FIKP, UMRAH,

KAJIAN STOK IKAN PARI (Neotrygon kuhlii) DI PERAIRAN SELAT SUNDA YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI LABUAN, BANTEN RAISHA BUNGA SURYA

Transkripsi:

32 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Ikan Kurisi di Perairan Teluk Banten Penduduk di sekitar Teluk Banten kebanyakan memiliki profesi sebagai nelayan. Alat tangkap yang banyak digunakan oleh para nelayan adalah jaring dogol, bagan, jaring insang, payang dan lain-lain. Kapal yang digunakan umunya berukuran 6 GT. Hasil tangkapan utama nelayan di Teluk Banten berupa ikan pepetek, cumi-cumi, kurisi, kembung, kuniran dan lain-lain. Berikut ini disajikan gambar hasil tangkapan per jenis ikan dominan tahun 2010 di PPN Karangantu (Gambar 6). Gambar 6. Hasil tangkapan per jenis ikan dominan tahun 2010 di PPN Karangantu Sumber : Ditjen-Tangkap (DKP 2011) Ikan kurisi di Teluk Banten yang didaratkan di PPN Karangantu sebagian besar ditangkap dengan menggunakan alat tangkap jaring dogol/gardan. Pengoperasian alat tangkap ini dengan menggunakan alat bantu mesin gardan berkekuatan sekitar 6 PK untuk menarik jaring. Daerah penangkapannya di utara Pulau Panjang yang memiliki dasar pantai pasir berlumpur dengan kedalaman diatas 16 meter. Penangkapan ikan dilakukan pada siang hari, dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Ikan kurisi akan didistribusikan ke daerah Serang, Cilegon, Tangerang dan Jakarta dalam bentuk segar maupun olahan (ikan asin).

33 4.2. Kondisi Perairan Teluk Banten Pada wilayah pantai utara Jawa, ada beberapa teluk yang dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan tangkap, salah satunya adalah Teluk Banten yang terletak di Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Perairan Teluk Banten secara geografis terletak pada 05º49 45 06º02 00 LS dan 106º03 00 106º16 00 BT. Teluk Banten ini terletak pada jarak 60 km sebelah Barat kota Jakarta. Kawasan ini mempunyai panjang pantai sekitar 22 km dan luasnya kira-kira 150 km 2 dengan berbagai variasi kedalaman mulai dari 0,2 m sampai 9 m, oleh sebab itu Teluk Banten termasuk perairan yang dangkal dengan turbiditas tinggi (Tiwi 2004). Dasar perairan pada umumnya lumpur berpasir. Pada teluk terdapat beberapa pulau kecil dengan beberapa yang terbentuk dari gosong karang. Pulau Panjang merupakan pulau yang terbesar, yang berpenduduk dan pulau yang terluar yaitu Pulau Kali (Nuraini 2004). Sebagian besar kawasan teluk bagian barat yang meliputi Kecamatan Kepuh dan Bojonegara dimanfaatkan untuk kawasan industri dan Pelabuhan Bojonegara. Kawasan teluk bagian selatan yang meliputi Kecamatan Kasemen dan Karangantu dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan seperti kawasan industri, perumahan nelayan, pertambakan dan pelabuhan perikanan Karangantu yang berdampingan dengan pelabuhan niaga kayu. Bagian timur dari teluk ini yang meliputi Kecamatan Tirtayasa dan Pontang merupakan kawasan peruntukan pertambakan dan sebagian dari kawasan lindung Cagar Alam Pulau Dua (Tiwi 2004). Perairan teluk dipengaruhi oleh dua musim, yaitu musim barat dan musim timur. Musim barat merupakan musim hujan, pada bulan Desember hingga Februari curah hujan tertinggi. Musim timur merupakan musim kemarau. Musim penangkapan di Teluk Banten ini yaitu pada musim timur (Nuraini 2004). Pengamatan faktor hidrologi perairan Teluk Banten secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh Laut Jawa. Kecuali pada perairan muara sungai dan sekitarnya salinitas menurun pada musim hujan. Pengamatan pada tahun 1998-1999, menunjukkan bahwa suhu air di Teluk Banten berkisar antara 28 31,5 ºC dengan rata-rata 29,5 ºC. Salinitas di daerah penangkapan ikan sekitar 28 33,8 ppm, salinitas rendah (<20 ppm) terjadi pada musim hujan Januari-Februari di perairan dekat muara sungai. Rendahnya salinitas akibat masuknya air hujan dari sungai

34 yang bermuara di Teluk Banten. Kecerahan disekitar pulau-pulau karang di tengah Teluk Banten hingga utara Pulau Panjang bervariasi antara 2 10 m (Nuraini 2004). 4.3. Nisbah Kelamin Nisbah kelamin perlu diketahui untuk mengetahui kestabilan populasi ikan yang ada di perairan. Jumlah total ikan kurisi yang terambil sebagai contoh dalam penelitian ini yaitu sebanyak 679 ekor. Frekuensi ikan kurisi jantan sebanyak 417 ekor dan ikan kurisi betina sebanyak 262 ekor. Perbandingan jumlah ikan kurisi jantan dengan betina yaitu sebesar 1,6:1. Proporsi kelamin ikan kurisi pada setiap pengambilan contoh dijelaskan pada Tabel 4. Tabel 4. Proporsi kelamin ikan kurisi (Nemipterus furcosus) di PPN Karangantu, Teluk Banten setiap pengambilan contoh Pengambilan Nisbah Jenis Kelamin (%) Waktu n Contoh Jantan Betina 1 24 Februari 2011 70 44 56 2 10 Maret 2011 166 68 32 3 24 Maret 2011 100 59 41 4 7 April 2011 107 59 41 5 21 April 2011 85 64 36 6 12 Mei 2011 151 64 36 Tabel 4 menunjukkan bahwa secara keseluruhan proporsi ikan kurisi jantan di Teluk Banten lebih dominan dibandingkan ikan betina. Nisbah kelamin yang diperoleh yaitu sebesar 1,6:1 ini tidaklah mutlak, perbandingan nisbah kelamin ini dapat berbeda menurut waktu dan tempat. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik ikan itu sendiri yang tidak dapat dikendalikan. Effendie (2002) menyatakan bahwa perbandingan atau rasio jenis kelamin yang ada di alam bersifat relatif. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya pola penyebaran, ketersediaan makanan, kepadatan populasi, dan keseimbangan rantai makanan. Perbandingan 1:1 sering menyimpang pada kenyataannya di alam, antara lain disebabkan oleh perbedaan pola tingkah laku ikan jantan dan betina, faktor genetik, perbedaan laju mortalitas dan laju pertumbuhannya (Nasabah 1996 in Ismail 2006).

35 4.4. Tingkat Kematangan Gonad Tingkat kematangan gonad merupakan tahap-tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Berikut adalah grafik Tingkat Kematangan Gonad (TKG) pada setiap pengamatan ikan kurisi jantan dan betina dapat dilihat pada Gambar 7 dan Gambar 8: Gambar 7. TKG ikan kurisi (Nemipterus furcosus) jantan di PPN Karangntu, Teluk Banten pada bulan Februari 2011-Mei 2011 Gambar 8. TKG ikan kurisi (Nemipterus furcosus) betina di PPN Karangntu, Teluk Banten pada bulan Februari 2011-Mei 2011

36 Ikan kurisi yang diperoleh selama penelitian dibagi menjadi 4 (empat) tingkat kematangan gonad, (TKG) I, II, III, dan IV. Persentase tingkat kematangan gonad ikan kurisi pada setiap pengambilan waktu berbeda-beda, baik jantan maupun betina. Dari pengetahuan tentang kematangan gonad akan diperoleh informasi kapan ikan akan memijah, mulai memijah, atau sudah selesai memijah (Effendie 2002). Ikan kurisi yang ditangkap di perairan Teluk Banten pada bulan Februari 2011-Mei 2011 menunjukkan ikan jantan yang tertangkap lebih dominan memiliki TKG 1 dan TKG 2. Pada ikan kurisi betina didominasi ikan yang memiliki TKG 2 dan TKG 3. Dari informasi tersebut, diduga bahwa ikan kurisi sudah memijah dan dalam masa perkembangan kembali gonadnya. 4.5. Sebaran Frekuensi Panjang Ikan kurisi yang diamati selama penelitian dari bulan Februari 2011 sampai bulan Mei 2011 berjumlah 679 ekor, yang terdiri dari 417 ikan jantan dan 262 ikan betina. Pada pengambilan contoh pertama 24 Februari 2011, frekuensi ikan kurisi jantan yang banyak tertangkap yaitu pada selang ukuran 121-137 mm sedangkan ikan kurisi betina pada selang 155-171 mm. Pada pengambilan contoh kedua 10 Maret 2011, frekuensi ikan kurisi jantan yang tertinggi berada pada selang ukuran 155-171 mm sedangkan ikan betina pada selang 138-154 mm. Frekuensi ikan kurisi jantan dan betina yang dominan pada 24 Maret 2011 berada pada selang ukuran 138-154 mm. Ikan kurisi jantan yang dominan tertangkap pada 7 April 2011 yaitu pada selang 104-120 mm dan 155-171 mm sedangkan kurisi betina pada selang 104-120 mm. Pengambilan contoh 21 April 2011, frekuensi yang dominan tertangkap untuk ikan kurisi jantan pada selang 138-154 mm, sedangkan ikan kurisi betina pada selang 172-188 mm. Pada pengambilan contoh 12 Mei 2011, ikan kurisi jantan yang dominan tertangkap yaitu ukuran 104-120 mm sedangkan ikan kurisi betina pada ukuran 121-137 mm. Berdasarkan hasil pengelompokkan dalam kelas panjang didapatkan 11 kelas panjang dengan frekuensi berbeda-beda (Tabel 5).

37 Tabel 5. Sebaran frekuensi panjang ikan kurisi (Nemipterus furcosus) di PPN Karangantu Teluk Banten Selang Kelas 24 Februari 2011 10 Maret 2011 24 Maret 2011 7 April 2011 21 April 2011 12 Mei 2011 J B J B J B J B J B J B 70-86 0 0 2 0 1 0 0 0 0 1 0 1 87-103 0 0 1 4 1 0 4 7 6 0 19 1 104-120 3 4 11 0 3 1 11 13 9 0 25 5 121-137 10 10 30 13 6 4 9 5 3 8 4 13 138-154 5 8 21 20 18 23 7 4 17 4 8 10 155-171 7 15 35 12 10 12 11 5 6 4 20 12 172-188 3 2 9 3 6 1 9 2 10 9 7 9 189-205 2 0 3 0 5 0 5 3 3 2 7 3 206-222 1 0 1 0 5 0 4 4 0 0 3 0 223-239 0 0 0 1 4 0 3 1 0 3 2 0 240-256 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 Jumlah 31 39 113 53 59 41 63 44 54 31 97 54 Keterangan: J = jantan ; B = betina Jumlah ikan kurisi jantan lebih banyak dibandingkan dengan ikan kurisi betina (Gambar 9). Ikan contoh yang digunakan dalam analisis sebaran ukuran panjang terdiri dari 417 ekor ikan kurisi jantan dan 262 ekor ikan kurisi betina. Secara keseluruhan diketahui bahwa frekuensi tertinggi ikan kurisi jantan pada selang kelas 155-171 mm dan frekuensi tertinggi untuk ikan kurisi betina pada selang 138-154 mm. Menurut Lagler (1977), perbedaan ukuran ikan antar jenis kelamin kemungkinan disebabkan faktor genetik.

38 Gambar 9. Sebaran frekuensi panjang ikan kurisi (Nemipterus furcosus) jantan dan betina di PPN Karangantu Teluk Banten pada bulan Februari 2011-Mei 2011 Perbedaan ukuran panjang total disebabkan beberapa faktor seperti tempat pengambilan contoh ikan, keterwakilan contoh yang diambil, dan kemungkinan tekanan penangkapan yang tinggi. Untuk jenis ikan yang sama ukuran panjang totalnya belum tentu sama di daerah yang berbeda, karena adanya faktor luar yang dapat mempengaruhi hal tersebut. Effendie (2002) menyatakan faktor dalam yang mempengaruhi seperti keturunan, jenis kelamin, umur, parasit, dan penyakit. Sedangkan faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan ikan adalah suhu dan makanan. Hal tersebut yang menyebabkan berbedanya pertumbuhan ikan di setiap tempat dan waktu. Dengan asumsi bahwa ikan contoh sudah mewakili populasi yang ada maka ukuran panjang total maksimum ikan yang semakin mengecil dapat mengindikasikan adanya tekanan penangkapan yang tinggi. 4.6. Kelompok Umur Analisis kelompok umur dilakukan pada setiap pengambilan contoh. Hal ini dilakukan untuk melihat perubahan rata-rata panjang pada setiap pengambilan contoh.

Gambar 10. Frekuensi panjang ikan kurisi (Nemipterus furcosus) jantan periode Februari 2011 Mei 2011 di PPN Karangantu Teluk Banten 39

Gambar 11. Frekuensi panjang ikan kurisi (Nemipterus furcosus) betina periode Februari 2011 Mei 2011 di PPN Karangantu Teluk Banten 40

41 Pada Gambar 10 dan Gambar 11 diketahui bahwa ikan kurisi mengalami pertumbuhan panjang, pergeseran modus ke arah kanan dan perubahan ukuran panjang ikan setiap pengambilan contoh baik jantan maupun betina. Dalam penggunaan metode NORMSEP (Normal Separation) yang terdapat dalam program FISAT II (FAO-ICLARM Stock Assessment Tool) sangat diperhatikan nilai indeks separasi (Tabel 6 dan Tabel 7). Menurut Hasselblad (1996), McNew & Summerfelt (1978) serta Clark (1981) in Sparre & Venema (1999) menjelaskan bahwa indeks separasi menggambarkan kualitas pemisahan dua kelompok umur yang berdekatan. Apabila indeks separasi kurang dari dua (<2) maka tidak mungkin dilakukan pemisahan kelompok umur karena akan terjadi tumpang tindih dengan kedua kelompok umur tersebut. Berdasarkan Tabel 6 dan Tabel 7, dapat dilihat tidak ada indeks separasi yang diperoleh kurang dari dua (<2). Hal ini menunjukkan bahwa hasil pemisahan kelompok umur ikan kurisi dapat diterima dan digunakan untuk analisis berikutnya. Ikan kurisi pada umumnya memiliki 1 atau 2 kelompok umur yang cenderung membentuk sebaran normal. Tabel 6. Sebaran kelompok umur ikan kurisi (Nemipterus furcosus) jantan di PPN Karangantu, Teluk Banten setiap pengambilan contoh Tanggal Nilai Tengah Simpangan Jumlah Indeks (mm) Baku Populasi separasi 24 Februari 2011 131.29 12.34 19.00-10 Maret 2011 133.04 14.58 68.00-24 Maret 2011 148.15 21.24 45.00-215.49 20.45 16.00 3.23 7 April 2011 153.86 40.88 68.00-21 April 2011 165.65 21.73 44.00-12 Mei 2011 105.71 11.71 52.00-170.53 25.91 52.00 3.45 Tabel 7. Sebaran kelompok umur ikan kurisi (Nemipterus furcosus) betina di PPN Karangantu, Teluk Banten setiap pengambilan contoh Tanggal Nilai Tengah Simpangan Jumlah Indeks (mm) Baku Populasi separasi 24 Februari 2011 134.17 15.93 25.00-10 Maret 2011 145.35 17.84 53.00-24 Maret 2011 149.89 10.97 41.00-7 April 2011 110.18 13.55 27.00-170.52 35.26 23.00 2.47 21 April 2011 120.50 20.42 13.00-178.11 10.86 15.00 3.68 12 Mei 2011 148.20 22.92 48.00 -

42 4.7. Pertumbuhan 4.7.1. Hubungan panjang bobot Analisis hubungan panjang dan bobot menggunakan data panjang total dan bobot basah ikan contoh untuk melihat pola pertumbuhan individu ikan kurisi di perairan Teluk Banten. Hubungan panjang bobot ikan kurisi jantan pada setiap pengambilan contoh di Teluk Banten disajikan pada Tabel 8 dan ikan kurisi betina pada Tabel 9. Tabel 8. Hubungan panjang bobot ikan kurisi (Nemipterus furcosus) jantan di PPN Karangantu, Teluk Banten setiap pengambilan contoh Pengambilan Contoh Waktu N b R 2 keterangan 1 24 Februari 2011 31 2,77 0,97 Allometrik negatif 2 10 Maret 2011 113 2,77 0,92 Allometrik negatif 3 24 Maret 2011 59 3,07 0,98 isometrik 4 7 April 2011 63 3,05 0,99 isometrik 5 21 April 2011 54 3,07 0,99 isometrik 6 12 Mei 2011 97 2,80 0,99 Allometrik negatif Gabungan 417 2,88 0,96 Allometrik negatif Tabel 9. Hubungan panjang bobot ikan kurisi (Nemipterus furcosus) betina di PPN Karangantu, Teluk Banten setiap pengambilan contoh Pengambilan Contoh Waktu N b R 2 keterangan 1 24 Februari 2011 39 3.14 0.97 isometrik 2 10 Maret 2011 53 2.99 0.98 isometrik 3 24 Maret 2011 41 2.89 0.94 isometrik 4 7 April 2011 44 2.83 0.98 Allometrik negatif 5 21 April 2011 31 2.78 0.93 isometrik 6 12 Mei 2011 54 2.54 0.95 Allometrik negatif Gabungan 262 2,77 0,95 Allometrik negatif Contoh ikan kurisi yang digunakan selama penelitian ini yaitu sebanyak 679 ekor. Pengambilan contoh yang dilakukan selama enam kali menunjukkan bahwa secara umum pertumbuhan ikan kurisi jantan maupun betina bersifat allometrik negatif yaitu laju pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan bobot yang didukung dengan dilakukan uji t pada selang kepercayaan 95%.

43 Pada ikan kurisi jantan dan betina secara keseluruhan pertumbuhannya bersifat allometrik negatif. Namun, pada pengambilan contoh ke-3, 4 dan 5 untuk ikan kurisi jantan dan pada pengambilan contoh ke-1, 2, 3, dan 5 untuk ikan kurisi betina menunjukkan pola pertumbuhannya isometrik setelah dilakukan uji t yang menyatakan gagal tolak H 0. Pola pertumbuhan ikan kurisi di Teluk Banten bersifat allometrik negatif diduga karena faktor genetik, hal ini didukung oleh hasil penelitian lainnya yang juga menyatakan bahwa pola pertumbuhan ikan kurisi bersifat allometrik negatif yang dapat dilihat pada Tabel 10. Adanya perbedaan pola pertumbuhan untuk setiap pengambilan contoh dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu sehingga mempengaruhi kualitas dan jumlah ketersediaan makanannya. Sesuai dengan pernyataan Effendie (2002) yang menyatakan bahwa adanya perbedaan pola pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, kualitas dan jumlah ketersediaan makanan, selain itu faktor dalam seperti gen, umur, jenis kelamin, hormon serta penyakit. Tabel 10. Perbandingan pola pertumbuhan ikan kurisi (genus: Nemipterus) Spesies Daerah Penangkapan Pola Pertumbuhan Nemipterus furcosus PPN Karangantu Teluk Banten (penelitian ini) Allometrik Negatif Nemipterus tambuloides PPI Labuan Teluk Banten (Robiyani 2000) Allometrik Negatif Nemipterus balinensis TPI Cilincing Teluk Jakarta (Fitriyanti 2011) Allometrik Negatif Pola pertumbuhan ikan kurisi yang diperoleh dari hasil analisis penelitian ini sama dengan pola pertumbuhan ikan kurisi di perairan Teluk Banten tahun 2000 dan juga di Teluk Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa ikan kurisi secara umum memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif.

44 Gambar 12. Hubungan panjang-bobot dan hubungan logaritma panjang-logaritma bobot ikan kurisi (Nemipterus furcosus) di PPN Karangantu, Teluk Banten pada bulan Februari 2011-Mei 2011 Dengan menggunakan analisis hubungan panjang bobot (Gambar 12) diketahui persamaan W = 0,00003L 2,848 dengan nilai b sebesar 2,848 berdasarkan uji t dilakukan terhadap nilai b dengan α = 0,05 diketahui bahwa pola pertumbuhan ikan kurisi bersifat allometrik negatif yaitu pola pertumbuhan panjang lebih dominan dibandingkan pertumbuhan bobot. Pada persamaan logaritma panjang dan logaritma bobot memperoleh persamaan Log W = 2,848 Log L 4,588 yang artinya setiap penambahan logaritma panjang sebesar 1 mm akan menurunkan logaritma bobot sebesar 2,848 gram. Gambar 13. Hubungan panjang-bobot dan hubungan logaritma panjang-logaritma bobot ikan kurisi (Nemipterus furcosus) jantan di PPN Karangantu, Teluk Banten pada bulan Februari 2011-Mei 2011

45 Pada ikan kurisi jantan hubungan panjang bobot ikan kurisi di Teluk Banten adalah W = 0,00002 L 2,882 dan logaritma panjang dan logaritma bobot memperoleh persamaan Log W = 2,882 Log L 4,662 (Gambar 13). Nilai koefisien sebesar 96% menunjukkan bahwa formula ini dapat menjelaskan keadaan sebenarnya di alam sebesar 96%. Nilai b = 2,882 setelah dilakukan uji t (α=0,05) diketahui bahwa ikan kurisi jantan di Teluk Banten bersifat allometrik negatif yaitu pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan bobot (Effendie 2002). Hal ini terlihat dari bentuk tubuh ikan yang pipih memanjang. Gambar 14. Hubungan panjang-bobot dan hubungan logaritma panjang-logaritma bobot ikan kurisi (Nemipterus furcosus) betina di PPN Karangantu, Teluk Banten pada bulan Februari 2011-Mei 2011 Persamaan hubungan panjang bobot ikan kurisi betina adalah W = 0,00004 L 2,765 dan logaritma panjang dan logaritma bobot memperoleh persamaan Log W = 2,765 Log L - 4,406. Dari persamaan tersebut menunjukkan setiap penambahan logaritma panjang maka akan menurunkan logaritma bobot sebesar 2,765 gram. Nilai koefisien sebesar 95% menunjukkan bahwa menjelaskan keadaan sebenarnya di alam sebesar 95%. Nilai b = 2,765 setelah dilakukan uji t (α=0,05) diketahui bahwa ikan kurisi betina di Teluk Banten menunjukkan allometrik negatif yang menunjukkan pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan bobot disajikan pada Gambar 14.

46 4.7.2. Faktor kondisi Faktor kondisi yaitu keadaan atau kemontokkan ikan yang dinyatakan dalam angka-angka berdasarkan data panjang dan bobot. Rata-rata faktor kondisi ikan kurisi bervariasi untuk setiap pengambilan data. Pada ikan kurisi jantan, faktor kondisi terbesar pada waktu 24 Maret 2011 sebesar 1,1960 dan terendah pada waktu 12 Mei 2011 sebesar 0,8891. Faktor kondisi ikan kurisi betina tertinggi terdapat pada waktu 10 Maret 2011 sebesar 1,2406 dan terendah pada waktu 12 Mei 2011 sebesar 1,0467 (Gambar 15). Secara keseluruhan nilai rata-rata faktor kondisi ikan kurisi betina lebih besar dibandingkan ikan kurisi jantan. Gambar 15. Faktor kondisi ikan kurisi (Nemipterus furcosus) di PPN Karangantu, Teluk Banten berdasarkan waktu pengambilan contoh Faktor kondisi ikan kurisi jantan berkisar antara 0,8891-1,1960 sedangkan faktor kondisi ikan kurisi betina berkisar antara 1,0467-1,2406. Berdasarkan Gambar 15 dapat terlihat bahwa faktor kondisi ikan kurisi betina selama penelitian lebih tinggi dibandingkan ikan jantan, hal tersebut diduga terkait dengan tingkat kematangan gonadnya dimana tingkat kematangan gonad ikan kurisi betina selama penelitian ini lebih tinggi dibandingkan ikan jantan. Faktor kondisi menunjukkan keadaan ikan dari segi kapasitas fisik untuk bertahan hidup dan melakukan reproduksi (Effendie 2002). Effendie (2002) juga menyatakan bahwa faktor kondisi juga akan berbeda tergantung makanan, umur, jenis kelamin dan kematangan gonad. 4.7.3. Parameter pertumbuhan Parameter pertumbuhan diduga menggunakan metode plot Ford-Walford. Ford-Walford merupakan metode paling sederhana untuk menduga parameter

47 pertumbuhan dengan interval pengambilan contoh yang sama (King 1995) serta memerlukan data panjang rata-rata ikan setiap kelompok ukuran panjang (Sparre & Venema 1999). Pertumbuhan ikan kurisi jantan menggunakan persamaan Von Bartalanffy dengan koefisien pertumbuhan (K) sebesar 0,21 dan panjang asimtotik sebesar 322,95 mm. Koefisien pertumbuhan (K) untuk ikan kurisi betina sebesar 0,31 dan panjang asimtotik sebesar 319,84 mm (Tabel 11). Tabel 11. Parameter pertumbuhan ikan kurisi (Nemipterus furcosus) di PPN Karangantu, Teluk Banten Contoh ikan Parameter pertumbuhan K (tahun) L (mm) t₀ (tahun) Jantan 0,21 322,95-2,54 Betina 0,31 319,84-1,70 Persamaan Von Bartalanffy yang terbentuk untuk ikan kurisi jantan adalah dan L t = 322,95 [1 - e -0,21(t + 2,54) ] (Gambar 16) dan persamaan untuk ikan kurisi betina adalah L t = 319,84 [1 - e -0,31 (t + 1,70) ] (Gambar 17). Metode untuk pendugaan umur ikan di daerah tropis dapat melalui analisis frekuensi panjang. Umur bertambah sehingga panjang ikan semakin bertambah. Ikan yang memiliki nilai koefisien pertumbuhan rendah maka umurnya semakin tinggi karena lama untuk mencapai nilai asimtotiknya (Spare dan Venema 1999). Gambar 16. Kurva pertumbuhan ikan kurisi (Nemipterus furcosus) jantan di PPN Karangantu, Teluk Banten

48 Gambar 17. Kurva pertumbuhan ikan kurisi (Nemipterus furcosus) betina di PPN Karangantu, Teluk Banten Faktor penyebab kecepatan pertumbuhan ikan adalah kesediaan makanan di perairan. Parameter pertumbuhan sangat penting dalam pendugaan stok karena dapat menentukan panjang asimtotik suatu ikan. Panjang maksimum ikan kurisi yang tertangkap di PPN Karangantu, Teluk Banten adalah 248 mm untuk ikan kurisi jantan dan 230 mm untuk ikan kurisi betina, sedangkan nilai panjang asimtotik (infinitif) sebesar 322,95 mm untuk ikan kurisi jantan dan 319,84 mm untuk ikan kurisi betina. Semakin jauhnya ukuran panjang maksimum ikan dari panjang infinitifnya (asimtotik) dapat menjadi indikasi bahwa ikan tersebut sudah mengalami overfishing akibat tekanan penangkapan yang tinggi. Pada Gambar 16 dan 17 dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan ikan kurisi tidak sama setiap rentang kehidupannya. Ikan yang berumur muda memiliki laju pertumbuhan lebih cepat dibandingkan ikan berumur tua. Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan di beberapa tempat memiliki nilai K dan L yang berbeda-beda. Nilai K yang besar maka L akan semakin kecil dan memiliki umur yang relatif pendek karena semakin besar nilai koefisien pertumbuhan (K) maka ikan semakin cepat untuk mencapai panjang infinitifnya sehingga umurnya relatif lebih pendek. Perbedaan nilai K dan L ikan kurisi dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan yang berbeda. Faktor keterwakilan data ikan kurisi contoh yang diambil dan waktu pengambilan contoh juga dapat menyebabkan perbedaan tersebut.

49 4.8. Mortalitas dan Laju Eksploitasi Pendugaan konstanta laju mortalitas total (Z) ikan kurisi dilakukan dengan kurva hasil tangkapan yang dilinearkan berbasis data panjang (Gambar 18). Laju mortalitas alami diduga menggunakan rumus empiris Pauly (Sparre & Venema 1999) dengan suhu rata-rata permukaan perairan Teluk Banten 29,5 0 C (Nuraini 2004). Gambar 18. Kurva hasil tangkapan yang dilinearkan berbasis data panjang ( : titik yang digunakan dalam analisis regresi menduga Z) Hasil analisis laju mortalitas dan laju eksploitasi ikan kurisi dapat dilihat dalam Tabel 12. Laju mortalitas total ikan kurisi betina sebesar 1,0436 per tahun dengan laju mortalitas alami 0,3285 per tahun dan laju mortalitas penangkapan sebesar 0,7151 per tahun, sehingga diperoleh laju eksploitasi sebesar 0,6852 atau 68,52% per tahun. Sedangkan laju mortalitas total ikan kurisi jantan sebesar 2,4211 per tahun dengan laju mortalitas alami 0,4295 dan laju mortalitas penangkapan sebesar 1,9916 per tahun, sehingga diperoleh laju eksploitasi sebesar 0,8226 atau 82,26% per tahun.

50 Tabel 12. Laju mortalitas dan eksploitasi ikan kurisi (Nemipterus furcosus) di PPN Karangantu, Teluk Banten Parameter Nilai (per tahun) Betina Jantan Mortalitas total (Z) 1,0436 2,4211 Mortalitas alami (M) 0,3285 0,4295 Mortalitas penangkapan (F) 0,7151 1,9916 Eksploitasi (E) 0,6852 0,8226 Mortalitas alami adalah mortalitas yang terjadi karena berbagai sebab selain penangkapan seperti pemangsaan, penyakit, stres pemijahan, kelaparan dan usia tua (Sparre & Venema 1999). Beverton & Holt (1957) menduga bahwa faktor eksternal yang umum sebagai penyebab mortalitas alami yaitu adanya predasi. Menurunnya laju mortalitas alami disebabkan oleh berkurangnya jumlah ikan yang tumbuh hingga usia tua dan mengalami kematian secara alami akibat telah tertangkap lebih dahulu oleh aktifitas penangkapan yang tinggi. Laju mortalitas penangkapan ini lebih besar dibandingkan laju mortalitas alaminya. Hal ini menunjukkan faktor kematian ikan kurisi lebih dipengaruhi oleh kegiatan penangkapan. Hal ini dapat dilihat dari data TKG ikan yang tertangkap yaitu dominan TKG 2 dan TKG 3. Berdasarkan hasil analisis laju eksploitasi ikan kurisi betina 68,52% dan ikan kurisi jantan 82,26%. Laju eksploitasi di Teluk Banten cukup tinggi disebabkan permintaan terhadap ikan kurisi yang tinggi pula, sehingga terjadi penangkapan ikan secara terus menerus, serta penggunaan alat tangkap jaring dogol yang sangat tidak selektif. Nilai mortalitas penangkapan dipengaruhi oleh laju eksploitasi. Semakin tinggi tingkat eksploitasi, makin tinggi mortalitas penangkapan. Tingginya laju mortalitas penangkapan dan menurunnya laju mortalitas alami juga dapat menunjukkan dugaan terjadi growth overfishing yaitu sedikitnya jumlah ikan tua (Sparre dan Venema 1999) karena ikan muda tidak diberikan kesempatan untuk tumbuh sehingga dibutuhkan pengurangan dalam penangkapan ikan. Menurut Gulland (1971) in Pauly (1984) laju eksploitasi optimum adalah sebesar 0,5 atau 50%, sedangkan laju eksploitasi ikan kurisi betina dan jantan di Teluk Banten masing-masing mencapai 68,52% dan 82,26%, maka laju eksploitasi ikan kurisi telah melewati batas optimum yang disebabkan adanya tekanan penangkapan terhadap ikan kurisi di Teluk Banten.

51 4.9. Model Produksi Surplus Analisis CPUE (catch per unit of effort) menunjukkan hubungan antara hasil tangkapan (C) dengan upaya penangkapan (E) yang dilakukan pada waktu tertentu. Berikut merupakan grafik hasil tangkapan ikan kurisi per unit upaya. Gambar 19. Grafik hasil tangkapan ikan kurisi per satuan upaya Tabel 13. Data hasil tangkapan dan upaya dari perikanan kurisi dengan alat tangkap jaring dogol di perairan Teluk Banten Tahun Hasil tangkapan (ton) Upaya penangkapan (trip) CPUE 2000 125,05 1182 0,1058 2001 141,50 1233 0,1148 2002 92,35 1852 0,0499 2003 16,02 2683 0,0060 2004 24,19 2358 0,0103 2005 116,09 2161 0,0537 2006 108,60 666 0,1631 2007 161,11 1050 0,1534 2008 114,72 1902 0,0603 2009 83,41 2463 0,0339 2010 141,47 3280 0,0431 Sumber : Ditjen Tangkap-DKP (2011) Berdasarkan Gambar 19 dan Tabel 13, nilai CPUE terbesar terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 0,1631 ton per trip dan CPUE terendah terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 0,0060 ton per trip. Semakin meningkatnya upaya penangkapan yang tidak diimbangi dengan semakin tingginya hasil produksi atau berfluktuasinya hasil

52 produksi dapat menjadi indikasi bahwa sudah terjadinya gejala tangkap lebih, dapat dilihat pula bahwa nilai CPUE pada 5 tahun terakhir cenderung menurun. Model yang digunakan untuk menganalisis model produksi surplus ini adalah model Schaefer, ditulis dengan persamaan : y = -0,00006x + 0,19 dengan koefisien determinasi (R 2 ) sebesar 77,6%. Gambar 20. Trend hasil tangkapan per unit upaya dengan model Schaefer Hasil analisis model produksi surplus dengan menggunakan model Schaefer didapakan nilai a sebesar 0,185 dan b sebesar -0,00006 sehingga diperoleh nilai f MSY atau upaya tangkapan optimum sebesar 1541,67 trip/tahun dan MSY atau hasil tangkapan optimum sebanyak 142,60 ton/tahun, sedangkan untuk nilai TAC atau jumlah tangkapan yang diperbolehkan sebanyak 114,08 ton/tahun. Data hasil tangkapan ikan kurisi di PPN Karangantu pada tahun 2010 menunjukkan hasil tangkapan sebanyak 141,47 ton. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2010 terjadi tangkap lebih, selain itu juga upaya tangkapan pada tahun 2010 sebanyak 3280 trip/tahun jauh melebihi upaya tangkapan optimumnya sebesar 1541,67 trip/tahun. Grafik di atas (Gambar 20) juga memperlihatkan nilai CPUE semakin menurun seiring peningkatan effort (upaya) yang menunjukkan bahwa sudah terjadinya gejala tangkap lebih terhadap ikan kurisi di Teluk Banten.

53 4.10. Ketidakpastian Hasil Tangkapan Berdasarkan data sekunder periode 2006-2010, produksi ikan kurisi yang didaratkan di PPN Karangantu Teluk Banten mengalami fluktuasi (Gambar 21). Hal ini sangat dipengaruhi oleh upaya penangkapan nelayan di PPN Karangantu. Penangkapan ikan kurisi tidak hanya dipengaruhi dari faktor manusia tetapi juga dipengaruhi faktor alam seperti kondisi cuaca, musim, dan arus. Gambar 21. Grafik produksi ikan kurisi yang didaratkan di PPN Karangantu, Teluk Banten periode 2006-2010 Pendugaan analisis ketidakpastian dengan analisis Monte-Carlo terhadap produksi ikan kurisi dapat dilihat dari standar deviasi yang diperoleh dari pengelolaan yang berkala (times series data). Simulasi ini diharapkan dapat terlihat peramalan (forecasting) yang terjadi mengenai pergerakan hasil tangkapan ikan kurisi. Pendugaan tersebut merupakan resiko secara kuantitatif terhadap hal-hal yang dapat terjadi namun tidak diinginkan. Hasil analisis Monte-Carlo pada produksi ikan kurisi (Gambar 22) memperlihatkan grafik yang menyerupai kurva sebaran normal. Penyebaran ini menyatakan adanya ketidakpastian dalam penangkapan ikan kurisi. Pada Gambar 21 dapat dilihat bahwa puncak penangkapannya sangat berfluktuasi dan tidak menentu, hal tersebut menggambarkan bahwa penangkapan ikan kuisi di Teluk Banten mengandung ketidakpastian.

54 Crystal Ball Student Edition Not f or Commercial Use 1,000 Trials Frequency Chart 6 Outliers.028 Forecast: Produksi 28.021 21.014 14.007 7.000-6328.51 1484.83 9298.17 17111.51 24924.85 0 Gambar 22. Diagram frekuensi produksi ikan kurisi periode 2000-2010 yang didaratkan di PPN Karangantu, Teluk Banten Ketidakpastian dalam penangkapan dapat terlihat dari hasil perhitungan secara statistik yang didasarkan kepada nilai rata-rata dan galat baku (Tabel 14). Perhitungan statistik dengan 1000 percobaan simulasi diperoleh galat baku sebesar 182,12. Rata-rata produksi per tahun diperoleh sebanyak 8500,44 kg dengan fluktuasi produksi ikan kurisi per tahun sebesar 5759,27 kg. Galat baku yang didapatkan lebih kecil dibandingkan nilai rata-ratanya namun memiliki nilai cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa peluang ketidakpastian tangkapan terhadap nilai kurisi pada PPN Karangantu cukup terjadi kemungkinannnya. Keruncingan sebesar 2,81 dan nilai kurtosis yang tinggi menunjukkan grafik sebaran normal semakin landai berarti volume produksi yang dihasilkan semakin bervariasi. Nilai kemiringan sebesar 0,08 hampir mendekati nol menggambarkan gafik tersebut grafik sebaran normal. Nilai kurtosis menggambarkan keruncingan atau kerataan suatu distribusi data dibandingkan dengan distribusi normal. Pada distribusi normal, nilai kurtosis sama dengan nol. Berdasarkan hasil analisis didapatkan angka 2,81 artinya bahwa grafik sebaran normal di atas menunjukkan distribusi yang relatif merata.

55 Tabel 14. Nilai statistik produksi ikan kurisi periode 2000-2010 di PPN Karangantu, Teluk Banten Statistik deskriptif Percobaan 1000 Rata-rata 8500,44 Nilai tengah 8471,47 Mode --- Simpangan baku 5759,27 Ragam 33169247,69 Kemiringan 0,08 Kurtosis 2,81 Koefisien keragaman 0,68 Rata-rata standar kesalahan 182,12 Apabila grafik membentuk sebaran normal, maka dapat dikatakan bahwa terjadi ketidakpastian terhadap produksi ikan kurisi. Hasil yang menyatakan sebaran normal pada produksi ikan kurisi menunjukan fluktuasi produksi ikan tersebut. Semakin kecil nilai standar deviasi terhadap rata-rata maka tingkat keseragaman data (nilai) semakin tinggi. Nilai deviasi produksi tinggi maka dapat dikatakan keadaan produksi ikan kurisi memiliki faktor ketidakpastian yang tinggi. Ketika kegiatan penangkapan terganggu maka produksi dalam penangkapan ikan juga terganggu. Fluktuasi pada dasarnya merupakan suatu keadaan yang tidak diinginkan dalam perikanan, baik dari segi produksi, harga, maupun jumlah populasi ikan yang ada. Jika dalam model prediksi, nilai dari parameter tidak diketahui, maka keputusan yang dihasilkan bagi pengelolaan dapat menjadi suatu kesalahan yang dapat menimbulkan resiko sebagai akibat dari ketidakpastian tersebut (Surya 2004). Hasil tangkapan yang diperoleh dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya musim penangkapan, cuaca, daerah penangkapan, berubah dari alat tangkap yang digunakan dan jumlah armada penangkap ikan, perilaku nelayan serta teknologi atau sarana lain yang mendukung keberhasilan kegiatan penangkapan. Faktor tersebut membuat volume produksi sumberdaya perikanan yang ditangkap dapat berubah dari waktu ke waktu dan tidak dapat diramalkan. Banyaknya ketidakpastian dalam kegiatan perikanan dapat menimbulkan resiko bagi kelangsungan kegiatan perikanan.

56 4.11. Pengelolaan Sumberdaya Ikan Kurisi di Teluk Banten Berdasarkan hasil penelitian penangkapan terhadap ikan kurisi sudah mengalami over exploited atau tangkap lebih. Beberapa indikasi tersebut diantaranya ukuran ikan maksimum yang tertangkap di Teluk Banten yang didaratkan di PPN Karangantu adalah 248 mm untuk ikan kurisi jantan dan 230 mm untuk ikan kurisi betina, sedangkan nilai panjang asimtotik (infinitif) sebesar 322,95 mm untuk ikan kurisi jantan dan 319,84 mm untuk ikan kurisi betina. Semakin mengecilnya ukuran ikan kurisi disebabkan karena adanya tekanan akibat penangkapan sehingga memaksa ikan-ikan muda untuk matang gonad lebih cepat, sementara ikan kurisi tidak diberi kesempatan untuk bereproduksi karena ikan kurisi yang dominan tertangkap di Teluk Banten memiliki TKG 2 dan TKG 3. Semakin mengecilnya ukuran tubuh ikan kurisi dan banyaknya ikan kurisi yang memiliki TKG 2 dan TKG 3 yang tertangkap disebabkan karena laju mortalitas dan eksploitasi terhadap ikan kurisi yang sudah melebihi jumlah tangkapan yang diperbolehkan. Laju eksploitasi ikan kurisi jantan sebesar 68,52% dan ikan kurisi betina sebesar 82,26% telah menunjukkan laju eksploitasi ikan kurisi melebihi nilai eksploitasi optimum (0,5). Dibuktikan dengan upaya penangkapan dan hasil tangkapan aktual pada tahun 2010 yang mencapai 3280 trip/tahun dan 141,47 ton sedangkan upaya penangkapan optimum dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan masing-masing adalah 1541,67 trip/tahun dan 114,08 ton/tahun. Hal ini menyebabkan ikan kurisi diperairan Teluk Banten tergolong growth overfishing sehingga perlu suatu pengelolaan yang berkelanjutan bagi sumberdaya ikan kurisi. Menurut FAO (1997) menyatakan bahwa pengelolaan perikanan adalah proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumberdaya dan implementasi dari aturan-aturan main di bidang perikanan dalam rangka menjamin kelangsungan produktivitas sekunder dan penyampaian tujuan perikanan. Pengelolaan sumberdaya perikanan dilakukan karena semakin meningkatnya tekanan eksploitasi terhadap berbagai stok ikan. Pengelolaan ikan kurisi di Teluk Banten dapat berupa pengaturan upaya penangkapan yang mengacu pada jumlah tangkapan yang diperbolehkan dan upaya penangkapan optimumnya, selain itu juga penangkapan hanya boleh dilakukan menggunakan alat tangkap yang selektif.