BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI

Handout. Bahan Ajar Korosi

KIMIA ELEKTROLISIS

KONSERVASI LOGAM DENGAN BAHAN TRADISIONAL

KIMIA DASAR TEKNIK INDUSTRI UPNVYK C H R I S N A O C V A T I K A ( ) R I N I T H E R E S I A ( )

REAKSI REDUKSI DAN OKSIDASI

TUGAS KOROSI FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU KOROSI

LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT. Perbandingan sifat-sifat larutan elektrolit dan larutan non elektrolit.

Oksidasi dan Reduksi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. terhadap pergeseran cermin untuk menentukan faktor konversi, dan grafik

Mengubah energi kimia menjadi energi listrik Mengubah energi listrik menjadi energi kimia Katoda sebagi kutub positif, anoda sebagai kutub negatif

Sulistyani, M.Si.

KIMIA. Sesi POLIMER. A. LOGAM ALKALI a. Keberadaan dan Kelimpahan Logam Alkali. b. Sifat-Sifat Umum Logam Alkali. c. Sifat Keperiodikan Logam Alkali

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya perubahan metalurgi yaitu pada struktur mikro, sehingga. ketahanan terhadap laju korosi dari hasil pengelasan tersebut.

MATERIAL TEKNIK LOGAM

KIMIA. Sesi KIMIA UNSUR (BAGIAN IV) A. UNSUR-UNSUR PERIODE KETIGA. a. Sifat Umum

SIFAT FISIK DAN MINERAL BAJA

Elektrokimia. Tim Kimia FTP

Soal-soal Redoks dan elektrokimia

Hand Out HUKUM FARADAY. PPG (Pendidikan Profesi Guru) yang dibina oleh Pak I Wayan Dasna. Oleh: LAURENSIUS E. SERAN.

TES PRESTASI BELAJAR

No. BAK/TBB/SBG201 Revisi : 00 Tgl. 01 Mei 2008 Hal 1 dari 8 Semester I BAB I Prodi PT Boga BAB I MATERI

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya.

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

MENGELOMPOKKAN SIFAT-SIFAT MATERI

LAPORAN PENELITIAN PROSES PENYEPUHAN EMAS

PERCOBAAN VI. A. JUDUL PERCOBAAN : Reaksi-Reaksi Logam

Soal dan jawaban tentang Kimia Unsur

MATERI 1.1 Pengertian Materi Sebagai contoh : Hukum Kekekalan Materi 1.2 Sifat Dan Perubahan Materi Sifat Materi

Sel Volta (Bagian I) dan elektroda Cu yang dicelupkan ke dalam larutan CuSO 4

ELEKTROKIMIA Konsep Dasar Reaksi Elektrokimia

BAHAN BAKAR KIMIA. Ramadoni Syahputra

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sehingga dapat menghasilkan data yang akurat.

Penetapan kadar Cu dalam CuSO 4.5H 2 O

Pertemuan <<22>> <<PENCEGAHAN KOROSI>>

Contoh Soal & Pembahasan Sel Volta Bag. I

Kelompok I. Anggota: Dian Agustin ( ) Diantini ( ) Ika Nurul Sannah ( ) M Weddy Saputra ( )


Redoks dan Elektrokimia Tim Kimia FTP

1. Tragedi Minamata di Jepang disebabkan pencemaran logam berat... A. Hg B. Ag C. Pb Kunci : A. D. Cu E. Zn

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (C), serta unsur-unsur lain, seperti : Mn, Si, Ni, Cr, V dan lain sebagainya yang

3. ELEKTROKIMIA. Contoh elektrolisis: a. Elektrolisis larutan HCl dengan elektroda Pt, reaksinya: 2HCl (aq)

BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON

BAB I PENDAHULUAN. juga menjadi bisnis yang cukup bersaing dalam perusahaan perbajaan.

TIN107 - Material Teknik #10 - Metal Alloys (2) METAL ALLOYS (2) TIN107 Material Teknik

MODUL 9. Satuan Pendidikan : SMA SEDES SAPIENTIAE JAMBU Mata Pelajaran : Kimia Kelas/Semester : X/2

KISI KISI SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GASAL MADRASAH ALIYAH TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Pembahasan Materi #11

KRIYA LOGAM. Oleh: B Muria Zuhdi JURUSAN PENDIKAN SENI RUPA FAKULTAS BAHASA DAN SENI UIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

UH : ELEKTROLISIS & KOROSI KODE SOAL : A

STOKIOMETRI BAB. B. Konsep Mol 1. Hubungan Mol dengan Jumlah Partikel. Contoh: Jika Ar Ca = 40, Ar O = 16, Ar H = 1, tentukan Mr Ca(OH) 2!

Elektrokimia. Sel Volta

BAB VI L O G A M 6.1. PRODUKSI LOGAM

TES PRESTASI BELAJAR. Hari/tanggal : Senin/7 Mei 2012 Mata Pelajaran: Kimia Waktu : 90 menit

APLIKASI REAKSI REDOKS DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI Oleh : Wiwik Suhartiningsih Kelas : X-4

ARUS LISTRIK DENGAN BUAH-BUAHAN

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki lahan tambang yang cukup luas di beberapa wilayahnya.

REDOKS dan ELEKTROKIMIA

Laju Korosi Baja Dalam Larutan Asam Sulfat dan Dalam Larutan Natrium Klorida

Pembuatan Larutan CuSO 4. Widya Kusumaningrum ( ), Ipa Ida Rosita, Nurul Mu nisah Awaliyah, Ummu Kalsum A.L, Amelia Rachmawati.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mencuci pakaian, untuk tempat pembuangan kotoran (tinja), sehingga badan air

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Reaksi Oksidasi-Reduksi

MODUL SEL ELEKTROLISIS

4. Sebanyak 3 gram glukosa dimasukkan ke dalam 36 gram air akan diperoleh fraksi mol urea sebesar.

BAB I PEDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pipa merupakan salah satu kebutuhan yang di gunakan untuk

Review I. 1. Berikut ini adalah data titik didih beberapa larutan:

REAKSI KIMIA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Korosi Baja Karbon dalam Lingkungan Elektrolit Jenuh Udara

NAMA : KELOMPOK : Mata Pelajaran : Kimia Kelas/Semester : X 5 /2 Alokasi Waktu : 2 x 45 menit.

ANALISIS LAJU KOROSI MATERIAL PENUKAR PANAS MESIN KAPAL DALAM LINGKUNGAN AIR LAUT SINTETIK DAN AIR TAWAR

SMP kelas 7 - KIMIA BAB 2. UNSUR, SENYAWA, DAN CAMPURAN Latihan Soal 2.1

Skala ph dan Penggunaan Indikator

LOGAM BUKAN BESI (NONOFERROUS)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Proses akhir logam (metal finishing) merupakan bidang yang sangat luas,

LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT (Diskusi Informasi) INFORMASI Larutan adalah campuran yang homogen antara zat terlarut dan zat pelarut.

AHMAD SULISTYONO ( ) MEGA BUNGA P. ( ) CHAYUN PIDA RENNI ( ) SINTA HERAWATI ( ) ISPONI UMAYAH ( ) YUNAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hujan merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena

Retno Kusumawati PENDAHULUAN. Standar Kompetensi : Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan seharihari.

LATIHAN ULANGAN TENGAH SEMESTER 2

Sel Volta KIM 2 A. PENDAHULUAN B. SEL VOLTA ELEKTROKIMIA. materi78.co.nr

1. Pengertian Perubahan Materi

SOAL DAN PEMBAHASAN TRY OUT 1 KOMPETISI KIMIA NASIONAL 2017

BAB II PEMBAHASAN. II.1. Electrorefining

REDOKS DAN ELEKTROKIMIA

ELEKTROKIMIA Reaksi Reduksi - Oksidasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB 8. ELEKTROKIMIA 8.1 REAKSI REDUKSI OKSIDASI 8.2 SEL ELEKTROKIMIA 8.3 POTENSIAL SEL, ENERGI BEBAS, DAN KESETIMBANGAN 8.4 PERSAMAAN NERNST 8

STOIKIOMETRI. STOIKIOMETRI adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif dari komposisi zat-zat kimia dan reaksi-reaksinya.

Penyisihan Besi (Fe) Dalam Air Dengan Proses Elektrokoagulasi. Satriananda *) ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. hidupnya. Salah satu contoh diantaranya penggunaan pelat baja lunak yang biasa

KLASIFIKASI ZAT. 1. Identifikasi Sifat Asam, Basa, dan Garam

OAL TES SEMESTER I. I. Pilihlah jawaban yang paling tepat!

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN

LOGO. Stoikiometri. Tim Dosen Pengampu MK. Kimia Dasar

ANALISA PENGARUH AGING 400 ºC PADA ALUMINIUM PADUAN DENGAN WAKTU TAHAN 30 DAN 90 MENIT TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS

PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

Bab VI Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit

Perubahan zat. Perubahan zat

Dalam 1 golongan dari atas ke bawah energi ionisasi bertambah kecil ionisasi K < ionisasi Na.

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI A) Artefak Logam sebagai Material Arkeologi Indonesia memiliki cagar budaya dalam bentuk artefak logam dalam jumlah yang sangat berlimpah, yang tersebar di seluruh wilayah nusantara. Artefak-artefak tersebut memiliki bentuk dan fungsi yang beraneka ragam serta beraneka ragam pula bahan penyusunnya. Artefak logam merupakan sumber data primer dalam arkeologi. Menurut Mircea dkk (2010) material arkeologi secara lengkap dapat menggambarkan kronologi evolusi manusia dari tinjauan perkembangan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat serta hubungannya dengan kebudayaan serta peradaban sebelumnya. Oleh karena itu mengapa artefak logam sebagai material arkeologi tersebut, harus dilestarikan. Ditambahkan pula oleh Mircea dkk (2010), jika material arkeologi tersebut dipertimbangkan dalam kaitanya dengan degradasi yang dialami pada beberapa kondisi. Pada kondisi keterawatanya dan mekanisme perubahan logam di dalam tanah berturutturut dari aspek fisik (fragmen, retakan, lubang dan sebagainya), aspek kimia pembentukan kerak korosi pada bagian terbesar tanpa atau dengan bagian tengah dari logam, dapat digunakan untuk menguraikan beberapa kesimpulan terkait dengan hal tersebut. Dari aspek arkeometalorgi, teknologi masa lalu, metode yang digunakan untuk menghasilkan objek atau asal dari logam-logam yang digunakan di dalamnya. B) Artefak Logam Berbahan Besi, Tembaga dan Paduannya Artefak logam berbahan logam besi banyak ditemukan di Indonesia mulai dari yang berukuran kecil hingga besar seperti keris, tombak, meriam, lokomotif, pesawat, kapal perang dan sebagainya. Begitu pula artefak berbahan tembaga dan paduannya seperti sendok-garpu, arca, vadjra, genta, bokor, nekara dan sebagainya. Baik besi, tembaga maupun paduannya memiliki sifat fisik dan kimia yang berbeda-beda. Sebelum melakukan tindakan konservasi perlu kiranya mempelajari sifat-sifat dari logam-logam tersebut. a. Besi Besi merupakan jenis logam kedua yang paling melimpah di bumi dan masih menjadi tulang punggung dalam peradaban modern. Ketergantungan terhadap logam tersebut dinyatakan oleh penggunaannya dalam kehidupan manusia; mulai dari keperluan rumah, pertanian, permesinan, hingga alat transportasi (Herman, 2006). Besi memiliki sifat fisika antara lain 4

pada suhu kamar berwujud padat, mengkilap dan berwarna keabu-abuan dan merupakan penghantar panas yang baik. Sedangkan sifat kimia besi antara lain: bersifat elektro positif (mudah melepaskan elektron) sehingga bilangan oksidasinya bertanda positif, logam murni besi sangat reaktif secara kimiawi dan mudah terkorosi, khususnya di udara yang lembab atau ketika terdapat peningkatan suhu, mudah bereaksi dengan unsur-unsur non logam seperti halogen, sulfur, pospor, boron, karbon dan silicon, larut dalam asam- asam mineral encer dan sebagainya. Ada tiga jenis besi yaitu: - Besi tempa adalah logam yang komposisinya terdiri dari besi murni dan besi silikat. - Besi tuang adalah besi dengan kadar carbon di atas 1.7 % meskipun biasanya besi tuang memiliki kadar carbon 3 4.5 %. Besi tuang banyak digunakan dalam dunia tehnik dan industri karena karakteristik atau sifat mach inability yang mudah dikerjakan dengan mesin dan memiliki sifat tahan aus karena bersifat self lubrication. Besi tuang dibagi menjadi 2 bagian yaitu : Besi tuang kelabu: sebagian besar dari zat arang atau karbon dalam besi tuang ini terpisah sebagai graphite. Bidang patahan dari besi tuang ini berwarna abu-abu tua sampai hitam. Besi tuang putih: dimana sebagian besar karbon yang terikat dalam besi sebagai zementite (Fe3C) yang keras. Besi tuang ini memiliki bidang patahan yang berwarna putih. Sifat yang keras sehingga sukar dikerjakan di mesin - Baja merupakan perpaduan antara besi (Fe) dan karbon (C), besi adalah elemen metal dan carbon adalah elemen non metal. Baja sendiri digolongkan menjadi dua golongan yaitu baja bukan paduan (yang hanya terpadu dengan carbon saja) dan baja paduan yaitu yang terpadu dengan elemen elemen lain sesuai dengan kebutuhan dan sifat yang dikehendaki. Elemen paduan yang ditambahkan itu sendiri terdiri dari mangan, chrome, nickel, wolfram, silisium, dan lainnya (Munandar, 2007). b. Tembaga dan paduannya Tembaga dengan nama kimia cupprum dilambangkan dengan Cu, unsur logam ini berbentuk kristal dengan warna kemerahan. Dalam tabel periodik unsur-unsur kimia tembaga menempati posisi dengan nomor atom (NA) 29 dan mempunyai bobot atom (BA) 63,546. Unsur tambahan di alam dapat ditemukan dalam bentuk persenyawaan atau dalam 5

senyawa padat dalam bentuk mineral. Dalam badan perairan laut tembaga dapat ditemukan dalam bentuk persenyawaan ion seperti CuCO3, CuOH, dan sebagainya (Fribeg, 1977). Cu (tembaga) merupakan salah satu unsur logam transisi yang berwarna cokelat kemerahan dan merupakan konduktor panas dan listrik yang sangat baik. Di alam, tembaga terdapat dalam bentuk bebas maupun dalam bentuk senyawa-senyawa, dan terdapat dalam bentuk biji tembaga seperti (CuFeS2), cuprite (Cu2O), chalcosite (Cu2S), dan malasite (Cu2(OH)2CO3). Dalam sejarahnya, penggunaan tembaga oleh manusia tercatat dari kurang lebih 10.000 tahun lalu lamanya. Peleburan tembaga nampaknya telah berkembang secara baik di beberapa belahan dunia. Di samping berkembang di Anatolia pada 5000 SM, tembaga juga dikembangkan di China sebelum 2800 SM, Amerika Tengah sekitar 600 TM, dan Afrika Barat sekitar 900 TM. Artefak logam tembaga umumnya ditemukan dalam bentuk paduan sekalipun ada juga artefak logam yang memiliki komposisi tembaga (Cu) lebih dari 90%. Paduan tembaga (copper alloy) yang paling banyak ditemukan dalam bentuk perunggu dan kuningan. Menurut Razak (1983), perunggu merupakan logam paduan antara tembaga (Cu) dan timah putih (Sn), ditambah logam lain seperti seng (Zn), timah hitam (Pb) dan besi (Fe) dalam jumlah kecil sebagai logam penyerta. Tembaga dan timah putih adalah logam lemah dan lunak, sedangkan logam paduan antara tembaga dan timah lebih keras dan lebih kuat jika dibandingkan dengan unsur-unsur pembentuknya, serta memiliki titik lebur yang lebih rendah jika dibandingkan dengan titik lebur logam tembaga itu sendiri. Bentuk lain dari paduan tembaga adalah kuningan. Kuningan merupakan logam paduan antara tembaga (Cu) dan seng (Zn) serta logam-logam lain timah putih (Sn), timah hitam (Pb), besi (Fe) dalam jumlah yang kecil sebagai logam penyerta. C) Korosi pada Logam Difinisi korosi menurut Trethewey dan Chemberlain (1991: 4) korosi adalah penguraian dan kehilangan bahan oleh agresi kimia dan korosi merupakan gejala destruktif yang mempengaruhi hampir semua logam sedangkan karat (rust) merupakan sebutan yang hanya dikhususkan bagi korosi pada besi. Maaβ and Peibker (2011) mengatakan bahwa korosi adalah interaksi logam dengan lingkunganya yang menghasilkan perubahan sifat logam dan mungkin menyebabkan gangguan fungsional yang signifikan pada logam. 6

Korosi logam dapat aktif atau tidak aktif. Beberapa benda dapat berkarat tapi stabil disebut sebagai korosi tidak aktif. Korosi tidak aktif terjadi sebagai lapisan oksida yang stabil atau perubahan warna yang perlahan-lahan terbentuk pada artefak logam dan melindungi permukaan logam mendasarinya. Lapisan oksida tsb sering dianggap sebagai patina. Sebaliknya korosi aktif menyebabkan kehilangan material yang berkelanjutan pada objek (Logan, Judy: 2007). Oleh karena itu bagian terpenting dalam konservasi logam secara preventif adalah mengenali tahap awal destruksi korosi aktif. Faktor yang berpengaruh dan mempercepat korosi yaitu air dan kelembapan udara, elektrolit berupa asam atau garam, adanya oksigen, permukaan logam yang tidak rata serta letak logam dalam potensial reduksi. Air merupakan salah satu faktor penting untuk berlangsungnya proses korosi. Udara yang banyak mengandung uap air (lembab) akan mempercepat berlangsungnya proses korosi. Elektrolit berupa asam ataupun garam merupakan media yang baik untuk melangsungkan transfer muatan. Hal itu mengakibatkan elektron lebih mudah untuk dapat diikat oleh oksigen di udara. Oleh karena itu, air hujan (asam) dan air laut (garam) merupakan penyebab utama terjadinya korosi. Pada peristiwa korosi adanya oksigen mutlak diperlukan. Permukaan logam yang tidak rata memudahkan terjadinya kutub-kutub muatan, yang akhirnya akan berperan sebagai anode dan katode. Pada permukaan logam yang licin dan bersih korosi tidak mudah terjadi, sebab sukar terbentuk kutub-kutub yang akan bertindak sebagai anode dan katode. Korosi akan sangat cepat terjadi pada logam yang potensialnya rendah, sedangkan logam yang potensialnya lebih tinggi justru lebih tahan. Besi merupakan logam yang mudah teroksidasi, lebih-lebih bila berada di tempat dengan kondisi udara yang lembab. Reaksi kimia korosi besi adalah sebagai berikut : 4Fe(s) + 3O 2 (aq) H 2 O 2Fe 2 O 3 (s) (karat besi berwarna kuning) Pada tingkat awal bentuk oksidasi besi adalah ferro oxida (FeO), lama kelama akan berubah menjadi ferri oksida (Fe2O3). Pembentukan karat akan dipercepat oleh udara yang sudah tercemar sulfur dioksida dan klor (Cl). Di samping itu reaksi tersebut akan dipicu oleh adanya bakteri-bakteri tertentu. Berdasarkan hasil penelitian bakteri pereduksi sulfat dari jenis Desulforibrio disulfucaus mempunyai peran yang cukup berarti dalam korosi besi (Sadirin, 1991: 84). Terjadinya korosi pada perunggu disebabkan oleh faktor lingkungan dan sifat logam perunggu sendiri yang memungkinkan terjadinya korosi. Faktor tersebut antara lain : kondisi 7

tanah, unsur-unsur yang terkandung dalam tanah, pencemaran lingkungan, kelembaban udara dan lain-lain. Kondisi tanah memiliki peran penting dalam menentukan tingkat korosi pada perunggu. Perunggu yang terkubur dalam tanah yang berpasir akan mengalami tingkat korosi yang lebih tinggi dibandingkan dengan perunggu yang terkubur dalam tanah lempung. Dalam tanah yang berpasir merupakan tanah yang berpori sehingga kandungan oksigennya cukup besar dan biasanya mengandung air. Kondisi ini mempercepat proses korosi pada perunggu. Unsur-unsur tertentu yang terlarut dalam tanah dan dianggap paling berbahaya pada logam perunggu adalah ion clorida, ion sulfat dan oksigen. Adanya gas-gas pencemar dalam udara di sekitar koleksi atau zat-zat pencemar dalam air yang digunakan untuk mencuci koleksi akan mempercepat korosi pada perunggu. Gas-gas pencemar yang dapat menyebabkan reaksi korosi pada perunggu adalah gas CO2, SO2 dan H2S. Gas-gas tersebut dalam kondisi udara yang lembab akan membentuk asam. Asam yang terbentuk tersebut bersifat korosif dan dapat mengkorosi logam perunggu. D) Pengertian Konservasi Konservasi berasal dari kata conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902). Rosevelt merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Terkadang ada yang memaknai konservasi sama dengan preservasi, tetapi adapula yang sebaliknya preservasi lebih luas dari konservasi atau sebaliknya. Di Inggris dan Australia difinisi konservasi lebih cenderung kepada konservasi lingkungan, dimana konservasi merupakan pelestarian secara luas sedangkan preservasi merupakan perawatan secara kimiawi. Tetapi berbeda dengan negara-negara di Eropa seperti Prancis, Itali, dan Belgia dimana konservasi merupakan bagian dari pemeliharaan yang menangani perawatan secara kimiawi sedangkan preservasi merupakan pelestarian dalam arti umum yang mencakup perlindungan hukum, dokumentasi, pemeliharaan dan pemugaran. Di Indonesia difinisi konservasi menurut Balai Pustaka (1980) meliputi pemeliharaan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan. Kata konservasi dalam UU No.11 tahun 2010 tetang Cagar Budaya tidak disebutkan namun demikian dalam undang-undang tersebut disebutkan tentang pelestarian dan pemeliharaan. Dimana difinisi pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan cagar 8

budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan. Sedangkan difinisi pemeliharaan adalah upaya menjaga dan merawat agar kondisi fisik cagar budaya tetap lestari. Tindakan konservasi dapat dilakukan melalui langkah preventif dengan konservasi preventif (pencegahan) dan langkah kuratif dengan konservasi kuratif (penanggulangan atau perawatan). Berdasarkan sasaran yang diperlakukan maka konservasi benda cagar budaya dapat dibedakan menjadi dua yakni konservasi aktif dan konservasi pasif. Konservasi aktif yaitu segala tindakan konservasi yang dikenakan langsung ke bendanya. Konservasi pasif adalah tindakan konservasi yang tidak secara langsung dikenakan ke bendanya tetapi tindakan konservasi dilakukan dalam bentuk pengendalian lingkungan (Swastikawati, A., 2011:1). Sementara itu berdasarkan bahan serta peralatan yang digunakan maka konservasi cagar budaya dapat dibedakan menjadi konservasi tradisional dan konservasi modern. Konservasi tradisional adalah tindakan konservasi dengan menggunakan bahan dan peralatan tradisional, yang berpatokan pada kearifan local (local wisdom) serta pengalaman yang terakumulasi dalam pengetahuan masyarakat setempat (people knowledge). Bahan tradisional adalah bahan yang didapat dari lingkungan masyarakat setempat, yang dipercayai dapat digunakan dalam konservasi cagar budaya, atas dasar pengalaman dan tradisi turun temurun. Peralatan tradisional adalah peralatan sederhana, yang dibuat oleh masyarakat dengan bahan yang diperoleh dari lingkungannya. Konservasi modern adalah tindakan konservasi dengan menggunakan bahan serta peralatan yang relative modern. Bahan yang direkomendasikan dalam kegiatan konservasi tersebut merupakan hasil penelitian, pengkajian dan pengembangan dalam bidang konservasi. Sedangkan yang dimaksud dengan peralatan modern adalah merupakan seperangkat peralatan modern yang dibuat atau dapat digunakan untuk kegiatan konservasi (Sunarno, 2010). E) Metode Konservasi Logam Tahapan dalam metode konservasi logam meliputi (1) pembersihan kerak secara mekanis, (2) evaluasi kondisi logam dan pelaksanaan konservasi. Adapun pelaksanaan kegiatan konservasinya meliputi (1) pembersihan, (2) perbaikan, (3) konsolidasi, (4) pelapisan atau stabilisasi dan (5) penyimpanan. Sedangkan pembersihan yang dimaksud meliputi pembersihan secara kimiawi, pembersihan secara elektrokimia, dan pembersihan secara elektro reduksi (Munandar, 2014). Berdasarkan ulasan tersebut di atas maka kegiatan konservasi logam yang 9

dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan alam atau bahan tradisional adalah pada tahap pembersihan karat secara kimia melalui proses perendaman, pengosokan maupun pengolesan dan tahap pelapisan atau stabilisasi artefak logam. 10