IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

Lampiran 1. Kriteria Kelas Kesesuaian Lahan Kelapa sawit

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1 : Data suhu udara di daerah Kebun Bekala Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang ( 0 C)

TUGAS KULIAH SURVEI TANAH DAN EVALUASI LAHAN SETELAH UTS

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Data curah hujan di desa Sipahutar, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara

DISTRIBUSI PORI DAN PERMEABILITAS ULTISOL PADA BEBERAPA UMUR PERTANAMAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. yang mungkin dikembangkan (FAO, 1976). Vink, 1975 dalam Karim (1993)

TINJAUAN PUSTAKA. Survei dan Pemetaan Tanah. memetakan tanah dengan mengelompokan tanah-tanah yang sama kedalam satu

LAMPIRAN. Lampiran 1. Data Jumlah Curah Hujan (milimeter) di Stasiun Onan Runggu Periode Tahun

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kopi merupakan tanaman yang dapat mudah tumbuh di Indonesia. Kopi

TINJAUAN PUSTAKA. Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

LAMPIRAN. Lampiran 1. Data Jumlah Curah Hujan (milimeter) di Stasiun Onan Runggu Periode Tahun

TINJAUAN PUSTAKA. Lahan merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan di sektor

Lampiran 1. Deskripsi Profil

TINJAUAN PUSTAKA. legend of soil yang disusun oleh FAO, ultisol mencakup sebagian tanah Laterik

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juli 2013 di Laboratorium

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang. (Subagyo, dkk, 2000). Namun demikian, tanah Ultisol ini memiliki kandungan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Survei Tanah. Untuk dapat melakukan perencanaan secara menyeluruh dalam hal

Bulan Basah (BB) : Bulan dengan curah hujan lebih dari 100 mm (jumlah curah hujan bulanan melebihi angka evaporasi).

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik dan Fisiografi Wilayah. lingkungan berhubungan dengan kondisi fisiografi wilayah.

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KESESUAIAN LAHAN TANAM KENTANG DI WILAYAH BATU

I. TINJAUAN PUSTAKA. bahan induk, relief/ topografi dan waktu. Tanah juga merupakan fenomena alam. pasir, debu dan lempung (Gunawan Budiyanto, 2014).

TINJAUAN PUSTAKA. A. Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)

TINJAUAN PUSTAKA. Ubi kayu merupakan bahan pangan yang mudah rusak (perishable) dan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KEADAAN UMUM Letak Wilayah Administratif Keadaan Iklim dan Tanah

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Propinsi Sulawesi Tenggara

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Letak Geografis. Daerah penelitian terletak pada BT dan

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99,6 juta hektar

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. SIFAT FISIKA TANAH

dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau

TINJAUAN PUSTAKA. fisik lingkungan yang hampir sama dimana keragaman tanaman dan hewan dapat

III. METODE PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Eksisting Fisiografi Wilayah Studi. wilayahnya. Iklim yang ada di Kecamatan Anak Tuha secara umum adalah iklim

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

LAMPIRAN. Lampiran 1. Kriteria Kesesuaian Lahan Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.)

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. IKLIM, TANAH DAN WILAYAH PRODUKSI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio:

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Parangtritis, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, DIY mulai

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. induk batuan sedimen masam (Soil Survey Staff, 2006). Di Indonesia jenis tanah

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

II. TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS TANAH SEBAGAI INDIKATOR TINGKAT KESUBURAN LAHAN BUDIDAYA PERTANIAN DI KOTA SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kebutuhan manusia akibat dari pertambahan jumlah penduduk maka

I. PENDAHULUAN. pupuk tersebut, maka pencarian pupuk alternatif lain seperti penggunaan pupuk

TATA CARA PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Erodibilitas. jumlah tanah yang hilang setiap tahunnya per satuan indeks daya erosi curah

Gambar 3 Peta lokasi penelitian terhadap Sub-DAS Cisangkuy

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Fisiografi

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahanpertanaman ubi kayu yang telah ditanami

Pemetaan Tanah.

I. PENDAHULUAN. Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang mempunyai nama ilmiah

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Tanah Ultisol atau dikenal dengan nama Podsolik Merah Kuning (PMK)

11. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

LAMPIRAN. Lampiran 1. Data Jumlah Curah Hujan (milimeter) di Stasiun Onan Runggu Periode Tahun

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

KEADAAN UMUM PERKEBUNAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang. (pada tahun 2000) dan produksi rata-rata 1,4 ton/ha untuk perkebunan rakyat dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 3 KIMIA TANAH. Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Letak, Batas, dan Luas Daerah Penelitian. Sungai Oyo. Dalam satuan koordinat Universal Transverse Mercator

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. lahan pasir pantai Kecamatan Ambal Kabupaten Kebumen dengan daerah studi

Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala

KONDISI UMUM PERUSAHAAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Fisikokimia Tanah Percobaan dan Sifat Kimia Kotoran Sapi

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. Hasil dan Pembahasan. pada Gambar 2 dan data hasil pengamatan disajikan pada Tabel 3.

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Karakteristik Lahan Kesesuaian Tanaman Karet

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Eksisting Fisiografi Wilayah Studi

TINJAUAN PUSTAKA. Survei Tanah. potensi sumber dayanya adalah survei. Sebuah peta tanah merupakan salah satu

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Metode Penelitian. diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala yang ada dan mencari

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Yogyakarta. Secara astronomis Dusun Ngampon terletak pada 7 o 50 LS - a) Sebelah utara : Dusun Padangan

II. TINJAUAN PUSTAKA

geografi Kelas X PEDOSFER II KTSP & K-13 Super "Solusi Quipper" F. JENIS TANAH DI INDONESIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teoritis Gambaran Umum Lahan Pertanian di Area Wisata Posong Desa Tlahap terletak di Kecamatan Kledung,

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Daerah Penelitian Secara administratif daerah penelitian terletak di Kecamatan Dayun Kabupaten Siak, tepatnya di Desa Dayun dengan batas-batas sebagai berikut: > Sebelah utara berbatasan dengan Desa Merempan dan Sungai Mempura, Kabupaten Siak > Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pelalawan > Sebelah barat berbatasan dengan Desa Banjar Seminal dan Desa Pangkalan Makmur, Kabupaten Siak > Sebelah timur berbatasan dengan Desa Beteng Hulu, Kabupaten Siak Secara geografis Desa Dayun terletak antara 00^31'40" - 00^47'00" Lintang Selatan dan 101^51'15" - 102'*22'30" Bujur Timur, dengan elevasi kurang lebih 12 m dari permukaan laut (dpi). Untuk lebih jelasnya lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 2. 4.2. Iklim 4,2,1, Curah Hujan Pada Gambar 3 terlihat bahwa curah hujan rata-rata tahunan di Kecamatan Dayun selama 10 tahun (1999-2008) sebesar 2333 mm/tahun, curah hujan ratarata bulanan (Gambar 3) terendah pada bulan Februari (104.8 mm/bulan) dan tertinggi pada bulan November (307.8 mm/bulan), disamping itu juga terlihat bahwa curah hujan merata sepanjang tahun. Secara geografis Propinsi Riau terletak pada sumatera bagian timur. Menurut Sarjani (2005), curah hujan di Sumatera bagian timur berkisar antara 2000-3000 mm/tahun.

18 Cnrah Hujan Rata-rata Tahanan 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 ' -«5^-^2257 1994 >a333 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata2 - -Curah Hujan Gambar 3. Curah Hujan Rata-rata Tahunan 350 Corah Hiijan Rata-rata BulanaH 307.8 (1999-2(HI8> 280.7 Curah tlujan 222.5 Ian F«b Mar Apr Mci iun tut Agt Sept Okl Nov Oc% Gambar 4. Curah Hujan Rata-rata Bulanan (1999-2008) Data curah hujan tahunan (Gambar 3) dapat digunakan untuk mengklasifikasikan tipe iklim suatu daerah. Tipe klasifikasi iklim yang biasa digunakan yaitu Koppen, Mohr, Schmidt-Ferguson (SF), Junghuhn maupun Oldeman. Dalam penelitian ini digunakan sistem klasifikasi Schmidt-Ferguson (SF) untuk menentukan tipe iklim, karena sistem klasifikasi SF perhitungannya

19 sederhana dan sangat cocok untuk daerah tropika. Untuk menentukan tipe iklim SF, diperlukan data curah hujan minimal 10 tahun. Berdasarkan data tersebut dapat ditentukan rata-rata bulan kering, bulan lembab dan bulan basah. Menurut SF (1951, dalam lakitan 2002), suatu bulan dapat dikatakan bulan kering apabila curah hujannya kecil dari 100 mm, lembab curah hujannya 100-200 mm dan basah dengan curah hujan lebih dari 200 mm. Gambar 5 memperlihatkan bahwa jumlah bulan kering dan basah selama 10 tahun terakhir (1999-2008) yaitu 28 dan 49 bulan, sehingga rasio Q untuk lokasi penelitian adalah 0.57, dengan demikian menurut SF iklim daerah ini tergolong pada zona C (agak basah//2jr/r/j we/). so 40 Bulan Ba.vah dan Kering (1999-2008).*9 Bulan Basah Bulan lembab Bulan Kering Gambar 5. Buian Basah dan Bulan Kering (1999-2008)

20 4.2.2. Temperatur Gambaran mengenai keadaan temperatur maksimum, minimum dan ratarata bulanan dan tahunan di Kecamatan Dayun dapat dilihat pada Gambar 6, 7, dan 8. Gambar 6 menunjukkan bahwa temperatur bulanan maksimum berkisar antara 27.5-29.TC, temperatur bulanan minimum berkisar antara 25.9-27.2"C, dan temperatur rata-rata bulanan antara 26.73-27.87 C (Gambar 7), temperatur maksimum rata-rata tahunan adalah 27.65 C dan temperatur minimum rata-rata tahunan adalah 26.85 C serta temperatur rata-rata tahunan 27.28 C (Gambar 8). Perbedaan temperatur rata-rata tahunan maksimum dan minimum < 6*'C yaitu 0.8 C dan suhu rata-rata tahunan > 22''C. Berdasarkan hal tersebut, maka regim temperatur tanah di daerah ini adalah isohipertermik (Soil Survey Staff, 1999 dalam Fiantis, 2007). Temperatur Bubnan Maluunum dan Minimum (1999-2008) San Feb Mar Apr Moi )un Jul Agt Sopt Okt Nov Oes Maksimum Hli-Mintmum Gambar 6. Temperatur Bulanan Maksimum dan Minimum (*C)

Teni»«nitur Rata-rata Bulanan (1999-200S) Jjn Feb Mar Apr Mci Jun Jul Agt Scpl Okt Nov Dcs Temperatur Gambar 7. Temperattu- Rata-rata Bulanan ("C) Teiii >«rjtur Rata-rata Tahuaaii 27,8 Temperatur Gambar 8. Temperatur Rata-rata Tahunan (^C)

4.3. Topografi dan Kelas Lereng Berdasarkan hasil interpretasi peta topografi dan pengecekan di lapangan, dimana lebiti dari 85 % lokasi penelitian bertopografi datar, Untuk lebih jelasnya kelas lereng Desa Dayun dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Topografi dan kelas lereng lokasi penelitian r- Kemiringan Luas Topografi lereng (%) Ha % Datar 0-3 2215.533 85.12 Agaklandai 3-8 386.29 14.84 Landai 8-15 0.914 0.04 Total 2602.737 100 Sumber: Hasil interpretasi peta RBI Bakosurtanai lembar 0816-62, 0916-41 dan 0916-42. Skalal : 50.000 (1984). 4.4. Satuan Peta Tanah Setelah dilakukan interpretasi peta dan pengamatan lapangan maka wilayah Desa Dayun dibagi dalam 13 satuan peta tanah (SPT) dengan total luas areal pengamatan 2602,737 Ha. Karakteristik utama SPT tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan SPT terdapat 2 jenis tanah di lokasi penelitian yaitu histosol dan ultisol. Ordo ultisol dibedakan menjadi group hapludult, sedangkan ordo histosol dibedakan lagi menjadi group tropohemist dan troposaprist. Tabel 4. Satuan Peta Tanah di Desa Dayun SPT. Luas No. ^^^^^^^^^^^^ Uraian SPT Ha % 1. Hapludult, lereng 3-8 %, bentuk wilayah agak landai, tekstur lempung liat berpasir (SCL), isohipertermik, 10.755 0.4J penggunaan lahan : semak belukar 2. Hapludult, lereng 3-8 %, bentuk wilayah agak landai, tekstur lempung liat berpasir (SCL), isohipertermik, 27.521 1.05 penggunaan lahan : lahan terbuka 3. Hapludult, lereng 3-8 %, bentuk wilayah agak landai, tekstur Jempung Hat berpasir (SCL), isohipertermik, 217.438 8.35 penggunaan lahan : kebun campuran 4. Hapludult, lereng 0-3 %, bentuk wilayah datar, tekstur lempung liat berpasir (SCL), isohipertermik, 87.675 3.37 penggunaan lahan : semak belukar 5. Hapludult, lereng 0-3 %, bentuk wilayah datar, tekstur lempung Hat berpasir (SCL), isohipertermik, 0.729 0.03 penggunaan lahan : lahan terbuka 6. Tropohemist, lereng 0-3 %, bentuk wilayah datar, 58.642 2.25

23 isohipertermik, tingkat kematangan hemist, penggunaan lahan : semak belukar ^^^^ 7. Tropohemist, lereng 0-3 %, bentuk wilayah datar, isohipertermik, tingkat kematangan hemist, 62.041 2.38 penggunaan lahan : kebun campuran 8. Troposaprist, lereng 0-3 %, bentuk wilayah datar, isohipertermik, tingkat kematangan saprist, 82.895 3.18 penggunaan lahan : kebun campuran 9. Troposaprist, lereng 0-3 %, bentuk wilayah datar, isohipertermik, tingkat kematangan saprist, 725.565 27.88 penggunaan lahan : semak belukar 10. Troposaprist, lereng 3-8 %, bentuk agak landai, isohipertermik, tingkat kematangan saprist, 130.846 5.03 penggunaan lahan : semak belukar 11. Troposaprist, lereng 0-3 %, bentuk wilayah datar, isohipertermik, tingkat kematangan saprist, 1161.866 44.64 penggunaan lahan : lahan terbuka 12. Hapludult, lereng 0-3 %, bentuk wilayah datar, tekstur pasir berlempung (LS), isohipertermik, 36.12 1.39 penggunaan lahan : kebun campuran 13. Hapludult, lereng 8-15 %, bentuk wilayah landai, tekstur lempung berpasir (SL), isohipertermik, 0.914 0.04 penggunaan lahan : semak belukar Total Luas 2602.737 100 4.5. Analisis Sifat Fisiica Tanah,, Sifat fisika tanah yang di amati untuk evaluasi kesesuaian lahan Desa Dayun, yaitu : tekstur, berat volume tanah, total ruang pori, permeabilitas tanah, kadar air serta air tersedia. Sifat-sifat tanah tersebut dianggap penting dan menunjang pertumbuhan tanaman salak pondoh. 4.5.1. Teiistur Tanah Tekstur tanah merupakan hasil perbandingan dari fraksi liat, pasir dan debu. Menurut Hikmatullah et al (2002), tekstur tanah berperan terhadap kemampuan tanah dalam menahan dan meresapkan air. Selain itu, tekstur tanah juga dapat menjadi petunjuk tentang besamya kapasitas air tersedia di dalam tanah (Edriani dan Zurhalena, 2008). HasiJ penetapan tekstur tanah di lokasi penelitian dapat di lihat pada Tabel 5. Persentase pasir, debu dan liat dari SPT 1, 2, 3, 4, 5, 12, dan 13 di proyeksikan

24 ke dalam segitiga tekstur temyata termasuk kedalam kelas tekstur lempung liat berpasir (SPT 1, 2, 3, dan 4), pasir berlempung (SPT 5 dan 12), dan lempung berpasir (SPT 13). > Tabel 5. Kelas tekstur tanah pada setiap SPT ' SPT Sampel -;r-^ = r \.\ Pasir Debu Liat Kelas Tekstur 1. D 1 66.1 7.2 26.7 Lempung liat berpasir {sandi clay loamlscl) 2. D2 69.3 7.5 23.2 Lempung liat berpasir {sandi clay loam/scl) 3. D3 58.1 23.5 18.4 Lempung hat berpasir {sandi clay loam/scl) 4. D4 62.4 15.3 23.2 Lempung liat berpasir {sandi clay /oam/scl) 5. D5 82.5 9.5 8.0 Pasir berlempung (gloomy sand/ls) 12. D 12 82.1 8.8 9.1 Pasir berlempung {loamy sandfls) 13. D 13 72.8 10.3 16.9 Lempung berpasir (sandi loam/sl) Keterangan : * = Persentase tekstur tanah berdasarkan hasil analisis tanah Laboratorium SEAMEO BIOTROP Bogor Pada beberapa SPT terlihat adanya persamaan kelas tekstur, hal ini disebabkan karena mempunyai bahan induk yang sama, disamping itu tekstur tanah merupakan sifat fisik tanah yang bersifat permanen. Tekstur tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor pembentuk tanah seperti iklim, topografi, bahan induk, vegetasi dan waktu (Hakim et al, 1986). 4.5.2. Berat Volume Tanah (BV) Nilai BV menunjukkan indeks kekompakan tanah. Kekompakan tanah berkorelasi dengan daya tahan tanah, kecepatan diffusi udara, dan sifat-sifat gerakan air dalam tanah. Muhdi (2004) menyatakan bahwa tanah dengan nilai BV yang tinggi menunjukkan bahwa tanah tersebut semakin kompak atau sebaliknya. Tabel 6. Perhitungan berat volume tanah pada setiap SPT SPT Kode Sampel Berat Volume Tanab (g/cm^) NUa\ 1. DI 0.98 S 2. D2 1.49 T 3. D3 L57 4. D4 0.95 is 5. D5 1.62 T

25 6. D6 0.19 R 7. D7 0.14 R 8. D8 0.18 m 9. D9 0.29 10. DIO 0.19 R 11. Dll 0.18 R 12. D12 1.26 T 13. D13 1.12 s Keterangan : ST = sangat tinggi, T = tinggi, S = sedang, R = rendah, SR = sangat rendah Berdasarkan hasil perhitungan BV pada Tabel 6, terlihat bahwa BV tanah pada SPT 6, 7, 8, 9, 10, dan 11 terlihat lebih rendah bila dibandingkan dengan SPT 1, 2, 3, 4, 5, 12, dan 13. Hal ini dikarenakan SPT 6, 7, 8, 9, 10, dan 11 merupakan tanah gambut yang kaya akan kandungan bahan organik, sedangkan SPT 1, 2, 3, 4, 5, 12, dan 13 termasuk tanah mineral (uhisol) dengan kandungan bahan organik yang rendah. Menurut Hardjowigeno (2003), kandungan bahan organik yang tinggi menyebabkan keadaan tanah menjadi longgar dan bergumpal akibatnya kerapatan massa tanah menjadi rendah. Hal ini sejalan dengan pendapat Soepardi (1983) yang menyatakan bahwa bahan organik merangsang pembutiran tanah sehingga agregat tanah menjadi besar dan mantap, akibatnya kerapatan massa tanah menjadi kecil. 4.5.3. Total Ruang Pori (TRP) Nilai TRP berbanding terbalik dengan nilai BV, jika BV tanah tinggi maka TRP tanah rendah. Hasil pengamatan TRP tanah pada SPT 6, 7, 8, 9, 10, dan 11 tergolong pada kriteria tinggi bila dibandingkan dengan TRP tanah pada SPT I, 2, 3,4,5, 12, dan 13 (Tabel 7). Tabel 7. Total ruang pori tanah pada setiap SPT SPT Kode Sampel Total Ruang Pori (%) Nilai 1. DI 63.02 S 2. 02 43.78 R 3. D3 40.76 R 4. D4 64.16 S 5. D5 38.87 R 6. D6 92.87 T 7. D7 94.72 T 8. D8 93.21 T

26? 9. D9 89.06 T 10. DIO 92.84 T 11. Dll 93.2 12. D12 ' ' ' 52.45 13. D13 57.74 Keterangan : ST = sangat tinggi, T = tinggi, S = sedang, R = rendah, SR = sangat rendah Tingginya TRP pada SPT 6, 7, 8, 9, 10, dan 11 karena SPT tersebut tergolong tanah gambut yang kaya akan kandungan bahan organik, sedangkan SPT 1, 2, 3, 4, 5, 12, dan 13 termasuk tanah mineral dengan kandungan bahan organik yang rendah. Hal ini sejalan dengan pendapat Wiskandar (2002) bahwa kandungan bahan organik yang tinggi dapat meningkatkan TRP tanah dan menurunkan BV tanah. Selain itu Gonggo et al (2005) juga menyatakan bahwa bahan organik merangsang pembutiran sehingga agregat tanah menjadi kasar dan mantap, akibatnya TRP tanah akan meningkat. 4.5.4. Permeabilitas Tanah Permeabilitas tanah adalah salah satu sifat fisika tanah yang berhubungan dengan gerakan air tanah, yaitu kemampuan air menerobos secara vertikal kebawah melalui ruang berpori dalam keadaan jenuh. Nilai permeabilitas tanah dipengaruhi beberapa faktor yaitu BV, tekstur, dan kandungan bahan organik. Tabel 8. Permeabilitas tanah pada setiap SPT SPT Kode Sampel Permeabilitas Tanah {cml\tim) Nilai 1. DI ll.m C 2. 02 20.5 c 3. 03 18.6 c 4. 04 23.65 c 5. 05 18.68 c 6. D6 26.2 SC 7. 07 93.33 sc 8. 08 105.22 SC 9. D9 175.87 sc 10. DIO 94.7 sc 11. Dll 80.52 SC \2. D\2 18.68 C 13. D13 20.96 c Keterangan: SC= = sangat cepal, C = cepal, S = sedang, R = rendah, SR = sangat rendah

2P Berdasarkan hasil perhitungan permeabilitas temyata permeabilitas tanah pada SPT 6, 7, 8, 9, 10, dan 11 termasuk kriteria sangat cepat bila dibandingkan dengan permeabilitas tanah pada SPT 1, 2, 3, 4, 5, 12, dan 13 (Tabel 8). Hal ini dikarenakan TRP dan kandungan bahan organik yang tinggi pada SPT tersebut. Arsyad (2006) menyatakan bahwa perbedaan permeabilitas dipengamhi beberapa faktor yaitu kandungan bahan organik, total ruang pori, tekstur, struktur dan lobang-iobang kecil dari hasil kegiatan biologi tanah. 4.5.5. Kadar Air Berdasarkan hasil perhitungan kadar air terlihat bahwa kadar air pada SPT 6, 7, 8, 9, 10, dan 11 sangat tinggi dibandingkan dengan kadar air pada SPT 1, 2, 3, 4, 5, 12, dan 13 (Tabel 9). Tingginya kadar air pada SPT 6, 7, 8, 9, 10, dan 11 karena tanahnya tergolong tanah gambut yang kaya akan kandungan bahan organik. Menurut Arsyad (2006), bahan organik mempunyai kemampuan menyerap air dua sampai empat kali bobotnya, dengan kemampuan tersebut menyebabkan kandungan air pada tanah gambut sangat tinggi. Tabel 9. Perhitungan kadar air SPT Kode Sampel Kadar Air (%) 1. DI 36.75 2. D2 19.77 ' * 3. D3 17.64 4. D4 30.71 5. D5 14.56 6. D6 443.71, r;,: 7. D7 484.4 8. D8 405.43 9. D9 257.53 10. DIO 323.36 11. Dll 415.03 12. D12 34.65 :^ 13. D13 30.17 4.5.6. Pori Air Tersedia (PAT) PAT merupakan hasil pengurangan pf 2,54 dengan pf 4,2, dari hasil pengurangan tersebut diperoleh persentase PAT. Berdasarkan Tabel 10 terlihat bahwa PAT pada pada SPT 6, 7, 8, 9, 10, dan 11 lebih tinggi bila dibandingkan

2S dengan SPT 1, 2, 3, 4, 5, 12, dan 13. Hal ini dikarenakan kandungan bahan organik dan TRP yang tinggi pada SPT tersebut. Menurut Setiawan (2009), bahan organik dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air. Tabel 10. Pori air tersedia SPT Kode Sampel pf 2.54* pf 4.2* PAT (%) Nilai 1. DI 59.6 51.60 8 R 2. D2 60.27 53.40 6.87 R 3. D3 12.20 8.17 4.03 SR 4. D4 24.8 16.80 8 R 5. D5 14.0 7.60 6.40 R 6. D6 70.8 56.58 14.22 S 7. D7 64.8 52.92 11.88 S 8. D8 68.2 54.80 13.40 s 9. D9 67.9 53.40 14.50 s 10. DIO 60.2 48.80 11.40 s 11. Dll 70.2 59.60 10.60 s 12. DI2 56.30 53.60 2.70 SR 13. D13 73.8 61.80 12 s Keterangan * = Hasil Analisis Laboratorium Tanah Politeknik Pertanian Universitas Andalas ST = sangat tinggi, T = tinggi, S = sedang, R = rendah, SR = sangat rendah 4.6. Kesuburan Tanah Kesuburan tanah adalah kemampuan atau kualitas tanah yang menggambarkan ketersediaan dan keseimbangan unsur hara serta ada atau tidaknya unsur-unsur yang bersifat meracun dalam tanah yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Penilaian kesuburan tanah di lokasi penelitian antara lain : kandungan N-total, P-tersedia, K-total, kation basa (K, Ca, Mg, dan Na), C- organik, C/N, ph, KB dan KTK serta unsur mikro. Kriteria yang digunakan dalam menilai status kesuburan tanah dapat dilihat pada Lampiran 4. 4.6.1. Bahan Organik Tanah (BOT), C-organik, Rasio C/N, N-total, P- tersedia, dan K-total Bahan organik merupakan salah satu sumber unsur hara dalam tanah setelah bahan organik tersebut terdekomposisi. Tinggi rendahnya unsur hara yang diperoleh dari bahan organik tergantung dari macam/jenis bahan organik serta tingkat dekomposisi yang terjadi. Kandungan C-organik, N-total, C/N serta

29 persentase BOT pada SPT 6, 7, 8, 9, 10 dan 11 sangat tinggi (Tabel 11). Hal ini dikarenakan SPT tersebut merupakan tanah gambut yang kaya akan bahan organik, sedangkan SPT 1, 2, 3, 4, 5, 12, dan 13 merupakan tanah mineral dengan kandungan bahan organik yang rendah. Menurut Najiyati et al (2005), kandungan bahan organik yang tinggi diikuti dengan kandungan N-total dan C/N yang tinggi pula. Meskipun kandungan N-total tinggi, namun tidak tersedia bagi tanaman, karena rasio C/N yang tinggi. Kandungan P-tersedia pada SPT 6, 7, 8, 9, 10, dan 11 sangat tinggi bila dibandingkan SPT 1, 2, 3, 4, 5, 12, dan 13 (Tabel 11), sedangkan kandungan K- total pada semua SPT termasuk rendah. Untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara pada semua SPT usaha yang dapat dilakukan antara lain : pemupukan, pengapuran serta pemberian bahan amelioran tanah. Bahan amelioran yang digunakan dapat berupa pupuk kandang, kompos, tanah mineral maupun abu dari sisa-sisa pembakaran. ' ii;' ee: «i ^ f

30 label 11, Kandungan Bahan Organik Tanah (BOT), C-organik, Rasio C/N, N-total, P-tersedia. dan K-total SPT BOT (%) Nilai C-organik (%) Nilai C/N Nilai N-total (%) Nilai P-tersedia (ppm) Nilai K-total (mg/100 gr) 1. SR 1.12 R 6,58 R 0.17 R 21.40 S 6.98 SR 2. 2.44 R 1.42 R 5.46 R 0.26 S 25.9 S 7.01 SR 3. 0.77 SR 0.45 SR 5.0 R 0.09 SR 13.28 R 7.54 SR 4. 2.31 R 1.34 R 6.38 R 0.21 S 19.89 S 8.76 SR 5. 1.03 SR 0.60 SR 5.0 R 0.12 R 12.41 R 8.4 SR 6, 00,61 ST 52.56 ST 44.16 ST 1.19 ST 34.19 T 18.49 R 7, 95,06 ST 55.14 ST 59.93 ST 0.92 ST 28.91 T 17.34 R 8. 96,25 ST 55.83 ST 41.35 ST 1.35 ST 63.45 ST 18.66 R 9. 96,99 ST 56.52 ST 53.07 ST 1.06 ST 32.99 T 19.24 R 10. 98.13 SI' 56.92 ST 40.94 ST 1.39 ST 45.04 ST 16.09 R n. 84.26 ST 48.88 ST 56.18 ST 0.87 ST 31.14 T 18.26 R 12, 1,41 SR 0.52 SR 5.86 R 0.14 R 24.17 S 8.08 SR 13. 0.89 SR 0.52 SR 4.72 R 0.11 R 21.40 S 6.98 SR Keterangiin : Berdasarkan hasil analisis tanah Laboratorium SEAMEO BIOTROP Bogor ST sangat tinggi, T = tinggi, S = sedang, R = rendah, SR = sangat rendah Nilai