BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang

MENUJU TEBO SEJAHTERA (MTS): AMAN, HARMONIS DAN MERATA

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan sektor industri yang berpotensi untuk. dikembangkan terhadap perekonomian suatu daerah. Berkembangnya sektor

BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH

TERWUJUDNYAMASYARAKAT KABUPATEN PASAMAN YANGMAJU DAN BERKEADILAN

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia adalah Negara kepulauan yang sebagian besar penduduknya

BAB III ANALISIS ISU STRATEGIS

BAB I PENDAHULUAN. besar di dalam suatu ekosistem. Hutan mampu menghasilkan oksigen yang dapat

2.1 RPJMD Kabupaten Bogor Tahun

RANCANGAN PERATURAN NAGARI SITUJUAH GADANG Nomor: 03/NSG/2002. Tentang BENTUK PARTISIPASI ANAK NAGARI DALAM PEMBANGUNAN NAGARI

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sumber daya alam merupakan titipan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaikbaiknya

MENUJU POLA PENGUASAAN TANAH YANG MERATA DAN ADIL

diarahkan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. hukum adat terdapat pada Pasal 18 B ayat 2 Undang-Undang Dasar Negara

BUPATI PESISIR SELATAN

BAB V VISI DAN MISI RPJMD KABUPATEN SIJUNJUNG TAHUN

Ketika Budaya Sasi Menjaga Alam Tetap Lestari

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. (1968) disebut sebagai tragedi barang milik bersama. Menurutnya, barang

BAB II RENCANA KINERJA DAN PERJANJIAN KINERJA

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

SAMBUTAN/PENGARAHAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PADA MUSRENBANG RKPD PROVINSI JAMBI TAHUN 2016

MEWUJUDKAN MASYARAKAT KABUPATEN PASAMAN YANG MAJU, SEJAHTERA DAN BERMARTABAT

TERWUJUDNYA MASYARAKAT SELOMARTANI YANG AGAMIS SEJAHTERA BERBUDAYA DAN MANDIRI DENGAN KETAHANAN PANGAN PADA TAHUN 2021

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 7 TAHUN 2018 TENTANG NAGARI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Rencana Pembangunan Jangka Menengah strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan tranformasi,

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

PENDAHULUAN Latar Belakang

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Peraturan Pemerintah RI

PEMANFAATAN LAHAN TEBA DALAM KONSERVASI SUMBER DAYA AIR

BUPATI PASAMAN PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASAMAN NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG KAWASAN MINAPOLITAN

BAB I PENDAHULUAN. Upaya mewujudkan pembangunan pertanian tidak terlepas dari berbagai macam

I. PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas

OTONOMI DAERAH. Terjadi proses desentralisasi

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan termasuk didalamnya berbagai upaya penanggulangan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sehingga kita dapat memberikan arti atau makna terhadap tindakan-tindakan

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG

RPJMD Kota Pekanbaru Tahun

BUPATI ENREKANG PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN ENREKANG NOMOR 1 TAHUN 2016

5.3. VISI JANGKA MENENGAH KOTA PADANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA,

KESIMPULAN DAN SARAN

GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA

BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut menjadi isu yang sangat penting untuk

RENCANA AKSI DINAS KEBUDAYAAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2017

PERATURAN DAERAH PROPINSI SUMATERA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2007 POKOK-POKOK PEMERINTAHAN NAGARI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT

BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN TERWUJUDNYA MASYARAKAT BONDOWOSO YANG BERIMAN, BERDAYA, DAN BERMARTABAT SECARA BERKELANJUTAN

Geografi KEARIFAN DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM II. K e l a s. C. Pertanian Organik

Biro Bina Sosial, Sekretariat Daerah Propinsi Sumatera Barat

BAB 2 PERENCANAAN KINERJA. 2.1 RPJMD Kabupaten Bogor Tahun

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Kemampuan komunitas untuk mengatur individunya merupakan modal sosial

Terwujudnya Pemerintahan yang Baik dan Bersih Menuju Masyarakat Maju dan Sejahtera

BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN

Visi Mewujudkan Kabupaten Klaten yang Maju, Mandiri dan Berdaya Saing. Misi ke 1 :

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PENETAPAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN

GUBERNUR GORONTALO PERATURAN DAERAH PROVINSI GORONTALO NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IKHTISAR EKSEKUTIF. Ikhtisar Eksekutif

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IX KESIMPULAN. bagaimana laki-laki dan perempuan diperlakukan dalam keluarga. Sistem nilai

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

- 2 - sistem keuangan dan sukses bisnis dalam jangka panjang dengan tetap berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Tujuan pemba

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

DASAR HUKUM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT.

IKHTISAR EKSEKUTIF. Pencapaian kinerja sasaran Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Tahun 2015 dapat digambarkan sebagai berikut : iii

BAB II EVALUASI HASIL RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2015 SAMPAI DENGAN TRIWULAN II TAHUN 2016

DAFTAR ISI PENGANTAR

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR

BAB IV VISI DAN MISI

Weakness, Opportunity and Threath). Dengan hasil pada masing-masing

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR

VISI DAN MISI BAKAL CALON BUPATI KABUPATEN KAIMANA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 33 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN EKOWISATA DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat pesisir pantai barat. Wilayah budaya pantai barat Sumatera, adalah

Kawasan strategis wilayah kabupaten ditetapkan berdasarkan: 1. Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten; 2. Nilai strategis dari aspek-

BAB I PENDAHULUAN. pasar belum tentu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang kemampuan

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan Pertanian (SIPP) yaitu: terwujudnya sistem pertanianbioindustri

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Transkripsi:

125 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan temuan dan pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal terkait dengan pengelolaan sumber daya air bersih Batang Tabik dapat berlangsung dengan harmonis dan diterima dengan baik oleh para pemangku kepentingan sebagai berikut: 1. Pengelolaan dapat berjalan dengan harmonis karena adanya kesamaan pandangan sebagai dasar pengelolaan yaitu Sakato (sekata/satu kata) dalam berpartisipasi dan bersepakat untuk kerjasama yang saling menghormati dan memahami serta saling menguntungkan yang dibentuk oleh nilai-nilai Raso jo Pareso dan Prinsip Siliah Jariah. 2. Sakato sebagai bentuk kesamaan pandangan dalam masyarakat Nagari Sungai Kamuyang untuk bersepakat dalam pengambilan keputusan tentang pengelolaan sumber daya air Batang Tabik dengan konsep Siliah Jariah sebagai prinsip-prinsip pengusahaan yang saling menguntungkan serta nilai-nilai Raso jo Pareso dalam pemanfaatan yang saling menghormati dan memahami antara pemangku kepentingan untuk pemanfaatan bagi PDAM, irigasi dan kolam pemandian. 3. Konsep Siliah Jariah dalam pengusahaan potensi sumber daya air dilaksanakan bukan hanya sebagai ganti rugi saja, tetapi dikembangkan

126 dengan prinsip-prinsip bagi hasil, sewa dan kerjasama yang saling menguntungkan. Bukanlah dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan semata, tetapi lebih besar dari itu yaitu memberikan pembelajaran dan pemberdayaan kepada pemuda pemudi dalam berorganisasi dan berwirausaha serta tetap menjaga kekayaan nagari (tidak berpindah kepemilikan) untuk diwariskan pada generasi selanjutnya. Adapun nilainilai yang mendukung harmonisnya pengelolaan adalah pembagian tugas, kepemilikan dan pengelola yang jelas, kesepakatan, perjanjian, pembaruan kesepakatan (renegosiasi), komitmen, kompensasi dan tranparansi, pemerataan, pemberdayaan pemuda dan pengurangan pengangguran. 4. Raso jo Pareso merupakan nilai-nilai yang menjadi perekat dan mengikat erat persaudaraan masyarakat untuk saling menghirmati dan saling memahami. Pemanfaatan sumber daya air dapat berjalan dengan harmonis karena adanya nilai-nilai yang melandasi dan menguatkan terlaksananya konsep Siliah Jariah seperti kerjasama yang berlandaskan kepercayaan dan kejujuran, tenggang rasa, solidaritas, persaudaraan, menumbuhkan rasa memiliki, memanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan untuk kepentingan bersama 5. Siliah Jariah dan Raso jo Pareso sebagai salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat khususnya di Nagari Sungai Kamuyang dalam pengelolaan sumber daya air bersih Batang Tabik memiliki manfaat secara ekonomi, sosial dan lingkungan sehingga prinsip pengelolaan tersebut dapat berlanjut hingga sekarang.

127 6. Sumber daya air bersih sebagai salah satu potensi ekonomi masyarakat tidak sepenuhnya dalam pengusahaannya bertujuan ekonomis seperti pengelolaan PDAM dan kolam pemandian dengan prinsip Siliah Jariah. pengelolaan irigasi dilaksanakan sebagai perwujudan nilai-nilai sosial dalam bentuk Raso jo Pareso. 7. Sebagai kesatuan masyarakat hukum adat, masyarakat Minangkabau tidak mengenal adanya kepemilikan pribadi atas harta pusako dan pemindahan hak (jual beli), tetapi dibolehkan pengusahaannya oleh orang lain/investor. Sumber air bersih Batang Tabik dengan kepemilikan bersama ( common property), tetapi dengan ditunjuknya Pemerintah Nagari sebagai pihak yang mengatur pengelolaannya ( restricted common property) tidak akan mungkin setiap orang bisa memanfaatkan dan mengambil dengan seenaknya saja. Kemungkinan terjadinya bencana bersama karena eksploitasi sumber daya yang berlebihan ( tragedy of the common) akan dapat terhindari karena adanya aturan yang mengatur pengelolaan dan pemanfaatannya yaitu Peraturan Nagari. 6.2 Saran Beberapa saran yang dapat dijadikan sebagai masukan dalam pengelolaan sumber daya air dan tantangan pengelolaan kedepan adalah : 1. Perkembangan teknologi dan informasi, jumlah penduduk, ekonomi dan sumberdaya manusia tentunya akan memberikan tekanan terhadap pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air bersih Batang Tabik

128 kedepan. Tekanan tersebut bisa dalam bentuk hubungan antar lembaga pengelola, kearifan lokal, konservasi dan alih fungsi lahan serta alokasi dan efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya air. Untuk itu prinsip Siliah Jariah dan nilai-nilai Raso jo Pareso sebagai kearifan lokal masyarakat yang telah diwariskan secara turun temurun, perlu hendaknya dipelihara dan dipupuk untuk keberlanjutan pembangunan dan kelestarian budaya lokal untuk masa depan yang lebih baik. 2. Kearifan lokal tersebut dapat dijaga melalui beberapa hal seperti dengan tetap mempertahankan bahasa tutur (lokal) yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal serta memasukan muatan budaya lokal (budaya alam Minangkabau) sebagai mata pelajaran pada tingkat pendidikan dasar, dan kebijakan pemerintah yang berpihak terhadap kearifan lokal masyarakat. 3. Aturan yang dibuat dalam mengatur pengelolaan sumber daya air Batang Tabik tidak hanya untuk pemanfaatan air sebagai kebutuhan air bersih dan irigasi. Seiring dengan perkembangan penduduk, peningkatan konsumsi air bersih dan penurunan kualitas dan kuantitas air bersih diberbagai daerah sehingga kedepannya diperlukan aturan dan kesepakatan untuk pemeliharaan dan perlindungan sumber air seperti aturan tentang alih fungsi dan penggunaan lahan disekitar sumber air, konservasi serta efisiensi pemanfaatannya. Semua itu bertujuan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya, ekonomi dan kelestarian lingkungannya. 4. Pemerintah dalam pengambilan kebijakan dan keputusan dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan agar melibatkan

129 masyarakat serta mengakomodir kearifan lokal masyarakat sehingga pembangunan dapat lebih baik dan nilai-nilai budaya lokal tetap lestari. Karena prospek kearifan lokal dimasa depan akan dipengaruhi oleh berbagai kebijakan pemerintah yang berhubungan langsung dengan pengelolaan pembangunannya. 5. Penelitian ini terbatas dalam hal menemukan prinsip dan nilai-nilai budaya lokal dalam pengelolaan sumber daya air. Untuk itu diperlukan penelitian lanjutan tentang bagaimana peran pemangku kepentingan dalam pengelolaan serta relevansi konsep pengelolaan kedepannya.