PROGRAM PERCEPATAN PEMBANGUNAN SANITASI (PPSP) TAHUN 2014 LAPORAN STUDI EHRA (ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESMENT) Kabupaten Padang Lawas Utara Provinsi Sumatera Utara DISUSUN OLEH : POKJA SANITASI KABUPATEN PADANG LAWAS UTARA PROVINSI SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-nya yang telah memberikan kekuatan dan kemudahan serta limpahan-nya sehingga Tim Studi EHRA (Studi Environmental Health Risk Assessment) dapat selesai menyusunan Laporan Studi EHRA Kabupaten Padang Lawas Utara sehingga tergambarkan kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku masyarakat yang beresiko terhadap kesehatan lingkungan. Studi EHRA ini dapat dijadikan sebagai Informasi dasar dalam penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan dan memberikan advokasi ke pada masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi serta menumbuhkan kesepahaman dan kesamaan persepsi akan pentingnya pelaksanaan studi EHRA bagi seluruh anggota pokja dan tim studi EHRA yang kemudian akan dijadikan sebagai data primer dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Padang Lawas Utara. Secara substansi, hasil Studi EHRA ini dapat memberi data ilmiah dan faktual tentang ketersediaan layanan sanitasi di tingkat rumah tangga dalam skala kabupaten/kota sektor sanitasi yang menjadi obyek studi meliputi limbah cair domestik, limbah padat/sampah dan drainase lingkungan, serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) termasuk praktek Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang telah diarahkan sesuai dengan lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keberhasilan penyusunan Laporan Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) tidak terlepas dari dukungan semua pihak terkait dalam proses penyusunan maupun dalam pelaksanaan Studi. Untuk itu Pemerintah Kabupaten Padang Lawas Utara menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat dan pihak -pihak terkait atas peran aktifnya dalam melaksanakan Studi EHRA. Dalam penyusunan ini kami meyakini adanya kelemahan dalam metode maupun penyajian. Maka dari itu kami harapkan masuk an dan saran dari berbagai pihak yang bersifat konstruksi dalam rangka penyempurnaan Studi EHRA ini. Semoga hasil studi EHRA ini dapat dijadikan salah satu dasar perencanaan pembangunan Sanitasi di Kabupaten Padang Lawas Utara ke depan. Akhirnya, kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan dan penyelesaian laporan Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) Kabupaten
Padang Lawas Utara ini kami ucapkan terima kasih. Semoga segala upaya kita bersama dalam membangun Kabupaten Padang Lawas Utara senantiasa mendapatkan Petunjuk serta Ridho dari Tuhan Yang Maha Esa. Ketua Pokja Sanitasi Kabupaten Padang Lawas Utara/ Sekretaris Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara
RINGKASAN EKSEKUTIF Studi EHRA (Enviromental Health Risk Assassment) ini dilakukan terhadap 400 responden yang tersebar pada 10 Desa di 9 Kecamatan di Kabupaten Padang Lawas Utara dengan tujuan untuk melakukan Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan sehingga didapat gambaran kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku masyarakat yang beresiko terhadap Kesehatan lingkungan, dapat dijadikan sebagai Informasi dasar dalam penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan dan memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi serta menumbuhkan kesepahaman dan kesamaan persepsi akan pentingnya pelaksanaan studi EHRA bagi seluruh anggota pokja dan tim studi EHRA. Dalam studi EHRA ini, Pokja AMPL Kabupaten Padang Lawas Utara menetapkan 10 Desa di 9 Kecamatan sebagai area studi sehingga dapat memberikan gambaran secara keseluruhan di Kabupaten Padang Lawas Utara. Unit sampling utama (Primary Sampling) pada Studi EHRA adalah RT (Rukun Tetangga) dan dipilih secara random berdasarkan total RT di semua Dusun/ Lingkungan. Dalam setiap Desa/Kelurahan yang telah dipilih menjadi Target Area Studi sementara jumlah sampel RT per Desa/Kelurahan minimal 8 RT dan jumlah sampel per RT minimal 5 responden. Dengan demikian jumlah sampel per desa/kelurahan minimal 40 responden. Pemilihan desa yang menjadi area studi EHRA di Kabupaten Padang Lawas Utara dilakukan dengan cara stratifikasi desa dan random sampling. Pertama tama yang dilakukan adalah stratifikasi 388 Desa/Kelurahan yang ada di Kabupaten Padang Lawas Utara dikategorikan berdasarkan 4 kriteria yang sudah ditetapkan oleh Program PPSP yaitu kepadatan penduduk, angka kemiskinan, daerah/wilayah yang dialiri sungai/drainse/saluran irigasi dan daerah yang terkena banjir. Dari hasil stratifikasi tesebut didapatkan hasil strata 1 s.d strata 4 pada 388 desa/kelurahan. Kemudian menentukan jumlah desa yang akan diambil sebagai area studi dengan cara membagi jumlah responden yang sudah ditetapkan yaitu sebesar 400 Responden di bagi jumlah sampel per desa/kelurahan yaitu 40 responden, sehingga didapatkan hasil pembagian tersebut adalah 10 Desa. Adapun Responden dalam studi EHRA adalah ibu atau anak perempuan yang sudah menikah dan berumur antara 18 s/d 60 tahun.
Berdasarkan Hasil kajian Studi EHRA yang telah di lakukan maka tergambarkan kondisi risiko sanitasi yang ada di Kabupaten Padang Lawas Utara sebagai berikut : Indeks Resiko Sanitasi untuk sumber air di Kabupaten Padang Lawas Utara pada 9 kecamatan area studi EHRA Tahun 2014 menunjukkan pada strata 1 = 32, strata 2 = 37, strata 3 =41, strata 4= 55. Berdasarkan studi EHRA bahwa area risiko sumber air terlihat bahwa untuk semua kelurahan/desa menggunakan sumber air yang terlindungi dengan persentase tidak tercemar 60,75% (berupa sumber air dari PDAM air ledeng, kran umum, hidran umum, sumur bor pompa tangan, sumur gali terlindungi, air hujan serta air isi ulang) dan beresiko tercemar 39,25%. Sedangkan yang menggunakan sumber air tidak terlindung yang tidak aman 63,5%, yang aman 36,5%. Pada semua kelurahan/desa, sebesar 75,5% dari total responden tidak pernah mengalami kelangkaan air dan hanya 24,5% yang pernah mengalami kelangkaan air. Indeks Resiko Sanitasi untuk persampahan di Kabupaten Padang Lawas Utara pada 9 kecamatan Area Studi EHRA Tahun 2014, menunjukkan bahwa angka yang cukup tinggi yaitu Strata 1 = 92, Strata 2 = 87, Strata 3 = 96 dan Strata 4 = 45. Hal ini dapat terlihat juga pada hasil studi EHRA, pada tabel area berisiko persampahan 99,7% pengelolaan sampah di Kabupaten Padang Lawas Utara tidak memadai dan pengolahan sampah setempat tidak diolah sebesar 76,8%. Untuk itu perlu perhatian yang serius dari pemerintah daerah dalam hal sektor Persampahan mengingat cakupan Pengelolaan persampahan masih sangat kurang. Indeks Resiko Sanitasi untuk air limbah domestik di Kabupaten pada 9 Kecamatan area studi EHRA Tahun 2014 menunjukkan angka sebesar 65 untuk strata 1, strata 2 = 64, strata 3 = 64 dan strata 4 = 34. Berdasarkan hasil studi EHRA bahwa untuk air limbah domestik sebanyak 39% tangki septik tidak aman dan tangki septik yang aman sebesar 61%. Pencemaran karena pembuangan isi tangki septik tidak aman sebesar 96,3% dan 3,7% yang aman. Pencemaran karena SPAL yang tidak aman sebesar 32,5% sedangkan yang aman sebesar 67,5%. Indeks Resiko Sanitasi untuk banjir/genangan pada 9 kecamatan area studi EHRA Tahun 2014 menunjukkan pada strata 1 = 14, strata 2 = 15, strata 3 = 16, strata 4 =
26, dan diketahui 11,5% menyatakan adanya genangan air (banjir) sedangkan 88,5% menyatakan tidak ada genangan air. Indeks Resiko Sanitasi untuk Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada 9 kecamatan area studi EHRA tahun 2014 menunjukkan pada strata 1= 46, strata 2 = 58, strata 3 = 57 dan strata 4 = 40. Bahwa sebagian besar responden sebanyak 70,5% tidak melakukan CTPS di 5 (lima) waktu penting, baru sebanyak 29,5% yang melakukannya. Untuk lantai dan dinding jamban bebas dari tinja baru sebanyak 64,3% sedang 35,7% lantai dan dinding jamban tidak bebas dari tinja. Jamban bebas dari kecoa dan lalat baru sebanyak sebanyak 74% sedang 26% tidak bebas dari kecoa dan lalat. Untuk Perilaku BABS sebanyak 47,8% yang menyatakan tidak BABS sedang 52,2% menyatakan masih BAS. Berdasarkan gambaran diatas maka tergambarkan kondisi risiko sanitasi yang ada di Kabupaten Padang Lawas Utara. Penyebab rawan sanitasi untuk desa/kelurahan pada strata 1 adalah Sumber air (32), PHBS (46), Sampah(92), Genangan air (14) dan air limbah domestik (65). Penyebab rawan sanitasi strata 2 adalah PHBS (46),persampahan (87), air limbah domestik (64), sumber air (37), dan genangan air (15). Penyebab rawan sanitasi strata 3 adalah air limbah domestik (64), PHBS (57),persampahan (96), Sumber air (41), dan genangan air (16). Penyebab rawan sanitasi 4 adalah air limbah domestik (34), persampahan (45), PHBS (40),sumber air (55) dan genangan air (26). Masyarakat Kabupaten Padang Lawas Utara masih banyak yang membuang sampah tanpa diolah dan bahkan di bakar dan dibuang ke Sungai. Penduduk Kabupaten Padang Lawas Utara 73,3% memiliki Jamban Pribadi namun masih juga yang melakukan BABS juga tidak dilengkapi dengan SPAL sehingga Limbah Tinja langsung dibuang ke Sungai,Parit, Laut atau Drainase, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di dalam PHBS, masyarakat masih ada yang BABS dan banyak yang tidak melakukan CTPS di lima waktu penting. Hal ini akan menjadi pusat perhatian bagi pemerintah dan pemerhati sanitasi dalam menangani Risiko Sanitasi yang terjadi di Kabupaten Padang Lawas Utara Tidak terlepas dari itu peningkatan perubahan prilaku masyarakat terkait sanitasi yang jauh lebih baik dari saat ini juga perlu dilaksanakan dan berbagai pembangunan yang harus
mengarah untuk pembangunan sanitasi sehingga akan mengurangi Indeks Risiko Sanitasi yang terjadi di Kabupaten Padang Lawas Utara.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Environmental Health Risk Assessment Study atau Studi Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan (Studi EHRA) adalah sebuah survey partisipatif di tingkat Kabupaten/kota yang bertujuan untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higienitas serta perilaku-perilaku masyarakat pada skala rumah tangga. Data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi termasuk advokasi di tingkat kabupaten/kota sampai ke kelurahan. Data yang dikumpulkan dari studi EHRA akan digunakan Pokja Kabupaten sebagai salah satu bahan untuk menyusun Buku Putih, penetapan area beresiko dan Strategi Sanitasi Kabupaten (SKK) Padang Lawas utara. Kabupaten/Kota dipandang perlu melakukan Studi EHRA karena : 1. Pembangunan sanitasi membutuhkan pemahaman kondisi wilayah yang akurat; 2. Data terkait dengan sanitasi dan higiene terbatas dan data sanitasi umumnya tidak bisa dipecah sampai kelurahan/desa serta data tidak terpusat melainkan berada di berbagai kantor yang berbeda; 3. Isu sanitasi dan higiene masih dipandang kurang penting sebagaimana terlihat dalam prioritas usulan melalui Musrenbang; 4. Terbatasnya kesempatan untuk dialog antara masyarakat dan pihak pengambil keputusan; 5. EHRA secara tidak langsung memberi amunisi bagi stakeholders dan warga di tingkat kelurahan/desa untuk melakukan kegiatan advokasi ke tingkat yang lebih tinggi maupun advokasi secara horizontal ke sesama warga atau stakeholders kelurahan/desa; 6. EHRA adalah studi yang menghasilkan data yang representatif di kabupaten/kota dan kecamatan dan dapat dijadikan panduan dasar di tingkat kelurahan/desa; Studi EHRA berfokus pada fasilitas sanitasi dan perilaku masyarakat, seperti: A. Fasilitas sanitasi yang diteliti mencakup: 1. Sumber air minum,
2. Layanan pembuangan sampah, 3. Jamban, 4. Saluran pembuangan air limbah rumah tangga. B. Perilaku yang dipelajari adalah yang terkait dengan higinitas dan sanitasi dengan mengacu kepada STBM: 1. Buang air besar 2. Cuci tangan pakai sabun, 3. Pengelolaan air minum rumah tangga, 4. Pengelolaan sampah dengan 3R 5. Pengelolaan air limbah rumah tangga (drainase lingkungan) 1.2. Tujuan dan Manfaat Adapun tujuan dan manfaat dari studi EHRA di Kabupaten Padang Lawas Utara adalah: 1. Mendapatkan gambaran kondisi fasilitas sanitasi dan higinitas serta perilaku masyarakat yang beresiko terhadap kesehatan lingkungan 2. Informasi dasar yang valid dalam penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan 3. Memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi 4. Mendapatkan data primer sebagai salah satu bahan penyusunan Buku Putih Sanitasi dan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) Padang Lawas Utara. 1.3. Waktu Pelaksanaan Kegiatan pelaksanaan Studi EHRA di Kabupaten Padang Lawas Utara dimulai pertengahan bulan Mei dan selesai pada akhir bulan September tahun 2014. Pelaksanaan Studi EHRA dimulai dari sosialisasi kepada Petugas Petugas Kesehatan di Kabupaten Padang Lawas Utara, rapat rapat persiapan pelatihan dan pelaksanaan Studi EHRA, pelaksanaan pelatihan Koordinator Kecamatan, Supervisor, dan Enumerator yang dilaksanakan pada tanggal Juni Tahun 2014 dan Pelatihan petugas Entry Data yang dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus Tahun 2014. Pelaksanaan Studi EHRA oleh Enumerator di lapangan di mulai dari tanggal 23 Juli s.d 18 Agustus 2014. Entry Data
mulai di mulai dari 19 Agustus sampai 23 Agustus 2014. Analisis data Studi EHRA sampai pembuatan laporan studi EHRA dikerjakan bulan September 2014.
BAB II METODOLOGI DAN LANGKAH STUDI EHRA EHRA adalah studi yang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menerapkan 2 (dua) teknik pengumpulan data, yakni 1) wawancara (interview) dan 2) pengamatan (observation). Pewawancara dan pelaku pengamatan dalam EHRA adalah Enumerator yang dipilih oleh Dinas Kesehatan dibantu dari Kepala Puskesmas. Enumerator yang dipilih adalah orang yang berasal dari Kecamatan tersebut dan merupakan kader. Pelaksanaan pengumpulan data lapangan dan umpan balik hasil EHRA dipimpin dan dikelola langsung oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Lawas Utara dengan arahan dan bimbingan dari Pokja Sanitasi Kabupaten. Selanjutnya, data EHRA diharapkan menjadi bahan untuk mengembangkan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Padang Lawas Utara dan juga menjadi masukan untuk mengembangkan strategi sanitasi dan program-program sanitasi Kabupaten. Adapun metodologi dalam pelaksanaan Studi EHRA sebagai berikut : 1. Persiapan studi EHRA, langkah-langkah dalam pelaksanaan : - Kesepahaman tentang studi EHRA; Dinas Kesehatan mengadakan pertemuan yang melibatkan seluruh petugas Kesehatan yang ada di Kabupaten Padang Lawas Utara yang membahas mengenai latar belakang, tujuan dan manfaat studi EHRA - Melakukan pembentukan tim studi EHRA mencakup; penanggungjawab studi, koordinator studi, anggota tim pelaksana studi EHRA, koordinator kecamatan, supervisor, tim entri data, tim analisis data dan enumerator yang akan ditugaskan untuk pengumpulan data - Metode pelaksanaan studi EHRA; menyepakati metode yang cocok untuk digunakan dalam pelaksanaan studi EHRA di Kabupaten. 2. Penentuan area studi EHRA, yang bertujuan untuk : - Menetapkan desa/kelurahan lokasi area studi - Menetapkan jumlah dan nama desa/kelurahan terpilih sebagai target area studi - Menetapkan Dusun dan jumlah responden untuk tiap desa/kelurahan target area studi
3. Pelatihan koordinator kecamatan, supervisor, enumerator dan petugas entri data, tujuannya ; - Teridentifikasinya koordinator kecamatan, supervisor, enumerator dan petugas entri data - Terlaksananya pelatihan untuk koordinator kecamatan, supervisor, enumerator dan petugas entri data - Tersusunnya rencana studi EHRA 4. Pelaksanaan studi EHRA, output ; - Penyiapan Logistik dan Kelengkapan Studi Kuesioner dipersiapkan sejumlah 110 % x total jumlah responden dan lembar spot check sejumlah 5 % x total jumlah responden - Terisinya Kuesioner dengan lengkap oleh enumerator yang kemudian di cek oleh Supervisor dan Koordinator Kecamatan - Terisinya lembar spotcheck oleh supervisor Supervisor melakukan spot check di lapangan secara individual melakukan wawancara singkat dengan kuesioner yang telah disediakan dan kemudian menyimpulkan apakah wawancara benar-benar terjadi dengan standar yang ditentukan. Spot check dilakukan sebanyak 5 % dari jumlah responden yang di data di satu lokasi, pengambilan responden tersebut dilakukan secara acak. - Terisinya laporan harian dan rekap harian oleh supervisor 5. Pengolahan dan analisa studi EHRA, tujuannya ; - Tersedia kuesioneryang siap untuk dientri dengan menggunakan software Epi Data versi 3.1 - Dihasilkannya data hasil entri yang siap untuk dianalisis engan menggunakan software SPSS - Dihasilkannya tabel hasil analisis studi EHRA sampai penentuan Indeks Resiko Sanitasi (IRS) dan skor studi EHRA untuk setiap strata wilayah studi EHRA Indeks Resiko Sanitasi (IRS) diartikan sebagia terjadinya penurunan kualitas hidup, keehatan, bangunan dan atau lingkungan akibat rendahnya akses terhadap layanan sekotr sanitasi dan perilaku higiene dan sanitasi. Indeks Resiko Sanitasi (IRS)
diartikan sebagai ukuran atau tingkatan, resiko sanitasi dalam hal ini adalah hasil dari analisis Studi EHRA. 2.1 Penentuan Kebijakan Sampel Pokja Sanitasi Kabupaten Sampel adalah bagian dari populasi, dimana anggota sampel adalah anggota yang dipilih dari populasi. Oleh karena itu pengambilan sampel di daerah populasi yang telah ditetapkan sebagai target area studi. Unit sampling utama (Primary Sampling) adalah RT (Rukun Tetangga). Dalam hal ini RT di Kabupaten Padang Lawas Utara adalah Dusun dan Rumah Responden dipilih dengan menggunakan cara acak yang bertujuan agar seluruh Dusun memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai Dusun Area Studi dan rumah di Dusun Area Studi memiliki kesempatan yang sama sebagai sampel. Artinya, penentuan Dusun dan Rumah Tangga Responden bukan bersumber dari preferensi enmuerator/supervisor ataupun keinginan responden itu sendiri. Jumlah sampel Dusun per Desa/Kelurahan minimal 5 Dusun dan jumlah sampel per Dusun sebanyak 10 responden. Dengan demikian jumlah sampel per desa/kelurahan adalah 50 responden. Yang menjadi responden adalah Ibu atau anak perempuan yang sudah menikah, dan berumur antara 18 s/d 60 tahun. Pokja Sanitasi Kabupaten Padang Lawas Utara dalam menentukan kebijakan sampelnya berpengaruh langsung pada penentuan jumlah desa area studi yang mana kebijakan sampel studi EHRA di Kabupaten Padang Lawas Utara adalah Jumlah Responden tertentu. Sampel dalam Studi EHRA di Kabupaten Padang Lawas Utara adalah sebanyak 450 responden. Untuk penentuan jumlah desa, Studi EHRA mengikuti panduan pelaksanaan studi EHRA dengan memakai rumus sebagai berikut : Dmiana : X X Ndk = ------------------ 40 : Jumlah Responden yang diambil dalam Skala Kabupaten 40 : Maksimal jumlah responden dalam satu desa target area studi Ndk : Jumlah Desa Target Area Studi
Berarti Jumlah Desa di Kabupaten Padang Lawas Utara yang menjadi Desa Target Area Studi adalah : X 400 Ndk = ------------------ = ---------------- = 10 Desa 40 40 10 Desa di Kabupaten Padang Lawas Utara menjadi Desa Target Area Studi dalam pelaksanaan Studi EHRA. Kegiatan Studi EHRA memerlukan keterlibatan berbagai pihak dan tidak hanya bisa dilaksanakan oleh Pokja Kabupaten/Kota semata. Agar efektif, Pokja Sanitasi Kabupaten/Kota diharapkan bisa mengorganisir pelaksanaan secara menyeluruh. Adapun susunan Tim EHRA sebagai berikut (Lampiran 1) : 1. Penanggung jawab : Kelompok Kerja (POKJA) Sanitasi dan Air Minum Penyehatan Lingkungan (AMPL) Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman (PPSP) Kabupaten Padang Lawas Utara 2. Koordinator Survei : Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Lawas Utara. 3. Anggota : a. Kabid. Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Lawas utara (Koordinator) b. Kabid Kebersihan Dinas Kebakaran Pertamanan dan Kebersihan Kabupaten Padang Lawas utara c. Kabid Tata Ruang dan Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Pertambangan dan Energi Kabupaten Padang Lawas utara d. Kasubbid. Korenbang Perencanaan Wilayah Kabupaten Padang Lawas utara e. Kasi. Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan f. Kasi. Pengolahan dan Pemukiman Kantor Lingkungan Hidup 4. Koordinator Kecamatan : a. Kepala Puskesmas Gunungtua b. Kepala Puskesmas Portibi c. Kepala Puskesmas Pasar Matanggor d. Kepala Puskesmas Aek Godang
e. Kepala Puskesmas Batugana f. Kepala Puskesmas Hutaimbaru g. Kepala Puskesmas Langkimat h. Kepala Puskesmas Sipiongot i. Kepala Puskesmas Simundol 5. Supervisor : a. Sanitarian Puskesmas Gunungtua b. Sanitarian Puskesmas Portibi c. Sanitarian Puskesmas Pasar Matanggor d. Sanitarian Puskesmas Aek Godang e. Sanitarian Puskesmas Batugana f. Sanitarian Puskesmas Hutaimbaru g. Sanitarian Puskesmas Langkimat h. Sanitarian Puskesmas Sipiongot i. Sanitarian Puskesmas Simundol 6. Koordinator Entry data a. Kasubbag Penyusunan Program Dinas Kesehatan b. Kasi. Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan c. Kasie Pendidikan dan Pelatihan Dinas Kesehatan d. Kasi. Wabah dan Bencana e. Kasi. SDM Dinas Kesehatan f. Staf Bidang Yankes Dinas Kesehatan g. Staf Bidang Kesehatan Lingkungan h. Staf Bappeda Kab. Padang Lawas Utara i. Staf Dinas PU dan PE Kab. Padang Lawas Utara 7. Tim Entry Data a. Novita Dwi Kartini b. Nursaidah Harahap c. Samsul Bahri d. Romaito Harahap e. Yassir Khuludi
f. Mardiana Sari Siregar g. Yusniar Harahap h. Nursaida Harahap i. Erni Susanti, SKM 8. Tim Analisis Data : Kelompok Kerja (POKJA) Sanitasi dan Air Minum Penyehatan Lingkungan (AMPL) Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman (PPSP) Kabupaten Padang Lawas Utara 9. Enumerator a. Kader Posyandu Gunungtua b. Bidan Desa Batugana c. Kader Posyandu Hutaimbaru d. Kader Posyandu Aekgodang e. Kader Posyandu Portibi f. Kader Posyandu Pasar Matanggor g. Bidan Desa Simundol h. Bidan Desa Langkimat i. Bidan Desa Sipiongot 2.2 Penentuan Strata Desa/Kelurahan dalam Studi EHRA Desa Area Studi dalam populasi mempunyai karakteristik geografi dan demografi yang sangat variatif (heterogen) agar keanekaragaman karakteristik tersebut bermakna bagi analisa studinya dan agar tidak terambil hanya dari kelompok tertentu saja maka desa area studi dilakukan stratifikasi terlebih dahulu sebelum diambil sampelnya secara random (Stratified Random Sampling). Stratifikasi Desa dimaksudkan untuk mengklasifikan desa sesuai dengan strata/tingkatan resiko kesehatan lingkungan dari faktor geografi dan demografi. Penetapan Strata dilakukan berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Program PPSP sebagai berikut: 1. Kepadatan penduduk yaitu jumlah penduduk per luas wilayah. Pada umumnya tiap kabupaten/ kota telah mempunyai data kepadatan penduduk sampai dengan tingkat kecamatan dan kelurahan/ desa.
2. Angka kemiskinan dengan indikator yang datanya mudah diperoleh tapi cukup representatif menunjukkan kondisi sosial ekonomi setiap kecamatan dan/atau kelurahan/ desa. Sebagai contoh ukuran angka kemiskinan bisa dihitung berdasarkan proporsi jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera 1 dengan formula sebagai berikut: ( Pra-KS + KS-1) Angka kemiskinan = ---------------------------------- X 100% KK 3. Daerah/wilayah yang dialiri sungai/kali/saluran drainase/saluran irigasi dengan potensi digunakan sebagai MCK dan pembuangan sampah oleh masyarakat setempat 4. Daerah terkena banjir dan dinilai mengangggu ketentraman masyarakat dengan parameter ketinggian air, luas daerah banjir/genangan, lamanya surut. Berdasarkan kriteria di atas, strata wilayah Kabupaten Padang Lawas Utara imenghasilkan katagori strata sebagaimana diperlihatkan pada tabel 1. Wilayah (kecamatan atau desa/kelurahan) yang terdapat pada strata tertentu dianggap memiliki karakteristik yang identik/homogen dalam hal tingkat risiko kesehatannya. Dengan demikian, kecamatan/desa/kelurahan yang menjadi area studi pada suatu strata akan mewakili kecamatan/desa/kelurahan lainnya yang bukan merupakan area studi pada strata yang sama. Berdasarkan asumsi ini maka hasil studi EHRA ini bisa memberikan peta area berisiko Kabupaten Padang Lawas Utara. Tabel 2.1. Kategori Strata Berdasarkan Kriteria Indikasi Lingkungan Berisiko Katagori Strata Strata 0 Strata 1 Strata 2 Strata 3 Strata 4 Kriteria Wilayah desa/kelurahan yang tidak memenuhi sama sekali kriteria indikasi lingkungan berisiko. Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 1 kriteria indikasi lingkungan berisiko Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 2 kriteria indikasi lingkungan berisiko Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 3 kriteria indikasi lingkungan berisiko Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 4 kriteria indikasi lingkungan berisiko
Penentuan Strata dilakukan oleh Tim Studi EHRA bersama sama dengan Kepala Puskesmas dan Sanitarian Puskesmas berdasarkan data data yang diberikan oleh Kecamatan. Strata wilayah di Kabupaten Padang Lawas Utara menghasilkan katagori strata sebagaimana dipelihatkan pada tabel 2. Wilayah (kecamatan atau desa/kelurahan) yang terdapat pada strata tertentu dianggap memiliki karakteristik yang identik/homogen dalam hal tingkat risiko kesehatannya. Dengan demikian, kecamatan/desa/kelurahan yang menjadi area studi pada suatu strata akan mewakili kecamatan/desa/kelurahan lainnya yang bukan merupakan area studi pada strata yang sama. Adapun hasil stratifikasi desa di Kabupaten Padang Lawas Utara berdasarkan empat kriteria diatas dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.2. Stratifikasi Desa di Kabupaten Padang Lawas Utara Kecamatan No Desa Kriteria Stratifikasi Strata Padat Miskin DAS Banjir 1.Padang Bolak 1 Pasar Gunung Tua 2 2 Gulangan 2 3 Mompang Ii 2 4 Simaninggir 1 5 Siunggam Julu 1 6 Siunggam Tonga 1 7 Siunggam Jae 2 8 Lubuk Torop 1 9 Batang Pane I 1 10 Batang Pane Ii 2 11 Batang Pane Iii 2 12 Tanjung Marulak 3 13 Ambasang Natigor 3 14 Napagadung Laut 2 15 Rampa Jae 2 16 Rampa Julu 2 17 Mananti 1 18 Paran Padang 1 19 Rahuning Jae 1 20 Botung 1 21 Sigimbal 1 22 Dolok Sae 2 23 Simasi 2 24 Sihapas-Hapas 3 25 Sunge Tolang 2 26 Losung Batu 1 27 Batu Mamak 1
28 Sampuran 1 29 Gunung Tua Baru 2 30 Sibatang Kayu 1 31 Aek Suhat 1 32 Aek Tolang 1 33 Tangga-Tangga 1 Hambeng 34 Aek Bayur 1 35 Bangun Purba 1 36 Naga Saribu 1 37 Sihoda-Hoda 1 38 Gunung Tua Tonga 1 39 Gunung Tua Jae 2 40 Gunung Tua Julu 2 41 Huta Lombang 3 42 Batang Baruhar Julu 3 43 Batang Baruhar Jae 4 44 Purba Sinomba 2 45 Hambiri 2 46 Sosopan 2 47 Pagaran Singkam 2 48 Pagaran Tonga 3 49 Sibagasi 2 50 Batu Tambun 1 51 Tanjung Tiram 2 52 Garoga 1 53 Hajoran 2 54 Batu Sundung 1 55 Garonggang 2 56 Nabongal 1 57 Liang Hasona 1 58 Simandiangin Dolok 2 59 Simandiangin 1 Lombang 60 Padang Garugur 1 61 Simanosor 2 62 Sigama 1 63 Purba Tua 1 64 Sunge Durian 2 65 Sunge Orosan 2 66 Hutaimbaru Ii 2 67 Siombob 1 68 Aek Gambir 1 69 Bukit Raya Sordang 2 70 Sigama Ujung Gading 2
71 Parlimbatan 1 72 Saba Sitahul-Tahul 2 73 Saba Bangunan 2 74 Sidikkat 1 75 Gunung Manaon Ii 2 76 Aek Jangkang 2 77 Simbolon 1 2. Simangambat 1 Simangambat Julu 4 2 Pagaran Tonga 4 3 Langkimat 4 4 Huta Raja 4 5 Mar Laung 4 6 Ujung Batu Jae 4 7 Huta Pasir 4 8 Pasir Lancat 4 9 Manare Tua 4 10 Jambu Tonang 4 11 Mananti 4 12 Huta Baringin 4 13 Tobing Tinggi 4 14 Ujung Batu Julu 4 15 Paya Babung 4 16 Labuhan Jurung 4 17 Martujuan 4 18 Mandasip 4 19 Janji Matogu 4 20 Paran Padang 4 21 Jabi Jabi 4 22 Aek Raru 4 23 Simangambat Jae 4 24 Sigagan 4 25 Ujung Gading Jae 4 26 Ujung Gading Julu 4 27 Tanjung Botung 4 28 Gunung Manaon Sim 4 29 Sionggoton 4 30 Tanjung Maria 4 31 Ulak Tano 4 32 Gunung Manaon Ub 4 33 Huta Baru 4 34 Kosik Putih 4 3. Batang Onang 1 Pasar Matanggor 3 2 Pintu Padang 2 3 Bonan Dolok 1 4 Batang Onang Lama 1
5 Batang Onang Baru 2 6 Simaroona 2 7 Pangkal Dolok Julu 2 8 Pangkal Dolok 2 Lombang 9 Sayur Matinggi Julu 1 10 Purbatua 1 11 Sayur Matinggi 2 12 Padang Matinggi 3 13 Janji Nauli 1 14 Gunungtua Julu 3 15 Padang 3 16 Tamosu 2 17 Pasir Hapung 1 18 Simardona 1 19 Pagaran Tonga 2 20 Janji Manahan 2 21 Morang 2 22 Batu Pulut 2 23 Padang Bujur Baru 1 24 Simaninggir 3 25 Batu Nauli 2 26 Pagaran Batu 1 27 Parau Sorat 1 28 Pasir Ampolu H 1 29 Simangambat Dolok 2 30 Gunung Batang 2 Onang 31 Huta Lombang 2 32 Galanggang 1 4. Portibi 1 Aek Haruaya 2 2 Aek Torop 2 3 Aek Siala 3 4 Aloban 4 5 Bahal 1 6 Bangkudu 1 7 Bara 1 8 Balakka Torop 1 9 Gumarupu Baru 1 10 Gumarupu Lama 3 11 Gunung Martua 1 12 Gunung Baringin 1 13 Gunung Manaon 4 14 Hadungdung 1 15 Hotangsasa 1
16 Janji Matogu 1 17 Lantosan 1 1 18 Mangaledang 1 19 Mangaledang Lama 1 20 Muara Sigama 1 21 Napahalas 1 22 Napalombang 1 23 Padang Manjoir 1 24 Parsarmaan 1 25 Pasir Pinang 4 26 Pijor Koling 1 27 Portibi Jae 2 28 Portibi Julu 1 29 Purbatua Dolok 1 30 Rondaman Dolok 1 31 Rondaman Lombang 1 32 Sigama Napahalas 1 33 Sihambeng 1 34 Simandiangin 1 35 Sipirok 1 36 Sitopayan 1 37 Tanjung Salamat 1 38 Torluk Muara Dolok 1 5. Halongonan 1 Hutaimbaru 3 2 Hambulo 2 3 Paolan 3 4 Pangirkiran 2 5 Balimbing 2 6 Rondaman Siburegar 2 7 Sipaho 2 8 Silantoyung 1 9 Hiteurat 3 10 Siboruangin 2 11 Sandean Jae 1 12 Sandean Julu 1 13 Hasahatan 1 14 Sandean Tonga 1 15 Pagar Gunung 2 16 Pangarambangan 3 17 Napalancat 1 18 Halongonan 1 19 Bargottopong Julu 1 20 Bargottopong Jae 2 21 Siringki Jae 1 22 Siringki Julu 1
23 Ujung Padang 1 24 Sigala Gala 2 25 Pasir Bara 1 26 Gunung Intan 2 27 Mompang I 2 28 Gunung Manaon 1 29 Rondaman 2 30 Sihopuk Lama 1 31 Sihopok Baru 1 32 Siancimun 1 33 Hutanopan 1 34 Hutabaru Nangka 1 35 Situmbaga 1 36 Bolatan 1 37 Sipenggeng 1 38 Saba 1 39 Sitabola 1 40 Sitonun 1 41 Tapus Jae 1 42 Japinulik 1 43 Paran Honas 1 44 Batu Tunggal 1 6. Dolok 1 Sipiongot 4 2 Pasar Sipiongot 4 3 Baturunding 2 4 Parmeraan 4 5 Sibayo Jae 2 6 Aek Ilung 4 7 Pijor Koling 4 8 Bukkitinggi 2 9 Dalihan Natolu 4 10 Sinabongan 2 11 Pp Merdeka 2 12 Tanjung Longat 2 13 Sijantung Jae 4 14 Parigi 4 15 Sijantung Julu 2 16 Sungai Datar 4 17 Situmbaga 2 18 Aek Rao Tn 2 19 Binanga Panasahan 2 20 Singanyal 4 21 Baringin Sil 2 22 Simatorkis 2 23 Bahap 2
24 Silangge 2 25 Sijara Jara 2 26 Bintais Julu 2 27 Janji Manahan Sil 4 28 Hutabaru Sil 2 29 Bunut 2 30 Hutabaru Sip 2 31 Purbatu 1 32 Tarutung Bolak 2 33 Lubuk Godang 2 34 Tanjung Baru B 2 35 Siburbur 2 36 Siraga HP 2 37 Janjimahan Gul 4 38 Gunung Salamat 2 39 Sibayo 2 40 Rancaran 2 41 Hutaimbaru Gul 2 42 Gumaruntar 2 43 Rongkare 4 44 Arse 4 45 Simangambat Tua 2 46 Janji Matogu 2 47 Aek Sundur 2 48 Sigala Gala 2 49 Lubuk Lanjang 4 50 Lubuk Kundur 4 51 Simataniari Jae 4 52 Simaninggir SIP 2 53 Pagaran Julu 1 2 54 Simanosor 4 55 Simataniari 4 56 Silogo Logo 2 57 Pagaran Siregar 2 58 Gumbot 2 59 Nabonggal 4 60 Aek Haruaya 2 61 Binanga Gumbot 2 62 Aek Suhat Tr 4 63 Aek Suhat Jae 2 64 Huala Baringin 1 65 Nagasaribu 2 66 Dolok Sanggul 2 67 Sialang Dolok 2 68 Pagaran Julu Ii 2
69 Siranap 2 70 Gunung Maria 2 71 Jambur Batu 2 72 Mompang Dolok 2 73 Mompang Lombang 2 74 Bandar Nauli 2 75 Panca 2 76 Sungai Pining 2 77 Paya Ombik 2 78 Sibiobio 2 79 Napa Sundali 2 80 Aek Tangga 2 81 Sijorang 2 82 Baringin SIP 2 83 Siloung 2 84 Simambal 2 85 Sialagundi 2 86 Siguga 2 7. Dolok Sigompulon 1 Aek Jabut 1 2 Nabundong 1 3 Gunung Sormin 2 4 Pasang Lela 1 5 Nahula Jae 2 6 Hatiran 1 7 Padang Matinggi 1 8 Aek Kanan 1 9 Hutaimbaru 3 10 Karang Anyer 1 11 Aek Kundur 3 12 Pulo Iman 2 13 Pasar Simundol 3 14 Padang Malaka 1 15 Tb.Silaiya 4 16 Kuala Simpang 2 17 Sitonun 1 18 Simaninggir 2 19 Nahula Julu 2 20 Sigordang 1 21 Gunting Bange 1 22 Aek Simanat 3 23 Simundol Kampung 1 24 Simangambat 2 25 Malino 3 26 Saba Bangunan 3 27 Salusuhan 3
8. Padang Bolak Julu 28 Panyabungan 1 29 Gadung Holbung 1 30 Pamarae 1 31 Batu Hibul 1 32 Psr Sayur Matinggi 1 33 Sayur Matinggi 1 34 Pdg Matinggi Gut 1 35 Pamonoran 1 36 Hasahatan 1 37 Pinarik 2 38 Sipogas A 3 39 Sipogas B 1 40 Janji Manahan 1 41 Sunut 1 42 Simadion 1 43 Sihalo Halo 1 44 Unte Manis 2 1 Aek Bargot 1 2 Balimbing Jae 1 3 Balimbing Julu 1 4 Batugana 4 5 Batu Rancang 1 6 Balakka 1 7 Gariang 1 8 Hasambi 1 9 Lantosan Ii 1 10 Padang Baruas 1 11 Padang Bujur 1 12 Pancur Pakko 1 13 Pamuntaran 1 14 Paran Gadung 1 15 Paran Nangka 1 16 Parupuk Jae 1 17 Parupuk Julu 1 18 Sialang 1 19 Sipupus 1 20 Siunggam Dolok 1 21 Sitanggoru 1 22 Sobar 1 23 Ubar 1 9. Hulu SIhapas 1 Aek Godang 3 2 Aek Nauli 3 3 Simarluting 2 4 Pongirkiran 2
5 Simaninggir 2 6 Pintu Bosi 2 7 Suka Dame 2 8 Sidondong 2 9 Sitabar 2 10 Parmeraan 2 Kecamatan No Desa Stratifikasi Desa 1.Padang Bolak 1 Simaninggir 1 2 Siunggam Julu 1 3 Siunggam Tonga 1 4 Lubuk Torop 1 5 Batang Pane I 1 6 Mananti 1 7 Paran Padang 1 8 Rahuning Jae 1 9 Botung 1 10 Sigimbal 1 11 Losung Batu 1 12 Batu Mamak 1 13 Sampuran 1 14 Sibatang Kayu 1 15 Aek Suhat 1 16 Aek Tolang 1 17 Tangga-Tangga Hambeng 1 18 Aek Bayur 1 19 Bangun Purba 1 20 Naga Saribu 1 21 Sihoda-Hoda 1 22 Gunung Tua Tonga 1 23 Batu Tambun 1 24 Garoga 1 25 Batu Sundung 1 26 Nabongal 1 27 Liang Hasona 1 28 Simandiangin Lombang 1 29 Padang Garugur 1 30 Siombob 1 31 Aek Gambir 1 32 Sigama 1 33 Purba Tua 1 34 Parlimbatan 1 35 Sidikkat 1 36 Simbolon 1
2. Batang Onang 37 Bonan Dolok 1 38 Batang Onang Lama 1 39 Sayur Matinggi Julu 1 40 Purbatua 1 41 Janji Nauli 1 42 Pasir Hapung 1 43 Simardona 1 44 Padang Bujur Baru 1 45 Pagaran Batu 1 46 Parau Sorat 1 47 Pasir Ampolu H 1 48 Galanggang 1 3. Portibi 49 Bahal 1 50 Bangkudu 1 51 Bara 1 52 Balakka Torop 1 53 Gumarupu Baru 1 54 Gunung Martua 1 55 Gunung Baringin 1 56 Hadungdung 1 57 Hotangsasa 1 58 Janji Matogu 1 59 Lantosan 1 1 60 Mangaledang 1 61 Janji Nauli 1 62 Mangaledang Lama 1 63 Muara Sigama 1 64 Napahalas 1 65 Napalombang 1 66 Padang Manjoir 1 67 Parsarmaan 1 68 Portibi Julu 1 69 Purbatua Dolok 1 70 Rondaman Dolok 1 71 Rondaman Lombang 1 72 Sigama Napahalas 1 73 Sihambeng 1 74 Simandiangin 1 75 Sipirok 1 76 Sitopayan 1 77 Tanjung Salamat 1 78 Torluk Muara Dolok 1 4.Halongonan 79 Silantoyung 1 80 Sandean Jae 1 81 Sandean Julu 1
82 Hasahatan 1 83 Sandean Tonga 1 84 Napalancat 1 85 Halongonan 1 86 Bargottopong Julu 1 87 Siringki Jae 1 88 Siringki Julu 1 89 Ujung Padang 1 90 Pasir Bara 1 91 Gunung Manaon 1 92 Sihopuk Lama 1 93 Sihopok Baru 1 94 Siancimun 1 95 Hutanopan 1 96 Hutabaru Nangka 1 97 Situmbaga 1 98 Bolatan 1 99 Sipenggeng 1 100 Saba 1 101 Sitabola 1 102 Sitonun 1 103 Tapus Jae 1 104 Japinulik 1 105 Paran Honas 1 106 Batu Tunggal 1 5.Dolok 107 Purbatu 1 108 Huala Baringin 1 6.Dolok Singompulon 109 Aek Jabut 1 110 Nabundong 1 111 Pasang Lela 1 112 Hatiran 1 113 Padang Matinggi 1 114 Aek Kanan 1 115 Karang Anyer 1 116 Padang Malaka 1 117 Sitonun 1 118 Sigordang 1 119 Gunting Bange 1 120 Simondul Kampung 1 121 Panyabungan 1 122 Gadung Holbung 1 123 Pamarae 1 124 Batu Hibul 1 125 Psr Sayur Matinggi 1 126 Sayur Matinggi 1
127 Pdg Matinggi Got 1 128 Pamonoran 1 129 Hasahatan 1 130 Sipogas B 1 131 Janji Manahan 1 132 Sunut 1 133 Simadion 1 134 Sihalo Halo 1 7.Padang Bolak Julu 135 Aek Bargot 1 136 Balimbing Jae 1 137 Balimbing Julu 1 138 Batu Rancang 1 139 Balakka 1 140 Gariang 1 141 Hasambi 1 142 Lantosan Ii 1 143 Padang Baruas 1 144 Padang Bujur 1 145 Pancur Pakko 1 146 Pamuntaran 1 147 Paran Gadung 1 148 Paran Nangka 1 149 Parupuk Jae 1 150 Parupuk Julu 1 151 Sialang 1 152 Sipupus 1 153 Siunggam Dolok 1 154 Sitanggoru 1 155 Sobar 1 156 Ubar 1 1. Padang Bolak 1 Pasar Gunung Tua 2 2 Gulangan 2 3 Mompang Ii 2 4 Gunung Tua Baru 2 5 Gunung Manaon Ii 2 6 Aek Jangkang 2 7 Hajoran 2 8 Purba Sinomba 2 9 Hambiri 2 10 Sosopan 2 11 Pagaran Singkam 2 12 Garonggang 2 13 Simandiangin Dolok 2 14 Simanosor 2 15 Sunge Durian 2
16 Sunge Orosan 2 17 Hutaimbaru Ii 2 18 Bukit Raya Sordang 2 19 Sigama Ujung Gading 2 20 Saba Sitahul-Tahul 2 21 Saba Bangunan 2 22 Siunggam Jae 2 23 Batang Pane Ii 2 24 Batang Pane Iii 2 25 Napagadung Laut 2 26 Rampa Jae 2 27 Rampa Julu 2 28 Dolok Sae 2 29 Simasi 2 30 Sunge Tolang 2 31 Gunung Tua Jae 2 32 Gunung Tua Julu 2 33 2 34 2 2. Batang Onang 35 Pintu Padang 2 36 Batang Onang Baru 2 37 Simaroona 2 38 Pangkal Dolok Julu 2 39 Pangkal Dolok Lombang 2 40 Sayur Matinggi 2 41 Tamosu 2 42 Pagaran Tonga 2 43 Janji Manahan 2 44 Morang 2 45 Batu Pulut 2 46 Batu Nauli 2 47 Simangambat Dolok 2 48 Gunung Batang Onang 2 49 Huta Lombang 2 3. Portib 50 Aek Haruaya 2 51 Aek Torop 2 52 Portibi Jae 2 4. Halongonan 53 Hambulo 2 54 Pangirkiran 2 55 Balimbing 2 56 Rondaman Siburegar 2 57 Sipaho 2 58 Siboruangin 2 59 Pagar Gunung 2 60 Bargottopong Jae 2
61 Sigala Gala 2 62 Gunung Intan 2 63 Mompang I 2 64 Rondaman 2 5. Dolok 65 Baturunding 2 66 Sibayo Jae 2 67 Bukittinggi 2 68 Sinabongan 2 69 Pp Merdeka 2 70 Tanjung Longat 2 71 Sijantung Julu 2 72 Situmbaga 2 73 Aek Rao Tn 2 74 Binanga Panasahan 2 75 Baringin Sil 2 76 Simatorkis 2 77 Bahap 2 78 Silangge 2 79 Sijara Jara 2 80 Bintais Julu 2 81 Hutabaru Sil 2 82 Bunut 2 83 Hutabaru Sip 2 84 Tarutung Bolak 2 85 Lubuk Godang 2 86 Tanjung Baru B 2 87 Siburbur 2 88 Siraga HP 2 89 Gunung Salamat 2 90 Sibayo 2 91 Rancaran 2 92 Hutaimbaru Gul 2 93 Gumaruntar 2 94 Simangambat Tua 2 95 Janji Matogu 2 96 Aek Sundur 2 97 Sigala Gala 2 98 Simaninggir SIP 2 99 Pagaran Julu 1 2 100 Silogo Logo 2 101 Pagaran Siregar 2 102 Gumbot 2 103 Aek Haruaya 2 104 Binanga Gumbot 2 105 Aek Suhat Jar 2
106 Nagasaribu 2 107 Dolok Sanggul 2 108 Sialang Dolok 2 109 Pagaran Julu Ii 2 110 Siranap 2 111 Gunung Maria 2 112 Jambur Batu 2 113 Mompang Dolok 2 114 Mompang Lombang 2 115 Bandar Nauli 2 116 Panca 2 117 Sungai Pining 2 118 Paya Ombik 2 119 Sibiobio 2 120 Napa Sundali 2 121 Aek Tangga 2 122 Sijorang 2 123 Baringin SIP 2 124 Siloung 2 125 Simambal 2 126 Sialagundi 2 127 Siguga 2 6. Dolok Singompulon 128 Gunung Sormin 2 129 Nahula Jae 2 130 Pulo Iman 2 131 Kuala Simpang 2 132 Simaninggir 2 133 Nahula Julu 2 134 Simangambat 2 135 Pinarik 2 136 Unte Manis 2 7. Hulu Sihapas 137 Simarluting 2 138 Pongirkiran 2 139 Simaninggir 2 140 Pintu Bosi 2 141 Suka Dame 2 142 Sidondong 2 143 Sitabar 2 144 Parmeraan 2 1. Padang Bolak 1 Tanjung Marulak 3 2 Ambasang Natigor 3 3 Sihapas-Hapas 3 4 Huta Lombang 3 5 Batang Baruhar Julu 3 6 Pagaran Tonga 3
2. Batang Onang 7 Pasar Matanggor 3 8 Padang Matinggi 3 9 Gunungtua Julu 3 10 Padang 3 11 Simaninggir 3 3. Portibi 12 Aek Siala 3 13 Gumarupu Lama 3 4. Halongonan 14 Hutaimbaru 3 15 Paolan 3 16 Hiteurat 3 17 Pangarambangan 3 5. Dolok Singompulon 18 Hutaimbaru 3 19 Aek Kundur 3 20 Pasar Simundol 3 21 Aek Simanat 3 22 Malino 3 23 Saba Bangunan 3 24 Salusuhan 3 25 Sipogas A 3 6. Hulu Sihapas 26 Aek Godang 3 27 Aek Nauli 3 1. Padang Bolak 1 Batang Baruhar Jae 4 2. Simangambat 2 Simangambat Julu 4 3 Pagaran Tonga 4 4 Langkimat 4 5 Huta Raja 4 6 Mar Laung 4 7 Ujung Batu Jae 4 8 Huta Pasir 4 9 Pasir Lancat 4 10 Manare Tua 4 11 Jambu Tonang 4 12 Mananti 4 13 Huta Baringin 4 14 Tobing Tinggi 4 15 Ujung Batu Julu 4 16 Paya Babung 4 17 Labuhan Jurung 4 18 Martujuan 4 19 Mandasip 4 20 Janji Matogu 4 21 Paran Padang 4 22 Jabi Jabi 4 23 Aek Raru 4 24 Simangambat Jae 4
25 Sigagan 4 26 Ujung Gading Jae 4 27 Ujung Gading Julu 4 28 Tanjung Botung 4 29 Gunung Manaon Sim 4 30 Sionggoton 4 31 Tanjung Maria 4 32 Ulak Tano 4 33 Gunung Manaon Ub 4 34 Huta Baru 4 35 Kosik Putih 4 3. Portibi 36 Aloban 4 37 Gunung Manaon 4 38 Pasir Pinang 4 4. Dolok 39 Sipiongot 4 40 Pasar Sipiongot 4 41 Parmeraan 4 42 Aek Ilung 4 43 Pijor Koling 4 44 Dalihan Nantulo 4 45 Sijantung Jae 4 46 Parigi 4 47 Sungai Datar 4 48 Singayal 4 49 Rongkare 4 50 Arse 4 51 Janji Manahan Sil 4 52 Janji Manahan Gul 4 53 Lubuk Lanjang 4 54 Lubuk Kundur 4 55 Simataniari Jae 4 56 Simataniari 4 57 Aek Suhat Tr 4 58 Nabonggal 4 59 Simanosor 4 5. Dolok Singompulon 60 Tb.Silaiya 4 6. Padang Bolak Julu 61 Batugana 4 2.3 Penentuan Jumlah Desa/Kelurahan Target Area Studi Proses pemilihan desa sebagai target area studi, pada dasarnya dilakukan dengan teknik random atau acak dimana semua desa/kelurahan mempunyai peluang yang sama untuk dijadikan desa target area studi EHRA. Setelah mendapatkan jumlah desa target area studi dengan memakai rumus diatas sebanyak 10 desa maka selanjutnya
ditentukan lokasi studi EHRA secara random. Perhitungan jumlah desa target area studi tiap strata sesuai proporsi desa/kelurahan dengan komposisi strata desa/kelurahan hasil stratifikasi diatas sebagai berikut : Tabel 2.4 Penentuan Jumlah Desa Target Area Studi Berdasar Jumlah Responden yang Diambil Sebagai Sampel Strata Jumlah & Persentase Desa Tiap Strata Jumlah Desa yang diambil sebagai Desa Target Area Studi Jumlah % Jumlah % Strata 1 156 40 4 40 Strata 2 144 37 4 37 Strata 3 27 7 1 7 Strata 4 61 16 1 16 Jumlah 388 100 10 100 Hasil Strata desa/kelurahan di Kabupaten Padang Lawas Utara yang terdiri atas 10 desa/ kelurahan menghasilkan distribusi sebagai berikut: 1) Strata 1 sebanyak 4 desa (40,2 %) 2) Strata 2 sebanyak 4 desa (37,1 %) 3) Strata 3 sebanyak 1 desa (7%) 4) Strata 4 sebanyak 1 desa (15,7%). Untuk lebih jelasnya distribusi desa kedalam strata tersebut dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Grafik 2.1. Distribusi Strata desa/kelurahan untuk penetapan lokasi studi EHRA 2.4. Penentuan RT dan Responden di Area Studi Unit sampling primer (PSU = Primary Sampling Unit) dalam EHRA adalah RT. Karena itu, data RT per RW per kelurahan harus dikumpulkan sebelum memilih RT. Adapun tahapan penentuan RT terpilih, sebagai berikut. Mengurutkan RT per RW per kelurahan. Menentukan Angka Interval (AI). Untuk menentukan AI, perlu diketahui jumlah total RT total dan jumlah yang akan diambil. Jumlah total RT kelurahan : X. Jumlah RT yang akan diambil : Y Maka angka interval (AI) = jumlah total RT kelurahan / jumlah RT yang diambil. AI = X/Y (dibulatkan) misal pembulatan ke atas menghasilkan Z, maka AI = Z Untuk menentukan RT pertama, maka dilakukan secara kocokan atau mengambil secara acak angka antara 1 Z (angka random). Sebagai contoh, angka random (R#1) yang diperoleh adalah 3. Untuk memilih RT berikutnya adalah 3 + Z=... dst. Rumah tangga/responden dipilih dengan menggunakan cara acak (random sampling), hal ini bertujuan agar seluruh rumah tangga memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Artinya, penentuan rumah itu bukan bersumber dari preferensi enumerator/supervisor ataupun responden itu sendiri. Tahapannya adalah sbb. Pergi ke RT terpilih. Minta daftar rumah tangga atau bila tidak tersedia, buat daftar rumah tangga berdasarkan pengamatan keliling dan wawancara dengan penduduk langsung. Bagi jumlah rumah tangga (misal 25) dengan jumlah sampel minimal yang akan diambil, misal 5 (lima) diperoleh Angka Interval (AI) = 25/5 = 5 Ambil/kocok angka secara random antara 1 AI untuk menentukan Angka Mulai (AM), contoh dibawah misal angka mulai 2 Menentukan rumah selanjutnya adalah 2 + AI, 2 + 5 = 7 dst.
2.5. Karakteristik Enumertor dan Supervisor serta Wilayah Tugasnya Secara penuh pengumpulan data pada studi EHRA dilakukan oleh Enumerator yang bertanggungjawab untuk tiap desa/kelurahan area studi. Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi yang hasilnya ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu: pewawancara/enumerator, responden, materi pertanyaan (kuesioner/daftar pertanyaan) dan situasi pada saat wawancara. Agar hasil wawancara mempunyai mutu yang baik, pewawancara harus menyampaikan pertanyaan kepada responden dengan baik dan jelas. Kalau perlu pewawancara harus menggali lebih lanjut jawaban responden yang belum jelas (probing) sehingga responden mau menjawab dengan jujur. Pewawancara hanya boleh secara berulang-ulang membacakan pertanyaan yang persis sama dan tidak boleh sedikitpun diubah oleh pewawancara. Perbedaan karakteristik pewawancara dengan responden sering juga sangat mempengaruhi hasil wawancara. Seorang pewawancara dari tingkat sosial tinggi harus dapat menyesuaikan diri dengan responden yang mempunyai tingkat sosial rendah, sehingga kecanggungan dalam pelaksanaan wawancara akan mengakibatkan responden enggan memberikan informasi/fakta yang sebenarnya Materi pertanyaan yang disampaikan dalam wawancara dapat juga mempengaruhi hasil wawancara. Pertanyaan yang peka/sensitif sering menyebabkan responden merasa enggan untuk menjawab, sehingga kemungkinan jawaban bukan fakta yang sebenarnya. Oleh karena itu sebaiknya pertanyaan yang peka/sensitif dihindari atau bila tetap ada, maka dapat ditanyakan pada akhir wawancara. Situasi atau lingkungan wawancara seperti waktu, tempat, keberadaan orang ketiga dan sikap masyarakat setempat terhadap pelaksanaan studi dapat juga mempengaruhi hasil wawancara. Dengan demikian keterampilan dan kemampuan pewawancara untuk beradaptasi dengan responden dan lingkungan menjadi kunci dalam keberhasilan wawancara dan validitas data. Pemilihan supervisor dan enumerator untuk pelaksanaan Studi EHRA sepenuhnya merupakan kewenangan Tim Studi EHRA. 2.5.1. Enumerator Enumerator yang melakukan wawancara dan observasi di 10 desa studi EHRA Kabupaten Padang Lawas berjumlah 9 orang, dimana mereka adalah kader - kader aktif
di masing-masing Desa/Kelurahan (Kader PKK, Posyandu dan Kader Desa Siaga) yang menjadi lokasi survey dengan latar belakang pendidikan minimal setingkat SLTP. Pemilihan kader yang disesuaikan dengan lokasi area survey diharapkan enumerator bisa lebih paham mengenai karakteristik target survey. 2.5.2. Supervisor Supervisor wilayah di 10 desa studi EHRA berjumlah 10 orang mewakili dari 9 puskesmas yang membawahi 10 desa studi EHRA tersebut. Semua supervisor adalah sanitarian atau pengelola program kesehatan lingkungan di puskesmas. Tugas utama Supervisor Studi EHRA selama pelaksanaan studi adalah: a. Menjamin proses pelaksanaan studi sesuai dengan kaidah dan metoda pelaksanaan Studi EHRA yang telah ditentukan b. Menjalankan arahan dari koordinator kecamatan dan Pokja Kabupaten/Kota c. Mengkoordinasikan pekerjaan enumerator d. Memonitor pelaksanaan studi EHRA di lapangan e. Melakukan pengecekan/ pemeriksaan hasil pengisian kuesioner oleh Enumerator f. Melakukan spot check sejumlah 5% dari total responden g. Membuat laporan harian dan rekap harian untuk disampaikan kepada Koordinator kecamatan 2.6. Analisis Data Kuesioner yang sudah diisi sebanyak 400 dari hasil wawancara enumerator terhadap responden di entri datanya menggunakan software EHRA kemudian di gabung data seluruh responden dengan cara merubah bentuk data dari epiinfo ke bentuk SPSS (menggunakan software Statransfer.7) untuk analisis data dengan ekstensi*sav). Kemudian dilakukan analisis data dengan software SPSS (syntax) melalui proses cleaning data, proses analisis dan penghitungan Indeks Risiko Sanitasi (IRS) yang keluarannya dalam bentuk tabel dan grafik, dengan maksud agar data EHRA dapat digunakan sebagai informasi yang dapat dimanfaatkan dalam Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman Kabupaten Padang Lawas Utara.
BAB III HASIL STUDI EHRA 3.1. Informasi Responden Pelaksanaan Studi EHRA di Kabupaten Padang Lawas Utara Tahun 2014 dilaksanakan pada 9 Kecamatan dari 10 Desa yang ada di 9 Kecamatan.. Responden pada Studi EHRA ini adalah ibu atau anak perempuan yang sudah menikah dan berumur antara 18 s/d 60 Tahun. Adapun jumlah responden yang dijadikan sebagai sampel dalam pelaksanaan studi EHRA berjumlah sebanyak 400 responden, yang terdapat dalam 9 (Sembilan) kecamatan se Kabupaten Padang Lawas Utara. Untuk mengetahui informasi terhadap seluruh reponden yang dilakukan pada pelaksanaan studi dibagi dalam beberapa kriteria, seperti kelompok umur, status rumah yang ditempati, pendidikan terakhir responden, layanan kesehatan yang dimiliki serta apakah responden mempunayi anak. Berdasarkan hasil studi EHRA yang telah dilakukan, diperoleh hasil informasi Responden dengan variabel variabel sebagai berikut : Kelompok Umur Responden terbanyak pada kisaran umur antara 26-30 tahun sebesar 86 responden (21,7%). Status dari Rumah yang ditempati Responden terbanyak adalah milik sendiri sebanyak 336 responden (84%). Untuk pendidikan terakhir responden sebagai berikut pendidikan SD sebanyak 101 responden (25,3%), SMP sebanyak 97 orang (24,3%), SMA sebanyak 135 orang (33,8%). Untuk kepemilikan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari kelurahan hanya 21% atau sebanyak 84 responden. Responden yang memiliki jaminan terhadap pelayanan kesehatan sangat sedikit hanya berkisar 22,8% atau 91 responden dari 400 responden. Rata rata responden pada studi EHRA mempunyai anak. Informasi lebih detail tentang responden yang dipilih secara acak atau random sampling pada tingkatan unit terkecil (Rukun Tetangga) disetiap Kelurahan/desa pada masing-masing kecamatan di Kabupaten Padang Lawas Utara dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1. Informasi Responden Studi EHRA di Kabupaten Padang Lawas Utara Tahun 2014 Strata Desa/Kelurahan 1 2 3 4 n 10 n % n % n % N % % Kode Kecamatan 1 0.0 0.0 10 25.0 0.0 10 2.5 Kode Kelurahan/Desa A8. Hubungan Responden dengan Kepala Keluarga Total 2 0.0 80 57.1 30 75.0 0.0 110 27.5 3 20 10.5 0.0 0.0 0.0 20 5.0 4 20 10.5 20 14.3 0.0 20 66.7 60 15.0 5 40 21.1 0.0 0.0 0.0 40 10.0 6 40 21.1 0.0 0.0 0.0 40 10.0 7 40 21.1 0.0 0.0 0.0 40 10.0 8 30 15.8 0.0 0.0 10 33.3 40 10.0 9 0.0 40 28.6 0.0 0.0 40 10.0 41 40 21.1 0.0 0.0 0.0 40 10.0 58 40 21.1 0.0 0.0 0.0 40 10.0 85 40 21.1 0.0 0.0 0.0 40 10.0 151 40 21.1 0.0 0.0 0.0 40 10.0 157 0.0 20 14.3 0.0 20 66.7 40 10.0 221 0.0 40 28.6 0.0 0.0 40 10.0 250 0.0 40 28.6 0.0 0.0 40 10.0 296 0.0 40 28.6 0.0 0.0 40 10.0 320 0.0 0.0 40 100.0 0.0 40 10.0 347 30 15.8 0.0 0.0 10 33.3 40 10.0 Istri 188 98.9 140 100.0 40 100.0 29 96.7 397 99.3 Anak perempuan yg sudah menikah 2 1.1 0.0 0.0 1 3.3 3.8 Strata Desa/Kelurahan 1 2 3 4 Variabel Kategori n % n % n % n % Kelompok Umur Responden Total n % <= 20 tahun 4 2.1 0.0 1 2.5 1 3.3 6 1.5 21-25 tahun 18 9.5 11 8.0 6 15.0 3 10.0 38 9.6 26-30 tahun 42 22.2 32 23.2 4 10.0 8 26.7 86 21.7 31-35 tahun 33 17.5 31 22.5 10 25.0 5 16.7 79 19.9
36-40 tahun 24 12.7 22 15.9 7 17.5 5 16.7 58 14.6 41-45 tahun 26 13.8 16 11.6 4 10.0 3 10.0 49 12.3 B2. Apa status dari rumah yang anda tempati saat ini? > 45 tahun 42 22.2 26 18.8 8 20.0 5 16.7 81 20.4 Milik sendiri 157 82.6 118 84.3 32 80.0 29 96.7 336 84.0 Rumah dinas 2 1.1 1.7 2 5.0 0.0 5 1.3 Berbagi dengan keluarga lain 1.5 1.7 0.0 0.0 2.5 Sewa 12 6.3 1.7 0.0 0.0 13 3.3 Kontrak 1.5 2 1.4 3 7.5 0.0 6 1.5 B3. Apa pendidikan terakhir anda? Milik orang tua 16 8.4 17 12.1 3 7.5 1 3.3 37 9.3 Lainnya 1.5 0.0 0.0 0.0 1.3 Tidak sekolah formal 6 3.2 1.7 0.0 3 10.0 10 2.5 SD 52 27.4 29 20.7 10 25.0 10 33.3 101 25.3 SMP 52 27.4 26 18.6 14 35.0 5 16.7 97 24.3 SMA 62 32.6 58 41.4 7 17.5 8 26.7 135 33.8 SMK 3 1.6 7 5.0 0.0 0.0 10 2.5 Universitas/Akademi 15 7.9 19 13.6 9 22.5 4 13.3 47 11.8 B4. Apakah ibu mempunyai Surat Ya 48 25.3 19 13.6 4 10.0 13 43.3 84 21.0 Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari Tidak 142 74.7 121 86.4 36 90.0 17 56.7 316 79.0 desa/kelurahan? B5. Apakah ibu mempunyai Kartu Ya 49 25.8 28 20.0 7 17.5 7 23.3 91 22.8 Asuransi Kesehatan bagi Keluarga Miskin (ASKESKIN)? Tidak 141 74.2 112 80.0 33 82.5 23 76.7 309 77.3 B6. Apakah ibu Ya 179 94.2 129 92.1 40 100.0 27 90.0 375 93.8 mempunyai anak? Tidak 11 5.8 11 7.9 0.0 3 10.0 25 6.3 Sumber : Hasil olahan EHRA 2014 3.2. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Tujuan dari pengelolaan sampah rumah tangga menurut UU No. 18 Tahun 2008 adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah rumah tangga. Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumberdaya. Dari sudut pandang kesehatan lingkungan, pengelolaan sampah dipandang baik jika sampah tersebut tidak menjadi media berkembang biaknya
bibit penyakit serta sampah tersebut tidak menjadi medium perantara menyebarluasnya suatu penyakit. Syarat lainnya yang harus dipenuhi, yaitu tidak mencemari udara, air dan tanah, tidak menimbulkan bau (tidak mengganggu nilai estetis), tidak menimbulkan kebakaran dan yang lainnya Studi EHRA mempelajari sejumlah aspek terkait dengan masalah penanganan sampah, yakni : 1) Kondisi sampah disekitar lingkungan rumah tangga, 2) Cara pembuangan sampah yang utama, 3) Praktik pemilahan/pemisahan sampah, dan 4) Pengangkutan sampah bagi rumah tangga yang menerima layanan pengangkutan sampah. Dari sisi layanan pengangkutan, EHRA melihat aspek frekuensi atau kekerapan ketepatan waktu dalam pengangkutan. Meskipun sebuah rumah tangga menerima pelayanan, resiko kesehatan tetap tinggi bila frekuensi pengangkutan sampah terjadi lama dari satu minggu sekali. Sementara, ketepatan pengangkutan digunakan untuk menggambarkan seberapa konsisten ketetapan/kesepakatan tentang frekuensi pengangkutan sampah yang berlaku. Di banyak kota di lndonesia, penanganan sampah merupakan masalah yang memprihatinkan. Dalam banyak kasus, beban sampah yang diproduksi rumah tangga ternyata tidak bisa ditangani oleh sistem persampahan yang ada. Untuk mengurangi beban di tingkat kota, banyak pihak mulai melihat pentingnya pengelolaan di tingkat rumah tangga, yakni dengan pemilahan sampah dan pemanfaatan atau penggunaan ulang sampah, misalnya sebagai bahan untuk kompos. Untuk pengelolaan sampah berdasarkan hasil survey EHRA pada skala kabupaten, dapat dilihat pada tabel 3.2 dan Gambar 3.1. Tabel 3.2. Area Berisiko Persampahan Berdasarkan Hasil Studi EHRA Strata Desa/Kelurahan Total
Variabel Kategori 1 2 3 4 10 Pengelolaan sampah Pengolahan sampah setempat n % n % n % n % n % Tidak 189 100.0 137 99.3 40 100.0 30 100.0 396 99.7 memadai Ya, memadai 0.0 1.7 0.0 0.0 1.3 Tidak 148 77.9 94 67.1 35 87.5 30 100.0 307 76.8 diolah Ya, diolah 42 22.1 46 32.9 5 12.5 0.0 93 23.3 Berdasarkan tabel 3.2 di atas, diketahui 99,7 % pengelolaan sampah di Kabupaten Padang Lawas Utara tidak memadai dan pengolahan sampah setempat tidak diolah sebesar 76,8%. Pada gambar 3.1 dibawah, pengelolaan sampah di Kabupaten Padang Lawas Utara yang paling banyak adalah dibakar sebesar 80,9%, 9,3 % dibuang ke lahan kosong/kebun/hutan, dikumpulkan dan dibuang ke TPS sebesar 0,3 %, dan lain lain 0,8 %. Dari hasil Survey di atas sangat jelas bahwa pengelolaan sampah oleh masyarakat di Kabupaten Padang Lawas Utara yang paling tinggi persentasenya adalah dengan cara di bakar sehingga ini yang harus menjadi perhatian pemerintah Daerah untuk meningkatkan cakupan layanan sampah.
Gambar 3.1. Grafik Pengelolaan Sampah
Gambar 3.2. Grafik Perilaku Praktik Pemilihan Sampah oleh Rumah Tangga Berdasarkan hasil survey EHRA Persentase praktek pemilahan sampah oleh rumah tangga di Kabupaten Padang Lawas Utara sebanyak 100 % masyarakat tidak memilah sampahnya. Hal ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran dan minat Masyarakat dalam memilah sampah. 3.3. Pembuangan Air Kotor/Limbah Tinja Manusia dan Lumpur Tinja Kebiasaan Buang Air Besar (BAB) dapat menjadi salah satu faktor resiko tercemarnya lingkungan termasuk sumber air, khususnya bila praktik BAB itu dilakukan di tempat yang tidak memadai. Tempat yang tidak memadai bukan hanya tempat BAB di ruang terbuka saja seperti di sungai pantai/laut/kebun/pekarangan/selokan/parit/got, tetapi termasuk sarana jamban yang mungkin dianggap nyaman di rumah namun sarana penampungan dan pengolahan tinjanya yang tidak kedap air dan berjarak terlalu dekat dengan sumber air minum. Berikut grafik persentase keluarga yang memiliki jamban.
Tabel 3.3. Area Berisiko Air Limbah Domestik Berdasarkan Hasil Studi EHRA Variabel Tangki septik suspek aman Pencemaran karena pembuangan isi tangki septik Pencemaran karena SPAL Kategori Strata Desa/Kelurahan 1 2 3 4 n % n % N % n % Total n % Tidak 85 44.7 48 34.3 14 35.0 9 30.0 156 39.0 aman Suspek aman 105 55.3 92 65.7 26 65.0 21 70.0 244 61.0 Tidak, 40 95.2 34 97.1 1 100.0 3 100.0 78 96.3 aman Ya, aman 2 4.8 1 2.9 0.0 0.0 3 3.7 Tidak 51 26.8 55 39.3 17 42.5 7 23.3 130 32.5 aman Ya, aman 139 73.2 85 60.7 23 57.5 23 76.7 270 67.5 Gambar 3.3. Grafik Persentase Tempat Buang Air Besar Berdasarkan hasil studi EHRA, masyarakat di Kabupaten Padang Lawas Utara yang memiliki jamban pribadi, yaitu sebanyak 73,8%. Tetapi masih terdapat masyarakat yang buang air besar ke kebun/pekarangan yaitu sebanyak 10,3%, 1,5 % ada yang BAB di Selokan/Parit/Goot, ada juga yang BAB dii sungai/pantai/laut sebesar 16,3 % dan sebanyak 2,3% masyarakat membuang air besar ke lubang galian. Angka ini menunjukkan masih tingginya angka/jumlah masyarakat yang buang air besar sembarangan.
Gambar 3.4. Grafik Tempat Penyaluran Akhir Tinja Tempat penyaluran akhir tinja sebagian besar masyarakat Kabupaten Padang Lawas Utara sebanyak 65% menggunakan tanki septik, sebanyak 27,3% responden mengatakan tidak tahu, 5% menggunakan penyaluran akhir tinjanya langsung ke cubluk/lubang tanah. Selain daripada itu ada yang menggunakan pipa sewer, langsung ke drainase, ke kebun/tanahlapang, kolam/sawah dan sungai,/danau/pantai. Penjelasan mengenai tempat penyaluran akhir tinja di Kabupaten Dairi dapat dilihat pada gambar 3.4 diatas.
Gambar 3.5. Grafik Waktu Terakhir Pengurasan Tanki Septik Dari gambar 3.5 diatas, menunjukkan grafik waktu terakhir pengurasan tanki septik di Kabupaten Padang Lawas Utara. Secara keseluruhan, masing-masing strata desa/kelurahan rata-rata masyarakatnya tidak pernah melakukan penyedotan tinja. Dengan jumlah total dari keseluruhan masyarakat yang tidak pernah melakukan penyedotan tinja sebanyak 68,8%. Sisanya 26,9% mengatakan tidak tahu. Gambar 3.6. Grafik Praktik Pengurasan Tanki Septik
Dilihat dari masing-masing strata desa/kelurahan yang melakukan praktik pengurasan tanki septik, untuk strata 3 dan strata 4 jumlah masyarakat yang melakukan pengurasan tanki septik 100% mengatakan tidak tahu, pada strata 1 92,9% mengatakan tidak tahu, strata 2 yang mengatakan tidak tahu sebanyak 94,3%. Gambar 3.7. Grafik Persentase Tanki Septik Suspek Aman dan Tidak Aman Secara keseluruhan, lebih dari separoh masyarakat yang mempunyai tanki septik suspek aman seperti yang di tunjukkan pada gambar 3.7 diatas yaitu sebanyak 61% sedangkan tanki septik yang tidak aman hanya sebanyak 39%. Masing-masing strata juga menunjukkan persentase tanki septik dengan suspek aman jumlahnya lebih banyak dari tanki septik suspek tidak aman. Dapat dilihat, pada strata 1 tanki septik masyarakat dengan suspek aman sebanyak 55,3%, pada strata 2 tanki septik masyarakat dengan suspek aman sebanyak 65,7%, pada strata 3 tanki septik masyarakat dengan suspek aman sebanyak 65 dan pada strata 4 jumlah tanki septik masyarakat dengan suspek aman sebanyak 70%.
3.4. Drainase Lingkungan/Selokan Sekitar Rumah dan Banjir Bagian ini menyajikan drainase lingkungan/selokan sekitar rumah dan banjir. Dua hal yang diukur mencakup yaitu saluran pembuangan air limbah dan genangan air di dekat rumah. Drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan komponen penting dalam perencanaan kota (perencanaan infrastruktur khususnya). Secara umum, drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang aman, nyaman, bersih, dan sehat. Prasarana drainase disini berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah permukaan tanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir. Kegunaan saluran drainase antara lain : 1. Mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi air tanah. 2. Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal. 3. Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada. 4. Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehingga tidak terjadi bencana banjir. Bagian ini menyediakan informasi mengenai kondisi saluran air rumah tangga di Kabupaten Padang Lawas Utara. Saluran air merupakan salah satu objek yang diperhatikan EHRA karena saluran yang tidak memadai beresiko memunculkan berbagai penyakit dan resiko genangan/banjir. Sebagian besar di Kabupaten Padang Lawas Utara resiko genangan/banjir sangat kecil. Berdasarkan data studi EHRA terkait genangan air disajikan dalam tabel 3.4, gambar 3.8, gambar 3.9, dan gambar 3.10.
3.4.1. Genangan Air Berdasarkan Survey EHRA di Kabupaten Padang Lawas Utara, persentase rumah tangga yang pernah mengalami Banjir, sebanyak 96,3% masyarakat tidak pernah mengalami Banjir, sekitar 0,3% masyarakat yang beberapa kali dalam setahun mengalami banjir dan 1,3% masyarakat yang mengalami Banjir sekali dalam setahun. Kesimpulannya berdasarkan Survey EHRA bahwa persentase rumah tangga di Kabupaten Padang Lawas Utara yang mengalami banjir sangat kecil. Tabel 3.4. Area Berisiko Genangan Air Berdasarkan Hasil Studi EHRA Variabel 4.1 Adanya genangan air Kategori Ada genangan air (banjir) Tidak ada genangan air Strata Desa/Kelurahan Total 1 2 3 4 n % n % n % n % n % 16 8.4 15 10.7 14 35.0 1 3.3 46 11.5 174 91.6 125 89.3 26 65.0 29 96.7 354 88.5 Gambar 3.8. Grafik Persentase Rumah Tangga yang Pernah Mengalami Banjir
Gambar 3.9. Grafik Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Banjir Rutin Pada gambar 3.9 diatas menunjukkan bahwa 100 % rumah tangga responden strata 3 dan 4 tidak mengalami banjir, pada strata 1 dan 2 (85,7%), Secara keseluruhan pada tingkat Kabupaten Padang Lawas Utara bahwa sebanyak 86,7% rumah tangga tidak mengalami banjir secara rutin setiap tahunnya dan hanya 13,3% rumah tangga yang mengalami banjir rutin. Gambar 3.10. Grafik Lama Air Menggenang Jika Terjadi Banjir
Pada tingkat Kabupaten Padang Lawas Utara, lama air menggenang jika terjadi banjir di rumah tangga dengan waktu kurang dari 1 jam (100%). Gambar 3.11. Grafik Lokasi Genangan Di Sekitar Rumah Berdasarkan hasil survey EHRA, lokasi genangan di sekitar rumah yang terjadi di Kabupaten Padang Lawas Utara yang paling tinggi persentasenya sekitar 60,6% adalah di halaman rumah, selanjutnya di dekat kamar mandi dan di dekat dapur masing masing sebesar 9,1%, 3.4.2. Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Berhubungan dengan permasalahan banjir, ada satu hal yang paling mendasar dan sangat vital dan yang dapat mempengaruhi tingkat pencemaran lingkungan yang terjadi pada skala rumah tangga. SPAL adalah bangunan yang digunakan untuk mengumpulkan air buangan dari kamar mandi. tempat cuci, dapur dari lain-lain (bukan dari peturasan/jamban), sehingga air limbah tersebut dapat tersimpan atau meresap ke dalam tanah dan tidak menjadi penyebab penyebaran penyakit serta tidak mengotori lingkungan permukiman. SPAL ada yang berbentuk tipe sumuran (umumnya digunakan untuk muka air tanah tinggi) dan tipe parit (umumnya digunakan untuk muka air tanah rendah). SPAL yang sehat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Departemen Kesehatan RI, 1996) : Tidak mencemari sumber air bersih Tidak menimbulkan genangan air yang dapat menjadi sarang nyamuk
Tidak menimbulkan bau Tidak menimbulkan becek-becek atau pandangan yang tidak menyenangkan Gambar 3.12. Grafik Persentase Kepemilikan SPAL Berdasarkan hasil study EHRA yang telah dilakukan pada masyarakat Kabupaten Padang Lawas Utara bahwa responden sekitar 51 % tidak mempunyai saluran pembuangan air limbah (SPAL) dan hanya sekitar 49% rumah tangga yang mempunyai saluran pembuangan air limbah (SPAL) walaupun sifatnya sederhana dan belum tertata dengan baik seperti got atau saluran terbuka, galian tanah tetapi rata-rata saluran pembuangan akhir di buang ke sungai atau rawa-rawa, dan itupun tidak terawat dengan baik dari tumpukan sampah dan sendimentasi pasir dan tanah yang terbawa arus air.
Gambar 3.13. Grafik Akibat Tidak Memiliki SPAL Rumah Tangga Berdasarkan hasil studi EHRA dan dapat dilihat pada gambar 3.13 maka didapat 11,5% responden mengatakan bahwa akibat tidak adanya SPAL yang terbangun telah mengakibatkan terjadinya/adanya genangan air di lingkungan rumah mereka. Sekitar 88,5 % responden mengatakan bahwa dengan adanya SPAL maka tidak akan adanya genangan air yang terjadi di lingkungan rumah mereka. Gambar 3.14. Grafik Persentase SPAL yang Berfungsi
Berdasarkan Gambar 3.14, dapat terlihat bahwa SPAL di Kabupaten Padang Lawas Utara yang berfungsi sebanyak 57,8% bersih atau hampir selalu bersih, 15,3% tidak bersih dari sampah tapi masih dapat mengalir, 2,3% tidak bersih dari sampai dan saluran tersumbat, 0,5% tidak bersih dari sampah tapi saluran kering dan 24,3 % mengatakan tidak ada saluran. Gambar 3.15. Grafik Pencemaran SPAL Gambar 3.15 tersebut diatas menjelaskan bahwa pada strata 1 mempunyai pencemaran oleh SPAL sebanyak 26,8%, dan sebanyak 73,2% tidak terjadi pencemaran oleh SPAL. Pada strata 2, terdapat sebanyak 39,3% terjadi pencemaran karena SPAL dan tidak terjadi pencemaran oleh SPAL sebanyak 60,7%. Pada strata 3, terjadi pencemaran oleh SPAL sebanyak 42,5% dan tidak terjadi pencemaran oleh SPAL sebanyak 57,5%. Sedangkan pada strata 4, yang terjadi pencemaran oleh SPAL sebanyak 23,3% dan tidak terjadi pencemaran oleh SPAL sebanyak 76,7%. Secara keseluruhan nilai persentase ratarata dari masing-masing strata terdapat 32,5% terjadi pencemaran oleh SPAL dan tidak terjadi pencemaran oleh SPAL sebanyak 67,5%. 3.5. Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga Sub-bab ini menyajikan informasi mengenai pengelolaan air bagi rumah tangga di Kabupaten Padang Lawas Utara. Hal yang diteliti dalam EHRA terdiri dari 2 (dua) hal utama, yakni 1) Sumber Air dan 2) Pengolahan, penyimpanan dan penanganan air yang
baik dan aman. Kedua aspek ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan tingkat resiko kesehatan bagi anggota di suatu rumah tangga. Dari sisi jenis sumber diketahui bahwa sumber-sumber air memiliki tingkat keamanannya tersendiri, Ada jenis-jenis sumber air minum yang secara global dinilai sebagai sumber yang relatif aman, seperti air botol kemasan, air ledeng/pdam, sumur bor, sumur gali terlindungi, mata air terlindungi dan air hujan (yang ditangkap, dialirkan dan disimpan secara bersih dan terlindungi). Di lain pihak, terdapat sumber-sumber yang memiiiki resiko yang lebih tinggi sebagai media transmisi patogen ke dalam tubuh manusia, di antaranya adalah, sumur atau mata air yang tidak terlindungi dan air permukaan, seperti air kolam, sungai, waduk ataupun danau. Tabel 3.15 dan gambar 3.16 menunjukkan akses terhadap sumber air di Kabupaten Padang Lawas Utara dan gambar 3.17 menunjukkan sumber air minum dan masak dari sumber air yang relatif aman. Tabel 3.5 Area Risiko Sumber Air Berdasarkan Hasil Studi EHRA Variabel Sumber air terlindungi Penggunaan sumber air tidak terlindungi. Kelangkaan air Kategori Tidak, sumber air berisiko tercemar Ya, sumber air terlindungi Tidak Aman Strata Desa/Kelurahan 1 2 3 4 n % n % n % n % Total N % 59 31.1 63 45.0 30 75.0 5 16.7 157 39.3 131 68.9 77 55.0 10 25.0 25 83.3 243 60.8 110 57.9 86 61.4 36 90.0 22 73.3 254 63.5 Ya, Aman 80 42.1 54 38.6 4 10.0 8 26.7 146 36.5 Mengalami kelangkaan air 68 35.8 21 15.0 4 10.0 5 16.7 98 24.5 Tidak pernah mengalami 122 64.2 119 85.0 36 90.0 25 83.3 302 75.5 Berdasarkan tabel 3.5 mengenai area risiko sumber air, terlihat bahwa untuk semua kelurahan/desa menggunakan sumber air yang terlindungi dengan persentase tidak tercemar 60,8% (berupa sumber air dari PDAM air ledeng, kran umum, hidran umum, sumur bor pompa tangan, sumur gali terlindungi, air hujan serta air isi ulang) dan beresiko tercemar 39,3%. Sedangkan yang menggunakan sumber air tidak terlindung yang tidak aman 63,5%, yang aman 36,5%. Pada semua kelurahan/desa, sebesar 75,5% dari total
responden tidak pernah mengalami kelangkaan air dan hanya 24,5% yang pernah mengalami kelangkaan air. Gambar 3.16. Grafik Akses Terhadap Air Bersih
Gambar 3.17. Grafik Sumber Air Minum dan Masak Dari gambar 3.17 grafik sumber air minum dan masak diatas maka diketahui bahwa air yang dipergunakan untuk minum sebanyak 57,8% adalah menggunakan air sumur gali terlindungi, 46,2 % menggunakan air isi ulang, 16,4% air dari sungai dan 14,2% menggunakaan air botol kemasan dan 9,8% dari air sumur gali tidak terlindungi, sedangkan untuk masak 71,3% dari air sumur gali terlindungi, 18,2% dari air sungai, 11,6% dari air sumur gali tidak terlindungi, 8,9% dari air hujan dan 5,8 dari mata air terlindungi. 3.6. Perilaku Hygiene dan Sanitasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat.
Telah ditetapkan 10 (sepuluh) indikator untuk menetapkan apakah sebuah rumah tangga telah mempraktekkan PHBS. Kesepuluh indikator tersebut merupakan sebagian dari semua perilaku yang harus dipraktekkan di rumah tangga dan dipilih karena dianggap mewakili atau dapat mencerminkan keseluruhan perilaku. Dalam studi EHRA di Kabupaten ini, dibatasi hanya perilaku hygiene dan sanitasi yang mencakup perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) di 5 (lima) waktu penting dan buang air besar (BAB). Berdasarkan hasil studi EHRA, di dapatkan hasil sebagai berikut : untuk CTPS di lima waktu penting hanya 29,5% yang melakukannya, untuk lantai dan dinding jamban bebas dari tinja 64,3%, jamban bebas dari kecoa dan lalat 74%, keberfungsian penggelontor 72,3%, ada sabun di dalam atau di dekat jamban 65%, pencemaran pada wadah penyimpanan dan penanganan air sebesar 12,5% dan Perilaku BABS sebesar 52,3%. Tabel 3.6. Area Risiko Perilaku Higiene dan Sanitasi Berdasarkan Hasil Studi EHRA Variabel CTPS di lima waktu penting Apakah lantai dan dinding jamban bebas dari tinja? Apakah jamban bebas dari kecoa dan lalat? Keberfungsian penggelontor. Apakah terlihat ada sabun di dalam atau di dekat jamban? Pencemaran pada wadah penyimpanan dan penanganan air Di Kabupaten Padang Lawas Utara Kategori Strata Desa/Kelurahan 1 2 3 4 n % n % n % n % Total n % Tidak 127 66.8 124 88.6 7 17.5 24 80.0 282 70.5 Ya 63 33.2 16 11.4 33 82.5 6 20.0 118 29.5 Tidak 75 39.5 33 23.6 27 67.5 8 26.7 143 35.8 Ya 115 60.5 107 76.4 13 32.5 22 73.3 257 64.3 Tidak 46 24.2 28 20.0 24 60.0 6 20.0 104 26.0 Ya 144 75.8 112 80.0 16 40.0 24 80.0 296 74.0 Tidak 51 26.8 30 21.4 22 55.0 8 26.7 111 27.8 Ya, berfungsi 139 73.2 110 78.6 18 45.0 22 73.3 289 72.3 Tidak 68 35.8 41 29.3 21 52.5 10 33.3 140 35.0 Ya 122 64.2 99 70.7 19 47.5 20 66.7 260 65.0 Ya, tercemar 19 10.0 20 14.3 8 20.0 3 10.0 50 12.5 Tidak tercemar 171 90.0 120 85.7 32 80.0 27 90.0 350 87.5 Perilaku BABS Ya, BABS 99 52.1 72 51.4 27 67.5 11 36.7 209 52.3 Tidak 91 47.9 68 48.6 13 32.5 19 63.3 191 47.8
3.6.1. Cuci Tangan Pakai Sabun CTPS merupakan perilaku sehat yang terbukti secara ilmiah dapat mencegah penyebaran penyakit menular seperti diare, ISPA, flu burung serta penyakit kulit lainnya. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kedua tangan kita adalah salah satu jalur utama masuknya kuman penyakit ke dalam tubuh. Sebab, tangan adalah anggota tubuh yang paling sering berhubungan langsung dengan mulut dan hidung. Penyakit-penyakit yang umumnya timbul karena tangan yang berkuman, antara lain: diare, kolera, ISPA, cacingan, flu, dan Hepatitis A. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan bahwa penyebab terbesar meninggalnya balita dan anak-anak Indonesia adalah penyakit diare dan ISPA. Waktu-waktu cuci tangan pakai sabun yang perlu dilakukan seorang ibu/ pengasuh untuk mengurangi risiko balita terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan diare mencakup 5 (lima) waktu penting yakni, 1) sesudah buang air besar (BAB), 2) sesudah menceboki pantat anak, 3) sebelum menyantap makanan, 4) sebelum menyuapi anak, dan terakhir adalah 5) sebelum menyiapkan makanan bagi keluarga. Kelima waktu penting tersebut adalah sebelum makan, sesudah buang air besar (BAB), sebelum memegang bayi, sesudah menceboki anak dan sebelum menyiapkan makanan. Tujuan dilakukannya CTPS di 5 (lima) waktu penting adalah untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus dan bakteri. Dan dari hasil uji ilmiah, cuci tangan pakai sabun sangat tepat dan efektif untuk mencegah penularan penyakit. Sepuluh jenis penyakit yang dapat dicegah dengan CTPS adalah diare, penyakit saluran pernapasan, disentri, iritasi kulit, biang keringat, radang tenggorokan, mata merah, jerawat, bau badan dan typus.
Gambar 3.18. Grafik CTPS di Lima Waktu Penting Berdasarkan hasil wawancara dalam Studi EHRA didapatkan hasil bahwa perilaku responden dalam pelaksanaan CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) di lima 5 waktu penting baru 70,5% yang melakukannya. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat di kabupaten Padang Lawas Utara yang belum sepenuhnya menyadari akan pentingnya melakukan CTPS di lima 5 waktu penting sebagai salah satu bentuk praktek higiene. Untuk itu perlu dilaksanakan program pemicuan kepada masyarakat untuk peningkatan melakukan CTPS dalam kehidupan sehari hari. Gambar 3.19. Grafik Waktu Melakukan CTPS
Berdasarkan gambar 3.19, tentang waktu melakukan CTPS di Kabupaten Padang Lawas Utara yang paling tinggi persentasenya yaitu pada setelah buang air besar (72%), setelah memegang hewan (60,5%) dan sebelum makan (58,8%). 3.6.2. Buang Air Besar Sembarangan (BABS) Perilaku Buang Air Besar yang tidak sehat ini misalnya buang air besar di sungai, buang air besar di pekarangan atau tanah terbuka, di parit, buang air besar di saluran irigasi sawah dan buang air besar besar di pantai atau laut yang menjadi sarana penyularan penyakit yang membahayakan kesehatan manusia. Gambar 3.20. Grafik Persentase Penduduk yang Melakukan BABS Untuk praktik buang air besar sembarangan (BABs) di Kabupaten Padang Lawas Utara masih cukup tinggi, terlihat yang digambarkan dalam grafik persentase praktik BABs (gambar 3.20). Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa masih ada anggota keluarga yang masih melakukan praktek BABs sebesar 52,2%. Strata 3 memiliki angka BABs paling tinggi sebesar 67.5%, strata 1 sebesar 52,1% yang masih BABS, sedangkan pada strata 2 dan strata 4 berkisar pada 51% dan 37 %.
3.7. Kejadian Penyakit Diare Penyakit berbasis lingkungan merupakan masalah yang belum teratasi dengan baik di Indonoesia, salah satunya adalah penyakit diare yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku hidup tidak sehat di masyarakat. Dampak negatif dari keberadaan penyakit tersebut di masyarakat jika tidak dapat diatasi maka akan menyebabkan kerugian yang tak terhitung nilainya baik secara materi maupun hilangnya nyawa jika penderita tidak mendapat pertolongan dengan baik. World Bank s Water and Sanitation Program For East Asia and Pacific (WSP EAP) tahun 2008 mengungkapkan bahwa kerugian ekonomi akibat sanitasi buruk di Indonesia diperhitungkan mencapai 56 triliun per tahun. Kerugian ekonomi ini ditimbulkan antara lain oleh 90 juta/tahun kasus diare dan 23.000 kematian/tahun akibat diare (ITB, 2008). Menurut World Health Organization (WHO), diarea adalah buang air besar (BAB) 3 kali atau lebih dalam sehari semalam (24 jam) yang mungkin dapat disertai dengan muntah atau tinja yang berdarah. Berdasarkan penelitian Wohangara (2012) dan Hardi (2012) ada hubungan yang signifikan kebiasaan mencuci tangan, tersedianya sarana air bersih dan kepemilikan jamban yang sehat dengan kejadian diare. Tabel 3.7 Kejadian Diare pada Penduduk Berdasarkan Hasil Studi EHRA Variabel Kategori di Kabupaten Padang Lawas Utara Strata Desa/Kelurahan 1 2 3 4 n % n % n % n % Total n % Kapan waktu Hari ini 4 2.1 13 9.3 0.0 2 6.7 19 4.8 paling dekat Kemarin 0.0 3 2.1 0.0 3 10.0 6 1.5 anggota keluarga ibu terkena diare 1 minggu 9 4.7 14 10.0 0.0 1 3.3 24 6.0 terakhir 1 bulan terakhir 16 8.4 8 5.7 0.0 4 13.3 28 7.0 3 bulan terakhir 26 13.7 11 7.9 0.0 4 13.3 41 10.3 6 bulan yang lalu 13 6.8 15 10.7 7 17.5 4 13.3 39 9.8 Lebih dari 6 bulan 26 13.7 11 7.9 16 40.0 5 16.7 58 14.5 yang lalu Tidak pernah 96 50.5 65 46.4 17 42.5 7 23.3 185 46.3 Anak-anak balita Tidak 51 54.3 33 44.0 7 30.4 12 52.2 103 47.9 Ya 43 45.7 42 56.0 16 69.6 11 47.8 112 52.1
Anak-anak non balita Anak remaja lakilaki Anak remaja perempuan Orang dewasa laki-laki Orang dewasa perempuan Tidak 75 79.8 58 77.3 22 95.7 21 91.3 176 81.9 Ya 19 20.2 17 22.7 1 4.3 2 8.7 39 18.1 Tidak 85 90.4 72 96.0 22 95.7 20 87.0 199 92.6 Ya 9 9.6 3 4.0 1 4.3 3 13.0 16 7.4 Tidak 88 93.6 70 93.3 22 95.7 20 87.0 200 93.0 Ya 6 6.4 5 6.7 1 4.3 3 13.0 15 7.0 Tidak 86 91.5 69 92.0 22 95.7 21 91.3 198 92.1 Ya 8 8.5 6 8.0 1 4.3 2 8.7 17 7.9 Tidak 82 87.2 66 88.0 19 82.6 21 91.3 188 87.4 Ya 12 12.8 9 12.0 4 17.4 2 8.7 27 12.6 Tabel 3.7 diatas menjelaskan bahwa berdasarkan kajian yang dilakukan di 10 desa di Kabupaten Padang Lawas Utara dengan total responden sebesar 400 responden, maka terlihat kejadian Diare yang terjadi di Kabupaten Padang Lawas Utara, dimana, waktu yang paling dekat masing-masing anggota keluarga yang terkena diare 14,5% banyak terjadi di lebih dari 6 bulan yang lalu, 9,8% terjadi pada 6 bulan yang lalu, 10,3% terjadi pada 3 bulan terakhir sedangkan 7% terjadi pada 1 bulan terakhir pada saat waktu kajian studi EHRA dilaksanakan. Anggota keluarga yang mengalami kejadian Diare ini paling banyak di derita oleh anak balita 52,1%, anak anak non balita sebanyak 18,1%, orang dewasa perempuan 12,6%, orang dewasa laki laki 7,9%, anak remaja perempuan 7%, dan anak remaja laki laki 7,4% 3.8. Indeks Risiko Sanitasi (IRS) Resiko Sanitasi diartikan sebagai terjadinya penurunan kualitas hidup, kesehatan, bangunan dan atau lingkungan akibat rendahnya akses terhadap layanan sektor sanitasi dan perilaku higiene dan sanitasi. Indeks Resiko Sanitasi (IRS) diartikan sebagai ukuran atau tingkatan resiko sanitasi, dalam hal ini adalah hasil dari analisis Studi EHRA. Manfaat penghitungan Indeks Resiko Sanitasi (IRS) adalah sebagai salah satu komponen dalam menentukan area beresiko sanitasi. Adapun Komponen Indeks Resiko Sanitasi, yaitu: 1. Sumber Air 2. Air Limbah Domestik 3. Persampahan 4. Genangan Air 5. Perilaku Higiene dan Sanitasi
Tabel 3.8 Indeks Risiko Sanitasi Di Kabupaten Padang Lawas Utara Variabel Kategori Strata Desa/Kelurahan 1 2 3 4 % % % % Sumber air terlindungi Tidak, sumber air berisiko tercemar 15.2 13.2 28.1 55.6 Ya, sumber air terlindungi 84.8 86.8 71.9 44.4 Penggunaan sumber air tidak terlindungi. Ya 63.9 52.0 52.5 44.4 Tidak 36.1 48.0 47.5 55.6 Kelangkaan air Ya 38.7 42.8 45.0 53.8 Tidak 61.3 57.2 55.0 46.3 Tangki septik suspek aman Tidak 38.9 28.7 34.5 40.6 Ya 61.1 71.3 65.5 59.4 Pencemaran karena pembuangan isi tangki septik Ya 100.0 100.0 97.7.0 Tidak.0.0 2.3.0 Pencemaran karena SPAL Ya 55.7 63.8 58.4 60.0 Tidak 44.3 36.2 41.6 40.0 Pengelolaan sampah Tidak 95.6 93.1 97.7 98.1 Ya 4.4 6.9 2.3 1.9 Frekuensi pengangkutan sampah Tidak memadai 100.0 75.0 100.0.0 Ketepatan waktu pengangkutan sampah memadai.0 25.0.0.0 Tidak tepat waktu 100.0 100.0 100.0.0 Pengolahan sampah setempat Tidak diolah 72.2 80.1 86.4 81.3 diolah 27.8 19.9 13.6 18.8 Adanya genangan air Ya 14.2 14.8 15.7 25.6 Tidak 85.8 85.2 84.3 74.4 CTPS di lima waktu penting Tidak 91.8 91.0 92.6 90.6 Ya 8.2 9.0 7.4 9.4 Apakah lantai dan dinding jamban bebas dari tinja? Tidak 30.4 52.1 53.2 33.8 Ya 69.6 47.9 46.8 66.3 Apakah jamban bebas dari kecoa dan lalat? Tidak 38.7 58.0 45.6 44.4 Ya 61.3 42.0 54.4 55.6 Keberfungsian penggelontor. Tidak 35.6 47.5 40.2 30.0 Apakah terlihat ada sabun di dalam atau di dekat jamban? Ya 64.4 52.5 59.8 70.0 Tidak 65.7 73.1 78.1 39.4 Ya 34.3 26.9 21.9 60.6 Pencemaran pada wadah penyimpanan dan Ya,Tercemar 13.1 31.0 37.1 12.5 penanganan air Tidak tercemar 86.9 69.0 62.9 87.5 Perilaku BABS Ya, BABS 38.4 51.5 45.3 31.3 Tidak 61.6 48.5 54.7 68.8
Tabel 3.9 Katagori Daerah Berisiko Sanitasi Batas Nilai Risiko Keterangan Total Indeks Risiko Max 274 Total Indeks Risiko Min 199 Interval 19 Katagori Area Berisiko Batas Bawah Batas Atas Kurang Berisiko 199 218 Berisiko Sedang 219 238 Risiko Tinggi 239 257 Risiko Sangat Tinggi 258 277 Gambar 3.21. Grafik Indeks Resiko Sanitasi (IRS) Berdasarkan kajian yang di lakukan di 10 Desa/Kelurahan di Kabupaten Padang Lawas Utara dengan total responden yaitu 400 responden, maka tergambarkan kondisi risiko sanitasi yang ada di Kabupaten Padang Lawas Utara. Penyebab rawan sanitasi
Kurang Beresiko Resiko Sangat Tinggi Resiko Sangat Tinggi Resiko Tinggi GENANGAN AIR PERSAMPAHAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) AIR LIMBAH DOMESTIK SUMBER AIR RUMAH TANGGA TOTAL KATEGORI AREA BERESIKO untuk desa/kelurahan pada strata 1 adalah sumber air (32), PHBS (46), Persampahan (92), Genangan Air (14) dan Air Limbah Domestik(65). Penyebab rawan sanitasi strata 2 adalah PHBS (58), Persampahan (87),Sumber air (37), Air Limbah Domestik (64), dan genangan air (15). Penyebab rawan sanitasi strata 3 adalah Air Limbah Domestik (64), PHBS (57), Persampahan (96), Sumber Air (41) dan genangan air (16). Penyebab rawan sanitasi 4 adalah air limbah domestik (34), persampahan (45),PHBS (40), Sumber Air (55) dan genangan air (55). Hal ini dapat diihat pada tabel 3.8. dan gambar 3.21. Berdasarkan sektornya tergambarkan bahwa risiko sanitasi di Kabupaten Padang Lawas Utara yang tertinggi adalah di Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Persampahan, kemudian Sumber Air, Air Limbah Domestik dan Genangan air. Tabel 3.10 IRS Di Kecamatan dan Desa di Kabupaten Padang Lawas Utara Tahun 2014 NILAI IRS NAMA KECAMATAN DAN DESA / KELURAHAN STRATA 1 Batang Onang Padang Bujur Baru 14 92 46 65 32 250 strata 2 Padang Bolak Pasar Gunung Tua 15 87 58 64 37 260 Strata 3 Dolok Sigompulon Pasar Simundol 16 96 57 64 41 274 Halongonan Hiteurat 16 96 57 64 41 274 Hulu Sihapas Aek Godang 16 96 57 64 41 274 Strata 4 Dolok Sipiongot 26 45 40 34 55 199 Padang Bolak Julu Batu Gana 26 45 40 34 55 199 Portibi Pasir Pinang 26 45 40 34 55 199 Simangambat Janji Matogu 26 45 40 34 55 199
Dari tabel di atas tampak bahwa ada 4 Desa yang kurang berisiko 1 Desa berisiko Tinggi dan ada 5 Desa yang berisiko sangat tinggi. Hal ini akan menjadi pusat perhatian bagi pemerintah dan pemerhati sanitasi dalam menangani risiko-risiko sanitasi yang terjadi di kabupaten Padang Lawas Utara.Tidak terlepas dari itu peningkatan perubahan perilaku masyarakat terkait sanitasi yang jauh lebih baik dari saat ini juga perlu dilaksanakan dan berbagai pembangunan yang harus mengarah untuk pembangunan sanitasi sehingga akan mengurangi indeks risiko buruk yang terjadi di Kabupaten Padang Lawas Utara.
BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Environmental Health Risk Assessment Study atau Studi EHRA adalah sebuah survey partisipatif di tingkat kota yang bertujuan untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higinitas serta perilaku-perilaku masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi termasuk advokasi di tingkat Kabupaten. Adapun nanfaat Studi EHRA dari aspek promosi dengan keterlibatan kader/petugas kesehatan adalah : 1) Kader memiliki akses yang leluasa untuk datang ke rumah-rumah dan diterima oleh RT/ RW dan warga penghuni rumah 2) Kader umumnya memahami wilayah desa sehingga mempermudah mencari rumah yang dipilih secara acak (random). 3) Sebagai pembelajaran bagaimana mengumpulan data dari rumah ke rumah serta mengetahui bagaimana pengelolaan sampah rumah tangga, jamban keluarga, sumber sumber air serta pilihan sarana CPTS. Studi EHRA ideal dilaksanakan secara berkala minimal 3 (tiga) tahun dan studi pertama ini merupakan pengalaman atau pembelajaran untuk studi EHRA selanjutnya. Pengulangan studi EHRA beberapa tahun kemudian dapat merupakan bagian dari kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) kegiatan EHRA yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Rencana pemanfaatan hasil Studi EHRA di Kabupaten adalah sebagai berikut : 1) Sebagai bahan advokasi pembangunan sanitasi di Kabupaten Padang Lawas Utara serta pengembangan program sanitasi termasuk advokasi di tingkat kabupaten sampai dengan tingkat desa/kelurahan 2) Untuk memahami kondisi sanitasi dan higienitas serta perilaku-perilaku masyarakat pada skala rumah tangga. 3) Data yang dikumpulkan dari studi EHRA akan digunakan Pokja Kabupaten sebagai salah satu bahan untuk menyusun Buku Putih Sanitasi, penetapan area beresiko dan Strategi Sanitasi Kabupaten ( SSK ) Kabupaten Padang Lawas Utara.
4.2. Kendala Dalam pelaksanaan kajian EHRA (Environmental Health Risk Assessment) kendala dan hambatan yang terjadi : 1. pemahaman masyarakat terhadap pertanyaan yang kurang paham sehingga enumerator harus menjelaskan secara detail dan menggali lebih mendalam untuk mendapatkan pertanyaan yang sesuai dengan lembar pertanyaan dan akses rumah responden yang cukup jauh. 2. Sering sekali terjadi pemadaman listrik, sehingga ketika pengentrian data mengalami kendala. 4.3. Saran Agar pelaksanaan studi EHRA lebih optimal, maka disarankan untuk melakukan beberapa hal, antara lain : 1. Dalam pemilihan supervisor dan enemurator untuk melaksanakan Studi EHRA haruslah sesuai dengan kriteria dengan latar belakang pendidikan sebaiknya minimal SLTA dan memiliki pengetahuan tentang sanitasi agar lebih memudahkan pemahaman tentang Studi EHRA dan memahami area study dan isi kuesioner EHRA. 2. Supervisor serta Enemurator harus memahami tata cara pelaksanaan survey, pemahaman kuesioner, teknik wawancara dan pengamatan serta cara mengisi jawaban dengan benar, agar pengisian tidak terdapat kesalahan. 3. Koordinator dan supervisor menjamin proses pelaksanaan survey sesuai dengan kaidah dan metoda pelaksanaan Studi EHRA yang telah ditentukan dan melakukan pengawasan terhadap kinerja enumerator di lapangan. 4. Koordinator dan Supervisor lapangan harus teliti memeriksa kuesioner dari enumerator sebelum diserahkan kepada tim entry data 5. Dalam pelaksanaan Studi Ehra, waktu pelaksanaannya lebih lama sehingga didapat hasil yang lebih akurat lagi.
Tabel. 1 Identitas Wilayah Variabel Kode Kecamatan Kode Kelurahan/Desa Hubungan Responden dengan Kepala Keluarga Kategori Strata Desa/Kelurahan 1 2 3 4 n % n % n % n % Total n % 01 0.0 0.0 50 33.3 0.0 50 11.1 02 0.0 0.0 0.0 50 25.0 50 11.1 03 0.0 0.0 50 33.3 0.0 50 11.1 04 0.0 50 100.0 0.0 0.0 50 11.1 05 0.0 0.0 0.0 50 25.0 50 11.1 06 0.0 0.0 0.0 50 25.0 50 11.1 07 50 100.0 0.0 0.0 0.0 50 11.1 08 0.0 0.0 0.0 50 25.0 50 11.1 09 0.0 0.0 50 33.3 0.0 50 11.1 001 0.0 50 100.0 0.0 0.0 50 11.1 002 0.0 0.0 0.0 50 25.0 50 11.1 003 0.0 0.0 0.0 50 25.0 50 11.1 004 0.0 0.0 50 33.3 0.0 50 11.1 005 0.0 0.0 0.0 50 25.0 50 11.1 006 50 100.0 0.0 0.0 0.0 50 11.1 007 0.0 0.0 50 33.3 0.0 50 11.1 008 0.0 0.0 50 33.3 0.0 50 11.1 009 0.0 0.0 0.0 50 25.0 50 11.1 Istri 50 100.0 48 96.0 150 100.0 199 99.5 447 99.3 Anak perempuan yg sudah menikah 0.0 2 4.0 0.0 1.5 3.7
Tabel 2. Informasi Responden Variabel Kelompok Umur Responden Apa status dari rumah yang anda tempati saat ini? Apa pendidikan terakhir anda? Apakah ibu mempunyai Surat Keterangan Tidak Mampu Apakah ibu mempunyai Kartu Asuransi Kesehatan bagi Keluarga Miskin (ASKESKIN)? Apakah ibu mempunyai anak? Strata desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % <= 20 tahun 4 2.1 0.0 1 2.5 1 3.3 6 1.5 21-25 tahun 18 9.5 11 8.0 6 15.0 3 10.0 38 9.6 26-30 tahun 42 22.2 32 23.2 4 10.0 8 26.7 86 21.7 31-35 tahun 33 17.5 31 22.5 10 25.0 5 16.7 79 19.9 36-40 tahun 24 12.7 22 15.9 7 17.5 5 16.7 58 14.6 41-45 tahun 26 13.8 16 11.6 4 10.0 3 10.0 49 12.3 > 45 tahun 42 22.2 26 18.8 8 20.0 5 16.7 81 20.4 Milik sendiri 157 82.6 118 84.3 32 80.0 29 96.7 336 84.0 Rumah dinas 2 1.1 1.7 2 5.0 0.0 5 1.3 Berbagi dengan keluarga lain 1.5 1.7 0.0 0.0 2.5 Sewa 12 6.3 1.7 0.0 0.0 13 3.3 Kontrak 1.5 2 1.4 3 7.5 0.0 6 1.5 Milik orang tua 16 8.4 17 12.1 3 7.5 1 3.3 37 9.3 Lainnya 1.5 0.0 0.0 0.0 1.3 Tidak sekolah formal 6 3.2 1.7 0.0 3 10.0 10 2.5 SD 52 27.4 29 20.7 10 25.0 10 33.3 101 25.3 SMP 52 27.4 26 18.6 14 35.0 5 16.7 97 24.3 SMA 62 32.6 58 41.4 7 17.5 8 26.7 135 33.8 SMK 3 1.6 7 5.0 0.0 0.0 10 2.5 Universitas/Akademi 15 7.9 19 13.6 9 22.5 4 13.3 47 11.8 Ya 48 25.3 19 13.6 4 10.0 13 43.3 84 21.0 Tidak 142 74.7 121 86.4 36 90.0 17 56.7 316 79.0 Ya 49 25.8 28 20.0 7 17.5 7 23.3 91 22.8 Tidak 141 74.2 112 80.0 33 82.5 23 76.7 309 77.3 Ya 179 94.2 129 92.1 40 100.0 27 90.0 375 93.8 Tidak 11 5.8 11 7.9 0.0 3 10.0 25 6.3
Tabel 3. Berapa Jumlah Anak Laki laki dirumah Variabel Kurang dari 2 tahun 2-5 tahun 6-12 tahun Lebih dari 12 tahun Jumlah anak lakilaki Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % 0 163 85.8 127 90.7 36 90.0 28 93.3 354 88.5 1 25 13.2 13 9.3 4 10.0 2 6.7 44 11.0 2 1.5 0.0 0.0 0.0 1.3 3 1.5 0.0 0.0 0.0 1.3 0 145 76.3 93 66.4 28 70.0 18 60.0 284 71.0 1 36 18.9 39 27.9 11 27.5 11 36.7 97 24.3 2 8 4.2 7 5.0 1 2.5 1 3.3 17 4.3 3 1.5 1.7 0.0 0.0 2.5 0 128 67.4 92 65.7 21 52.5 16 53.3 257 64.3 1 51 26.8 31 22.1 16 40.0 13 43.3 111 27.8 2 10 5.3 17 12.1 3 7.5 1 3.3 31 7.8 3 1.5 0.0 0.0 0.0 1.3 0 118 62.1 82 58.6 25 62.5 22 73.3 247 61.8 1 44 23.2 39 27.9 7 17.5 7 23.3 97 24.3 2 22 11.6 15 10.7 7 17.5 1 3.3 45 11.3 3 4 2.1 3 2.1 1 2.5 0.0 8 2.0 4 1.5 1.7 0.0 0.0 2.5 6 1.5 0.0 0.0 0.0 1.3,00 35 18.4 27 19.3 6 15.0 3 10.0 71 17.8 1,00 82 43.2 54 38.6 12 30.0 17 56.7 165 41.3 2,00 44 23.2 33 23.6 15 37.5 8 26.7 100 25.0 3,00 21 11.1 14 10.0 7 17.5 2 6.7 44 11.0 4,00 5 2.6 8 5.7 0.0 0.0 13 3.3 5,00 2 1.1 2 1.4 0.0 0.0 4 1.0 6,00 1.5 2 1.4 0.0 0.0 3.8
Tabel 4. Jumlah anak Perempuan yang tinggal di rumah Variabel Kurang dari 2 tahun 2-5 tahun 6-12 tahun Lebih dari 12 tahun Jumlah anak Perempuan Jumlah anak laki laki dan Perempuan Strata Desa / Kelurahan Total Kategor 1 2 3 4 i n % n % n % n % n % 0 171 90.0 115 82.1 35 87.5 27 90.0 348 87.0 1 18 9.5 25 17.9 5 12.5 3 10.0 51 12.8 2 1.5 0.0 0.0 0.0 1.3 0 145 76.3 103 73.6 26 65.0 25 83.3 299 74.8 1 42 22.1 31 22.1 13 32.5 5 16.7 91 22.8 2 3 1.6 5 3.6 1 2.5 0.0 9 2.3 3 0.0 1.7 0.0 0.0 1.3 0 131 68.9 92 65.7 23 57.5 20 66.7 266 66.5 1 48 25.3 38 27.1 13 32.5 7 23.3 106 26.5 2 11 5.8 10 7.1 4 10.0 3 10.0 28 7.0 0 132 69.5 93 66.4 25 62.5 19 63.3 269 67.3 1 39 20.5 35 25.0 8 20.0 9 30.0 91 22.8 2 16 8.4 7 5.0 6 15.0 1 3.3 30 7.5 3 2 1.1 4 2.9 1 2.5 0.0 7 1.8 4 1.5 1.7 0.0 1 3.3 3.8,00 62 32.6 35 25.0 6 15.0 10 33.3 113 28.3 1,00 68 35.8 54 38.6 14 35.0 15 50.0 151 37.8 2,00 41 21.6 25 17.9 14 35.0 1 3.3 81 20.3 3,00 10 5.3 16 11.4 2 5.0 1 3.3 29 7.3 4,00 7 3.7 10 7.1 4 10.0 1 3.3 22 5.5 5,00 1.5 0.0 0.0 1 3.3 2.5 6,00 1.5 0.0 0.0 0.0 1.3 7,00 0.0 0.0 0.0 1 3.3 1.3,00 13 6.8 8 5.7 0.0 1 3.3 22 5.5 1,00 33 17.4 22 15.7 3 7.5 7 23.3 65 16.3 2,00 49 25.8 29 20.7 10 25.0 11 36.7 99 24.8 3,00 53 27.9 33 23.6 12 30.0 5 16.7 103 25.8 4,00 25 13.2 24 17.1 7 17.5 3 10.0 59 14.8 5,00 7 3.7 15 10.7 8 20.0 1 3.3 31 7.8 6,00 8 4.2 6 4.3 0.0 0.0 14 3.5 7,00 1.5 2 1.4 0.0 2 6.7 5 1.3 8,00 1.5 1.7 0.0 0.0 2.5
Tabel 5. Kondisi Sampah di Lingkungan RT/RW rumah ibu Variabel Banyak sampah berserakan atau bertumpuk di sekitar lingkungan Banyak lalat di sekitar tumpukan sampah Banyak tikus berkeliaran Banyak nyamuk Banyak kucing dan anjing mendatangi tumpukan Bau busuk yang menggangu Menyumbat saluran drainase Ada anak-anak yang bermain di sekitarnya Lainnya Strata desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Tidak 138 72.6 114 81.4 34 85.0 26 86.7 312 78.0 Ya 52 27.4 26 18.6 6 15.0 4 13.3 88 22.0 Tidak 128 67.4 123 87.9 32 80.0 23 76.7 306 76.5 Ya 62 32.6 17 12.1 8 20.0 7 23.3 94 23.5 Tidak 172 90.5 125 89.3 36 90.0 28 93.3 361 90.3 Ya 18 9.5 15 10.7 4 10.0 2 6.7 39 9.8 Tidak 99 52.1 94 67.1 12 30.0 26 86.7 231 57.8 Ya 91 47.9 46 32.9 28 70.0 4 13.3 169 42.3 Tidak 180 94.7 135 96.4 37 92.5 27 90.0 379 94.8 Ya 10 5.3 5 3.6 3 7.5 3 10.0 21 5.3 Tidak 177 93.2 129 92.1 38 95.0 30 100.0 374 93.5 Ya 13 6.8 11 7.9 2 5.0 0.0 26 6.5 Tidak 186 97.9 137 97.9 39 97.5 28 93.3 390 97.5 Ya 4 2.1 3 2.1 1 2.5 2 6.7 10 2.5 Tidak 140 73.7 100 71.4 37 92.5 19 63.3 296 74.0 Ya 50 26.3 40 28.6 3 7.5 11 36.7 104 26.0 Tidak 186 97.9 136 97.1 40 100. 0 30 100.0 392 98.0 Ya 4 2.1 4 2.9 0.0 0.0 8 2.0
Tabel 6. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Variabel Bagaimana sampah rumah tangga dikelola? Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Dikumpulkan dan dibuang ke TPS 0.0 1.7 0.0 0.0 1.3 Dibakar 134 70.9 125 90.6 40 100.0 22 73.3 321 80.9 Dibuang ke dalam lubang dan ditutup 8 4.2 1.7 0.0 2 6.7 11 2.8 dengan tanah Dibuang ke dalam lubang tetapi tidak 9 4.8 2 1.4 0.0 2 6.7 13 3.3 ditutup dengan tanah Dibuang ke sungai/kali/laut/danau 7 3.7 2 1.4 0.0 0.0 9 2.3 Dibiarkan saja sampai membusuk 2 1.1 0.0 0.0 0.0 2.5 Dibuang ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan 27 14.3 6 4.3 0.0 4 13.3 37 9.3 membusuk Lain-lain 2 1.1 1.7 0.0 0.0 3.8 Dikumpulkan dan dibuang ke TPS 0.0 1.7 0.0 0.0 1.3 Tabel 7. Pemilahan Sampah Rumah Tangga Variabel Apakah ibu melakukan pemilahan sampah di rumah sebelum dibuang Kategori Strata Desa / Kelurahan 1 2 n % n % Tidak dipilah 2 100.0 2 100.0 4 Total n % 100.0
Tabel. 8 Dimana Anggota Keluarga yang Sudah Dewasa bila Ingin Buang Air Besar Variabel Jamban pribadi MCK/WC Umum Ke WC helikopter Ke sungai/pantai/laut Ke kebun/pekarangan Ke selokan/parit/got Ke lubang galian Lainnya, Tidak tahu Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Tidak 47 24.7 27 19.3 24 60.0 7 23.3 105 26.3 Ya 143 75.3 113 80.7 16 40.0 23 76.7 295 73.8 Tidak 174 91.6 137 97.9 38 95.0 26 86.7 375 93.8 Ya 16 8.4 3 2.1 2 5.0 4 13.3 25 6.3 Tidak 188 98.9 139 99.3 35 87.5 29 96.7 391 97.8 Ya 2 1.1 1.7 5 12.5 1 3.3 9 2.3 Tidak 171 90.0 120 85.7 19 47.5 25 83.3 335 83.8 Ya 19 10.0 20 14.3 21 52.5 5 16.7 65 16.3 Tidak 162 85.3 130 92.9 40 100.0 27 90.0 359 89.8 Ya 28 14.7 10 7.1 0.0 3 10.0 41 10.3 Tidak 187 98.4 137 97.9 40 100.0 30 100.0 394 98.5 Ya 3 1.6 3 2.1 0.0 0.0 6 1.5 Tidak 186 97.9 136 97.1 39 97.5 30 100.0 391 97.8 Ya 4 2.1 4 2.9 1 2.5 0.0 9 2.3 Tidak 187 98.4 139 99.3 40 100.0 30 100.0 396 99.0 Ya 3 1.6 1.7 0.0 0.0 4 1.0 Tidak 190 100.0 138 98.6 40 100.0 30 100.0 398 99.5 Ya 0.0 2 1.4 0.0 0.0 2.5 Tabel. 9 Apakah Masih Ada Orang di Luar Anggota rumah yang Sering BAB di Tempat terbuka Strata Desa / Kelurahan Total Variabel Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Anak laki-laki Tidak 153 80.5 106 75.7 28 70.0 25 83.3 312 78.0 umur 5-12 tahun Ya 37 19.5 34 24.3 12 30.0 5 16.7 88 22.0 Anak perempuan Tidak 162 85.3 120 85.7 28 70.0 28 93.3 338 84.5 umur 5-12 tahun Ya 28 14.7 20 14.3 12 30.0 2 6.7 62 15.5 Remaja laki-laki Tidak 173 91.1 135 96.4 36 90.0 29 96.7 373 93.3 Ya 17 8.9 5 3.6 4 10.0 1 3.3 27 6.8 Remaja Tidak 174 91.6 137 97.9 35 87.5 29 96.7 375 93.8 Perempuan Ya 16 8.4 3 2.1 5 12.5 1 3.3 25 6.3 Laki-laki dewasa Tidak 171 90.0 129 92.1 26 65.0 28 93.3 354 88.5 Ya 19 10.0 11 7.9 14 35.0 2 6.7 46 11.5 Perempuan Tidak 171 90.0 128 91.4 25 62.5 28 93.3 352 88.0 dewasa Ya 19 10.0 12 8.6 15 37.5 2 6.7 48 12.0 Laki-laki tua Tidak 174 91.6 138 98.6 38 95.0 29 96.7 379 94.8 Ya 16 8.4 2 1.4 2 5.0 1 3.3 21 5.3 Perempuan tua Tidak 172 90.5 137 97.9 37 92.5 29 96.7 375 93.8 Ya 18 9.5 3 2.1 3 7.5 1 3.3 25 6.3 Masih ada tapi Tidak 150 78.9 118 84.3 24 60.0 26 86.7 318 79.5 tidak jelas siapa Ya 40 21.1 22 15.7 16 40.0 4 13.3 82 20.5 100. Tidak 186 97.9 139 99.3 40 Lainnya, 0 30 100.0 395 98.8 Ya 4 2.1 1.7 0.0 0.0 5 1.3 Tidak ada Tidak 145 76.3 102 72.9 34 85.0 23 76.7 304 76.0 Ya 45 23.7 38 27.1 6 15.0 7 23.3 96 24.0
Tabel 10. Kepemilikan Jamban Pribadi Variabel Apakah di rumah Ibu mempunyai jamban pribadi? Kategori Kloset jongkok leher angsa Kloset duduk siram leher angsa Strata Desa / Kelurahan Total 1 2 3 4 n % n % n % n % n % 143 75.7 107 77.5 17 42.5 24 80.0 291 73.3 46 24.3 31 22.5 23 57.5 6 20.0 106 26.7 Tabel 11. Pembuangan Air Kotor/ Limbah Tinja Manusia, Lumpur Tinja Variabel Jenis kloset apa yang anda pakai di rumah? Kemana tempat penyaluran buangan akhir tinja? Sudah berapa lama tangki septik ini dibuat/dibangun? Apakah ibu tahu, kemana lumpur tinja dibuang pada saat tangki septik dikosongkan? Apakah anak balita di rumah ibu masih terbiasa buang air besar di lantai, di kebun, Ibu biasanya membuang tinja anak kemana? Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % 1 135 71.1 100 71.4 17 42.5 22 73.3 274 68.5 2 5 2.6 5 3.6 0.0 0.0 10 2.5 4 3 1.6 2 1.4 0.0 2 6.7 7 1.8 5 47 24.7 33 23.6 23 57.5 6 20.0 109 27.3 Tangki septik 121 63.7 104 74.3 15 37.5 20 66.7 260 65.0 Pipa sewer 4 2.1 0.0 2 5.0 0.0 6 1.5 Cubluk/lobang tanah 16 8.4 2 1.4 0.0 2 6.7 20 5.0 Langsung ke drainase 1.5 1.7 0.0 1 3.3 3.8 Sungai/danau/pantai 1.5 0.0 0.0 0.0 1.3 Kolam/sawah 0.0 0.0 0.0 1 3.3 1.3 Kebun/tanah lapang 47 24.7 33 23.6 23 57.5 6 20.0 109 27.3 Tidak tahu 5 4.1 14 13.5 1 6.7 0.0 20 7.7 0-12 bulan yang lalu 26 21.5 41 39.4 0.0 10 50.0 77 29.6 1-5 tahun yang lalu 23 19.0 26 25.0 2 13.3 5 25.0 56 21.5 Lebih dari 5-10 tahun yang lalu 47 38.8 16 15.4 10 66.7 1 5.0 74 28.5 Lebih dari 10 tahun 20 16.5 7 6.7 2 13.3 4 20.0 33 12.7 Tidak tahu 2 1.7 1 1.0 0.0 0.0 3 1.2 0-12 bulan yang lalu 3 2.5 1 1.0 0.0 1 5.0 5 1.9 1-5 tahun yang lalu 0.0 1 1.0 0.0 0.0 1.4 Lebih dari 5-10 tahun yang lalu 1.8 1 1.0 0.0 0.0 2.8 Lebih dari 10 tahun 79 65.3 69 66.3 14 93.3 17 85.0 179 68.8 Tidak pernah 36 29.8 31 29.8 1 6.7 2 10.0 70 26.9 Tidak tahu 2 4.8 1 2.9 0.0 0.0 3 3.7 Layanan sedot tinja 2 4.8 1 2.9 0.0 0.0 3 3.7 Membayar tukang 38 90.5 33 94.3 1 100.0 3 100.0 75 92.6 Tidak tahu 1 2.4 2 5.7 0.0 0.0 3 3.7 Ke tempat sampah 2 4.8 0.0 0.0 0.0 2 2.5 Ke kebun/pekarangan/jalan 39 92.9 33 94.3 1 100.0 3 100.0 76 93.8 Ke sungai/selokan/got 12 6.3 14 10.0 17 42.5 2 6.7 45 11.3 Lainnya 56 29.5 46 32.9 9 22.5 8 26.7 119 29.8 Tidak tahu 88 46.3 54 38.6 7 17.5 11 36.7 160 40.0
Tabel 12. Drainase Lingkungan/ Selokan Sekitar Rumah dan Banjir Variabel Apakah di rumah mempunyai sarana pengolahan air limbah selain tinja? Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Ya 68 36.4 94 68.6 15 37.5 16 53.3 193 49.0 Tidak ada 119 63.6 43 31.4 25 62.5 14 46.7 201 51.0 Tabel 13. Kemana air bekas buangan/air limbah selain tinja dibuang yang berasal Variabel Ke sungai/kanal (Dapur) Ke sungai/kanal (Kamar mandi) Ke sungai/kanal (Tempat cuci pakaian) Ke sungai/kanal (Westafel) Ke jalan, halaman (Dapur) Ke jalan, halaman (Kamar mandi) Ke jalan, halaman (Tempat cuci pakaian) Ke jalan, halaman (Westafel) Saluran terbuka (Dapur) Saluran terbuka (Kamar mandi) Saluran terbuka (Tempat cuci pakaian) Saluran terbuka (Westafel) Saluran tertutup (Dapur) Saluran tertutup (Kamar mandi) Saluran tertutup (Tempat cuci pakaian) Saluran tertutup (Westafel) Lubang galian (Dapur) Lubang galian (Kamar mandi) Lubang galian (Tempat cuci pakaian) Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Tidak 57 83.8 76 80.9 15 100.0 15 93.8 163 84.5 Ya 11 16.2 18 19.1 0.0 1 6.3 30 15.5 Tidak 61 89.7 83 88.3 14 93.3 16 100.0 174 90.2 Ya 7 10.3 11 11.7 1 6.7 0.0 19 9.8 Tidak 60 88.2 76 80.9 14 93.3 15 93.8 165 85.5 Ya 8 11.8 18 19.1 1 6.7 1 6.3 28 14.5 Tidak 62 91.2 90 95.7 15 100.0 16 100.0 183 94.8 Ya 6 8.8 4 4.3 0.0 0.0 10 5.2 Tidak 64 94.1 78 83.0 12 80.0 16 100.0 170 88.1 Ya 4 5.9 16 17.0 3 20.0 0.0 23 11.9 Tidak 67 98.5 81 86.2 14 93.3 16 100.0 178 92.2 Ya 1 1.5 13 13.8 1 6.7 0.0 15 7.8 Tidak 65 95.6 79 84.0 14 93.3 16 100.0 174 90.2 Ya 3 4.4 15 16.0 1 6.7 0.0 19 9.8 Tidak 67 98.5 92 97.9 15 100.0 16 100.0 190 98.4 Ya 1 1.5 2 2.1 0.0 0.0 3 1.6 Tidak 33 48.5 40 42.6 15 100.0 2 12.5 90 46.6 Ya 35 51.5 54 57.4 0.0 14 87.5 103 53.4 Tidak 34 50.0 42 44.7 15 100.0 1 6.3 92 47.7 Ya 34 50.0 52 55.3 0.0 15 93.8 101 52.3 Tidak 33 48.5 43 45.7 15 100.0 1 6.3 92 47.7 Ya 35 51.5 51 54.3 0.0 15 93.8 101 52.3 Tidak 38 55.9 70 74.5 15 100.0 10 62.5 133 68.9 Ya 30 44.1 24 25.5 0.0 6 37.5 60 31.1 Tidak 59 86.8 75 79.8 15 100.0 15 93.8 164 85.0 Ya 9 13.2 19 20.2 0.0 1 6.3 29 15.0 Tidak 58 85.3 75 79.8 15 100.0 15 93.8 163 84.5 Ya 10 14.7 19 20.2 0.0 1 6.3 30 15.5 Tidak 57 83.8 74 78.7 15 100.0 16 100.0 162 83.9 Ya 11 16.2 20 21.3 0.0 0.0 31 16.1 Tidak 58 85.3 86 91.5 15 100.0 16 100.0 175 90.7 Ya 10 14.7 8 8.5 0.0 0.0 18 9.3 Tidak 61 89.7 89 94.7 15 100.0 15 93.8 180 93.3 Ya 7 10.3 5 5.3 0.0 1 6.3 13 6.7 Tidak 63 92.6 90 95.7 15 100.0 15 93.8 183 94.8 Ya 5 7.4 4 4.3 0.0 1 6.3 10 5.2 Tidak 63 92.6 89 94.7 15 100.0 16 100.0 183 94.8 Ya 5 7.4 5 5.3 0.0 0.0 10 5.2
Lubang galian (Westafel) Pipa saluran pembuangan (Dapur) Pipa saluran pembuangan (Kamar mandi) Pipa saluran pembuangan (Tempat cuci pakaian) Pipa saluran pembuangan (Westafel) Pipa IPAL Sanimas (Dapur) Pipa IPAL Sanimas (Kamar mandi) Pipa IPAL Sanimas (Tempat cuci pakaian) Pipa IPAL Sanimas (Westafel) Tidak 65 95.6 92 97.9 15 100.0 16 100.0 188 97.4 Ya 3 4.4 2 2.1 0.0 0.0 5 2.6 Tidak 64 94.1 70 74.5 4 26.7 15 93.8 153 79.3 Ya 4 5.9 24 25.5 11 73.3 1 6.3 40 20.7 Tidak 61 89.7 68 72.3 3 20.0 15 93.8 147 76.2 Ya 7 10.3 26 27.7 12 80.0 1 6.3 46 23.8 Tidak 61 89.7 69 73.4 3 20.0 16 100.0 149 77.2 Ya 7 10.3 25 26.6 12 80.0 0.0 44 22.8 Tidak 61 89.7 72 76.6 11 73.3 16 100.0 160 82.9 Ya 7 10.3 22 23.4 4 26.7 0.0 33 17.1 Tidak 68 Tidak 68 Tidak 68 Tidak 68 Tidak tahu (Dapur) Tidak 68 Tidak tahu (Kamar mandi) Tidak tahu (Tempat cuci pakaian) Tidak 68 Tidak 68 Tidak tahu (Westafel) Tidak 68 100. 0 100. 0 100. 0 100. 0 100. 0 100. 0 100. 0 100. 0 94 94 94 94 94 94 94 94 100. 0 100. 0 100. 0 100. 0 100. 0 100. 0 100. 0 100. 0 15 100.0 16 100.0 193 100.0 15 100.0 16 100.0 193 100.0 15 100.0 16 100.0 193 100.0 15 100.0 16 100.0 193 100.0 15 100.0 16 100.0 193 100.0 15 100.0 16 100.0 193 100.0 15 100.0 16 100.0 193 100.0 15 100.0 16 100.0 193 100.0 Tabel 14. Banjir Variabel Apakah rumah yang ditempati saat ini atau lingkungan sekitar rumah pernah terkena banjir? Apakah banjir biasa terjadi secara rutin? Terakhir kali banjir terjadi, apakah air memasuki rumah Ibu? Pada saat terakhir kali banjir, berapa tinggi air yang masuk ke dalam rumah Ibu? Pada saat terakhir kali banjir, apakah kamar mandi dan WC/jamban juga Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Tidak Pernah 183 96.3 133 95.0 39 97.5 30 100.0 385 96.3 Sekali dalam Setahun 2 1.1 2 1.4 1 2.5 0.0 5 1.3 Beberapa kali dalam setahun 0.0 1.7 0.0 0.0 1.3 Tidak tahu 5 2.6 4 2.9 0.0 0.0 9 2.3 Ya 1 14.3 1 14.3 0.0 0.0 2 13.3 Tidak 6 85.7 6 85.7 1 100.0 0.0 13 86.7 Ya 0.0 1 14.3 0.0 0.0 1 6.7 Tidak 7 100.0 6 85.7 1 100.0 0.0 14 93.3 Setumit orang dewas 0.0 1 100.0 0.0 0.0 1 100.0 Tidak pernah 0.0 1 100.0 0.0 0.0 1 100.0
terendam banjir? Pada saat terakhir kali banjir, berapa lama air banjir akan mengering? Kurang dari 1 jam 0.0 1 100.0 0.0 0.0 1 100.0 Tabel 15. Persentase Lokasi Genangan Air di Rumah Variabel Kategori Colom N % Dihalaman rumah Di dekat dapur Di dekat kamar mandi Di dekat bak penampungan Lainnya Tidak 39.4% Ya 60.6% Tidak 90.9% Ya 9.1% Tidak 90.9% Ya 9.1% Tidak 100.0% Ya.0% Tidak 100.0% Ya.0% Tabel 16. Pengelolaan Air Minum, Masak, Mencuci & Gosok Gigi Yang Aman Dan Higiene Strata Desa / Kelurahan Total Variabel Kategori 1 2 3 4 n % n % n % N % n % Air botol kemasan Tidak 153 80.5 130 92.9 38 95.0 25 83.3 346 86.5 (Minum) Ya 37 19.5 10 7.1 2 5.0 5 16.7 54 13.5 Air botol kemasan Tidak 185 97.4 137 97.9 39 97.5 29 96.7 390 97.5 (Masak) Ya 5 2.6 3 2.1 1 2.5 1 3.3 10 2.5 Air botol kemasan (Cuci Tidak 187 98.4 137 97.9 39 97.5 30 100.0 393 98.3 piring&gelas) Ya 3 1.6 3 2.1 1 2.5 0.0 7 1.8 Air botol kemasan (Cuci Tidak 188 98.9 137 97.9 39 97.5 30 100.0 394 98.5 pakaian) Ya 2 1.1 3 2.1 1 2.5 0.0 6 1.5 Air botol kemasan (Gosok Tidak 188 98.9 136 97.1 39 97.5 30 100.0 393 98.3 gigi) Ya 2 1.1 4 2.9 1 2.5 0.0 7 1.8 Air isi ulang (Minum) Tidak 116 61.1 72 51.4 19 47.5 9 30.0 216 54.0 Ya 74 38.9 68 48.6 21 52.5 21 70.0 184 46.0 Air isi ulang (Masak) Tidak 186 97.9 130 92.9 40 100.0 28 93.3 384 96.0 Ya 4 2.1 10 7.1 0.0 2 6.7 16 4.0 Air isi ulang (Cuci Tidak 189 99.5 135 96.4 40 100.0 30 100.0 394 98.5 piring&gelas) Ya 1.5 5 3.6 0.0 0.0 6 1.5 Air isi ulang (Cuci Tidak 189 99.5 135 96.4 40 100.0 30 100.0 394 98.5 pakaian) Ya 1.5 5 3.6 0.0 0.0 6 1.5 Air isi ulang (Gosok gigi) Tidak 189 99.5 135 96.4 40 100.0 30 100.0 394 98.5 Ya 1.5 5 3.6 0.0 0.0 6 1.5 Air Ledeng dari PDAM Tidak 190 100.0 140 100.0 38 95.0 30 100.0 398 99.5 (Minum) Ya 0.0 0.0 2 5.0 0.0 2.5 Air Ledeng dari PDAM Tidak 190 100.0 140 100.0 34 85.0 29 96.7 393 98.3 (Masak) Ya 0.0 0.0 6 15.0 1 3.3 7 1.8 Air Ledeng dari PDAM Tidak 190 100.0 139 99.3 38 95.0 29 96.7 396 99.0 (Cuci piring&gelas) Ya 0.0 1.7 2 5.0 1 3.3 4 1.0 Air Ledeng dari PDAM Tidak 190 100.0 139 99.3 39 97.5 29 96.7 397 99.3 (Cuci pakaian) Ya 0.0 1.7 1 2.5 1 3.3 3.8
Air Ledeng dari PDAM (Gosok gigi) Air hidran umum - PDAM (Minum) Air hidran umum - PDAM (Masak) Air hidran umum - PDAM (Cuci piring&gelas) Air hidran umum - PDAM (Cuci pakaian) Air hidran umum - PDAM (Gosok gigi) Air kran umum - PDAM/PROYEK (Minum) Air kran umum - PDAM/PROYEK (Masak) Air kran umum - PDAM/PROYEK (Cuci piring&gelas) Air kran umum - PDAM/PROYEK (Cuci pakaian) Air kran umum - PDAM/PROYEK (Gosok gigi) Air sumur pompa tangan (Minum) Air sumur pompa tangan (Masak) Air sumur pompa tangan (Cuci piring&gelas) Air sumur pompa tangan (Cuci pakaian) Air sumur pompa tangan (Gosok gigi) Air sumur gali terlindungi (Minum) Air sumur gali terlindungi (Masak) Air sumur gali terlindungi (Cuci piring&gelas) Air sumur gali terlindungi (Cuci pakaian) Air sumur gali terlindungi (Gosok gigi) Air sumur gali tdk terlindungi (Minum) Air sumur gali tdk terlindungi (Masak) Air sumur gali tdk terlindungi (Cuci piring&gelas) Air sumur gali tdk terlindungi (Cuci pakaian) Tidak 190 100.0 139 99.3 39 97.5 29 96.7 397 99.3 Ya 0.0 1.7 1 2.5 1 3.3 3.8 Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Tidak 190 100.0 139 99.3 40 100.0 30 100.0 399 99.8 Ya 0.0 1.7 0.0 0.0 1.3 Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Ya 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Ya 186 97.9 135 96.4 39 97.5 30 100.0 390 97.5 Tidak 4 2.1 5 3.6 1 2.5 0.0 10 2.5 Ya 183 96.3 132 94.3 35 87.5 30 100.0 380 95.0 Tidak 7 3.7 8 5.7 5 12.5 0.0 20 5.0 Ya 184 96.8 132 94.3 35 87.5 30 100.0 381 95.3 Tidak 6 3.2 8 5.7 5 12.5 0.0 19 4.8 Ya 184 96.8 132 94.3 35 87.5 30 100.0 381 95.3 Tidak 6 3.2 8 5.7 5 12.5 0.0 19 4.8 Ya 184 96.8 132 94.3 35 87.5 30 100.0 381 95.3 Tidak 6 3.2 8 5.7 5 12.5 0.0 19 4.8 Ya 55 28.9 65 46.4 39 97.5 9 30.0 168 42.0 Tidak 135 71.1 75 53.6 1 2.5 21 70.0 232 58.0 Ya 35 18.4 43 30.7 33 82.5 4 13.3 115 28.8 Tidak 155 81.6 97 69.3 7 17.5 26 86.7 285 71.3 Ya 36 18.9 45 32.1 30 75.0 3 10.0 114 28.5 Tidak 154 81.1 95 67.9 10 25.0 27 90.0 286 71.5 Ya 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Ya 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Ya 190 100.0 139 99.3 40 100.0 30 100.0 399 99.8 Tidak 38 20.0 49 35.0 30 75.0 3 10.0 120 30.0 Ya 152 80.0 91 65.0 10 25.0 27 90.0 280 70.0 Tidak 38 20.0 50 35.7 30 75.0 3 10.0 121 30.3 Ya 152 80.0 90 64.3 10 25.0 27 90.0 279 69.8 Tidak 172 90.5 121 86.4 40 100.0 29 96.7 362 90.5 Ya 18 9.5 19 13.6 0.0 1 3.3 38 9.5 Tidak 172 90.5 115 82.1 40 100.0 28 93.3 355 88.8 Ya 18 9.5 25 17.9 0.0 2 6.7 45 11.3 Tidak 171 90.0 113 80.7 40 100.0 27 90.0 351 87.8 Ya 19 10.0 27 19.3 0.0 3 10.0 49 12.3
Air sumur gali tdk Tidak 164 86.3 116 82.9 40 100.0 28 93.3 348 87.0 terlindungi (Gosok gigi) Ya 26 13.7 24 17.1 0.0 2 6.7 52 13.0 Mata air terlindungi Tidak 173 91.1 115 82.1 40 100.0 28 93.3 356 89.0 (Minum) Ya 17 8.9 25 17.9 0.0 2 6.7 44 11.0 Mata air terlindungi Tidak 175 92.1 138 98.6 39 97.5 26 86.7 378 94.5 (Masak) Ya 15 7.9 2 1.4 1 2.5 4 13.3 22 5.5 Mata air terlindungi (Cuci Tidak 176 92.6 137 97.9 39 97.5 26 86.7 378 94.5 piring&gelas) Ya 14 7.4 3 2.1 1 2.5 4 13.3 22 5.5 Mata air terlindungi (Cuci Tidak 176 92.6 137 97.9 39 97.5 26 86.7 378 94.5 pakaian) Ya 14 7.4 3 2.1 1 2.5 4 13.3 22 5.5 Mata air terlindungi Tidak 176 92.6 137 97.9 39 97.5 26 86.7 378 94.5 (Gosok gigi) Ya 14 7.4 3 2.1 1 2.5 4 13.3 22 5.5 Mata air tdk terlindungi Tidak 176 92.6 137 97.9 39 97.5 26 86.7 378 94.5 (Minum) Ya 14 7.4 3 2.1 1 2.5 4 13.3 22 5.5 Mata air tdk terlindungi Tidak 188 98.9 132 94.3 39 97.5 30 100.0 389 97.3 (Masak) Ya 2 1.1 8 5.7 1 2.5 0.0 11 2.8 Mata air tdk terlindungi Tidak 187 98.4 131 93.6 39 97.5 29 96.7 386 96.5 (Cuci piring&gelas) Ya 3 1.6 9 6.4 1 2.5 1 3.3 14 3.5 Mata air tdk terlindungi Tidak 187 98.4 131 93.6 40 100.0 28 93.3 386 96.5 (Cuci pakaian) Ya 3 1.6 9 6.4 0.0 2 6.7 14 3.5 Mata air tdk terlindungi Tidak 187 98.4 131 93.6 40 100.0 28 93.3 386 96.5 (Gosok gigi) Ya 3 1.6 9 6.4 0.0 2 6.7 14 3.5 Air hujan (Minum) Tidak 187 98.4 131 93.6 40 100.0 28 93.3 386 96.5 Ya 3 1.6 9 6.4 0.0 2 6.7 14 3.5 Air hujan (Masak) Tidak 185 97.4 118 84.3 37 92.5 30 100.0 370 92.5 Ya 5 2.6 22 15.7 3 7.5 0.0 30 7.5 Air hujan (Cuci Tidak 184 96.8 120 85.7 37 92.5 29 96.7 370 92.5 piring&gelas) Ya 6 3.2 20 14.3 3 7.5 1 3.3 30 7.5 Air hujan (Cuci pakaian) Tidak 185 97.4 122 87.1 37 92.5 26 86.7 370 92.5 Ya 5 2.6 18 12.9 3 7.5 4 13.3 30 7.5 Air hujan (Gosok gigi) Tidak 184 96.8 123 87.9 37 92.5 25 83.3 369 92.3 Ya 6 3.2 17 12.1 3 7.5 5 16.7 31 7.8 Air dari sungai (Minum) Tidak 185 97.4 124 88.6 37 92.5 28 93.3 374 93.5 Ya 5 2.6 16 11.4 3 7.5 2 6.7 26 6.5 Air dari sungai (Masak) Tidak 147 77.4 118 84.3 36 90.0 30 100.0 331 82.8 Ya 43 22.6 22 15.7 4 10.0 0.0 69 17.3 Air dari sungai (Cuci Tidak 145 76.3 116 82.9 36 90.0 29 96.7 326 81.5 piring&gelas) Ya 45 23.7 24 17.1 4 10.0 1 3.3 74 18.5 Air dari sungai (Cuci Tidak 145 76.3 110 78.6 22 55.0 27 90.0 304 76.0 pakaian) Ya 45 23.7 30 21.4 18 45.0 3 10.0 96 24.0 Air dari sungai (Gosok Tidak 132 69.5 109 77.9 21 52.5 19 63.3 281 70.3 gigi) Ya 58 30.5 31 22.1 19 47.5 11 36.7 119 29.8 Air dari waduk/danau Tidak 143 75.3 109 77.9 21 52.5 29 96.7 302 75.5 (Minum) Tidak 47 24.7 31 22.1 19 47.5 1 3.3 98 24.5 Air dari waduk/danau Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 (Cuci piring&gelas) Ya 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Air dari waduk/danau Tidak 190 100.0 139 99.3 39 97.5 30 100.0 398 99.5 (Cuci pakaian) Ya 0.0 1.7 1 2.5 0.0 2.5 Air dari waduk/danau Tidak 190 100.0 139 99.3 38 95.0 30 100.0 397 99.3 (Gosok gigi) Ya 0.0 1.7 2 5.0 0.0 3.8 Lainnya (Minum) Tidak 190 100.0 139 99.3 38 95.0 30 100.0 397 99.3 Ya 0.0 1.7 2 5.0 0.0 3.8 Lainnya (Masak) Tidak 180 94.7 140 100.0 40 100.0 30 100.0 390 97.5
Lainnya (Cuci piring&gelas) Lainnya (Cuci pakaian) Lainnya (Gosok gigi) Variabel Apakah pernah mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehatihari, berapa lama? Apakah ibu puas dengan kualitas air yang digunakan saat ini? Berapa jarak sumber air tsb ke tempat penampungan/pembuangan tinja? Apakah Ibu mengolah/menangani air sebelum digunakan untuk minum dan masak? Bagaimana cara Ibu mengolah air untuk diminum? Apakah Ibu menyimpan air yang sudah diolah ditempat yang aman? Bagaimana Ibu mengambil air untuk minum, masak, cuci piring & gelas dan gosok gigi dari tempat penyimpan air? Ya 10 5.3 0.0 0.0 0.0 10 2.5 Tidak 180 94.7 140 100.0 40 100.0 30 100.0 390 97.5 Ya 10 5.3 0.0 0.0 0.0 10 2.5 Tidak 180 94.7 140 100.0 40 100.0 30 100.0 390 97.5 Ya 10 5.3 0.0 0.0 0.0 10 2.5 Tidak 180 94.7 140 100.0 40 100.0 30 100.0 390 97.5 Ya 10 5.3 0.0 0.0 0.0 10 2.5 Tabel 17. Kuantitas dan Kualitas Air Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Tidak pernah 120 63.2 114 81.4 36 90.0 23 76.7 293 73.3 Beberapa jam saja 2 1.1 5 3.6 0.0 2 6.7 9 2.3 Satu sampai beberapa hari 26 13.7 7 5.0 4 10.0 5 16.7 42 10.5 Seminggu 1.5 2 1.4 0.0 0.0 3.8 Lebih dari seminggu 36 18.9 9 6.4 0.0 0.0 45 11.3 Tidak tahu 5 2.6 3 2.1 0.0 0.0 8 2.0 Ya 140 73.7 113 80.7 14 35.0 22 73.3 289 72.3 Tidak 50 26.3 27 19.3 26 65.0 8 26.7 111 27.8 Kurang 10 m 23 12.1 45 32.1 15 37.5 1 3.3 84 21.0 Lebih 10 m 124 65.3 76 54.3 3 7.5 25 83.3 228 57.0 3 40 21.1 16 11.4 22 55.0 4 13.3 82 20.5 Tidak tahu 3 1.6 3 2.1 0.0 0.0 6 1.5 Ya 102 53.7 121 86.4 36 90.0 25 83.3 284 71.0 Tidak 88 46.3 19 13.6 4 10.0 5 16.7 116 29.0 Direbus 97 95.1 115 95.0 36 100.0 25 100.0 273 96.1 Ditambahkan kaporit 0.0 3 2.5 0.0 0.0 3 1.1 Lainnya 5 4.9 3 2.5 0.0 0.0 8 2.8 Tidak disimpan 2 2.0 6 5.0 1 2.8 0.0 9 3.2 Ya, dalam Panci terbuka 1 1.0 3 2.5 0.0 0.0 4 1.4 Ya, dalam Panci dengan tutup 27 26.5 55 45.5 1 2.8 11 44.0 94 33.1 Ya, dalam Teko/ketel/ceret 51 50.0 40 33.1 33 91.7 12 48.0 136 47.9 Ya, dalam Botol/termos 0.0 3 2.5 0.0 0.0 3 1.1 Ya, dalam Galon isi ulang 21 20.6 13 10.7 0.0 2 8.0 36 12.7 Lainnya 0.0 1.8 0.0 0.0 1.4 Tidak tahu 0.0 0.0 1 2.8 0.0 1.4 Langsung dari dispenser 28 27.5 41 33.9 0.0 6 24.0 75 26.4 Dengan menggunakan 16 15.7 43 35.5 34 94.4 5 20.0 98 34.5 gayung Dengan menggunakan gelas 57 55.9 36 29.8 1 2.8 14 56.0 108 38.0
Lainnya 1 1.0 0.0 0.0 0.0 1.4 Tidak tahu 0.0 1.8 1 2.8 0.0 2.7. Variabel Apakah Ibu memakai sabun pada hari ini atau kemarin? Variabel Mandi Memandikan anak Menceboki panta anak Mencuci tangan sendiri Mencuci tangan anak Mencuci peralatan Mencuci pakaian Lainnya Tidak tahu Tabel 18. Perilaku Higiene dan Sanitasi Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % N % N % n % n % Ya 185 98.9 136 99.3 38 95.0 29 96.7 388 98.5 Tidak 2 1.1 1.7 2 5.0 1 3.3 6 1.5 Tabel 19. Untuk apa saja sabun itu ibu gunakan Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 N % N % n % n % n % Tidak 1.5 12 8.8 25 65.8 1 3.4 39 10.1 Ya 184 99.5 124 91.2 13 34.2 28 96.6 349 89.9 Tidak 42 22.7 33 24.3 1 2.6 7 24.1 83 21.4 Ya 143 77.3 103 75.7 37 97.4 22 75.9 305 78.6 Tidak 61 33.0 53 39.0 1 2.6 12 41.4 127 32.7 Ya 124 67.0 83 61.0 37 97.4 17 58.6 261 67.3 Tidak 29 15.7 15 11.0 1 2.6 6 20.7 51 13.1 Ya 156 84.3 121 89.0 37 97.4 23 79.3 337 86.9 Tidak 56 30.3 42 30.9 1 2.6 11 37.9 110 28.4 Ya 129 69.7 94 69.1 37 97.4 18 62.1 278 71.6 Tidak 8 4.3 5 3.7 2 5.3 4 13.8 19 4.9 Ya 177 95.7 131 96.3 36 94.7 25 86.2 369 95.1 Tidak 10 5.4 6 4.4 3 7.9 1 3.4 20 5.2 Ya 175 94.6 130 95.6 35 92.1 28 96.6 368 94.8 Tidak 182 98.4 136 100.0 38 100.0 29 100.0 385 99.2 Ya 3 1.6 0.0 0.0 0.0 3.8 Tidak 183 98.9 136 100.0 38 100.0 29 100.0 386 99.5 Ya 2 1.1 0.0 0.0 0.0 2.5
Tabel 20. Dimana saja anggota keluarga biasanya mencuci tangan Variabel Di kamar mandi Di dekat kamar mandi Di jamban Di dekat jamban Di sumur Di sekitar penampungan Di tempat cuci piring Di dapur Lainnya Tidak tahu Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % N % n % n % n % Tidak 70 36.8 29 20.7 20 50.0 8 26.7 127 31.8 Ya 120 63.2 111 79.3 20 50.0 22 73.3 273 68.3 Tidak 181 95.3 131 93.6 40 100.0 28 93.3 380 95.0 Ya 9 4.7 9 6.4 0.0 2 6.7 20 5.0 Tidak 160 84.2 119 85.0 30 75.0 28 93.3 337 84.3 Ya 30 15.8 21 15.0 10 25.0 2 6.7 63 15.8 Tidak 180 94.7 135 96.4 39 97.5 29 96.7 383 95.8 Ya 10 5.3 5 3.6 1 2.5 1 3.3 17 4.3 Tidak 83 43.7 105 75.0 37 92.5 20 66.7 245 61.3 Ya 107 56.3 35 25.0 3 7.5 10 33.3 155 38.8 Tidak 173 91.1 125 89.3 40 100.0 25 83.3 363 90.8 Ya 17 8.9 15 10.7 0.0 5 16.7 37 9.3 Tidak 135 71.1 94 67.1 35 87.5 28 93.3 292 73.0 Ya 55 28.9 46 32.9 5 12.5 2 6.7 108 27.0 Tidak 135 71.1 104 74.3 19 47.5 25 83.3 283 70.8 Ya 55 28.9 36 25.7 21 52.5 5 16.7 117 29.3 Tidak 189 99.5 139 99.3 39 97.5 30 100.0 397 99.3 Ya 1.5 1.7 1 2.5 0.0 3.8 Tidak 176 92.6 139 99.3 40 100.0 29 96.7 384 96.0 Ya 14 7.4 1.7 0.0 1 3.3 16 4.0 Tabel 21. Kapan biasanya Ibu mencuci tangan dengan menggunakan sabun Variabel Sebelum ke toilet Setelah menceboki bayi/anak Setelah dari buang air besar Sebelum makan Setelah makan Sebelum memberi menyuapi anak Sebelum menyiapkan masakan Strata Desa/ Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 N % n % n % n % n % Tidak 186 97.9 137 97.9 39 97.5 30 100.0 392 98.0 Ya 4 2.1 3 2.1 1 2.5 0.0 8 2.0 Tidak 91 47.9 62 44.3 2 5.0 16 53.3 171 42.8 Ya 99 52.1 78 55.7 38 95.0 14 46.7 229 57.3 Tidak 66 34.7 42 30.0 2 5.0 2 6.7 112 28.0 Ya 124 65.3 98 70.0 38 95.0 28 93.3 288 72.0 Tidak 76 40.0 76 54.3 1 2.5 12 40.0 165 41.3 Ya 114 60.0 64 45.7 39 97.5 18 60.0 235 58.8 Tidak 118 62.1 113 80.7 1 2.5 22 73.3 254 63.5 Ya 72 37.9 27 19.3 39 97.5 8 26.7 146 36.5 Tidak 116 61.1 109 77.9 4 10.0 21 70.0 250 62.5 Ya 74 38.9 31 22.1 36 90.0 9 30.0 150 37.5 Tidak 101 53.2 113 80.7 5 12.5 21 70.0 240 60.0 Ya 89 46.8 27 19.3 35 87.5 9 30.0 160 40.0 Setelah Tidak 78 41.1 60 42.9 5 12.5 15 50.0 158 39.5
memegang hewan Sebelum sholat Lainnya Ya 112 58.9 80 57.1 35 87.5 15 50.0 242 60.5 Tidak 92 48.4 91 65.0 6 15.0 17 56.7 206 51.5 Ya 98 51.6 49 35.0 34 85.0 13 43.3 194 48.5 Tidak 166 87.4 139 99.3 40 100.0 30 100.0 375 93.8 Ya 24 12.6 1.7 0.0 0.0 25 6.3 Tabel 22. Apakah terlihat sumber air untuk minum, masak dan mencuci peralatan. Variabel Ya, air ledeng PDAM - berfungsi/mengalir Ya, air ledeng PDAM - tidak berfungsi Ya, dari sumur gali yg terlindungi Ya, dari sumur gali yg tidak terlindungi Ya, dari sumur bor/pompa tangan Ya, dari sumur bor/pompa tangan mesin Ya, dari hidran umum/kran umum PDAM Ya, dari kran umum PROYEK/HIPPAM Ya, dari penjual air keliling Lainnya Tidak ada Kategori Strata Desa / Keluarga 1 2 3 4 n % n % n % n % Total N % Tidak 187 98.4 129 92.1 25 62.5 30 100.0 371 92.8 Ya 3 1.6 11 7.9 15 37.5 0.0 29 7.3 Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Ya 27 14.2 45 32.1 24 60.0 4 13.3 100 25.0 Tidak 163 85.8 95 67.9 16 40.0 26 86.7 300 75.0 Ya 170 89.5 109 77.9 39 97.5 29 96.7 347 86.8 Tidak 20 10.5 31 22.1 1 2.5 1 3.3 53 13.3 Ya 186 97.9 138 98.6 40 100.0 28 93.3 392 98.0 Tidak 4 2.1 2 1.4 0.0 2 6.7 8 2.0 Ya 186 97.9 133 95.0 40 100.0 29 96.7 388 97.0 Tidak 4 2.1 7 5.0 0.0 1 3.3 12 3.0 Ya 190 100.0 139 99.3 40 100.0 30 100.0 399 99.8 Tidak 0.0 1.7 0.0 0.0 1.3 Ya 189 99.5 137 97.9 40 100.0 30 100.0 396 99.0 Tidak 1.5 3 2.1 0.0 0.0 4 1.0 Ya 163 85.8 133 95.0 40 100.0 22 73.3 358 89.5 Tidak 27 14.2 7 5.0 0.0 8 26.7 42 10.5 Ya 173 91.1 126 90.0 37 92.5 29 96.7 365 91.3 Tidak 17 8.9 14 10.0 3 7.5 1 3.3 35 8.8 Ya 189 99.5 139 99.3 36 90.0 30 100.0 394 98.5 Tidak 1.5 1.7 4 10.0 0.0 6 1.5 Ya 187 98.4 129 92.1 25 62.5 30 100.0 371 92.8
Tabel 23. LIHAT DAN AMATI HALAMAN/PEKARANGAN/KEBUN Variabel Amati, apakah jarak tangki septik dengan sumber air minimal 10 meter? Amati, bagaimana cara mengelola sampah di rumah? Amati, apakah sekeliling halaman bersih dari sampah? Amati, apakah terlihat bahwa sampah dipilah/dipisahkan Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Ya 151 79.5 90 64.3 17 42.5 27 90.0 285 71.3 Tidak 39 20.5 50 35.7 23 57.5 3 10.0 115 28.8 Dibuang dan dikubur di 3 1.6 1.7 0.0 1 3.3 5 1.3 lobang galian Dibuang dlm lubang galian 42 22.1 18 12.9 5 12.5 1 3.3 66 16.5 dan dibakar Dijadikan makanan 4 2.1 1.7 0.0 0.0 5 1.3 binatang Dikumpulkan dlm keranjang sampah 1.5 1.7 0.0 0.0 2.5 permanen Langsung dibakar 91 47.9 106 75.7 35 87.5 24 80.0 256 64.0 Dibuang ke sungai/danau/ 7 3.7 3 2.1 0.0 0.0 10 2.5 laut Dibuang ke lahan kosong/kebun 38 20.0 7 5.0 0.0 4 13.3 49 12.3 /hutan Dibiarkan saja 2 1.1 2 1.4 0.0 0.0 4 1.0 Lainnya 2 1.1 1.7 0.0 0.0 3.8 Ya 144 75.8 118 84.3 30 75.0 25 83.3 317 79.3 Tidak 46 24.2 22 15.7 10 25.0 5 16.7 83 20.8 Ya 39 20.5 44 31.4 5 12.5 0.0 88 22.0 Tidak 151 79.5 96 68.6 35 87.5 30 100.0 312 78.0
Tabel 24. Jika sampah dipilah, apa saja yang terlihat dipilah Variabel Sampah organic/sampah basah Plastik Gelas/kaca Kertas/kardus Besi/logam Lainnya Amati, apakah ada tempat untuk membuat kompos? Amati, Apakah ada kompos yang sudah bisa dipakai? Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % N % n % Tidak 14 35.9 25 56.8 5 100.0 0.0 44 50.0 Ya 25 64.1 19 43.2 0.0 0.0 44 50.0 Tidak 29 74.4 27 61.4 1 20.0 0.0 57 64.8 Ya 10 25.6 17 38.6 4 80.0 0.0 31 35.2 Tidak 3 7.7 4 9.1 5 100.0 0.0 12 13.6 Ya 36 92.3 40 90.9 0.0 0.0 76 86.4 Tidak 28 71.8 30 68.2 5 100.0 0.0 63 71.6 Ya 11 28.2 14 31.8 0.0 0.0 25 28.4 Tidak 6 15.4 9 20.5 5 100.0 0.0 20 22.7 Ya 33 84.6 35 79.5 0.0 0.0 68 77.3 Tidak 38 97.4 43 97.7 5 100.0 0.0 86 97.7 Ya 1 2.6 1 2.3 0.0 0.0 2 2.3 Ya 4 2.2 3 2.2 1 2.5 0.0 8 2.0 Tidak 181 97.8 134 97.8 39 97.5 29 100.0 383 98.0 Ya 2 50.0 1 33.3 1 100.0 0.0 4 50.0 Tidak 2 50.0 2 66.7 0.0 0.0 4 50.0 Tabel 25. Untuk apa saja kompos dipakai oleh responden Strata Desa / Kelurahan Total Variabel Kategori 1 2 3 n % n % n % n % Pupuk tanaman hias Tidak 1 50.0 0.0 1 100.0 2 50.0 Ya 1 50.0 1 100.0 0.0 2 50.0 Pupuk tanaman buah Tidak 1 50.0 1 100.0 1 100.0 3 75.0 Ya 1 50.0 0.0 0.0 1 25.0 Dijual Tidak 1 50.0 0.0 1 100.0 2 50.0 Ya 1 50.0 1 100.0 0.0 2 50.0 Tidak dimanfaatkan Tidak 2 100.0 1 100.0 1 100.0 4 100.0
Tabel 26. Apakah terlihat sumber air untuk minum, masak dan mencuci peralatan Variabel Ya, air ledeng PDAM - berfungsi/mengalir Ya, air ledeng PDAM - tidak berfungsi Ya, dari sumur gali yg terlindungi Ya, dari sumur gali yg tidak terlindungi Ya, dari sumur bor/pompa tangan Ya, dari sumur bor/pompa tangan mesin Ya, dari hidran umum/kran umum PDAM Ya, dari kran umum PROYEK/HIPPAM Ya, dari penjual air keliling Lainnya Tidak ada Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % N % n % N % n % Tidak 187 98.4 129 92.1 25 62.5 30 100.0 371 92.8 Ya 3 1.6 11 7.9 15 37.5 0.0 29 7.3 Tidak 190 100.0 140 100.0 40 100.0 30 100.0 400 100.0 Ya 27 14.2 45 32.1 24 60.0 4 13.3 100 25.0 Tidak 163 85.8 95 67.9 16 40.0 26 86.7 300 75.0 Ya 170 89.5 109 77.9 39 97.5 29 96.7 347 86.8 Tidak 20 10.5 31 22.1 1 2.5 1 3.3 53 13.3 Ya 186 97.9 138 98.6 40 100.0 28 93.3 392 98.0 Tidak 4 2.1 2 1.4 0.0 2 6.7 8 2.0 Ya 186 97.9 133 95.0 40 100.0 29 96.7 388 97.0 Tidak 4 2.1 7 5.0 0.0 1 3.3 12 3.0 Ya 190 100.0 139 99.3 40 100.0 30 100.0 399 99.8 Tidak 0.0 1.7 0.0 0.0 1.3 Ya 189 99.5 137 97.9 40 100.0 30 100.0 396 99.0 Tidak 1.5 3 2.1 0.0 0.0 4 1.0 Ya 163 85.8 133 95.0 40 100.0 22 73.3 358 89.5 Tidak 27 14.2 7 5.0 0.0 8 26.7 42 10.5 Ya 173 91.1 126 90.0 37 92.5 29 96.7 365 91.3 Tidak 17 8.9 14 10.0 3 7.5 1 3.3 35 8.8 Ya 189 99.5 139 99.3 36 90.0 30 100.0 394 98.5 Tidak 1.5 1.7 4 10.0 0.0 6 1.5 Ya 187 98.4 129 92.1 25 62.5 30 100.0 371 92.8 Tabel 27. Pengamatan Terhadap Wadah/Tempat untuk Menyimpan dan Mengambil Air Minum dan Masak dari Wadah Penyimpanan Air di Dapur Strata Desa / Kelurahan Total Variabel Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Amati, Apa Tidak disimpan 5 2.6 8 5.7 1 2.5 0.0 14 3.5 wadah/tempat YA, dalam panci terbuka 25 13.2 6 4.3 3 7.5 3 10.0 37 9.3 yang digunakan YA, dalam panci tertutup 148 77.9 112 80.0 35 87.5 24 80.0 319 79.8 untuk lainnya 8 4.2 11 7.9 0.0 2 6.7 21 5.3 menyimpan air minum di dapur? Tidak tahu 4 2.1 3 2.1 1 2.5 1 3.3 9 2.3 Amati, Bagaimana ibu mengambil air untuk minum dan masak dari wadah peyimpanan air? Tangan menyentuh air 10 5.3 16 11.4 6 15.0 2 6.7 34 8.5 Tangan tidak menyentuh air 171 90.0 120 85.7 32 80.0 27 90.0 350 87.5 Tidak tahu 9 4.7 4 2.9 2 5.0 1 3.3 16 4.0
Tabel 28. Pengamatan Terhadap Tempat Cuci Tangan, Sabun dan Makanan Ditutup Variabel Amati, apakah tersedia air untuk cuci tangan di dapur? Amati, apakah terlihat ada sabun untuk mencuci tangan dll Amati, apakah makanan ditutup/dilindungi dari lalat, kecoa, cicak dan lainnya Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Ya 133 70.0 99 70.7 33 82.5 24 80.0 289 72.3 Tidak 57 30.0 41 29.3 7 17.5 6 20.0 111 27.8 Ya 165 86.8 115 82.1 19 47.5 24 80.0 323 80.8 Tidak 25 13.2 25 17.9 21 52.5 6 20.0 77 19.3 YA, disimpan di atas ditutup 81 43.5 74 54.0 34 85.0 10 34.5 199 50.8 YA, disimpan dalam lemari 15 8.1 11 8.0 2 5.0 2 6.9 30 7.7 makan YA, disimpan dalam lemari 87 46.8 50 36.5 2 5.0 16 55.2 155 39.5 yang tertutup lainnya 3 1.6 2 1.5 2 5.0 1 3.4 8 2.0 Tabel 29. Amati, apakah ada wadah yang dipakai untuk mengumpulkan sampah di dapur Strata Desa / Kelurahan Total Variabel Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Kantong plastik Tidak 165 86.8 113 80.7 38 95.0 25 83.3 341 85.3 tertutup Ya 25 13.2 27 19.3 2 5.0 5 16.7 59 14.8 Kantong plastik Tidak 159 83.7 106 75.7 37 92.5 22 73.3 324 81.0 terbuka Ya 31 16.3 34 24.3 3 7.5 8 26.7 76 19.0 Keranjang Tidak 94 49.5 79 56.4 23 57.5 16 53.3 212 53.0 sampah terbuka Ya 96 50.5 61 43.6 17 42.5 14 46.7 188 47.0 Keranjang Tidak 169 88.9 132 94.3 40 100.0 24 80.0 365 91.3 sampah tertutup Ya 21 11.1 8 5.7 0.0 6 20.0 35 8.8 Lainnya Tidak 189 99.5 138 98.6 40 100.0 30 100.0 397 99.3 Ya 1.5 2 1.4 0.0 0.0 3.8 Tidak ada Tidak 166 87.4 118 84.3 21 52.5 30 100.0 335 83.8 Ya 24 12.6 22 15.7 19 47.5 0.0 65 16.3 Ke sungai/kanal/kolam/selokan 15 7.9 16 11.4 8 20.0 1 3.3 40 10.0 Ke jalan, halaman, kebun 16 8.4 28 20.0 5 12.5 1 3.3 50 12.5 Saluran terbuka 99 52.1 42 30.0 3 7.5 20 66.7 164 41.0 Saluran tertutup 26 13.7 15 10.7 0.0 3 10.0 44 11.0 Lubang galian 8 4.2 1.7 0.0 3 10.0 12 3.0 Pipa saluran pembuangan Amati, kemana air limbah bekas cuci peralatan minum/makan dan masak dibuang? 13 6.8 28 20.0 19 47.5 0.0 60 15.0 kotoran (SPAL) Pipa IPAL Sanimas 1.5 0.0 1 2.5 0.0 2.5 Tidak tahu 9 4.7 7 5.0 1 2.5 1 3.3 18 4.5 Tidak ada bak cuci peralatan dapur 3 1.6 3 2.1 3 7.5 1 3.3 10 2.5
Tabel 30. Pengamatan Variabel Amati, apakah ada sabun mandi, shampoo dan sabun cuci tangan di kamar mandi Amati, kemana air limbah bekas cuci tangan dari wastafel dibuang Amati, Bila ada bak penampung air, apakah terlihat ada jentik nyamuk didalamnya Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Ya 173 91.1 124 88.6 23 57.5 28 93.3 348 87.0 Tidak 17 8.9 16 11.4 17 42.5 2 6.7 52 13.0 Ke sungai/kanal/kolam/selokan 14 7.4 16 11.4 3 7.5 0.0 33 8.3 Ke jalan, halaman, kebun 12 6.3 27 19.3 2 5.0 1 3.3 42 10.5 Saluran terbuka 104 54.7 42 30.0 5 12.5 22 73.3 173 43.3 Saluran tertutup 26 13.7 10 7.1 0.0 1 3.3 37 9.3 Lubang galian 9 4.7 2 1.4 0.0 4 13.3 15 3.8 Pipa saluran pembuangan kotoran (SPAL) 6 3.2 27 19.3 16 40.0 0.0 49 12.3 Pipa IPAL Sanimas 1.5 0.0 0.0 0.0 1.3 Tidak tahu 18 9.5 16 11.4 14 35.0 2 6.7 50 12.5 Ya 10 5.3 16 11.4 1 2.5 0.0 27 6.8 Tidak 137 72.1 115 82.1 38 95.0 23 76.7 313 78.3 Variabel Amati, apakah tersedia air di dalam ruangan jamban/wc Amati, apakah terlihat ada sabun di dalam atau di dekat jamban? Amati, Apakah terlihat ada jentik nyamuk dalam bak air/ember? Amati, termasuk tipe apakah WC/jamban yang anda lihat? Amati, kemana saluran pembuangan dari WC/jamban disalurkan/terhubungkan Tabel 31 Lihat dan Amati WC / Jamban Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % YA, dalam bak air/ember 135 71.1 114 81.4 13 32.5 23 76.7 285 71.3 YA, dari kran & berfungsi 12 6.3 3 2.1 5 12.5 0.0 20 5.0 Tidak ada 43 22.6 23 16.4 22 55.0 7 23.3 95 23.8 Ya 122 64.2 99 70.7 19 47.5 20 66.7 260 65.0 Tidak 68 35.8 41 29.3 21 52.5 10 33.3 140 35.0 Ya 17 8.9 10 7.1 2 5.0 5 16.7 34 8.5 Tidak 173 91.1 130 92.9 38 95.0 25 83.3 366 91.5 Kloset jonghkok leher angsa 144 75.8 104 74.3 16 40.0 21 70.0 285 71.3 Kloset duduk leher angsa 6 3.2 7 5.0 2 5.0 1 3.3 16 4.0 Plengsengan 1.5 0.0 0.0 1 3.3 2.5 Cemplung 3 1.6 2 1.4 0.0 4 13.3 9 2.3 Lainnya 28 14.7 9 6.4 3 7.5 1 3.3 41 10.3 Tidak tahu 8 4.2 18 12.9 19 47.5 2 6.7 47 11.8 Cubluk 26 13.7 8 5.7 0.0 2 6.7 36 9.0 Tangki Septik 102 53.7 87 62.1 14 35.0 19 63.3 222 55.5 Sungai, kanal, kolam 5 2.6 4 2.9 0.0 4 13.3 13 3.3 Jalan, halaman, kebun 1.5 3 2.1 0.0 0.0 4 1.0 Saluran terbuka 5 2.6 5 3.6 2 5.0 3 10.0 15 3.8 Saluran tertutup 11 5.8 5 3.6 0.0 0.0 16 4.0
Amati, apakah lantai dan dinding jamban bebas dari tinja? Amati, apakah jamban bebas dari kecoa dan lalat? Amati, jika ada kloset jonkok leher angsa, apakah ada gayung dan air untuk menyiram? Amati, jika ada kloset duduk, cobalah menekan alat penyiram, apakah berfungsi Pipa saluran pembuangan 10 5.3 6 4.3 5 12.5 0.0 21 5.3 kotoran Pipa IPAL Sanimas 26 13.7 19 13.6 19 47.5 1 3.3 65 16.3 Tidak tahu 4 2.1 3 2.1 0.0 1 3.3 8 2.0 Ya 115 60.5 107 76.4 13 32.5 22 73.3 257 64.3 Tidak 75 39.5 33 23.6 27 67.5 8 26.7 143 35.8 Ya 144 75.8 112 80.0 16 40.0 24 80.0 296 74.0 Tidak 46 24.2 28 20.0 24 60.0 6 20.0 104 26.0 Ya, ada keduanya 136 71.6 112 80.0 20 50.0 23 76.7 291 72.8 Tidak ada salah satu atau 50 26.3 25 17.9 20 50.0 6 20.0 101 25.3 keduanya Bukan kloset jongkok 4 2.1 3 2.1 0.0 1 3.3 8 2.0 Ya, berfungsi 58 30.5 55 39.3 8 20.0 2 6.7 123 30.8 Tidak berfungsi 128 67.4 81 57.9 32 80.0 27 90.0 268 67.0 Bukan kloset duduk 4 2.1 4 2.9 0.0 1 3.3 9 2.3 Tabel 32. Kejadian Penyakit Diare Variabel Kapan waktu paling dekat anggota keluarga ibu terkena diare Anak-anak balita Anak-anak non balita Anak remaja laki-laki Anak remaja perempuan Orang dewasa laki-laki Orang dewasa perempuan Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Hari ini 4 2.1 13 9.3 0.0 2 6.7 19 4.8 Kemarin 0.0 3 2.1 0.0 3 10.0 6 1.5 1 minggu terakhir 9 4.7 14 10.0 0.0 1 3.3 24 6.0 1 bulan terakhir 16 8.4 8 5.7 0.0 4 13.3 28 7.0 3 bulan terakhir 26 13.7 11 7.9 0.0 4 13.3 41 10.3 6 bulan yang lalu 13 6.8 15 10.7 7 17.5 4 13.3 39 9.8 Lebih dari 6 bulan yang lalu 26 13.7 11 7.9 16 40.0 5 16.7 58 14.5 Tidak pernah 96 50.5 65 46.4 17 42.5 7 23.3 185 46.3 Tidak 51 54.3 33 44.0 7 30.4 12 52.2 103 47.9 Ya 43 45.7 42 56.0 16 69.6 11 47.8 112 52.1 Tidak 75 79.8 58 77.3 22 95.7 21 91.3 176 81.9 Ya 19 20.2 17 22.7 1 4.3 2 8.7 39 18.1 Tidak 85 90.4 72 96.0 22 95.7 20 87.0 199 92.6 Ya 9 9.6 3 4.0 1 4.3 3 13.0 16 7.4 Tidak 88 93.6 70 93.3 22 95.7 20 87.0 200 93.0 Ya 6 6.4 5 6.7 1 4.3 3 13.0 15 7.0 Tidak 86 91.5 69 92.0 22 95.7 21 91.3 198 92.1 Ya 8 8.5 6 8.0 1 4.3 2 8.7 17 7.9 Tidak 82 87.2 66 88.0 19 82.6 21 91.3 188 87.4 Ya 12 12.8 9 12.0 4 17.4 2 8.7 27 12.6
Tabel Area Berisiko 1. Sumber Air Variabel Sumber air terlindungi Penggunaan sumber air tidak terlindungi Kelangkaan air Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Tidak, sumber air berisiko tercemar 59 31.1 63 45.0 30 75.0 5 16.7 157 39.3 Ya, sumber air terlindungi 131 68.9 77 55.0 10 25.0 25 83.3 243 60.8 Tidak Aman 110 57.9 86 61.4 36 90.0 22 73.3 254 63.5 Ya, Aman 80 42.1 54 38.6 4 10.0 8 26.7 146 36.5 Mengalami kelangkaan air 68 35.8 21 15.0 4 10.0 5 16.7 98 24.5 Tidak pernah mengalami 122 64.2 119 85.0 36 90.0 25 83.3 302 75.5 2. Air Limbah Domestik Variabel Tangki septik suspek aman Pencemaran karena pembuangan isi tangki septic Pencemaran karena SPAL Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Tidak aman 85 44.7 48 34.3 14 35.0 9 30.0 156 39.0 Suspek aman 105 55.3 92 65.7 26 65.0 21 70.0 244 61.0 Tidak, aman 40 95.2 34 97.1 1 100.0 3 100.0 78 96.3 Ya, aman 2 4.8 1 2.9 0.0 0.0 3 3.7 Tidak aman 51 26.8 55 39.3 17 42.5 7 23.3 130 32.5 Ya, aman 139 73.2 85 60.7 23 57.5 23 76.7 270 67.5 3. Persampahan Variabel Pengelolaan sampah Pengolahan sampah setempat Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Tidak memadai 189 100.0 137 99.3 40 100.0 30 100.0 396 99.7 Ya, memadai 0.0 1.7 0.0 0.0 1.3 Tidak diolah 148 77.9 94 67.1 35 87.5 30 100.0 307 76.8 Ya, diolah 42 22.1 46 32.9 5 12.5 0.0 93 23.3 4. Genangan Air Variabel Adanya genangan air Kategori Ada genangan air (banjir) Tidak ada genangan air Strata Desa / Kelurahan Total 1 2 3 4 n % n % n % n % n % 16 8.4 15 10.7 14 35.0 1 3.3 46 11.5 174 91.6 125 89.3 26 65.0 29 96.7 354 88.5
5. Perilaku Higiene dan Sanitasi Variabel CTPS di lima waktu penting Apakah lantai dan dinding jamban bebas dari tinja? Apakah jamban bebas dari kecoa dan lalat? Keberfungsian penggelontor. Apakah terlihat ada sabun di dalam atau di dekat jamban? Pencemaran pada wadah penyimpanan dan penanganan air Perilaku BABS Strata Desa / Kelurahan Total Kategori 1 2 3 4 n % n % n % n % n % Tidak 127 66.8 124 88.6 7 17.5 24 80.0 282 70.5 Ya 63 33.2 16 11.4 33 82.5 6 20.0 118 29.5 Tidak 75 39.5 33 23.6 27 67.5 8 26.7 143 35.8 Ya 115 60.5 107 76.4 13 32.5 22 73.3 257 64.3 Tidak 46 24.2 28 20.0 24 60.0 6 20.0 104 26.0 Ya 144 75.8 112 80.0 16 40.0 24 80.0 296 74.0 Tidak 51 26.8 30 21.4 22 55.0 8 26.7 111 27.8 Ya, berfungsi 139 73.2 110 78.6 18 45.0 22 73.3 289 72.3 Tidak 68 35.8 41 29.3 21 52.5 10 33.3 140 35.0 Ya 122 64.2 99 70.7 19 47.5 20 66.7 260 65.0 Ya, tercemar 19 10.0 20 14.3 8 20.0 3 10.0 50 12.5 Tidak tercemar 171 90.0 120 85.7 32 80.0 27 90.0 350 87.5 Ya, BABS 99 52.1 72 51.4 27 67.5 11 36.7 209 52.2 Tidak 91 47.9 68 48.6 13 32.5 19 63.3 191 47.8