Harmony IV. Modal Approach

dokumen-dokumen yang mirip
Harmoni I. Progresi I IV V

Teori Musik Dasar komunal Musik Tradisi Musik Classic Jazz Roc Pop Scale Interval Ritme Metrum Tekstur Dynamic Fundamental Komposisi

Harmoni II. Kord Pengganti (Substitution Chord) Progresi II V I VI

BAB III ANALISIS KARYA

Buku Dua Metrum. 1.Pembuka. 2.birama 2/4

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

APLIKASI TEKNIK JATHIS DALAM KOMPOSISI MUSIK BERJUDUL SUNYI UNTUK FORMAT QUINTET

PENERAPAN HARMONI KWARTAL PADA IMPROVISASI JAZZ GITAR NASKAH PUBLIKASI ILMIAH. Oleh: Ahmad Fariz Sanji NIM

Buku Tiga Polyrhythm

BAB III ANALISIS DATA

Penerapan akor pokok dalam tangga nada mayor 1# - 7# pada pianika

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

BAB III ANALISIS BENTUK LAGU. Wonderful Slippery Thing merupakan lagu hits Guthrie Govan yang berdurasi

MENGENAL IRAMA 8 BEAT

January 1 HARMONI MANUAL DIKTAT KULIAH. Oleh: HANNA SRI MUDJILAH HENI KUSUMAWATI. JURUSAN PENDIDIKAN SENI MUSIK FBS, UNY

Makalah. Teori Dasar Musik. Riko Repliansyah Anisa Purnama Sari. Riski Okta Mayasari. Dosen Pengampu: Pebrian Tarmizi,M.Pd Mata Kuliah : Seni Musik

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

BAB III ANALISIS PENERAPAN KONSEP WALKING BASS PADA BASS ELEKTRIK. logis dan fungsional berdasarkan garis harmoni untuk membuat time feel sebaik

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

BAB III ANALISIS KARYA

BASIC HARMONY INTERVALS

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

(Penggalan frase 1, frase 2 dan frase 3 pada bagian A)

PENERAPAN AKOR POKOK DALAM TANGGA NADA MAYOR 1# - 7# PADA PIANIKA

BAB III ANALISIS KARYA

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

Kompetensi Dasar : 1. mampu mendeskripsikan tentang sumber-sumber bunyi 2. mampu mendeskripsikan tentang penalaan

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

BAB III ANALISIS KARYA

KARYA BERMAIN DALAM TINJAUAN KOMPOSISI

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

BAB I PENDAHULUAN. Analisis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh

Untuk MELODI IMPROVISASI ARANSEMEN. Djanuar Ishak, 2011

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarah musik Barat, banyak komponis musik yang telah

CHORD-SCALE BLUES. Untuk MELODI IMPROVISASI - ARANSEMEN Djanuar Ishak, 2011

BAB V TEKNIK PERMAINAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seni musik merupakan bidang seni yang sangat diminati, sebab musik

ELEMEN-ELEMEN MUSIK & TEKNIK PERMAIN MUSIK

Unsur Musik. Irama. Beat Birama Tempo

BAB II LANDASAN TEORI

Memahami Musik. oleh. Pengantar Teori Musik Sebagai Landasan untuk. Komposisi Musik Barat. Ahmad Fahmy Alatas

BASIC HARMONY TRIADS

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

TEORI DAN PENGGUNAAN AKOR

Tangkurak Koriang dalam Bentuk Formasi Orkestra: Suatu Perwujudan dari Musik Tradisi Masyarakat Pulau Binjai Kabupaten Kuantan Singingi

CHORD-SCALE DIATONIK MAYOR. untuk

ANALISIS RITME BAMBU'A DI PROVINSI GORONTALO PENULIS DWI ANGGELITA HAMZAH ANGGOTA PENULIS. TRUBUS SEMIAJI, S.Sn, M.Sn. NUGRA P. PILONGO, S.Pd, M.

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS BAHASA DAN SENI SILABUS MATA KULIAH

BAB I PENDAHULUAN. luas. Susunan bunyi atau nada yang tercipta dalam suatu karya musik mempunyai

ANALISIS MELODI LAGU DONNA LEE KARYA CHARLIE PARKER PADA INSTRUMEN ALTO SAXOPHONE. Key words: Donna Lee, Alto Saxophone Charlie Parker, Melody.

ANALISIS IMPROVISASI GITAR ELEKTRIK GUTHRIE GOVAN PADA LAGU WONDERFUL SLIPPERY THING NASKAH PUBLIKASI ILMIAH. Oleh: Khayyan Munada

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

NOTASI BALOK. Oleh: Inggit Sitowati

ANALISIS MUSIK CALEMPONG (LAGU MUARA TAKUI) DI KECAMATAN BANGKINANG SEBERANG KABUPATEN KAMPAR RIAU

ANALISIS STRUKTURAL LAGU WANITA

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

BAB I PENDAHULUAN. media atau sarana yang digunakan untuk mengekspresikan diri. Musik adalah

Oleh: Dr. A. M. Susilo Pradoko, M.Si dan Dr. Ayu Niza Machfauzia, M.Pd. dan Pendidikan Seni Musik FBS UNY.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI


ANALISIS HARMONI LAGU KETIE S THEME CIPTAAN DAVID FOSTER

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

GLOSARIUM. lainnya, baik dari kata-kata maupu melodi lagu. musik untuk suatu pegelaran. tujuan pengadaannya

Akor Jazz: Teori & Praktik

CARA MUDAH MENENTUKAN AKOR SUATU LAGU

BAB I PENDAHULUAN. Seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya mencapai

BAB I PENDAHULUAN. pendukung berupa gagasan, sifat dan warna bunyi. Kendati demikian, dalam

UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. berbagai suara kedalam pola-pola yang dapat dimengerti dan dipahami

APLIKASI IMPROVISASI SYMMETRTICAL SCALES PADA AKOR JAZZ FUSION. Oleh:

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BENTUK MUSIK SONATA DALAM KARYA MUSIK ABORISCO

PROSES PEMBELAJARAN PIANO POP GRADE I DI RHYTHM STAR MUSIC SCHOOL JOGJA

DESKRIPSI KOMPOSISI LAGU MARS KOPDIT RUKUN Oleh : F. Xaveria Diah K. NIP : A. Pendahuluan

BAB III. PECAHAN KONTINU dan PIANO. A. Pecahan Kontinu Tak Hingga dan Bilangan Irrasional

INDIKATOR ESENSIAL Menjelaskan karakteristik peserta. didik yang berkaitan dengan aspek fisik,

BAB I PENDAHULUAN. menciptakan karya-karya musik. Karya-karya tersebut sudah dikenal

Ear Training 2. Direktorat Pembinaan SMK 2013

BENTUK LAGU PADA KARYA MUSIK SESEBULAN

UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini musik jazz semakin diminati di kota Bandung. Buktinya semakin banyak

Seni budaya (rock dan dangdut)

Penerapan Akord Bebas Pada Lagu Nusantara Studi Kasus Pada Aransemen Lagu Sarinande

KARAKTERISTIK LAGU ANAK-ANAK KARYA TITIEK PUSPA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Banyak lagu langgam keroncong yang cukup terkenal diciptakan oleh

HARMONI MODERN. UNTUK SMK Semester 2. Drs. Heri Yonathan, M.Sn. iii

G L O S A R I 121 GLOSARI

BAB III Analisis. Gambar III.1 Rancangan Pemrosesan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENELITIAN

TINJAUAN UMUM MUSIK dan JOGJAKARTA MUSIK CENTER

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) KURSUS DAN PELATIHAN PIANO POP & JAZZ LEVEL III Berbasis

ANALISIS STRUKTUR DAN TEKNIK PERMAINAN PIANO CONCERTO POUR LA MAIN GAUCHE EN RE MAJEUR KARYA MAURICE RAVEL RINGKASAN SKRIPSI

BAB III ANALISIS REPERTOAR. A. French Suite No. 6 in E major, BWV 817 karya Johann Sebastian Bach

Transkripsi:

Harmony IV Modal Approach Setelah mempelajari Orkestrasi sekarang kita kembali lagi pada persoalan Kord & Progresi. Pelajaran Harmoni yang sudah kita lalui pada bagian awal tadi sudah membahas banyak hal dalam Tonalitas atau Tonal Approach. Sekarang kita akan mencoba menerapkan kedalam Sistem Modes atau Modal Approach. Telah kita ketahui dalam Sistem Tonal nada terpenting adalah nada pertama atau Tonika, nada ini menjadi pusat bagi nada-nada lainnya. Ada juga nada lain yang juga penting,yaitu nada ke lima atau Dominan dan setelah itu nada ke empat atau Subdominan. Sekarang hal itu akan kita terapkan juga pada Sistem Modal, misalnya dapat kita lihat pada Dorian Modes dibawah ini : Kord V dalam Dorian Progression adalah Kord minor, tapi biasanya pada saat menjadi Half Cadence Kord V Kord tersebut cenderung menjadi Dominant 7 Chord (lihat Progrssi minor). Pada akhir buku pertama kita dapat melihat Pustaka Skala (Scale Library), sekarang kita ambil salah satu Scale atau Modal yang lain lagi, misalnya Nepolitan Mayor Modes : Jika kita mecoba membuat Progression dari Neapolitan Mayor Modes maka kita akan mendapatkan hasilnya seperti ini : Sekarang kita akan mencoba dengan Modal yang lain lagi,misalnya Hungarian minor Modes :

Jika kita membuat Progression dari Hungarian minor Modes maka kita akan mendapatkan hasilnya seperti ini : Setelah kita mengetahui Chord Progression yan kita dapatkan, maka langkah selanjutnya adalah membuat Tema Melodi dari Modes yang akan kita gunakan. Sebagai contoh kita akan menggunakan Hungarian minor Modes. Dibawah ini dapat kita lihat sebuah Frasa Melodi yang berangkat dari Hungarian minor Modes : Dari Frasa Melody tersebut kita mendapatkan 2 jenis Metrum yaitu 4/4 & 5/4, kita juga mendapatkan Pola Ritme (Rhythm Pattern) seperti yang dapat kita lihat dibawah ini : Selain itu kita juga mendapatkan beberapa Motif seperti yang dapat kita lihat dibawah ini :

Kita sudah mengumpulkan semua bahan dasar(modes, Chord Progression, Rhythm dan Melodic Idea), setelah itu kita menentukan Instrument yang akan kita gunakan,lalu mulai menulis. Hal yang sangat penting untuk di ingat pada saat memulai adalah Struktur atau bangunan dari Musik yang akan kita buat, karena pada dasarnya ada cara untuk bertutur didalam semua kesenian, baik itu di Musik, Sastra, Teater, Film, Tari dan hal itu juga terjadi pada Arsitektur. Pada prinsipnya sama seperti membuatcerita,ada Prologue, pengenalan Tema melalui Motif atau seperti pengenalan Tokoh dan cara mengawali sebuah cerita. Dalam hal ini tidak ada rumus yang baku dan pasti, semua tergangtung dari pengalaman Mendengar, Membaca, Melihat contoh contoh yang sudah dibuat oleh seniman seniman lain dalam karya Musik, Sastra, Teater, Film,Tari ataupun Seni Rupa. Dengan kata lain hal hal yang mempengaruhi sebuah karya adalah Pengalaman dan Reference yang dimiliki oleh si seniman tersebut. Poli Tonal & Poli Modal Setelah kita memahami Sistem Tonal dan Sistem Modal, sekarang kita akan mempelajari cara untuk menggunakan 2 Sistem atau lebih pada saat yang bersamaan, tehnik ini disebut Poly Tonal atau Poly Modal. Dapat kita lihat pada contoh diatas Tonal untuk Piano Tangan Kiri (Bass Clef) adalah A minor, Tonal untuk Piano Tangan Kanan (Treble Clef) adalah E Mayor, sedangkan Flute menggunakan Hungarian minor Modes. Sekarang kita lihat hubungan antara ke tiga Skala tersebut.

Pada A minor dan E Mayor Scale ada beberapa Nada yang sama yaitu A,B & E,juga kadang kadang G#. Pada A minor dan D Hungarian minor Scale ada beberapa Nada yang sama yaitu A,D,E & F, juga kadang kadang G#. Pada E Mayor dan D Hungarian minor Scale ada beberapa Nada yang sama yaitu E,G#,A & C#. Pada ke tiga Scale tersebut juga ada Nada yang sama,yaitu E & A. Dari contoh kasus diatas dapat disimpulkan bahwa semua Scale dan Modes dapat dicampur selama ada satu atau beberapa nada yang sama. Ritme (Rhythm) Polo Ritme (Poly Rhythm) Selain istilah Poly Tonal & Poly Modal tentunya kita sering mendengar istilah Poliritme (Poly Rhythm). Poly Rhythm adalah permainan dari beberapa pola Ritme yang dilakukan pada saat yang bersamaan. Hal ini dapat kita lihat pada contoh dibawah ini.

Pada contoh 1 dapat kita lihat Poly Rhythm 2:3 dan 3:4 Pada Contoh 2 dapat kita lihat Poly Rhythm 2:3,3:4,4:5,5:6 & 6:7 dengan pola percepatan atau Accelerando. Pada contoh 3 dapat kita lihat Poly Rhythm 3:5:2.

Birama Ganjil (Odd Meter) Kecenderungan Musik yang umum dan biasa kita dengar bermain pada Birama 2/4,3/4 & 4/4. Sementara dari contoh contoh yang kita lihat diatas ada Birama 5/4 & 7/4. Sebenarnya Birama atau Metrum tidak hanya terbatas pada contoh contoh yang kita dapatkan diatas tadi, masih ada banyak lagi Birama Birama yang tidak umum tapi banyak dan sering digunakan pada Musik Classic, Romantic, Modern dan Kontemporer, hal ini juga berpengaruh pada Musik - Musik yang berikutnya seperti Jazz dan Rock, dan pada akhirnya juga merambah kepada Musik Pop. Dalam Musik Tradisi pun hal ini terjadi sejak ratusan tahun baik disadari maupun tidak disadari. Contohnya pada Musik Timur Tengah hal ini sudah menjadi bagian dari sistem yang berlaku, juga pada musik India. Jadi Birama Ganjil atau Odd Meter bukanlah hal yang baru, tehnik ini sudah lama menjadi permainan diantara para Maestro musik diseluruh dunia sejak ratusan bahkan mungkin ribuan tahun. Untuk mulai mempelajari hal ini kita akan mulai dengan membahas Birama. Seperti yang kita ketahui Birama 4/4 adalah pengelompokan 4 Nada 1/4, artinya ada dalam satu Birama ada 4 Nada yang bernilai 1/4. Angka 4 didepan atrinya jumlah Nada sedangkan angka 4 yang dibelakang adalah menandakan nilai dari Nada tersebut 1/4 atau satuan terkecil dalam system yang digunakan, artinya Birama 4/8 adalah pengelompokan 4 Nada 1/8, atau dengan kata lain satuan terkecil adalah 1/8. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum kita membahas Birama Ganjil maka kita harus memulai dengan membahas satuan terkecil lebih dahulu. Satuan yang dapat kita gunakan adalah 1/2 untuk Birama 2/2, 3/2 & 4/2,satuan 1/4 untuk Birama 2/4, 3/4, 4/4, 5/4, 6/4 dan 7/4,satuan 1/8 untuk birama 3/8, 4/8, 5/8, 6/8, 7/8, 9/8, 11/8, 13/8 dan seterusnya,satuan 1/16 untuk birama 3/16, 5/16, 7/16, 9/16, 11/16, 13/16, 15/16, 17/16 danseterusnya. Efek dari satuan 1/2 menghasilkan rasa rentang waktu yang lebar & panjang,satuan 1/4 memberikan rasa normal beat,sedangkan satuan 1/8 & 1/16 memberikan rasa Sinkop (Sincopation) atau meloncat. Didalam satu Birama dapat dibagi menjadi unit unit kecil,yaitu 1 ketuk,2 ketuk & 3 ketuk,hal ini dapat kita lihat dari hal yang paling sederhana yaitu Birama 3/4, 4/4 & 5/4. Pada Birama 3/4 Aksen jatuh pada ketukan 1 & 3,grouping 2 + 1 Pada Birama 4/4 Aksen jatuh pada ketukan 1 & 3,grouping 2 + 2 Pada Birama 3/4 Aksen jatuh pada ketukan 1 & 3,grouping 3 + 2 Unit kecil ini sangat membantu kita untuk memahami dan merasakan Birama Ganjil,dibawah ini dapat kita lihat bagaimana cara membagi satu Birama dalam satuan yang lebih kecil : 5/8 3 + 2, 2 + 3 6/8 3 + 3 7/8 4 + 3, 3 + 4, 2 + 2 + 3, 2 + 3 + 2, 3 + 2 + 2 9/8 4 + 5, 5 + 4, 3 + 3 + 3 11/8 5 + 6, 6 + 5, 4 + 4 + 3, 4 + 3 + 4, 3 + 4 + 4 dan seterusnya.

Birama yang Tidak Beraturan (Irregular Metrum) Irregular Metrum atau perubahan Birama secara terus menerus terjadi karena tuntutan kebutuhan dari Aksen Melody, hal ini umum dilakukan oleh banyak Komponis Musik Modern diawal abad 20, seperti Bela Bartok (Hungaria), Igor Stravisky (Rusia), Olivier Messiaen (France)dan lainnya, dan hal itu juga berpengaruh pada perkembangan Musik Jazz di akhir abad 20. Sebenarnya hal ini terinspirasi dan juga dipengaruhi oleh Musik Musik Tradisi seperti Musik India dan Afrika dan juga dari daerah daerah lainnya. Dibawah ini dapat kitalihat beberapa cuplikan dari karya karya Komposer yang disebutkan diatas. Histoire du Soldat Igor Stravinsky

Turanggalila Symphonie Olivier Messiaen (Part Piano) Serial Music & Atonal Musik ini diawali oleh 3 Wina (Arnold Schoenberg,Alban Berg & Anton Webern ) pada saat sekitar Perang Dunia ke II di Jerman. Aturan yang digunakan adalah seperti pembalikan dari aturan baku dari Tonal Harmony & Counterpoint, juga memperlakukan semua nanda secara setara (Equal )atau dengan kata lain : tidak ada nada utama(tonal) disini. Serial Music adalah Musik yang menggunakan ke dua belas nada dengan system deret, tangga nada sudah tidak digunakan disini, yang berlaku disini adalah Row atau deret yang digunakan.untuk membuat sebuah Row atau deret digunakan angka 0 11 yang mereprentasikan nada C B, dibawah ini dapat kita lihat koresponden antara angka dengan nada : C C#/Db D D#/Eb E F F#/Gb G G#/Ab A A#/Bb B 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Disini dapat kita lihat hubungannya dengan Transpose pada Sequencer, yang menjadi perbedaan adalah Transpose pada Sequencer menggunakan angka 12 untuk Octave sedangkan pada system deret hanya menggunakan angka 0 11 saja*. Seperti yang sudah kita ketahui hal yang terpenting pada system Tonal adalah Key Center yang menjadi titik pusat dari semua nada dalam system tersebut, maka urutan nada menjadi hal yang sangat penting dalam system Tonal. Sedangkan pada Serial Music hal tersebut diharamkan, tidak boleh ada Key Center, tidak ada tingkatan seperti yang ada dalam Tonal Music, yang menjadi benang merah nya adalah deret itu sendiri. Penggunaan Interval Consonant sangat berperan pada Tonal System untuk memberikan rasa aman dan Interval Dissonant digunakan untukmemberikan ketegangan, sedangkan pada Serial Music

kebalikannya, Interval Consonant menjadi hal yang harus dihindari. Semakin tajam Interval yang digunakan akan semakin baik. Catatan Kaki *Lihat Transpose di buku II Row atau Deret Cara membuat sebuah Row atau Deret adalah dengan cara menyusun angka 0 11 dengan tidak berurutan, setelah itu baru kita memindahkannya menjadi urutan nada. Hal tersebut dapat kita lihat pada contoh dibawah ini : Misalnya kita menyusun Deret seperti ini Number 4 3 5 10 9 6 2 8 0 1 7 11 Note E D# F Bb A F# D G# C C# G B Hasilnya adalah : atau atau atau dan seterusnya. Pada saat kita membuat Musik dari deret yang sudah kita buat (seperti contoh diatas)semua variant atau kemungkinan dapat kita gunakan, hanya urutan dari deret nada tersebut yang tidak berubah. Jika pada Tonal & Modal System rasa yang terbentuk dibangun dari Tonal Center dan Interval dari Modes yang kita gunakan, sedangkan pada Serial Music rasa yang terbentuk dibangun dari Deret atau Row yang kita buat, karena itu didalam Musik jenis ini mempertahankan Deret menjadi hal yang sangat penting.

Untuk menghindari pengulangan yang membosankan maka perubahan atau variant dari sebuah deret hanya dapat dilakukan dengan beberapa cara atau tehnik. 1. Transpose : penggunaan tehnik Transpose disini sama persis dengan tehnik transpose pada Musik Tonal. Original Transpose 3 rd minor 2. Inversion : Jika kita menaruh satu titik sebagai sumbu (misalnya nada C ), lalu kita membuat langkah yang berlawanan dari langkah deret Original maka kita akan mendapatkan deret yang baru. Original Inversion

3. Retrograde : Jika kita membalik sebuah deret dan menuliskannya dari akhir ke awal, kita akan Mendapatkan deret yang baru. Original Retrograde 4. Retrograde Inversion : Inversion yang dibaca mundur. Original Retrograde Inversion

Harmoni dari Serial Music dibangun dan dibentuk dengan permainan tehnik yang telah kita lihat di atas. Ritme Seperti juga pada permainan Interval pada sebuah Deret,Regular Ritme seperti Beat juga sesuatu yang harus dihindari, karena Beat akan membentuk gravitasi pada Ritme. Bahkan beberapa Komposer mempergunakan Deret untuk digunakan dalam membuat pola Ritme. Hal yang terpenting disini adalah menghindari pengulangan, sebab sesuatu yang terdengar berulang dalam dalam musik akan memberikan kenyamanan bagi orang yang mendengarkannya, sama seperti terbentuknya Tonal Center dalam musik Tonal. Tehnik Retrograde(mundur) juga bisa dipergunakan sebagai salah satu cara untuk membuat Ritme dalam musik seri (Serialism Music). Penutup Setelah membaca isi buku ini mungkin pembaca akan merasa kurang atau sedikit sekali informasi yang lebih terperinci tentang topik yang sudah kita bahas sebelumnya. Memang penulis juga menyadari hal itu, karena buku ini memang dibuat untuk memicu semangat berfikir dari para pembaca. Kita semua bisa melangkah lebih jauh lagi jika kita terus menerus menumbuhkan budaya berfikir pada diri kita masing masing. Pada dasarnya mempelajari musik Barat tidak akan membuat kita menjadi Barat, akan tetapi mempelajari sistem yang berlaku dalam musik tertentu seperti teori musik yang sudah berlaku umum di negara negara yang sudah maju adalah hal yang sangat diperlukan. Hal itu terjadi di mana mana dan berulang dalam sejarah peradaban manusia seperti Eropa yang belajar dari puncak peradaban Bani Umayah(Andalusia) untuk bergerak kearah zaman Rennaisance, dan juga terjadi pada Japan dengan restorasi Meiji. Selama kita tetap berpegang pada akar budaya kita sendiri, baru kita akan bisa tumbuh sederajat dan saling berbagi dengan bangsa bangsa lain di dunia.