BAB IV PEMBAHASAN. Dalam proses pengambilan data pada media Engine Stand Toyota Great

dokumen-dokumen yang mirip
TUGAS AKHIR ANALISIS OVERHAUL PENGUKURAN SERTA TROUBLESHOOTING TOYOTA GREAT COROLLA SERI 4A-FE TAHUN 1993

BAB III METODE PENELITIAN. overhoul pada engine Toyota Great Corolla 4A-FE tahun 1993 dikerjakan di

Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan (RPKPM).

BAB II DASAR TEORI. Menurut Wiranto Arismunandar (1988) Energi diperoleh dengan proses

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN TOYOTA CORONA 2000 CC. Bagian utama pada motor terdapat komponen atau bagian utama yang

BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN MITSUBISHI L CC

BAB III ANALISIS KASUS

BAB IV PROSES OVERHOUL DAN ANALISIS KOMPONEN

Ring II mm. Ukuran standar Batas ukuran Hasil pengukuran Diameter journal

BAB III PENGUKURAN DAN GAMBAR KOMPONEN UTAMA PADA MESIN TOYOTA COROLA 1300 CC. Bagian utama pada motor terdapat komponen atau bagian utama yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Setelang melakukan proses overhoul cylinder head berdasarkan standar dan

Gambar 4.2 Engine stand dan mesin ATV Toyoco G16ADP

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

JOB SHEET (LEMBAR KERJA) : Melaksanakan overhaul kepala silinder

BAB III PROSES OVERHAUL ENGINE YAMAHA VIXION. Proses Overhoul Engine Yamaha Vixion ini dilakukan di Lab. Mesin,

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Fungsi katup Katup masuk Katup buang

KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR

BAB II TINJAUAN LITERATUR

BAGIAN-BAGIAN UTAMA MOTOR Bagian-bagian utama motor dibagi menjadi dua bagian yaitu : A. Bagian-bagian Motor Utama yang Tidak Bergerak

BAB III KEGIATAN PENGUJIAN DAN PERAWATAN

Fungsi katup Katup masuk Katup buang

BAB II LANDASAN TEORI

BAB. I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi dunia otomotif di tanah air dari tahun ketahun

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PEMBUATAN ENGINE STAND

MEMELIHARA/SERVIS ENGINE DAN KOMPONEN-KOMPONENNYA

Oleh sebab itu pembuatan silinder diperlukan ketelitian yang tinggi.

BAB II KAJIAN TEORI. luar yang memungkinkan kendaraan dapat bergerak serta dapat mengatasi

AUTOMOBILE TECHNOLOGY TINGKAT PROVINSI

METODOLOGI PENELITIAN. 1. Spesifikasi sepeda motor bensin 4-langkah 100 cc. uji yang digunakan adalah sebagai berikut :

ANALISIS DAYA BERKURANG PADA MOTOR BAKAR DIESEL DENGAN SUSUNAN SILINDER TIPE SEGARIS (IN-LINE)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berikut ini tabel hasil pemeriksaan dan pengukuran komponen cylinder. Tabel 4.1. Hasil Identifikasi Mekanisme Katup

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM 3 PEMERIKSAAN DAN PENYETELAN CELAH KATUP

PEMERINTAH KOTA DENPASAR DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA PANITIA PELAKSANA LOMBA KOMPETENSI SISWA SEKRETARIAT : SMK NEGERI 1 DENPASAR

yang digunakan adalah sebagai berikut. Perbandingan kompresi : 9,5 : 1 : 12 V / 5 Ah Kapasitas tangki bahan bakar : 4,3 liter Tahun Pembuatan : 2004

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI MOTOR DIESEL PERAWATAN MESIN DIESEL 1 SILINDER

BAB II LANDASAN TEORI. mekanik berupa gerakan translasi piston (connecting rods) menjadi gerak rotasi

BAB III METODOGI PENGUJIAN DAN ANALISA HASIL PENGUJIAN

Fungsi katup Katup masuk Katup buang

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Observasi terhadap analisis pengaruh jenis bahan bakar terhadap unjuk kerja

III. METODOLOGI PENELITIAN. Alat-alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengujian ini meliputi : mesin

2) Lepaskan baut pemasangan exhaust pipe (pipa knalpot) dan baut/mur pemasangan mufler (knalpot)

LEMBAR KERJA SISWA TUNE UP MESIN 4 Tak 4 SILINDER

LAPORAN TUGAS AKHIR OVERHAUL ENGINE TRAINER TOYOTA KIJANG 5K

STUDI KARAKTERISTIK TEKANAN INJEKSI DAN WAKTU INJEKSI PADA TWO STROKE GASOLINE DIRECT INJECTION ENGINE

BAB IV DATA HASIL. Data komponen awal pada sistem pendingin meliputi : Tutup Radiator. Pada komponen ini yaitu tutup radiator mobil ini memiliki

BAB I PENDAHULUAN. tipe terbaru dengan teknologi terbaru dan keunggulan-keunggulan lainnya.

: Memelihara/servis engine dan komponen-komponenya(engine. (Engine Tune Up)

Engine Tune Up Engine Conventional

PRAKTEK II TUNE UP MOTOR DIESEL. A. Tujuan:


Makalah PENGGERAK MULA Oleh :Derry Esaputra Junaedi FAKULTAS TEKNIK UNNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

TUGAS AKHIR MODIFIKASI MOTOR 4 LANGKAH YAMAHA JUPITER Z 110 CC MENJADI 200 CC. Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat

Mesin Diesel. Mesin Diesel

PEMERINTAH PROVINSI BALI DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA PANITIA PELAKSANA LOMBA KOMPETENSI SISWA SEKRETARIAT : SMK NEGERI 1 DENPASAR

PENGARUH FILTER UDARA PADA KARBURATOR TERHADAP UNJUK KERJA MESIN SEPEDA MOTOR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA

ENGINE TUNE-UP CONVENTIONAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

USAHA PENGHEMATAN BAHAN BAKAR DENGAN SISTEM PENGAPIAN CDI. Ireng Sigit A ) Abstrak

Mesin Kompresi Udara Untuk Aplikasi Alat Transportasi Ramah Lingkungan Bebas Polusi

Seta Samsiana & Muhammad Ilyas sikki

D. LANGKAH KERJA a. Langkah awal sebelum melakukan Engine Tune Up Mobil Bensin 4 Tak 4 silinder

SILINDER HEAD MOTOR DIESEL

contoh makalah teknik mesin

ANALISIS SISTEM MEKANISME KATUP PADA TOYOTA KIJANG 5K

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. berkaitan dengan judul yang diambil. Berikut beberapa referensi yang berkaitan

PENGARUH CELAH KATUP TERHADAP DAYA DAN EFISIENSI PADA MOTOR MATIC ABSTRAK

Variabel terikat Variabel kontrol Pengumpulan Data Peralatan Bahan Penelitian

Gambar 4.1 mesin Vespa P150X. Gambar 4.2 stand mesin. 4.2 Hasil pemeriksaan komponen mesin VESPA P150X Hasil pemeriksaan karburator

TROUBLE SHOOTING SISTEM INJEKSI MESIN DIESEL MITSUBISHI L300 DAN CARA MENGATASINYA

BAB IV PENGUJIAN ALAT

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Dua orang berkebangsaan Jerman mempatenkan engine pembakaran dalam pertama di tahun 1875.

KERJA PRAKTEK BAB III PEMBAHASAN. 3. Sistem Kerja Dan Pemeliharaan Governor Pada Pesawat Dakota

BAB III ANALISIS SISTEM PELUMASAN ENGINE 1TR-FE

BAB III METODE PENELITIAN. Mulai. Observasi & Studi Literatur. Identifikasi Sistem. Mekanisme Katup. Pengujian Dynotest awal

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Mobil lebih awet karena frekuensi bongkar-pasangnya relatif lebih kecil.

Tune Up Mesin Bensin TUNE UP MOTOR BENSIN

Letak sensor EFI pada toyota Avanza dan Daihatsu Xenia tak sensor pada Avanza/ Xenia tak Sensor dan Injektor Mesin Avanza/xenia

BAB II LANDASAN TEORI

I. PENDAHULUAN. Modifikasi kendaraan bermotor di Indonesia sering dilakukan, baik kendaraan

BAB II LINGKUP KERJA PRAKTEK

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. 125 pada tahun 2005 untuk menggantikan Honda Karisma. Honda Supra X

UNJUK KERJA MOBIL MSG 01 DENGAN SISTEM TENAGA UDARA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. uji yang digunakan adalah sebagai berikut.

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

ANALISIS MEKANISME KATUP, TROUBLE SHOOTING DAN VARIASI CELAH KATUP MASUK TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA ISUZU C190

UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN

Transkripsi:

BAB IV PEMBAHASAN.. Proses Pengambilan Data Dalam proses pengambilan data pada media Engine Stand Toyota Great Corolla tipe A-FE tahun 99 ini, meliputi beberapa tahapan yakni pengambilan data sebelum dilakukan overhaul, pengambilan data ketika mesin sebelum dibongkar, ketika overhaul dan pengambilan data setelah overhaul. Semua ukuran standar diperoleh dari sumber berupa buku dengan judul Toyota A-FE, A-GE Engine Repair Manual diterbitkan pada tahun 989 oleh Toyota Motor Corporation. Menurut pengelompokan pengambilan data tersebut dijelaskan seperti berikut:... Pengambilan data sebelum dan sesudah dilakukan overhaul Pengukuran yang dapat dilakukan sebelum dan sesudah proses overhaul. Adapun hasil yang didapat adalah sebagai berikut:. Hasil pengukuran tekanan kompresi Didapatkan hasil pengukuran tekanan kompresi sebelum dan sesudah dilakukan overhaul sebagai berikut: Tabel.. Hasil pengukuran tekanan komperesi sebelum penyetelan. Hasil Kompresi 00 Psi / Bar 00 Psi / Bar Standar Kompresi 0 Psi 0 Psi / 9,5 5 Bar 0 Psi 0 Psi / 9,5 5 Bar 7

7 Lanjutan Tabel.. 00 Psi / Bar 0 Psi /,5 Bar 0 Psi 0 Psi / 9,5 5 Bar 0 Psi 0 Psi / 9,5 5 Bar Tabel.. Hasil pengukuran tekanan komperesi setelah penyetelan Hasil Kompresi 0 Psi /,5 Bar 0 Psi /,5 Bar 0 Psi /,5 Bar 0 Psi /,5 Bar Standar Kompresi 0 Psi 0 Psi / 9,5 5 Bar 0 Psi 0 Psi / 9,5 5 Bar 0 Psi 0 Psi / 9,5 5 Bar 0 Psi 0 Psi / 9,5 5 Bar Dari hasil pengukuran tekanan kompresi diatas dapat disimpulkan bahwa tekanan kompresi sesuai dengan standar Toyota. Proses overhaul engine dilaksanakan sesuai dengan prosedur. Hasil dari data yang diambil ketika sebelum dilakukan overhaul engine dan data yang diambil ketika engine sudah dirakit mendapatkan perbedaan nilai yaitu terdapat peningkatan tekanan kompresi pada silinder, dan yaitu dengan tekanan kompresi awal sebesar 00 Psi/,0 Bar menjadi 0 Psi/,5 Bar.. Hasil pengukuran celah katup. Berdasarkan pengambilan data pengukuran didapatkan nilai celah katup sebelum dan sesudah dilakukan penyetelan sebagai berikut:

7 Tabel.. Hasil pengukuran celah katup intake sebelum penyetelan. Celah Katup Susunan Intake/Hisap Katup (mm) A 0.5 B 0,5 A 0,0 B 0,0 A 0,0 B 0,0 A 0,0 B 0,0 Standar Celah 0,5mm 0,5mm Katup Intake Tabel.. Hasil pengukuran celah katup intake setelah penyetelan. Celah Katup Susunan Intake/Hisap Katup (mm) A 0.5 B 0,5 A 0,0 B 0,0 A 0,0 B 0,0 A 0,0 B 0,0 Standar Celah 0,5mm 0,5mm Katup Intake Tabel.5. Hasil pengukuran celah katup exhaust sebelum penyetelan. Celah Katup Susunan Exhaust / Katup Buang (mm) A 0,0 B 0,0 A 0,0 B 0,0 A 0,5 B 0,5

75 Lanjutan Tabel.5. A 0,0 B 0,0 Standar Celah 0,0mm 0,5mm Katup Exhaust Tabel.6. Hasil pengukuran celah katup exhaust setelah penyetelan. Celah Katup Susunan Exhaust / Katup Buang (mm) A 0,0 B 0,0 A 0,0 B 0,0 A 0,5 B 0,5 A 0,0 B 0,0 Standar Celah 0,0mm 0,5mm Katup Exhaust Dari hasil pengukuran celah katup diatas dapat disimpulkan bahwa celah katup sesuai dengan standar Toyota. Dari hasil pengukuran sebelum dilakukan penyetelan dan setelah engine dirakit menunjukkan nilai yang sama. Berdasarkan hasil pemeriksaan keempat tabel pengukuran celah katup tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa celah katup sesuai dengan standar Toyota dan dalam keadaan baik, sehingga tidak perlu dilakukan penggantian shim katup.

76. Hasil pengukuran thrust clearance camshaft Berdasarkan pengambilan data pengukuran didapatkan nilai dari thrust clearance camshaft sebagai berikut: Tabel.7. Hasil pengukuran thrust clearance camshaft Camshaft thrust clearance (mm) Hasil Standar Maksimum Intake 0,05 0,00 0,085 0, Exhaust 0,055 0,05 0,090 0, Apabila thrust clearance camshaft diatas batas maksimum maka camshaft harus diganti baru. Dari hasil pengukuran dan pemeriksaan diatas dapat disimpulkan bahwa thrust clearance camshaft dalam kondisi baik dan sesuai dengan standar Toyota, maka camshaft tersebut tidak perlu diganti dengan yang baru.. Hasil pengukuran diameter batang katup Berdasarkan pengambilan data pengukuran didapatkan nilai dari diameter batang katup sebagai berikut: Tabel.8. Hasil pengukuran diameter batang katup intake posisi atau atas. Diameter batang katup masuk (mm) Sumbu X Sumbu Y Standar A 5,98 5,98 B 5,98 5,98 A 5,97 5,97 5,970 B 5,98 5,98 A 5,98 5,98 5,985 B 5,98 5,98 A 5,97 5,97 B 5,98 5,98

77 Tabel.9. Hasil pengukuran diameter batang katup intake posisi atau tengah. Diameter batang katup masuk (mm) Sumbu X Sumbu Y Standar A 5,98 5,98 B 5,98 5,98 A 5,97 5,97 5,970 B 5,98 5,98 A 5,98 5,98 5,985 B 5,98 5,98 A 5,97 5,97 B 5,98 5,98 Tabel.0. Hasil pengukuran diameter batang katup intake posisi atau bawah. Diameter batang katup masuk (mm) Sumbu X Sumbu Y Standar A 5,98 5,98 B 5,98 5,98 A 5,97 5,97 5,970 B 5,98 5,98 A 5,98 5,98 5,985 B 5,98 5,98 A 5,97 5,97 B 5,98 5,98 Apabila hasil pengukuran diameter batang katup yang tidak sesuai dengan standar maka harus dilakukan penggantian katup. Dari hasil pengukuran tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa diameter seluruh batang katup hisap dalam kondisi yang baik dan masih sesuai dengan standar Toyota, sehingga tidak perlu dilakukan penggantian katup.

78 Tabel.. Hasil pengukuran diameter batang katup exhaust posisi atau atas Diameter batang katup buang (mm) Sumbu X Sumbu Y Standar A 5,98 5,98 B 5,98 5,98 A 5,97 5,97 5,960 B 5,97 5,97 A 5,98 5,98 5,980 B 5,98 5,98 A 5,98 5,97 B 5,97 5,96 Tabel.. Hasil pengukuran diameter batang katup exhaust posisi atau tengah Diameter batang katup buang (mm) Sumbu X Sumbu Y Standar A 5,98 5,98 B 5,98 5,98 A 5,97 5,97 5,960 B 5,97 5,97 A 5,98 5,98 5,980 B 5,98 5,98 A 5,98 5,98 B 5,97 5,97 Tabel.. Hasil pengukuran diameter batang katup exhaust posisi atau bawah Diameter batang katup buang (mm) Sumbu X Sumbu Y Standar A 5,98 5,98 5,960 B 5,98 5,98 5,980

79 Lanjutan Tabel.. A 5,97 5,98 B 5,98 5,98 5,960 A 5,98 5,98 B 5,98 5,98 5,980 A 5,98 5,98 B 5,97 5,97 Apabila hasil pengukuran diameter batang katup yang tidak sesuai dengan standar maka harus dilakukan penggantian katup. Dari hasil pengukuran tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa diameter seluruh batang katup buang dalam kondisi yang baik dan masih sesuai dengan standar Toyota, sehingga tidak perlu dilakukan penggantian katup. 5. Hasil pengukuran tinggi keseluruhan batang katup Berdasarkan pengambilan data dari pengukuran didapatkan nilai dari tinggi keseluruhan batang katup sebagai berikut: Tabel.. Hasil pengukuran tinggi keseluruhan batang katup intake Katup Tinggi katup masuk Hasil ukur Standar A 87,50 B 87,50 A 87,50 B 87,50 87,50 A 87,50 B 87,50 A 87,50 B 87,50 Standar minimum intake 86,95

80 Tabel.5. Hasil pengukuran tinggi keseluruhan batang katup exhaust Katup Tinggi katup buang Hasil ukur Standar A 87,80 B 87,80 A 87,80 B 87,80 87,80 A 87,80 B 87,80 A 87,80 B 87,80 Standar minimum exhaust 87,65 Apabila hasil pengukuran tinggi keseluruhan batang katup diatas standar maka harus digerinda hingga sesuai dengan standar, sedangkan tinggi keseluruhan batang katup dibawah batas standar minimum maka batang katup harus diganti dengan yang baru. Dari hasil pengukuran tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tinggi keseluruhan batang katup dalam kondisi yang baik dan masih sesuai dengan standar Toyota, sehingga tidak perlu dilakukan penggantian katup. 6. Hasil pengukuran tebal margin atau tepi katup Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari tebal margin katup sebagai berikut: Tabel.6. Hasil pengukuran tebal margin batang katup intake Tebal margin intake (mm) Katup Hasil ukur Standar A,0 0.80 - B,0,0

8 Lanjutan Tabel.6. A,0 B,0 0.80 A,0 - B,0,0 A,0 B,0 Tabel.7. Hasil pengukuran tebal margin batang katup exhaust Katup Tebal margin exhaust (mm) Hasil ukur Standar A,00 B,00 A,00 0.80 B,00 - A,00,0 B,00 A,00 B,00 Apabila hasil pengukuran tebal margin katup diatas tidak sesuai sengan standar, maka katup tersebut harus diganti. Dari hasil pengukuran tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tebal margin katup dalam kondisi yang baik dan masih sesuai dengan standar Toyota, sehingga tidak perlu dilakukan penggantian katup. 7. Hasil pengukuran lebar jurnal katup Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari lebar jurnal katup sebagai berikut:

8 Katup Tabel.8. Hasil pengukuran lebar jurnal katup intake Lebar jurnal katup intake diasah (mm) Sebelum keterangan Sesudah A 0,90 Bocor,0 B 0,90 Bocor,0 A,00 Bocor,0 B 0,90 Bocor,05 A,00 Bocor,0 B 0,80 Bocor,05 A,00 Bocor,05 B,00 Bocor,0 Standar jurnal katup,00,0 Katup Tabel.9. Hasil pengukuran lebar jurnal katup exhaust Lebar jurnal katup exhaust diasah (mm) Sebelum Sesudah A,0,0 B,0,0 A,5,5 B,5,5 A,00,05 B,05,0 A,0,5 B,0,5 Standar jurnal katup,00,0 Apabila hasil pengukuran katup tersebut berada dibawah standar minimum maka katup harus diasah. Apabila ketika dilakukan pengujian kebocoran menggunakan media cairan, cairan merembes ke ruang bakar maka jurnal katup kurang rapat atau kotor maka jurnal katup harus diasah. Setelah dilakukan pengasahan atau scoursing jurnal katup, kondisi katup diuji menggunakan media cairan tidak merembes ke ruang bakar. Maka

8 dapat diambil kesimpulan jurnal katup dalam kondisi rapat dan dalam keadaan baik. 8. Hasil pengukuran panjang pegas katup Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari panjang pegas katup sebagai berikut: Tabel.0. Hasil pengukuran panjang pegas katup intake. Panjang Pegas (mm) Hasil ukur Standar A 8,57 B 8,57 A 8,57 B 8,57 8,57 A 8,57 B 8,57 A 8,57 B 8,57 Tabel.. Hasil pengukuran panjang pegas katup exhaust Panjang Pegas (mm) Hasil ukur Standar A 8,57 B 8,57 A 8,57 B 8,57 8,57 A 8,57 B 8,57 A 8,57 B 8,57 Apabila hasil pengukuran panjang pegas katup diatas berada dibawah nilai standar, maka pegas katup tersebut harus diganti. Dari hasil pengukuran tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa panjang pegas katup

8 dalam kondisi yang baik dan masih sesuai dengan standar Toyota, sehingga tidak perlu dilakukan penggantian pegas katup. 9. Hasil pengukuran tebal shim Berdasarkan pengambilan data dari pengukuran didapatkan nilai dari tebal shim katup sebagai berikut: Tabel.. Hasil pengukuran tebal shim katup intake/hisap. Tebal Shim Susunan Intake / Hisap Shim (mm) Visual A,9 B,95 A,9 B,9 A,97 B,9 A,97 B,96 Tabel.. Hasil pengukuran tebal shim katup exhaust/buang Tebal Shim Susunan Exhaust Shim /Keluar (mm) Visual A,9 B,96 A,90 B,97 A,99 B,99 A,99 B,97 Ketebalan shim diganti apabila celah katup tidak sesuai dengan standar Toyota, dan penggantian shim dilakukan ketika engine sudah dirakit.

85 Penggantian shim dilakukan tidak secara menyeluruh, melainkan pada shim yang tidak sesuai dengan standar atau shim sudah tidak layak untuk digunakan. Penggantian shim dilakukan ketika shim sudah terdapat banyak goresan atau tidak utuh. Berdasarkan pemeriksaan visual diatas dapat disimpulkan bahwa shim masih dalam kondisi baik dan layak untuk digunakan. 0. Hasil pengukuran tinggi camlobe camshaft Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari tinggi nok camshaft sebagai berikut: Tabel.. Hasil pengukuran tinggi camlobe intake camshaft. Tinggi camlobe intake (mm) Kondisi Hasil ukur Standar Minimum visual A,9 Bersih B,95 Bersih A,95 Bersih,9 B,95 Bersih -,50 A,9 Bersih,0 B,9 Bersih A,9 Bersih B,9 Bersih Tabel.5. Hasil pengukuran tinggi camlobe exhaust camshaft. Tinggi camlobe exhaust (mm) Kondisi Hasil ukur Standar Minimum visual A,97 Bersih B,97 Bersih A,97 Bersih,96 B,97 Bersih -,55 A,97 Bersih,06 B,97 Bersih A,97 Bersih B,97 Bersih

86 Apabila hasil dari pengukuran mendapatkan nilai dibawah nilai minimum maka camshaft harus diganti dengan yang baru dan apabila nilai dari pengukuran diatas standar maka harus digerinda dan diperbaiki. Hasil dari pengukuran tinggi camlobe masih sesuai dengan standar Toyota dan permukaan camlobe tidak terdapat goresan. Maka dapat disimpulkan bahwa camlobe pada kedua camshaft dalam kondisi baik dan tidak perlu diperbaiki ataupun diganti.. Hasil pengukuran diameter dan goresan pada camshaft Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari diameter dan kondisi permukaan gesek jurnal dan cap camshaft sebagai berikut: Tabel.6. Hasil pengukuran diameter dan goresan pada jurnal intake camshaft No Diameter Jurnal (mm) Goresan Diameter Standar Jurnal Cap,95 Bersih Bersih,96,99 Bersih Bersih,96 Bersih Bersih,96,965 Bersih Bersih 5,96 Bersih Bersih Tabel.7. Hasil pengukuran diameter dan goresan pada jurnal exhaust camshaft No Diameter Jurnal (mm) Goresan Diameter Standar Jurnal Cap,99-,95 Bersih Bersih,965,96,99 Bersih Bersih,96,965 Bersih Bersih

87 Lanjutan Tabel.7.,95,99 Bersih Bersih 5,96,965 Bersih Bersih Apabila diameter jurnal dibawah standar maka camshaft harus diganti baru. Pada bagian jurnal dan cap bantalan harus terbebas dari goresan karena goresan menandakan adanya gesekan yang tidak merata pada jurnal maupun cap bantalan pada camshaft. Dari hasil pengukuran dan pemeriksaan diatas dapat disimpulkan bahwa jurnal dalam kondisi baik dan sesuai dengan standar Toyota, begitu juga dengan cap bantalan dan jurnal camshaft masih dalam kondisi yang baik dan sesuai dengan standar Toyota maka komponen tersebut tidak perlu diganti dengan yang baru.. Hasil pengukuran keovalan jurnal camshaft Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari keovalan jurnal camshaft sebagai berikut: Tabel.8. Hasil pengukuran keovalan jurnal camshaft Camshaft Pengukuran Keovalan ( mm ) Hasil Maksimum Intake 0,005 0,0 Exhaust 0,005 0,0 Apabila keovalan jurnal camshaft diatas batas maksimum maka camshaft harus diganti baru. Dari hasil pengukuran dan pemeriksaan diatas dapat disimpulkan bahwa keovalan jurnal dalam kondisi baik dan sesuai

88 dengan standar Toyota, maka camshaft tersebut tidak perlu diganti dengan yang baru.. Hasil pengukuran thurst clearance cap connecting rod Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari thurst clearance cap connecting rod sebagai berikut: Tabel.9. Hasil pengukuran thurst clearance cap connecting rod Pengukuran thurst clearance No connecting rod ( mm ) Hasil Standar Maksimum 0,0 0,5-0,5 0,0 0,0 0,5-0,5 0,0 0, 0,5-0,5 0,0 0,0 0,5-0,5 0,0 Apabila thurst clearance cap connecting rod diatas batas maksimum maka connecting rod harus diganti dengan yang baru. Dari hasil pengukuran diatas dapat disimpulkan bahwa thurst clearance cap connecting rod dalam kondisi baik dan sesuai dengan standar Toyota, maka cap dan connecting rod tersebut tidak perlu diganti dengan yang baru.. Hasil pengukuran thurst clearance crankshaft Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari thurst clearance crankshaft sebagai berikut:

89 Tabel.0. Hasil pengukuran thurst clearance crankshaft No Pengukuran thurst clearance ( mm ) Hasil Standar Maksimum 0,08 0,00-0,0 0,0 Apabila thurst clearance crankshaft diatas batas maksimum maka thrust washer harus diganti dengan yang lebih tebal. Dari hasil pengukuran diatas dapat disimpulkan bahwa thurst clearance crankshaft dalam kondisi baik dan sesuai dengan standar Toyota, maka thrust washer tersebut tidak perlu diganti dengan yang baru. 5. Hasil pengukuran kerataan permukaan kepala silinder dan blok silinder Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari kerataan permukaan kepala silinder dan blok silinder sebagai berikut: Tabel.. Hasil pengukuran kerataan permukaan blok silinder. Sudut Hasil Pengukuran Celah (mm) A B Vertikal 0,00 0,00 Horizontal 0,00 0,00 Diagonal 0,05 0,05 Standar celah kerataan blok silinder 0.05 mm Tabel.. Hasil pengukuran kerataan permukaan kepala silinder. Hasil Pengukuran Sudut Celah (mm) A B Vertikal 0,00 0,00

90 Lanjutan Tabel.. Horizontal 0,00 0,00 Diagonal 0,00 0,00 Standar celah kepala silinder 0.05 mm Tabel.. Hasil pengukuran kerataan intake manifold. Sudut Hasil (mm) A B Standar Maksimum Pemariksaan Visual Diagonal 0,00 0,00 0,0 mm Bersih Tabel.. Hasil pengukuran kerataan kepala silinder sisi intake manifold. Sudut Hasil (mm) A B Standar Maksimum Pemariksaan Visual Diagonal 0,00 0,00 0,0 mm Bersih Tabel.5. Hasil pengukuran kerataan exhaust manifold. Sudut Hasil (mm) A B Standar Maksimum Pemariksaan Visual Diagonal 0,00 0,00 0,0 mm Bersih Tabel.6. Hasil pengukuran kerataan kepala silinder sisi exhaust manifold. Sudut Hasil (mm) A B Standar Maksimum Pemariksaan Visual Diagonal 0,00 0,00 0,0 mm Bersih Apabila kerataan pada permukaan objek yang diukur melebihi standar maksimum maka permukaan objek tersebut harus diperbaiki atau diratakan

9 ulang. Dari hasil pengukuran dan pemeriksaan diatas dapat disimpulkan bahwa semua permukaan yang diteliti dalam keadaan baik dan masih sesuai dengan standar Toyota, maka tidak perlu perbaikan pada permukaan tersebut. 6. Hasil pengukuran diameter silinder Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari diameter silinder sebagai berikut: Tabel.7. Hasil pengukuran diameter silinder. Diameter (mm) X Y Standar Maksimum A 8,06 8,05 8, B 8,07 8,06 8, C 8,07 8,06 8, A 8,07 8,06 8, B 8,06 8,06 8, C 8,06 8,06 8, A 8,06 8,06 8, B 8,06 8,07 8, C 8,06 8,07 8, A 8,07 8,06 8, B 8,07 8,06 8, C 8,07 8,06 8, Apabila celah ring antara ring piston dengan piston melebihi standar maka ring dan/atau piston harus diganti yang baru. Dari hasil pengukuran diatas dapat disimpulkan bahwa celah alur ring piston dalam keadaan baik

9 dan masih sesuai dengan standar Toyota, maka tidak perlu penggantian dengan yang baru. 7. Hasil pengukuran diameter piston Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari diameter piston sebagai berikut: Tabel.8. Hasil pengukuran diameter piston Diameter Piston (mm) X Y 80,95 80.95 80,96 80.95 80,96 80.95 80,95 80.96 Apabila celah ring antara ring piston dengan piston melebihi standar maka ring dan atau piston harus diganti yang baru. Dari hasil pengukuran diatas dapat disimpulkan bahwa celah alur ring piston dalam keadaan baik dan masih sesuai dengan standar Toyota, maka tidak perlu penggantian dengan yang baru. 8. Hasil pengukuran celah alur ring piston Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari celah alur ring piston sebagai berikut: Tabel.9. Hasil pengukuran celah alur ring piston. Piston Celah Alur Ring (mm) Standar Standar

9 Lanjutan Tabel.9. 0,05 0,05 0,085 0,05 0,00 0,070 0,05 0,05 0,085 0,05 0,00 0,070 0,05 0,05 0,085 0,05 0,00 0,070 0,05 0,05 0,085 0,05 0,00 0,070 Apabila celah ring antara ring piston dengan piston melebihi standar maka ring dan/atau piston harus diganti yang baru. Dari hasil pengukuran diatas dapat disimpulkan bahwa celah alur ring piston dalam keadaan baik dan masih sesuai dengan standar Toyota, maka tidak perlu penggantian dengan yang baru. 9. Hasil pengukuran gap ring piston Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari gap piston ring sebagai berikut: Tabel.0. Hasil pengukuran gap ring piston. Piston Gap Ring Piston (mm) Oil side rail 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 Gap Standar 0,5 0,5 0,5 0,60 0,0 0,50 Gap Maksimum,05,0,0 Apabila gap ring piston melebihi standar maksimum maka ring harus diganti yang baru. Dari hasil pengukuran diatas dapat disimpulkan bahwa

9 gap ring piston dalam keadaan baik dan masih sesuai dengan standar Toyota, maka tidak perlu penggantian ring piston baru. 0. Hasil pengukuran diameter jurnal utama dan crank pin Berdasarkan pengambilan data pengukuran nilai dari diameter jurnal utama dan crank pin sebagai berikut: Tabel.. Hasil pengukuran diameter jurnal utama. Jurnal Diameter Jurnal Utama (mm) Keovalan (mm) X Y Standar Hasil Maksimum 7,98 7,99 7,98 8,00 0,0 0,0 7,99 7,99 7,98 8,00 0,00 0,0 7,98 7,98 7,98 8,00 0,00 0,0 8,00 7,99 7,98 8,00 0,0 0,0 5 7,98 7,99 7,98 8,00 0,0 0,0 Tabel.. Hasil pengukuran diameter crankpin. Diameter Crankpin (mm) Keovalan (mm) X Y Standar Hasil Maksimum 0,00 0,00 0,00 0,0 9,98 0,00 0,00 0,00 0,0 0,00 0,00 0,00 0,0 0,00 0,00 0,00 0,00 0,0 Apabila keovalan lebih besar dari nilai maksimum gantilah crankshaft atau dengan alternatif menggerida dan menghaluskan jurnal utama dan/atau crankpin. Setelah digerinda, gantilah bantalan sesuai dengan ukuran penggerindaan. Batas penggerindaan dan penghalusan jurnal utama dan/atau

95 crankpin untuk ukuran bantalan (U/S 0,5) yaitu pada jurnal utama sebesar 7,75 7,755mm dan pada crankpin sebesar 9,75 9,755mm. Dari hasil pengukuran diatas dapat disimpulkan bahwa diameter jurnal utama dan diameter crankpin dalam keadaan baik dan masih sesuai dengan standar Toyota, maka tidak perlu penggantian ataupun penyetelan.. Komponen Fast Moving Komponen Fast Moving adalah komponen yang harus diganti secara berkala berdasarkan dengan hitungan usia pakai dan/atau jarak tempuh. Komponen dengan usia pakai yang ditentukan merupakan batas waktu paling lama komponen tersebut untuk beroperasi dengan pemakaian wajar kecuali terdapat kerusakan lebih. Komponen diganti mulai dari jarak tempuh kendaraan 0.000 km, dan kelipatan. Sedangkan untuk engine stand penggantian berkala dilakukan setiap pergantian semester untuk mewakili 0.000 km dengan ketentuan tidak terjadi kerusakan yang lebih awal kecuali baterai. Baterai memiliki usia tahun dengan pemakaian normal dan perawatan rutin (baterai basah). Komponen yang harus diganti ketika tuneup engine adalah: Tabel.. Komponen Fast Moving No Komponen Fast Moving Usia Pakai Oli Mesin 0.000 km Filter Oli 0.000 km Busi 0.000 km Filter bensin 0.000 km 5 Filter udara 0.000 km 6 v-belt alternator 0.000 km 7 v-belt ac 0.000 km

96 Lanjutan Tabel.. 8 v-belt timing 60.000 km 9 Baterai 50.000 km / tahun 0 Air Radiator 0.000 km.. Proses penghitungan hasil kerja Dalam proses penghitungan hasil akhir data pada media Engine Stand Toyota Great Corolla tipe A-FE tahun 99 ini, yaitu dengan menghitung adanya perbedaan antara konsumsi bahan bakar sebelum diakukan overhaul pada engine dan setelah dilakukan overhaul pada engine. Perhitungan perbedaan konsumsi bahan bakar dengan acuan volume yang digunakan objek kerja mampu untuk mengoperasikan engine dalam waktu tertentu. Sehingga bahan bakar yang digunakan dengan jenis dan volume yang sama akan didapat perbedaan antara kedua kondisi engine yang berbeda. Bahan bakar yang digunakan adalah bahan bakar dengan jenis premium atau bensin, dan volume premium yang digunakan untuk sekali pengujian yaitu 000 cc atau liter. Adapun penghitungan dalam pengambilan data sebagai berikut:. Hasil penghitungan waktu yang didapatkan Hasil penghitungan waktu yang diperlukan engine untuk menghabiskan bahan bakar (premium) sebesar 000 cc atau liter dengan putaran idle atau stasioner 800 RPM (Rotation Per Minutes) sebagai berikut:

97 Tabel.. Hasil perhitungan hemat konsumsi bahan bakar Waktu pengujian Volume bahan bakar Lama engine untuk pengujian beroperasi Sebelum overhoul 000 cc 6 menit 07 detik Setelah overhaul 000 cc 7 menit detik Selisih waktu 000 cc menit 6 detik. Persentase hemat bahan bakar Penghematan bahan bakar dijadikan persentasi perbandingan penggunaan dengan beban yang sama dan jumlah bahan bakar yang sama dihitung dengan cara sebagai berikut: a. Diasumsikan, Dengan sama perhitungan angkat pada detik dianggap angka dibelakang koma (,) dan angka dibelakang koma ditulis dengan angka puluhan. Waktu untuk menghabiskan 000 cc dengan putaran idle yaitu 800 RPM sebelum overhoul yakni 6 menit 07 detik sebagai (00%) dan waktu untuk menghabiskan 000 cc dengan putaran yang sama setelah dilakukan overhaul engine yakni 7 menit detik sebagai (00%) Dengan Rumus ( ) ( ) b. Perhitungan Hemat konsumsi bahan bakar sebagai berikut:

98 ( ) ( ) ( ) Setelah dihitung, nilai persentase dari hemat bahan bakar yang didapat dari proses overhaul engine pada objek pengambilan data yakni 9,75% lebih hemat bahan bakar dan lebih ekonomis dari segi harga yang dibutuhkan untuk beroperasi.