Psikologi Kepribadian

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. menimbulkan stress. Keinginan untuk mendapatkan penerimaan (acceptance)

Alfred Adler. Individual Psychology

Psikologi Kepribadian I Sejarah Psikoanalisa Dasar & Teori Sigmund Freud

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL

FASE PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN MANUSIA

Psikologi Kepribadian I Analytical Psychology Carl Gustav Jung

Psikologi Konseling Agustini, M.Psi., Psikolog MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, KERANGKA TEORI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan

Freud s Psychoanalytic Theories

BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

KAREN HORNEY ( )

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan

MODUL PERKULIAHAN. Kesehatan Mental. Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri)

Bab 2. Landasan Teori. Tokoh-tokoh tersebut tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan

Psikologi Kepribadian I Object Relation Theories

BAB I PENDAHULUAN. sebagai contoh kasus tawuran (metro.sindonews.com, 25/11/2016) yang terjadi. dengan pedang panjang dan juga melempar batu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN. FEAR of SUCCESS PADA WANITA BEKERJA

BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjukkan bahwa permasalahan prestasi tersebut disebabkan

Perkembangan Sepanjang Hayat

Bab 4. Simpulan dan Saran. Melalui analisis yang telah dilakukan oleh penulis, berdasarkan teori psikoanalisis

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (KBBI,edisi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

BAB I PENDAHULUAN. lain. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri,

BAB II KAJIAN TEORI. adalah bercintaan atau berkasih-kasihan sehingga dapat disimpulkan. perempuan, adanya komitmen dari kedua belah pihak biasanya

BAB I PENDAHULUAN. dan berfungsinya organ-organ tubuh sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap

BAB I PENDAHULUAN. Dengan adanya perkembangan dunia yang semakin maju dan persaingan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I. Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan. terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan

BAB I PENDAHULUAN. pemenuhan hasrat seksual, dan menjadi lebih matang. Pernikahan juga

Psikologi Kepribadian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang jangka

BAB I PENDAHULUAN. dijalanan maupun ditempat-tempat umum lainnya (Huraerah, 2007).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang,

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan

15 Prinsip dasar Kecerdasan Emosional : Modal Dasar Perawat Profesional

Nomer : Jenis Kelamin : Kuliah di : Usia : Asal daerah : Tempat tinggal di Semarang : PETUNJUK PENGISIAN

PSIKOLOGI UMUM 1. Aliran Psikoanalisa

Pedologi. Penganiayaan Anak dan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Yenny, M.Psi. Psikolog. Modul ke: Fakultas Psikologi. Program Studi Psikologi

PELATIHAN BASIC HYPNOPARENTING BAGI AWAM

BAB I PENDAHULUAN. dialami perempuan, sebagian besar terjadi dalam lingkungan rumah. tangga. Dalam catatan tahunan pada tahun 2008 Komisi Nasional

PSIKOLOGI UMUM 1. Aliran Neo-Freudian

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa teori akan dipaparkan dalam bab ini sebagai pendukung dari dasar

BAB I PENDAHULUAN. diberikan dibutuhkan sikap menerima apapun baik kelebihan maupun kekurangan

BAB II TINJAUAN TEORITIS. A. Karyawan PT. INALUM. capital, yang artinya karyawan adalah modal terpenting untuk menghasilkan nilai

BAB I PENDAHULUAN. Di zaman modern ini perubahan terjadi terus menerus, tidak hanya perubahan

Psikologi Kepribadian I Teori Psikososial Erik Erikson

BAB I PENDAHULUAN. untuk saling berinteraksi. Melalui interaksi ini manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan

KONFLIK ITRAPSIKIS TOKOH UTAMA DALAM NOVEL KERUMUNAN TERAKHIR KARYA OKKY MADASARI (Kajian Psikoanalisis Sosial Karen Horney)

Psikologi Kepribadian I Teori Personologi Henry Murray

Carl Jung. Analytical Psychology. Asumsi

PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN

IMPROVING PERSONAL, INTERPERSONAL, & ORGANIZATIONAL COMMUNICATIONS

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari,

Pengaruh Urutan Kelahiran pada Kecemasan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi X Jakarta

Psikologi Kepribadian I. Psikologi Psikologi

BAB I PENDAHALUAN. A. Latar Belakang Masalah. status sebagai orang dewasa tetapi tidak lagi sebagai masa anak-anak. Fase remaja

BAB I PENDAHULUAN. tidak bisa menangani masalahnya dapat mengakibatkan stres. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kesuksesan yang dicapai seseorang tidak hanya berdasarkan kecerdasan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pada anak-anak sedini mungkin agar tidak menghambat tugas-tugas perkembangan anak

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal

Teori Sigmund Freud. Sejarah hidup, Struktur Kepribadian dan Perkembangan Psikoseksual. Fitriani, S. Psi., MA. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI

PEDOMAN WAWANCARA. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian dengan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain

Hubungan antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orang Tua dan Intensitas Komunikasi Interpersonal dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Difabel

BAB II LANDASAN TEORI A. HARGA DIRI Menurut Coopersmith harga diri merupakan evaluasi yang dibuat oleh individu dan berkembang menjadi kebiasaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam kehidupan remaja, karena remaja tidak lagi hanya berinteraksi dengan keluarga

SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana (S-1) Psikologi

SELF & GENDER. Diana Septi Purnama.

BAB I PENDAHULUAN. yang kaya, miskin, tua, muda, besar, kecil, laki-laki, maupun perempuan, mereka

BAB 1 PENDAHULUAN. dan sosial-emosional. Masa remaja dimulai kira-kira usia 10 sampai 13 tahun

BAB I PENDAHULUAN. jangka waktunya berbeda bagi setiap orang tergantung faktor sosial dan budaya.

BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk hidup yang senantiasa berkembang dan

BAB I PENDAHULUAN. masa beralihnya pandangan egosentrisme menjadi sikap yang empati. Menurut Havighurst

3. Emosi subyek ketika menjawab pertanyaan interview. 4. Bagaimana kebudayaan etnis Cina dalam keluarga subyek?

BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk

Produksi Iklan Multimedia dan Interaktif

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah internasional adalah sekolah yang melayani siswa yang berasal dari sejumlah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi tidak

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain merupakan usaha manusia dalam

Pengaruh Pengasuhan dalam Keluarga Terhadap Tumbuhnya Narsisisme

BAB I PENDAHULUAN. penyesuaian diri di lingkungan sosialnya. Seorang individu akan selalu berusaha

BAB VI PENUTUP. diketahui bahwa ketiga subjek mengalami self blaming. Kemudian. secara mendalam peneliti membahas mengenai self blaming pada

BAB I PENDAHULUAN. tersebut terbentang dari masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga masa

Psikologi Kepribadian I. Psikologi Psikologi

Nomer : Fakultas : Usia : Agama :

Transkripsi:

MODUL PERKULIAHAN Psikologi Kepribadian I Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 09 61101 Abstract Dalam perkuliahan ini akan didiskusikan mengenai pembahasan teori Karen Horney mengenai ciri-ciri khusus, struktur & dinamika kepribadian berdasarkan pandangan psychoanalytic social theory. Kompetensi Mampu memahami tentang Psychoanalytic Social Theory dari Karen Horney.

Latar Belakang Pendahuluan Karen Horney adalah salah satu murid wanita Freud yang paling terkenal. Teori-teorinya sangat dipengaruhi oleh pemikiran Freud, meskipun juga memiliki beberapa konsep yang merupakan bentuk penentangan terhadap teori gurunya. Sebagai seorang wanita, Horney menunjukkan keberpihakan kepada kaumnya. Keberpihakan ini terefleksi dalam teori-teori yang dikembangkan, misalnya konsep womb envy sebagai konsep tandingan atas konsep penis envy dari Freud. Konsep penis envy merupakan konsep yang merendahkan wanita, karena menunjukkan adanya kekurangan pada wanita yang didasarkan pada perbedaan bagian organ seks. Horney berusaha tidak memberikan penjelasan mengenai penis envy dari sudut pandang organis, tetapi dari sudut pandang budaya. Konsep womb envy yang dikembangkannya menjelaskan perasaan kekurangan dari kaum lelaki yang juga disebabkan oleh ketiadaan rahim yang menjadi tempat tumbuhnya janin yang kemudian menjadi cara untuk melestarikan spesies manusia. Harus diakui bahwa konsep ini juga didasarkan pada perbedaan organ seks. Karen Horney memberikan sumbangan yang besar terhadap psikologi gender karena pembelaannya terhadap wanita. Horney ingin menunjukkan adanya kesamaan antara lelaki dan wanita. Karen Horney mengembangkan teori neurotik tetapi teori yang dikembangkannya berbeda denga teori yang ada sebelumnya. Menurut Horney, neurotik merupakan sesuatu yang biasa dilakukan dalam kehidupan normal. Horney mengidentifikasi sepuluh bentuk neurotik termasuk kebutuhan kekuasaan, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan prestise sosial, dan kebutuhan akan kemerdekaan. Meskipun banyak mengikuti teori Sigmund Freud, tetapi Horney tidak setuju dengan pandangan Freud mengenai psikologi wanita. Horney menolak konsep iri penis (penis envy). Menurutnya, konsp itu tidak akurat dan merendahkan wanita. Horney menyatakan, ''Pria tidak memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengembangkan karya kreatif dalam setiap bidang, mereka hanya memainkan bagian yang relatif kecil dalam penciptaan mahkluk hidup. Hal ini yang mendorong mereka untuk terus-menerus melakukan over kompensensi supaya mencapai prestasi''. Manusia dalam Pandangan Karen D. Horney Gambaran Horney mengenai manusia lebih optimis dibandingkan dengan Freud. Salah satu bentuk optimismenya adalah kepercayaannya mengenai kekuatan biologis yang tidak 2

akan menghukum kita dalam bentuk konflik cemas. Neurotik merupakan sesuatu yang universal dalam kepribadian. Menurut Horney, setiap orang itu unik apabila terjadi perilaku neurotik, maka penyebabnya adalah dorongan sosial pada masa kanak-kanak. Hubungan orangtua anak tidak selamanya memuaskan, kadang juga membuat frustasi anak. Jika hubungannya tidak memuaskan, maka anak akan membentuk perilaku neurotik. Kondisi neurotik atau konflik dapat dihindari jika anak dibesarkan dengan, penerimaan, dan kepercayaan. Tujuan utama dalam kehidupan manusia adalah merealisasikan diri dan setiap orang memiliki potensi untuk mencapainya. Kemampuan dan potensi intrinsik ini akan tumbuh sebagai sesuatu yang alamiah. Hanya satu hal yang dapat merintangi perkembangan ini, yaitu hambatan dalam memenuhi kebutuhan rasa aman dan perlindungan ketika pada masa kanak-kanak. Horney percaya bahwa manusia memiliki kapasitas untuk membentuk dan mengubah kepribadian secara sadar, karena pada hakikatnya manusia itu fleksibel. Proses pembentukan kepribadian ini tidak terhenti pada masa kanak-kanak tetapi berlanjut sampai masa dewasa. Karena itu pengalaman masa dewasa sama pentingnya dengan pengalaman masa kanak-kanak. Horney juga meyakini kapasitas manusia dalam pertumbuhan diri. Dalam teknik terapi yang dikembangkannya, Horney menekankan analisis diri seperti yang dilakukanya terhadap diri sendiri. Dalam bukunya yang berjudul self analysis, ia menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk membantu menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Penjelasan ini didasarkan pada adanya kebebasan berkehendak (free will) yang dimiliki manusia sebagai lawan dari ditetapkan (determinism). Horney berpendapat melalui kemampuan ini, manusia dapat membentuk kehidupan sendiri untuk mencapai realisasi diri (self realization). Konsep Utama Psikoanalisis Interpersonal 1. Masa Kanak-Kanak Memerlukan Rasa Aman Horney setuju dengan prinsip Freud mengenai pentingnya kehidupan pada tahun-tahun awal perkembangan anak bagi kepribadian individu dimasa dewasa. Tetapi berbeda dengan Freud, Horney lebih percaya kepada kekuatan sosial pada masa kanak-kanak dalam pembentukan kepribadian dibandingkan dengan kekuatan biologis. Hubungan sosial antara orangtua anak menjadi kunci penting yang dapat menghindarkan konflik pada masa perkembangan yang terjadi pada tahap selanjutnya. Dalam pemikiran Horney, masa kanak-kanak didominasi oleh kebutuhan rasa aman (safety need), artinya anak sangat membutuhkan perlindunag dan kebebasan dari rasa takut 3

(Horney, 1937). Perasaan aman atau perasaan takut akan kehilangan dialami oleh semua bayi dan hal ini akan menentukan kenormalan perkembangan kepribadian dikemudian hari. Perasaan aman yang dimiliki anak sepenuhnya bergantung pada cara orangtua memperlakukannya. Penyebab tidak munculnya rasa aman adalah orangtua kurang hangat dan kurang menunjukkan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Kondisi inilah yang dirasakan oleh Horney pada masa kanak-kanaknya (orangtuanya hanya sedikit memberikan kasih sayang dan kehangatan). Horney percaya bahwa orang yang mengalami trauma pada masa kanak-kanak, misalnya karena penyapihan yang tiba-tiba, perlakuan kasar dari orangtua, bahkan mungkin pengalaman seksual yang prematur tidak akan memberikan dampak terhadap perasaan aman yang dimiliki anak bahkan mereka dapat bertahan tanpa mengalami kesakitan, sepanjang merasa tetap diinginkan dan dicintai. Secara sadar atau tidak sadar, orangtua dapat saja meruntuhkan perasaan aman dan mengubahnya menjadi perasaan bermusuhan. Adanya pilih kasih antara saudara kandung, menghukum dengan tidak adil, perilaku yang tidak konsisten, tidak menepati janji, mengejek, menghina, dan mengisolasi anak dari teman sebayanya akan memunculkan permusuhan pada anak. Anak mengetahui apakah orangtuanya mencintai dengan tulus atau tidak. Kegagalan dalam menunjukkan kasih sayang dan ketidakjujuran dapat dirasakan oleh anak sehingga tidaklah mudah untuk mengelabui mereka. Anak mungkin akan menekan permusuhan terhadap orangtuanya karena takut merasa bersalah atau masih berharap mendapat cinta yang tulus dari keduanya. Horney sangat menekankan ketidakberdayaan masa bayi dalam perkembangan kepribadian. Namun berbeda dengan Adler, Horney tidak percaya bahwa setiap bayi pada dasarnya merasa tidak berdaya. Tetapi apabila perasaan tidak berdaya tersebut muncul maka akan menyebabkan neurotik. Perasaan tidak berdaya pada anak bergantung pada perilaku orangtuanya. Jika anak bergantung secara berlebihan dan kebergantungan tersebut terus dibiarkan, maka mereka akan mengalami ketidakberdayaan selamanya. Kebanyakan ketidakberdayaan yang dirasakan anak terjadi karena mereka kurang berani utuk melawan dan memberontak terhadap terhadap oangtuanya dan ini akan membuat anak menekan rasa permusuhannya. Anak dengan mudah dibuat ketakutan oleh orangtua melalui hukuman, kekerasan fisik atau intimidasi. Anak yang penakut akan menekan rasa permusuhannya. Secara paradoks, cinta dapat menjadi dasar untuk menekan permusuhan terhadap orangtua. Orangtua yang mengatakan bahwa mereka sangat mencintai anak-anaknya dan betapa besar pengorbanan untuk anak-anaknya, tetapi tidak disertai dengan kasih sayang dan kehangatan yang tulus akan dirasakan anak. Anak mengakui bahwa kata-kata dan 4

perilaku yang ditunjukkan orangtua yang berpura-pura tidak dapat mengganti cinta yang tulus dan memberinya rasa aman. Anak akan menekan rasa permusuhan karena takut kehilangan meskipun hal tersebut merupakan ekspresi cinta yang tidak memuaskan. Rasa takut menjadi alasan bagi anak-anak untuk menekan rasa permusuhan. Mereka seringkali dibuat merasa bersalah atas permusuhan atau pemberontakan yang dilakukannya. Mereka dibuat merasa tidak berguna, jahat, dan berdoa untuk menunjukkan kebencian terhadap orangtuanya. Makin besar perasaan bersalah, makin dalam mereka merasakan perasaan permusuhan. Penekanan terhadap sikap permusuhan merupakan hasil dari berbagai perilaku pengasuhan yang selanjutnya akan merusak kebutuhan rasa aman yang dimanisfestasikan menjadi kecemasan dasar (basic anxiety). 2. Kecemasan Dasar: Pondasi dari Neurosis Menurut Horney, kecemasan dasar adalah peningkatan seluruh perasaan kesepian dan tidak berdaya dalam dunia permusuhan yang disembunyikan (Horney, 1937). Kecemasan menjadi dasar dari perkembangan neurotik. Kondisi ini berlaku sama pada setiap orang yang merasa kecil, tidak bermakna, tidak berdaya, ditinggalkan, terancam dalam dunia yang penuh kekerasan, penipuan, serangan, penghinaan, dan pengkhianatan. Menurut Horney, terdapat 4 cara untuk melindungi diri dari kecemasan dasar yaitu: a. Meminta cinta dan kasih b. Menjadi penurut c. Meraih kesuksesan d. Menarik diri Beberapa cara yang dilakukan untuk mendapatkan kasih sayang antara lain dengan mencoba mengerjakan apa saja yang disukai orang lain, mencoba untuk menyuap, bahkan mengancam supaya mendapat kasih sayang yang diinginkan. Menjadi penurut berarti melindungi diri dengan cara mematuhi keinginan seseorang atau setiap orang dalam lingkungan sosial. Orang yang penurut menghindari apapun yang menyebabkan orang membencinya. Mereka takut dikritik atau mendapatkan serangan. Mereka harus menekan hasrat pribadi dan tidak melawan ketika orang lain memakinya karena takut membuat si pemaki semakin membencinya. Kebanyakan orang yang penurut percaya bahwa mereka tidak egois dan suka berkorban. Orang yang menarik diri akan mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan internal (psikologisnya) dengan cara menjauhkan diri dari orang lain dan tidak memerlukan 5

orang lain untuk memenuhi kepuasan emosionalnya. Orang yang menarik diri akan melindungi diri dari sakit hati yang disebabkan oleh orang lain. Dalam hal ini terjadi penumpulan minimalisasi kebutuhan emosional terhadap orang lain. Empat mekanisme perlindungan diri diatas memiliki satu tujuan yaitu bertahan melawan kecemasan dasar. Mereka memotivasi dirinya untuk mencari keamanan dan ketentraman hati, bukan mencapai kebahagiaan dan kesenangan. Mereka bertahan dari rasa sakit, bukan mengejar kesejahteraan. Mekanisme yang terjadi mungkin bertujuan untuk mengurangi kecemasan, tetapi justru menyebabkan pemiskinan kepribadian. Menurut Horney, kebutuhan orang neurotik terhadap orang lain lebih banyak bersifat fisik, seperti lebih memilih pemenuhan kebutuhan seksual dibandingkan dengan kebutuhan yang lain. Penderita neurotik seringkali mencari keamanan dan perlindungan dengan menggunakan lebih dari satu mekanisme pertahanan meskipun tidak kompatibel. Dari empat mekanisme perlindungan diri tersebut pada dasarnya hanya akan menambahkan masalah. 3. Kebutuhan dan Kecenderungan-Kecenderungan Neurotik Horney percaya bahwa beberapa mekanisme perlindungan diri yang ada akan permanen dan menjadi bagian dari kepribadian. Anggapan ini di dasarkan pada karakteristik dari dorongan atau kebutuhan yang menentukan perilaku individual. Horney telah menyusun sepuluh kebutuhan dan menamakannya sebagai kebutuhan neurotik, karena merupakan solusi yang tidak rasional dalam penyelesaian masalah. Sepuluh kebutuhan neurotik adalah sebagai berikut: a. Kasih sayang dan dukungan. b. Pasangan yang dominan. c. Kekuasaan. d. Eksploitasi. e. Prestise. f. Kekaguman. g. Prestasi dan ambisi. h. Memenuhi kebutuhan sendiri. i. Kesempurnaan. j. Batas sempit untuk hidup. 6

Kasih sayang yang muncul pada orang neurotik adalah untuk mendapatkan kasih sayang dan dukungan. Bagi orang neurotik, menjadi penurut termasuk dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut dan mereka memperolehnya dari pasangan yang dominan. Keinginan mencapai kekuasaan berkaitan dengan kebutuhan untuk berkuasa, eksploitasi, prestasi, dan kekaguman. Kecenderungan neurotik berkembang melalui mekanisme perlindungan diri. Kita dapat melihat kesamaan pada deskripsi awal. kecenderungan neurotik melibatkan sikap dan perilaku impulsif yaitu orang neurotik akan dipaksa untuk berperilaku sesuai dengan kecenderungan neurotiknya dalam situasi apapun. Kecenderungan neurotik tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 arah pergerakan. 1). Pergerakan menuju orang lain (kepribadian mengalah). 2). Pergerakan melawan orang lain (kepribadian agresif). 3). Pergerakan menjauhi orang lain (kepribadian terlepas). a). Kepribadian mengalah Orang dengan kepribadian mengalah menampilkan sikap dan perilaku yang merefleksikan hasrat untuk bergerak menuju orang lain. Kebutuhan yang kuat dan terusmenerus untuk mendapatkan kasih sayang dan dukungan, ingin sekali dicintai, diharapkan dan dilindungi. Orang dengan kepribadian yang mengalah menampilkan keinginan terhadap setiap orang, meskipun mereka biasanya memilki keinginan untuk mendapatkan orang yang dominan, seperti teman atau pasangan yang akan mengurusi hidup mereka dan menawarkan perlindungan dan bimbingan. Orang dengan kepribadian yang mengalah selalu memanipulasi orang lain, terutama pasangannya untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka seringkali bertingkah laku tertentu untuk menarik orang lain supaya disayangi. Dalam hubungannya dengan orang lain, orang dengan kepribadian mengalah akan menunjukkan sikap mendamaikan dan menempatkan hasrat personalnya lebih rendah dibandingkan dengan keinginan orang lain. Mereka akan menanggung kesalahan dan tunduk kepada orang lain, tidak pernah arsetif, kritis, atau menuntut. Mereka mengerjakan apa saja kalau situasinya membutuhkan dengan tujuan untuk mendapatkan kasih sayang, persetujuan, dan cinta. Cara pandang mereka terhadap diri sendiri secara konsisten tidak berdaya dan lemah. Konsekuensinya, mereka akan melihat dirinya lebih inferior memandang orang lain dan orang lain superior meskipun sebenarnya kompeten. Demi keamanan, orang dengan kepribadian mengalah akan tunduk kepada sikap dan perilaku orang lain terhadap dirinya. Mereka menjadi orang yang sangat bergantung, membutuhkan dukungan yang konstan dan 7

ketentraman hati. Adanya penolakan, baik nyata maupun khayalan akan menakutkan mereka dan membuatnya meningkatkan usaha untuk mendapatkan kembali kasih sayang dari orang yang menolaknya. b) Kepribadian Agresif Kepribadian agresif bergerak melawan orang lain. Bagi mereka, setiap orang adalah musuh. Karenanya hanya orang yang sangat memahami dan sangat licik yang dapat bertahan. Bagi mereka, hidup seperti rimba, penuh supremasi, kekuatan, dan kebuasan yang menjadi gunung kebaikan. mmeskipun motivasi mereka adalah sama dengan tipe penurut yaitu untuk meredakan kecemasan dasar, tetapi cara yang dilakukannya tidak dengan menujukkan ketakutan terhadap penolakan. Sebaliknya, mereka keras dan beusaha menguasai serta tidak menghargai orang lain. Bagi mereka, kemampuan untuk mengontrol dan menjadi superior sangat vital dalam hidupnya karenanya harus konsisten untuk tampil pada level tinggi supaya mendapatkan pengakuan dan superior. Mereka mendapatkan kepuasan dengan memperkokoh superioritasnya terhadap orang lain. Orang dengan kepribadian agresif diarahkan untuk melampui orang lain, mereka akan menilai orang lain dalam kerangka kepentingan dirinya sendiri. Mereka tidak berupaya untuk mententramkan orang lain tetapi akan beragumentasi, mengkritik, meminta, dan melakukan apapun untuk mencapai dan mempertahankan superioritas dan kekuasaan. Orang dengan kepribadian agresif mungkin akan tampil percaya diri dengan kemampuannya, tegas, dan berusaha untuk mempertahankan diri sendiri. Namun, semua perilaku yang muncul pada dasarnya memiliki latar belakang yang sama dengan orang yang berkribadian penurut, yaitu diarahkan oleh perasaan tidak aman, kecemasan, dan permusuhan. c). Kepribadian Terpisah Orang yang memiliki kepribadian terpisah perilakunya diarahkan untuk bergerak menjahui orang lain supaya dapat menjaga jarak emosional. Mereka tidak harus mencintai, membenci, bekerjasama, atau terlibat dalam bentuk cara apapun dengan orang lain. Untuk mencapai keterpisahan secara total, mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Mereka menyandarkan diri kepada sumber daya sendiri yang harus mereka bangun dengan baik. Orang dengan kepribadian terpisah berusaha untuk menjaga privasi, mereka memerlukan sebanyak mungkin waktu untuk sendirian, karena kebersamaan akan membuatnya terganggu. Kebutuhan mereka akan kemandirian yang membuatnya peka terhadap berbagai upaya untuk mempengaruhi, memaksa, atau mewajibkan. Kepribadian terpisah harus meghindar dari semua rintangan, termasuk jadwal waktu, dan kegiatan. 8

Mereka memerlukan perasaan superior tetapi tidak sama dengan yang dilakukan oleh orang yang berkepribadian agresif, mereka tidak secara aktif bersaing dengan orang lain untuk mencapai superioritasnya karena ini berarti memerlukan keterlibatan bersama orang lain. Mereka percaya bahwa kebesarannya akan diakui secara otomatis tanpa harus bertanding. Orang tersebut akan memanisfestasikan superioritasnya dengan merasa bahwa dirinya unik dan berbeda dengan kebanyakan orang. Orang yang berkepribadian terpisah menekan atau menyangkal semua perasaannya terhadap orang lain, terutama cinta dan kebencian. Baginya, keintiman hanya akan membawa kepada konflik, karenanya harus dihindari. Hal ini terjadi karena penyempitan emosi. Mereka berusaha untuk menekan perasaan-perasaannya dengan mengandalkan logika dan kecerdasan. 4. Citra Diri Ideal Kenormalan dan neurotik menurut Horney bergantug pada penilaian terhadap realtas. Pada orang normal, citra dirinya dibangun atas penilaian realitas terhadap kemampuan, potensi, tujuan, dan hubungannya dengan orang lain. Citra ini menyumbangkan perasaan kesatuan dan integrasi. Jika dapat merealisasikan seluruh potensi, maka harus dapat merefleksikan diri yang sebenarnya. Orang neurotik memiliki konflik dalam bentuk perilaku yang tidak sesuai (incompatible modes), mereka memiliki kepribadian yang terpecah dan tidak harmonis. Mereka sebenarnya membangun citra diri ideal, sama dengan orang yang normal yaitu menyatukan kepribadian. Tetapi perbedaanya, perjuangan mereka dihukum oleh kegagalan karena citra dirinya tidak didasarkan pada penilaian realitas terhadap kekuatan dan kelemahan diri, tetapi didasarkan pada khayalan, pencapaian ideal, dan kesempurnaan mutlak. Orang tersebut berjuang untuk mewujudkan kondisi ideal yang tidak mungkin tercapai. Orang neurotik akan mengikatkan diri kepada tirani keharusan. Ciri diri ideal pada orang neurotik tidak memiliki kesesuaian dengan kenyataan, tetapi bagi mereka adalah sesuatu yang nyata. Orang lain dengan mudah dapat melihat gambaran yang salah tersebut tetapi tidak bagi yang bersangkutan. Mereka percaya bahwa citra dirinya sudah benar, ketidaklengkapan dan kesalahan bagi mereka tidak ada. Citra diri ideal merupakan representasi dari apa yang dipikirkan, diinginkan, dan diharuskan. Sementara citra diri yang realitas bersifat fleksibel dan dinamis, adaptif dengan perkembangan dan perubahan individu, merefleksikan kekuatan, pertumbuhan, dan kesadaran diri. Citra diri realitis merupakan tujuan dan sesuatu yang harus diperjuangkan, karena merefleksikan dan mengarahkan orang. Sebaliknya citra diri neurotik bersifat statis, tidak fleksibel, dan tidak 9

bisa dicapai. Ini bukan tujuan, tetapi pikiran yang terfiksasi, tidak mendorong kepada pertumbuhan tetapi menjadi perintang yang membutuhkan ketaatan yang kaku. 5. Psikologi Feminin: Jalur Ibu atau Jalur Karier Horney, secara khusus mengkritik Freud mengenai iri penis (penis envy). Horney percaya bahwa hal tersebut bersumber dari data yang tidak adekuat (Freud menemukannya sebagai hasil dari wawancara terhadap wanita yang neurotik). Freud menawarkan deskripsi dan interpretasi dari fenomena yang tidak terlalu kuat ini didasarkan pada pandangan lakilaki terhadap wanita sebagai warga kelas dua. Ia menyatakan bahwa wanita sebagai korban dari anatominya, selalu iri dan benci kepada laki-laki karena mempunyai penis. Freud juga menyimpulkan bahwa perempuan memiliki perkembangan superego yang miskin (sebagai hasil dari penyelesaian kompleks oedipus yang tidak adekuat), serta citra diri yang inferior karena dipercayai bahwa wanita benar-benar dikebiri oleh laki-laki. a. Iri Rahim (Womb Envy) Horney membalas pemikiran tersebut dengan menyatakan bahwa laki-laki iri terhadap wanita, karena wanita memiliki kapasitas untuk menjadi ibu. Posisi wanita dalam isu ini di dasarkan pada pengalaman yang menyenangkan ketika mereka melahirkan. Horney menyebut jenis iri ini dengan iri rahim (womb envy). Horney tidak menyangkal bahwa banyak wanita yang percaya bahwa dirinya lebih inferior daripada laki-laki. Meskipun wanita memiliki pandangan yang tidak adekuat terhadap dirinya dibandingkan dengan laki-laki, namun mereka memiliki pandangan iri karena didasarkan pada alasan sosial, bukan karena mereka terlahir sebagai wanita. Wanita merasa tidak percaya diri karena mereka diperlakukan demikian oleh budaya yang di dominasi laki-laki. Setelah mengalami diskriminasi sosial, ekonomi, dan budaya dapat dipahami bahwa wanita memiliki pandangan tersebut. b. Oedipus Kompleks Horney tidak setuju dengan Freud mengenai oedipus complex. Horney tidak menyangal keberadaan konflik antara anak dan orangtua. Tetapi ia percaya bahwa hal tersebut bersumber dari seksual. Dengan memindahkan seks dari oedipus kompleks, ia mengintepretasikan ulang situasi yang membuat konflik antara orangtua dan permusuhan terhadap mereka. Impuls permusuhan menjadi dasar pembentukan kecemasan dasar. Bagi Horney gambaran tersebut memperlihatkan kesamaan dengan penjelasan Freud mengenai oedipus kompleks, mencintai salah satu orangtua dan cemburu kepada yang lain (Horney, 1939). Perasaan oedipal berasal dari konflik neurotik yang bersumber dari interaksi 10

orangtua-anak. Perasaan ini tidak didasarkan pada dorongan seks atau dorongan biologis dan juga tidak bersifat universal. Hal ini sepenuhnya terjadi pada orangtua yang tindakannya merusak rasa aman anak-anak. 6. Menjadi Ibu atau Meniti Karier? Sebagai seorang feminis awal, Horney banyak terlibat dalam beberapa kegiatan kontemporer. Tahun 1934, ia menulis essay yang menggambarkan konflik psikologis dalam mendefinisikan peran wanita yang berlawanan dengan gambaran ideal tradisional mengenai wanita karena pandangannya lebih modern. Dalam skema tradisional, wanita dipromosikan dan didukung oleh kebanyakan laki-laki. Peran wanita adalah untuk mencintai, mengagumi, dan melayani pasangannya. Identitas yang dimilikinya merupakan refleksi dari suaminya. Horney menyatakan bahwa wanita akan mencari identitasnya seperti yang dilakukannya dengan mengembangkan kemampuannya sendiri serta berusaha mengejar karier. 11

Daftar Pustaka Feist, J., & Feist G (2012). Theories of Personality (7 th ed.) USA: MC Graw Hill. Fudyartanta, K., (2012). Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 12