Kuliah 12 EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK

dokumen-dokumen yang mirip
Kuliah 13. Marlan Hutahaean 1

Kuliah 6. Marlan Hutahaean 1

EVALUASI PEMUNGUTAN PAJAK HOTEL DAN RESTORAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Laporan Kuliah Kerja Lapangan. dalam rangka mencapai sebuah kestabilan. Sehingga setiap aktivitas

Kabupaten Tasikmalaya 10 Mei 2011

BAB I PENDAHULUAN. otonomi seluas-luasnya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kebijakan menurut para ahli seperti yang telah dikemukan oleh Anderson dalam

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sistem negara kesatuan, pemerintah daerah merupakan bagian yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

KEWIRAUSAHAAN - 2. Teknik Evaluasi. Modul ke: Perencanaan. Galih Chandra Kirana, SE.,M.Ak. Fakultas. Program Studi.

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI. pada tahun 1990-an berpengaruh terhadap konsep anggaran negara pada

INDIKATOR KESEHATAN. pengertian, definisi operasional, dan formula perhitungannya

BAB 1 PENDAHULUAN. program ataupun kegiatan. Sebelum melaksanakan kegiatan, harus ada

BAB 1 PENDAHULUAN. Kepmendagri memuat pedoman penyusunan rancangan APBD yang. dilaksanakan oleh Tim Anggaran Eksekutif bersama-sama Unit Organisasi

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah di Indonesia telah membawa

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan, birokrasi dipergunakan untuk menyebut badan-badan pemerintah

BAB I PENDAHULUAN. 1 Monitoring dan Evaluasi dalam Program Pemberdayaan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR

pemeriksaan mulai dari tahap perencanaan sampai dengan tahap pelaporan.

BAB I PENDAHULUAN. fungsi-fungsi dasar manajemen lainnya yaitu perencanaan dan pelaksanaan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Awal diterapkannya otonomi daerah di Indonesia ditandai dengan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

EVALUASI KEBIJAKAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DI SMA NEGERI 1 AMPIBABO KECAMATAN AMPIBABO KABUPATEN PARIGI MOUTONG

UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH. No 23 Tahun 2014 BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN

PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia T

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini membahas tentang latar belakang dari dilakukan penelitian ini,

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan yang didasarkan pada prinsip-prinsip good governance (Bappenas,

PERMASALAHAN PELAYANAN PUBLIK PADA PEMERINTAH DAERAH Oleh : Davy Nuruzzaman ABSTRAKSI

BAB I PENDAHULUAN. memberikan proses pemberdayaan dan kemampuan suatu daerah dalam. perekonomian dan partisipasi masyarakat sendiri dalam pembangunan

SASARAN REFORMASI BIROKRASI

BAB I PENDAHULUAN. penting yang dilakukan yaitu penggantian sistem sentralisasi menjadi

BAB. I PENDAHULUAN. perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

I. PENDAHULUAN. Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban Daerah dalam rangka

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan laju pertumbuhan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. baik (Good Governance) menuntut negara-negara di dunia untuk terus

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kinerjanya. Menurut Propper dan Wilson (2003), Manajemen

BAB I PENDAHULUAN. diamanatkan dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa. Berdasarkan ketentuan ini

BAB II LANDASAN TEORI. Pada instansi pemerintahan seperti KPP Pratama Sleman orientasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dicapainya keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia menganut asas desentralisasi yang memberikan kebebasan dan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh

BAB 14 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI

BAB I PENDAHULUAN. pusat untuk mengatur pemerintahannnya sendiri. Kewenangan pemerintah daerah

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan dengan meningkatkan pemerataan dan keadilan. Dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan rakyat, melindungi kehidupan bangsa serta mampu mencukupi

BAB I PENDAHULUAN. tujuan bersama yang diinginkan serta terlibat dengan peraturan-peraturan yang

PENGARUH KOORDINASI TERHADAP KINERJA PETUGAS PEMUNGUT PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DI KELURAHAN SUKAGALIH KECAMATAN TAROGONG KIDUL KABUPATEN GARUT

BAB I PENDAHULUAN. di segala bidang. Kenyataan tersebut menuntut profesionalisme sumber daya

BAB I PENDAHULUAN pada alinea ke empat yang dijadikan sebagai landasan pembangunan

II. SISTEM MONITORING DAN EVALUASI PROYEK

KATA PENGANTAR. Lamongan, Januari 2012 Kepala Bagian Bina Pengelolaan Keuangan dan Asset. S U B A N I, SE, MM Pembina NIP

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PADANG LAWAS UTARA,

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah ( Renstra SKPD )

BAB I PENDAHULUAN. dengan memberikan rekomendasi tentang tindakan-tindakan perbaikan

BAB I PENDAHULUAN. kecil, pimpinan perusahaan dapat mengawasi secara langsung kinerja di

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

LEMBAR PERSETUJUAN TUGAS AKHIR...

BAB I PENDAHULUAN. bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan kebijakan yang. daerahnya masing-masing atau yang lebih dikenal dengan sebutan

BAB I PENDAHULUAN. mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas ekonomi dan tugas

BAB I PENDAHULUAN. internasional dalam manajemen publik, (Pollitt dalam Speklé dan Verbeeten,

2013, No BAB I KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI Pasal 1 (1) Lembaga Administrasi Negara yang selanjutnya disebut LAN adalah lembaga pemerintah nonke

1) Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13 tahun 2006 jo No. 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pelaksanaan Keuangan di Daerah

TINJAUAN PUSTAKA. A. Landasan Teori 1. Akuntansi Pemerintahan

LAPORAN AKUNTABILITAS DAN KINERJA PEMERINTAH (LAKIP)

BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT DPRD KOTA. Rencana strategis merupakan proses yang berorientasi

School of Communication Inspiring Creative Innovation. Pengembangan Kepemimpinan Pertemuan 10 SM III

Transkripsi:

Kuliah 12 EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK

Agenda PENGERTIAN DAN KRITERIA EVALUASI INDIKATOR EVALUASI KENDALA DALAM EVALUASI

I. Pengertian dan Kriteria Evaluasi EVALUASI KEBIJAKAN MERUPAKAN TAHAPAN PROSES PEMBUATAN KEBIJAKAN SETELAH IMPLEMENTASI EVALUASI KEBIJAKAN DAPAT DILAKUKAN PADA SETIAP TAHAPAN PROSES PEMBUATAN KEBIJAKAN DUNN (2004) MEMBAGI EVALUASI KEBIJAKAN ATAS EVALUASI EX ANTE DAN EX POST EVALUASI MENGARAH PADA APLIKASI BEBERAPA SKALA NILAI TERHADAP HASIL KEBIJAKAN/PROGRAM SERINGKALI DISEBUTKAN DENGAN ISTILAH APPRAISAL ATAU PENAKSIRAN, PEMBERIAN ANGKA ATAU RATING DAN PENILAIAN ATAU ASSESSMENT SECARA SPESIFIK, EVALUASI BERKENAAN DENGAN PRODUKSI INFORMASI MENGENAI NILAI ATAU MANFAAT HASIL KEBIJAKAN. (DUNN, 2004)

I. Pengertian dan Kriteria Evaluasi EVALUASI DILAKUKAN UNTUK MELIHAT HASIL DAN DAMPAK YANG DIPEROLEH DARI SATU PROGRAM YANG DIKAITKAN DENGAN IMPLEMENTASINYA. EVALUASI JUGA DILAKUKAN UNTUK MELIHAT KEGUNAAN PROGRAM DAN INISIATIF BARU, PENINGKATAN EFEKTIVITAS MANAJEMEN DAN ADMINISTRASI PROGRAM (ROSSI DAN FREEMAN, 1993 DALAM KEBAN, 2004) EVALUASI DAPAT DILAKUKAN DENGAN MERINCI APA YANG AKAN DIEVALUASI, MENGUKUR KEMAJUAN MELALUI PENGUMPULAN DATA, MENGANALISIS DATA YANG BERKAITAN DENGAN OUTPUT DAN OUTCOMES YANG DIPEROLEH DIBANDINGKAN DENGAN SASARAN DAN TUJUAN

I. Pengertian dan Kriteria Evaluasi RIPLEY (1985) MENGEMUKAKAN BEBERAPA HAL YANG HARUS DIJAWAB DALAM KEGIATAN EVALUASI : KELOMPOK DAN KEPENTINGAN MANA YANG MEMILIKI AKSES DI DALAM PROSES PEMBUATAN KEBIJAKAN? APAKAH PROSES PEMBUATANNYA CUKUP RINCI, TERBUKA DAN MEMENUHI PROSEDUR? APAKAH PROGRAM DIDESAIN SECARA LOGIS? APAKAH SUMBERDAYA YANG MENJADI INPUT PROGRAM TELAH CUKUP MEMADAI UNTUK MENCAPAI TUJUAN? APA STANDAR IMPLEMENTASI YANG BAIK MENURUT KEBIJAKAN TERSEBUT?

I. Pengertian dan Kriteria Evaluasi APAKAH PROGRAM DILAKSANAKAN SESUAI STANDAR EFISIENSI DAN EKONOMI? APAKAH UANG DIGUNAKAN DENGAN TEPAT DAN JUJUR? APAKAH KELOMPOK SASARAN MEMPEROLEH PELAYANAN DAN BARANG SEPERTI YANG DIDESAIN DALAM PROGRAM? APAKAH PROGRAM MEMBERIKAN DAMPAK KEPADA KELOMPOK SASARAN? APA JENIS DAMPAKNYA? APA DAMPAKNYA, BAIK YANG DIHARAPKAN MAUPUN YANG TIDAK DIHARAPKAN TERHADAP MASYARAKAT? KAPAN TINDAKAN PROGRAM DILAKUKAN DAN DAMPAKNYA DITERIMA OLEH MASYARAKAT? APAKAH TINDAKAN DAN DAMPAK TERSEBUT SESUAI DENGAN YANG DIHARAPKAN?

I. Pengertian dan Kriteria Evaluasi PERTANYAAN YANG HAMPIR SAMA DISAMPAIKAN OLEH KASLEY DAN KUMAR (1987) YANG MENYEBUTKAN : SIAPA YANG MEMPEROLEH AKSES TERHADAP INPUT DAN OUTPUT PROYEK? BAGAIMANA MEREKA BEREAKSI TERHADAP PROYEK TERSEBUT? BAGAIMANA PROYEK TERSEBUT MEMPENGARUHI PERILAKU MEREKA?

I. Pengertian dan Kriteria Evaluasi BERDASARKAN KEDUA PANDANGAN DI ATAS, WIBAWA (1994) MENYIMPULKAN BAHWA EVALUASI KEBIJAKAN DILAKUKAN DENGAN MAKSUD UNTUK MENGETAHUI 4 ASPEK : 1. PROSES PEMBUATAN KEBIJAKAN; 2. PROSES IMPLEMENTASI; 3. KONSEKUENSI KEBIJAKAN; DAN 4. EFEKTIVITAS DAMPAK KEBIJAKAN.

I. Pengertian dan Kriteria Evaluasi DUNN (1994) MENGEMUKAKAN BAHWA EVALUASI KEBIJAKAN MEMAINKAN SEJUMLAH FUNGSI UTAMA DALAM KEBIJAKAN : 1. MEMBERI INFORMASI YANG VALID DAN DAPAT DIPERCAYA MENGENAI KINERJA KEBIJAKAN, YAITU SEBERAPA JAUH KEBUTUHAN, NILAI DAN KESEMPATAN TELAH DAPAT DICAPAI MELALUI TINDAKAN PUBLIK. 2. MEMBERIKAN SUMBANGAN PADA KLARIFIKASI DAN KRITIK TERHADAP NILAI-NILAI YANG MENDASARI TUJUAN DAN TARGET. NILAI DIPERJELAS DENGAN MENDEFINISIKAN DAN MENGOPERASIKAN TUJUAN DAN TARGET. 3. MEMBERIKAN SUMBANGAN PADA APLIKASI METODE-METODE ANALISIS KEBIJAKAN LAINNYA, TERMASUK PERUMUSAN MASALAH DAN REKOMENDASI.

I. Pengertian dan Kriteria Evaluasi KRITERIA EVALUASI Tipe Kriteria Pertanyaan Illustrasi Efektivitas Apakah hal yang diinginkan telah dicapai? Unit Pelayanan Efisiensi Kecukupan Perataan Responsivitas Ketepatan Dunn, 2004 Seberapa banyak usaha diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan? Seberapa jauh pencapaian hasil yang diinginkan memecahkan masalah? Apakah biaya dan manfaat didistribusikan denga merata kepada kelompok-kelompok yang berbeda? Apakah hasil kebijakan memuaskan kebutuhan, preferensi atau nilai kelompok-kelompok tertentu? Apakah hasil (tujuan) yang diinginkan benar-benar berguna atau bernilai? Unit biaya manfaat bersih, Rasio manfaat pelayanan Biaya Tetap (masalah Tipe I) Efektivitas biaya tetap (masalah tipe II Kriteria Pareto Kriteria Kaldor Hicks Kriteria Rawls Konsistensi dengan survey warga Negara Program publik harus merata dan efisien

Indikator Evaluasi Kebijakan Indikator evaluasi harus ditentukan terlebih dahulu untuk memudahkan melakukan evaluasi Indikator harus disepakati bersama antara pimpinan dan administrator kebijakan/program. Selain ini, indikator harus valid (sahih) dan reliable (handal) (Wibawa, 1994) Indikator yang sahih adalah yang mengukur apa yang ingin diukur. Artinya, makna yang dimaksud oleh indikator bersesuaian dengan konsep yang diwakilinya. Dalam hal ini, konsep adalah tujuan program. Misalnya, menurunnya jumlah pasien dapat dijadikan indikator untuk mendeteksi tingkat kesehatan penduduk. Indikator sosial sering tidak valid karena kesulitan dalam meng-cover satu konsep yang memiliki banyak dimensi Handal berarti indikator yang disusun akan menghasilkan skor yang sama jika diterapkan pada fenomena yang sama. Artinya, apabila orang lain melakukan pengukuran dengan indikator tersebut, akan memperoleh hasil yang sama. Kebanyakan data sensus reliable, seperti jumlah anak, usia anggota keluarga, dan jumlah mobil setiap keluarga. Siapapun yang mengukur ketiga data tersebut pasti akan memperoleh angka yang sama. Finstebusch dan Motz (1980) menambahkan bahwa selain valid dan reliable, indikator harus memperhatikan tentang utility atau kemanfaatannya.

Bagaimana Mengukur Indikator Dampak Untuk dapat membuat indikator dampak maka evaluator perlu mengetahui dulu apa policy output yang diterima oleh kelompok sasaran. Dari policy output yang diterima tersebut maka evaluator selanjutnya menganalisis apa dampak lebih lanjut yang akan muncul setelah mereka menerima policy output tersebut.

Identifikasi Indikator Dampak Program Pembangunan Bidang Ekonomi Peningkatan pendapatan kelompok sasaran Peningkatan kesejahteraan kelompok sasaran Pemberdayaan kelompok sasaran dll. Bidang Kesehatan Angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup Jumlah balita yang kekurangan gizi (bagi BGM) Rata-rata angka harapan hidup dll.

Mengembangkan Indikator Dampak Dalam realitas di lapangan, merumuskan indikator dampak tidak mudah untuk dilakukan karena: Luasnya cakupan kebijakan atau program Tidak spesifiknya tujuan yang ingin diwujudkan Dalam situasi yang demikian maka evaluator perlu mengembangkan teknik, misalnya: membreakdown tujuan kebijakan menjadi lebih rinci agar indikator dampak menjadi lebih mudah untuk dirumuskan.

Mengembangkan [2] Selain cara pertama, cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengguraikan makna kebijakan/program yang didefinisikan dalam arti luas menjadi turunan-turunan konsep/variabel yang lebih measurable atau dapat diukur.

Kebijakan Otonomi Konsep-konsep pokok yang digunakan sebagai pendekatan: Dekonsentrasi Desentralisasi Devolusi (Cheema and Rondinelli, 1983:18-25)

Indikator Yang Dikembangkan Peningkatan akses masyarakat daerah pedesaan (yang dulunya terpencil dan tertinggal) terhadap sumberdaya dan lembaga2 pelayanan pemerintah. Peningkatan kapasitas birokrat dan pimpinan lokal Peningkatan kemampuan teknis dan administratif organisasi pemerintah daerah Peningkatan kemampuan daerah dalam membuat perencanaan pembangunan Terintegrasinya perencanaan pembangunan pada level nasional dan daerah

Evaluasi Kebijakan Kendala dalam Evaluasi Abidin (2004) menyebut 5 kendala dalam Evaluasi : 1. Keterbatasan wewenang dalam melakukan evaluasi 2. Tumpang tindih fungsi antar instansi Tumpang tindih evaluasi antar lembaga pengawasa n Tidak ada proses lanjutan atau followup dari hasil evaluasi Biaya Siapa yang berwenang melakukan evaluasi? Jika satu fungsi ditangani oleh dua atau lebih instasi. Misalnya PTPN yang berada di bawah BUMN dan Kemenperta dan Industri Inspektorat, BPKB, dan BPK Masa Orba sangat nyata, tetapi saat ini juga masih banyak hasil evaluasi yang kurang ditindaklanjuti Anggaran untuk melakukan evaluasi tidak menjadi prioritas

TERIMAKASIH