BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan selama dua bulan pengamatan dari bulan Juli hingga Agustus 2009 di Pondok Ambung, Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Kawasan yang menjadi lokasi kajian meliputi delapan tipe habitat kupukupu yaitu habitat hutan dataran rendah, habitat hutan rawa, habitat hutan rawa gambut, habitat hutan kerangas, habitat hutan pasca terbakar, habitat padangsemak, serta habitat Camp Ambung dan habitat Camp Persemaian. 4.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan meliputi : 1. Peta Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah 2. Kompas 3. GPS 4. Software Arcview 3.3 5. Spftware Minitab 14 6. Kamera Olympus FE-320 7. Jaring penangkap kupu-kupu 8. Perangkap kupu-kupu (food trap) dan kandang jaring serangga (insect cage) 9. Alat tulis dan buku lapang 10. Alat pengukur suhu dan kelembaban (thermohygrometer) 11. Meteran 30 meter dan 1,5 meter 12. Tali tambang 13. Tally sheet 14. Field guide kupu-kupu 15. Peralatan pembuatan spesimen dan herbarium (pinset, kertas papilot, alat suntik, setting board, kotak spesimen, jarum pentul, kantong plastik, oven sederhana/pengering, kertas koran, sprayer, kertas label, dan kotak herbarium).
17 Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu semua jenis kupu-kupu yang ditemukan di lokasi penelitian, habitat kupu-kupu, bahan pembuatan spesimen meliputi alkohol 70% dan kapur barus serta umpan kupu-kupu meliputi buah rambutan dan semangka. 4.3 Jenis Data yang Dikumpulkan Data yang dikumpulkan meliputi data jenis dan jumlah individu kupukupu yang ditemukan pada setiap tipe habitat serta data karakteristik habitat meliputi komponen fisik dan biotik habitat. Komponen fisik yang diambil meliputi data tingkat suhu dan kelembaban relatif, serta keberadaan sumber air dan daerah terbuka. Komponen biotik meliputi struktur, komposisi, serta tipe vegetasi dan keberadaan satwaliar lainnya mencakup satwa pemangsa kupu-kupu, satwa pesaing, dan satwa yang diuntungkan dengan keberadaan kupu-kupu. 4.4 Metode Pengambilan Data Pengumpulan data dilakukan melalui tahapan : 1. Tahap pendahuluan Pengamatan pendahuluan dilakukan untuk menemukan areal penyebaran kupu-kupu untuk kemudian ditetapkan sebagai lokasi penelitian. Lokasi penelitian kemudian ditandai dengan melakukan penitikan dengan GPS (Global Positioning System) untuk memperoleh titik koordinat lokasi penelitian. Data titik koordinat lokasi yang diperoleh kemudian diolah menjadi peta lokasi penelitian dengan software Arcview 3.3. 2. Tahap pengumpulan kupu-kupu a. Penangkapan kupu-kupu Penangkapan kupu-kupu dilakukan pada pagi dan sore hari pukul 08.00-12.00 WIB dan pukul 15.00-17.00 WIB. Dalam penangkapan kupu-kupu metode yang digunakan yaitu metode transek garis dengan panjang transek 500 m dan lebar transek 20 m (Gambar 3). Jumlah transek yang dibuat untuk setiap tipe habitat yang menjadi lokasi penelitian yaitu masing-masing sebanyak satu jalur transek. Penangkapan kupu-kupu dilakukan selama 4 hari pengamatan pada jalur transek yang sama yang dilakukan secara bertahap di masing-masing tipe habitat.
18 Plot I Plot II 20 m 20 m Jeda 10 m Panjang jalur 500 m Gambar 3. Bentuk jalur inventarisasi kupu-kupu dengan metode transek. Penangkapan kupu-kupu dilakukan dengan metode sweeping yaitu penangkapan dengan jaring dan metode trapping dengan pemasangan perangkap kupu-kupu (food trap). Penangkapan dengan jaring dilakukan di sepanjang jalur yang telah dibuat. Lokasi pemasangan perangkap dipilih secara acak di sepanjang jalur yang telah dibuat yaitu di tempat yang biasanya dikunjungi oleh kupu-kupu seperti di sekitar tumbuhan pakan, di areal terbuka, dan di sekitar sumber air seperti terlihat pada Gambar 4. a b Gambar 4. Pemasangan perangkap kupu-kupu di sekitar tumbuhan pakan (a) dan sumber air (b).
19 Jumlah perangkap yang dipasang berdasarkan pada tingkat kesulitan penangkapan dengan jumlah perangkap yang lebih banyak di habitat tertentu yang memiliki kondisi lapang yang sulit dalam penangkapan secara langsung dengan jaring. Umpan yang digunakan yaitu buah rambutan dan semangka (Gambar 5). a b c d Gambar 5. Umpan buah rambutan (a) dan semangka (b) dan pemasangannya pada perangkap kupu-kupu (c dan d). Kupu-kupu yang berhasil ditangkap dengan jaring maupun perangkap kemudian ditempatkan dalam kertas papilot (Gambar 6) atau dimasukkan kedalam kandang jaring serangga (insect cage) sebagai tempat sementara (Gambar 7). Sebelum dimasukkan dalam papilot, kupu-kupu dimatikan terlebih dulu dengan cara memencet bagian thoraksnya. Gambar 6. Metode pembuatan kertas papilot (Sumber : After Common dan Waterhouse (1981) diacu dalam Braby (2000) ).
20 Gambar 7. Kandang jaring serangga (insect cage) sebagai tempat penyimpan sementara kupu-kupu yang baru ditangkap. b. Identifikasi kupu-kupu Setelah penangkapan selesai, kupu-kupu yang terkumpul kemudian diidentifikasi dengan bantuan field guide (Fleming 1983; Maruyama & Otsuka 1991; Novak 1995; Otsuka 2001; Peggie & Amir 2006; Seki et al. 1991; Sen 1983; Tsukada & Nishiyama 1982; Tsukada 1985, 1981; Yata & Morishita 1981). c. Pembuatan spesimen kupu-kupu Selanjutnya yaitu tahapan pembuatan spesimen dengan menempatkan kupu-kupu di atas setting board dengan posisi sayap direntangkan. Perentangan dilakukan dengan bantuan kertas minyak/kertas roti agar sayap kupu-kupu dapat direntangkan dengan sempurna. Selanjutnya kupu-kupu dikeringkan dengan oven sederhana yang diberi lampu 25 watt. Selanjutnya kupu-kupu wadah tertutup dan diberi kamper untuk menghindari semut. 3. Tahap pengambilan data karakteristik habitat a. Komponen fisik habitat disimpan dalam Pengumpulan data komponen fisik habitat dilakukan dengan melakukan pengukuran untuk mengetahui tingkat suhu dan kelembaban lingkungan dan pengamatan secara langsung di lapangan untuk mengetahui keberadaan sumber air dan daerah terbuka. Pengukuran tingkat suhu dan kelembaban relatif dilakukan secara bertahap di masing-masing tipe habitat dengan melakukan pengukuran suhu selama 4 hari pengamatan pada waktu pagi hari (pukul 08.00 dan 10.00 WIB), siang hari (pukul 12.00 WIB), dan sore hari (pukul 15.00 WIB). Pengukuran dilakukan dengan menggunakan thermohygrometer.
21 b. Komponen biotik habitat Pengumpulan data komponen biotik habitat dilakukan dengan melakukan analisis vegetasi untuk memperoleh data struktur, komposisi, serta tipe vegetasi dan pengamatan untuk memperoleh data keberadaan jenis satwa lainnya yang meliputi satwa pemangsa kupu-kupu, satwa pesaing, dan satwa yang diuntungkan dengan keberadaan kupu-kupu. Analisis vegetasi dilakukan dengan metode garis berpetak (Gambar 8) untuk memperoleh data keanekaragaman jenis vegetasi. Data vegetasi yang diambil meliputi data vegetasi tingkat semai, pancang, tiang, pohon, dan tumbuhan bawah. a b c d p jalur = 80 m Gambar 8. Bentuk jalur analisis vegetasi dengan metode garis berpetak. a (2 m x 2 m) : Petak inventarisasi tingkat semai dan tumbuhan bawah b (5 m x 5 m) : Petak inventarisasi tingkat pancang c (10 m x 10 m) : Petak inventarisasi tingkat tiang d (20 m x 20 m) : Petak inventarisasi tingkat pohon Pengumpulan data vegetasi kemudian dilanjutkan dengan pembuatan herbarium. Pembuatan herbarium dilakukan terutama untuk jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan, shelter, dan cover bagi kupu-kupu. Tahap pengumpulan dan pembuatan herbarium dilakukan dengan mengambil contoh bahan herbarium yaitu bagian daunnya. Tahapannya meliputi (Laboratorium Ekologi Hutan 2004; Indriyanto 2006) : a. Mengambil bagian tumbuhan yang akan dijadikan bahan herbarium. Ukuran ranting yang diambil yaitu 29 cm x 42 cm (ukuran setengah halaman kertas koran).
22 b. Memberikan etiket gantung (label) yang berisi data nama pengumpul, nomor koleksi, tanggal, dan tempat koleksi. c. Bahan herbarium kemudian dimasukkan dalam lipatan koran dan disimpan dalam wadah plastik tebal, kemudian diberi alkohol 70% dengan menggunakan sprayer hingga merata, selanjutnya plastik diikat kuat untuk mencegah penguapan alkohol, selanjutnya plastik ditempatkan dalam kotak herbarium. d. Bahan herbarium kemudian dikeringkan dalam oven. e. Setelah kering, bahan herbarium ditempel/dipasang pada karton herbarium ukuran 29 x 42 cm 2 dan kemudian ditutup/dilapisi dengan plastik bening. f. Pada karton tersebut diberikan keterangan data hasil risalah pohon di lapangan meliputi nama pengumpul, nomor koleksi, tanggal, nama daerah, taksonomi, keadaan tempat tumbuh, sifat-sifat botanis, dan morfologis. g. Untuk penyimpanan, herbarium dimasukkan dalam rak, laci atau lemari yang tertutup rapi. 4.5 Metode Analisis Data Analisis data dilakukan dengan menghitung nilai kekayaan jenis (species richness), keanekaragaman jenis (heterogeneity), kemerataan jenis (evennes), dan kesamaan jenis (similarity coefficient) kupu-kupu untuk setiap tipe habitat. Pada analisis data dari hasil analisis vegetasi dilakukan perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) dan perhitungan tingkat keanekaragaman jenis vegetasinya. Hubungan antara karakteristik habitat dan tingkat keaneakaragaman jenis kupukupu diketahui dengan melakukan uji korelasi dengan korelasi Pearson (Pudjirahardjo et al. 1993) menggunakan software minitab 14. 4.5.1 Kekayaan Jenis (Species Richness) Kekayaan jenis (species richness) dihitung dengan menggunakan Indeks Diversitas Margalef (Odum 1971) dengan persamaan : D mg = (S 1) ln N S : Jumlah jenis yang teramati N : Jumlah individu ln : Logaritma natural
23 4.5.2 Keanekaragaman Jenis (Heterogeneity) Untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis digunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener dengan mempertimbangkan jumlah jenis dan jumlah masing-masing individu per jenis yang ditemukan dengan persamaan (Odum 1971; Krebs 1978) : Indek Keanekaragaman (H ) = - ( pi. ln pi ) H : Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener n i : Jumlah individu ke-i N : Jumlah individu seluruh jenis ; pi = ni / N Besarnya nilai keanekaragaman jenis termasuk kedalam kategori tinggi apabila nilainya > 3,5 dan termasuk dalam kategori sedang pada nilai kisaran 1,5-3,5 dan termasuk kategori rendah pada nilai < 1,5. 4.5.3 Kemerataan Jenis (Evenness) Indeks kemerataan jenis (evenness) digunakan untuk mengetahui gejala dominansi diantara jenis dalam suatu komunitas. Persamaannya yaitu (Odum 1971; Krebs 1978) : e = H / ln S E : Indeks kemerataan jenis (0-1) H : Indeks Shannon S : Jumlah jenis Kisaran nilai indeks kemerataan jenis (evennes) yaitu 0-1. Apabila setiap jenis memiliki jumlah individu yang sama maka komunitas tersebut memiliki nilai evenness maksimal (indeks = 1). Sebaliknya apabila nilai evennes tersebut kecil (mendekati 0) maka dalam komunitas tersebut terdapat jenis dominan, sub dominan, dan jenis tidak dominan. 4.5.4 Koefisien Kesamaan Jenis (Similarity Coefficient) Koefisien kesamaan jenis (similarity coefficient) digunakan untuk mengetahui nilai kesamaan jenis antar habitat. Persamaan yang digunakan yaitu koefisien Jaccard ( Krebs 1978) :
24 S j = a a + b + c S j : Koefisien kesamaan Jaccard a : Jumlah jenis yang ditemukan pada tipe habitat A dan B b : Jumlah jenis yang hanya ditemukan pada tipe habitat B c : Jumlah jenis yang hanya ditemukan pada tipe habitat A 4.5.5 Analisis Vegetasi Analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui kondisi vegetasi pada habitat kupu-kupu sehingga dapat diketahui komposisi dan dominasi suatu jenis tumbuhan pada suatu habitat. Dominasi tersebut ditunjukkan dalam besaran Indeks Nilai Penting (INP). Persamaan-persamaan yang digunakan untuk memperoleh nilai INP yaitu (Laboratorium Ekologi Hutan 2004; Indriyanto 2006) : Kerapatan suatu jenis (K) K = Jumlah individu suatu jenis / Luas petak contoh Kerapatan relatif suatu jenis (KR) KR = (Kerapatan suatu jenis / Kerapatan seluruh jenis) x 100 % Frekuensi suatu jenis (F) F = Jumlah subpetak ditemukan suatu jenis / Jumlah seluruh subpetak contoh Frekuensi relatif suatu jenis (FR) FR = (Frekuensi suatu jenis / Frekuensi seluruh jenis) x 100% Dominasi suatu jenis (D) D = Luas bidang dasar suatu jenis / Luas petak contoh Dominasi relatif suatu jenis (DR) DR = Dominasi suatu jenis / Dominasi seluruh jenis x 100% Indeks Nilai Penting (INP) INP = KR + FR + DR