HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi

BAB 3 METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,

HASIL DA PEMBAHASA. Kadar Air

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak

HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan dan Ekstraksi Sampel Uji Aktivitas dan Pemilihan Ekstrak Terbaik Buah Andaliman

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

AKTIVITAS ANTI RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus Holmgren) TIGA FRAKSI EKSTRAK KAYU PELANJAU (Pentaspadon Motleyi Hook.f)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah daun pohon suren (Toona sinensis

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab III Metodologi Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek penelitian ini adalah bagian daun tumbuhan suren (Toona sinensis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan penelitian ini adalah daun M. australis (hasil

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid murni dari kayu akar

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.

PEMBAHASAN. mengoksidasi lignin sehingga dapat larut dalam sistem berair. Ampas tebu dengan berbagai perlakuan disajikan pada Gambar 1.

BAB III METODE PENELITIAN

SIFAT ANTI RAYAP ZAT EKSTRAKTIF KAYU KOPO (Eugenia cymosa Lamk.) TERHADAP RAYAP TANAH Coptotermes curvignathus Holmgren RATIH MAYANGSARI

IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIOKSIDAN DALAM SELADA AIR (Nasturtium officinale R.Br)

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Januari 2013, bertempat di

3 Percobaan dan Hasil

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah biji paria (Momordica charantia)

dari tanaman mimba (Prijono et al. 2001). Mordue et al. (1998) melaporkan bahwa azadiraktin bekerja sebagai ecdysone blocker yang menghambat serangga

Lampiran 1. Surat Keterangan Identifikasi Spons

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun

HASIL. (%) Kulit Petai 6.36 n-heksana 0,33 ± 0,06 Etil Asetat 0,32 ± 0,03 Etanol 70% 12,13 ± 0,06

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. polyanthum) asal NTB. Untuk memastikan identitas dari tanaman salam

KARAKTERISASI SENYAWA FENOLIK PADA KULIT BATANG JABON (Anthocephalus cadamba (ROXB.) MIQ

IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA ANTRAQUINON PADA FRAKSI KLOROFORM AKAR KAYU MENGKUDU ( Morinda Citrifolia, L) ABSTRAK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan metode purposive sampling, dimana pengambilan sampel dilakukan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Agustus April 2013, bertempat di

Lampiran 1. Gambar tumbuhan gambas (Luffa cutangula L. Roxb.)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

3 Metodologi Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Persentase inhibisi = K ( S1 K

FRAKSINASI BERTINGKAT

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Prosedur Penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah daging buah paria (Momordica charantia

BAB IV PROSEDUR PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Juli 2014,

IDENTIFIKASI FITOKIMIA DAN EVALUASI TOKSISITAS EKSTRAK KULIT BUAH LANGSAT (Lansium domesticum var. langsat)

Sampel basah. Dikeringkan dan dihaluskan. Disaring

BAB I PENDAHULUAN. kekayaan tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai tanaman obat. Masyarakat

ABSTRAK. Isolasi dan Karakterisasi Flavonoid dari Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium jiringa (Jack) Prain ex King) Oleh: ASMAUL HUSNA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1 Bagan alir lingkup kerja penelitian

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Desember 2014, bertempat di

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei-Desember 2013, bertempat di

III. METODE PENELITIAN di Laboratorium Biomassa Terpadu Universitas Lampung.

ISOLASI DAN KARAKTERISASI GOLONGAN SENYAWA FENOLIK DARI KULIT BATANG TAMPOI (Baccaurea macrocarpa) DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN

Lampiran 1. Prosedur Pembuatan Pereaksi Pendeteksi. Sebanyak 10 gram NaOH dilarutkan dengan aquades dalam gelas beker

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1 Bagan alir penelitian

BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Prosedur Penelitian Persiapan Bahan Baku

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel dari penelitian ini adalah daun murbei (Morus australis Poir) yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II METODE PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODA

LEMBAR PENGESAHAN. Jurnal yang berjudul Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dalam Daun Tembelekan. Oleh Darmawati M. Nurung NIM:

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Tanaman Uji Serangga Uji Uji Proksimat

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KANDUNGAN KIMIA DALAM EKSTRAK n-heksan DARI BUAH TANAMAN KAYU ULES (Helicteres isora L.)

BAB III PERCOBAAN DAN HASIL

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (KI-2051) PERCOBAAN 3 PEMISAHAN SENYAWA ORGANIK : Ekstraksi dan Isolasi Kafein Dari Daun Teh Serta Uji Alkaloid

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus

BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan 3.2 Alat 3.3 Penyiapan Simplisia 3.4 Karakterisasi Simplisia

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Lokasi dan Waktu Penelitian

BAB V HASIL PENELITIAN. 5.1 Penyiapan Bahan Hasil determinasi tumbuhan yang telah dilakukan di UPT Balai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang diperoleh dari daerah Soreang dan Sumedang. Tempat penelitian menggunakan

Noda tidak naik Minyak 35 - Noda tidak naik Minyak 39 - Noda tidak naik Minyak 43

DAFTAR ISI. Halaman. viii. PDF created with pdffactory Pro trial version

4028 Sintesis 1-bromododekana dari 1-dodekanol

Isolasi dan Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder pada Ekstrak Metanol Tumbuhan Suruhan

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kadar Air Ekstraksi dan Rendemen Hasil Ekstraksi

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi, karena memiliki protein yang

ADLN-Perpustakaan Universitas Airlangga BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Skrining Alkaloid dari Tumbuhan Alstonia scholaris

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sebanyak 400 gram sampel halus daun jamblang (Syzygium cumini)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (KI2051) PERCOBAAN 03 PEMISAHAN SENYAWA ORGANIK: EKSTRAKSI DAN ISOLASI KAFEIN DARI DAUN TEH SERTA UJI ALKALOID

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 14. Hasil Uji Alkaloid dengan Pereaksi Meyer; a) Akar, b) Batang, c) Kulit batang, d) Daun

Transkripsi:

25 HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Zat Ekstraktif Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan ekstrak aseton yang diperoleh dari 2000 gram kulit A. auriculiformis A. Cunn. ex Benth. (kadar air 13,94%) adalah 172,543 gram (19,660%). Ekstrak aseton ini kemudian difraksinasi secara bertingkat menggunakan metode ektraksi pelarut-pelarut yang tidak bercampur (solvent-solvent extraction) secara berturut-turut dengan n- heksan, etil eter dan etil asetat. Hasil fraksinasi bertingkat ekstrak aseton kulit kayu A. auriculiformis A. Cunn. ex Benth. disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Kandungan zat ekstraktif hasil fraksinasi bertingkat dalam beberapa pelarut organik terhadap ekstrak aseton kulit A. auriculiformis. Jenis Fraksi Berat Ekstrak Padatan (gram)*) Kadar Ekstrak (%)*) Fraksi n-heksan 7,39 0,84 Fraksi Etil Eter 69,43 7,91 Fraksi Etil Asetat 36,65 4,18 Fraksi Residu 59,07 6,73 Ekstrak Aseton 172,54 19,66 Keterangan: *) dihitung berdasarkan berat kering oven Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh dipengaruhi oleh jenis senyawa yang terdapat dalam sampel dan kelarutan senyawa tersebut dalam pelarut yang digunakan. Hasil fraksinasi bertingkat ekstrak aseton kulit A. auriculiformis sebagian besar mengandung senyawa-senyawa yang bersifat semi polar. Berdasarkan klasifikasi kelas komponen kimia kayu (Lestari dan Pari 1990) yang menyatakan bahwa kadar ekstraktif kayu termasuk tinggi jika kadar zat ekstraktif lebih besar dari 4%, maka kandungan zat ekstraktif kulit A. auriculiformis yang diperoleh tergolong tinggi. Kayu yang berkadar ekstraktif tinggi diperkirakan lebih tahan terhadap serangan organisme perusak kayu dibandingkan yang berkadar ekstraktif rendah. Tetapi faktor ketahanan kayu lebih tergantung kepada senyawa-senyawa bioaktif yang terdapat pada zat ekstraktif tersebut (Lestari dan Pari 1990).

26 Sifat Anti Rayap Ekstrak Kulit A. auriculiformis A. Cunn. Ex. Benth. Parameter yang digunakan dalam pengujian sifat anti rayap zat ekstraktif adalah mortalitas rayap C. curvignathus dan kehilangan berat kertas uji. Mortalitas Rayap Tanah C. curvignathus Holmgren. Indikator yang digunakan untuk melihat aktivitas anti rayap dari zat ekstraktif adalah mortalitas rayap C. curvignathus Holmgren. Nilai mortalitas yang tinggi menunjukkan ekstrak memiliki aktivitas anti rayap yang tinggi. Persentase nilai rataan mortalitas rayap disajikan pada Lampiran 1 yang menunjukkan adanya pengaruh yang beragam dari setiap jenis ekstrak (aseton, n- heksan, etil eter, etil asetat, dan residu) dan tingkat konsentrasi yang digunakan terhadap nilai mortalitas rayap. Hal ini disebabkan oleh jenis dan taraf konsentrasi zat ekstraktif yang berbeda pada masing-masing ekstrak. Fraksi yang memiliki aktivitas anti rayap tertinggi adalah fraksi etil eter, diikuti fraksi etil asetat, n- heksan, aseton dan residu. Hal ini ditunjukkan oleh nilai mortalitas rayap dimana setelah 3 minggu pengumpanan, mortalitas fraksi etil eter 4%, 6%, 8% dan 10% umumnya sudah mencapai 100%. Berdasarkan nilai mortalitas rayap setiap minggunya mengindikasikan bahwa fraksi etil eter yang paling aktif dibandingkan dengan fraksi lainnya karena pada konsentrasi 4% sudah memiliki daya racun yang sangat kuat. Kontrol Gambar 3 Hubungan antara konsentrasi ekstrak aseton kulit A. auriculiformis dan fraksi-fraksinya pada contoh uji dengan mortalitas rayap tanah C. curvignathus setelah pengumpanan selama 4 minggu. Keterangan : Tingkat aktivitas anti rayap sangat kuat (A), kuat (B), dan lemah (F). (Prijono 1998)

27 Gambar 3 memperlihatkan bahwa semua jenis ekstrak yang diuji menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang ditambahkan ke dalam contoh uji menghasilkan nilai mortalitas rayap yang semakin besar. Dari hasil penelitian ini dapat diduga bahwa ekstrak aseton kulit kayu A. auriculiformis sebagai fraksi awal dan fraksi-fraksi lain yang ditambahkan ke dalam contoh uji tersebut mempunyai aktivitas anti rayap, meskipun fraksi-fraksi yang diujikan memiliki aktivitas yang berbeda. Berdasarkan klasifikasi tingkat aktivitas anti rayap ekstrak (Prijono 1998) menunjukkan bahwa fraksi etil eter pada konsentrasi 4% sudah memiliki aktivitas anti rayap sangat kuat yang berarti konsentrasi 4% mempunyai daya racun yang tinggi. Ada beberapa kemungkinan mekanisme kematian rayap yang diakibatkan senyawa-senyawa bioaktif yang terdapat pada ekstraktif tersebut. Kemungkinan pertama adalah senyawa toksikan tersebut mematikan protozoa yang merupakan simbion rayap melalui gangguan terhadap aktivitas enzim. Telah diketahui bahwa rayap tidak secara langsung mencerna kayu atau bahan berselulosa lain termasuk kertas uji karena tidak memiliki enzim yang dapat mendekomposisi selulosa. Untuk mengubah selulosa menjadi senyawa-senyawa sederhana yang mudah dicerna rayap, di dalam usus rayap terdapat protozoa yang mengeluarkan enzim selulase sehingga rayap tersebut dapat memanfaatkan senyawa-senyawa tersebut sebagai sumber energi. Apabila protozoa mati maka aktivitas enzim selulase yang dikeluarkan protozoa tersebut terganggu, hal ini dapat menyebabkan rayap tidak memperoleh makanan dan energi yang dibutuhkan sehingga rayap tersebut mati. Sajap dan Lardizabal (1998) menyatakan bahwa di dalam usus rayap tanah C. curvignathus terutama usus belakang ditemukan tiga genus protozoa yaitu Pseudotrichonympha, Holomastogoides, dan Spirotrichonympha, dimana populasi Spirotrichonympha merupakan protozoa yang terbesar pada usus rayap tersebut. Yamaguchi et al. (1999) dalam Syafii (2000 a ) melaporkan bahwa β- thujaplicin, senyawa aktif dari kultur jaringan Cupressus lusitanica mampu menghambat aktivitas enzim ATP-ase yang selanjutnya dapat menyebabkan rayap tidak memperoleh energi yang dibutuhkan sehingga rayap tersebut mati. Selain itu senyawa-senyawa bioaktif tersebut dapat merusak sistem syaraf serangga (insect

28 nervous system). Gangguan tersebut mengakibatkan sistem syaraf tidak berfungsi yang akhirnya menyebabkan kematian rayap. Gangguan yang terjadi pada sistem syaraf tersebut mengakibatkan kejang-kejang pada otot sehingga pada akhirnya menyebabkan kematian rayap (Eaton dan Hale 1993). Kemungkinan lain pengaruh zat ekstraktif terhadap kematian rayap dan serangga lainnya adalah sebagai penghambat sintetis protein (zat ekstraktif dari kelompok tanin, stilben, quinon, alkaloid dan resin), sedangkan kelompok terpenoid dapat merusak fungsi sel (integritas membran sel) rayap yang pada akhirnya menghambat proses ganti kulit rayap (Sastrodihardjo 1999). Berdasarkan nilai mortalitas rayap ternyata bahwa di antara semua fraksi yang diujikan, fraksi etil eter mengandung senyawa bioaktif yang bersifat toksik terhadap rayap sehingga mempunyai kemampuan untuk mematikan rayap. Tingkat kematian rayap yang terjadi diakibatkan efek termitisida dari ekstraktif tersebut yang mampu menghambat perkembangan rayap bahkan bersifat mematikan. Kehilangan Berat Contoh Uji Kertas Selain mortalitas rayap, indikator lain yang menunjukkan daya racun ekstraktif kayu adalah dengan menghitung laju konsumsi rayap tanah C. curvignathus yang ditunjukkan besarnya kehilangan berat kertas uji setelah diumpankan selama 4 minggu. Semakin tinggi persentase kehilangan berat kertas uji mengindikasikan semakin rendah sifat anti rayap dari ekstrak uji. Nilai ratarata kehilangan berat contoh uji kertas disajikan pada Lampiran 2 yang menunjukkan bahwa kehilangan berat kertas uji sangat bervariasi bergantung pada jenis fraksi dan konsentrasi ekstrak yang ditambahkan pada kertas uji, yaitu 4,5681% sampai 65,0201%. Pada semua fraksi pelarut terdapat kecenderungan bahwa semakin tinggi konsentrasi esktraktif yang ditambahkan pada kertas uji, maka kehilangan berat kertas uji semakin kecil (Gambar 4). Hal ini mengindikasikan bahwa penambahan larutan ekstraktif dari kulit kayu A. auriculiformis pada kertas uji mampu menghambat kemampuan rayap mengonsumsi kertas uji sebagai efek termisida dari larutan ekstraktif tersebut.

29 Gambar 4 Hubungan antara konsentrasi ekstrak aseton kulit A. auriculiformis dengan kehilangan berat kertas uji selulosa. Kematian rayap terjadi setelah mengonsumsi kertas uji yang diberi perlakuan. Pemberian ekstraktif kulit kayu A. auriculiformis tidak menyebabkan kertas uji bersifat menolak (repellent) terhadap rayap C. curvignathus. Hal ini terlihat dari jenis-jenis fraksi yang diuji, fraksi etil eter menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan fraksi etil asetat, n- heksan, aseton dan residu. Hal ini ditunjukkan oleh data kehilangan berat yang rendah dari fraksi etil eter yaitu 4,5681% sampai 35,4978% (untuk konsentrasi ekstrak 2% sampai 10%). Untuk fraksi etil asetat, kehilangan berat kertas ujinya berkisar antara 7,0175 % sampai 38,5630 %, kehilangan berat kertas uji fraksi aseton berkisar antara 8,7719% sampai 44, 8242%, sedangkan kehilangan berat kertas uji pada fraksi residu sekitar 9,8684% sampai 47,1025% dan pemberian ekstrak fraksi n- heksan menunjukkan kehilangan berat kertas uji terbesar (10,4539% sampai 48,0673%). Tetapi kehilangan berat kertas uji yang ditambahkan ekstrak fraksifraksi tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kehilangan berat kertas uji kontrol (76,7235%). Hal ini sejalan dengan hasil pengamatan mortalitas, dimana fraksi etil eter lebih tinggi daripada fraksi lainnya dan diduga karena adanya komponen bioaktif dalam fraksi tersebut yang mengandung racun terhadap rayap.

30 Tingkat konsumsi rayap C. Curvignathus beragam bergantung pada material yang diserang dan kondisi lingkungan yang mendukung. KONTROL 0% 2% 4% 6% 8% 10% ASETON n HEKSAN ETIL ETER ETIL ASETAT RESIDU Gambar 5 Penampakan kertas uji pada beberapa taraf konsentrasi setelah diumpankan pada rayap tanah C. curvignathus Holmgren. Gambar 3, 4 dan 5 menunjukkan bahwa antara mortalitas rayap dengan kehilangan berat kertas uji memberikan pola hubungan yang berbanding terbalik, namun kedua parameter tersebut memiliki fenomena yang sama, dimana semakin besar konsentrasi zat ekstraktif yang ditambahkan ke dalam kertas uji, maka mortalitas semakin meningkat dan kehilangan berat kertas uji akan menurun. Kehilangan berat kertas uji ini dapat memberikan sumbangan pada terjadinya kematian rayap, namun bukan merupakan penyebab utama karena pada pengujian lain diketahui bahwa ekstrak biji A. hamsiana dapat mematikan serangga Crocidolomia binotalis secara kontak (apikal tropikal) (Prijono 1998). Jadi, kematian rayap dalam pengujian ini dapat merupakan gabungan pengaruh kehilangan berat kertas uji dan toksisitas senyawa aktif dalam ekstrak kulit A. auriculiformis. Isolasi Fraksi Teraktif Etil Eter dari Ekstrak Kulit A. auriculiformis Isolasi fraksi teraktif etil eter dengan kromatografi kolom menggunakan perbandingan bobot antara sampel dengan silika gel adalah (1 : 40) gram. Silika gel bertindak sebagai fase diam, sedang fase gerak yang digunakan adalah elusi bergradien konsentrasi dari pelarut kloroform-metanol (Gritter et al. 1991). Fraksi etil eter yang dipisahkan sebanyak 2 gram. Fraksinasi menggunakan kromatografi

31 kolom dengan ukuran diameter kolom + 2 cm. Fase gerak dimulai dengan menggunakan pelarut kloroform 100%. Larutan yang keluar dari kromatografi kolom ditampung ke dalam tabung reaksi sebanyak 10 ml. Setelah itu diperiksa dengan menggunakan KLT. Fraksi dengan bercak kromatogram dan nilai Rf yang sama kemudian digabungkan. Pemisahan dengan kromatografi kolom ini menghasilkan 9 fraksi. Pemisahan menggunakan KLT dengan fase gerak pelarut kloroformmetanol (1:1), menghasilkan bercak kromatogram tunggal pada tabung reaksi nomor 273 sampai dengan nomor 320 yang diperoleh dari kromatografi kolom pada saat gradien eluen kloroform-metanol 2:8. Fraksi ini dinamakan senyawa PE-2. Senyawa PE-2 diperoleh sebanyak 100 mg yang mempunyai bercak tunggal pada Rf 0,8. Senyawa PE-2 ini menunjukkan kromatogram (spot) terbesar yang menandakan bahwa senyawa PE-2 dominan di dalam fraksi PE. Fraksi yang memiliki bercak kromatogram tunggal kemudian dilakukan penentuan struktur dengan cara mengidentifikasi senyawa kimia dengan Proton NMR dan Carbon NMR. Identifikasi Senyawa dalam Fraksi PE-2 Identifikasi senyawa dalam fraksi PE-2 dilakukan dengan menggunakan Proton NMR dan Carbon NMR. Identifikasi senyawa PE-2 dengan Proton NMR menunjukkan bahwa senyawa tersebut termasuk golongan flavonoid. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya puncak-puncak pada pergeseran 5,9905 8,1136 ppm sebagai pergeseran proton dari gugus aromatik (Ar-H) sebanyak 3 puncak, yaitu pada pergeseran 1,000 ppm (doublet); 0,501 ppm (triplet) dan 1,060 ppm (triplet). Selain itu muncul juga puncak pada pergeseran proton fenol (Ar-CH) ditunjukkan pada pergeseran 4,5 7,7 ppm. Spektrum resonansi magnetik inti proton ( H NMR) disajikan pada Lampiran 3. Spektrum resonansi magnet inti karbon pada Lampiran 4 menunjukkan kemungkinan jumlah atom C sebanyak 13 buah yang tampak pada pergeseran 80 120 ppm yang merupakan daerah pergeseran kimia untuk ikatan C - C aromatik. Total jumlah atom karbon yang diperkirakan sebanyak 15 buah termasuk dengan

32 karbon dari eter yang berikatan dengan satu atom oksigen pada pergeseran 60 80 ppm yang merupakan daerah pergeseran kimia untuk ikatan (C - O - C). Berdasarkan identifikasi dengan menggunakan spektrum resonansi magnet inti proton ( H NMR) dan karbon ( C NMR) tersebut, maka diduga komponen utama dari fraksi teraktif etil eter dari kulit kayu A. auriculiformis adalah Pentahydroxyflavan (C 15 H 14 O 6 ). Struktur molekul Pentahydroxyflavan disajikan pada Gambar 6. Gambar 6 Struktur Senyawa Pentahydroxyflavan (Mihara et al. 2005 dan Barry et al. 2005) Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa di dalam ekstraktif kayu teras A. mangium dan A. auriculiformis mengandung senyawa aktif teracacidin (Mihara et al. 2005). Dalam Barry et al. (2005), kayu teras A. mangium dan A. auriculiformis juga mengandung senyawa aktif tetrahydroxyflavanone, teracacidin, trihydroxyflavanone dan isoteracacidin. Senyawa teracacidin dan isoteracacidin merupakan varian dari pentahydroxyflavan, dimana menurut Mihara et al. (2005) bahwa senyawa ini memiliki sifat penghambat yang kuat terhadap aktivitas enzim laccase (pelapuk) pada jamur.