II. TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Jamur 2.2 Jamur Tiram Putih

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.2. Jamur Tiram

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Botani dan Morfologi Jamur Tiram. Dari segi botani, jamur tiram termasuk jenis jamur kayu yang mudah

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA JAMUR TIRAM DENGAN ANALISIS PROSPEKTIF PADA SARI SEHAT MULTIFARM SKRIPSI FAIZAH ARIFA F

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya jamur merang (Volvariella volvacea), jamur kayu seperti jamur

IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Rancangan yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jamur merupakan organisme yang tidak mempunyai klorofil sehingga

TEKNIK BUDIDAYA JAMUR TIRAM

TUGAS TERSTRUKTUR SEMINAR (BUDIDAYA JAMUR) Oleh : AGUSMAN ( )

LINGKUNGAN BISNIS BUDIDAYA JAMUR TIRAM SEBAGAI USAHA SAMPINGAN

BAB I PENDAHULUAN. bebas, dikatakan tumbuhan sederhana karena tidak berklorofil dan tidak

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM P4S NUSA INDAH

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyediakan makanan sendiri dengan cara fotosintesis seperti pada

Kuliah ke 6 : BUDIDAYA JAMUR

II. TINJAUAN PUSTAKA. lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Permukaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jamur merang merupakan salah satu jenis jamur pangan yang memiliki nilai gizi yang tinggi dan permintaan pasar

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

III. BAHAN DAN METODE. Jamur yang terletak di Jalan Garuda Sakti KM. 2 Jalan Perumahan UNRI. Kelurahan Simpang Baru Kecamatan Tampan Pekanbaru.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Manusia diciptakan Allah SWT di muka bumi ini sebagai makhluk yang

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat terutama diperkotaan. Budidaya jamur di Indonesia masih sangat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PEMANFAATAN PUPUK KANDANG SAPI UNTUK PERTUMBUHAN JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus)

BAB I PENDAHULUAN. konstruksi, dekorasi, maupun furniture terus meningkat seiring dengan meningkatnya

BAB I PENDAHULUAN. Protein merupakan suatu senyawa yang dibutuhkan dalam tubuh. manusia sebagai zat pendukung pertumbuhan dan perkembangan.

KARYA ILMIAH E-BISNIS BISNIS JAMUR TIRAM

I. PENDAHULUAN. fotosintesis. Oleh karena itu, didalam pertumbuhannya jamur memerlukan zat-zat

Menanan Jamur Merang di Dalam Kumbung

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Jenis jamur itu antara lain jamur kuping, jamur tiram, jamur shitake.

III. BAHAN DAN METODE. UIN Suska Riau yang terletak di Jl. HR. Soebrantas KM. 15 Panam, Pekanbaru,

Biologi dan Siklus Hidup Jamur Merang. subkelas homobasidiomycetes, ordo agaricales, dan famili plutaceae.

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN A. HASIL 1. Laju pertumbuhan miselium Rata-rata Laju Perlakuan Pertumbuhan Miselium (Hari)

BAB I PENDAHULUAN. Jamur tiram putih banyak dijumpai di alam, terutama dimusim hujan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Jamur ini bersifat heterotrof dan saprofit, yaitu jamur tiram

TUGAS AKHIR SB091358

I. PENDAHULUAN. daerah satu dengan yang lainnya. Menurut konsep geografi yang pernah diuraikan

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Cahyana (1999),kandungan gizi jamur tiram putih yaitu protein

BUDI DAYA JAMUR TIRAM PUTIH

TINJAUAN PUSTAKA. Tim Redaksi Trubus Jamur Konsumsi. Majalah Trubus 271. Hal. 7-9.

BAB I PENDAHULUAN. salah satunya pada bidang usaha. Indonesia sedang melakukan terobosan baru

KAJIAN KOMPOSISI MEDIA UTAMA DAN PENAMBAHAN PUPUK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAMUR MERANG (Volvariella volvaceae). SKRIPSI

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Mei 2015.

BAB III METODE PENELITIAN. perlakuan. Pemberian perlakuan komposisi media tanam jamur tiram putih (P.

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Budidaya Jamur Tiram. serbuk kayu yang dikemas dalam kantong plastik yang disebut dengan baglog.

I. PENDAHULUAN. menempati posisi penting dalam memberikan kontribusi bagi perekonomian

BAB 2 PRODUK 2.1 Spesifikasi Produk Tabel 2.1 Kandungan Gizi JamurTiram No Komposisi Dalam %

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

TEKNIK BUDIDAYA JAMUR TIRAM

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT dengan kekuasaan dan kehendak-nya telah menumbuhkan. berbagai macam tumbuh-tumbuhan di muka bumi ini yang di dalamnya

PEMANFAATAN TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT SEBAGAI MEDIA PERTUMBUHAN JAMUR MERANG (Volvariella volvaceae) DALAM UPAYA DIVERSIFIKASI PANGAN

PRODUKTIVITAS JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) PADA MEDIA CAMPURAN SERBUK GERGAJI, SERASAH DAUN PISANG DAN BEKATUL NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. gram jamur kering juga mengandung protein 10,5-30,4%, lemak 1,7-2,2%, kalsium 314 mg, dan kalori 367 (Suwito, 2006).

Pengembangan Media Dasar Jerami untuk Pertumbuhan dan. Produktifitas Jamur Merang (Volvariella Volvaceae) dengan

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilaksanakan di Kubung ketua kelompok wanita tani Sido Makmur

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri

KARYA ILMIAH STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. satu sektor penting dalam mendukung perekonomian, sehingga bidang pertanian

JAMUR KAYU SUMBER PANGAN SEHAT DARI HUTAN. Sihati Suprapti dan Djarwanto

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan RAL (rancangan acak lengkap) satu faktor

I. PENDAHULUAN. tubuh buah lumayan besar dengan bagian-bagian berupa stipa, gill, pileus dan margin

TINJAUAN PUSTAKA. divisio Amastigomycota, subdivisio Basidiomycota, kelas Basidiomycetes,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

KARYA ILMIAH LINGKUNGAN BISNIS PELUANG USAHA JAMUR TIRAM

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Jamur Tiram Putih

LAPORAN PRAKTIKUM BUDIDAYA JAMUR. : Sutia Afrinanda : Kelompok : VI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PELATIHAN BUDIDAYA JAMUR

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. sumber-sumber alam yang terdapat di suatu tempat yang diperlukan untuk

I. TINJAUAN PUSTAKA. dari sel-sel lepas dan sel-sel bergandengan berupa benang (hifa). Kumpulan dari

PEMANFAATAN JERAMI PADI DAN PENAMBAHAN KOTORAN AYAM SEBAGAI MEDIA PERTUMBUHAN JAMUR MERANG (Volvariella volvaceae) SKRIPSI

I. PENGANTAR. konsumsi (edible mushroom), yang telah banyak dibudidayakan, karena selain

Peluang Bisnis Budidaya Jamur Tiram

I. PENDAHULUAN. komoditi pertanian, menumbuhkan usaha kecil menengah dan koperasi serta

I. PENDAHULUAN. Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2011)

PEMANFAATAN LIMBAH AMPAS TEH DAN KARDUS SEBAGAI MEDIA PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) ABSTRAK

PENDAHULUAN. dikonsumsi. Jenis jamur tiram yang dibudidayakan hingga saat ini adalah jamur

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyebabkan penyakit, cacat janin, kematian, bahkan. pemutusan mata rantai kehidupan suatu organisme. Limbah merupakan dapat

BAB III METODE PENELITIAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Jamur Tiram. digunakan. Jenis dan komposisi media akan menentukan kecepatan pertumbuhan

II. TINJAUAN PUSTAKA. organik seperti selulosa, pati, lignin, dan glukosa (Irianto et al., 2008).

BAB I PENDAHULUAN. penting karena tanpa manajemen perusahaan tidak akan terkelola dengan baik dan benar.

PERTUMBUHAN dan PRODUKTIVITAS JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) PADA MEDIA DENGAN PENAMBAHAN LIMBAH PERTANIAN JERAMI PADI dan BATANG JAGUNG

BAB I PENDAHULUAN. gizi dalam jamur hampir mengimbangi nutrisi pada daging sapi dan daging ayam.

Kata Kunci: Proporsi, Dedak, Media Tanam, Jamur Tiram Putih

I. METODE PENELITIAN. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. H.R. Soebrantas KM 15

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Jamur tiram dan jamur merang termasuk dalam golongan jamur yang dapat dikonsumsi dan dapat hidup di

OLEH : ISNAWAN BP3K NGLEGOK

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen

I. PENDAHULUAN. kayu yang memiliki nilai gizi tinggi dan dapat dimanfaaatkan untuk berbagai jenis

Transkripsi:

II. TINJAUAN PUSTAKA A. GAMBARAN UMUM JAMUR merupakan tanaman yang tidak memiliki klorofil sehingga tidak bisa melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan sendiri. hidup dengan cara mengambil zat-zat makanan seperti selulosa, glukosa, lignin, protein dan senyawa pati dari organisme lain. Di alam, zat-zat nutrisi tersebut biasanya telah tersedia dari proses pelapukan oleh aktivitas mikroorganisme (Parjimo dan Andoko, 2007). Menurut Pasaribu (2002), jamur yang dalam bahasa daerah (Sunda) dikenal dengan sebutan supa merupakan golongan cendawan makroskopis. hidup diantara jasad biotik atau mati (abiotik), dengan sifat hidup heterotrop (organisme yang hidupnya tergantung dari organisme lain) dan saprofit (tidak diperlukan lagi atau sampah). Baik jamur tingkat rendah maupun jamur tingkat tinggi tubuhnya mempunyai ciri khas yaitu berupa benang tunggal bercabang-cabang yang disebut miselium atau berupa kumpulan benang yang padat menjadi satu, hidupnya heterotrop. Tubuh jamur dapat berupa sel-sel yang lepas satu sama lain atau berupa beberapa sel yang bergandengan dan dapat berupa benang. Sehelai benang itu disebut hifa. Hifa jamur ada yang bersekat-sekat (Tarigan, 1998). Beberapa contoh jamur pangan antara lain adalah jamur tiram, jamur merang, jamur shiitake, dan jamur kuping, dan yang menjadi bahasan dalam penelitian ini adalah jamur tiram. Ciri-ciri umum dan karakteristik jamur pangan dapat dilihat pada Tabel 2. Jenis Tiram Merang Shiitake Kuping Tabel 2. Karakteristik Umum Beberapa Jenis Konsumsi Nama Nama Ilmiah Bentuk Khasiat lain Hiratake Pleurotus sp. Bentuk tudung Mencegah penyakit mirip kulit kerang hipertensi dan serangan - Volvariella volvaceae Payung Lentinus edodes Memiliki cawan dan hidup pada tumpukan merang Menyerupai payung dan berwarna kecoklatan - Auricularia Menyerupai daun telinga, warna coklat muda kemerahan Sumber : Redaksi Agromedia (2002). B. JAMUR TIRAM jantung Cocok dikonsumsi oleh orang dengan program diet 1. Mengurangi kolesterol 2. Memperbaiki sirkulasi darah Dapat menetralkan racun Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2006), jamur tiram mempunyai rasa yang lezat serta kandungan gizi yang cukup tinggi. Disebut juga jamur tiram atau oyster mushroom karena bentuk tudungnya agak membulat, lonjong dan melengkung seperti cangkang tiram. tiram yang umum dibudidayakan di Indonesia adalah jenis jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). Jenis jamur tiram antara lain sebagai berikut: a. tiram putih (Pleurotus ostreatus) b. tiram merah muda (Pleurotus flatellatus) c. tiram cokelat (Pleurotus cycstidiosus) 3

d. tiram kuning terang (Pleurotus citrinopelatus) e. tiram abu-abu (Pleurotus sajor caju) Tubuh buah jamur tiram terdiri dari tudung dan tangkai. Tudung mempunyai diameter 4-15 cm atau lebih, bentuk seperti tiram, cembung kemudian menjadi rata atau kadang-kadang membentuk corong; permukaan licin, agak berminyak ketika lembab, tetapi tidak lengket; warna bervariasi dari putih sampai abu-abu, cokelat tua (kadang-kadang kekuningan pada jamur dewasa); tepi menggulung ke dalam, pada jamur muda seringkali bergelombang atau bercuping. Daging tebal, berwarna putih, kokoh, tetapi lunak pada bagian yang berdekatan dengan tangkai; bau dan rasa tidak merangsang. Bilah cukup berdekatan, lebar, warna putih atau keabuan dan sering kali berubah menjadi kekuningan ketika dewasa. Tangkai tidak ada atau jika ada biasanya pendek, kokoh dan tidak di pusat atau di lateral (tetapi kadang-kadang di pusat), panjang 0,5-4,0 cm, gemuk, padat, kuat, kering, umumnya berambut atau berbulu kapas paling sedikit di dasar (Gunawan, 2001). Siklus hidup jamur tiram hampir sama dengan siklus hidup jenis jamur dari kelas Basidiomycetes. Tahap-tahap pertumbuhan jamur tiram adalah sebagai berikut (Suriawiria, 2006) : a. Spora (basidiospora) yang sudah masak atau dewasa jika berada di tempat lembab akan tumbuh dan membentuk serat-serat halus menyerupai serat kasar disebut miselium. b. Jika keadaan lingkungan tempat miselium baik, dalam arti temperatur, kelembaban, substrat tempat tumbuh memungkinkan, maka kumpulan miselium akan membentuk bakal tubuh buah jamur. c. Bakal tubuh buah jamur kemudian membesar dan pada akhirnya membentuk tubuh buah jamur yang kemudian dipanen. d. Tubuh buah jamur dewasa akan membentuk spora, jika spora sudah matang atau dewasa akan jatuh dari tubuh buah jamur. Namun pada budidaya jamur tiram tidak sampai pada tahap ini karena jamur dewasa langsung dipanen. Perkembangbiakan jamur tiram pada budidaya adalah dengan bibit yang telah diinokulasi pada media. tiram mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia sebagai protein nabati yang tidak mengandung kolesterol sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit darah tinggi dan jantung serta untuk mengurangi berat badan dan diabetes. Kandungan asam folatnya (Vitamin B-komplek) tinggi sehingga dapat menyembuhkan anemia dan sebagai obat anti tumor. Digunakan untuk mencegah dan menanggulangi kekurangan gizi dan pengobatan kekurangan zat besi. Untuk terapi pengobatan sebaiknya tidak digoreng karena bisa menurunkan kadar vitaminnya dan zat-zat yang bermanfaat untuk penyembuhan penyakit (Pasaribu, 2002). Beberapa syarat penting dari dalam budidaya jamur tiram adalah sebagai berikut : 1. Media Tanam Tiram Media tanam yang digunakan dalam penanaman jamur tiram adalah serbuk kayu, bekatul, kapur dan air. a) Serbuk kayu Serbuk kayu merupakan tempat tumbuh jamur kayu yang mengandung serat organik (selulosa, hemi selulosa, dan lignin) sebagai sumber makanan jamur (Suriawiria, 2006). b) Bekatul Bekatul merupakan hasil sisa penggilingan padi yang kaya vitamin, terutama vitamin B-komplek, merupakan bagian yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan miselium jamur serta berfungsi sebagai pemicu untuk pertumbuhan tubuh buah jamur (Suriawiria, 2006). 4

c) Kapur Kapur berfungsi untuk mengontrol ph media tanam agar sesuai dengan syarat tumbuh jamur. Selain itu, kapur juga merupakan sumber kalsium (Ca) yang dibutuhkan oleh jamur dalam pertumbuhannya. Kapur yang digunakan sebagai bahan campuran media adalah kapur pertanian yaitu kalsium karbonat (CaCO 3 ) (Parjimo dan Andoko, 2007). d) Air Air merupakan salah satu faktor untuk kelancaran pertumbuhan miselium agar dapat membentuk spora. Namun jamur tiram hanya membutuhkan air dalam jumlah sedikit (Suriawiria, 2006). 2. Syarat Tumbuh (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2006) : a) Suhu Suhu inkubasi atau saat jamur tiram membentuk miselium berkisar antara 22-28 C, sedangkan suhu pada pembentukan tubuh buah berkisar antara 16-22 C. b) Kelembaban Selama masa pertumbuhan miselium, kelembaban udara dipertimbangkan antara 60-70 persen. Pada pertumbuhan badan buah kelembaban yang dikehendaki antara 80-90 persen. c) Cahaya Pertumbuhan jamur sangat peka terhadap cahaya secara langsung. Intensitas cahaya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur sekitar 200 lux (10%), sedangkan pada pertumbuhan miselium tidak diperlukan cahaya. d) Air Kandungan air dalam substrat berkisar antara 60-65 persen. Apabila kondisi kering maka pertumbuhan jamur akan terganggu atau terhenti, begitu pula sebaliknya apabila kadar air terlalu tinggi maka miselium akan membusuk dan mati. Penyemprotan air ke dalam ruangan dapat dilakukan untuk mengatur suhu dan kelembaban. 3. Proses Budidaya (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2006) : a) Pencampuran bahan Pencampuran bahan dilakukan dengan mencampurkan serbuk kayu, dedak atau bekatul, jagung halus serta kapur yang telah ditimbang. Pencampuran dapat dilakukan secara manual dengan tenaga manusia apabila kapasitas produksinya masih kecil. Apabila produksi cukup besar, maka pencampuran dilakukan dengan mesin pencampur (mixer). Pencampuran harus dilakukan secara merata, sehingga tidak terdapat gumpalan. Jika pencampuran tidak merata, maka akan berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur. b) Pengomposan Proses pengomposan dimaksudkan untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks dalam bahan-bahan dengan bantuan mikroba, sehingga diperoleh senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Senyawa-senyawa yang lebih sederhana akan lebih mudah dicerna oleh jamur, sehingga memungkinkan pertumbuhan jamur yang lebih baik. Pengomposan dilakukan dengan cara menimbun campuran serbuk kayu atau gergaji, kemudian menutupnya secara rapat dengan menggunakan plastik selama satu sampai dua hari. Proses pengomposan yang berhasil ditandai dengan kenaikan suhu menjadi sekitar 50ºC, sedangkan kadar air campuran atau kompos harus diatur pada kondisi 50-60 persen dengan tingkat keasaman (ph) 6-7. 5

c) Pembungkusan Pembungkusan dilakukan dengan menggunakan plastik polipropilene (PP) karena plastik ini relatif tahan panas. Ukuran plastik bermacam-macam. Pembungkusan dilakukan dengan cara memasukkan adonan ke dalam plastik, kemudian adonan itu dipadatkan dengan menggunakan botol atau alat lain. Media yang tidak padat akan menyebabkan hasil panen yang tidak optimal karena media mudah rusak sehingga produktivitas menurun. Setelah media dipadatkan, ujung plastik disatukan dan dipasang cincin yang terbuat dari potongan paralon atau bambu kecil pada bagian leher plastik sehingga bungkusan menyerupai botol. d) Sterilisasi Sterilisasi merupakan suatu proses yang dilakukan untuk menginaktifkan mikroba, baik bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 80-90ºC selama enam hingga delapan jam. Alat yang digunakan pada proses ini dapat berbentuk drum minyak yang dimodifikasi dengan menambahkan sarangan sebagai pembatas antara air dengan tempat media. e) Inokulasi Inokulasi adalah proses pengisian bibit ke dalam media tanam pada tempat yang steril. Inokulasi dapat dilakukan dengan menggunakan taburan atau tusukan. Inokulasi dengan cara taburan adalah dengan menaburkan bibit ke dalam media tanam secara langsung, sementara itu inokulasi dengan cara tusukan dilakukan dengan cara membuat lubang di bagian tengah melalui ring (cincin) sedalam tigaperempat dari tinggi media. Penusukan dilakukan dengan menggunakan batang kayu berdiameter satu inci, selanjutnya dalam lubang tersebut diisikan bibit yang telah dihancurkan. f) Inkubasi Inkubasi dilakukan dengan cara menyimpan media yang telah diisi dengan bibit pada kondisi tertentu agar miselia jamur tumbuh. Suhu yang dibutuhkan untuk penumbuhan miselia antara 22-28ºC. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata. Biasanya media akan tampak putih secara merata antara 40 60 hari sejak dilakukan inokulasi. Keberhasilan pertumbuhan miselia jamur dapat diketahui sejak dua minggu setelah inkubasi. g) Pertumbuhan (Growing) Media tumbuh jamur yang sudah putih oleh miselia jamur setelah berumur 40 60 hari sudah siap untuk dilakukan pertumbuhan. Pertumbuhan dilakukan dengan cara membuka plastik atau media tumbuh yang sudah penuh oleh miselia. Pembukaan media dilakukan dengan tujuan memberikan oksigen yang cukup untuk pertumbuhan tubuh buah jamur. Tubuh buah tumbuh setelah satu sampai dua minggu dengan suhu 16-22ºC dan kelembaban 80 90 persen. Tubuh buah yang sudah tumbuh tersebut selanjutnya dibiarkan selama dua sampai tiga hari atau sampai mencapai pertumbuhan yang optimal. h) Panen Panen dilakukan dengan cara mencabut seluruh rumpun jamur yang ada. Pemanenan tidak dapat dilakukan dengan cara memotong cabang yang berukuran besar saja, sebab dalam satu rumpun jamur mempunyai stadia pertumbuhan yang sama. Apabila pemanenan hanya dilakukan pada jamur yang berukuran besar, maka jamur yang berukuran kecil tidak akan bertambah besar, bahkan kemungkinan akan mati (layu atau busuk). Bagian jamur yang tertinggal akan mengakibatkan kerusakan media bahkan akan merusak pertumbuhan jamur lain. 6

i) Penanganan pascapanen yang sudah dipanen tidak perlu dipotong menjadi bagian per bagian tudung dan hanya dibersihkan kotoran yang menempel pada bagian akarnya. Dengan cara tersebut, daya tahan simpan jamur akan lebih lama. yang sudah dibersihkan dari kotoran yang menempel, dimasukkan ke dalam plastik dengan ukuran tertentu untuk dipasarkan dalam bentuk segar. Serbuk kayu, bekatul, jagung halus, dan kapur Pencampuran bahan Pengomposan Pembungkusan Sterilisasi Media tanam/baglog Bibit Inokulasi Inkubasi Pertumbuhan (Growing) Panen Penanganan Pascapanen Tiram Gambar 1. Proses budidaya jamur tiram C. KONSEP STRATEGI Strategi merupakan sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan akhir dari setiap perusahaan. Sebuah perusahaan dituntut untuk mengembangkan strategi yang antisipatif terhadap kecenderungan-kecenderungan baru guna mencapai dan mempertahankan posisi bersaingnya. Beberapa definisi tentang strategi seperti yang dinyatakan dalam beberapa literatur, antara lain : Mintzberg (1993), menyatakan bahwa strategi adalah pola atau rencana yang mengintegrasikan sasaran utama, kebijakan, dan tindakan organisasi disusun menjadi satu kesatuan yang terpadu. Formulasi strategi yang baik akan membantu menyusun dan mengalokasikan sumber daya organisasi ke dalam sikap yang khas dan aktif berdasarkan kompetensi internal dan kelemahan yang dimiliki dalam mengantisipasi perubahan lingkungan. Menurut Jauch dan Glueck (1988), 7

strategi didefinisikan sebagai rencana yang disatukan, menyeluruh serta terpadu yang mengaitkan keunggulan strategi perusahaan dengan tantangan lingkungan dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh perusahaan. Maksud dari rencana yang disatukan adalah mengikat semua bagian perusahaan menjadi satu, sedangkan maksud dari strategi yang bersifat menyeluruh adalah meliputi semua aspek penting perusahaan. Adapun maksud dari strategi sifat terpadu yaitu semua bagian rencana serasi satu sama lain dan bersesuaian. Menurut David (2005), strategi merepresentasikan tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan jangka panjang. Jangka waktu untuk tujuan dan strategi harus konsisten, biasanya antara dua sampai lima tahun. Secara umum dapat dikatakan bahwa strategi adalah cara untuk mencapai suatu tujuan dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki dalam suatu kondisi lingkungan tertentu. D. ANALISIS PROSPEKTIF Sistem bisnis adalah hal yang kompleks, dinamis, tidak pasti, acak dan tidak menentu. Perubahan lingkungan yang sangat cepat mengharuskan industri apapun bentuknya untuk dapat mengantisipasi perkembangan yang cepat tersebut dengan strategi yang tepat (Pfeifer, 2001). Menurut Godet (1994), menyatakan bahwa strategi prospektif merupakan strategi organisasi industri yang berbasis pada kemampuan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang (attitude toward future). Analisis prospektif merupakan salah satu teknik untuk menganalisis beragam strategi yang dapat terjadi di masa depan berdasarkan kondisi yang ada saat ini. Tujuan dari analisis prospektif adalan mempersiapkan strategi apakah perubahan dibutuhkan di masa depan. Secara kebahasaan La prospective berasal dari bahasa Perancis yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berarti a preactive dan proactive approach yang sepadan makna katanya dengan kata foresight karena kata proactivity sangat jarang digunakan (Godet 1999 dalam Hardjomidjojo, 2004) sehingga bila dimaknai dalam bahasa Indonesia dapat berarti tinjauan ke masa depan. Pendekatan prospektif ini menekankan pada proses evolusi jangka panjang sehingga waktu menjadi faktor yang sangat utama dalam pengambilan sebuah keputusan. Hal inilah yang menyebabkan metoda ini bukan merupakan peramalan akan tetapi seperangkat skenario yang disusun untuk mencapai tujuan jangka panjang. Kata prospective digunakan untuk menunjukkan kebutuhan dari sikap yang berorientasi pada masa depan. Sikap itu meliputi: to look far away melihat jauh ke depan; to look breadthwise melihat secara luas dan melakukan interaksi; to look in depth melihat sungguhsungguh ke dalamannya dan menemukan faktor-faktor dan tren yang sangat penting; to take risks mengambil resiko karena jauh di depan akan terjadi perubahan tak terduga; dan to take care of the mankind menjaga manusia. (Godet dan Roubelat, 1996) Ide dasar tentang la prospective adalah bahwa apa yang akan terjadi di kemudian hari, akan lahir dari interaksi antar berbagai pelaku kini dan rencana-rencana. Terdapat empat sikap dalam menanggapi masa depan yaitu passice, re-active, pre-active (anticipacing changes) dan pro-active (provoking changes). Dalam menghadapi langkah perubahan yang bertambah cepat, ketidakpastian masa depan, dan meningkatnya kompleksitas fenomena dan interaksi, antifatalistik, maka sikap preactive dan proactive sangat penting. La prospective mengacu pada pendekatan preactive dan proactive (Godet dan Roubelat,1996) Menurut Postma dan Bood (2001), fungsi skenario pada dasarnya adalah mengevaluasi dan menyeleksi strategi, mengintegrasi berbagai jenis data yang berorientasi masa depan, serta 8

mengeksploirasi masa depan dan mengidentifikasi kemungkinan di masa depan. Saat ini telah berkembang fungsi skenario tambahan yaitu membuat para manajer sadar tentang ketidakpastian lingkungan, membentangkan model mental para manajer, serta memacu dan mempercepat proses pembelajaran organisasi. Istilah-istilah yang digunakan dalam menelaah berbagai bentuk tentang masa depan sering menimbulkan ragam pengertian di dalam inteprestasinya. Perbedaan konsepkonsep masa depan yang umum digunakan dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Konsep-Konsep Tentang Masa Depan No. Konsep Definisi 1 Spekulasi Perkiraan mendatang yang didasarkan pada hipotesis yang memungkinkan. 2 Profetik Pernyataan masa depan yang umumnya dibuat secara irasional atau inspirasi keutuhan (wahyu atau ilham). 3 Proyeksi Ektrapolasi pola tingkah laku masa lalu (evolusi) untuk pendugaan kebutuhan masa depan. 4 Prediksi Peramalan suatu hal secara paranormal (Oracle Delphi). 5 Peramalan Prediksi masa depan yang umumnya berdasarkan pada tingkat kepercayaan tertentu, model kuantitatif dan kepastian tertentu (eksplorasi). 6 Futrologi Penelitian terhadap masa datang yang tidak didasarkan pada suatu kriteria yang jelas (kecenderungan belaka). 7 Planifikasi Perencanaan mendatang yang diinginkan menurut sumber daya yang ada. 8 Skenario Permainan hipotesis yang bersifat mandiri. 9 Prospektif Multidimensional, kualitatif dan kuantitatif, sikap proaktif terhadap masa depan, pemilihan dan kemajemukan dari skenario yang dibuat. Sumber : Pfeifer (2001) dan Hubeis (1991). E. PENELITIAN TERDAHULU Penelitian terdahulu dilakukan oleh Wibowo (2005) pada Perusahaan Daerah Perkebunan Kabupaten Jember. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan perusahaan dengan menganalisis kinerja dan daya saingnya berdasarkan skenarioskenario yang mungkin terjadi di masa datang. Pengukuran kinerja menggunakan pendekatan Balanced Scorecard yang dimodifikasi. Analisis daya saing difokuskan pada level internal perusahaan sebagai perusahaan daerah milik pemerintah daerah. Pembobotan indikator-indikator kinerja dan daya saing menggunakan teknik perbandingan berpasangan. Strategi pengembangan perusahaan disusun berdasarkan skenario yang dihasilkan dari analisis prospektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja perusahaan masih belum memadai, tetapi perusahaan masih mempunyai daya saing yang cukup baik. Perusahaan termasuk dalam kategori Kuadran I. Perusahaan perlu meningkatkan kinerjanya yang diharapkan dapat mendorong posisi daya saing perusahaan menjadi lebih baik, yaitu masuk dalam Kuadran II. Kinerja merupakan faktor pendorong bagi peningkatan daya saing perusahaan. Berdasarkan skenario yang mungkin akan terjadi di masa datang, skenario terpilih untuk pengembangan perusahaan adalah skenario optimis menjadi perusahaan profesional. Skenario ini akan terjadi jika semua faktor-faktor kunci daya saing perusahaan yang meliputi kebijakan pemerintah, kemampuan SDM, kemampuan permodalan, kemampuan manajemen produksi dan operasi, serta kemampuan manajemen keuangan mengalami perkembangan positif. Rekomendasi operasional untuk skenario terpilih adalah pemerintah daerah perlu mengeluarkan kebijakan yang kondusif untuk pengembangan 9

perusahaan menjadi perusahaan yang profesional, dan secara operasional melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kinerja kunci perusahaan yang mampu mendorong daya saing. Panggalih (2006) menganalisis mengenai strategi pengembangan usaha Tiram (Pleurotus Sp.) pada perusahaan Lembah Panyandaan, Kabupaten Bandung. Matriks IE dan SWOT digunakan untuk menghasilkan beberapa alternatif strategi bagi perusahaan serta QSPM untuk menentukan strategi yang diprioritaskan untuk diimplementasikan. Berdasarkan QSPM, prioritas strategi yang dihasilkan adalah: 1) strategi peningkatan kapasitas produksi perusahaan melalui penambahan kumbung jamur tiram dan alat-alat produksi media tanam ; 2) strategi pengembangan sistem pemasaran dengan membentuk bagian pemasaran dalam perusahaan ; 3) strategi mempertahankan tingkat produksi yang ada; 4) strategi pengembangan subsistem dari hulu ke hilir, meliputi pembuatan bibit hingga pengolahan pascapanen ; 5) strategi peningkatan efisiensi produksi untuk meningkatkan daya saing perusahaan ; 6) strategi perbaikan kegiatan produksi dan operasi melalui peningkatan kualitas dan kapasitas SDM perusahaan. Penelitian mengenai jamur tiram putih yang lain yaitu analisis usahatani dan tataniaga jamur tiram putih oleh Maharani (2007), studi kasus Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung. Penelitian tersebut menggunakan alat analisis kualitatif dan kuantitatif, alat analisis kualitatif yang digunakan adalah keragaman usahatani dan fungsi lembaga tataniaga, sedangkan untuk alat analisis kuantitatif menggunakan analisis pendapatan, analisis fungsi produksi, analisis margin tataniaga dan farmer s share. Hasil yang diperoleh adalah peningkatan efisiensi usahatani jamur tiram dengan membuka usahatani jamur tiram pada skala usaha menengah. Untuk meningkatkan nilai efisiensi, maka petani jamur tiram sebaiknya lebih memperhatikan bibit jamur tiram, serbuk kayu dan minyak tanah karena bahan baku tersebut akan mempengaruhi peningkatan produksi jamur tiram. Petani jamur tiram seharusnya membentuk kelompok tani untuk memperkuat daya tawar. 10