BAB 3 PERALATAN DAN PROSEDUR PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab II Ruang Bakar. Bab II Ruang Bakar

BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA

PENGARUH JARAK SALURAN KELUAR AIR DAN UDARA TERHADAP KARAKTERISTIK SPRAY PADA TWIN FLUID ATOMIZER

BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V Pengujian dan Analisis Mesin Turbojet Olympus

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

UNIVERSITAS INDONESIA VISUALISASI KECEPATAN TINGGI NYALA API DIFUSI TIPE SWIRL PADA MEDAN ALIRAN BERLAWANAN DENGAN RASIO GAP DIAMETER KECIL SKRIPSI

UNIVERSITAS INDONESIA VISUALISASI KECEPATAN TINGGI NYALA API DIFUSI TIPE SWIRL PADA MEDAN ALIRAN BERLAWANAN DENGAN RASIO GAP DIAMETER BESAR SKRIPSI

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS BAB II

Lampiran A : Perangkat Percobaan Kontaktor Gas Cair

III. METODOLOGI PENELITIAN. terbuka, dengan penjelasannya sebagai berikut: Test section dirancang dengan ukuran penampang 400 mm x 400 mm, dengan

BAB III METODOLOGI PENGUJIAN

TROUBLE SHOOTING SISTEM INJEKSI MESIN DIESEL MITSUBISHI L300 DAN CARA MENGATASINYA

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI MOTOR DIESEL PERAWATAN MESIN DIESEL 1 SILINDER

BAB 3 METODOLOGI PENGUJIAN

FENOMENA FLASHBACK DI RUANG BAKAR JET DENGAN MENGGUNAKAN FLAME HOLDER

BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan sesuai dengan diagram alir dibawah ini;

BAB III RANCANG BANGUNG MBG

BAB III SET-UP ALAT UJI

BAB III DESKRIPSI ALAT DAN PROSEDUR PENGUJIAN

Sistem Putaran Stasioner (Idle Speed)

BAB III ALAT PENGUJIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI. Kompor pembakar jenazah memiliki beberapa bagian seperti:

DINAMIKA PROSES PERAMBATAN PANAS [DPP]

BAB III METODOLOGI. Genset 1100 watt berbahan bakar gas antara lain. 2 perangkat berbeda yaitu engine dan generator atau altenator.

III. METODOLOGI PENELITIAN. berdasarkan prosedur yang telah di rencanakan sebelumnya. Dalam pengambilan data

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Analisa aliran berkembang..., Iwan Yudi Karyono, FT UI, 2008

2012, No.661.

BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang (K. Chunnanond S. Aphornratana, 2003)

SPESIFIKASI TEKNIK KOMPOR GAS BAHAN BAKAR LPG SATU TUNGKU DENGAN SISTEM PEMANTIK MEKANIK KHUSUS UNTUK USAHA MIKRO

BAB III METODE PENELITIAN. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah :

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA DATA

KAJI EKSPERIMENTAL BIOMASA SEKAM PADI PADA CYCLONE BURNER

Bab 3 Perancangan dan Pembuatan Reaktor Gasifikasi

Pengaruh Variasi Lip Thickness pada Nozzle Terpancung terhadap Karakteristik Api Pembakaran Difusi Concentric Jet Flow

Studi Eksperimen Burner Type Partially Premixed Dengan Bahan Bahan Bakar Syngas Biomassa Serbuk Kayu Dengan Variasi Diameter Outlet Bahan Bakar

Bab 4 Perancangan dan Pembuatan Pembakar (Burner) Gasifikasi

MODUL IV ALIRAN MELALUI VENTURIMETER

PEMBIMBING : Dr. Sri Poernomo Sari, ST., MT

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PRESTASI MOTOR BENSIN HONDA KARISMA 125 CC TERHADAP BAHAN BAKAR BIOGASOLINE, GAS LPG DAN ASETILEN

TURBIN GAS. Berikut ini adalah perbandingan antara turbin gas dengan turbin uap. Berat turbin per daya kuda yang dihasilkan lebih besar.

Losses in Bends and Fittings (Kerugian energi pada belokan dan sambungan)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB III PERANCANGAN ALAT. Pada Gambar 3.1 menunjukan blok diagram sistem dari keseluruhan alat yang dibuat. Mikrokontroler. Pemantik Kompor.

PERALATAN INDUSTRI KIMIA (MATERIAL HANDLING)

BAB 4 HASIL & ANALISIS

JURNAL. Analisis Penurunan Head losses Pada Belokan 180 Dengan Variasi Tube Bundle Pada Diameter Pipa 2 inchi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TUGAS AKHIR ANALISA MINIMALISASI WATER HAMMER DENGAN VARIASI PEMILIHAN GAS ACCUMULATOR PADA SISTEM PERPIPAAN DI PT.

BAB II LANDASAN TEORI. Kompor pembakar jenazah memiliki beberapa bagian seperti:

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN REAKTOR GASIFIKASI

PENERAAN ALAT UKUR LAJU ALIR FLUIDA

BAB III INSTALASI PERALATAN UJI. sistem, kondisi udara pada titik masuk dan keluar evaporator. Data yang diperoleh

SESSION 12 POWER PLANT OPERATION

LATAR BELAKANG. Alternatif pengganti bahan bakar minyak. Nilai Emisi LPG. Converter Kit Manual yg Brebet. Converter Kit

PENGUJIAN PENGARUH VARIASI HEAD SUPPLY DAN PANJANG LANGKAH KATUP LIMBAH TERHADAP UNJUK KERJA POMPA HIDRAM

III. METODOLOGI PENELITIAN. : Motor Diesel, 1 silinder

PENGARUH DEBIT ALIRAN TERHADAP HEAD LOSSES PADA VARIASI JENIS BELOKAN PIPA

STUDI EKSPERIMENTAL DAN NUMERIK KARAKTERISTIK ALIRAN DUA FASE AIR-UDARA MELEWATI ELBOW 75⁰ DARI PIPA VERTIKAL MENUJU PIPA DENGAN SUDUT KEMIRINGAN 15

Pembakaran. Dibutuhkan 3 unsur atau kompoenen agar terjadi proses pembakaran pada tipe motor pembakaran didalam yaitu:

METODOLOGI PENELITIAN. 1. Spesifikasi sepeda motor bensin 4-langkah 100 cc. uji yang digunakan adalah sebagai berikut :

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II LANDASAN TEORI

PERANCANGAN DAN PENGUJIAN PANJANG FLAME BABINGTON BURNER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN ALAT

METODOLOGI PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian. Alat dan Bahan Penelitian. Prosedur Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DINAMIKA PROSES PERAMBATAN PANAS [DPP]

PEMANTIK LPG OTOMATIS UNTUK PEMBAKAR GAS HIDROGEN PADA PROSES REDUKSI TUNGKU ME-11

MODIFIKASI SISTEM BURNER DAN PENGUJIAN ALIRAN DINGIN FLUIDIZED BED INCINERATOR UI SKRIPSI

Bab VI Hasil dan Analisis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. bahan dan alat uji yang digunakan untuk pengumpulan data, pengujian, diagram

I. PENDAHULUAN. (induction chamber) yang salah satunya dikenal sebagai tabung YEIS. Yamaha pada produknya RX King yang memiliki siklus pembakaran 2

Pengaruh Diameter Gelembung Hidrogen Terhadap Penurunan Tekanan (Pressure Drop) Pada Saluran Tertutup Segi-Empat

Oleh : Dimas Setiawan ( ) Pembimbing : Dr. Bambang Sudarmanta, ST. MT.

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Ketika ketergantungan manusia terhadap bahan bakar tak terbarukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pirolisator merupakan sarana pengolah limbah plastik menjadi

BAB III METODE PENELITIAN

1. Bagian Utama Boiler

BAB I PENDAHULUAN. Pompa viskositas tinggi digunakan untuk memindahkan cairan

MENGGUNAKAN LPG - SECARA AMAN

Gambar 3.1. Plastik LDPE ukuran 5x5 cm

Transkripsi:

BAB 3 PERALATAN DAN PROSEDUR PENELITIAN Penelitian mengenai nyala difusi pada medan aliran berlawanan ini merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya yang telah meneliti mengenai limit stabilitas nyala difusi pada medan aliran berlawanan dengan menggunakan diameter dalam nosel bahan bakar dan udara 18.5 mm dan perbandingan jarak antara nosel dengan diameter dalam nosel (L/d) yaitu: 2.7, 2.43, dan 2.16. Sedangkan dalam penelitian kali ini, akan dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai pengaruh rasio jarak nosel dengan diameter dalam nosel terhadap karakteristik nyala difusi pada medan aliran berlawanan dengan memvariasikan diameter dalam nosel menjadi 5.5 mm dan 8.5 mm. Tapi selain data limit stabilitas nyala juga dilakukan pengamatan mengenai visualisasi nyala difusi pada medan aliran berlawanan untuk kondisi nyala api stabil sampai kondisi nyala padam (extinct). 3.1 PERALATAN PENELITIAN Pada penelitian ini pengamatan dilakukan terhadap pola nyala yang terjadi dengan adanya vortex generator pada kedua nosel yang terletak simetris sehingga didapat titik tertentu dimana kestabilan nyala terjadi. Pada nosel sisi atas, digunakan udara kompresor yang berfungsi sebagai oksidan. Dalam hal ini, udara dari kompresor mengalir melewati monometer tabung-u sebelum masuk kedalam nosel. Pada bagian atas nosel, terdapat ruang berisi bola-bola baja dengan diameter bola = 4 mm sebagai honeycomb yang berfungsi untuk membuat aliran udara seragam sebelum akhirnya masuk kedalam nosel besar. Sedangkan, pada nosel sisi bawah, digunakan sebagai suplai bahan bakar. Dalam hal ini, propana sebagai bahan bakar mengalir melewati manometer tabung-u dan mixing chamber sebelum masuk kedalam nosel besar. Tapi pada penelitian ini mixing chamber tersebut tidak difungsikan sebagai tempat 16

pencampuran bahan bakar dan udara, karena penelitian yang dilakukan adalah mengenai nyala difusi. Skema peralatan untuk mempelajari nyala difusi pada medan aliran berlawanan secara keseluruhan dapat dilihat pada gambar 3.1 dibawah ini. Secara garis besar peralatan penelitian ini terdiri dari sistem suplai udara-bahan bakar dan burner tester yang terdiri dari 2 nosel yang diletakkan berlawanan secara vertikal dan simetris. Manometer bahan bakar Manometer udara Nosel Air Fuel Tabung nitrogen Tabung propana Gambar 3.1 Counter flow diffusion flame apparatus 3.1.1 Konfigurasi Detail Alat Pembakar A. Nosel Bahan : Baja karbon tinggi (S50C) Ukuran : 27 x 115 mm Fungsi : Sebagai tempat untuk mengalirnya bahan bakar dan udara sebelum mencapai tempat pencampuran. Pada penelitian sebelumnya diameter dalam nosel yang digunakan 18.5 mm, sedangkan pada penelitian kali ini dibuat 3 variasi diameter dalam nosel yaitu: 18.5, 8.5 dan 5.5 mm. Untuk lebih jelasnya (lihat gambar3.2) mengenai detail dari nosel yang digunakan. 17

(a) (c) (b) Gambar 3.2 Nosel B. Vortex generator Bahan : Baja karbon tinggi (S50C) Ukuran : - 18.5 x 12 mm - 8.5 x 12 mm - 5.5 x 12 mm Fungsi : Untuk meningkatkan turbulensi pada aliran bahan bakar dan udara. (a) (c) (b) Gambar 3.3 Vortex generator untuk (a) d = 18.5 mm, (b) d = 8.5 mm, (c) d = 5.5 mm C. Ruang bahan bakar Bahan Fungsi : Alumunium : Sebagai tempat penampungan bahan bakar sebelum masuk nosel 18

D. Ruang honey comb Bahan : Baja karbon tinggi (S50C) Ukuran : 84 x 51 x 23 Fungsi : Untuk membuat aliran udara menjadi seragam sebelum akhirnya masuk kedalam nosel besar. Didalamnya berisi bola-bola baja (honey comb) dengan diameter 4 mm. E. Ulir Penggerak Bahan : Baja karbon tinggi (S50C) Ukuran : M12x1, dan panjang = 150 mm Fungsi : Sebagai penggerak, yang digunakan untuk mengatur jarak (L) antara nosel bahan bakar dan udara. Gambar 3.4 Driving screw 3.1.2 Sistem Suplai Bahan Bakar dan Udara Sistem ini berfungsi untuk mengatur besarnya debit/aliran bahan bakar dan udara yang akan dialirkan menuju burner. Sistem suplai bahan bakar dan udara ini terdiri dari 2 pasang manometer tabung U yang masing-masing dilengkapi dengan sepasang katup jarum (needle valve). Untuk sepasang manometer yang digunakan sebagai pengatur debit aliran bahan bakar dan pengatur back pressure, mempunyai ukuran panjang 1000 mm, terbuat dari pipa acrylic diameter 11 mm. Sedangkan sepasang manometer lainnya digunakan sebagai pengatur debit aliran udara dan pengatur back pressure, mempunyai panjang 900 mm, juga terbuat dari pipa acrylic dengan diameter 11 mm. Alat ini juga dilengkapi dengan orifis 19

dengan berbagai ukuran diameter mulai dari 0,8 mm sampai 2,0 mm, yang pemakaiannya disesuaikan dengan kebutuhan penelitian. Sistem suplai udarabahan bakar pada manometer tabung-u ditunjukkan pada gambar. 3.5 dibawah ini. Gambar 3.5 Sistem suplai bahan bakar dan udara 3.2 PROSEDUR PENELITIAN Dalam melakukan suatu pekerjaan eksperimental, prosedur mengenai halhal yang akan dilakukan berkaitan dengan pengaturan alat ukur, kalibrasi dan pengambilan data harus dimengerti dan dilaksanakan dengan benar. Hal itu bertujuan untuk keselamatan, menghindari kerusakan alat, dan juga pembuangan waktu karena kesalahan dalam pengambilan data. Untuk itu berikut ini merupakan tahapan prosedur-prosedur dalam melakukan penelitian counter flow diffusion flame. 3.2.1 Prosedur Kalibrasi Sistem Suplai Udara Prosedur kalibrasi sistem suplai udara, yaitu: 1. Instalasi sistem dengan memasukan saluran udara kedalam keluaran kompresor dan masukan manometer tabung U 2. Isi manometer tabung-u dengan air hingga mencapai angka 0-0 dan pasang orifis sesuai ukuran yang diinginkan untuk pengambilan data. 20

3. Isi Wet Gas Meter Shinagawa WE-2,5 A dengan air hingga level yang ditetapkan manual book Level Air Gambar 3.6 Level air pada Wet Gas Meter Shinagawa WE-2.5A 4. Instalasi sistem dengan memasang keluaran manometer tabung U ke masukan Wet Gas Meter Shinagawa dan Pasang selang untuk keluaran fluida dari Wet gas Meter Shinagawa 5. Alirkan udara dari kompresor melewati manometer tabung U dan tentukan nilai back pressure yang diinginkan 6. Tentukan perbedaan ketinggian permukaan Δh dengan menyetel needle valve dan pertahankan nilai back pressure tetap konstan 7. Tiap nilai back pressure, diambil data setiap kenaikan 100 mm pada manometer tabung-u dengan menggunakan variasi ukuran orifis mulai dari 0,8-2,00 mm. 8. Data yang didapat adalah volume udara yang mengalir dan waktu yang diperlukan dalam satu putaran penuh jarum Wet Gas Meter Shinagawa. 9. Data mentah yang didapat adalah Δh, Volume udara, dan Waktu. Gambar 3.7 Skema kalibrasi sistem suplai udara 21

Pada penelitian kali ini orifis yang digunakan pada sistem suplai udara adalah 2 mm dengan Δh back pressure = 300 mm. 3.2.2. Prosedur Kalibrasi Sistem Suplai Bahan Bakar Adapun prosedur kalibrasi sistem suplai bahan bakar, yaitu: 1. Instalasi sistem dengan memasukan saluran bahan bakar pada tabung bahan bakar 2. Isi manometer tabung-u dengan air hingga mencapai angka 0-0 dan pasang orifis sesuai ukuran yang diinginkan untuk pengambilan data. 3. Isi Wet Gas Meter Shinagawa WE-2,5 A dengan air hingga level yang ditetapkan manual book 4. Instalasi sistem dengan memasang keluaran manometer tabung U ke masukan Wet Gas Meter Shinagawa dan pasang selang untuk keluaran fluida dari Wet gas Meter Shinagawa 5. Alirkan bahan bakar keluar dari tabung dengan mengatur tekanan keluar 1-2 kg/cm 2 (dapat dilihat pada pressure regulator) dan tentukan nilai back pressure yang diinginkan 6. Tentukan perbedaan ketinggian permukaan Δh dengan menyetel needle valve dan pertahankan nilai back pressure tetap konstan 7. Tiap nilai back pressure, diambil data tiap kenaikan Δh 50 mm pada manometer tabung U dengan menggunakan variasi ukuran orifis 0,8-2,0 mm. 8. Data yang didapat adalah volume bahan bakar yang mengalir dan waktu yang diperlukan dalam satu putaran penuh jarum Wet Gas Meter Shinagawa. 9. Data mentah yang didapat adalah Δh, Volume bahan bakar, dan Waktu Pada penelitian kali ini orifis yang digunakan pada sistem suplai bahan bakar adalah 0.8 mm dengan Δh back pressure = 300 mm. Hasil buangan bahan bakar dari Wet Gas Meter Shinagawa harus langsung dibakar (Flare), hal ini dilakukan untuk mencegah akumulasi bahan bakar dalam udara luar yang berbahaya jika terkena api atau terhirup karena melebihi ambang batas yang diperbolehkan. 22

Propana N 2 Gambar 3.8 Skema kalibrasi sistem suplai bahan bakar 3.2.3 Prosedur Purging Proses purging merupakan proses pembersihan seluruh sistem suplai saluran bahan bakar dari udara. Proses ini dilakukan sebelum dan sesudah melakukan kalibrasi sistem saluran bahan bakar dengan mengalirkan gas nitrogen masuk kedalam sistem tersebut untuk memastikan tidak adanya udara yang dapat mengakibatkan reaksi pembakaran terjadi. Prosedur-prosedur dalam melakukan proses purging, yaitu: 1. Tutup saluran bahan bakar yang masuk kedalam manometer tabung U sebelum dan sesudah melakukan kalibrasi sistem saluran bahan bakar 2. Buka saluran nitrogen yang masuk kedalam manometer tabung U dengan cara membuka penuh tekanan keluar pada tabung. (Pastikan terlebih dahulu bahwa needle valve untuk mengatur masuknya fluida pada manometer tabung U dalam keadaan tertutup). 3. Atur tekanan nitrogen yang masuk kedalam manometer tabung-u sebesar 1-2 kg/cm 2. Pembacaan angka ini dapat ditunjukkan pada pressure regulator. 4. Buka katup jarum back pressure pada manometer tabung-u secara penuh dan katup jarum pada manometer tabung-u lainnya secara perlahan. 23

5. Lakukan purging dengan mengalirkan nitrogen pada sistem suplai bahan bakar sebanyak 3X putaran penuh pada penunjukan jarum Wet Gas Meter Shinagawa dengan disertai dengan membakar bahan bakar (Flare) sampai padam untuk memastikan bahwa tidak adanya sisa udara yang dapat tercampur pada saat kalibrasi sistem suplai bahan bakar. 6. Tutup saluran nitrogen yang masuk kedalam manometer tabung-u pertama dengan menutup valve yang terdapat pada saluran masuk nitrogen 7. Melepaskan seluruh instalasi yang berhubungan dengan Wet Gas Meter Shinagawa. Propana N 2 Gambar 3.9 Skema proses purging Selain setelah melakukan kalibrasi sistem suplai bahan bakar, untuk setiap pengambilan data, sistem juga harus dibersihkan dengan mengalirkan nitrogen ke dalamnya. 3.2.4 Prosedur Pengambilan Data 3.2.4.1 Pengukuran Limit Stabilitas Nyala Stabilitas nyala merupakan kemampuan nyala untuk dapat menjaga dari fenomena flash back, lift off hingga ditandai dengan padamnya nyala (extinct). Tingkat kemampuan untuk menjaga nyala dari ketiga fenomena diatas inilah yang nantinya digunakan sebagai batas antara nyala stabil dan padam. 24

Adapun prosedur-prosedur dalam melakukan pengukuran limit stabilitas nyala difusi pada medan aliran berlawanan ini adalah sebagai berikut: 1. Pastikan seluruh sistem saluran bahan bakar dan udara sudah terpasang dengan benar. 2. Lakukan pengaturan untuk parameter-parameter geometri terlebih dahulu, seperti diameter dalam nosel, vortex generator, rasio jarak nosel terhadap diameter dalam nosel. 3. Pastikan bahwa kedua nosel yang saling berlawanan tersebut sudah simetris 4. Alirkan bahan bakar keluar dari tabung dengan mengatur tekanan keluar 1-2 kg/cm 2 (dapat dilihat pada pressure regulator). 5. Pastikan bahwa needle valve bahan bakar dalam kondisi sepenuhnya tertutup (fully closed) dan needle valve back pressure dalam kondisi sepenuhnya terbuka (fully opened). 6. Buka needle valve bahan bakar secara perlahan untuk mengalirkan bahan bakar masuk kedalam sistem. Dan tentukan perbedaan ketinggian permukaan Δh bahan bakar yang akan digunakan. 7. Nyalakan pemantik api pada keluaran nosel bahan bakar 8. Tutup needle valve back pressure bahan bakar secara perlahan untuk mengatur Δh back pressure yang akan digunakan. 9. Alirkan udara dari kompresor ke sistem dengan mengatur tekanan keluar 1-2 kg/cm 2 10. Buka needle valve udara dan tutup needle valve back pressure udara secara perlahan untuk mengalirkan udara ke nosel. 11. Jaga nilai Δh back pressure tetap konstan, dan alirakan udara secara perlahan sampai terjadi extinct. 12. Data mentah yang didapat adalah Δh udara pada saat terjadi extinct dan Δh bahan bakar yang yang diatur. 13. Lakukan proses purging untuk membersihkan bahan bakar dalam sistem, sehingga yang tersisa dalam sistem adalah nitrogen. 25

Gambar 3.10 Skema pengukuran stabilitas nyala 3.2.4.2 Metode Penelitian Dalam penelitian yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik limit stabilitas nyala dan juga untuk mengamati visualisasi yang terjadi ini, beberapa parameter yang diatur diantaranya: 1. Kecepatan injeksi bahan bakar (V f ) yang diperoleh dari data mentah Δh bahan bakar pada manometer. Dalam hal ini Δh bahan bakar diatur setiap kenaikan 50 mm, dengan dimulai dari Δh = 50 mm sampai dengan Δh = 400 mm. 2. Kecepatan injeksi udara (V o ) yang diperoleh dari data mentah Δh udara pada manometer. Data mentah berupa Δh udara yang dicatat dalam hal ini adalah Δh udara pada saat terjadi extinct (nyala api padam) setiap kenaikan Δh bahan bakar. 3. Letak Vortex generator pada nosel 4. Rasio jarak antar nosel bahan bakar dan udara dengan diameter dalam nosel (L/d) yang diatur dalam 3 variasi yaitu: 2.7, 2.43, 2.16. 26

5. Diameter dalam nosel yang digunakan, yaitu dengan 3 variasi ukuran 18.5, 8.5, 5.5. 6. Δh Back pressure = 300 mm Data mentah hasil pengukuran udara dan bahan bakar (Δh) yang didapat dikonversikan kedalam persamaan kalibrasi udara-bahan bakar. Berikut ini adalah persamaan yang dipakai untuk mengkonversikan data mentah stabilitas nyala yang berupa Δh menjadi data kecepatan, baik kecepatan udara (V o ) maupun kecepatan bahan bakar (V f ). Persamaan tersebut didapat berdasarkan percobaan pada tiap diameter orifis untuk menetapkan kecepatan aliran udara yang dibutuhkan untuk dapat menyebabkan nyala padam (extinct). Gambar 3.11 Kurva persamaan kalibrasi kec. udara (V o ) untuk diameter nosel = 18.5 mm Gambar 3.12 Kurva persamaan kalibrasi kec. bahan bakar propana (V f ) untuk diameter nosel = 18.5 mm 27

Gambar 3.13 Kurva persamaan kalibrasi kec. udara (V o ) untuk diameter nosel = 8.5 mm Gambar 3.14 Kurva persamaan kalibrasi kec. bahan bakar propana (V f ) untuk diameter nosel = 8.5 mm Gambar 3.15 Kurva persamaan kalibrasi kec. udara (V o ) untuk diameter nosel = 5.5 mm 28

Gambar 3.16 Kurva persamaan kalibrasi kec. bahan bakar propana (V f ) untuk diameter nosel = 5.5 mm 29