IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. DATA ANTROPOMETRI PETANI PRIA KECAMATAN DRAMAGA

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN

Lampiran 1. Daftar pertanyaan wawancara (kuesioner) KUESIONER PENGGUNAAN KNAPSACK SPRAYER

METODE PENGUKURAN DATA ANTROPOMETRI

ANTROPOMETRI TEKNIK TATA CARA KERJA PROGRAM KEAHLIAN PERENCANAAN PRODUKSI MANUFAKTUR DAN JASA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

B A B III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

STUDI ANTROPOMETRI PETANI PRIA DAN APLIKASINYA PADA DESAIN CANGKUL DI KECAMATAN TRANGKIL, PATI, JAWA TENGAH SITI ASIYAH

BAB II LANDASAN TEORI

LEMBAR PENGAMATAN PENGUKURAN DIMENSI TUBUH

PERANCANGAN GERGAJI LOGAM DAN PETA KERJA UNTUK PENGURANGAN KELUHAN FISIK DI BENGKEL LAS SEJATI MULIA JAKARTA SELATAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

ERGONOMI DESAIN MEJA DAN KURSI SISWA SEKOLAH DASAR

MODUL I DESAIN ERGONOMI

BAB 6 HASIL PENELITIAN

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB 2 LANDASAN TEORI. tersebut digunakan sebagai dasar dan penunjang pemecahan masalah.

A. TEMPAT, WAKTU, PERALATAN DAN OBYEK PENELITIAN

PERANCANGAN ALSIN YANG ERGONOMIS

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat. B. Alat dan Bahan

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Hasil Perhitungan Seluruh Tahapan Menggunakan Metode REBA, REBA, OWAS & QEC

Bab 3. Metodologi Penelitian

INSTRUKSI KERJA. Penggunaan Kursi Antropometri Tiger Laboratorium Perancangan Kerja dan Ergonomi Jurusan Teknik Industri

BAB III METODE PENELITIAN

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PERANCANGAN SISTEM KERJA DAN ERGONOMI PENGUKURAN DIMENSI TUBUH MANUSIA (ANTROPOMETRI)

LAMPIRAN 1 (Tabel Antropometri)

PERANCANGAN ULANG KURSI ANTROPOMETRI UNTUK MEMENUHI STANDAR PENGUKURAN

LAMPIRAN A Data Anthropometry Orang Dewasa Di Indonesia

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

Desain Troli Ergonomis sebagai Alat Angkut Gas LPG

PERANCANGAN KURSI KERJA BERDASARKAN PRINSIP-PRINSIP ERGONOMI PADA BAGIAN PENGEMASAN DI PT. PROPAN RAYA ICC TANGERANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PERANCANGAN SISTEM KERJA DAN ERGONOMI PENGUKURAN DIMENSI TUBUH MANUSIA (ANTROPOMETRI)

INSTRUKSI KERJA. Penggunaan Kursi Antropometri Tiger Laboratorium Perancangan Kerja dan Ergonomi Jurusan Teknik Industri

PERANCANGAN GERGAJI LOGAM UNTUK PENGURANGAN KELUHAN FISIK DI BENGKEL LAS SEJATI MULIA JAKARTA SELATAN

USULAN PERBAIKAN RANCANGAN MEJA-KURSI SEKOLAH DASAR BERDASARKAN PENDEKATAN ERGONOMI PADA SISWA/I DI SDN MERUYUNG

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V HASIL DAN ANALISA

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

RANCANG ULANG WHEELBARROW YANG ERGONOMIS DAN EKONOMIS

Perbaikan Fasilitas Kerja Divisi Decal Preparation pada Perusahaan Sepeda di Sidoarjo

Modul ke: Studio Desain II 10FDSK. Lalitya Talitha Pinasthika M.Ds Hapiz Islamsyah, S.Sn. Fakultas. Program Studi Desain Produk

ASPEK ERGONOMI DALAM PERBAIKAN RANCANGAN FASILITAS PEMBUAT CETAKAN PASIR DI PT X.

III. METODOLOGI PENELITIAN

METHOD ENGINEERING & ANTROPOMETRI PERTEMUAN #10 TKT TAUFIQUR RACHMAN ERGONOMI DAN PERANCANGAN SISTEM KERJA

ABSTRAK. vii Universitas Kristen Maranatha

Latihan Kuatkan Otot Seluruh Badan

BAB V HASIL DAN ANALISA

Dian Kemala Putri Bahan Ajar : Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi Teknik Industri Universitas Gunadarma

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

Abdul Mahfudin Alim, M.Pd Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta

DAFTAR ISI. 2.2 Teori Domino Penyebab Langsung Kecelakaan Penyebab Dasar... 16

BAB III METODE PENELITIAN

:Dr. Ir. Rakhma Oktavina, MT

BAB 2 LANDASAN TEORI

Jurnal Ilmiah Widya Teknik Volume 16 Nomor ISSN

RANCANG BANGUN ALAT PERONTOK BULU AYAM UNTUK MENINGKATKAN KEHIGIENISAN

MANUAL PROSEDUR PENGGUNAAN KURSI ANTROPOMETRI

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB 2 LANDASAN TEORI

STUDI ANTROPOMETRI DAN GERAK KERJA PEMANEN KELAPA SAWIT SERTA APLIKASINYA UNTUK PENYEMPURNAAN DESAIN ALAT PANEN SAWIT (EGREK DAN DODOS)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

IV. METODOLOGI A. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN B. ALAT DAN BAHAN C. METODE PELAKSANAAN MAGANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA A. GEBOT (PAPAN PERONTOK PADI)

ANALISIS POLA BUSANA Oleh: As-as Setiawati

BAB 9. 2D BIOMECHANICS

TUGAS AKHIR PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT UKUR SUDUT TANGAN DAN KAKI MANUSIA. (Studi Kasus Laboratorium Teknik Industri-UMS)

ANALISIS POSTUR KERJA DAN KELUHAN PEKERJA PADA AKTIVITAS PEMOTONGAN BAHAN BAKU PEMBUATAN KERIPIK

Universitas Sumatera Utara

IMPLEMENTASI KONSEP ERGONOMI PADA PEMBUATAN ALAT TENUN TRADISIONAL MENGGUNAKAN PRINSIP PERANCANGAN YANG DAPAT DISESUAIKAN

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

Angkat kedua dumbbell ke depan dengan memutar pergelangan tangan (twist) hingga bertemu satu sama lain.

Perancangan ulang alat penekuk pipa untuk mendukung proses produksi pada industri las. Sulistiawan I BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

ANTROPOMETRI PETANI WANITA DAN APLIKASINYA PADA DESAIN GAGANG SABIT. Oleh: DAVID RADITYA PRATAMA F

BAB V ANALISA DAN HASIL. semua proses kerja yang akan dijelaskan pada tabel dibawah ini.

PERANCANGAN ALAT BANTU PEMINDAHAN GALON AIR MINERAL (STUDI KASUS: DEPOT AIR MINERAL PEKANBARU)

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

KATA PENGANTAR. Jurnal Ilmiah Teknik Industri dan Informasi -- 1

BAB IV PEMBAHASAN 4. Pembahasan 4.1 Pengumpulan Data 4.2 Pengolahan Data

1 Asimetri Kemampuan usia 4 bulan. selalu meletakkan pipi ke alas secara. kedua lengan dan kepala tegak, dan dapat

DAFTAR ISI. vii. Unisba.Repository.ac.id

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

Gambar 3.1 Metodologi Penelitian

BAB VI PEMBAHASAN. Subjek pada penelitian ini semua berjenis kelamin wanita dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III MOTODE PENELITIAN

ANALISIS RANCANGAN A. KRITERIA RANCANGAN B. RANCANGAN FUNGSIONAL

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Perencanaan rancangan produk perlu mengetahui karakteristik

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Data Antropometri Petani Wanita Kecamatan Dramaga Pengambilan data dilakukan secara acak dengan mengunjungi subjek yang ada di tiap-tiap desa, baik dengan langsung bertemu dengan subjek maupun melalui perantara pemuka atau tokoh masyarakat seperti ketua RT, ketua RW, dan ketua gapoktan. Beberapa dokumentasi selama pengukuran antropometri petani wanita di Kecamatan Dramaga disajikan pada Lampiran 5. Setelah dilakukan pengambilan data dari 10 desa di Kecamatan Dramaga, diperoleh data antropometri petani wanita secara ringkas seperti pada Tabel 5 berikut ini (data selengkapnya pada Lampiran 2) : Tabel 5. Ringkasan data antropometri petani wanita di Kecamatan Dramaga (pengukuran berdiri) No Parameter Standar deviasi PENGUKURAN BERDIRI (cm) 5 50 (Mean ) 95 1 Berat badan 3.5 42.7 48.4 54.0 2 Tinggi badan 2.4 149.0 153.0 156.9 3 Tinggi mata 4.9 131.1 139.1 147.1 4 Tinggi bahu 3.9 117.5 123.9 130.4 5 Tinggi siku tangan 3.3 90.3 95.8 101.2 6 Tinggi pergelangan tangan 3.3 68.0 73.4 78.8 7 Tinggi ujung tangan 3.4 50.0 55.5 61.0 8 Tinggi siku kaki 1.7 42.1 44.8 47.5 9 Tinggi telapak tangan 3.7 58.1 64.2 70.2 10 Tinggi selangkangan 2.3 69.2 72.9 76.6 11 Tinggi pinggul 3.7 80.2 86.3 92.5 12 Jangkauan ke depan 3.0 63.6 68.6 73.6 13 Jangkauan ke depan ( genggam ) 2.3 54.0 57.8 61.6 14 Panjang lengan atas 2.3 27.2 31.0 34.7 15 Panjang lengan 2.3 57.2 61.00 64.8 16 Lebar bahu 2.4 41.4 45.3 49.2 17 Jangkauan horizontal siku tangan 2.6 71.4 75.7 80.0 18 Jangkauan horizontal tangan 2.9 153.63 158.33 163.02 19 Panjang siku ke genggaman 2.8 29.3 33.8 38.3 20 Tinggi genggaman 7.3 63.8 67.5 71.3 21 Tinggi sandaran tangan 3.5 87.3 93.1 98.8 22 Lebar telapak kaki 1.3 8.8 10.9 13.0 23 Panjang telapak kaki 1.8 20.4 23.4 26.4

Tabel 6. Ringkasan data antropometri petani wanita di Kecamatan Dramaga (pengukuran duduk) PENGUKURAN DUDUK (cm) 1 Tinggi pantat ke lantai 1.4 40.2 42.5 44.7 2 Tinggi lutut 1.9 43.7 46.7 49.7 3 Tinggi pinggul 3.1 49.9 54.9 59.9 4 Tinggi bahu 2.9 79.9 84.6 89.3 5 Tinggi mata 3.2 94.8 100.1 105.4 6 Tinggi duduk 3.2 104.2 109.4 114.6 7 Tebal badan 1.2 19.4 21.3 23.2 8 Lebar pantat 2.6 26.9 31.0 35.3 9 Panjang siku ke ujung tangan 2.8 42.1 46.7 51.3 10 Panjang siku ke pergelangan 2.0 22.9 26.1 29.3 11 Tinggi siku tangan 2.8 58.1 62.8 67.5 12 Panjang pantat ke siku kaki 1.5 40.4 42.8 45.3 13 Panjang pantat ke lutut 1.3 46.8 49.0 51.1 14 Panjang pergelangan tangan 1.3 15.4 17.5 19.6 15 Panjang telapak tangan 0,2 9,2 9,5 9,8 16 Lebar telapak tangan 4 jari 0.2 8.2 8.5 8.8 17 Lebar telapak tangan 0.1 9.3 9.5 9.6 18 A. Keliling telapak tangan 0.8 15.3 16.7 18.1 B. Diameter genggaman tangan 0.1 3.8 3.9 4.0 B. Koefisien Korelasi Setelah dilakukan pengolahan data diperoleh hasil perhitungan, semua data menunjukkan nilai koefisien korelasi -1.00 s/d 1.00.. Koefisien korelasi (r) suatu korelasi antarparameter yang nilainya lebih besar dari korelasi antarparameter lain berarti korelasi antarparameter tersebut memiliki hubungan yang lebih erat dari korelasi antarparameter lain. Hasil perhitungan nilai koefsien korelasi antarparameter antropometri dapat dilihat pada Lampiran 3. Berikut adalah parameter antropometri yang memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0.9 dapat dilihat pada Tabel 6 sebagai berikut : Tabel 7. Parameter dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0.9 Parameter Koefisien Korelasi 1. Berat badan dengan lebar telapak tangan (5 jari) 0.9 2. Tinggi badan dengan panjang lengan atas 0.9 3. Tinggi badan dengan lebar bahu 0.9 4. Panjang lengan atas dengan panjang lengan 0.9 5. Panjang lengan atas dengan lebar bahu 0.9 6. Panjang lengan dengan lebar bahu 0.9 7. Panjang lengan dengan tebal badan 0.9 8. Lebar bahu dengan tebal badan 0.9 23

Dari tabel nilai koefisien korelasi antarparameter antropometri (Lampiran 3), keeratan hubungan antarparameter menunjukkan bahwa : 1. Parameter tinggi badan berkorelasi cukup kuat dengan parameter tinggi bahu. Hal ini menunjukkan bahwa tinggi bahu cukup terkait dengan parameter tinggi badan, semakin besar tinggi bahu seseorang maka akan cukup mempengaruhi tinggi badannya, begitupun sebaliknya. 2. Parameter jangkauan ke depan berkorelasi kuat dengan parameter jangkauan ke depan saat menggenggam. Hal ini menunjukkan semakin besar jangkauan ke depan sesorang maka akan semakin besar pula jangkauan ke depannya pada saat menggenggam, begitupun sebaliknya. 3. Parameter panjang lengan atas memiliki korelasi yang kuat sekali dengan parameter panjang lengan, hal ini berarti rasio panjang lengan atas seseorang dengan panjang panjang lengannya adalah seragam. C. Aplikasi Antropometri Pada Desain Gagang Sabit Di daerah Kabupaten Bogor, khususnya Kecamatan Dramaga, perontokan padi masih menggunakan cara manual, yaitu dengan cara digebot. Karena perontokan dilakukan dengan cara digebot, maka pemanena padi dengan sabit, dilakukan dengan cara potong bawah. Untuk pemanenan padi dengan cara potong bawah, dianjurkan menyisakan batang setinggi 20 cm dari tanah. Cara pemanenannya, tangan kiri memegang batang beserta daun padi dan bulir gabahnya, tangan kanan melakukan pemotongan dengan sabit (Utomo & Nazaruddin 39). Berdasarkan pengambilan data sabit yang digunakan di Kecamatan Dramaga, petani menggunakan sabit yang mempunyai ukuran sebagai berikut ; 1. Panjang gagang sabit sebesar 25.42 cm 2. Diameter gagang sabit sebesar 3.5 cm untuk diameter gagang terjauh dari mata sabit, dan 3.0 cm untuk diameter gagang sabit terdekat dari mata sabit. 3. Panjang total mata sabit sebesar 13.70 cm dan panjang mata sabit dari ujung hingga bagian yang tajam sebesar 14.61 cm. Dalam melakukan pekerjaan menyabit, petani melakukan gerakan-gerakan, namun dari gerakangerakan tersebut manusia sebenarnya memiliki selang alami gerakan tubuh. Berdasarkan selang gerakan, pada saat melakukan penyabitan terjadi beberapa gerakan yaitu pada tulang belakang, punggung, dan pergelangan tangan, seperti disajikan pada Gambar 14. Gambar 14. Macam-macam selang gerakan pada saat menyabit ) Chaffin (1999) dan Woodson (1992) dalam Openshaw (2006)) 24

Gambar 15. Pemotongan padi dengan sabit 25

Gambar 15 diperoleh dari pengolahan hasil analisi gerak. Dari video yang diambil, dicari gambar-gambar yang menunjukkan satu siklus gerakan menyabit dari seorang petani. Untuk melihat gambar 15 diatas, dimulai dari kiri ke kanan. Pada frame 1, dapat dilihat petani dalam posisi berdiri sebelum memulai gerakan menyabit. Pada frame 2, terlihat petani mulai menunduk, pada frame 3, terlihat petani meraih padi yang akan dipotong dengan tangan kiri, pada frame 4 terlihat sabit yang digenggam petani dengan tangan kanan tepat berada pada padi yang akan dipotong, pada frame 5 terlihat padi telah terpotong oleh sabit, siklus pemotongan padi dengan menggunakan sabit berlangsung selama 3 kali, yang dapat dilihat pada frame 6 sampai frame 21, sedangkan pada frame 22 terlihat petani mulai berdiri kembali untuk meletakkan padi yang telah dipotong, dan pada frame 23 terlihat petani telah meletakkan padi yang telah dipotong pada tumpukan padi. Dari gerakangerakan tersebut terdapat beberapa parameter antropometri yang terkait dengan desain tangkai sabit, yaitu : Tabel 8. Parameter antropometri yang terkait dengan desain gagang sabit No Parameter Antropometri Dimensi Ke-5 Ke-50 Ke-95 1 Tinggi pinggul 80.20 86.30 92.50 2 Tinggi bahu 117.50 123.90 130.40 3 Tinggi badan 149.00 153.00 156.90 4 Panjang lengan 57.20 61.00 64.80 5 Panjang lengan atas 27.20 31.00 34.70 6 Panjang telapak tangan 9.60 11.50 13.40 7 Lebar bahu 41.4 45.3 49.2 8 Lebar telapak tangan (4 jari) 8.20 8.50 8.80 1. Panjang Gagang Sabit Jika memperhatikan slow motion dari gerakan menyabit maka dapat terlihat pada Gambar 18 awalan serta akhiran dari gerakan menyabit. Dalam pengamatan Gambar 15 pada frame 4 terlihat bahwa mata sabit tepat mengenai padi. Maka, dari posisi tersebut dapat dianalisis bahwa panjang gagang sabit dapat ditentukan pada saat posisi tersebut. Untuk lebih jelas, dapat dilihat dan diperbesar Gambar 16 berikut : Gambar 16. Posisi mata sabit tepat mengenai padi 26

Dengan menggunakan software Autocad 2009 maka dapat diolah gambar yang diambil dari lapangan tersebut sehingga dapat diperoleh sudut lengan bawah tangan terhadap posisi vertikal sebesar 24. Selain itu, sudut membungkuknya tulang belakang secara fleksi (flexion) juga dapat diperoleh yaitu sebesar 57, sudut yang dibentuk oleh bahu aduksi sebesar 40 dan sudut yang dibentuk oleh pergerakan pergelangan tangan secara deviasi ulmar sebesar 35. Berdasarkan gambar di atas, dapat dilihat bahwa sudut yang dibentuk oleh tulang belakang (57 ), tidak termasuk kedalam zona gerakan yang nyaman, dimana untuk gerakan tulang belakang sudut maksimum untuk membungkuk adalah 46. Hal ini juga terjadi pada bahu aduksi (40 ) serta pergelangan tangan deviasi ulnar (35 ), sedangkan sudut maksimum yang diperbolehkan dalam bahu aduksi dan pergelangan tangan deviasi ulnar adalah sebesar 25. Selain itu, sudut yang dibentuk oleh lengan bawah fleksi (46 ) sudut yang dibolehkan dalam lengan bawah fleksi sebesar 60. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan gerakan menyabit, petani wanita tidak merasa nyaman dengan sudut membungkuk dan sudut lengan atas tersebut. Jika digambarkan dengan menggunakan data antropometri yang telah diperoleh dengan software Autocad 2009 yaitu bagaimana posisi petani pada posisi saat berdiri normal sebagai berikut (Gambar 17 dan Gambar 18). Gambar 17. Ilustrasi petani pada saat berdiri normal tampak samping Gambar 18. Ilustrasi petani pada saat berdiri normal tampak depan Sedangkan ilustrasi untuk sudut maksimum yang diperbolehkan dalam zona yang ergonomis sebagai berikut (Gambar 19). 27

Gambar 19. Ilustrasi petani pada posisi mata sabit tepat mengenai padi pada zona yang ergonomis Dari Gambar 19, sudut ACI (sebesar 46 ) adalah sudut yang terbentuk ketika petani menyabit pada saat mata sabit mengenai padi yaitu sudut membungkuk petani terhadap garis vertikal ke atas dengan pinggul sebagai porosnya. Sedangkan sudut QB 1 F 1 (sebesar 25 ) adalah sudut yang terbentuk ketika petani menyabit pada saat mata sabit mengenai padi yaitu sudut bahu terhadap titik 0, sudut JF 1 G 1 (sebesar 60 ) adalah sudut yang terbentuk oleh lengan bawah terhadap titik 0, sudut G 1 H 1 K (sebesar 25 ) adalah sudut yang terbentuk oleh panjang telapak tangan (G 1 H 1 ) dengan titik 0, dan sudut LH 1 P (sebesar 51 ) adalah sudut yang terbentuk antara sabit yang mengenai padi dengan gari lurus ke bawah. Jika kedua sudut itu diasumsikan terjadi pada tiga jenis postur tubuh manusia yaitu persentil ke-5, persentil ke-50, dan persentil ke-95 maka dapat diketahui panjang sabit tiap persentilnya pada posisi saat mata sabit mengenai padi. Dari Gambar 19 diidentifikasikan bahwa panjang DE (tinggi D) adalah berasal dari data antropometri petani wanita Kecamatan Dramaga pada parameter tinggi siku kaki, sedangkan panjang CE (tinggi C) pada parameter tinggi pinggul dan panjang B 0 CE pada parameter tinggi bahu serta panjang ACE pada parameter tinggi badan. Dari data panjang B 0 CE dan panjang CE dapat diperoleh data panjang B 0 C yaitu panjang B 0 CE dikurangi panjang CE. Selain itu, panjang B 1 F 1 G 1 berasal dari data antropometri petani wanita Kecamatan Dramaga pada parameter panjang lengan, sedangkan panjang B 1 F 1 parameter panjang lengan atas, panjang G 1 H 1 parameter panjang telapak tangan serta panjang B 0 B 1 didapat dari lebar bahu dibagi 2. Dari data panjang B 1 F 1 G dan panjang B 1 F 1 dapat diperoleh panjang F 1 G 1 yaitu panjang B 1 F 1 G 1 dikurangi panjang B 1 F 1. Untuk lebih mudah mengetahuinya, dapat dilihat Tabel 9 berikut: 28

Keterangan Tabel 9. Penjelasan Gambar 19 Dimensi ( cm ) ke-5 ke-50 ke-95 Tinggi Siku Kaki (DE) 42.10 44.80 47.50 Tinggi Pinggul (CE) 80.20 86.30 92.50 Tinggi Bahu (B 0 CE) 117.50 123.90 130.40 Tinggi Badan (ACE) 149.00 153.00 156.90 Panjang B 0 C 37.30 37.60 37.90 Panjang Lengan (B 1 F 1 G 1 ) 57.20 61.00 64.80 Panjang Lengan Atas (B 1 F 1 ) 27.20 31.00 34.70 Panjang Telapak Tangan (G 1 H 1 ) 9,21 9,52 9,83 Panjang F 1 G 1 30.00 30.00 30.10 Panjang B 0 B 1 20,70 22.65 24.60 Panjang sabit merupakan panjang dari perpanjangan dari titik H 1 yang menuju titik P hingga 20 cm di atas permukaan tanah. Untuk mendapatkan nilai panjang gagang sabit dapat diperoleh dari trigonometri sudut LH 1 P yaitu 51. Berdasarkan sudut maksimum zona 3 untuk tulang belakang membungkuk, dapat dihitung tinggi B 0, berikut ilustrasinya: Gambar 20. Ilustrasi perhitungan tinggi titik B 0 Untuk mendapatkan nilai tinggi B 0, terlebih dahulu harus mendapatkan panjang CM, B 0 C, dan B 0 I. Secara garis besar, dapat dirumuskan sebagai berikut : B 0 C = B 0 CE - CE CM = B 0 C x Cos B 0 CM di mana : B 0 CE = Tinggi Bahu (cm) CE = Tinggi Pinggul (cm) Sudut B 0 CI = 46 B 0 M = B 0 C - CM di mana : B 0 C = B 0 C = B 0 CE CE Tinggi B 0 = Tinggi B 0 B 0 M 29

di mana : Tinggi B 0 = B 0 CE = Tinggi Bahu Tinggi B 0 = Tinggi B 0 (B 0 C CM ) Dengan menggunakan rumus-rumus di atas maka dapat dilakukan perhitungan. Berikut hasil perhitungan panjang gagang sabit (Tabel 10). No. Keterangan Tabel 10. Perhitungan tinggi B 0 ke-5 Ke-50 ke-95 1 Nilai cos B 0 CI (cos 46 ) 0.695 0.695 0.695 2 Panjang B 0 C (dalam cm) 37.30 37.60 37.90 3 Panjang CM (dalam cm) 25.91 26.12 26.33 4 Panjang B 0 C = Panjang B 0 C (dalam cm) 37.30 37.60 37.90 5 Panjang B 0 M (dalam cm) 11.39 11.48 11.57 6 Tinggi B 0 = Panjang B 0 CE (dalam cm) 117.50 123.90 130.40 7 Tinggi B 0 (dalam cm) 106.11 112.42 118.83 Berdasarkan sudut yang dibentuk oleh bahu fleksi, dapat dihitung tinggi B 1, sebagai berikut : Gambar 21. Ilustrasi perhitungan tinggi titik B 1 Tinggi B 1 = Tinggi B 0 B 0 N Dengan : B 0 N = Panjang B 0 B 1 x Cos B 1 NB 0, dimana sudut B 1 NB 0 = 30 Berdasarkan sudut lengan bawah fleksi dapat dihitung tinggi F 1 dan tinggi G 1 sebagai berikut : Gambar 22. Ilustrasi perhitungan tinggi F 1 dan tinggi G 1 30

Tinggi F 1 = Tinggi B 1 B 1 Q Tinggi G 1 = Tinggi F 1 F 1 J Dengan : B 1 Q = Panjang F 1 B 1 x Cos F 1 B 1 Q, dimana sudut F 1 B 1 Q = 55 F 1 J = Panjang F 1 G 1 x Cos G 1 F 1 J, dimana sudut G 1 F 1 J = 60 Berdasarkan sudut pergelangan tangan deviasi ulmar dapat dihitung tinggi H 1 sebagai berikut : Gambar 23. Ilustrasi perhitungan panjang GO (Sudut Pergelangan Tangan) Tinggi H 1 = Tinggi G 1 G 1 O Dengan : G 1 O = Panjang G 1 H 1 x Cos H 1 G 1 O, dimana sudut H 1 G 1 O = 35 Berdasarkan sudut antara sabit yang mengenai padi dengan garis lurus ke bawah dapat dihitung panjang H 1 P sebagai berikut : Gambar 24. Ilustrasi perhitungan panjang H 1 P Panjang H1P Tinggi H1L Cos PH1L Dengan : H 1 L = 20 cm Sudut PH 1 L = 50 31

No. Keterangan Tabel 11. Perhitungan panjang H 1 P ke-5 Ke-50 ke-95 1 Tinggi B 0 (dalam cm) 106.11 112.42 118.83 2 Nilai Cos NB 0 B 1 ( Cos 30 ) 0.866 0.866 0.866 3 Panjang B 0 N (dalam cm) 17.93 19.62 21.30 4 Tinggi B 1 ( dalam cm ) 88.18 92.80 97.53 5 Cos F 1 B 1 Q ( Cos 25 ) 0.906 0.906 0.906 6 Panjang B 1 Q 24.65 28.10 31.45 7 Tinggi F 1 63.45 64.70 66.08 8 Cos G 1 F 1 J ( Cos 60 ) 0.5 0.5 0.5 9 Panjang F 1 J ( dalam cm ) 15 15 15.05 10 Tinggi G 1 48.45 49.70 51.03 11 Nilai Cos H 1 G 1 O ( Cos 35 ) 0.819 0.819 0.819 12. Panjang G 1 O 7.54 7.80 8.05 13 Tinggi H 1 40.91 41.90 42.98 14 Tinggi P ( Panjang H 1 N ) 20 20 20 15 Panjang H 1 setelah dikurangi Panjang H 1 L 20.91 21.90 22.98 16 Nilai Cos PH 1 L ( Cos 51 ) 0.629 0.629 0.629 17 Panjang H 1 P 33.23 34.80 36.52 Dengan demikian diketahui panjang H 1 P (panjang dari ujung genggaman tangan sampai ujung mata sabit bagian dalam atau mata sabit yang tajam) pada saat sabit mengenai padi untuk persentil ke- 5 sebesar 33.23 cm, persentil ke-50 sebesar 34.80 cm, dan persentil ke-95 sebesar 36.52 cm. Berdasarkan gambar yang diambil dari video pada saat petani menyabit padi, petani memegang gagang sabit di bagian ujung gagang terjauh dan sudut yang terbentuk (51 ) adalah sudut antara ujung genggaman tangan (yang terdekat dengan ujung mati sabit yang tajam) hingga ujung padi yang akan dipotong (20 cm diatas permukaan tanah) atau ujung mata sabit yang tajam dengan garis lurus kebawah tanah. Karena mata sabit yang digunakan tidak bisa diubah, dan berdasarkan pengambilan data di lapangan mengenai panjang mata sabit bagian dalam atau mata sabit yang tajam hingga ke ujung gagang terdekat mata sabit adalah sebesar 14.61 cm, maka panjang gagang sabit adalah panjang H 1 P dikurangi 14.61 cm ditambah lebar telapak tangan 4 jari (persentil ke-5 sebesar 8.20 cm, persentil ke-50 sebesar 8.50, dan persentil ke-95 sebesar 8.80 cm), dan didapatkan hasil gagang sabit untuk persentil ke-5 sebesar 26.82 cm, persentil ke-50 sebesar 28.69 cm, dan persentil ke-95 sebesar 30.71 cm. Berdasarkan perhitungan, panjang gagang sabit terkecil yang sesuai dengan data antropometri petani wanita adalah sebesar 26.82 cm (persentil ke-5) dan panjang gagang sabit terbesar adalah 30.71 cm (persentil ke-95). Sedangkan panjang gagang sabit yang digunakan pada saat ini adalah 25.42 cm. Dengan begitu dapat diketahui bahwa panjang gagang sabit yang digunakan saat ini tidak sesuai dengan data antropometri. Agar panjang gagang sabit sesuai dengan data antropometri serta dapat mengakomodasi populasi yang lebih luas, maka dianjurkan untuk memakai nilai prsentil ke-95 yaitu sebesar 30.71 cm. 32

2. Diameter Gagang Sabit Dalam menentukan diameter gagang sabit, ditentukan oleh cara menggenggam sabit itu. Hubungan antar diameter gagang sabit dan ukuran tangan penting dalam dua hal. Jika diameter gagang sabit terlalu kecil, maka tidak banyak energi yang digunakan dan begitu juga sebaliknya, jika diameter gagang terlalu besar, maka akan banyak energi yang dikeluarkan. Berdasarkan macammacam grip pada genggaman tangan, genggaman tangan yang sesuai untuk menggenggam sabit adalah tipe power grasp. Gambar 25. Cara menggenggam sabit Pembesaran Gambar Tabel 12. Parameter antropometri yang terkait dengan desain diameter gagang sabit ke-5 ke-50 ke-95 Diameter genggaman tangan 3.80 3.90 4.00 Lebar telapak tangan (4 jari). 8.20 8.50 8.80 Lebar telapak tangan (5 jari). 9.30 9.50 9.60 Keliling genggaman tangan 13.74 14.41 15.07 Berdasarkan observasi, untuk genggaman dapat terlihat pada gambar di atas bahwa genggaman yang digunakan adalah genggaman antara ibu jari dan jari telunjuk. Namun dapat dilihat, posisi ibu jari tidak berada tepat diujung telunjuk. Melainkan terjadi overlap sebesar 1 ruas jari. Maka dari itu, dalam mendesain diameter gagang sabit, digunakan data antropometri diameter genggaman tangan dengan member overlap sebanyak setengah ruas jari. Akan tetapi, data antropometri yang didapat berdasarkan pengukuran di lapangan adalah data antropometri tanpa overlap. Maka untuk menentukan diameter genggaman tangan dengan overlap setengah ruas jari, dilakukan interpolasi. Jika diasumsikan overlap satu ruas jari adalah 1.5 cm, maka untuk overlap setengah ruas jari akan terjadi overlap sebanyak 1.5cm. Dengan demikian maka keliling diameter genggaman dikurangi overlap sebanyak 1.5 cm, yaitu 12.24 cm ( ke-5), 12.91 cm (persentil ke-50), dan 13.57 (persentil ke- 95). Untuk mencari banyak overlap persentil ke-5, persentil ke-50, dan persentil ke-95 sebagai berikut : 1. ke-5 Persentase overlap keliling genggaman tangan = 1.5 cm / 13.74 cm X 100% = 10.92% Overlap persentil ke-5 ( dalam cm ) = 10.92 % X 3.80 cm = 0.42 cm 2. ke-50 Persentase overlap keliling genggaman tangan = 1.5 cm / 14.41 cm X 100% = 10.41% Overlap persentil ke-5 ( dalam cm ) = 10.41 % X 3.90 cm = 0.41 cm 3. ke-95 33

Persentase overlap keliling genggaman tangan = 1.5 cm / 15.07 cm X 100% = 9.96% Overlap persentil ke-5 ( dalam cm ) = 9.96 % X 4.00 cm = 0.40 cm Maka untuk mencari nilai persentil ke-5, persentil ke-50, dan persentil ke-95 setelah overlap setengah ruas jari adalah sebagai berikut : 1. ke-5 Setelah dikurangi overlap : 3.80 cm 0.42 cm = 3.38 cm 2. ke-50 Setelah dikurangi overlap : 3.90 cm 0.41 cm = 3.49 cm 3. ke-95 Setelah dikurangi overlap : 4.0 cm 0.40 cm = 3.60 cm Maka nilai persentil setelah dikurangi overlap masing-masing adalah sebesar 3.38 cm (persentil ke-5), 3.49 cm (persentil ke-50), dan 3.60 cm (persentil ke-95). Berdasarkan perhitungan, diameter gagang sabit terkecil yang sesuai dengan data antropometri petani wanita adalah sebesar 3.38 cm (persentil ke-5) dan diameter gagang sabit terbesar adalah 3.60 cm (persentil ke-95). Perbandingan ukuran panjang dan diameter gagang sabit yang digunakan saat ini oleh petani di Kecamatan Dramaga dengan ukuran hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Perbandingan ukuran gagang sabit yang digunakan saat ini dan hasil desain Keterangan Yang digunakan petani (cm) Hasil desain (cm) Panjang gagang sabit 25.42 30.71 Diameter terkecil gagang sabit 3.00 3.38 Diameter terbesar gagang sabit 3.50 3.60 Agar dapat mengakomodasi populasi yang lebih luas, maka ketiga nilai persentil tersebut digunakan dalam pemakaian diameter gagang sabit. Dimana nilai persentil ke-5 digunakan untuk diameter gagang sabit di bagian terdekat dengan mata sabit dan nilai persentil ke-95 dugunakan untuk diameter gagang sabit di bagian terjauh dari mata sabit. 34