6 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 21 Gipsum Gipsum merupakan mineral alami yang telah digunakan sebagai model gigitiruan sejak 1756 20 Gipsum yang dihasilkan untuk tujuan kedokteran gigi adalah kalsium sulfat dihidrat murni 2H 2 O) yang dipanaskan pada suhu 110-120 0 C sehingga terbentuk kalsium sulfat hemihidrat ½ H 2 O) 1,2 Proses pengerasan gipsum terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pertama berupa larutnya hemihidrat dan tahap kedua berupa presipitasi dihidrat yaitu kristal dihidrat mulai terbentuk hingga seluruh adonan dipenuhi oleh kristal dihidrat 3,17 211 Kegunaan Beberapa kegunaan gipsum dalam kedokteran gigi antara lain: 3,4,5 a Model dan die b Bahan cetak c Bahan tanam d Refractory investment e Pencatatan oklusal 212 Klasifikasi Menurut Spesifikasi ADA (American Dental Association) No 25, gipsum dapat diklasifikasikan menjadi: 6,8 a Tipe I Impression Plaster Tipe ini sering juga disebut soluble plaster 21 Digunakan untuk mencetak daerah edentulus, perbaikan gigitiruan dan pencatatan oklusal 20 Gipsum yang digunakan untuk mencetak tidak memerlukan kekuatan yang besar sehingga gipsum tipe ini dicampur dengan rasio air bubuk yang lebih besar Gipsum tipe ini
7 memerlukan konsistensi yang lebih tebal dan kaku sehingga menurunkan kemungkinan gipsum mengalir keluar dari sendok cetak saat dimasukkan ke dalam mulut 8 Untuk akurasi yang lebih baik setting ekspansi dari bahan ini harus rendah, sehingga produsen menambahkan aselerator atau retarder yang dapat mengendalikan setting ekspansi dan juga setting time 21 b Tipe II Model Plaster Gipsum tipe II digunakan pada tahap laboratoris seperti untuk membuat studi model dan untuk menyatukan model kerja dengan artikulator Gipsum tipe II dihasilkan dari gipsum yang dipanaskan pada suhu 110 0-120 0 C sehingga menghasilkan kristal β-hemihidrat yang poreus, mempunyai bentuk yang sangat tidak teratur dan jarak antar partikel yang besar sehingga menyebabkan reaksi pengerasan memerlukan banyak air 8 c Tipe III Dental Stone Gipsum tipe III biasanya digunakan sebagai model kerja dan sebagai lawan dari gigitiruan pada artikulator dalam pembuatan gigitiruan sebagian lepasan 8 Gipsum tipe III awalnya berwarna putih sehingga sulit dibedakan dengan gipsum tipe I dan II sehingga pabrik biasanya memberi warna kekuningan atau warna kapur lainnya, namun perlu diketahui bahwa pemberian warna pada gipsum tidak menentukan kualitas gipsum Gipsum tipe III dihasilkan dari gipsum yang dipanaskan pada suhu 125 0 C dibawah tekanan atmosfer sehingga mengalami dehidrasi dan kandungan airnya akan berkurang Setelah melalui proses dehidrasi, maka akan dihasilkan kristal α-hemihidrat yang lebih padat, kecil dan seragam Kekuatan kompresi gipsum tipe III adalah 20,7 MPa (3000 psi) sampai 34,5 MPa (5000 psi) Gipsum tipe III lebih kuat dan tahan terhadap abrasi dibandingkan dengan gipsum tipe II Setting time gipsum tipe III berkisar antara 12 ± 4 menit dengan setting ekspansi antara 0,00 hingga 0,20% 1,8,21 d Tipe IV Die Stone: High Strength Gipsum tipe IV digunakan sebagai die Gipsum tipe IV dihasilkan dengan memanaskan gipsum kedalam larutan CaCl 2 30% pada suhu 120 0-130 0 C yang terkandung didalamnya sehingga dihasilkan kristal α-hemihidrat yang lebih padat,
8 lebih besar dan lebih kuboidal daripada gipsum tipe III 8 Pada pencampuran gipsum tipe IV ini penggunaan air lebih sedikit dibandingkan dengan gipsum tipe III sehingga kekerasan gipsum ini lebih besar dari gipsum tipe III 6 e Tipe V Die Stone: High Strength, High Expansion Gipsum tipe V merupakan gipsum yang memiliki ekspansi yang lebih besar yaitu sekitar 0,1%-0,3% yang digunakan sebagai die untuk mengimbangi pengerutan casting logam pada saat pendinginan setelah pemanasan pada suhu tinggi 3,9 Proses pembuatan gipsum tipe IV dan V adalah sama, yang membedakannya adalah pada gipsum tipe IV dilakukan penambahan garam tambahan untuk mengurangi setting ekspansinya Gipsum tipe V mempunyai kekuatan kompresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan gipsum tipe IV Partikel gipsum tipe V sangat halus dan memiliki rasio air bubuk yang lebih rendah sehingga dihasilkan kekuatan kompresi gipsum yang lebih tinggi 8 213 Karakteristik Karakteristik gipsum meliputi: a Perubahan Dimensi Perubahan dimensi dipengaruhi oleh setting ekspansi dari gipsum Semakin tinggi atau besar nilai setting ekspansi maka perubahan dimensi semakin besar Normalnya toleransi setting ekspansi untuk gipsum keras adalah 0,08% sampai dengan 0,1% 10 b Kekuatan Kompresi Kerapuhan gipsum disebabkan oleh pengerutan volume gipsum selama proses hidrasi dan kandungan air yang terlalu banyak Model gigitiruan harus menggunakan gipsum yang tahan terhadap fraktur dan abrasi 3,16 c Setting Time Hidrasi gipsum dipengaruhi oleh banyaknya kandungan air Penambahan air pada pemanipulasian gipsum berguna untuk proses pengerasan gipsum, namun bila kandungan air terlalu besar akan menyebabkan setting time menjadi panjang 3,16
9 d Rasio Air Bubuk (W/P) Rasio air bubuk tiap jenis gipsum berbeda-beda tergantung pada jarak, ukuran dan bentuk dari kristal kalsium sulfat hemihidratnya Gipsum tipe II membutuhkan lebih banyak air pada pengadukan dikarenakan bentuk partikel gipsum tipe II tidak beraturan dan lebih poreus Gipsum tipe III membutuhkan lebih sedikit air daripada gipsum tipe II namun gipsum tipe III membutuhkan lebih banyak air dari pada gipsum tipe IV Jika air yang ditambahkan terlalu banyak, adonan menjadi lebih tipis dan lebih mudah dituang ke dalam mold tetapi setting time akan lebih panjang dan gipsum cenderung lebih lemah 1 e Setting Ekspansi Selama proses pengerasan gipsum, seluruh tipe gipsum akan mengalami ekspansi, namun hal ini harus dihindari semaksimal mungkin dalam pembuatan model gigitiruan karena dapat mempengaruhi perubahan dimensi gipsum Cara yang paling efektif dalam mengontrol setting ekspansi adalah dengan penambahan bahan kimia Setting ekspansi dapat dikurangi dengan menambahkan K 2 SO 4, NaCl atau boraks 1 Tabel 1 Karakteristik Gipsum 7,8 Kekuatan Kompresi Rasio Air Setting Setting Tipe Gipsum Bubuk Time Ekspansi Kg/cm 2 Psi (ml/gr) (menit) (%) I Impression Plaster 0,40-0,75 4 ± 1 0,00-0,15 40 ± 20 580±290 II Model Plaster 0,45-0,50 12 ± 4 0,00-0,30 min 90 1300 III Dental Stone 0,28-0,30 12 ± 4 0,00-0,20 min 210 3000 IV Die Stone: High Strength V Die Stone: High Strength, High Expansion 0,22-0,30 12 ± 4 0,00-0,10 min 350 5000 0,18-0,22 12 ± 4 0,10-0,30 min 490 7000
10 214 Manipulasi Manipulasi yang tepat dari bahan gipsum dapat mempengaruhi kinerja dari gipsum Manipulasi dapat dibagi menjadi beberapa fase yaitu pengukuran bubuk dan air, pengadukan, penuangan, dan desinfeksi 10,17 Setiap bahan gipsum memiliki rasio air bubuk yang dianjurkan Rasio air bubuk mempengaruhi konsistensi campuran, kekuatan material, setting time dan setting expansi Oleh karena itu, proporsi air dan bubuk yang benar sangat penting Jumlah air dapat diukur dengan menggunakan silinder pengukur volume sedangkan bubuk diukur dengan satuan massa dan bukan berdasarkan volume Tindakan mencampur bubuk dan air bersama-sama disebut pengadukan Pengadukan bahan gipsum dapat dilakukan dengan tangan atau mekanis Bahan plaster biasanya diaduk dengan tangan dalam mangkuk karet fleksibel Bahan stone dapat diaduk secara mekanis atau dengan tangan, namun bahan dental stone highstrength hampir selalu dengan metode pengadukan mekanis Saat gipsum diaduk dengan tangan, bubuk dan air diaduk menggunakan spatula dengan kecepatan sekitar 2 putaran per detik selama sekitar 1 menit Jika gipsum dicampur dengan mixer, operator harus mengaduk bubuk dan air dengan tangan selama beberapa detik untuk memastikan bahwa pengadukan mekanik akan bekerja secara efektif Terlepas dari metode yang digunakan untuk mencampur bahan, vibrator hampir selalu digunakan untuk membantu menghilangkan gelembung yang terbentuk selama pencampuran Biasanya, campuran tersebut digetarkan selama 10 sampai 15 detik untuk memaksa gelembung ke atas campuran Getaran juga digunakan untuk memudahkan memindahkan gipsum ke bahan cetak atau wadah lainnya Ada beberapa metode umum untuk menuangkan model atau cor Metode pertama, lembaran lilin lunak yang disebut boxing wax dilekatkan di pinggir cetakan kira-kira 1 cm di luar sisi jaringan hasil cetakan untuk memberikan dasar pada model Metode kedua dimulai dengan menuangkan gipsum pada gigi dan permukaan jaringan lunak hasil cetakan Cetakan yang telah diisi kemudian dibuatkan basis modelnya dengan cara menempatkan cetakan pada tumpukan campuran gipsum yang diletakkan di atas permukaan nonabsorbent seperti kaca Metode ketiga untuk
11 menuangkan model ini mirip dengan metode kedua tetapi menggunakan wadah yang disebut rubber base untuk membentuk dasar cetakan Model dan die dapat didesinfeksi dengan semprotan iodophor sesuai instruksi pabrik atau dengan cara merendamnya dalam larutan natrium hipoklorit 5% dengan pengenceran 1:10 selama 30 menit Model yang telah didesinfeksi harus diperiksa dengan cermat untuk melihat kerusakan permukaan, karena tidak semua desinfektan kompatibel dengan produk gipsum Tabel 2 Efek beberapa variabel pada proses manipulasi terhadap karakteristik gipsum 10 Memperbesar air/bubuk Meningkatkan Karakteristik Gipsum Variabel Setting Time Kekentalan Setting rasio kecepatan pengadukan Meningkatkan temperatur air yang akan dicampur dari 23 0 hingga 30 0 C Ekspansi Kekuatan Kompresi Meningkat Meningkat Menurun Menurun Menurun Menurun Meningkat Tidak ada efek Menurun Menurun Meningkat Tidak ada efek 22 Gipsum Daur Ulang Daur ulang merupakan suatu proses pengelolaan limbah sehingga dapat digunakan kembali untuk fungsi yang sama maupun fungsi yang lain 22 Beberapa prinsip pada proses daur ulang yaitu: A Syarat Limbah yang akan di daur ulang harus sejenis, sehingga perlu dilakukan proses pemisahan dan pengelompokan Kegiatan ini dapat dilaksanakan secara manual (dilakukan dengan tangan manusia secara langsung) maupun secara mekanis (dilakukan oleh mesin) 13,23 Tahapan berikutnya adalah pemurnian yaitu untuk
bawah ini 10 CaSO 4 ½ H 2 O + 1½ H 2 O CaSO 4 2H 2 O + 3900 kal/g mol 12 mendapatkan bahan/elemen semurni mungkin, baik melalui proses fisik, kimia, biologi, atau termal Pemurnian secara fisik misalnya dapat dilakukan dengan menggunakan magnet untuk memisahkan limbah gipsum dari bahan logam 13 B Mekanisme atau Pengelolaan Mekanisme atau pengelolaan yaitu proses mengolah limbah menjadi bahan yang siap pakai Pada penelitian Ibrahim (1995) dan Abidoye (2010) proses pengelolaan dilakukan dengan cara pemanasan kembali limbah gipsum Pada penelitiannya Abidoye (2010) melakukan pemanasan dengan menggunakan oven pada suhu 160 0 C selama 40 menit Berdasarkan penelitian tersebut dinyatakan bahwa gipsum tersebut dapat didaur ulang dan menunjukkan keadaan mikrostruktural jarum kristal yang mirip dengan gipsum komersial, tetapi terdapat molekul air yang terperangkap pada kisi kristal 11,13 Sebagian besar produk gipsum diperoleh dari batu gipsum alami Gipsum merupakan bentuk dihidrat dari kalsium sulfat 2H 2 O) yang pada pemanasannya akan kehilangan 1,5 gr mol dari H 2 O dan diubah menjadi kalsium sulfat hemihidrat ½ H 2 O) 2CaSO42H2O + pemanasan (CaSO4)2H2O + 3H2O Jika kalsium sulfat hemihidrat dicampur dengan air, reaksi sebaliknya terjadi dan kalsium sulfat hemihidrat diubah kembali menjadi kalsium sulfat dihidrat Oleh karena itu, dehidrasi parsial dari batu gipsum dan rehidrasi dari kalsium sulfat hemihidrat merupakan reaksi reversibel Secara kimiawi, reaksi dinyatakan seperti di Reaksi yang terjadi adalah reaksi eksoterm yang menghasilkan panas Bila 1 g mol kalsium sulfat hemihidrat bereaksi dengan 1,5 g mol air, maka akan dihasilkan 1 g mol kalsium sulfat dihidrat dan 3900 kalori dalam bentuk panas akan dilepaskan 10 Pada tahap pengelolaan, dapat dilakukan proses pencampuran yaitu untuk mendapatkan bahan yang lebih bermanfaat, misalnya sejenis limbah dicampur dengan bahan lain 23 Penambahan bahan lain, misalnya calcium chloride, dilakukan agar diperoleh peningkatan pada kekuatan kompresi bahan gipsum 24
13 C Faktor yang Mempengaruhi Lama penyimpanan dan keadaan lingkungan penyimpanan (suhu dan kelembapan) dapat mempengaruhi jumlah kandungan air dalam limbah gipsum 13 Sasaran utama adalah bagaimana mendapatkan bahan yang sebaik mungkin sesuai fungsi dari bahan daur ulang tersebut Upaya pertama daur ulang adalah bagaimana memisahkan limbah di sumbernya yang sebetulnya merupakan kegiatan yang mudah dilaksanakan 23 23 Model Gigitiruan Model gigitiruan merupakan replika yang mencakup jaringan keras dan lunak dari permukaan rongga mulut Model ini digunakan sebagai media untuk menentukan diagnosis, menjelaskan rencana perawatan dan proses perawatan kepada pasien, serta media pembuatan gigitiruan 25 231 Model Studi Model studi merupakan salah satu jenis dari model gigitiruan Model studi disebut juga dengan model diagnostik digunakan oleh dokter gigi untuk mengamati dan mempelajari keadaan rongga mulut pasien Umumnya model studi terbuat dari dental plaster atau gips tipe II 16,25 Kegunaan studi model adalah sebagai berikut: 3 a Memperlihatkan gambaran tiga dimensi dari keadaan jaringan keras dan lunak rongga mulut b Sebagai media pembelajaran tentang relasi oklusal dari lengkung rahang c Sebagai media pembelajaran tentang ukuran gigi, letak dan bentuk serta hubungan rahang d Sebagai media pembelajaran tentang jaringan keras dan lunak dalam pandangan lingual ketika gigi dioklusikan e Sebagai media perbandingan antara keadaan sebelum dan sesudah dilakukan perawatan f Sebagai media pembelajaran kepada pasien
14 g Sebagai media rekaman legal mengenai lengkung rahang pasien untuk keperluan asuransi, gugatan hukum dan forensik 232 Model Kerja Model kerja merupakan replika dari struktur rongga mulut yang digunakan sebagai media pembuatan gigitiruan Model kerja umumnya terbuat dari dental stone atau gips tipe III yang memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan tekanan selama prosedur laboratoris 25 Sifat-sifat ideal model kerja adalah sebagai berikut: 2 a Model harus kuat dan keras b Stabilitas dimensi harus dipertahankan selama dan setelah proses pengerasan c Tidak melengkung atau mengalami distorsi d Tidak pecah atau rusak selama proses laboratoris atau proses pengukiran malam e Cocok dengan semua jenis bahan cetak f Resisten terhadap abrasi dan fraktur 24 Perubahan Dimensi Perubahan dimensi biasanya dinyatakan sebagai persentase dari panjang semula atau volume Perubahan dimensi dipengaruhi oleh setting ekspansi dan ekspansi higroskopis Ekspansi massa gipsum dapat dideteksi selama perubahan dari partikel hemihidrat menjadi partikel dihidrat Setting ekspansi dapat dijelaskan berdasarkan mekanisme kristalisasi Proses kristalisasi digambarkan sebagai suatu pertumbuhan kristal kristal dihidrat dari nukleus yang saling berikatan satu dengan yang lainnya Bila proses ini terjadi pada ribuan kristal kristal selama pertumbuhan, suatu tekanan atau dorongan keluar dapat terjadi dan menghasilkan ekspansi massa keseluruhan sehingga gipsum mengalami perubahan dimensi Tumbukan atau gerakan dari kristal kristal ini menyebabkan terbentuknya mikroporus Volume eksternal hasil reaksi gipsum yang lebih besar daripada volume kristalin menyebabkan terbentuknya porus Oleh karena itu, struktur gipsum yang telah mengeras terdiri dari kristal kristal
15 yang saling terkait, di antaranya adalah mikroporus dan porus yang mengandung air berlebih Air tersebut diperlukan ketika pengadukan Namun, ketika mengering, kelebihan air tersebut menghilang dan ruangan kosong meningkat 9 Agar dapat menghasilkan model atau die yang akurat, setting ekspansi dari dental gipsum harus tetap dikendalikan Beberapa faktor yang mempengaruhi setting ekspansi pada dental gipsum adalah: a Rasio Air Bubuk Semakin tinggi rasio air bubuk maka akan semakin sedikit nukleus kristalisasi per unit volume sehingga ruangan antar nukleus lebih besar pada keadaan tersebut Akibatnya, pertumbuhan internal kristal kristal dihidrat akan semakin sedikit, demikian juga dengan dorongan keluar dari kristal kristal tersebut Hal itulah yang menyebabkan semakin tinggi rasio air bubuk, maka semakin rendah nilai setting ekspansinya Sebaliknya, penurunan rasio air bubuk meningkatkan setting ekspansi dengan cara meningkatkan jumlah nukleus kristalisasi dari partikel dihidrat 9 Selain menyebabkan setting ekspansi yang tinggi, penurunan rasio air bubuk juga menyebabkan lebih banyak panas yang dilepaskan 26 Namun menurut Michalakis (2009) setting ekspansi lebih dipengaruhi oleh bahan dan waktu dibandingkan dengan penambahan air 27 b Lama Pengadukan (mixing time) Sebagian kristal gipsum terbentuk langsung ketika gipsum berkontak dengan air Begitu pengadukan dimulai, pembentukan kristal ini meningkat Pada saat yang sama, kristal-kristal tersebut diputuskan oleh spatula (pengaduk) dan didistribusikan merata dalam adukan dengan hasil pembentukan lebih banyak nukleus kristalisasi Dalam jangka limitnya, semakin lama waktu pengadukan, maka akan meningkatkan jumlah nukleus kristalisasi dari partikel dihidrat Akibatnya, jalinan ikatan kristalin yang terbentuk akan semakin banyak, pertumbuhan internal dan dorongan keluar dari kristal-kristal dihidrat meningkat Hal inilah yang menyebabkan setting ekspansi gipsum meningkat sejalan dengan semakin lamanya waktu pengadukan untuk batasan waktu tertentu 9
16 c Penambahan Akselerator atau Retarder Penambahan bahan kimia dalam bentuk akselerator atau retarder, yang biasanya ditambahkan oleh pabrik untuk mengatur setting time, juga mempunyai efek untuk menurunkan nilai setting ekspansi dengan cara mengubah bentuk kristal dihidrat yang terbentuk Oleh karena itu, akselerator atau retarder disebut juga sebagai antiexpantion agent Bahan kimia yang biasanya digunakan sebagai akselerator adalah potassium sulfat, sedangkan yang digunakan sebagai retarder adalah boraks 17 d Lama Penyimpanan Menurut Michalakis (2009) sangat dipengaruhi oleh waktu dibandingkan dengan suasana lingkungan saat dilakukan pengukuran setting ekspansi Hal ini dikarenakan adanya pertumbuhan kristal yang berlangsung terus menerus selama material gipsum yang telah mengeras dibiarkan diudara Pertumbuhan kristal ini diakibatkan oleh masuknya uap air ke dalam mikroporeus yang mengakibatkan menurunnya tegangan permukaan sehingga kristal dapat tumbuh bebas Pada saat seluruh hemihidrat telah berubah menjadi dihidrat maka air yang terdapat pada gipsum akan menguap dan jumlah air akan berkurang sehingga akan terjadi pengerutan pada gipsum 27,28
reversibel 17 25 Kerangka Teori Mineral Gipsum 2H 2 O) dehidrasi Air Gipsum ½H 2 O) Klasifikasi Tipe I Tipe II Tipe III Tipe IV Tipe V Karakteristik Fungsi Setting Ekspansi Kekuatan Kompresi w/p Ratio Setting Time Model Kerja 2H 2 O) Limbah Dipengaruhi oleh: Lama Pengadukan Aselerator dan Retarder w/p Ratio Perubahan Dimensi Faktor yang Mempengaruhi Daur Ulang Mekanisme Syarat Air Gipsum Daur ulang ½H 2 O) Karakteristik Setting Ekspansi Kekuatan Kompresi Perubahan Dimensi w/p Ratio Setting Time Apakah terdapat perbedaan perubahan dimensi pada gipsum tipe III komersial dengan gipsum tipe III daur ulang sebagai bahan model kerja gigitiruan pada 2, 24, 72 jam dan 2 minggu setelah pencampuran?
18 18 26 Kerangka Konsep reversibel Mineral Gipsum 2H 2 O) dehidrasi Gipsum Komersial ½H 2 O) hidrasi Model Kerja 2H 2 O) daur ulang dehidrasi Gipsum Daur ulang ½H 2 O) Pertikel hemihidrat Bereaksi dengan molekul air Kristal dihidrat mulai bertumbuh Anusavice KJ (2003) Kristal berkontak satu dengan yang lain dan terjadi dorongan keluar dari kristal gipsum Abidoye LK dan Bello RA (2010) Sisa molekul air yang terperangkap dalam kisi kristal Lebih banyak ruang untuk pertumbuhan kristal Bereaksi dengan molekul air Kristal bertumbuh lebih bebas, interaksi antar kristal sedikit, dorongan keluar sedikit Semakin lama dibiarkan uap air akan masuk ke mikroporus Perubahan dimensi
19 27 Hipotesis Ada perbedaan perubahan dimensi pada gipsum tipe III komersial dengan gipsum tipe III daur ulang pada 2, 24, 72 jam dan 2 minggu setelah pencampuran