Non-Destuctive Test (NDT) & Interpretasi Foto Scanning Electron Microscope (SEM)

dokumen-dokumen yang mirip
Analisis Struktur Mikro (Metalografi)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Struktur Mikro Baja Tulangan Karbon Sedang

BAB I PENDAHULUAN. pressure die casting type cold chamber yang berfungsi sebagai sepatu pendorong cairan

Pemeriksaan secara visual dengan mata, kadang kadang memakai kaca pembesar. 2.

Pengukuran Ketebalan serta Posisi Cacat pada Sampel Carbon Steel dan Stainless Steel dengan Metode Ultrasonic Testing.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada tahun 2000-an berkembang isu didunia internasional akan dampak

BAB IV ANALISA DAN HASIL PENGUJIAN. Pengujian magnetik inspeksi yang dilakukan meliputi metode Dry Visible,

MMS KARAKTERISASI MATERIAL + LAB MICROSTRUCTURE ANALYSIS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu material yang sangat penting bagi kebutuhan manusia adalah

BAB IV HASIL DAN ANALISA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 4.1. Hasil pengelasan gesek.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB II PENGUJIAN-PENGUJIAN PADA MATERIAL

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

LAPORAN RESMI UJI ULTRASONIK (Ultrasonic Test)

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. suatu beton. Standar atau prosedur dalam menggunakan metode pengujian ini

BAB I PROSES MANUFAKTUR

BAB I PENDAHULUAN. ( Magnesium ditemukan dalam 60

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

III.METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan terhitung pada bulan Februari Mei

BAB V HASIL PENELITIAN. peralatan sebagai berikut : XRF (X-Ray Fluorecense), SEM (Scanning Electron

penetrant dan developer. Umumnya warna yang digunakan adalah putih untuk developer dan merah untuk penetrant.

BAB IV ANALISA. TERSEBUT DIAPLIKASIKAN UNTUK PENDETEKSIAN CACAT DALAM PADA MATERIAL BAJA. DENGAN

BAB IV ANALISA. tersebut diaplikasikan untuk pendeteksian cacat dalam pada material baja. Dengan

DASAR TEORI ULTRASONIC TEST

TEORI MEMESIN LOGAM (METAL MACHINING)

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT UJI NDT ULTRASONIC TEST DENGAN METODE MICROCONTROLLER

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 3 Metode Penelitian

METROLOGI INDUSTRI DAN STATISTIK

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Material Teknik Jurusan Teknik Mesin,

PROSES MANUFACTURING

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PRAKTIKUM PENGUJIAN TANPA MERUSAK

METODE SE DAN EBSD BERBASIS SEM SEBAGAI TEKNIK PENGAMATAN MIKROGRAF DAN KRISTALOGRAFI UNTUK ALLOY AUSTENITIC LOW-DENSITY STEEL Fe-30.5Mn-8.0Al-1.

Pengaruh Kecepatan Potong Pada Pemotongan Polymethyl Methacrylate Menggunakan Mesin Laser Cutting

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer.

BAB I PENDAHULUAN. Deteksi lingkungan merupakan suatu hal yang penting bagi robot, yang hal paling

RANCANG BANGUN SPESIMEN UNTUK KEBUTUHAN ULTRASONIC TEST BERUPA SAMBUNGAN LAS BENTUK T JOINT PIPA BAJA. *

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. oksidasi yang dilakukan dengan metode OM ( Optic Microscope) dan

Studi Eksperimen Perbandingan Laju Korosi pada Plat ASTM (American Society For Testing and Material) A36 dengan Menggunakan Variasi Sudut Bending

Studi Eksperimental tentang Pengaruh Parameter Pemesinan Bubut terhadap Kekasaran Permukaan pada Pemesinan Awal dan Akhir

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. Pembuatan spesimen dilakukan dengan proses pengecoran metode die

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. pesat sehingga untuk mentransmisikan energi yang besar digunakan sistem

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

Pengaruh Perlakuan Panas Terhadap Kekerasan Paduan Aluminum 7075

TUGAS PENYAMBUNGAN MATERIAL 5 RACHYANDI NURCAHYADI ( )

1 BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. DIAGRAM ALIR

UN SMA IPA Fisika 2015

Uji impak. Proses penyerapan energi ini akan diubah menjadi berbagai respon material, yaitu. Deformasi plastis Efek Hysteresis Efek Inersia

PENGARUH UNSUR Mn PADA PADUAN Al-12wt%Si TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK LAPISAN INTERMETALIK PADA FENOMENA DIE SOLDERING SKRIPSI

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Waktu dan pelaksanaan percobaan serta analisis sebagai berikut:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IX JIG DAN FIXTURE

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode eksperimen.

BAB IX JENIS DAN FUNGSI JIG DAN FIXTURE

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. T u g a s A k h i r

BAB IV PEMBAHASAN Data Pengujian Pengujian Kekerasan.

MODUL PRAKTIKUM METALURGI (LOGAM)

Gambar 4.1 Hasil anodizing aluminium 1XXX dengan suhu elektrolit o C dan variasi waktu pencelupan (a) 5 menit. (b) 10 menit. (c) 15 menit.

BAB II TEORI KEAUSAN. 2.1 Pengertian keausan.

Pengaruh Permeabilitas dan Temperatur Tuang Terhadap Cacat dan Densitas Hasil Pengecoran Aluminium Silikon (Al-Si) Menggunakan Sand Casting

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

JIG DAN FIXTURE. Jig dan fixture adalah alat pemegang benda kerja produksi yang digunakan dalam rangka membuat penggandaan komponen secara akurat.

PENGARUH PERLAKUAN PANAS BAJA AISI 1029 DENGAN METODA QUENCHING DAN MEDIA PENDINGIN TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN MAKRO STRUKTUR

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH PEREGANGAN TERHADAP PENURUNAN LAJU PERAMBATAN RETAK MATERIAL AL T3 Susilo Adi Widyanto

BAB III ULTRASONIK FLOWMETER TIPE CLAMP-ON

BAB III METODE PENELITIAN. Proses pengujian dapat dilihat pada diagram alir berikut ini:

III. METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini dilakukan pengujian oksidasi baja AISI 4130 pada

BAB 3 METODE PENELITIAN

Laporan Awal Praktikum Karakterisasi Material 1 PENGUJIAN TARIK. Rahmawan Setiaji Kelompok 9

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sifat kimia pada baja karbon rendah yang dilapisi dengan metode Hot Dip

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. perlakuan panas atau annealing pada lapisan sehingga terbentuk butiran-butiran

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

TIN107 - Material Teknik #5 - Mechanical Failure #1. TIN107 Material Teknik

BAB IV PEMBAHASAN. BAB IV Pembahasan 69

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

LAPORAN TUGAS AKHIR STUDY TENTANG CUTTING FORCE MESIN BUBUT (DESAIN DYNAMOMETER SEDERHANA)

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

Non-Destuctive Test (NDT) & Interpretasi Foto Scanning Electron Microscope (SEM) Irfan Fadhilah Program Studi Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganeca 10 Bandung 40132, Indonesia fadhilahirfan48@gmail.com Abstract. Non-Destructive Testing adalah suatu teknik pengujian yang digunakan untuk memeriksa kualitas objek atau material, tanpa menganggu atau merusak kinerja produk tersebut karena hanya menggunakan pengujian pada permukaan saja. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengukur ketebalan suatu spesimen dengan alat Ultrasonic Thickness Gauge (UTG) dan membandingkan hasilnya dengan Vernier Callipers, serta mengukur parameter parameter kekasaran dengan alat Surface Roughness Test (SRT) dan memprediksi perlakuan yang telah diterima oleh sampel. Percobaan UTG dilakukan dengan mengukur beberapa sampel dengan UTG lalu mengukurnya kembali dengan Vernier Callipers dan membandingkan hasilnya. Sementara untuk SRT dengan meletakkan spesimen lalu SRT akan mengukur parameter kekasaran permukaan dari spesimen. Kata kunci : UTG, SRT, SEM, sampel, pengukuran, hasil 1. Pendahuluan Non Destructive Testing (NDT) adalah proses memeriksa, mengetes atau mengevaluasi material atau paduan untuk kualitas aatu prbedaan sifatnya tanpa merusak performa produk tersebut [1]. NDT tidak merusak produk karena pada test NDT yang digunakan hanya permukannya saja[2]. NDT bertujuan untuk memeriksa kualitas dan karakteristik dari material tersebut tanpa merusak nya, memprediksi perlakuan perlakuan pada logam sebelumnya, dan memastikan produk yang sedang digunakan masih dapat dipakai dengan baik tanpa melepas bagian produk pada saat mengetesnya. Beberapa jenis NDT diantaranya adalah Ultrasonic Thickness Gauge (UTG), Surface Roughness Test (SRT) dan Scanning Electron Microscope (SEM). Pada praktikum modul 5 alat yang digunakan adalah UTG dan SRT. UTG adalah alat yang menggunakan penjalaran gelombang ultrasonik dalam melakukan pengukuran [2]. UTG digunakan untuk menghitung ketebalan suatu material. Dalam penggunaannya UTG harus dioleskan cairan couplant terlebih dahulu di permukaan material yang akan diukur. Lalu lakukan pengukuran di 3 titik yang berbeda. Setelah itu lakukan pengukuran dengan Vernier callipers dan bandingkan hasilnya. SRT adalah metode NDT yang digunakan untuk mengukur parameter kekasaran permukaan yaitu Ra, Rz, Rq dan Rmax[2]. Cara penggunaannya adalah dengan cara meletakkan metal blok yang akan diukur dibawah dial indicator, lalu SRT akan mengukur dan mencetak hasil pengukuran berupa parameter kekasaran.

2. Metode Percobaan Alat yang dibutuhkan untuk percobaan ini adalah Ultrasonic Thickness Gauge dan Surface Roughness Test. Sementara bahan yang dibutuhkan adalah Test piece UTG, Metal block SRT dan couplant. Pertama tama kita melakukan percobaan dengan UTG, mula mula siapakan alat UTG dan kalibrasikan alat tersebut, atur frekuensi sesuai dengan jenis logam yang ketebalannya akan diukur, lalu siapkan beberapa test piece, lalu oleskan couplant pada 3 titik yang berbeda dari permukaan test piece UTG, setelah itu tempelkan probe pada ketiga titik tersebut dan UTG akan menampilkan hasilnya pada layar UTG, catat hasilnya, setelah diukur pada 3 titik yang berbeda pada material tersebut lakukan juga pengukuran dengan Vernier Callipers untuk material tersebut dan catat juga hasilnya, lalu bandingkan hasil pengukuran dengan UTG dan Vernier Callipers. Setelah menggunakan UTG kita melakukan percobaan dengan SRT. Mula mula siapkan SRT dan kalibrasikan alatnya, lalu letakkan metal blok di bawah dial indicator, lalu atur posisi dial indicator sehingga ujung dari dial indicator berada dalam posisi stabil (di tengah skala) pada pembacaan skala tekanan terhadap permukaan objek pengukuran, masukkan faktor-faktor yang ingin diperiksa dari permukaan objek (Ra,Rq,Rz dan Rmax), lalu klik run hasil dan print untuk mencetak hasil pengukuran. Sementara itu untuk uji dengan menggunakan SEM, ruangan yang diperlukan harus dalam kondisi vakum karena prinsip SEM adalah dengan penembakkan elektron pada sampel agar elektron tidak berpencar. Selain itu sampel yang digunakan juga harus terbebas dari kandungan air, karena air akan menguap pada kondisi vakum dan bisa mempengaruhi hasil, penguji juga harus memakai sarung tangan sepanjang percobaan SEM,selain itu biasanya juga sampel dimounting terlebih dahulu dengan carbon tapes atau copper tapes, jika yang akan diuji material berbentuk powder maka sebaiknya dibuat dalam bentuk volatile solvent terlebih dahulu, dan jagalah agar ruangan SEM tetap bersih. SEM juga biasanya dihubungkan dengan komputer dan bisa diperbesar sampai 3 juta kali dan dengan komputer dan softwarenya kita bisa melihat komposisi dan informasi kristalografi. Namun karena biaya pemakaian SEM ayng mahal maka sebelum melakukan percobaan hendaknya mencari cari informasi tentang gambaran struktur atau komposisi yang akan diamatai pada literatur sehingga tidak membuang biaya. 3. Hasil dan Pembahasan Ultrasonic Thickness Gauge (UTG) merupakan alat yang digunakan untuk mengukur ketebalan dari suatu material dengan menggunakan gelombang ultrasonik. Prinsip kerja UTG adalah transmitter akan memancarkan gelombang ultrasonik menembus permukaan benda dan dipantulkan kembali ke receiver. Dengan cara mengukur waktu yang diperlukan oleh gelombang untuk merambat dari probe hingga mencapai dasar material lalu kembali lagi ke probe, kita bisa mengetahui ketebalan material tersebut. selama perambatannya gelombang dipengaruhi oleh sifat bahan yang dilalui seperti massa jenis dan homogenitas. no sampel Material UTG (mm) Rata-rata UTG (mm) VC (mm) Rata-rata VC (mm) 17,9 19,4 17,9 19,3 1 A Steel 17,9 17,9 19,2 19,3 1,3 1,25 1,3 1,3 2 B Steel 1,3 1,3 1,25 1,266666667 4,4 4,4 4,5 4,4 3 C Steel 4,2 4,366666667 4,2 4,333333333 1,4 1,45 1,4 1,5 4 D Al 1,5 1,433333333 1,5 1,483333333 0,5 0,5 0,4 0,5 5 E Al 0,4 0,433333333 0,5 0,5

Tabel 1. Data hasil pengukuran UTG dan Vernier Callipers Berdasarkan data yang sudah dipaparkan diatas, dapat dilihat bahwa pengukuran menggunakan Vernier Callipers dan UTG menghasilkan hasil yang berbeda tipis. Perbedaan terbesar jika dihitung dari rata rata nya ada pada sampel A yaitu sebesar 1,4 mm. Sementara untuk sampel lain menghasilkan perbedaan pengukuran yang sangat kecil, sehingga dapat dikatakan kedua alat bekerja dengan baik. Perbedaan hasil diantara keduanya diakibatkan oleh keduanya memiliki prinsip kerja yang berbeda, dimana UTG memiliki prinsip kerja berdasarkan gelombang ultrasonik dan vernier Callipers berdasarkan mekanik. Pada perambatannya, gelombang UTG dapat dipengaruhi oleh struktur dalam logam seperti pengotor yang ada di logam bisa saja mempengaruhi perambatan gelombang, sementara Venier callipers hanya mengukur jarak antara 2 permukaan sehingga tidak dipengaruhi oleh struktur dalam logam. Struktur dalam logam bisa saja memperlambat perambatan gelombang ultarsonik pada UTG sehingga mengakibatkan perbedaan hasil pengukuran. Selain itu terkadang pada UTG pemberian couplant yang terlalu sedikat dapat menyebabkan tidak akuratnya hasil, hal itu karena jika tidak ada couplant maka pengukuran dengan menggunakan UTG tidak bisa dilakukan. UTG dan Vernier callipers (jangka sorong) sama sama dapat digunakan untuk mengukur panjang suatu material. Namun penggunaan UTG akan menyulitkan jika material yang akan diukur ketebalannya mudah dibongkar pasang atau untuk material satuan kecil, karena penggunaan UTG membutuhkan couplant, oleh karena itu untuk material satuan kecil pengukuran akan lebih mudah jika digunakan jangka sorong dan hasilnya kurang lebih akan sama dengan UTG. Sementara untuk mengukur ketebalan material yang sudah terpasang dan sedang digunakan seperti mengukur ketebalan pipa yang terkorosi, maka digunakan UTG, karena penggunaan UTG tidak perlu membongkar pasang pipa tersebut, cukup menempelkan pada bagian permukaan pipa yang akan diukur saja. Surface Roughness Test (SRT) adalah metode NDT yang digunakan untuk mengukur parameter kekasaran permukaan. Pengukuran kekasaran diperoleh dari sinyal pergerakan stylus berbentuk diamond untuk bergerak sepanjang garis lurus pada permukaan sebagai alat indikator pengukuran kekasaran permukaan benda uji. Gambar 1. Hasil SRT Gambar 2. Tabel hubungan Ra terhadap perlakuan yang diterima material Berdasarkan percobaan SRT didapat hasil berupa parameter kekasaran Ra = 2,451 µm, Rq =2,881 µm, Rt = 10,93 µm,sm= 0,099 µm, Rp = 3,854 µm, Rv= 7,076 µm dan Rmax = 10,93 µm. Dari Ra kita bisa memprediksi perlakuan yang diterima logam dengan tabel pada gambar 2, yang berwarna gelap berarti sering dilakukan dan yang berwarna terang jarang dilakukan. Berdasarkan haisl Ra maka pada sampel ini penyebab timbulnya kekasaran karena sering dilakukan sawing, planing, shaping, drilling, milling, boring, turning, broaching, reaming, perm mold casting, investment casting, extruding, cold rolling, drawing, chemical milling, electron beam cutting, laser cutting dan EDM. Dan pada sampel tersebut juga pernah dilakukan (jarang) grinding, barrel finishing, die casting, dan forging. Salah satu aplikasi SRT adalah untuk analisis kegagalan logam. Dari hasil SRT kita bisa memprediksi mengapa logam tersebut patah atau gagal sehingga bisa diperbaiki dan dibuat yang lebih baik. Selain itu SRT juga bisa

memprediksi perlakuan perlakuan yang telah diterima oleh logam berdasarkan parameter kekasaran yang didapat. Scanning Electon Microscope (SEM) merupakan suatu mikroskop yang dapat melakukan pembesaran sampai 2 juta kali. Prinsip kerjanya adalah pistol elektron akan memproduksi sinar elektron, lalu anoda akan mempercepat produksinya. Elektron yang terbentuk kemudian difokuskanmenuju sampel oleh lensa magnetik. Sinar yang terfokus tersebut akan memindai keseluruhan sampel dengan bantuan koil pemindai. Saat elektron mengenai sampel, sampel akan mengeluarkan elektron baru yang akan diterima oleh detektor ke monitor CRT. Gambar yang ditampilkan oleh CRT lah yang dapat dilihat dan diperbesar. Gambar 3. Patah ulet dan getas Gambar 4. Transgranular dan intergranular Makroskopik [3]. Fraktur [4]. Gambar 5. Mikrostruktur Gambar 6. Mikrostruktur patah Patahan ulet [5]. Fatigue [6]. Pada gambar 3 dapat dilihat secara makrostruktur perbedaan patahan getas dan ulet. Pada makrostruktur patahan ulet terjadi deformasi plastis dulu berupa necking baru patah, sementara pada pada getas tidak terjadi deformasi plastis di daerah patahan. Pada gambar 5 dapat dilihat jelas mikrostruktur patahn ulet, patah ulet cenderung berbentuk tumpul dan berserat dan terdapat dimple. Sementara patahan getas terbagi jadi 2 yaitu intergranular dan transgranular fracture. Pada gambar 4 dapat dilihat bahwa transgranular fracture adalah patah getas yang menembus butiran karena energi butiran lebih rendah daripada energi batas butiran, sementara intergranular fracture adalah patah getas yang terjadi di sepanjang batas butiran, karena energi pada batas butiran lebih rendah daripada energi di butiran. Sementara pada gambar 6 terjadi patah fatigue ditandai dengan adanya beachmarks dan terdapat striasi. Perbedaan SEM dan EDS terletak pada kegunaannya. EDS atau energy dispersive spectroscopy dihasilkan dari sinar x karakteristik, yaitu dengan menembakkan sinar x pada posisi tertentu maka akan muncul puncak puncak yang mewakili unsur tertentu. Biasanya EDS digunakan untuk mengenali jenis atom di permukaan yang mengandung multi atom. Dengan EDS dapat dilakukan pemetaan elemen dengan memberikan warna yang berbeda beda pada masing masing elemen. SEM dapat digunakan untuk melihat berbagai macam mikrostruktur seperti patahan, fasa, komposisi, dan struktur, sementara pada

EDS data yang ditampilkan hanya berupa grafik puncak puncak. SEM dapat melihat dengan jelas gambar mikrostruktur sementara EDS hanya bisa memetakan komposisi saja 4. Simpulan 4.1. Simpulan 1. Pada pengujian UTG dan jangka sorong didapat hasil yang tidak jauh berbeda. Perbedaan terbesar sebesar 1,4 mm pada spesimen A. 2. Berdasarkan percobaan SRT didapat hasil berupa parameter kekasaran Ra = 2,451 µm, Rq =2,881 µm, Rt = 10,93 µm,sm= 0,099 µm, Rp = 3,854 µm, Rv= 7,076 µm dan Rmax = 10,93 µm 3. UTG adalah alat digunakan untuk mengukur ketebalan suatu material dengan gelombang ultrasonik, dan SRT adalah alat yang digunakan untuk mengukur parameter kekasaran suatu material. 4. SRT dapat memprediksi perilaku-perilaku yang dialami logam. Berdasarkan haisl Ra maka pada sampel ini penyebab timbulnya kekasaran karena sering dilakukan sawing, planing, shaping, drilling, milling, boring, turning, broaching, reaming, perm mold casting, investment casting, extruding, cold rolling, drawing, chemical milling, electron beam cutting, laser cutting dan EDM. Dan pada sampel tersebut juga pernah dilakukan (jarang) grinding, barrel finishing, die casting, dan forging 4.2. Saran 1. Hendaknya alat alat NDT dilengkapi agar memudahkan praktikum 2. Sebaiknya alat NDT dimiliki oleh lab metalurgi fisika agar praktikum tidak perlu ditunda pengambilan datanya 5. References [1] http://www.asnt.org/minorsitesection/aboutasnt/intro-to-ndt diakses pada tanggal 19 April 2017 pukul 21.00 WIB [2] Modul praktikum metalurgi fisika 2017 [3] https://www.myodesie.com/wiki/index/returnentry/id/3060 diakses pada tanggal 19 April 2017 pukul 22.00 WIB [4] https://www.kullabs.com/classes/subjects/units/lessons/notes/note-detail/9526 diakses pada tanggal 19 April 2017 pukul 21.30 WIB [5] http://ims.vanderbilt.edu/mse150/fracture/ductile/d304/d304.htm diakses pada tanggal 19 April 2017 pukul 23.00 WIB [6] http://practicalmaintenance.net/?p=989 diakses pada tanggal 19 April 2017 pukul 23.24 WIB 6. Lampiran Gambar 7. Hasil SRT Gambar 8. Hasil SRT

Gambar 9. Alat UTG Gambar 10. Pengukuran dengan UTG Gambar 11. Pengukuran dengan SRT Gambar 12. Pengolesan couplant Pada UTG Gambar 13. Tabel hubungan Ra dengan perlakuan yang diterima material