ISSN : Vol. 5, No. 2, Desember

dokumen-dokumen yang mirip
BUKU TUTORIAL PEMBUATAN WAYANG BEBER KERTAS KORAN UNTUK MENDUKUNG PROGRAM EKONOMI KREATIF DI SURAKARTA

LAPORAN AKHIR PENELITIAN HIBAH BERSAING

LAPORAN AKHIR PENELITIAN HIBAH BERSAING

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN. kebenaran, hal ini terkait sekali dengan realitas.

RENCANA PEMBELAJARAN

Bagan 3.1 Proses Berkarya Penulis

BAB III METODE PENCIPTAAN

III. METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritis

BAB III PROSES PENCIPTAAN KARYA. memberikan ingatan segar kembali akan pengalaman-pengalaman kita dimasa

III. METODE PENCIPTAAN TOPENG SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI RUPA. A. Implementasi Teoritis

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritis

III. PROSES PENCIPTAAN

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III PROSES PEMBENTUKAN

III. Kerajinan dari Daur Ulang A. Produk Kerajinan dari Kertas Daur Ulang Banyak hal yang dapat diciptakan dari kertas seni (handmade paper).

SENI RUPA 2 DIMENSI DAN 3 DIMENSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN. Batik Lukis (Batik Tulis) diajukan konsep berkarya. Pada dasarnya, manusia baik

BAB III METODE DAN PROSES PENCIPTAAN

III. METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik

B. Kontemplasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2013, hlm. 728) kontemplasi

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, kiranya. telah cukup menjawab berbagai permasalahan yang diajukan

III. METODE PENCIPTAAN

Pengamatan Medium Pengafdrukan METODE PENCIPTAAN. terhadap tumbuhan paku sejati (Pteropsida) ini sehingga menghasilkan pemikiran.

BAB III CELENG SEBAGAI TEMA DALAM KARYA SENI LUKIS. A. Implementasi Teoritis

UKDW BAB I PENDAHULUAN

Medium, Bahan, dan Teknik Berkarya Seni Rupa 2 Dimensi

BAB III BURUNG HANTU SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS. A. Implementasi Teori

BAB I PENDAHULUAN. Kriya merupakan suatu proses dalam berkesenian dengan berkegiatan

b. Karya seni rupa tiga dimensi atau trimatra, contoh; patung, monumen, mebel. rumah, pesawat, sepatu, sandal, tas, dll.

2016 ANALISIS PROSES PEMBUATAN BONEKA KAYU LAME D I KAMPUNG LEUWI ANYAR KOTA TASIKMALAYA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Impressionisme adalah aliran seni yang pada mulanya melakukan

BAB I PENDAHULUAN. B. Tujuan Tujuan kami menulis makalah ini ialah untuk menginformasikan lebih dalam mengenai karya seni rupa dua dimensi.

BAB III METODE DAN PROSES PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

pribadi pada masa remaja, tentang kebiasaan berkumpul di kamar tidur salah seorang teman

BAB III. METODE PENCIPTAAN


UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta BAB V PENUTUP. Melalui uraian yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya, dapat

BAB II IDENTIFIKASI DATA. A. Data Produk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mata pencaharian dengan hormat dan jujur. Dalam versi yang lain seni disebut. mempunyai unsur transendental atau spiritual.

BAB V KESIMPULAN. mengutamakan keterampilan tangan. Seni kriya termasuk ke dalam seni rupa terapan,

MODUL SENI RUPA KELAS X (Semester 1) TAHUN AJARAN BAB 1 BERKARYA SENI RUPA 2 DIMENSI

pendidikan seni tersebut adalah pendidikan seni rupa yang mempelajari seni mengolah kepekaan rasa, estetik, kreativitas, dan unsur-unsur rupa menjadi

2015 PENCIPTAAN KARAKTER SUPERHERO SEBAGAI SUMBER GAGASAN BERKARYA SENI LUKIS

BAB I PENDAHULUAN. gagasan, ekspresi atau ide pada bidang dua dimensi.

V. PENUTUP. A. Kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

III. METODE PENCIPTAAN

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN IDE. Kajian Sumber Pustaka (Buku Dwi Tunggal Pendiri Darma Ayu Nagari) Studi Sketsa. Proses Berkarya.

2015 ABSTRAK SUPREMATISME SEBAGAI GAGASAN BERKARYA SENI PATUNG DENGAN MEDIA KAYU

02FDSK. Studio Desain 1. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds, M.Si. Hapiz Islamsyah, S.Sn

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

I. PENDAHULUAN. pengalaman dan pengamatan penulis dalam melihat peristiwa yang terjadi

Indra. Seni Ebru: Melukis Di Atas Air

BAB III METODE PENCIPTAAN

DESKRIPSI KARYA SENI KRIYA BERJUDUL: PRADA

BAB I PENDAHULUAN. Desain mebel termasuk dalam kategori desain fungsional, yaitu desain

BAB III METODE PENCIPTAAN

II. KAJIAN PUSTAKA. A. Sumber Pustaka. sangat cemerlang dan sangat indah. Untuk menjadi kupu-kupu yang. Kupu-kupu memiliki banyak jenis dan memiliki

BAB III METODE PENCIPTAAN

55. Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB D) A. Latar Belakang


ISSN : Vol. 8, No. 1, Juli 2016

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kerajinan merupakan suatu benda hasil karya seni manusia yang berkaitan

BAB III METODE PENCIPTAAN. cm, karya ke dua berukuran 120 cm X 135 cm, karya ke tiga berukuran 100 cm X

V. ULASAN KARYA PERANCANGAN

MATERI AJAR & KONTRAK PERKULIAHAN A. MATERI AJAR & TUGAS: KRIYA KULIT I,

BEELAJAR MENCIPTAKAN RUANG MELALUI GAMBAR ANAK-ANAK Oleh: Taswadi. Abstrak

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB III IKAN LELE SEBAGAI TEMA DALAM KARYA SENI GRAFIS. A. Implementasi Teoristis

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB III METODE PEMBUATAN PATUNG GAJAH IDE. Eksplorasi

1. Seni Rupa 2 Dimensi

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

54. Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunarungu (SDLB B) A. Latar Belakang

BAB IV Desain Scrapbook

dari permainan egrang. Seperti yang kita ketahui permainan egrang kini sudah sangat

SOAL PENILAIAN AKHIR SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2017/2018. Berilah Tanda silang( X ), hurup a,b,c, dan d pada jawaban yang benar dibawah!

BAB IV KONSEP PENATAAN DISPLAY INOVASI BUSANA ETNIK

LEMBARAN SOAL TRYOUT UJIAN SEKOLAH. Hari/Tanggal : Waktu :

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

ISSN : Vol. 5, No. 2, Desember

Jobsheet Membuat Kerajinan Dari Limbah Organik (individu) : Membuat Kerajinan dari Limbah Organik

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

53. Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunanetra (SDLB A)

I. PENDAHULUAN A. Penjelasan Tema / Ide /Judul Perancangan B. Latar Belakang Perancangan

BAHAN KAJIAN (Materi Ajar)

BAB I PENDAHULUAN. yang paling sempurna. Manusia bisa berpikir dan mempunyai kemampuan

IV. ANALISIS KARYA. di kota Surakarta. Penulis tertarik memvisualisasikan tradisi upacara minum teh

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya kebudayaan. Beberapa kekayaan

TUGAS SENI BUDAYA ARTIKEL SENI RUPA

DESKRIPSI KARYA SENI LUKIS BERJUDUL: KELUARGA NELAYAN


Transkripsi:

Vol. 5, No. 2, Desember 2013 13

PENDAHULUAN Aktivitas kreatif merupakan bagian penting dalam kegiatan kesenimanan. Seorang seniman yang juga sebagai agen kultural jelas tidak hanya bisa menciptakan karya seni secara kuantitas tapi secara kualitas juga harus ditunjukkan dengan selalu menghadirkan pemikiran-pemikiran kreatif dalam bereksperimentasi seni, mencoba menghadirkan, mengeksplorasi dan menyatukan nilai-nilai kebermainan dan pemberontakan menjadi proses kreatif yang mengarah terciptanya karya seni rupa yang baru dan inovatif serta bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Kreatifitas seniman dapat dihadirkan tidak hanya pada ekspresi seni idealisnya saja tapi juga bisa dihadirkan dalam rangka peningkatan produk seni kreatif dalam industri kerajinan seni. Pentingnya konstribusi ide kreatif seniman dalam dunia industri kerajinan seni sangat penting kehadirannya. Hal tersebut bisa menjadi bukti yang kongrit akan posisi seni dan individu seniman ditengah kehidupan masyarakat. Seniman tidak hanya beraktifitas bagi kepuasan individunya saja, namun kehadirannya juga bermanfaat bagi lingkungan sosialnya. Beberapa tahun terakhir ini, banyak kota-kota di Indonesia yang mencoba meningkatkan karakter kotanya dengan pendekatan industri kreatif, yang salah satunya adalah kota Surakarta. Kota Surakarta yang sedang hangat-hangatnya mengembangkan kegiatan berbasis industri kreatif, menjadi salah satu ajang aktualisasi diri seniman dalam mensumbangkan ide kreatifnya. Salah satunya adalah potensi kerajinan seni berbahan koran bekas yang sudah ada di kota Surakarta saat ini adalah produk kerajinan seni yang berpotensi menjadi produk unggulan dan sebagai barang souvenir khas kota Surakarta. Souvenir dalam kamus bahasa Inggris E. Pino dan T. Witterman, (1994/424) adalah berupa tanda mata, kenang-kenangan, ingat-ingatan, tanda hidup. Souvenir juga disebut cinderamata yaitu merupakan barang yang memiliki fungsi sebagai pengingat suatu kegiatan atau kejadian. Souvenir ini biasanya bisa berupa produk kerajinan seni yang khusus dicitrakan sebagai kenang-kenangan. Terkait dengan barang kerajinan sebagai souvenir, setiap wilayah atau daerah biasanya memiliki souvenir yang khas lokasi daerahnya. Kerajinan berbahan kertas ko- 14 Vol. 5, No. 2, Desember 2013

ran di Surakarta memang menampilkan ide kreatif yang menarik untuk dilihat. Secara tidak langsung para pengrajin tersebut memanfaatkan konsep re-use kertas koran yang sudah tidak terpakai merubahnya menjadi bahan kerajinan yang unik. PEMBAHASAN Kerajinan Berbahan Kertas Koran Salah satu kerajinan berbahan kertas koran di Surakarta adalah produksi dari DIPIK CRAFT milik Gatot Santoso, yang beralamat di Gambuhan Baluwarti. Menurut Gatot Santoso, Produk-produk yang telah mereka hasilkan berupa kursi dari bahan kertas koran, tas dari kertas koran, topi, bidak catur, dan semacam boneka action figur yang semuanya dari bahan kertas koran. Menurut bapak Imron yang pernah membeli produk kerajinan berbahan dasar kertas koran, produk-produk kerajinan berbahan kertas koran tersebut banyak yang bersinggungan dengan fungsi, seperti kursi untuk duduk, tas untuk tempat buku dan lain-lain yang semuanya secara tidak langsung merangsang konsumen berfikir tentang kekuatan bahan produk tersebut yang berasal dari kertas koran. Hal tersebut menjadi salah satu kendala tidak banyaknya masyarakat membeli produk kerajiinan berbahan kertas koran. Memang masyarakat sangat kagum akan kreatifitas merubah fungsi koran bekas menjadi barang kerajinan yang unik, namun untuk sampai membelinya mereka masih pikirpikir. Gambar 01 Kerajinan kursi dan tas dari bahan kertas koran karya DIPIK Craft. Sumber: copy file dari penelitian Zarkasi, oleh Aji Wiyoko 2013 Vol. 5, No. 2, Desember 2013 15

Karakter dan keunikan kertas koran sebagai bahan kerajinan inilah yang perlu untuk dikembangkan dengan mengeksplor bentuk-bentuk yang bisa lebih tepat dan menarik sesuai bahan yang digunakan, contohnya dibuat kerajinan dengan bentuk lukisan kertas koran. Untuk menambah daya tarik dan karakter kelokalannya, dalam proses pembuatan lukisan kertas koran tersebut bisa dimasukkan unsur-unsur seni tradisi Indonesia, yang salah satunya wayang. Adapun seni tradisi wayang yang bisa untuk ditampilkan dalam karya lukis dengan bahan kertas koran tersebut salah satunya adalah wayang beber dengan cerita Panji Asmorobangun. Pertunjukan wayang beber sendiri eksistensinya sekarang sudah sulit untuk ditemui, namun perkembangannya wayang beber sekarang banyak dimanfaatkan dalam ranah seni rupa, berupa lukisan wayang beber pada kanvas atau media kaca. Wayang Beber Kertas Koran Wayang beber dalam buku Widi Krastawan dkk (2013/47) adalah, gambar-gambar wayang yang disungging (teknik gambar tradisional) di atas gulungan dlancang (kertas terbuat dari kulit kayu). Pada setiap gulungan berisi satu adegan atau jagong, dan terdiri dari beberapa tokoh, cerita diambil dari versi Panji. Kanan-kiri gulungan diapit kayu bulat untuk kunci, bila mau dipentaskan gulungan cukup dibuka atau di-beberkan. Wayang beber secara visual penggarapannya dibuat dengan teknik sungging. Disebutkan dalam bukunya Bagyo Suharyono (2005/ 47-49): Gambar-gambar Wayang Beber dibuat dengan teknik sungging yang baik, teliti dan rumit. Bentuk figur manusia dibuat dengan penggayaan (stilasi), figur tokoh cerita tsmpsk lebih besar dibanding figur yang bukan tokoh cerita. Bentuk muka dibuat setengah miring, bentuk tubuh diperpanjang (dijujut-didistorsi). Pewarnaan digunakan bahan warna sungging tradisional, perbedaan warna menggunakan perbedaan bertingkat (gradasi-saratan), garis-garis dibuat lembut dan rumit seperti sawen (arsir panjang) dan sawut (arsir pendek), drenjeman (titik-titik), sembulihan (meander), dan lung patran (ikal). Bahan warna dari adonan warna tradisi dan perekat ancur lempeng yaitu perekat dari lendir ikan laut yang dibuat oleh orang-orang dari daerah Gresik. Perekat ancur lempeng dicairkan dengan air basa jangkang kepuh, yaitu kulit sabut buah 16 Vol. 5, No. 2, Desember 2013

kepuh...bahan warna yang dipakai sebagai bubuk warna (pigmen) juga bahan warna tradisi. Bahan warna hitam dibuat dari jelaga lampu minyak tanah (senthir)...warna putih dari bubuk arang tulang...warna merah dari bahan warna gincu...warna kuning dari atal atau atal sela, warna ini didapatkan dari tanah liat hasil endapan sungai...warna biru didapatkan dari bahan warna nila (tarum, indigo, tom)...warna emas adalah prada (gold leaf) yang berasal dari Cina. Selain itu wayang beber awalnya merupakan bagian dari kebutuhan dalam seni pertunjukan, seiring perkembangannya mulai bergeser pada ranah apresiasi seni rupa, seperti dalam tulisan I Gusti Nengah Nurate yang menyebutkan Dalam perkembangan Wayang Beber ke arah Seni Lukis Wayang Beber terjadi berbagai perubahan sebagai berikut : - Dalam pembuatan wayang beber alat dan bahan yang digunakan serta teknik garap dan proses cipta yang diterapkan bersifat trasional, sedangkan dalam penciptaan seni lukis wayang beber alat dan bahan yang digunakan buatan pabrik serta teknik garap dan proses cipta yang diterapkan bersifat modern. - Tema pada wayang beber berkisar pada cerita kerajaan dan pewayangan, sedangkan tema pada seni lukis wayang beber sudah bebas sesuai dengan obyek yang menyentuh batin penciptanya. - Wayang beber memiliki nilai terapan sebagai sarana pementasan (bukan sebagai karya seni rupa dua dimensional yang berdiri sendiri), sedangkan seni lukis wayang beber berperan sebagai bahasa ekspresi jiwa. - Pada wayang beber pencipta tidak pernah mencantumkan namanya (anonim) dan menjadi milik masyarakat Jawa, sedangkan pada karya seni lukis wayang beber pencipta mencantumkan namanya dan berdiri sendiri sebagai karya personal. - Pada masa NKRI wayang beber berperan mewarnai perbendaharaan seni budaya Nusantara, sedangkan pada seni lukis wayang beber eksistensi dan esensinya menambah perbendaharaan seni budaya Nusantara. (s.uns.ac.id/artikel/5e6c44541 66dd9313d708c2931850ddb. doc, diunduh Sabtu 26 Maret 2011. Oleh Zarkasi ) Kreatifitas menampilkan salah satu bentuk seni tradisi Indonesia yaitu gambar wayang beber menjadi referensi pembuatan karya seni produk kerajinan seni berbahan kertas koran sebagai barang souvenir khas Surakarta menjadi suatu kegiatan yang sangat menarik. Apalagi bentuk dan teknik serta media yang digunakan dalam proses penciptaan karya seni rupa wayang bebernya berbeda dengan bentuk, Vol. 5, No. 2, Desember 2013 17

teknik dan media yang biasanya digunakan dalam pembuatan gambar wayang beber pada umumnya. Penciptaan karya seni rupa wayang beber dari bahan kertas koran ini diharapkan bisa menjadi produk unggulan yang bisa meningkatkan pendapatan pengrajin kerajinan seni di Surakarta. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, penciptaan prototype wayang beber kertas koran ini dilakukan dalam rangka menciptakan karya seni rupa wayang beber dengan tampilan dan proses penggarapan yang berbeda dengan bentuk dan penggarapan wayang beber yang pernah ada, sebagai pengembangan bentuk inovasi kerajinan seni berbahan kertas koran bekas yang bisa digunakan sebagai souvenir khas kota Surakarta. Adapun bentuk atau visual obyeknya adalah berupa figur wayang cerita panji, yang didesain dan disusun sesuai dengan kebutuhan artistik sebuah souvenir khas kota Surakarta yang dibuat dengan teknik kolase dengan bahan kertas koran. Kata kolase dalam bukunya Humar Sahman (1993/77) juga menyebutkan : Collage berakar kata kerja Perancis coller, yang bererti menempel dengan menggunakan perekat; semula disebut papier colles, karena hanya merupakan tempelan kertas-kertas bertulis dan bergambar seperti guntingan koran. Kemudian bahan-bahan yang digunakan menjadi beraneka ragam, seperti kepingan kayu, kaca, kawat, pasir dan lain sebagainya. Jadi apa daja yang bisa ditempelkan, katakanlah pada kain kanvas sebagai support, tentu akan dimanfaatkan. Lalu muncul kata collage. (sekitar 1919). Tujuan Penciptaan Karya Seni rupa Wayang Beber Kertas Koran Tujuan khusus dari penciptaan karya seni rupa wayang beber dari bahan koran bekas untuk pengembangan produk kerajinan seni unggulan berbahan kertas koran sebagai souvenir khas kota Surakarta. Diharapkan penciptaan karya ini mampu menginspirasi seniman atau perupa lain untuk bisa menularkan ide-ide kreatifnya sebagai salah satu bentuk kontribusi seniman kepada dunia kerajinan di daerahnya atau lingkungan sekitarnya. Selain itu diharapkan juga penciptaan karya ini mampu menginspirasi pengrajin kerajinan di kota Surakarta selalu berkarya dan bereksperimen untuk menghasilkan karya-karya kerajinan seni yang kreatif, 18 Vol. 5, No. 2, Desember 2013

sehingga produk kerajinan yang dihasilkan diminati masyarakat dan perekonomian pengrajin meningkat, dan tentu saja kota Surakarta memiliki produk seni yang bisa menjadi souvenir khas Surakarta, selain batik. Perwujudan karya, mulai dari membuat pola gambar jagong cerita Panji, sampai penggarapan karya yaitu menempel potongan kertas koran pada kanvas dengan komposisi estetis sebuah produk kerajinan souvenir yang artistik. Proses Penciptaan Prototype Souvenir Wayang Beber Kertas Koran Proses penciptaan karya ini, diawali dengan proses persiapan, perancangan, dan perwujudan karya. Pada proses persiapan, adalah berhubungan dengan mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam studi penciptaan karya. Perancangan dalam proses ini berkaitan dengan ide atau gagasan penciptaan karya, pertimbangan proses penggarapan atau perwujudannya yang terkait dengan obyek, teknik dan media yang digunakan yaitu produk kerajinan berbasis seni tradisi berupa gambar wayang beber menggunakan teknik kolase dengan bahan kertas koran pada kanvas. Pada proses ini jelas sebuah perancangan awal sangat penting peranannya, sebab dari perancangan inilah bisa dipertimbangkan teknik dan proses kreatif yang akan dilakukan. 1.Tahap Persiapan Persiapan dalam hal ini adalah persiapan alat dan bahan. Adapun alat dan bahan dalam proses Studi Penciptaan Karya Seni Rupa Wayang Beber Menggunakan Teknik Kolase Dengan Memanfaatkan Koran Bekas ini adalah: Kamera digital SLR minimal 6 megapixel, Card Rider dan kabel data, Seperangkat Komputer, Pensil, Spidol, gunting, Gambar karya wayang beber sebagai rujukan, Kertas koran bekas, Kuas, Perekat/ Lem kayu FOX, Ember kecil, Pisau cutter, Kanvas kosong, Kayu untuk figura dan spanram, Gun tacker dan isinya. Kuas dalam proses ini digunakan sebagai alat melekatkan potongan kertas koran menggunakan lem yang dicairkan di atas kanvas. Alat potong cutter, selain sebagai pemotong digunakan juga sebagai alat memegang dan menempelkan potongan kertas koran yang akan direkatkan di atas kan- Vol. 5, No. 2, Desember 2013 19

vas. Gunting sebagai alat memotong kertas koras menjadi kecil-kecil sesuai bentuk dan kebutuhannya. Spidol untuk menguatkan sket gambar awal yang dari pensil agar ketika terkena air lem tidak hilang atau larut. Pada penciptaan karya ini, digunakan acuan gambar wayang beber yang sudah ada. Jadi peneliti tidak menciptakan cerita atau adegan sendiri tapi menggunakan jujukan cerita panji, dari karya wayang beber yang sudah ada, hanya merubah sedikit komposisi dan lebih memunculkan figur wayangnya, serta pewarnaannya. Kemudian bahan lainnya adalah lem fox, sebagai perekat yang dipilih karena karakternya yang mudah untuk diencerkan dengan air dan bisa untuk merekatkan kertas dengan cara menguaskannya. Medium pokok selanjudnya adalah kertas koran, yang dipilih karena kertas koran bekas mudah didapat, dan merupakan bahan artistik yang memiliki peluang untuk dibuat menjadi sebuah karya seni dengan teknik kolase yang unik. Warna-warna yang ada pada koran inilah yang dimanfaatkan untuk membentuk figure atau gambar dalam visualisasi cerita wayang beber. Kertas koran bekas tersebut dipilih dan dibedakan warna-warnanya kemudian dipotong kecil-kecil untuk digunakan menyusun gambar sesuai bentuk kebutuhan pada proses pembuatan karya wayang bebernya. Gambar 02. Kertas Koran dipilih berdasar warna kebutuhannya dan dipotong kecil-kecil Foto: Aji Wiyoko 2013 2.Tahap Perancangan Seperti pada umumnya dalam proses menciptakan karya, sebuah perancangan dalam rangka mengaktualisasikan ide atau gagasan awal menjadi tahapan pertama yang peneliti munculkan. 20 Vol. 5, No. 2, Desember 2013

Gambar 03. Contoh rujukan sket gambar wayang beber, karya Bibit Jrabang, copy file dari penelitian zarkasi (atas) dan Contoh rujukan sket gambar wayang beber 9bawah) Foto: Aji Wiyoko 2013 Konsep penciptaan karya ini, lebih menekankan pada eksplorasi dan eksploitasi dalam sebuah eksperimen memunculkan karya seni rupa wayang beber menggunakan teknik kolase dengan memanfaatkan koran bekas sebagai souvenir kota Surakarta. Jadi tidak sekedar teknik kolase yang peneliti munculkan dalam proses penciptaan karya ini, namun juga konsep re-use me- Vol. 5, No. 2, Desember 2013 21

manfaatkan benda atau barang bekas untuk dimanfaatkan menjadi bagian kreatifitas dari sebuah penciptaan karya seni yang menarik dan bersifat inovatif, memiliki dimensi pencitraan kota. Pada proses kali ini menggunakan rujukan karya wayang beber yang pernah ada, namun lebih mengutamakan figur tokoh wayang pada tiap jagong cerita Panji yang dibuat. Panji yang digunakan sebagai rujukan, dengan mengumpulkan warna -warna dalam kertas koran yang dibutuhkan. Perancangan gambar pada kertas, dilakukan terutama terkait komposisi visual yang diharapkan kemudian baru dipindah pada kanvas. Gambar 04.Salah satu contoh Eksplorasi Sketsa wayang beber pada kertas Foto: Aji Wiyoko 2013 Selain itu warna dalam karya ciptaan disesuaikan imaginasi dalam menangkap suasana jagong cerita Gambar 05.Salah satu contoh Eksplorasi Sketsa wayang beber pada kertas Foto: Aji Wiyoko 2013 3. Tahap Perwujudan Pada tahap perwujudan karya, penulis bagi menjadi 3 tahapan yaitu: a. Tahap membuat sketsa 22 Vol. 5, No. 2, Desember 2013

b. Tahap penempelan/ Kolase kertas koran ke kanvas c. Tahap Finishing a. Membuat Sketsa Pada Kanvas Pada tahap ini, menyiapkan gambar karya wayang beber sebagai model dan rujukan karya penelitian. Gambar rujukan tersebut, peneliti tiru dengan menggambarkannya kembali di atas kanvas dengan menggunakan pensil dan kemudian diulangi dengan menggunakan spidol yang permanen. Gambar 06 sketsa gambar wayang beber di atas kanvas kosong Foto: Aji Wiyoko 2013 Fungsi dari mengulang gambar sketsa dengan spidol adalah, apabila nanti dilakukan penempelan menggunakan perekat yang cair sket gambar tidak larut atau hilang. b.tahap Penempelan/ Kolase Kertas Koran Pada Kanvas Proses penempelan kertas Koran ke atas kanvas, diawali mempersiapkan dulu, perekat/ lem fox yang diencerkan dengan air. Keenceran air diperkirakan campuran air dan lemnya, tidak terlalu encer tapi cenderung kental kira-kira 1 : 5 sehingga kelengketan lem perekat masih kuat. Campuran air dan lem tersebut diaduk hingga mencampur dengan baik, tidak ada lem yang masih menggumpal. Setelah perekat/ lem siap, kemudian mulai membuat outline gambar wayang bebernya, dengan cara memilih potongan kertas koran yang berwarna hitam dan memotongnya mengikuti garis outline gambar. Atau bisa juga dibalik warna dari figure wayang dulu ditempel waru bila sudah selesai dibuat out linenya dengan kertas koran yang berwarna hitam. Kemudian menempelkannya dengan mengoleskan perekat menggunakan kuas yang diberi perekat/lem ke gambar di atas Vol. 5, No. 2, Desember 2013 23

kanvas. Gambar pertama yang dibuat kolasenya adalah figur-figur tokoh wayangnya, setelah figurnya selesai dibuat dilanjudkan membuat background atau latar belakangnya. Pemilihan warna untuk figure tokoh wayang yang digambar dipilih warna-warna yang sekiranya bisa memunculkan volume gambar. Seperti warna kulit, kertas koran yang ditempelkan tidak hanya satu warna saja, contohnya warna kuning, berarti harus didapat dan dipilih warna kuning muda, menuju ke warna kuning tua, orange bahkan merah dan coklat. Diharapkan dengan menampilkan warna yang demikian tersebut akan muncul gambar kolase figure tokoh wang beber yang tidak datar, tapi memiliki volume yang menarik. Cara penempelannya dibuat dengan cara saling menimpa, antara tempelan pertama dan kedua dan seterusnya, sehingga warna atau kolase yang dihasilkan bisa tampak padat. Warna yang menjadi acuan dalam penggarapan karya wayang beber ini selain melihat warna dari karya wayang beber yang sudah ada, namun juga daya imaginasi dalam menterjemahkan gambar mempengaruhi hasil dari karya wayang beber dengan teknik kolase ini. Perkiraan pencahayaan dan volume bentuk dalam visual penting untuk ditampilkan lewat pemilihan warna dari kertas koran yang dipilih. Gambar 07 Peneliti membuat kolase figure tokoh wayang beber Foto: Aji Wiyoko 2013 PENUTUP Perancangan prototype souvenir wayang beber kertas koran ini, dibuat disesuaikan kebutuhan sebagai souvenir kota Surakarta. Karena sebagai souvenir maka keunikan dari produk souvenir ini terletak pada teknik kolase bahan kertas koran dan tema tradisi wayang beber sebagai bentuk visualnya. 24 Vol. 5, No. 2, Desember 2013

Gambar 08 Hasil prototype 1 wayang beber kertas koran Foto: Aji Wiyoko 2013 Sebagai sebuah souvenir prototype wayang beber kertas koran ini dibuat tidak terlalu besar, sekitar 30 x 40 cm, dengan pertimbangan mudah dibawa dan murah, namun berkesan. Proses pembuatan wayang beber kertas koran ini perlu keahlian khusus bisa menggambar terutama dalam usaha membuat pewarnaan dan menempelkan kertas koran sesua warna yang dipilih untuk mengisi gambar. Memilih kebutuhan berbagai macam warna dalam rangka membentuk dan mengisi subyek figure pada jagong cerita wayang beber menjadi persoalan yang sedikit memakan waktu, namun kekuatan teknik dan keunikan lukisan tanpa cat pewarna hanya mengandalkan potongan kertas berwarna yang ada pada kertas koran inilah yang salah satunya menambah nilai keunikannya. Karya berupa lukisan wayang beber kertas koran ini diharapkan menjawab keraguan masyarakat akan kekuatan fungsi kertas koran ketika berubah menjadi barang kerajinan dan souvenir yang menarik, karena tidak memiliki beban fungsi yang dapat merusak seperti ketika dibuat dalam bentuk tas, Vol. 5, No. 2, Desember 2013 25

kursi, bidak catur yang akan sering disentuh dan dipindah-pindah. Karya wayang beber kertas koran ini akan menarik ditempatkan di dinding ruangan yang sesuai. *Penulis adalah staaf pengajar di Prodi. Seni Rupa Murni ISI Surakarta Widi Krastawan dkk, editor ardus M Sawega,2013, Wayang Beber Antara Inspirasi dan Transformasi, Penerbit Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo. SUMBER LAIN I Gusti Nengah Nurata, Wayang Beber dan Perkembangannya Ke Arah Seni Lukis Serta Keberadaan Seni Lukis Wayang Beber Saat ini. s.uns.ac.id/artikel/5e6c4454166dd93 13d708c2931850ddb.doc. DAFTAR PUSTAKA Bagyo Suharyono, 2005, Wayang Beber Wonosari, Cet. 1, Penerbit Bina Citra Pustaka. Dharsono, 2000, Seni Lukis Indonesia; Sebuah Catatan Perjalanan dan Konsepsi Alternatif, dalam Jurnal Seni Rupa dan Desain, Volume 1.1, STISI, Bandung, Agustus. NARASUMBER Gatot Burhan Santoso, 42 tahun, pengrajin dan pengusaha kerajinan berbahan kertas koran yang tinggal di Gambuhan Baluwarti Surakarta. Imron, 41 tahun, masyarakat konsumen kerajinan berbahan kertas koran, tinggal di Perum Pondok Baru Permai Blok K Gentan Sukoharjo. E. Pino dan T. Witterman, 1994, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, edisi kesepuluh. Penerbit PT.Pradnya Paramita, Jakarta Humar Sahman, 1993, Mengenali Dunia Seni Rupa, IKIP Semarang Press. Heribertus Sutopo, 1995 Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian KualitatiF buku pidato pengukuhan Guru Besar Ilmu Budaya UNS. Sebelas Maret University Press. Surakarta. 26 Vol. 5, No. 2, Desember 2013