Henoch-Schonlein purpura (HSP),

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA Fakultas Kedokteran UGM 1

Purpura Henoch Schonlein (PHS), merupakan

Purpura Henoch-Schönlein (PHS) merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbanyak yang sering dijumpai pada anak. Sindrom nefrotik adalah suatu sindrom

Sejak awal perkembangan pengetahuan tentang

Nefritis Purpura Henoch Schonlein

BAB I PENDAHULUAN. hiperkolesterolemia >200 mg/dl, dan lipiduria 1. Lesi glomerulus primer

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Purpura Henoch-Schonlein (PHS) adalah. Purpura Henoch-Schonlein

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang

Pengaruh Lama Pengobatan Awal Sindrom Nefrotik terhadap Terjadinya Kekambuhan

Author : Liza Novita, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Doctor s Files: (

ABSTRAK PREVALENSI APENDISITIS AKUT PADA ANAK DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2011

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Glomerulonefritis akut masih menjadi penyebab. morbiditas ginjal pada anak terutama di negara-negara

BAB 1 PENDAHULUAN. 2014). Pneumonia pada geriatri sulit terdiagnosis karena sering. pneumonia bakterial yang didapat dari masyarakat (PDPI, 2014).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua

DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK. Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. peradangan sel hati yang luas dan menyebabkan banyak kematian sel. Kondisi

BAB 1 PENDAHULUAN. Infeksi bakteri yang berkembang menjadi sepsis, merupakan suatu respons

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di RSUD Kabupaten Temanggung ini merupakan

Penyakit purpura Henoch-Schonlein (PHS)

ABSTRAK PROFIL PENDERITA HEMOPTISIS PADA PASIEN RAWAT INAP RSUP SANGLAH PERIODE JUNI 2013 JULI 2014

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. keberhasilan perawatan kaping pulpa indirek dengan bahan kalsium hidroksida

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Rinosinusitis kronis merupakan inflamasi kronis. pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk

BAB I PENDAHULUAN. Mekanisme alergi tersebut akibat induksi oleh IgE yang spesifik terhadap alergen

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) termasuk ke dalam penyakit

BAB 1 PENDAHULUAN. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu respon inflamasi sel urotelium

TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA

Jangan Sembarangan Minum Antibiotik

BAB V PEMBAHASAN. yang telah memenuhi jumlah minimal sampel sebanyak Derajat klinis dibagi menjadi 4 kategori.

BAB I PENDAHULUAN UKDW. penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis

BAB I PENDAHULUAN. systemic inflammatory response syndrome (SIRS) merupakan suatu respons

Gambaran Klinis Glomerulonefritis Akut pada Anak di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU DENGAN PENGELOLAAN AWAL INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA ANAK

BAB 4 HASIL. Korelasi stadium..., Nurul Nadia H.W.L., FK UI., Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti

BAB I PENDAHULUAN. dengan imunitas pejamu, respon inflamasi, dan respon koagulasi (Hack CE,

BAB 1 PENDAHULUAN. sampai bulan sesudah diagnosis (Kurnianda, 2009). kasus baru LMA di seluruh dunia (SEER, 2012).

ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK BALITA PENDERITA PNEUMONIA DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG TAHUN 2013

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang penelitian. permeabilitas mikrovaskular yang terjadi pada jaringan yang jauh dari sumber infeksi

BAB I PENDAHULUAN. Sepsis merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kesakitan

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi dan peningkatan perekonomian ke

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kuman dapat tumbuh dan berkembang-biak di dalam saluran kemih (Hasan dan

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Selatan dan 900/ /tahun di Asia (Soedarmo, et al., 2008).

DEFINISI BRONKITIS. suatu proses inflamasi pada pipa. bronkus

BAB I PENDAHULUAN. timbul yang disertai rasa gatal pada kulit. Kelainan ini terutama terjadi pada masa

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Asma masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di. dunia dan merupakan penyakit kronis pada sistem

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT STROKE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2009

TATALAKSANA SKISTOSOMIASIS. No. Dokumen. : No. Revisi : Tanggal Terbit. Halaman :

Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta

MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. sehari (Navaneethan et al., 2011). Secara global, terdapat 1,7 miliar kasus diare

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease) merupakan salah satu penyakit

BAB 4 HASIL. Grafik 4.1. Frekuensi Pasien Berdasarkan Diagnosis. 20 Universitas Indonesia. Karakteristik pasien...,eylin, FK UI.

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih

Hasil. Kesimpulan. Kata kunci : Obat-obatan kausatif, kortikosteroid, India, SCORTEN Skor, Stevens - Johnson sindrom, Nekrolisis epidermal

Analisis Faktor Risiko Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus pada Anak Di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

BAB I PENDAHULUAN. I. A. Latar Belakang. Infeksi dengue merupakan penyakit akut yang. disebabkan oleh virus dengue. Sampai saat ini dikenal

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

ANAMNESIS. dengan anamnesis yang benar.

BAB I PENDAHULUAN. menurun sedikit pada kelompok umur 75 tahun (Riskesdas, 2013). Menurut

BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP PENELITIAN

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Gangguan ginjal akut (GnGA), dahulu disebut dengan gagal ginjal akut,

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang hidup dengan perilaku dan lingkungan sehat,

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Intususepsi merupakan salah satu penyebab tersering dari obstruksi usus dan

PENDAHULUAN. Dalam penatalaksanaan sindrom gagal ginjal kronik (GGK) beberapa aspek yang harus diidentifikasi sebagai berikut:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi saluran napas bawah masih tetap menjadi masalah utama dalam

BAB I PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang. disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di

HUBUNGAN CRP (C-REACTIVE PROTEIN) DENGAN KULTUR URIN PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH PADA ANAK DI RSUP. HAJI ADAM MALIK TAHUN 2014.

BAB 1 PENDAHULUAN. sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan

DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM... i LEMBAR PENGESAHAN... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iii KATA PENGANTAR... iv LEMBAR KEASLIAN KARYA TULIS

BAB I PENDAHULUAN. (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

Bab 1. Pendahuluan. A. Definisi Nyeri Orofasial Kronis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. American Thoracic Society (ATS) dan European Respiratory Society (ERS)

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan pada penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit

DISTRIBUSI GEJALA KLINIK PENDERITA SINDROM NEFROTIK BERDASARKAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI DI RSUP DR.KARIADI TAHUN

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Apendisitis adalah suatu peradangan pada apendiks, suatu organ

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr.Kariadi Semarang setelah ethical

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) 1. Incidence Rate dan Case Fatality Rate Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. walaupun pemeriksaan untuk apendisitis semakin canggih namun masih sering terjadi

ABSTRAK. GAMBARAN IgM, IgG, DAN NS-1 SEBAGAI PENANDA SEROLOGIS DIAGNOSIS INFEKSI VIRUS DENGUE DI RS IMMANUEL BANDUNG

PERBANDINGAN KADAR MIKROALBUMINURIA PADA STROKE INFARK ATEROTROMBOTIK DENGAN FAKTOR RISIKO HIPERTENSI DAN PASIEN HIPERTENSI

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B

Transkripsi:

Artikel Asli Terbanyak Henoch-Schonlein Purpura dengan Keterlibatan Ginjal Budi Setiabudiawan, Reni Ghrahani, Gartika Sapartini, Minerva Riani Kadir Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung Latar belakang. Henoch Schonlein purpura (HSP) dengan keterlibatan ginjal memiliki prognosis yang lebih buruk, dan infeksi gigi merupakan faktor risiko terbanyak terjadinya HSP dengan keterlibatan ginjal. Tujuan. Menganalisis hubungan antara riwayat infeksi gigi dan terjadinya HSP dengan keterlibatan ginjal pada anak. Metode. Penelitian retrospektif dengan rancangan potong lintang terhadap 146 anak yang didiagnosis HSP berdasarkan kriteria American College of Rheumatology (ACR) serta European League Against Rheumatism (EULAR), Pediatric Rheumatology International Trials Organization (PRINTO), dan Pediatric Rheumatology European Society (PRESS). Penelitian dilakukan di Divisi Alergi-imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, periode Januari 2006 Desember 2012. Data pasien diambil dari rekam medis dan dianalisis menggunakan uji Chi square. Hasil. Didapatkan 146 anak dengan HSP, 93(63,7%) laki-laki dan 53(36,3%) perempuan dengan rasio 1,8:1. Rerata usia pasien 8,05±2,9 tahun. Sembilan puluh dua pasien (63%) diduga mengalami infeksi sebagai pencetus terjadinya HSP. Didapatkan 41 pasien HSP dengan keterlibatan ginjal (28%), yaitu proteinuria 6 (14,6%), hematuria 9 (22,0%), serta proteinuria dan hematuria 26 (63,4%) Infeksi gigi merupakan faktor pencetus terbanyak dibandingkan dengan faktor pencetus lainnya pada HSP dengan keterlibatan ginjal, yaitu 25 pasien (61%) dengan p=0,025; Odd ratio (OR) 2,7 (1,1 6,4) dengan interval kepercayaan 95%. Kesimpulan. Anak dengan riwayat infeksi gigi memiliki risiko tinggi untuk terjadi HSP dengan keterlibatan ginjal. Sari Pediatri 2013;14(6):369-73. Kata kunci: Henoch Schonlein purpura, infeksi gigi, keterlibatan ginjalerja, keterlambatan bicara Alamat korespondensi: Dr. Budi Setiabudiawan, dr., Sp.A(K), M.Kes. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Jl. Buton 10 Bandung. HP: 0811217293. E-mail: setiabudiawan@yahoo.com Henoch-Schonlein purpura (HSP), per tama kali dideskripsikan oleh William Heberden pada tahun 1801, merupakan salah satu bentuk vaskulitis pembuluh darah kecil yang ditandai adanya purpura nontrombositopenia, artritis atau artralgia, nyeri 369

abdomen, dan glomerulonefritis. Henoch-Schönlein purpura sering dijumpai pada anak, bersifat self-limited, namun dapat menyebabkan kerusakan ginjal jangka panjang. 1 Berdasarkan kriteria European League Against Rheumatism (EuLAR), Paediatric Rheumatology International Trials Organisation (PRINTO), dan Paediatric Rheumatology European Society (PRES) pada tahun 2008, diagnosis HSP ditegakkan berdasarkan adanya purpura atau petekia dengan lokasi predominan di ekstremitas bawah (jika lokasinya tidak khas diperlukan biopsi untuk melihat adanya deposit IgA) ditambah sekurang-kurangnya 1 dari 4 kriteria berikut, yaitu nyeri abdomen, histopatologi, artritis atau artralgia, dan keterlibatan ginjal. 1 Insiden kejadian HSP diperkirakan 14 18/100.000 anak per tahun, dengan manifestasi keterlibatan ginjal 20%-60%. 2 Manifestasi keterlibatan ginjal pada HSP bervariasi mulai dari hematuria mikroskopik, hipertensi, sindrom nefritis akut, sindrom nefrotik, hingga gagal ginjal akut. Berdasarkan penelitian Sinclair, 3 hematuria dan proteinuria terjadi 30%- 40% kasus, dan dapat dideteksi saat diagnosis awal 85% kasus, 95% pada 6 minggu setelah diagnosis dan 97% pada 6 bulan setelah diagnosis. Penelitian Jauhola 4 mendapatkan 102 kasus dengan keterlibatan ginjal, yaitu berupa hematuria mikroskopik (14%), proteinuria (9%), hematuria dan proteinuria (56%), sindrom nefrotik (20%), dan nephrotic-nephritic syndrome (1%) dari 223 kasus HSP. Penyebab HSP sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Infeksi diduga merupakan pencetus potensial HSP, terutama yang disebabkan oleh Streptokokus -hemolitikus. Dua puluh lima persen pasien HSP memiliki hasil kultur tenggorokan positif terhadap Streptokokus -hemolitikus grup-a.penelitian di Jepang, diidentifikasi adanya antigen Streptokokus -hemolitikus grup-a pada glomerulus pasien HSP dengan keterlibatan ginjal. Pada penelitian Inoue dkk, 5 didapatkan fokus infeksi pada penyakit HSP dengan keterlibatan ginjal sebanyak 28 (70%) berupa karies dentis, 21 (53%) apikal periodontitis, 19 (48%) rinosinusitis, 5 (13%) tonsillitis, dan 4 (10%) otitis media dari total keseluruhan subjek penelitian. Mikroorganisme atau toksin fokus infeksi yang terlokalisir dalam jaringan dapat menyebar secara sistemik serta mampu menimbulkan kerusakan jaringan lain. Fokus infeksi odontogenik merupakan salah satu pencetus infeksi yang seringkali berdampak sistemik, termasuk pada kasus HSP. Berdasarkan penelitian Igawa dkk 6 ditemukan, bahwa fokus infeksi odontogenik menjadi faktor pencetus keterlibatan ginjal pada pasien HSP dan setelah dilakukan perawatan gigi secara konservatif pada tujuh pasien dengan infeksi gigi berat didapatkan perbaikan HSP secara klinis. Sampai saat ini di Indonesia belum ada penelitian mengenai hubungan antara fokus infeksi gigi dan HSP dengan keterlibatan ginjal. Pada penelitian ini, dilakukan penilaian karakteristik dan gambaran klinis pasien HSP yang datang ke Divisi Alergi-Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung periode 2006-Desember 2012 serta menganalisis infeksi gigi sebagai pencetus kejadian HSP dengan keterlibatan ginjal. Metode Penelitian retrospektif dengan rancangan potong lintang terhadap anak dengan HSP yang datang ke Divisi Alergi-imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, baik rawat jalan maupun rawat inap selama periode 2006 2012. Data diambil dari rekam medis pasien. Kriteria diagnosik HSP menggunakan kriteria American College of Rheumatology (ACR) tahun 1990 serta European League Against Rheumatism (EULAR), Pediatric Rheumatology International Trials Organization (PRINTO), dan Pediatric Rheumatology European Society (PRES) tahun 2008. Kriteria ACR yaitu apabila ditemukan minimal 2 dari 4 kriteria berikut, 1) Purpura palpabel, yaitu purpura yang sedikit menimbul, tidak berhubungan dengan trombositopenia; 2) usia 20 tahun saat pertama kali gejala penyakit muncul; 3) Nyeri abdomen difus yang bertambah berat setelah makan atau ditemukan iskemia saluran cerna yang biasanya berupa diare berdarah, 4) Biopsi: ditemukan granulosit pada dinding arteriol atau venula. Kriteria EULAR/ PRINTO/ PRES adalah apabila ditemukan purpura atau petekia dengan lokasi predominan di ekstremitas bawah (jika lokasi tidak khas diperlukan biopsi untuk melihat deposit IgA) tanpa disertai trombositopenia ditambah sekurang-kurangnya 1 dari 4 kriteria, yaitu 1) nyeri abdomen yang bersifat kolik dan difus dengan onset akut berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis, dapat berupa intususepsi dan perdarahan 370

saluran cerna; 2) histopatologi berupa gambaran leukositoklastik dengan dominasi deposit IgA pada kulit atau glomerulonefritis proliferatif dengan dominasi deposit IgA; 3) artritis dengan onset akut: pembengkakan atau nyeri sendi dengan keterbatasan gerak; atau atralgia dengan onset akut: nyeri sendi tanpa disertai pembengkakan sendi atau keterbatasan gerak; 4) keterlibatan ginjal, yaitu adanya proteinuria >0,3 g/24 jam atau rasio albumin/kreatinin urin >30 mmol/mg pada urin pagi hari atau >+2 pada dipstick; hematuria atau red blood cell atau red blood cell cast >5/ lpb pada sedimen urin. 1 Data dianalisis menurut karakteristik demografis, ya itu usia saat diagnosis, rentang usia, dan jenis kela min, serta gejala klinis yang timbul seperti purpura, nye ri abdomen, artritis, dan keterlibatan ginjal. Dilakukan pendataan mengenai infeksi yang menyertai kejadian HSP, serta dilakukan analitis terhadap hubungan antara infeksi gigi dan kejadian HSP dengan keterlibatan ginjal. Data dianalisis menggunakan uji Chi square. Hasil Didapatkan 146 anak dengan HSP yang terdiri dari 93 anak laki-laki (63,7%) dan 53 anak perempuan (36,3%) dengan rasio 1,8:1. Usia pasien bervariasi mulai dari 6 bulan hingga 15 tahun dengan rerata pasien saat didiagnosis 8,05 ± 2,9 tahun (Tabel 1). Seluruh pasien HSP mengeluh adanya purpura, baik sebagai keluhan utama maupun keluhan penyerta dari gejala lain yang timbul (100%). Keluhan lain yang terjadi yaitu nyeri abdomen pada 97 (66,4%) pasien, artritis 59 (40,4%) dan keterlibatan ginjal 41 (28%) (Tabel 2). Dari 146 pasien, 92 (63%) pasien diduga mengalami suatu infeksi sebagai pencetus terjadinya Tabel 1. Karakteristik pasien HSP Karakteristik Subjek (n=146) Usia (tahun) Rerata ± SD 8,05±2,9 Rentang 6 bulan 15 tahun Jenis kelamin, n(%) Laki-laki 93 (63,7) Perempuan 53 (36,3) Rasio laki-laki:perempuan 1,8:1 HSP, sedangkan 54 (37%) pasien tidak diketahui faktor pencetusnya. Infeksi gigi didapatkan pada 39 (42,4%), infeksi saluran pernapasan akut/ispa 27 (29,3%), sindroma viral 21 (22,8 %), diare 2 (2,2%), infeksi kulit 2 (2,2%), dan tuberkulosis 1 (1,1%) dari 92 pasien (Tabel 3). Manifestasi keterlibatan ginjal pada HSP berupa proteinuria, hematuria, atau gabungan keduanya. Pada penelitian kami, didapatkan proteinuria 6 (14,6%), hematuria 9 (22,0%), serta proteinuria dan hematuria 26 (63,4%) dari 41 pasien (Tabel 4). Pada 41 pasien HSP dengan keterlibatan ginjal, infeksi gigi merupakan faktor pencetus terbanyak dibandingkan dengan faktor pencetus lainnya, yaitu 25 pasien (Tabel 5). Uji Chi square terhadap riwayat infeksi gigi dan kejadian HSP dengan keterlibatan ginjal didapatkan hasil x 2 =5,008 dengan p=0,025; didapatkan odd ratio (OR) 2,7 (1,1 6,4) pada interval kepercayaan 95%. Tabel 2. Gejala klinis pasien HSP Gejala klinis Jumlah Persentase Purpura 146 100,0 Nyeri abdomen 97 66,4 Artritis 59 40,4 Keterlibatan ginjal 41 28,0 Tabel 3. Riwayat infeksi sebagai faktor pencetus Henoch Schonlein purpura Riwayat infeksi Jumlah Persentase Diare 2 2,2 Gigi 39 42,4 ISPA 27 29,3 Kulit 2 2,2 Sindrom viral 21 22,8 Tuberkulosis 1 1,1 Jumlah 92 100,0 Tabel 4. Manifestasi keterlibatan ginjal Pemeriksaan urin Jumlah Persentase Proteinuria 6 14,6 Hematuria 9 22,0 Proteinuria+hematuria 26 63,4 Jumlah 41 100,0 371

Tabel 5. Hubungan antara riwayat infeksi dan kejadian HSP dengan keterlibatan ginjal Riwayat infeksi HSP dengan keterlibatan ginjal Diare Gigi ISPA Kulit Sindroma viral TBC Tidak diketahui Hal tersebut berarti bahwa anak dengan riwayat infeksi gigi memiliki risiko untuk menderita HSP dengan keterlibatan ginjal 2,7 kali lebih besar dibandingkan dengan anak tanpa riwayat infeksi gigi. Pembahasan 1 25 2 2 6 0 5 Total 41 Kami mendapatkan 146 pasien HSP pada periode 2006-2012, dengan rentang usia 6 bulan hingga 15 tahun serta rerata usia 8,05±2,9 tahun. Hasil tersebut sedikit berbeda dibandingkan penelitian sebelumnya yang dilakukan Trapani dkk 8 dan Aalberse 7 dengan usia rerata 6 tahun saat terdiagnosis. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut, apakah HSP memang baru terdiagnosis pada saat usia 8 tahun, atau disebabkan adanya keterlambatan rujukan dan diagnosis sebelum dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Perbandingan laki-laki dan perempuan pada penelitian kami 1,8:1, serupa dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan predominasi laki-laki. 7, 8 Pada seluruh pasien terdapat purpura nontrombositopenia yang merupakan salah satu kriteria diagnosis HSP. Purpura secara predominan terdapat di ekstremitas bawah, apabila tidak didapatkan pada daerah predileksi ini maka perlu dilakukan biopsi. Pada penelitian kami, terdapat keluhan nyeri abdomen 66,4% pasien, hal tersebut hampir sama dengan penelitian Peru dkk (2008), yaitu 66%, tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian Trapani dkk (2005) yaitu 51%. 8, 9 Artritis pada penelitian ini terdapat pada 40,4% pasien, lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Trapani dkk 8 (74%) dan Peru dkk 9 (56%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Grace dkk 10 pada tahun 1997, keterlibatan ginjal pada kasus HSP seringkali memberikan prognosis buruk. Kami mendapatkan manifestasi keterlibatan ginjal pada 41 (28%) pasien, jumlah tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Trapani dkk (54%) dan Peru dkk (30%). Frekuensi HSP dengan keterlibatan ginjal pada berbagai penelitian sangat bervariasi mulai dari 15%-62%. Manifestasi keterlibatan ginjal dapat berupa proteinuria, hematuria, dan gabungan keduanya. Proteinuria berat pada awal diagnosis merupakan prediktor buruk terjadinya gagal ginjal. 8, 9 Hubungan antara HSP dan riwayat infeksi telah dideskripsikan oleh berbagai penelitian terdahulu. Penelitian kami menunjukkan adanya riwayat infeksi lebih dari setengah kasus (63%), hal tersebut hampir sama dengan penelitian lain yang menunjukkan adanya kemungkinan faktor infeksi sebagai pencetus, yaitu sebesar dua per tiga kasus. 8 Infeksi gigi (42,4%) merupakan pencetus terbanyak pada penelitian kami. Pencetus infeksi kedua terbanyak adalah ISPA (29,3%), lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Calvino dkk (52%). Pencetus infeksi lain didapatkan namun sangat sedikit, yaitu diare dan infeksi kulit, masingmasing 2 kasus, serupa yang didapatkan Calvino dkk. 11 Kami menemukan 1 kasus tuberkulosis sebagai pencetus HSP. Tuberkulosis dianggap mampu mencetuskan HSP, meskipun mekanisme pasti terjadinya masih perlu diteliti lebih lanjut. 12 Sindrom viral didiagnosis berdasarkan keluhan panas badan nonspesifik dengan parameter hematologi normal dan pada penelitian kami mendapatkan 21 kasus. Meskipun etiologinya belum diketahui, tetapi berbagai patogen telah diduga sebagai pencetus HSP, di antaranya Streptokokus -hemolitik grup A, Mycoplasma, Helicobacter pylori, Haemophilus parainfluenzae, Varicella zooster virus, Rubella virus, Herpes simpleks virus, sitomegalovirus, virus hepatitis A dan B, paratifoid A dan B, measles, 2, 11 kolera, yellow fever. Infeksi gigi merupakan pencetus terbanyak pada HSP dengan keterlibatan ginjal, yaitu 25 dari 41(61%) pasien. Hasil tersebut lebih rendah dibandingkan dengan yang didapatkan Chiyoko dkk 5 (70%). Pada penelitian kami, anak dengan infeksi gigi mempunyai risiko 2,7 kali lebih besar terjadinya HSP dengan keterlibatan ginjal dibandingkan dengan tanpa infeksi gigi. Infeksi gigi yang sampai ke akar gigi akan menimbulkan terjadinya inflamasi dan pertahanan mukosa oral secretory IgA-mediated gagal mengeliminasi bakteri sehingga patogen tersebut akan masuk ke dalam aliran darah, menimbukan bakteremia dan kerusakan 372

dinding pembuluh darah. Etiologi tersering yang menyebabkan periodontitis apikal adalah Haemophilus parainfluenzae. Antibodi terhadap bakteri tersebut ditemukan juga pada mesangial glomerular, serum pasien HSP, dan pasien IgA nephropathy. 5, 6 Hasil penelitian di Jepang oleh Abe dkk 13 didapatkan, bahwa dengan perawatan fokus infeksi gigi yang baik dapat membantu penyembuhan HSP. Penelitian Nakaseko dkk 14 menyatakan bahwa penanganan infeksi gigi yang baik akan menurunkan angka kejadian HSP dengan keterlibatan ginjal. Riwayat higiene gigi dan mulut perlu ditanyakan pada pasien dan perlu dilakukan konsul ke Bagian Gigi dan Mulut untuk mencari fokus infeksi dan tatalaksana komprehensif untuk mencegah terjadinya HSP dengan keterlibatan ginjal. Kesimpulan Riwayat infeksi gigi merupakan faktor pencetus terbanyak terjadinya HSP dengan keterlibatan ginjal pada anak, sehingga perawatan gigi perlu mendapat perhatian khusus pada penatalaksanaan HSP untuk mencegah keterlibatan ginjal. Daftar pustaka 1. Ozen S, Pistorio A, Lusan S. EULAR/PRINTO/PRES criteria for Henoch-Schonlein purpura. Ann Rheum Dis 2010;69:798-806. 2. McCarthy H, Tizard E. Clinical practice: diagnosis and management of Henoch Schonlein Purpura. Eur J Pediatr 2010;169:643-50. 3. Sinclair P. Henoch-Schonlein purpura-a review. Current Allergy Clin Immunol 2010;23:116-20. 4. Jauhola O, Ronkainen J, Koskimies O, Ala-Houhala M, Arikoski P, Hölttä T. Renal manifestations of Henoch Schönlein purpura in a 6-month prospective study of 223 children. Arch Dis Child 2010;95:877 82. 5. Inoue C.N NT, Matsutani S, Ishidoya M, Homma R, Chiba Y. Efficacy of early dental and ENT therapy in preventing nephropathy in pediatric Henoch-Schönlein purpura. Clinical Rheumatology 2008. 2008;27:1489-96. 6. Igawa K, Satoh T, Yokozeki H. Possible association of Henoch Schonlein purpura in adults with odontogenic focal infection. International Journal of Dermatology. 2011;50:277 9. 7. Aalberse J, Dalman K, Ramnath G, Pereira R, Davin J. Henoch-Schonlein purpura in children:an epidemiological study among Dutch paediatricians on incidence and diagnostic criteria. Ann rheum Dis 2007;66:1648-50. 8. Trapani S, Micheli A, Grisolia F, Resti M, Chiappini E, Falcini F. Henoch-Schonlein Purpura in childhood: Epidemiological and clinical analysis of 150 cases over a 5-year period and review of literature. Semin Arthritis Rheum 2005;35:143-53. 9. Peru H, Soylemezoglu O, Bakkaloglu S, Elmas S, Bozkaya D, Elmaci A. Henoch schonlein purpura in chilhood: clinical analysis of 254 cases over a 3-year period. Clin Rheumatol 2008;27:1087-92. 10. Grace J, Blanco O, Ibanez M, Lopez P, Martin I. Outcome of Henoch Schonlein nephropathy in pediatrics patients: prognostic factors. Nefrologia 2008;6:627-32. 11. Calviño MC, llorca J, García-Porrúa C, Fernández-iglesias Jl, Rodriguez-Ledo P, González-Gay MA. Henoch- Schönlein Purpura in children from northwestern spain a 20-year epidemiologic and clinical study. Medicine (Baltimore) 2001;80:279-90. 12. Islek I, Muslu A, Totan M, Gok F, Sanic A. Henoch- Schonlein purpura and pulmonary tuberculosis. Pediatrics International 2002;44:545-46. 13. Abe M, Mori Y, Sijo H, Hoshi K, Ohkubo K, Ono T, dkk. The efficacy of dental therapy for an adult case of Henoch-Schonlein purpura. Oral Science International 2012;9:59-62. 14. Nakaseko H, Uemura O, Nagai T, Yamakawa S, Hibi Y, Yamasaki Y, dkk. High prevalence of sinusitis in children with henoch-schonlein purpura. Hindawi Publishing Corporation. 2011:1-3. 373