Penyakit purpura Henoch-Schonlein (PHS)
|
|
|
- Irwan Setiabudi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Artikel Asli Budi Setiabudiawan, Reni Ghrahani, Gartika Sapartini, Nur Melani Sari, Herry Garna Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung Purpura Henoch-Schonlein (PHS) merupakan vaskulitis pada pembuluh darah kecil tersering terjadi pada anak. Penyakit ini ditandai dengan purpura palpable nontrombositopenia disertai salah satu gejala nyeri perut, artritis atau atralgia, glomerulonefritis, dan hasil biopsi jaringan berupa gambaran vaskulitis leukositoklastik. Bula hemoragik disertai edema jaringan subkutan merupakan gambaran yang tidak umum pada PHS dan sering terlewatkan. Manifestasi klinis vesikobulosa PHS sering ditemukan pada pasien dewasa, 16% 60% kasus, sedangkan pada anak kurang dari 2% kasus. Walaupun PHS secara tipikal merupakan penyakit selflimiting, tetapi komplikasi serius dapat terjadi. Perforasi gaster sangat jarang dilaporkan sebagai komplikasi PHS. Kami melaporkan 2 kasus PHS dengan manifestasi kulit yang berat, yaitu timbulnya bula hemoragik disertai dengan perforasi gaster. Pada kedua kasus dilakukan tindakan operatif dengan keluaran yang berbeda, pada kasus pertama pasien dipulangkan dalam kondisi baik pascaoperasi setelah dilakukan laparatomi eksplorasi, walaupun masih menderita nefritis. Sedangkan pasien kedua meninggal setelah tindakan diagnostic peritoneal lavage disebabkan sepsis berat. Simpulan, bula hemoragik dapat dipertimbangkan sebagai prediktor komplikasi perforasi gaster pada PHS yang akan meningkatkan kewaspadaan dalam tata laksana PHS. Sari Pediatri 2011;13(4): Kata kunci: bula hemoragik, nefritis, perforasi gaster, purpura Henoch-Schonlein Alamat korespondensi: Dr. dr. Budi Setiabudiawan, Sp.A(K), M.Kes. Subbagian Alergi-Imunologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin Jl. Pasteur no. 38 bandung 40161; Telp/Fax ; [email protected] Penyakit purpura Henoch-Schonlein (PHS) merupakan vaskulitis pembuluh darah kecil yang pertama kali dideskripsikan oleh William dan Heberden pada tahun Lucas Schonlein pada tahun 1832 menggambarkan kelainan berupa purpura dan atralgia, kemudian 257
2 Eduard Henoch pada tahun 1874 menemukan hubungannya dengan gejala gastrointestinal dan sistem genitourinary. 1,2 Purpura Henoch-Schonlein dengan manifestasi kulit vesikobulosa sering ditemukan pada kasus dewasa mencapai 16% 60% kasus, sedangkan pada anak hanya <2%. 3 Manifestasi saluran cerna serta ginjal menjadi salah satu penyebab keluhan penting dan komplikasi jangka panjang pada PHS. Komplikasi saluran cerna seperti perdarahan masif, perforasi usus, dan intususepsi intestinal juga telah dilaporkan. Sangat jarang yang melaporkan kejadian perforasi gaster sebagai komplikasi pada PHS. Kami melaporkan 2 kasus perforasi gaster pada kasus PHS di Ruang Perawatan Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSHS bandung, Desember 2010-Mei Kasus 1 Seorang anak laki-laki 11 tahun datang dengan keluhan timbul bula simetris di kedua ekstremitas dan menjalar hingga kedua bokong, terasa nyeri tetapi tidak terasa gatal, diawali dengan bercak-bercak kemerahan sejak 2 minggu sebelumnya. Pada saat pemeriksaan awal anak tampak sakit berat disertai hipertensi dengan tekanan darah 120/90 mmhg dan status gizi baik. Pada ekstremitas inferior terdapat edema subkutan dan pada pemeriksaan kulit tampak lesi kulit multipel distribusi regional pada aurikula sinistra dan dekstra, dari kaki hingga bokong dengan bentuk petekia, purpura, krusta hingga bula hemoragik dengan tanda Nikolsky negatif. Pada pemeriksaan laboratorium darah awal menunjukkan anemia, neutrofilia, kenaikan LED (50/110 mm per ½ jam), albumin 3,2 g/dl, ureum 24 mg/dl, kreatinin 0,56 mg/dl, Na/K 138/4,2 meq/l. Pada pemeriksaan urinalisis didapatkan proteinuria (+++), mikroskopis hematuria, tidak didapatkan kast/ silinder. Hasil biopsi kulit menunjukkan gambaran leukositoklastik ringan. Pasien didiagnosis sebagai nefritis PHS+dermatitis atopi, tidak didapatkan fokus infeksi dan direncanakan pengobatan untuk nefritis berat dengan pemberian puls siklofosfamid disertai mercaptoethane sulfonate Na (MESNA) dan puls metilprednisolon berdasarkan regimen Oxford dan menghentikan kortikosteroid oral (metilpredisolon 2 mg/kgbb/hari). Satu hari kemudian pasien mengalami muntah, nyeri perut, dan cairan kehitaman dari nasogastric tube (NGT). Pasien dilakukan foto polos abdomen dan dikonsulkan ke Bagian Bedah Anak. Kesan foto terdapat peritonitis difusa ec perforasi gaster pada pasien nefritis PHS+dermatitis atopi. Pasien kemudian dilakukan laparatomi eksplorasi. Hasil pemeriksaan laboratorium preoperasi menunjukkan leukositosis, neutrofilia, ureum 41 mg/dl, kreatinin 0,73 mg/dl, laju filtrasi glomerulus (GFR) 97/ ml/1,73 m 2 urinalisis proteinuria (+++), hematuria mikroskopis. Preoperasi diberikan kombinasi antibiotik sefotaksim, gentamisin, dan metronidazol. Laporan durante operasi laparatomi eksplorasi dan biopsi ditemukan pneumoperitoneum, cairan peritoneum bercampur gastric juice sebanyak 100 ml perforasi di daerah anterior gaster daerah antrum berdiameter 2 cm dengan tepi nekrotik. Post operation day (POD) selama 3 hari pasien dirawat di ruang intensif dan mengalami acute kidney injury (AKI) ditandai dengan anuria serta peningkatan kreatinin. Selain mengalami AKI pasien juga mengalami komplikasi pascaoperasi, yaitu sepsis, hipoalbumin, dan wound dehicent. Pada hari perawatan ke-23 dengan mempertimbangan gejala vaskulitis yang mengalami perburukan klinis ditandai dengan fungsi ginjal yang semakin memburuk, pasien kemudian diberikan kembali metilprednisolon oral dosis 2 mg/kgbb/hari. Setelah 5 hari pemberian steroid pasien dipindahkan ke ruang perawatan dengan kondisi klinis baik, ditandai dengan tanda klinis stabil, penurunan kadar kreatinin dan ureum, bengkak pada kedua tungkai yang berkurang, dan peningkatan diuresis. Pasien dipulangkan pada hari perawatan hari ke-38 dengan kondisi klinis baik, walaupun masih didapatkan tanda-tanda nefritis. Kasus 2 Seorang anak laki-laki usia 10 tahun dengan keluhan utama kemerahan yang menimbul pada permukaan tangan dan kaki sejak 4 hari sebelum dirawat yang meluas ke paha dan seluruh badan disertai bengkak di pergelangan tangan dengan nyeri bila menggenggam, nyeri perut, nyeri ulu hati, dan muntah. Pada pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan hematuria maupun darah samar dalam feses. Kemudian ditegakkan diagnosis PHS dan diberikan terapi prednison 1 mg/kgbb/hari dengan tersangka fokus infeksi otitis media akut aurikula sinistra. Pada hari perawatan ke-2 timbul bula pada daerah siku kanan. Pada hari perawatan ke-14 kembali mengeluh nyeri perut yang semakin bertambah hebat, tidak disertai melena. Maka 258
3 dilakukan perubahan terapi dengan memberikan puls metilprednisolon 30 mg/kgbb/hari. Hari perawatan ke-16 terjadi nyeri perut hebat dan dilakukan foto polos abdomen, pada pemeriksaan fisis tampak abdomen tegang, terdapat nyeri tekan abdomen tanpa disertai nyeri lepas. Pasien dikonsulkan ke Bagian Bedah Anak dengan kesan perforasi gaster. Pasien mengalami syok septik, diberikan resusitasi cairan dan vasopresor, serta kombinasi antibiotik sefotaksim, metronidazol, dan gentamisin. Oleh karena kondisi klinis pasien tidak stabil dan tidak memungkinkan untuk dilakukan laparotomi eksplorasi dalam narkose umum, kemudian dilakukan diagnostic peritoneal lavage untuk mengurangi tekanan intraabdominal. Durante operasi ditemukan pneumoperitoneum dan gastric juice. Pasien kemudian dirawat di ruang intensif anak dan meninggal beberapa jam setelah dilakukan operasi karena sepsis berat. Pembahasan Purpura Henoch-Schonlein juga dikenal dengan purpura anafilaktoid, adalah suatu vaskulitis pada pembuluh darah kecil yang sering ditemukan dengan komplikasi kulit dan sistemik. 4 Etiologi PHS sampai sekarang belum diketahui dengan pasti, tetapi terbukti terdapat pula hubungan infeksi virus, obat-obatan, pemberian vaksinasi, dan obat-obatan dengan penyakit PHS. 4,5 Gejala awal berupa serangan akut dengan beberapa manifestasi sekaligus, atau tersembunyi dan muncul satu per satu dalam periode minggu atau bulan. Setelah timbul ruam, gejala lain timbul dalam rerata 4 hari (1 19 hari). 4 Ruam pada umumnya berupa verikel berisi darah serupa petekia hingga ekimosis yang terdistribusi simetris pada ekstremitas bawah maupun daerah yang seringkali banyak mengalami penekanan, misalnya bokong. Bula hemoragik disertai edema jaringan subkutan merupakan gambaran yang tidak umum pada PHS dan sering terlewatkan, karena hanya terjadi <2% kasus anak. 3 Gejala gastrointestinal dapat terjadi sebelum manifestasi kelainan kulit sebagai tanda patognomonis PHS pada 25,3% kasus. 1 Interval antara 2 gejala klinis tersebut sekitar 4,8 hari dan paling lama 28 hari. Manifestasi klinis gastrointestinal meliputi gejala nyeri kolik abdomen yang terlokalisir pada daerah epigastrik, periumbilikalis, bertambah berat dengan diberikan makanan (bowel angina) dan sering diduga suatu akut abdomen ditandai dengan nyeri tekan, tegang, sehingga menyebabkan operasi yang tidak diperlukan. 1,6 Gejala lain diantaranya muntah, perdarahan saluran cerna, dan diare. Pemberian steroid memperbaiki gejala pada tahap awal, tetapi tidak mencegah nyeri perut berulang. Steroid akan mengurangi edema dinding usus dan kemudian gejala menghilang. 6 Perdarahan dapat terjadi tanpa terjadinya nyeri perut. Perdarahan pada umumnya ringan, tetapi dapat berlangsung hebat sehingga memerlukan endoskopi ataupun terapi pembedahan. Etiologi dan patologi manifestasi kelainan pada saluran cerna PHS masih belum dijelaskan dengan baik, tetapi PHS diperkirakan menyebabkan inflamasi pada pembuluh darah kecil sistemik, terjadi edema perivaskular dan kemudian perdarahan. Keterlibatan saluran cerna terutama usus halus menyebabkan hematoma pada dinding usus, menyebabkan risiko terjadinya perforasi, obstruksi subakut, intususepsi, atau perdarahan ke dalam lumen. 7 Kasus 1 Kasus 2 Gambar 1. Manifetasi kulit pada purpura Henoch-Schonlein Sumber: Parajuli
4 Komplikasi PHS pada saluran gastrointestinal bervariasi 3,9% 22,4%. 1 Intususepsi merupakan komplikasi yang paling sering memerlukan pembedahan, terjadi pada 0,7 13,6% pasien. Komplikasi tersebut jarang terjadi pada anak usia kurang dari 3 tahun dan dewasa. Gejala klinis menunjukkan obstruksi intestinal, kadang-kadang teraba masa abdomen. Lokasi terjadinya insusepsi adalah pada ileo-ileal (51%), ileo-kolon (39%), dan jarang pada jejunojenunal (7%). Predominasi keterlibatan usus halus pada PHS disebabkan proses patologis perdarahan intramural dan edema pada daerah usus, sedangkan pada intususepsi idiopatik terjadi pada 80% 90% di ileokolon. Hal tersebut disebabkan karena hiperplasia jaringan limfoid pada ileum distal terjadi pada anak usia <2 tahun, oleh karena itu penemuan intususepsi pada anak usia lebih dari 2 tahun patut mencurigai PHS sebagai etiologinya. 8 Perforasi pada umumnya terjadi di daerah ileum disertai dengan intususepsi, 8,9 terutama pemberian steroid, dan terjadi pada minggu kedua pengobatan. Salah satu kelompok peneliti mengemukakan bahwa pemberian steroid dapat merupakan predisposisi perforasi dan dapat menghilangkan gejala inflamasi, terjadi perbaikan klinis sementara sebelum pada pemeriksaan abdomen mengalami perburukan. Komplikasi PHS lainnya pada saluran cerna meliputi obstruksi dan pembentukan striktur pada duodenum dan ileum, manifestasi lambat yang kemungkinan disebabkan oleh iskemik. 10 Selain itu dijumpai pula gejala protein loosing enteropathy, cholecystisis acalculous acute yang ditandai penebalan dinding kandung empedu, hidrops kandung empedu. Sembilan persen PHS juga dapat menunjukkan gejala nyeri pada kuadran atas kanan, hepatomegali, mual yang berhubungan dengan peningkatan enzim hati, ileitis terminalis, pembengkakan skrotum bilateral akut, hematom pada dinding abdomen, dan pankreatitis akut Penemuan-penemuan ini mengalami perbaikan setelah pemberian kortikosteroid selama 3 7 hari. Pemberian inhibitor sekresi asam lambung juga bermanfaat pada keterlibatan saluran cerna. Pemberian kortikosteroid sedari awal direkomendasikan untuk mencegah untuk komplikasi gastrointestinal, 15 tetapi walaupun telah diberikan steroid, risiko komplikasi pada saluran cerna masih tetap ada. Manifestasi renal berupa nefritis purpura Henoch- Schonlein (NPHS) pada umumnya terjadi 1 3 bulan pertama setelah timbul ruam. Jauhola dkk. 16 menemukan bahwa nefritis dapat terjadi lebih awal (rerata 14 hari). Sebuah tinjauan sistematik terhadap kasus PHS menerangkan manifestasi klinis NPHS terjadi pada 34% kasus (rentang 15 62%). Gejala hematuria dan atau proteinuria ditemukan pada 79% kasus dan 21% menderita sindrom nefrotik atau nefritik. Proteinuria masif saat onset merupakan penanda penyakit yang progresif. Hasil penelitian Garcia dkk 17 menemukan 14% subjek menderita hipertensi. Fungsi ginjal pada sebagian besar anak NPHS masih dalam batas normal. Manifestasi gagal ginjal terminal (GGT) dapat terjadi pada 0 3% penderita NPHS Beberapa faktor risiko dihubungkan dengan terjadinya NPHS, yaitu (1) usia saat onset >8 tahun, (2) nyeri abdomen, dan (3) PHS yang kambuh. Akumulasi dua dan tiga faktor risiko meningkatkan risiko nefritis Gambar 2. Foto polos abdomen pada kasus 1 Gambar 3. Foto polos abdomen pada kasus 2 Gambar 4. Biopsi kulit pada kasus 1 260
5 menjadi 63% dan 87%. Kambuh terjadi pada 17% (rentang 3 35%) kasus PHS dan umumnya terjadi kurang dari 4 bulan setelah onset. Kekambuhan lebih sering terjadi pada pasien dengan nefritis dan usia >8 tahun saat onset. 16 Diagnosis PHS ditegakkan berdasarkan kriteria yang dikeluarkan oleh American College of Rheumatology (ACR) tahun 1990, yaitu minimal ditemukan 2 gejala dari kriteria berikut, 1.Onset umur <20 tahun, 2. purpura yang menimbul (tanpa trombositopenia), 3. nyeri abdomen, 4. histopatologi (sensitivitas 87,1% dan spesifisitas 87,7%). Menurut kriteria EULAR/PRINTO/PRES 2008, apabila purpura tanpa trombositopenia dengan predominan di ekstremitas inferior disertai dengan, 1. nyeri abdomen, 2. artritis atau atralgia, 3. histopatologi, dan 4. keterlibatan ginjal (sensitivitas 100% dan spesifisitas 87%). 19 Diagnosis NPHS ditegakkan apabila ditemukan perubahan sedimen urin sewaktu, baik berupa hematuria, proteinuria, sindrom nefritik atau sindrom nefrotik, juga penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) atau hipertensi pada kasus PHS. 17 Kedua kasus kami diagnosis PHS sesuai dengan kriteria EULAR/PRINTO 2008 maupun ACR tahun1990. Pada kasus pertama diagnosis PHS ditegakkan berdasarkan adanya purpura simetris yang berkembang menjadi bula hemoragik, disertai dengan nefritis (NPHS) yang ditandai proteinuria, hematuria mikroskopis, tanpa disertai keluhan gastrointestinal. 20 Pada kasus ke-2 terdapat ruam berupa purpura yang teraba dan disertai nyeri perut. Berdasarkan hasil fisis dan pemeriksaan urin, tidak terdapat hipertensi, hematuria atau proteinuria, maka pada kasus ke-2 belum terbukti keterlibatan ginjal. Pemeriksaan awal yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap, faktor pembekuan darah, elektrolit, serta pemeriksaan fungsi ginjal berupa ureum maupun kreatinin dan urinalisis. Pada pemeriksaan penunjang dapat ditemukan anemia, leukositosis, peningkatan kadar laju endap darah, maupun abnormalitas fungsi ginjal. Hematuria, proteinuria, dan adanya kast/silinder yang berhubungan dengan derajat kerusakan ginjal dapat ditemukan pada urinalisis. Pemeriksaan serologis yang spesifik untuk PHS sampai sekarang belum ditemukan yaitu kadar IgA, serta kadar komplemen C3 dan C4. Pada kasus ke-2 didapatkan anemia, leukositosis, peningkatan kadar laju endap darah. Abnormalitas pemeriksaan urin yang menunjukkan keterlibatan ginjal didapatkan pada kasus 1, sehingga pendekatan pengobatan lebih agresif untuk mencegah kelainan ginjal yang persisten. Disamping itu, seharusnya mengingat keluhan nyeri perut sebagai manifestasi kelainan gastrointestinal, banyak penulis yang berpendapat bahwa ultrasonografi (USG) merupakan pemeriksaan abdomen awal dan dapat mendeteksi komplikasi yang memerlukan tindakan bedah. Ultrasonografi dapat mendeteksi penebalan dinding usus yang asimetris, pelebaran, hipomotilitas, sama halnya dengan adanya koleksi cairan intraabdomen dan intususepsi. Evolusi gejala penyakit juga dapat diikuti secara noninvasif, sedangkan pemeriksaan endoskopi ditandai dengan lesi mukosa yang dapat terjadi di manapun sepanjang saluran cerna. Mukosa berwarna kemerahan, petekia yang berbentuk seperti cincin, dan erosi perdarahan diindikasikan pada kasus hematemesis, melena, dan nyeri epigastrium. 21 Laporan beberapa peneliti dari Taiwan memperlihatkan lesi mukosa terlihat pada 6 dari 9 kasus gastrointestinal. 1 Penemuan yang paling sering adalah duodenitis erosive haemorrhagic. Gambaran tersebut dianggap sebagai gambaran tipikal PHS walaupun bukan tanda patognomonik, sedangkan peneliti lain menemukan gastritis erosive haemorrhagic dengan bercak eritem pada 20% kasus. 2 Biopsi usus merupakan teknik diagnostik yang dapat dipercaya, pengambilan spesimen dari lesi awal yang paling menunjukkan gambaran positif adalah leucocylastik vasculitis (LCV). Biopsi usus 64% menunjukkan deposit IgA pada 64% kasus PHS apabila dibandingkan dengan 10% penyakit gastrointestinal lainnya. Komplemen C3 juga ditemukan pada dinding pembuluh darah. Vaskulitis dapat juga ditemukan pada pembuluh darah submukosa usus, walaupun biopsi pada daerah ini meningkatkan kemungkinan terjadinya perforasi. Penemuan pada biopsi superfisial bervariasi mulai dari peradangan nonspesifik inflamasi, edema, perdarahan, dan pelebaran pembuluh darah yang umumnya disebabkan vaskulitis yang menginduksi iskemia mukosa. Pada salah satu penelitian LCV ditemukan pada lesi ulserasi yang disertai dengan penonjolan seperti hematoma. 1,8 Kasus pertama berbeda dengan kasus ke-2, yaitu pada awal penyakit tidak ditemukan gejala gastrointestinal, sedangkan gejala akut abdomen baru timbul pada saat perawatan. Hal tersebut mendukung bahwa pada PHS gejalanya mungkin tidak terjadi simultan. Seharusnya tindakan yang 261
6 ideal adalah melakukan endoskopi pada kasus PHS dengan atau tanpa gejala abdomen, karena pemberian steroid memiliki masking effect. Dengan demikian, kelainan pada gastrointestinal berupa erosi atau bintik-bintik perdarahan akan terdeteksi dari awal sehingga meningkatkan kewaspadaan dan pendekatan terapi akan berbeda. Selain itu, pada pemeriksaan endoskopi dapat dilakukan biopsi dan pewarnaan terhadap Helicobacter pylori. Pada kasus ini tidak dilakukan biopsi, pewarnaan dan biakan Helicobacter pylori, sehingga tidak dapat disimpulkan apakah terdapat keterlibatan H. pylori dalam manifestasi saluran gastrointestinal pada kedua kasus. Mortalitas PHS dengan perforasi gaster akan semakin meningkat, terlebih lagi komplikasi ini sangat jarang. Perforasi gaster terjadi apakah murni merupakan manifestasi gastrointestinal PHS ataukah pemberian steroid yang dapat menjadi pencetus pada kedua kasus ini sulit untuk dibuktikan. Dalam satu penelitian dijelaskan bahwa pemberian steroid dosis tinggi (>20 mg/hari) selama 2 minggu menjadi faktor predisposisi terjadinya perforasi. Kedua kasus ini saat terjadinya perforasi berada dalam pengobatan steroid memasuki minggu ke-2. Selain itu, biopsi gaster hanya didapatkan pada kasus pertama tidak menunjukkan gambaran patognomonis PHS, tetapi hanya berupa gambaran inflamasi nonspesifik. Pada kasus pertama, setelah hari perawatan ke-23 gambaran vaskulitis memburuk, kemudian setelah diberikan kortikosteroid kembali gambaran vaskulitis membaik secara klinis dan tidak menunjukkan gejala gastrointestinal. Hal tersebut yang kemudian menjadi petunjuk bahwa perforasi gaster yang terjadi merupakan perjalanan penyakit PHS. Ranitidin dan anti histamin 2 blocker lainnya efektif pada kasus dengan keterlibatan gastrointestinal dibandingkan dengan kontrol tetapi karena belum menjadi protokol tata laksana PHS pada kedua kasus tidak diberikan sedari awal. Pemeriksaan histopatologi merupakan pemeriksaan penting pada NPHS karena dihubungkan dengan terapi. Indikasi pemeriksaan histopatologi pada kasus NPHS adalah, (1) hematuria, hipertensi, oligouria, dan gagal ginjal, (2) sindrom nefrotik yang menetap (>15 hari), dan (3) proteinuria persisten. 17 Pada kasus NPHS (kasus 1) seharusnya dilakukan biopsi ginjal sehubungan dengan terdapat hematuria dan hipertensi pada awal pemeriksaan. Namun dikarenakan keterbatasan alat, tindakan tersebut tidak dapat dilakukan di RS Dr. Hasan Sadikin. Tata laksana pasien PHS terdiri atas tata laksana yang bersifat umum dan khusus. Tata laksana umum PHS bersifat suportif karena sekitar 94% penderita dapat mengalami perbaikan spontan, perhatian utama ditujukan untuk hidrasi yang adekuat, keseimbangan elektrolit, status nutrisi, dan mengurangi rasa nyeri. 8 Tata laksana yang bersifat khusus di antaranya adalah pada PHS dengan manifestasi ginjal dan gastrointestinal bertujuan untuk mengurangi proteinuria progresivitas kerusakan ginjal dan mengurangi gejala. Walaupun sampai sekarang tidak terdapat konsensus mengenai indikasi penggunaan kortikosteroid pada PHS, banyak pengalaman yang belum dibuktikan menyatakan bahwa nyeri perut merupakan alasan paling sering kortikosteroid diberikan. Efikasi kortikosteroid untuk mencegah komplikasi berat atau relaps masih bersifat kontroversial. Terdapat dua randomized controlled trial (RCT) dengan hasil yang berbeda. Dengan menggunakan nilai median untuk durasi nyeri perut, Huber dkk 22 tidak menemukan perbedaan diantara kelompok terapi dan kelompok kontrol. Sebaliknya Ronkainen dkk 23 menemukan pengurangan durasi sakit rata-rata 1,2 hari pada kelompok yang diberikan steroid. Dampak pada keterlibatan sistem hepatobilier memberikan perbaikan gejala klinis. Pengaruh pemberian kortikosteroid pada insidensi intervensi bedah PHS, diketahui bahwa Huber dkk 22 menyatakan penurunan risiko intususepsi, tetapi tidak cukup signifikan, sedangkan pada dua kelompok penelitian retrospektif lainnya bersama-sama mendukung pada efek positif pemberian steroid pada intususepsi. Pengaruh kortikosteroid pada tahap awal secara signifikan mengurangi risiko penyakit ginjal persisten. 23 Beberapa penulis memberikan terapi yang lebih agresif pada kasus NPHS berat. Kasus NPHS berat menurut Altugan dkk 24 apabila ditemukan proteinuria nefrotik (>40 mg/m 2 /hari) dan apabila terdapat gambaran histopatologi stadium III sesuai dengan klasifikasi International Statistic of Kidney Diseases in Children (ISKDC). Terapi yang diberikan adalah terapi intensif, mencakup metilprednisolon intravena dosis tinggi secara puls, obat-obatan imunosupresif (siklofosfamid, azatioprin, siklosporin), terapi fibrinolisis (urokinase, heparin atau warfarin) atau antitrombosit (dipiridamol), plasmafaresis maupun kombinasi. Niaudet dan Habib 25 mengusulkan pemberian puls metilprednisolon sebaiknya diberikan sedini mungkin sebelum terbentuk jaringan fibrosa 262
7 pada parenkim ginjal. Kasus pertama dikategorikan sebagai nefritis berat, sehingga diberikan terapi intensif puls metilprednisolon dosis tinggi s dikombinasi dengan imunosupresif siklofosfamid berdasarkan protokol Oxford. Kasus ke-2 diberikan prednison 1 mg/kgbb/hari, membuktikan pemberian steroid tidak cukup efektif dalam mencegah timbulnya komplikasi berat dan tindakan bedah. Prognosis buruk berdasarkan kriteria PHS terjadi pada usia lebih dari 8 tahun, relaps sering, kadar kreatinin yang tinggi pada saat onset, proteinuria >1 gram/hari, hematuria dan anemia saat didiagnosis, hipertensi, glomerulonefritis membranoproliferatif, demam, purpura di atas pinggang, purpura yang menetap, peningkatan LED, peningkatan IgA dengan IgM yang berkurang pada saat diagnosis, dan kadar faktor XIII rendah. 27 Pada kasus pertama terdapat beberapa faktor menjadi GGT, yaitu gagal ginjal saat serangan, hipertensi, dan jenis kelamin laki-laki. Prognosis pada pasien ini quo ad vitam ad malam karena selama perawatan terdapat komplikasi yang mengancam nyawa, juga komplikasi PHS yang berat yaitu komplikasi pada ginjal dan perforasi gaster yang mortalitasnya dapat mencapai 80%, selain itu fungsi ginjal berisiko tinggi menjadi gagal ginjal terminal. Perforasi gaster dan nefritis PHS merupakan komplikasi PHS yang perlu mendapat perhatian. Walaupun sebagian besar gejala gastrointestinal dan komplikasinya bersifat self-limited dan dapat ditangani secara konservatif dengan angka keberhasilan yang cukup tinggi, tetapi kemungkinan komplikasi berat dan perlunya operasi patut dipertimbangkan. Selain itu, pemberian steroid 2 3 minggu merupakan risiko terjadinya perforasi gaster, sehingga untuk mengurangi efek sampingnya diberikan ranitidin dan obat-obat lain untuk mengurangi produksi asam lambung perlu dipertimbangkan. Disimpulkan bahwa manifestasi kulit yang berat seperti bula hemoragik sebagai prediktor komplikasi perforasi gaster pada PHS yang akan meningkatkan kewaspadaan dalam tata laksana PHS. Daftar pustaka 1. Chen SY, Kong MS. Gastrointestinal manifestation and complication of Henoch-Schonlein purpura. Chang Gung Med 2004;27: Chao N, Wong B, Leung M, Chung K, Kwok W, Liu K. Acute gastrointestinal and gastrourinary manifestation in children with Henoch-Schonlein purpura. HK J Paeditrs (new series). 2009;14: Costner M, Sontheimer R. Lupus nonspecific skin disease. Dalam: Wallace J, editor. Dubois lupus erythematosus. Baltimore: William and Wilkin; h Jauhola O, Ronkainen J, Koskimies O, Houhalla M, Arikoski P. Clinical course of extrarenal symptoms in Henoch-Schonlein purpura in children. Arch Dis Child 2010;95: Ballinger S. Henoch Schonlein purpura. Curr Opin Rheumatol. 2003;15: Gastrointestinal involvement revealing Henoch- Schonlein purpura in adults: Report of three case and review of the literature, Diunduh pada 1 Juni Didapat dari dari: 7. Potts S, Hamilton J, Stewar M, Boston V. Henoch- Schonlein purpura: problems in surgical diagnosis and management. Ulster Med J 1987;56: Ebert EC. Gastrointestinal manifestation of Henoch- Schonlein purpura. Dig Dis Sci 2008;53: Smith H, Krupski W. Spontaneous intestinal perforation in Schönlein-Henoch purpura. South Med J. 1980;73: Kawasaki M, Suekane H, Imagawa E, Lida M, Hizawa K, Aoyagi K, dkk. Duodenal obstruction due to Henoch- Schonlein purpura. AJR 1997;168: Palumbo E. Diagnosis of Henoch-Schonlein purpura in child presenting with bilateral acute scrotum. Acta Biomed 2009;80: Sanit T, Barell TA, Barr WG, Jones MP. Henoch- Schonlein purpura presenting as terminal ileitis: Case report and review of unsual causes of ileitis. Gastroenterol Hepatolol 2005;2: Dinler G, Bek K, Acikgoz Y, Kalayci AG. Acute pancreatitis as a presenting feature of Henoch-Schonlein purpura. Turkish J Pediatr 2010;52: Cailuo V, Nibio T, Villirillo A, Sordo RD, Matteis OD. Abdominal wall hematome: an usual complication of Henoch-Schonlein purpura. Ital J Pediatr 2007;33: Yigiter M, Bosnalı O, Sekmenli, Salman AB. Multiple and recurrent intestinal perforations: an unusual complication of Henoch-Schönlein purpura. Eur J Pediatr Surg 2005;15: Jauhola O, Ronkainen J, Koskimies O, Houhalla M, Arikosk P. Renal manifestation of Henoch-Schonlein purpura in a 6 month prospective study of 223 children Arch Dis Child 2010;95:
8 17. Garcia J, Blanco O, Sanahuja M, Ortega P, Martin I. Outcome of Henoch-Schonlein nephropathy in pediatric patients. Prognostic factors. Nefrologia 2008;28: Peru H, Soylemezoglu, Bakkaloglu S, Helmas S, Boykaya D. Henoch-Schonlein purpura in childhood: clinical analysis of 254 cases over 3 years period. Clin Rheumatol 2008;27: Ozen S, Pistorio A, Lusan SM, Bakkaloglu A, Herlin T, Brik R, dkk. EULAR/PRINTO/PRES criteria for Henoch-Schonlein purpura, childhood polyarteritis nodosa, childhood Wegener granulomatosis and childhood Takayasu arteritis: Ankara Part II: final classification criteria. Ann Rheum Dis 2010;69: Parajuli PU, Koirala, Ojha AR. Hemorrhagic bullae in Henoch-Schonlein purpura: a case report. J College of Medical Sciences-Nepal 2010;6: Esaki M, Matsumoto T, Nakamura S, Kawasaki M, Iwai K, Hirakawa K, dkk. GI involement in Henoch- Schonlein purpura. Gastrointestinal Endoscopy 2002;56: Huber A, King J, Mclaine P, Klassen T, Ponthos M. A randomixe, placebo controlled trial of prednisone in early Henoch Schonlein purpura. BMC Med 2004;2: Ronkainen G, Koskismis O, Houhala MA. Early prednisone therapy in Henoch-Schonlein purpura: a randomized double blind, placebo controlled trial. J Pediatr 2006;149: Weiss PF, Feinstein JA, Luan F, Burnham JM, Feudtner C. Effect of corticosteroid on Henoch-Schonlein purpura: a systemic review. Pediatrics 2007;120: Altugan F, Ozen S, Ayaz N, Gucer S, Topaloglu R, A AD. Treatment of severe Henoch Shonlein nephritis: justifying more immunosuppresion. Turkish J Pediatr 2009;51: Niaudet P, Habib R. Methylprednisolone pulse therapy in the treatment of severe forms of Schoenlein-Henoch purpura nephritis. Pediatr Nephrol 1998;12: Sohagia AB, Gunturu SG, Tong TR, Hertan HI. Henoch- Schonlein purpura-a case report and review of literature. Gastroenterol Research Practice 2010;5:
Purpura Henoch Schonlein (PHS), merupakan
Artikel Asli Manifestasi dan Komplikasi Gastrointestinal pada Purpura Henoch Schonlein Martani Widjajanti SMF Anak, RSAB Harapan Kita, Jakarta Latar belakang. Purpura Henoch Schonlein (PHS) merupakan penyakit
BAB I PENDAHULUAN. Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA Fakultas Kedokteran UGM 1
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Henoch-Schonlein Purpura (HSP) merupakan suatu mikrovaskular vaskulitis sistemik dengan karakteristik adanya deposisi kompleks imun dan keterlibatan immunoglobulin A
Pengaruh Lama Pengobatan Awal Sindrom Nefrotik terhadap Terjadinya Kekambuhan
Sari Pediatri, Sari Pediatri, Vol. 4, Vol. No. 4, 1, No. Juni 1, 2002: Juni 20022-6 Pengaruh Lama Pengobatan Awal Sindrom Nefrotik terhadap Terjadinya Kekambuhan Partini P Trihono, Eva Miranda Marwali,
Henoch-Schonlein purpura (HSP),
Artikel Asli Terbanyak Henoch-Schonlein Purpura dengan Keterlibatan Ginjal Budi Setiabudiawan, Reni Ghrahani, Gartika Sapartini, Minerva Riani Kadir Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbanyak yang sering dijumpai pada anak. Sindrom nefrotik adalah suatu sindrom
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindrom nefrotik (SN, Nephrotic Syndrome) merupakan salah satu penyakit ginjal terbanyak yang sering dijumpai pada anak. Sindrom nefrotik adalah suatu sindrom klinik
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dispepsia menurut kriteria Rome III didefinisikan sebagai sekumpulan gejala yang berlokasi di epigastrium, terdiri dari nyeri ulu hati atau ketidaknyamanan, bisa disertai
Purpura Henoch-Schonlein (PHS) adalah. Purpura Henoch-Schonlein
Artikel Asli Purpura Henoch-Schonlein Ratih Dewi Palupi, Zakiudin Munasir Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RS Dr Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Purpura Henoch-Schonlein
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Gangguan ginjal akut (GnGA), dahulu disebut dengan gagal ginjal akut,
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Gangguan Ginjal Akut pada Pasien Kritis Gangguan ginjal akut (GnGA), dahulu disebut dengan gagal ginjal akut, merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan peningkatan kadar
PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS. TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI)
PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI) Pembicara/ Fasilitator: DR. Dr. Dedi Rachmadi, SpA(K), M.Kes Tanggal 15-16 JUNI 2013 Continuing Professional
Author : Liza Novita, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Doctor s Files: (http://www.doctors-filez.
Author : Liza Novita, S. Ked Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau 2009 0 Doctor s Files: (http://www.doctors-filez.tk GLOMERULONEFRITIS AKUT DEFINISI Glomerulonefritis Akut (Glomerulonefritis
BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sekitar 5%-10% dari seluruh kunjungan di Instalasi Rawat Darurat bagian pediatri merupakan kasus nyeri akut abdomen, sepertiga kasus yang dicurigai apendisitis didiagnosis
BAB I PENDAHULUAN. dalam bidang kesehatan dan perekonomian dunia. Selama empat dekade terakhir
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas (SCBA) merupakan salah satu kasus kegawatan dibidang gastroenterologi yang saat ini masih menjadi permasalahan dalam bidang kesehatan
DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK. Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN
DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di negara maju, penyakit kronik tidak menular (cronic
BAB I PENDAHULUAN. dengan dokter, hal ini menyebabkan kesulitan mendiagnosis apendisitis anak sehingga 30
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Insiden kematian apendisitis pada anak semakin meningkat, hal ini disebabkan kesulitan mendiagnosis appendik secara dini. Ini disebabkan komunikasi yang sulit antara
BAHAN AJAR V ARTERITIS TEMPORALIS. kedokteran. : menerapkan ilmu kedokteran klinik pada sistem neuropsikiatri
BAHAN AJAR V ARTERITIS TEMPORALIS Nama Mata Kuliah/Bobot SKS Standar Kompetensi Kompetensi Dasar : Sistem Neuropsikiatri / 8 SKS : area kompetensi 5: landasan ilmiah kedokteran : menerapkan ilmu kedokteran
Purpura Henoch-Schönlein (PHS) merupakan
Artikel Asli Karakteristik Purpura Henoch-Schönlein pada Anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Ihat Sugianti, Arwin AP Akib, Soedjatmiko Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. proteinuria masif (lebih dari 3,5 gram/hari pada dewasa atau 40 mg/ m 2 / hari pada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindrom nefrotik (SN) merupakan suatu kumpulan gejala yang terdiri atas proteinuria masif (lebih dari 3,5 gram/hari pada dewasa atau 40 mg/ m 2 / hari pada anak), hipoalbuminemia
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Prevalensi Prevalensi adalah jumlah orang dalam populasi yang menderita suatu penyakit atau kondisi pada waktu tertentu; pembilang dari angka ini adalah jumlah kasus yang ada
UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Apendisitis adalah suatu peradangan pada apendiks, suatu organ
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Apendisitis adalah suatu peradangan pada apendiks, suatu organ tambahan seperti kantung yang terletak pada bagian inferior dari sekum atau biasanya disebut usus buntu
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ulkus Peptikum 2.1.1 Definisi Ulkus peptikum merupakan luka terbuka dengan pinggir edema disertai indurasi dengan dasar tukak tertutup debris (Tarigan, 2009). Ulkus peptikum
Nefritis Purpura Henoch Schonlein
Artikel Asli Nefritis Purpura Henoch Schonlein Marissa Tania Stephanie Pudjiadi, Taralan Tambunan Divisi Nefrologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS Dr. Cipto
BAB I PENDAHULUAN. nefrotik yang tidak mencapai remisi atau perbaikan pada pengobatan prednison
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sindrom Nefrotik Resisten Steroid (SNRS) merupakan jenis sindrom nefrotik yang tidak mencapai remisi atau perbaikan pada pengobatan prednison dosis penuh (full dose)
Sindrom nefrotik (SN) adalah sindrom klinis. Menurunkan Kejadian Relaps
Artikel Asli Menurunkan Kejadian Relaps Reni Wigati, Eka Laksmi Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RS Dr Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Sindrom nefrotik (SN) merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan peyakit autoimun kronis, multisistem, dengan periode peningkatan aktivitas penyakit akibat peradangan di pembuluh darah
BAB I PENDAHULUAN. Penelitian yang berskala cukup besar di Indonesia dilakukan oleh
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Penelitian yang berskala cukup besar di Indonesia dilakukan oleh survei ASNA (ASEAN Neurological Association) di 28 rumah sakit (RS) di seluruh Indonesia, pada penderita
BAB I PENDAHULUAN. Amerika Selatan dan 900/ /tahun di Asia (Soedarmo, et al., 2008).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia, terutama di negara yang sedang berkembang. Besarnya angka pasti pada kasus demam tifoid di
BAB I PENDAHULUAN. Sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS) adalah salah satu klasifikasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS) adalah salah satu klasifikasi sindrom nefrotik (SN) berdasarkan respon terhadap terapi kortikosteroid. Disebut penderita SNRS
Kanker Usus Besar. Bowel Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved
Kanker Usus Besar Kanker usus besar merupakan kanker yang paling umum terjadi di Hong Kong. Menurut statistik dari Hong Kong Cancer Registry pada tahun 2013, ada 66 orang penderita kanker usus besar dari
Gagal Ginjal Kronis. 1. Apa itu Gagal Ginjal Kronis?
Gagal Ginjal Kronis Banyak penyakit ginjal yang tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda gangguan pada kesehatan. Gagal ginjal mengganggu fungsi normal dari organ-organ tubuh lainnya. Penyakit ini bisa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah DBD merupakan penyakit menular yang disebabkan virus dengue. Penyakit DBD tidak ditularkan secara langsung dari orang ke orang, tetapi ditularkan kepada manusia
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit batu saluran kemih merupakan penyakit yang banyak di derita oleh masyarakat, dan menempati urutan ketiga dari penyakit di bidang urologi disamping infeksi
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Glomerulonefritis akut masih menjadi penyebab. morbiditas ginjal pada anak terutama di negara-negara
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Glomerulonefritis akut masih menjadi penyebab morbiditas ginjal pada anak terutama di negara-negara berkembang meskipun frekuensinya lebih rendah di negara-negara maju
HUBUNGAN TINGKAT ASUPAN PROTEIN DENGAN KADAR UREUM DAN KREATININ DARAH PADA PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIK DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA
HUBUNGAN TINGKAT ASUPAN PROTEIN DENGAN KADAR UREUM DAN KREATININ DARAH PADA PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIK DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA Skripsi ini ini Disusun untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh
I. PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara berkembang, salah satunya di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica
BAB I PENDAHULUAN. Sepsis didefinisikan sebagai adanya infeksi bersama dengan manifestasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sepsis didefinisikan sebagai adanya infeksi bersama dengan manifestasi sistemik dikarenakan adanya infeksi. 1 Sepsis merupakan masalah kesehatan dunia karena patogenesisnya
HIPONATREMIA. Banyak kemungkinan kondisi dan faktor gaya hidup dapat menyebabkan hiponatremia, termasuk:
HIPONATREMIA 1. PENGERTIAN Hiponatremia adalah suatu kondisi yang terjadi ketika kadar natrium dalam darah adalah rendah abnormal. Natrium merupakan elektrolit yang membantu mengatur jumlah air di dalam
UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian. Apendisitis akut adalah penyebab paling sering dari nyeri abdomen akut yang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Apendisitis akut adalah penyebab paling sering dari nyeri abdomen akut yang memerlukan tindakan pembedahan. Diagnosis apendisitis akut merupakan hal yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berlangsung lebih dari 24 jam (kecuali ada intervensi bedah atau membawa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Stroke merupakan suatu sindrom yang ditandai gangguan fungsional otak fokal maupun global secara mendadak yang berkembang dengan sangat cepat berlangsung lebih
MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT
TEAM BASED LEARNING MODUL GLOMERULONEFRITIS AKUT Diberikan pada Mahasiswa Semester IV Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH : Prof. Dr. dr. Syarifuddin Rauf, SpA(K) Prof. dr. Husein Albar, SpA(K) dr.jusli
BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram dan merupakan penyumbang tertinggi angka kematian perinatal dan neonatal. Kematian neonatus
PENDAHULUAN. Dalam penatalaksanaan sindrom gagal ginjal kronik (GGK) beberapa aspek yang harus diidentifikasi sebagai berikut:
PENDAHULUAN Dalam penatalaksanaan sindrom gagal ginjal kronik (GGK) beberapa aspek yang harus diidentifikasi sebagai berikut: 1. Etiologi GGK yang dapat dikoreksi misal: - Tuberkulosis saluran kemih dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mortalitas pascaoperasi (postoperative mortality) adalah kematian yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mortalitas pascaoperasi (postoperative mortality) adalah kematian yang terjadi oleh apapun penyebabnya yang terjadi dalam 30 hari setelah operasi di dalam
BAB 4 HASIL. Grafik 4.1. Frekuensi Pasien Berdasarkan Diagnosis. 20 Universitas Indonesia. Karakteristik pasien...,eylin, FK UI.
BAB 4 HASIL Dalam penelitian ini digunakan 782 kasus yang diperiksa secara histopatologi dan didiagnosis sebagai apendisitis, baik akut, akut perforasi, dan kronis pada Departemen Patologi Anatomi FKUI
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Apendiks diartikan sebagai bagian tambahan, aksesori atau bagian tersendiri yang melekat ke struktur utama dan sering kali digunakan untuk merujuk pada apendiks vermiformis.
BAB I PENDAHULUAN. Sindrom klinik ini terjadi karena adanya respon tubuh terhadap infeksi, dimana
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Sepsis merupakan suatu sindrom kompleks dan multifaktorial, yang insidensi, morbiditas, dan mortalitasnya sedang meningkat di seluruh belahan dunia. 1 Sindrom klinik
Untuk mendiagnosia klinik DBD pedoman yang dipakai adalah yang disusun WHO :
Musim hujan, akan merupakan yangdiharaplkan nyamuk untuk berkembang biak dan siap mencari mangsa, terutama nyamuk Aedes Aegity penyebab DBD. Hati- hati... Dewasa ini penyakit DBD masih merupakan salah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. walaupun pemeriksaan untuk apendisitis semakin canggih namun masih sering terjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Apendisitis merupakan kasus paling sering dilakukan pembedahaan pada anak, walaupun pemeriksaan untuk apendisitis semakin canggih namun masih sering terjadi keterlambatan
SAKIT PERUT PADA ANAK
SAKIT PERUT PADA ANAK Oleh dr Ruankha Bilommi Spesialis Bedah Anak Lebih dari 1/3 anak mengeluh sakit perut dan ini menyebabkan orang tua membawa ke dokter. Sakit perut pada anak bisa bersifat akut dan
BAB 1 PENDAHULUAN. nefrologi dengan angka kejadian yang cukup tinggi, etiologi luas, dan sering diawali
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan salah satu permasalahan dibidang nefrologi dengan angka kejadian yang cukup tinggi, etiologi luas, dan sering diawali tanpa keluhan
BAB I PENDAHULUAN. Kanker kolorektal merupakan keganasan ketiga terbanyak dari seluruh
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker kolorektal merupakan keganasan ketiga terbanyak dari seluruh penderita kanker dan penyebab kematian keempat dari seluruh kematian pada pasien kanker di dunia.
Kasus 1 (SGD 1,2,3) Pertanyaan:
Kasus 1 (SGD 1,2,3) Seorang wanita Ny. DA usia 32 tahun, pekerjaan ibu rumah tangga datang ke RS mengeluh nyeri pinggang kanan memberat sejak 2 bln sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Nyeri menjalar hingga
BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu tempat terjadinya inflamasi primer akut. 3. yang akhirnya dapat menyebabkan apendisitis. 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Salah satu penyakit bedah mayor yang sering terjadi adalah. 1 merupakan nyeri abdomen yang sering terjadi saat ini terutama di negara maju. Berdasarkan penelitian epidemiologi
GAGAL GINJAL Zakiah,S.Ked. Kepaniteraan Klinik Interna Program Studi Pendidikan Dokter FKK Universitas Muhammadiyah Jakarta
GAGAL GINJAL Zakiah,S.Ked Kepaniteraan Klinik Interna Program Studi Pendidikan Dokter FKK Universitas Muhammadiyah Jakarta 2010-2011 DEFINISI Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan
BAB I PENDAHULUAN. hiperkolesterolemia >200 mg/dl, dan lipiduria 1. Lesi glomerulus primer
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sindrom nefrotik merupakan salah satu manifestasi klinik glomerulonefritis yang ditandai dengan edema anasarka, proteinuria massif 3,5 gram/hari, hipoalbuminemia
SIROSIS HEPATIS R E J O
SIROSIS HEPATIS R E J O PENGERTIAN : Sirosis hepatis adalah penyakit kronis hati oleh gangguan struktur dan perubahan degenerasi fungsi seluler dan selanjutnya perubahan aliran darah ke hati./ Jaringan
KONSEP TEORI. 1. Pengertian
KONSEP TEORI 1. Pengertian Kolik Abdomen adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus intestinal (Nettina, 2001). Obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kuman dapat tumbuh dan berkembang-biak di dalam saluran kemih (Hasan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Infeksi saluran kemih (ISK) adalah suatu keadaan yang menyebabkan kuman dapat tumbuh dan berkembang-biak di dalam saluran kemih (Hasan dan Alatas, 1985).
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. yang tinggi dan seringkali tidak terdiagnosis, padahal dengan menggunakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kejadian AKI (Acute Kidney Injury) masih mempunyai angka kematian yang tinggi dan seringkali tidak terdiagnosis, padahal dengan menggunakan kriteria diagnosis
BAB I PENDAHULUAN. kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Saat ini masyarakat dihadapkan pada berbagai penyakit, salah satunya adalah penyakit Lupus, yang merupakan salah satu penyakit yang masih jarang diketahui oleh masyarakat,
TINJAUAN PUSTAKA. Ginjal adalah system organ yang berpasangan yang terletak pada rongga
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Ginjal Ginjal adalah system organ yang berpasangan yang terletak pada rongga retroperitonium. Secara anatomi ginjal terletak dibelakang abdomen atas dan di kedua sisi kolumna
BAB I PENDAHULUAN. Intususepsi merupakan salah satu penyebab tersering dari obstruksi usus dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Intususepsi merupakan salah satu penyebab tersering dari obstruksi usus dan kegawatdaruratan bedah abdominal pada bayi dan anak. 1-7 Angka kejadiannya di dunia satu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang penelitian. permeabilitas mikrovaskular yang terjadi pada jaringan yang jauh dari sumber infeksi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang penelitian Sepsis merupakan suatu sindrom klinis infeksi yang berat dan ditandai dengan tanda kardinal inflamasi seperti vasodilatasi, akumulasi leukosit, dan peningkatan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi dengue disebabkan oleh virus dengue yang tergolong dalam famili Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua paling sering
UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit yang banyak dialami oleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit yang banyak dialami oleh orang di seluruh dunia. DM didefinisikan sebagai kumpulan penyakit metabolik kronis
APPENDISITIS. Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh: a. Fekalis/ massa keras dari feses b. Tumor, hiperplasia folikel limfoid c.
APPENDISITIS I. PENGERTIAN Appendisitis adalah inflamasi akut pada appendisits verniformis dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Brunner & Suddart, 1997) II. ETIOLOGI Appendisitis
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GASTRITIS PADA LANSIA
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GASTRITIS PADA LANSIA ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GASTRITIS PADA LANSIA PENGERTIAN Suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub mukosa lambung. (Mizieviez). ETIOLOGI 1. Faktor
BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan tindakan pembedahan. Keterlambatan dalam penanganan kasus apendisitis akut sering
BAB I PENDAHULUAN. peradangan sel hati yang luas dan menyebabkan banyak kematian sel. Kondisi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sirosis hati adalah penyakit hati menahun yang mengenai seluruh organ hati, ditandai dengan pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Keadaan tersebut terjadi karena
BAB 1 PENDAHULUAN. pembedahan yang sering dilakukan adalah sectio caesaria. Sectio caesaria
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasien yang mengalami pembedahan semakin meningkat. Salah satu pembedahan yang sering dilakukan adalah sectio caesaria. Sectio caesaria (caesarean delivery) didefinisikan
BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL
BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka konsep penelitian Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dikemukakan, kerangka konsep mengenai angka kejadian relaps sindrom nefrotik
Kanker Serviks. Cervical Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved
Kanker Serviks Kanker serviks merupakan penyakit yang umum ditemui di Hong Kong. Kanker ini menempati peringkat kesepuluh di antara kanker yang diderita oleh wanita dengan lebih dari 400 kasus baru setiap
BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi saluran napas disusul oleh infeksi saluran cerna. 1. Menurut World Health Organization (WHO) 2014, demam tifoid
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar tidak saja di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Selain virus sebagai penyebabnya,
BAB I PENDAHULUAN. lokal di perut bagian kanan bawah (Anderson, 2002). Apendisitis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Apendisitis akut merupakan peradangan apendiks vermiformis yang memerlukan pembedahan dan biasanya ditandai dengan nyeri tekan lokal di perut bagian kanan bawah (Anderson,
Sejak awal perkembangan pengetahuan tentang
Artikel Asli Profil Kasus Artritis Idiopatik Juvenil (AIJ) Berdasarkan Klasifikasi International League Against Rheumatism (ILAR) Ariz Pribadi, Arwin AP Akib, Taralan Tambunan Departemen Ilmu Kesehatan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk asalnya atau dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi. Ekskresi di sini merupakan hasil
LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP PADA KLIEN DENGAN PERDARAHAN SALURAN CERNA
1 LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP PADA KLIEN DENGAN PERDARAHAN SALURAN CERNA I Deskripsi Perdarahan pada saluran cerna terutama disebabkan oleh tukak lambung atau gastritis. Perdarahan saluran cerna dibagi menjadi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue I, II, III, dan IV yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedes albopticus.
ENDOSCOPIC RETROGRADE CHOLANGIOPANCREATOGRAPHY (ERCP)
ENDOSCOPIC RETROGRADE CHOLANGIOPANCREATOGRAPHY (ERCP) PENDAHULUAN Pemeriksaan penunjang dilakukan dalam rangka penegakan diagnosis. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan salah satunya adalah pemeriksaan
BAB I PENDAHULUAN. sekitar 90 % dan biasanya menyerang anak di bawah 15 tahun. 2. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat karena
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang ditransmisikan oleh nyamuk Ae. Aegypti. 1 Menyebabkan banyak kematian pada anakanak sekitar 90 % dan biasanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan infeksi bakteri sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang dijumpai di berbagai negara berkembang terutama di daerah tropis
LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095
LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 NAMA NIM : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095 PROGRAM S1 KEPERAWATAN FIKKES UNIVERSITAS MUHAMMADIAH SEMARANG 2014-2015 1 LAPORAN
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. akhir fibrosis hepatik yang berlangsung progresif yang ditandai dengan distorsi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Sirosis adalah suatu keadaan patologik yang menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik yang berlangsung progresif yang ditandai dengan distorsi dari arsitektur hepar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit multisistem yang disebabkan kerusakan jaringan akibat deposisi kompleks imun berupa ikatan antibodi dengan komplemen.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ansietas 2.1.1. Definisi Kecemasan atau ansietas adalah suatu sinyal yang menyadarkan, ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan
BAB 1 PENDAHULUAN. di dalam saluran empedu, atau pada kedua-duanya. 1,2 Kolelitiasis
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kolelitiasis adalah batu yang terbentuk dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu, atau pada kedua-duanya. 1,2 Kolelitiasis terutama ditemukan di negara-negara
BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan salah satu sumber penyebab gangguan otak pada. usia masa puncak produktif dan menempati urutan kedua penyebab
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Stroke merupakan salah satu sumber penyebab gangguan otak pada usia masa puncak produktif dan menempati urutan kedua penyebab kematian sesudah penyakit jantung pada
a. Cedera akibat terbakar dan benturan b. Reaksi transfusi yang parah c. Agen nefrotoksik d. Antibiotik aminoglikosida
A. Pengertian Gagal Ginjal Akut (GGA) adalah penurunan fungsi ginjal mendadak dengan akibat hilangnya kemampuan ginjal untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Akibat penurunan fungsi ginjal terjadi peningkatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid termasuk dalam 10 besar masalah kesehatan di negara berkembang dengan prevalensi 91% pada pasien anak (Pudjiadi et al., 2009). Demam tifoid merupakan penyakit
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Sakit Perut Berulang Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut berulang pada remaja terjadi paling sedikit tiga kali dengan jarak paling sedikit
UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Hipertensi merupakan salah satu kondisi kronis yang sering terjadi di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Hipertensi merupakan salah satu kondisi kronis yang sering terjadi di masyarakat. Seseorang dapat dikatakan hipertensi ketika tekanan darah sistolik menunjukkan
Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta
LAPORAN PENELITIAN Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta Hendra Dwi Kurniawan 1, Em Yunir 2, Pringgodigdo Nugroho 3 1 Departemen
BAB 2 BAHAN, SUBJEK, DAN METODE PENELITIAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai sediaan obat uji, subjek uji dan disain penelitian.
21 BAB 2 BAHAN, SUBJEK, DAN METODE PENELITIAN Pada bab ini akan dibahas mengenai sediaan obat uji, subjek uji dan disain penelitian. 2.1 Bahan Sediaan obat uji yang digunakan adalah kapsul yang mengandung
BAB I PENDAHULUAN. Natrium diklofenak merupakan obat golongan anti-inflamasi nonsteroid
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Natrium diklofenak merupakan obat golongan anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) dengan efek analgesik, antiinflamasi, dan antipiretik. NSAID adalah salah satu obat yang
BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan tindakan pembedahan. Keterlambatan dalam penanganan kasus apendisitis akut sering menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manifestasinya dapat sangat bervariasi, mulai dari yang ringan tanpa gejala,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Acute Kidney Injury adalah suatu kondisi klinis yang spesifik, dimana manifestasinya dapat sangat bervariasi, mulai dari yang ringan tanpa gejala, hingga yang
ABSTRAK ETIOPATOGENESIS ULKUS PEPTIKUM. Nita Amelia, 2006, Pembimbing utama : Freddy T Andries, dr., M.S.
ABSTRAK ETIOPATOGENESIS ULKUS PEPTIKUM Nita Amelia, 2006, Pembimbing utama : Freddy T Andries, dr., M.S. Ulkus peptikum adalah salah satu penyakit saluran pencernaan tersering. Lesi dari ulkus peptikum
BAB V PEMBAHASAN. yang telah memenuhi jumlah minimal sampel sebanyak Derajat klinis dibagi menjadi 4 kategori.
digilib.uns.ac.id BAB V PEMBAHASAN Setelah dilakukan penelitian di RSUD Dr. Moewardi telah didapatkan data-data penelitian yang disajikan dalam tabel pada Bab IV. Pada penelitian ini didapatkan sampel
BAB I PENDAHULUAN. prevalensinya semakin meningkat setiap tahun di negara-negara berkembang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ginjal merupakan organ penting dari manusia. Berbagai penyakit yang menyerang fungsi ginjal dapat menyebabkan beberapa masalah pada tubuh manusia, seperti penumpukan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kreatinin serum pada pasien diabetes melitus tipe 2 telah dilakukan di RS
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Hasil Penelitian Pelaksanaan penelitian tentang korelasi antara kadar asam urat dan kreatinin serum pada pasien diabetes melitus tipe 2 telah
