BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
menggunakan Problem Based Learning Perkembangan ilmu (PBL), SGD adalah diskusi kelompok pengetahuan, teknologi dan seni pada

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dengan menggunakan eksperimen semu (quasy-experiment) yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Keywords: Competency Based Curriculum, Small Group Discussion, Cognitive

BAB I PENDAHULUAN. berjalan secara efektif dan efisien yang dimulai dari perencanaan, mengupayakan agar individu dewasa tersebut mampu menemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni pada era global

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan mempunyai daya saing tinggi sangat diperlukan dalam

BAB II HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN MENGHITUNG LUAS PERSEGI DAN PERSEGI PANJANG DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME

Standard Operating Procedure. FASILITATOR PBL (Problem Based Learning)

BAB I PENDAHULUAN. Kurikulum Problem-Based Learning (PBL) diperkenalkan pertama kali di

PEDOMAN AKADEMIK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA BAB IV PENYELENGGARAAN PEMBELAJARAN

KURIKULUM 2013 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2015

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Definisi Problem-Based Learning (PBL) pelajaran (Sudarman, 2007).

PENGGUNAAN METODE PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PENGARUHNYA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA DI SMP NEGERI 4 KUNINGAN

BAB V PEMBAHASAN. Fiqih dengan melalui penerapan model pembelajaraan kooperatif tipe picture and

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Pada beberapa tahun terakhir ini terjadi inovasi. di dalam sistem pendidikan kedokteran di Indonesia,

BAB IV. Penelitian ini menggunakan design penelitian quasi. experiment pre dan post test with control group. Penelitian ini ingin

MODUL KETRAMPILAN KOMUNIKASI INTER-PROFESI

PENGARUH PENGGUNAAN METODE PROJECT BASED LEARNING

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan diartikan sebagai usaha atau kegiatan untuk mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. yang wajib dipelajari di Sekolah Dasar. Siswa akan dapat mempelajari diri

Mengidentifikasi fokus pendampingan. Melaksanakan pendampingan sesuai kaidah pendampingan yang baik.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. a. Pengetahuan pasien simulasi mengenai feedback konstruktif meningkat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan. 1. Nilai mahasiswa yang mengikuti PAL lebih tinggi dari yang tidak mengikuti

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Metode pembelajaran PiTBL berdampak positif terhadap nilai student

Oleh : Yeyen Suryani dan Sintia Dewiana. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. Fisika dan sains secara umum terbentuk dari proses penyelidikan secara sistematis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mata kuliah Anatomi dan Fisiologi merupakan ilmu utama yang penting dan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. merupakan integrasi dari berbagai cabang Ilmu Sosial. Supardi (2011: 183)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE KASUS MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO-VISUAL TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA SMA

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu wahana untuk mengembangkan semua

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Metode pendidikan di perguruan tinggi mulai mengalami pergeseran dari

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Istilah belajar sebenarnya telah lama dikenal. Namun sebenarnya apa belajar itu,

II. TINJAUAN PUSTAKA. suatu proses pembelajaran. Perubahan yang terjadi pada siswa sejatinya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI. hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh orang-orang yang lebih

Reni Rasyita Sari Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

BAB II LANDASAN TEORI. Metode pembelajaran adalah suatu teknik penyajian yang dipilih dan

BAB V ANALISA. Pembelajaran yang diterapkan pada kelompok sampel (kelas X IA-4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran seni musik. Hal ini terlihat dari kurangnya aktivitas siswa secara

Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, Vol. IX. No. 1 Tahun 2011, Hlm PENILAIAN AFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN AKUNTANSI. Oleh Sukanti 1.

II. TINJAUAN PUSTAKA. pembelajaran karena dalam model pembelajaran terdapat langkah-langkah

BAB I PENDAHULUAN. manusia untuk mengembangkan pengetahuan dan kepribadiannya. Pendidikan ini

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah mahkluk belajar (learning human). Sejak lahir manusia. mengenal lingkungannya, memahami dirinya sendiri, dan

KETERAMPILAN PEMIMPIN KELOMPOK S I T I R O H M A H N U R H A Y A T I

BAB I PENDAHULUAN. Geografi merupakan satu dari sekian banyak disiplin ilmu yang dipelajari,

PENILAIAN AFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN AKUNTANSI. Sukanti. Abstrak

BAB V PEMBAHASAN. Sendiri (SADARI) yang diberikan dalam dua metode berbeda. Penelitian ini. kelompok kontrol diberikan ceramah saja.

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING)

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. salah satu faktor hakiki yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.

RANCANGAN ALAT UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS VII SMP N 1 AMBARAWA TAHUN AJARAN

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

BAB III ANALISIS. Komunitas belajar dalam Tugas Akhir ini dapat didefinisikan melalui beberapa referensi yang telah dibahas pada Bab II.

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif pada Mata Pelajaran IPA di Kelas V SD Negeri 2 Tatura

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian ini memberikan gambaran pada beberapa aspek meliputi

BAB I PENDAHULUAN. demokratis, dan cerdas. Pendidikan ( UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 ) adalah

PENERAPAN PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS VIII-B SMPN 4 MADIUN

BAB I PENDAHULUAN. fisik, psikis dan emosinya dalam suatu lingkungan sosial yang senantiasa

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN. A. Kesimpulan. menunjukkan bahwa pembelajaran IPS di SMP Negeri I Turi yaitu sebagai

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing disertai diskusi dalam Pembelajaran Fisika Kelas VII di SMP

PEDOMAN TUTORIAL A. TUGAS PESERTA DISKUSI KELOMPOK (TUTORIAL)

PENDAPAT MAHASISWA TERHADAP IMPLEMENTASI PBL PADA KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

sebelum diberi perlakuan (kelompok eksperimen)

BAB I PENDAHULUAN. siswa untuk memahami nilai-nilai warga negara yang baik. Sehingga siswa

PENERAPAN MULTIMEDIA INTERAKTIF MODEL TUTORIAL TERHADAP PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. belajar untuk mencapai tujuan belejar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. sekolah. Penulis membagikan Skala kebiasaan belajar kepada respondenpada tanggal 27 Juni

BAB I PENDAHULUAN. dorongan yang dapat menimbulkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian

BAB I PENDAHULUAN. dapat mengaplikasikan materi ajar yang didapatnya di kelas ke dalam kehidupan

METABOLISME DAN NUTRISI DI FAKULTAS KEDOKTERAN UMSU TAHUN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya

I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan orang-orang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Marilah kita kaji sejenak arti kata belajar menurut Wikipedia Bahasa

*keperluan Korespondensi, HP: , ABSTRAK

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

II. TINJAUAN PUSTAKA. untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari

BAB V MODEL BERBASIS MULTIKULTURAL DAN PEMBELAJARANYA DALAM MASYARAKAT DWIBAHASAWAN

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai dan temuan hasil

BAB I PENDAHULUAN. belajar apabila dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku dan tidak tahu

PERANAN DOSEN DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH BERORIENTASI PADA PENINGKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS MAHASISWA

dengan memberi tekanan dalam proses pembelajaran itu sendiri. Guru harus mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Penelitian Penelitian ini dilakukan di STIKES Surya Global, pada mahasiswa semester 6 pada tanggal 18-19 Mei 2016. Jumlah sample dalam penelitian ini sebanyak 138 namun ada 3 sample yang drop out karena tidak datang disaat kegiatan SGD maka sample menjadi 135 responden. Tutor yang berpartisipasi dalam penelitian ini berasal dari luar institusi, sehingga pada tanggal 18 Mei dilakukan perkenalan tutor pada mahasiswa agar terjalin trust antara dosen dengan mahasiswa, dosen yang mendampingi kegiatan SGD sebanyak 4 orang. Tanggal 19 Mei 2016 dilakukan kegiatan SGD dimana ada 3 kelas dalam satu hari tersebut dengan frekuensi 100 menit untuk setiap pertemuan dalam satu hari, pertemuan pertama dengan kelas AB yang terbagi menjadi 4 kelompok diskusi, setiap kelompok didampingi satu tutor, lama kegiatan SGD 100 menit. Setelah selesai kegiatan SGD kelas AB dilanjutkan kelas CD kemudian kelas F. Dalam kegiatan SGD sebelum dimulai diskusi mhasiswa diberikan pre test sesuai dengan materi yang didiskusikan, selesai pre test mahasiswa melakukan diskusi sesuai dengan skenario didalam modul yang telah dibagikan seminggu sebelum kegiatan SGD berlangsung pada masing-masing mahasiswa, tutor mendampingi mahasiswa dan melakukan penilaian afektif pada mahasiswa, 37

38 diakhir kegiatan diskusi mahasiswa diberikan soal post test sesuai dengan materi yang mereka diskusikan, setelah post test mahasiswa diberikan 3 kuesioner yang terdiri dari kuesioner persepsi mahasiswa terhadap skenario SGD, persepsi mahasiswa terhadap performance tutor, dan persepsi mahasiswa terhadap kegiatan diskusi. 2. Uji Normalitas Sebelum dilakukan uji analisis bivariat, peneliti melakukan uji normalitas pada data kognitif. Uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 4.1 di bawah ini. Tabel 4.1 Uji Normalitas Data P value Kategori Pre test 0,00 Tidak normal Post test 0,00 Tidak normal Hasil uji normalitas menunjukkan distribusi data tidak normal, maka peneliti menggunakan uji non parametrik yaitu Wilcoxon. 3. Penilaian kognitif Tabel 4.2 Penilaian kognitif sebelum dan setelah intervensi Nilai Kognitif Min-Maks Mean (SD) P Value Pre test 40-90 67.41 (9.997) 0.000 Post test 60-100 91.04 (8.748) P<0,005 based on Wilcoxon Hasil penilaian kognitif diatas menunjukkan nilai sebelum dilakukan intervensi nilai minimal pre test sebesar 40 dan nilai maksimal post test sebesar 90, dengan nilai mean 67,41. Penilaian kognitif sesudah dilakukan intervensi nilai minimal post test 60 dan nilai maksimal 100, nilai mean 91,04. Hasil uji statistik wilcoxon menunjukkan p=0,00, karena nilai p< 0,05,

39 yang artinya terdapat perbedaan tingkat kognitif sebelum dilakukan intervensi dan sesudah dilakukan intervensi. 4. Penilaian afektif pada kegiatan SGD 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% Penilaian Afektif sangat baik baik cukup sangat buruk Gambar 4.1 Distribusi frekuensi penilaian afektif mahasiswa pada kegiatan SGD (n = 135) Gambar diatas menunjukkan penilaian afektif mahasiswa nilai tertinggi terdapat pada kategori sangat baik sebesar 57,8% pada kriteria persiapan diskusi aspek mempersiapkan literatur/persiapan diskusi menunjukkan nilai tertinggi 57,8%. Kategori baik sebesar 49,6% pada kriteria penilaian individu aspek kemampuan mahasiswa untuk merefleksikan. Kategori cukup sebesar 11,1% terdapat pada kriteria penilaian individu aspek respon terhadap feedback. Kategori sangat buruk sebesar 2,2% kriteria penilaian individu aspek datang tepat waktu.

40 5. Persepsi mahasiswa terhadap kualitas skenario pada kegiatan SGD 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Kualitas Skenario sangat tidak setuju tidak setuju tidak tahu setuju sangat setuju Gambar 4.2 Distribusi frekuensi persepsi mahasiswa terhadap kualitas skenario (n = 135) Keterangan: Pernyataan 1: Skenario cukup terbuka untuk didiskusikan Pernyataan 2: Skenario untuk memberikan pengetahuan yang optimal untuk didiskusikan Pernyataan 3: Skenario memiliki petunjuk yang tepat untuk menstimulus pengetahuan mahasiswanya Pernyataan 4: Skenario dapat menstimulus mahasiswa untuk berbagai macam permasalahan Pernyataan 5: Skenario dapat menstimulus mahasiswa untuk mencari literatur agar dapat menentukan LO (Learning Objective Pernyataan 6: Skenario dapat menstimulus mahasiswa untuk berdikusi lebih efektif Pernyataan 7: Permasalahan dimaksud sebagai pedoman atau tujuan umum pembelajaran yang lebih komplek Pernyataan 8: Skenario memiliki berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat mendorong diskusi, agar dapat terarah Pernyataan 9: Skenario mendorong mahasiswa untuk mencari literatur dengan tujuan pembelajaran yang komplek Pernyataan 10: Skenario diarahkan untuk meningkatkan minat mahasiswa dalam mencari materi pembelajaran Pernyataan 11: Permasalahan dalam skenario dapat didiskusikan sesuai persepsi mahasiswa berdasarkan lingkungan dan budaya

41 Pernyataan 12: Skenario yang didiskusikan menarik untuk mahasiswa Pernyataan 13: Permasalahan menunjukan hubungan yang jelas untuk profesi di masa depan Pernyataan 14: Konsep yang terdapat dalam skenario memiliki konteks manajemen keperawatan Pernyataan 15: Permasalahan dalam skenario berkaitan dengan manajemen keperawatan, bukan hanya pasien Pernyataan 16: Permasalahan yang ada di skenario sesuai dengan tingkat pengetahuan mahasiswa Pernyataan 17: Skenario sesuai dengan materi kurikulum perkuliahan Gambar 4.2 persepsi mahasiswa terhadap kualitas skenario pada kegiatan SGD diatas menunjukkan nilai tertinggi terdapat dalam aspek no 16 permasalahan yang ada di skenario sesuai dengan tingkat pengetahuan mahasiswa sebesar 85,2% yang merupakan kategori baik dan nilai terendah 0,7% kategori tidak setuju aspek no 2 Skenario untuk memberikan pengetahuan yang optimal untuk didiskusikan, aspek no 5 Skenario dapat menstimulus mahasiswa untuk mencari literatur agar dapat menentukan LO (Learning Objective) kategori tidak setuju dan tidak tahu; aspek no 8 Skenario memiliki berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat mendorong diskusi agar dapat terarah yang merupakan kategori sangat tidak setuju, aspek no 9 Skenario mendorong mahasiswa untuk mencari literatur dengan tujuan pembelajaran yang komplek kategori sangat tidak setuju, aspek no 10 Skenario diarahkan untuk meningkatkan minat mahasiswa dalam mencari materi pembelajaran kategori sangat tidak setuju, aspek no 13 Permasalahan menunjukan hubungan yang jelas untuk profesi di masa depan kategori tidak setuju, aspek no 14 Konsep yang terdapat dalam skenario memiliki konteks manajemen keperawatan kategori sangat tidak setuju, aspek no 15 Permasalahan dalam skenario berkaitan dengan

42 manajemen keperawatan bukan hanya pasien merupakan kategori tidak tahu, dan aspek no 17 Skenario sesuai dengan materi kurikulum perkuliahan kategori tidak setuju. 6. Persepsi mahasiswa terhadap performance tutor pada kegiatan SGD 90.00% 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% performance tutor 1 sangat tidak setuju tidak setuju ragu-ragu setuju sangat setuju Gambar 4.3 Distribusi frekuensi persepsi mahasiswa terhadap performance tutor 1 (n=135) Keterangan: Pernyataan 1: Tutor memicu kami untuk membuat ringkasan apa yang telah dipelajari dengan kata-kata sendiri Pernyataan 2: Tutor memicu kami untuk mencari kaitan antara hal-hal yang didiskusikan dalam kelompok tutorial Pernyataan 3: Tutor memicu kami untuk memahami suatu mekanisme yang mendasari/teori-teori Pernyataan 4: Tutor memicu kami untuk merumuskan tujuan belajar yang jelas oleh kami sendiri Pernyataan 5: Tutor memicu kami untuk mencari sumber belajar yang bervariasi oleh kami sendiri Pernyataan 6: Tutor memicu kami untuk mengaplikasikan pengetahuan kami pada masalah yang didiskusikan Pernyataan 7: Tutor memicu kami untuk mengaplikasikan pengetahuan yang kami miliki pada masalah/situasi yang lain

43 Pernyataan 8: Tutor memicu kami untuk memberikan umpan balik yang konstruktif terhadap kerja kelompok kami Pernyataan 9: Tutor memicu kami untuk mengevaluasi kerja sama dalam kelompok diskusi secara teratur Pernyataan 10: Tutor memiliki gambaran yang jelas tentang kekuatan/kelemahannya sebagai tutor Pernyataan 11: Tutor termotivasi untuk memenuhi perannya sebagai tutor/fasilitator. Persepsi mahasiswa terhadap tutor I menunjukkan nilai tertinggi persepsi mahasiswa terhadap tutor sebesar 80% yang merupakan kategori setuju pada kriteria pembelajaran mandiri terdapat pada aspek tutor memicu mahasiswa untuk memahami suatu mekanisme yang mendasari/teori-teori. Kategori sangat setuju nilai tertinggi sebesar 30% yang merupakan pernyataan pembelajaran mandiri, aspek tutor memicu mahasiswa untuk merumuskan tujuan belajar yang jelas. Kategori ragu-ragu nilai tertinggi sebesar 12,5% pernyataan perilaku interpersonal sebagai tutor aspek tutor termotivasi untuk memenuhi peran sebagai tutor. Kategori tidak setuju nilai tertinggi terdapat pada pernyataan pembelajaran aktif aspek tutor memicu untuk memahami suatu mekanisme yang mendasari. Kategori sangat tidak setuju nilai tertinggi sebesar 2,5% terdapat pada pernyataan pembelajaran aktif aspek tutor memicu mahasiswa untuk mencari kaitan antara hal-hal yang didiskusikan dalam kelompok. 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% performance tutor 2 sangat tidak setuju tidak setuju ragu-ragu setuju sangat setuju

44 Gambar 4.4 Distribusi frekuensi persepsi mahasiswa terhadap performance tutor 2 (n=135) Persepsi mahasiswa terhadap tutor II menunjukkan nilai tertinggi persepsi mahasiswa terhadap tutor sebesar 78,6% yang merupakan kategori setuju pada pernyataan pembelajaran aktif terdapat pada aspek tutor memicu mahasiswa untuk memahami suatu mekanisme yang mendasari/teori-teori. Kategori sangat setuju nilai tertinggi sebesar 35,7% yang merupakan pernyataan pembelajaran kontekstual aspek tutor memicu mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan. Kategori ragu-ragu nilai tertinggi sebesar 10,7% pernyataan pembelajaran aktif; pembelajaran mandiri; pembelajaran kontekstual dan perilaku interpersonal sebagai tutor. Kategori sangat tidak setuju semua bernilai nol yang berarti tidak ada satupun mahasiswa yang memilih. performance tutor 3 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% sangat tidak setuju tidak setuju ragu-ragu setuju sangat setuju Gambar 4.5 Distribusi frekuensi persepsi mahasiswa terhadap performance tutor 3 (n=135) Persepsi mahasiswa terhadap tutor III menunjukkan nilai tertinggi persepsi mahasiswa terhadap tutor sebesar 75% yang merupakan kategori setuju pada pernyataan perilaku interpersonal sebagai tutor aspek tutor termotivasi untuk memenuhi perannya. Kategori sangat setuju nilai tertinggi

45 sebesar 36,1% yang merupakan pernyataan pembelajaran kolaboratif aspek tutor memicu mahasiswa untuk memberikan umpan balik. Kategori ragu-ragu nilai tertinggi sebesar 30,6% pernyataan perilaku interpersonal sebagai tutor aspek tutor memiliki gambaran tentang kekuatan dan kelemahan. Kategori tidak setuju nilai tertinggi sebesar 8,3% pernyataan perilaku interpersonal sebagai tutor aspek tutor memiliki gambaran yang jelas tentang kekuatan dan kelemahan sebagai tutor. Kategori sangat tidak setuju semua bernilai nol yang berarti tidak ada satupun mahasiswa yang memilih. performance tutor 4 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% sangat tidak setuju tidak setuju ragu-ragu setuju sangat setuju Gambar 4.6 Distribusi frekuensi persepsi mahasiswa terhadap performance tutor 4 (n=135) Persepsi mahasiswa terhadap performance tutor IV menunjukkan nilai tertinggi 85,3% kategori setuju terdapat pada pernyataan pembelajaran aktif aspek tutor memicu mahasiswa untuk membuat ringkasan yang dipelajari. Kategori sangat setuju nilai tertinggi sebesar 26,5% terdapat pada pernyataan pembelajaran aktif; pembelajaran mandiri; dan pembelajaran kolaboratif. Kategori ragu-ragu nilai tertinggi sebesar 29,4% yang merupakan pernyataan perilaku interpersonal sebagai tutor aspek tutor memiliki gambaran yang jelas tentang kekuatan dan kelemahan. Kategori tidak setuju nilai tertinggi sebesar 8,8% yang merupakan pernyataan pembelajaran kolaboratif aspek tutor

46 memicu mahasiswa untuk memberikan umpan balik yang konstruktif terhadap kerja kelompok. Kategori sangat tidak setuju nilai tertinggi sebesar 2,9% yang merupakan pernyataan perilaku interpersonal sebagai tutor. 7. Persepsi mahasiswa terhadap kegiatan proses diskusi 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% kegiatan proses diskusi sangat setuju setuju tidak setuju sangat tidak setuju Gambar 4.4 Distribusi frekuensi persepsi mahasiswa terhadap kegiatan proses diskusi (n=135) Keterangan: Pernyataan 1: Saya telah mempersiapkan sumber literature malam sebelum diskusi dimulai Pernyataan 2: Saya telah mempelajari scenario sebelum diksusi Pernyataan 3: Pada awal diskusi tutor telah memperkenalkan diri Pernyataan 4: Tutor menyerahkan pemilihan moderator dan sekretaris pada anggota gruop Pernyataan 5: Tutor telah mengarahkan mahasiswa dengan baik Pernyataan 6: Saya telah memahami tugas dan peran moderator dan sekretaris dengan baik Pernyataan 7: Anggota grup selalu mengangkat tangan bila akan mengajukan pendapat/ pertanyaan Pernyataan 8: Sebelum menentukan masalah dalam modul kelompok menentukan kata kunci/ klarifikasi istilah dulu Pernyataan 9: Sasaran belajar disusun secara jelas Pernyataan 10: Pertanyaan dirumuskan sesuai kata kunci Pernyataan 11: Saya hanya mempelajari satu sasaran belajar yg dibebankan pada saya setelah diadakan pembagian

47 Pernyataan 12: Pada akhir diskusi, tutor memberikan masukan tentang bagaimana diskusi telah berlangsung Pernyataan 13: Alokasi waktu tutorial sudah cukup Gambar 4.4 persepsi mahasiswa terhadap kegiatan proses diskusi menunjukkan nilai tertinggi sebesar 68,9% kategori sangat setuju yang merupakan aspek mempersiapkan sumber literature malam sebelum diskusi dimulai. Kategori setuju nilai tertinggi sebesar 60,7% yang merupakan pernyataan dirumuskan sesuai kata kunci. Kategori tidak setuju nilai tertinggi sebesar 25,9% yang merupakan pernyataan alokasi waktu tutorial. Dan kategori sangat tidak setuju nilai tertinggi sebesar 9,6% yang merupakan pernyataan alokasi waktu tutorial. 8. Pembahasan 1. Penilaian kognitif Hasil penilaian kognitif diatas menunjukkan nilai sebelum dilakukan intervensi nilai minimal pre test sebesar 40 dan nilai maksimal post test sebesar 90, dengan nilai mean 67,41. Penilaian kognitif sesudah dilakukan intervensi nilai minimal post test 60 dan nilai maksimal 100, nilai mean 91,04. Hasil uji statistik wilcoxon menunjukkan (p=0,00), karena nilai p< 0,05, yang artinya terdapat perbedaan tingkat kognitif sebelum dilakukan intervensi dan sesudah dilakukan intervensi. Terdapatnya perbedaan tingkat kognitif sebelum dan sesudah dilakukan intervensi menunjukkan bahwa metode pembelajaran SGD ini mendorong pola pikir kreativitas mahasiswa dalam pemecahan suatu masalah, meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam menanggapi hasil diskusi kelompok, hal ini menimbulkan dampak positif bagi mahasiswa yang dapat

48 dilihat dari hasil skor setelah dilakukan intervensi dimana hasil skor menjadi semakin baik dan meningkat (Wigar, A. F, 2012). Domain dari aspek kognitif antara lain: tingkatan hafalan yang mencakup menghafal verbal atau menghafal paraphrase materi pelajaran; tingkatan pemahaman yang mencakup mengidentifikasi, kemampuan membandingkan, serta menyimpulkan; tingkatan aplikasi yang mencakup kemampuan menerapkan rumus, prinsip terhadap kasus nyata yang terjadi di lapangan; tingkatan analisis mencakup kemampuan menggolongkan, mengklasifikasi; tingkatan sintesis mencakup kemampuan memadukan unsur, menyusun; tingkatan evaluasi mencakup kemampuan menilai terhadap objek studi dengan menggunakan kriteria tertentu (Arifin, 2013). Faktor yang mempengaruhi kognitif mahasiswa antara lain: kemampuan mahasiswa dalam hal mengidentifikasi permasalahan; keinginan mahasiswa menemukan solusi dari permasalahan tersebut; kemampuan mahasiswa dalam berfikir untuk memecahkan permasalahan tersebut, dengan demikian kemampuan memecahkan masalah akan mendorong semangat dan keinginan mahasiswa untuk belajar (Amisyah & Nurmaliah, 2015). Kegiatan Small Group Discussion (SGD) merupakan elemen belajar aktif, dimana mahasiswa terbagi dalam kelompok kecil dengan aktivitas diskusi kelompok dapat berupa membangkitkan ide, menyimpulkan poin penting, mengakses pengetahuan dan menyelesaikan masalah. Penelitian yang dilakukan Ernawati (2014) menyebutkan bahwa metode SGD mampu meningkatkan pengetahuan pada siswa, diperkuat penelitian yang dilakukan

49 Dent&Harden (2013) menyebutan bahwa metode SGD mampu mendorong mahasiswa kedalam pemahaman yang lebih dalam suatu materi, mendorong mahasiswa dalam ketrampilan pemecahan masalah. Metode SGD mampu meningkatkan motivasi dalam suatu kegiatan pembelajaran serta meningkatkan partisipasi didalam kelas hal ini ditujukkan dalam penelitian Ahmad (2013) terdapat hasil perbedaan pengetahuan sebelum dilakukan SGD dan sesudah dilakukan SGD. 2. Penilaian afektif Hasil penilaian afektif mahasiswa nilai tertinggi terdapat pada kategori sangat baik sebesar 57,8% pada kriteria persiapan diskusi aspek mempersiapkan literatur/persiapan diskusi menunjukkan nilai tertinggi 57,8%. Kategori baik sebesar 49,6% pada kriteria penilaian individu aspek kemampuan mahasiswa untuk merefleksikan. Kategori cukup sebesar 11,1% terdapat pada kriteria penilaian individu aspek respon terhadap feedback. Kategori sangat buruk sebesar 2,2% kriteria penilaian individu aspek datang tepat waktu. Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap, secara umum disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Ada hubungan antara komponen afektif dengan kognitif dalam suatu organisasi sikap menyatakan bahwa apabila komponen afektif dan kognitif saling konsisten maka sikap berada dalam keadaan stabil, untuk menimbulkan perubahan sikap manusia perlu diberikan rangsangan atau

50 tekanan untuk menggiring perubahan sikap kearah yang dikehendaki secara kuat dan terus-menerus sedemikian rupa sehingga terjadi inkonsistensi yang kuat antara komponen afektif dan kognitif (Azwar, 2015). Tingkatan domain afektif antara lain: memberikan respon atau reaksi; menerima nilai norma serta mempunyai etika; menilai dari segi baik-buruk terhadap suatu objek studi; menerapkan atau mempraktikkan nilai, etika dan estetika dalam perilaku. Penilaian afektif dinilai dari ranah tingkat pemberian respon, apresiasi, penilaian, dan internalisasi dan yang kedua dinilai dari ranah sikap dan minat mahasiswa terhadap mata pelajaran serta proses pembelajaran (Arifin, 2013). Faktor yang mempengaruhi afektif pada seseorang antara lain: tingkat anxietas, mahasiswa yang mempunyai hasil belajar tinggi lebih cenderung memiliki tingkat anxietas yang lebih rendah; kepercayaan terhadap kesuksesan ataupun kegagalan; interest, dalam suatu penelitian ditemukan mahasiswa dengan hasil belajar yang tinggi menunjukkan tingkat interest yang lebih tinggi; kecenderungan individu menghubungkan hasil dari tindakan yang diambil baik kesuksesan maupun kegagalan terhadap faktor internal dan eksternal; perasaan menyerah dengan cepat (Marhaeni, 2008). Metode small group discussion (SGD) mempunyai beberapa keuntungan antara lain melatih peserta didik dalam berkomunikasi, menumbuhkan suasana akrab, penuh perhatian terhadap pendapat orang lain, dapat menghimpun berbagai pendapat dalam waktu singkat serta menstimulus pikiran dan mendorong anggota untuk berpartisipasi dalam diskusi (Ernawati,

51 2014). Penelitian yang dilakukan Bay&Tay (2014) menyebutkan kegiatan SGD mampu meningkatkan partisipasi mahasiswa, meningkatkan ketrampilan berkomunikasi, serta menanamkan rasa tanggungjawab pada mahasiswa. 3. Persepsi mahasiswa terhadap kualitas skenario Persepsi mahasiswa terhadap kualitas skenario pada kegiatan SGD diatas menunjukkan nilai tertinggi terdapat dalam aspek no 16 permasalahan yang ada di skenario sesuai dengan tingkat pengetahuan mahasiswa sebesar 85,2% yang merupakan kategori baik dan nilai terendah 0,7% kategori tidak setuju aspek no 2 Skenario untuk memberikan pengetahuan yang optimal untuk didiskusikan, aspek no 5 Skenario dapat menstimulus mahasiswa untuk mencari literatur agar dapat menentukan LO (Learning Objective) kategori tidak setuju dan tidak tahu; aspek no 8 Skenario memiliki berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat mendorong diskusi agar dapat terarah yang merupakan kategori sangat tidak setuju, aspek no 9 Skenario mendorong mahasiswa untuk mencari literatur dengan tujuan pembelajaran yang komplek kategori sangat tidak setuju, aspek no 10 Skenario diarahkan untuk meningkatkan minat mahasiswa dalam mencari materi pembelajaran kategori sangat tidak setuju, aspek no 13 Permasalahan menunjukan hubungan yang jelas untuk profesi di masa depan kategori tidak setuju, aspek no 14 Konsep yang terdapat dalam skenario memiliki konteks manajemen keperawatan kategori sangat tidak setuju, aspek no 15 Permasalahan dalam skenario berkaitan dengan manajemen keperawatan bukan hanya pasien merupakan kategori tidak tahu, dan aspek no 17 Skenario sesuai dengan materi kurikulum

52 perkuliahan kategori tidak setuju. Skenario yang baik antara lain: 1) skenario berisi peristiwa atau kasus yang dapat merangsang diskusi; 2) skenario berisi informasi yang mendukung kasus dari metode SGD; 3) skenario yang menarik dapat menggunakan media pendukung seperti gambar, teks, video sebagai pemicu dari kasus; 4) skenario yang akan dipublikasikan dilakukan pengeditan sebanyak dua kali atau lebih; 5) skenario yang dipublikasikan untuk mahasiswa dibiarkan berkembang dengan bertahap tanpa mengekspos semua skenario yang sudah direvisi tersebut, hal ini bertujuan agar mahasiswa mampu menganalisis skenario serta menggali informasi yang terdapat di skenario (Chan et al. 2010 dalam Eryanti, 2014) Mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap sasaran capaian pembelajaran mereka sendiri, triger skenario yang dipakai memberikan gambaran situasi nyata dan memberikan kebebasan pada mahasiswa dalam mencari pemecahannya, materi pembelajaran ini juga mencakup keseluruhan, berbagai disiplin ilmu dan subyek belajar, hakikat pembelajaran yang bersifat kolaborasi, serta apa yang dipelajari selama belajar mandiri mahasiswa menerapkan kembali dengan cara menganalisa ulang cara penyelesaiannya (Sarvery dalam Budi. S, 2016). Kualitas dari skenario merupakan faktor yang dapat mempengaruhi keaktifan kelompok dan merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya kejadian kritis dalam suatu diskusi (Gijselaers&Schmidt dalam Fitri. A. D, 2011). 4. Persepsi mahasiswa terhadap performance tutor

53 Persepsi mahasiswa terhadap tutor I menunjukkan nilai tertinggi persepsi mahasiswa terhadap tutor sebesar 80% yang merupakan kategori setuju pada kriteria pembelajaran mandiri terdapat pada aspek tutor memicu mahasiswa untuk memahami suatu mekanisme yang mendasari/teori-teori. Persepsi mahasiswa terhadap tutor II menunjukkan nilai tertinggi persepsi mahasiswa terhadap tutor sebesar 78,6% yang merupakan kategori setuju pada pernyataan pembelajaran aktif terdapat pada aspek tutor memicu mahasiswa untuk memahami suatu mekanisme yang mendasari/teori-teori. Persepsi mahasiswa terhadap tutor III menunjukkan nilai tertinggi persepsi mahasiswa terhadap tutor sebesar 75% yang merupakan kategori setuju pada pernyataan perilaku interpersonal sebagai tutor aspek tutor termotivasi untuk memenuhi perannya. Persepsi mahasiswa terhadap performance tutor IV menunjukkan nilai tertinggi 85,3% kategori setuju terdapat pada pernyataan pembelajaran aktif aspek tutor memicu mahasiswa untuk membuat ringkasan yang dipelajari. Penelitian yang dilakukan Karunia (2014) menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara kinerja tutor dengan proses pembelajaran diskusi, semakin baik kemampuan tutor berkomunikasi dengan mahasiswa, pertukaran ide semakin lancar dan mahasiswa semakin mudah mengerti. Suatu diskusi akan berjalan dengan baik maka tutor harus mengarahkan mahasiswa, tutor berperan sebagai fasilitator dan mengaktifkan kelompok untuk memastikan bahwa mahasiswa mencapai kemajuan. Tutor juga sebagai penjaga diskusi sekaligus pemandu untuk pencari informasi bukan pemberi informasi (Harsono, dalam Endriani&Nazriati, 2012). Faktor yang mempengaruhi persepsi mahasiswa terhadap performance tutor antara lain: kedisiplinan tutor; keikutsertaan tutor dalam mengikuti sesi diskusi; intervensi tutor terhadap kegiatan diskusi; jumlah SDM tutor; penguasaan tutor terhadap skenario (Fitri.A.D, 2011). Peran fasilitator dalam kegiatan diskusi antara lain: menyediakan sarana atau lingkungan yang kondusif, membentuk kelompok yang heterogen, menetapkan aturan selama menjalankan proses belajar, mendorong mahasiswa

54 mnjalankan perannya dalam kelompok dan berkontribusi, memonitor jalannya diskusi dan memastikan setiap tahap proses belajar dilaksanakan, menilai proses pembelajaran (Mulia&Krisanti, 2016). 5. Persepsi mahasiswa terhadap proses diskusi Persepsi mahasiswa terhadap kegiatan proses diskusi menunjukkan nilai tertinggi sebesar 68,9% kategori sangat setuju yang merupakan aspek mempersiapkan sumber literature malam sebelum diskusi dimulai. Kategori setuju nilai tertinggi sebesar 60,7% yang merupakan pernyataan dirumuskan sesuai kata kunci. Kategori tidak setuju nilai tertinggi sebesar 25,9% yang merupakan pernyataan alokasi waktu tutorial. Dan kategori sangat tidak setuju nilai tertinggi sebesar 9,6% yang merupakan pernyataan alokasi waktu tutorial. Diskusi kelompok kecil mempunyai beberapa keuntungan antara lain: dapat menghimpun berbagai pendapat dalam waktu singkat serta mampu menstimulus pikiran mendorong peserta untuk berpartisipasi dalam diskusi dengan membuat suatu pernyataan (Ernawati, 2014). Faktor yang mempengaruhi persepsi mahasiswa terhadap proses diskusi antara lain: tingkat pengetahuan mahasiswa; kualitas skenario; dinamika kelompok; waktu yang digunakan dalam diskusi; rasa tertarik terhadap ilmu yang dipelajari dalam diskusi; hasil studi mahasiswa (Fitri.A.D, 2011). Dalam berdiskusi diperlukan beberapa keterampilan seperti keterampilan berbicara, keterampilan menyampaikan ide agar sistematis, keterampilan mendengarkan atau menyimak pembicaraan orang lain, pada

55 saat mahasiswa menyampaikan gagasannya, sering terjadi kekeliruan penyampaian pendapat, karena antara ide yang dipikirkan dengan yang disampaikan dengan kalimatnya sendiri sering tidak nyambung, diperlukan latihan berkomunikasi untuk menyampaikan gagasan agar seseorang terampil dalam berdiskusi. Kemampuan berdiskusi harus diawali dengan mengetahui suatu konsep, kemudian mampu menyampaikan gagasan yang dimiliki kepada orang lain, dan harus mampu menjelaskan dengan contoh-contoh yang ditulis secara sederhana. Sesuai dengan prinsip belajar yang efektif, apabila pembelajar menggunakan seluruh inderanya dalam belajar, maka mereka belajar lebih bermakna (Wiratma, 2006) Berdasarkan dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ada beberapa faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilan dalam kegiatan SGD, yaitu dari mahasiswa itu sendiri, tutor, skenario dan dari proses diskusi, yang saling berikatan dan mendukung satu sama lain akan tercipta output yang diinginkan. 9. Keterbatasan Penelitian Peneliti sangat menyadari dalam penyusunan tesis ini masih banyak keterbatasan maupun kekurangan dalam penelitian ini, yaitu: 1. Dalam penelitian ini hanya ada kelompok intervensi dan tidak ada kelompok kontrol, dimana peneliti tidak bisa membandingkan kelompok yang diberi perlakuan dan kelompok yang tidak diberi perlakuan. Hal ini disebabkan karena perbedaan waktu antara kegiatan SGD dengan pemberian kuliah pada kelompok teacher centered

56 learning (TCL). Peneliti merasa perbedaan waktu dalam pemberian materi kuliah ini akan menyebabkan hasil yang bias disaat pemberian pretest dan posttest. 2. Skenario yang digunakan dalam penelitian ini hanya satu skenario, dimana peneliti hanya dapat melakukan satu kali siklus kegiatan SGD, sehingga kurang dapat melihat secara signifikan. Peneliti hanya mengambil satu tema dalam kegiatan SGD karena sebagian besar tema dalam mata kuliah manajemen keperawatan sebelum mid semester ini adalah tema yang terkait dengan pengantar manajemen serta konsep manajemen. 3. Tutor pada pelaksanaan kegiatan SGD hendaknya berasal dari dalam institusi dan memiliki pengalaman serta sertifikat pelatihan tutorial. karena kesibukan dosen STIKES Surya Global maka tutor dalam kegiatan SGD ini berasal dari luar institusi dan belum semua tutor memiliki pengalaman dan sertifikat pelatihan tutorial 4. Tidak ada penjelasan terkait batasan bagi dosen /tutor dalm pemberian skor penilaian. 5. Kurikulum yang digunakan belum diperbaiki secara menyeluruh, peneliti hanya memasukkan metode pembelajaran SGD di dalam mata kuliah. 6. Persiapan dalam kegiatan SGD pada mata kuliah manajemen keperawatan belum terintegrasi dengan baik, dimana kegiatan ini hanya fokus pada 1 mata kuliah manajemen keperawatan saja.

57 7. Dalam pelaksanaan kegiatan SGD belum terorganisir dengan baik, dimana kegiatan berjalan secara paralel dalam 1 hari dengan tutor yang sama.