TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Arab

dokumen-dokumen yang mirip
TINJAUAN PUSTAKA Ayam Arab

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. murni yang masih sedikit dan wawasan peternak masih sangat minim dalam

STUDI POLIMORFISME PROTEIN HEMOGLOBIN DARAH AYAM ARAB PERIODE PRODUKSI PADA SUHU KANDANG BERBEDA SKRIPSI GINA CITRA DEWI

PENDAHULUAN. dikenal dengan sebutan sapi kacang atau sapi kacangan, sapi pekidulan, sapi

PERFORMANS DAN KARAKTERISTIK AYAM NUNUKAN

PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumberdaya genetik

PENDAHULUAN. lebih murah dibandingkan dengan daging ternak lain seperti sapi dan domba.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kedu merupakan salah satu ayam lokal langka Indonesia. Ayam. bandingkan dengan unggas lainnya (Suryani et al., 2012).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kedu merupakan jenis ayam kampung yang banyak dikembangkan di

III. KARAKTERISTIK AYAM KUB Sifat Kualitatif Warna Bulu, Shank dan Comb

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ayam arab (Gallus turcicus) adalah ayam kelas mediterain, hasil persilangan

TINJAUAN PUSTAKA Itik Lokal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. species dari Anas plitirinchos yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi

PEMBAHASAN UMUM. Keadaan Umum Lokasi Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA Ayam Lokal Ayam Kampung

Gambar 1. Itik Alabio

PENDAHULUAN. Tingkat keperluan terhadap hasil produksi dan permintaan masyarakat berupa daging

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Itik merupakan ternak jenis unggas air yang termasuk dalam kelas Aves, ordo

I PENDAHULUAN. sebagai alternatif sumber protein hewanidi masyarakat baik sebagai penghasil telur

I. PENDAHULUAN. potensi alam didalamnya sejak dahulu kala. Beragam sumber daya genetik hewan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kecamatan Terisi secara geografis terletak pada 108 o o 17 bujur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. dari hasil domestikasi ayam hutan merah atau red jungle fowls (Gallus gallus) dan

STUDI POLIMORFISME PROTEIN DARAH DAN KARAKTERISTIK GENETIK EKSTERNAL AYAM ARAB PERIODE PRODUKSI SKRIPSI DESI ARYANTI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unggas air yang cocok untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Sistem

STUDI KARAKTERISTIK MORFOLOGIS DAN GENETIK KERBAU BENUANG DI BENGKULU

I. PENDAHULUAN. atau ayam yang kemampuan produksi telurnya tinggi. Karakteristik ayam petelur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut W.J.S Poerwodarminto, pemahaman berasal dari kata "Paham

POLIMORFISME PROTEIN DARAH AYAM KEDU [Blood Protein Polymorphism of Kedu Chicken]

Tilatang Kamang Kabupaten Agam meliputi Nagari Koto Tangah sebanyak , Gadut dan Kapau dengan total keseluruhan sebanyak 36.

I PENDAHULUAN. lokal adalah salah satu unggas air yang telah lama di domestikasi, dan

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi ransum merupakan jumlah ransum yang dikonsumsi dalam

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi Ayam

TINJAUAN PUSTAKA. banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras. Sifat-sifat yang

KAJIAN KEPUSTAKAAN. beriklim kering. Umumnya tumbuh liar di tempat terbuka pada tanah berpasir yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oksigen, antibodi, panas, elektrolit dan vitamin ke jaringan seluruh tubuh. Darah

Kolokium Departemen Biologi FMIPA IPB: Ria Maria

PENDAHULUAN. Daging ayam merupakan daging yang paling banyak dikonsumsi masyarakat

PENDAHULUAN. dan dikenal sebagai ayam petarung. Ayam Bangkok mempunyai kelebihan pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kambing Kacang yang lebih banyak sehingga ciri-ciri kambing ini lebih menyerupai

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya terus

PENDAHULUAN. Indonesia pada tahun 2014 telah mencapai 12,692,213 ekor atau meningkat. sebesar 1,11 persen dibandingkan dengan tahun 2012.

Ilmu Pengetahuan Alam

STORYBOARD SISTEM PEREDARAN DARAH

ANFIS SISTEM HEMATOLOGI ERA DORIHI KALE

IDENTIFIKASI SIFAT-SIFAT KUALITATIF DAN UKURAN TUBUH PADA ITIK TEGAL, ITIK MAGELANG, DAN ITIK DAMIAKING

I PENDAHULUAN. pengembangannya harus benar-benar diperhatikan dan ditingkatkan. Seiring

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perusahaan penetasan final stock ayam petelur selalu mendapatkan hasil samping

PENDAHULUAN. salah satunya pemenuhan gizi yang berasal dari protein hewani. Terlepas dari

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 360/Kpts/PK.040/6/2015 TENTANG PELEPASAN GALUR ITIK ALABIMASTER-1 AGRINAK

I PENDAHULUAN. tidak dapat terbang tinggi, ukuran relatif kecil berkaki pendek.

I. PENDAHULUAN. Permintaan masyarakat terhadap sumber protein hewani seperti daging, susu, dan

KAJIAN KEPUSTAKAAN. besar pasang gen yang masing-masing dapat berperan secara aditif, dominan dan

Bibit induk (parent stock) itik Mojosari muda

PENDAHULUAN. Puyuh petelur Jepang (Coturnix coturnix japonica) merupakan penyedia telur

Sistem Transportasi Manusia L/O/G/O

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Lokal Kalimantan Tengah

TINJAUAN PUSTAKA Ayam Arab

Daging itik lokal memiliki tekstur yang agak alot dan terutama bau amis (off-flavor) yang merupakan penyebab kurang disukai oleh konsumen, terutama

SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) VII

Bibit induk (parent stock) itik Alabio muda

1. PENDAHULUAN. Salah satu produk peternakan yang memberikan sumbangan besar bagi. menghasilkan telur sepanjang tahun yaitu ayam arab.

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, permintaan

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan

Beberapa definisi berkaitan dengan elektroforesis

TINJAUAN PUSTAKA. Burung puyuh dalam istilah asing disebut quail yang merupakan bangsa

TINJAUAN PUSTAKA. lokal adalah sapi potong yang asalnya dari luar Indonesia tetapi sudah

PENDAHULUAN. meningkat dari tahun ke tahun diperlihatkan dengan data Badan Pusat Statistik. menjadi ekor domba pada tahun 2010.

PEMISAHAN ZAT WARNA SECARA KROMATORAFI. A. Tujuan Memisahkan zat-zat warna yang terdapat pada suatu tumbuhan.

I. PENDAHULUAN. dengan susunan asam amino lengkap. Secara umum telur ayam ras merupakan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Lokasi Penelitian

MENGANGKAT POTENSI GENETIK DAN PRODUKTIVITAS AYAM GAOK

Peking. Gambar 6 Skema persilangan resiprokal itik alabio dengan itik peking untuk evaluasi pewarisan sifat rontok bulu terkait produksi telur.

Asam Amino dan Protein

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah terdiri atas 2 komponen utama yaitu plasma darah dan sel-sel darah.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Hasil Evaluasi Karakteristik Semen Ayam Arab pada Frekuensi Penampungan yang Berbeda

STUDI TENTANG KERAGAMAN GENETIK MELALUI POLIMORFISME PROTEIN DARAH DAN PUTIH TELUR PADA TIGA JENIS AYAM KEDU PERIODE LAYER TESIS.

TINJAUAN PUSTAKA Domba Garut Suhu dan Kelembaban

KERAGAMAN PROTEIN DARAH SEBAGAI PARAMETER BIOGENETIK PADA SAPI JAWA [Blood Protein Variability as Biogenetic Parameter of Java Cattle]

I. PENDAHULUAN. masyarakat menyebabkan konsumsi protein hewani pun meningkat setiap

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Puyuh (Coturnix-coturnix japonica)

PENDAHULUAN. potensi besar dalam memenuhi kebutuhan protein hewani bagi manusia, dan

II. TINJAUAN PUSTAKA

Praktikum II UJI OKSIHEMOGLOBIN & DEOKSIHEMOGLOBIN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Pengaruh Variasi Dosis Tepung Ikan Gabus Terhadap Pertumbuhan

I. TINJAUAN PUSTAKA. plasma dan sel darah (eritrosit, leukosit, dan trombosit), yang masing -masing

SISTEM PEREDARAN DARAH

ACARA PENGAJARAN (SAP) IV A.

HASIL DAN PEMBAHASAN

II KAJIAN KEPUSTAKAN. macam yaitu tipe ringan dengan ciri warna bulu putih bersih, badan ramping serta

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. ayam hutan merah atau red jungle fowls (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau

I. Tujuan Percobaan menentukan kadar protein yang terdapat dalam sampel dengan metode titrasi formol.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Ettawa (asal india) dengan Kambing Kacang yang telah terjadi beberapa

PENDAHULUAN. terutama telurnya. Telur puyuh sangat disukai karena selain bentuknya yang

Transkripsi:

TINJAUAN PUSTAKA Ayam Arab Asal Usul Beberapa ayam lokal petelur unggul Eropa, antara lain Bresse di Prancis, Hamburg di Jerman, Mesian di Belanda, dan Braekels di Belgia. Ayam Braekels adalah jenis ayam lokal petelur introduksi yang paling dikenal di Indonesia. Ayam berjengger tunggal ini ditemukan dan diternakkan pertama kali oleh Ulysses Aldrovandi (1522-1605) di Bologna, Italia. Ayam bernama latin Gallus turcicus ini sejak tahun 1599 diberi nama Braekels (Sulandari et al., 2007). Ayam Arab merupakan keturunan ayam Braekel kriel silver. Ayam Arab yang banyak diternakkan di Indonesia merupakan hasil persilangan dengan berbagai jenis ayam, baik ayam lokal maupun ayam ras (Nataamijaya et al., 2003). Ayam Arab pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh bapak Suwarno yang pulang dari ibadah haji di Arab Saudi dengan cara membawa delapan butir telur tetas yang kemudian ditetaskan dan dikembangkan di daerah Batu, Malang, Jawa Timur. Ayam tersebut dibesarkan dan diumbar di pekarangan rumahnya, sehingga ada yang kawin dengan ayam lokal. Produksi telur dari hasil perkawinan silang dengan ayam Arab lebih tinggi dibandingkan dengan telur ayam lokal lainnya (Sulandari et al., 2007). Berbagai alasan muncul berkaitan dengan asal-usul penamaan ayam Arab, selain karena awalnya dibawa dari kepulangan ibadah haji dari tanah Arab, juga karena pejantan memiliki libido (keinginan kawin) yang tinggi dan ayam betinanya memiliki bulu dari kepala sampai leher membentuk jilbab apabila dilihat dari jauh (Natalia et al., 2005). Karakteristik Ayam Arab ada dua jenis, yaitu ayam Arab Silver (braekel kriel silver) dan ayam Arab Golden (braekel kriel gold). Ayam Arab Silver lebih banyak dikenal dan dibudidayakan dibandingkan ayam Arab Golden. Kedua jenis ayam Arab ini dibedakan pada warna bulunya. Ayam Arab Silver mempunyai warna bulu dari kepala hingga leher putih keperakan dan warna bulu badan totol hitam putih/ lurik hitam putih. Adapun ayam Arab Golden memiliki ciri khas warna bulu kepala sampai leher keemasan dan warna bulu badan totol keemasan (Natalia et al., 2005).

Sulandari et al. (2007) menyatakan bahwa kedua jenis ayam Arab ini memiliki lingkar mata, kulit, shank, dan paruh berwarna hitam. Bobot badan jantan dewasa sekitar 1,4-2,3 kg dan betina sekitar 0,9-1,8 kg pada ayam Arab Silver sedangkan pada ayam Arab Golden bobot badan jantan dewasa sekitar 1,4-2,1 kg dan betina sekitar 1,1-1,6 kg. Selain itu, menurut Nataamijaya et al. (2003) ayam Arab memiliki sifat kualitatif antara lain berjengger tunggal (single) dan berwarna merah, pial berwarna merah, memiliki warna bulu seragam dengan warna dasar hitam dihiasi dengan warna putih di daerah kepala, leher, dada, punggung dan sayap serta berwarna putih pada paruh, kulit dan sisik kaki. Nataamijaya et al. (2003) menyatakan bahwa ayam Arab adalah ayam tipe ringan karena rataan bobot badan dewasa adalah 2.035,60±115,74 g pada jantan dan 1.324,70±106,47 g pada betina. Karakteristik ayam Arab Silver betina dan ayam Arab Golden betina dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Ayam Arab Silver Betina (Kiri) dan Ayam Arab Golden Betina (Kanan) Kualitas Eksternal Telur Romanoff dan Romanoff (1963) menyatakan bahwa definisi kualitas adalah ciri-ciri atau sifat yang sama dari suatu produk yang menentukan derajat kesempurnaan yang akan mempengaruhi penerimaan konsumen. Iskandar (2007) menyatakan bahwa kualitas bagian luar telur terdiri atas ukuran dan bentuk, warna kerabang, permukaan dan ketebalan kerabang, serta porositas dan rengat. Tabel 1 menyajikan performa produksi telur ayam Arab. 4

Tabel 1. Performa Produksi Telur Ayam Arab Variabel Performa Produksi telur per 6 bulan periode (%) 51,41±4,61 Bobot telur (g) 34,24±1,38 Fertilitas (%) 69,17±4,25 Daya tetas (%) 74,14±5,16 Warna kerabang telur Putih Umur pertama bertelur (hari) 168,52±3,20 Bobot telur periode awal (g) 27,10±1,61 Indeks telur 0,76±0,04 Sumber: Nataamijaya et al. (2003) Natalia et al. (2005) menyatakan bahwa ayam Arab memiliki produksi telur yang tinggi yaitu mencapai 190-250 butir per tahun dengan berat telur 42,3 g/butir. Kuning telur lebih besar volumenya, mencapai 53,2% dari total berat telur. Warna kerabang sangat bervariasi yakni putih, kekuningan dan cokelat. Warna kulit yang kehitaman dengan daging yang lebih tipis dibanding ayam Kampung menyebabkan ayam Arab jarang dimanfaatkan sebagai pedaging. Protein Darah Darah tersusun atas plasma dan sel darah. Sel darah mencakup eritrosit, leukosit, dan trombosit (platelet) (Isnaeni, 2006). Unsur sel darah meliputi eritrosit, leukosit dan trombosit tersuspensi didalam plasma (Ganong, 1995). Frandson (1992) menyatakan bahwa plasma darah terdiri dari air sebanyak 92% dan zat-zat lain sebanyak 8%. Zat-zat lain itu 90% berupa protein, 0,9% berupa bahan anorganik, dan sisanya berupa bahan organik bukan protein. Stansfield dan Elrod (2002) menyatakan bahwa protein adalah polimer panjang yang tersusun atas asam-asam amino yang terikat secara kovalen oleh ikatan-ikatan peptide. Protein pada plasma terdiri dari dua jenis utama, yaitu albumin dan globulin, sedangkan protein pada sel darah merah adalah hemoglobin. Card dan Nesheim (1973) menyatakan bahwa darah ayam terdiri dari kira-kira 2,5-3,5 juta/mm 3 eritrosit, tergantung umur dan jenis kelamin. Darah ayam jantan dewasa terdiri atas 500 ribu lebih banyak sel darah merah per mm 3 dibandingkan ayam betina. 5

Hemoglobin Sel darah merah atau eritrosit (bahasa Yunani: eritro=merah, sit= sel) adalah sel-sel yang diameter rata-ratanya sebesar 7,5 μ dengan spesialisasi untuk pengangkutan oksigen sel-sel ini merupakan cakram (disk) yang bikonkaf dengan pinggiran sirkuler yang tebalnya 1,5 µ dan pusatnya yang tipis. Cakram bikonkaf tersebut mempunyai permukaan yang relatif luas untuk pertukaran oksigen melintasi membram sel (Frandson, 1992). Eritrosit mengandung hemoglobin, pigmen merah pembawa oksigen dalam sel darah merah yang merupakan senyawa protein, yaitu sekitar 30% volume darah ayam jantan muda atau betina yang sedang bertelur dan sampai 40% pada ayam jantan dewasa (Card dan Nesheim, 1973). Adanya hemoglobin di dalam eritrosit memungkinkan timbulnya kemampuan untuk mengangkut oksigen, serta menjadi penyebab timbulnya warna merah pada darah. Hemoglobin merupakan suatu senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen porfirin merah (heme), masing-masing mengandung atom besi ditambah globin, yang merupakan protein globular yang terdiri dari empat rantai asam-asam amino (Frandson, 1992). Guyton (1976) menyatakan bahwa hemoglobin merupakan 90% dari bobot kering eritrosit. Hemoglobin berfungsi sebagai pigmen respirasi darah dan sebagai sistem buffer intrinsik dalam darah. Oksigen dari kapiler paru-paru diikat dan dilepas ke jaringan oleh atom besi. Satu gram hemoglobin dapat membawa 1,34 ml oksigen pada suhu 0 o C dan tekanan 760 nm. Hemoglobin sebelum mengikat oksigen berwarna merah keunguan dan setelah berikatan dengan oksigen menjadi oksihemoglobin berwarna merah cerah. Elektroforesis Harper et al. (1984) menyatakan elektroforesis adalah suatu cara analisis kimia yang didasarkan pada gerakan molekul bermuatan di dalam medan listrik yang dipengaruhi oleh ukuran, bentuk, besar muatan, dan sifat kimia dari molekul. Teknik elektroforesis menurut Stenesh (1983) dapat dibagi menjadi dua, yaitu elektroforesis larutan (moving boundary electrophoresis) dan elektroforesis daerah (zona electrophoresis). Elektroforesis larutan dengan larutan penyangga (buffer) yang mengandung makro molekul ditempatkan di dalam suatu sel tertutup dan dialiri arus listrik. Kecepatan migrasi dari makromolekulnya diukur dengan cara melihat adanya 6

pemisahan dari molekul yang terlihat sebagai pita di dalam pelarut. Elektroforesis daerah menggunakan suatu bahan padat sebagai media penunjang dan berisi larutan penyangga. Sampel yang akan dianalisis diletakkan pada media penunjang tersebut dalam bentuk titik atau pita tipis. Teknik elektroforesis gel poliakrilamida telah dikembangkan sejak tahun 1959, menurut Ogita dan Markert (1979) terbukti merupakan metode yang berguna dan berkekuatan untuk memisahkan protein-protein dan asam-asam nukleat. Metode ini relatif sederhana dan murah serta kini masih umum digunakan. Penelitian Tjahjaningsih (1991) dengan menggunakan teknik gel poliakrilamida pada plasma darah, yaitu albumin dan transferin menghasilkan jumlah pita yang lebih banyak dan pola yang lebih bervariasi jika dibandingkan teknik gel pati. Polimorfisme Protein Darah Nicholas (1987) menerangkan bahwa studi polimorfisme protein merupakan studi yang mempelajari karakteristik kimiawi berbagai protein. Perbedaan bentuk setiap protein darah dapat dideteksi dengan membedakan kecepatan gerakannya dalam elektroforesis gel. Molekul yang bermuatan lebih besar akan bergerak lebih cepat dan lebih jauh dalam satuan waktu yang sama. Studi polimorfisme menggunakan teknik-teknik elektroforesis dalam penganalisaannya. Elektroforesis tidak hanya digunakan untuk mendeteksi variasi alel gen suatu individu, tetapi dapat pula digunakan untuk menduga variasi genetik dalam populasi. Warwick et al. (1990) menyatakan bahwa kebanyakan dari polimorfisme protein darah diatur secara genetik oleh pasangan atau rangkaian alel kodominan. Sejumlah besar perbedaan yang diatur secara genetik ditemukan dalam globulin (transferin), albumin, enzim-enzim darah, dan hemoglobin. Perbedaan-perbedaan tersebut menurutnya ditentukan dengan prosedur biokimia antara lain elektroforesis. Secara genetik polimorfisme berguna dalam membantu penentuan asal-usul, menyusun hubungan filogenetis antara spesies-spesies dan bangsa-bangsa atau kelompok-kelompok dalam spesies. Banyak penelitian yang telah dilakukan dalam usaha menentukan hubungan antara perbedaan biologis atau polimorfisme dengan sifat-sifat produksi dari hewan-hewan pertanian. Apabila keeratan hubungan itu dapat ditemukan dan merupakan sifat khas dari seluruh populasi, maka dapat digunakan untuk indikator seleksi produktivitas. 7

Polimorfisme Protein Darah Hemoglobin Polimorfisme protein hemoglobin berkaitan dengan perbedaan asam amino penyusun protein globin yang terletak pada jumlah asam amino residu (Stevens, 1991). Protein darah dihasilkan melalui proses transkripsi DNA (asam dioksiribonukleat) dan translasi RNA (asam ribonukleat). Susunan asam amino dan jumlah protein dalam darah sangat ditentukan oleh gen-gen yang mengkodenya (Frandson, 1992). Mekanisme sintesa protein hemoglobin diturunkan dari tetua kepada keturunannya yang diatur secara genetis dan berhubungan dengan penggolongan jenis hemoglobin seperti pada manusia (Harper et al., 1984). Hemoglobin berhubungan dengan golongan darah karena penggolongan darah dilakukan berdasarkan perbedaan antigen pada sel darah merah atau eritrosit dan eritrosit berhubungan dengan hemoglobin (Stevens, 1991). Hasil elektroforesis pada penelitian Johari et al. (2008) menunjukkan bahwa hemoglobin terletak pada kisaran berat molekul 66.000 dalton. Hasil pengamatan pita protein menunjukkan bahwa lokus hemoglobin dikontrol oleh 2 alel, yaitu Hb A dan Hb B. Frekuensi gen pada alel Hb A ayam Kedu bulu hitam daging hitam (HH) adalah 0,9; sedangkan bulu hitam daging putih (HP) dan bulu putih daging putih (PP) masing-masing 1,0. Frekuensi gen pada alel Hb B ayam Kedu HH sebesar 0,1; sementara itu HP dan PP sebesar 0 atau tidak memiliki alel Hb B. Hasil perhitungan total frekuensi gen alel Hb A adalah 0,967, sedangkan alel Hb B sebesar 0,033. Lokus protein hemoglobin pada itik Tegal diperoleh tiga alel yang kombinasinya membentuk enam macam genotipe, yaitu Hb AA, Hb AB, Hb AC, Hb BB, Hb BC dan Hb CC dengan frekuensi alel masing-masing yaitu 0,40; 0,45; dan 0,15. Genotipe Hb AA memiliki potensi produksi telur tertinggi dibandingkan genotipe lainnya (Ismoyowati, 2008). Produksi telur merupakan hasil dari aksi gen dalam jumlah yang besar melalui proses biokimia yang dikontrol oleh beberapa anatomi dan fisiologi dalam tubuh dengan tidak mengesampingkan kondisi lingkungan sekitar (nutrisi, pencahayaan, suhu, air, dan bebas dari penyakit). Beberapa gen yang mengontrol semua proses yang berhubungan dengan produksi telur mengikuti ekspresi ayam secara penuh pada potensi genetiknya (Fairfull dan Gowe, 1990). 8