II. TINJAUAN PUSTAKA Morfologi

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. dapat disediakan dari hutan alam semakin berkurang. Saat ini kebutuhan kayu

BAB I PENDAHULUAN. Perhutani sebanyak 52% adalah kelas perusahaan jati (Sukmananto, 2014).

BAB I PENDAHULUAN. mandat oleh pemerintah untuk mengelola sumber daya hutan yang terdapat di

BAB I PENDAHULUAN. Jati (Tectona grandis Linn F.) merupakan salah satu produk kayu mewah

TINJAUAN PUSTAKA Jati ( Tectona grandis Linn.f.)

BAB I PENDAHULUAN. daerah yang menjadi sentra penanaman jati adalah puau Jawa (Sumarna, 2007).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Adanya ketidakseimbangan antara jumlah kebutuhan dengan kemampuan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mentimun papasan (Coccinia gandis) merupakan salah satu angggota

TINJAUAN PUSTAKA Asal-usul dan Penyebaran Geografis Sifat Botani

TINJAUAN PUSTAKA. dalam buku Steenis (2003), taksonomi dari tanaman tebu adalah Kingdom :

I. PENDAHULUAN. Hutan jati merupakan bagian dari sejarah kehidupan manusia di Indonesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kayu jati (Tectona grandis L.f.) merupakan salah satu jenis kayu komersial

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi pohon jati menurut Sumarna (2011) sebagai berikut.

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai

BAB I PENDAHULUAN. yang mahal di pasar internasional US$ 640/m 3 untuk kayu papan jati Jawa tahun

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Tanaman Teh Morfologi Tanaman Teh Syarat Tumbuh

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Tanaman Tebu Saccharum officinarum

RESPON PERTUMBUHAN AWAL KLON JATI UNGGUL NUSANTARA (JUN) DI KABUPATEN PURWAKARTA, JAWA BARAT

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Van Steenis (2005), bengkuang (Pachyrhizus erosus (L.))

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah

TINJAUAN PUSTAKA Botani Manggis

TINJAUAN PUSTAKA. A. Pembibitan Jati. tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi m.

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Mangga berakar tunggang yang bercabang-cabang, dari cabang akar ini tumbuh

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. ekonomis tinggi. Menurut Bermejo et al. (2004) kayu jati merupakan salah satu

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu jenis kayu keras tropis yang paling berharga di pasar

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

TINJAUAN PUSTAKA. Bibit Sungkai (Peronema canescens) Sungkai (Peronema canescens) sering disebut sebagai jati sabrang, ki

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

BAB I PENDAHULUAN. jati memiliki kelas awet dan kelas kuat yang tinggi seperti pendapat Sumarna

I. PENDAHULUAN. maupun luar negeri. Hingga saat ini jati masih menjadi komoditas mewah

TINJAUAN PUSTAKA. bekas tambang, dan pohon peneduh. Beberapa kelebihan tanaman jabon

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman gonda dalam bahasa jawa disebut gondo atau orang barat

TINJAUAN PUSTAKA. Ordo : Liliales ; Famili : Liliaceae ; Genus : Allium dan Spesies : Allium

II. TINJAUAN PUSTAKA

MIKORIZA & POHON JATI

Hama-Hama Dominan Jati (Tectonia grandis)

Penyiapan Benih Unggul Untuk Hutan Berkualitas 1

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar belakang. mebel dan lain sebagainya. Tingginya kebutuhan manusia akan kayu tersebut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

TINJAUAN PUSTAKA. Species: Allium ascalonicum L. (Rahayu dan Berlian, 1999). Bawang merah memiliki batang sejati atau disebut discus yang bentuknya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. spesies. Klasifikasi tanaman ubikayu adalah sebagai berikut:

II. TINJAUAN PUSTAKA. luas di seluruh dunia sebagai bahan pangan yang potensial. Kacang-kacangan

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Purwono dan Hartono (2012), kacang hijau termasuk dalam keluarga. tumbuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat

II. TINJAUAN PUSTAKA. terutama India dan Birma. Terung dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian

TINJAUAN PUSTAKA. Taksonomi Tanaman Teh

umbinya tipis berwarna kuning pucat dengan bagian dalamnya berwarna putih

TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang kecil, menunjukkan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) termasuk famili Graminae

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) divisi spermatophyta, subdivisi angiospermae, kelas monocotyledonae,

BAB I PENDAHULUAN. kering yang nyata, tipe curah hujan C F, jumlah curah hujan rata-rata 1.200

LATAR BELAKANG JATI PURWOBINANGUN 5/13/2016

PEMANFAATAN EKSTRAK BAWANG MERAH SEBAGAI PENGGANTI ROOTON F UNTUK MENSTIMULASI PERTUMBUHAN AKAR STEK PUCUK JATI (Tectona grandis L)

TINJAUAN PUSTAKA Jeruk Besar

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman manggis merupakan tanaman tropis yang berasal dari Asia Tenggara,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Caulifloris. Adapun sistimatika tanaman kakao menurut (Hadi, 2004) sebagai

II. TINJAUAN PUSTAKA. green bean dan mung. Di Indonesia, kacang hijau juga memiliki beberapa nama

TINJAUAN PUSTAKA Botani

TINJAUAN PUSTAKA. Pemadatan Tanah

Pedoman Penilaian dan Pelepasan Varietas Hortikultura (PPPVH) 2004

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.10/Menhut-II/2007 TENTANG PERBENIHAN TANAMAN HUTAN MENTERI KEHUTANAN,

Menurut van Steenis (2003), sistematika dari kacang tanah dalam. taksonomi termasuk kelas Dicotyledoneae; ordo Leguminales; famili

I. TINJAUAN PUSTAKA. bahan induk, relief/ topografi dan waktu. Tanah juga merupakan fenomena alam. pasir, debu dan lempung (Gunawan Budiyanto, 2014).

Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Cabai (Capsicum sp ) merupakan tanaman semusim, dan salah satu jenis

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Potensi Budidaya Jati

TINJAUAN PUSTAKA Botani Ubijalar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Jeruk Besar (Pamelo)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Data Iklim Lahan Penelitian, Kelembaban Udara (%)

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. akar-akar cabang banyak terdapat bintil akar berisi bakteri Rhizobium japonicum

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

TINJAUAN PUSTAKA. pada perakaran lateral terdapat bintil-bintil akar yang merupakan kumpulan bakteri

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Botani, Klasifikasi, dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Morfologi Bawang Merah ( Allium ascalonicum L.)

TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit Eucalyptus spp. Ada beberapa penyakit penting yang sering menyerang tanaman. Eucalyptus spp.

TINJAUAN PUSTAKA. Botani dan Morfologi Kacang Tanah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol (Gladiolus hybridus) berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Paprika. Syarat Tumbuh

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Padi. tunggang yaitu akar lembaga yang tumbuh terus menjadi akar pokok yang

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Transkripsi:

3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Jati Jati merupakan salah satu komoditas kayu mewah yang bernilai komersil tinggi (Sumarna 2003; Irwanto 2006). Hal ini berbanding lurus dengan kualitas kayunya yang tinggi. Kayu jati termasuk kelas kuat I dan kelas awet II (Irwanto 2006). Berdasarkan taksonomi, jati mempunyai penggolongan sebagai berikut (Sumarna 2003): Divisi : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Sub kelas : Dicotyledonae Ordo : Verbenales Famili : Verbenaceae Genus : Tectona Spesies : Tectona grandis Linn. f. Tectona grandis Linn.f. disebut juga jati (Indonesia), sagun (India), lyiu (Burma), mai sak (Thailand), teak (Inggris), teck (Perancis), teca (Spanyol), java teak (Jerman). Penyebaran alaminya meliputi India, Myanmar, Thailand, dan bagian barat Laos (Dephut 2002). Jati bukan tanaman asli Indonesia, namun sudah tumbuh sejak beberapa tahun 1842 di Pulau Kangean, Muna, Sumbawa, dan Jawa. Dengan berkembangnya teknik budidaya jati, tanaman ini sudah menyebar di berbagai negara Asia Tenggara, Wilayah Pasifik, Afrika, dan Amerika (Dephut 2002; Irwanto 2006). 2.1.1. Morfologi Menurut Sumarna (2003) dan Dephut (2002), tanaman jati memiliki tinggi yang mencapai 30 45 m. Pada tapak bagus dan dengan pemangkasan, batang bebas cabang dapat mencapai 15 20 m atau lebih. Diameter batang dapat mencapai 220 cm. Pohon tua memiliki batang yang beralur dan berbanir. Kulit kayunya tebal berwarna kecokelatan atau abu-abu yang mudah terkelupas. Daun jati berbentuk elips atau bulat telur dengan ujung daun meruncing. Tata daunnya berbentuk opposite dengan lebar 15 40 cm dan panjang 20 50 cm (Dephut 2002). Daun muda (petiola) berwarna hijau kecokelatan. Sedangkan daun

4 tua berwarna hijau kecokelatan dengan bagian bawah berwarna abu-abu dan tertutup bulu berkelenjar berwarna merah. Menurut Sumarna (2003) secara fenologis, tanaman jati tergolong tanaman yang menggugurkan daun (deciduous) pada saat musim kemarau (antara bulan November hingga Januari). Setelah gugur, daun akan tumbuh lagi pada bulan Januari atau Maret. Masa pertumbuhan akan berlangsung antara bulan Juni Agustus atau September. Buahnya masak pada bulan November dan akan jatuh pada kisaran bulan Februari atau April. Pada tanaman jati konvensional, sifat fisik dan kimianya ditentukan oleh kondisi lahan, iklim, serta lingkungan tempat tumbuh. Pada kawasan hutan dataran rendah dengan kandungan hara optimal, curah hujan antara 750 1.500 mm/th, suhu udara nisbi antara 34 42 o C, dan kelembaban sekitar 70%, akan diperoleh kualitas produk kayu yang memiliki struktur kambium dengan tebal kulit kayu 0,4 1,8 cm. Serat halus berwarna cokelat terang dan bagian teras berwarna cokelat tua atau cokelat keemasan (Sumarna 2003). 2.1.2. Lahan Pengembangan Perencanaan secara matang untuk pengembangan tanaman jati untuk skala luas dan profesional harus dilakukan. Perencanaan ini didahului dengan pengamatan yang meliputi letak lahan (topografi), kondisi ekologis, iklim, dan kesuburan lahan. Menurut Sumarna (2003), persyaratan tumbuh optimal tanaman jati dapat diprediksi berdasarkan asumsi berikut. 1. Secara teknis, letak lokasi erat hubungannya dengan kondisi topografi, kualitas lahan, serta kesesuaian lingkungan tempat tumbuh. Kesesuaian tempat tumbuh dapat dilakukan dengan mempelajari pendekatan kondisi endemik asal-usul tempat tumbuh jati. 2. Pemilihan lahan pengembangan dapat pula dengan memperhatikan tingkat keberhasilan tumbuh serta kualitas produk kayu yang dikembangkan. 3. Untuk pengembangan di luar daerah tersebut, idealnya didasarkan atas hasil uji kesesuaian tempat tumbuh dengan memperhatikan parameter-parameter standar ekologis.

5 2.1.2.1.Iklim Dalam pertumbuhannya, tanaman jati membutuhkan iklim dengan curah hujan minimum 750 mm/th, optimum 1.000 1.500 mm/th, dan maksimum 2.500 mm/th (jati masih dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 3.750 mm/th). Suhu udara minimum yang dibutuhkannya yakni 13-17 o C, optimum 32-42 o C dan maksimum 39-43 o C. Pada fase vegetatif, kelembaban lingkungan optimal 80%. Sedangkan pada fase generatif antara 60-70% (Sumarna 2003). 2.1.2.2.Tempat Tumbuh Kondisi tempat tumbuh akan berpengaruh terhadap fisiologis tanaman yang ditunjukkan oleh perkembangan riap tumbuh. Menurut Sumarna (2003) secara geologis, tanaman jati tumbuh di tanah dengan batuan induk berasal dari formasi limestone, granite, gneis, mica schist, sandstone, quartzite, conglomerate, shale, dan clay. Idealnya, tanaman jati ditanam di areal dengan topografi yang relatif datar (hutan dataran rendah) atau memiliki kemiringan lereng kurang dari 20%. Jati akan tumbuh lebih baik pada tekstur tanah dengan fraksi lempung, lempung berpasir, atau pada lahan liat berpasir. Jati memerlukan kondisi solum lahan yang dalam dan keasaman tanah (ph) optimum 6,0. Namun pada ph rendah (4 5), tanaman jati masih dapat tumbuh dengan baik. Jati sensitif terhadap rendahnya nilai pertukaran oksigen dalam tanah. Sehingga jati membutuhkan tanah yang memiliki porositas dan drainase yang baik untuk pertumbuhannya agar mudah menyerap unsur hara. Tanaman yang tumbuh dengan kandungan unsur hara makro yang optimal akan memiliki perakaran yang baik sehingga proses penyeraparan unsur haranya semakin cepat dan kemampuan pohon untuk menghasilkan produksi pun semakin tinggi. Unsur hara makro yang penting dalam mendukung pertumbuhan jati yakni sebagai berikut (Sumarna 2003). 1. Kalsium (Ca), merupakan unsur penting yang mendukung pertumbuhan meristem batang dan merupakan elemen pembentukan dinding sel. Tanaman jati yang ditanam di lahan dengan kandungan Ca rendah (8,18-9,27%) menunjukkan pertumbuhan yang kurang menguntungkan. 2. Fosfor (P) optimum yang dibutuhkan tanaman jati berkisar 0,022-0,108% atau 19-135 mg/100g di dalam tanah. Secara fisiologis, lahan yang kekurangan

6 unsur P akan tampak pada pertumbuhan jati. Daun jati akan cepat gugur sehingga proses fotosintesa terganggu dan pertumbuhannya lambat. 3. Kalium (K) yang dibutuhkan oleh tanaman jati pada lapisan permukaan berkisar 0,54-1,80% (45-625 ppm/100g) dan permukaan di bawahnya antara 0,40-1,13% (113-647 ppm/100gr). 4. Nitrogen (N) yang dibutuhkan tanaman jati pada lapisan permukaan tanah antara 0,072-0,13% dan pada lahan di bawahnya antara 0,0056-0,05%. Sedangkan rataan N yang dibutuhkan oleh tanaman jati sekitar 0,0039%. 2.1.3. Jati Unggul Nusantara (JUN) Dengan berkembangnya teknologi di bidang rekayasa genetik (pemuliaan pohon/tree improvement), telah hadir beberapa jati varietas unggul. Jati yang dihasilkan diharapkan memiliki keunggulan komparatif berdaur pendek (±15 tahun) dengan sedikit cabang, batang lurus dan silindris. Berbagai merek dagang varietas unggul yang telah beredar di pasaran disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 Berbagai merek dagang jati varietas unggul yang telah beredar di pasaran (Irwanto 2006; Soeroso dan Soetardjo 2009; Perum Perhutani 2011) No. Nama Dagang Produsen Materi Asal 1. Jati Plus Perhutani (JPP) Perum Perhutani Jawa 2. Jati Super PT Monfori Thailand 3. Jati Emas PT Katama Suryabudi Birma 4. Jati Unggul PT Bumindo, PT Fitotek Jawa 5. Jati Kencana PT Dafa Teknoagro Mandiri Jawa Timur 6. JUL KBP Lamongan Thailand 7. Jati Unggul Nusantara (JUN) PT Setyamitra Bhaktipersada Indonesia (JPP) Menurut Sumarni et al. (2009), istilah jati cepat tumbuh merupakan nama atau sifat umum sebagai sebutan yang digunakan untuk membedakan dengan jati lokal atau jati konvensional. Jati cepat tumbuh ini merupakan jati yang dihasilkan dari pembiakan vegetatif melalui proses bioteknologi yakni teknik kultur jaringan (cloning) dan memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat. Bibit induk yang diklon untuk menghasilkan jati unggul merupakan tanaman jati terbaik setelah diseleksi dan dipilih dari tanaman jati biasa yang mempunyai sifat-sifat lebih dari populasi jati yang ada. Setiap jenis jati unggul biasanya memiliki spesifikasi tersendiri yang berkaitan dengan sifat unggul yang dimilikinya. Salah satu yang penting dari jati unggul yakni dapat dipanen pada umur 10 15 tahun. Sifat-sifat unggul lainnya yaitu mempunyai sifat keseragaman

7 yang tinggi, tahan terhadap penyakit, pertumbuhan cepat, batang bebas cabang relatif tinggi, lurus, dan dapat diproduksi dalam jumlah banyak (Sumarni et al. 2009). Sejak tahun 1982, pemuliaan pohon jati telah dimulai oleh Perum Perhutani. Pemuliaan pohon ini dimulai dengan eksplorasi dan seleksi awal pohon plus dari hutan alam maupun hutan tanaman jati di Indonesia. Saat ini telah dihasilkan koleksi 600 pohon plus yang terdiri dari 300 pohon dari Pulau Jawa dan 300 pohon dari luar Jawa. Materi genetik pohon plus tersebut disimpan atau ditanam di dalam Bank Klon, Kebun Benih Klonal (KBK), dan Kebun Pangkas. Koleksi ini ditujukan untuk konservasi genetik (bank gen) maupun untuk kegiatan pemuliaan lebih lanjut (Perum Perhutani 2011). Salah satu hasil program pemuliaan pohon adalah diperolehnya klon unggulan hasil uji klon. Sebelum klon-klon tersebut dikembangkan, dilakukan tes pembuktian lapangan di beberapa lokasi dengan menerapkan silvikultur intensif. Salah satu produk dari program pemuliaan pohon ini adalah JPP (Jati Plus Perhutani). JPP dikembangkan melalui pembiakan vegetatif (stek pucuk dan kultur jaringan) dan generatif dengan menggunakan biji asal kebun benih klonal (KBK) (Perum Perhutani 2011). JPP yang diproduksi secara vegetatif (stek pucuk) ini kemudian disebut Jati Unggul Nusantara (JUN). A B C Gambar 1 Perakaran jati dari (A) biji, (B) kultur jaringan, (C) stek pucuk JUN (Soeroso dan Soetardjo 2009) Menurut PT Setyamitra Bhaktipersada (2011b), bibit JUN diproduksi dengan bioteknologi melalui pembiakan (propagasi) vegetatif (kloning) dengan stek pucuk dan dilakukan modifikasi sistem perakaran sehingga menghasilkan akar

8 tunjang majemuk. Tanaman JUN ini cepat tumbuh, kokoh, dan dapat dipanen mulai umur 5 tahun dengan hasil kayu bundar (log) 0,2 m 3 /pohon. Klon Jati Unggul Nusantara (JUN) memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan klon jati lainnya. Oleh karena itu, pembangunan hutan jati dengan menggunakan bibit dari klon JUN merupakan salah satu alternatif untuk memproduksi kayu jati dengan kualitas fenotipe yang tinggi dengan masa tanam yang cepat. 2.2.Uji Klon Perbanyakan secara aseksual (seperti stek pucuk) menjamin tidak akan berubahnya genotipe tanaman. Hal ini merupakan alat yang penting untuk beberapa metode konservasi. Perbanyakan aseksual mempunyai arti khusus untuk mengekalkan genotipe, populasi atau jenis dari bahaya kepunahan (Finkeldey 2005). Suatu fenotipe dari tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Sifat-sifat yang mempengaruhi hasil dari hutan tanaman diamati dalam uji coba lapangan. Analisis variasi yang diamati harus berdasarkan metode genetika kuantitatif. Dalam beberapa kasus, beberapa sifat diamati dalam suatu pengujian yang dilakukan secara periodik. Tipe pengujian yang dilakukan tergantung pada tujuan penanaman yang akan dilakukan (Finkeldey 2005). Sifat yang diamati di dalam pengujian ini seperti daya sintas, pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Seluruh sifat tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor genetik. Namun, hanya beberapa dari sifat-sifat tersebut yang diukur dalam skala kontinyu dan dalam hal ini bersifat kuantitatif. Sebagian besar sifat yang mencirikan pertumbuhan adalah kuantitatif. Daya sintas adalah suatu sifat dengan dua kemungkinan ekspresi pada setiap tanaman (hidup atau mati). Kesehatan tanaman juga kualitatif dengan dua ekspresi saja (infeksi atau tidak terinfeksi) atau dicatat dalam kelas diskrit (Finkeldey 2005). Beberapa sifat yang dicatat dalam pengujian lapangan berasosisasi erat dengan kondisi keteradaptasian pohon terhadap kondisi lingkungan di tempat pengujian dan fitness dari tanaman. Hal ini berlaku jelas untuk daya sintas dan sifat-sifat yang mencirikan kesehatan tanaman. Sifat-sifat pertumbuhan tidak selalu berkorelasi positif dengan fitness.

9 Ketika dilakukan pengukuran secara berturut-turut terhadap sifat yang ada pada sekelompok individu, superioritas atau inferioritas yang dimiliki sebelumnya akan berelasi sama seperti biasa pada pengukuran selanjutnya. Konsistensi posisi relatif ini dari relasi subjek satu sama lain selama pengukuran yang dilakukan secara berturut-tutut disebut repeatability (Tunner & Young 1969 dalam Carvalho dan Cruz 2003).