BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
Energy Drink, Masih Layakkah dikategorikan sebagai Minuman Fungsional?? [Kelompok 8] [Kelas E] Anggota: Reza Widyasaputra ( )

BAB 1 PENDAHULUAN. dan murah yakni mengkonsumsi minuman penambah energi. Padahal dari segi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Glukosa merupakan sumber energi utama bagi seluruh manusia. Glukosa

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Suplemen berenergi adalah jenis minuman yang ditujukan untuk. stamina tubuh seseorang yang meminumnya. (

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit dimana terjadi gangguan

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. primer manusia yang tidak dapat ditinggalkan. Setiap hari manusia membutuhkan makanan dan

BAB I PENDAHULUAN. daya regang atau distensibilitas dinding pembuluh (seberapa mudah pembuluh tersebut

BAB 1 PENDAHULUAN. ke-4 di dunia dengan tingkat produksi sebesar ton dengan nilai USD 367 juta

Kafein? Berbahayakah atau menguntungkan untuk tubuh?

glukosa darah melebihi 500 mg/dl, disertai : (b) Banyak kencing waktu 2 4 minggu)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

Pengaruh Soft Drink Pada Penggunaan Obat Herbal Untuk Penyakit Diabetes

BAB I PENDAHULUAN. A.1. Latar Belakang. Minuman berenergi termasuk salah satu minuman. suplemen yang mengandung kafein, glukosa, dan taurin

I. PENDAHULUAN. kesehatan, bahkan pada bungkus rokok-pun sudah diberikan peringatan mengenai

PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Mellitus (DM) merupakan gangguan metabolisme dengan. yang disebabkan oleh berbagai sebab dengan karakteristik adanya

BAHAN AJAR GIZI OLAHRAGA DEHIDRASI. Oleh: Cerika Rismayanthi, M.Or

BAB 1 PENDAHULUAN. fisik (Desmita, 2005) yang didukung dengan aktivitas olahraga dan aktivitas

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

PENGATURAN JANGKA PENDEK. perannya sebagian besar dilakukan oleh pembuluh darah itu sendiri dan hanya berpengaruh di daerah sekitarnya

I. PENDAHULUAN. masalah utama dalam dunia kesehatan di Indonesia. Menurut American. Diabetes Association (ADA) 2010, diabetes melitus merupakan suatu

Hal-hal yang Perlu Diwaspadai untuk Menghindari Keracunan Kafein dalam Minuman

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB V PEMBAHASAN. menjadi salah satu penyebab sindrom dispepsia (Anggita, 2012).

JENIS GANGGUAN ELEKTROLIT

BAB 1 PENDAHULUAN. relatif sensitivitas sel terhadap insulin, akan memicu munculnya penyakit tidak

BAB I PENDAHULUAN. seperti kurang berolahraga dan pola makan yang tidak sehat dan berlebihan serta

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat bervariasi dan begitu populer di kalangan masyarakat. Kafein

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengandung satu atau lebih bahan berupa vitamin, mineral, asam amino atau

Dr.Or. Mansur, M.S. Dr.Or. Mansur, M.S

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mengkonsumsi minuman berenergi agar tubuh menjadi segar dan mengatasi

8 Cara Menurunkan Kadar Gula Secara Alami

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TEKANAN DARAH TINGGI (Hipertensi)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Calcium Softgel Cegah Osteoporosis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Mendesain Pangan untuk Atlit Berdasarkan Indek Glikemik. Oleh : Arif Hartoyo HP :

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. sama lain. Elektrolit terdiri dari kation dan anion. Muatan positif merupakan hasil pembentukan dari kation dalam larutan.

STRUKTUR HISTOLOGI PANKREAS TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus L) YANG DIINDUKSI GLUKOSA SETELAH PEMBERIAN KOMBUCHA COFFEE PER-ORAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yang membutuhkan perhatian lebih dalam setiap pendekatannya. Berdasarkan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KAFEIN DAN PERFORMA ATLETIK

Obat-obat Hormon Hipofisis anterior

BAB I PENDAHULUAN. lain. Elektrolit terdiri dari kation dan anion. Kation ekstraseluler utama adalah natrium (Na + ), sedangkan kation

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Rijalul Fikri FISIOLOGI ENDOKRIN

HIPONATREMIA. Banyak kemungkinan kondisi dan faktor gaya hidup dapat menyebabkan hiponatremia, termasuk:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Definisi Diabetes Melitus

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

PERISTIWA KIMIAWI (SISTEM HORMON)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya

BAB I PENDAHULUAN. Dari segi ilmu kimia kolesterol merupakan senyawa lemak yang kompleks

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

TUGAS 3 SISTEM PORTAL

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Permainan sepak bola merupakan salah satu olahraga endurance beregu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. beragam. Masalah gizi di Indonesia dan di Negara berkembang pada

5/30/2013. dr. Annisa Fitria. Hipertensi. 140 mmhg / 90 mmhg

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

REKOMENDASI GIZI UNTUK ANAK SEKOLAH. YETTI WIRA CITERAWATI SY, S.Gz, M.Pd

Seimbangkan Kadar Gula Darah Anda Sekarang

Penyakit diabetes mellitus digolongkan menjadi dua yaitu diabetes tipe I dan diabetes tipe II, yang mana pada dasarnya diabetes tipe I disebabkan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan makhluk hidup karbohidrat memegang peranan penting

HASIL DAN PEMBAHASAN. Nilai Karbohidrat dan Kalori Ransum, Madu dan Kayu Manis

Lecithin Softgel, Herbal Obat Kolesterol

BAB I PENDAHULUAN. Pola penyakit yang diderita masyarakat telah bergeser ke arah. penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah,

BAB I PENDAHULUAN. Minuman isotonik atau dikenal juga sebagai sport drink kini banyak dijual

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Tingginya jam aktivitas masyarakat serta meningkatnya kesadaran. terhadap makanan dan minuman yang bermanfaat bagi kesehatan yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ENYAHKAN INSOMNIA ( SULIT TIDUR)

Peristiwa Kimiawi (Sistem Hormon)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Rumah Sakit RSUD dr. Moewardi. 1. Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minuman berenergi dan zat-zat kandungannya Minuman berenergi adalah minuman ringan yang mengandungi zat-zat seperti vitamin B kompleks dan kafein untuk menstimulasi sistem metabolik dan sistem saraf pusat. Menurut sebuah artikel sebanyak 500 minuman energi baru telah dilancarkan sedunia (Boyle, Castillo, 2006). Minuman berenergi bertujuan memberi pengguna peningkatan energi yang segera melalui kombinasi zat stimulan seperti kafein, ekstrak herba contohnya guarana, ginseng dan gingko biloba, vitamin B, asam amino contohnya taurine, derivat asam amino seperti karnitin dan derivat gula seperti glukuronalakton dan ribose (Boyle, Castillo, 2006). Minuman berenergi biasanya mengandungi 80-141 mg kafein per 8 ouns. Terdapat dua jenis minuman berenergi yaitu yang mangandungi gula dan yang tidak mengandungi gula (Pronsky, 1997). A B C D Gambar 2.1.a Contoh gambar minuman berenergi

Tabel 2.1.a Zat kandungan minuman berenergi dan efeknya terhadap tubuh ZAT KANDUNGAN Kafein (70-200 mg) Guarana Vitamin B Ginseng (18-400 mg dalam 16 ouns) EFEK TERHADAP TUBUH Stimulasi sistem saraf pusat sehingga memberi efek alert. Meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Menyebabkan dehidrasi tubuh. Meregulasi denyut jantung, kontraksi otot dan tingkat energi. Merupakan inhibitor neurotransmitter yang ringan. Merupakan zat stimulant yang meningkatkan alertness dan energi. Mempunyai efek yang sama seperti kafein. Membantu dalam konversi makanan kepada energi. Meningkatkan energi, mempunyai komponen anti-lelah, melegakan stress dan menguatkan ingatan. Menstimulasi hypothalamus dan kelenjar pituitary untuk mengsekresi adreno corticotropic hormone (ACTH). Ginkgo biloba Membantu retensi ingatan, konsentrasi, sirkulasi, menpunyai efek anti-depresan, Kandungan dalam minuman berenergi terlalu rendah untuk menimbulkan efek yang baik. L-Carnitine Merupakan asam amino yang biasanya diproduksi oleh hati dan ginjal. Bersifat termogenik dan membantu dalam pengurangan berat badan & meningkatkan daya tahan tubah sewaktu berolahraga. Gula Sumber metabolisme karbohidrat tubuh untuk menghasilkan tenaga. Anti-oxidant Glucuronalactone Creatine Membantu pemulihan tubuh daripada efek radikal bebas. Biasanya dijumpai dalam tubuh dan merupakan glukosa yang dimetabolisme oleh hati. Membantu detoksifikasi, sekresi hormone dan biosintesa vitamin C. Dalam minuman berenergi dipercayai mencegah zat lain menggunakan cadangan glikogen dalam otot. Membekalkan tenaga kepada otot. Sumber: Babu, K.M., Church, R.J., Lewander, W., 2008. Energy Drinks: The New Eye-Opener for Adolescents, Clinical Pediatric Emergency Medicine

Tabel 2.1.b Zat kandungan minuman berenergi menurut merek Merek minuman ringan (kemasan botol 150ml) A B Zat kandungan Karbohidrat Nicotinamide Vitamin B 6 Vitamin B 12 1,3,7 trimethylxanthine Vitamin B12 Vitamin B 6 Nicotinamide Caffeine anhydrous Extract ginseng Sucrose, citric acid, sodium benzoate, flavour Jumlah 25,3 g 5 mcg 1000 mg 1000mg 2,8 mg 3,3 mg 10 mg C E 1,3,7 trimethylxanthine Ginseng extract Nicotiamide Vitamin B 6 Dexpanthenol Vitamin B 12 Gula alami, gula sorbitol Caffeine Niacinamide (vitamin B3) Pyridoxine HCl (Vitamin B 6) Dexpanthenol (provitamin B 5) Cyanocobalamine (Vitamin B 12) Gula Citric acid, trisodium citrate, sodium benzoate, flavouring 1000mg 10 mg 5 mcg 1000mg 5 mcg 25 g

2.2 Manfaat minuman energi Sebuah penelitian yang mengkaji manfaat minuman berenergi dalam memberi peningkatan energi seperti yang diiklankan (Smit, 2004). Hasil penelitian yang dijalankan menunjukkan bahwa minuman energi dibandingkan dengan placebo memberi efek peningkatan energi pada kelompok subjek berumur 18 hingga 55 tahun. Efek yang paling tinggi dapat dirasakan 30 hingga 60 menit selepas konsumsi dan efek ini dipertahankan selama sekurang-kurangnya 90 menit. Kafein diketemui penyebab utama efek ini. Walaupun tidak terdapat kebutuhan tubuh manusia untuk kafein, melalui hasil penelitian Smit dan Rogers (2000) dosis kafein yang rendah (12,5-100 mg) dapat mempertingkatkan prestasi kognitif dan mood. 2.3 Hubungan kafein dengan adenosine dan dopamine Efek kafein terhadap tubah bervariasi pada setiap orang. Kafein bekerja dengan mensimulasi sistem saraf pusat. Apabila adenosine dihasilkan di otak, ia akan berikatan dengan reseptor adenosine. Pengikatan adenosine akan menyebabkan rasa mengantuk disebabkan oleh penurunan aktivitas sel saraf. Di otak, pengikatan adenosine pada reseptornya menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah. Pada sel saraf, kafein dan adenosine mempunyai struktur yang sama. Oleh itu, kafein berikatan pada reseptor adenosine dan meningkatkan aktivitas sel saraf. Kafein juga menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah dengan menghambat kerja adenosine untuk mendilatasi pembuluh darah. Efek ini adalah sebab utama mengapa sesetengah obat penghilang nyeri kepala mengandungi kafein (Kirchheimer, 2004). Berikutan meningkatnya aktivitas sel saraf dengan tiba-tiba di otak, kelenjar pituitari terangsang untuk mengsekresi hormon yang memicu kelenjar adrenal menghasilkan adrenalin (epinephrine). Efek dari adrenalin antaranya dilatasi pupil, dilatasi bronkiol, peningkatan denyut jantung,

vasokonstriksi pembuluh darah pada permukaan kulit dan vasodilatasi pembuluh darah ke otot. Adrenalin juga meningkatkan tekanan darah, mengurangkan sirkulasi darah ke lambung, meningkatkan pelepasan gula ke darah untuk meningkatkan energi dan menyebabkan kontraksi dari otot (Kirchheimer, 2004). Kafein meningkatkan kadar dopamin dengan cara yang sama seperti amphetamine. Dopamin merupakan neurotransmitter yang mengaktivasi pusat kesenangan di bagian tertentu otak. Heroin dan kokain memanipulasi kadar dopamine dengan mengurangkan kadar absorpsi dopamine. Walaupun efek kafein jauh lebih rendah berbanding heroin, namun mekanisme kerjanya sama. Diduga bahwa hubungan dengan dopamine menyebabkan ketergantungan kafein (Kirchheimer, 2004) 2.4 Manfaat kafein pada tubuh Menurut beberapa penelitian, konsumpsi minuman yang mengandungi kafein ternyata mempunyai manfaat pada tubuh. Antara manfaat komsumsi kafein adalah orang yang mengkonsumsi kafein secara regular mengurangi risiko menderita penyakit Parkinson sebanyak 80%. Konsumsi 2 cawan kopi sehari juga dapat mengurangkan resiko kanker kolon sebanyak 20%. Pada orang yang menkonsumsi 2 cawan kopi sehari resiko sirosis hati berkurang sebanyak 80%. Konsumpsi 2 cawan kopi sehari pula mengurangkan pembentukan batu empedu sebanyak 50% (Kirchheimer, 2004). Kafein turut bermanfaat dalam asma, mengatasi nyeri kepala, merangsang mood dan mencegah lubang pada gigi. Pada penelitian awal dengan menggunakan tikus, terbukti bahawa kafein mempunyai efek pelindung dari penyakit Alzheimer (Kirchheimer, 2004)

2.5 Efek samping kafein Konsumsi kafein ternyata mempunyai dampak yang besar terhadap kesehatan penggunanya. Menurut artikel di oleh Riesenhuber (2006), diketemui bahawa kafein yang terdapat dalam minuman berenergi menyebabkan diuresis dan natriuresis. Tambahan pula, konsumsi kafein yang akut menurunkan sensitivitas insulin dan meningkatkan mean tekanan darah arteri. Dalam penelitian yang berlainan Scher (2004) dikatakan konsumsi kafein berhubung dengan nyeri kepala kronik, terutamanya pada wanita muda berusia kurang dari 40 tahun dan antara mereka yang mendapat nyeri kepala episode kronis yang onset kurang dari 2 tahun. Pada konsumsi kafein kronis pula diketemui gejala sistem saraf pusat, kardiovaskular, gastrointestinal dan disfungsi renal (Carrillo, 2000). Kesimpulannya, walaupun konsumsi minuman energi menbawa manfaat pada penggunanya seperti peningkatan konsentrasi dan memori, kandungan kafein dalam minuman berenergi menyebabkan banyak efek samping pada kesehatan. Kafein mempunyai waktu paruh selama 6 jam dan ini dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Sebaiknya kafein tidak digunakan pada penderita penyakit jantung. Penderita penakit ginjal harus mengurangi konsumsi kafein karena sifat kafein sebagai diuretik dapat memperparah kondisi penderita. Wanita hamil tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi kafein walaupun pada penelitian yang dilakukan, hubungan antara kafein dengan kelainan kongenital belum terbukti. Penderita ulkus lambung dan penyakit lambung lain harus berhati-hati dalam mengkonsumpsi kafein karena sifat asam dari kafein (Kirchheimer, 2004). 2.6 Penggunaan minuman berenergi ketika berolahraga Minuman berenergi harus dibedakan dengan minuman isotonik yang digunakan sewaktu berolahraga. Minuman isotonik digunakan untuk mengembalikan hidrasi tubuh ketika berolahraga dan mengandungi karbohidrat dalam bentuk gula dan menggantikan elektrolit yang hilang

melalui keringat. Minuman berenergi mengandungi kafein yang menyebabkan dehidrasi tubuh melalui sifatnya sebagai diuretik. Menurut penelitian Miller (2008) pengguna berumur 18 hingga 25 tahun menjadi sasaran pemasaran minuman berenergi. Mintel Energy Drink Report 2006 menyatakan bahwa 65% daripada pengkonsumsi minuman berenergi adalah masyarakat dalam golongan umur 13-35 tahun dan 65% daripada pengkonsumsi adalah pria. Menurut penelitian negeri yang dilakukan oleh Pennsylvania Medical Society s Institute of Good Medicine (2008), 2% daripada responden berumur 21-30 tahun pernah menggunakan minuman berenergi sewaktu belajar untuk berjaga malam bagi menyelesaikan tugas atau belajar. Sejumlah 70% responden yang lain mengatakan bahwa mereka mengenal teman-teman yang menggunakan minuman berenergi untuk berjaga malam sewaktu belajar atau bekerja.